• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

7

A. Laporan Keuangan

Pengertian laporan keuangan menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 (Revisi 2010) paragraf 2, adalah beberapa informasi mengenai entitas yang meliputi asset, liabilitas, ekuitas, pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian, kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, serta arus kas.

Disamping keterangan di atas, Winwin (2007 : 51) mengemukakan bahwa yang dimaksud laporan keuangan adalah Informasi keuangan yang disajikan dan disiapkan oleh manajemen dari suatu perusahaan kepada pihak internal dan eksternal, yang berisi seluruh kegiatan bisnis dari suatu usaha yang merupakan salah satu alat pertanggung jawaban dan komunikasi manajemen kepada pihak-pihak yang membutuhkannya.

Selanjutnya pengertian laporan keuangan menurut Brigham & Houston yang diterjemahkan oleh Ali (2006 : 44) adalah beberapa lembar kertas dengan angka-angka yang ditulis diatasnya tetapi penting juga memikirkan aset-aset yang mendasari angka-angka tersebut.

Dari beberapa pengertian mengenai laporan keuangan diatas,dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan output dan hasil akhir dari proses akuntansi yang dijadikan sebagai salah satu bahan dalam proses pengambilan keputusan. Disamping sebagai informasi, laporan keuangan juga

(2)

sebagai pertanggung jawaban atau accountability dan juga indikator kesuksesan suatu perusahaan dalam pencapaian.

1. Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan Menurut Penyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 (Revisi 2010) paragraph 5 adalah memberikan Informasi tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggung jawaban (Stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan yang meliputi : asset, kewjiban, ekuitas, pendapatan, dan beban (termasuk keuntungan dan kerugian ), serta arus kas. Informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas pada masa depan khususnya dalam waktu kepastian diperolehnya kas dan setara kas.

Pembahasan mengenai tujuan laporan keuangan, umumnya menganggap bahwa laporan keuangan dipersiapkan untuk para pemakai yang tidak kenal atau calonb pemegang saham. Jadi tujuan laporan keuangan, umumnya menyajikan informasi mengenai transaksi dan sumber-sumber dari perusahaan yang relevan.Misalnya data-data yang konkrit, juga kondisi perusahaan yang sebenarnya. Guna bahan pengambilan keputusan ekonomis oleh berbagai pihak

(3)

yang berkepentingan. Meskipun banayak konsep tujuan laporan keuangan yang lainnya, namun pada prinsipnya memberikan gambaran yang sama.

2. Karakteristik Laporan Keuangan

Karakteristik laporan keuangan merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan tersebut berguna bagi para pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Karakteristik laporan keuangan menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Tahun 2009, yaitu sebagai berikut :

a. Dapat dipahami

Kulitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh para pengguna. Dalam hal ini pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis.

b. Relevan

Informasi memiliki kualitas relevan apabila informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan atau mengkoreksi, hasil evaluasi mereka di masa lalu.

c. Keandalan

Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.

(4)

d. Dapat Dibandingkan

Para pemakai laporan keuangan harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan anatar periode untuk mengidentifikasi kecendrungan posisi keuangan dan kinerja perusahaan. Selain itu, pemakai juga harus dapat membandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan seara relatif.

3. Komponen Laporan Keuangan

Menurut PSAK No. 1 (Revisi 2010), komponen-komponen dalam laporan keuangan yang lengkap terdiri dari :

a. Laporan posisi keuangan pada akhir periode. b. Laporan laba rugi komprehensif selama periode. c. Laporan perubahan ekuitas selama periode. d. Laporan arus kas selama periode.

e. Catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lain, dan

f. Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara restrspektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangannya.

4. Pengguna Laporan Keuangan

Pengguna laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyarakat.Mereka

(5)

menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda.

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dala Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Revisi 2010, pihak-pihak yang memanfaatkan laporan keuangan adalah :

a) Investor

Penanam modal beresiko dan penasehat mereka berkepentingan dengan resiko yang melekat serta hail pengembangan dari investasi yang mereka lakukan, Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan, atau menjual investai tersebut. Pemegang saham juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemapuan perusahaan untuk membayar dividen.

b) Karyawan

Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakili mereka tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan. Mereka juga tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas saja, manfaat pensiun dan kesempatan kerja.

c) Pemberi Pinjaman

Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo.

(6)

d) Pemasok dan Kreditor Usaha lainnya.

Pemasok dan kreditor usaha lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinakan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terhutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditor usaha berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utama mereka tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.

e) Pelanggan

Para Pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau tergantung pada perusahaan.

f) Pemerintah

Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada dibawah kekuasaanya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena ini berkepentingandengan aktivitas perusahaan, mereka menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik dan statistik lainnya.

g) Masyarakat

Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misalnya, perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang diperkerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan serta rangkaian aktivitasnya.

(7)

B. Rasio Keuangan

1. Pengertian Rasio Keuangan

Analisis laporan keuangan yang dikemukakan oleh James C Van Horne, merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya. Rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Dari hasil rasio keuangan ini akan terlihat kondisi kesehatan perusahaan yang bersangkutan. Setiap perusahaan yang go public di BEI harus melaporkan kegiatan keuangannya. Menurut Sofyan (2007) laporan keuangan adalah menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu, sedangkan menurut Martono dan Agus (2007) menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan ikhtisar mengenai keadaan keuangan suatu perusahaan pada suatu saat tertentu

2. Jenis-jenis Rasio keuangan

Abdul (2007) mengemukakan jenis-jenis rasio keuangan utama yang umumnya digunakan untuk melakukan analisis adalah sebagai berikut:

 Rasio untuk mengukur kinerja manajemen

 Rasio untuk mrngukur efisiensi operasi manajemen

 Rasio untuk mengukur kebijakan keuangan perusahaan

Berikut adalah rasio-rasio keuangan yang digunakan untuk melihat beberapa kemampuan perusahaan (kasmir, 2008):

(8)

a. Rasio Likuiditas

Fred Weston menyebutkan bahwa rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. Artinya apabila perusahaan ditagih, perusahaan akan mampu untuk memenuhi utang tersebut terutama utang yang sudah jatuh tempo. Dengan kata lain, rasio likuiditas berfungsi untuk menunjukan atau mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang sudah jatuh tempo, baik kewajiban kepada pihak luar perusahaan maupun didalam perusahaan.

1) Current Ratio (Rasio Lancar)

Rasio lancar merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo.

Current Assets

Current Ratio =

Current Liabilities

2) Quick Ratio (Rasio Cepat)

Rasio Cepat (Quick ratio) merupakan rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan dalam memenuhi atau membayar kewajiban atau utang lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai persediaan.

(9)

Current Assets Quick Ratio =

Current Liabilities

3) Cash Ratio ( Rasio Kas)

Rasio kas atau cash ratio merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang. Ketersediaan uang kas dapat ditunjukan dari tersedianya dana kas atau yang setara dengan kas seperti rekening giro atau tabungan di bank (uang dapat ditarik setiap saat).

Cash or Cash equivalent Cash Ratio=

Current Liabilities

4) Cash Turnover (Rasio Perputaran Kas)

Menurut James O. Gill, Rasio perputaran kas (cash turnover) berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan .

Net Sales Cash Turnover=

Current Assets– Current Liabilities 5) Inventory to Net Working Capital

Inventory to Net Working Capital merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah persediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan.Modal kerja tersebut terdiri dari pengurangan antara aktiva lancar dengan utang lancar.

(10)

Inventory Inventory to NWC=

Current Assets-Current Liabilities

b. Rasio Solvabilitas

Rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang.Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Dalam arti luas dikatakan bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan (likuidasi).

1) Debt Ratio (Rasio Hutang)

Debt Ratio merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Dengan kata lain, seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva.

Total Liabilities Debt Ratio =

Total Assets

2) Debt-to-Equity Ratio (Rasio Hutang terhadap Ekuitas)

Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditur) dengan pemilik

(11)

perusahaan. Dengan kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang.

Total Liabilities Debt-to-Equity =

Equity

3) Long Term Debt to Equity Ratio (LTDrER)

LTDrER merupakan rasio antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Tujuannya adalah untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang dengan cara membandingkan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri yang disediakan oleh perusahaan.

Long term debt LTDrER=

Equity 4) Times Interest Earned

Menurut Weston (2008) Times Interst Earned merupakan rasio untuk mencari jumlah kali perolehan bunga.Jumlah kali perolehan bunga merupakan rasio untuk mengukur sejauh mana pendapatan dapat menurun tanpa membuat perusahaan malu karena tidak mampu membayar biaya bunga tahunannya.

Secara umum semakin tinggi rasio, semakin besar kemungkinan perusahaan dapat membayar bunga pinjaman dan dapat menjadi ukuran untuk memperoleh tambahan pinjaman baru dari kreditor.

(12)

EBIT Times Interest Earned=

Interest (Biaya Bunga)

5) Fixed Charge Coverage

Fixed charge coverage atau lingkup biaya tetap dilakukan apabila perusahaan memperoleh utang jangka panjang atau menyewa aktiva berdasarkan kontrak sewa (lease contract)

EBT + Interest + Lease Fixed Charge Coverage=

Interest+Lease (Kewajiban sewa) c. Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya.Setiap aktiva yang dimilikinya. Atau dapat pula dikatakan rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi pemanfaatan sumber daya perusahaan.

a) Receivable Turn Over (Perputaran Piutang)

Perputaran piutang merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode. Rasio perputaran piutang memberikan pemahaman tentang kualitas piutang dan kesuksesan penagihan piutang

Sale of The Credit Receivable Turn Over=

(13)

b) Inventory Turn Over (Perputaran Persediaan)

Perputaran persediaan merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam persediaan ini berputar dalam satu periode. Dapat diartikan pula bahwa perputaran persediaan merupakan rasio yang menunjukan berapa kali jumlah barang persediaan diganti dalam satu tahun.

Sales Inventory Turn over=

Inventory c) Working Capital Turn Over ( Perputaran Modal Kerja)

Perputaran modal kerja merupakan salah satu rasio untuk mengukur atau menilai keefektifan modal kerja perusahaan selama periode tertentu. Artinya seberapa banyak modal kerja berputar selama satu periode atau suatu peride.

Net Sales Working Capital Turn Over=

Working Capital

d) Total Asset Turnover Ratio (Rasio Perputaran Total Aktiva)

Total asset turn over merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva.

Sales Total Asset Turnover =

(14)

d. Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi.

a) Net Profit Margin (Marjin Laba Bersih)

Rasio ini menggambarkan besarnya laba bersih yang diperoleh oleh perusahaan pada setiap penjualan yang dilakukan

EAIT (Earning After Interest and Tax) NPM =

Sales

b) Return on Assets (Hasil Pengembalian atas Total Aktiva)

Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dari asset yang digunakan.Rasio ini merupakan keseluruhan kefektifan manajemen perusahaan dalam menghasilkan laba dengan aktiva yang tersedia.

Net Profit ROA=

Total Assets

c) Return on Equity (Hasil Pengembalian atas Ekuitas)

ROE merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri . Rasio ini menunjukan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini , semakin baik.

(15)

Earning After Interest and Tax (EAIT) ROE=

Equity

d) Earning Per Share (Laba Bersih Perlembar Saham)

Rasio ini mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang saham, begitu sebaliknya.

Common Stock Earnings EPS=

Outstanding Shares

C. Variabel-variabel yang Berpengaruh terhadap ROE

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi Return on Equity sebagai ukuran profitabilitas/rentabilitas sebagaimana laba dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk likuiditas, aktifitas, dan solvabilitas perusahaan.

Current Ratio sendiri merupakan salah satu indikator dari likuiditas. CR merupakan rasio antara asset lancar dengan hutang lancar yang dimiliki oleh perusahaan. Rasio ini mengukur aktiva yang dimiliki perusahaan dalam hutang lancar perusahaan. Salah satu ukuran adalah Debt to equity Ratio. Sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang salah satunya dapat dilihat melalui Debt To equity Ratio. Debt To Equity Ratio mencerminkan besarnya proporsi antara total debt (total hutang) dengan total shareholder’s equity (total modal sendiri). Total debt merupakan total liabilities (baik utang jangka pendek maupun jangka panjang) sedangkan total shareholder’s equity

(16)

merupakan total modal sendiri (total modal saham yang disetor dan laba yang di tahan) yang dimiliki perusahaan

Total Asset Turnover merupakan rasio aktivitas yang digunakan untuk mengukur sampai seberapa besar efektivitas perusahaan dalam menggunakan sumber dayanya yang berupa asset. Semakin tinggi rasio ini akan semakin efisien penggunaan asset dan semakin cepat pengembalian dana dalam bentuk kas.

1. Pengaruh Current Ratio Terhadap ROE

Rasio lancar adalah ukuran dari likuiditas jangka pendek. Rasio lancar perbandingan antara asset lancar dengan kewajiban lancar. Bagi perusahaan, rasio lancar yang tinggi menunjukkan likuiditas, tetapi ia juga bisa dikatakan menunjukan penggunaan kas dan asset jangka pendek secara tidak efisien (ROSS, Westerfield, Jordan, 2008). Rasio ini menunjukan kemapuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Suatu perusahaan yang mapu membayar belum tentu mampu memenuhi segala kewajiban keuangan yang harus dipenuhi ( Sofyan,2007). Karena proporsi atau distribusi dari aktiva lancar yang tidak menguntungkan, misalnya jumlah persediaan yang relative tinggi dibandingkan dengan taksiran tingkat penjualan yang akan datang sehingga tingkat perputaran persediaan rendah menunjukan adanya over investment dalam persediaan tersebut atau adanya saldo piutang yang besar yang mungkin sulit ditagih (Robert Ang,1997). Apabila aktiva lancar untuk mengurangi jumlah hutang lancar, sedangkan hutang lancar digunakan untuk menambah aktiva lancar. Maka aktiva lancar yang dimiliki perusahaan

(17)

lebih kecil dari pada hutang lancar, dan perusahaan mengalami kesulitan dalam mengoperasikan perusahaannya. Akan tetapi terlalu banyak modal kerja mengakibatkan banyak dana yang menganggur, sehingga dapat menurunkan laba. Dengan demikian sangat dimungkinkan bahwa hubungan antara CR dan ROE adalah negative.

Current ratio menunjukan perubahan jumlah aktiva lancar atau hutang lancar, baik masing-masing atau keduanya akan mengakibatkan perubahan tingkat likuiditas. Nilai likuiditas yang terlalu tinggi berdampak kurang baik terhadap earning power karena adanya idle cash atau menunjukan kelebihan modal kerja yang dibutuhkan, kelebihan ini akan menurunkan kesempatan memperoleh keuntungan. Dengan demikian sangat dimungkinkan hubungan CR dan ROE adalah negative. Semakin tinggi CR maka semakin rendah tingkat ROE, terjadi perbandingan terbalik antara profitabilitas dengan likuiditas.

2. Pengaruh Debt To Equity Ratio terhadap ROE

Tinggi rendah DER akan mempengaruhi tingkat pencapaian ROE yang dicapai oleh perusahaan. Jika biaya yang ditimbulkan oleh pinjaman ( cost of debt) lebih kecil dari pada biaya modal sendiri (cost of equity), maka sumber dana yang berasal dari pinjaman atau hutang akan lebih efektif dalam menghasilkan laba (meningkatkan return on equity), demikian sebaliknya. Dari sudut pandang manajemen keuangan, rasio leverage membawa implikasi penting dalam pengukuran risikio finansial perusahaan. Terdapat pengaruh negative pada leverage keuangan yakni bahwa profitabilitas perusahaan

(18)

berkurang sebagai akibat dari penggunaan hutang perusahaan yang besar, sehigga dapat disebabkan biaya tetap yang harus ditanggung lebih besar dari operating income yang dihasilkan hutang tersebut, (Cryllius Martonoz, 2006).

Perusahaan dengan laba bertumbuh akan memperkuat hubungan DER dengan profitabilitas yaitu dimana profitabilitas meningkat seiring dengan DER yang rendah. Perusahaan yang pertumbuhan labanya rendah akan berusaha menarik dana dari luar, untuk mendapatkan investasi dengan mengorbankan sebagian besarnya labanya. Sehingga perusahaan dengan pertumbuhan laba rendah akan semakin memperkuat hubungan anatar DER yang berpengaruh negative dengan profitabilitas. Dimana peningkatan utang akan mempengaruhi besar kecilnya laba perusahaan, yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua kewajibannya, yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar seluruh kewajibannya, karena semakin besar pengunaan utang maka semakin besar kewajibannya.

Bagi perusahaan sebaiknya hutang tidak boleh melebihi modal sendiri agar beban hutang tetapnya tidak terlalu tinggi. Dimana DER yang tinggi menunjukkan struktur permodalan usaha lebih banyak memanfaatkan hutang terhadap ekuitas. Perusahaan dengan laba bertumbuh mempunyai kesempatan yang profitable dalam mendanai investasinya secara internal sehingga perusahaan menghindar untuk menarik dana dari luar dan berusaha mencari solusi yang tepat atas masalah-masalah yang terkait dengan hutangnya, selain itu dengan profitabilitas yang meningkat akan meningkatkan laba ditahan

(19)

sehingga akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan pinjaman dan rasio DER menurun. Hutang mempunyai dampak yang buruk terhadap kinerja perusahaan, karena tingkat hutang yang semakin tinggi berarti beban bunga akan semakin besar yang artinya mengurangi keuntungan. Semakin tinggi DER menunjukankan semakin besar beban perusahaan terhadap pihak luar, hal ini sangat memungkinkan menurunkan kinerja perusahaan, karena tingkat ketergantungan dengan pihak luar semakin tinggi.

3. Pengaruh Total Asset Turnover terhadap ROE

Total asset turnover merupakan rasio antara jumlah aktiva yang digunakan dengan jumlah penjualan yang diperoleh selama periode tertentu. Rasio ini merupakan ukuran seberapa jauh aktiva yang telah dipergunakan dalam kegiatan atau menunjukkan berapa kali aktiva berputar dalam periode tertentu. Apabila dalam menganalisis rasio ini selama beberapa periode menunjukkan suatu trend yang cenderung meningkat, memberikan gambaran bahwa semakin efisien penggunaan aktiva sehingga meningkat (Sawir, 2001). Sedangkan TATO dipengaruhi oleh besar-kecilnya penjualan dan total aktiva, baik lancar maupun aktiva tetap. Karena itu, TATO dapat diperbesar dengan menambah aktiva pada satu sisi dan pada sisi lain diusahakan agar penjualan dapat meningkat relatif lebih besar dari peningkatan aktiva atau dengan mengurangi penjualan disertai dengan pengurangan relatif terhadap aktiva, (Pieter Leunupun, 2003). Dengan demikian sangat dimungkinkan bahwa hubungan antara TATO dengan ROE adalah positif. Semakin besar TATO akan semakin baik karena semakin efisien seluruh aktiva yang digunakan

(20)

untuk menunjang kegiatan penjualan (Robert Ang, 1997). ROE yang meningkat karena dipengaruhi oleh TATO (Brigham dan Houston, 2001).

4. Pengaruh Net Profit Margin terhadap ROE

Net profit margin, merupakan rasio antara laba bersih dengan penjualan, yaitu penjualan sesudah dikurangi dengan seluruh biaya termasuk pajak dibandingkan dengan penjualan. Semakin tinggi net profit margin semakin baik operasi suatu perusahaan karena menampakkan keberhasilannya dalam meningkatkan penjualan yang dibarengi dengan peningkatan yang sangat besar dalam pengorbanan biayanya (Pieter Leunupun, 2003).

Net profit margin menunjukkan rasio antara laba setelah pajak dengan penjualan, yang mengukur laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan. Rasio ini juga dibandingkan dengan rata-rata industri. Semakin tinggi net income yang dicapai oleh perusahaan dalam menghasilkan laba bersihnya, (Agus Sartono, 2000). Dengan meningkatnya NPM menunjukkan bahwa semakin baik kinerja perusahaan dan keuntungan yang diperoleh perusahaan meningkat pula. Sehingga hubungan antara NPM dengan kinerja perusahaan adalah positif. Nilai NPM yang semakin tinggi maka semakin efisien biaya yang dikeluarkan, yang berarti semakin besar tingkat kembalian keuntungan bersih.

(21)

D. Penelitian Terdahulu

No Judul Variabel Hasil Penelitian 1 Analisis pengaruh

Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Total asset Turn Over, Net Profit Margin Terhadap ROE(Studi kasus pada perusahaan manufaktur periode 2005-2009) (Aminatuzzahra, 2010)

Current Ratio, debt to Equity Ratio, Total Asset Turnover, Net Profit Margin, Return on Equity

CR, DER, TATO, NPM secara parsial berpengaruh signifikan terhadap ROE. Sementara secara simultan CR, DER, TATO dan NPM terbukti signifikan berpengaruh terhadap ROE

2 Pengaruh Current Ratio dan Debt to Equity Ratio terhadap ROE Pada Consumer Goods Industry di BEI tahun 2010-2011(Setyaningrum, 2012) Current Ratio, Debt to Equity Ratio, return On Equity

Variabel CR dan DER berpengaruh signifikan terhadap ROE baik secara parsial maupun simultan

3. Analisis Pengaruh Current Ratio, Total Asset Turnover dan Debt to Equity Ratio terhadap ROE Pada perusahaan manufaktur di BEI periode 2005-2007 (Debora Setiati, 2009) Current Ratio, Total Asset Turnover, Debt to Equity Ratio dan Return On Equity

Secara parsial variabel TATO berpengaruh terhadap ROE. Sedangkan variabel CR dan DER tidak berpengaruh terhadap ROE.

4. Analisis pengaruh Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Total asset Turnover, Net Profit Margin terhadap Return On Equity Pada Perusahaan Manufaktur GO Public di BEI tahun 2010-2011(Ariya Yudha, 2013)

Current Ratio, debt to Equity Ratio, Total Asset Turnover, Net Profit Margin, Return on Equity

DER, CR dan TATO secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap ROE. Sedangkan NPM berpengaruh signifikan terhadap ROE. Sementara secara simultan (DER, CR, TATO dan NPM) terbukti signifikan berpengaruh terhadap ROE

(22)

E. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1

Paradigma dan Model Penelitian Hubungan Antar Variabel Current Ratio

(CR)

Debt to Equity Ratio (DER)

Total Assets Turn Over (TATO)

Net Profit Margin (NPM)

Return On Equity (ROE)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil : Implementasi pada dilakukan selama 1x20 menit, melakukan pendidikan kesehatan tentang pengertian demam tifoid, tujuan diberikan pendidikan kesehatan,

Bahwa Pendapat Komisi hanya terbatas pada proses pengambilalihan saham perusahaan PT TLM dan PT DPI oleh APLN, apabila dikemudian hari terdapat perilaku anti persaingan yang

Pemikiran sebagai konsep pengembangan civic education seperti yang dikemukakan Chamim dalam Sabirin (2003) dapat pula dijadikan acuan basis kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan

Terkait dengan contoh epistemologi, maka kita kita membahas mengenai bentuk komunikasi yang dibahas diatas tadi, maka perlu ada kajian terkait cara kita mengetahui

PT Frigia Airconditioning memberikan perawatan berkala dan kerusakan AC pada kendaraan mobil tersebut, lalu juga memberikan layanan kepada pelanggan dengan

Pada tipe ini peserta didik memberikan keputusan terhadap nilai dari suatu materi pembelajaran, argumen, atau pandangan yang berkenaan dengan sesuatu yang diketahui,

Berdasarkan analisis dari seluruh teks iklan politik partai NasDem versi Indonesia Baru maka terdapat empat kategori besar, diantaranya : Pertama, Partai Nasdem sebagai