• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II EFEKTIVITAS HUKUMAN PIDANA DALAM TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II EFEKTIVITAS HUKUMAN PIDANA DALAM TEORI"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

EFEKTIVITAS HUKUMAN PIDANA DALAM TEORI

A. Pengertian Hukum Pidana

Hukum pidana termasuk dalam wilayah hukum publik yang tidak sama dengan hukum perdata yang masuk dalam wilayah hukum privat. Hukum publik mengatur tentang kepentingan umum, seperti hubungan negara dengan warga negara.17 Hukum pidana ialah hukum yang mengatur tentang perihal pelanggaran dan kejahatan terhadap kepentingan umum. Moeljatno menyatakan bahwa hukum pidana merupakan elemen dari keseluruhan hukum yang berfungsi di suatu negara, yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk18:

1. Menentukan perilaku atau perbuatan yang tidak boleh dilakukan, yang dilarang, dengan disertai ancaman atau sanksi berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut;

2. Menentukan dalam hal apa kepada mereka yang melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan;

3. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila orang yang disangkakan telah melanggar larangan tersebut.

Menurut simons mengatakan bahwa hukum pidana adalah19 :

a. Suatu perintah atau larangan yang dibuat oleh negara yang disertai dengan pidana apabila tidak ditaati.

b. Suatu peraturan yang memuat tentang syarat-syarat untuk menjatuhkan suatu pemidanaan, dan

c. Ketentuan yang berisikan tentang dasar-dasar untuk menjatuhkan pidana dan penerapannya.

17 Satjipto Rahardo, Ilmu Hukum (cet.6, Citra Adiyta Bakti 2006) 73.

18 Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Dalam Hukum Pidana (Bina Aksara 2002) 1.

19 Sudarto, Hukum Pidana I (Yayasan Sudarto 1990) 9.

(2)

Menurut Van Hamel hukum pidana ialah suatu aturan yang dibuat oleh negara untuk menegakkan hukum dengan cara membuat larangan dan menggunakan suatu nestapa atau penderitaan bagi yang melanggarnya.

Muladi dan Barda Nawawi berpendapat bahwa unsur pengertian pidana20, meliputi:

a. Pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan;

b. Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang);

c. Pidana itu dikenakan pada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang.

Menurut Satochid Kartanegara menyatakan bahwa hukum pidana materiil memuat aturan tentang:21

Perbuatan yang dapat diancam dengan hukuman (stafbare feiten) misalnya Mengambil barang milik orang lain; dengan sengaja merampas nyawa orang lain; siapa-siapa yang dapat dihukum atau dengan perkataan lain, mengatur pertanggungan jawab terhadap hukum pidana; hukuman apa yang dapat dijatuhkan terhadap orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan undang- undang.

Hukum pidana dibagi menjadi 2 (dua) yaitu hukum pidana materiil dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiil merupakan hukum yang memuat tentang perbuatan-perbuatan yang dilarang yang disertai dengan ancaman pidana.

Sedangkan pidana formil adalah ketentuan yang memuat tentang cara pelaksanaan atau menegakkan hukum pidana materiil.22

20 Roeslan, Stelsel Pidana Indonesia (Aksara Baru 1983) 4.

21 Bambang Waluyo, Pidana dan Pemidanaan (Sinar Grafika 2008) 6.

22 M, Haryanto, Cristina Maya Indah, Hukum Pidana. Op.cit 10.

(3)

B. Macam-Macam Pidana

Macam-macam pidana di Indonesia sudah diatur dalam pasal 10 KUHP diantaranya sebagai berikut:

1. Pidana Pokok:

a. Pidana Mati

Pidana mati merupakan perampasan nyawa yang dilakukan oleh pihak berwewenang akibat dari suatu tindak pidana yang telah dilakukan. Tindakan tersebut dilaksanakan oleh tim regu tembak. 23

b. Pidana Penjara

Pidana penjara adalah suatu pidana berupa pemisahan orang terpidana dari lingkungan masyarakat dengan mengurung orang tersebut di suatu lembaga kemasyarakatan. Dan mewajibkan orang tersebut untuk mematuhi semua peraturan yang ada di Lembaga.24

c. Pidana Tutupan

Pidana tutupan pada dasarnya sama dengan pidana penjara yang berupa pembatasan kebebasan bergerak. Namun perbedaanya yaitu pidana tutupan disediakan kepada pada politisi yang dipidana karena perbedaan ideologi yang dianutnya dan tempat pemidanaan pidana tutupan lebih layak dari pada tempat pidana penjara.

23 Reygen Rionaldo Sarayar, ‘Jenis-Jenis pidana dan Pelaksanaan dalam hukum pidana Militer’ (2018) 7( 8), Jurnal Lex Crime 16,17.

24 P.A.F Lamintang, Hukum Penitensier Indonesia (Armico 1984) 69.

(4)

d. Pidana Kurungan

Pidana kurungan merupakan pembatasan terhadap kebebasan bergerak dari seorang terpidana. Namun pelaksanaan pidana kurungan berada dalam range waktu pidana dari 1 hari sampai 1 tahun paling maksimal.

e. Pidana Denda

Pidana denda merupakan hukuman yang mewajibkan terpidana untuk membayar sejumlah uang atau berupa kewajiban untuk mengembalikan keseimbangan hukum dengan cara membayar sejumlah uang

2. Pidana Tambahan:

a. Pencabutan hak-hak tertentu

Pengertian kata tertentu dalam pidana tambahan diartikan bahwa tidak semua hak terpidana dicabut. Dalam pasal 35 KUHP sudah diatur mengenai hak-hak yang dapat dicabut dari terpidana.

b. Perampasan barang-barang tertentu

Perampasan hak tertentu dalam pasal 39 KUHP sudah diatur mengenai barang-barang yang dapat di rampas

c. Pengumuman putusan hakim

Dalam pasal 43 KUHP menyebutkan bahwa apabila hakim memerintahkan supaya diumumkan berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) atau aturan-aturan umum lainnya, maka ia harus menetapkan pula bagaimana cara melaksanakannya.

(5)

C. Teori Pemidanaan

a. Teori absolute/ Teori pembalasan

Teori ini dikemukakan oleh Imanuel Kent dan Hegel. Imanuel Kent mendasarkan teori ini dengan prinsip etika dan moral. Kent mengatakan fiat justicia ruat coelum yang artinya walaupun besok dunia akan kiamat namun penjahat terakhir harus tetap menjalankan pidananya. Sedangkan pencetus lainya yaitu hegel. Hegel mendasarkan teorinya bahwa hukum merupakan perwujudan dari kemerdekaan sedangkan kejahatan adalah tantang kepada hukum dan keadilan oleh sebab itu penjahat harus dilenyapkan.25 Dari hal tersebut, teori ini mengatakan bahwa pemidanan dilakukan karena semata-mata orang telah melakukan tindak pidana. Teori absolute ini didasarkan pada pemikiran bahwa pemidanaan merupakan suatu keharusan atau mutlak karena orang tersebut sudah melakukan tindak pidana. Muladi mengatakan bahwa26 :

“Teori absolut memandang bahwa pemidanaan merupakan pembalasan atas kesalahan yang telah dilakukan sehingga berorientasi pada perbuatan dan terletak pada terjadinya kejahatan itu sendiri. Teori ini mengedepankan bahwa sanksi dalam hukum pidana dijatuhkan semata-mata karena orang telah melakukan sesuatu kejahatan yang merupakan akibat mutlak yang harus ada sebagai suatu pembalasan kepada orang yang melakukan kejahatan sehingga sanksi bertujuan untuk memuaskan tuntutan keadilan.”

Dari pernyataan diatas bahwa terlihat pemidanaan menurut teori absolute merupakan suatu tuntutan atau keharusan. Yang dimana seseorang yang sudah

25 Erdianto Efendi, Hukum pidana Indonesia (Refika aditama 2011) 142.

26 Zainal Abidin Arif, Hukum pidana (Sinar Grafika 2007) 11.

(6)

melakukan kejahatan harus mendapatkan hukuman sebagai pembalasan atas perbuatannya tersebut.

b. Teori relative/tujuan pemidanaan

Teori relative atau teori tujuan didasarkan bahwa pidana sebagai alat untuk menciptakan ketertiban dalam masyarakat atau untuk menegakkan ketertiban dalam masyarakat. Teori ini juga dapat diartikan sebagai pencegahan terjadinya kejahatan dan sebagai perlidungan kepada masyarakat. Menurut teori ini bahwa pemidanaan harus mempunyai tujuan yang harus ingin dicapai, bukan hanya semata-mata seoarang tersebut telah melakukan kejahatan. Muladi mengatakan bahwa27 :

“Pemidanaan bukan sebagai pembalasan atas kesalahan pelaku tetapi sarana mencapai tujuan yang bermanfaat untuk melindungi masyarakat menuju kesejahteraan masyarakat. Sanksi ditekankan pada tujuannya, yakni untuk mencegah agar orang tidak melakukan kejahatan, maka bukan bertujuan untuk pemuasan absolut atas keadilan.”

Teori ini berasas pada tiga tujuan utama yaitu

1. Tujuan preventif artinya untuk melindungi masyarakat sehingga sipelaku dipisahakan dari masyarakat.

2. Tujuan deterrence artinya untuk memberikan rasa takut kepada masyarakat atau kepada pada diri sipelaku supaya tidak melakukan kejahatan

3. Tujuan perubahan reformation artinya untuk memperbaiki sipelaku dengan cara memberikan pembinaan supaya jika sipelaku kembali ke

27 Ibid. 11.

(7)

masyarakat dapat melanjutkan kehidupannya sesuai dengan norma dan nilai dimasyarakat

Teori ini juga menyatakan bahwa suatu kejahatan tidak absolut harus disertakan dengan suatu pemidanaan. Oleh karena itu perlu dilihat kegunaan suatu pemidanaan terhadap masyarakat atau terhadap sipelaku. Pemikirannya membicarakan tentang masa depan tidak hanya dilihat saja pada masa lampau.

Maka dari itu, suatu pemidanaan harus memiliki tujuan lebih jauh daripada hanya menjatuhkan pidana semata. Tujuan yang paling utama adalah harus diarahkan supaya dikemudian hari kejahatan yang telah dilakukan tidak di ulangi lagi.28

D. Teori Penegakan Hukum

Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.29 Soerjono Soekanto ada lima factor yang yang mempengaruhi penegakkan hukum30:

a. Faktor hukumnya sendiri (undang-undang);

b. Faktor penegak hukumnya, yakni pihak-pihak yang membentuk atau menerapkan hukum;

c. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakkan hukum;

d. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan;

28 Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas hukum pidana di Indonesia (cet.4, PT Refika Aditama 2011) 25.

29 Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan (Kencana Prenada Media Group 2007) 21.

30 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang mempengaruhi penegakkan Hukum (PT Grafindo Persada 2008) 8.

(8)

Faktor yang pertama yang dikatakan Soerjono Soekanto adalah Faktor hukum atau undang-undang. Hukum mengandung tiga nilai yang tidak dapat dipisahkan yaitu nilai keadilan, kepastian dan kemanfaatan. Namun sering sekali nilai keadilan dan kepastian saling bertentangan karena kepastian wujudnya konkret atau nyata sedangkan kepastian masih bersifat abstrak. Maka dari itu majelis hakim dalam memutus sebuah kasus hanya berlandaskan pada teks tertulis yaitu undang-undang yang menyebabkan nilai dari keadilan menjadi terabaikan.

Faktor yang kedua adalah penegak hukum. Penegak hukum berkaitan dengan pihak yang membuat dan pihak yang melaksanakan (law enforcement). Sering sekali penegak hukum yang melaksanakan dilapangan menjadi sorotan di dalam masyarakat karena tidak jarang aparat penegak hukum bertindak tidak sesuai dengan yang seharusnya atau bertindak diluar batas. Faktor yang ketiga adalah sarana atau fasilitas hukum. Fasilitas dalam hal ini diartikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Fasiltas dan sarana tersebut juga harus menunjang kinerja dari penegak hukum sendiri

Faktor yang keempat adalah masyarakat. Masyarakat merupakan sasaran dari penegak hukum. Efektivitas hukum sangat bergantung kepada kesadaran dan kemauan masyarakat kesadasaran rendah yang dimiliki oleh masyarakat mengakibatkan aparat penegak hukum kesulitan. Oleh sebab itu, langka yang dilakukan ialah sosialisasi atau pengenalan yang melibatkan lapisan-lapisan sosial, pemegang kekuasaan serta penegak hukum sendiri. Faktor yang kelima adalah kebudayaan. Budaya adalah suatu kebiasaan atau cara hidup yang berkembang ditengah masyarakat. Oleh sebab itu untuk merumuskan sebuah aturan maka wajib

(9)

diadaptasikan dengan nilai dan kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Sehingga tidak terjadi konflik atau penolakan aturan tersebut di dalam masyakat.

Penegakan hukum juga melibatkan peran lembaga hukum seperti hakim, jaksa, pengacara dan polisi. Masing-masing intitusi tersebut saling berpengaruh untuk mewudukan tujuan hukum. Cara progresif dalam penegakkan hukum, Satjipto rahardjo membuat konsep penegakkan hukum progresif. Penegakkan hukum progresif tidak sekedar hitam diatas putih (according to the letter) akan tetapi berdasarkan antusiaisme dan arti lebih mendalam dari undang-undang atau hukum.31

Satjipto Rahardjo menyatakan bahwa berfikir secara progresif maka harus menetang pemikaran absolut dari hukum dan harus meletakkan hukum dalam posisi yang relative. Menuju hukum progresif harus membebaskan diri dari paham legal-positivisme. Agar dalam berhukum tidak hanya memberatkan pada faktor peraturan (rule) tetapi juga pada faktor perilaku (behavior).

E. Ketentuan Pidana terhadap Pelanggar PPKM

1. Berdasarkan Undang-Undang No. 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan

Pasal 90

“Nakhoda yang menurunkan atau menaikkan orang tanpa persetujuan karantina kesehatan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3) dengan maksud menyebarkan penyakit dan/atau faktor risiko kesehatan yang menimbulkan

31 Satjipto Rahardjo, Penegakan Hukum Progresif (Buku Kompas 2010) xiii

(10)

Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 91

Kapten Penerbang yang menurunkan atau menaikkan orang dan/atau Barang sebelum memperoleh Persetujuan Karantina Kesehatan berdasarkan hasit pengawasan Kekarantinaan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dengan maksud menyebarkan penyakit dan/atau faktor risiko kesehatan yang menimbulkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 92

Pengemudi Kendaraan Darat yang menurunkan atau menaikkan orang dan/atau Barang sebelum dilakukan pengawasan Kekarantinaan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (21 dengan maksud menyebarkan penyakit dan/atau faktor risiko kesehatan yang menimbulkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

Pasal 93

Setiap orang yang tidak mematuhi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dan/atau menghalang-halangi penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan sehingga menyebabkan Kedaruratan

(11)

Kesehatan Masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

2. Berdasarkan Undang-Undang No.4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular

Pasal 14

1. Barang siapa dengan sengaja menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 1 (satu) tahun dan/atau denda setinggi- tingginya Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah).

2. Barang siapa karena kealpaannya mengakibatkan terhalangnya pelaksanaan penanggulangan wabah sebagaimana diatur dalam Undang- Undang ini, diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 (enam) bulan dan/atau denda setinggitingginya Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah).

Pasal 15

1. Barang siapa dengan sengaja mengelola secara tidak benar bahan-bahan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini sehingga dapat menimbulkan wabah, diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah).

2. Barang siapa karena kealpaannya mengelola secara tidak benar bahan- bahan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini sehingga dapat

(12)

menimbulkan wabah, diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 1 (satu) tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah).

F. Peraturan Daerah Sukoharjo No.10 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanggulan Penyakit

Peraturan daerah Sukoharjo memuat 2 sanksi yaitu sanksi administrasi dan sanksi pidana. Sanksi administrasi termuat dalam pasal 42 :

1. Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 14, dan Pasal 24 dikenakan sanksi administratif.

2. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

a. teguran lisan;

b. teguran tertulis;

c. penghentian sementara kegiatan;

d. penghentian tetap kegiatan;

e. pencabutan sementara izin;

f. pencabutan tetap izin;

g. pembubaran massa;

h. kerja sosial;

i. daya paksa polisional;

j. denda administratif; dan/atau

k. sanksi administratif lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(13)

Sanksi pidana dalam Perda tersebut termuat dalam pasal 44 ayat (1) yang berbunyi:

Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 35 huruf a sampai dengan huruf e, dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau pidana denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

Referensi

Dokumen terkait

Maka dari itu, peneliti dapat menyimpulkan bahwa model pembelajaran problem posing merupakan pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan hasil belajar bahasa

Therapeutic Community (TC) merupakan cara atau upaya Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Magelang dalam membentuk karakter para WBP penyalahgunaan narkotika (residen) atau istilah

Laporan Akhir Praktikum Ekstraksi 2010 Page 5 Pada praktikum ini praktikan melakukan percobaan dari persiapan bijih galena serbuk sampai dengan proses flotasi, untuk tahapan

Pembayaran yang diterima oleh siswa atau pemagang yang merupakan penduduk atau seketika sebelum mengunjungi suatu Negara Pihak pada Persetujuan merupakan

Tampilkan tanggal penjualan yang pernah tercatat nama barang yang terjual, dan nama kategori barang beserta dengan total jumlah barang yang terjual untuk masing- masing barang

Menimbang, bahwa Penggugat dalam alasan gugatannya pada pokoknya mendalilkan bahwa sikap diam Tergugat dengan tidak memberikan jawaban atas permohonan yang diajukan oleh

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari dimensi ekuitas merek, yaitu kesadaran merek dan citra merek terhadap minat beli ulang konsumen pada

Sedangkan menurut Fikri Zaenuri, biaya operasional, volume pembiayaan murabahah, dan bagi hasil dana pihak ketiga memiliki pengaruh yang sugnifikan dengan margin