• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENUJU SWASEMBADA PANGAN DAN SWASEMBADA BERKELANJUTAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENUJU SWASEMBADA PANGAN DAN SWASEMBADA BERKELANJUTAN"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

1

Udhoro Kasih Anggoro

DIREKTUR JENDERAL TANAMAN PANGAN

KEMENTERIAN PERTANIAN

1

KEBUTUHAN INOVASI ALSINTAN BUDIDAYA PADI

MENUJU SWASEMBADA PANGAN DAN SWASEMBADA BERKELANJUTAN

Disampaikan pada:

SEMINAR NASIONAL MEKANISASI PERTANIAN 30 OKTOBER 2012, BALAI BESAR PENGEMBANGAN MEKANISASI PERTANIAN

(2)

1. Permintaan beras terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk

2. Perubahan iklim menjadi lebih ekstrim akibat pemanasan global berdampak pada terganggunya produksi pangan

3. Pasar beras dunia menjadi terbatas sehingga kita harus swasembada beras berkelanjutan dan memiliki cadangan beras yang memadai

4. Beras masih sebagai kontributor utama terhadap inflasi sehingga harga beras harus terkendali

PENDAHULUAN

(3)

1. Pada Sidang Kabinet Paripurna 6 Januari 2011 :

“ Produksi Beras Dalam Negeri harus ditingkatkan sehingga diperoleh cadangan yang cukup “

33.. ArahanArahan PPresidenresiden 2222 PPebruariebruari 20112011 PProgramrogram PPrioritasrioritas ““SSurplusurplus

BBeras”eras” ::

“ Surplus Beras 10 juta ton harus dicapai pada tahun 2014”

 Dari swasembada ke surplus beras

 Dalam waktu 5-10 tahun

 Surplus beras minimal 10 juta ton per tahun

2. Pada RAPIMNAS dengan Gubernur, Bupati/Walikota, DPRD Provinsi dan Kab/Kota dan Pelaku Usaha Di JCC 10 Januari 2011

“Meskipun dalam sistem perdagangan kita bisa membeli atau menjual, tetapi untuk pangan kita harus menuju kemandirian pangan”.

ARAHAN PRESIDEN

ARAHAN PRESIDEN

3

4. Hasil Sidang Kabinet Tanggal 6 September 2011 dan Ditegaskan lagi pada Pidato Pelatikan KIB II Hasil Reshuffle (Political Speech)

Tanggal 19 Oktober 2011:

(4)

1. Dampak perubahan iklim dan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

2. Rusaknya infrastruktur usahatani padi 3. Konversi Lahan sawah

4. Keterbatasan akses petani terhadap pembiayaan 5. Kompetisi antar komoditas

6. Tingginya konsumsi beras

7. Belum sinerginya antar sektor dan pusat – daerah dalam menunjang pembangunan pertanian khususnya produksi padi

8. Kesenjangan hasil antara potensi dan kondisi di lapangan masih tinggi (rata-rata provitas nasional < 5,017 ton/ha, potensi > 6 ton/ha,

terutama pada lahan irigasi teknis)

P

PERMASALAHAN ERMASALAHAN

(5)

PELUANG PELUANG

1. Tersedia teknologi untuk meningkatkan produktivitas (benih bermutu, jajar legowo, pemupukan berimbang, hemat air, dll)

2. Potensi sumberdaya lahan sawah, rawa/lebak, lahan kering (perkebunan, kehutanan dll) yang masih luas

3. Pengetahuan, sikap dan keterampilan SDM (petani, PPL, POPT dan petugas pertanian lainnya) masih dapat

dikembangkan.

4. Tersediaanya potensi pengembangan produksi pangan alternatif.

5. Ketersediaan sumber genetik (varietas unggul);

6. Terdapat angka kehilangan hasil panen dan pascapanen yang masih tinggi (10,82%/survey musim kemarau 2007)

5

(6)

PENINGKATAN PRODUKSI PADI

TAHUN 2012-2014

(7)

Provitas Luas Panen

(Ton/Ha) (Ha) Prov Kab/Kota

1 < 4 2.009.911 15,17 22 158

2 4 - 5 3.974.366 29,99 26 146

3 5 - 6 5.616.819 42,38 20 122

4 > 6 1.652.362 12,47 8 31

13.253.458

100,00 Jumlah

Lokasi

N0 %

PELUANG PENINGKATAN PELUANG PENINGKATAN

PRODUKTIVITAS PADI PRODUKTIVITAS PADI

Masih peluang untuk meningkatkan produksi melalui peningkatan Produktivitas, khususnya padi dari yang masih memiliki produktivitas

di bawah 5 ton per ha seluas 5,98 juta ha

7

(8)

PELUANG PENINGKATAN INDEKS PERTANAMAN

PELUANG PENINGKATAN INDEKS PERTANAMAN (IP) (IP)

No Indeks Pertanaman Luas Sawah (Ha) Luas Tanam (Ha)

1 IP < 100 3.479.605 1.796.256

2. 100 <= IP <=150 1.418.594 1.803.359 3. 150 <= IP <=200 2.517.066 5.083.395

4. IP >= 200 2.041.664 4.829.703

Catatan : Rata-rata IP saat ini = 142,89 Sumber BPS, 2010

(9)

POTENSI LAHAN UNTUK PADI DI INDONESIA POTENSI LAHAN UNTUK PADI DI INDONESIA

9

No Tipologi Lahan

Lahan yang sudah dimanfaatkan saat ini

(Ha)

Potensi yang belum dimanfaatkan (Ha)

Provitas (Ku/Ha) 1 Lahan sawah 8.061.787 6.642.046

- Irigasi 4.898.822 1.188.682 40,83 - Tadah Hujan 3.162.965 5.453.364 27,13 2 Lahan rawa 1.039.042 8.717.022

- Pasang Surut 810.449 1.715.336 32,50 - Lebak 193.052 944.537 32,50 - Gambut 35.541 6.057.149 25,00 3 Lahan Kering 1.048.000 32.636.452 29,71

(10)

1. Swasembada BERAS berkelanjutan secara nasional, bukan wilayah (Povinsi, kabupaten/kota)

2. Pemberian subsidi (pupuk, benih, bunga bank)

3. Perlindungan Harga (HPP untuk beras, HET untuk pupuk)

4. Pemberian bantuan (subsidi benih, BLP, BP3, Alsintan, perbaikan jaringan irigasi).

5. Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan ( UU 41 Tahun 2009) 6. Fasilitasi permodalan (KKPE, KUR )

7. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petani

10

(11)

STRATEGI

SURPLUS BERAS 10 JUTA TON

PERLUASAN AREAL 2.

DAN PENGELOLAAN LAHAN

3.

PENURUNAN KONSUMSI

BERAS

4.

PENYEMPURNAAN MANAJEMEN 1.

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS

11

(12)

1. Peningkatan Produktivitas Usahatani

a.Perakitan, Diseminasi dan Penerapan paket teknologi tepat guna spesifik lokasi

b.Peningkatan penerapan paket teknologi budidaya spesifik lokasi (SL-PTT, SRI, GP3K)

c.Pengamanan produksi dari gangguan OPT dan DPI (SL-PHT, SLI, pengamatan, Brigade Proteksi)

d.Penurunan susut hasil (losses panen dan pasca panen)

e.Penyuluhan, pendampingan dan pengawalan oleh petugas lapangan

12

(13)

2. Perluasan Pengelolaan Lahan

a. Pencetakaan Lahan Sawah Baru b. Optimasi Lahan Peningkatan IP c. Pengelolaan air

1) Perbaikan Jaringan Irigasi

2) Pembangunan Dam/Parit/Embung

3) Pengembangan Sumber Air

4) Pengembangan Irigasi Partisipatif (PIP)

d. Pengembangan Mekanisasi 1) Pengadaan Pompa Air

2) Pengadaan Alsin Pra Panen

13

(14)

3. Penurunan Konsumsi Beras

Lanjutan

a. Percepatan Penganekaragaman Konsumsi

1) Optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan

2) Pengolahan Pangan Lokal

b. Pengembangan pangan untuk orang miskin (Pangkin) c. Pengembangan agroindustri aneka tepung berbahan

baku lokal

4. Penyempurnaan Manajemen

a. Dukungan Kebijaksanaan dan Regulasi b. Penyempurnaan Manajemen teknis

c. Penyempurnaan data dan informasi

14

(15)

SASARAN PRODUKSI PADI 2010-2014

*) Catatan:

- 1) Tahun 2010 merupakan Angka Tetap BPS RI

- 2) Tahun 2011 menggunakan Angka Tetap BPS RI

- Penurunan konsumsi perkapita 1,5%/tahun mulai 2010

- Konversi Gabah Kering Giling (GKG) ke beras tersedia untuk konsumsi : 56,22%

15

GKG

Peningkatan

(%) Beras

2010 1) 66.469.394 3.22 37.222.861 237.556.363 139.15 33,055,968 4.166.893 2011 2) 65.756.904 (1.10) 36.968.531 241.095.953 137.06 33.045.274 3.923.257 2012 67.824.692 3.17 38.131.042 244.688.283 135.01 33.034.584 5.096.458 2013 72.063.735 6.25 40.514.232 248.334.138 132.98 33.023.897 7.490.335 2014 76.567.719 6.25 43.046.372 252.034.317 130.99 33.013.214 10.033.157

Total Kebutuhan

Perkapita/

Tahun (Kg)

Kebutuhan Beras (Ton)

Surplus Beras (Ton) Tahun

Sasaran Produksi (Ton)

Jumlah Penduduk

(Jiwa)

(16)

SASARAN LUAS TANAM DAN PANEN PRODUKTIVITAS DAN PRODUKSI PADI TAHUN 2012-2014

No Uraian 2012 2013 2014

1. Luas Tanam (Ha) 14.023.605 14.593.134 15.306.448

2. Luas Panen (ha) 13.538.388 14.088.212 14.776.845

3. Produktivitas (Ku/Ha) 50,10 51,15 51,82

4. Produksi (Ton GKG) 67.824.692 72.063.753 76.567.710

(17)

SKENARIO PRODUKSI PADI TAHUN 2012-2014

*)

*) Terdapat fasilitasi pemerintah berupa penyuluhan, subsidi pupuk ,benih dan pembinaan lainnya

17

Luas Tanam (Ha)

Luas Panen

(ha) Produktivit as (ku/ha)

Produksi (Ton)

Luas Tanam (Ha)

Luas Panen

(ha) Produktivit as (ku/ha)

Produksi (Ton)

Luas Tanam (Ha)

Luas Panen

(ha) Produktivit as (ku/ha)

Produksi (Ton) 1. Peningkatan Produktivitas 4.560.000 4.402.224 55,45 24.409.596 5.925.000 5.719.995 56,01 32.035.818 5.975.000 5.768.265 56,77 32.743.785

a. Kegiatan SL-PTT 3.400.000 3.282.360 54,76 17.974.155 4.625.000 4.464.975 55,21 24.651.127 4.625.000 4.464.975 55,81 24.918.422 b. Kegiatan SRI 60.000 57.924 57,30 331.905 200.000 193.080 58,10 1.121.795 250.000 241.350 59,86 1.444.721 c. GP3K 1.100.000 1.061.940 57,30 6.084.916 1.100.000 1.061.940 58,77 6.241.021 1.100.000 1.061.940 59,86 6.356.773 d. Pengamanan Pasca Panen 220.000 212.388 18.620 270.000 260.658 21.875 270.000 260.658 23.869 2. Perluasan Areal Tanam 310.264 299.528 41,51 1.243.324 566.939 547.323 39,16 2.143.442 888.604 857.858 38,88 3.335.644 a. Pencetakan Sawah Baru 62.100 59.951 30,00 179.854 100.000 96.540 30,00 289.620 100.000 96.540 30,00 289.620 b. Pencetakan Sawah Baru (BUMN) 100.000 - - 100.000 96.540 30,00 289.620 100.000 96.540 30,00 289.620 c. Penyiapan Lahan Beririgasi (PLPB) - - - - - - 40.000 38.616 15,30 59.082 c. Optimasi Lahan 22.043 21.280 42,00 89.377 80.273 77.496 42,00 325.481 400.000 386.160 42,00 1.621.872 d. Pengelolaan Air (Kementan & Kemen PU) 226.121 218.297 44,62 974.093 286.666 276.747 44,76 1.238.721 248.604 240.002 44,81 1.075.450 3 Pengurangan 352.000 339.821 51,58 1.752.960 382.000 368.783 56,82 2.095.270 432.000 417.053 62,01 2.585.952 a. Serangan OPT dan DPI 132.000 127.433 51,58 657.360 132.000 127.433 56,82 724.020 132.000 127.433 62,01 790.152 b. Konversi Lahan 220.000 212.388 51,58 1.095.600 250.000 241.350 56,82 1.371.250 300.000 289.620 62,01 1.795.800 4 Swadaya Murni Petani *) 9.505.341 9.176.456 47,87 43.924.733 8.483.195 8.189.677 48,82 39.979.745 8.874.844 8.567.775 50,27 43.074.242

14.023.605

13.538.388 50,10 67.824.693 14.593.134 14.088.212 51,15 72.063.735 15.306.448 14.776.845 51,82 76.567.719 2014

Sasaran Produksi

2012 2013

No. Uraian

(18)

KEBUTUHAN INOVASI ALSINTAN

BUDIDAYA DAN PASCAPANEN PADI

(19)

LATAR BELAKANG

PERMASALAHAN :

1. Makin terbatasnya tenaga kerja di pedesaan

2. Tuntutan pola tanam, waktu tanam dan panen yang terbatas 3. Tingkat kehilangan/susut hasil masih tinggi

(BPS 2008 : 10,82 %, FAO 2010 : 14,53 %) 4. Rendemen giling beras masih rendah

DENGAN UPAYA PENANGANAN ALSINTAN, AKAN DIPEROLEH : 1. Peningkatan mutu pengolahan tanah

2. Peningkatan Intensitas Pertanaman (IP) 3. Efisiensi Biaya produksi

4. Penyelamatan kehilangan hasil panen 5. Peningkatan rendemen mutu hasil panen 6. Peningkatan pendapatan petani

19

(20)

4. Mempertahankan dan Memperpanjang Masa Simpan

3. Mempertahankan Mutu

2. Menekan Susut Hasil

1. Menyelamatkan Hasil

II. PENANGANAN PASCAPANEN PADI

2.1. TUJUAN

BAGAN ALUR PENANGANAN PASCAPANEN PADI DI TINGKAT KELOMPOK TANI

Pemanenan

Perontokan

Pengeringan

- Sabit bergerigi - Padi mower - Reaper - Stripper Susut saat panen (termasuk

saat pengumpulan dan

penumpukan sementara):1,80% - Gebotan

- Pedal thresher - Power threher Susut saat perontokan : 4,10%

Penggilingan

Susut saat penyimpanan gabah di rumah petani : 1,08%

Susut saat penggilingan : 3,25%

BERAS

- Rice Milling Unit (RMU) - Penggilingan Padi Kecil (PPK) - Penggilingan Padi Menengah (PPM) - Penggilingan Padi Besar (PPB)

Keterangan :

Susut saat penyimpanan beras di rumah petani : 0,31%

- Terpal - Lantai Jemur - Dryer

SUSUT PANEN DAN PASCAPANEN* PROSES PANEN DAN PASCAPANEN SARANA PANEN DAN PASCAPANEN

Combine Harvester Kadar air GKP : 22-26%

Kadar air GKG : 14%

20

Setiap tahapan proses

Membutuhkan Alsin Pascapanen Yang Tepat

(21)

KONDISI UMUM ALSINTAN SAAT INI

1. Jumlahnya belum mencukupi

2. Dijumpai kualitas alsin yang dibawah standar 3. SDM pengelola alsin masih rendah

4. Harga alsintan masih relatif mahal

5. Di beberapa daerah, alsintan secara sosial belum diterima masyarakat

6. Sosialisasi dan pengawasan masih rendah 7. Masih dijumpai harga BBM diatas HET

21

(22)

PEMENUHAN KEBUTUHAN ALSINTAN BUDIDAYA NASIONAL

Jenis Alsintan

Kecukupan (%)

1. Traktor roda-2 29

2. Pompa Air 36

3. Power Thresher 23

(23)

TINGKAT KEJENUHAN TRAKTOR

LUAS LAHAN KETERSEDIAAN COVERAGE AREA % KEBUTUHAN KEKURANGAN

SAWAH (Ha) (UNIT) (HA) COVERAGE (UNIT) (UNIT)

1

Provinsi NAD 314.768 2.859 57.185 18,17 KURANG 15.738 12.879 2

Provinsi Sumatera Utara 468.724 3.261 65.216 13,91 KURANG 23.436 20.175 3

Provinsi Sumatera Barat 229.693 2.251 45.010 19,60 KURANG 11.485 9.234 4

Provinsi Riau 115.961 956 19.122 16,49 KURANG 5.798 4.842 5

Kep. Riau 442 60 1.200 271,49 JENUH 22 - 38 6

Provinsi Jambi 112.434 544 10.880 9,68 KURANG 5.622 5.078 7

Provinsi Bangka Belitung 4.056 163 3.256 80,28 CUKUP 203 40 8

Provinsi Bengkulu 92.976 4.686 93.720 100,80 JENUH 4.649 - 37 9

Provinsi Sumatera Selatan 611.386 2.413 48.254 7,89 KURANG 30.569 28.157 10

Provinsi Lampung 345.437 5.035 100.701 29,15 KURANG 17.272 12.237 11

DKI Jakarta 1.312 38 766 58,36 KURANG 66 27 12

Provinsi Jawa Barat 930.268 16.476 329.520 35,42 KURANG 46.513 30.037 13

Provinsi Banten 196.744 2.289 45.778 23,27 KURANG 9.837 7.548 14

Provinsi Jawa Tengah 962.471 19.327 386.544 40,16 KURANG 48.124 28.796 15

Provinsi D.I. Yogyakarta 55.523 1.527 30.548 55,02 KURANG 2.776 1.249 16

Provinsi Jawa Timur 1.107.276 16.660 333.207 30,09 KURANG 55.364 38.703 17

Provinsi Bali 81.425 1.749 34.988 42,97 KURANG 4.071 2.322 18

Provinsi Nusa Tenggara Barat 238.619 4.201 84.012 35,21 KURANG 11.931 7.730 19

Provinsi Nusa Tenggara Timur 142.479 950 19.002 13,34 KURANG 7.124 6.174 20

Provinsi Kalimantan Barat 307.016 926 18.525 6,03 KURANG 15.351 14.425

No PROPINSI KETERANGAN

(24)

23

Provinsi Kalimantan Timur 82.796 2.611 52.211 63,06 CUKUP 4.140 1.529 24

Provinsi Sulawesi Utara 52.789 833 16.653 31,55 KURANG 2.639 1.807 25

Provinsi Gorontalo 29.566 649 12.987 43,92 KURANG 1.478 829 26

Provinsi Sulawesi Tengah 136.241 4.919 98.376 72,21 CUKUP 6.812 1.893 27

Provinsi Sulawesi Selatan 572.089 15.455 309.091 54,03 KURANG 28.604 13.150 28

Provinsi Sulawesi Barat 59.476 810 16.203 27,24 KURANG 2.974 2.164 29

Provinsi Sulawesi Tenggara 82.898 2.734 54.682 65,96 CUKUP 4.145 1.411 30

Provinsi Maluku 11.451 77 1.540 13,45 KURANG 573 496 31

Provinsi Maluku utara 9.478 84 1.680 17,73 KURANG 474 390 32

Provinsi Papua 27.757 478 9.561 34,44 KURANG 1.388 910 33

Provinsi Papua Barat 7.711 101 2.020 26,20 KURANG 386 285 8.003.213

117.940 2.358.791 29,47 KURANG 400.161 282.221

Keterangan

I Coverage Area Hand Traktor = 20 Ha II Tingkat Kejenuhan

>100 % = Jenuh

60-100 % = Cukup

0-60 % = Kurang

TOTAL

Lanjutan

(25)

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ALSINTAN

1. Aspek Penyediaan dan Peredaran Alsintan : a. Surat keterangan hasil uji (test report) b. Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT-SNI).

c. Terjaminnya suku cadang alsintan d. Memiliki ijin dari Bupati/Walikota 2. Aspek Penggunaan :

a. Tidak membahayakan keselamatan dan keamanan operator

b. Tidak merusak lingkungan c. Sesuai kondisi spesifik lokasi

25

(26)

Lanjutan....

3.

Aspek Pengawasan :

a. Melindungi kepentingan pengguna, produsen, dan distributor.

b. Mencegah beredarnya alsin ilegal dan palsu.

4.

Aspek Pengelolaan alsintan :

Pengelolaan dilakukan melalui Usaha Pelayanan

Jasa Alsin (UPJA) bagian/diluar unit usaha Gapoktan

5.

Aspek Pembiayaan

a. APBN dan APBD

b. Kredit Program

c. PKBL dan CSR

(27)

DUKUNGAN ALSINTAN TERHADAP

PENINGKATAN PRODUKVITAS PERTANIAN

1. ALSIN Panen :

a. Mengurangi kehilangan hasil

b. Jenis Alsintan : Paddy mower, Reaper, Stripper, Combine harvester

2. ALSIN Pascapanen :

a. Mengurangi kehilangan hasil b. Meningkatkan kualitas hasil

c. Jenis Asintan : Power thresher, Dryer, Rice Milling Unit

27

(28)

LANGKAH OPERASIONAL MENDUKUNG SURPLUS 10 JUTA TON BERAS

1. Sarana : Traktor Roda 2 dan Rice Transplanter.

2. Manfaat :

- Percepatan tanam - Tanam Serentak - Mencegah OPT - Peningkatan IP 3. Peran Pemda :

• Mobilisasi alsintan antar atau di dalam kab.

• Menyediakan biaya mobillisasi.

• Melakukan Pendampingan

28

I. BRIGADE TANAM

(29)

Sarana : Padi Mower, Power Thresher, dan Combine Harvester

Manfaat :

- Panen serentak dan lebih cepat, mendukung tanam serentak.

- Penurunan kehilangan hasil.

- Peningkatan kualitas hasil.

Sarana : Hand Sprayer dan Power Weeder Manfaat :

- Pengamanan hasil

- Mengurangi eksplosi OPT

29

II. BRIGADE PANEN

III. BRIGADE PROTEKSI :

(30)

KEBUTUHAN ALSINTAN TERHADAP

TARGET PENYELAMATAN HASIL KOMODITAS PADI

Target Susut

Combine Harvester

Dryer Threser RMU Nilai Investasi

Yang Dibutuhk (%) (Unit) (Unit) (Unit) (Unit) (Juta Rp)

2011 1 329 584 1.314 469 467.605

2012 1,53 518 921 2.072 740 737.290

2013 1,79 643 1.143 2.573 919 915.235

2014 1,7 651 1.157 2.603 930 926.385

Tahun

(31)

Tahun Tahun

Target Target Penurunan Penurunan Susut Hasil Susut Hasil

(%) (%)

Sasaran Sasaran Produksi Produksi (Ton GKG) (Ton GKG)

Prediksi Prediksi Harga *)(Rp) Harga *)(Rp)

Pen

Pengamanan gamanan Produksi Produksi ((TonTon GKG)GKG)

Nilai Pengamanan Nilai Pengamanan

(R (Rp)p)

2011

2011 1,001,00 65.721.60165.721.601 3.3003.300 657.216657.216 2.2.168168..812.833812.833.000.000 2012

2012 1,1,5353 67.824.69267.824.692 44..151500 1.037.7171.037.717 44..306306..528.818528.818.000.000 2013

2013 1,1,7979 7722..063.735063.735 44..151500 11..289.941289.941 55..353.254.554353.254.554.000.000 2014

2014 1,71,700 7676..567567..719719 44..151500 1.1.301301..651651 55..401401..852.575852.575.000.000

Sasaran Susut Hasil Padi Tahun 2011 - 2014

Ket : *) Harga GKG Rp 4.150 /kg (sesuai Inpres Nomor 3 Tahun 2012)

31

**) Susut Hasil Tahun 2007 (10,82%) x GKG Rp 2.575/kg = Rp 15.9 triliun

(32)

DUKUNGAN PASCAPANEN TANAMAN PANGAN

Disamping kebutuhan inovasi dan fasilitasi alsin

pascapanen, diperlukan upaya untuk menggerakkan Kelembagaan Tani untuk menangani pascapanen yang baik.

Dibutuhkan suatu konsep Pengembangan Manajemen Pascapanen yang mengawal inovasi dan fasilitasi

Pascapanen di tingkat operasional.

32

(33)

1. Perlu dukungan seluruh sektor terkait, mengingat tidak

semua upaya mencapai sasaran surplus 10 juta ton beras berada dalam kewenangan Kementan.

2. Diperlukan dukungan anggaran memadai untuk mendukung strategi dan langkah operasional mencapai surplus 10 juta ton beras di masing-masing sektor terkait.

3. Perlu Inovasi Teknologi alsintan secara simultan dalam

mendukung proses budidaya dan penurunan susut hasil padi secara signifikan.

4. Diperlukan pengorganisasian Pengelolaan Alsintan yang kuat, untuk dapat mengoptimalkan Gerakan Percepatan

Tanam, Percepatan Panen dan Penanganan Serangan OPT

PENUTUP PENUTUP

33

(34)

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menentukan jumlah mikroba suatu bahan dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara, tergantung pada bahan dan jenis mikroba yang ditumbuhkan atau

Riset Manajemen Dan Akuntansi Volume10 Nomor 2 Edisi November 2019 4 Konsep pelayanan prima yaitu memberikan pelayanan minimal sesuai dengan standar pelayanan yakni cepat,

Selain beberapa hal diatas, keterkaitan peneliti tentang lirik lagu ini adalah peneliti tertarik menguak makna lagu ini, disebabkan lagu tersebut salah satu lagu yang

Biaya yang dimaksud adalah biaya yang dikeluarkan dalam sehari untuk melakukan perjalanan pergi dan pulang ke/dari tempat kegiatan. Biaya yang dikeluarkan responden

Pemerintah merespon adanya pandemic Covid-19 yang menyebar di Indonesia yaitu dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Hukum dan HAM (Permenkumham) Nomor 10 Tahun

Dalam standar akreditasi nasional maupun internasional dipersyaratkan agar rumah sakit melakukan monitoring indicator mutu klnis, manajerial, dan IPSG,

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa kelas IV SD 1 Gulang dapat disimpulkan bahwa model Think Pairs Share berbantuan media Pop-Up Book

(2) Standardisasi Indeks Biaya Perjalanan Dinas Pemerintah Kabupaten Magelang Tahun Anggaran 2018 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang