• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEREMPUAN RAPUH DALAM SERAT SAPAMIDANGAN. Resti Nurfaidah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEREMPUAN RAPUH DALAM SERAT SAPAMIDANGAN. Resti Nurfaidah"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

203 Resti Nurfaidah

Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat

Sumbawa No.11, Kelurahan Merdeka, Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat pos-el: [email protected]

Abstrak

Perempuan, dalam kondisi dan situasi tertentu, dirapuhkan oleh hal-hal yang ada di sekitar mereka, di antaranya, terjebak dalam situasi dan kondisi tidak menguntungkan atau traumatis (misalnya terperangkap di dunia prostitusi); situasi rumah tangga yang tidak harmonis;

pergaulan yang keliru; hilangnya sosok ayah atau laki-laki di dalam keluarga terdekat; beban ekonomi; atau rasa kecewa terhadap laki-laki lain yang dekat relasinya, selain keluarga (misalnya, kekasih). Makalah ini mengeksplorasi representasi perempuan rapuh yang terdapat dalam beberapa fiksi mini yang tergabung dalam Serat Sapamidangan. Antologi tersebut digagas oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat untuk mengakomordir geliat para sastrawan Sunda berekspresi dalam karangan dengan jangkauan luas kata terkecil.

Hasil pengamatan, dari 100 fiksi mini, terdapat 18 fiksi mini yang mengungkapkan gambaran perempuan rapuh yang ditulis oleh, penulis laki-laki dan penulis perempuan. Penelitian difokuskan pada dua hal berikut, yaitu bagaimana sosok perempuan rapuh direpresentasikan oleh penulis laki-laki dan penulis perempuan? Adakah gambaran perlawanan tokoh perempuan terhadap kondisi yang menjadikan mereka dirapuhkan itu? Analisis dilakukan dengan penggunaan framing Pan & Kosicki. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kelima penulis laki-laki memiliki kecemderungan untuk bersikap bersikap kontra kepada perempuan.

Meskipun demikian, satu orang penulis laki-laki masih menunjukan sikap pro pada perempuan dengan profesi PSK. Dari ketigabelas penulis perempuan, hanya empat orang di antaranya yang menunjukkan sikap pro atau dukungan kepada perempuan rapuh, tiga orang menunjukan sikap pro dan kontra dalam waktu yang bersamaan, serta selebihnya menunjukan sikap antipati.

Sikap kontra yang ditunjukan oleh penulis laki-laki maupun penulis perempuan diungkapkan dengan stereotipe negatif pada kondisi dan profesi perempuan tertentu. Status perempuan janda dianggap sebagai status yang cukup riskan dan mudah mengundang kontroversi, bersikap baik atau buruk sama besar risikonya. Sikap kontra dari para penulis perempuan maupun laki-laki ditunjukan melalui kondisi dan situasi yang menjepit tokoh perempuan sehingga sulit untuk melapaskan diri dari kesulitan. Mereka digambarkan tidak berani untuk segera mencari solusi, cenderung berdiam diri, membiarkan masalah berkembang, dan dihantui rasa takut dalam menentukan segala keputusan.

Kata Kunci: fiksi mini, Sunda, perempuan, represemtasi, gender

Female Weakness on Serat Sapamidangan

Abstract

In certain conditions and situations, women are weakened by the things that are around them, including being trapped in unfavorable or traumatic situations and conditions (for example being trapped in a world of prostitution); a household situation that is not harmonious; wrong association;

the disappearance of the father or son in the immediate family; economic burden; or feelings of disappointment towards other men who are closely related, other than family (for example, lover). This paper explores the representation of vulnerable women in several mini fictions incorporated in the Sapamidangan Fiber. The anthology was initiated by the West Java Province Tourism and Culture Office to accommodate the movements of Sundanese writers to express themselves in essays with the smallest wide range of words.

The results of the observation, from 100 mini fiction, 18 mini fictions reveal

(2)

204

images of fragile women written by male writers and female writers. The research focuses on the following two things, namely how is the figure of a fragile woman represented by male writers and female writers? Is there a picture of the resistance of female figures to the conditions that made them vulnerable? The analysis was carried out using the Pan & Kosicki framing.

The results of the observations show that the five male writers tend to act counter to women. Even so, one male writer still shows a pro attitude towards women with the profession of CSW. Of the thirteen female writers, only four of them showed a pro or support attitude towards vulnerable women, three showed pro and contra at the same time, and the rest showed an antipathic attitude. The counter attitudes shown by both male and female writers are expressed with negative stereotypes on certain conditions and professions for women. The status of widowed women is considered a status that is quite risky and easy to invite controversy, being good or bad is just as risky. The contras of both male and female writers are shown through the conditions and situations that clamp the female characters so that it is difficult to escape difficulties. They are described as not having the courage to immediately seek solutions, tend to be silent, allowing problems to develop, and are haunted by fear in determining all decisions.

Keywords: flash fiction, Sunda, women, representation, gender

PENDAHULUAN

Penelitian memandang tentang gender perlu dilakukan seiring dengan berkembangnya kajian perempuan dan gender di lingkungan akademik serta gerakan perempuan dalam berbagai lini (E. K. Poerwandari, 2001).

Zainuddin menyampaikan pandangan Caplan tentang definisi gender, yaitu perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan selain dari struktur biologis, sebagian besar justru terbentuk melalui proses sosial dan kultural (Zainuddin, 2006). Gender dalam ilmu sosial diartikan sebagai pola relasi lelaki dan perempuan yang didasarkan pada ciri sosial masing- masing. Konsep hubungan sosial laki–laki dan perempuan tersebut dapat berbeda di antara satu kelompok masyarakat satu dengan kelompok masyarakat lainya sesuai dengan lingkungan dan juga dapat berubah sesuai perubahan zaman (Suhita, 2015).

Beberapa pengertian gender berikut, antara lain, a) gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan (Hilary M. Lips); b) semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki dan perempuan adalah termasuk bidang kajian gender (Linda L.

Lindsey); c) gender sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif yang sebagai akibatnya mereka menjadi laki-laki dan perempuan (H.T. Wilson); serta d) gender lebih dari sekedar pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konstruksi sosial- budaya (Elaine Showalter) (Umar, 2010).

Bidang sastra, sebagai salah satu lahan kajian yang dalam dipandang Wulandari merupakan bidang kajian yang mengusung latar sosial budaya pada karya bahasan, memiliki jumlah kajian gender tidak terhitung. Adanya kebaruan dalam bidang sastra, di antaranya, munculnya fiksi mini tidak menyurutkan animo penyampaian tema gender (Wulandari, 2015). Sebaliknya, kehadiran fiksi mini pada tahun 2000 semakin memperkaya warna wajah dunia sastra. Fiksi mini dengan ruang yang sangat terbatas, terdiri dari 50—150 kata, tidak menutup luasnya ragam kisah, termasuk tema gender.

Kehadiran fiksi mini pada awal kemunculannya dianggap sebagai varian baru dalam dunia sastra, sebagai akibat berkembangannya akun-akun jejaring sosial

(3)

205 di Indonesia (Ratih Kartikasari, Novi Anoegrajekti, 2014). Fiksimini memiliki realitas sosial dan merepresentasikan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, serta menunjukkan pengaruh hubungan antara karya sastra dan masyarakat pengguna internet melalui perkembangan bentuknya (Ratih Kartikasari, Novi Anoegrajekti, 2014).

Hasil penelitian Supriatin tentang lingkungan pendukung fikmin bahasa Sunda, seperti, pengarang, media sosial (medsos), dan karya-karya fikminnya menunjukkan bahwa fikmin bahasa Sunda dipandang sebagai genre baru dalam sastra Sunda (Supriatin, 2017). Dengan metode deskriptif dengan teknik pencarian data ke lapangan dan wawancara dengan pegiat fikmin, Supriatin mendapati bahwa dari sisi jumlah fikmin tercatat peningkatan jumlah secara drastis. Sementara itu, dari sisi distribusi, fikmin bergantung pada medsos dalam hal ini Facebook. Karya fikmin memiliki ciri karakteristik tertentu, seperti alur tidak lurus, alur yang melompat- lompat, gaya liris, yang disertai dengan adanya unsur kebaruan. Penelitian tentang aspek unsur intrinsik fiksi mini, pernah dilakukan oleh Ruhaliah, dkk. dan didapati bahwa tokoh yang dimunculkan dalam data memiliki refleksi sifat manusia pada umumnya; adanya latar waktu, tempat, dan sosial; serta kecenderungan memunculkan konflik sentris, yaitu pembaca langsung dibawa pada pokok permasalahan (Eksa Dwi Ratih, Ruhaliah, 2014). Berbeda dengan dua penelitian tersebut, makalah ini akan difokuskan pada representasi perempuan rapuh yang terdapat dalam fiksi mini Sunda.

Sastra Sunda mengalami geliat yang luar biasa, selama hampir satu tahun setelah kemunculan fiksi mini, dengan munculnya grup sastrawan dalam Facebook dengan nama “Fiksimini Basa Sunda” pada tahun 2011. Jumlah anggota yang tergabung dalam grup tersebut mencapai 7.500 orang.

Geliat kemunculan grup berikut aktivitas para anggota yang luar biasa, mendapatkan respons yang baik dari Dinas Pariwisata

dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat dengan dihimpun dan diterbitkannya antologi fiksimini bahasa Sunda yang diberi judul Serat Sapamidangan yang berarti surat yang ditulis dan ditampilkan secara bersama-sama. Seratus sastrawan berkontribusi dalam antologi tersebut, antara lain, Godi Suwarna, Dadan Sutisna, Hadi AKS, Deddy Riaddy, Ganjar Kurnia, dan lain-lain. Cerita yang ditampilkan di dalam antologi tersebut merupakan cerita basajan ‘keseharian’. Dari seratus cerita yang terdapat dalam antologi tersebut, terdapat 18 fiksi mini yang menampilkan sosok perempuan rapuh, baik yang ditulis oleh pengarang laki-laki maupun perempuan. Penelitian tentang kerapuhan perempuan dalam fiksi mini tersebut dibatasi pada dua pembatasan berikut, yaitu bagaimana sosok perempuan rapuh direpresentasikan oleh pengarang laki-laki dan pengarang perempuan dalam Serat Pamidangan; serta gambaran perlawanan tokoh perempuan terhadap kondisi di mana mereka dirapuhkan tersebut.

TEORI

Konsep framing pada umumnya diaplikasikan pada penelitian bidang komunikasi media. Namun, konsep tersebut dapat pula diaplikasikan dalam penelitian bidang lainnya, termasuk sastra, melalui beberapa adaptasi. Kolom sintaksis merupakan judul utama sumber data atau sumber informasi utama. Kolom skrip merupakan informasi tambahan tentang sumber data berupa pertanyaan 5W+1H (who, when, what, why, where, dan how).

Kolom tematik beisi detail data, misalnya kutipan yang mendukung hasil penelitian.

Kolom retoris berisi hal-hal yang dipentingkan dalam data pada kolom tematik. Hasil akhir konsep framing tersebut berupa representasi. Konsep framing Pan dan Konsicki dianggap lebih praktis dengan mengoperasionalkan empat dimensi struktural teks berita sebagai perangkat framing, yaitu sintaksis, skrip, tematik, dan retoris, seperti dalam tabel berikut.

(4)

206 Tabel 1

Empat dimensi sruktural teks Pan &

Kosicki STRUKU

R

PE- RANGKA

T FRAMING

UNIT YANG DIUJIKAN SINTAK-

SIS

Skema berita

Judul, prospek, informasi latar belakang, kutipan, sumber, pernyataan, kesimpulan SKRIP Kelengkapa

n berita

Siapa, kapan, apa, mengapa, di mana, dan bagaimana TEMATI

K

Detail, maksud kalimat dan hubunganny a,

nominalisas i antar kalimat, koherensi, bentuk kalimat, kata ganti

Paragraf, dalil

RETORI S

leksikon, grafik, metafora, pengandaia n

Kata, idiom, gambar, grafik

Sumber: Eriyanto (2002: 256--257)

METODE

Tahapan penelitian yang dilakukan, antara lain, a) pengambilan data, b) pengolahan data, serta c) penyusunan hasil pengolahan data. Tahap pengambilan data dilakukan dengan cara pembacaan fiksi mini dalam Serat Pamidangan, pemilahan data berupa penentuan fiksi mini yang menampilkan

kerapuhan perempuan, serta pemisahan data berdasarkan jenis kelamin penulis.

Tahapan pengolahan data dilakukan dengan cara mengelompokkan data pada subkategori, masing-masing dipisah antara karya penulis laki-laki dan penulis perempuan; serta interpretasi data temuan dengan menggunakan konsep teoretis framing. Tahapan penyusunan hasil pengolahan berupa makalah.

PEREMPUAN RAPUH DALAM SERAT SAPAMIDANGAN

Pembahasan tentang representasi perempuan rapuh tersebut dibagi ke dalam beberapa segmen berikut, yaitu Perempuan dalam Stereotipe Janda, perasaan dan sikap perempuan perempuan, PSK, dan perempuan dalam perselingkuhan.

Perempuan dalam Stereotipe Janda Daya tarik status janda berikut kompleksitasnya telah banyak ditelusuri, baik para akademisi, birokrat, maupun kalangan sastrawan dan seniman. Nurfadila, hlm. 76—77, melakukan pengamatan tentang konsep diri janda cerai di Desa Karangpakis, Kabupaten Cilacap (Fadila, 2016). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa konsep diri janda cerai hidup dan faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri janda cerai hidup, diperoleh dari penelitian ini ditemukan bahwa konsep diri ketiga janda cerai hidup mengarah a) konsep diri positif, serta b) wanita ber status janda cerai hidup akan mengalami perubahan pada aspek fisiologis, psikologis dan sosial. Namun, kadar tinggi-rendahnya kualitas konsep diri tersebut bergantung pada kemampuan menghadapi masalah.

Untuk dapat mengatasi masalah tersebut, seorang janda cerai perlu membekali diri dengan pengetahuan dan wawasan yang cukup luas.

Jelly, hlm. 55, melakukan penelitian tentang dualism janda sebagai fakta kultural dalam sistem sosial masyarakat Minangkabau (Jelly, 2018).

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa Suku Minangkabau memiliki sarana

(5)

207 pembentuk stigma terhadap janda, yaitu maota. Tradisi pengukuhan seorang janda disebut maotaan. Melalui penelitian tentang maota tersebut didapati berbagai bentuk stigma masyarakat Minangkabau terhadap perempuan yang berstatus janda. Penelitian difokuskan pada reaksi kepribadian dan karakter masyarakat Minangkabau terhadap stigma seorang janda. Jeli mendapati bentuk stigma yang mendua, antara lain, indak pandai balaki dan kacang ka laki- laki; serta tagak surang dan jadi baban.

Suku Batak Toba menerapkan aturan tersendiri untuk para janda. Janda karena kematian serta memutuskan tidak menikah lagi tetap berada dalam lingkungan kerabat suaminya. Jika janda tersebut memilih untuk menikah kembali dengan orang di luar kerabat almarhum suaminya, sanksi yang ia terima adalah pemisahan (Pasaehon) dan sinamot yang diberikan dikembalikan. Kedudukan janda karena perceraian yaitu janda akan kembali, atau dikembalikan pada lingkungan kerabat dari orang tuanya. Perempuan yang mengajukan gugatan cerai, kerabat dari pihak perempuan diwajibkan mengembalikan mahar kepada kerabat suami. Janda mati tidak memiliki hak waris karena kematian, tetapi ia berhak untuk menikmati dan mengelola harta waris untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kelak warisan tersebut akan diteruskan kepada anak- anaknya. Jika tidak mempunyai anak, warisan diberikan kepada kerabat suaminya yang laki-laki.

Sementara itu, Karvistina, hlm.

84—90, melakukan pengamatan pada sikap masyarakat Kampung Iromejan, Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, terhadap warga perempuan berstatus janda (Karvistina, 2011). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian anggota masyarakat Kampung Iromejan menaruh persepsi positif terhadap perempuan berstatus janda. Masyarakat setempat beranggapan bahwa para janda harus lebih dipantau, diperhatikan, serta dijaga karena posisi mereka dianggap cukup riskan, terutama janda yang masih

muda. Selain itu, jika mendengar sitgma negatif tentang seorang janda, masyarakat setempat akan menanggapi hal tersebut dengan bijak melalui penelusuran latar belakangnya terlebih dahulu. Sebaliknya, masyarakat menaruh rasa bangga dan hormat kepada kaum janda karena ketegaran dan kekuatan mereka dalam melanjutkan secara mandiri. Faktor pendukung munculnya sikap tersebut, antara lain, faktor usia; faktor jenis kelamin; keadaan janda yang beraneka ragam, baik perasaan, pengalaman, dan sikap mereka sehari-hari; faktor keadaan masarakat yang mempersepsi; faktor pengalaman bersama kaum janda; serta kondisi lingkungan masyarakat dengan kultur yang tentram dan rukun, antara lain, saling menganggap saudara, saling menjaga dan berempati. Sementara itu, stereotip perempuan berstatus janda, dalam masyarakat Sunda juga tergambar dengan serangkaian istilah atau gelar berikut, antara lain, randa bȇngsrat, randa ngora, randa beunghar, randa hȇrang, dan randa ateul.

Randa bȇngsrat adalah istilah yang diberikan pada seorang janda yang tidak pernah disentuh oleh suaminya sampai pada saat ia ditinggalkan. Randa ngora ditujukan kepada perempuan yang menyandang status janda pada usia yang terbilang muda.

Randa beunghar merupakan istilah yang diberikan kepada seorang perempuan berstatus janda yang memiliki kekayaan yang luar biasa. Randa hȇrang ditujukan pada perempuan berstatus janda yang memiliki kelebihan fisik, sangat cantik.

Randa ateul ditujukan kepada perempuan berstatus janda yang memiliki kecenderungan menggoda laki-laki, terutama pria beristri.

Kedua fiksi mini berikut memberikan gambaran bahwa perempuan berstatus janda masih belum mendapat tempat pada kebanyakan masyarakat. Baik Kurnia dari sudut penulis laki-laki maupun Riani dari penulis perempuan memberikan gambaran yang sama. Kurnia dalam “Merdeka”, menyampaikan sisi kerapuhan seorang perempuan berstatus janda terhadap

(6)

208 menahan diri dari kebutuhan biologis pascakematian suaminya. Nyi Kȇnoh direpresentasikan sebagai seorang randa ateul, yaitu perempuan berstatus janda yang mudah didatangi pria mana saja. Kata nguliwed (menyelinap) dalam fiksi mini tersebut, menunjukkan kemudahan akses yang diterima Udin dari Nyi Kȇnoh. Riani, sebagai penulis perempuan, menyampaikan reaksi perempuan bersuami, tokoh aku, terhadap konotasi janda. Tokoh aku dikungkung dengan stereotip negatif perempuan berstatus janda. Kungkungan stereotip tersebut seolah menutup akal sehat tokoh aku. Sikap ramah dan tutur santun sang janda seolah menyentak kesadaran tokoh aku ketika diingatkan ikhtiar suaminya untuk membelikan hadiah kepadanya. Riani dalam “Timburu”

menampilkan kondisi yang sulit bagi seorang janda. Sikap apa pun yang ditunjukkan perempuan berstatus janda, cenderung mengundang konotasi negatif.

Bersikap baik justru ditanggapi dengan sikap curiga. Terlebih dengan sikap yang cenderung binal, stigma janda di mata masyarakat semakin menjadi.

Tabel 2 Stereotipe Janda STRUKUR UNIT YANG

DIUJIKAN SINTAKSIS “Merdeka”,

“Timburu”

SKRIP Antologi: Serat Sapamidangan Penulis : 100 Sastrawan

Editor: Harnida, et.al Tebal : 208 hlm Penerbit: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan

Provinsi Jawa Barat “Merdeka”

(Kurnia, 2016: 20) “Timburu” (Riana, 2016: 125)

TEMATIK “Merdeka”

Mangsa anu lian balubar, indit ka medan jurit, Udin nguliwed ka imah Nyi Kȇnoh, randa anu ditinggalkeun sahid ku salakina, dina perang samȇmȇhna. Di antara dȇrȇdȇdna sora bedilnu beuki maweuh, Udin sibuk nyieun pertempuran sorangan. Merdȇka!

Merdȇka! Ceuk hatȇna, sumanget pinuh kabungah.

(Kurnia, 2016:20) (Ketika yang lain beranjak ke medan peperangan, Udin menyelinap ke rumah Nyi Kȇnoh, janda yang suaminya mati sahid pada peperangan sebelumnya. Di antara desingan suara peluru yang semakin menjadi, Udin sibuk menciptakan perangnya sendiri.

‘Merdeka!

Merdeka!’, suara hatinya berkata dengan penuh semangat.)

“Timburu”

“Numawi ieu hp-na kakantun, manawi baȇ kadieu.” Hadȇ gorȇng gȇ salaki kapaksa dikilungan.

Ninggalkeun sakola bari hate

ngagugudag. Moal hanteu nyangsang

(7)

209 di imah si randa,

tah! Kagok borontok disusul. Mȇakkeun kapanasaran. Bener motorna nyampak di buruanana. Bari rampohpoy, nguat- nguat manȇh. Sup.

Piambekkeun teu kaampeuh. Hayang nȇngtȇrȇwȇlȇng laklak dasar. Mȇmȇh nepi kana lawing panto, si randa ngabageakeun.

“Calik, Aceuk! Leres saur Akangna, tangtos Aceuk ngabujeng ka dieu.”

Tembong salaki di rohangan tamu, nyanghareupan budak lalaki.

“Sakantenan tepang, hapunten teu acan unjukan, rȇhna Tuang Raka nawisan maparin lȇs ka Pun Anak. Nyaurna mah hoyong gaduh palalangkung kanggo kado milangkala Aceuk sasih payu.,” Si randa someah.

(Riani, 2016:125) (“Saya datang kemari karena hp suami saya ketinggalan di rumah. Baik atau buruk, dua tetap suami saya.

Terpaksa saya tutupi kekurangannya.

Kutinggalkan halaman sekolah sambil menahan amarah yang

membuncah-buncah.

‘Pasti di rumah si janda itu! Sudah kadung! Kususul suamiku ke rumah janda itu. Benar.

Kulihat motornya terparkir di halaman.

Meskipun raga ini rasanya sudah lemas, aku berusaha keras untuk menguatkan diri. Aku berjalan mendekati ambang pintu. Gemuruh di dalam dada semakin menjadi. Rasanya ingin memaki-maki seisi rumah. Belum sampai di ambang pintu, si pemilik rumah

menyambutku,

“Benar kata suami Mbak, Mbak pasti menyusul kemari.”

Tampak suaminya sedang duduk di ruangan tamu sambil berhadapan dengan seorang anak laki- laki. “Oh, ya, Mbak, sekalian Mbak ada di sini, maaf saya belum

menyampaikan sebelumnya, kalau suami Mbak menawarkan diri untuk memberikan les kepada anak saya. Katanya supaya suami Mbak punya uang lebih untuk membeli kado hari jadi Mbak bulan depan,” kata

perempuan janda itu dengan ramah) RETORIS a. nguliwed ka imah

Nyi Kȇnoh, randa

(8)

210 anu ditinggalkeun

sahid ku salakina, dina perang samȇmȇhna.

b. Di antara dȇrȇdȇdna sora bedilnu beuki maweuh, Udin sibuk nyieun pertempuran sorangan

c. Moal hanteu

nyangsang di imah si randa, tah!

Perasaan dan Sikap Perempuan

Kebangkitan perempuan di Indonesia, disampaikan Hafiar, hlm. 3, diawali dengan semangat emansipasi yang diusung oleh Kartini sebagai pelopor lalu diikuti oleh pengakuan adanya perempuan yang diakui sebagai pahlawan, baik yang kemudian muncul atau telah muncul sebelum Kartini terekspos (Hafiar, 2010). Hafiar lalu menyampaikan kekhawatirannya bahwa emansipasi di negeri ini berkembang dengan dilandasi pandangan yang keliru, di antaranya, pandangan yang bersifat salah kaprah bahkan kebablasan. Kekeliruan tersebut menurut Hafiar kurangnya pemahaman mengenai perbedaan yang hakiki antara perempuan dan laki-laki secara struktur maupun fungsinya dalam konteks tujuan penciptaan oleh sang Mahapencipta. Sebagai gambaran Hafiar menunjukkan bahwa dengan dalih emansipasi banyak perempuan yang menggeluti dunia laki-laki seperti bertinju, bahkan gulat, atau relatif mengabaikan tugas dan fungsinya sebagai seorang istri atau seorang ibu. Stereotipe yang ada dalam masyarakat, dalam pandangan Hafiar, mengenai perbandingan kemampuan fisik antara laki-laki dan perempuan adalah laki- laki lebih kuat, lebih cepat dan lebih memiliki daya tahan daripada perempuan.

Perbedaan jenis kelamin, tentu menimbulkan perbedaan pada unsur anatomis dan psikologis. Freud menyatakan bahwa ketiadaan penislah yang

membedakan perempuan dan laki-laki. Ia menekankan bahwa faktor perbedaan fisik pada makhluk hidup yang berbeda jenis kelamin dapat menyebabkan adanya perbedaan psikologis yang mengandung perbedaan karakter yaitu maskulin untuk laki-laki dan feminin untuk perempuan.

Sementara itu, Wahid menyampaikan bahwa kita sama-sama tahu bahwa kodrat adalah sesuatu yang sifatnya given. Sesuatu yang datangnya tidak diatur oleh manusia tetapi diatur oleh yang Mahakuasa. Inilah yang, dalam pandangan Wahid, membedakan laki-laki dan perempuan.

Perbedaan tersebut secara pribadi kurang dikenali dan dihargai, misalnya perempuan yang cenderung mengutamakan emosional dilabeli dengan cengeng. Sikap laki-laki yang cenderung logis, Akibatnya, keduanya sulit untuk saling menghargai dan mengenali. Puncaknya terjadi pengabaian yang kebanyakan berujung pada perempuan sebagai korban. Ketujuh fiksi mini tersebut menunjukkan kasus-kasus pengabaian, bahkan berujung kriminal.

Pendapat Hafiar dan Wahid berlawanan dengan pandangan feminis, pada umumnya. Kusniati memandang bahwa saat gender secara sosial dikonstruksi, dengan sendirinya seks mengalami kondisi yang sama, yaitu definisi laki-laki dan perempuan pun berdasarkan aspek biologisnya dan berpengaruh pada perannya, laki-laki dominan dan perempuan tunduk secara seksual. MacKinnon, hlm. 314—315, melihat seksualitas dengan teori keadilan gender, artinya laki-laki memang memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan (kuasa laki-laki) ( MacKinnon, 1989). Al Rashid dalam Primastiwi (www.whiteboardjournal.com) menyampaikan bahwa, baik di media sosial, maupun di kehidupan nyata, semakin banyak kelompok yang menggunakan logika agama justru untuk melanggengkan tekanan dan ekspektasi sosial terhadap banyak perempuan (Primastiwi, 2019).

Terutama di media sosial, jelas terlihat propaganda penyebaran rasa takut dan

(9)

211 perpecahan. ia menyarankan agar seharusnya para perempuan semua bisa coexist dan belajar untuk work for a common goal, social welfare and justice for all. Sebagai seorang yang menganggap diri seorang feminis muslimah, Al Rashid sangat mempercayai bahwa agama yang ia anut memiliki nilai-nilai persamaan, kebebasan untuk mencari ilmu, serta keadilan dalam hukum. Tapi entah kenapa, ada agenda untuk memolarisasikan masyarakat kita, semua seakan-akan kita dipaksa pilih loyalitas; “kita” atau

“mereka”, sedangkan saya sangat percaya bahwa ada jalan tengah yang baik untuk kita semua.

Berikut terdapat tiga penulis laki-laki:

Jatnika, Kandhiawan, dan Raspati.

Selebihnya merupakan penulis perempuan, yaitu Janura, Valdasari, dan Lutpiani. Pada data fiksi mini yang ditulis oleh penulis laki-laki, tiga di antaranya menunjukkan, aspek seksualitas perempuan secara gamblang. Jatnika dalam “Kembang Lara”

mengisahkan jebakan dukun cabul kepada mangsanya, seorang gadis yang disebutnya dengan “Kembang Manis”. Petunjuk berikut, kembang nu salila ieu ditutur pati;

daȇk jadi tumbalna; geus lila sosorangana;

dan ‘Kembang Manis’, menunjukkan bahwa tokoh Abah, sang dukun, sudah lama mengincar gadis itu, serta menjebak korban tersebut dengan topeng bertirakat sebagai seorang sinden. Profesi sinden terkait dengan julukan ‘Kembang Manis’. Dalam seni pertunjukan Sunda, pada umunya pelaku seni memiliki nam alias. Kata tumbalna merupakan ironis, karena sesungguhnya si Nyailah yang menjadi korban tirakat yang ia jalani, bukan Abah.

Sementara itu, dua fiksi mini karya Raspati menunjukan stereotipe perempuan yang memiliki latar kehidupan kelam, melalui tokoh Madam X dan Tatum. Kedua karya tersebut seolah menyampaikan bahwa kedua tokoh itu perlu divonis dan dieksekusi dengan cara yang sangat kejam.

“Sarebu Cika-Cika” bercerita tentang seorang laki-laki yang menaruh rasa cemburu kepada Tatum, kekasihnya.

Sayang, Tatum hanya memerlukan dirinya sebagai pemuas nafsu. Tatum menginginkan lebih dan memilih untuk melayani Om Danar. Tokoh aku naik pitam dan membunuh keduanya di sebuah kamar hotel. Tanpa basa-basi, tokoh aku bunuh diri. Ia digambarkan, di alam lain, menemui istri dan anaknya yang lebih dulu pergi.

Jalur peristiwa dapat ditangkap pada enam poin berikut, yaitu kuring bogoh, embung kaleungitan, lain sasaha pikeun manȇhna, timburu, raga beuki teu boga rasa, dunya tambah taya hartin, guyang getih, dan nuturkeun maranȇhanana. Tatum memutuskan untuk tetap melayani Om Danar atas dasar kebutuhan finansial sementara Ben lebih berfungsi sebagai pemeran pengganti ketika Tatum memerlukan dirinya. Tatum menutupi kekurangan dalam hidupnya dengan menempuh aktivitas yang mengundang risiko besar. Namun, tokoh aku tidak dapat melihat perjuangan Tatum. Dalam “Madam X” dikisahkan dari sudut pandang tokoh aku, seorang pemulasara jenazah, yang mendapatkan surat yang isinya meminta dirinya untuk mengurus jenazah seorang perempuan yang hanya diberi julukan Madam X. Isi surat itu juga meminta tokoh aku untuk merahasiakan hal-hal yang ia saksikan selama pengurusan jenazah.

Madam X dianggap sebagai perempuan yang hina sehingga kematiannya pun tidak layak untuk dilakukan dengan semestinya.

Berbeda dengan kedua rekannya, Kandhiawan dalam “Moyan” menunjukkan cara yang lebih halus. Penulis menyampaikan bahwa pelecehan seksual terkadang, atau tanpa disadari, mendapat dukungan dari lingkungan sekitar. Tokoh aku seolah mendapatkan stimulasi untuk melakukan pelecehan seksual ketika kedua orangtua tokoh Nyai menyampaikan kata- kata yang sama, yaitu menyuruh Nyai untuk mengantarkan sesuatu dan mengasah kekuatan peurah ‘racun’. Seringnya mendengar kedua kata itu kata tersebut, muncul makna lain dalam diri tokoh aku.

Kata mindeng ‘sering’ Kalimat Asa ku mindeng ngadȇngȇ kecap Nyai jeung

(10)

212 ngasah peurah, menunjukkan habit tokoh Pak Haji untuk mengumpankan tokoh Nyai untuk “melayani” tokoh aku. Kalimat Pak Haji tersebut dilontarkan untuk mengikat tokoh aku untuk tidak meninggalkan lokasi milik laki-laki itu. Latar tokoh Nyai mengundang multitafsir, tidak menutup kemungkinan anak perempuannya Pak Haji sendiri, asisten rumah tangga, atau santri.

Siapa pun latar Nyai sebenarnya, meskipun dalam posisi orang ketiga yang tidak ditampilkan dalam cerita, ia harus taklid

‘patuh sepenuhnya’ pada perintah tokoh Pak Haji sebagai sosok dominan di lokasi yang didatangi Ujang.

Lutpiani dalam “Nu Ceurik Tengah Peuting” menunjukan perempuan yang dikungkung rasa takut berlebihan, Nȇng keueung (menunjukkan rasa takut yang disertai hawa mistis), ketika mendengar suara tangisan pada tengah malam. Kondisi gadis itu yang sedang ditinggal sendiri karena ditinggal Abah ‘Ayah’. Tokoh Neng tidak memiliki keberanian untuk membuka daun jendela dan mencari asal- usul suara tangisan itu. tindakan yang ia lakukan hanyalah menghubungi Abah.

Tanpa menunjukan empati kepada anak perempuan semata wayangnya, Abah memberikan jawaban singkat agar anaknya berdoa. Ketika ia mengetahui bahwa suara tangisan itu bagian dari peristiwa kriminal, ditunjang dengan hilangnya Abah, tokoh Neng hanya dapat menghadapi fakta yang menyakitkan tersebut dalam kondisi syok, hanya mampu mengucapkan kata Gusti

‘Ya, Tuhan’. Sementara itu, tokoh gadis yang mengalami naas itu, menunjukan bahwa ia berada di sebuah lingkungan yang kurang tanggap dalam menindak kebutuhan si gadis. Gadis malang itu mengharapkan pertolongan, diungkap dalam sora awȇwȇ ceurik ‘suara perempuan menangis;, tetapi ia tidak mendapatkannya. Bagaimana hubungan Abah dengan gadis tersebut, fiksi mini tidak bercerita banyak, tetapi cukup dengan frasa verbal berikut, silih tangkȇl

‘saling berangkulan’, Jenura dalam “Kusir Delman” menyampaikan kisah seorang janda yang menjadi incaran kekerasan

seksual tukang delman. Perempuan itu tidak menyadari keinginan tersembunyi si tukang delman dengan kerapkali menawarkan bantuan kepadanya. Perempuan itu juga seringkali menolak bantuan tersebut. Faktor pencetus yang memicu munculnhya keinginan untuk mengeksekusiperempuan itu adalah pengabaian atas pertanyaan kusir delman. Meskipun hidup sendiri, perempuan itu ingin mandiri. Namun, penolakan demi penolakan mendapatkan tanggapan lain dari lawan jenis, yaitu kusir delman. Perempuan itu dijadikan sebagai objek penaklukan lawan jenis dengan keangkuhan maskulin. Ia meras yakin kekuatan fisiknya sanggup melumpuhkan sang perempuan. Sementara itu, Valdasari dalam “Birahi Pamungkas” menunjukan kerapuhan tokoh istri yang kerapkali mendapatkan perlakuan seksual yang mengerikan dari suaminya (yang ada saat ini). Sang suami, selain, gemar menyiksa dirinya, juga gemar memuaskan nafsunya pada anak perempuan tirinya, Nenah.

Hingga pada suatu hari, jika sang ibu tidak mampu melakukan perlawanan apa pun, Nȇnah menjebak ayah tirinya dan membunuhnya. Dengan berpura-pura menikmati stimulasi dari ayah tirinya, ia menusukkan ujung pisau lipat yang tadi ia sembunyikan pada punggung laki-laki itu.

Petunjuk terakhir, “Hampura, Mah, wayahna ngaranda deui.”, disampaikannya kepada sang ibu yang pada saat itu turut menyaksikan adegan pembunuhan tersebut.

Pembunuhan itu menjadi jalan untuk menyelamatkan dirinya dan ibu kandungnya dari kekerasan seksual yang dilakukan ayah tiri Nȇnah. Kata deui dalam kalimat tadi menunjukkan bahwa tokoh ibu telah berulang kali mengalami kawin-cerai.

Tidak menutup kemungkinan jika dalam setiap perkawinan, tokoh Nȇnah juga mengalami hal yang sama.

Tabel 3

Perasaan dan Sikap Perempuan STRUKUR UNIT TESTED SINTAKSI

S

“Nu Ceurik Tengah Peuting”, “Sarebu

(11)

213 Cika-Cika”; “Madam

X”; “Birahi

Pamungkas”; “Kusir Delman”; “Kembang Lara”; “Moyan”

SKRIP Antologi: Serat Sapamidangan

Penulis : 100 Sastrawan Editor: Harnida, et.al Tebal : 208 hlm Penerbit: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

“Nu Ceurik Tengah Peuting” (Lutpiani, 2016: 93)

“Sarebu Cika-Cika”

(Raspati, 2016: 13)

“Madam X” (Raspati, 2016: 13)

“Birahi Pamungkas”

(Valdasari, 2016: 120)

“Kusir Delman”

(Jenura, 2016: 18)

“Kembang Lara”

(Jatnika, 2016: 61)

“Moyan”

(Kandhiawan, 2016:

81)

TEMATIK “Nu Ceurik Tengah Peuting”

Tengah peuting Nȇng kageuingkeun ku sora awȇwȇ ceurik. Ȇcȇs pisan, hareupeun jandȇla. Jol muringkak, ngȇsang jeung ngadȇdȇg. Gancang nelepun ka Abah, “Bah, Nȇng keueung, aya sora nu nangis di pipir!”

“Babacaan wȇ atuh!”

Bari langsung tutup telepun. Isukna. Lembur geunjleung. Aya layon wanoja bulucun, di pipir. Nȇng telepun ka

Abah, tapi teu aktip waȇ. Beurangna. Aya pulisi naroskeun Abah, bari nempokeun potrȇt wanoja jeung lalaki nu keur silih tangkȇl. enya.

Potret layon nu tadi.

Gusti….! (Lutpiani, 2016:93)

(Tengah malam, Nȇng terbangun setelah mendengar suara tangisan perempuan.

Tangisan itu jelas sekali, terdengar dari arah jendela. Bulu kuduknya berdiri. Ia berkeringat dan menggigil ketakutan.

Nȇng segera

menghubungi Abah,

“Bah, Nȇng takut, kedengaran suara tangisan di deket jendela.

“Baca doa saja!” Abah menutup telepon dengan tergesa.

Keesokan harinya, seisi kampung dihebohkan dengan penemua jenazah seorang perempuan telanjang.

Nȇng berusaha menghubungi Abah.

Teleponnya tidak aktif.

Siang hari, polisi mendatangi rumah

Nȇng, sambil

memperlihatkan potret seorang perempuan saling bergandengan dengan pasangannya.

Betul. Perempuan itu.

Ya, Tuhan!)

“Sarebu Cika-Cika”

Laun-laun kuring bogoh. Embung kaleungitan. Tapi

(12)

214 geuning kuring lain

sasaha pikeun manȇhna.”Naha

anjeun timburu, Bȇn!”

Raga beuki teu boga rasa. Dunya tambah taya hartina. Ahad basa Tatun jeung Om Danar anteng di hotel sasari. Sabada harita guyang getih ku Kaliber 38. Teu lila kuring ogȇ nuturkeun maranȇhanana. Tuluy manggihan si Jalu jeung indungna, nu geus miheulaan diruang ku taneuh beureum.

(Raspati, 2016: 13) (Lama-kelamaan aku jatuh cinta. Rasanya enggan kehilangan.

Namun, aku ternyata bukan siapa-siapa baginya. “Kenapa harus cemburu, Ben!”

Rasanya raga ini tidak berdaya. Dunia seakan tidak ada artinya. Hari Minggu, Tatun dan Om Danar pergi ke hotel langganannya. Setelah itu, mereka bersimbah darah karena senjata Kaliber 38. Tidak lama kemudian, aku menyusul keduanya.

Kutemui si Jalu dan ibunya, yang sudah lebih dulu terkubur.)

“Madam X”

Basa keur bȇbȇrȇs kajadiana tȇh.

“Tulungan kuring….”

manȇhna mireng hiji sora. Sidik rohangan ȇta mah simpe. Bulu pundukna carengkat, ngan inget naon nu

bakal karandapan.

Kajadian deui basa manȇhna rȇk amitan.

Hareupeun panto kaluar, bet hayang ngalieuk heula ka jero rohangan. Manȇhna nuluy ngocȇak.

(Raspati, 2016: 13)

(Saat akan

membereskan peralatan, hak itu terjadi. “Tolong aku….” Ia mendengar sebuah suara. Ruangan pada saat itu sepi. Bulu kuduknya berdiri, tetapi ia ingat bahwa sesuatu akan terjadi. Hal yang sama berulang ketika ia akan meninggalkan ruangan itu. Di depan pintu keluar, sejurus ia menengok ke bagian dalam ruangan. Lalu, ia menjerit dengan kerasnya.)

“Birahi Pamungkas”

Pȇso leutik na leungeun katuhu. Nȇnah ngahanca tonggong.

Bres. Geutih maseuhan leungeun. Dilamot bangun nikmat.

Ngaduakalian

ngahanca dada.

“Hampura, Mah, wayahna ngaranda deui.” (Valdasari, 2016:

120)

(Pisau kecil di tangan kanan. Nȇnah pura-pura menggapai punggung.

Bres. Darah mengucur di sepanjang lengannya.

Dijilatnya dengan penuh kenikmatan.

Untuk kedua kalinya, ia mengarah ke bagian dada. “Maafkan saya,

(13)

215 Mamah tampaknya

harus menjanda lagi.”)

“Kusir Delman”

Gura-giru meuntas ka jalan. “Bade ka saha?”

Manȇhna nanya semu hȇran. Hiliwir angin nyitak peungkeur awakna nu didaster lalayu sekar. Seungitna.

Serrr… Pȇso tikel na saku calana. Geus bosen nyipta-nyipta gurinjalna di WC mah.

Kuma engkȇ.

Sabedasna gȇ tanaga awȇwȇ. (Jenura, 2016:

18)

(Bergegas ia

menyeberang jalan.

“Mau ketemu siapa?” Ia bertanya dengan penuh rasa heran. Hembusan angina mencetak jelas bagian belakang tubuh yang berdaster lusuh itu. Aroma tubuhnya.

Serrrr….. Sebuah pisau lipat di dalam saku celana. Jenuh juga berangan-angan

geliatnya kalau di kamar mandi. Gimana nanti. Sekuat-kuatnya pun tenaga wanita.)

“Kembang Lara”

Kembang nu salila ieu ditutur pati butuh tatapakan kuat. Nu bisa manunggal jeung dirina, ngajati dina hiji asa jeung rasa pikeun ngajaga ngariksa. Bumi nu panceg. Tapi kumaha nȇangna dina waktu samporȇt?

paheula-heila jeung Kala. Ngabangreung.

“Tenang, Nyai! Abah daȇk jadi tumbalna.

Kabeneran geus lila sosoranganan.”

Ngarȇrȇtan si Nyai,

‘Kembang Manis’, bari imut. Pihasileun maksud. (Jatnika, 2016:

61)

(Bunga yang selama ini ingin dipetik perlu langkah pasti. Ia harus

bisa membaur

bersamanya,

menyatukan asa dan rasa demi saling menjaga memelihara.

Pondok yang kuat.

Tapi, di mana mencari bunga itu dalam waktu yang mendesak?

Berburu dengan waktu.

Bingung. “Tenang, Nyai! Abah juga bersedia jadi tumbalnya. Toh, kebetulan sudah lama sendiri,” katanya sambil melirik kepada si Nyai, si Kembang Manis, sambil tesenyum.

Alamat berhasil.)

“Moyan”

Di Tajug, kasampak Mang Haji keur ungked. Teu lila kaciri

awȇh salam.

Leungeunna ngamprak.

Tuluy nyampeurkeun.

“Ulah ka mamana, si Nyai rȇk nganteuran!”

Ukur dijawab ku unggeuk. Keur horȇam loba omong. “Oray gȇ sok moyan, Jang.

Ngasah peurahna ngarah matih. Teu matih mah hȇsȇ barang dahar!” Bari ngusapan

(14)

216 beungeutna. Asa ku

mindeng ngadȇngȇ kecap Nyai jeung ngasah peurah. Awor jeung gugupayna pancuran,

gelenggengna

humariring. Nginanti.

(Kandhiawan, 2016:

81)

(Di sebuah langgar, Mang Haji tampak sedang terpekur. Tidak lama ia mengucap salam. Lengannya membuka. Ia berjalan mendekatiku. “Jangan beranjak dulu, ya. Nyai sedang mengantar makanan

kemari!”Kujawab dengan anggukan.

Rasanya malas bicara.

“Jang, ular juga gemar berjemur, tentu untuk menajamkan kekuatan bisanya. Kalau bisanya lemah ya pastinya sulit untuk memangsa korbannya!” Mang Haji mengusap wajahnya.

Rasanya sering kudengar kata Nyai dan menajamkan bisa.

Seiring bergelontornya air mancur dengan bunyi air yang berkepanjangan.

Berirama.)

RETORIS a. sora awȇwȇ ceurik, Nȇng keueung, silih tangkȇl, Gusti

b. kuring bogoh, embung kaleungitan, lain sasaha pikeun

manȇhna, timburu, raga beuki teu boga rasa, dunya tambah taya hartin, guyang getih,

nuturkeun maranȇhanana

c. “Tulungan kuring….”

d. “Hampura, Mah, wayahna ngaranda deui.”

e. Sabedasna gȇ tanaga awȇwȇ

f. kembang nu salila ieu ditutur pati; daȇk jadi tumbalna; geus lila sosorangana;

‘Kembang Manis’

g. Nyai; ngasah peurah

PSK

Pada hlm. 3 menyampaikan bahwa masalah prostitusi merupakan masalah klasik yang sudah lama menjadi polemik karena permasalahan prostitusi mengalami dilema dan selalu mengundang pro dan kontra (Agustina, 2017). Menurut Agustina, kalangan pro mengaitkan prostitusi sebagai hak ekonomi bagi pelaku bisnis prostitusi itu sendiri sedangkan kalangan kontra menganggap lokalisasi sebagai bentuk legalisasi bisnis haram yang bertentangan dengan aspek moralitas masyarakat. Pada bagian awal, hlm. 1, menambahkan bahwa prostitusi merupakan fenomena yang sudah ada sejak lama di dunia, tidak terkecuali di Indonesia (Caswanto, 2016). Menurut pendapat Caswanto, prostitusi di Indonesia bermula sejak zaman kerajaan-kerajaan di Jawa menggunakan perempuan sebagai bagian dari komoditas sistem feodal.

Fenomena prostitusi hingga saat ini masih menjadi masalah yang belum terselesaikan.

Prostitusi atau pelacuran merupakan salah satu masalah sosial yang kompleks, mengingat prostitusi merupakan bagian dari peradaban yang termasuk tertua di dunia dan sampai saat ini masih terus hadir di tengah masyarakat kita.

Nurfaidah mendapati bahwa dari masa ke masa, pembahasan tentang pelacuran cenderung statis (Nurfaidah, 2016b). Pembahasan, baik dalam bentuk dialog interatif, forum diskusi, atau dalam

(15)

217 berbagai teks akademis maupun nonakademis1 senantiasa dikaitkan dengan faktor pencetus yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam dunia pelacuran. Selebihnya, pembahasan akan berkaitan dengan kesulitan PSK selama menjalankan aktivitasnya serta pada masa pensiunnya. Stigma negatif yang sudah mengakar—dengan munculnya berbagai istilah yang mengarah pada aktivitas PSK sebagai wanita penghibur--dalam masyarakat kita ibarat dua sisi mata uang.

Nurfaidah menambahkan bahwa pada satu sisi, masyarakat yang berperanan seolah lebih baik, memandang PSK tidak sebagai bagian dari masyarakat mainstream. Istilah sampah masyarakat pun berlaku seumur hidupnya. Namun, di sisi lain, eksistensi PSK sangat diperlukan sebagai sapi perah untuk menutup kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan dalam bisnis tersebut.

Nurfaidah, hlm. 329 juga menyampaikan hasil pengamatan dari aspek male gaze terhadap sosok PSK, yaitu cenderung dianggap sebagai barang mainan dan tidak pernah memandangnya sebagai perempuan yang mulia (Nurfaidah, 2016a). Berikut delapan fiksi mini yang mengetengahkan tema PSK dari berbagai segi.

Potret kompleksnya dunia prostitusi cukup terwakili dalam kelima fiksi mini berikut. Pendeknya ruang dalam fiksi mini memberikan petunjuk yang ringkas.

Namun, keterbatasan itu menjadi sarana untuk mengembangkan medan petunjuk tentang dunia prostitusi di dalam fiksi mini itu. Kurnia dalam “Jedak” menyampaikan sistem prostitusi terselubung. Karena terjebak kebutuhan material yang tinggi, seorang perempuan terjerumus ke dalam dunia tersebut. Di balik “modal kealiman”

yang ia jadikan sebagai jebakan untuk para pelangganya, ia menjual jasa dengan berharap mendapatkan imbalan dari para peserta reuni. Mereka dianggap sudah mapan. Ketika mendapatkan hasil yang tidak seimbang, ia bertindak menuntut

1 Jurnal Bébasan, Vol. 3, No. 2, Edisi Desember 2016: 148—159

keadilan, yaitu bayaran yang tinggi. Kurnia menyajikan akhir cerita yang menggantung, karena banyak perempuan serupa, dengan berbagai “topeng” yang dikenakan mereka, masih mengalami nasib yang mengenaskan dan tidak mendapatkan solusi yang terbaik.

“Aman” karya Unisah menampilkan sosok PSK muda yang dikunjungi oleh tokoh seorang ibu. Tokoh ibu, mungkin ibu kandung dari tokoh Tineu. Tuntutan klasik, alasan ekonomi, yang dibebankan kepada Tineu menjadi pemicu utama masuknya gadis tersebut ke dunia prostitusi. Tafsir lain, siapa saja yang dapat dijadikan ibu oleh Tineu, termasuk mucikari dapat Kutipan berikut, “Punten, nya, Bu. Mung tiasa masihan sakieu. sanȇs teu isin, sepi sasih saum mah. Jabi unggal wengi sok aya rajia…”, menunjukkan beratnya beban finansial sekaligus risiko profesi yang harus ditanggung oleh Tineu. Namun, Unisah memberikan celah pujian pada tokoh Tineu sebagai perempuan tulang punggung dan bertanggung jawab.

Mengapa para pegiat prostitusi seolah cukup kuat kedudukannya, seperti yang terlihat dalam “Sangu Koneng With Love” dan “Sesa Rurujit”. Mereka memiliki senjata yang cukup kuat, yaitu hubungan antarindividu yang cukup solid.

Handayani dalam “Sangu Koneng With Love” menunjukan dua bersahabat atau, tidak menutup kemungkinan, sepasang kekasih yang memiliki profesi sama, sebagai PSK. Saat musim razia dan musim tertentu lainnya, mereka sulit mendapatkan konsumen. Tokoh Nȇng dan Jajaka memiliki hubungan persahabatan atau percintaan berlandaskan kesamaan minat dan profesi. Pada masa “paceklik”

keduanya berjanji untuk saling berbagi konsumen, seperti yang terungkap dalam tiga kutipan berikut, a) “Muhun teu acan ngalarisan-ngalarisan acan.”; b) Kabetot ku rasa sanasib, kanyaah medal; serta c) Mun engkȇ meunang langganan, rȇk dibikeun ka manȇhna, gerentes hatȇ si jajaka, nu nyplȇs jeung gerentes hatȇ manȇhna…. Poin a menggambarkan situasi sulit yang dihadapi si Nȇng yang sedang

(16)

218 dirundung masa paceklik konsumen.

Namun, si Nȇng seolah bersikap pasif. Ia terkesan hanya menunggu pertolongan dari Jajaka. Poin b menunjukan naluri Jajaka. Ia menaruh rasa iba kepada si Nȇng. Poin c menunjukan niat Jajaka untuk “berbagi”

konsumen. Sementara itu, berbeda dengan fiksi mini yang lain, Valdasari dalam “Sesa Rurujit” menunjukkan bahwa masyarakat tidak layak untuk menghakimi PSK sebagai manusia yang hina. Masyarakat diharapkan untuk dapat bersikap lebih baik dengan mampu membaca isi hati mereka. PSK sebenarnya menginginkan kehidupan yang lebih baik. Hanya saja ujian hidup membuatnya tidak berdaya. Proses masa awal pekerjaan, pergumulan konflik batin sebagai akibat dari sebuah peristiwa traumatis, lalu menjadi bekal untuk pertahanan diri, tergambar pada bagian akhir berikut.

Keukeuh rurujit teu daȇk nyingkah.

Dina kucuran sower, mihapekeun cimata;

Rasa dosa mingkin mangrupa kekebul.

Kiwari dosa jadi pakasaban. Anjeun nu ngamimitian teuing di mana; Satungtung sȇsa rurujit pohoeun kȇnȇh kana dosa, dijual payu kȇnȇh, kuring moal balik.

(Valdasari, 2016: 120)

(Tampaknya nista tak mau beranjak juga. Di bawah pancuran, kutitipkan airmata; Rasa berdosa semakin mengkerut seukuran bulir debu. Kini dosa menjadi makanan sehari-hari. Kamu yang pertama menistaku entah di mana.; serta selama nista bisa melupakan dosa, masih laku dijual, aku tak akan pulang kampung.) Tokoh perempuan yang ditampilkan dalam cerita menjadi korban pelecehan seksual, kemungkinan besar kekasihnya sendiri. Ia dijerumuskan oleh lelaki itu ke dalam penjara prostitusi. Namun, ia terperangkap dan sulit untuk melepaskan diri dari balik penjara itu. Konflik batin terjadi setiap waktu, dialami perempuan itu. Dalam cerita, hal itu diilustrasikan dengan aktivitas mandi. Namun, tekanan dan beban hidup yang luar biasa lambat laun membekukan konflik tersebut. ketidakmampuan untuk mengakhiri konflik tersebut, pada akhirnya

berbuah perlawanan. Dengan dilandasi tekanan hidup yang luar biasa, tokoh perempuan itu akhirnya memutuskan untuk tetap bertahan di dunia prostitusi sambil mengumpulkan bekal dan menanti sampai tiba titik akhir.

Tabel 4 PSK

STRUKUR UNIT YANG DIUJIKAN SINTAKSI

S

“Jedak”; “Aman”;

“Sangu Koneng With Love”; “Sesa Rurujit”

SKRIP Antologi: Serat Sapamidangan

Penulis : 100 Sastrawan Editor: Harnida, et.al Tebal : 208 hlm

Penerbit: Dinas

Pariwisata dan

Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

“Jedak” (Kurnia, 2016:20)

“Aman” (Unisah, 2016:

55)

“Sangu Koneng With Love” (Handayani, 2016:

112)

“Sesa Rurujit”

(Valdasari, 2016: 120) TEMATIK “Jedak”

Reuni bubaran. Ceunah, manȇhna nganjrek di Tasik. Teu mungkin balik. Mobok manggih gorowong. Di ajak nyacapkeun ka sono. Di hotel. Nu di imah di- SMS, rȇhna acara dituluykeun nguseup poȇ isukna. Poho di bumi

alam, kawas

pangantȇnan. Datang waktuna papisah. Bisi teu bogaeun ongkos, dikeupeulan lima ratus

(17)

219 rȇwu. Duit dialungkeun

bari pokna tȇh. “Artos sakitu mah sareng nu sanes ogȇ “short time”.

Kapan ieu mah sawengi jeput.” (Kurnia, 2016:20)

(Reuni berakhir.

Katanya, ia rehat dulu di Tasik. Tidak langsung pulang. Pucuk dicinta ulam tiba. Kuajak ia untuk bercinta. Di hotel, tentunya. Yang di rumah dikirim SMS, isinya:

acara reuni disambung dengan pesta mancing.

Benar-benar buta, lupa segalanya, seperti pengantin baru saja. Tiba waktu untuk berpisah.

Khawatir tidak punya uang untuk ongkos, aku membekalinya lima ratus ribu. Uang dilemparnya sambil berkata, “Uang segitu dengan yang lain untuk biaya short-time.

Ini kan semalam suntuk!”

“Aman”

“Badȇ ka Tineu, Bu?

Diantos saurna, nuju aya tamu.” Budak awȇwȇ saumur si Bungsu nyampeurkeun bari cacaleuhakan ngadahar nangka. Gȇk. Ampir sajam. Torojol nu ditungguan. Mamakȇ erok pungsat, dilekbong, buuk awut-awutan. Nyȇh seuri. “Punten ngantosan lami, Ibu saum?” Kuring unggeuk. Song duit ratusan tilu lambar.

“Punten, nya, Bu. Mung tiasa masihan sakieu.

sanȇs teu isin, sepi sasih saum mah. Jabi unggal

wengi sok aya rajia…”

(Unisah, 2016: 55) (“Ibu mau ketemu dengan Tineu? Sebentar katanya, sedang ada tamu.” Anak perempuan seumur si bungsu menemaniku sambil mulutnya mengunyah buah nangka. Kami duduk. Hampir satu jam.

Yang ditunggu akhirnya muncul. Mengenakan rok mini, blus tanpa lengan, rambutnya kusut-kusut.

Ia tersenyum. “Maaf harus nunggu lama. Ibu sedang berpuasa?” Aku mengangguk. Uang seratus ribuan tiga lembar beralih ke tanganku. “Maaf, ya, Bu.

Saya hanya bisa memberi senilai itu. Bukan saya tidak tahu malu, kalau bulan puasa seperti ini…

sepi. Mana setiap malam sering ada razia….”)

“Sangu Koneng with Love”

“Sepi, Nȇng? ceuk si jajaka. “Muhun teu acan ngalarisan- ngalarisan acan,” pokna halon. “Nuju usum sami abdi ogȇ tiiseun, “tembal si jajaka. Treup maranȇhna paradu teuteup. Ragamang si jajaka nyekel rema manȇhna. Diantep. Beuki dieu beuki pageuh.

Simpȇ. Kabetot ku rasa sanasib, kanyaah medal.

“Mun engkȇ meunang langganan, rȇk dibikeun ka manȇhna, gerentes hatȇ si jajaka, nu nyplȇs jeung gerentes hatȇ

(18)

220 manȇhna. (Handayani,

2016: 112)

(“Sepi, Nȇng?” tanya si jajaka. “Iya … malahan belum dapat untuk penglaris,” katanya

sendu. “Memang

musimnya, ya,“ balas si jajaka. Mereka beradu pandang. Diambil dan diremasnya jemari si

Nȇng. Nȇng

membiarkannya.

Semakin lama semakin

erat. Senyap.

Bermunculanlah rasa senasib sepenanggungan, dan kasih sayang. “Kalau aku nanti dapat pelanggan biar untuk dia saja,” ujar si jajaka dalam hati, sesungguhnya tercetus pula dalam hati si Nȇng.)

“Sesa Rurujit”

Kuramas teu kaitung sabaraha balikan.

Keukeuh rurujit teu daȇk nyingkah. Dina kucuran sower, mihapekeun cimata.

Nurut ngamalir. Sajam di jero. Nepi ka datang pangetrok ti luar. Panto dibuka. Rurujit kadua, anu sakali deui nganteur kanikmatan. Katilu, kaopat. Laju geus teu kaitung. Rasa dosa mingkin mangrupa kekebul. Kiwari dosa jadi pakasaban. Anjeun nu ngamimitian teuing di mana. Kareueutna babasaan ngahiang, waktu kuring wakca yȇn bulan teu datang-datang nincak itungan dua.

Satungtung sȇsa rurujit

pohoeun kȇnȇh kana dosa, dijual payu kȇnȇh, kuring moal balik.

(Valdasari, 2016: 120) Keramas untuk yang entah ke berapa kali.

Tampaknya nista tak mau beranjak juga. Di bawah pancuran, kutitipkan airmata. Ia mengalir dalam saluran air. Satu jam lamanya berdiam di kamar mandi. Sampai akhirnya aku didatangi pengetuk pintu. Pintu kubuka. Nista yang kedua, yang juga mengantarkan kami pada kenikmatan. Ketiga, Keempat. Lalu angka tidak terhitung lagi. Rasa berdosa semakin mengkerut seukuran bulir debu. Kini dosa menjadi makanan sehari-hari.

Kamu yang pertama menistaku entah di mana.

Si pemilik tuturan halus itu menghilang, ketika dalam hitungan bulan kedua tamuku tak pernah datang. Selama nista bisa melupakan dosa, masih laku dijual, aku tak akan pulang kampung.

RETORIS a. Reuni bubaran; Mobok manggih gorowong;

Poho di bumi alam, kawas pangantȇnan;

Duit dialungkeun bari pokna tȇh.

b. Sabeungeut

sapangaresep ngan bȇda pagawȇan. Bray panto muka. Dedegan jeung beungeutna sarimbag pisan.

c. “Punten, nya, Bu. Mung tiasa masihan sakieu.

(19)

221 sanȇs teu isin, sepi sasih

saum mah. Jabi unggal wengi sok aya rajia…”

d. Beda ieu mah ambeuna ogȇ; Teu lila kadȇngȇ sora halon naker tina biwirna.

“Astaghfirullaahaladzim

….”

e. Muhun teu acan ngalarisan-ngalarisan acan; Kabetot ku rasa sanasib, kanyaah medal;

Mun engkȇ meunang langganan, rȇk dibikeun ka manȇhna, gerentes hatȇ si jajaka, nu nyplȇs jeung gerentes hatȇ manȇhna.

f. Keukeuh rurujit teu daȇk nyingkah. Dina kucuran sower, mihapekeun cimata; Rasa dosa mingkin mangrupa kekebul. Kiwari dosa jadi pakasaban. Anjeun nu ngamimitian teuing di mana; Satungtung sȇsa rurujit pohoeun kȇnȇh kana dosa, dijual payu kȇnȇh, kuring moal balik.

Perempuan dan Perselingkuhan

Kisah perselingkuhan kini tampak semakin marak dengan kemudahan akses masyarakat untuk mendapatkan atau menyebarkan informasi tentang hal itu. Tidak jarang dalam perselingkuhan itu, pelaku meninggalkan pasangan dan anak-anaknya, lalu menikahi pasangan selingkuh.

Demikian mudah selingkuh dilakukan, meskipun akibat yang harus ditanggung sang pelaku kerapkali berkebalikan.

Kebanyakan, perempuan yang menerima dampak terburuk dari perselingkuhan tersebut, antara lain, seperti yang diungkap Nelson dalam kumparan.com, yaitu kehilangan dukungan finansial, terancam kehilangan anak mereka, dan bahkan

kehilangan nyawanya sendiri di beberapa negara. Seberapa besar tingkat perselingkuhan di berbagai negeri?

Beberapa media mengunggah serangkaian hasil lembaga survei tentang perselingkuhan. Segmen “Woman”, kumparan.com, mengunggah hasill survei Truth of Deception, menunjukkan bahwa ada sekitar 3.3000 orang perempuan yang pernah beberapa kali berselingkuh dan ada 5.6000 orang perempuan yang pernah menjalani perselingkuhan emosional. 53,1 persen atau sekitar 3.3000 orang responden perempuan mengatakan bahwa mereka pernah melakukan one night stand.

Kemudian, 53,4 persen atau 33,300 orang responden mengatakan bahwa mereka pernah berselingkuh lebih dari sekali.

Meski masih harus dikaji lebih lanjut secara ilmiah, secara garis besar, data tersebut menunjukkan mengenai banyaknya jumlah perempuan yang berselingkuh. General Social Survey AS, yang dipublikasikan oleh Institute for Family Studies (IFS) pada 2018, menyampaikan bahwa, secara garis besar, menunjukkan bahwa masih lebih banyak laki-laki yang berselingkuh, bila dibandingkan perempuan (20 persen banding 13 persen). Namun, statistik ini juga menunjukkan sebuah pola baru. Pada rentang usia 18-29, ada lebih banyak perempuan yang sudah menikah dan melakukan perselingkuhan (11 persen).

Sementara, dari kelompok usia yang sama, ada 10 persen laki-laki yang melakukan hal tersebut.

Kumparan juga menyebutkan hasil survey yang dilakukan oleh psychoanalyst asal Belgia, Esther Perel (2017) 2 , menunjukkan bahwa persentase perempuan yang sudah menikah dan berselingkuh telah meningkat hingga 40 persen sejak 1990.

Setia (2017) menyatakan bahwa JustDating, aplikasi pencari teman kencan, mengadakan sebuah survei dan menemukan bahwa 40 persen dari pria dan wanita Indonesia pernah berselingkuh dari pasangannya

2 dalam buku 'State of Affairs: Rethinking Infidelity'

(20)

222 apabila dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya. Thailand merupakan negara dengan jumlah orang yang tidak setia terbanyak, dengan hasil 50 persen. Singapura dan Taiwan hanya 30 persen. Malaysia merupakan orang Asia Tenggara yang paling setia dengan hasil hanya 20 persen. Hal penting lainnya, di negara-negara tersebut pria lebih banyak menyeleweng dari pasangannya. Akan tetapi di Indonesia malah sebaliknya.

Presentase wanita menyeleweng 10 persen lebih banyak daripada pria. Setia juga mengatakan bahwa 60 persen pria di Indonesia tidak menerima bahwa mereka diselingkuhi dan bertindak untuk meninggalkan pasangannya atau membalas dengan berselingkuh juga dengan wanita lain. Namun, wanita di Indonesia cenderung lebih mudah memaafkan dan memberikan pasangan mereka kesempatan kedua. Jika pasangan mereka kembali melakukan kesalahan yang sama, mereka akan segera meninggalkan pasangan mereka.

Alasan perempuan untuk melakukan perselingkuhan, antara lain, mereka tidak puas dengan hubungannya bersama pasangan, namun tak siap untuk meninggalkan pasangannya. Alasan lain, Kintan menyampaikan sebuah studi yang dipublikasikan dalam The Journal of Sex Research menyebutkan ada satu faktor yang paling banyak jadi alasan orang selingkuh.

Penelitian terhadap 495 orang dewasa itu mengungkapkan, 77% di antaranya beralasan karena kurangnya rasa cinta.

Rahayu (2011: xvii) menyamnpaikan bahwa Penelitian tentang perselingkuhan telah banyak dilakukan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Hasil penelitian yang berkaitan dengan perselingkuhan menyatakan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya perselingkuhan diantaranya adalah karena tidak adanya hubungan harmonis dalam keluarga, faktor ekonomi, sosial dan psikologi (Suciptawati dan Susilawati, 2006). Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa perselingkuhan merupakan pengalaman yang tragis dalam kehidupan yang dijalani para korbannya

(Regina dan Risnawaty, 2006). Penelitian lain juga dilakukan oleh Nirwana (2004) mengungkap tentang kecenderungan perselingkuhan ditinjau dari rasa kesepian.

“Tatangga” mengisahkan

perselingkuhan yang diawali dengan kehadiran tetangga baru. Tetangga tersebut seorang janda yang masih muda. Jika memerlukan bantuan, suami tokoh aku kerapkali dipanggil untuk melakukan perbaikan apa saja. Tanpa disadari tokoh aku, intensitas meminta bantuan dan memberikan bantuan mulai bergeser hakikatnya. Tokoh suami si aku tergoda oleh perempuan itu. Pada suatu hari, perselingkuhan itu terkuak, yang diungkapkan dalam kutipan berikut, Muka dapur. Barang gok, aya nu silihrangkul.

“Ucing Sumput” menyampaikan unsur sembunyi dalam perselingkuhan. Tokoh aku adalah perempuan simpanan yang absurd status perkawinannya. Namun, kalimat terakhir, maling kabagjaan nu lian.

Kata lian menunjukkan sesuatu yang tidak biasanya. Dalam hal ini, selingkuh tidak dilakukan oleh laki-laki dengan tipe bad boy, sebaliknya seorang family man.

Sesuatu yang tampak tidak biasa dalam dunia perselingkuhan. Sikap family man tersebut telah mengunci tokoh aku yang tidak mampu mendeteksi keganjilan yang dilakukan suaminya. Sementara itu, tokoh perempuan janda tersebut, tidak mampu mengatasi rasa kesepian yang dihadapinya ketika pasangannya semakin menjauhinya.

“Lain Iindiaan” menyampaikan gambaran pasangan yang sedang berselingkuh.

Namun, kencan mereka tersebut diganggu oleh sambungan telepon suami tokoh perempuan. Tokoh perempuan sedang kebingungan untuk mencari alasan agar suaminya tidak menaruh curiga. Alasan utama, perempuan itu tidak ingin berpisah dengan selingkuhannya. Kata marojȇngja bermakna seseorang yang sedang berada dalam kondisi yang sangat kompleks yang melibatkan rasa takut, gelisah, bingung, cemas karena harus menentukan satu di antara sekian banyak pilihan. Fiksi mini dengan lahan sempitnya mampu

Gambar

Tabel 4  PSK

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat yang bersamaan ketika terjadi kebocoran gas elpiji yang mengakibatkan tegangan keluaran komparator bernilai tinggi, maka rangkaian multivibrator bistabil akan

4 Kendaraan dengan sistem smart entry & start: Untuk mematikan mesin, tekan dan tahan engine switch selama lebih dari 2 detik atau lebih berturut-turut, atau menekannya 3

Berbagai jenis herbal dibudidayakan di wilayah tersebut, antara lain yang termasuk rimpang adalah temulawak, kunyit, bengle, dan jahe; yang berbentuk daun meliputi

Setelah melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru kelas V yang mengajar mata pelajaran Matematika di dalam kelas peneliti melihat hasil belajar

Kristanto (2008:55), “ data flow diagram/ DFD adalah suatu model logika atau proses yang dibuat untuk menggambarkan dari mana asal data dan ke mana tujuan data yang

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di bidang Farmasi dan pemanfaatan sumber pangan yang berupaya mencari sumber alternatif baru di laut yang dapat dimanfaatkan

The standards and interpretations that are issued by Financial Accounting Standards Board (DSAK) and the Sharia Accounting Standard Boards (DSAS), but not yet effective for

jangkauan yang dapat didengar atau audible range , tetapi kita juga menggunakan istilah bunyi untuk gelombang serupa dengan frekuensi diatas ( ultasonik ) dan di bawah