• Tidak ada hasil yang ditemukan

T E S I S. Oleh JULIANA IRAWATI /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "T E S I S. Oleh JULIANA IRAWATI /IKM"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

57

PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN FAKTOR ORGANISASI TERHADAP KINERJA BIDAN DESA DALAM PELAYANAN ANC

(ANTENATAL CARE) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN BABUL MAKMUR KABUPATEN

ACEH TENGGARA

T E S I S

Oleh

JULIANA IRAWATI 127032131/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(2)

58

PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN FAKTOR ORGANISASI TERHADAP KINERJA BIDAN DESA DALAM PELAYANAN ANC

(ANTENATAL CARE) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN BABUL MAKMUR KABUPATEN

ACEH TENGGARA

T E S I S

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

JULIANA IRAWATI 127032131/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(3)

59

Judul Tesis : PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN FAKTOR ORGANISASI TERHADAP KINERJA BIDAN DESA DALAM PELAYANAN ANC (ANTENATAL CARE) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN BABUL MAKMUR KABUPATEN ACEH TENGGARA

Nama Mahasiswa : Juliana Irawati Nomor Induk Mahasiswa : 127032131

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr. Juanita, S.E, M.Kes) (

Ketua Anggota

dr. Heldy B.Z, M.P.H)

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

Tanggal Lulus : 20 Agustus 2015

(4)

60 Telah diuji

Pada Tanggal : 20 Agustus 2015

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Juanita, S.E, M.Kes Anggota : 1. dr. Heldy B.Z, M.P.H

2. Siti Khadijah Nasution, S.K.M, M.Kes

3. Dr. Siti Saidah Nasution, S.Kep, M.Kep, Sp.Mat

(5)

61

PERNYATAAN

PENGARUH KARAKTERISTIK INDIVIDU DAN FAKTOR ORGANISASI TERHADAP KINERJA BIDAN DESA DALAM PELAYANAN ANC

(ANTENATAL CARE) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN BABUL MAKMUR KABUPATEN

ACEH TENGGARA

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, September 2015

Juliana Irawati 127032131/IKM

(6)

i ABSTRAK

Cakupan ANC (Antenatal Care) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babul Makmur tahun 2013 untuk Kl mencapai 81,1%, sementara target sebesar 95%

dan K4 mencapai 68,0%, sementara target sebesar 90%. Cakupan pelayanan ANC yang belum mencapai target merupakan salah satu indikator kinerja bidan yang belum optimal.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik individu (pengetahuan, masa kerja, tempat tinggal, pelatihan) dan faktor organisasi (persepsi tentang kepemimpinan dan supervisi) terhadap kinerja bidan desa dalam pelayanan ANC di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babulmakmur, Kabupaten Aceh Tenggara. Jenis penelitian survei explanatory. Penelitian ini dilaksanakan bulan Mei sampai dengan Juli 2014. Populasi dalam penelitian adalah seluruh bidan desa di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babul Makmur berjumlah 31 orang dan seluruh populasi dijadikan sampel. Data diperoleh dengan wawancara dan observasi menggunakan kuesioner, dianalisis dengan regresi berganda pada α=0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik karakteristik individu (pengetahuan, masa kerja, tempat tinggal, pelatihan) dan faktor organisasi (persepsi tentang kepemimpinan dan supervisi) berpengaruh terhadap kinerja bidan desa secara kualitas dan kuantitas dalam pelayanan ANC di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babul Makmur. Variabel pelatihan dan tempat tinggal berpengaruh lebih besar terhadap kinerja bidan desa secara kualitas dan kuantitas dalam pelayanan ANC.

Disarankan kepada (1) Puskesmas Kecamatan Babulmakmur dan Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tenggara untuk: (a) mengupayakan bidan desa mengikuti pendidikan lanjutan, pelatihan dan seminar secara bergantian untuk meningkatkan pengetahuan, (b) mengupayakan pembuatan kebijakan dalam merekrut bidan desa yang telah memiliki kompetensi dan berasal dari desa yang membutuhkan, sehingga bidan desa dapat tinggal di desa tempat tugasnya, (c) mengupayakan peningkatan supervisi oleh pimpinan Puskesmas secara rutin melalui pembinaan, bimbingan dan pengawasan dalam dalam pelaksanaan ANC, (d) mengupayakan melengkapi sarana dan fasilitas polindes. (2) Bidan desa yang telah menikah disarankan untuk membagi waktu antara tugas kerja sebagai bidan desa dengan waktu untuk kepentingan keluarga secara proporsional.

Kata Kunci : Karakteristik Individu, Faktor Organisasi, Kinerja Bidan Desa

(7)

ii ABSTRACT

The Coverage of ANC (Antenatal Care) in the working area of Babul Makmur Subdistrict Puskesmas (Public Health Service) in 2013 for K1 was 81.1% while the target was 95%, and for K4 was 68.0% while the target was 90%. The coverage of ANC service which did not reach the target indicated that midwives’ perfomance was not optimal.

The objective of the research was to analyze the influence of individual characteristics (knowledge, length of service, residence, and training) and organizational factors (perception on leadership and supervision) on the performance of village midwives in ANC service in the working area of Babul Makmur Subdistrict Puskesmas, Aceh Tenggara District. The research was an explanatory survey. It was conducted from May to July, 2014. The population was 31 village midwives in the working area of Babul Makmur Subdistict Puskesmas, and all of them were used as the samples. The data were gathered by conducting interviews and observation with questionnaires and analyzed by using multiple regression analysis at α = 0.05.

The result of the research showed that, statistically, individual characteristics (knowledge, length of service, residence, and training) and organizational factors (perception on leadership and supervision) influenced the performance of village midwives in qulitativety and quantitativety in ANC service in the working area of Babul Makmur Subdistrict Puskesmas. The variable of training and resident had more dominant influence on the performance of village midwives qulitativety and quantitativety in ANC service.

It is recommended that 1) Babul Makmur Subdistrict Puskesmas and the Health Service of Aceh Tenggara District a) motivate village midwives to participate in advanced education, training and seminar alternately to improve their knowledge, b) make a policy about renewing married midwives’ service and put them at auxiliary puskesmas so that their work is not bothered by family affairs, c) make a policy about the new recruitment, new midwives should come from the villages which need them, d) increase supervision by the management of puskesmas through fostering, guidance, and control and help village midwives solve their problems;

2) married midwives should be able to share their time between job and family affairs.

Keywords : Individual Characteristics, Organizational Factors, Village Midwives’

Performance

(8)

iii

KATA PENGANTAR

Segala Puji Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmat serta pertolonganNya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul " Pengaruh Karakteristik Individu dan Faktor Organisasi terhadap Kinerja Bidan Desa dalam Pelayanan ANC di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Babul Makmur Kabupaten Aceh Tenggara ".

Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Penulis, dalam menyusun tesis ini mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada :

1. Prof. Subhilhar, Ph.D selaku Pejabat Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

4. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

(9)

iv

5. Dr. Juanita, S.E, M.Kes selaku ketua komisi pembimbing dan dr. Heldy B.Z, M.P.H, selaku anggota komisi pembimbing yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis selesai.

6. Siti Khadijah Nasution, S.K.M, M.Kes, dan Dr. Siti Saidah Nasution, S.Kep, M.Kep, Sp.Mat, selaku komisi penguji tesis yang dengan penuh perhatian, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis selesai.

7. Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tenggara, Kepala Puskesmas Kecamatan Babul Makmur serta para staf yang telah membantu peneliti mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam penelitian.

8. Para dosen, staf dan semua pihak yang terkait di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

9. Secara istimewa rasa cinta dan terimakasih tak terhingga penulis persembahkan kepada Ayahanda tercinta Amiruddin S.Sos dan Ibunda Nurlela atas kasih sayang, perhatian, pengertian, pengorbanan, yang telah mengijinkan dan memberi dukungan moril dan materil serta doa yang tulus kepada penulis, sehingga bisa menyelesaikan pendidikan ini.

10. Rasa cinta dan terima kasih yang tulus saya tujukan kepada adik-adik saya yang tercinta yang selalu memberikan motivasi dan semangat, sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan.

(10)

v

11. Seluruh rekan-rekan mahasiswa di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat khususnya minat studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah membantu penulis dalam proses penulisan Tesis ini.

Penulis menyadari atas segala keterbatasan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini dengan harapan, semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi penelitian selanjutnya.

Medan, September 2015 Penulis

Juliana Irawati 127032131/IKM

(11)

vi

RIWAYAT HIDUP

Juliana Irawati, lahir pada tanggal 03 Juli 1989 di Kutacane, anak pertama dari enam bersaudara, pasangan Ayahanda Amiruddin S.Sos dan Ibunda Nurlela.

Pendidikan formal penulis dimulai dari pendidikan Sekolah Dasar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Kutacane dan selesai tahun 2001, Sekolah Menengah Pertama di pondok pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan dan selesai tahun 2004, Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri Perisai Kutacane dan selesai tahun 2007, STIKes Sari Mutiara Indonesia Medan dan selesai tahun 2011. Penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara sejak tahun 2012 hingga saat ini.

(12)

vii DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Permasalahan ... 9

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Hipotesis ... 9

1.5 Manfaat Penelitian ... 10

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Kinerja ... 11

2.1.1 Pengertian Kinerja ... 11

2.1.2 Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja ... 12

2.1.3 Penilaian Kinerja ... 14

2.2 Organisasi ... 18

2.2.1 Pengertian Organisasi... 18

2.2.2 Organisasi Kesehatan ... 18

2.3 Persepsi ... 21

2.4 ANC (Antenatal Care) ... 24

2.4.1 Pengertian ANC ... 24

2.4.2 Tujuan ANC ... 25

2.4.3 Pelayanan ANC ... 25

2.4.4 Standar Pelayanan Antenatal ... 28

2.5 Bidan ... 37

2.5.1 Pengertian Bidan ... 37

2.5.2 Pengertian Bidan Desa ... 38

2.5.3 Tujuan Penempatan Bidan Desa ... 38

2.5.4 Tugas Pokok dan Fungsi Bidan ... 39

2.5.5 Wewenang Bidan Desa ... 40

2.5.6 Kegiatan Pelayanan Kesehatan oleh Bidan Desa ... 41

2.5.7 Ruang Lingkup Pelayanan Kebidanan ... 43

2.6 Kinerja Bidan Desa ... 44

(13)

viii

2.7 Pusat Kesehatan Masyarakat ... 45

2.8 Landasan Teori ... 47

2.9 Kerangka Konsep ... 48

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 49

3.1 Jenis Penelitian ... 49

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 49

3.2.1 Lokasi Penelitian ... 49

3.2.2 Waktu Penelitian ... 49

3.3 Populasi dan Sampel ... 49

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 50

3.4.1 Data Primer ... 50

3.4.2 Data Sekunder ... 50

3.4.3 Validitas dan Reliabilitas ... 50

3.5 Variabel dan Definisi Operasional ... 52

3.5.1 Variabel Bebas ... 52

3.5.2 Variabel Terikat ... 53

3.6 Metode Pengukuran ... 54

3.6.1 Metode Pengukuran Variabel Bebas ... 54

3.6.2 Metode Pengukuran Variabel Terikat ... 55

3.7 Metode Analisis Data ... 56

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 57

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian... 57

4.1.1. Letak dan Geografis ... 57

4.1.2. Sarana Kesehatan ... 57

4.2 Analisis Univariat... 58

4.2.1 Identitas Responden ... 58

4.2.2 Karakteristik Individu ... 58

4.2.3 Faktor Organisasi ... 63

4.2.4. Kinerja ... 70

4.3 Analisis Bivariat ... 71

4.3.1 Hubungan Karakteristik Individu dengan Kinerja ... 71

4.3.2 Hubungan Faktor Organisasi dengan Kinerja ... 72

4.4 Analisis Multivariat ... 73

4.4.1 Pengaruh Karakteristik Individu dan Faktor Organisasi terhadap Kinerja Secara Kualitas ... 73

4.4.2 Pengaruh Karakteristik Individu dan Faktor Organisasi terhadap Kinerja Secara Kuantitas ... 78

BAB 5. PEMBAHASAN ... 79

5.1 Karakteristik Individu ... 79

5.1.1 Pengetahuan ... 79

(14)

ix

5.1.2 Masa Kerja ... 80

5.1.3 Tempat Tinggal ... 81

5.1.4 Pelatihan ... 82

5.2 Pengaruh Karakteristik Individu terhadap Kinerja Bidan Desa ... 84

5.2.1 Pengaruh Pengetahuan terhadap Kinerja Bidan Desa ... 84

5.2.2 Pengaruh Masa Kerja terhadap Kinerja Bidan Desa ... 84

5.2.3 Pengaruh Tempat Tinggal terhadap Kinerja Bidan Desa ... 85

5.2.4 Pengaruh Pelatihan terhadap Kinerja Bidan Desa ... 86

5.3 Faktor Organisasi ... 86

5.3.1 Persepsi tentang Kepemimpinan ... 87

5.3.2 Persepsi tentang Supervisi ... 87

5.4 Pengaruh Faktor Organisasi terhadap Kinerja Bidan Desa ... 88

5.4.1 Pengaruh Persepsi tentang Kepemimpinan terhadap Kinerja Bidan Desa ... 88

5.4.2 Pengruh Persepsi tentang Supervisi terhadap Kinerja Bidan Desa ... 89

5.5 Kinerja Bidan Desa ... 90

5.6 Keterbatasan Penelitian ... 91

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 93

6.1 Kesimpulan ... 93

6.2 Saran ... 94

DAFTAR PUSTAKA ... 95

LAMPIRAN ... 100

(15)

x

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1.1 Cakupan Pelayanan ANC di Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013 ... 5

2.1 Jenis Layanan di Setiap Trimester dan Nilai Normal Fisiologis Kehamilan ... 35

2.2 Jenis Layanan ANC per Trimester ... 37

3.1 Metode Pengukuran Variabel Bebas ... 54

3.2 Metode Pengukuran Variabel Terikat ... 55

4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Identitas Responden ... 58

4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan ... 60

4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Pengetahuan ... 62

4.4. Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja ... 62

4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Tempat Tinggal ... 62

4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Pelatihan ... 63

4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi tentang Kepemimpinan ... 64

4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Persepsi tentang Kepemimpinan ... 64

4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Persepsi tentang Supervisi ... 66

4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Persepsi tentang Supervisi ... 67

4.11 Distribusi Responden Berdasarkan Kinerja ... 69

4.12 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Kinerja ... 69

4.13 Distribusi Responden Berdasarkan Capaian Kinerja ... 70 4.14 Hubungan Karakteristik Individu dan Faktor Organisasi dengan Kinerja . 73

(16)

xi

4.15 Uji Kelayakan Model ... 74 4.16 Hasil Pengujian Secara Serentak ... 74 4.17 Hasil Uji Regresi Berganda Pengaruh Karakteristik Individu dan Faktor

Organisasi terhadap Kinerja Secara Kualitas ... 75 4.18 Hasil Uji Regresi Berganda Pengaruh Karakteristik Individu dan Faktor

Organisasi terhadap Kinerja Secara Kuantitas ... 78

(17)

xii

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Bagan Susunan Organisasi Puskesmas ... 20

2.2 Proses Pembentukan Persepsi ... 22

2.3 Landasan Teori ... 47

2.4 Kerangka Konsep Penelitian ... 48

(18)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1 Kuesioner Penelitian ... 100

2 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 106

3 Uji Univariat dan Bivariat ... 107

4 Uji Multivariat ... 120

5 Surat izin penelitian dari Program Studi S2 IKM FKM USU Medan ... 122

6 Surat izin selesai penelitian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tenggara ... 123

(19)

i ABSTRAK

Cakupan ANC (Antenatal Care) di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babul Makmur tahun 2013 untuk Kl mencapai 81,1%, sementara target sebesar 95%

dan K4 mencapai 68,0%, sementara target sebesar 90%. Cakupan pelayanan ANC yang belum mencapai target merupakan salah satu indikator kinerja bidan yang belum optimal.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik individu (pengetahuan, masa kerja, tempat tinggal, pelatihan) dan faktor organisasi (persepsi tentang kepemimpinan dan supervisi) terhadap kinerja bidan desa dalam pelayanan ANC di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babulmakmur, Kabupaten Aceh Tenggara. Jenis penelitian survei explanatory. Penelitian ini dilaksanakan bulan Mei sampai dengan Juli 2014. Populasi dalam penelitian adalah seluruh bidan desa di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babul Makmur berjumlah 31 orang dan seluruh populasi dijadikan sampel. Data diperoleh dengan wawancara dan observasi menggunakan kuesioner, dianalisis dengan regresi berganda pada α=0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik karakteristik individu (pengetahuan, masa kerja, tempat tinggal, pelatihan) dan faktor organisasi (persepsi tentang kepemimpinan dan supervisi) berpengaruh terhadap kinerja bidan desa secara kualitas dan kuantitas dalam pelayanan ANC di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babul Makmur. Variabel pelatihan dan tempat tinggal berpengaruh lebih besar terhadap kinerja bidan desa secara kualitas dan kuantitas dalam pelayanan ANC.

Disarankan kepada (1) Puskesmas Kecamatan Babulmakmur dan Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tenggara untuk: (a) mengupayakan bidan desa mengikuti pendidikan lanjutan, pelatihan dan seminar secara bergantian untuk meningkatkan pengetahuan, (b) mengupayakan pembuatan kebijakan dalam merekrut bidan desa yang telah memiliki kompetensi dan berasal dari desa yang membutuhkan, sehingga bidan desa dapat tinggal di desa tempat tugasnya, (c) mengupayakan peningkatan supervisi oleh pimpinan Puskesmas secara rutin melalui pembinaan, bimbingan dan pengawasan dalam dalam pelaksanaan ANC, (d) mengupayakan melengkapi sarana dan fasilitas polindes. (2) Bidan desa yang telah menikah disarankan untuk membagi waktu antara tugas kerja sebagai bidan desa dengan waktu untuk kepentingan keluarga secara proporsional.

Kata Kunci : Karakteristik Individu, Faktor Organisasi, Kinerja Bidan Desa

(20)

ii ABSTRACT

The Coverage of ANC (Antenatal Care) in the working area of Babul Makmur Subdistrict Puskesmas (Public Health Service) in 2013 for K1 was 81.1% while the target was 95%, and for K4 was 68.0% while the target was 90%. The coverage of ANC service which did not reach the target indicated that midwives’ perfomance was not optimal.

The objective of the research was to analyze the influence of individual characteristics (knowledge, length of service, residence, and training) and organizational factors (perception on leadership and supervision) on the performance of village midwives in ANC service in the working area of Babul Makmur Subdistrict Puskesmas, Aceh Tenggara District. The research was an explanatory survey. It was conducted from May to July, 2014. The population was 31 village midwives in the working area of Babul Makmur Subdistict Puskesmas, and all of them were used as the samples. The data were gathered by conducting interviews and observation with questionnaires and analyzed by using multiple regression analysis at α = 0.05.

The result of the research showed that, statistically, individual characteristics (knowledge, length of service, residence, and training) and organizational factors (perception on leadership and supervision) influenced the performance of village midwives in qulitativety and quantitativety in ANC service in the working area of Babul Makmur Subdistrict Puskesmas. The variable of training and resident had more dominant influence on the performance of village midwives qulitativety and quantitativety in ANC service.

It is recommended that 1) Babul Makmur Subdistrict Puskesmas and the Health Service of Aceh Tenggara District a) motivate village midwives to participate in advanced education, training and seminar alternately to improve their knowledge, b) make a policy about renewing married midwives’ service and put them at auxiliary puskesmas so that their work is not bothered by family affairs, c) make a policy about the new recruitment, new midwives should come from the villages which need them, d) increase supervision by the management of puskesmas through fostering, guidance, and control and help village midwives solve their problems;

2) married midwives should be able to share their time between job and family affairs.

Keywords : Individual Characteristics, Organizational Factors, Village Midwives’

Performance

(21)

xiv BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurunkan angka kematian ibu dan bayi masih merupakan prioritas utama pembangunan kesehatan di Indonesia. Pembangunan bidang kesehatan merupakan bagian terpenting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia terkait dengan pendidikan, status kesehatan dan ekonomi tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurut UNDP (United Nations Development Program, 2013) nilai IPM Indonesia pada tahun 2012

meningkat menjadi 0,629, naik tiga posisi ke peringkat 121 dari peringkat 124 pada 2011 (0,624), dari 187 negara. Umur harapan hidup meningkat dari 69,4 tahun pada tahun 2011 menjadi 69,8 tahun pada tahun 2012. Meski naik tiga peringkat, IPM Indonesia masih di bawah rata-rata dunia 0,694 dan dikategorikan sebagai “Negara Pembangunan Menengah” bersama 45 negara lainnya.Meningkat atau menurunnya IPM ini dipengaruhi oleh salah satu faktor, yaitu Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) (UNDP, 2013).

Pemerintah secara intern maupun bekerjasama dengan UNICEF (United Nations International Children's Emergency Fund) telah melakukan upaya untuk

menurunkan angka kematian ibu, bentuk upaya tersebut tertuang dalam program Safe Motherhood Initiative. Program ini bertujuan menurunkan angka kematian ibu dan

memastikan bahwa setiap ibu mendapatkan kesempatan untuk melahirkan bayi dalam kondisi yang aman dan sehat. Walaupun upaya telah banyak dilakukan namun AKI

(22)

xv

selama dua dekade terakhir ini tidak menunjukkan penurunan yang berarti. Selain angka kematian, masalah kesehatan ibu dan anak juga menyangkut angka kesakitan atau morbiditas, demikian pula dengan penyakit-penyakit yang diderita oleh ibu hamil ketika akan, sedang atau setelah persalinan masih tetap menjadi masalah kesehatan (Depkes RI, 2005)

Menurut Depkes RI (2007), beberapa penyebab kematian ibu seperti (1) pendarahan (42%) akibat atonia uteri; (2) eklamsia dan komplikasi abortus (11%);

(3) infeksi (10%) sebagai akibat pencegahan dan manajemen infeksi yang kurang baik; (4) persalinan lama (9%); (5) faktor lain (28%). Penyebab kematian neonatal di Indonesia adalah: (1) gangguan pernapasan (37%); (2) prematuritas (34%); (3) sepsis (12%). Secara umum kematian ibu dan bayi saat proses persalinan disebabkan oleh 3T berupa: (1) terlambat mengenali bahaya dan memutuskan mencari pertolongan;

(2) terlambat merujuk ke rumah sakit; dan (3) terlambat mendapat pertolongan dan pemberian pelayanan kesehatan.

Salah satu upaya untuk mempercepat penurunan AKI dan AKB adalah peran tenaga sumber daya manusia dalam memberikan pelayanan kesehatan pada ibu hamil dan bersalin dengan meningkatkan cakupan pelayanan ANC, yaitu pemeriksaan kehamilan ibu dan janin secara berkala, yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan melalui penempatan bidan di puskesmas, sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang tenaga bidan desa sebagai salah satu upaya menurunkan AKI dan AKB di Indonesia melalui surat edaran Direktur Jenderal Binkesmas No.429/Binkesmas/DJ/II/89, yang bertujuan agar seluruh desa di Indonesia memiliki bidan desa (Depkes RI, 1999).

(23)

xvi

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 cakupan pelayanan antenatal bagi ibu hamil semakin meningkat. Cakupan pelayanan antenatal pertama kali tanpa memandang trimester kehamilan (K1 akses) meningkat dari 92,7% pada tahun 2010 menjadi 95,2% pada tahun 2013. Peningkatan akses ini juga sejalan dengan cakupan ibu hamil yang mendapat pelayanan antenatal pertama pada trimester pertama kehamilan (K1 Trimester 1), yaitu dari 72,3% pada tahun 2010 menjadi 81,3% pada tahun 2013. Cakupan pelayanan antenatal sekurang-kurangnya empat kali kunjungan (K4) juga meningkat dari 61,4% pada tahun 2010 menjadi 70,0%

pada tahun 2013. Tenaga yang paling banyak memberikan pelayanan ANC (Antenatal Care) adalah bidan (88%) dan tempat pelayanan ANC paling banyak diberikan di praktek bidan (52,5%). Masih terdapat 10,2 persen bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), yaitu kurang dari 2.500 gram (Kemenkes RI, 2013)

Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 AKI di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara lain di Asia, demikian juga dengan AKB. AKI menurut SDKI 2007 adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup dan menurut SDKI 2012 meningkat menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup BKKBN, 2013). Indonesia berkomitmen untuk mencapai tujuan MDGs (Millenium Development Goals), khususnya menurunkan AKI dari 228 menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB dari 34 menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup dan AKN (Angka Kematian Neonatus) dari 19 per 1.000 kelahiran hidup pada 2007 akan terus menurun di tahun 2015.

AKI di Provinsi Aceh tahun 2012 sebesar 192/100.000 kelahiran hidup.

Jumlah kematian ibu pada tahun 2012 sebanyak 170 kasus. AKB 8/1.000 kelahiran hidup dan angka kematian Balita 12,1/1.000 kelahiran hidup (Dinkes Provinsi Aceh,

(24)

xvii

2013). Cakupan kunjungan ibu hamil K1 sebanyak 95,80% dan cakupan kunjungan ibu hamil K4 sebanyak 83,95% (Kemenkes RI, 2013).

Salah satu Kabupaten di Provinsi Aceh adalah Kabupaten Aceh Tenggara.

AKI di Kabupaten Aceh Tenggara pada tahun 2013 adalah sebesar 137/100.000 kelahiran hidup dan jumlah kematian ibu maternal sebanyak 6 orang. Data cakupan K1 di Kabupaten Aceh Tenggara tahun 2013 sebanyak 96,2% dan cakupan K4 tahun 2013 sebanyak 88,2% (Dinkes Aceh Tenggara, 2013).

Kabupaten Aceh Tenggara memiliki 16 kecamatan. Salah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara adalah Kecamatan Babulmakmur. Kecamatan ini memiliki pencapaian cakupan K1 dan K4 belum optimal, yaitu tahun 2013 K1 sebesar 81,1%, sementara target sebesar 95%, cakupan K4 tahun 2013 sebesar 68,0%, sementara target sebesar 90%. Jumlah ibu yang meninggal 1 orang dan jumlah bayi yang meninggal 9 orang. Cakupan pelayanan ANC disajikan pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Cakupan Pelayanan ANC di Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013

No Puskesmas Cakupan

K1 (%)

Target (%)

Cakupan K4 (%)

Target (%)

1 Lawe Sigala-gala 96,2 95 95,0 90

2 Semadam 94,9 95 93,6 90

3 Bukit Tusam 93,4 95 98,6 90

4 Bambel 96,9 95 93,6 90

5 Lawe Sumur 98,9 95 92,1 90

6 Babussalam 96,7 95 94,8 90

7 Babul Makmur 81,1 95 68,0 90

8 Lawe Bulan 97,4 95 94,8 90

9 Lawe Alas 96,7 95 95,0 90

10 Babul Rahmah 94,1 95 91,1 90

11 Badar 95,1 95 90,6 90

12 Darul Hasanah 96,1 95 91,1 90

13 Ketambe 96,0 95 90,4 90

14 Deleng Pokhisen 96,7 95 93,5 90

15 Tanoh Alas 96,2 95 85,0 90

16 Lauser 94,8 95 89,9 90

Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tenggara, 2013.

(25)

xviii

Dari data tersebut wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babulmakmur merupakan puskesmas yang memiliki cakupan ANC terendah dari 16 kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Aceh Tenggara pada tahun 2013 dan belum mencapai target standar cakupan ANC. Hal ini memberikan salah satu gambaran bahwa kinerja bidan desa dalam pelayanan ANC belum optimal.

Menurut Kemenkes RI (2010) kinerja utama bidan di desa adalah melaksanakan KIA, khususnya dalam mendukung pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas, pelayanan kesehatan bayi dan anak balita, serta pelayanan KB. Bidan desa merupakan ujung tombak dalam pembangunan kesehatan. Secara organisasi kinerja bidan desa berhubungan langsung dengan pelayanan kesehatan masyarakat seperti pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam rangka penurunan AKI dan AKB, sehingga bidan memiliki peran yang besar dalam proses reproduksi dan persalinan, kesehatan ibu dan anak serta program keluarga berencana. Kinerja bidan desa dalam hal ini berbasis masyarakat, dan secara organisasi disupervisi oleh pimpinan puskesmas. Gibson et al. (2003), menyatakan bahwa kinerja adalah tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja secara individual dalam suatu organisasi dipengaruhi oleh

beberapa variabel, yaitu (1) variabel individual, (2) variabel psikologi, dan (3) variabel organisasi. Ketiga kelompok variabel tersebut memengaruhi perilaku

kerja yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kinerja personal.

Beberapa penelitian yang menunjukkan adanya pengaruh karakteristik individu dan faktor organisasi terhadap kinerja, seperti penelitian Van Eijk et al

(26)

xix

(2006) menyimpulkan bahwa didaerah pedesaan Asembo (Rarieda Divisi) dan Gem (Wagai dan Yala Divisi) Kenya Barat, pemanfaatan layanan ANC tinggi, namun sarana pelayanan kesehatan yang tersedia belum dimanfaatkan secara maksimal karena sebanyak 80% ibu hamil yang melahirkan ditolong di luar fasilitas kesehatan (42% ditolong dukun bayi, 36% dibantu tetangga, sedangkan 22% tidak mendapat bantuan) dan hampir 1 dari 5 ibu hamil yang melahirkan tidak mendapat bantuan tenaga kesehatan.

Hasil penelitian Basri (2008) yang meneliti kinerja bidan desa di Kabupaten Aceh Tenggara juga menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara karakteristik individu dan karakteristik organisasi terhadap kinerja. Hasil penelitian Kartika (2012) menyimpulkan bahwa supervisi berpengaruh signifikan terhadap kinerja bidan desa dalam pelaksanaan Jampersal di Puskesmas Borbor, Kabupaten Toba Samosir dan secara fisik kebutuhan pokok bidan desa untuk keperluan hidup sehari-hari belum sepenuhnya terpenuhi, sehingga kinerjanya belum optimal.

Hasil penelitian Rostiati (2011) menyimpulkan bahwa beberapa bidan masih belum melakukan secara tepat pelaksanaan pelayanan ANC, sehingga kontinuitas pelatihan perlu ditingkatkan. Kontinuitas pelatihan ini diharapkan dapat bekerjasama dengan Dinas Kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan bidan dalam memberikan pelayanan ANC pada ibu hamil.

Beberapa kemungkinan penyebab ibu tidak memeriksakan kesehatan kehamilannya menurut Depkes RI (2000), yaitu : (1) ibu tidak mengetahui perlunya memeriksakan kehamilan dan hanya mengandalkan cara-cara tradisional, (2) fasilitas

(27)

xx

untuk pelayanan antenatal tidak memadai, tidak berfungsi sebagaimana mestinya, harus menunggu lama, perlakuan petugas yang kurang memuaskan, (3) beberapa ibu tidak mengetahui mereka harus memeriksakan kehamilannya, sehingga ibu tidak melakukannya, (4) transportasi yang sulit, baik bagi ibu untuk memeriksakan kehamilan maupun bagi bidan untuk mendatangi mereka, (5) kurangnya dukungan tradisi dan keluarga yang tidak mengizinkan seorang wanita meninggalkan rumah untuk memeriksakan kehamilannya, (6) takhayul dan keraguan untuk memeriksa kehamilan kepada petugas kesehatan, (7) ketidakpercayaan atau ketidaksenangan pada tenaga kesehatan secara umum, beberapa anggota masyarakat tidak mempercayai semua petugas kesehatan pemerintah, (8) ibu dan/atau anggota keluarga tidak mampu membayar atau tidak mempunyai waktu untuk memeriksakan kehamilan.

Survei pendahuluan dilakukan terhadap 5 orang ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babulmakmur pada bulan Maret 2014 diperoleh informasi ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya menyatakan bahwa kehamilan merupakan hal biasa bagi setiap wanita, sehingga tidak begitu perlu dilakukan pemeriksaan secara khusus dan rutin. Ketersediaan obat bantuan pemerintah di puskesmas tidak lengkap oleh sebab itu kadang-kadang harus dibeli diluar puskesmas, sehingga ibu hamil enggan untuk memeriksakan kehamilannya pada bidan desa di puskesmas. Berdasarkan hasil survei di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ibu hamil belum sepenuhnya mengetahui tanda-tanda bahaya pada kehamilan dan persalinan.

(28)

xxi

Survei pendahuluan juga dilakukan pada 5 orang bidan desa di wilayah kerja organisasi Puskesmas Kecamatan Babulmakmur. Berdasarkan faktor karakteristik individu bidan desa diperoleh informasi bahwa sebagian besar tidak tinggal di desa tempat bertugas, masih muda (baru menyelesaikan pendidikan) dan kurang memiliki pengalaman. Sedangkan faktor organisasi; (1) supervisi tidak secara rutin dilakukan oleh pimpinan maupun oleh bidan koordinator KIA dalam pelaksanaan standar ANC begitu juga dari dinas kesehatan, (2) sebagian besar belum pernah mengikuti pelatihan tentang ANC, (3) dukungan, bimbingan dan pengarahan oleh kepala puskesmas dalam pelayanan ANC dirasakan masih kurang, (4) bidan desa jarang berkomunikasi dengan kepala puskesmas karena pekerjaan yang harus dilaksanakan lebih banyak di desa. Berdasarkan faktor karakteristik individu dan faktor organisasi yang sedemikian rupa maka perlu dukungan pimpinan puskesmas untuk mengoptimalkan kinerja bidan desa dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat.

Secara psikologis sudah ada kebijakan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tenggara dalam pemberian insentif khususnya insentif dalam bentuk finansial untuk bidan yang kinerjanya baik namun faktor psikologis lainnya seperti; kepribadian, sikap, dan pembelajaran merupakan hal yang kompleks, sulit diukur dan sukar mencapai kesepakatan tentang pengertian dari variabel tersebut karena seorang individu masuk dan bergabung dengan organisasi kerja pada usia, etnis, latar belakang budaya dan keterampilan yang berbeda satu dengan lainnya.

(29)

xxii

Kinerja bidan desa yang belum optimal, diduga pemahaman bidan desa tentang perannya sebagai bidan belum baik, sehingga cakupan pelayanan yang ditetapkan belum tercapai dan masih adanya kematian ibu dan bayi pada masa persalinan yang merupakan kinerja bidan di desa secara organisasi. Berdasarkan fenomena di atas perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh karakteristik individu dan faktor organisasi terhadap kinerja bidan desa dalam pelayanan ANC, sebagai salah satu upaya menurunkan AKI dan AKB di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babulmakmur Kabupaten Aceh Tenggara.

1.2 Permasalahan

Bagaimana pengaruh karakteristik individu (pengetahuan, masa kerja, tempat tinggal, pelatihan) dan faktor organisasi (persepsi tentang kepemimpinan dan supervisi) terhadap kinerja bidan desa dalam pelayanan ANC di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babulmakmur, Kabupaten Aceh Tenggara ?

1.3 Tujuan Penelitian

Menganalisis pengaruh karakteristik individu (pengetahuan, masa kerja, tempat tinggal, pelatihan) dan faktor organisasi (persepsi tentang kepemimpinan dan supervisi) terhadap kinerja bidan desa dalam pelayanan ANC di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babulmakmur, Kabupaten Aceh Tenggara.

1.4 Hipotesis

Ada pengaruh karakteristik individu (pengetahuan, masa kerja, tempat tinggal, pelatihan) dan faktor organisasi (persepsi tentang kepemimpinan dan supervisi)

(30)

xxiii

terhadap kinerja bidan desa dalam pelayanan ANC di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babulmakmur, Kabupaten Aceh Tenggara.

1.5 Manfaat Penelitian

1) Bagi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tenggara, penelitian ini diharapkan sebagai masukan untuk menentukan kebijakan pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam rangka penurunan AKI dan AKB di Kecamatan Babul Makmur, Kabupaten Aceh Tenggara.

2) Bagi bidan desa sebagai bahan informasi untuk melakukan langkah-langkah yang strategis mengoptimalkan kinerja dalam pelayanan ANC.

3) Bagi peneliti dapat menambah wawasan, memperkaya konsep dan pemahaman tentang kinerja bidan desa dalam pelayanan KIA.

(31)

xxiv BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kinerja

2.1.1 Pengertian Kinerja

Kinerja (work performance/job performance) merupakan hasil yang dicapai seseorang sesuai ukuran yang berlaku untuk bidang pekerjaannya. Menurut Robbins (2006), kinerja merupakan ukuran hasil kerja yang mana hal ini menggambarkan sejauh mana aktivitas seseorang dalam melaksanakan tugas dan berusaha dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.

Menurut McCormick dan Tiffin (1979), kinerja individu berhubungan dengan individual variable dan situational variable. Perbedaan individu akan menghasilkan kinerja yang berbeda pula. Individual variable adalah variabel yang berasal dari dalam diri individu yang bersangkutan, misalnya kemampuan, kepentingan, dan kebutuhan-kebutuhan tertentu. Sedangkan situational variable adalah variabel yang bersumber dari situasi pekerjaan yang lebih luas (lingkungan organisasi), misalnya pelaksanaan supervisi, karakteristik pekerjaan, hubungan dengan sekerja dan pemberian imbalan.

Sementara kinerja menurut Mangkunegara (2002), adalah hasil kerja secara kuantitas dan kualitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Baik tidaknya karyawan dalam menjalankan tugas yang diberikan perusahaan dapat diketahui

(32)

xxv

dengan melakukan penilaian terhadap kinerja karyawannya. Penilaian kinerja merupakan alat yang sangat berpengaruh untuk mengevaluasi kerja karyawan bahkan dapat memotivasi dan mengembangkan karyawan.

Berdasarkan pengertian di atas kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dicapai oleh seseorang dalam hal ini adalah bidan di desa. Kinerja yang dicapai oleh seorang bidan di desa dapat dinilai berdasarkan kuantitas dan kualitas dalam penyelesaian pekerjaan melalui pengetahuan, kemampuan dan kreativitas yang dimiliki oleh bidan di desa yang dapat dilihat dari pencapaian cakupan ANC.

2.1.2 Faktor-faktor yang Memengaruhi Kinerja

Mangkunegara (2002), mengemukakan bahwa faktor yang memengaruhi kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi (motivation).

a. Faktor Kemampuan (ability).

Karyawan yang memiliki pengetahuan yang memadai untuk jabatnnya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaannya sehari hari, maka ia lebih mudah untuk mencapai kinerja yang diharapkan.

b. Faktor Motivasi (motivation).

Motivasi terbentuk dari sikap karyawan dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang terarah untuk mencapai tujuan kerja atau organisasi.

Pimpinan organisasi sangat menyadari adanya perbedaan kinerja antara satu karyawan dengan karyawan lainnya yang berada dibawah pengawasannya. Secara garis besar, perbedaan kinerja ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor individu

(33)

xxvi

dan situasi kerja. Menurut Gibson et al. (2003), ada tiga perangkat variabel yang memengaruhi perilaku seseorang dalam bekerja , yaitu:

1 Variabel individual, terdiri dari: (a) kemampuan dan keterampilan, (b) latar belakang (c) demografis.

2. Variabel Organisasional, terdiri dari: (a) sumber daya, (b) kepemimpinan, (c) imbalan, (d) struktur, dan (e) desain pekerjaan.

3. Variabel Psikologis, terdiri dari: (a) persepsi, (b) sikap, (c) kepribadian, (d) belajar, (e) motivasi

Robbins (2006), menambahkan dimensi baru yang menentukan kinerja seseorang, yaitu kesempatan. Menurutnya, meskipun seseorang bersedia (motivasi) dan mampu (kemampuan). Mungkin ada rintangan yang menjadi kendala kinerja seseorang, yaitu kesempatan yang ada, mungkin berupa lingkungan kerja tidak mendukung, peralatan, pasokan bahan, rekan kerja yang tidak mendukung prosedur yang tidak jelas dan sebagainya.

Menurut Timpe (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang, seperti ; kemampuan, ketrampilan, sikap, perilaku, tanggung jawab, motivasi karyawan, misalnya kinerja seseorang baik disebabkan karena kemampuan tinggi dan seseorang itu tipe pekerja keras, sedangkan seseorang mempunyai kinerja jelek disebabkan orang tersebut mempunyai kemampuan rendah dan orang tersebut tidak berusaha untuk memperbaiki kemampuan. Faktor eksternal, yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja

(34)

xxvii

seseorang yang berasal dari lingkungan, seperti perilaku, sikap dan tindakan-tindakan rekan kerja, bawahan atau pimpinan, fasilitas kerja dan iklim organisasi.

Menurut Mangkuprawira dan Vitayala (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah faktor intrinsik yang meliputi mutu karyawan yang berupa pendidikan, pengalaman, motivasi, kesehatan, usia, ketrampilan emosi, spiritual, sedangkan faktor ekstrinsik meliputi lingkungan kerja fisik dan non fisik, kepemimpinan, komunikasi vertikal dan horizontal, kompensasi, kontrol berupa penyeliaan, fasilitas, pelatihan, beban kerja, proses kerja, sistem imbalan, dan hukuman.

2.1.3 Penilaian Kinerja

Menurut Rivai (2005), penilaian kinerja merupakan kajian sistematis tentang kondisi kerja karyawan yang dilaksanakan secara formal yang dikaitkan dengan standar kerja yang telah ditentukan perusahaan. Penilaian kinerja merupakan proses yang dilakukan perusahaan dalam mengevaluasi kinerja pekerjaan seseorang, meliputi dimensi kinerja karyawan dan akuntabilitas.

Menurut Rivai (2005) pada dasarnya ada dua model penilaian kinerja : 1. Penilaian Kinerja Berorientasi Masa Lalu

(a) Skala Peringkat (Rating Scale)

Metode ini merupakan metode yang paling tua yang digunakan dalam penilaian prestasi, di mana para penilai diharuskan melakukan suatu penilaian yang berhubungan dengan hasil kerja karyawan dalam skala-skala tertentu, mulai dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi.

(35)

xxviii (b) Daftar Pertanyaan (Checklist)

Metode ini menggunakan formulir isian yang menjelaskan beraneka macam tingkat perilaku bagi suatu pekerjaan tertentu. Penilai hanya perlu kata atau pertanyaan yang mengambarkan karakteristik dan hasil kerja karyawan. Keuntungan dari cheklist adalah biaya yang murah, pengurusannya mudah, penilai hanya membutuhkan pelatihan yang sederhana dan distandarisasi.

(c) Metode dengan Pilihan Terarah

Metode ini dirancang untuk meningkatkan objektivitas dan mengurangi subjektivitas dalam penilaian. Salah satu sasaran dasar pendekatan pilihan ini adalah untuk mengurangi dan menyingkirkan kemungkinan berat sebelah penilaian dengan memaksa suatu pilihan antara pernyataan-pernyataan deskriptif yang kelihatannya mempunyai nilai yang sama.

(d) Metode Peristiwa Kritis (Critical Incident Method)

Metode ini bermanfaat untuk memberi karyawan umpan balik yang terkait langsung dengan pekerjaannya.

(e) Metode Catatan Prestasi

Metode ini berkaitan erat dengan metode peristiwa kritis, yaitu catatan penyempurnaan, yang banyak digunakan terutama oleh para profesional, misalnya penampilan, kemampuan berbicara, peran kepemimpinan dan aktivitas lain yang berhubungan dengan pekerjaan.

(f) Skala Peringkat dikaitkan dengan Tingkah Laku (Behaviorally Anchored Rating Scale=BARS). Penggunaan metode ini menuntut diambilnya tiga langkah, yaitu:

(36)

xxix

1) Menentukan skala peringkat penilaian prestasi kerja 2) Menentukan kategori prestasi kerja dengan skala peringkat

3) Uraian prestasi kerja sedemikian rupa sehingga kecenderungan perilaku karyawan yang dinilai dengan jelas.

(g) Metode Peninjauan Lapangan (Field Review Method)

Di sini penilai turun ke lapangan bersama-sama dengan ahli dari SDM. Spesialis SDM mendapat informasi dari atasan langsung perihal karyawannya, lalu mengevaluasi berdasarkan informasi tersebut.

(h) Tes dan Observasi Prestasi Kerja (Performance Test and Observation)

Karyawan dinilai, diuji kemampuannya, baik melalui ujian tertulis yang menyangkut berbagai hal seperti tingkat pengetahuan tentang prosedur dan mekanisme kerja yang telah ditetapkan dan harus ditaati atau melalui ujian parktik yang langsung diamati oleh penilai.

(i) Pendekatan Evaluasi Komparatif (Comparative Evaluation Approach)

Metode ini mengutamakan perbandingan prestasi kerja seseorang dengan karyawan lain yang menyelenggarakan kegiatan sejenis.

2. Penilaian Kinerja Berorientasi Masa Depan a. Penilaian Diri Sendiri (Self Appraisal)

Penilaian diri sendiri adalah penilaian yang dilakukan oleh karyawan sendiri dengan harapan karyawan tersebut dapat lebih mengenal kekuatan-kekuatan dan kelemahan dirinya sehingga mampu mengidentifikasi aspek-aspek perilaku kerja yang perlu diperbaiki pada masa yang akan datang.

(37)

xxx

b. Manajemen Berdasarkan Sasaran (Management by Objective)

Merupakan suatu bentuk penilaian di mana karyawan dan penyelia bersama- sama menetapkan tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran pelaksanaan kerja karyawan secara individu di waktu yang akan datang.

c. Penilaian dengan Psikolog

Penilaian ini lazimnya dengan teknik terdiri atas wawancara, tes psikologi, diskusi-diskusi dengan penyelia-penyelia.

3. Penilaian Atasan Langsung

Pada organisasi dengan tingkat manajemen majemuk, personel biasanya dinilai oleh manajer yang tingkatnya lebih tinggi. Penilaian termasuk yang dilakukan oleh penyelia atau atasan langsung kepadanya laporan kerja personel disampaikan.

Penilaian ini dapat juga melibatkan manajer lini unit lain. Sebagai contoh, personel bagian pembelian dapat dinilai oleh manajer produksi sebagai sebagai pemakai barang yang dibeli. Hal ini normal terjadi bila interaksi antara personel dan unit lain cukup tinggi. Sebaiknya penggunaan penilaian atasan dari bagian lain dibatasi, hanya pada situasi kerja kelompok dimana individu sering melakukan interaksi.

Penilaian atasan langsung sangat penting dari seluruh sistem penilaian kinerja.

Hal ini disebabkan karena madah untuk memperoleh hasil penilaian atasan dan dapat diterima oleh akal sehat. Para atasan merupakan orang yang tepat untuk mengamati dan menilai kinerja bawahannya. Oleh sebab itu, seluruh sistem penilaian umumnya sangat tergantung pada evaluasi yang dilakukan o!eh atasan (Rivai, 2005).

4. Penilaian 3600C

(38)

xxxi

Pengembangan terakhir dari tehnik penilaian sendiri adalah penilaian 3600C.

Tehnik ini akan memberikan data yang lebih baik dan dapat dipercaya karena dilakukan penilaian silang oleh bawahan, mitra, dan atasan langsung.

2.2 Organisasi

2.2.1 Pengertian Organisasi

Pengertian dari organisasi adalah salah satu unit sosial yang dikoordinasikan secara sengaja terdiri dari dua orang atau lebih yan berfungsi dan berwenang untuk mengerjakan usaha mancapai tujuan yang telah ditentukan. organisasi juga diartikan sebagai kolektivitas orang-orang yang bekerja sama secara sadar dan sengaja untuk mencapai tujuan tertentu (Robbins, 2006). Sedangkan menurut Gibson et al, (2003) mendefinisikan organisasi sebagai kesatuan yang memungkinkan masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu yang tidak dapat dicapai individu secara perorangan.

2.2.2 Organisasi Kesehatan

Menurut Satrianegara (2009), Organisasi Kesehatan terdiri dari : (1) Organisasi Kesehatan di tingkat Pusat,(2) Organisasi Kesehatan di tingkat Provinsi, (3) Organisasi Kesehatan di tingkat Kabupaten/Kota, (4) Organisasi Kesehatan di tingkat Kecamatan dan (5) Organisasi Kesehatan di tingkat Desa.

Organisasi kesehatan tingkat kecamatan adalah puskesmas yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II, dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II. Puskesmas mempunyai tugas pelayanan kesehatan yang urusannya telah di serahkan kepada otonom dan tugas pembantuan.

(39)

xxxii Organisasi kesehatan tingkat kecamatan terdiri dari:

1. Puskesmas adalah satu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat dan membina peran serta masyarakat, di samping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.

2. Puskesmas pembantu adalah unit pelayanan kesehatan sederhana yang berfugsi menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan yang di lakukan puskesmas dalam ruang lingkup wilayah yang lebih kecil.

3. Puskesmas keliling adalah unit pelayanan kesehatan keliling yang dilengkapi denga kendaraan bermotor roda empat atau perahu bermotor dan peralatan komunikasi, serta jumlah tenaga yang berasal dari puskesmas.

4. Unit pelaksana teknik puskesmas dibentuk apabila perlu, bertugas melaksanakan salah satu upaya kesehatan secara terpisah antara lainnya adalah puskesmas pembantu dan bidan di desa.

Beberapa organisasi kesehatan tingkat desa adalah sebagai berikut:

1. Puskesmas Pembantu adalah unit pelayanan kesehatan sederhana yang berfugsi menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan yang di lakukan puskesmas dalam ruang lingkup wilayah yang lebih kecil

2. Pondok Bersalin Desa (Polindes) dan bidan di desa .

Pondok Bersalin Desa (polindes) adalah tempat pelayanan kesehatan Ibu dan Anak (KIA) termasuk pertolongan persalianan dan Keluarga Berencana (KB) yang di pimpin oleh bidan di desa. Pondok bersalin desa berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala puskesmas.

(40)

xxxiii

3. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) adalah Pos pelayanan KB- Kesehatan yang dikelola yang diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan teknis dari petugas dalam rangka Pencapaian Norma Keluarga Kecil Bahagia Dan Sejahtera (NKKBS).

4. Pos Kesehatan Desa dan Pos Obat Desa (POD) adalah tempat pelyanan kesehatan dengan persedian obat bebas sederhana yang dikelola oleh kader kesehatan sebelum di rujuk ke Polindes, Puskesmas Pembantu, Puskesmas dan sebagainya di bawah pembinaan dan pengawasan Puskesmas.

Keputusan Menteri Dalam Negeri No.23 Tahun 1994 Tentang Pedoman Organisasi Dan Tata Kerja Pusat Kesehatan Masyarakat Pasal 7 a, menyatakan Organisasi Puskesmas terdiri dari : Kepala Puskesmas, Urusan Tata Usaha, Unit-unit, Kelompok Jabatan Fungsional, Puskesmas Pembantu / Bidan di Desa.

Gambar 2.1. Bagan Susunan Organisasi Puskesmas

(41)

xxxiv 2.3 Persepsi

Pengertian persepsi adalah akal manusia yang sadar meliputi proses fisik, fisiologis dan psikologis yang mengolah bermacam-macam input sebagai penggambaran lingkungan. Persepsi merupakan perlakuan melibatkan penafsiran melalui proses pemikiran tentang apa yang dilihat, didengar, dialami atau dibaca sehinggga persepsi memengaruhi tingkah laku, percakapan, serta perasaan seseorang (Koentjaraningrat, 1981). Menurut Sarwono (1992), persepsi merupakan makna hasil pengamatan yang dilakukan oleh individu terhadap suatu objek yang mendefinisikan pengenalan objek melalui penginderaan yang disatukan dan dikoordinasikan dalam saraf yang lebih tinggi.

Persepsi adalah suatu proses seorang individu memilih, mengorganisasi, dan menafsirkan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang bermakna. Persepsi seorang dapat berbeda satu sama lainnya, meskipun dihadapkan pada suatu situasi dan kondisi yang sama. Hal ini dipandang dari suatu gagasan bahwa seseorang menerima suatu objek rangsangan melalui penginderaan, penglihatan, pendengaran, pembauan, dan perasaan (Robbins, 2006).

Robbins (2006) menyatakan terdapat tiga faktor yang memengaruhi persepsi, yakni pelaku persepsi, target yang dipersepsikan dan situasi. Ketika individu memandang kepada objek tertentu dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi pelaku persepsi. Faktor yang memengaruhi persepsi dengan melihat satu obyek yang sama orang dapat mempunyai persepsi yang berbeda, karena persepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

(42)

xxxv

a) Faktor pelaku persepsi, bila seseorang memandang suatu obyek dan mencoba maka penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakterisitik pribadi dari orang yang dipersepsikan yang mencakup sikap, motif, kepentingan, pengalaman dan pengharapan.

b) Faktor obyek, karakteristik–karakteristik dari target yang diamati dapat memengaruhi apa yang dipersepsikan karena target tidak dipandang dalam keadaan terisolasi. Namun obyek yang berdekatan akan cenderung dipersepsikan bersama-sama. Faktor target mencakup hal yang baru yaitu gerakan, bunyi, ukuran, latar belakang dan kedekatan.

c) Faktor situasi, yaitu faktor mencakup waktu, keadaan / tempat kerja dan keadaan tempat kerja. Jika digambarkan polanya, maka terlihat seperti pada Gambar 2.1.

Gambar 2.2. Proses Pembentukan Persepsi

Sumber: Robbins, 2006

Situasi a. Waktu

b. Keadaan Tempat Kerja c. Keadaan sosial

Pelaku Persepsi a. Sikap

b. Motif

c. Kepentingan atau minat d. Pengalaman

e. Pengharapan

Target yang Dipersepsikan a. Hal Baru

b. Gerakan c. Bunyi d. Ukuran

e. Latar Belakang f. Kedekatan

PERSEPSI

(43)

xxxvi

Menurut Mangkuprawira dan Vitayala (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah faktor intrinsik yang meliputi mutu karyawan yang berupa pendidikan, pengalaman, motivasi, kesehatan, usia, keterampilan emosi, spiritual, sedangkan faktor ekstrinsik meliputi lingkungan kerja fisik dan non fisik, kepemimpinan, komunikasi vertikal dan horizontal, kompensasi, kontrol berupa penyeliaan (supervisi) , fasilitas, pelatihan, beban kerja, proses kerja, sistem imbalan, dan hukuman.

1. Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah proses yang sangat pentig dalam setiap organisasi karena kepemimpinan inilah yang akan menentukan sukses atau gagalnya sebuah organisasi. Jika perusahaan, rumah sakit, universitas atau tim atletik mengalami kesuksesan, maka direktur, rector atau pelatihnya yang memperoleh acunga jempol.

Akan tetapi sebaliknya, jika teradi kegagalan mereka pulalah yang memperoleh teguran, kritik atau bahkan diganti. Jadi, salah satu elemen pokok yang menjadi perhatian setiap organisasi yaitu bagaimana caranya untuk menarik, melatih, atau mempertahankan orang yang akan menjadi pemimpin- pemimpin yang efektif.

Kepemimpinan menurut Gibson (2006) adalah merupakan fungsi pokok dari segala jenis organisasi. Kepemimpinan sebagai proses untuk mempengaruhi perilaku pengikut. Kepemimpinan terjadi dalam dua bentuk yaitu formal dan informal.

Kepemimpinan formal adalah terbentuk melalui pengangkatan atau pemilihan dengan wewenang formal. Sedangkan kepemimpinan informal adalah terbentuk karena ketrampilan, keahlian, atau wibawa yang dapat memenuhi kebutuhan orang lain.

(44)

xxxvii 2. Supervisi

Supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan untuk kemudian apabila ditemukan masalah segera diberikan petunjuk atau bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya. Adapun prinsip-prinsip pokok dalam supervisi tersebut banyak macamnya, namun secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut: 1) tujuan utama supervisi ialah untuk lebih meningkatkan penampilan bawahan, bukan untuk mencari kesalahan, 2) sifat supervisi harus edukatif dan suportif, bukan otoriter, 3) supervisi harus dilakukan secara teratur dan berkala, 4) terjalin kerja sama yang baik antara atasan dan bawahan, 5) dikakukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing bawahan secara individu, 6) dilaksanakan secara fleksibel dan selalu disesuaikan dengan perkembangan. (Azwar, 2000).

2.4 ANC (Antenatal Care) 2.4.1 Pengertian ANC

Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) (Depkes RI, 2010). Pengawasan sebelum lahir (antenatal) terbukti mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kesehatan mental dan fisik kehamilan, untuk menghadapi persalinan. Dengan pengawasan dapat diketahui

(45)

xxxviii

berbagai komplikasi yang dialami ibu hamil yang dapat memengaruhi kehamilan atau komplikasi hamil sehingga segera dapat diatasi (Manuaba,1999).

2.4.2 Tujuan ANC

Menurut Depkes RI (2002) tujuan pelayanan antenatal adalah:

1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin.

2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, maternal dan sosial ibu dan bayi.

3. Mengenal secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.

4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.

5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI Eksklusif.

6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.

7. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.

2.4.3 Pelayanan ANC

Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga profesional di institusi pemerintah yaitu puskesmas yang diberikan kepada ibu selama masa kehamilan yang dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal. Pelayanan ANC merupakan salah satu kebijakan departemen kesehatan dalam upaya

(46)

xxxix

mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis “Empat Pilar Safe Motherhood” yaitu meliputi : Keluarga Berencana, Antenatal Care, Persalinan Bersih

dan Aman, dan Pelayanan Obstetri Essensial. Batasan tugas pokok dan fungsi bidan desa terkait dengan pelayanan ANC dapat dijabarkan lebih rinci sebagai berikut:

1.Pelayanan antenatal yang ditetapkan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan, dengan frekuensi kunjungan 4 kali selama kehamilannya, yaitu 1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester ke dua dan 2 kali pada trimester ke tiga. Selanjutnya penerapan secara operasional di kenal standar minimal “10 T” yaitu: (a) timbang berat badan, (b) mengukur lingkar lengan atas (LiLA) (c) mengukur tekanan darah (d) mengukur tinggi fundus uteri (e) menghitung denyut jantung janin (DJJ) dan menentukan presentasi janin (f) memberi imunisasi Tetanus Toksoid (TT) (g) memberi tablet tambah darah (tablet besi) (h) pemeriksaan laboratorium HB (i) Tatalaksana/penanganan kasus (j) Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) efektif : gizi, gangguan kehamilan, pemeliharaan kehamilan, tanda- tanda persalinan dan KB.

2.Pelayanan antenatal di tingkat pelayanan dasar sebagaimana tertuang dalam pedoman pelayanan kebidanan dasar meliputi tiga aspek pokok yaitu, aspek medik, aspek penyuluhan, komunikasi dan motivasi dan aspek rujukan (intervensi).

Pemeriksaan medik dalam pelayanan antenatal meliputi anamnesis, pemeriksaan

(47)

xl

fisik diagnosa, pemeriksaan obstertik dan pemeriksaan diagnosa penunjang (laboratorium) (Depkes RI, 2002).

2. Penjaringan (deteksi): penemuan ibu berisiko hamil.

3. Kunjungan ibu hamil: kunjungan tidak mengandung arti bahwa ibu hamil yang berkunjung ke sarana kesehatan, tetapi setiap saat kontak dengan tenaga kesehatan.

4. Kunjungan baru ibu hamil (K-1): kunjungan ibu hamil yang pertama kali.

5. Kunjungan ulang adalah: kontak ibu hamil yang kedua dan seterusnya dengan tenaga kesehatan.

6. Kunjungan K-4 : adalah kunjungan yang keempat (atau lebih) untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan, dengan syarat minimal satu kali kontak pada triwulan I, minimal satu kali kontak pada triwulan II dan minimal dua kali kontak pada triwulan III.

7. Cakupan K-I (akses) adalah persentase ibu hamil di suatu wilayah, waktu tertentu yang pernah mendapat pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit satu kali selama kehamilan.

8. Cakupan ibu hamil cakupan K-4: persentase ibu hamil di suatu wilayah waktu tertentu, yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai stándar paling sedikit empat kali, dengan distribuísi pemberian pelayanan minimal satu kali pada triwulan I, satu kali pada triwulan II dan dua kali pada triwulan III.

9. Sasaran ibu hamil: semua ibu hamil di suatu wilayah dalam kurun waktu satu tahun.

(48)

xli

10. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan: persentase ibu bersalin di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu.

11. Cakupan penjaringan: deteksi dini ibu yang berisiko yang ditemukan oleh tenaga kesehatan dan dirujuk ke sarana yang lebih tinggi.

12. Cakupan kunjungan neonatal adalah persentase bayi neonatal (kurang dari satu bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan minimal dua kali dari tenaga kesehatan, satu kali pada hari pertama sampai dengan hari ketujuh dan satu kali pada hari kedelapan sampai pada hari kedua puluh delapan.

2.4.4 Standar Pelayanan Antenatal

Menurut Kemenkes RI (2010), dalam melakukan pemeriksaan antenatal, tenaga kesehatan harus memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai standar terdiri dari:

1. Timbang berat badan dan pengukuran tinggi badan.

Selama kehamilan antara 0,3–0,5 kg per minggu. Bila dikaitkan dengan umur kehamilan kenaikan berat badan selama hamil muda ± 1 kg, selanjutnya pada trimester II dan III masing–masing bertambah 5 kg. Pada akhir kehamilan pertambahan berat total adalah 9–12 kg. Bila ada kenaikan berat badan yang berlebihan perlu dicurigai adanya risiko gangguan pertumbuhan janin seperti bengkak, kehamilan kembar, hidramnion, dan anak besar.

2. Ukur tekanan darah.

Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah 140/90 mmHg) pada kehamilan.

(49)

xlii

Kelainan dalam hal ini dapat berlanjut menjadi preeklamsia dan eklamsia kalau tidak ditangani dengan tepat dan preeklampsia (hipertensi disertai edema wajah dan atau tungkai bawah; dan atau proteinuria)

3. Ukur lingkar lengan atas (LiLA).

Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk skrining ibu hamil berisiko kurang energi kronis (KEK). Kurang energi kronis disini maksudnya ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama (beberapa bulan/tahun) dimana LiLA kurang dari 23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR).

4. Ukur tinggi fundus uteri (pemeriksaan puncak rahim)

Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan umur kehamilan. Jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur kehamilan, kemungkinan ada gangguan pertumbuhan janin. Standar pengukuran menggunakan pita pengukur setelah kehamilan 24 minggu.

5. Hitung denyut jantung janin (DJJ) dan Tentukan presentasi janin

Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari 120/menit atau DJJ cepat lebih dari 160/menit menunjukkan adanya gawat janin. Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal.

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester

(50)

xliii

III bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin belum masuk ke panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada masalah lain.

6. Beri imunisasi Tetanus Toksoid (TT)

Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil harus mendapat imunisasi TT. Pemberian imunisasi TT

7. Beri tablet tambah darah (tablet besi),

Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus mendapat tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan diberikan sejak kontak pertama.

8. Periksa laboratorium (rutin dan khusus)

Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada saat antenatal meliputi:

a. Pemeriksaan golongan darah,

Pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil tidak hanya untuk mengetahui jenis golongan darah ibu melainkan juga untuk mempersiapkan calon pendonor darah yang sewaktu-waktu diperlukan apabila terjadi situasi kegawatdaruratan.

b. Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (Hb)

Pemeriksaan kadar hemoglobin darah ibu hamil dilakukan minimal sekali pada trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui ibu hamil tersebut menderita anemia atau tidak selama kehamilannya karena kondisi anemia dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang janin dalam kandungan.

c. Pemeriksaan protein dalam urin

(51)

xliv

Pemeriksaan protein dalam urin pada ibu hamil dilakukan pada trimester kedua dan ketiga atas indikasi. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui adanya proteinuria pada ibu hamil. Proteinuria merupakan salah satu indikator terjadinya preeclampsia pada ibu hamil.

d. Pemeriksaan kadar gula darah.

Ibu hamil yang dicurigai menderita Diabetes Melitus harus dilakukan pemeriksaan gula darah selama kehamilannya minimal sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester kedua, dan sekali pada trimester ketiga (terutama pada akhir trimester ketiga).

e. Pemeriksaan darah Malaria

Semua ibu hamil di daerah endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah Malaria dalam rangka skrining pada kontak pertama. Ibu hamil di daerah non endemis Malaria dilakukan pemeriksaan darah Malaria apabila ada indikasi.

f. Pemeriksaan tes Sifilis

Pemeriksaan tes Sifilis dilakukan di daerah dengan risiko tinggi dan ibu hamil yang diduga Sifilis. Pemeriksaaan Sifilis sebaiknya dilakukan sedini mungkin pada kehamilan.

g. Pemeriksaan HIV

Pemeriksaan HIV terutama untuk daerah dengan risiko tinggi kasus HIV dan ibu hamil yang dicurigai menderita HIV. Ibu hamil setelah menjalani konseling kemudian diberi kesempatan untuk menetapkan sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV.

Gambar

Gambar 2.1. Bagan Susunan Organisasi Puskesmas
Gambar 2.2. Proses Pembentukan Persepsi
Tabel 2.1 Jenis Layanan di Setiap Trimester dan Nilai Normal Fisiologis  Kehamilan
Gambar 2.3 Landasan Teori
+2

Referensi

Dokumen terkait

Maka Ha ditolak dan Ho diterima artinya secara bersama- sama manajemen laba, komite audit, komisaris independen, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional,

Jumlah tangki yang digunakan beserta spesifikasinya dapat dilihat pada Lampiran 2, sedangkan untuk perhitungan energi manusia dan kebutuhan steam pada tahap

Iklan Baris Iklan Baris Mobil Dijual HYUNDAI ISUZU HYUNDAI TRAJET 06 XG CVVT AT SILVER Ors Mulus spt baru Antik Trwt S.. Poris

Pengumpulan data oleh praktikan juga dilakukan dengan menggunakan instrumen Media Lacak Masalah. Namun karena keterbatasan waktu dan kelas, praktikan hanya menyebar MLM

Penelitian menggunakan metode eksploratif terhadap efisiensi instalasi pengolahan air limbah di kantor Pusat Litbang Permukiman dalam menguraikan zat organik dengan

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh faktor predisposisi (pengetahuan, sikap) dan pendukung (ketersediaan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, dan

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis saya yang berjudul “Pengaruh Efektivitas Kepemimpinan Dan Persepsi Dukungan Organisasi

Persepsi tentang kualitas pelayanan dimensi jaminan di RSGMP FKG USU Medan menunjukkan bahwa dari 5 pernyataan ditemukan jawaban terbanyak adalah baik dengan persentase