• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen T E S I S. Oleh JULIANA IRAWATI /IKM (Halaman 21-29)

Menurunkan angka kematian ibu dan bayi masih merupakan prioritas utama pembangunan kesehatan di Indonesia. Pembangunan bidang kesehatan merupakan bagian terpenting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia terkait dengan pendidikan, status kesehatan dan ekonomi tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurut UNDP (United Nations Development Program, 2013) nilai IPM Indonesia pada tahun 2012

meningkat menjadi 0,629, naik tiga posisi ke peringkat 121 dari peringkat 124 pada 2011 (0,624), dari 187 negara. Umur harapan hidup meningkat dari 69,4 tahun pada tahun 2011 menjadi 69,8 tahun pada tahun 2012. Meski naik tiga peringkat, IPM Indonesia masih di bawah rata-rata dunia 0,694 dan dikategorikan sebagai “Negara Pembangunan Menengah” bersama 45 negara lainnya.Meningkat atau menurunnya IPM ini dipengaruhi oleh salah satu faktor, yaitu Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) (UNDP, 2013).

Pemerintah secara intern maupun bekerjasama dengan UNICEF (United Nations International Children's Emergency Fund) telah melakukan upaya untuk

menurunkan angka kematian ibu, bentuk upaya tersebut tertuang dalam program Safe Motherhood Initiative. Program ini bertujuan menurunkan angka kematian ibu dan

memastikan bahwa setiap ibu mendapatkan kesempatan untuk melahirkan bayi dalam kondisi yang aman dan sehat. Walaupun upaya telah banyak dilakukan namun AKI

xv

selama dua dekade terakhir ini tidak menunjukkan penurunan yang berarti. Selain angka kematian, masalah kesehatan ibu dan anak juga menyangkut angka kesakitan atau morbiditas, demikian pula dengan penyakit-penyakit yang diderita oleh ibu hamil ketika akan, sedang atau setelah persalinan masih tetap menjadi masalah kesehatan (Depkes RI, 2005)

Menurut Depkes RI (2007), beberapa penyebab kematian ibu seperti (1) pendarahan (42%) akibat atonia uteri; (2) eklamsia dan komplikasi abortus (11%);

(3) infeksi (10%) sebagai akibat pencegahan dan manajemen infeksi yang kurang baik; (4) persalinan lama (9%); (5) faktor lain (28%). Penyebab kematian neonatal di Indonesia adalah: (1) gangguan pernapasan (37%); (2) prematuritas (34%); (3) sepsis (12%). Secara umum kematian ibu dan bayi saat proses persalinan disebabkan oleh 3T berupa: (1) terlambat mengenali bahaya dan memutuskan mencari pertolongan;

(2) terlambat merujuk ke rumah sakit; dan (3) terlambat mendapat pertolongan dan pemberian pelayanan kesehatan.

Salah satu upaya untuk mempercepat penurunan AKI dan AKB adalah peran tenaga sumber daya manusia dalam memberikan pelayanan kesehatan pada ibu hamil dan bersalin dengan meningkatkan cakupan pelayanan ANC, yaitu pemeriksaan kehamilan ibu dan janin secara berkala, yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan melalui penempatan bidan di puskesmas, sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang tenaga bidan desa sebagai salah satu upaya menurunkan AKI dan AKB di Indonesia melalui surat edaran Direktur Jenderal Binkesmas No.429/Binkesmas/DJ/II/89, yang bertujuan agar seluruh desa di Indonesia memiliki bidan desa (Depkes RI, 1999).

xvi

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 cakupan pelayanan antenatal bagi ibu hamil semakin meningkat. Cakupan pelayanan antenatal pertama kali tanpa memandang trimester kehamilan (K1 akses) meningkat dari 92,7% pada tahun 2010 menjadi 95,2% pada tahun 2013. Peningkatan akses ini juga sejalan dengan cakupan ibu hamil yang mendapat pelayanan antenatal pertama pada trimester pertama kehamilan (K1 Trimester 1), yaitu dari 72,3% pada tahun 2010 menjadi 81,3% pada tahun 2013. Cakupan pelayanan antenatal sekurang-kurangnya empat kali kunjungan (K4) juga meningkat dari 61,4% pada tahun 2010 menjadi 70,0%

pada tahun 2013. Tenaga yang paling banyak memberikan pelayanan ANC (Antenatal Care) adalah bidan (88%) dan tempat pelayanan ANC paling banyak diberikan di praktek bidan (52,5%). Masih terdapat 10,2 persen bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), yaitu kurang dari 2.500 gram (Kemenkes RI, 2013)

Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 AKI di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara lain di Asia, demikian juga dengan AKB. AKI menurut SDKI 2007 adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup dan menurut SDKI 2012 meningkat menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup BKKBN, 2013). Indonesia berkomitmen untuk mencapai tujuan MDGs (Millenium Development Goals), khususnya menurunkan AKI dari 228 menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB dari 34 menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup dan AKN (Angka Kematian Neonatus) dari 19 per 1.000 kelahiran hidup pada 2007 akan terus menurun di tahun 2015.

AKI di Provinsi Aceh tahun 2012 sebesar 192/100.000 kelahiran hidup.

Jumlah kematian ibu pada tahun 2012 sebanyak 170 kasus. AKB 8/1.000 kelahiran hidup dan angka kematian Balita 12,1/1.000 kelahiran hidup (Dinkes Provinsi Aceh,

xvii

2013). Cakupan kunjungan ibu hamil K1 sebanyak 95,80% dan cakupan kunjungan ibu hamil K4 sebanyak 83,95% (Kemenkes RI, 2013).

Salah satu Kabupaten di Provinsi Aceh adalah Kabupaten Aceh Tenggara.

AKI di Kabupaten Aceh Tenggara pada tahun 2013 adalah sebesar 137/100.000 kelahiran hidup dan jumlah kematian ibu maternal sebanyak 6 orang. Data cakupan K1 di Kabupaten Aceh Tenggara tahun 2013 sebanyak 96,2% dan cakupan K4 tahun 2013 sebanyak 88,2% (Dinkes Aceh Tenggara, 2013).

Kabupaten Aceh Tenggara memiliki 16 kecamatan. Salah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara adalah Kecamatan Babulmakmur. Kecamatan ini memiliki pencapaian cakupan K1 dan K4 belum optimal, yaitu tahun 2013 K1 sebesar 81,1%, sementara target sebesar 95%, cakupan K4 tahun 2013 sebesar 68,0%, sementara target sebesar 90%. Jumlah ibu yang meninggal 1 orang dan jumlah bayi yang meninggal 9 orang. Cakupan pelayanan ANC disajikan pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Cakupan Pelayanan ANC di Kabupaten Aceh Tenggara Tahun 2013

No Puskesmas Cakupan

K1 (%)

Sumber : Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tenggara, 2013.

xviii

Dari data tersebut wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babulmakmur merupakan puskesmas yang memiliki cakupan ANC terendah dari 16 kecamatan lainnya yang ada di Kabupaten Aceh Tenggara pada tahun 2013 dan belum mencapai target standar cakupan ANC. Hal ini memberikan salah satu gambaran bahwa kinerja bidan desa dalam pelayanan ANC belum optimal.

Menurut Kemenkes RI (2010) kinerja utama bidan di desa adalah melaksanakan KIA, khususnya dalam mendukung pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin, nifas, pelayanan kesehatan bayi dan anak balita, serta pelayanan KB. Bidan desa merupakan ujung tombak dalam pembangunan kesehatan. Secara organisasi kinerja bidan desa berhubungan langsung dengan pelayanan kesehatan masyarakat seperti pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam rangka penurunan AKI dan AKB, sehingga bidan memiliki peran yang besar dalam proses reproduksi dan persalinan, kesehatan ibu dan anak serta program keluarga berencana. Kinerja bidan desa dalam hal ini berbasis masyarakat, dan secara organisasi disupervisi oleh pimpinan puskesmas. Gibson et al. (2003), menyatakan bahwa kinerja adalah tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja secara individual dalam suatu organisasi dipengaruhi oleh

beberapa variabel, yaitu (1) variabel individual, (2) variabel psikologi, dan (3) variabel organisasi. Ketiga kelompok variabel tersebut memengaruhi perilaku

kerja yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kinerja personal.

Beberapa penelitian yang menunjukkan adanya pengaruh karakteristik individu dan faktor organisasi terhadap kinerja, seperti penelitian Van Eijk et al

xix

(2006) menyimpulkan bahwa didaerah pedesaan Asembo (Rarieda Divisi) dan Gem (Wagai dan Yala Divisi) Kenya Barat, pemanfaatan layanan ANC tinggi, namun sarana pelayanan kesehatan yang tersedia belum dimanfaatkan secara maksimal karena sebanyak 80% ibu hamil yang melahirkan ditolong di luar fasilitas kesehatan (42% ditolong dukun bayi, 36% dibantu tetangga, sedangkan 22% tidak mendapat bantuan) dan hampir 1 dari 5 ibu hamil yang melahirkan tidak mendapat bantuan tenaga kesehatan.

Hasil penelitian Basri (2008) yang meneliti kinerja bidan desa di Kabupaten Aceh Tenggara juga menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara karakteristik individu dan karakteristik organisasi terhadap kinerja. Hasil penelitian Kartika (2012) menyimpulkan bahwa supervisi berpengaruh signifikan terhadap kinerja bidan desa dalam pelaksanaan Jampersal di Puskesmas Borbor, Kabupaten Toba Samosir dan secara fisik kebutuhan pokok bidan desa untuk keperluan hidup sehari-hari belum sepenuhnya terpenuhi, sehingga kinerjanya belum optimal.

Hasil penelitian Rostiati (2011) menyimpulkan bahwa beberapa bidan masih belum melakukan secara tepat pelaksanaan pelayanan ANC, sehingga kontinuitas pelatihan perlu ditingkatkan. Kontinuitas pelatihan ini diharapkan dapat bekerjasama dengan Dinas Kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan bidan dalam memberikan pelayanan ANC pada ibu hamil.

Beberapa kemungkinan penyebab ibu tidak memeriksakan kesehatan kehamilannya menurut Depkes RI (2000), yaitu : (1) ibu tidak mengetahui perlunya memeriksakan kehamilan dan hanya mengandalkan cara-cara tradisional, (2) fasilitas

xx

untuk pelayanan antenatal tidak memadai, tidak berfungsi sebagaimana mestinya, harus menunggu lama, perlakuan petugas yang kurang memuaskan, (3) beberapa ibu tidak mengetahui mereka harus memeriksakan kehamilannya, sehingga ibu tidak melakukannya, (4) transportasi yang sulit, baik bagi ibu untuk memeriksakan kehamilan maupun bagi bidan untuk mendatangi mereka, (5) kurangnya dukungan tradisi dan keluarga yang tidak mengizinkan seorang wanita meninggalkan rumah untuk memeriksakan kehamilannya, (6) takhayul dan keraguan untuk memeriksa kehamilan kepada petugas kesehatan, (7) ketidakpercayaan atau ketidaksenangan pada tenaga kesehatan secara umum, beberapa anggota masyarakat tidak mempercayai semua petugas kesehatan pemerintah, (8) ibu dan/atau anggota keluarga tidak mampu membayar atau tidak mempunyai waktu untuk memeriksakan kehamilan.

Survei pendahuluan dilakukan terhadap 5 orang ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babulmakmur pada bulan Maret 2014 diperoleh informasi ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya menyatakan bahwa kehamilan merupakan hal biasa bagi setiap wanita, sehingga tidak begitu perlu dilakukan pemeriksaan secara khusus dan rutin. Ketersediaan obat bantuan pemerintah di puskesmas tidak lengkap oleh sebab itu kadang-kadang harus dibeli diluar puskesmas, sehingga ibu hamil enggan untuk memeriksakan kehamilannya pada bidan desa di puskesmas. Berdasarkan hasil survei di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ibu hamil belum sepenuhnya mengetahui tanda-tanda bahaya pada kehamilan dan persalinan.

xxi

Survei pendahuluan juga dilakukan pada 5 orang bidan desa di wilayah kerja organisasi Puskesmas Kecamatan Babulmakmur. Berdasarkan faktor karakteristik individu bidan desa diperoleh informasi bahwa sebagian besar tidak tinggal di desa tempat bertugas, masih muda (baru menyelesaikan pendidikan) dan kurang memiliki pengalaman. Sedangkan faktor organisasi; (1) supervisi tidak secara rutin dilakukan oleh pimpinan maupun oleh bidan koordinator KIA dalam pelaksanaan standar ANC begitu juga dari dinas kesehatan, (2) sebagian besar belum pernah mengikuti pelatihan tentang ANC, (3) dukungan, bimbingan dan pengarahan oleh kepala puskesmas dalam pelayanan ANC dirasakan masih kurang, (4) bidan desa jarang berkomunikasi dengan kepala puskesmas karena pekerjaan yang harus dilaksanakan lebih banyak di desa. Berdasarkan faktor karakteristik individu dan faktor organisasi yang sedemikian rupa maka perlu dukungan pimpinan puskesmas untuk mengoptimalkan kinerja bidan desa dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat.

Secara psikologis sudah ada kebijakan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tenggara dalam pemberian insentif khususnya insentif dalam bentuk finansial untuk bidan yang kinerjanya baik namun faktor psikologis lainnya seperti; kepribadian, sikap, dan pembelajaran merupakan hal yang kompleks, sulit diukur dan sukar mencapai kesepakatan tentang pengertian dari variabel tersebut karena seorang individu masuk dan bergabung dengan organisasi kerja pada usia, etnis, latar belakang budaya dan keterampilan yang berbeda satu dengan lainnya.

xxii

Kinerja bidan desa yang belum optimal, diduga pemahaman bidan desa tentang perannya sebagai bidan belum baik, sehingga cakupan pelayanan yang ditetapkan belum tercapai dan masih adanya kematian ibu dan bayi pada masa persalinan yang merupakan kinerja bidan di desa secara organisasi. Berdasarkan fenomena di atas perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh karakteristik individu dan faktor organisasi terhadap kinerja bidan desa dalam pelayanan ANC, sebagai salah satu upaya menurunkan AKI dan AKB di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babulmakmur Kabupaten Aceh Tenggara.

1.2 Permasalahan

Bagaimana pengaruh karakteristik individu (pengetahuan, masa kerja, tempat tinggal, pelatihan) dan faktor organisasi (persepsi tentang kepemimpinan dan supervisi) terhadap kinerja bidan desa dalam pelayanan ANC di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Babulmakmur, Kabupaten Aceh Tenggara ?

Dalam dokumen T E S I S. Oleh JULIANA IRAWATI /IKM (Halaman 21-29)

Dokumen terkait