• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN Persaingan bisnis yang semakin ketat menyebabkan setiap pelaku bisnis dituntut harus mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi baik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENDAHULUAN Persaingan bisnis yang semakin ketat menyebabkan setiap pelaku bisnis dituntut harus mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi baik"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Persaingan bisnis yang semakin ketat menyebabkan setiap pelaku bisnis dituntut harus mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi baik itu perubahan terhadap lingkungan bisnis dan juga tuntutan pelanggan yang beraneka ragam, sehingga para pelaku bisnis harus siap dalam menerapkan strategi yang akan digunakan dalam mempertahankan pasarnya (Fauzan & Nuryana, 2014).

Strategi yang digunakan oleh para pelaku bisnis dalam mempertahankan pasarnya, memperoleh laba yang maksimal seringkali mengabaikan atau tidak memperhatikan etika (Novianti & Gunawan, 2010). Sedangkan organisasi dituntut harus berperilaku etis terhadap pekerja, konsumen dan masyarakat pada umumnya (Thoyibatun, 2012).

Tuntutan terhadap perilaku etis inilah menjadi salah satu faktor beberapa perusahaan di Indonesia mulai mengembangkan spiritualitas dalam manajemennya karena pimpinan dan karyawan sadar akan pentingnya kebutuhan spiritual (Nurtjahjanti, 2010). Spiritual dalam kehidupan organisasi dan kepemimpinan sesungguhnya telah dikemukakan dalam berbagai jurnal ilmiah sejak awal tahun 1990 an (misalnya Neck & Milliman, 1994; Osborne, 1995;

Fairholm, 1996) dalam Abdurrahman & Agustini (2011). Faktor kepemimpinan yang etis dan mengedepankan nilai-nilai spiritual menjadi hal yang penting dalam ilmu perilaku keorganisasian atau manajemen (Widyarini, 2010). Sehingga dunia bisnis tidak saja membutuhkan etika (etika bisnis) tetapi juga spiritualitas bisnis (Tarigan, 2014).

Kepemimpinan spiritual dapat efektif mempengaruhi keberhasilan organisasi sehingga erat kaitannya dengan spiritualitas di tempat kerja. Oleh karena itu pengaruhnya membuat individu-individu anggota mengalami iklim spiritualitas di tempat kerja yang secara intrinsik memotivasi untuk mencapi tujuan secara bersama-sama. Dimensi kepemimpinan yang spiritual coba diusulkan oleh Fry (2003) dalam Widyarini, 2010) yaitu visi, harapan/keyakinan, cinta altruistik , makna/panggilan dan keanggotaan.

Spiritualitas dan perilaku etis merupakan dua hal penting dan memiliki dampak bagi organisasi bisnis. Hal inipun sejalan dengan penelitian oleh Kriger

(2)

2

and Hanson (1999) dalam Wibowo & Handayani (2018) yang menegaskan bahwa

“good values (i.e honesty, spiritual, and ethical aspects) can create a healthy organization”. Faktor-faktor good values tersebut menjadi salah satu penentu keberhasilan usaha, di samping faktor lain dari dalam diri individu pelaku usaha, yaitu spiritualitas. Studi yang dilakukan oleh Larry (1990) di Amerika menemukan bahwa perusahaan yang komit dengan etika dapat mendongkrak profitabilitas dan pertumbuhan bisnis yang digeluti (Roziq, 2010).

Selain itu juga perilaku etika dianggap penting dalam bisnis karena organisasi bertanggungjawab untuk berusaha mengembangkan suatu perilaku organisasi yang mencerminkan kejujuran dan etika. Penerapan standar etika dan moral yang tinggi pada pemimpin dalam suatu perusahaan terbukti lebih sukses dalam jangka panjang (Doug Lennick dan Fred Kiel, 2005) dalam Anderson (2008) dalam Novianti & Gunawan (2010)

Menurut Milliman et al. (2003) dalam (Sirine & Kurniawati, 2018) mengatakan bahwa studi tentang spiritualitas dalam konteks tempat kerja dan kepemimpinan masih dalam masa pertumbuhan. Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang spiritualitas. Penelitian ini lebih menekankan spiritualitas dilihat dari konteks organisasi bisnis berdasarkan pada dimensi tempat kerja dan kepemimpinan spiritualitas dalam bisnis yang diadopsi dari Fry yaitu visi, harapan/keyakinan, cinta altruistik , makna/panggilan dan keanggotaan serta pengaruhnya terhadap perilaku etis dan juga ingin melihat dampaknya pada entrepreneurial development.

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Apakah spiritualitas berpengaruh terhadap perilaku etis ?

2) Apakah perilaku etis berpengaruh terhadap entrepreneurial development ? 3) Apakah spiritualitas berpengaruh terhadap entrepreneurial development ? Penelitian ini diharapkan mampu menjadi referensi bagi peneliti yang lain yang melakukan penelitian sejenis.

(3)

KAJIAN PUSTAKA

Entrepreneurial Development

Konsep kewirausahaan coba dikemukakan oleh Rusdiana, dkk (2013) bahwa kewirausahaan merupakan kemauan dan kemampuan seseorang dalam menghadapi berbagai risiko dengan mengambil inisiatif untuk menciptakan dan melakukan hal-hal baru melalui pemanfaatan kombinasi berbagai sumber daya dengan tujuan untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) dan memperoleh keuntungan sebagai konsekuensinya.

Menurut Agbim (2013) dalam Sirine & Kurniawati mendefinisikan kewirausahaan sebagai proses mewujudkan niat inovatif oleh individu atau kelompok individu, baik perusahaan baru atau lama melalui jaringan untuk memperoleh kemampuan yang diperlukan yang akan meningkatkan keberhasilan bisnis dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan. Definisi ini mengungkapkan tiga dimensi entrepreneurial development yang dipakai dalam penelitian ini, yaitu entrepreneurial networking, entrepreneurial capability, entrepreneurial success.

Salah satu bagian dari karakteristik organisasi sosial dalam modal sosial adalah jejaring atau networking selain norma-norma dan kepercayaan sosial yang memudahkan koordinasi dan kerjasama untuk manfaat bersama (Putnam, 1993) dalam (Thobias, 2013). Menurut (Tian, et al., 2009) dan (Hunjra et al., 2011) dalam (Sirine & Kurniawati, 2018) masing-masing menjelaskan bahwa melalui network¸ orang-orang dapat mengembangkan kemampuan dalam berwirausaha dan juga memperluas bisnis. Sedangkan menurut (Maxwell, 2003; Kauanui et al., 2009) dalam (Sirine & Kurniawati, 2018) menjelaskan bahwa peluang yang dimanfaatkan secara tepat dapat mengarah pada kesuksesan atau keberhasilan kewirausahaan dan keberhasilan tersebut secara positif dapat mempengaruhi kehidupan orang lain dan membawa inovasi dalam produk dan layanan yang dikelola dengan baik.

Pengembangan terhadap kewirausahaan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam berproduksi sehingga industri di

(4)

4

Indonesia berdaya saing tinggi dan dapat mengikuti era perkembangan teknologi sekarang ini (Rusdiana dkk, 2013).

Spiritualitas

Spiritual berasal dari bahasa latin spiritus yang berarti prinsip yang memvitalisasi suatu organisme. Zohar dan Marshall (2001) menjelaskan bahwa spiritualitas tidak harus dikaitkan dengan kedekatan seseorang dengan aspek ketuhanan, sebab seorang humanis pun dapat memilki spritualitas yang tinggi.

Spiritualitas merupakan nilai-nilai intrinsik yang dimiliki dan dibutuhkan setiap manusia seperti kejujuran, keterbukaan, keseimbangan, keakraban, terlepas dari agama apa yang dianut oleh pelaku bisnis (Tarigan, 2014). Spiritualitas yang dipakai dalam penelitian ini adalah dalam konteks spiritualitas di tempat kerja dan kepemimpinan yang spiritualitas. Hadirnya spiritualitas di tempat kerja memiliki peran penting dalam menciptakan kinerja organisasi yang unggul, baik pada level individual, tim, maupun organisasi secara keseluruhan (Abdurrahman & Agustini, 2011). Fry (2003) dalam (Sirine & Kurniawati, 2018) menjelaskan bahwa kepemimpinan spiritual sebagai bentuk dari nilai-nilai, sikap, dan perilaku yang diperlukan untuk memotivasi diri sendiri dan orang lain agar mereka memiliki kehidupan spiritual melalui panggilan dan keanggotaan.

Nilai-nilai spiritualitas yang dipakai dalam penelitian ini adalah visi, harapan/keyakinan, cinta altruistik, makna/panggilan dan keanggotaan. yang dikembangkan oleh (Sirine & Kurniawati, 2018). Selanjutnya Widyarini (2010) menjelaskan berdasarkan teori kepemimpinan yang dikemukakan oleh Fry bahwa kepemimpinan spiritualitas melalui visi, harapan/keyakinan, dan cinta altruistik memberikan dasar motivasi intrinsik melalui keterlibatan dalam tugas dan identifikasi terhadap tujuan.

Perilaku Etis

Perilaku etis adalah perilaku yang diikuti dengan tindakan-tindakan yang baik dan benar sesuai dengan norma-norma sosial yang diterima secara umum dan dapat mempengaruhi kualitas individu. Oleh sebab itu seorang entrepreneur harus memperhatikan perilakunya (Fauzan, 2015).

(5)

Adapun prinsip-prinsip etika dan perilaku bisnis yang selayaknya menjadi landasan perilaku bagi entrepreneur, antara lain: (1) kejujuran, (2) integritas, (3) memelihara janji, (4) kesetiaan, (5) kewajaran/keadilan, (6) suka membantu orang lain, (7) hormat kepada orang lain, (8) kewarganegaraan yang bertanggungjawab, (9) mengejar keunggulan, (10) dapat dipertanggung-jawabkan (Kholifah &

Nurtanto, 2016).

Pengukuran yang dipakai untuk mengukur perilaku etis dalam penelitian ini adalah kejujuran, keadilan, loyalitas, memelihara janji, suka membantu orang lain, hormat kepada orang lain (tidak semena-mena), bertanggungjawab, taat pada aturan, mampu memotivasi, memiliki rasa kebersamaan, mengejar keunggulan dan menggalang kerja sama yang sehat, yang dikembangkan oleh peneliti sesuai dengan kebutuhan penelitian.

PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Pengaruh Spiritualitas terhadap Perilaku Etis

Berbagai penelitian menyatakan bahwa pengembangan spiritualitas di tempat kerja berpengaruh positif terhadap sikap dan perilaku kerja para karyawan secara perorangan seperti meningkatnya kepuasan kerja, komitmen, kebahagiaan, motivasi, keterlibatan kerja, dan inovasi. Perkembangan spiritualitas di tempat kerja tidak akan berkembang sendiri tanpa adanya dukungan dan komitmen dari para pemimpin, sehingga menjadi hal yang penting untuk melakukan kajian juga terhadap kepemimpinan spiritual (Abdurrahman & Agustini, 2011). Pentingnya spiritualitas diterapkan di tempat kerja agar seseorang dapat lebih bertanggung jawab karena praktik bisnis yang tidak etis mungkin saja terjadi karena pemimpin yang tidak bertanggung jawab dan lebih mementingkan nilai materialitas dari pada spiritualitas (Soerjono Soekanto dalam Widyarini, 2010). Azizah (2018) juga mengemukakan bahwa diterapkannya spiritualitas di tempat kerja akan menimbulkan upaya karyawan menemukan tujuan hidup, kebermaknaan, memiliki hubungan yang kuat dengan rekan kerja dan berupaya mencari kesesuaian antara nilai-nilai inti yang menjadi inti kepercayaannya dengan nilai- nilai organisasinya. Oleh sebab itu, penerapan nilai-nilai spiritualitas dalam

(6)

6

organisasi bisnis menjadi harapan baru untuk terjadinya perbaikan moral dan etika (Herminingsih, 2012).

Penelitian terkait pengaruh spiritualitas terhadap perilaku etis telah diteliti sebelumnya oleh beberapa peneliti seperti Risabella (2014) yang meneliti mengenai kecerdasan spiritual terhadap perilaku etis dan berdasarkan hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa kecerdasan spiritualitas berpengaruh terhadap perilaku etis. Lebih lanjut Risabella (2014) mengemukakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi mampu memaknai hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya sehingga cenderung akan mengakibatkan perilakunya akan lebih baik.

Penelitian oleh Umar (2017) juga menemukan bahwa kecerdasan spiritual memiliki pengaruh signifikan terhadap etika. Indikator yang dipakai untuk mengukur kecerdasan spiritual yaitu tingkat kesadaran diri yang tinggi, kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu, dan kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan. Dewi & Wirakusuma (2018), Wardana & Mimba (2016) juga menemukan bahwa kecerdasan spiritual berpengaruh positif terhadap perilaku etis. Jadi pada dasarnya, individu yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi mampu memaknai segala sesuatu yang dikerjakannya sebagai sebuah ibadah dan mampu mengontrol dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang negatif karena seseorang yang memiliki keyakinan agama yang kuat akan cenderung lebih sensitif terhadap masalah etika.

Penelitian ini lebih menekankan nilai-nilai spiritualitas yang dikembangkan oleh Sirine & Kurniawati (2018) yaitu visi, harapan/keyakinan, cinta altruistik, makna/panggilan dan keanggotaan. Oleh sebab itu hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:

H1 : Spiritualitas berpengaruh positif terhadap perilaku etis

Pengaruh Perilaku Etis terhadap Entrepreneurial Development

Kemampuan pengusaha untuk lebih kreatif dan memanfaatkan inovasi dalam kegiatan bisnisnya sehari-hari adalah salah satu hal penting dalam kewirausahan tanpa meninggalkan nilai-nilai penting yang harus dipegang dan

(7)

dijadikan dasar bagi seorang entrepreneur. Salah satu nilai dasar yang harus dipegang entrepreneur adalah etika bisnis dan norma karena etika dan norma dalam bisnis dijadikan dasar bagi perilaku dan moralitas para entrepreneur untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan usaha dan bisnisnya di bidang apapun (Subroto, 2015). Oleh sebab itu pelaku usaha sudah seharusnya mengedapankan unsur etika dan tindakan yang etis dalam menjalankan usahanya (Wibowo &

Handayani, 2018). Menurut Andjarwati & Budiadi (2018) juga mengatakan bahwa pelaku bisnis harus mengindahkan etika dalam berbisnis kalau ingin bisnisnya tetap bisa berjalan dan bahkan berkembang. Perusahaan yang komit dengan etika dapat mendongkrak profitabilitas dan pertumbuhan bisnis yang digeluti (Larry, 1990 dalam Roziq, 2010).

Berdasarkan uraian di atas maka hipotesis yang dirumuskan adalah sebagai berikut:

H2 : Perilaku etis berpengaruh positif terhadap entrepreneurial development Pengaruh Spiritualitas terhadap Entrepreneurial Development

Penelitian oleh Kriger and Hanson (1999) dalam (Wibowo & Handayani, 2018) menegaskan bahwa “good values (i.e honesty, spiritual, and ethical aspects) can create a healthy organization”. Faktor-faktor good values tersebut menjadi salah satu penentu keberhasilan usaha. Selanjutnya menurut Makhbul (2011) dalam Wibowo & Handayani (2018) menemukan bahwa spiritualitas atau religiusitas berpengaruh terhadap keberhasilan usaha dan salah satu faktor penting dalam keberhasilan usaha adalah faktor kejujuran yang merupakan salah satu nilai penting dari prinsip etika dan perilaku bisnis yang merupakan .

Penelitian tentang pengaruh spiritualitas terhadap entrepreneurial development telah dilakukan sebelumnya oleh Sirine & Kurniawati yang menemukan bahwa spiritualitas berpengaruh secara signifikan terhadap eentrepreneurial development.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas maka dapat disimpulkan bahwa sebuah usaha atau bisnis yang menerapkan nilai-nilai spiritualitas di dalam usahanya dan juga kepemimpinannya cenderung memiliki moral dan perilaku yang baik sehingga bisnis atau usaha yang dimiliki tidak hanya memikirkan

(8)

8

kepentingan pemilik saja dalam hal memperoleh laba yang setinggi-tingginya tetapi juga memperhatikan segala aspek mulai dari karyawannya, lingkungannya, pelanggannya sampai pada kompetitornya dan pada akhirnya akan mendongkrak profitabilitas dan pertumbuhan bisnis yang efektif dan efisien. Berikut hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:

H3 : Spiritualitas berpengaruh terhadap entrepreneurial development

Gambar 1 Kerangka Pemikiran

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh spiritualitas terhadap perilaku etis dan dampaknya pada entrepreneurial development. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan asosiatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih.

Data dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh secara langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat melalui kuesioner (Rohman, Wulan, & Haryono, 2018). Data primer diperoleh dari pemilik usaha di bidang kuliner yang ada di Salatiga. Sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literature, buku dan jurnal-jurnal terkait pengaruh spiritualitas terhadap perilaku etis dan entrepreneurial development.

Populasi dan Sampel

Populasi yaitu kumpulan dari seluruh elemen-elemen atau individu yang merupakan sumber informasi dalam suatu penelitian (Sugiyono, 2014). Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka

Spiritualitas Entrepreneurial

Development Perilaku Etis

H1 H2

H3

(9)

penelitiannya merupakan penelitian populasi atau studi populasi atau studi sensus (Sabar, 2007). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pengusaha yang ada di Kota Salatiga.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2014). Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu judgement sampling dan sampel yang digunakan sebanyak 103 responden.

Metode Pengumpulan Data

Kuesioner yang merupakan alat pengumpulan data berupa pernyataan- pernyataan yang telah disusun sedemikian rupa oleh peneliti berkaitan dengan pengaruh spiritualitas terhadap perilaku etis dan dampaknya pada entrepreneurial development, kemudian didistribusikan kepada responden untuk dijawab dan akan dikumpulkan kembali oleh peneliti untuk selanjutnya akan dilakukan penyortiran dan sampai dengan uji kelayakan kuesioner tersebut dan jika kuesioner telah dinyatakan layak maka akan dipakai untuk penelitian.

Definisi Operasional Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel yaitu satu variabel bebas (X1), satu variabel mediasi (X2), dan satu variabel terikat (Y). Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu spiritualitas. Variabel mediasi yaitu perilaku etis. Sedangkan variabel terikat yaitu entrepreneurial development. Berikut ini merupakan definisi operasional setiap variabel-variabel yang ada pada penelitian.

Tabel 1 Definisi Operasional Variabel

Variabel Definisi Dimensi

Spiritualitas (X1) Spiritualitas merupakan nilai-nilai intrinsik yang dimiliki dan dibutuhkan setiap manusia seperti kejujuran, keterbukaan, keseimbangan, keakraban, terlepas dari agama apa yang dianut oleh pelaku bisnis (Tarigan, 2014). Spiritualitas yang dipakai dalam penelitian ini adalah spiritualitas yang dikembangkan oleh (Sirine &

Kurniawati, 2018).

1. visi

2. harapan/keyakinan 3. cinta altruistik 4. makna/panggilan

dan

5. keanggotaan.

(10)

10

Perilaku Etis (X2) Menurut (Fauzan, 2015) perilaku etis adalah perilaku yang diikuti dengan tindakan-tindakan yang baik dan benar sesuai dengan norma-norma sosial yang diterima secara umum dan dapat mempengaruhi kualitas individu.

1. kejujuran 2. keadilan 3. loyalitas

4. memelihara janji 5. suka membantu orang

lain

6. hormat kepada orang lain (tidak semena- mena)

7. bertanggung-jawab 8. taat pada aturan 9. mampu memotivasi 10. memiliki rasa

kebersamaan

11. mengejar keunggulan dan

12. menggalang kerja sama yang sehat Entrepreneurial

Development (Y)

Menurut Agbim (2013) dalam Sirine &

Kurniawati mendefinisikan kewirausahaan sebagai proses mewujudkan niat inovatif oleh individu atau kelompok individu, baik perusahaan baru atau lama melalui jaringan untuk memperoleh kemampuan yang diperlukan yang akan meningkatkan keberhasilan bisnis dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan.

1. entrepreneurial network support 2. entrepreneurial

capability 3. entrepreneurial

success

Teknik Analisis Data

Untuk dapat mengukur pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen maka perlu dilakukan pengukuran dengan memakai alat analisis statistik. Pemakaian alat analisis statistik diharapkan dapat mengungkap atau mengukur pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara kuantitatif hingga memudahkan peneliti untuk dapat mengambil kesimpulan secara otentik (Rukamah & Djamudin, 2013).

Uji Validitas

Validitas menunjukkan sejauh mana skor/ nilai/ ukuran yang diperoleh benar- benar menyatakan hasil pengukuran atau pengamatan yang ingin diukur. Uji validitas pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan Corrected Item-Total Correlation yaitu membandingkan koefisien korelasi item total ( r hitung) dengan nilai r tabel pada df = n-2, α = 0,05. Jika nilai r hitung > r tabel, maka instrumen

(11)

dapat dinyakan valid, dan sebaliknya apabila nilai r hitung < r tabel maka instrumen dinyatakan tidak valid.

Uji Reliabilitas

Reliabilitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Uji reliabilitas ini menggunakan metode Cronbach Alpha yaitu memberikan nilai korelasi setiap butir pertanyaan dengan butir pertanyaan total. Apabila nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6 maka suatu pernyataan dapat dikatakan reliabel.

Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas

Menurut Imam Ghozali (2013:160) uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal dan seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Penelitian ini menggunakan pendekatan uji statistik Kormogorov-Smirnov. Kriteria dalam uji Kormogorov-Smirnov adalah jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal (Nugraha, 2016).

Uji Linieritas

Uji linieritas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linier atau tidak secara signifikan. Uji linieritas biasanya digunakan sebagai prasyarat dalam analisis korelasi atau regresi linier Pengujian dapat dilakukan dengan Software Statistical Product and Service Solution (SPSS) dengan menggunakan test for linierity pada taraf signifikansi 0,05. Kriteria dalam uji linier adalah dua variabel dikatakan mempunyai hubungan yang linier bila signifikansi (linearity) kurang dari 0,05 (Aspodo, Handayani, & Paramita, 2013).

Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variansi dari residual satu pengamatan ke

(12)

12

pengamatan lain. Uji heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji Glejser yaitu pengujian dengan meregresikan nilai residual absolut terhadap variabel independen. Jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka terdapat indikasi terjadi heteroskedastisitas (Rohman, Wulan, & Haryono, 2018). Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.

Pengujian Hipotesis

Penelitian ini menggunakan analisis persamaan regresi linier sederhana untuk hipotesis pertama, kedua dan ketiga. Metode analisis ini merupakan analisis kuantitatif menggunakan program SPSS sebagai alat analisis. Program SPSS yang digunakan adalah versi 20 for Windows.

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Peneliti mendistribusikan kuesioner kepada orang-orang yang memiliki usaha di bidang kuliner yang ada di Salatiga, Jawa Tengah. Kuesioner yang disebarkan berjumlah 107 dan yang dapat diolah atau dijadikan sebagai sampel penelitian berjumlah 103 dengan karakteristik yang diteliti meliputi jenis kelamin, usia, lama usaha. dengan karakteristik responden yaitu 69,9 % berjenis kelamin laki-laki dan 30,1% responden berjenis kelamin perempuan dan dengan presentasi lama usaha berdiri adalah 1 sampai dengan 5 tahun yaitu sebesar 80,59%.

Tabel 2

Karakteristik responden

Keterangan Frekuensi Persentase

Jumlah 103 100%

Jenis Kelamin

 Laki-laki

 Perempuan

72 31

69,9%

30,1%

Usia

 < 21

 21-30

 31-40

 > 40

15 52 23 13

14,6%

50,5%

22,3%

12,6%

Lama usaha

 1-5 Tahun

 6-10 Tahun

83 17

80,59%

16,50%

(13)

 > 10 Tahun 3 2,91%

Agama

 Kristen

 Islam

 Katolik

53 44 6

51,5%

42,7%

5,8%

Sumber: Data primer diolah, 2019

Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa berdasarkan jenis kelamin, responden yang terbanyak adalah responden berjenis kelamin laki-laki yang berjumlah 72 orang dengan persentase sebesar 69,9 % dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 31 orang dengan persentase 30,1%. Berdasarkan usia responden yang lebih dominan adalah responden dengan usia 21-30 tahun yaitu sebanyak 52 orang dengan persentase sebesar 50,5%. Responden dengan usia 31-40 tahun memiliki persentase sebesar 22,3% atau sebanyak 23 orang. Selanjutnya responen yang usianya kurang dari 21 tahun, dan lebih dari 40 tahun masing-masing memiliki persentase sebesar 14,6% atau sebanyak 15 orang dan 12,6% atau sebanyak 13 orang. Dilihat dari lama usaha, mayoritas responden berdasarkan lama usaha yaitu dari 1-5 tahun sebanyak 83 orang atau dengan persentase sebesar 80,59%, kemudian untuk usaha yang berdiri selama 6-10 tahun persentase lama usaha sebesar 16,50% atau sebanyak 17 orang dan responden yang lama usaha lebih dari 10 tahun persentasenya sebesar 2,91% atau sebanyak 3 orang. Sedangkan untuk agama dengan jumlah responden sebanyak 103 orang, terdiri dari agama kristen sebanyak 53 orang dengan persentase sebesar 51,5%, untuk yang beragama islam sebanyak 44 orang dengan persentase sebesar 42,7% dan yang terakhir adalah yang beragama katolik yaitu sebanyak 6 orang dengan persentase 5,8%.

Uji Validitas

Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan yaitu uji validitas maka dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian dinyatakan valid karena setiap butir pertanyaan memiliki koefisien (R-Hitung) lebih besar dari 0,1937 (R-Tabel).

Hasil uji validitas dapat dilihat pada lampiran 8 halaman 42.

(14)

14 Uji Reliabilitas

Tabel 3 Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Cronbach Alpa Keterangan Spiritualitas (X1) 0,868 Reliabel Perilaku Etis (X2) 0,705 Reliabel Entrepreneurial Development (Y) 0,719 Reliabel

Sumber: Data primer diolah, 2019

Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan pernyataan dalam suatu variabel yang disusun dalam bentuk kuesioner. Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada Tabel 3 mempunyai cronbach alpha di atas 0,60, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua konsep pengukur masing-masing variabel dari kuesioner adalah reliabel dan layak digunakan sebagai alat ukur pada tahapan selanjutnya dalam penelitian ini.

Hasil Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menegetahui apakah data berasal dari populasi berdistribusi normal atau tidak. Peneliti menggunakan teknik Kolmogorov-Smirnov untuk menguji data.

Tabel 4 Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 103

Normal Parametersa,b Mean 0E-7

Std. Deviation .26545577

Most Extreme Differences

Absolute .044

Positive .039

Negative -.044

(15)

Kolmogorov-Smirnov Z .450

Asymp. Sig. (2-tailed) .988

Sumber: Data primer diolah, 2019

Berdasarkan hasil uji normalitas pada Tabel 4 di atas terlihat bahwa nilai sig. lebih besar dari nilai taraf signifikan (α=0,05) untuk model regresi yaitu 0,988 sehingga model regresi sudah memenuhi asumsi normalitas.

Uji Linieritas

Uji linieritas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linier atau tidak secara signifikan.

Tabel 5. Hasil Uji Linieritas Spiritualitas (X1) terhadap Perilaku Etis (X2) ANOVA Table

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Perilaku Etis * Spiritualitas

Between Groups

(Combined) 5.528 35 .158 2.810 .000

Linearity 2.872 1 2.872 51.078 .000

Deviation from Linearity 2.657 34 .078 1.390 .125

Within Groups 3.767 67 .056

Total 9.295 102

Berdasarkan hasil uji linieritas pada Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa nilai linearity sebesar 0,000. Artinya bahwa variabel spiritualitas dan perilaku etis memiliki hubungan linier karena nilai yang dihasilkan sebesar 0,000 kurang dari taraf signifikansi 0,05.

Tabel 6. Hasil Uji Linieritas Perilaku Etis (X2) terhadap Entrepreneurial Development (Y) ANOVA Table

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Entrepreneurial Development * Perilaku Etis

Between Groups

(Combined) 3.950 16 .247 4.187 .000

Linearity 1.409 1 1.409 23.900 .000

Deviation from Linearity 2.540 15 .169 2.873 .001

Within Groups 5.071 86 .059

Total 9.020 102

Berdasarkan hasil uji linieritas pada Tabel 6 di atas menunjukkan bahwa nilai linearity sebesar 0,000. Artinya bahwa variabel perilaku etis dan

(16)

16

entrepreneurial development memiliki hubungan linier karena nilai yang dihasilkan sebesar 0,000 kurang dari taraf signifikansi 0,05.

Tabel 7. Hasil Uji Linieritas Spiritualitas (X1) terhadap Entrepreneurial Development (Y) ANOVA Table

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Spiritualitas * Entrepreneurial Development

Between Groups

(Combined) 5.052 20 .253 2.323 .004

Linearity 2.233 1 2.233 20.532 .000

Deviation from Linearity 2.819 19 .148 1.365 .168

Within Groups 8.917 82 .109

Total 13.969 102

Berdasarkan hasil uji linieritas pada Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa nilai linearity sebesar 0,000. Artinya bahwa variabel spiritualitas dan entrepreneurial development memiliki hubungan linier karena nilai yang dihasilkan sebesar 0,000 kurang dari taraf signifikansi 0,05.

Uji Heteroskedastisitas

Hasil uji heteroskedastisitas menggunakan uji Glejser menghasilkan nilai Sig. model untuk variabel spiritualitas dan perilaku etis berada di atas 0,05 sehingga dalam model regresi tidak mengandung gejala heteroskedastisitas.

Berdasarkan uji asumsi klasik yang telah dilakukan maka model regresi lolos uji asumsi klasik.

Tabel 8. Hasil Uji Heteroskedastisitas Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1

(Constant) -.174 .224 -.778 .439

Spiritualitas -.003 .050 -.007 -.063 .950

Perilaku Etis .095 .062 .182 1.538 .127

a. Dependent Variable: Abs_RES

Sumber: Data primer diolah, 2019

(17)

Analisis Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan deskripsi suatu data yang dilihat dari rata-rata (mean), standar deviasi (standard deviation), dan maksimum- minimum. Mean digunakan untuk memperkirakan besar rata-rata populasi yang diperkirakan dari sampel. Standar deviasi digunakan untuk menilai dispersi rata- rata dari sampel. Hasil analisis deskriptif variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 9. Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std.

Deviation

Spiritualitas 103 2 5 4.01 .370

Perilaku Etis 103 4 5 4.20 .302

Entrepreneurial

Development 103 4 5 4.05 .297

Valid N

(listwise) 103

Sumber: Data primer diolah, 2019

Hasil analisis deskriptif pada Tabel 9 di atas menunjukkan responden pada penelitian ini berjumlah 103. Sebelum melakukan analisis, terlebih dahulu menentukan kategori penilaian terendah dan tertinggi terhadap tanggapan responden. Pemberian kategori didasarkan pada skor terendah yaitu 1 (sangat tidak setuju) dan skor tertinggi adalah 5 (sangat setuju). Penentuan kriteria penilaian responden terhadap variabel penelitian dapat ditentukan dengan interval sebagai berikut:

Skor minimum = 1 Skor maksimum = 5

Interval = Maksimum – minimum = 5-1/5 = 0,80 jumlah kelas

(18)

18

Tabel 10. Kriteria Penilaian Responden

Berikut ini adalah deskripsi masing-masing variabel berdasarkan hasil analisis di atas, yaitu:

1. Variabel spiritualitas memiliki nilai minimum sebesar 2 yang berarti bahwa dari seluruh responden yang memberikan penilaian terendah atas jawaban dari spiritualitas adalah sebesar 2. Nilai 2 tersebut dapat diartikan bahwa pendapat responden tentang spiritualitas adalah rendah. Sedangkan untuk nilai maksimumnya sebesar 5 yang menunjukkan bahwa dari seluruh responden yang memberikan penilaian paling tertinggi adalah sebesar 5 yang juga menyimpulkan bahwa nilai 5 tersebut adalah penilaian tertinggi responden terhadap spiritualitas. Nilai mean untuk spiritualitas adalah 4,01 yang artinya rata-rata responden memiliki penilaian yang tinggi terhadap spiritualitas. Sedangkan jika dilihat dari standar deviasinya menunjukkan angka 0,370 yang artinya sangat rendah dan jika semakin kecil nilai standar deviasi menunjukkan data yang homogen.

2. Variabel perilaku etis memiliki nilai minimum sebesar 4 yang berarti bahwa dari seluruh responden yang memberikan penilaian terendah atas jawaban dari perilaku etis adalah sebesar 4. Nilai 4 tersebut dapat diartikan bahwa pendapat responden tentang perilaku etis adalah tinggi. Sedangkan untuk nilai maksimumnya sebesar 5 yang menunjukkan bahwa dari seluruh responden yang memberikan penilaian paling tertinggi adalah sebesar 5 yang juga menyimpulkan bahwa nilai 5 tersebut adalah penilaian tertinggi responden terhadap perilaku etis. Nilai mean untuk perilaku etis adalah 4,20 yang artinya rata-rata responden memiliki penilaian yang tinggi terhadap perilaku etis. Sedangkan jika dilihat dari standar

Nilai rata-rata kelas interval Kriteria 1,00 – 1,80 = Sangat Rendah

1,81 – 2,60 = Rendah

2,61 – 3,40 = Cukup Tinggi

3,41 – 4,20 = Tinggi

4,21 – 5,00 = Sangat Tinggi

(19)

deviasinya menunjukkan angka 0,302 yang artinya sangat rendah dan jika semakin kecil nilai standar deviasi menunjukkan data bersifat homogen.

3. Variabel entrepreneurial development memiliki nilai minimum sebesar 4 yang berarti bahwa dari seluruh responden yang memberikan penilaian terendah atas jawaban dari entrepreneurial development adalah sebesar 4.

Nilai 4 tersebut dapat diartikan bahwa pendapat responden tentang entrepreneurial development adalah tinggi. Sedangkan untuk nilai maksimumnya sebesar 5 yang menunjukkan bahwa dari seluruh responden yang memberikan penilaian paling tertinggi adalah sebesar 5 yang juga menyimpulkan bahwa nilai 5 tersebut adalah penilaian tertinggi responden terhadap entrepreneurial development. Nilai mean untuk entrepreneurial development adalah 4,05 yang artinya rata-rata responden memiliki penilaian yang tinggi terhadap perilaku etis. Sedangkan jika dilihat dari standar deviasinya menunjukkan angka 0,297 yang artinya sangat rendah dan jika semakin kecil nilai standar deviasi menunjukkan data bersifat homogen.

Uji Hipotesis

Hipotesis pertama (Spiritualitas terhadap Perilaku Etis)

Tabel 11. Coefficients Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 2.382 .271 8.775 .000

Spiritualitas .453 .067 .556 6.719 .000

a. Dependent Variable: Perilaku Etis

Sumber: Data primer diolah, 2019

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan spiritualitas berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku etis dengan nilai signifikansinya sebesar 0,000. Pada tabel di atas juga menghasilkan persamaan regresi sebagai berikut:

Y=2,382+0,556X1+e dengan Y adalah perilaku etis dan X1 adalah spiritualitas.

(20)

20

Nilai 2,382 menunjukkan jika variabel spiritualitas dianggap tetap maka rata-rata nilai variabel perilaku etis adalah sebesar 2,382 dan untuk koefisien variabel yang dihasilkan sebesar 0,556 menyatakan bahwa setiap penambahan nilai variabel spiritualitas sebesar 1 maka akan meningkatkan variabel perilaku etis sebesar 0,395.

Tabel 12. Uji Korelasi dan Determinasi

Antara Variabel Spiritualitas (X1) dengan Variabel Perilaku Etis (X2) Model Summary

Model R R

Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .556a .309 .302 .252

a. Predictors: (Constant), Spiritualitas Sumber: Data primer diolah, 2019

Berdasarkan Tabel 12 di atas terlihat bahwa nilai adjusted R square sebesar 0,302, artinya bahwa besar pengaruh spiritualitas terhadap perilaku etis adalah sebesar 30,2% sedangkan sisanya 69,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model ini atau tidak diteliti.

Tabel 13. ANOVA ANOVAa

Model Sum of

Squares

Df Mean

Square

F Sig.

1

Regression 2.872 1 2.872 45.151 .000b

Residual 6.423 101 .064

Total 9.295 102

a. Dependent Variable: Perilaku Etis b. Predictors: (Constant), Spiritualitas

Sumber: Data primer diolah, 2019

Pada Tabel 13 di atas, menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000 maka dapat disimpulkan bahwa model regresi adalah linier karena nilai signifikansi yang dihasilkan kurang dari kriteria signifikan 0,05.

(21)

Hipotesis Kedua (Perilaku Etis terhadap Entrepreneurial Development)

Tabel 14 Coefficients Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1

(Constant) 2.417 .379 6.376 .000

Perilaku Etis .389 .090 .395 4.324 .000

a. Dependent Variable: Entrepreneurial Development Sumber: Data primer diolah, 2019

Berdasarkan Tabel 14 di atas menunjukkan perilaku etis berpengaruh secara signifikan terhadap entrepreneurial development dengan nilai signifikansinya sebesar 0,000. Pada tabel di atas juga menghasilkan persamaan regresi sebagai berikut: Y = 2,417 + 0,395 X2 + e dengan Y adalah entrepreneurial development dan X2 adalah perilaku etis. Nilai konstanta 2,417 menunjukkan jika variabel bebas dianggap tetap maka rata-rata nilai variabel entrepreneurial development adalah sebesar 2,417 dan untuk koefisien variabel yang dihasilkan sebesar 0,395 menyatakan bahwa setiap penambahan nilai variabel perilaku etis sebesar 1 maka akan meningkatkan variabel entrepreneurial development sebesar 0,395.

Tabel 15. Uji Korelasi dan Determinasi

Antara Variabel Perilaku Etis (X2) dengan Variabel Entrepreneurial Development (Y) Model Summary

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

1 .395a .156 .148 .275

a. Predictors: (Constant), Perilaku Etis

Sumber: Data primer diolah, 2019

Berdasarkan Tabel 15 model summary diatas terlihat bahwa nilai adjusted R square sebesar 0,148, artinya bahwa besar pengaruh perilaku etis terhadap entrepreneurial development adalah sebesar 14,8% sedangkan sisanya 85,2%

(22)

22

dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model ini atau tidak diteliti.

Tabel 16 ANOVA ANOVAa

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1

Regression 1.409 1 1.409 18.699 .000b

Residual 7.611 101 .075

Total 9.020 102

a. Dependent Variable: Entrepreneurial Development b. Predictors: (Constant), Perilaku Etis

Sumber: Data primer diolah, 2019

Pada Tabel 16 di atas, menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000 maka dapat disimpulkan bahwa model regresi adalah linier karena nilai signifikansi yang dihasilkan kurang dari kriteria signifikan 0,05.

Hipotesis Ketiga (Spiritualitas berpengaruh terhadap entrepreneurial development)

Tabel 17 Coefficients Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 2.765 .295 9.375 .000

Spiritualitas .321 .073 .400 4.383 .000

a. Dependent Variable: Entrepreneurial Development Sumber: Data primer diolah, 2019

Berdasarkan Tabel 17 di atas menunjukkan spiritualitas berpengaruh secara signifikan terhadap entrepreneurial development dengan nilai signifikansinya sebesar 0,000. Pada tabel di atas juga menghasilkan persamaan regresi sebagai berikut: Y = 2,765 + 0,400 X1 + e dengan Y adalah entrepreneurial development dan X1 adalah spiritualitas. Nilai konstanta 2,765 menunjukkan jika variabel bebas dianggap tetap maka rata-rata nilai variabel

(23)

entrepreneurial development adalah sebesar 2,765 dan untuk koefisien variabel yang dihasilkan sebesar 0,400 menyatakan bahwa setiap penambahan nilai variabel spiritualitas sebesar 1 maka akan meningkatkan variabel entrepreneurial development sebesar 0,400.

Tabel 18. Uji Korelasi dan Determinasi

Antara Variabel Spiritualitas (X1) dengan Variabel Entrepreneurial Development (Y) Model Summary

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

1 .400a .160 .152 .274

a. Predictors: (Constant), Spiritualitas

Sumber: Data primer diolah, 2019

Berdasarkan Tabel 18 model summary di atas terlihat bahwa nilai adjusted R square sebesar 0,152, artinya bahwa besar pengaruh spiritualitas dan perilaku etis terhadap entrepreneurial development adalah sebesar 15,2% sedangkan sisanya 84,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model ini.

Tabel 19 ANOVA ANOVAa

Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1

Regression 1.442 1 1.442 19.214 .000b

Residual 7.578 101 .075

Total 9.020 102

a. Dependent Variable: Entrepreneurial Development b. Predictors: (Constant), Spiritualitas

Sumber: Data primer diolah, 2019

Pada Tabel 19 di atas, menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000 maka dapat disimpulkan bahwa model regresi adalah linier karena nilai signifikansi yang dihasilkan kurang dari kriteria signifikan 0,05.

(24)

24 PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Hipotesis Pertama

Pengujian hipotesis pertama diperoleh hasil bahwa spiritualitas berpengaruh terhadap perilaku etis. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Dewi & Wirakusuma (2018), Risabella (2014), Wardana & Mimba (2016) dan penelitian oleh Umar (2017) yang menemukan bahwa spiritualitas berpengaruh terhadap perilaku etis karena spiritualitas dimaknai sebagai keyakinan atau kepercayaan terhadap Tuhan sehingga, ketika seseorang melakukan pekerjaan maka mereka melakukan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab sebagai suatu kewajiban seperti sama halnya dengan beribadah. Oleh sebab itu ketika seseorang memiliki spiritualitas yang tinggi maka ia mampu mengontrol dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang negatif karena seseorang yang memiliki keyakinan agama yang kuat akan cenderung lebih sensitif terhadap masalah etika.

Hipotesis Kedua

Hasil pengujian pada hipotesis kedua menemukan bahwa perilaku etis berpengaruh terhadap entrepreneurial development. Subroto (2015) yang mengatakan bahwa salah satu nilai dasar yang dipegang oleh seorang entrepreneur dalam berwirausaha atau menjalankan usahanya adalah etika bisnis dan norma karena kedua hal ini menjadi dasar bagi perilaku dan moralitas para entrepreneur untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan usaha dan bisnisnya di bidang apapun.

Menurut Andjarwati & Budiadi (2018) juga mengatakan bahwa pelaku bisnis harus mengindahkan etika dalam berbisnis kalau ingin bisnisnya tetap bisa berjalan dan bahkan berkembang. Peran etika dalam berwirausaha untuk membangun kultur bisnis yang sehat dan juga menjamin bergulirnya kegiatan bisnis dalam jangka panjang (Wirazilmustaan & Saliman, 2017). Artinya dapat disimpulkan bahwa pelaku bisnis harus memiliki perilaku atau sikap yang etis karena akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan usaha.

Profitabilitas dan pertumbuhan bisnis akan naik apabila para pelaku usaha komit dengan etika (Larry, 1990 dalam Roziq, 2010).

(25)

Hipotesis Ketiga

Hipotesis ketiga memberikan hasil bahwa spiritualitas berpengaruh terhadap entrepreneurial development. Penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh (Sirine & Kurniawati, 2018). Pemimpin yang memiliki nilai spiritualitas yang tinggi mampu meningkatkan spiritualitas di tempat kerja. Spiritualitas juga dapat membuat karyawan lebih efektif dalam bekerja karena karyawan melihat pekerjaan sebagai alat untuk meningkatkan spiritualitas dibanding dengan karyawan yang melihat pekerjaannya hanya sebagai alat untuk memperoleh uang atau reward dari pemimpin (Nurtjahjanti, 2010). Kepemimpinan spiritual dan spiritualitas di tempat kerja akan menciptakan lingkungan kerja yang positif.

PENUTUP Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh spiritualitas terhadap perilaku etis dan dampaknya pada entrepreneurial development. Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa perilaku etis berpengaruh terhadap entrepreneurial development. Kemudian spiritualitas berpengaruh terhadap perilaku etis dan juga dan spiritualitas yang berpengaruh terhadap entrepreneurial development, begitupun dengan spiritualitas terbukti berpengaruh terhadap entrepreneurial development.

Implikasi Teoritis

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa spiritualitas dominan berpengaruh terhadap entrepreneurial development. Oleh sebab itu jika wirausaha kuliner yang ada di salatiga ingin tetap eksis dan terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan, maka tidak lagi dengan hanya memperhatikan nilai material saja akan tetapi perlu menerapkan etika dan spiritualitas.

Orang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi mampu memaknai hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya sehingga cenderung akan mengakibatkan perilakunya akan lebih baik.

(26)

26 Keterbatasan

Keterbatasan daam penelitian ini meliputi:

1. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini terbatas pada entrepreneur di bidang kuliner Salatiga.

2. Data sekunder yang didapat dari penelitian-penelitian terdahulu sangat terbatas dalam mendeskripsikan variabel entrepreneurial development yang dipakai dalam penelitian ini

3. dalam mengumpulkan data hanya melalui penyebaran kuesioner saja tanpa adanya wawancara

4. Analisis yang digunakan masih parsial Saran

Adapun saran yang dapat diberikan:

1. Penelitian selanjutnya dapat memilih sampel yang lebih bervariatif agar dalam mendeskripsikan variabel lebih baik dan lebih tepat

2. Penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan faktor-faktor yang dipakai dalam model penelitian ini terkait variabel-variabel yang dipakai dalam penelitian ini.

3. Sebagai bahan pertimbangan untuk menambahkan wawancara kepada responden sehingga data yang didapat lebih mencerminkan keadaan riil di lapangan

4. Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan analisisnya

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, D., & Agustini, P. M. (2011). Hubungan Kepemimpinan Spiritual dan Spiritualitas Tempat Kerja.

Andjarwati, A. L., & Budiadi, S. (2018). Etika Bisnis dan Perilaku etis Manajer Pengaruhnya Terhadap Tanggung Jawab Perusahaan Pada Lingkungan Sosial. BISMA (Bisnis dan Manajemen), 1-13.

Arifiyani, H. A., & Sukirno. (2012). Pengaruh Pengendalian Intern, Kepatuhan dan Kompensasi Manajemen Terhadap Perilaku Etis Karyawan (Studi Kasus PT Adi Satria Abadi Yogyakarta). Jurnal Nominal, 5-21.

Aspodo, A. A., Handayani, N. C., & Paramita, W. (2013). Pengaruh Kepuasan Kerja dan Stres Kerja Terhadap Turnover Intention Pada Karyawan PT.

Unitex di Bogor. Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI), 4, 97- 115.

Azizah, S. N. (2018, October). Pengaruh Workplace Spirituality Terhadap Organizational Citizenship Behavior dengan Quality Work Of Life sebagai Pemoderasi. Prima Ekonomi, IX, 33-56.

Dewi, T. K., & Wirakusuma, M. G. (2018). Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, dan Kecerdasan Spiritual Pada Perilaku Etis dengan Pengalaman sebagai Variabel Pemoderasi. E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, 2089-2116.

Fauzan. (2015, 10 3). Jurnal Ekonomi Modernisasi. Pengaruh Religiusitas dan Ethical Climate Terhadap Ethical Behavior, 2502-4078.

Fauzan, & Nuryana, I. (2014). Pengaruh Penerapan Etika Bisnis Terhadap Kepuasan Pelanggan Warung Bebek H. Slamet Di Kota Malang. Jurnal Ekonomi Modernisasi, 38-55.

Ghozali, I. (2013). Analisis Multivariat dengan Program SPSS. Semarang:

Penerbit Universitas Diponegoro.

Herminingsih, A. (2012). Spiritualitas dan Kepuasan Kerja Sebagai Faktor Organizational Citizenship Behavior (OCB). Jurnal Ilmu Ekonomi dan Sosial, 126-140.

Kholifah, N., & Nurtanto, M. (2016). Pengembangan Pendidikan Kewirausahaan dalam Menanamkan Nilai-Nilai Entreprenership untuk Menghadapi

(28)

28

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Prosiding Seminar Nasional Inovasi Pendidikan, (pp. 411-418). Retrieved 2019

Novianti, L., & Gunawan, H. (2010, August). Pengaruh Etika Kerja Islam dan Etika Bisnis Terhadap Komitmen Organisasi Dengan Komitmen Profesi Sebagai Variabel Intervening. Jurnal Manajemen Teori dan Terapan, III, 170-188. Retrieved October 10, 2018, from https://e- journal.unair.ac.id/JMTT/article/view/2400/1756

Nugraha, A. R. (2016). Pengaruh Terpaan Iklan Obat Non Resep Dengan Sikap Masyarakat (studi regresi sederhana mengenai terpaan iklan obat-obat non resep yang tayang pada televisi dengan sikap masyarakat terhadap keputusan pembelian). Jurnal Komunikasi, X No. 02, 173-182.

Nurtjahjanti, H. (2010, April). Spiritualitas Kerja Sebagai Ekspresi Keinginan Diri Karyawan Untuk Mencari Makna dan Tujuan Hidup Dalam Organisasi.

Jurnal Psikologi Undip, 27-30.

Rianto, S., & Banin, Q. A. (2015). Pengaruh Pengetahuan Manajemen Mahasiswa Terhadap Intensi Berwirausaha yang Dimoderasi Oleh Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual . Journal & Proceeding FEB UNSOED, 1-13.

Risabella, N. (2014). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi Universitas Jember.

Rohman, M. A., Wulan, H. S., & Haryono, A. T. (2018). Pengaruh Kompensasi, Lingkungan Kerja dan Kebijakan Pemimpin Terhadap Prestasi Kerja Dimediasi Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening di PT. Pelangi Kinasih Tunggal Karsa Semarang. Journal of Management , 01-14.

Roziq, A. (2010). Pengaruh Etika Bisnis Islami Terhadap Kinerja Pembiayaan Mudharabah Melalui Informasi Asimetri Pada Bank Syariah di Jawa Timur. JEAM, IX, 56-69.

Rukamah, A., & Djamudin. (2013). Analisis Pengaruh Strategi Bauran Promosi Terhadap Peningkatan Volume Penjualan. Jurnal Manajemen, 4 No. 4.

Rusdiana, A., & M.M. (2013). KEWIRAUSAHAAN Teori dan Praktik. Bandung:

CV PUSAKA SETIA.

Sirine, H., & Kurniawati, E. P. (2018). The Importance of Spirituality Dimensions in the Entrepreneurial Development for College Graduates. Diponegoro International Journal of Business, 1 No 2, 55-70.

Sirine, H., & Kurniawati, E. P. (n.d.). The Importance of Spirituality Dimensions in the Entrepreneurial Development for College Graduates.

(29)

Subroto, W. T. (2015). Menanamkan Nilai-nilai Entrepreneurship Melalui Pendidikan Ekonomi Pada Era Masyarakat Ekonomi ASEAN. Jurnal Economia, XI No.I, 16-25. Retrieved 2019

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Sulistyowati, N. W. (2016, April). Analisis Teori Bisnis dalam Aktivitas Kewirausahaan. Jurnal Akuntansi dan Pendidikan, V, 65-72.

Tarigan, D. H. (2014). Dari Etika ke Spiritualitas Bisnis. Medan: PENERBIT IAIN PRESS.

Thobias, E. (2013, April). Pengaruh Modal Sosial Terhadap Perilaku Kewirausahaan (Suatu studi pada pelaku usaha mikro kecil dan menengah di Kecamatan Kabaruan Kabupaten Kepulauan Talaud). Journal "ACTA DIURNA", II, No.II, 1-12.

Thoyibatun, S. (2012, June). Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perilaku Tidak Etis dan Kecenderungan Kecurangan Akuntansi Serta Akibatnya Terhadap Kinerja Organisasi. Ekuitas: Jurnal Ekonomi dan Keuangan, Volume 16, 245 - 260. Retrieved October 10, 2018, from https://ejournal.stiesia.ac.id/ekuitas/article/view/223/209

Umar, M. R. (2017). Pengaruh Kecerdasan Spiritual Terhadap Etika Profesi Auditor Pada Inspektorat Kota Kendari. Jurnal Akuntansi, 53-63.

Wardana, A. A., & Mimba, N. P. (2016). Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, dan Gender Pada Sikap Etis Mahasiswa Magister. E-Jurnal Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, 3501-3530.

Wibowo, T. S., & Handayani, C. M. (2018, July 1). Penerapan Kepemimpinan, Keterampilan, Manajerial dan Spiritualitas Dalam Pengelolaan UKM Sektor Kuliner. Majalah Ekonomi, XXIII, 135-147.

Widyarini, M. N. (2010). Kepemimpinan Spiritual Untuk Kejayaan (Mengungkap Relevansi Konsep Kepemimpinan Spiritual dari Fry dengan Kepemimpinan Nusantara yang Etis-Universal). Jurnal Paramadina Edisi Khusus, 333-349.

Wirazilmustaan, & Saliman, A. R. (2017, December). Membangun Paradigma Baru Hukum Perusahaan dan Etika Kewirausahaan. Jurnal Hukum Progresif, XI/No.2, 1928-1940.

(30)

30

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Kuesioner Penelitian Selamat pagi/siang/sore

Bapak/Ibu/sdr/sdri yang kami hormati,

Saya adalah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan strata satu (S1) program studi manajemen di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Saat ini saya sedang menyelesaikan skripsi saya dengan judul “Pengaruh Spiritualitas Terhadap Perilaku Etis dan Dampaknya Pada Entrepreneurial Development”.

Mohon kesediaan dari bapak/ibu sdr/sdri memberikan jawaban atas kuesioner yang tersedia sesuai dengan persepsi dari bapak/ibu/sdr/sdri.

Jawaban atas kuesioner dan data yang Bapak/Ibu berikan akan dijamin kerahasiaannya dan akan digunakan hanya untuk kepentingan penelitian skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk penyelesaian studi pada Program Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.

Terima kasih atas bantuan dan kerja samanya.

Hormat Saya,

Angel Cornelia Pattihawean Mahasiswa/Peneliti

(31)

DATA RESPONDEN

Nama :

Umur :

Jenis Kelamin :

Nama Usaha :

Lama usaha berdiri : Alamat tempat usaha :

Petunjuk: Dimohon Bapak/Ibu berkenan memberikan pendapat atas pertanyaan-pertanyaan berikut, dengan memberikan tanda centang (√ ) pada pilihan yang dianggap paling benar berikut ini:

DAFTAR KUESIONER

Variabel /Indikator STS TS N S SS

Dimensi Spiritualitas – Visi Saya mengerti dan berkomitmen pada visi organisasi saya Kelompok kerja saya memiliki pernyataan visi yang mencerminkan pandangan terbaik saya.

Visi organisasi saya mengilhami kinerja terbaik saya.

Saya memiliki keyakinan pada visi organisasi saya untuk karyawan saya.

Visi organisasi saya jelas dan menarik bagi saya.

Dimensi Spiritualitas - Harapan / Iman Saya memiliki keyakinan dalam organisasi saya dan saya bersedia

"melakukan apa saja" untuk memastikan bahwa itu akan menyelesaikan misi.

Saya akan melakukan upaya terbaik untuk membantu kesuksesan organisasi saya karena saya memiliki keyakinan untuk

mewujudkannya.

Saya selalu melakukan hal-hal terbaik dalam pekerjaan saya karena saya memiliki keyakinan dalam organisasi saya dan para

pemimpinnya.

Sangat Tidak Setuju (STS)

Tidak Setuju (TS)

Netral (N)

Setuju (S)

Sangat Setuju (SS)

(32)

32

Saya membuat tujuan yang menantang untuk pekerjaan saya karena saya memiliki keyakinan dalam organisasi saya dan saya ingin sukses di dalamnya.

Saya menunjukkan iman saya dalam organisasi dan misinya dengan melakukan semua hal yang dapat saya lakukan untuk membuat kami sukses.

Dimensi Spiritualitas - Cinta Altruistik Organisasi saya benar-benar peduli dengan anggotanya.

Organisasi saya peduli dan memperhatikan para anggotanya, dan ketika mereka menderita, organisasi ingin melakukan sesuatu.

Pemimpin di organisasi saya melakukan pekerjaan terbaik mereka seperti yang diceritakan.

Organisasi saya dapat dipercaya dan setia kepada anggotanya.

Organisasi saya tidak menghukum kesalahan yang dibuat oleh anggotanya ketika para anggota ini berbicara kebenaran.

Pemimpin di organisasi saya jujur dan mereka tidak memiliki kebanggaan palsu.

Pemimpin dalam organisasi saya memiliki keberanian untuk membela anggotanya.

Dimensi Spiritualitas - Arti / Memanggil (Meaning/Calling) Pekerjaan yang saya lakukan penting bagi saya.

Kegiatan pribadi saya penting bagi saya.

Pekerjaan yang saya lakukan berarti bagi saya.

Pekerjaan yang saya lakukan membuat perbedaan dalam kehidupan komunitas.

Dimensi Spiritualitas - Keanggotaan

Saya merasa bahwa organisasi saya memahami kekhawatiran saya.

Saya merasa bahwa organisasi saya menghargai saya dan kerja saya.

Saya merasa bahwa saya dihargai untuk kepemimpinan saya.

Saya merasa bahwa saya dihargai sebagai orang penting dalam kerja saya.

Saya merasa bahwa organisasi saya menunjukkan rasa hormat kepada saya dan kerja saya.

Variabel /Indikator STS TS N S SS

Jaringan berwirausaha

Saya memiliki hubungan yang baik dengan jaringan kerja saya.

Saya merasa bahwa kontribusi bisnis jaringan saya berfungsi dengan baik.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil tugas tertulis ke-1 dan ke-2 dari kedelapan siswa yang berada pada tahap perkembangan moral yang berbeda-beda, berikut adalah perbandingan

Kebutuhan dan keinginan yang berkaitan dengan hal-hal yang dirasakan pelanggan ketika ia sedang mencoba melakukan transaksi dengan produsen/pemasok

persoalan yang ada, dengan memilah-milah masalah yang penting, membanding- bandingkan serta memonitor informasi yang sudah dinilai, untuk memilih informasi yang ada

Adanya penggunaan biaya pencegahan dan biaya penilaian, disebut juga sebagai biaya pengendalian, dimana suatu perusahaan diharapkan akan meningkatkan kualitas produk

Di dalam suatu perusahaan dan dalam era globalisasi pada saat ini persaingan bisnis semakin ketat, setiap perusahaan dituntut untuk terus mengembangkan setiap lingkup

Termotivasi dari fenomena dan ketidak konsistenan hasil penelitian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini ke dalam skripsi yang berjudul “ANALISIS PENGARUH

Glisson dalam Sopiah, (2008: 95) iklim organisasi di bentuk dari iklim psikologis yang dirasakan secara bersama- sama. Maka dari itu iklim organisasi dapat mempengaruhi

The third prior research has similarities and differences with this research. The similarity between the third prior research and this research is the language skills