• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 i

(2)

DAFTAR ISI

Halaman SAMBUTAN DAN PENGANTAR

1. Prakata Ketua Panitia Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang Universitas Udayana 2017 ... iii 2. Kata Sambutan Ketua Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana 2017 .. iv 3. Ringkasan Prosiding Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang Universitas Udayana 2017 v

DAFTAR ISI ... vi

PEMBICARA UTAMA ...

1. ‘Nusantara’ dan Perkembangan Arsitektur di Indonesia.

(Josef Prijotomo) ... 1 2. Memaknai Lokalitas Dalam Arsitektur Lingkungan Binaan.

(Antariksa) ... 9 3. Pendekatan Fenomenologi untuk Eksplorasi Arsitektur Lokal Bali.

(Sudaryono) ... 15 4. Pelestarian Warisan Budaya. Catatan untuk Konsep Autentisitas dan Integritas dalam

Pelestarian Arsitektur.

(Widjaja Martokusumo) ... 23

SUB TOPIK 1. INTERPRETASI FILOSOFI DAN KONSEPSI ...

1. Konsep Panca Maha Bhuta dalam Perencanaan dan Perancangan Taman Rekreasi Kalianget Wonosobo.

(Daisy Radnawati, Samsud Dlukha, Ray March Syahadat, Priambudi Trie Putra) ... 1-1 2. Pengaruh Konsep Catus Patha terhadap Tata Ruang Pemukiman di Kawasan Transmigrasi Masyarakat Bali. Studi Kasus: Desa Jati Bali, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

(Imade Krisna Adhi Dharma, Weko Indira Romanti Aulia) ... 1-9 3. Konsepsi dan Makna Arsitektur Tradisional pada Bangunan Kekinian. Sebuah Intepretasi

Masyarakat Lokal Bali Tengah pada Transformasi Rumah Tradisional.

(I Dewa Gede Agung Diasana Putra) ... 1-21 4. Façade dan Landscape Bali, Interpretasi dan Konsep Tata Ruang Lingkungan Terbangun Desa

Bayung Gede.

(Petrus Rudi Kasimun) ... 1-31 5. Identifikasi Bentuk, Struktur, dan Kontruksi Bale Meten Sakaulu pada Arsitektur Tradisional Bali

di Desa Gunaksa-Klungkung.

(I Nengah Lanus, I Nyoman Susanta, Gede Windu Laskara) ... 1-35 6. Ignition Factor sebagai Informasi Berharga Desain Arsitektur.

(Heru Sufianto) ... 1-43 7. Dari Teks Menjadi Arsitektur: Interpretasi terhadap Naskah Lontar Asta Kosala Kosali.

(I Nyoman Nuri Arthana) ... 1-51 8. Landasan Konsepsual dan Penerapan Pradaksina dan Prasawya dalam Perwujudan Arsitektur

Hindu Bali.

(I Nyoman Widya Paramadhyaksa) ... 1-59 9. Makna Simbolis Penataan Palebahan sebagai Unsur Dasar Kompleks Puri di Bali.

(Anak Agung Gde Djaja Bharuna S) ... 1-69

(3)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 iii SUB TOPIK 2. DISKUSI KEARIFAN LOKAL DALAM RANCANG BANGUN ...

1. Ragam Hias Arsitektur Tradisional Bali pada Gedung Kantor Gubernur Bali.

(Donna Sri Lestari Poskiparta, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-1 2. Kearifan Lokal Migran Madura pada Permukiman Kota Lama Malang.

(Damayanti Asikin, Antariksa, Lisa Dwi Wulandari, Wara Indira Rukmi) ... 2-9 3. Identifikasi Bangunan Kolonial untuk Pelestarian Fasade di Jalur Belanda Kota Singaraja-Bali.

(Agus Kurniawan) ... 2-17 4. Representasi Tradisi Demokrasi pada Arsitektur Bale Banjar Adat di Denpasar-Bali.

(Christina Gantini, Josef Prijotomo) ... 2-25 5. Karakteristik Tangible dan Intangible Gereja Tua Sikka. Sebagai Bukti Sejarah Masuknya

Agama Katolik di Sikka.

(Yohanes Pieter Pedor P., I Wayan Kastawan, Widiastuti) ... 2-35 6. Keunikan Bentuk Ragam Hias pada Pura Dalem Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Kabupaten

Buleleng.

(Tri Anggraini Prajnawrdhi, Ni Ketut Agusintadewi, Ni Luh Putu Eka Pebriyanti, dan Ni Made Mitha Mahastuti) ... 2-45 7. Bale Tumpang Salu pada Bangunan Umah di Desa Sidatapa, Singaraja.

(Anak Agung Ayu Oka Saraswati) ... 2-53 8. Bentuk dan Makna Arsitektur dan Ornamen Monumen Bajra Sandhi.

(Sri Indah Retno Kusumowati, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-59 9. Kajian Penerapan Arsitektur dan Ragam Hias Tradisional Bali pada Kori Agung Bangunan Balai

Pertemuan di Kantor DPRD Bali.

(Syilvia Agustine Maharani, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-67 10. Adaptasi Arsitektur Tradisional Bali pada Balai Pertemuan DPRD Renon, Bali.

(Made Chryselia Dwiantari, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 2-75 11. Kajian Ergo-Arsitektur pada Dapur Tradisional di Banjar Tiga Kawan, Desa Penglumbaran,

Bangli-Bali.

(Ida Bagus Gde Primayatna, I Gusti Agung Bagus Suryada) ... 2-83 12. Ekspansi Ruang pada Bangunan Tradisional Bali.

(I Made Adhika) ... 2-89 13. Kearifan Ekologis Bangunan Vernakuler dalam Konteks Mitigasi Bencana.

(Sri Utami) ... 2-95 14. Memahami Esensi Ruang Domestik pada Masyarakat Tradisional Bali Aga di Desa Sekardadi,

Kintamani.

(Ni Ketut Agusintadewi, I Wayan Yuda Manik, Ni Made Mitha Mahastuti) ...2-103

SUB TOPIK 3. EKSPLORASI ARSITEKTUR WARISAN DAN BUDAYA ...

1. Kampung Adat Deri Kambajawa di Kabupaten Sumba Tengah sebagai Living Museum.

(Titien Saraswati, Maria Adrianus Rambu Day) ... 3-1 2. Reinterpretasi Prinsip Ruang Bersama Tanean Lanjang Madura pada Pusat Komunitas Seni

Tari Topeng Malang.

(Dionisius Dino Briananto, Tito Haripradianto, Abraham M. Ridjal) ... 3-11 3. Peragaman Rupa dan Rupa Inklusif dalam Desain Warisan Arsitektur.

(Noviani Suryasari, Antariksa, dan Lisa Dwi Wulandari)... 3-17 4. Kota Terapung Muara Muntai. Studi Kasus: Pengembangan Kota Muara Muntai Sebagai Kota

Heritage.

(Huda Nurjanti) ... 3-23 5. Pola Tata Bangunan dan Hubungan Kekerabatan: Dusun Kasim, Kabupaten Blitar.

(Yurista Hardika Dinata, Wara Indira Rukmi, dan Antariksa) ... 3-33 6. Kawasan Wisata Permukiman Bantik di Pesisir Pantai Malalayang Berbasis Cultural Heritage.

(Pingkan Peggy Egam, Arthur Harris Thambas) ... 3-41

(4)

7. Kajian Place Attachment pada Anak-Anak di Desa Bali Aga Tenganan dengan Visual Analysis.

(Antonius Karel Muktiwibowo, Gede Windu Laskara) ... 3-49 8. Identifikasi Tingkat Perubahan Kawasan Bersejarah Menggunakan Visual Impact Assessement

dan Tipologi Bangunan di Koridor Jalan Ijen, Malang.

(Eddi Basuki Kurniawan, Novita Dian Zahdella, Wulan Astrini) ... 3-59 9. Pola Pemanfaatan Ruang Pemukiman Masyarakat Bajo di Desa Lemo Bajo Kabupaten Konawe

Utara sebagai Arahan Penataan Kawasan Pemukiman Pesisir.

(Santi, Siti Belinda Amri, Haryudin) ... 3-67 10. Kajian Penataan Ruang Kawasan Jabotabek dengan Pendekatan Ekosistem.

(Parino Rahardjo) ... 3-77 11. Ruang Teror pada Labirin Kampung Pulo.

(Coriesta Dian Sulistiani) ... 3-85 12. Faktor Kritis Penentu Keberhasilan Kolaborasi Desain pada Perusahaan Properti di Kabupaten

Gresik.

(Moh. Saiful Hakiki, Ikhtisholiyah, Dandy Nugroho) ... 3-97 13. Tipologi Rumah Adat Pada Desa Bali Aga. Studi Kasus pada Desa Tigawasa, Kecamatan

Banjar, Kabupaten Buleleng.

(Tri Anggraini Prajnawrdhi, Ni Made Yudantini) ... 3-103 14. Perubahan Arsitektur Tradisional Hunian Desa Bayung Gede, Bangli.

(Widiastuti, Syamsul Alam Paturusi, Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, Gede Windu Laskara) ... 3-109 15. Identifikasi Potensi Internal, Tantangan, dan Peluang Pengembangan Lima Tipe Daya Tarik

Wisata Desa Singapadu Tengah.

(I Made Suarya, I Nyoman Widya Paramadhyaksa, Ni Ketut Agusinta Dewi, dan I Gusti Agung Bagus Suryada) ... 3-119 16. Cultural Landscape: Pola Desa Tradisional di Desa Buahan, Kintamani.

(Ni Made Yudantini, Tri Anggraini Prajnawrdhi) ... 3-127

SUB TOPIK 4. IDENTITAS LOKAL PADA RUANG KOTA MASA KINI ...

1. Konsep Ruang Komunal Sosio-Kultural Kota Multi-Etnis Historis Gresik.

(Dian Ariestadi, Antariksa, Lisa D. Wulandari, Surjono) ... 4-1 2. Konsep Perancangan Kawasan Pasar Tradisional Badung sebagai Upaya Memperkuat

Karakter Kawasan Jl. Gajah Mada-Denpasar.

(Gede Windu Laskara, Bramana Ajasmara Putra) ... 4-9 3. Place Attachment pada Jalur Pedestrian di Jalan Ijen, Malang sebagai Ruang Terbuka Publik.

(Wulan Astrini, Eddi Basuki Kurniawan) ... 4-17 4. Kearifan Pejabat, Pengembang, Perencana, Perancang, dan Supervisi dalam Etika Lingkungan

Hidup.

(JM. Joko Priyono Santoso) ... 4-25 5. Kearifan Lokal dan Identitas Kota Baru.

(Franky Liauw) ... 4-33 6. Ekowisata pada Cultural Landscape Subak sebagai Identitas Kota Denpasar. Sebuah Upaya

Penggalian Potensi Ekowisata di Subak Sembung Kecamatan Denpasar Utara.

(I Gusti Agung Bagus Suryada, I Nyoman Widya Paramadhyaksa) ... 4-41 7. Pengembangan Wisata Sejarah sebagai Penguatan Identitas Kawasan Kabupaten Pulau Mo-

rotai.

(Yudha Pracastino Heston, Yonanda Rayi Ayuningtyas, dan Rivaldo Okono) ... 4-49 8. Permukiman Bali Kuno Desa Bayung Gede sebagai Atraksi Pariwisata di Bali.

(Syamsul Alam Paturusi) ... 4-57 9. Perancangan Kawasan Kedungu Resort sebagai Upaya Pembangunan Sektor Pertanian yang

Berkelanjutan di Kabupaten Tabanan.

(Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, I Wayan Yogik Adnyana Putra, Marthin Gunardhy) ... 4-67

(5)

Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA), Bali-2017, ISBN 978-602-294-240-5 v 10. Materialisasi Ruang Publik dan Pembangunan Pariwisata Budaya. Konflik Kepentingan

Pemanfaatan Kawasan Pesisir di Bali.

(I Ketut Mudra) ... 4-75 11. Upaya Mengeleminir Dampak Investasi terhadap Lingkungan dan Tata Ruang Wilayah Kabu-

paten Badung.

(Putu Rumawan Salain) ... 4-83 12. Permasalahan Keruangan dalam Perencanaan Pasar Seni Desa Pakraman Kutri, Desa Singa-

padu Tengah, Gianyar.

(I Nyoman Widya Paramadhyaksa, I Made Suarya, dan Ida Ayu Armeli)... 4-93 13. Konsep Tata Kelola Homestay di Desa Wisata Pinge Kabupaten Tabanan.

(Ni Putu Atik Pranya Dewi, I Nyoman Widya Paramadhyaksa, dan Tri Anggraini Prajnawrdhi) ...4-101 14. Kajian Kawasan Nelayan di Pantai Kuta.

(I Gusti Ngurah Anom Rajendra) ...4-109 15. Identifikasi Desain Ruang Luar yang Berkearifan Lokal sebagai Place Branding terhadap

Persepsi Wisata Kota di Area Catus Patha Kota Denpasar.

(Kadek Agus Surya Darma) ...4-117 16. Makna dan Karakteristik Ruang Bermain Anak di Bantaran Sungai Code. Studi Kasus:

Kelurahan Cokrodiningratan, Jetis, Yogyakarta.

(Ni Luh Putu Eka Pebriyanti) ...4-125 17. Pemanfaatan Lansekap sebagai Identitas Kota dalam Perspektif City Branding.

(Subhan Ramdlani)...4-133 18. Aktivitas Masyarakat sebagai Pembentuk Identitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) Berkualitas di

Kota Malang.

(Lisa Dwi Wulandari, Subhan Ramdlani) ...4-141 SUSUNAN PANITIA ...

(6)
(7)

I Made Suarya1), I Nyoman Widya Paramadhyaksa2), Ni Ketut Agusintadewi3) dan I Gusti Agung Bagus Suryada4)- Identifikasi Potensi Internal, Tantangan, dan Peluang Pengembangan Lima Tipe Daya Tarik Wisata Desa Singapadu Tengah 3-119

IDENTIFIKASI POTENSI INTERNAL, TANTANGAN, DAN PELUANG PENGEMBANGAN LIMA TIPE DAYA TARIK WISATA DESA SINGAPADU TENGAH

I Made Suarya1), I Nyoman Widya Paramadhyaksa2), Ni Ketut Agusinta Dewi3), dan I Gusti Agung Bagus Suryada4)

1,2,3,4)Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana

[email protected]

ABSTRACT

Singapadu Village is a traditional village located in Sukawati District, Gianyar Regency. The village has many potential undeveloped tourist attractions, such as rice fields, riverside, sculpture, dance, socio-culture, temple cliff buildings, castle buildings, culinary, and some temple areas as spiritual tourist attractions. The awareness regarding the high tourism potential of this area further encourages the emergence of ideas from community leaders and local government to immediately optimize the tourism potency of the village. This paper is a piece of research on the identification of aspects of strengths, weaknesses, oppurtunities and constraints of some tourist attraction that owned by Singapadu Tengah Village.

Keywords: tourist village, potential aspects, Singapadu Tengah, village.

ABSTRAK

Desa Singapadu Tengah adalah sebuah desa tradisional yang berlokasi dalam wilayah Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Desa ini memiliki banyak daya tarik wisata potensial yang belum dikembangkan, seperti area persawahan, daerah tepian sungai, seni pahat, seni tari-tabuh, sosial budaya, bangunan candi tebing, bangunan puri, kuliner, dan beberapa kompleks pura sebagai objek wisata spritualnya. Kesadaran tentang tinggi potensi wisata daerah ini selanjutnya mendorong munculnya gagasan dari para tokoh masyarakat dan PEMDA untuk segera mengoptimalkan potensi wisata desa. Makalah ini merupakan sebuah penggalan dari hasil penelitian tentang identifikasi aspek kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan dari beberapa daya tarik wisata yang dimiliki Desa Singapadu Tengah Hasil penelitian akan dijadikan pedoman dalam pengembangan desa wisata ini.

Kata Kunci: desa wisata, aspek, potensi, Singapadu Tengah

PENDAHULUAN

Desa Singapadu Tengah merupakan satu desa bercorak tradisional dalam wilayah Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Desa ini sudah cukup lama dikenal sebagai satu desa sentra penari dan pengrajin patung serta ornamen bangunan tradisional Bali dari material batu paras sungai itu (Agung, 1993: 64). Selain dari pada itu, sesungguhnya desa ini masih banyak memiliki potensi wisata yang belum dioptimalkan pemanfaatannya hingga saat ini. Hasil grand tour lapangan yang telah dilakukan sejak akhir tahun 2015 menunjukkan adanya banyak sekali potensi daya tarik terpendam Desa Singapadu Tengah. Potensi daya tarik wisata ini memang direncanakan akan ditata kelola secara optimal sebagai beberapa rangkaian paket wisata yang mengutamakan peran serta masyarakat lokal. Sebutlah beberapa potensi wisata alam; daerah tepi aliran sungai; hamparan area persawahan; tradisi budaya; kreasi seni rupa, seni tabuh dan seni tari; kuliner; berbagai objek spiritual tempat suci; dan tinggalan arkelogis bernilai historis tinggi berupa sebuah kompleks bangunan candi tebing di tepian aliran sungai yang tersebar di lima banjar adat di wilayah Desa Singapadu Tengah.

Adapun berdasarkan hasil wawancara diperoleh informasi tentang adanya gagasan dan keinginan kuat dari pihak PEMDA dan masyarakat setempat untuk segera memberdayakan segala potensi Desa Singapadu Tengah untuk dijadikan sebagai suatu desa wisata baru yang dapat memberi kemakmuran secara adil dan proporsional bagi seluruh warganya. Para pemuka desa setempat menaruh harapan besar agar Desa Singapadu Tengah ini pada akhirnya dapat tertata dan terkelola menjadi suatu desa wisata yang memuat beberapa paket rangkaian daya tarik wisata terpadu yang berkarakter sesuai potensi kultur dan alamnya (cf. Rosman, 2016: Suciarta, 2016). Upaya pengembangan desa wisata ini diupayakan tetap dapat tumbuh dalam satu konsep memberdayakan potensi masyarakat lokal secara seimbang, saling menguntungkan, dan berkesinambungan. Gambaran kondisi ini selanjutnya mendorong lahirnya sebuah gagasan melakukan studi bersama tentang penataan wilayah Desa

(8)

Singapadu Tengah agar dapat menjadi sebuah desa wisata baru yang pengelolaannya tetap mengedepankan peran masyarakat setempat.

Suatu penggalan dari hasil penelitian yang telah dilakukan ini selanjutnya disusun menjadi sebuah makalah ringkas yang mengulas tentang aspek kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan hambatan (threats) yang termuat dalam lima daya tarik wisata yang terdapat dalam Desa Wisata Singapadu Tengah. Kelima daya tarik wisata tersebut adalah (a) daya tarik seni tari dan seni tabuh; (b) daya tarik wisata kuliner; (c) daya tarik wisata alam; (d) daya tarik wisata spiritual; dan (e) daya tarik wisata bersejarah (Suarya, dkk., 2017).

METODE PENELITIAN

Makalah ini adalah ringkasan dari sebuah penelitian yang tergolong penelitian kualitatif. Sebagian besar data yang dikumpulkan merupakan data yang berkenaan dengan kualitas dari potensi daya tarik wisata di Desa Singapadu Tengah. Dalam penelitian ini juga ada beberapa data kuantitatif yang difungsikan sebagai data-data pendukung penelitian ini. Data-data kuantitatif tersebut antara lain berupa data tentang dimensi tapak dan bangunan pada objek, dimensi jalan, jarak antarobjek, serta data perkembangan jumlah kunjungan wisatawan ke wilayah Desa Singapadu Tengah. Dalam proses pengumpulan data, tim peneliti menerapkan metode observasi, wawancara, dan studi pustaka.

Observasi Lapangan

Observasi lapangan dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran secara langsung mengenai objek-objek daya tarik wisata. Hasil pengamatan yang dikumpulkan dalam bentuk catatan- catatan tertulis dan rekaman gambar. Hasil pengamatan lapangan yang terinventarisir oleh tim peneliti ini dapat merupakan gambaran kondisi riil, permasalahan, maupun berbagai objek-objek wisata potensial yang tidak teridentifikasikan sebelumnya melalui wawancara dengan para informan, subjek penelitian, maupun masyarakat setempat. Hasil pengamatan lapangan ini pada akhirnya sangat berperan penting dalam memahami gambaran potensi dan permasalahan tata ruang dan bangunan di Desa Singapadu Tengah ini.

Wawancara

Wawancara yang akan dijalankan dalam penelitian ini memiliki tujuan untuk memperoleh gambaran deskriptif tentang: (a) segala ide maupun gagasan dari pihak PEMDA dan masyarakat setempat tentang rencana pengembangan segala potensi wisata di wilayahnya; (b) gambaran secara lisan tentang karakteristik masing-masing potensi daya tarik wisata; serta (c) berbagai permasalahan tentang aspek keruangan, kultur, sosial, dan ekonomi yang berpeluang terjadi apabila rencana pengembangan daya tarik wisata Desa Singapadu Tengah ini direalisasikan. Kegiatan wawancara ini juga dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh suatu kesamaan visi berkenaan dengan ide dan konsep tata kelola potensi objek wisata di Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar itu. Adapun pihak-pihak yang rencananya dijadikan sebagai informan adalah berbagai pihak yang berkompeten dan memiliki banyak informasi secara lisan tentang topik dan objek yang diteliti.

Informan ini dipilih secara purposive melalui teknik snowballing process (Rivara, dkk., 2009: 109).

Para informan ini selanjutnya akan dimintai keterangan yang berkenaan dengan aktivitas, sejarah, dan narasi nilai-nilai kultural yang termuat dalam objek-objek wisata yang ada. Para informan tersebut dipilih berdasarkan latar sosialnya sebagai seorang pemuka desa, pemuka agama, tetua desa, pelaku wisata, wisatawan, maupun warga yang berkompeten lainnya.

Studi Pustaka

Studi pustaka yang akan dijalankan bertujuan untuk mengumpulkan berbagai data tentang objek kajian ini, seperti: data tentang sejarah, kependudukan, aspek sosial budaya, ritual, seni, perkembangan jumlah kunjungan wisatawan, data tentang peta wilayah, serta data kondisi fisik bangunan pada objek studi.

Setelah data terkumpul, selanjutnya data diklasifikasikan menjadi aspek kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan hambatan (threats) sesuai dengan pola analisis SWOT. Kelima aspek tersebut dicermati dalam lima daya tarik wisata yang terdapat dalam Desa Wisata Singapadu Tengah. Kelima daya tarik wisata tersebut adalah (a) daya tarik seni tari dan seni tabuh; (b) daya tarik wisata kuliner; (c) daya tarik wisata alam; (d) daya tarik wisata spiritual; dan (e) daya tarik wisata bersejarah.

(9)

I Made Suarya1), I Nyoman Widya Paramadhyaksa2), Ni Ketut Agusintadewi3) dan I Gusti Agung Bagus Suryada4)- Identifikasi Potensi Internal, Tantangan, dan Peluang Pengembangan Lima Tipe Daya Tarik Wisata Desa Singapadu Tengah 3-121 HASIL DAN PEMBAHASAN

Lokasi Penelitian

Desa Singapadu Tengah termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar dengan luas wilayah 273,53 hektar. Desa ini terbagi atas lima dusun/banjar dinas, yaitu (1) Banjar Negari, (2) Banjar Belaluan, (3) Banjar Kutri, (4) Banjar Abasan, dan (5) Banjar Geria Kutri. Wilayah Desa Singapadu Tengah dibelah oleh satu ruas jalan utama desa yaitu Jalan Raya Singapadu sebagai jalur penghubung Desa Batubulan dan Ubud.

Aspek SWOT dalam Lima Daya Tarik Wisata Singapadu Tengah

Pada bagian berikut ini dipaparkan tentang gambaran hasil identifikasi aspek SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats yang termuat dalam lima kelompok daya tarik wisata yang dimiliki oleh Desa Adat Singapadu Tengah, yaitu (a) daya tarik seni tari dan seni tabuh yang terkonsentrasi di Desa Adat Abasan; (b) daya tarik wisata kuliner; (c) daya tarik wisata alam; (d) daya

(10)

tarik wisata spiritual; dan (e) daya tarik wisata bersejarah. Hasil kajian ini disusun berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan studi pustaka.

Daya Tarik Seni Tari dan Seni Tabuh

Secara umum daya tarik seni tari dan seni tabuh di Desa Singapadu Tengah adalah terkonsentrasi di wilayah Desa Adat Abasan. Wilayah ini dahulunya memang dikenal sebagai sentra seniman tari legong dan gamelan semarpegulingan. Daya tarik ini dapat dipilah berdasarkan aspek kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan hambatan (threats):

Gambar 1: Potensi Alam Gambar 2: Potensi Wisata Spiritual Gambar 3: Potensi Wisata Budaya sumber: survey, 2017 Aspek kekuatan (strengths) yang termuat, sebagai berikut : (a) Ada banyak seniman tari dan tabuh di Desa Adat Abasan yang masih aktif menjalankan hobinya sebagai seniman secara professional di desa-desa lain maupun di hotel-hotel (Wiwik, 2016). (b) Ada banyak sentra pengrajin kostum dan topeng tari tradisional Bali yang masih aktif di wilayah Desa Adat Abasan. (c) Wilayah ini pernah dikenal sebagai seni tari Legong style Singapadu yang memiliki karakter yang khas pada masanya (Merkle, 2012: 13). (d) Kaum muda masih banyak berminat mendalami seni tari dan tabuh dari para seniornya. (e) Adanya dukungan dari pemerintah daerah melestarikan potensi seni tari dan tabuh daerah ini.

Aspek kelemahan (weaknesses) yang termuat, sebagai berikut : (a) Popularitas Desa Singapadu Tengah sebagai daerah tujuan wisata masih kalah dibandingkan dengan Desa Ubud. Hal ini berdampak pada relatif minimnya peluang seniman tari dan tabuh berkiprah di daerahnya sebagai seniman pentas bagi kegiatan pariwisata (Wiriatnyana, 2016). (b) Belum terorganisirnya sistem pengelolaan dan penjadwalan kegiatan pentas tari dan tabuh di Desa Singapadu Tengah. (c) Karakter Desa Singapadu Tengah yang cenderung hanya menjadi area lintasan wisatawan juga menjadikan daerah ini relatif jarang dikunjungi dan disinggahi wisatawan cukup lama. (d) Belum adanya prasarana pendukung pementasan seni tari dan seni tabuh yang representatif bagi seniman lokal di Desa Adat Abasan ini. (e) Dukungan modal berupa sokongan dana belum tersedia secara layak dan proporsional.

Aspek peluang (opportunities) yang termuat, sebagai berikut : (a) Adanya upaya pemerintah daerah setempat untuk menjadikan Desa Singapadu Tengah sebagai desa wisata baru di Kabupaten Gianyar. (b) Angka kunjungan wisatawan asing di daerah Singapadu Tengah mulai mengalami peningkatan dan berpeluang menghasilkan tambahan penghasilan. (c) Ada banyak tenaga kerja yang memiliki kecakapan dalam bidang seni tari dan tabuh di Desa Adat Abasan. (d) Lokasi dan aksesibilitas ke lokasi relatif aman dan lancar dari sentra-sentra kegiatan wisata. (e) Arah pengembangan Desa Singapadu Tengah sebagai desa wisata terpadu merupakan salah satu strategi pemasaran yang relatif baru dan sangat prospektif.

Aspek hambatan (threats) yang termuat, sebagai berikut : (a) Belum adanya jalinan kerja sama secara internal antarpara seniman (Wiriatnyana, 2016). (b) Adanya seniman-seniman lain sebagai pesaing seniman tari dan tabuh dari Desa Adat Abasan yang ikut menjalankan profesi sebagai seniman tari dan tabuh di Desa Adat Abasan dan Singapadu Tengah. (c) Belum adanya dukungan dari pihak pemerintah daerah dan swasta untuk memberikan fasilitas bagia kegiatan latihan tari dan tabuh di Desa Adat Abasan. (d) Belum adanya sistem pengelolaan wisatawan asing yang datang ke Desa Singapadu Tengah untuk tujuan menikmati potensi wisata tari dan tabuh di Desa Adat Abasan. (e) Desa Adat Abasan tergolong desa yang padat hunian, sehingga membutuhkan area latihan yang cukup tenang dan jauh dari potensi keramaian pelatihan tetabuhan.

(11)

I Made Suarya1), I Nyoman Widya Paramadhyaksa2), Ni Ketut Agusintadewi3) dan I Gusti Agung Bagus Suryada4)- Identifikasi Potensi Internal, Tantangan, dan Peluang Pengembangan Lima Tipe Daya Tarik Wisata Desa Singapadu Tengah 3-123 Daya Tarik Wisata Kuliner

Ada banyak jenis kuliner tradisional Bali dengan cita rasa yang khas di Singapadu Tengah, seperti makanan, minuman, dan jajanan pasar yang masih banyak dikembangkan oleh masyarakat di Desa Singapadu Tengah. Secara umum daya tarik wisata kuliner di Desa Singapadu Tengah dapat dipilah berdasarkan aspek kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan hambatan (threats) sebagai berikut.

Aspek kekuatan (strengths) yang termuat, sebagai berikut : (a) Ada beragam jenis menu tradisional di Desa Singapadu Tengah yang dapat dikemas menjadi aset wisata kuliner bertaraf internasional. (b) Bahan baku kuliner tradisional mudah diperoleh di daerah Singapadu Tengah. (c) Metode pengolahan relatif sederhana dan sudah sudah teredukasi secara turun temurun. (d) Proses pembuatan menu kuliner dapat dilakukan secara masal. (e) Menu tradisional Bali pada umumnya berbahan baku organik.

Aspek kelemahan (weaknesses) yang termuat, sebagai berikut : (a) Menu tradisional Bali ada kalanya kurang dapat diterima oleh komunitas etnis tertentu. (b) Pengolahan menu secara tradisional masih relatif kurang higienis dan teredukasi. (c) Selera menu tradisional Bali cenderung terasa penuh rempah-rempah dan pedas. (d) Bumbu yang dibutuhkan dalam pembuatan kuliner khas Bali cukup kompleks dan lama prosesnya. (e) Metode pemasarannya belum terkelola dengan baik.

Aspek peluang (opportunities) yang termuat, sebagai berikut : (a) Kuliner tradisional Bali memiliki cita rasa yang khas dan penggemar yang cukup banyak. (b) Metode pengolahan menu dapat dijadikan sebagai objek wisata tersendiri. (c) Metode pengolahan menu dapat dijadikan sebagai materi pelatihan bagi wisatawan asing. (d) Wisata kuliner dapat dikaitkan dengan potensi wisata lainnya, seperti wisata alam dan wisata budaya di Desa Singapadu Tengah. (e) Apabila dikelola dengan baik, dapat memberi peluang adanya kegiatan produksi produk kuliner Desa Singapadu Tengah yang akan dipasarkan ke luar daerah dan keluar negeri.

Aspek hambatan (threats) yang termuat, sebagai berikut : (a) Menu tradisional Bali relatif kurang dapat bertahan lama untuk disimpan sebelum dikonsumsi. (b) Metode pengemasan menu tradisional Bali yang kurang baik sangat rentan menjadikan kualitas menu menjadi menurun. (c) Promosi potensi kuliner relatif masih kurang optimal dilakukan selama ini. (d) Adanya ancaman dari menu-menu dari daerah lain, seperti Jawa, Sumatera, dan Madura. (e) Lokasi relatif dekat dengan sentra kuliner yang telah lebih dahulu terkenal, yaitu Pasar Sukawati dan Pasar Ubud.

Daya Tarik Wisata Alam

Alam Desa Singapadu Tengah masih tergolong sebagai alam yang indah, asri, dan alami. Secara umum daya tarik wisata alam di Desa Singapadu Tengah dapat dipilah berdasarkan aspek kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan hambatan (threats):

Aspek kekuatan (strengths) yang termuat, sebagai berikut : (a) Ada berbagai macam potensi alam, seperti area persawahan, daerah aliran sungai, dan mata air. (b) Area-area wisata alam yang ada berlokasi di daerah yang relatif jauh dari daerah permukiman dan jalan raya, sehingga berpeluang akan relatif lama berhasil terkonservasi dengan baik. (c) Sudah adanya kegiatan wisata tracking bersepeda dan ATV. (d) Objek wisata yang jika dikelola dengan baik akan menghasilkan produk wisata yang variatif dan penuh petualangan. (e) Peminat wisata alam cukup banyak dari berbagai kalangan.

Aspek kelemahan (weaknesses) yang termuat, sebagai berikut : (a) Aksesibililtas ke area wisata alam belum ditata dengan baik. (b) Promosi potensi wisata alam yang ada di daerah ini belum dijalankan dengan baik. (c) Kondisi alam setempat menjadi habitat berbagai fauna yang ada kalanya cukup berbahaya bagi wisatawan. Wisata ini juga sangat berkaitan dengan musim yang sedang berlangsung di Bali. (d) Ada beberapa kalangan kurang berterima terhadap keberadaan wisata alam. (e) Diperlukan kerja sama dengan pihak desa-desa tetangga terkait pengelolaan objek-objek wisata alam di daerah perbatasan dengan desa tetangga.

Aspek peluang (opportunities) yang termuat, sebagai berikut : (a) Objek wisata alam merupakan potensi wisata yang dapat dikembangkan dan dapat digandengkan dengan berbagai kegiatan wisata lainnya, seperti wisata religi, wisata kuliner, dan wisata tracking. (b) Ada rencana mengembangkan kegiatan wisata alam dengan jalur tracking berkuda. (c) Masyarakat di area wisata alam dapat secara

(12)

langsung diberdayakan dan memperoleh pendapatan dari peningkatan akan kunjungan wisatawan ke daerah itu. (d) Segmen pasar bagi kegiatan wisata alam adalah berasal dari segmen kaum muda yang masih cukup energik dan berjiwa petualang secara berkelompok. (e) Di beberapa area wisata alam juga dapat dikembangkan beberapa pos untuk kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil, seperti warung dan toko cinderamata bagi wisatawan.

Aspek hambatan (threats) yang termuat, sebagai berikut : (a) Banyak area wisata alam yang potensial masih menjadi properti masyarakat secara individual, sehingga dalam pemanfaatannya menjadi relatif cukup terkendala. (b) Adanya alih fungsi lahan persawahan dan sebagainya menjadi area terbangun berpeluang merusak potensi wisata alam yang ada. (c) Polusi dan sampah di daerah yang dikembangkan sebagai area wisata alam perlu mendapat perhatian secara komprehensif. (d) Pemahaman masyarakat terhadap upaya pelestarian dan kebersihan lingkungan masih minim. (e) Masyarakat masih banyak menggunakan produk-produk yang berpeluang mencemari lingkungan atau tidak ramah lingkungan, seperti sabun mandi, deterjen, dan shampoo yang dapat mencemari air sungai dan segala ekosistemnya.

Daya Tarik Wisata Spiritual

Daya tarik wisata spiritual Desa Singapadu Tengah lazimnya berupa bangunan pura, sumber air suci, dan beberapa situs sakral lainnya. Secara umum daya tarik wisata spiritual di Desa Singapadu Tengah dapat dipilah berdasarkan aspek kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan hambatan (threats) sebagai berikut.

Aspek kekuatan (strengths) yang termuat, sebagai berikut : (a) Adanya banyak situs dan daya tarik wisata spiritual di Desa Singapadu Tengah, seperti pura, mata air suci, dan candi tebing. (b) Dalam area wisata religi lazimnya terdapat beberapa kegiatan ritual yang juga dapat dijadikan sebagai objek event wisata religi. (c) Komunitas masyarakat Desa Singapadu Tengah berkarakter homogen sebagai umat Hindu Bali yang dapat berperan sebagai masyarakat pemerhati situs secara aktif. (d) Arah pembangunan Desa Singapadu Tengah yang berpedoman pada falsafah Tri Hita Karana yang berintikan pada hubungan harmonis antara Tuhan, manusia, dan alam (Tim Penyusun RPJM Desa Singapadu, 2010). (e) Desa Singapadu memiliki karakteristik sebagai sebuah desa tradisional agraris penghasil bahan baku aneka perlengkapan ritual spiritual.

Aspek kelemahan (weaknesses) yang termuat, sebagai berikut : (a) Ada kalanya memerlukan beberapa suasana ruang atau event tertentu untuk mendukung kesan spiritual yang ingin diperlihatkan/disuguhkan kepada wisatawan. (b) Menggunakan berbagai peralatan upacara tradisional yang perlu dikelola secara higienis bagi para wisatawan baik asing maupun domestik. (c) Perlu menumbuhkan keyakinan para wisawatan terlebih dahulu agar bersedia terlibat dalam kegiatan ritual yang dilakukan dalam rangkaian kegiatan wisata spiritual ini. (d) Ada banyak aturan dalam beberapa area situs sakral yang harus ditaati wisatawan. (e) Situs sakral yang dijadikan lokasi wisata spiritual sebagian besar berada di area yang sulit dicapai dengan kendaraan.

Aspek peluang (opportunities) yang termuat, sebagai berikut : (a) Objek wisata spiritual dapat dikaitkan pengembangannya dengan objek wisata bersejarah yang ada di Desa Singapadu Tengah.

(b) Akan berpeluang memberikan banyak lapangan pekerjaan kepada komunitas lokal sebagai penyedia jasa layanan upacara dan tour guide. (c) Berpeluang membuka lapangan pekerjaan kepada komunitas lokal sebagai penyedia keperluan upacara ritual keagamaan. (d) Wisatawan peminat wisata spiritual relatif banyak, baik domestik maupun mancanegara. (e) Pariwisata ini dapat dikembangkan melalui mitos dan cerita-cerita rakyat tentang objek wisata itu.

Aspek hambatan (threats) yang termuat, sebagai berikut : (a) Wisatawan yang berlatar belakang dari etnis atau penganut agama yang berbeda dapat memberikan apresiasi yang kurang sesuai dengan objek wisata religi yang ditawarkan. (b) Wisatawan yang berhalangan tidak dapat dideteksi dan dilarang untuk memasuki situs religius. (c) Area objek wisata spiritual ada kalanya tidak dapat diakses dan dilalui wisatawan secara umum. (d) Pemahaman wisatawan yang kurang menyebabkan adanya peluang pelanggaran aturan dalam area situs baik secara sekala maupun niskala. (e) Banyak wisatawan kesulitan memahami bahasa Bali yang lazim dijadikan sebagai materi penjelasan dalam kegiatan wisata spiritual di Desa Singapadu Tengah.

Daya Tarik Wisata Bangunan Bersejarah

Setidaknya ada dua buah bangunan bernilai sejarah dalam wilayah Desa Singapadu Tengah, yaitu berupa sebuah Candi Tebing di wilayah Desa Adat Kutri dan sebuah bangunan puri di area pempatan

(13)

I Made Suarya1), I Nyoman Widya Paramadhyaksa2), Ni Ketut Agusintadewi3) dan I Gusti Agung Bagus Suryada4)- Identifikasi Potensi Internal, Tantangan, dan Peluang Pengembangan Lima Tipe Daya Tarik Wisata Desa Singapadu Tengah 3-125 agung desa. Secara umum daya tarik wisata bangunan bersejarah di Desa Singapadu Tengah dapat dipilah berdasarkan aspek kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan hambatan (threats) sebagai berikut.

Aspek kekuatan (strengths) yang termuat, sebagai berikut. (a) Ada banyak mitologi dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat terkait eksistensi objek wisata bersejarah ini yang dapat dijadikan daya tarik tersendiri dalam mengemas dan memasarkan potensi wisata bersejarah di desa ini. (b) Situs-situs bersejarah tersebut juga memuat banyak catatan sejarah, budaya, seni, dan agama yang dapat dipasarkan secara bersamaan. (c) Masyarakat setempat dapat dijadikan sebagai masyarakat pelestari objek wisata bersejarah. (d) Objek wisata bersejarah masih menjadi living monument object hingga saat ini yang masih digunakan oleh masyarakat secara komunal. (e) Situs dan objek juga memuat nilai-nilai keutamaan terkait semangat nasionalisme dan spiritual.

Aspek kelemahan (weaknesses) yang termuat, sebagai berikut : (a) Situs dan objek wisata bersejarah di Desa Singapadu Tengah relatif kurang terawat selama ini. (b) Promosi terkait adanya potensi objek bersejarah di Desa Singapadu Tengah relatif kurang. (c) Kerja sama dengan berbagai pihak terkait objek bersejarah, seperti pihak BALAR Arkeologi dan Cagar Budaya belum banyak dilakukan. (d) Belum adanya sistem pengamanan objek bersejarah secara terpadu dan terencana menyebabkan objek dapat rusak oleh tindakan vandalisme, pencurian, dan bencana. (e) Pola pengaturan sirkulasi bagi wisatawan di area wisata bersejarah belum terkelola dengan baik.

Aspek peluang (opportunities) yang termuat, sebagai berikut : (a) Aspek estetika situs dan objek bersejarah dapat dijadikan sebagai daya tarik tersendir dari objek wisata bersejarah tersebut. (b) Antarsitus bersejarah memiliki keterkaitan sejarah dengan objek-objek bersejarah lainnya. Dengan demikian dengan metode pemasaran dan promosi yang tepat akan dapat memeberi kontribusi psitif yang sangat signifikan bagi perkembangan dunia kepariwisataan di desa ini. (c) Perkembangan teknologi dapat menjadi salah satu alat dukung khusus bagi perkembangan dan peningkatan kualitas objek wisata spiritual yang ditawarkan. (d) Dapat dikembangkan menjadi wisata edukasi bagi komunitas peneliti dalam maupun luar negeri. (e) Dalam kegiatan wisata bersejarah, pengelola paket wisata dapat memperbantukan banyak tenaga lokal sebagai tour guide yang akan memberi segala penjelasan secara oral dan langsung kepada para wisatawan.

Aspek hambatan (threats) yang termuat, sebagai berikut : (a) Biaya perawatan situs bersejarah cukup tinggi. (b) Adanya beberapa kalangan masyarakat yang kurang memahami nilai keutamaan situs yang menyebabkan mereka berpeluang menjadi perusak eksistensi nilai keutamaan situs bersejarah. (c) Minimnya pemahaman masyarakat terhadap nilai keutamaan objek, berpeluang menjadikan penurunan fungsi dan kualitas makna objek asalnya. (d) Situs dan objek wisata bersejarah relatif mudah rapuh dan aus oleh bencana alam dan cuaca. (e) Transfer pengetahuan antarmasyarakat pelestari perlu mendapat edukasi dari pihak terkait.

Uraian sebelumnya tersebut menunjukkan tentang adanya lima aspek utama dalam potensi kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatan yang termuat dalam kelima daya tarik Desa Wisata Singapadu Tengah. Gambaran kelima aspek SWOT ini selanjutnya dijadikan sebagai pedoman dalam penentuan konsep perencanaan dan pengelolaan suatu wilayah pada masa mendatang (Nelson, 2007: 26-27).

SIMPULAN

Hasil pembahasan terhadap kelima aspek sesuai pola analisis SWOT tersebut selanjutnya dapat dirangkum gambaran prioritas permasalahan yang berlaku di Desa Singapadu Tengah berdasarkan kuantitas dan bobot kualitas permasalahan yang diperoleh : (A) Aspek Kekuatan dalam Daya Tarik Wisata Desa Singapadu Tengah, Dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah yang besar merupakan aspek kekuatan terpenting dalam pengembangan Desa Wisata Singapadu Tengah. (B) Aspek Kelemahan dalam Daya Tarik Wisata Desa Singapadu Tengah, ada tiga aspek utama yang menjadi kelemahan utama berkenaan dengan pengembangan desa wisata di daerah ini, yaitu berkenaan dengan (a) aspek kualitas jalan akses ke situs-situs objek wisata dalam wilayah Desa Singapadu Tengah; (b) aspek kualitas higienisitas peralatan dan produk kuliner Desa Wisata Singapadu Tengah; (c) masih kurangnya promosi dan jalinan kerja sama antarpelaku wisata di Desa Singapadu Tengah; dan (d) masih minimnya kualitas dan kuantitas fasilitas pendukung kegiatan wisata di daerah ini. (C) Aspek Peluang dalam Daya Tarik Wisata Desa Singapadu Tengah, Karakter Desa Wisata Singapadu Tengah yang alami dan tradisional seperti ini memiliki suatu tantangan tersendiri bagi para wisatawan untuk melakukan observasi dan eksplorasi ke wilayah itu. Wisata alam di Desa Singapadu Tengah mengundang wisatawan minat khusus berkunjung. (D) Aspek Tantangan

(14)

dalam Daya Tarik Wisata Desa Singapadu Tengah, Desa Wisata Singapadu Tengah masih cukup terkendala dalam perkembangannya karena desa wisata ini relatif belum terkenal dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya yang telah lebih dahulu terkenal, seperti Desa Ubud, Desa Tenganan, dan Desa Petulu.

REFERENSI

Agung, Ide Anak Agung Gde. 1993. Kenangan Masa Lampau: Zaman Kolonial Hindia Belanda dan Zaman Pendudukan Jepang di Bali. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Merkle, Margarete. 2012. Bali: Magical Dances. Berlin: epubli.

Nelson, Charles. 2007. Managing Quality in Architecture. Amsterdam: Routledge.

Rivara, Frederick P., dkk. 2009. Injury Control: A Guide to Research and Program Evaluation.

Singapore: Cambridge University Press.

Suarya, I Made, dkk. 2017. Penataan Desa Wisata Baru Singapadu Tengah, Kecamatan Sukawati, Gianyar. Laporan Kemajuan Penelitian. Denpasar: Universitas Udayana (tidak dipublikasi).

Tim Penyusun RPJM Desa Singapadu. 2010. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa Singapadu Tengah. Desa Singapadu Tengah.

DAFTAR INFORMAN

I Made Wiriatnyana (49 tahun) sebagai Pemilik Sanggar Tabuh Suara Kanti Banjar Abasan, Desa Singapadu Tengah, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, diwawancarai Oktober 2016.

I Nyoman Rosman (49 tahun) sebagai Perbekel Desa Singapadu Tengah, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, diwawancarai Pebruari 2016.

I Nyoman Suciarta (42 tahun) sebagai Klian Banjar Abasan, Desa Singapadu Tengah, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, diwawancarai Mei 2016.

Ibu Wiwik (37 tahun) sebagai penari professional dari Banjar Abasan, Desa Singapadu Tengah, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, diwawancarai Mei 2016.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis SWOT merupakan analisis untuk mengkaji strengths (kekuatan), weaknesses (Kelemahan), opportunities (peluang), dan threats (ancaman) pemain. Hasil penelitian

Jika responden mengalami 2 atau lebih kejadian tersebut tanyakan kejadian yang paling awal/pertama kali pada kolom [1] dan selesaikan dahulu sampai BR18 dan

Prosiding seminar ini merupakan kumpulan paper-paper yang dipresentasikan dan dipublikasi pada Seminar Nasional Arsitektur dan Tata Ruang (SAMARTA) dengan tema Kebudayaan,

Sehingga semakin tinggi temperatur preheating yang diberikan maka penetrasi yang terjadi pada saat berlangsungnya proses pengelasan semakin dalam sehingga base metal

Berdasarkan data curah hujan bulan Desember 2019 dari stasiun-stasiun BMKG dan pos-pos hujan kerjasama terpilih pada 15 Zona Musim (ZOM) di Bali dapat disajikan

Pada tahun 2018, pemerintah Singapura mengumumkan secara publik dalam menominasikan salah satu budaya makan tradisional Singapura yakni hawker culture ke UNESCO. Hawker

Penida.Melalui hasil temuan kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities) dan ancaman (threats), kemudian diformulasikan kedalam matriks SWOT

Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Keguruan dan