• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Ilmiah Kaputama (JIKA), Vol.5 No.1, April 2021 RAME SIRAIT 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Ilmiah Kaputama (JIKA), Vol.5 No.1, April 2021 RAME SIRAIT 1"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM MENYUSUN SILABUS DAN RPP MELALUI SUPERVISI AKADEMIK YANG

BERKELANJUTAN DI SD NEGERI 114361 BINANGA DUA KECAMATAN SILANGKITANG KABUPATEN LABUHANBATU

SELATAN TAHUN PELAJARAN 2020/2021

RAME SIRAIT1

SD NEGERI 114361 Binanga Dua

Binanga Dua, Silangkitang, South Labuhan Batu Regency, North Sumatra 21461

1[email protected]

ABSTRACT

Every process must always include three main activities, namely planning, implementing and evaluating. Likewise, what happened with the teaching and learning process in schools. A teacher is required to plan, implement and evaluate learning. The learning planning process that must be carried out by a teacher includes the main activities including: Making an annual program, making a syllabus, making a semester program, making a learning implementation plan and making a test / evaluation program. Of the five elements mentioned above, the syllabus and lesson plans are the minimum preparation for a teacher when they want to teach.

Based on the results of the analysis in the 2020/2021 school year at SD NEGERI 114361 Binanga Dua, the problem arises that the lack of teachers who make lesson plans, especially the preparation of syllabus and lesson plans. To examine the weak performance of teachers in this regard, a study was conducted to see to what extent the principal's academic supervision steps can improve teacher competence in the preparation of syllabus and lesson plans.

Learning This is evidenced by the increase in the number of good teacher syllabi from 31% to 83% after academic supervision. In addition, the number of good quality RPPs also increased from 31% to 89%.

ABSTRAK

Setiap proses pasti selalu meliputi tiga kegaiatan utama yakni perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Demikian pula yang terjadi dengan proses belajar mengajar di sekolah. Seorang guru diharuskan melakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Proses perencanaan pembelajaran yang harus dilakukan oleh seorang guru meliputi kegiatan utama antara lain: Membuat program tahunan, Membuat silabus, Membuat program semester, Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran Dan membuat program ulangan/evaluasi. Dari kelima unsure tersebut di atas, silabus dan RPP merupakan persiapan paling minimal seorang guru ketika hendak mengajar. Berdasar kepada hasil analisa pada tahun pelajaran 2020/2021 di SD NEGERI 114361 Binanga Dua, muncul permasalahan rendahnya guru yang membuat perencanaan pembelajaran khususnya penyusunan silabus dan RPP. Untuk meneliti lemahnya kinerja guru dalam hal tersebut, dilakukanlah penelitian untuk melihat sejauhmana langkah supervisi akademik kepala sekolah dapat meningkatkan kompetensi guru dalam penyusunan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Ini terbukti dengan meningkatnya jumlah silabus guru yang baik dari 31% menjadi 83% setelah supervise akademik. Selain itu jumlah RPP yang berkualitas baik juga meningkat dari 31% menjadi 89%.

(2)

1. PENDAHULUAN

Pendidikan adalah proses merubah manusia menjadi lebih baik, lebih mahir dan lebih terampil. Untuk mencapai tujuan tersebut tentunya dibutuhkan strategi yang disebut dengan strategi pembelajaran. Dalam strategi pembelajaran terkandung tiga hal pokok yakni perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Perencanaan program berfungsi untuk memberikan arah pelaksanaan pembelajaran sehingga menjadi terarah dan efisien. Salah satu bagian dari perencanaan pembelajaran yang sangat penting dibuat oleh guru sebagai pengarah pembelajaran adalah silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)[1].

Silabus memberikan arah tentang apa saja yang harus dicapai guna menggapai tujuan pembelajaran dan cara seperti apa yang akan digunakan. Selain itu silabus juga memuat teknik penilaian seperti apa untuk menguji sejauh mana keberhasilan pembelajaran.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah instrument perencanaan yang lebih spesifik dari silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini dibuat untuk memandu guru dalam mengajar agar tidak melebar jauh dari tujuan pembelajaran[2].

Dengan melihat pentingnya penyusunan perencanaan pembelajaran ini, guru semestinya tidak mengajar tanpa adanya rencana. Namun sayang perencanaan pembelajaran yang mestinya dapat diukur oleh kepala sekolah ini, tidak dapadiukur oleh kepala sekolah karena hanya direncanakan dalam pikiran sang guru saja[3]. Akibatnya kepala sekolah sebagai pembuat kebijakan di sekolah tidak dapat mengevaluasi kinerja guru secara akademik. Kinerja yang dapat dilihat oleh kepala sekolah hanyalah kehadiran tatap muka, tanpa mengetahui apakah

kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran sudah sesuai dengan harapan atau belum, atau sudahkah kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh siswa terkuasai dengan benar.

Hasil pengamatan di tahun pelajaran 2020/2021 di SD NEGERI 114361 Binanga Dua Kecamatan Silangkitang Kabupaten Labuhanbatu Selatan didapatkan data sebagai berikut:

Hanya 60% guru yang menyusun silabus dan RPP dan Secara kualitas, silabus dan RPP yang baik baru mencapai angka 30%

dari silabus dan RPP yang dibuat oleh guru.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, peneliti yang berkedudukan sebagai kepala sekolah di atas merencanakan untuk melakukan supervise akademik yang berkelanjutan. Dengan metode tersebut diharapkan setelah kegiatan, guru yang menyusun silabus dan RPP meningkat menjadi 90% dan kualitas silabus dan RPP yang baik menjadi 80%.

2. METODOLOGI PENELITIAN 2.1 Pengertian Guru

Guru yang profesional adalah mereka yang memiliki kemampuan profesional dengan berbagai kapasitasnya sebagai pendidik.

Studi yang dilakukan oleh Yasnawati menunjukkan bahwa Guru yang bermutu dapat diukur dengan lima indikator, yaitu:

pertama, kemampuan profesional (professional capacity), sebagaimana terukur dari ijazah, jenjang pendidikan, jabatan dan golongan, serta pelatihan[4].

Kedua, upaya profesional (professional efforts), sebagaimana terukur dari kegiatan mengajar, pengabdian dan penelitian.

Ketiga, waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional (teacher’s time), sebagaimana terukur dari masa jabatan, pengalaman mengajar serta lainnya.

Keempat, kesesuaian antara keahlian dan

(3)

pekerjaannya (link and match), sebagaimana terukur dari mata pelajaran yang diampu, apakah telah sesuai dengan spesialisasinya atau tidak, serta kelima, tingkat kesejahteraan (prosperiousity) sebagaimana terukur dari upah, honor atau penghasilan rutinnya[4]. Tingkat kesejahteraan yang rendah bisa mendorong seorang pendidik untuk melakukan kerja sambilan, dan bilamana kerja sambilan ini sukses, bisa jadi profesi mengajarnya berubah menjadi sambilan.

Guru yang profesional amat berarti bagi pembentukan sekolah unggulan. Guru profesional memiliki pengalaman mengajar, kapasitas intelektual, moral, keimanan, ketaqwaan, disiplin, tanggungjawab, wawasan kependidikan yang luas, kemampuan manajerial, trampil, kreatif, memiliki keterbukaan profesional dalam memahami potensi, karakteristik dan masalah perkembangan peserta didik, mampu mengembangkan rencana studi dan karir peserta didik serta memiliki kemampuan meneliti dan mengembangkan kurikulum[5].

Makin kuatnya tuntutan akan profesionalisme guru bukan hanya berlangsung di Indonesia, melainkan di negara-negara maju. Seperti Amerika Serikat, isu tentang profesionalisme guru ramai dibicarakan pada pertengahan tahun 1980-an. Jurnal terkemuka manajemen pendidikan, Educational Leadership edisi Maret 1933 menurunkan laporan mengenai tuntutan guru professional.

Menurut Jurnal tersebut, untuk menjadi professional, seorang guru dituntut memiliki lima hal, yakni:

a. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswanya.

b. Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkan serta cara mengajarkannya kepada siswa. Bagi guru, hal ini meryupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

c. Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampau tes hasil belajar.

d. Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. Artinya, harus selalu ada waktu untuk guru guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya.

Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik dan buruk dampaknya pada proses belajar siswa.

e. Guru seyogianya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya, misalnya PGRI dan organisasi profesi.[6]

2.2 Kompetensi Guru

Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar, Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru[7].

Diyakini kompetensi yang diperlukan oleh seseorang tersebut dapat diperoleh baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman[8].

Kompentensi berarti suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun yang kuantitatif. Sebagaimana dikutip oleh Pramadewi mengemukakan bahwa kompetensi: “…is a knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his

(4)

or her being to the extent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviors”[9].

Dalam hal ini, kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku- perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik- baiknya.

Sejalan dengan Anggraeni mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan[10]. James Pellegrino “A competency is composed of skill, knowledge, and attitude, but in particular the consistent applications of those skill, knowledge, and attitude to the standard of

performance required in

employment[11]”. Dengan kata lain kompetensi tidak hanya mengandung pengetahuan, keterampilan dan sikap, namun yang penting adalah penerapan dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukan tersebut dalam pekerjaan.

Robbins (2001:37) menyebut kompetensi sebagai ability, yaitu kapasitas seseorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan.

Selanjutnya dikatakan bahwa kemampuan individu dibentuk oleh dua faktor, yaitu faktor kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan kegiatan mental sedangkan kemampuan fisik adalah kemampuan yang di perlukan untuk melakukan tugas- tugas yang menuntut stamina, kecekatan, kekuatan, dan keterampilan.Spencer &

Spencer (1993:9) mengatakan

“Competency is underlying characteristic of an individual that is causally related to

criterion-reference effective and/or superior performance in a job or situation”. Jadi kompetensi adalah karakteristik dasar seseorang yang berkaitan dengan kinerja berkriteria efektif dan atau unggul dalam suatu pekerjaan dan situasi tertentu. Selanjutnya Spencer &

Spencer menjelaskan, kompetensi dikatakan underlying characteristic karena karakteristik merupakan bagian yang mendalam dan melekat pada kepribadian seseorang dan dapat memprediksi berbagai situasi dan jenis pekerjaan. Dikatakan causally related, karena kompetensi menyebabkan atau memprediksi perilaku dan kinerja.

Dikatakan criterion-referenced, karena kompetensi itu benar-benar memprediksi siapa-siapa saja yang kinerjanya baik atau buruk, berdasarkan kriteria atau standar tertentu. Kompetensi adalah seperangkat tindakan intelegen penuh tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksankan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Sifat intelegen harus ditunjukan sebagai kemahiran, ketetapan, dan keberhasilan bertindak.

Sifat tanggung jawab harus ditunjukkan sebagai kebenaran tindakan baik dipandang dari sudut ilmu pengetahuan, teknologi maupun etika. Kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai- nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak [12].

Menurut Musadad “kompetensi” adalah kemampuan, kecakapan, keadaan berwenang, atau memenuhi syarat menurut ketentuan hukum. Selanjutnya masih menurut Syah, dikemukakan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak[13].

(5)

Berdasarkan uraian di atas kompetensi guru dapat didefinisikan sebagai penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam menjalankan profesi sebagai guru (dikutip dari Kompetensi Guru oleh Rastodio, 29 Juli 2009)

2.3 Kompetensi Pedagogik

Menurut Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru Dan Dosen pasal 10 ayat (1) kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Salah satu kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang guru seperti diamanatkan dalam Peraturan pemerintah diatas adalah kompetensi pedagogic. Dalam Undang- undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi pedagogik adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”. Dalam Buku Depdiknas menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi ini dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian.

Seperti uraian diatas, unsure pertama dalam kompetensi pedagogic seorang guru adalah kemampuan merencanakan program belajar mengajar. Kemampuan merencanakan program belajar mengajar mencakup kemampuan:

1) Merencanakan pengorganisasian bahan-bahan pengajaran,

2) Merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar,

3) Merencanakan pengelolaan kelas, 4) Merencanakan penggunaan media

dan sumber pengajaran; dan 5) Merencanakan penilaian prestasi

siswa untuk kepentingan pengajaran.

Dalam Depdiknas mengemukakan kompetensi penyusunan rencana pembelajaran meliputi:

1) Mampu mendeskripsikan tujuan, 2) Mampu memilih materi,

3) Mampu mengorganisir materi, 4) Mampu menentukan metode/strategi

pembelajaran,

5) Mampu menentukan sumber belajar/media/alat peraga pembelajaran,

6) Mampu menyusun perangkat penilaian,

7) Mampu menentukan teknik penilaian, dan

8) Mampu mengalokasikan waktu.

Berdasarkan uraian di atas, merencanakan program belajar mengajar merupakan proyeksi guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung, yang mencakup: merumuskan tujuan, menguraikan deskripsi satuan bahasan, merancang kegiatan belajar mengajar, memilih berbagai media dan sumber belajar, dan merencanakan penilaian penguasaan tujuan. Perangkat perencanaan pembelajaran yang mengandung unsure- unsur tersebut diatas dan merupakan perangkat pembelajaran paling utama adalah silabus pembelajaran dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

2.4 RPP dan Silabus

Dalam RPP disebutkan langkah-langkah pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Dalam kegiatan pendahuluan disebutkan persiapan pembelajaran,

(6)

apersepsi. Langkah-langkah dalam kegiatan pendahuluan meliputi, peserta didik berdoa sebelum belajar, memeriksa kehadiran dan kesiapan peserta didik, peserta didik diarahkan guru untuk membentuk kelompok dengan anggota 4 orang, apersepsi: tanya jawab tentang jenis – jenis tembang Macapat, bertanya jawab tentang jenis huruf Jawa dan pasangannya, menyampaikan tujuan pembelajaran.

Dalam kegiatan inti memuat kegiatan 5 M sebagai ciri dari pembelajaran kurikulum 2013[14].

Hanya saja kegiatan 5M belum semua dituliskan. Dalam kegiatan penutup guru memberikan kesimpulan dari hasil pembelajaran yang sudah berlangsung.

Langkah-langkah kegiatan pada penutup meliputi: Guru bersama peserta didik menyimpulkan materi PBM, guru bersama peserta didik melakukan refleksi tentang proses dan hasil pembelajaran yang telah dicapai, peserta didik menyampaikan rasa puas atau tidaknya mengikuti kegiatan pembelajaran[14].

1. Penilaian hasil belajar

Dalam RPP tertulis beberapa aspek penilaian yang harus diambil guru pada waktu pembelajaran, terdapat penilaian sikap, penilaian pengetahuan, dan keterampilan.

Deskripsi Kesesuaian RPP dengan Pelaksanaan Pembelajaran.

Hasil kesesuaian RPP dengan pelaksanaan Pembelajaran, terdapat komponen yang sesuai dan yang tidak sesuai, berikut akan dipaparkan komponen apa saja yang sesuai dan tidak sesuai dengan RPP.

Deskripsi Kesesuaian RPP dengan Pelaksanaan Pembelajaran Kompetensi Dasar Menyampaikan Pesan secara Lisan yang sesuai[15].

2. Materi Pembelajaran

Guru 1 sudah memberikan materi sesuai dengan silabus yaitu tentang pengertian dan jenis-jenisnya kemudian memberi contoh dengan dialog menyampaikan pesan/atur- atur.

3. Penilaian Hasil Belajar

Penilaian hasil belajar diambil dari tiga aspek yaitu aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan.

Dalam pembelajaran menyampaikan pesan secara lisan Guru 3 memberikan tugas membuat dialog atur-atur.

Deskripsi Kesesuaian RPP dengan Pelaksanaan Pembelajaran Kompetensi Dasar Menyampaikan Pesan secara Lisan yang tidak sesuai.

1. Alokasi Waktu

Alokasi waktu yang direncanakan untuk pelaksanaan pembelajaran menyampaikan pesan seharusnya dua kali pertemuan, namun hanya menggunakan satu pertemuan saja.

2. Indikator dan Tujuan pembelajaran Indikator yang tercantum sudah terlaksana, namun tidak ada pengembangan indikator yang dilakukan, perlu ada indikator lain sehingga pencapaian kompetensi dasar dapat tercapai dengan maksimal.

Kompetensi dasar menyampaikan pesan/atur atur belum dapat tercapai[15].

2.5 Pendekatan

Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan scientific sesuai yang diarahkan dalam kurikulum 2013. Pendekatan scientific dalam RPP kompetensi dasar menyampaikan pesan ditandai dengan adanya kegiatan mengamati yaitu dengan melakukan pengamatan terhadap dialog atur-atur yang dibacakan oleh perwakilan

(7)

peserta didik, kemudian mendiskusikan yang dilakukan dengan adanya diskusi antar peserta didik dalam satu kelompok yang mendiskusikan dialog atur-atur tersebut dengan panduan pertanyaan yang sudah diberikan oleh guru, yang dilanjutkan dengan mengasosiasikan yaitu dilakukan dengan mengerjakan soal atau pertanyaan yang diberikan oleh guru. Kegiatan atau langkah-langkah yang sudah dilaksanakan oleh guru 1,2, dan 3 hanya terbatas pada kegiatan mengamati, sehingga pendekatan ini belum begitu terlihat. Pelaksanaan dari pendekatan saintifik sebaiknya dilakukan lebih matang lagi sehingga penggunaan pendekatan saintifik dalam pembelajaran dapat terlihat nyata[14].

2.6 Materi Pembelajaran

Dalam silabus sudah tercantum materi pembelajaran yang harus diajarkan guru kepada peserta didik, walaupun hanya sekedar poin-poinnya, karena guru yang bertugas untuk mengembangkan materi tersebut. Seharusnya untuk menyampaikan pesan/atur-atur dalam silabus sudah jelas tertulis untuk memahami konstruksi kalimat yang membentuk dialog atur-atur tersebut, namun pada pelaksanaannya untuk bagian konstruksi kalimat ini tidak diajarkan. Dalam pelaksanaan pembelajaran materi menyampaikan pesan guru 2 dan 3 kurang menjelaskan materi tentang pesan hanya fokus pada dialog.

3 Metode

Metode yang tertulis dalam RPP yaitu menggunakan tanya jawab, diskusi, dan penugasan. Pada pelaksanaannya metode yang digunakan hanya penugasan yang dilakukan oleh guru 3, itu pun guru hanya memberikan tugas yang dikerjakan di rumah. Untuk metode Tanya jawab belum dapat terlaksana karena kurangnya rasa percaya diri dan keingintahuan peserta

didik masih kurang, sehingga mereka enggan untuk bertanya dan guru masih menjadi pusat pembelajaran. Diskusi seharusnya dilakukan setelah mengamati dialog atur-atur atau diskusi seharusnya dilakukan sebelum terlaksananya kegiatan penugasan kelompok. Diskusi tersebut pun belum sesuai yang diharapkan karena dalam satu kelompok tidak semua ikut berdiskusi dan terkadang malah membutuhkan waktu yang lama.

4 Media dan Sumber Materi

Media yang tertulis dalam RPP yaitu dialog pesan untuk dengaran, laptop, LCD, dan speaker. Pada pelaksanaannya alat-alat tersebut tidak digunakan

5 Langkah-langkah Pembelajaran

Dalam pendahuluan terdapat langkah yang tidak dilaksanakan oleh guru yaitu apersepsi untuk menunjukan contoh iklan untuk membangkitkan semangat peserta didik, dan juga tidak menyampaikan tujuan pembelajaran. Pada kegiatan inti kegiatan menanya, diskusi dan mengkomunikasikan juga belum terlaksana dengan baik, pada kegiatan menanya, guru tidak memancing peserta didik untuk bertanya mengenai materi atau pesan yang sudah diamati bersama. Kegiatan diskusi juga belum berjalan dengan baik, peserta didik hanya menjawab pertanyaan dari guru mengenai atur-atur yang sudah didengarkan melalui dialog atau percakapan perwakilan dari peserta didik yang lain. Untuk kegiatan mengkomunikasikan juga tidak terlaksana karena peserta didik tidak menyampaikan pesan atau atur-atur seperti pada kompetensi dasar tersebut, peserta didik hanya menyampaikan contoh pesan secara berkelompok, dan itu hanya perwakilan.

6 Penilaian Hasil Belajar

Penilaian yang seharusnya dilaksanakan meliputi tiga penilaian. Penilaian dari aspek sikap, pengetahuan, dan aspek

(8)

keterampilan. Pada pelaksanaannya penilaian yang digunakan yaitu instrumen penilaian keterampilan. Penilaian tersebut diambil dari tugas membuat dialog atur- atur yang dikerjakan di rumah. Untuk penilaian sikap guru tidak mengambilnya secara spesifik.

Deskripsi Kesesuaian RPP dengan Pelaksanaan Pembelajaran Kompetensi Dasar Membaca dan Menulis Tembang Gambuh Beraksara Jawa[15].

Dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Jawa Kompetensi Dasar membaca dan menulis tembang gambuh beraksara Jawa terdapat beberapa komponen yang sudah sesuai dengan RPP, dan beberapa komponen yang kurang sesuai dengan RPP yang ada. Berikut disajikan deskripsinya.

2.7 Supervisi Akademik

Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wilsebagai berikut : “Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation”[16]. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment).

Situasi belajar inilah yang seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan supervisi. Dengan demikian layanan supervisi tersebut mencakup seluruh aspek dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran.

Konsep supervisi tidak bisa disamakan dengan inspeksi, Inspeksi lebih menekankan kepada kekuasaan dan bersifat otoriter, sedangkan supervisi lebih menekankan kepada persahabatan yang dilandasi oleh pemberian pelayanan dan

kerjasama yang lebih baik diantara guru- guru, karena bersifat demokratis. Istilah supervisi pendidikan dapat dijelaskan baik menurut asal usul (etimologi), bentuk perkataannya (morfologi), maupun isi yang terkandung dalam perkataan itu ( semantik)[1].

1. Etimologi Istilah supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris “ Supervision” artinya pengawasan di bidang pendidikan. Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor.

2) Morfologis

Supervisi dapat dijelaskan menurut bentuk perkataannya. Supervisi terdiri dari dua kata.Super berarti atas, lebih. Visi berarti lihat, tilik, awasi. Seorang supervisor memang mempunyai posisi di atas atau mempunyai kedudukan yang lebih dari orang yang disupervisinya.

3) Semantik

Pada hakekatnya isi yang terkandung dalam definisi yang rumusannya tentang sesuatu tergantung dari orang yang mendefinisikan. Wiles secara singkat telah merumuskan bahwa supervisi sebagai bantuan pengembangan situasi belajar mengajar agar lebih baik. Adam dan Dickey merumuskan supervisi sebagai pelayanan khususnya menyangkut perbaikan proses belajar mengajar.

Sedangkan Depdiknas merumuskan supervisi sebagai berikut : “ Pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik “[17].

Dengan demikian, supervisi ditujukan kepada penciptaan atau pengembangan situasi belajar mengajar yang lebih baik.

(9)

Untuk itu ada dua hal (aspek) yang perlu diperhatikan :

a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar

b. Hal-hal yang menunjang kegiatan belajar mengajar

Karena aspek utama adalah guru, maka layanan dan aktivitas kesupervisian harus lebih diarahkan kepada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. Untuk itu guru harus memiliki kemampuan personal, kemampuan profesional dan kemampuan social[17].

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama 2 siklus. Masing- masing siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Metode penelitian yang dilakukan peneliti adalah dengan melaksanakan supervise akademik yang meliputi supervise tradisional dan supervise klinis yang secara rinci.

1. Siklus pertama a. Perencanaan

Tahap perencanaan pelaksanaan siklus 1 dilaksanakan peneliti pada minggu pertama Februari 2021.

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini dapat dilihat pada table pelaksanaan kegiatan dibawah ini.

Tabel 1. Tahap Perencanaan Siklus 1

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan pada siklus pertama dilaksanakan pada minggu ke-2 Februari 2020. Secara lebih rinci dapat dilihat pada table berikut.

Tabel 2. Tahap Pelaksanaan Siklus 1

2. Siklus Kedua

Tabel 3. Tahap Perencanaan Siklus 2

Pada tahap ini, guru-guru yang sudah siap perangkat perencanaan pembelajarannya disupervisi kelas oleh peneliti. Hal ini untuk melihat kesesuaian perencanaan pembelajaran dengan pelaksanaan pembelajaran.

Tabel 4. Tahap Pelaksanaan Siklus 2

3. Kuantitas silabus dan RPP tahun pelajaran 2020/2021

Pada akhir tahun pelajaran 2020/2021, peneliti mencatat guru yang menyetorkan perangkat pembelajaran untuk

(10)

ditandatangani. Hasil perhitungan perangkat pembelajaran yang dikumpulkan dapat dilihat pada table berikut:

Tabel5. Daftar Setoran Perangkat Pembelajaran Tahun Pelajaran 2020/2021

Tabel 6. Rekapitulasi Guru Yang Menyetorkan Perangkat Pembelajaran

Dari table di atas jelas terlihat bahwa data dasar guru yang meyusun perangkat pembelajaran adalah sebesar 68 dan 63%.

Dari silabus dan RPP yang terkumpul ini, kemudian penulis melakukan penelaahan terhadap kualitas dari perangkat pembelajaran yang dikumpulkan terutama pada silabus dan RPP. Data yang diperoleh dari penelaahan tersebut dapat digambarkan pada table kualitas silabus dan RPP SD NEGERI 114361 Binanga dua.

4. Kualitas silabus dan RPP guru tahun pelajaran 2020/2021

Kualitas silabus dan RPP yang dibuat oleh guru SD Negeri 114361 Binanga Dua.

secara umum dapat dikatakan kurang baik.

Hal ini dikarenakan masih banyak silabus dan RPP yang masih menggunakan format lama dan terkesan tidak original (copy paste dari orang lain). Hal ini terlihat dari tidak timbulnya visi dan misi serta tujuan sekolah pada silabus dan RPP yang dibuat oleh guru. Secara lebih jelas berikut penulis gambarkan hasil penilaian penulis terhadap kualitas silabus dan RPP 11 orang guru SD Negeri 114361 Binanga Dua tahun pelajaran 2020/2021.

Tabel 7. Daftar Nilai Kualitas Silabus Dan Rpp Tahun Pelajaran 2020/2021

Pada siklus ini seluruh guru diminta untuk mengumpulkan perangkat pembelajaran tersebut. Selanjutnya peneliti melakukan analisis dan penilaian terhadap kuantitas guru yang menyetorkan perangkat pembelajaran terutama silabus dan RPP.

Dari hasil perhitungan peneliti terhadap jumlah guru yang mengumpulkan silabus dan RPP didapatkan data sebagai berikut:

Tabel 8. Rekapitulasi Perhitungan Pengumpulan Silabus Dan Rpp Pada

Siklus 1

(11)

Tabel 9. Rekapitulasi Penilaian Silabus Dan Rpp Setelah Revisi (Siklus 1)

Hasil analisa revisi silabus dan RPP pada table diatas memperlihatkan terjadinya peningkatan kualitas silabus dan RPP.

Dimana kualitas A dan B meningkat dari 28 dan 44% menjadi 83 dan 89%. Dari sini pula terlihat bahwa jumlah guru yang mengumpulkan sampel silabus dan RPP menjadi 100%.

5. Kompetensi guru menyusun silabus dan RPP setelah siklus ke-2

Pada siklus kedua ini, penelitian dilanjutkan dengan menganalisa/menguji keaslian silabus dan RPP yang disusun oleh guru. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan supervise kelas. Dari pelaksanaan rencana pembelajaran ini, dapat terlihat keaslian penyusunannya.

Hasil dari analisa penguat tersebut, menunjukkan bahwa silabus dan RPP yang dikumpulkan benar disusun oleh guru yang

bersangkutan. Karena terjadi kesesuaian scenario antara perencanaan dan pelaksanaan di kelas.

Tabel 10. Hasil Penilaian Supervisi Kelas

Dari hasil perhitungan pada table di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa silabus dan RPP yang dikumpulkan guru adalah bersifat original. Hal ini terlihat dengan cukup besarnya guru mampu melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana yang dibuat.

4. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang terurai pada Hasil dan pembahasan, kami dapat menyimpulkan bahwa:

1. Supervisi akademik secara berkelanjutan terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun silabus dan RPP di SD Negeri 114361 Binanga Dua. Ini terbukti dengan meningkatnya jumlah silabus guru yang baik dari 31% menjadi 83%

setelah supervise akademik. Selain itu jumlah RPP yang berkualitas baik juga meningkat dari 31%

menjadi 89%.

2. Langkah-langkah yang mengakibatkan terjadinya peningkatan kompetensi guru dalam menyusun silabus dan RPP Pengumuman rencana supervisi terhadap guru.

3. Pelaksanaan supervise individual, dimana setiap guru diminta mempresentasikan silabus dan RPP-nya kepada kepala sekolah,

(12)

kemudian kepala sekolah memberikan masukan terhadap kekurangan silabus dan RPP guru.

4. Untuk mengecek originalitas silabus dan RPP yang disusun guru, kepala sekolah melakukan supervise kelas. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan rencana yang dimuat dalam silabus dan RPP dengan penerapannya di kelas. Jika

sesuai maka dapat

dipastikan,kompetensi guru dalam menyusun silabus dan RPP tersebut benar (bukan jiplakan atau dibuatkan orang lain). Jika banyak ketidaksesuaian maka ada kemungkinan silabus dan RPP tersebut dibuatkan oleh orang lain.

5. Peningkatan kompetensi guru dalam menyusun silabus dan RPP yang baik meningkat sebesar 52%

dan 58%.

5. SARAN

Untuk kawan-kawan kepala sekolah, pelaksanaan supervise individual sangat cocok digunakan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun silabus dan RPP yang selama ini masih menjadi administrasi yang masih sulit diminta dari guru-guru kita. Untuk mengujinya, kita dapat menggunakan supervise kelas. Untuk pengawas diharapkan dapat memberikan masukan yang lebih jelas dan terarah dalam pembinaan terhadap guru.

DAFTAR PUSTAKA

[1] A. Ahmad, “SUPERVISI AKADEMIK BERKELANJUTAN

SEBAGAI UPAYA

PENINGKATAN KOMPETENSI

GURU DALAM MENYUSUN

SILABUS DAN RPP DI SMA

NEGERI BARENG KAB.

JOMBANG,” DAR EL-ILMI J.

Stud. Keagamaan, Pendidik. dan Hum., vol. 6, no. 1, pp. 147–156, Apr. 2019, Accessed: Apr. 22, 2021.

[Online]. Available: http://www.e- jurnal.unisda.ac.id/index.php/dar/art icle/view/1556.

[2] R. H. Ali, “PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM

MENYUSUN RENCANA

PELAKSANAAN

PEMBELAJARAN (RPP)

MELALUI SUPERVISI

AKADEMIK OLEH KEPALA SEKOLAH DI SD NEGERI 43

KOTA TERNATE TAHUN

PELAJARAN 2017–2018,” J.

Geocivic, vol. 2, no. 2, Oct. 2019, doi: 10.33387/geocivic.v2i2.1477.

[3] A. Pacinongi and A. Asrifan,

“Bimbingan Pengawas

Berkelanjutan dalam Mewujudkan Pendidikan Karakter Bangsa dalam Kegiatan Belajar Mengajar Penjaskes,” Celeb. Educ. Rev., vol.

2, no. 1, pp. 1–7, Apr. 2020, doi:

10.37541/cer.v2i1.317.

[4] G. K. Yasnawati and N. Natajaya2,

“KEMAMPUAN MANAJERIAL, MOTIVASI KEPALA SEKOLAH DAN PROFESIONALISME GURU

TERHADAP KUALITAS

PEMBELAJARAN PADA PARA GURU DI SMA SE-KECAMATAN SUKASADA,” May 2013. doi:

10.23887/JAPI.V4I1.561.

[5] J. Jamaluddin, “Guru Sebagai Profesi,” J. Al-Qalam J. Kaji. Islam Pendidik., vol. 6, no. 1, pp. 74–89, Mar. 2020, doi: 10.47435/al- qalam.v6i1.119.

[6] A. Said, “Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Melestarikan Budaya Mutu Sekolah,” J. Eval., vol.

2, no. 1, p. 257, Apr. 2018, doi:

10.32478/evaluasi.v2i1.77.

[7] K. Kompetensi Pedagogik, K.

Profesional dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Guru Penjasorkes

(13)

SMP di Kabupaten Pati Salmawati, T. Rahayu, W. Lestari, and S.

Artikel, “Journal of Physical Education and Sports Info Artikel,”

Sep. 2017. doi:

10.15294/JPES.V6I2.17397.

[8] I. Ruhana, J. A. Bisnis, and F. Ub,

“Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia vs Daya Saing Global-51,” 2012. Accessed: Apr.

22, 2021. [Online]. Available:

https://profit.ub.ac.id/index.php/prof it/article/view/134.

[9] A. Pramadewi, “Influence of Organizational Climate, Professional Competence of the Work Motivation and Impact on the Performance Faculty of Economics, University of Riau,” Online, 2015.

Accessed: Apr. 22, 2021. [Online].

Available: www.iiste.org.

[10] N. Anggraeni, Nora, Anggraeni, Nora, Anggraeni, and Nora,

“Kompetensi instruktur pelatihan kecantikan,” SKRIPSI Mhs. UM, vol.

0, no. 0, Jul. 2015, Accessed: Apr.

22, 2021. [Online]. Available:

http://mulok.library.um.ac.id/index3 .php/70675.html.

[11] James Pellegrino and Margaret L.

Hilton, “Education for Life and Work: Developing Transferable Knowledge and Skills in ... - National Research Council, Division of Behavioral and Social Sciences and Education, Board on Science Education, Board on Testing and Assessment, Committee on Defining Deep,” National Research Council, 2012.

[12] Hasan Baharun, “Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Sistem Kepemimpinan Kepala Madrasah | At-Tajdid: Jurnal Ilmu Tarbiyah,”

Jurnal Ilmu Tarbiyah, 2017.

http://ejournal.inismupacitan.ac.id/i ndex.php/tajdid/article/view/38 (accessed Apr. 22, 2021).

[13] A. Musaddad, J. Jalaluddin, and L.

Hakim, “KOMPETENSI

KEPRIBADIAN GURU

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

DALAM MENINGKATKAN

DISIPLIN SISWA DI SEKOLAH SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 KOTA JAMBI,” Aug.

2020.

[14] R. M. Setiyasih, “Kesesuaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Jawa di SMP Se-Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang,” Piwulang J. Pendidik.

Bhs. Jawa, vol. 4, no. 1, May 2016, doi: 10.15294/PIWULANG JAWA.V4I1.10292.

[15] R. Aprilianti and B. Tampubolon Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Untan,

“PENINGKATAN HASIL

BELAJAR MENULIS

KARANGAN DESKRIPSI

MENGGUNAKAN METODE

KOOPERATIF CONCEPT

MAPPING DI SD,” Jan. 2018.

Accessed: Apr. 22, 2021. [Online].

Available:

https://jurnal.untan.ac.id/index.php/j pdpb/article/view/23445.

[16] H. Borko and V. Mayfield, “The roles of the cooperating teacher and university supervisor in learning to teach,” Teach. Teach. Educ., vol. 11, no. 5, pp. 501–518, Sep. 1995, doi:

10.1016/0742-051X(95)00008-8.

[17] S. Prabowo and D. S. Yoga,

“SUPERVISI KUNJUNGAN

KELAS SEBAGAI UPAYA

MEMBINA PROFESIONAL

GURU SLTP/SLTA,” J. Sos. Hum., vol. 9, no. 1, p. 96, Jun. 2016, doi:

10.12962/j24433527.v9i1.1281.

Gambar

Tabel 1. Tahap Perencanaan  Siklus 1
Tabel 7. Daftar Nilai Kualitas Silabus Dan  Rpp Tahun Pelajaran 2020/2021
Tabel 9. Rekapitulasi Penilaian Silabus  Dan Rpp Setelah Revisi (Siklus 1)

Referensi

Dokumen terkait

Selama penelitian, keramik merupakan temu- an yang paling banyak didapatkan bila dibandingkan dengan artefak lainnya. Temuan keramik hasil survei sebagian besar dapat

Pada eksperimen ini telah diukur data neutron adalah akibat adanya penyerapan neutron intensitas hamburan neutron sudut kecil cuplikan oleh penyetop berkas yang

Maka dari itu seorang guru Pendidikan Agama Kristen juga memiliki peran yang sama pentingnya dengan guru-guru lain dalam membentuk karakter siswa.. Dalam pendidikan, tujuan

Faktor-faktor yang diketahui berhubungan bermakna secara statistik dengan praktik responden terkait kesehatan maternal adalah cara pembayaran kesehatan, aksesabilitas terhadap

Contoh yang lain misal- nya gliserol yang diperlukan untuk sintesis triasilgliserol dalam jaringan lemak tidak bisa dipakai oleh jaringan ini, akan tetapi akan dibawa ke

Keywords : group, semigroup, topological semigroup, topological group, inverse mapping,

Pedoman Observasi Penanaman Nilai-Nilai Darma Pramuka Pada Siswa SD Islam Imama Semarang (Analisis Bimbingan Keagamaan Islam).. NO KEGIATAN PENGAMATAN JAWABAN

Suatu perusahaan yang mempunyai RMC yang berdiri sendiri dan terpisah dari Komite Audit akan membuat anggota komite lebih fokus secara penuh pada berbagai proses