PEMERINTAH KABUPATEN BERAU
LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH
( LKj-IP ) Tahun 2020
Dinas Perkebunan
KabupatenBerau
LKjIP Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Puji Syukur Kehadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat-Nya akhirnya Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKj-IP) Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun Anggaran 2020 dapat diselesaikan walaupun agak terlambat dari batas waktu yang ditetapkan.
Penyusunan Lkj-IP Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020 merupakan perwujudan pelaksanaan penyelenggaraan kegiatan serta target kinerja tahun awal pelaksanaan Renstra Dinas Perkebunan Tahun 2016-2021, berisivisidanmisi, tujuan dan sasaran, serta strategi dan kebijakan Dinas Perkebunan Kabupaten Berau yang berpedoman kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten BerauTahun 2016-2021;
Dalam Pelaksanaan Pencapaian Kinerja Dinas Perkebunan Kabupaten Berau sesuai Perjanjian Kinerja yang tertuang dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran Tahun 2020 ini walaupun ditengah kendala adanya Pandemi Covid- 19 dapat dilaksanakan dengan baik, dengan tetap memperhatikan Protokol Kesehatan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan Pemerintahan Kabupaten Berau dalam pelaksanaan Program dan Kegiatan dilapangan.
Hasil pencapaian Kinerja Dinas Perkebunan Kabupaten Berau tidak terlepas dari kerjasama semua pihak yakni masyarakat, swasta dan aparat pemerintah daerah baik dalam perumusan kebijakan, maupun dalam implementasi serta pengawasannya, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif dalam penilaian kinerja Pemerintah Kabupaten Berau.
LKjIP Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
LKjIP Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
RINGKASAN EKSEKUTIF
Sejalan dengan perubahan paradigma Pemerintah kearah transparansi dan akuntabilitas tersebut membawa konsekuensi logis terhadap perubahan sikap, mental, dan perilaku Aparatur yang seharusnya diarahkan untuk terciptanya pemerintahan yang baik (Good Govermance) dan (Clean Govermance) dimana pelayanan terhadap masyarakat haruslah bersifat transparansi, akuntabel dan partisipasi menjadi pilarnya.
Berdasarkan perubahan paradigma tersebut, maka pemerintah mengeluarkan Inpres Nomor : 07 Tahun 1999 Tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerjadan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, yang mewajibkan Badan / Dinas / Bagian / Kantor / Kecamatan untuk menyusun Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKj-IP) yang merupakan salah satu kebutuhannya untuk mengatasi persoalan dan menjawab perubahan-perubahan paradigma tersebut.
Menyadari hal tersebut dan sejalan dengan kebijakan yang digariskan oleh Pemerintah Kabupaten Berau, bahwa LKj-IP Tahun 2020 iniberisivisi dan misi, tujuan dan sasaran, serta strategi dan kebijakan Dinas Perkebunan Kabupaten Berau yang berpedoman kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Berau Tahun 2016-2021; yang memberI arah segenap Aparatur Dinas Perkebunan Kabupaten Berau dalam melaksanakan berbagai aktivitas pembangunan.
LKjIP Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
Pada tahun anggaran 2020, Dinas Perkebunan Kabupaten Berau melaksanakan 10 (sepuluh) program, yaitu :
1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran
2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur
4. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan
5. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani
6. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian / Perkebunan 7. Program Peningkatan Mutu Hasil Perkebunan
8. Program Peningkatan Produksi Pertanian / Perkebunan 9. Program Pembinaan Perkebunan Ramah Lingkungan 10. Program Pengendalian Hama Terpadu
Dengan adanya LKj-IP ini, diharapkan dapat meningkatkan peran aktif bagi Dinas Pekebunan Kabupaten Berau untuk mendukung terlaksanakannya Good Govermance dengan istilah terwujudnya pemerintahan yang baik dan bersih terlepas dari Korupsi, Kolusidan Nepotisme, yang akhirnya bermuara pada terlaksananya “Pelayanan Prima bagiMasyarakat”.
LKjIP Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR RINGKASAN EKSEKUTIF DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... I-1 1.2 Tugas Pokokdan Fungsi ... I-2 1.3 Struktur Organisasi Perangkat Daerah... I-3 1.4 Sumber Daya Manusia ... I-6 1.5 Permasalahan Utama (Strategic Issued) ... I-10 1. Pembinaan Perkebunan Ramah Lingkungan ... I-10 2. Hilirisasi Produk Turunan Komoditi Unggulan
Perkebunan ... I-17 BAB II. PERENCANAAN KINERJA
2.1 Perencanaan Strategis ... II-1 2.1.1 Visi dan Misi ... II-1 2.1.2 Tujuan dan Sasaran ... II-2 2.1.3 Kebijakan, Strategi, Arah Kebijakan dan Program II-4 2.2 Indikator Kinerja Utama ... II-6 2.3 Rencana Kinerja Tahunan (RKT) ... II-9 2.4 Perjanjian Kinerja Tahun ... II-11 BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA
3.1 Tindak Lanjut Hasil Evaluasi Tahun Sebelumnya ... III-2 3.2 Capaian Kinerja Perangkat Daerah ... III-8 3.3 Evaluasi dan Analisis Capaian Kinerja ... III-9 1. Target dan Realisasi Kinerja ... III-9 2. Perkembangan Capaian Kinerja Berdasarkan
Capaian Beberapa Tahun Terakhir ... III-13 3. Target dan Realisasi Kinerja Berdasarkan
Jangka Menengah Renstra ... III-15
LKjIP Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
4. Analisis Penyebab Keberhasilan / Kegagalan Kinerja serta Alternative Solusi yang telah
Dilaksanakan ... III-17 5. Analisisatas Efisiensi Sumber Daya ... III-28 6. Analisis Program/Kegiatan yang Menunjang
Keberhasilan atau Kegagalan Pencapaian
PernyataanKinerja ... III-65 3.4 Realisasi Anggaran ... III-67
BAB IV. P E N U T U P
Kesimpulan ... IV-1 LAMPIRAN
1. Rencana Kinerja Tahunan 2021 2. Perjanjian Kinerja 2021
3. Indikator Kinerja Utama 2021 4. Matriks Rencana Strategis 5. Rencana Aksi 2021
6. Laporan Hasil Evaluasi atas Implementasi Sistem AKIP dari Inspektorat Kabupaten Berau Tahun 2019
LKjIP Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
DAFTAR TABEL
I-1 Struktur Organisasi Tata Kerja (SOTK) Dinas Perkebunan
Kabupaten Berau ... I-5 I-2 Sumber Daya Aparatur Dinas Perkebunan Kabupaten Berau .... I-7 III-1. Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Dinas Perkebunan
Kabupaten Berau Tahun 2018-2019 ... III-2 III-2 Pengukuran Indikator Kinerja Utama Dinas Perkebunan
Kabupaten Berau Tahun 2020 ... III-8 III-3 Target dan Realisasi Kinerja Tahun 2020 ... III-9 III-4 Perbandingan Capaian Kinerja Tahun 2018-2020 ... III-13 III-5 Perkembangan Capaian Kinerja sampai dengan tahun 2020
Berdasarkan Target Jangka Menengah ... III-15 III-6 Hasil Penilaian Kelas Kebun Terhadap Perusahaan Perkebunan
Di Kab. Berau ... III-24 III-7 Realisasi Pembangunan Kebun Kemitraan Kelapa Sawit ... III-26 III-8 Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit di Kab. Berau ... III-27 III-9 RekapitulasiJumlah PBS danKoperasi yang bermitrasampai
denganTahun 2020 ... III-31 III-10 Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) di Kab. Berau ... III-53 III-11 Perusahaan Perkebunan Mitra Kelompok Tani Peduli Api ... III-54 III-12 Total BelanjaDinas Perkebunan KabupatenBerau ... III-69 III-13Belanja Tidak Langsung Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun Anggaran 2020 ... III-69 III-14 AnggaranBelanjaLangsung per SasaranStrategis ... III-70 III-15 Belanja Langsung Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun Anggaran 2020 ... III-71
LKjIP Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
LAMPIRAN
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam pelaksanaan peran Dinas Perkebunan sebagai koordinator pelaksanaan teknis pada pembangunan subsektor perkebunan, setiap potensi baik berupa sumber daya manusia maupun sumber daya alam sebagai pendukung utama subsektor perkebunan perlu ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas terutama dalam hal penerapan teknologi terhadap teknis perkebunan.Di samping itu, Dinas Perkebunan terus melakukan upaya perbaikan untuk mencapai keselarasan antara perencanaan dengan anggaran yang ditujukan untuk pembangunan subsektor perkebunan melalui peningkatan sinkronisasi antara sasaran dalam dokumen rencana strategis dengan penganggaran setiap program/kegiatan.
Secara umum, untuk mengetahui setiap permasalahan yang mengiringi proses pembangunan subsektor perkebunan maka perlu dilakukan suatu kajian dan analisis terhadap hambatan, tantangan, hingga isu-isu strategis baik yang memiliki efek positif maupun negatif sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Dinas Perkebunan. Dari telaahan permasalahan yang telah dikaji dan dianalisis, maka dapat disusun suatu tujuan sasaran pembangunan yang berujung pada perumusan visi dan misi dari Rencana Strategis Dinas Perkebunan Kabupaten Berau.
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-2 1.2 Tugas Pokok dan Fungsi
Dinas Perkebunan Kabupaten Berau dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Berau Nomor7 Tahun 2016 tentang Pembentukan danSusunan Perangkat Daerah Kabupaten Berau,yang membantu pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kemudian untuk membantu bupati dalam penyelenggaraan pemerintahan khuhsusnya di bidang perkebunan, maka disusunlahPeraturan Bupati Berau Nomor 72 Tahun 2016 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Perkebunan Kabupaten Berauyang mempunyai tugas pokok membantu Bupati melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah dan tugas pembantuan yang diberikan kepada Daerah di bidang pertanian pada sektor perkebunan. Seiring perjalanan waktu Peraturan Bupati Nomor 72 Tahun 2016 kembali diubah dan digantikan dengan Peraturan Bupati Nomor 29 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Nomor 72 Tahun 2016 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Perkebunan Kabupaten Berau. Hal ini dilakukan karena terjadi perubahan struktur pada Dinas Perkebunan Kabupaten Berau. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Dinas Perkebunan mempunyai fungsi:
a. Perumusan kebijakan di bidang pertanian sesuai dengan lingkup tugasnya;
b. Pelaksanaan kebijakan di bidang pertanian sesuai dengan lingkup tugasnya;
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-3 c. Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas di bidang
pertanian sesuai dengan lingkup tugasnya;
d. Pelaksanaan administrasi dinas sesuai dengan lingkup tugasnya; dan e. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Bupati terkait dengan
tugas dan fungsinya.
1.3 Struktur Organisasi Perangkat Daerah
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat, Dinas Perkebunan Kabupaten Berau ditunjang dengan rincian Struktur Organisasi sebagai berikut :
a. Kepala Dinas ;
b. Sekretariat, membawahi :
1. Sub Bagian Penyusunan Program 2. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian 3. Sub Bagian Keuangan
c. Bidang Produksi, membawahi :
1. Seksi Budidaya dan Bahan Tanaman 2. Seksi Rehabilitasi dan Peremajaan 3. Seksi Penyiapan dan Perluasan Lahan
d. Bidang Pembinaan dan Pengembanagan Usaha, membawahi : 1. Seksi Bina Usaha
2. Seksi Pengolahan Pasca Panen dan Pemasaran 3. Seksi Pembinaan Kemitraan
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-4 e. Bidang Perlindungan Perkebunan, membawahi :
1. Seksi Bimbingan dan Pengawasan Sarana Perlindungan Perkebunan
2. Seksi Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman 3. Seksi Dampak Lingkungan dan Pencegahan Kebakaran f. Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Perkebunan
1. Seksi Kelembagaan Perkebunan
2. Seksi Pengembangan Sumber Daya Manusia 3. Seksi Fasilitasi Permodalan
g. UPT
1. UPT Pengembangan Perlindungan Tanaman Perkebunan (UPT- P2TP) di Rinding
2. UPTD Pengembangan Bahan Tanaman dan Penanganan Pasca Panen (UPTD-PBTP3) yang selanjutnya berubah jadi UPT Balai Benih dan Pasca Panen Tanaman Perkebunan di Tumbit Melayu.
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-5 Tabel I-1: Struktur Organisasi Tata Kerja (SOTK) DinasPerkebunan Kabupaten Berau
Sumber : Subbagian Umum dan Kepegawaian Dinas Perkebunan Kabupaten Berau KEPALA SEKSI REHABILITASI
DAN PEREMAJAAN
KEPALA BIDANG PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA
PERKEBUNAN KEPALA BIDANG
PERLINDUNGAN
KEPALA BIDANG PRODUKSI KEPALA BIDANG PEMBINAAN
DAN PENGEMBANGAN USAHA KEPALA SUB BAGIAN KEPALA DINAS
KEPALA SEKSI BUDIDAYA DAN BAHAN TANAMAN
KEPALA SEKSI PENYIAPAN DAN PERLUASAN LAHAN
KEPALA SEKSI DAMPAK LINGKUNGAN DAN PENCEGAHAN
KEBAKARAN
KEPALA SEKSI BINA USAHA
KEPALA SEKSI PENGOLAHAN PASCA PANEN DAN
PEMASARAN KEPALA SEKSI BIMBINGAN
DAN PENGAWASAN SARANA
KEPALA SEKSI PENGENDALIAN ORGANISME PENGGANGU
TANAMAN
KEPALA SEKSI PEMBINAAN KEMITRAAN
KEPALA SEKSI KELEMBAGAAN PERKEBUNAN
KEPALA SEKSI PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
KEPALA SEKSI FASILITASI PERMODALAN
KEPALA UPTD PENGEMBANGAN PERLINDUNGAN TANAMAN
KEPALA UPTD PENGEMBANGAN BAHAN TANAMAN DAN PENANGANAN PASCA PANEN
KEPALA SUB.BAG TATA USAHA KEPALA SUB.BAG TATA USAHA
KEPALA SUB BAGIAN PENYUSUNAN PROGRAM KEUANGAN DAN ASET UMUM DAN KEPEGAWAIAN
KEPALA SUB BAGIAN SEKRETARIS
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-6 1.4 Sumber Daya Manusia
Berdasarkan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomot 8 Tahun 1974 tentang Pokok- pokok Kepegawaian, secara umum menyampaikan bahwa dalam rangka usaha mencapai tujuan nasional untuk mewujudkan masyarakat madani yang taat hukum berperadaban modern, demokratis, makmur, adil dan bermoral tinggi diperlukan Pegawai Negeri yang merupakan Unsur Aparatur Negara yang bertugas sebagai Abdi Masyarakat yang mnyelenggarakan pelayanan secara adil dan merata. Untuk melaksanakan tugas tersebut diperlukan pegawai negeri yang profesional dan bertanggung jawab dalam menyelenggarakan Tugas Pemerintahan dan Pembangunan, serta bersih KKN. Kelancaran penyelenggaran tugas pemerintahan dan pembangunan nasional sangat tergantung pada kesempurnaan Aparatur Negara khususnya Pegawai Negeri.
Sumber daya manusia adalah merupakan unsur yang paling menentukan dalam proses pembangunan perkebunan khususnya Sumber daya Aparatur yang merupakan mesin penggerak berjalannya roda pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat.
Untuk menghadapi perkembangan teknologi modern saat ini diimbangi dengan peningkatan sumber daya manusia yang memadai dan mampu menjawab segala tantangan. Berikut ini rekapitulasi data mengenai Pegawai Negeri Sipil yang berada di lingkungan Dinas Perkebunan Kabupaten Berau sampai dengan 31 Desember 2020:
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-7 Tabel I-2: Sumber Daya Aparatur Dinas Perkebunan Kabupaten Berau
Jabatan
Jenis Kelamin Golongan Pendidikan
Laki- laki
Perempuan IV III II I Pasca Sarjana
Sarjana Diploma SLTA SLTP SD
Kepala Dinas 1 1 1
Sekretaris 1 1 1
Kepala Bidang 4 4 2 2
Kasubbag 3 3 1 1 1
Kasi 11 5 16 11 3 2
Staf 18 9 19 7 1 7 6 13 1
Honor 9 3 5 2 4 1
Jumlah 44 20 6 38 7 1 3 28 12 19 1 1
Sumber : Subbagian Umum dan Kepegawaian Dinas Perkebunan Kabupaten Berau
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-8 Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 dalam perumusan tugas dan fungsi masing-masing perangkat daerah, Dinas Perkebunan sebagai unsur staf pada hakekatnya menyelenggarakan fungsi urusan pemerintahan di bidang perkebunan berdasarkan asas Otonomi dan Tugas Pembantuan.
Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi serta sebagai upaya pencapaian Visi dan Misi Pemerintah Daerah Kabupaten Berau, Dinas Perkebunan selalu berupaya untuk terus meningkatkan kinerja sebagai unsur staf yang handal dalam semua aspek termasuk penerapan “GOOD GOVERNANCE”. Dalam lima tahun kedepan, Dinas Perkebunan memprioritaskan pada peningkatan Kapasitas, Kecepatan dan Mutu Pelayanan serta merumuskan Kebijakan dan Koordinasi di bidang Pembangunan Perkebunan. Anggaran berbasis kinerja akan menjadi dasar penganggaran, sehingga sasaran dan indikator pencapaian hasil program pembangunan perkebunan dipersiapkan secara jelas dan terukur serta digunakan dalam pengendalian dan evaluasi secara konsisten. Untuk menjawab perubahan lingkungan strategis Internal dan eksternal, setiap bidang harus mampu mengantisipasi perubahan multi dimensi dalam menyusun perencanaan dan merumuskan kabijakan pembangunan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing Bidang Dinas Perkebunan
Sistem pengendalian dan evaluasi akan terus dioptimalkan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan serta kajian strategis pembangunan perkebunan, baik yang terkait dengan metodologi dan pelaksanaannya maupun penggunaan dan tindak lanjut hasilnya. Selain itu peningkatan kemampuan di
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-9 bidang ilmu pengetahuan dan teknologi seluruh Insan Dinas Perkebunan terus dipacu mengingat produk yang dinamis, efektif dan efesien sangat bergantung pada kualitas pengetahuan dan keterampilan sumber daya aparatur pelaksananya.
Terlaksananya kebijakan teknis pembangunan bidang perkebunan yang dapat mewujudkan pelayanan umum di bidang perkebunan merupakan salah satu prioritas program ke depan, sehingga Dinas Perkebunan mampu memberikan pelayanan yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani perkebunan, penerapan teknologi, pemasaran hasil produksi dan peningkatan produksi. Dinas Perkebunan akan terus melakukan segala upaya untuk menjamin tidak saja berdaya guna dan berhasil guna bagi penentu kebijakan juga dapat dimanfaatkan oleh Stakeholders.
Dasar utama penyusunan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam bentuk suatu organisasi adalah adanya urusan pemerintahan yang perlu ditangani, namun tidak berarti setiap penanganan urusan daerah harus dibentuk dalam suatu organisasi sendiri. Besaran organisai perangkat daerah harus mempertimbangkan dan memperhatikan beberapa faktor, yaitu :
1. Kemampuan keuangan daerah ;
2. Kebutuhan daerah dan ketersediaan SDA;
3. Cakupan tugas yang meliputi sasaran tugas yang harus diwujudkan;
4. Jenis dan banyaknya tugas;
5. Luas wilayah kerja dan kondisi geografis;
6. Jumlah kepadatan pendudukan, dan;
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-10 7. Potensi daerah yang berkaitan dengan urusan yang akan ditangani serta
ketersediaan sarana dan prasarana penunjang tugas;
Dari cakupan berbagai faktor diatas diharapkan Pembentukan Satuan Kerja Perangkat Daerah sudah menganut prinsip “Hemat Struktur dan Kaya Fungsi” yang berarti bahwa walaupun Struktur Organisasi Minimal namun secara fungsional dapat melaksanakan tugas secara maksimal.
1.5 Permasalahan Utama (Isu Startegis)
Isu strategis merupakan permasalahan pokok maupun tantangan yang berkaitan dengan fenomena global baik regional, nasional, maupun internasional baik yang belum dapat diselesaikan pada periode lima tahun sebelumnya maupun situasi baru yang muncul akibat perubahan era.
Fenomena dalam isu strategis tersebut memiliki dampak jangka panjang bagi berkelanjutan pelaksanaan pembangunan daerah sehingga perlu diantisipasi dan diatasi secara bertahap dan berkelanjutan.
Dari berbagai identifikasi masalah dan hasil telaahan diatas, maka isu-isu strategis dalam penyelenggaraan pembangunan subsektor perkebunan oleh Dinas Perkebunan, meliputi:
1. Pembinaan Perkebunan Ramah Lingkungan
Persepsi negatif mengenai perluasan perkebunan kelapa sawit sebagai penyebab terjadinya kerusakan lingkungan hidup yang berdampak terhadap perubahan iklim dan pemanasan global, semakin berkembang luas di kalangan masyarakat.Kampanye negatif yang merugikan perencanaan pengembangan
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-11 perkebunan kelapa sawit kemungkinan akan terus berkembang di dalam usaha perluasan perkebunan kelapa sawit. Hal ini dikarenakan isu ini cukup sensitif terutama bagi pelaku usaha mengingat hasil yang “menggiurkan” bagi yang berhasil mengelola lahan kelapa sawit. Berkenaan dengan hal tersebut, selain melanjutkan kampanye positif bersama seluruh pemangku kepentingan baik di dalam maupun di luar negeri, pemerintah harus terus berupaya menghindari praktek yang dapat mengundang kritik dari berbagai pihak. Perlu adanya rencana aksi untuk mensosialisasikan bahwa perluasan perkebunan kelapa sawit sudah dilaksanakan dengan berkelanjutan sehingga meminimalisir dampak degradasi lingkungan, bahkan dalam program ini terkandung berbagai peluang potensial yang dapat dimanfaatkan bagi masa depan pertanian dan perekonomian Kabupaten Berau dan Indonesia pada umumnya.
Sesuai ciri budidaya tanaman kelapa sawit yang dikenal sebagai pohon industri, kelapa sawit memiliki manfaat besar dan luas bahkan termasuk limbah dan hasil sampingan yang sangat melimpah. Seiring dengan menipisnya cadangan energi fosil, maka limbah dan hasil sampingan tersebut dapat menjadi alternatif sumber energi baru dan terbaharukan yang dapat menjadi sumber dan kekuatan andalan masa depan perekonomian bangsa. Limbah dan hasil sampingan yang dimaksud merupakan bagian dari hasil proses produksi industri kelapa sawit yang sudah ada, terus berlanjut, dan masih terus berkembang. Demikian pula ketersediaan limbah dan hasil sampingan juga akan terus berlanjut dan semakin bertambah pula.
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-12 Pada konsep ekonomi hijau, limbah merupakan salah satu penyebab kerusakan lingkungan sehingga perlu dilakukan pengelolaan limbah agar menjadi ramah lingkungan walaupun memerlukan tambahan biaya. Dalam rangka mendukung ekonomi hijau maka diadakan program dan kegiatan yang dilaksanakan REDD+(Reduksi Emisi dari Deforestrasi dan Degradasi hutan dan lahan gambut plus)dan RAD GRK (Rencana Aksi Daerah penurunan emisi Gas Rumah Kaca) bekerjasama dengan Dinas Perkebunan ProvinsiKalimantan Timur pada setiap kegiatan pembangunan perkebunan besar maupun rakyat.
Pelaksanaan program ramah lingkungan ini berkepentingan untuk menekan laju pemanasan global dengan mengurangi emisi gas rumah kaca melalui penerapan prinsip 3R (Reduce, Recycle, dan Reused) dalam setiap proses pembangunan perkebunan menuju ekonomi hijau.
Dalam setiap tahapan pembangunan perkebunan dilaksanakan kegiatan mitigasisebagai upaya penurunan emisi dari degradasi hutan dan/atau degradasi lahan.Upaya pencegahan kerusakan lingkungan ini meliputi:
1. Pengendalian Kebakaran Lahan Kebun Rakyat.
2. Konservasi Lahan Komoditas Ungglan
3. Penggunaan pupuk secara berimbang dan pengembangan pembuatan kompos/pupuk organik;
4. Rehabilitasi kebun dan penyesuaian tanaman pelindung bagi komoditi yang membutuhkan; dan
5. Penerapan teknik budidaya yang baik (Good Agricultural Practices/GAP).
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-13 Sedangkan upaya yang dilaksanakan untuk menciptakan manfaat tambahan bersamaan dengan peningkatan manfaat dari karbon, dilaksanakan melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, peningkatan kelestarian keanekaragaman hayati, dan peningkatan kelestarian produksi jasa ekosistem Secara aplikatifnya, kegiatan mitigasi meliputi:
1. Pengembangan Teknologi dan Bioteknologi bidang Perkebunan 2. Fasilitasi Biomassa sebagai energy terbarukan
3. Penerapan teknologi budidaya PHT dan penanggulangan dampak anomali iklim yang pada dasarnyadilakukan dengan pendekatan kelestarian lingkungan hidup baik biotik maupun abiotik;
4. Membangun embung-embung/tangkapan air;
5. Mengembangkan teknologi konservasi lahan dan budidaya lorong;
6. Peningkatan produktivitas lahan melalui pemanfaatan BIOCHAR;
7. Kebijakan penggunaan limbah biomasa/cair untuk energi baru terbarukan (POME/Palm Oil Mill Effluent); dan
8. Meng-inclave area bernilai konservasi tinggi (HCV-A) pada usaha perkebunan.
Khusus terhadap pembangunan perkebunan kelapa sawit, Indonesia sejak tahun 2012 menjadi negara produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia yakni sebesar 44 persen dari produksi minyak nabati dunia dan menggeser malaysia (41%). Oleh karena itu, sudah menjadi kewajaran jika Negara Indonesia memiliki standar dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan (sustainable) yang mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-14 Nomor 19 Tahun 2011. Selain itu, harga minyak dunia (crude oil) yang selalu meningkat juga menjadi topik pembicaraan hangat level internasional bahkan terdapat dugaan mengenai kemungkinan penggunaan minyak kelapa sawit sebagai biofuel.
Beberapa tahun terakhir ini minyak sawit sedang menjadi sorotan dunia termasuk isu-isu yang berkembang di pasar Internasional mengenai permasalahan lingkungan sebagai dampak dari perluasan perkebunan kelapa sawit dimana salah satunya perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang dianggap tidak berkelanjutan dan tidak ramah lingkungan. Bahkan ada yang menuduh bahwa perkebunan kelapa sawit di Indonesia sebelumnya berasal dari kawasan hutan, selain itu banyak pula yang menuding kelapa sawit di Indonesia menyebabkan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh berkurangnya penangkapan air ekosistem sekitar dan terlalu banyaknya penggunaan pupuk yang meracuni lingkungan di areal perkebunan. Isu-isu yang berkembang tersebut menjadi tantangan bagi Negara Indonesia pada umumnya dan khususnya Provinsi Kalimantan timur dan terlebih lagi Kabupaten Berau untuk membuktikan bahwa perkebunan kelapa sawit di Indonesia memiliki sifat yang berkelanjutan dan ramah lingkungan agar produk kelapa sawit Indonesia dapat diterima oleh pasar Internasional.
Beberapa tahun sebelumnya telah terdapat standar pengelolaan kebun dan pengolahan kelapa sawit yang berkelanjutan yakni RSPO (Roundtable Sustainable Palm Oil) yang secara sukarela (voluntary) dapat di terapkan di Indonesia.Standar RSPO merupakan standar yang dibuat berdasarkan
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-15 kesepakatan/roundtable para pemangku kepentingan dalam industri kelapa sawit seperti konsumen, produsen, hingga LSM lingkungan internasional.RSPO menjadi wadah komunikasi para pihak yang berkepentingan untuk menyamakan persepsi tentang konsep berkelanjutan terutama pada pembangunan perkebunan kelapa sawit (sustainability).
Kemudian muncul ISPO sebagai inisiatif Pemerintah Negara Indonesia terutama Kementerian Pertanian atas kesadaran/deklarasi bahwa pengelolaan sumber daya alam termasuk perkebunan kelapa sawit harus di lakukan secara berkelanjutan (sustainable). Sertifikasi ISPO bukan untuk mengganti atau menyaingi sertifikasi RSPO yang sebelumnya sudah ada terlebih dahulu karena penerapan ISPO bersifat mandatory (harus/wajib) dalam artian semua ketentuan terkait yang berlaku di Indonesia wajib dipatuhi dan diterapkan oleh seluruh pelaku usaha perkebunan kelapa sawit bahkan ada ketentuan akan ditindak bagi yang melanggar ISPO.
Adapun tujuan mengembangkan dan menerapkan ISPO bagi pemerintah Indonesia adalah untuk:
1. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya memproduksi minyak sawit yang lestari;
2. Meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar global;
3. Mendukung komitmen Indonesia untuk mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK);
4. Mendukung komitmen unilateral Pemerintah Indonesia di Kopenhagen (2009) dan Program Based Line on LOI Indonesia dan Norwegia (2010);
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-16 5. Memposisikan pembangunan kelapa sawit sebagai bagian integral dari
pembangunan ekonomi Indonesia;
6. Memantapkan sikap dasar bangsa Indonesia untuk memproduksi minyak kelapa sawit berkelanjutan sesuai tuntutan masyarakat global; dan
7. Mendukung komitmen Indonesia dalam pelestarian sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup.
Menteri Pertanian dalam rangka penerbitan standar/pedoman ISPO menyatakan bahwa sebagai amanat konstitusi UUD pasal 33 ayat 3, bahwa perekonomian nasional di selengarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Oleh karena itu, dengan menerapkan ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) secara konsisten, maka diharapkan dapat memberikan manfaat bagi industri kelapa sawit, yakni:
1. Meningkatkan posisi tawar produk kelapa sawit di mata pelanggan;
2. Memperbaiki citra perusahaan;
3. Mencegah kerusakan lingkungan dan ekosistem;
4. Meningkatkan mutu produk dan pelayanan;
5. Meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, masyarakat, serta kesejahteraan sosial;
6. Menciptakan keunggulan comparative; serta
7. Menjaga pertumbuhan dan keberlangsungan bisnis.
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-17 Provinsi Kalimantan Timur merupakan locus pelaksanaan program Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) yang melibatkan peran serta seluruh Kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur dan bertujuan pada penurunan emisi gas rumah kaca dari kegiatan Reduction Eission from Deforestation and Forest Degradation (REDD+). Untuk menunjang hal tersebut, Dinas Perkebunan Kabupaten Berau telahmemfasilitasi keluarnya Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Berau Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pembangunan Perkebunan Berkelanjutan, yang selanjutnya didukung dengan terbitnya SK Bupati Berau Nomor 287 Tahun 2020 tentang Penetapan Peta Indikatif Perlindungan Areal dengan Nilai Konservasi Tinggi dan Cadangan Karbon Tinggi Pada Kawasan Peruntukan Perkebunan seluas ±83.000 Hektar.
2. Hilirisasi Produk Turunan Komoditi Unggulan Perkebunan
Pengembangan usahatani tanaman perkebunan, pada umumnya masih sebagai usaha monokultur sehingga belum disertai pengembangan cabang usahatani yang sesuai lainnya, baik dari kelompok tanaman perkebunan maupun jenis pertanian yang masuk dalam ruang lingkup kelompok tanaman pangan, hortikultura, maupun ternak.Disatu pihak, dengan usaha monokultur maka tingkat produktivitas usaha budidaya tanaman dapat tercapai sesuai dengan potensi normalnya secara berkelanjutan apabila dilakukan program yang mendukung hilirisasi produk perkebunan. Pada Tanaman kakao merupakan komoditi ungulan perkebunan namun belum bisa meningkatkan taraf hidup dan pendapatan petani dikarenakan nilai jual ditingkat petani masih relative rendah. Sehinggga memungkinkan para petani untuk beralih kepada
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-18 komoditi lain. Hal ini juga akan dapat mengurangi tingkat produktifitas dan pendapatan petani Guna mendukung program tersebut akan dilakukan kegiatan pembukaan pusat-pusat pengembangan komiditi unggulan yaitu kakao.
Selain pembangunan infrastruktur dan sektor pertanian, pengentasan kemiskinan di Kabupaten Berau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan sumber daya manusia. Selama ini berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi kemiskinan melalui penyediaan kebutuhan pangan, layanan kesehatan dan pendidikan, perluasan kesempatan kerja, pembangunan pertanian, pemberian dana bergulir, hingga pembangunan sarana dan prasarana publik.
Dinas Perkebunan sebagai instansi yang juga memiliki andil dalam program pengentasan kemiskinan terutama kemiskinan yang berada pada masyarakat sektor pertanian, harus berupaya optimal dalam memberikan kesempatan bagi petani perkebunan untuk memajukan kualitas hidupnya dengan cara memberikan berbagai pelatihan keterampilan teknis perkebunan, memfasilitasi sistem perkebunan modern, mendampingi dalam penerapan teknologi perkebunan, hingga memberikan wadah kelembagaan agar masyarakat tani dapat melakukan kemitraan dengan swasta. Dengan adanya usaha untuk meningkatkan sumber daya manusia maupun kelembagaan di bidang perkebunan, diharapkan masyarakat di pedesaan, pedalaman, maupun wilayah tertinggal mulai dapat melakukan usaha perkebunan berkualitas dengan harapan peningkatan kesejahteraan hidupnya.
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
I-19
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-1 BAB II
PERENCANAAN KINERJA DAN PERJANJIAN KINERJA
2.1 Perencanaan Strategis 2.1.1 Visi dan Misi
Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Visi menjadi fokus dan arahan pembangunan serta program kerja selama lima tahun pelaksanaan kepemimpinan kepala daerah terpilih. Visi menjadi penting karena akan menyatukan dan mengintegrasikan setiap aspek pendukung pembangunan daerah yang akan dilaksanakan oleh seluruh elemen masyarakat Kabupaten Berau baik aparatur pemerintahan, masyarakat, maupun swasta.
Berdasarkan aturan dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan yang berpedoman pada RPJPD dan memerhatikan permasalahan pembangunan di Kabupaten Berau, serta Visi, Misi, dan program unggulanyang telah disampaikan oleh Bupati dan Wakil Bupati pada saat kampanye yang telah diselaraskan dengan kajian teknokratik, maka visi pembangunan jangka menengah Kabupaten Berau tahun 2016-2021 adalah
“Mewujudkan Berau Sejahtera, Unggul dan Berdaya saing berbasis Sumber Daya Manusia dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam secara Berkelanjutan”.
Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan dan diwujudkan agar sasaran pembangunan dapat terlaksana dan berhasil dengan baik sesuai dengan visi yang telah ditetapkan. Untuk
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-2 mencapai visi tersebut Dinas Perkebunan Kabupaten Berau menyesuaikan dengan Kebijaksanaan Pemerintah Kabupaten Berau dalam menentukan misi pembangunan jangka menengah daerah yaitu:
➢ Misi Pertama: Membangun dan meningkatkan sarana dan prasarana publik yang berkualitas, adil, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
➢ Misi Kedua: Meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, memberdayakan usaha ekonomi kecil menengah yang berbasis kerakyatan, dan perluasan lapangan kerja termasuk pengembangan ekonomi kreatif berbasis pariwisata dan kearifan lokal
2.1.2 Tujuan dan Sasaran
Sebagai salah satu komponenpentingdalam perencanaan strategis, tujuandapatdirumuskan sebagai gambaran tentang keadaan yang diinginkan atau dicita-citakan oleh Dinas Perkebunan selama kurun waktu lima tahun ke depan berdasarkan tugas pokok dan fungsinya. Selain itu, tujuan Dinas Perkebunan merupakan sebuah upaya dalam mendukung pencapaian Pembangunan Pemerintah Daerah Kabupaten Berauseperti yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Berau 2016-2021.
Adapun tujuan Rencana Strategis Dinas Perkebunan Kabupaten Berau tahun 2016-2021 dapat dirincikan sebagai berikut:
a. Meningkatkan produksi perkebunan,
Tantangan perekonomian di era sekarang adalah bagaimana subjek dari perekonomian itu sendiri, yaitu masyarakat menjadi sejahtera. Jumlah
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-3 penduduk yang besar menjadi focus pemerintah daerah, sehingga arah perekonomian dibangun untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya.Berdasarkan pertimbangan ini, maka sector pertanian menjadi sector penting dalam struktur perekonomian daerah sehingga sector ini juga menjadi hal yang patut untuk dipertimbangkan.
Hal ini dicapai dengan sasaran:
➢ Meningkatnya produksi komoditi unggulan perkebunan.
b. Meningkatkan kesejahteraan petani perkebunan rakyat,
Sebagai daerah agraris, sector pertanian khususnya sub sector perkebunan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Kabupaten Berau. Agar penyerapan tenaga kerja ini memberikan dampak postif bagi peningkatan pendapatan masyarakat khusunya petani, Pemerintah dalam hal ini Pemerintah Daerah dapat dan harus mampu untuk selalu menjaga kesejahteraan petani. Pemerintah harus mampu menjamin kesejahteraan petani agar pertanian menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk terjun kesektor itu.
Hal ini dicapai dengan sasaran:
➢ Meningkatnya Pendapatan Petani / Pekebun.
Sasaran merupakan sesuatu yang akan dicapai/dihasilkan secara nyata oleh Dinas Perkebunan dalam periode lima tahun ke depan sesuai dengan penjabaran dari tujuan rencana strategis. Dari keenam tujuan Renstra Dinas Perkebunan, dapat dirumuskan turunan tujuan berupa sasaran-sasaran perencanaan pembangunan subsector perkebunan yang efektif dan efisien
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-4 serta memiliki indikator yang spesifik, jelas, dan terukur sebagai bahan evaluasi, monitoring, dan perencanaan pembangunan di masa yang akan datang. Sasaran yang ingin dicapai oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Berau periode 2016-2021 sebagai pendukung pembangunan daerah adalah sebagai berikut:
a. Tujuan ke satu, “Meningkatkan Produksi Perkebunan” dapat dicapai dengan sasaran:
➢ Meningkatnya produksi komoditi unggulan perkebunan, dengan indicator sebagai berikut:
• Produksi Hasil Perkebunan (Ton)
• Luas Perkebunan (Ha)
b. Tujuan kedua, “Meningkatkan kesejahteraan petani perkebunan rakyat”
dapat dicapai dengan sasaran:
➢ Meningkatnya Pendapatan Petani / Pekebun, dengan indicator sebagai berikut:
• Presentase Kenaikan Pendapatan Petani Per bulan di atas UMK.
2.1.3 Kebijakan, Strategi, Arah Kebijakan dan Program
Dalam upaya mencapai tujuan dan sasaran pembangunan subsector perkebunan, Dinas Perkebunan Kabupaten Berau menyusun strategi dalam mengaplikasikan setiap program/kegiatan pembangunan daerah khususnya subsector perkebunan.Berikut strategi dan kebijakan Dinas Perkebunan dalam Renstra tahun 2016-2021:
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-5 Strategi 1: Optimalisasi Peningkatan produktivitas dan nilai tambah
komoditi unggulan
Kabupaten Berau memiliki beberapa komoditi unggulan yang efektif sebagai lokomotif perkembangan perekonomian sekaligus “jalan” dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat terutama petani. Komoditas utama perkebunan di Kabupaten Berau antara lain kelapasawit, kakao, karet, kelapa dalam, dan lada. Meskipun begitu, kajian-kajian untuk penambahan komoditas unggulan terus dilaksanakan karena peningkatan hasil produksi pertanian ( perkebunan pada khususnya ) akan diperhitungkan dalam peningkatan ekonomi berkelanjutan. Peningkatan pemasaran, daya saing, dan nilai tambah produk merupakan faktor utama yang penting untuk meningkatkan hasil perkebunan. Selain karena merupakan sumber daya alam yang terbaharukan, hasil produksi perkebunan dapat dijual secara
“mentah” maupun dijual dengan nilai tambah (pengolahan menjadi barang setengahj adi atau barang jadi). Nilai tambah komoditi unggulan akan meningkat jika diikuti dengan kualitas produksi yang meningkat.
Dalam merealisasikan strategi tersebut, Renstra Dinas Perkebunan mempunyai kebijakan sebagai berikut:
❖ Penurunan tingkat gangguan usaha dankonflik perkebunan;
❖ Penyediaan sarana dan prasarana perkebunan
❖ Pencegahan serangan OPT yang lebih meluas
❖ Peningkatan Pemasaran, Daya Saing dan Nilai Tambah Produk
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-6
❖ Peningkatan pemasaran produk perkebunan
❖ Pengembangan usaha perkebunan yang ramah lingkungan
Strategi2 : Penguatan kelembagaan, asosiasi petani/pekebun dan Sumber Daya Manusia Perkebunan
Di era gobalisasi hingga saat ini potret kelembagaan petani diakui masih belum seperti apa yang diharapkan. Salah satu penyebab kondisi demikian adalah kekurang pedulian terhadap pentingnya menemukan celah masuk (entry-point) kelembagaan, sehingga menimbulkan kebingungan dalam rekayasa kelembagaan yang sesuai dengan tujuan produksi perkebunan.
Strategi penguatan kelembagaan petani/pekebun diharapkan dapat meningkatkan hasil perkebunan dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Dalam merealisasikan strategi tersebut, Dinas Perkebunan mempunyai kebijakan sebagai berikut:
❖ Peningkatan Kemampuan petani / pekebun ;
❖ Peningkatan Kemampuan Sumber Daya Manusia Perkebunan ;
2.2 Indikator Kinerja Utama
Indikator kinerja Utama merupakan alat untuk menilai keberhasilan Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, secara kuantitatif maupun kualitatif, merupakan gambaran yang mencerminkan capaian indikator kinerja program (outcomes/hasil) dari kegiatan (output/keluaran). Selain itu, indikator kinerja program merupakan cerminan sebuah fungsi dari keluaran kegiatan pada
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-7 jangka menengah (efek langsung) dimana pengukuran indikator “hasil” lebih utama daripada sekedar “keluaran” karena “hasil” (outcomes) menggambarkan tingkat pencapaian atas hasil lebih tinggi yang mungkin mencakup kepentingan banyak pihak. Indikator kinerja akan dapat dijadikan sebagai media perantara untuk memberi gambaran tentang pencapaian dari perencanaan suatu organisasi yang diharapkan di masa mendatang.
Secara rinci, penetapan indikator kinerja utama program Dinas Perkebunan Kabupaten Berau dapat diuraikan dalam tabel sebagai berikut:
Dan pada tahun 2020, Indikator Kinerja Utama Dinas Perkebunan adalah sebagai berikut:
Sasaran Strategis
Indikator Kinerja
Utama
Penjelasan (Formulasi Perhitungan
Sumber Data Penanggung Jawab
Meningkatnya Produksi komoditi unggulan perkebunan
Jumlah Produksi Komoditi Perkebunan (Ton)
Jumlah Luas, Produksi dan Tenaga Kerja Perkebunan sampai akhir tahun pelaporan
• Data Statistik Perkebunan
• Data Sebaran Bibit Komoditi Perkebunan
• Data OPT Perkebunan
• Subbag Penyusunan Program
• Bidang Produksi
• Bidang Perlindungan Meningkatnya
Pendapatan Petani/
Pekebun
Prosentase Kenaikan Pendapatan Petani Per Bulan diatas UMK (%)
Pendapatan rata-rata pekebun terhadap UMK
• Data Kelompok Tani
Perkebunan
• Data Harga pasar Komoditi Perkebunan
• Bidang Penyuluhan
• Bidang
Pembinaandan Pengembangan Usaha
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-8
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-9 2.3 RencanaKinerjaTahunan (RKT) Dinas Perkebunan Kab. Berau
Tahun 2020
No. SASARAN STRATEGIS
INDIKATOR
KINERJA KEGIATAN KELUARAN TARGET
1 Meningkaoiya Pendapatan Petani i Pekebun
Persentase Pendapatan Petani Pekebun diatas UMK
Pelatihan Petani dan Pelaku Agribisnis
Jumlah Petani/Pekebun yang
dilatih di bidang Agribisnis 25 Petani Peningkatan
Kemampuan Lembaga Petani
Jumlah Kelompok Tant,
dan Asosiasi yang dibina 75 Kelompok Tani/1 Asosiasi Pengawalandan Pembinaan
Pembangunan Kebun Petani Kemitraan oleh PBS
LuasKebunKemitraanyangdibina
500 Ha
Pengembangan Modal Usaha Perkebunan (Pendukungan Akses Permodalan Usaha Perkebunan)
Jumlah Poktan/Petani yang mengikuti Sosialisasi Pengembangan Modal Usaha Perkebunan
6 Kelompok Tani Pengolahan Informasi
Permintaan Pasar atas Hasil Produksi Pertanian/Perkebunan
Jumlah Data Informasi Pasar Komoditi Perkebunan
12 Laporan
Pendampingan Pekebun dan Pelaku Agribisnis (Pekan Daerah Kontak Tani Pekebun Andalan)
Terlaksananya PEDA KTNA
Provinsi Kaltim 2019 dan FASDA 30 petani yg mengikuti
Pembinaan dan Pengendalian Pengembangan Perkebunan Rakyat
Jumlah pekebun rakyat yang difasilitasi untuk memperoleh STD- B
30 STD-B / Surat
2 Meningkatnya Produksi Hasil Pembinaan dan Pengendalian Pengembangan Perkebunan Besar
Jumlah PBS yang dibina Produksi
Komoditi
Perkebunan 15 PBS
Unggulan
Perkebunan Fasihtasi Pembibitan Komodttas Unggulan
Jumlahkomoditiunggulan yang difasi1itasi sebagai kebun sumber benih
3 Komoditi Unggulan Rehabditasi dan Peremajaan Luas Kebun yang direhabilitasi
Komoditi Perkebunan 6Ha
Fasilitasi Gemari Kakao Jumlah koordinasi kelompok kerja
Gemari Kakao 3 kali
Intensifikasi Komoditi Luas Kebun yang terintensifikasi
75 Ha Perkebunan
Perluasan Kebun Komoditi Luas Kebun yang dikembangkan
8,5 Ha Unggulan
Konsolidasi Pembangunan Perkebunan
Jumlah dokumen rumusan pembangunan bidangperkebunan
yang tersusun 4 dokumen
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-10
No. SASARAN STRATEGIS
INDIKATOR
KINERJA KEGIATAN KELUARAN TARGET
Pengolahan Data Statistik
Perkebunan (Pembuatan Buku Statistik)
Jumlah Dokumen Statistik yang tersedia
2 dokumen
Pengendalian Kebakaran Lahan Kebun Rakyat
Jumlah Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) yang terbentuk
3 KTPA
Konservasi Lahan dengan Komoditas Perkebunan
Jumlah Luasan Lahan yang terkonservasi
30 Ha
Pengembangan Teknologi Bioteknologi Bidang Perkebunan
Jumlah Produksi Agens Pengendali Hayati (APH) yang dihasilkan
200 kg
Sekolah Lapang Penerapan Teknologi Budi Daya Tepat Guna (SL-PHT)
Jumlah Petani Pekebun yang menerapkan teknologi Budidaya Tepat Guna
50 petani
Fasilitasi Regu Proteksi Perkebunan
Jumlah Regu Proteksi Perkebunan
yang terbentuk 2 regu
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-11 2.4 Perjanjian Kinerja Tahun 2020
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Review atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, Pada tahun anggaran 2020, Dinas Perkebunan Kabupaten Berau menetapkan2 sasaran beserta targetnya sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Kinerja tahun 2020 yang telah disetujui oleh Bupati Kabupaten Berau, Bpk H. Muharram, S.Pd, M.M dan Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Bpk Ir. Sumaryono pada tanggal 2 Januari 2020 Perjanjian Kinerja tersebut sesuai tabel II-4 berikut ini :
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-12
PERJANJIAN KINERJA
DINAS PERKEBUNAN KABUPATEN BERAU TAHUN 2020
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-13
PERJANJIAN KINERJA
SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2020
Satuan Kerja Perangkat Daerah : Dinas Perkebunan
Tahun : 2020
No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja
Target
1 2 3 4
1 Meningkatnya Produksi Komoditi Unggulan Perkebunan
Produksi Hasil Perkebunan Kelapa Sawit
1.907.000 Ton
Produksi Hasil Perkebunan Kelapa Dalam
3.475 Ton
Produksi Hasil Perkebunan Kakao
650 Ton
Produksi Hasil Perkebunan Karet
200 Ton
Produksi Hasil Perkebunan Lada
1.300 Ton
2 Meningkatnya Pendapatan Petani / Pekebun
Presentase Kenaikan Pendapatan Petani per bulan diatas UMK
5-10
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-14
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
II-15 Selanjutnya,dalam rangka menunjang kinerja Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, pada Pelaksanaan Perubahan Anggaran Tahun 2020, Dinas Perkebunan Kabupaten Berau mendapatkan penambahan anggaran belanja sebesar Rp. 851.180.000,- sesuai yang tertuang dalam DPPA SKPD Tahun 2020 yang disahkan pada tanggal 23 Oktober 2020, sehingga Total Anggaran belanja Langsung Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020 adalah sebesar Rp. 5.551.783.856.000,-
NO URAIAN ANGGARAN % KETERANGAN
I Program Pelayanan Administrasi
Perkantoran 1.535.245.000,- 27,65 %
II Program Peningkatan Sarana dan
Prasarana Aparatur 30.829.000,- 0,56 % III Program peningkatan Kapasitas
Sumber Daya Aparatur 75,000,000,- 1,35 % IV
Program peningkatan
pengembangan sistem pelaporan capaian kinerja dan keuangan
163.540.000,- 2,95 %
V Program Peningkatan Kesejahteraan
Petani 457.688.000,- 8,24 %
VI
Program peningkatan pemasaran hasil produksi pertanian/
perkebunan
55.164.800,- 0,99 %
VII Program Peningkatan Mutu Hasil
Perkebunan 54,726,500,- 0,99 %
VIII Program peningkatan produksi
pertanian/ perkebunan 1.746.493.204,- 31,46 % IX Program Pembinaan Perkebunan
Ramah Lingkungan 1.140.444.752,- 20,54 % X Program Pengendalian Hama
Terpadu 292.652.600,- 5,27 %
TOTAL ANGGARAN 5.551.783.856,- 100,00 %
LAKIP
Dinas Perkebunan Kabupaten Berau 2018
BAB II – Perencanaan Kinerja
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
III-1
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
Dalam rangka Akuntabilitas Instansi Pemerintah terhadap penyelenggaraan Pemerintahan maka untuk mengetahui Capaian Kinerja Organisasi dilakukan dengan evaluasi Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP atau LKj-IP) sebagai salah satu bentuk instrument pertanggungjawabandalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dan juga merupakan bentuk mekanisme memberikan umpan balik guna perbaikan kinerja dan peningkatan akuntabilitas instansi pemerintah.
Evaluasi Kinerja menjadi sangat penting bagi Instansi Pemerintah untuk memperbaiki kinerja organisasinya.
Laporan Kinerja merupakan bentuk Akuntabilitas dari pelaksanaan tugas dan fungsi yang dipercayakan kepada setiap instansi pemerintah atas penggunaan anggaran. Hal terpenting dalam pelaporan kinerja adalah pengukuran kinerja dan evaluasi sehingga dapat mengetahui apakah suatu tujuan, sasaran, program dan kegiatan itu berhasil atau tidak.
Sehubungan dengan evaluasi akuntabilitas kinerja tersebut, setiap tahun Inspektorat Kabupaten Berau telah melakukan evaluasi terhadap Akuntabilitas Dinas Perkebunan. Nilai hasil evaluasi Akuntabilitas Kinerja Dinas Perkebunan Kabupaten Berau untuk tahun 2018 dan 2019dapat dilihat pada Tabel berikut.
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
III-2 Tabel III-1: Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Dinas Perkebunan
Kabupaten Berau Tahun 2018 dan 2019
No. Komponen Yang Dinilai Bobot Nilai 2018
Nilai 2019
1 Perencanaan Kinerja 30 28,25 29,10
2 Pengukuran Kinerja 25 16,56 17,50
3 Pelaporan Kinerja 15 13,56 13,83
4 Evaluasi Kinerja 10 6,75 6,62
5 Capaian Kinerja 20 15,75 13,88
Nilai Hasil Evaluasi 100 80,88 80,93
Tingkat Akuntabilitas Kinerja
A A
3.1 Tindak LanjutHasil Evaluasi Tahun Sebelumnya
Berdasarkan Hasil Evaluasi Inspektorat Kabupaten Berau atas Laporan Kinerja InstansI Pemerintah (LKjIP) Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, No.
700/46.1/ltkab.Um/2020, Tanggal 7 Agustus 2020, diperoleh rekomendasi sebagai berikut:
a. Perencanaan Kinerja
➢ Melakukan peningkatan monitoring secara berkala terhadap rencana aksi atas kinerja
Tindak Lanjut yang telah dilakukan:
✓ Dinas Perkebunan telah melakukan kegiatan monitoring secara berkala baik yang dilakukan oleh Bidang berupa kunjungan ke lapangan maupun penyampaian progres perkembangan capaian kinerja dalam bentuk Fisik
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
III-3 keuangan tiap bulannya (maksimal tanggal 5 setiap bulannya) yang disampaikan ke Subbag Penyusunan Program dan Kepala Dinas untuk mengetahui perkembangan capaian kinerja berdasarkan rencana aksi yang telah ditetapkan.
b. Pengukuran Kinerja
➢ Melakukan pengukuran data kinerja sebagai berkala dan terjadwal secar bulanan, atau semesteran
➢ Melakukan pengukuran kinerja dan mengembangkannya dengan menggunakan teknologi informasi
➢ Menggunakan hasil pengukuran capaian kinerja untuk pemberian reward dan punishmen bagi pejabat mulai Eselon IV keatas.
Tindak Lanjut yang telah dilakukan:
✓ Pengukuran kinerja dilakukan Dinas Perkebunan dilaksanakan dengan pelaporan fisik keuangan yang disampaikan tiap bulan ke Subbag Penyusunan Program maupun kepala Dinas dalam bentuk format fisik keuangan dan dilaksanakan rapat evaluasi capaian fisik keuangan tiap triwulan
✓ Pada tahun 2020, telah dilakukan pemberian Reward kepada pegawai Dinas Perkebunan Kabupaten Berau terbaik dalam hal Tertib pengelolaan dan laporan pertanggung jawaban keuangan dan Aset Tahun 2020 sesuai SK. Kepala Dinas No. 525/646/2020 Tanggal 17 Desember 2020 yaitu Bapak Hairul Anwar dan Pegawai Berprestasi di
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
III-4 Lingkup Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020 sesuai SK.
Kepala Dinas No. 525/640/2020 Tanggal 15 Desember 2020 Atas nama Bapak Waimin, A.Md.
c. Pelaporan Kinerja
➢ Meningkatkan realisasi kinerja sehingga hasilnya dapat diandalkan sesuai dengan kriteria berupa data yang valid, dapat ditelusuri ke sumber data, dan diperoleh dari sumber data kompeten, dapat di verifikasi dan kompeten.
Tindak Lanjut yang telah dilakukan:
✓ Pelaporan kinerja yang disampaikan Dinas Perkebunan dalam hal perkembangan komoditas perkebunan merupakan pelaporan berjenjang dari petugas pendata statistik perkebunan dilapangan dari 13 Kecamatan untuk Usaha Perkebunan yang dikelola masyarakat (Swadaya), laporannya disampaikan setiap semester dan pelaporan perkembangan Usaha Perkebunan yang dikelola Perusahaan Besar Swasta (PBS) khusus untuk komoditi Karet dan Kelapa Sawit yang laporan perkembangannya disampaikan secara berkala setiap bulannya ke Bidang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Dinas Perkebunan Kabupaten Berau. Selanjutnya data tersebut akan diolah untuk di validasi dan di sinkronisasi di Subbag Penyusunan Program dan disajikan dalam bentuk data statistic Perkebunan.
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
III-5
✓ Pelaporan Kinerja yang disampaikan dalam bentuk Capaian Kinerja Program dan Kegiatan, disampaikan secara berkala setiap bulannya oleh PPTK Kegiatan dengan menggunakan aplikasi Fisik Keuangan yang telah ditetapkan oleh Kepala Dinas Perkebunan untuk disampaikan ke Subbag Penyusunan Program maksimal tanggal 5 setiap bulannya dan juga ke Kepala Dinas, untuk selanjutnya dievaluasi perkembangan capaian kinerja tiap Program dan Kegiatan sekaligus untuk mengetahui dan mengantisipasi adanya hambatan yang dialami dalam pelaksanaan Program dan Kegiatan tersebut. Selanjutnya hasil laporan Fisik Keuangan tersebut akan diinput dalam aplikasi pelaporan Tepra dan Smep yang sudah ditetapkan Pemerintahan Kabupaten Berau.
d. Evaluasi Internal
➢ Melakukan Evaluasi atas pelaksanaan rencana aksi secara menyeluruh dan menuangkannya dalam bentuk dokumen laporan hasil evaluasi pelaksanaan rencana aksi
➢ Menyampaikan seluruh hasil evaluasi dan mengomunikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan mengarsipkannya dalam bentuk dokumen yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tindak Lanjut yang telah dilakukan:
✓ Evaluasi Internal yang dilakukan Dinas Perkebunan dilaksanakan dengan pelaporan fisik keuangan yang disampaikan tiap bulan ke Subbag Penyusunan Program maupun kepala Dinas dalam bentuk
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
III-6 format fisik keuangan yang memuat pelaksanaan rencana aksi kegiatan secara menyeluruh dan di tiap triwulan akan dilaksanakan rapat evaluasi capaian fisik keuangan untuk membahas perkembangan dan hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan rencana aksi sesuai target kinerja yang telah ditentukan.
✓ Hasil Evaluasi capaian kinerja selanjutnya dilaporkan ke Bapelitbang dalam bentuk Laporan Evaluasi Kinerja tang disampaikan per triwulan selain itu juga disampaikan melalui sistem Tepra maupun Smep yang disampaikan tiap bulan.
e. Pencapaian Kinerja
➢ Meningkatkan upaya Kinerja yang dilaporkan agar memenuhi target yang telah direncanakan
Tindak Lanjut yang telah dilakukan:
✓ Upaya peningkatan kinerja yang dilaporkan baik dari bidang yang melakukan monitoring dilapangan maupun pelaporan dari petugas dilapangan (petugas pengumpul data dilapangan) dilaporkan secara berkala baik dalam bentuk laporan hasil perjalanan dinas maupun pelaporan perkembangan komiditi perkebunan ditiap kecamatan setiap semesternya, untuk selanjutnya dievaluasi dalam rapat evaluasi capaian kinerja per triwulan untuk membahas perkembangan capaian kinerja maupun hambatan yang dihadapi untuk memenuhi target kinerja sesuai yang telah direncanakan.
LKj-IPDinas Perkebunan Kabupaten Berau Tahun 2020
III-7 Hasil capaian kinerja berdasarkan target kinerja yang tertuang dalam IKU tersebut selanjutnya dilaporkan ke Bapelitbang dalam bentuk Laporan Evaluasi Kinerja, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau, Dinas Pangan dan keperluan pelaporan lainnya.