Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Pendidikan Karakter
Siswa di SMP Kristen GPIB Balikpapan
Oleh
Shyllia Dea Wattimena 712015122
TUGAS AKHIR
Diajukan kepada Program Studi: Ilmu Teologi, Fakultas: Teologi guna
memenuhi sebagian dari persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana.
Program Studi Ilmu Teologi
FAKULTAS TEOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
vi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena kasih dan karuniaNya yang sungguh luar biasa dalam kehidupan penulis. Secara khusus, penulis mengucapkan syukur karena perkenananNya bagi penulis selama penulis menjalani masa pendidikan di Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
Tugas Akhir ini ditulis sebagai persyaratan dalam mencapai gelar Sarjana Sains dalam bidang Teologi (S.Si Teol). Disamping itu, dalam menyusun Tugas Akhir ini penulis berharap karya tulis ini dapat bermanfaat untuk sekolah-sekolah khususnya sekolah Kristen dalam menerapkan pendidikan karakter yang sesuai dengan karakter Yesus dan sebagai guru pendidikan agama Kristen dapat menjadi contoh yang baik bagi peserta didik dalam tumbuh dan berkembang. Besar harapan penulis, semoga karya tulis ini dapat menjadi berkat bagi para pembaca.
Penulis
vii
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas akhir tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dari banyak pihak yang senantiasa tulus membantu penyelesaian tugas akhir ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa menjadi sandaran dan kekuatan saya, yang selalu memberkati dan mengasihi saya dalam segala situasi dan kondisi. Untuk setiap kebaikan dan karunia yang saya selalu dinyatakan bagi saya. 2. Ayah (Bpk. Richard Harold Wattimena) dan Bunda (Ibu Atty Aryati
Wattimena) yang sangat saya cintai, untuk setiap semangat, dukungan doa, motivasi, pengertian, kesabaran, kasih sayang serta semua kerja keras yang selalu diberikan kepada saya dalam setiap langkah kehidupan saya bahkan dalam proses penyelesaian perkuliahan ini. Juga kepada kedua adik laki-laki saya Kriclend dan Keane yang turut memberikan semangat, doa dan selalu menyayangi saya.
3. Yulius Yusak Ranimpi dan Iky Sumarthina P. Prayitno, kedua dosen pembimbing saya yang sudah bersedia membimbing dan mengarahkan saya dalam proses penulisan tugas akhir. Sehingga TA saya dapat diselesaikan dengan baik.
4. SMP Kristen GPIB Balikpapan yang telah bersedia menjadi tempat penelitian dan kepada seluruh narasumber saya dalam penulisan tugas akhir ini.
5. Pdt. Gusti A.B. Menoh, Pdt. Astrid Bonik Lusi, Pdt. Abraham Silo Wilar dan Pdt. Tony Tampake yang telah menjadi wali studi saya selama masa perkuliahan saya. Untuk setiap dukungan doa dan motivasi yang telah diberikan kepada saya.
6. Semua dosen Fakultas Teologi yang telah berjasa memberikan ilmu, motivasi serta pengalaman selama masa perkuliahan saya, bahkan telah menjadi
viii
orangtua saya. Juga kepada seluruh staff di Fakultas Teologi yang telah melayani mahasiswa dengan baik dan sabar.
7. GPIB Ambarawa-Tambakrejo-Kebondowo (ATK), yang telah menerima saya untuk melaksanakan PPL I-VIII. Terima kasih untuk setiap pengalaman, pembelajaran dan bimbingan yang sudah saya terima selama melaksanakan PPL.
8. GPIB Maranatha Banjarmasin, yang telah menerima saya dengan tulus hati untuk melaksanakan PPL akhir saya (PPL X). Kepada Pdt. Luther Baktiar Tappi sekeluarga, Keluarga Sigarlaki, dan seluruh jemaat Maranatha Banjarmasin yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, saya sangat berterima kasih untuk setiap dukungan doa, semangat, motivasi serta kasih sayang yang sudah boleh saya terima dan saya rasakan selama melaksanakan PPL di sana.
9. Opa Dominggus Tatipata yang selalu memberikan banyak nasihat, doa, dukungan terlebih lagi kasih sayang yang dirasakan sampai sekarang. Terima kasih sudah menjadi role model dalam kehidupan saya.
10. Keluarga besar Wattimena, Tatipata, Hitalessy, Tita, Fransiscus untuk setiap doa, support dan kasih sayang yang tidak pernah habis diberikan kepada saya. 11. Keluarga besar Teologi 2015 untuk setiap tawa, senyuman, tangisan, kebersamaan, kasih sayang, keseruan dan rasa kekeluargaan yang boleh dilalui dan dirasakan selama masa perkuliahan. Terima kasih untuk setiap warna baru yang sudah kalian berikan. Masa perkuliahan ini tidak akan sama tanpa kalian. Ingat selalu untuk “Jadi berkat bagi sesamamu, Teologi 2015”! 12. PMYD Kak Prins, Maria dan Ynry yang telah menjadi sahabat dan saudara di
perantauan selama di Salatiga. Untuk kebersamaan dan seluruh cerita yang dialami bersama saya ucapkan terima kasih.
13. Itchy Grannies Putri, Clara, Ynry, Vita, Clarita dan Adel yang telah menjadi saudara dalam suka dan duka. Untuk setiap dukungan, perhatian dan motivasi yang diberikan selama ini. Selamat melayani dan menjadi berkat di manapun
ix
berada. Akan sangat merindukan kebersamaan dengan kalian. Sampai bertemu lagi di waktu Tuhan.
14. Keluarga Cheeiiimara di Bandung, Kak Lennox, Faldy, Fay dan Fian yang sudah banyak memberi dukungan, motivasi juga perhatian kepada saya selama ini. Yang selalu menjadi pendengar setia untuk setiap keluh-kesah selama proses penyelesaian TA.
15. Keluarga Sipye Noni, Gita, Mega, kak Dara, Vita, dan kak Melita yang tidak pernah lelah memberi dukungan juga kasih sayang selama masa perkuliahan. Terima kasih sudah memberi banyak warna.
16. Keluarga besar kost Distrik 59, khususnya kak Ayu, kak Melita, kak Ira, kak Vella, Kak Nelcy, yang selalu menemani dan mendukung saya selama menjadi bagian dari kost Distrik 59. Terima kasih untuk kebersamaan dan kasih sayangnya.
17. Keluarga Jane Janat, tempat saya bekerja selama 4 bulan. Kepada Ko Radit, Mima, Joriz, Mysale, Vivi, om, tante dan ko Agung yang sudah begitu baik kepada saya selama bekerja di sana. Yang membuat saya memiliki pengalaman kerja yang baru dan untuk kebersamaannya selama ini.
18. Jean, Kiki, kak Veilland, dan kak Vallend yang sudah menjadi sahabat baik bahkan saudara dan selalu mensupport saya selama ini. Juga kepada Bella, Dennis, Fenna, Ani dan Bima yang selalu ada dan memberikan dukungan sampai sekarang.
19. Sahabat saya Maulina, Belinda, Dewi, Amel, dan Raras yang selalu ada untuk memberikan setiap dukungan dan motivasi sejak SMA. Yang selalu menjadi agen prudential selama proses penyelesaian TA ini.
20. Untuk Roger, Hugo dan Gon yang selalu memberikan semangat selama penulisan dan setia menemani. Semoga sukses selalu di sana.
21. Nitha Mailoa dan Kak Queen Mailoa yang telah menjadi saudara yang selalu mendengarkan setiap keluh-kesah, mendukung dan memberi semangat selama ini.
x
22. Kiel, Pascal, Nyoman, Ivan, Rut dan Dave yang sudah menjadi teman sharing dan teman nongkrong selama 2 tahun belakangan ini. Untuk dukungannnya dan karna sudah mau menampung setiap keluh kesah selama kuliah. Aku mengasihi kalian.
23. Keluarga besar GP GPIB Maranatha Banjarmasin, khususnya Dian, Riyan, Brenda, Diandra, kak Putri, kak Fifin, kak Tia, Elyta, Chibol, Gace, Westy, kak Sonny, kak Arif, kak Chandra, kak Obed, Onal, kak Monic, Igna, Sheila dan Ikha yang sudah menjadi teman baik bahkan saudara yang selalu memberikan dukungan dan semangat dari jauh.
24. Teruntuk alm. Viona Claresta Metubun, yang merupakan kakak sepupu saya. Saya ucapkan terima kasih karena sejak awal kuliah sudah menjadi kakak yang selalu perhatian dan menjaga saya, terima kasih untuk kasih sayangnya selama ini. Meskipun sudah tidak ada lagi bersama-sama saya di sini, tetapi akan selalu di kenang di dalam hati. Semoga tenang di sana kak. Sampai berjumpa lagi di waktu Tuhan ya.
25. Mario Samuel Tumangken dan keluarga besar Tumangken, yang telah mendukung dan memotivasi saya dalam proses perkuliahan dan pengerjaan TA ini. Untuk kasih sayang, perhatian serta waktunya. Terima kasih.
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT ... iii
PERNYATAAN PERSETUJUAN AKSES ... iv
PERNYATAAN BEBAS ROYALTI DAN PUBLIKASI ... v
KATA PENGANTAR ... vi
UCAPAN TERIMA KASIH ... vii
DAFTAR ISI ... xi
MOTTO ... xii
ABSTRAK ... xiii
1. Latar Belakang ... 1
2. Landasan Teori... 6
2.1 Pendidikan Karakter Perspektif Thomas Lickona... 6
2.2 Pendidikan Agama Kristen... 10
2.3 Peran Guru Pendidikan Agama Kristen... 11
3. Hasil Penelitian... 15
3.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian... 15
3.2 Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Pendidikan Karakter di Sekolah... 16
3.3 Penerapan Pendidikan Karakter di SMP Kristen GPIB di Balikpapan... 19
4. Analisa 4.1 Pembahasan... 22
4.2 Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Pendidikan Karakter di SMP Kristen GPIB Balikpapan... 24
5. Kesimpulan dan Saran... 30
xii
MOTTO
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi
kekuatan kepadaku.”
Filipi 4:13
“ Jika ingin diproses Tuhan, jangan protes. Hadapi dan nikmati
setiap proses yang Tuhan izinkan terjadi, karena setiap prosesmu
pasti disertai-Nya. ”
xiii Abstrak
Melihat fenomena yang sedang terjadi sekarang, sikap serta perilaku masyarakat cenderung mengabaikan nilai-nilai luhur sehingga mengakibatkan krisis karakter. Kasus seperti penyalahgunaan narkoba, bullying, dan tawuran menunjukkan adanya kemerosotan moral, mental, dan etika terutama pada generasi muda penerus bangsa, maka pendidikan karakter menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh sekolah, termasuk guru pendidikan agama Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peran guru PAK dalam pendidikan karakter di SMP Kristen GPIB Balikpapan dan mengetahui penerapan pendidikan karakter di SMP Kristen GPIB Balikpapan. Penelitian ini dilakukan atas kesadaran pentingnya peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam mengembangkan karakter Kristus di SMP Kristen GPIB Balikpapan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena metode ini menggunakan data yang beupa kata atau narasi. Data tersebutdiambil melalui teknik wawancara terhadap responden yang dinilai dapat memberikan informasi yang akurat sebagaimana yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Temuan data yang diperoleh dari penelitian ini adalah pertama, pendidikan karakter diterapkan di seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah bahkan ekstrakurikuler. Kedua, peran sekolah dalam mengembangkan pendidikan karakter telah dilaksanakan sesuai dengan visi-misi, motto dan sesuai dengan karakter Kristus, yang mencakup mengasihi, mengampuni, peduli, rendah hati, sabar, tulus hati, mau berbagi, taat, dan saling menghargai. Ketiga, peran guru PAK sangat penting dalam penerapan pendidikan karakter yang sesuai dengan karakter Kristus. Guru PAK di SMP Kristen GPIB Balikpapan telah melakukan perannya dalam mendidik para naradidik sesuai dan mengarah kepada karakter Kristus. Peran tersebut dilakukan dengan cara bertindak dan meneladankan sikap-sikap tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai sahabat, motivator, dan agen perubahan bagi naradidiknya.
Kata Kunci: Guru Pendidikan Agama Kristen, Pendidikan Karakter, Karakter
1 1. Latar Belakang
Pendidikan sampai saat ini dipercaya sebagai suatu sarana yang paling tepat dalam membangun kecerdasan juga kepribadian anak menjadi lebih baik. Oleh karena itu pendidikan harus terus dikembangkan supaya proses tersebut dapat menghasilkan generasi yang berkualitas.1 Pendidikan merupakan bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Untuk bisa mencapai suatu cita-cita atau bahkan kehidupan yang layak, maka pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mencapai hal tersebut.
Pendidikan adalah tulang punggung dari kemajuan suatu bangsa. Tanpa pendidikan yang baik dan benar, maka akan sulit bagi suatu negara untuk maju dan berkembang. Pendidikan juga merupakan proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi generasi muda dan juga proses pengembangan budaya karakter bangsa untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. 2
Ada faktor-faktor yang menentukan keberhasilan suatu pendidikan, salah satunya adalah peran guru. Guru memiliki peran yang juga penting dalam membantu mensukseskan pendidikan di sekolah. Guru memiliki tanggung jawab yang besar dalam menghasilkan siswa yang berkualitas dan juga memiliki karakter yang baik dan bermoral. Dalam pendidikan, guru tidak hanya berperan sebagai seorang pengajar tetapi guru juga harus menjadi contoh dan teladan yang baik bagi perkembangan peserta didik di sekolah.3
Jika melihat situasi yang ada sekarang, sikap dan perilaku masyarakat dan bangsa cenderung mengabaikan nilai-nilai luhur yang sudah lama dijunjung tinggi dan mengakar dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Hal tersebut berakibat pada terjadinya kemerosotan moral, mental, dan etika dalam bermasyarakat dan berbangsa
1
Agus Munadlir, “Pengembangan Pendidikan Karakter di Sekolah”, Jurnal Fakultas Ilmu
Pendidikan IKIP PGRI Wates, 1, (diunduh dari http://repository.upy.ac.id/ tanggal 14 Mei 2019 pada 11.21 WIB).
2 Putu Ratih Siswinarti, “Pentingnya Pendidikan Karakter Untuk Membangun Bangsa
Beradab”, 3, (diunduh dari https://www.researchgate.net/directory/publications tanggal 18 Maret 2019 pada 18.02 WIB).
3 Arozatulo Telaumbanua, “Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Membentuk
Karakter Siswa”, Jurnal Fidei Vol.1 No.2 (Desember 2018): 221-222, (diunduh dari http://www.stt-tawangmangu.ac.id/e-journal/index.php/fidei/ tanggal 5 Mei 2019 pada 09.00 WITA).
2
terutama pada generasi muda penerus bangsa. Mengabaikan nilai-nilai luhur yang ada juga mengakibatkan krisis karakter seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran remaja, bolos sekolah, konsumsi miras, kasus bullying, perilaku seks bebas, korupsi(menitip absen kepada teman, terlambat datang ke sekolah atau terlambat mengumpulkan tugas juga termasuk dalam tindakan korupsi di lingkungan sekolah), kekerasan seksual terhadap anak dan masih banyak permasalahan lain.4 E. B. Surbakati menjelaskan secara singkat latar belakang terjadinya kasus-kasus tersebut sebagai,
lemahnya pendidikan kerohanian dapat menjadi salah satu pemicu remaja terlibat tindak kriminal, merosotnya budi pekerti: para remaja yang tidak memperoleh didikan budi pekerti yang memadai atau tidak peduli dengan budi pekerti pasti mengalami kesulitan dalam hal menghargai ketertiban dan ketenteraman hidup bermasyarakat.5
Menilik dari fenomena yang sudah disebutkan di atas, maka pendidikan karakter memang sangat diperlukan di setiap sekolah. Sekolah tentu mempunyai peran dalam membentuk dan mengembangkan karakter, maka seharusnya anak tidak hanya dididik secara intelektual dan emosionalnya saja, namun karakternya juga harus dibangun. Hal ini bertujuan agar tercipta pendidikan yang baik dan berkualitas.
Kata “character” dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Yunani charassein yang berarti “mengukir, memahat”. Dari akar kata tersebut berkembanglah arti karakter sebagai suatu tanda atau petunjuk yang khusus, dan dari situ bertumbuhlah konsepsi bahwa karakter adalah pola pikir individu, yakni keadaan moralnya.6 Dalam bukunya Character Matters, Thomas Lickona berpendapat bahwa pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas
4 Elfirahmi Thamrin, “Peran Guru dalam Membentuk Karakter Siswa untuk Menghadapi
Abad 21”, 82, (diunduh dari https://www.researchgate.net/directory/publications tanggal 14 Mei 2019 pada 11.40 WIB).
5
E. B. Surbakti, Kenalilah Anak Remaja Anda, (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo – Anggota Gramedia, 2009), 300, (diakses dari https://books.google.co.id/ tanggal 14 Mei 2019 pada 11.45 WIB).
6 Daniel Nuhamara, “Pengutamaan Dimensi Karakter Dalam Pendidikan Agama Kristen”,
3
kemanusiaan yang baiak secara objektif, bukan hanya baik untuk individu perseorangan, tetapi juga baik untuk masyarakat secara keseluruhan.7
Bagi Thomas Lickona, pendidikan karakter bukanlah suatu ide yang baru karena sepanjang sejarah di seluruh dunia, pendidikan telah memiliki dua tujuan utama: untuk membantu para siswa menjadi cerdas dan untuk membantu mereka memiliki perilaku berbudi.8 Pendidikan karakter menurut Thomas Lickona mengandung tiga unsur pokok dalam membangun pendidikan karakter, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).9
Thomas Lickona menyebutkan sepuluh unsur-unsur karakter esensial dan utama yang harus ditanamkan kepada peserta didik di sekolah, di rumah, dan di masyarakat yang meliputi kebijaksanaan, keadilan, ketabahan, kendali diri, kasih, sikap positif, kerja keras, integritas, terima kasih, dan kerendahan hati. Sepuluh karater inti (core characters) inilah, menurut Thomas Lickona yang paling penting dan mendasar untuk dikembangan pada peserta didik, di samping sekian banyak unsur-unsur karakter lainnya.10
Tujuan pendidikan karakter menurut Thomas Lickona adalah untuk membimbing para generasi muda menjadi cerdas dan membentuknya untuk memiliki perilaku yang baik dan berbudi. Menurut Thomas Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan.11 Pendidikan karakter diperlukan agar
7 Thomas Lickona, Character Matters: Persoalan Karakter, terj. Juma Abdu Wamaungo &
Jean Antunes R.Z dan Editor Uyu Wahyudin, Dasim Budimansyah & Resu Damayanti, (Jakarta: Bumi Aksara, 2016), 5.
8 Thomas Lickona, Educating For Character: Mendidik Untuk Membentuk Karakter, terj.
Juma Abdu Wamaungo dan Editor Uyu Wahyudin & Suryani, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), 7.
9 Lickona, Educating For Character, 69. 10
Lickona, Character Matters, 280-282.
11 Dalmeri, “Pendidikan Untuk Pengembangan Karakter (Telaah terhadap Gagasan Thomas
Lickona dalam Educating For Character)”, Jurnal Al-Ulun Vol. 14 No.1 (Juni 2014): 271-272, (diunduh dari https://www.researchgate.net/directory/publications tanggal 15 April 2019 pada 11.35 WITA).
4
setiap individu menjadi orang yang lebih baik, menjadi warga masyarakat yang lebih baik dan menjadi bagian dari warga negara yang lebih baik dalam sikap, tutur kata dan perilakunya.12
Oleh karena itu, peran guru semakin dibutuhkan untuk dapat membentuk karakter siswa yang berkualitas. Guru di sekolah tidak hanya memiliki peran untuk mengajar dan mendidik siswa supaya memiliki pengetahuan yang baik dan berkualitas. Guru juga harus menjadi contoh dan teladan bagi siswa, baik dalam hal bersikap dan bertutur kata. Guru menjadi role model ke-dua bagi siswa di sekolah.13
Melalui setiap mata pelajaran yang ada, guru dapat membantu siswa dalam membentuk karakter mereka. Maka dari itu seorang guru Pendidikan Agama Kristen juga memiliki peran yang sama pentingnya dengan guru-guru lain dalam membentuk karakter siswa. Dalam pendidikan, tujuan Pendidikan Agama Kristen (PAK) di sekolah memberikan pengetahuan kepada peserta didik untuk mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sedangkan dalam pembelajaran Agama Kristen diarahkan kepada pembentukan kerohanian dan pertumbuhan karakter yang semakin mengarah kepada karakter Kristus.14
Pendidikan Agama Kristen merupakan pendidikan yang dimensinya bukan hanya sebatas pengetahuan kognitif saja, melainkan juga bersifat afektif dan aplikatif. Setelah mempelajarinya diharapkan siswa dapat diperlengkapi sebagai intelektual Kristen yang mampu mewujudkan nilai-nilai agama dan imannya dalam seluruh aspek kehidupan. Pembelajaran tidak dapat dianggap berhasil bila siswa gagal menunjukkan sikap dan perbuatan yang mencerminkan imannya dalam kehidupan sehari-hari.15
Pendidikan Agama Kristen merupakan rumpun mata pelajaran yang bersumber dari Alkitab yang dapat mengembangkan berbagai kemampuan,
12 Rifai, “Pendidikan Kristen Dalam Membangun Karakter Remaja Di Sekolah Menengah”,
Jurnal STT Intheos Vol. 2 No. 2 (2012): 10, (diunduh dari http://sttintheos.ac.id/e-journal/index.php/antusias/article/view/42. tanggal 14 Mei 2019 pada 16.26 WIB).
13
Thamrin, Peran Guru, 85-86.
14 Rifai, Pendidikan Kristen, 13.
15 Murni Hermawaty Sitanggang, “Modul Pendidikan Agama Kristen tahun 2017”, diterbitkan
oleh Prodi Ilmu Keperawatan Universitas Jember, 1, (diunduh dari https://repository.unej.ac.id/ tanggal 7 Mei 2019 pada 10.20 WITA).
5
kecerdasan dan karakter siswa, antara lain dalam memperteguh iman kepada Tuhan Allah, memiliki budi pekerti luhur, menghormati serta menghargai semua manusia dengan segala persamaan dan perbedaannya (termasuk agree to disagree/setuju untuk tidak setuju).16
Mengapa peran guru PAK di sekolah itu penting? Karena melalui guru PAK, siswa diajarkan untuk mengalami perjumpaan dengan Allah, mengasihi Allah dan manusia dengan sungguh-sungguh, hidup dalam keataatan serta mampu mempraktikkan imannya kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari.17 Melalui pengajaran guru PAK, siswa diharapkan dapat terus berkembang dalam pemahaman mereka tentang Allah dan membantu mereka supaya memiliki karakter Kristus di dalam kehidupan mereka.
Berdasarkan dengan latar belakang yang telah dijelaskan maka penulis meyakini bahwa pendidikan karakter perlu untuk diajarkan secara intensif di sekolah, dan tentu saja guru-guru di sekolah termasuk di dalamnya guru PAK memiliki tanggung jawab terkait hal tersebut. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul penelitian “Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam
Pendidikan Karakter Siswa di SMP Kristen GPIB Balikpapan”.
Mengacu pada penjelasan di atas, maka rumusan masalah di dalam penelitian adalah “Bagaimana peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam pendidikan karakter siswa di SMP Kristen GPIB Balikpapan?”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam pendidikan karakter siswa di SMP Kristen GPIB Balikpapan.
Secara teoritis, penelitian diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan penulis dan khususnya para guru PAK terkait peran guru PAK dalam membangun karakter siswa sesuai karakter Kristus. Kemudian secara praktis, bermanfaat untuk
16 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Buku Guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi
Pekerti SMP kelas IX (Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015), 9, (diunduh dari
https://bsd.pendidikan.id/data/2013/kelas_9smp/guru/Kelas_09_SMP_Pendidikan_Agama_Kristen_da n_Budi_Pekerti_Guru.pdf tanggal 9 Mei 2019 pada 14.30 WIB).
17 Santy Sahartian, “Pemahaman Guru Pendidikan Agama Kristen Tentang II Timotius 3:10
Terhadap Peningkatan Kecerdasan Spiritual Anak Didik”, Jurnal Fidei Vol.1 No.2 (Desember 2018): 164-165, (diunduh dari http://www.stt-tawangmangu.ac.id/e-journal/index.php/fidei/article/view/15
6
mengembangkan peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam pendidikan karater siswa terutama pada aspek pembelajaran di kelas, di dalam melaksanakan kurikulum serta sistem evaluasi pembelajaran selama ini.
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitan kualitatif pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fenomena atau hubungan antara fenomena yang diselidiki.18 Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengumpulan data melalui wawancara. Teknik wawancara dilakukan dengan harapan dapat memperoleh informasi melalui proses tanya jawab secara langsung sehingga dapat mendukung proses dan hasil penelitian.19 Penelitian akan dilakukan di SMP Kristen GPIB Balikpapan. Pihak-pihak yang akan diwawancarai untuk memperoleh suatu informasi dalam hal ini adalah guru PAK, siswa-siswa dan kepala sekolah yang berada di SMP Kristen GPIB Balikpapan.
Sistematika penulisan yang dijadikan sebagai pedoman yaitu: Pertama, pendahuluan yang di dalamnya berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan; Kedua berisi landasan teori yang dipakai oleh penulis. Landasan teori menggunakan pemikiran Thomas Lickona tentang pendidikan karakter; Ketiga, memaparkan hasil penelitian tentang peran guru Pendidikan Agama Kristen di SMP Kristen GPIB Balikpapan; Keempat, membahas analisa data dengan menggunakan teori yang ada pada bagian kedua; Kelima, penutup yang berupa kesimpulan dan saran.
2. Landasan Teori
2.1 Pendidikan Karakter Perspektif Thomas Lickona
Komponen karakter yang baik menurut Lickona dapat dijelaskan sebagai berikut: pengetahuan moral, berisi tentang kesadaran moral, pengetahuan nilai moral,
18 Imam Suprayogo dan Tobroni, Metode Penelitian Sosial, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2003), 136-137.
19
Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 78.
7
penentuan perspektif, pemikiran moral, pengambilan keputusan, dan pengetahuan pribadi. Perasaan moral, berisi tentang hati nurani, harga diri, empati, mencintai hal yang baik, kendali diri, dan kerendahan hati. Sedangkan tindakan moral berisi tentang kompetensi, keinginan, dan kebiasaan.20 Ketiganya penting untuk menjalankan hidup, karena ketiganya adalah faktor pembentuk kematangan moral.21
Menurut Lickona, ada tujuh alasan mengapa harus ada pendidikan karakter.22 a. Pendidikan karakter merupakan cara terbaik untuk menjamin anak-anak
(naradidik) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya;
b. Pendidikan karakter juga merupakan cara untuk meningkatkan prestasi akademik;
c. Ada sebagian naradidik yang tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain;
d. Mempersiapkan naradidik untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam masyarakat yang beragam;
e. Banyaknya masalah yang berkaitan dengan problem moral-sosial, seperti ketidaksopanan, ketidakjujuran, kekerasan, pelanggaran kegiatan seksual, dan etos kerja (belajar) yang rendah;
f. Merupakan persiapan terbaik untuk memiliki perilaku yang baik di tempat kerja; dan
g. Mengajarkan nilai-nilai budaya merupakan bagian dari kerja peradaban. Dalam bukunya Educating For Character, Lickona memaparkan strategi pendidikan karakter terbagi menjadi dua, yaitu strategi di kelas dan strategi umum sekolah. Adapun cara penerapan strategi di kelas dalam perkembangan pendidikan karakter naradidik, dijelaskan sebagai berikut:
20 Lickona, Character Matters, 81-84.
21 Thomas Lickona, Pendidikan Karakter; Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar
dan Baik, (Bandung, NusaMedia, 2013), 72.
22
Faisal Efendy, “Konsep Pendidikan Karakter Perspektif Thomas Lickona” (S.Pd ess., Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2016), 77-78.
8
1) Guru sebagai Pengasuh (Pemberi Kasih Sayang), Contoh, dan Mentor
Seorang guru menurut Lickona memiliki kekuatan untuk menanamkan nilai-nilai dan karakter pada anak, setidaknya ada tiga cara, yaitu23
1. Guru dapat menjadi sosok penyayang yang efektif dan menghormati murid-murid.
2. Guru dapat menjadi seorang model, yaitu orang-orang yang beretika yang menunjukkan rasa hormat dan tanggung jawabnya yang tinggi.
3. Guru dapat menjadi mentor yang beretika.
2) Menciptakan Komunitas yang Bermoral di Kelas
Terdapat tiga syarat untuk menciptakan komunitas yang bermoral, yaitu pertama, para naradidik saling mengenal satu sama lain. Kedua, para naradidik saling menghormati, menguatkan, dan peduli satu sama lain. Ketiga, para naradidik merasa menjadi bagian dan bertanggung jawab terhadap kelompok mereka.24
3) Disiplin Moral
Sebuah pendidikan moral terhadap kedisiplinan menggunakan disiplin sebagai sebuah alat pengajaran menuju nilai-nilai rasa hormat dan tanggung jawab. Disiplin moral telah memiliki tujuan jangka panjang dalam menolong anak-anak muda untuk berperilaku dengan penuh rasa tanggung jawab di segala situasi, tidak hanya ketika mereka di bawah pengawasan.25
4) Menciptakan Lingkungan Kelas yang Demokratis: Bentuk Pertemuan Kelas
Tujuan perkembangan karakter dari pertemuan kelas, yaitu untuk:26
a. Mengembangkan kemampuan naradidik untuk mendengarkan dengan penuh rasa hormat kepada yang lain dan mengerti sudut pandang mereka. b. Menyediakan sebuah forum untuk menuangkan pemikiran para naradidik. c. Membantu perkembangan ketiga bagian komponen karakter yang baik. d. Menciptakan komunitas moral.
23 Lickona, Educating For Character, 112. 24
Lickona, Educating For Character, 139.
25
Lickona, Educating For Character, 168.
26
9
e. Mengembangkan sikap dan kemampuan yang dibutuhkan untuk mengambil peranan dalam kelompok.
5) Mengajarkan Nilai Melalui Kurikulum
Sekolah akan melewatkan peluang yang besar jika tidak menggunakan kurikulum sebagai sarana untuk mengembangkan nilai-nilai moral dan kesadaran beretika. Setiap sekolah yang ada memiliki tugas untuk memasukan nilai moral ke dalam kurikulum dan kegiatan sehari-hari. Guru yang ada di sekolah harus mampu menggali kurikulum sekolah untuk mendapatkan potensi etika yang harus ditanamkan pada naradidik.27
6) Pembelajaran Kooperatif
Keuntungan yang spesifik dari proses belajar kooperatif yaitu mengajarkan nilai kerja sama, membangun komunitas di dalam kelas, mengajarkan keterampilan dasar kehidupan, memperbaiki pencapaian akademik, rasa percaya diri, dan penyikapan terhadap sekolah, menawarkan alternatif dalam pencatatan, dan memiliki potensi untuk mengontrol efek negatif dari persaingan.28
Adapun cara penerapan strategi umum di sekolah dalam perkembangan pendidikan karakter naradidik, dijelaskan sebagai berikut:
1) Kepedulian di Luar Kelas
Sekolah dapat membantu membentuk sikap peduli pelajar dan warga yang aktif di luar kelas jika sekolah membuat naradidik sadar akan situasi dan kondisi permasalahan yang sedang terjadi di sekitar mereka.29
2) Membangun Budaya Moral yang Positif di sekolah
Ada enam elemen budaya moral positif di sekolah, yang pertama kepemimpinan moral dan akademis dari kepala sekolah. Kedua, sekolah memberikan teladan dalam hal disiplin dan menegakkan nilai-nilai sekolah dalam keseluruhan lingkungan sekolah. Ketiga, pengertian sekolah terhadap masyarakat. Keempat, pengelola sekolah yang melibatkan naradidik dalam pengembangan diri yang demokratis. Kelima, sekolah memberikan atmosfir moral terhadap sikap
27 Lickona, Educating For Character, 242-263. 28Lickona, Educating For Character, 276. 29 Lickona, Educating For Character, 448.
10
saling menghormati, keadilan dan kerja sama. Keenam, meningkatkan pentingnya moral dengan peduli terhadap moral manusia.30
3) Sekolah, Orang Tua dan Masyarakat yang Bekerja Sama
Sekolah mampu untuk melibatkan orang tua dan masyarakat dalam mendukung kedisiplinan anak di sekolah. Sekolah harus terbuka dengan orang tua terkait perkembangan akademik dan karakter anak mereka di sekolah.31
Pendidikan karakter harus bisa menanamkan kebiasaan tentang apa yang baik, yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dan tentu saja sesuai dengan nilai-nilai agama, sehingga naradidik dia tidak hanya sampai dibatas memahami (kognitif) dan merasakan (afektif) tetapi dapat melakukannya (psikomotorik) dalam kehidupannya sehari-hari.
Seseorang dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Demikian juga, seorang pendidik dikatakan berkarakter jika ia memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.32
2.2 Pendidikan Agama Kristen (PAK)
Robert W. Pazmino, seorang tokoh pendidikan Kristen mengungkapkan bahwa Pendidikan Kristen merupakan upaya sistematis yang didukung oleh upaya spiritualitas dan manusiawi untuk mentransmisikan pengetahuan, nilai, sikap, keterampilan, maupun tingkah laku yang konsisten dengan iman Kristen, mengusahakan adanya perubahan, pembaharuan, serta reformasi pada aras pribadi, aras kelompok, bahkan aras struktur karena kuasa Roh Kudus sehingga peserta didik dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam Alkitab, secara khusus dalam diri Tuhan Yesus Kristus.33
30
Lickona, Educating For Character, 454-455.
31
Lickona, Educating For Character, 585-586.
32
M. Furqon Hidayatullah, Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2009), cet. Ke-2, 9.
11
Pendidikan Agama Kristen diharapkan didesain dengan memerhatikan tiga ranah penting tadi. Bila hanya menekankan satu ranah saja, maka output pendidikannya tidak akan seimbang. Tujuan dari PAK adalah untuk mendidik dan menuntun naradidik untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan yang tercemin dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari dan untuk membuat naradidik memiliki karakter baik seperti Yesus Kristus.34
Kedudukan dan peran PAK dalam konteks pendidikan nasional memang sangat penting. Karenanya, PAK harus memanfaatkan kesempatan yang ada atau yang diberikan kepadanya secara kritis dan konstruktif. Secara langsung maupun tidak, PAK terpanggil untuk memberikan sumbangan bagi pendidikan nasional dan membantu peningkatan manusia. Dalam kurun waktu yang lama, pelaksanaan PAK dapat menolong untuk mengembangkan baik pengertian, pengetahuan maupun pelaksanaan iman kristiani secara konkret.35
Pengajaran PAK itu harus berpusat pada pembentangan isi Kitab Suci. Segala pokok yang diuraikan perlu diterangkan dengan berdasarkan kesaksian Alkitab. Bahan-bahan dan metode-metode PAK harus disesuaikan dengan golongan umur dan kecerdasan umum para naradidik. Maksud dari pengajaran PAK itu harus selalu dihubungkan dengan pengajaran umum yang diberikan di sekolah-sekolah, agar dengan demikian naradidik mengerti bahwa agama tidak terbatas pada lapangannya sendiri saja, melainkan sebenarnya meliputi seluruh kehidupan manusia. Takut akan Tuhan tetap menjadi dasar dan permulaan segala ilmu pengetahuan manusia,36 sama seperti motto dari SMP Kristen GPIB Balikpapan.
2.3 Peran Guru Pendidikan Agama Kristen
Seorang guru PAK mempunyai beberapa peran yang sama dengan guru-guru lain, tetapi ada yang membedakan peran guru PAK dengan guru-guru lainnya, yaitu
34
Hardi Budiyana, Dasar-Dasar Pendidikan Agama Kristen, (Yogyakarta: Ando Offset, 2011), 25.
35
Sumiyatiningsih, Mengajar dengan Kreatif dan Menarik, 2.
36
Homrighausen dan Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 148-156.
12
dalam pelaksanaan perannya guru PAK harus selalu mencerminkan iman Kristiani dalam kepribadian dan karakternya. Tentu hal ini pun menjadi bagian integral dari guru-guru lain di sekolah, mengingat lokus penelitian dari tulisan ini adalah Sekolah Menengah Pertama Kristen. Namun, lebih dari kewajibannya untuk mencerminkan iman dan karakter yang benar dalam dirinya, ia juga adalah motor dari terselenggaranya kurikulum PAK yang spesifik untuk “membawa keluar” (educare) naradidik dalam pemahaman dan penanaman nilai-nilai kekristenan yang seharusnya terwujud dalam Christ-likeness yang menjadi tujuan mutlak dari setiap pendidikan agama kristen.
Ada pun beberapa peran guru PAK antara lain, sebagai sahabat bagi naradidiknya. Relasi yang terjalin antara guru dan naradidik merupakan hubungan pribadi yang mengasihi, memelihara, menolong, dan mengembangkan, sehingga ke duanya dapat bertumbuh bersama. Artinya, baik naradidik atau pun guru sama-sama mengalami pertumbuhan di dalam Yesus Kristus, baik secara intelektual, spiritual, sosial, dan emosional.37 Pengajaran PAK akan jauh lebih efektif jika guru juga berperan sebagai seorang penerjemah, artinya guru berperan sebagai penolong untuk memfasilitasi agar para naradidik saling berkomunikasi, selain itu guru juga seharusnya tahu dunia naradidik yang dihadapi. Seorang guru juga berperan sebagai penulis rencana pengajaran. Maksudnya guru perlu memiliki tanggung jawab untuk menyesuaikan rencana pengajaran yang dibuat dengan kurikulum yang ada, sehingga cocok untuk disampaikan secara khusus kepada naradidik. Seorang guru seharusnya tidak berhenti untuk belajar.38
Guru juga memiliki peran sebagai seorang naradidik. Dia harus terus-menerus memperdalam atau mencari informasi baru mengenai keberadaan naradidik yang diajar, mengenai cara atau model pengajaran yang menarik dan relevan, dan mengenai konsep-konsep alkitabiah maupun teologis yang akan diajarkan. Bila tidak belajar, guru akan mengalami kemunduran atau stagnan karena ilmu pengetahuan
37
Howard Hendricks, The 7 Laws of The Teacher, (Atlanta: Walk Through The Bible Ministries, 1987), 37.
13
mengalami perkembangan terus-menerus.39 Dengan menganggap dirinya sebagai seorang naradidik, maka seorang guru akan melihat proses pendidikan melalui cara pandang baru yang radikal dan unik. Seorang guru harus terus bertumbuh dan mengalami sebuah perubahan.40
Howard Hendricks dalam bukunya The 7 Laws of the Teacher, menjelaskan bahwa guru yang baik adalah mereka yang FAT (Faithfull, Available and Teachable). Guru yang baik haruslah setia dengan apa yang mereka kerjakan. Mereka juga harus selalu bersedia untuk mengajar dan mau untuk belajar dari orang lain, karena apa yang mereka ketahui bukanlah faktor penentu utama dari keberhasilan suatu pengajaran.41 Guru yang baik tidak fokus pada apa yang mereka ketahui dan seberapa baik mereka melakukannya, tetapi pada apa yang murid ketahui dan seberapa baik murid itu melakukannya. Yang penting dari sebuah pengajaran bukan tentang apa yang mereka lakukan sebagai guru, tetapi apa yang murid lakukan sebagai hasil dari apa yang guru lakukan. Guru di sini berperan sebagai stimulator dan motivator, bukan pemain, tetapi pelatih yang menyemangati dan mengarahkan pemain. Sedangkan murid pada dasarnya adalah seorang penyelidik, penentu dan pelaku.42 Ada dua hal yang dibutuhkan untuk menjadi guru yang FAT (Faithfull, Available and Teachable), yaitu keinginan untuk berpartisipasi dan membangun kepercayaan diri mereka.43
Howard mengatakan bahwa selama seseorang hidup maka seseorang akan terus belajar, dan selama seseorang belajar maka seseorang akan hidup.44 Harus diingat bahwa tujuan seorang guru adalah untuk mengembangkan pembelajaran seumur hidup. Bagaimana guru dapat mengembangkan hal tersebut jika dia berhenti untuk belajar?
Gilbert A. Peterson mengusulkan beberapa kualifikasi unggul seorang guru PAK sebagai berikut: Pertama, bertumbuh dalam iman kepada Kristus. Kedua, bertumbuh dalam kehidupan Kristen. Ketiga, sikap yang positif, mempunyai
39 Sumiyatiningsih, Mengajar dengan Kreatif dan Menarik, 43. 40 Hendricks, The 7 Laws of The Teacher, 27.
41
Hendricks, The 7 Laws of The Teacher, 31.
42
Hendricks, The 7 Laws of The Teacher, 55-56.
43
Hendricks, The 7 Laws of The Teacher, 31.
14
semangat rohani. Artinya, semangat kekristenan harus berkaitan dengan cinta akan Tuhan. Keempat, mempunyai pengetahuan teologia Alkitab. Kelima, mempunyai keahlian dalam mengajar seperti membuat tujuan, memilih dan menggunakan metode, mengkomunikasikan bahan ajar, dan mengorganisasi pembelajaran.. Keenam, mempunyai contemporary alertness. Maksudnya adalah kewaspadaan terhadap kehidupan duniawi yang jahat. Ketujuh, memiliki kesiapan mental dan fisik sebelum mengajar.45
Seorang guru PAK tidak boleh mengabaikan perannya sebagai guru yang memiliki tanggung jawab membentuk karakter naradidiknya. Artinya, guru PAK tidak hanya sekadar mengajar, melainkan memberikan kontribusi yang sangat berharga lebih dari sekadar mengajar, yakni berusaha membentuk karakter naradidik. Guru memiliki peranan dan pengaruh yang sangat dominan dalam membentuk karakter naradidik, tidak hanya dipengaruhi oleh situasi dan kondisi melainkan bagaimana seorang guru menjadikan dirinya sebagai model bagi naradidik sehingga pengajarannya, peranannya dapat berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan karakter naradidik.46
Guru PAK harus menanamkan sikap belas kasih, adil dan memberi teladan yang baik sesuai dengan karakter Yesus dalam pengajaran Kristus sehingga peserta didiknya dapat bertumbuh sesuai dengan karakter Kristus.47 Pendidikan karakter harus terintegrasi dalam PAK, karena sejatinya dalam PAK sudah ada pendidikan karakter yang mencerminkan karakter Kristus, yang menjadi fondasi utama dalam pengajaran PAK. Guru tak boleh puas sebelum naradidiknya menjadi orang Kristen sejati yang memancarkan karakter Kristus.48
Seorang guru PAK, harus menyakini bahwa apa yang dia kerjakan merupakan mujizat dari Allah. Bahwa Allah memilihnya untuk menjadi wakil Allah bagi generasi ini. Allah ingin membawa perubahan, dan sedang melakukannya. John. H.
45
Budiyana, Dasar-Dasar Pendidikan Agama Kristen, 164.
46 Telaumbanua, “Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen”, 221-222. 47
Thomas H. Groome, Christian Religious Education, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 72.
15
Westerhoff III mengatakan bahwa misi dari Yesus datang ke dunia adalah untuk memanggil manusia menjadi agen perubahan.49 Seorang guru merupakan salah satu alat Allah yang penting untuk membawa perubahan di dunia. Pengajaran yang efektif hanya akan datang melalui orang yang telah mengalami perubahan. Semakin orang tersebut berubah, maka orang tersebut akan menjadi alat perubahan dalam kehidupan orang lain. Jika kita ingin menjadi agen perubahan, maka kita harus mau untuk diubah terlebih dahulu oleh Allah. Perubahan yang terjadi dalam kehidupan seseorang tidak dipengaruhi oleh faktor umum, melainkan sikap orang tersebut. Naradidik tidak mencari guru yang sempurna, mereka mencari guru yang jujur dan mau untuk terus bertumbuh.
3. Hasil Penelitian
3.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian
SMP Kristen GPIB Balikpapan merupakan salah satu dari sekian banyak SMP di Indonesia yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kristen (Yapendik) GPIB. Sekolah ini beralamat di Jalan Yos Sudarso No.577, Mekar Sari, Kec. Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur dan merupakan salah satu dari enam tujuan Yapendik GPIB yaitu mengembangkan identitas dan nilai-nilai kristiani dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah.50 SMP Kristen GPIB Balikpapan merupakan sekolah swasta Kristen yang sudah didirikan sejak 15 Juli 1991 oleh Yapendik dan dibantu oleh GPIB Maranatha Balikpapan yang kemudian diikuti oleh 7 gereja GPIB yang ada di Balikpapan. Jadi gereja-gereja tersebut juga memberi dukungan terhadap pembangunan dari SMP Kristen GPIB Balikpapan.51
Misi SMP Kristen GPIB Balikpapan adalah mengembangkan iman warga sekolah yang berakar, bertumbuh dan berbuah. Mengembangkan potensi peserta didik
49 John H. Westerhoff III, Values for Tomorrow’s Children an Alternative Future for
Education in Church, (Philadelphia: United Church Press, 1971), 5.
50http://yapendikgpib.or.id/tentang-yapendik-gpib/selayang-pandang/ (diakses pada 15
Agustus 2019 pukul 23.21 WITA).
16
secara optimal melalui pendidikan dan pengajaran yang bermutu. Mengembangkan budaya bersih warga sekolah. Visi SMP Kristen GPIB Balikpapan adalah menjadi lembaga pendidikan Kristen yang unggul dalam iman, ilmu dan peduli lingkungan. Dengan indikator sebagai berikut: tertib beribadah, melaksanakan perintah Tuhan, mengasihi sesama, cerdas dalam prestasi akademik dan non akademik, serta komitmen dalam peduli lingkungan. Motto dari SMP Kristen GPIB Balikpapan adalah “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan (Amsal 1:7a)”. Hingga kini, SMP Kristen GPIB Balikpapan telah meluluskan sekitar 1200 siswa.
3.2 Peran Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Pendidikan Karakter di Sekolah
Di dalam penelitian ini, pihak-pihak yang terlibat menjadi partisipan dalam penelitian ada 5 partisipan, yaitu Kepala Sekolah, guru PAK, dan 3 perwakilan murid dari masing-masing kelas. Pemilihan partisipan dilakukan sesuai dengan keperluan dan tujuan dari penelitian, partisipan utama dalam penelitian ini adalah guru PAK, kemudian untuk memperoleh data yang lebih lengkap lagi maka dibutuhkan wawancara dengan Kepala Sekolah selaku pimpinan di sekolah. Untuk pemilihan perwakilan murid, dipilih dengan cara mewawancarai ketua kelas atau wakil ketua kelas dari masing-masing kelas yang ada.
No. Inisial Posisi dalam Lokus
Penelitian
1 SRW Kepala Sekolah / Partisipan
2 WSK Guru PAK / Partisipan
3 CK Perwakilan Murid Kelas 7 /
Partisipan
4 AE Perwakilan Murid Kelas 8 /
Partisipan
5 FS Perwakilan Murid Kelas 9/
Partisipan
17
Sebagai guru PAK, WSK mengatakan bahwa Pendidikan Agama Kristen tidak hanya sebagai mata pelajaran yang mengajarkan tentang nilai-nilai kekristenan saja, tetapi PAK harus menjadi sarana supaya nilai-nilai tersebut dapat direalisasikan oleh setiap naradidik juga guru-guru yang ada. Sehingga teori dan praktiknya dapat berjalan secara bersamaan. Pendidikan Agama Kristen sangat penting bagi perkembangan karakter anak, karena di dalamnya mengajarkan seluruh teladan dan karakter Kristus yang harus ikut diteladani oleh semua pengikut-Nya, termasuk di dalamnya guru dan naradidik.52
Guru PAK memiliki peran dan pengaruh yang dominan dalam membentuk karakter naradidiknya. Guru harus menjadikan dirinya sebagai contoh dan teladan dalam penerapan karakter Kristus di sekolah, guru harus menjadi role model yang mencerminkan iman Kristen di hadapan naradidiknya, sehingga pengajarannya dan perannya dapat berpengaruh secara lebih nyata terhadap pembentukan karakater naradidiknya.
Sebagai guru PAK, WSK sadar bahwa ia memiliki tanggung jawab besar terhadap naradidik di hadapan Tuhan. Guru PAK harus mengajar, membina dan mendidik semua naradidik tanpa terkecuali. Semakin dekat hubungan antara guru dengan naradidik maka guru akan lebih mudah untuk mengenal karakter dan dunia mereka. Hal ini dilakukan supaya mereka dapat hidup sesuai dan seturut dengan ajaran Kristus dan nilai-nilai kekristenan yang ada. Supaya visi-misi dan juga tujuan dari SMP Kristen GPIB dapat terlaksana dengan baik. Sehingga ke depannya mereka tidak hanya menjadi naradidik dengan lulusan yang baik dalam hal prestasi tetapi karakter mereka juga turut dibentuk dan dapat menjadi berkat dan contoh bagi sesama mereka di manapun mereka berada.53
SMP Kristen GPIB Balikpapan memiliki visi yang kuat yaitu menjadi lembaga pendidikan yang unggul dalam Iman. Ini menjadi alasan mengapa peran guru PAK termasuk peran yang penting di sekolah. Sebagai guru PAK, WSK bertanggung jawab supaya naradidik dapat menjadi naradidik yang unggul dalam
52
16 Agustus 2019, pukul 11.35 WITA.
18
iman Kristen. Iman yang unggul dapat dilihat melalui sikap, tutur kata dan perilaku siswa yang mencerminkan karakter Kristus.54 Oleh karena itu, seorang guru PAK harus bisa menjadi contoh nyata dalam kehidupan belajar-mengajar.
Peran guru PAK di SMP Kristen GPIB Balikpapan dapat dilihat melalui kebiasaan yang diterapkan oleh WSK di dalam kelas setiap harinya, antara lain selalu memulai dan mengakhiri proses belajar-mengajar dengan doa bersama, karena doa adalah nafas hidup orang dari orang-orang percaya. Hal ini diterapkan supaya naradidik terbiasa untuk mengutamakan Tuhan dalam segala aspek kehidupan mereka. Selain itu juga ada renungan yang dapat memotivasi dan menjadi pedoman naradidik, kebanyakan renungan itu juga berkaitan dengan pembentukan karakter. Guru PAK juga mengajak naradidik untuk terbiasa membaca Firman Tuhan sebanyak 5 pasal per harinya, dan ini sudah menjadi kegiatan rutin selama 6 tahun belakangan. Dengan demikian naradidik akan memiliki pedoman hidup yang kuat, sehingga mereka semakin dekat dengan Tuhan dan karakter mereka semakin terbentuk sesuai kehendak-Nya ketika mereka mau untuk lebih mengenal Tuhan melalui Firman-Nya. Karna Firman-Nya merupakan kompas yang akan mengarahkan pembacanya sesuai kehendak-Nya.55 Hal ini sesuai dengan motto dari SMP Kristen GPIB Balikpapan. Selain itu, guru PAK juga selalu memberikan pengarahan seputar pendidikan karakter setelah selesai memberikan materi di kelas.
Guru PAK menyadari bahwa naradidik yang diajarnya merupakan berkat Tuhan yang dititipkan untuk dididik dengan baik sesuai dengan nilai-nilai kekristenan yang ada, sehingga mereka akan bertumbuh sesuai dengan karakter Kristus. Sebagai satu-satunya guru PAK di SMP Kristen GPIB, WSK juga memiliki kesadaran bahwa perannya bukan hanya sebagai seorang guru, mentor atau contoh bagi naradidiknya, tetapi juga harus bisa menjadi sahabat bagi naradidiknya. Guru harus memiliki relasi yang baik dengan seluruh naradidiknya, sehingga akan ada keterbukaan dan kepercayaan antara guru dan naradidik. Hal ini diterapkan melalui kegiatan sharing
54
16 Agustus 2019, pukul 11.27 WITA.
19
yang sering dilaksanakan di kelas sehabis materi pembelajaran PAK atau ketika jam istirahat di sekolah.56
Sesuai dengan wawancara FS, bahwa guru PAK di SMP Kristen GPIB Balikpapan juga menjalin relasi yang baik dengan naradidik-naradidiknya di media sosial seperti instagram atau facebook, bahkan di grup whatsapp dengan naradidik-naradidik yang ada, hal itu dibuktikan melalui renungan atau kalimat motivasi Kristen yang sering dibagikan oleh guru kepada kepada naradidik-naradidiknya.57
Sebagai Guru PAK, WSK di dalam pengajarannya selalu mencoba menggunakan metode pengajaran yang kreatif dan menarik sehingga dapat menarik perhatian dari naradidiknya. Hal ini dilakukan supaya naradidik tidak jenuh dengan pembelajaran yang ada, dan meningkatkan rasa keingintahuan mereka.58 Pernyataan ini didukung oleh hasil wawancara dengan AE, bahwa WSK tidak jarang mengadakan games saat mengajar, seperti games pesan berantai, studi kasus, pendalaman Alkitab atau games lain yang berkaitan dengan team work.59
3.3 Penerapan Pendidikan Karakter di SMP Kristen GPIB Balikpapan
Berdasarkan hasil wawancara bersama dengan SRW pendidikan karakter yang ada di SMP Kristen GPIB Balikpapan tidak hanya difokuskan di dalam satu mata pelajaran saja, tetapi diterapkan secara menyeluruh di setiap mata pelajaran yang ada, bahkan sampai di kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Contohnya di dalam mata pelajaran matematika, saat sedang mengerjakan matematika naradidik sedang diajarkan untuk mengerjakannya dengan teliti dan juga cermat. Kemudian dalam mata pelajaran sejarah, naradidik diajarkan untuk mempunyai sikap nasionalisme, rasa cinta tanah air dan juga menghargai sejarah-sejarah yang ada. Di dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, naradidik diajarkan untuk memiliki tata bahasa yang sopan dan santun.60
56 16 Agustus 2019, pukul 11.30 WITA. 57 21 Agustus 2019, pukul 10.45 WITA. 58
16 Agustus 2019, pukul 11.45 WITA.
59
21 Agustus 2019, pukul 10.33 WITA.
60
20
Menurut penjelasan CK, pendidikan karakter juga ikut diterapkan dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah, mulai dari penerapan sikap disiplin waktu, menghargai sesama, kerjasama team, kesabaran, tekad yang kuat, tidak mudah menyerah, bertanggung jawab, berani, memiliki jiwa pemimpin, mandiri, kerja keras, peduli lingkungan, gotong royong, rasa kekeluargaan dan masih banyak lagi.61 SRW mengatakan bahwa sudah seharusnya pendidikan karakter tidak hanya diterapkan pada satu mata pelajaran saja, namun harus diterapkan di seluruh mata pelajaran dan seluruh kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah. Pendidikan karakter di SMP Kristen GPIB Balikpapan tidak hanya diterapkan oleh naradidik yang ada di sekolah, tetapi seluruh warga sekolah yang ada harus ikut menerapkan hal tersebut demi tercapainya visi-misi dan tujuan dari sekolah.62
WSK sebagai guru PAK menjelaskan bahwa kurikulum yang dipakai oleh SMP Kristen GPIB Balikpapan adalah Kurikulum 2013 (K-13), yang berbasis karakter dan kompetensi yang mewajibkan naradidik-naradidiknya untuk lebih aktif dalam proses belajar-mengajar. Penerapan K-13 di SMP Kristen GPIB Balikpapan baru dimulai sejak tahun 2017. Kurikulum 2013 ini disusun dan dibuat untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan yang ada pada masa sekarang. Semenjak penerapan K-13, maka mata pelajaran PAK berganti nama menjadi Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti. Oleh karena itu, sebagai guru PAK maka pengajaran di dalamnya harus selalu menekankan aspek-aspek nilai kekristenan dan penerapannya di dalam kehidupan sehari-hari. Guru PAK harus bisa menjadi teladan dan menuntun naradidiknya kepada iman Kristen, baik melalui pengetahuan, sikap serta nilai-nilai kekristenan, dan juga melalui tingkah laku sehari-hari.63
Berdasarkan penjelasan dari SRW, bahwa penerapan pendidikan karakter yang sesuai dengan visi-misi sekolah serta nilai-nilai kekristenan, SMP Kristen GPIB Balikpapan telah menerapkannya dalam kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah, antara lain kegiatan pelayanan paduan suara keliling di gereja-gereja yang ada di
61
21 Agustus 2019, pukul 10.15 WITA.
62
16 Agustus 2019, pukul 12.35 WITA.
21
Balikpapan setiap minggunya, kegiatan berbagi kasih dengan sesama (saat Paskah, Natal, Valentine Day, dan hari-hari lainnya), kegiatan peduli lingkungan (membersihkan lingkungan sekolah setiap hari Jumat), kegiatan kerohanian (ibadah di ruang guru sebelum kegiatan belajar-mengajar, doa di kelas masing-masing sebelum memulai kegiatan mengajar, doa setelah selesai kegiatan belajar-mengajar, ibadah gabungan setiap sebulan sekali, dan kegiatan retreat).64
Hasil wawancara dengan WSK, dikatakan bahwa sekolah juga mampu untuk menjadi jembatan antara orang tua dengan anaknya di sekolah. Sekolah mau untuk melibatkan orang tua di dalam setiap perkembangan anak di sekolah.65 Pernyataan tersebut didukung oleh SRW, bahwa sekolah selalu melakukan sosialisasi dengan orang tua setiap awal tahun, sehingga orang tua juga bisa mengetahui program-program yang ada di sekolah. Sekolah juga mengenalkan orang tua kepada wali kelas dari anak mereka, dengan tujuan supaya orang tua bisa terus mengetahui perkembangan sang anak melalui wali kelas mereka di sekolah. Tidak jarang juga sekolah melakukan kunjungan kepada orang tua, atau menghubungi orang tua untuk kemudian bertemu di sekolah dan membahas perkembangan anak mereka. Ada beberapa permasalahan naradidik yang ternyata tidak diketahui oleh orang tua di rumah, di sinilah guru perlu untuk berdiskusi dengan orang tua, wali kelas serta guru BK terkait permasalahan tersebut. Ini yang membedakan SMP Kristen GPIB dengan sekolah lain, dilihat dari kepedulian sekolah yang besar terhadap perkembangan naradidik yang ada. Sekolah menyadari bahwa komunikasi antara sekolah dengan orang tua itu penting supaya visi-misi dan tujuan sekolah juga dapat tercapai, dan perkembangan naradidik juga dapat semakin dikembangkan sesuai dengan ajaran Kristus.66
AE mengatakan bahwa tantangan untuk penerapan pendidikan karakter dalam PAK adalah masih ada beberapa siswa-siswi yang tidak begitu menaruh perhatian mereka terhadap pelajaran PAK, sehingga terkadang masih terlihat menyepelekan
64
16 Agustus 2019, pukul 12.37 WITA.
65
16 Agustus 2019, pukul 11.02 WITA.
22
pelajaran PAK, karena dianggap tidak terlalu memiliki pengaruh dalam kehidupan mereka.67 Hal ini membuat WSK harus memiliki cara baru atau metode lain yang lebih kreatif sehingga dapat merangsang anak untuk lebih menganggap penting pelajaran PAK, karena ketika pelajaran PAK tidak hanya dianggap sebagai suatu pelajaran biasa, tetapi dipandang sebagai pelajaran yang berguna dan penting bagi kehidupan keseharian mereka maka penerapan nilai-nilai kekristenan di dalamnya akan semakin mudah untuk dilaksanakan oleh mereka.68
4. Analisa 4.1 Pembahasan
Menurut Moh. Yamin di dalam bukunya Menggugat Pendidikan Indonesia, pendidikan merupakan alat untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas, penyangga ekonomi, dan pembentukan bangsa berkarakter.69 Pendidikan tidak hanya sebagai alat untuk menghasilkan manusia yang cerdas secara intelektual dan membawa bangsa kepada era yang lebih baik, tetapi lebih dari itu, pendidikan adalah alat untuk menghasilkan manusia yang cerdas secara kognitif, psikomotorik, serta afektif. Sebagai wadah pendidikan secara formal, sekolah sangat penting menentukan arah dan tujuan pendidikan anak menjadi yang berkarakter baik dan generasi yang cerdas untuk membangun kebudayaan dan peradaban bangsa.70
Menurut Lickona, tujuan dari pendidikan karakter adalah untuk membantu seseorang dalam memahami, memperhatikan, serta melakukan norma-norma yang berlaku di tengah masyarakat. Seseorang dapat dikatakan berkarakter apabila ia telah berhasil memahami norma dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.71 Pendidikan karakter harus mampu untuk menanamkan kebiasaan akan apa yang baik
67 21 Agustus 2019, pukul 10.30 WITA. 68
16 Agustus 2019, pukul 11.15 WITA.
69
Moh Yamin, Menggugat Pendidikan Indonesia: belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar
Dewantara. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2009). 281.
70 Faisal Efendy, “Konsep Pendidikan Karakter Perspektif Thomas Lickona” (S.Pd ess.,
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2016), 73.
71
Dalmeri, “Pendidikan Untuk Pengembangan Karakter (Telaah terhadap Gagasan Thomas Lickona dalam Educating For Character)”, 269.
23
dan yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat dan sesuai nilai-nilai keagamaan.72
Pendidikan karakter di SMP Kristen GPIB Balikpapan tidak hanya diterapkan di dalam pelajaran PAK saja tetapi juga diterapkan di seluruh mata pelajaran yang ada, termasuk di dalam ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Ini sesuai dengan teori Thomas Lickona bahwa pendidikan karakter merupakan cara terbaik untuk menjamin anak-anak (naradidik) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya.73 Hal ini sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab dari SMP Kristen GPIB Balikpapan. Sesuai dengan visi-misi serta motto dari sekolah ini maka pendidikan karakter yang sesuai dengan karakter Kristus adalah fokus utama dari sekolah ini, supaya naradidik kelak akan menjadi lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual saja tetapi memiliki karakter yang sesuai dengan kehendak Kristus.
Pendidikan karakter juga diterapkan melalui kegiatan peduli lingkungan dan juga kegiatan-kegiatan sosial di luar lingkungan sekolah yang sering dilakukan tiap tahunnya, baik di panti asuhan, panti jompo atau kegiatan berbagi kasih dengan sesama yang ada di sekitar. Hal ini sesuai dengan cara penerapan strategi umum di sekolah yang dibahas oleh Lickona, bahwa sekolah dapat membantu membentuk sikap peduli naradidik di luar lingkungan kelas jika sekolah membuat naradidik sadar akan situasi dan kondisi yang sedang terjadi di sekitar mereka74.
Sekolah juga turut memperhatikan kegiatan pelatihan untuk guru-guru yang ada. Kegiatan tersebut diberikan oleh Yayasan Pendidikan (Yapendik) GPIB setiap tahunnya untuk membantu pembinaan karakter dari guru-guru yang ada, dan seluruh guru diwajibkan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Ini sesuai dengan teori Howard Hendricks bahwa guru harus terus memperdalam serta mencari informasi yang dapat membantu proses belajar-mengajar di kelas. Guru juga merupakan naradidik, jadi guru harus terus mau belajar sehingga guru akan melihat proses pendidikan melalui cara pandang baru yang unik. Selama seseorang hidup maka dia akan terus belajar,
72
Dalmeri, “Pendidikan untuk Pengembangan”, 272.
73
Efendy, “Konsep Pendidikan Karakter Perspektif Thomas Lickona” , 77-78.
24
guru akan gagal jika dia merasa puas dengan pencapaiannya dan berhenti untuk belajar.75
Selain itu sekolah juga sering mengikuti kegiatan kelompok guru yang diadakan oleh Dinas Pendidikan setiap tiga bulan sekali. Itu merupakan program yang dibuat oleh Dinas Pendidikan, dan sekolah selalu ikut berpartisipasi di dalam kegiatan tersebut. Pihak sekolah juga selalu melakukan retreat bersama setiap akhir semester bersama dengan guru-guru TK, SD dan SMP. Hal ini untuk mempererat kekeluargaan antar guru dan juga dapat menjadi pelatihan bagi karakter guru yang ada.
Sekolah juga mencoba menjalin relasi yang baik dengan orang tua dari naradidik, sehingga orang tua bisa mengetahui perkembangan anaknya di sekolah. Mengetahui perkembangan nilai dan juga karakter anaknya. Meskipun ada beberapa orang tua yang masih tidak peduli dengan hal tersebut, tetapi sekolah selalu berusaha untuk menginformasikan perkembangan anak atau mensosialisasikan program-program sekolah setiap tahunnya kepada orang tua. Sekolah juga membantu orang tua untuk bisa mengetahui wali kelas dari sang anak, supaya bisa terus memantau perkembangan anak melalui wali kelas yang ada. Sekolah juga sudah berusaha dengan baik untuk menjadi jembatan antara naradidik dengan orang tuanya. Seperti yang dijelaskan oleh Lickona bahwa sekolah harus memiliki keterbukaan dan kerja sama dengan orang tua tentang perkembangan sang anak baik di dalam hal akademik bahkan perkembangan karakter anak.76
4.2 Peran Guru PAK dalam Pendidikan Karakter di SMP Kristen GPIB Balikpapan
Pendidikan Agama Kristen memiliki peran yang sangat penting di dalam perkembangan karakter naradidik sesuai dengan nilai-nilai kristiani yang berlaku. Pendidikan Agama Kristen itu unik dan berbeda karena prosesnya dilakukan oleh manusia tetapi melibatkan Tuhan. Keterlibatan Tuhan itu mutlak dalam pembelajaran PAK, karena naradidik bukan hanya akan belajar ilmu pengetahuan namun
75
Hendricks, The 7 Laws of The Teacher, 31.
25
karakternya juga ikut dibentuk sesuai dengan kehendak Tuhan. Pendidikan Agama Kristen hadir untuk membantu naradidik menerapkan nilai-nilai Kristiani secara kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam kehidupan sehari-hari.77
Tujuan dari PAK di sekolah adalah untuk menanamkan nilai-nilai kristiani, juga memberikan wawasan dan pengetahuan tentang kebenaran Firman Tuhan.78 Pendidikan Agama Kristen pada akhirnya bertujuan menolong naradidik untuk bisa mengembangkan pengertian, pengetahuan serta pelaksanaaan iman Kristiani secara nyata dalam keseharian mereka. Peran guru PAK tentu saja dibutuhkan supaya tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik.
Berkaitan dengan pelaksanaan PAK, guru PAK harus selalu mencerminkan iman Kristiani dalam kepribadian dan karakternya. Dengan kata lain, guru PAK harus ikut mencontohkan apa yang diajarkan kepada naradidiknya. Sesuai dengan teori Robert W. Pazmino, yang mengungkapkan bahwa Pendidikan Kristen merupakan upaya sistematis yang didukung oleh upaya spiritualitas dan manusiawi untuk mentransmisikan pengetahuan, nilai, sikap, keterampilan, maupun tingkah laku yang konsisten dengan iman Kristen.79 Jika berbicara tentang penerapan kasih kepada sesama, maka guru PAK harus terlebih dahulu menerapkan hal tersebut di dalam kesehariannya, baik di sekolah dengan dengan seluruh warga sekolah, kemudian di rumah dengan seluruh anggota keluarga, dan bahkan di lingkungan masyarakat.
Kepribadian guru PAK juga menentukan keberhasilan dari guru tersebut dalam mendidik siswa. Guru PAK selain mengajarkan nilai-nilai kekristenan juga harus bisa menjadi teladan dalam penerapan nilai-nilai kekristenan tersebut. Jarot Wijanarko mengatakan: “Keteladanan membuat pelajaran, ajaran, aturan menjadi real, mudah dimengerti karena ada contohnya.”80 Guru PAK adalah guru yang menentukan dasar bagi pembangunan kepribadian siswa, sehingga seorang guru sudah selayaknya mencontohkan tindakan yang baik sehingga peserta didik tidak
77
Magdalena Pranata Santoso , “Karakteristik Pendidikan Kristen”, 3-4, (diunduh dari
http://repository.petra.ac.id/ tanggal 9 Mei 2019 pada 15.00 WIB).
78
Rifai, Pendidikan Kristen, 4.
79
Sumiyatiningsih, Mengajar dengan Kreatif dan Menarik, 6.
80
Jarot Wijanarko, Mendidik Anak Nilai Hidup Integritas Karakter, (Jakarta: Suara Pemulihan, 2008), 45.
26
hanya kaya dalam pengetahuan agama tetapi mengalami, menyaksikan dan meneladani sikap guru yang menjadi panutan.81
Guru sudah seharusnya menjadi role model yang nyata dalam kehidupan naradidik di sekolah. Peran guru PAK sangat berpengaruh di dalam pembentukan karakter. Di dalam Efesus 4:11-16, Yesus memberikan wewenang kepada para rasul, nabi, pengajar, gembala, dan penginjil untuk mengajar dan membentuk karakter orang-orang kudus menjadi dewasa, sempurna dan bertumbuh ke arah Dia dan membangun diri mereka dalam kasih.82 Hal ini tentu juga menjadi tanggung jawab dari guru PAK. Oleh karena itu, seorang guru selain menjadi pengajar dia juga harus mampu memberikan teladan yang dapat menjadi contoh bagi siswa dalam mengembangkan sikap dan karakter mereka menjadi lebih berkualitas lagi. Seperti yang ditulis oleh Groome bahwa jika kita ingin mengajarkan firman sebagai contoh-contoh yang efektif bagi pembentukan firman dalam kehidupan orang lain, maka kita sendiri harus mewujudkan firman itu dalam cara keberadaan kita bersama orang lain. Karena “prinsip menjadi contoh”, kita merepresentasikan Yesus Kristus didasarkan pada usaha-usaha kita sendiri untuk hidup sesuai dengan iman Kristen.83
Sebagai guru agama Kristen, harus memiliki kualitas seperti tanggung jawab dan disiplin karena sebagai guru agama Kristen harus dapat mengembangkan sikap, watak, nilai moral dan potensi peserta didik untuk menjadi dewasa secara rohani serta beriman dan taat kepada Tuhan Yesus.84 Hal ini juga sesuai dengan apa yang ditulis oleh Daniel Nuhamara di dalam jurnal Jaffray, bahwa PAK adalah usaha sadar untuk mewariskan pengetahuan, sikap, dan nilai, serta perilaku Kristiani yakni apa yang baik, yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Walaupun PAK mungkin lebih luas dari sekedar membangun karakter Kristiani, namun karakter Kristiani sangat esensial dalam PAK karena iman tanpa perbuatan adalah mati.85
81 Dien Sumiyatiningsih, Mengajar Dengan Kreatif Dan Menarik, (Yogyakarta: Buku Rohani
Andi, 2006), 39-40.
82
Telaumbanua, “Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen”, 222.
83 Groome, Christian Religious Education,391.
84 Thomas H. Groome, Christian Religious Education, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015),
49.