• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -1 Penataan ruang merupakan serangkaian proses dan prosedur yang diikuti

secara konsisten sebagai satu kesatuan, yaitu kegiatan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Selain itu, perlu dilakukan kegiatan peninjauan kembali secara berkala dengan memanfaatkan informasi yang diperoleh dari proses pengendalian pemanfaatan ruang yang terdiri atas perijinan, pengawasan (pelaporan, pemantauan, dan evaluasi) dan penertiban. Pengendalian harus dilakukan secara rutin, baik oleh perangkat pemerintah daerah, masyarakat, atau keduanya. Dalam hal proses penataan ruang perlu melibatkan peran serta masyarakat. Peran serta masyarakat dalam penataan ruang diatur dalam peraturan perundangan, meliputi Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007, tentang Penataan Ruang, Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1996 tentang Hak dan Kewajiban Masyarakat dalam Penataan Ruang, serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 tahun 1998.

Dalam peraturan perundangan tersebut, masyarakat berhak dan wajib berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pengendalian pemanfaatan ruang didasarkan pada prinsip-prinsip pendekatan pada ketentuan perundangan ( legalistic approach ) dengan menerapkan pendekatan yang lebih luwes di mana prinsip keberlanjutan merupakan acuan utama. Untuk mewujudkan pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif diperlukan pertimbangan yang bersifat multi dan lintas sektoral. Prinsip-prinsip pengendalian didasarkan pada lima komponen berikut ini :

 Kategori pemanfaatan ruang dan kebijaksanaannya;

 Peringkat pengaruh geografis kebijaksanaan;

 Kerangka pengendalian yang berkelanjutan;

(2)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -2 mengacu pada UU No 26 Tahun 2007 dan Permen 16 Tahun 2009. Pengendalian

pemanfaatan ruang dilakukan melalui penetapan peraturan zonasi, perizinan, pemberian intensif dan disinsentif serta pengenaan sanksi. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten berfungsi :

a) Sebagai alat pengendali pengembangan kawasan

b) Menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang

c) Menjamun agar pembangunan baru tidak mengganggu pemanfaatan ruang yang telah sesuai dengan rencana tata ruang

d) Meminimalkan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan e) Mencegah dampak pembangunan yang merugikan

Oleh karenanya ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten di susun berdasarkan:

a) Rencana struktur dan pola ruang

b) Masalah, tantangan, dan potensi yang di miliki wilayah kabupaten

c) Kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang di tetapkan; dan d) Ketentuan peraturan perundang-undangan terkait

7.1 Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Wilayah Kabupaten Banyuasin

Peraturan zonasi disusun sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan ruang.

Peraturan zonasi ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten untuk peraturan zonasi. Ketentuan umum peratuaran zonasi yang ditetapkan dalam RTRW Kabupaten berisikan :

a) Deskripsi atau definisi pola (jenis zona) yang telah ditetapkan dalam rencana pola ruang wilayah kabupaten

b) Ketentuan Umum dan ketentuan rencana umum (design plan) yang merupakan ketentuan kinerja dari setiap pola ruang yang meliputi:

 ketentuan kegiatan yang diperbolehkan, bersyarat, atau dilarang;

(3)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -3 c) Ketentuan pemanfaatan ruang pada zona-zona yang dilewati oleh sistem jaringan

prasarana dan sarana wilayah kabupaten mengikuti ketentuan perundang- undangan yang berlaku dan

d) Ketentuan khusus yang di sesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kabupaten untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, seperti pada kawasan lindung, kawasan rawan bencana, kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP), kawasan dengan pembangunan ruang udara (air-right) atau di dalam bumi.

Penyusunan Klasifikasi Zonasi disusun sesuai dengan kondisi daerah dan rencana pengembangannya dengan pertimbangan sebagai berikut :

1. Merujuk pada klasifikasi dan kriteria zonasi yang ada, yang telah disusun berdasarkan :

a. Kajian literatur studi-studi yang pernah dilakukan, ketentuan normatif (peraturan-perundangan), dan kajian perbandingan dari berbagai contoh;

b. Skala/tingkat pelayanan kegiatan berdasarkan standar pelayanan yang berlaku (standar Departemen PU);

2. Menambahkan/melengkapi klasifikasi zonasi pada lampiran yang dirujuk dengan mempertimbangkan :

a. Hirarki klasifikasi zonasi yang dipilih sebagai dasar pengaturan (untuk kawasan budidaya di wilayah perkotaan dianjurkan sekurang-kurangnya hirarki 5.

b. Zonasi yang sudah berkembang di daerah yang akan disusun Peraturan Zonasinya (kajian/pengamatan empiris) dan dianggap perlu ditambahkan ke dalam klasifikasi zona.

c. Jenis zona yang spesifik yang ada di daerah.

d. Jenis zonasi yang prospektif berkembang di daerah.

3. Menghapuskan zonasi yang tidak terdapat di daerah.

(4)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -4

1. Kawasan Lindung, terdiri dari : Kawasan Hutan lindung, Kawasan yang

memberikan perlindungan kawasan bawahannya, Kawasan perlindungan setempat, Kawasan suaka alam dan kawasan rawan bencana alam

2. Kawasan Budidaya, terdiri dari : Kawasan hutan produksi; Kawasan

pertanian; Kawasan pertambangan; Kawasan industri; Kawasan pariwisata;

Kawasan permukiman, Kawasan Perikanan dan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil

Pemanfaatan ruang kawasan lindung dan budidaya diatur berdasarkan ketentuan teknis pemanfaatan ruang di Kabupaten Banyuasin. Ketentuan teknis pemanfaatan kawasan lindung adalah :

a. Di dalam kawasan lindung dilarang melakukan kegiatan budidaya apapun, kecuali pembangunan prasarana vital dengan luas areal maksimum 2 % dari luas kawasan lindung.

b. Di dalam kawasan non-hutan yang berfungsi lindung diperbolehkan kegiatan budidaya secara terbatas dengan tetap memelihara fungsi lindung kawasan dan wajib melaksanakan upaya perlindungan terhadap lingkungan hidup.

c. Kegiatan budidaya yang sudah ada di kawasan lindung dan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup, serta dapat mengganggu fungsi lindung harus dikembaikan ke fungsi lindung secara bertahap sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sedangkan ketentuan pemanfaatan kawasan budidaya adalah :

a. Pemanfaatan tanah yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang tidak dapat ditingkatkan pemanfaatannya.

b. Pemanfaatan tanah di kawasan budidaya yang belum diatur dalam rencana rinci

tata ruang dilaksanakan dengan mempertimbangkan kriteria dan standar

pemanfaatan ruang.

(5)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -5 d. Kegiatan dalam rangka pemanfaatan ruang di atas dan atau di bawah tanah

dilaksanakan besarkan peraturan perundangan yang berlaku.

Matrik tipikal ketentuan peratuaran zonasi Kabupaten Banyuasin dapat dilihat pada

Tabel berikut

(6)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -6

Ketentuan Umum Kegiatan Ketentuan Umum

Intensitas Bangunan Ketentuan Umum

Prasarana Minimum Ketentuan Umum Khusus Lainnya

(yang diizinkan, bersyarat dan

tidak diizinkan) (KDB, KLB, KDH) A. Kawasan Lindung

A1. Kawasan Lindung yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya

- Kawasan Hutan Lindung

 Diizinkan kegiatan lain yang bersifat komplementer terhadap fungsi hutan lindung sebagaimana ditetapkan dalam Kepmen Hut Nomor 50 tahun 2006

 Bersyarat untuk Kegiatan pertambangan di kawasn hutan lindung sepanjang tidak dilakukan secara terbuka, yaitu harus dilakukan reklamasi areal bekas penambangan sehingga kembali berfungsi sebagai kawasan lindung dan Pembatasan kegiatan penambangan tertutup

 Bersyarat untuk alih fungsi Hutan lindung yaitu dengan mengikuti prosedur dan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku;

 Dilarang melakukan kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan dan tutupan vegetasi.

KLB maksimum 0,3;

KDB maksimum 9 %;

KDH minimum 90%;

Pembangunan prasarana terbatas untuk pencegahan dan penanggulangan bencana alam banjir, tanah longsor, letusan gunung api, lahar dingin, dan potensi bencana lainnya, Pembangunan pos – pos keamanan pada titik – titik tertentu sesuai kebutuhan pengamanan lalu lintas dan pencegahan perambahan hutan.

Pemanfaatan ruang untuk budidaya perlu pengawasan secara ketat oleh pemerintah

Kabupaten dengan

pemberanian sanksi hukum

- Kawasan resapan air

 Diizinkan untuk zona pariwisata KDB maksimum 20%  Prasarana yang dapat Pemanfaatan ruang untuk

(7)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -7

tidak diizinkan)

perikanan dengan syarat tidak merubah bentang alam

 Dilarang untuk kegiatan budidaya

 Dilarang menimbun tanah yang dapat merusak ekosistem yang berada pada kawasan tersebut.

 Bersyarat untuk permukiman yang sudah terbangun di dalam kawasan resapan air sebelum ditetapkan sebagai kawasan lindung masih diperkenankan namun harus memenuhi syarat :

a. Tingkat kerapatan bangunan rendah (KDB maksimum 20% dan KLB maksimum 40%).

b. Perkerasan permukaan menggunakan bahan yang memiliki daya serap air tinggi

KLB maksimum 40%

KDH minimum 90%; dibangun meliputi: jalan inspeksi dengan rumija 8 m dan pos-pos pengawasan

 Dalam kawasan resapan air, wajib dibangun sumur- sumur resapan sesuai ketentuan yang berlaku.

budidaya perlu pengawasan secara ketat oleh pemerintah

Kabupaten dengan

pemberanian sanksi hukum

- Kawasan Bergambut

 Diizinkan kegiatan pariwisata yang tidak merubah bentang alam, seperti: outbound, wisata alam, olahraga, camping dan hiking

 Dilarang adanya kegiatan budidaya di atas kawasan bergambut yang memiliki ketebalan ≥ 3 meter;

 Bersyarat untuk pembangunan

KLB maksimum 0,3;

KDB maksimum 9 %;

KDH minimum 90%;

GSB minimum

berbanding lurus dengan Rumija;

Prasarana yang dapat dibangun meliputi: jalan inspeksi dengan rumija 8 m dan pos-pos pengawasan

Pemanfaatan ruang harus disertai pengawasan Pemerintah Provinsi dan Kementerian Kehutanan

(8)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -8

tidak diizinkan)

prasarana wilayah yang melintasi kawasan bergambut dengan ketebalan ≥ 3 meter yaitu dengan ketentuan:

a. tidak menyebabkan terjadinya perkembangan pemanfaatan ruang budidaya di sepanjang jaringan prasarana tersebut;

b. mengikuti ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan dan peraturan lainnya yang berwawasan lingkungan;

A3. Kawasan Perlindungan Setempat - Kawasan Sempadan

Pantai

 Diizinkan Kegiatan wisata alam, perikanan, penelitian yang tidak merubah bentang alam

 Dilarang Kegiatan budidaya seperti permukiman, industri, komersial, dan kegiatan budidaya lain selain yang diperbolehkan.

KLB maksimum 0;

KDB maksimum 10 %;

KDH minimum 90 - 100%;

Prasarana seperti bangunan pengendali air, dan sistem peringatan dini (early warning system);

yang telah mendapat persetujuan dari instansi dan pejabat yang berwenang

 Lebar sempadan pantai paling sedikit 100 (seratus) meter dari titik pasang air laut tetinggi ke arah darat.

 Penetapan batas Sempadan Pantai mengikuti ketentuan:

a. Perlindungan terhadap gempa dan/atau tsunami;

b. perlindungan pantai dari erosi atau abrasi;

c. perlindungan sumber daya buatan di pesisir dari badai, banjir, dan bencana

(9)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -9

tidak diizinkan)

alam lainnya;

d. perlindungan terhadap ekosistem pesisir, seperti lahan basah, mangrove, terumbu karang, padang lamun, gumuk pasir, estuaria, dan delta;

e. pengaturan akses publik;

serta

f. pengaturan untuk saluran air dan limbah.

- Kawasan Sempadan Sungai

 Diizinkan untuk jalur hijau

 Diizinkan untuk Kegiatan pariwisata yang tidak merubah bentang alam

 Diizinkan untuk Kegiatan pertanian dengan jenis tanaman tertentu yang tidak merubah bentang alam

 Dilarang Kegiatan budidaya seperti permukiman, industri, komersial, dan kegiatan budidaya lain selain yang diperbolehkan

KLB maksimum 0;

KDB maksimum 0 %;

KDH minimum 100%;

 Sarana dan prasarana yang dapat dibangun papan reklame, rambu-rambu, pemasangan kabel listrik, telepon, dan PDAM.

 Sarana dan prasarana yang dapat dibangun terbatas

untuk bangunan

pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air;

Ketentuan lebar sempadan sebagai berikut :

a. Bertanggul dan berada

dalam kawasan

permukiman dengan lebar paling sedikit 5 (lima) meter dari kaki tanggul sebelah luar b. Tidak bertanggul dan

berada diluar kawasan permukiman dengan lebar minimal paling sedikit 100 (seratus) meter dari tepi sungai c. Tidak bertanggul pada

(10)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -10

tidak diizinkan)

sungai kecil diluar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi sungai.

- Kawasan Sekitar Mata Air

Diizinkan untuk kegiatan penunjang pariwisata alam yang tidak merubah bentang alam

Diizinkan untuk Kegiatan pertanian dengan jenis tanaman tertentu

KLB maksimum 0;

KDB maksimum 0 %;

KDH minimum 100%;

Prasarana berupa Bangunan penyalur air dengan syarat radius 15 meter dari mata air

Sarana dan prasarana berupa Bangunan papan reklame, rambu-rambu, pemasangan kabel listrik, telepon, dan PDAM yang tidak merubah bentang alam.

ketentuan radius melingkar (diameter) sekurang- kurangnya 200 meter. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kelestarian sumberdaya air sebagai sumber mata air aik untuk memenuhi kebutuhan manusia maupun pertanian.

- Kawasan Rekamasi Rawa

 Diizinkan untuk jalur hijau

 Diizinkan untuk Kegiatan pariwisata yang tidak merubah bentang alam

 Diizinkan untuk Kegiatan pertanian dengan jenis tanaman tertentu yang tidak merubah bentang alam

 Dilarang Kegiatan budidaya seperti permukiman, industri, komersial, dan kegiatan budidaya lain selain yang diperbolehkan

KLB maksimum 0;

KDB maksimum 0 %;

KDH minimum 100%;

Sarana dan prasarana berupa Bangunan papan reklame, rambu-rambu, pemasangan kabel listrik, telepon, dan PDAM yang tidak merubah bentang alam.

Ketentuan lebar sempadan sebagai berikut :

a. Untuk saluran primer dan sekunder pada jaringan reklamasi rawa baik rawa pantai maupun rawa pedalaman

sekurangkurangnya 2 1/2 (dua setengah) x (kali) lebar atas saluran, diukur

(11)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -11

tidak diizinkan)

dan as saluran.

b. Untuk saluran tersier pada jaringan reklamasi rawa baik rawa pantai maupun rawa pedalaman sekurang- kurangnya 1 (satu) meter diukur dari kaki tanggul sebetah Luar.

c.

Untuk saturan primer dan sekunder pada jaringan reklamasi rawa khusus untuk tambak baru sekurang-kurangnya 1 (satu) meter diukur dan kaki Langgit sebelah luar.

A4. Kawasan Suaka Alam

 Diizinkan untuk Kegiatan preservasi dan konservasi lingkungan.

 Diizinkan untuk kegiatan penelitian, wisata alam dan kegiatan berburu yang tidak mengakibatkan

penurunan fungsi kawasan tersebut.

 Diizinkan untuk kegiatan wisata alam yang tidak merubah bentang alam

 Dilarang untuk kegiatan budidaya yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan

KLB maksimum 0;

KDB maksimum 0 %;

KDH minimum 100%;

prasarana wilayah, berupa bangunan penunjang fungsi kawasan dan bangunan

pencegah dan

penanggulangan bencana alam.

Pemanfaatan ruang untuk budidaya perlu pengawasan secara ketat oleh pemerintah

Kabupaten dengan

pemberanian sanksi hukum

(12)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -12

tidak diizinkan)

A5. Kawasan Pelestarian Alam Taman Nasional

 Diizinkan untuk Kegiatan preservasi dan konservasi lingkungan terkait dengan perlindungan ekosistem taman Nasional

 Diizinkan kegiatan budidaya hanya bagi penduduk asli di zona penyangga dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan di bawah pengawasan ketat;

 Diizinkan untuk kegiatan Pariwisata alam terbatas yang tidak boleh merubah bentang alam

 Dilarang penebangan pohon dan perburuan satwa yang dilndungi undang-undang

 Dilarang untuk kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional

 Dilarang untuk kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam

-

Prasarana untuk

Pengembangan jaringan listrik dengan ketentuan yang telah ditetapkan

Pemanfaatan ruang untuk budidaya perlu pengawasan secara ketat oleh pemerintah

Kabupaten dengan

pemberanian sanksi hukum

A6. Kawasan Rawan Bencana

 Diizinkan untuk pemanfaatan Hutan,

perkebunan dengan tanaman

-

pembangunan prasarana

penunjang untuk

Pemanfaatan ruang untuk budidaya perlu pengawasan

(13)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -13

tidak diizinkan)

tegakan tinggi

 Diizinkan untuk Kegiatan budidaya seperti pertanian, perkebunan dan kehutanan yang berfungsi untuk mengurangi resiko yang timbul akibat bencana alam

 Pembatasan perkembangan kawasan permukiman yang sudah terbangun di dalam kawasan rawan bencana alam harus dibatasi dan diterapkan peraturan bangunan (building code) sesuai dengan potensi

 bahaya/bencana alam, serta dilengkapi jalur evakuasi;

 Dilarang membangun perumahan dan permukiman. Perumahan yang sudah ada didorong untuk direlokasi.

 Dilarang membangun jembatan yang mengurangi lebar palung sungai

mengurangi resiko bencana

banjir. secara ketat oleh pemerintah

Kabupaten dengan

pemberanian sanksi hukum

B. Kawasan Budidaya

B1. Hutan Produksi

Diizinkan untuk Kegiatan/bangunan wisata seperti outbond, bumi perkemahan dengan tidak merubah bentang alam

Diizinkan untuk Kegiatan penanaman tanaman sela diantara

-

Prasarana yang dapat

dibangun berupa jalan dan waduk

Sebelum kegiatan

pengelolaan hutan produksi dilakukan wajib dilakukan studi kelayakan dan studi AMDAL yang hasilnya disetujui oleh tim evaluasi

(14)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -14

tidak diizinkan)

pohon-pohon utama

Bersyarat untuk penebangan, yaitu dengan pola tebang pilih (stripcroping) agar hutan yang ada dapat dikelola secara selektif, sehingga keutuhan hutannya sejauh mungkin terpelihara.

Dilarang untuk Kegiatan budidaya seperti permukiman, industri, komersial, dan kegiatan budidaya lain selain yang diperbolehkan

dari lembaga yang berwenang.

B2. Kawasan Pertanian

- Pertanian Pangan

Diizinkan untuk dimanfaatkan sebagai kegiatan perikanan

Diizinkan dilakukan kegiatan wisata agro, penelitian dan pendidikan dengan tidak merubah bentang alam

Bersyarat untuk Alih fungsi sawah irigasi teknis dikawasan perkotaan yaitu maksimum 50%

Terbatas untuk Lahan terbangun yaitu disesuaikan dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan berdasarkan kajian detil

 Dilarang kegiatan yang merubah dan

-

Jalan sesuai dengan

kebutuhan

bangunan prasarana wilayah dan bangunan yang bersifat mendukung kegiatan pertanian lahan basah seperti gudang penyimpanan hasil pertanian, tempat penjemuran padi, tempat penyimpanan Saprodi.

Perubahan kawasan pertanian menjadi non pertanian harus diikuti oleh pengembangan kawasan pertanian baru dengan tetap memperhatikan luas

kawasan yang

dipertahankan sebagai kawasan pertanian kecuali lahan pertanian pangan yang telah mempunyai ketetapan hukum

Pemanfaatan kawasan pertanian diarahkan untuk

(15)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -15

tidak diizinkan)

mengurangi luas pertanian lahan basah terutama pada lahan irigasi teknis.

meningkatkan produksi dan produktifitas tanaman

pangan dengan

mengembangkan kawasan cooperative farming

- Holtikultura

 Diizinkan pemanfaatan untuk permukiman, peternakan, dan industri.

 Diizinkan kegiatan perkebunan rakyat pada kawasan pertanian lahan kering.

 Diizinkan dilakukan kegiatan wisata agro, penelitian dan pendidikan dengan tidak merubah bentang alam

-

 prasarana wilayah dan

bangunan yang bersifat mendukung kegiatan pertanian lahan kering.

 Pengembangan sarana dan prasarana wisata agro secara terbatas.

 Pengembangan sarana dan prasarana industri agro.

Pemanfaatan kawasan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktifitas tanaman hortikultura dengan mengembangkan kawasan good agriculture practices.

- Perkebunan

Diizinkan adanya kegiatan budidaya yang meningkatkan dan atau mempertahankan kelestarian konservasi air dan tanah

Bersyarat untuk Alih fungsi kawasan perkebunan menjadi fungsi lainnya sepanjang sesuai dan mengikuti ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku;

Bersyarat untuk Kawasan budidaya lain dengan memperhatikan

-

Prasarana yang dapat

dibangun meliputi: jalan usaha tani dengan rumija 8 m, tempat parkir bongkar muat, gudang penyimpanan hasil perkebunan, tempat pengolahan hasil perkebunan, mess tempat tinggal pekerja, tempat penyimpanan Saprodi, kantor pengelola

Sebelum kegiatan

perkebunan besar dilakukan diwajibkan untuk dilakukan studi kelayakan dan studi AMDAL yang hasilnya disetujui oleh tim evaluasi dari lembaga yang berwenang;

(16)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -16

tidak diizinkan)

persyaratan teknis yang ditetapkan pemerintah

Dilarang merubah jenis tanaman perkebunan untuk kawasan perkebunan besar yang tidak sesuai dengan perizinan yang diberikan;

Dilarang dilakukan di dalam kawasan lindung

Dilarang memindahkan hak atas tanah usaha perkebunan yang mengakibatkan terjadinya satuan usaha yang kurang dari luas minimum (sesuai Peraturan Menteri)

Dilarang untuk kegiatan yang merubah dan mengurangi luas kawasan perkebunan. Kecuali kegiatan pertambangan yang sudah eksploitasi dan izinnya tidak untuk diperpanjang lagi.

perkebunan

- Peternakan

Diizinkan untuk Kegiatan pengembangan jalur hijau

 Diizinkan pembangunan rumah petani disekitar kawasan.

 Diizinkan rumah potong hewan dan balai pelatihan disekitar kawasan.

 Dilarang kegiatan lain yang

-

Prasarana yang dapat

dibangun meliputi: jalan usaha tani dengan rumija 8 m, tempat parkir bongkar muat, rumah potong, balai pelatihan.

Mempertahankan ternak plasma nuftah sebagai potensi daerah.

Perlu adanya pengolahan limbah untuk peternakan skala besar

Kawasan peternakan

(17)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -17

tidak diizinkan)

mengganggu kegiatan peternakan. diarahkan mempunyai

keterkaitan dengan pusat distribusi pakan ternak

B3. Perikanan

 Diizinkan untuk dialihfungsikan

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 Bersyarat untuk pengembangan Kawasan budidaya lain misalnya permukiman nelayan, sarana dan prasarana pendukung kegiatan perikanan dengan memperhatikan persyaratan teknis yang ditetapkan pemerintah yaitu diluar garis sepadan sungai

 Pada kawasan perikanan yang juga dibebani fungsi wisata, pengembangan perikanannya terbatas, tidak boleh merusak/mematikan fungsi pariwisata

 Dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan pencemaran lingkungan dan kerusakan lingkungan lainnya.

 Dilarang kegiatan lain yang mengganggu kegiatan perikanan

-

Prasarana yang dapat

dibangun meliputi: jalan usaha tani dengan rumija 8 m, tempat parkir bongkar muat, tempat pengolahan hasil perikanan, balai pelatihan

 Memiliki instalasi pengelolaan limbah untuk pengelolaan perikanan skala besar

 Memanfaatkan potensi perikanan di wilayah peraiaran teritorial dan ZEE Indonesia;

Memelihara kelestarian potensi sumber daya ikan;

dan Melindungi jenis biota laut tertentu yang dilindungi peraturan perundang- undangan.

(18)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -18

tidak diizinkan)

dan kualitas air sungai

B4. Pertambangan

 Diizinkan untuk Kegiatan pertanian danperkebunan

 Pembatasan Kegiatan permukiman hanya untuk menunjang kegiatan pertambangan dengan tetap memperhatikan aspek-aspek keselamatan

 Bersyarat pada kegiatan yang sudah memiliki dokumen AMDAL dan sudah menyusun Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL).

 Dilarang dilakukan pada kawasan taman nasional, hutan lindung, dan pada tempat yang dilarang untuk melakukan kegiatan usaha pertambangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

-

Prasarana yang dapat

dibangun meliputi: jalan tambang dengan rumija 24 m.

Pengelolaan kawasan bekas penambangan yang telah

digunakan harus

direhabilitasi dengan.

Sebelum kegiatan pertambangan wajib dilakukan studi kelayakan dan studi AMDAL yang hasilnya disetujui oleh tim evaluasi dari lembaga yang berwenang.

Setiap kegiatan usaha pertambangan harus

menyimpan dan

mengamankan tanah atas (top soil) untuk keperluan rehabilitasi/reklamasi lahan bekas penambangan.

Pengharusan penjaminan segi-segi keselamatan pekerja dan keamanan lingkungan dalam penyediaan peralatan dan pelaksanaan kegiatan penambangan.

(19)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -19

tidak diizinkan)

B5. Industri

 Diizinkan untuk Pengembangan jalur hijau

 Diizinkan bagi permukiman penduduk yang sudah terlebih dulu bermukim di kawasan peruntukan industri, tetapi dengan pembatasan kegiatan agar tidak mengakibatkan kecelakaan industri.

 Bersyarat untuk Budidaya lain seperti permukiman, perdagangan jasa, serta fasilitas umum dengan persyaratan tertentu yang telah diteteapkan pemerintah

 Terbatas untuk Permukiman para pekerja termasuk fasilitas umum untuk memenuhi kebutuhan para pekerja maksimum 20% dari luas lahan yang ada

Dilarang berLokasi berbatasan langsung dengan kawasan permukiman;

KLB maksimum 2 Lantai KDB 40% - 60%;

KDH 40% - 60%;

Prasarana yang dapat dibangun meliputi: jalan kawasan industri dengan rumija 24 m, gudang, area bongkar muat, mess karyawan, IPAL.

Pengembangan zona industri yang terletak pada sepanjang jalan arteri atau kolektor harus dilengkapi dengan frontage road untuk kelancaran aksesibilitas;

Setiap kegiatan industri harus dilengkapi dengan upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan serta dilakukan studi AMDAL.

B6. Pariwisata

 Diizinkan dilakukan penelitian dan pendidikan.

 Pada kawasan pariwisata alam dilarang melakukan kegiatan yang dapat menyebabkan rusaknya

KLB maksimum 2 Lantai KDB maksimum 40%;

KDH minimum 60%;

sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pariwisata dan sistem prasarana wilayah sesuai dengan ketentuan

Pada obyek yang tidak memiliki akses yang cukup, perlu ditingkatkan pembangunan dan pengendalian

(20)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -20

tidak diizinkan)

kondisi alam terutama yang menjadi obyek wisata alam;

 dilarang dibangun permukiman dan industri yang tidak terkait dengan kegiatan pariwisata;

 Dilarang adanya bangunan lain kecuali bangunan pendukung kegiatan wisata alam;

perundang-undangan yang

berlaku; pembangunan sarana dan

prasarana transportasi ke obyek-obyek wisata alam, budaya dan minat khusus

Pengembangan pariwisata harus dilengkapi dengan upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan serta studi AMDAL.

B7. Permukiman

 Diizinkan adanya kegiatan industri skala rumah tangga, perdagangan jasa, pertanian lahan kering dan fasilitas sosial ekonomi lainnya dengan skala pelayanan lingkungan;

 Dilarang dialokasikan pada kawasan lindung/konservasi serta tidak terletak pada lahan pertanian teknis.

 Dilarang dikembangkan kegiatan yang mengganggu fungsi permukiman dan kelangsungan kehidupan sosial masyarakat.

KLB maksimum 4 lantai;

KDB maksimum 40% - 60%;

KDH 40% - 60%;

sarana dan prasarana pendukung fasilitas permukiman sesuai dengan petunjuk teknis dan peraturan yang berlaku;

Dalam kawasan permukiman masih diperkenankan dibangun prasarana wilayah sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku;

Untuk pengembangan resletment di luar permukiman yang telah ada diupayakan dekat dengan pusat pelayanan.

Pengembangan

permukiman harus aman dari bahaya bencana alam, sehat, mempunyai akses untuk kesempatan berusaha permukiman harus sesuai dengan peraturan teknis dan peraturan lainnya yang berlaku (KDB, KLB, sempadan bangunan, dan

(21)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -21

tidak diizinkan)

lain sebagainya) C. Kawasan Pesisir

dan Pulau-Pulau Kecil

 Diizinkan untuk Kegiatan pariwisata alam dengan tidak merubah bentang alam

 Pembatasan pada Bangunan yang telah mendapat persetujuan instansi/pejabat setempat

 Kegiatan permukiman terbatas untuk mendukung pengembangan perikanan dan pariwisata, maksimum 20% dari luas wilayah

 Dilarang Kegiatan pembangunan dilakukan di dalam kawasan lindung.

 Dilarang melakukan kegiatan yang merusak fungsi ekosistem daerah peruntukan

 Dilarang untuk Kegiatan budidaya lain seperti industri polutan

-

sarana dan prasarana

pendukung sesuai dengan petunjuk teknis dan peraturan yang berlaku

D. Kawasan reklamasi

pantai  Diizinkan untuk Kegiatan pariwisata alam dengan tidak merubah bentang alam

 Pembatasan pada Bangunan maksimal 40% dan site development minimal 60% yang telah mendapat persetujuan instansi/pejabat setempat

KLB maksimum 5 lantai;

KDB maksimum 40 %;

KDH minimum 60%;

sarana dan prasarana pendukung sesuai dengan petunjuk teknis dan peraturan yang berlaku

Penetapan diupayakan berdekatan dengan kawasan industri dan pusat distribusi barang secara efisien.

(22)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -22

tidak diizinkan)

 Dilarang Kegiatan pembangunan dilakukan di dalam kawasan lindung.

 Dilarang melakukan kegiatan yang merusak fungsi ekosistem daerah peruntukan

E. Kawasan sekitar Sistem Prasarana

D1. Jaringan Jalan

 Diizinkan untuk Pengembangan Jalur hijau

 Bangunan di sepanjang sistem jaringan jalan nasional dan provinsi harus memilki sempadan bangunan yang sesuai dengan ketentuan setengah ruas milik jalan ditambah 1 (sesuai ketentuan berlaku).

 Terbatas untuk kegiatan kepentingan umum dengan mendapatkan izin sesuai ketentuan berlaku.

 dilarang adanya kegiatan yang dapat menimbulkan hambatan lalu lintas regional pada pemanfaatan ruang di sepanjang jaringan jalan nasional, provinsi dan kabupaten

 dilarang bangunan dalam DAMIJA sesuai ketentuan yang berlaku Di sepanjang kawasan sekitar sistem jaringan jalan nasional, provinsi dan

-

Prasarana yang dapat

dibangun meliputi: tempat parkir dan tempat bongkar muat.

 Perlu adanya pengendalian terutama IMB yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah

Lebar Ruang milik jalan dan lebar pengawasan jalan ditentukan dari tepi badan jalan berdasarkan peraturan terkait.

(23)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -23

tidak diizinkan)

kabupaten

 dilarang melakukan kegiatan yang dapat menutup sebagian/seluruh jalan atau menghambat kelancaran lalu lintas Pada kawasan sekitar prasarana jalan lokal primer maupun jalan strategis kabupaten

D2. Jalur Rel Kereta Api

 Diizinkan Pengembangan jalur hijau di sempadan

 pembatasan pemanfaatan ruang yang peka terhadap dampak lingkungan akibat lalu lintas kereta api di sepanjang jalur kereta api nasional yang memenuhi ketentuan ruang pengawasan jalan

 Terbatas untuk kegiatan kepentingan navigasi perkeretaapian dengan mendapatkan izin sesuai ketentuan berlaku

 Dilarang adanya kegiatan dan

bangunan yang dapat

menimbulkan hambatan lalu lintas

-

sarana dan prasarana

pendukung sesuai dengan petunjuk teknis dan peraturan yang berlaku

penetapan garis sempadan bangunan di sisi jaringan jalur kereta api dengan memperhatikan dampak lingkungan dan kebutuhan pengembangan jaringan jalur kereta api.

D3. ASDP dan Transportasi Laut

 Diizinkan Pengembangan kegiatan perikanan dan pariwisata alam sesuai ketentuan berlaku

 Terbatas untuk bangunan yang

-

sarana dan prasarana

pendukung sesuai dengan petunjuk teknis dan peraturan yang berlaku

-

(24)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -24

tidak diizinkan)

mendukung kelancaran operasional transportasi dan fasilitas pendukung pelabuhan

 pelarangan kegiatan di ruang udara bebas di atas perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai, danau, dan penyeberangan;

 pelarangan kegiatan di bawah perairan yang berdampak pada keberadaan alur pelayaran sungai, danau, dan penyeberangan.

D4.

Kawasan sekitar jaringan prasarana energi

 Diizinkan kegiatan yang tidak intensif, diantaranya untuk kegiatan pertanian, perkebunan, kehutanan, RTH, perikanan, dan peternakan Pada kawasan dibawah jaringan listrik SUTUT, SUTET, dan SUTM

 Diizinkan Pengembangan Jalur hijau

 Dilarang melakukan kegiatan di sekitar prasarana pembangkit listrik maupun gardu induk distribusinya yang dapat membahayakan berfungsinya prasarana energi tersebut

 Disepanjang jaringan dilarang

-

fasilitas pendukung

operasional jaringan Peraturan zonasi untuk pembangkit tenaga listrik

disusun dengan

memperhatikan

pemanfaatan ruang di sekitar pembangkit listrik harus memperhatikan jarak aman dari kegiatan lain.

Peraturan zonasi untuk jaringan transmisi tenaga listrik disusun dengan memperhatikan ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bebas di sepanjang

(25)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -25

tidak diizinkan)

mendirikan bangunan jalur transmisi sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang- undangan

D5.

Prasarana

Sumberdaya air  Diizinkan untuk kawasan pertanian, perkebunan, hutan dan ruang terbuka hijau

 Dilarang membangun bangunan maupun melakukan kegiatan sekitar prasarana sumber daya air yang dapat mengganggu, mencermarkan, dan merusak fungsi prasarana sumber daya air.

-

sarana dan prasarana

pendukung sumber daya air sesuai dengan petunjuk teknis dan peraturan yang berlaku

Bangunan terbatas untuk mendukung sumberdaya air seperti rumah pompa,pos keamanan,dll

pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar wilayah sungai dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan;

 Garis sempadan jaringan reklamasi rawa ditetapkan sebagai berikut :

a. Untuk saluran primer dan sekunder pada jaringan reklamasi rawa baik rawa pantai maupun rawa pedalaman sekurang- kurangnya dua setengah kali lebar atas saluran, diukur dan as saluran.

b. Untuk saluran tersier pada jaringan reklamasi rawa baik rawa pantai maupun rawa pedalaman sekurang- kurangnya satu meter diukur

(26)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -26

tidak diizinkan)

dari kaki tanggul sebetah Luar.

c. Untuk saturan primer dan sekunder pada jaringan reklamasi rawa khusus untuk tambak baru sekurang- kurangnya satu meter diukur dan kaki Langgit sebelah luar.

D6.

Sekitar Prasarana Telekomunikasi

 Diizinkan Pengembangan jalur hijau, pertanian kering, perkebunan, dan hutan

 Bersyarat untuk Permukiman, perdagangan jasa serta fasilitas umum dengan syarat radius 20-25 m dari prasarana komunikasi

 Dilarang adanya bangunan rumah dalam kawasan sekitar sistem prasarana telekomunikasi yang dapat mengganggu keamanan orang dalam bangunan tersebut.

-

sarana dan prasarana

pendukung sesuai dengan petunjuk teknis dan peraturan yang berlaku

Peraturan zonasi untuk

sistem jaringan

telekomunikasi disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk penempatan stasiun bumi dan menara pemancar telekomunikasi yang memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan di sekitarnya.

(27)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -27

tidak diizinkan)

D7.

Prasarana lingkungan (jaringan limbah, persampahan dan tanggul)

 Dilarang terletak berdekatan dengan

kawasan permukiman

-

prasarana penunjang

pengelolaan sampah/limbah  Peraturan zonasi untuk

sistem jaringan

telekomunikasi disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang untuk penempatan stasiun bumi dan menara pemancar telekomunikasi yang memperhitungkan aspek keamanan dan keselamatan aktivitas kawasan di sekitarnya.

 harus didukung oleh studi AMDAL yang telah disepakati oleh instansi yang berwenang;

 Pengelolaan sampah dalam TPST dilakukan dengan sistem sanitary landfill sesuai ketentuan peraturan yang berlaku;

(28)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -28 dasarnya diberikan guna pelaksanaan tertib pemanfaatan yang menjamin keamanan

dan kenyamanan serta menciptakan kemudahan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang, memberikan pengertian bagi usaha kelancaran pembangunan, bukan menciptakan rantai panjang dalam pelaksanaan pembangunan.

Ketentuan perizinan disusun berdasarkan ketentuan umum peraturan zonasi yang sudah di tetapkan dan ketentuan teknis berdasarkan peraturan perundang-undangan sector terkait lainnya.

Secara lebih rinci berkenaan dengan ketentuan perizinan ini, pada Undang-Undang Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007 ditetapkan bahwa :

a. Ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Penataan Ruang diatur oleh Pemerintah dan pemerintah daerah menurut kewenangan masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

b. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dibatalkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah menurut kewenangan masing- masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

c. Izin pemanfaatan ruang yang dikeluarkan dan/atau diperoleh dengan tidak melalui prosedur yang benar, batal demi hukum.

d. Izin pemanfaatan ruang yang diperoleh melalui prosedur yang benar tetapi kemudian terbukti tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah, dibatalkan oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.

e. Terhadap kerugian yang ditimbulkan akibat pembatalan izin dapat dimintakan penggantian yang layak kepada instansi pemberi izin.

f. Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai lagi akibat adanya perubahan rencana tata ruang wilayah dapat dibatalkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dengan memberikan ganti kerugian yang layak.

g. Setiap pejabat pemerintah yang berwenang menerbitkan izin pemanfaatan ruang

dilarang menerbitkan izin yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang.

(29)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -29 1. Izin Prinsip

2. Izin Lokasi

3. Izin Mendirikan Bangunan (IMB) 4. Izin Gangguan

5. Izin Tempat Usaha (SITU) 6. Izin Mendirikan Tower 7. Izin Reklame

8. Izin Lingkungan 9. Rekomendasi AMDAL

10. Izin lain berdasarkan peraturan perundangan

Secara umum, alur pentahapan perizinan di wilayah kabupaten Banyuasin melalui Badan Pelayanan Terpadu adalah sebagai berikut:

Gambar 7.1 Tahapan Perizinan di Wilayah Kabupaten Banyuasin

Sedangkan untuk pengajuan izin prinsip dan lokasi mekanisme dan prosedur yang

dilakukan adalah sebagai berikut :

(30)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -30

koordinasi dengan mengundang Tim Teknis Lapangan dan dibuatkan Berita Acara dan Dilanjutkan Pemeriksaan (BAP);

3. Berdasarkan Berita Acara (BAP) tersebut permohonan dapat disetujui an atau ditolak;

2 Izin Lokasi 1. Pengajuan berkas permohonan di loket pelayanan;

2. Berkas Permohonan dinyatakan Lengkap kemudiaan diadakan rapat koordinasi dengan mengundang Tim Teknis dilanjutkan Pemeriksaan lapangan dan dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP);

3. Berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tersebut permohonan dapat disetujui atau tidak.

Berkenaan dengan muatan RTRW tahun 2011-2031, dimana dalam muatannya terdapat arahan pemanfaatan ruang yang perlu diatur perizinannya, selain perizinan yang sudah ada saat ini. Dengan demikian Pemerintah Kabupaten Banyuasin perlu menyiapkan beberapa bentuk pelayanan perizinan seperti di bawah ini :

1.

Izin

In Gang

2. Izin Saluran Air Hujan 3. Izin Saluran Air Limbah 4. Izin Reklamasi Rawa

1. Izin

In Gang

Izin in gang ini diperlukan bagi kagiatan tertentu yang memerlukan adanya jalan masuk secara khusus ke lokasi kegiatan usaha. Dalam hal ini kegiatan tersbut memerlukan akses jalan untuk memungkinkan pemakai jalan memasuki tempat kegiatan tersebut. Untuk mendapatkan izin in gang diperlukan berbagai persyaratan, diantaranya :

a. Mengisi formulir yang telah disediakan, diketahui ketua RT sampai dengan camat;

b. Fotocopy KTP pemohon

c. Fotocopy sertifikat tanah atau surat ukur yang dikeluarkan kantor pertanahan;

d. Gambar sketsa lokasi;

e. Gambar rencana jalan masuk ( in gang );

f. Surat pernyataan (bilamana diperlukan).

(31)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -31 a. Mengisi formulir yang telah disediakan, diketahui ketua RT samapi camat;

b. Fotocopy KTP pemohon;

c. Fotocopy sertifikat tanah atau surat ukur yang dikeluarkanoleh kantor pertanahan;

d. Gambar sketsa lokasi;

e. Gambar rencana jalan masuk ( in gang ) atau saluran air hujan;

f. Surat pernyataan tidak bermaterai.

3. Izin Saluran Air Limbah/Saluran Air Kotor

Izin saluran air limbah diperlukan bagi mereka yang akan melakukan kegiatan pembagunan saluran air limbah/air kotor tertentu. Untuk mendapatkan izin ini diperlukan berbagai persyaratan, diantaranya :

a. Fotocopy IMBB/IMB;

b. Denah situasi;

c. Bagi bangunan yang belum memiliki IMBB, agar melampirkan fotocopy sertifikat tanah;

d. Fotocopy KTP pemohon

4. Izin Reklamasi Rawa

Permohonan izin reklamasi rawa harus dilengkapi:

a. Data admrnistrasi berupa:

- Foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP yang berlaku dan penanggung jawab instansi / perusahaan / perkumpulan /perorangan.

- Foto Copy akte pendirian perusahaan dan legalisasi instansi / perkumpulan.

- Nomor Wajib Pajak (NPWP) perusahaan/ perkumpulan /perorangan yang berlaku.

- Pasphoto penanggung jawab perusahaan/ perkumpulan/ perorangan ukuran 4 x 6 rangkap 4 (empat).

- Bukti pembayaran biaya administrasi perizinan.

b. Data teknis berupa:

(32)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -32 - Dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) sesuai dengan

peraturan yang berlaku di Depantemen Pekerjaan Umum

7.3. Ketentuan Pemberian Insentif dan Disintensif

Arahan pemberian insentif dan disinsentif merupakan acuan bagi pemerintah daerah dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif. Mekanisme pemberian insentif dan disinsentif mengandung suatu pengaturan dan pengendalian pembangunan yang bersifat akomodatif terhadap setiap perubahan yang menunjang pembangunan/perkembangan kota. Ketentuan pemberian insentif adalah ketentuan yang mengatur tentang pemberian imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan kegiatan yang didorong perwujudannya dalam rencana tata ruang.

Pemberian insentif dimasudkan sebagai upaya untuk memberikan imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang, baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun oleh pemerintah daerah.

a. Insentif dari kepada pemerintah kepada pemerintah daerah diberikan antara lain dalam bentuk :

- Subsidi silang

- Kemudahan perizinan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang diberikan oleh pemerintah

- Penyediaan prasarana dan sarana daerah - Pemberian kompensasi

- Penghargaan dan fasilitasi - Publikasi atau promosi daerah

b. Insentif dari pemerintah daerah kepada pemerintah daerah lainnya, antara lain dalam bentuk :

- Pemberian kompensasi

- Pemberian penyediaan sarana dan prasarana

- Kemudahan perizinan bagi kegiatan pemanfaatan ruang

(33)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -33 - Pengurangan retribusi

- Imbalan - Sewa ruang - Urun Saham

- Penyediaan Infrastruktur - Kemudahan prosedur perizinan - Penghargaan

Mekanisme insentif yang diberikan, lebih diarahkan pada kawasan-kawasan prioritas yang memiliki tingkat perkembangan yang cepat dan mampu memacu perkembangan wilayah sekitarnya, serta kawasan-kawasan yang memiliki tingkat perkembangan yang rendah namun memiliki potensi unggulan dan perlu dipromosikan. Adapun Mekanisme insentif yang diberikan, meliputi :

 Bidang Ekonomi , dilakukan dengan mempromosikan potensi-potensi unggulan wilayah, serta pengenaan pajak yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lainnya.

 Penyediaan Sarana dan Prasarana Wilayah , dilakukan dengan melengkapi ketersediaan sarana dan prasarana wilayah yang mampu memacu kegiatan perekonomian dan merupakan keunggulan komparatif wilayah, yang dapat menarik minat investor untuk menanamkan modalnya.

 Kemudahan perizinan , dilakukan dengan memberikan kemudahan dalam swasta maupun masyarakat.

 Kemudahan informasi , dilakukan dengan memberikan kemudahan informasi terhadap segala kegiatan yang akan dilaksanakan pada wilayah tersebut.

Sedangkan untuk Ketentuan diinsentif merupakan ketentuan yang mengatur tentang pengenaan bentuk-bentuk kompensasi dalam pemanfaatan ruang.

a. Disinsentif dari pemerintah kepada pemerintah daerah antara lain dalam bentuk : - Persyaratan khusus dalam perizinan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang

diberikan oleh Pemerintah;

(34)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -34 - Pengenaan kompensasi

- pensyaratan khusus dalam perizinan bagi kegiatan pemanfaatan ruang

c. Disinsentif dari pemerintah daerah kepada masyarakat dikenakan antara lain dalam bentuk :

- Pengenaan pajak yang tinggi

- Pembatasan penyediaan insfrastruktur - Pengenaan kompensasi

- kewajiban memberi imbalan

- pensyaratan khusus dalam perizinan - Pinalti

Mekanisme disinsentif digunakan sebagai perangkat yang mampu mengendalikan, segala kegiatan-kegiatan yang diperkirakan akan memperlambat pencapaian tujuan pengembangan wilayah, serta mengganggu kelestarian lingkungan hidup.

Adapun perangkat disinsentif yang diberikan, meliputi :

 Bidang Ekonomi , dilakukan dengan pengenaan pajak yang relatif lebih tinggi, jika pada lokasi-lokasi yang sudah diberikan izin pemanfaatannya tidak dilaksanakan sesuai dengan jangka waktu perencanaan atau lahan-lahan tersebut tidak dimanfaatkan atau ditelantarkan (lahan tidur).

 Bidang Fisik , dilakukan dengan membatasi kegiatan atau tidak menyediakan sarana dan prasarana pelayanan.

 Teknis Bangunan , dilakukan dengan memberikan persyaratan teknis bangunan berupa pembatasan tata bangunan (Koefisien Dasar Bangunan/KDB) serta pembatasan ketinggian bangunan (Koefisien Lantai Bangunan/KLB).

 Perizinan , dilakukan dengan tidak memberikan izin pemanfaatan ruang bagi

kegiatan yang tidak sesuai dengan rencana pemanfaatan ruang yang telah

ditetapkan.

(35)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -35 pemanfaatan ruang disajukan dalam tabel berikut :

Tabel 7.3

Ketentuan Insentif dan Disinsentif No Klasifikasi

Pemanfaatan Ruang Insentif Disinsentif

1. Kawasan Lindung,(Hutan

Lindung, daerah

resapan air,

perlindungan setempat, suakan alam dan Taman Nasional Sembilang

 Pemberian penghargaan kepada pihak yang melakukan rehabilitasi fungsi kawasan lindung

 Memberikan kompensasi permukiman dan kelengkapan infrastruktur atau imbalan kepada penduduk yang bersedia direlokasi dari kawasan lindung

 Memberikan keringanan pajak dan pembebasan retribusi dilokasi yang baru

 Pembatasan dukungan infrastruktur.

 Tidak diterbitkannya sertifikat Tanah dan Bangunan.

 Tidak mengeluarkan IMB ataupun izin usaha lain

 Tidak menyalurkan bantuan sosial- ekonomi bagi penduduk yang masih bermukim pada kawasan lindung/hutan lindung

 Kewajiban memberikan imbalan sebagai denda

2. Hutan Produksi  Pemberian piagam atau penghargaan bagi seseorang, kelompok masyarakat atau kelompok tertentu yang turut melindungi dan meningkatkan fungsi hutan

 Memberikan penghargaan/imbalan kepada pihak pengelola hutan yang mengusahakan hutan sesuai pertauran perundang-undangan yang berlaku

 Memberikan penghargaan/imbalan kepada pihak pengelola hutan yang merehabilitasi kawasan lidnung setempat pada kawasan hutan produksi

 Penambahan syarat pengusahaan hutan produksi terkait peningkatan kualitas lingkungan

 Meningkatkan nilai retribusi dan atau pajak hasil hutan bila pengelola hutan tidak mengikuti aturan pengusahaan hutan yang berlaku

 Memberikan pinalti bagi pengusaha hutan yang tidak mematuhi aturan perundang-undangan yang berlaku

4. Pertanian  Memberikan imbalan, penghargaan, dukungan infrastruktur dan bantuan (subsidi) bagi petani yang memperluas lahan pertanian padi sawah

 Memberikan kemudahan berbagai perizinan bagi petani yang memperluas lahan atau tetap mempertahankan luas lahan pertanian padi sawah

 Memberikan bantuan-bantuan

 Pengenaan pajak progresif pada tanah subur yang tidak berfungsi lindung dan berada pada kawasan pertanian namun tidak diolah (produktif)

 Pengenaa retribusi dan pajak yang tinggi bagi bangunan yang didirikan pada areal pertanian padi sawah

 Pengenaan retribusi yang tinggi bagi penduduk yang memanfaatkan air irigasi bukan untuk pertanian,

(36)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -36

5. Perkebunan  Memberikan penghargaan, imbalan, penyertaan saham, kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengusahakan perkebunan karet yang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku

 Memberikan penghargaan, imbalan, penyertaan saham, kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengelola perkebunan dengan memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal

 Memberikan penghargaan, imbalan, penyertaan saham, kemudahan perizinan, kepada pihak yang mengelola perkebunan dengan merehabilitasi kawasan lindung setempat

 Memberikan bantuan khusus kepada petani seperti alat-alat perkebunan, pembibitan serta tunjangan beasiswa sekolah untuk anak petani

 Pengenaan retribusi/ kenaikan pajak/kompensasi bagi pengusaha yang dalam pengelolaan kegiatannya mengabaikan kerusakan lingkungan dan atau tidak sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku

 Pencabutan izin usaha dan HGU pada perusahaan yang terbukti melanggar aturan

 Pengenaan kompensasi dalam bentuk pembangunan infrastruktur sosial

6. Perikanan  Memberikan penghargaan, imbalan, kemudahan berbagai perizinan bagi nelayan melakukan usahanya dengan tidak merusak lingkungan dan ikut melindungi biota laut dan sungai

 Memberikan bantuan-bantuan khusus kepada nelayan (peralatan tangkap, perahu,subsidi bahan bakar, serta tunjangan beasiswa bagi anak nelayan dll)

 Menjamin harga ikan dan hasil laut lainnya tetap tinggi (subsidi)

 Pembangunan pabrik pengolahan ikan dan non ikan

 Kemudahan izin usaha perikanan (sesuai aturan berlaku)

 Pengenaan pajak progresif pada kawasan budidaya perikanan seperti tambak yang berada pada kawasan pertambakan namun tidak diolah (produktif)

 Pengenaa retribusi dan pajak yang tinggi bagi bangunan yang didirikan pada areal usaha perikanan

 Mengenakan retribusi yang tinggi bagi yang melakukan gangguan terhadap pelestarian lingkungan

7. Pertambangan  Menyiapkan dukungan administratif sehingga terdapat kepastian hukum berusaha

 Memberikan kemudahan dalam prizinan

 Mengenakan retribusi yang tinggi bagi perusahaan yang melakukan gangguan terhadap pelestarian lingkungan

 Mengenakan retribusi khusus bagi

(37)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -37

 Mendukung pelatihan tenaga lokal sesuai kebutuhan perusahaan pertambangan

untuk menggati lahan yang dipakai

usaha (Biaya Dampak

Pembangunan)

 Pencabutan izin usaha dan HGU pada perusahaan yang terbukti melanggar aturan

8. Industri  Menyiapkan dukungan administratif sehingga terdapat kepastian hukum berusaha

 Memberikan kemudahan dalam prizinan

 Dukungan pembangunan infrastruktur

 Memfasilitasi urusan birokrasi dengan pemerintah provinsi dan pusat

 Mendukung pelatihan tenaga lokal sesuai kebutuhan perusahaan industri

 Mengenakan retribusi yang tinggi bagi perusahaan yang melakukan gangguan terhadap pelestarian lingkungan

 Mengenakan retribusi khusus bagi persuahaan industri yang tidak melibatkan tenaga kerja lokal lebih dari 40%

 Mengenakan kompensasi seperti pembangunan infrastruktur sosial untuk menggati lahan yang dipakai

usaha (Biaya Dampak

Pembangunan)

 Pencabutan izin usaha dan HGU pada perusahaan yang terbukti melanggar aturan

9. Permukiman

Perkotaan  Memberikan imbalan, penghargaan, kompensasi dan kemudahan usaha bagi penduduk (swasta) yang melakukan investasi pada kawasan perkotaan

 Menyediakan kavling strategis yang murah atau pinjam pakai sampai 25 tahun) bagi pengusaha yang akan bergiat pada kawasan ini

 Memberikan keringanan pajak kepada pengusaha yang berminat berusaha/ menanamkan modalnya

 Menyiapkan lahan matang secara gratis untuk bangunan komersial

 Meningkatkan nilia PBB pada kawasan perkotaan lain selain kawasan perkotaan.

 Mengenakan retribusi yang tinggi pada bangunan yang dibangun diluar ketentuan penataan ruang yang sudah ditetapkan

(38)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -38

 Membangun fasilitas umum dan sosial

 Memberikan kepastian hukum dan nasehat teknis untuk bangunan tahan gempa yang dibangun pada kawasan bebas bencana

 Menyiapkan lahan yang aman bagi permukiman (kasiba/lisiba)

pembangunan infrastruktur sosial, RTH untuk menggati lahan yang dipakai usaha (Biaya Dampak Pembangunan)

 Pencabutan izin membangun pada pengembangan yang terbukti melanggar aturanselai

11 Pariwisata  Penyiapan lahan untuk kawasan wisata

 Kemudahan izin pembangunan fasiltias

pendukung pariwisata

 Pembangunan infrastruktur

 Kemudahan memperoleh sambungan

listrik, PDAM, telekomunikasi

 Fasilitasi Promosi dan pemasaran ODTW

 Bantuan rehabilitasi rumah penduduk yang digunakan untuk penginapan tamu/wisatawan (home stay)

 Syarat yang berat bagi penggiat wisata yang betentangan dengan norma dan tata krama setempat

 Retribusi/pajak bangunan lebih tinggi yang berada pada sempadan pantai/danau

 Pembatasan atau penutupan akses

 terhadap sistem jaringan prasarana wilayah

12 Kawasan Pesisir  Memberikan penghargaan, imbalan, kemudahan berbagai perizinan bagi yang ikut menjaga dan berperan merehabilitasi kawasan lindung pantai

 Memberikan penghargaan, imbalan, kemudahan berbagai perizinan bagi yang ikut menjaga pertahanan dan keamanan wilayah laut

 Pelatihan keterampilan utk masyarakat pesisir

 Penelitian dan pemasaran hasil laut

 Pembangunan Escape Road &

Building

 Bantuan revitalisasi dan rehabilitasi kawasan perkampungan nelayan

 Bantuan pembangunan infrastruktur permukiman

 Pembatasan izin bangunan pada kawasan lindung pantai (kawasan mangroove dan suaka alam)

 Retribusi/pajak bangunan lebih tinggi yang berada pada sempadan pantai

 Tidak menyediakan atau membangun prasarana dan sarana permukiman pada kawasan lindung pantai

Sumber : Hasil Analisis dan Rencana,2011

(39)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -39 sesuai dengan ketentuan perizinan pemanfaatan ruang, tetapi juga terhadap pejabat

pemerintah yang berwenang yang menerbitkan izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang.

Arahan sanksi merupakan acuan dalam pengenaan sanksi terhadap :

a. Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan pola ruang wilayah kabupaten

b. Pelanggran ketentuan arahan peraturan zonasi kabupaten

c. Pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan yang diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten

d. Pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang ditertibkan berdasarkan RTRW Kabupaten

e. Pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten

f. Pemanfaatan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum

g. Pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang tidak benar

Setelah menentukan jenis pelanggaran yang dibuat, maka perlu tindakan:

1. Lihat ketentuan dalam rencana tata ruang.

2. Lihat ketentuan standar bangunan.

3. Lihat perijinan.

4. Ukuran besaran pelanggaran.

5. Ukur dampak pelanggaran terhadap lingkungan.

6. Cari solusi dari masalah yang muncul.

7. Tetapkan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang dibuat.

Adapun jenis sanksi yang dapat dikenakan adalah sebagai berikut:

 Sanksi administratif,

(40)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -40 kawasan tersebut. Terhadap pelanggaran untuk pemanfaatan ruang tanpa izin

pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RTRW Kabupaten, dikenakan sanksi adminstratif berupa:

a) Peringatan tertulis;

b) Penghentian sementara kegiatan;

c) Penghentian sementara pelayanan umum;

d) Penutupan lokasi;

e) Pencabutan izin;

f) Pembatalan izin;

g) Pembongkaran bangunan;

h) Pemulihan fungsi ruang; dan/atau i) Denda administratif.

Berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan pada masing-masing sanksi di atas.

Tabel 7.4 Ketentuan Sanksi

No. Bentuk Sanksi Ketentuan

1. Peringatan Tertulis Peringatan tertulis diberikan oleh pejabat yang berwenang dalam penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang melalui penerbitan surat peringatan tertulis sebanyak-banyaknya 3 (tiga) kali.

2. Penghentian

sementara kegiatan

-

Penerbitan surat perintah penghentian kegiatan sementara dari pejabat yang berwenang melakukan penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang;

-

Apabila pelanggar mengabaikan pejabat yang berwenang melakukan penertiban dengan menerbitkan surat keputusan pengenaan sanksi penghentian sementara secara paksa terhadap kegiatan pemanfaatan ruang;

-

Pejabat yang berwenang melakukan tindakan penertiban dengan memberitahukan kepada pelanggar mengenai pengenaan sanksi penghentian kegiatan pemanfaatan ruang dan akan segera dilakukan tindakan penertiban oleh aparat penertiban;

-

Berdasarkan surat keputusan pengenaan sanksi, pejabat yang berwenang melakukan penertiban dengan bantuan aparat penertiban melakukan penghentian kegiatan pemanfaatan ruang secara paksa; dan

-

Setelah kegiatan pemanfaatan ruang dihentikan, pejabat yang berwenang melakukan pengawasan agar kegiatan pemanfaatan ruang yang dihentikan tidak beroperasi kembali sampai dengan terpenuhinya kewajiban pelanggar

(41)

ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

VII -41 -

Apabila pelanggar mengabaikan surat pemberitahuan yang disampaikan,

pejabat yang berwenang melakukan penertiban menerbitkan surat keputusan pengenaan sanksi penghentian sementara pelayanan umum kepada pelanggar dengan memuat rincian jenis-jenis pelayanan umum yang akan diputus;

-

Pejabat yang berwenang melakukan tindakan penertiban memberitahukan kepada pelanggar mengenai pengenaan sanksi penghentian sementara pelayanan umum yang akan segera dilaksanakan, disertai rincian jenis- jenis pelayanan umum yang akan diputus;

-

Pejabat yang berwenang menyampaikan perintah kepada penyedia jasa pelayanan umum untuk menghentikan pelayanan kepada pelanggar, disertai penjelasan secukupnya;

-

Penyedia jasa pelayanan umum menghentikan pelayanan kepada pelanggar

-

Pengawasan terhadap penerapan sanksi penghentian sementara pelayanan umum dilakukan untuk memastikan tidak terdapat pelayanan umum kepada pelanggar sampai dengan pelanggar memenuhi kewajibannya untuk menyesuaikan pemanfaatan ruangnya dengan rencana tata ruang dan ketentuan teknis pemanfaatan ruang yang berlaku.

4. Penutupan Lokasi

-

Penerbitan surat perintah penutupan lokasi dari pejabat yang berwenang melakukan penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang;

-

Apabila pelanggar mengabaikan surat perintah yang disampaikan, pejabat yang berwenang menerbitkan surat keputusan pengenaan sanksi penutupan lokasi kepada pelanggar;

-

Pejabat yang berwenang melakukan tindakan penertiban dengan memberitahukan kepada pelanggar mengenai pengenaan sanksi penutupan lokasi yang akan segera dilaksanakan;

-

Berdasarkan surat keputusan pengenaan sanksi, pejabat yang berwenang dengan bantuan aparat penertiban melakukan penutupan lokasi secara paksa; dan

-

Pengawasan terhadap penerapan sanksi penutupan lokasi, untuk memastikan lokasi yang ditutup tidak dibuka kembali sampai dengan pelanggar memenuhi kewajibannya untuk menyesuaikan pemanfaatan ruangnya dengan rencana tata ruang dan ketentuan teknis pemanfaatan ruang yang berlaku.

5. Pencabutan Izin

-

Menerbitkan surat pemberitahuan sekaligus pencabutan izin oleh pejabat yang berwenang melakukan penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang;

-

Apabila pelanggar mengabaikan surat pemberitahuan yang disampaikan, pejabat yang berwenang menerbitkan surat keputusan pengenaan sanksi pencabutan izin pemanfaatan ruang;

-

Pejabat yang berwenang memberitahukan kepada pelanggar mengenai pengenaan sanksi pencabutan izin;

-

Pejabat yang berwenang melakukan tindakan penertiban mengajukan permohonan pencabutan izin kepada pejabat yang memiliki kewenangan untuk melakukan pencabutan izin;

Gambar

Gambar 7.1  Tahapan Perizinan di Wilayah Kabupaten Banyuasin
Tabel 7.4  Ketentuan Sanksi

Referensi

Dokumen terkait

(7) Pengendalian pemanfaatan ruang yang berpotensi merusak fungsi Kawasan Lindung dan lahan pertanian pangan berkelanjutan di sekitar jaringan jalan nasional

hambatan/bypass Lubuklinggau – Curup - Bengkulu APBD Provinsi, APBN, APBD Kabupaten dan Investor Dinas Perhubungan, Dinas PU dan Pengembang. Jaringan Prasarana Lalu Lintas

Sistem jaringan jalan sekunder adalah sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan yang

lebar sempadan pantai diluar ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 1, dapat diterapkan khusus untuk segmen-segmen pantai pada kawasan efektif pariwisata dan permukiman

1) ketentuan umum peraturan zonasi sistem kabupaten adalah ketentuan umum yang mengatur pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang yang disusun untuk

1) Indikasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi adalah arahan dalam penyusunan ketentuan umum peraturan zonasi dan peraturan zonasi yang lebih detail dan

(6) Jalan kolektor primer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (3) yang sudah dikembangkan meliputi ruas jalan yang menghubungkan antara pusat SWP (Satuan

- Peningkatan pelayanan telekomunikasi - Peningkatan pelayanan dan kapasitas PDAM Perwujudan PPL Teluk Betung dilakukan melalui : - Pengembangan kawasan perdagangan dan jasa -