Self-Control dalam Pengelolaan keuangan Pribadi : Sikap Terhadap Uang, dan Mental Accounting
TUGAS AKHIR
Diajukan Kepada Program Studi Manajemen
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh :
IRA RAHMADANI 212013098
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
2017
i
Self-Control dalam Pengelolaan keuangan Pribadi : Sikap Terhadap Uang, dan Mental Accounting
TUGAS AKHIR
Diajukan Kepada Program Studi Manajemen
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh :
IRA RAHMADANI 212013098
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
2017
ii
iii
v
vi MOTTO
Sukses berkaitan dengan tindakan, Orang sukses terus melangkah. Mereka membuat kesalahan namun tidak menyerah.
(Conrad Hilton)
Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk maka perbuatan itu
buruk.
(Imam An Nawawi)
vii ABSTRACT
Self-control is the restraint of a person, in terms of financial self-control can be used to manage our finances to be planned and also not wasteful. There are several things that can affect a person's self-control among them i.e. attitude toward money and mental accounting.
This research aims to find out if attitudes towards money (Power Pretige, retention time, distrust, quality, and anxiety) and Mental Accounting effect on a person's self-control to manage their finances in 52 entrepreneurs industry UMKM convection in district Tingkir, Salatiga. Analytical techniques used was multiple linear regression. The results of this research show that the attitude toward money and Mental Accounting have no effect against Self-control in financial management, but one variable in the attitude toward money namely retention time effect on self-control. Benefits of this research as a guide in managing personal finances through their attitudes toward money and also mental accounting.
Keywords: Self control, Power Pretige, Retention time, Distrust, Quality, Anxiety, Mental Accountinng, attitude towards Money
viii SARIPATI
Self-control adalah pengendalian diri seseorang, dalam hal keuangan self-control bisa digunakan untuk mengelola keuangan kita agar menjadi terencana dan juga tidak boros. Ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi self-control seseorang diantaranya yaitu sikap terhadap uang dan mental accounting. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui apakah sikap terhadap uang (Power Pretige, retention time, distrust, quality,dan anxiety) dan Mental Accounting berpengaruh terhadap Self-control seseorang dalam mengelola keuanganya di 52 pengusaha UMKM industri konveksi di Kecamatan Tingkir, Salatiga.
Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sikap terhadap uang dan Mental Accounting tidak berpengaruh terhadap Self-control dalam pengelolaan keuangan, namun satu variabel dalam sikap terhadap uang yaitu retention time berpengaruh terhadap self-control. Penelitian ini memberikan manfaat sebagai pedoman dalam mengelola keuangan pribadi melalui sikap-sikap terhadap uang dan juga mental accounting.
Kata Kunci : Self-control, Power Pretige, Retention time, Distrust, Quality, Anxiety, Mental Accountinng, Sikap Terhadap Uang
ix
KATA PENGANTAR
Self-control dalam pengelolaan keuangan adalah sebuah aktivitas yang mendorong seseorang untuk melakukan penhematan dan juga mencegah dana digunakan untuk kepentingan konsumtif. Ada banyak hal yang dapat mempengaruhi self-controlyaitu cara orang bersikap terhadap uang yang terdiri dari Power Pretige, Retention time, Distrust, Quality, dan Anxiety. Selain sikap tersebut adapula cara seseorang mengolala keuangannya ketika mendapatkan uang maka akan langsung membagikannya kedalan pos-pos kebutuhan yaitu mental accounting.
Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk mengetahui apakah kedua variabel tersebut yaitu sikap terhadap uang dan juga mental accounting berpengaruh terhadap pengelolaan keuangan pribadi yang dilakukan oleh pengusaha UMKM industri konveksi di Kecamatan Tingkir, Salatiga. Penelitian ini ingin melihat apakah variabel sikap terhadao uang dan mental accounting memiliki pengaruh terhadap self-control seseorang dalam mengelola keuanganya.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, bahan acuan, masukan dan pertimbangan bagi pembaca maupun semua pihak yang berkepentingan. Penulis menyadari bahwa dalam tugas akhir ini masih terdapat kekurangan sehingga nantinya membutuhkan kritik dan saran. Semoga kertas kerja ini dapat menjadi wacana dan tambahan informasi.
Salatiga, Januari 2017
Penulis
x
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji Syukur kepada Tuhan atas berkah dan anugrahNya, sehingga tugas akhir ini dapat terselesaikan dengan baik guna menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Berbagai pihak telah mendukung dan membantu dalam proses penyelesaian tugas akhir ini. Ucapan terimakasih ini ditujukan kepada :
1. Bapak, Ibu, Mbak Ari, Mas Setyo dan Kenzei terimakasih atas nasehat, doa serta motivasi yang selalu membantu penulis dalam menjalani masa perkuliahan maupun penyelesaian tugas akhir ini.
2. Prof. Supramono, SE., MBA., DBA selaku pembimbing yang selama ini telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan bimbingan, bantuan, ilmu, nasehat, saran, dan dukungan selama proses penyelesaian tugas akhir ini. Sehingga nantinya apa yang telah penulis terima menjadi sarana penulis untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara bijak di kemudian hari.
3. Prof. Christantius Dwiatmadja, SE. MM. Selaku Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga dan juga selaku Wali Studi yang telah memberikan arahan selama masa studi.
4. Seluruh Bapak/Ibu Dosen pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnin UKSW yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis dan Staf tata usaha uang memberikan bantuan kepada penulis selama masa perkuliahan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW.
5. Seluruh Pengusaha UMKM industri Konveksi Kecamatan Tingkir Salatiga, yang telah berkenan memberikan bantuan dan waktunya kepada penulis untuk mengisi kuisioner.
6. Kedua sahabat sekaligus saudara Sisca dan Andry yang selalu memberikan bantuan, doa dan motivasi sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas akhir ini. Terimakasih karena telah yakin dan bersama menemani penulis dalam keadaan apapun.
7. Semua sahabat Dita, Tyas, Dina Putri, Ana, Ocseana, Magdalena, Wilis, Dina Widya, Desy, Daniel, Yehezkiel, Elisa, Adi, Steven, Dewa, Aryawan, Raden, Fandy, Adi, Ichlasul, Dedek, Bekti Maria, Fanti dan semua teman-teman lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang sudah membantu dan memberikan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan tugas akhir ini. Terimakasih atas perhatian, semangat, doa dan dukungan selama masa studi yang memberikan pengalaman yang berarti bagi penulis.
8. Semua teman-teman angkatan 2013 di Fakultas Ekonomika dan Bisnis dan juga semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penulis menyelesaikan tugas akhir ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Semoga tugas akhir ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi untuk penelitian-penelitian selanjutnya.
Salatiga, Januari 2017 Penulis
xi DAFTAR ISI
Halaman judul ... i
Pernyataan Tidak Plagiat ... ii
Pernyataan Persetujuan Akses ... iii
Lembar Persetujuan ... iv
Surat Pernyataan Keaslian Tugas Akhir ... v
Motto ... vi
Abstract ... vii
Saripati ... viii
Kata Pengantar ... ix
Ucapan Terimakasih ... x
Daftar Isi ... xi
Daftar Tabel ... xi
Daftar Lampiran ... xii
Pendahuluan ... 1
Kajian Pustaka ... 3
Self-Control ... 3
Sikap Terhadap Uang ... 4
Power Pretige ... 4
Retention Time ... 4
Distrust ... 5
Quality ... 5
Mental Accounting ... 5
Perumusan Hipotesis ... 7
Model Penelitian ... 10
Metode Penelitian ... 11
xii
Jenis Penelitian dan Sumber Data ... 11
Populasi dan Sampel ... 11
Pengukuran Data ... 11
Teknik Analisis Data ... 13
Analisis dan Pembahasan ... 17
Karakteristik Responden ... 17
Uji Validitas Reliabilitas ... 18
Statistik Deskriptif ... 19
Uji Asumsi Klasik ... 21
Normalitas ... 21
Multikolinearitas ... 22
Heterokedastisitas ... 22
Linearitas ... 22
Autokorelasi ... 22
Uji Hipotesis ... 23
Tambahan Analisis ... 24
Pembahasan ... 26
Penutup ... 28
Simpulan ... 28
Implikasi ... 28
Implikasi Teoritis ... 28
Implikasi Terapan ... 29
Keterbatasan Penelitian ... 29
Daftar Pustaka ... 30
Lampiran ... 33
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Indikator Empiris ... 13
Tabel 3.2 Tingkatan Kategori Jawaban ... 14
Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pretest ... 14
Tabel 4.1 Karakteristik Responden ... 17
Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ... 18
Tabel 4.3 Statistik Deskriptif ... 19
Tabel 4.4 Matrix Correlation ... 21
Tabel 4.5 Hasil Uji Hipotesis ... 23
Tabel 4.6 Hipotesis ... 24
Tabel 4.7 Hasil Uji Hipotesis (Tambahan) ... 25
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuisioner Penelitian ... 33
Lampiran 2 Data Responden ... 38
Lampiran 3 Hasil Jawaban Responden ... 41
Lampiran 4 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 42
Lampiran 5 Tabel Statistik Deskriptif ... 48
Lampiran 6 Matrix Correlation ... 50
Lampiran 7 Uji Asumsi Klasik ... 51
Lampiran 8 Uji Regresi Linier Berganda ... 55
Lampiran 9 Uji Hipotesis (Tambahan) ... 56
1 PENDAHULUAN
Sebagian besar pendapatan yang diterima oleh seseorang adalah dalam bentuk uang.
Oleh karena itu uang menjadi faktor yang penting untuk mencukupi kebutuhan manusia.
Dalam penggunaannya diperlukan pengelolaan keuangan yang baik. Setiap orang semestinya dapat mengelola keuangan dengan baik. Menurut Kapoor (2014) manajemen uang adalah mengacu pada kegiatan keuangan sehari-hari yang diperlukan untuk mengelola sumber daya ekonomi kita saat ini ketika bekerja untuk keamanan keuangan jangka panjang.
Namun pengelolaan keuangan pada diri seseorang maupun usaha tidak selalu berjalan mudah, pada kasus yang terjadi di beberapa UMKM yang dikemukakan oleh pengamat ekonomi UGM Revrisond Baswirmenyebutkan bahwa “Pemberian bunga kredit dari perbankan kepada UKM itu marginnya tinggi karena yang dihitung selisih harga jual dan beli yang tinggi. Padahal ada hal lain seperti depresiasi, transportasi, penggunaan rumah sebagai tempat usaha yang kurang diperhatikan” (www.bisniskeuangan.kompas.com diakses tanggal 17 Oktober 2016) hal itu tentu saja bisa menunjukkan bahwa masih banyak usaha-usaha yang belum bisa memisahkan antara keuangan perusahaan dan pribadi. Pada kasus lain yang terjadi di Surabaya, seorang pengusaha mengalami kebangkrutan karena uang dari hasil kesepakatan usahanya digunakan untuk kepentingan pribadi (www.beritajatim.com diakses tanggal 17 Oktober 2016). Hal tersebut tentu saja bisa dicegah apabila self-controldimiliki setiap orang dalam pengelolaan keuangan pribadinya sehingga bisa memisahkan dengan keuangan usahanya.
Pada UMKM Tingkir Lor Salatiga sebagian besar para pengusahanya belum bisa memisahkan keuangan pribadi dengan keuangan usaha mereka, sehingga nantinya mereka akan mengajukan hutang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Padahal seharusnya jika mereka bisa membagi pendapatan yang didapatkan maka hal tersebut tidak terjadi, hal ini dibuktikan dengan meningkatnya tingkat pinjaman pada waktu-waktu tertentu. (Wawancara Umi Hani, Ketua Pengurus Koperasi). Hal tersebut tentunya bisa dicegah dengan self-control dalam mengelola keuangannya
Self-control berarti keseluruhan kemampuan diri untuk mengendalikan dirinya.
Terdapat empat (4) bidang dalam self-control yang menjadi kajiannya. Pertama adalah kognitif, dalam aspek ini, maka seseorang ketika membuat keputusan keuangannya telah memikirkan berbagai manfaat yang akan diperoleh. Kedua adalah impulse, maksudnya adalah seseorang mampu mengontrol berbagai impulse yang datang dari luar diri maupun dalam diri
2
yang bertendensi menyebabkan penyimpangan ketika membuat keputusan keuangan. Ketiga adalah emosi adalah seseorang diharuskan meningkatkan kecerdasan emosinya untuk membantu ketika membuat keputusan keuangan. Tangney, Baumeister & Boone (2004) mengatakan tentang kinerja adalah seseorang mampu me-review atau mengkaji ulang catatan belanjanya sehingga diketahui apakah telah sesuai dengan rencana anggaran yang telah dibuat.
Salah satu hal yang bisa menjadi alat untuk self-control dalam diri kita adalah bagaimana kita menyikapi uang tersebut atau money attitude. Sikap terhadap uang menunjukkan bahwa uang mempunyai banyak arti sesuai dengan bagaimana pemahaman dan kepribadian seseorang diantaraya uang menjadi bagian penting dalam kehidupannya, sumber rasa hormat, kualitas hidup, kebebasan dan bahkan kejahatan (Duravasula & Lysonsnki, 2007). Yamauchi dan Templer (1982) mengatekorikan sikap terhadap uang kedalam lima hal yaitu Power Pretige, Retention time, Distrust, Quality, Anxiety.
Pada penelitian Haning (2012) faktor yang mempengaruhi self-control dalam pengelolaan keuangan pribadi adalah sikap terhadap uang dalam hal ini retention time yang tinggi bisa memperkuatniat seseorang untuk melakukan self-control dalam mengelola keuangan pribadinya. Penelitian lain yang dilakukan oleh Putra (2014) menunjukkan bahwa adanya pengaruh sikap terhadap uang berupa tingginya tingkat retention time, rendahnya tingkat powerpretige menunjukkan hasil yang signifikan terhadap niat dan perilaku seseorang akan self-control akan pengelolaan keuangan pribadi.Dan pada penelitian Effendi (2013) menyebutkan bahwa sikap terhadap uang sangat berpengaruh terhadap self-control dalam diri seseorang.
Namun pada penelitian yang membahas tentang variabel yang mempengaruhi self- control lainnya yang dilakukan Thaler (1999), mengungkapkan bahwa Mental Accounting sebagai perilaku yang menggolongkan masukan dan keluaran berdasarkan pos-pos seperti halnya model akutansi (account code). Menurutnya Mental Accounting merupakan cara yang tepat yang bisa digunakan untuk menghemat waktu, biaya dan juga bisa digunakan sebagai perangkat self-control pada seseorang. Selain itu dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Silooy (2012) di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga terbukti bahwa Mental Accounting dapat digunakan sebagai perangkat self-control karena dapat digunakan untuk pencegahan memanfaatkan dana untuk kepentingan konsumtif dan juga bisa membantu dalam pengelolaan keuangan.
3
Pada penelitian tentang mental accounting lainyang dilakukan oleh Brendl, Markman
& Higgins (1998) menjelaskan bahwa mental accounting adalah self-regulation yang tepat untuk membuat tujuan yang seseorang akan lakukan dapat tercapai.Krishnamurthy &
Prokopec, (2007) mengungkapkan bahwaMental Accounting adalah cara yang relevan untuk mengontrol diri dari pilihan yang dihadapi agar perilaku yang mereka lakukan sejalan dengan tujuan yang ingin mereka capai.
Pada penelitian terdahulu hanya membahas tentang mental accounting berpengaruh terhadap self-controloleh (Silooy, 2012); dan (Brendl, Markman & Higgins, 1998).
Sementara itu pengaruh sikap terhadap uang terhadap self-control oleh Haning (2012) dan Putra (2014) secara terpisah. Penelitian ini ingin mengintegrasikan kedua penelitian tersebut yaitu ingin menguji pengaruh mental accouting dan sikap terhadap uang terhadap self- control, dikarenakan kedua variabel tersebut sama-sama mempegaruhi self-control seseorang.
Dalam penelitian ini sikap terhadap uang akan dibahas secara keseluruhan yaitu : Power Pretige, Retention time, Distrust, Quality, Anxiety. Karena di beberapa penelitian sebelumnya hanya membahas dua yaitu retention time dan power pretige.
Berdasarkan research gap tersebut dapat menjadi dasar permasalahan yaitu (1) apakah secara signifikan sikap terhadap uang mempengaruhi perilaku self-control? dan (2) apakah secara signifikanmental accountingmempengaruhi perilaku self-control?. Adapun manfaat penelitian ini untuk memberi masukan tentang perlunya self-control berdasarkan mental accounting dan sikap terhadap uang dalam mengelola keuangan pribadi.
TELAAH PUSTAKA Self-Control
Delisi dan Berg (2006) mengungkapkan bahwa self-control berkaitan dengan tindakan seseorang untuk mengendalikan atau menghambat secara otomatis kebiasaan, dorongan, emosi, atau keinginan dengan tujuan untuk mengarahkan perilakunya. Self control dalam hal pengelolaan keuangan merupakan sebuah aktivitas yang mendorong seseorang untuk melakukan penghematan dengan menurunkan pembelian impulsive (Otto,Davies& Chater 2004). Pada penelitian Silooy(2012) mengungkapkan bahwa perangkat self-control dalam pengelolaan keuangan dapat digunakan untuk mencegah pemanfaatan dana untuk kepentingan yang bersifat konsumtif.
4
Pengelolaan keuangan pribadi juga menuntut adanya pola hidup yang memiliki prioritas.
Pada dasarnya kekuatan dari prioritas (the power ofpriority) berpengaruh juga pada tingkat kedisiplinan seseorang ketika mengelola keuangannya. Kedisiplinan yang merupakan kesadaran diri untuk mematuhi aturan serta kemampuan diri untuk menyesuaikan dirinya dengan perubahan, maka secara eksplisit telah menyentuh kontrol diri (self control). Menurut Tangney, Baumeister & Boone (2004) hal tersebut mengacu pada alasan bahwa sukses atau tidaknya seseorang juga salah satunya turut dipengaruhi oleh kontrol diri.
Sikap Terhadap Uang
Sikap terhadap uang yang bermakna positif yaitu dengan menggunakan kebiasaan yang baik dalam hal penggunaan uang dapat menjadi penentu dalam pengelolaan keuangan seseorang yang baik demikian pula sebaliknya. Selain itu self-control sangat berpengaruh dalam pengelolaan keuangan pribadi ketika didasari oleh money attitude yang baik (Qamar, Khemta, &Jamil, 2016). Pada penelitian Sabri, Hayhoe & Goh, (2006) menunjukkan bahwa sikap terhadap uang merupakan variabel penentu dalam pengelolaan keuangan pribadi.
Yamauchi dan Templer (1982) mengungkapkandalam Money Attitude Scalebahwa sikap terhadap uang mempunyai lima dimensi (anxiety, distrust, power prestige, quality, and retention- time) yang mempengaruhi bagaimana sikap seseorang terhadap uang.
a. Power Pretige
Menurut Putra (2014) mengungkapkan bahwa Power Pretige merupakan sikap dalam pemakaian uang yang dianggap sebagai status, dan hal ini tentu saja akan menimbulkan pengelolaan keuangan pribadi seseorang buruk karena terlalu mementingkan status. Menurut Yamauchi dan templer (1982) power pretige merupakan sikap yang menganggap bahwa uang adalah simbol kesuksesan, penggunaan uang sebagai alat untuk menarik perhatian. Hal ini berarti bahwa power pretige memiliki makna negatif terhadap uang.
b. Retention-Time
Yamauchi dan Templer (1982) mengungkapkan bahwa Retention-time adalah pandangan seseorang dalam penggunaan uangnya berorientasi pada masa depan melalui perencanaan, penghematan, dan juga penyimpanan uang. Retention-time merupakan perilaku seseorang untuk mengatur uang yang dimiliki dalam bentuk penganggaran uang yang dimilikinya sehingga mereka membelanjakan uangnya secara bijaksana. Orang dengan retention-
5
timeyang tinggi berusaha untuk membuat masa depan mereka lebih aman, dengan cara penganggaran dan menabung dan berusaha untuk menunda pemenuhan keinginan (wants) mereka (Putra, 2014).Burgess, Battersby, et all (2005) mengungkapkan bahwa orang dengan retention-time uang tinggi individu yang tidak cenderung menjadi compulsive shoppers, dan sebagai individu yang menginginkan jaminan masa depannya. Dengan demikian mereka akan berperilaku bahwa uang merupakan sumber daya yang harus dikelola dengan baik sehingga orang dengan skor retention-time yang tinggi cenderung lebih cermat dalam membelanjakan dan mereka memiliki penganggaran yang baik.
Retention time menunjukkan bahwa seseorang melakukan penundaan terhadap keinginannya untuk mendapatkan kepastian akan masa depan seseorang. Dengan demikian memunculkan niat seeorang untuk melakukan self-controling terhadap pengeluaran yang akan dilakukan oleh orang terebut sehingga retention time merupakan sikap positif terhadap uang.
c. Distrust
Sikap yang timbul saat seseorang berurusan dengan uang yaitu ragu-ragu, bimbang dan juga rasa tidak percaya. Distrust merupakan “price sensitivity” karena seseorang akan merasa sangat sensitif terhadap harga dari barangyang akan dibeli oleh konsumen tersebut.
(Yamauchi & Templer, 1982).Menurut Burgess, Battersby, et all (2005) orang yang memiliki distrust yang tinggi cenderung ragu-ragu dalam menghabiskan uang mereka dan jarang melakukan pembelian dalam jumlah besar karena akan selalu muncul pertanyaan ketika mereka membeli barang apakah harga barangnya akan sama jika membeli di tempat lain.
Distrust masuk kedalam sikap positif terhadap uang karena distrust berlaku sebagai perangkat pelindung dengan menjadi sensitif dengan harga suatu barang.
d. Quality
Kualitas bagi seorang konsumen merupakan hal yang sangat penting, sehingga semahal apapun barang tersebut akan dibelinya, uang sebagai simbol kualitas hidup dengan melakukan pembelian barang-barang yang berkualitas (Yamauchi & Templer, 1982).Burgess, Battersby, et all, (2005) menyebutkan bahwa dimensi Quality berfokus pada keyakinan bahwa uang sebagai alat untuk memperoleh kehidupan yang baik dengan mengkonsumsi barang yang memiliki merek yang berkualitas tinggi.
6 e. Anxiety
Uang dipandang sebagai sumber dari kecemasandan stress bagi pemiliknya tapi juga ketika kecemasan semakin tinggi justru akan dianggap sebagai sumber perlindungan dari kecemasan tersebut(Yamauchi & Templer, 1982).Menurt pendapat Burgess, Battersby, et all (2005) orang yang memiliki Anxiety tinggi cenderung cemas, gelisah dan juga khawatir tentang keamanan dari keuangan mereka, namun semakin lama anxiety yang tinggi akan mendorong seseorang menjadi konsumtif .
Mental Accounting
Sebuah fenomena perilaku finansial atau ekonomi perilaku (behavioral finance) yang pertama kali diteliti oleh Richard Thaler. Thaler (1999) mengungkapkan bahwa Mental Accounting sebagai perilaku yang menggolongkan masukan dan keluaran berdasarkan pos- pos seperti halnya model akutansi (account code). Menurutnya mental accounting mengacu pada menggolongkan, mengkategorikan, dan mengevaluasi keuangan. Menurutnya pula dalam mental accounting terdapat 3 komponen utama, yaitu; pertama, Menangkap bagaimana persepsi terhadap hasil (outcomes), dan bagaimana keputusan dibuat dan dievaluasi. Kedua menetapkan aktivitas dalam akun-akun tertentu untuk pencatatan yang spesifik. Ketiga adalah frekuensi evaluasi dari suatu akun.
Mental accounting berfokus pada bagaimana seharusnya seseorang menyikapi dan mengevaluasisuatu situasi saat terdapat dua atau lebih kemungkinan hasil, khususnya bagaimana mengkombinasikankemungkinan-kemungkinan dari hasil tersebut. Dalam mental accounting, individu menentukan tingkat utilitasyang berbeda pada tiap-tiap akun kekayaan sehingga mempengaruhi keputusan konsumsi mereka. Tverskyand Kahneman (1981) menyatakan bahwa mental accounting berfokus kepada bentuk dari keputusan individu dalam keuangan, sedangkan Shefrin dan Thaler (1988) membahas bahwa mental accounting juga dipengaruhipengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap keuangan.
Masalah penganggaran dalam mental accounting adalah menggolongkan uang menjadi tiga bagian, yaitu pertama pengeluaran (termasuk biaya makan, tempat tinggal, dan sebagainya), kedua kekayaan (temasuk cek, dana pensiun, dan sebagainya), dan terakhir adalah pendapatan, yang dikategorikan sebagai pendapatan biasa dan luar biasa. Membagi pengeluaran ke dalam kategori anggaran memiliki dua tujuan, yaitu proses penganggaran dapat membantu dalam membuat tukaran yang rasional untuk penggunaan dana yang
7
dimiliki. Alasan kedua adalah sistem penganggaran dapat bertindak sebagai alat pengendali diri sendiri. Semakin ketat anggaran berarti semakin ketat aturan dalam anggaran tersebut.
Contohnya Keluarga yang hidup mendekati kemiskinan menggunakan anggaran yang ketat dan eksplisit, sedangkan dalam keluarga yang lebih makmur anggarannya kurang diperhatikan, tingkat konsumsi mereka tidak diperketat oleh anggaran. Keluarga yang lebih miskin cenderung memiliki anggaran dalam periode yang lebih pendek daripada keluarga yang berkecukupan.
Mental accounting melanggar prinsip ekonomi mengenai substitusi. Pelanggaran ini diperkenalkan dalam sistem penganggaran, dimana pelanggaran ini terjadi karena beberapa anggaran dirancang terlalu rendah agar dapat berfungsi sebagai alat pengendali diri sendiri.
Perilaku yang jelas menggambarkan konsep ini adalah dalam pemberian hadiah dari seseorang kepada orang lainnya. Biasanya seseorang akan memberikan hadiah kepada orang lain berupa barang yang nilai barang tersebut lebih tinggi daripada nilai barang yang sehari- hari mereka gunakan. Mental Accounting menjelaskan alasan konsep tersebut, bahwa seseorang menganggap suatu hadiah bernilai mewah bila dia tidak dapat membeli hadiah itu dengan kemampuan mereka sendiri.
Analisis ini memberikan gambaran bahwa bagaimana masalah self-control dapat mempengaruhi pilihan seorang individu. Masalah lain yang berkaitan dengan kontrol diri sendiri adalah kategori penempatan aset oleh seorang individu. Dimana urutan penempatan aset dapat dimulai dari pos yang sifatnya likuid hingga yang sifatnya kurang likuid. Semakin tidak likuid suatu aset dikategorikan berarti semakin besar kontrol individu tersebut atas aset yang ditempatkan dalam posisi tersebut.
Perumusan Hipotesis
1. Pengaruh Sikap Terhadap Uang Terhadap Self-control dalam pengelolaan keuangan pribadi
Bagaimana seseorang bersikap terhadap uang secara positif maupun negatif. Sikap terhadap uang ini dibagi dua yaitu:
a. Power Pretige
Power Pretige merupakan sikap terhadap uang yang bersifat negatif, karena sikap ini mendorong seseorang untuk membeli barang agar menaikkan status ekonominya,
8
mendapatkan perhatian dari sekelilingnya,dan menggunakan uang sebagai alat yang digunakan untuk mengatur orang lain. (Burgess, Battersby, et all, 2005).Orang dengan power-pretige yang tinggi cenderung menjadi compulsive buyer yang tinggi juga (Modesto, Falciano & Perito, 2014).Power Pretige yang tinggi dapat membuat sesorang ingin membelanjakan uangnya untuk mendapatkan power-pretigesehingga akan cenderung mengurangi keinginan seseorang untuk melakukan perilaku self-control, sedangkan orang yang memiliki power pretige rendah menujukkan sikap yang berlawanan dangan hal tersebut(Haning, 2012). Dengan demikian hipotesis pertama dapat dirumuskan :
H1 : Power Pretige berpengaruh negatif terhadap self-control dalam pengelolaan keuangan pribadi
b. Retention-time
Sikap terhadap uang sebagai retention-time menekankan pada kebijaksanaan dalam penggunaan uang serta akan menggunakan perencanaan terlebih dahulu sebelum melakukan pembelian (Yamauchi & Templer, 1982). Menurut Haning (2012) ketika seseorang memiliki retention-time yang tinggi dia akan memiliki pandangan untuk masa depannya dan akan memiliki kecermatan dalam pengaturan keuangan yang tinggi sehingga akan cenderung memiliki niat untuk melakukan self-control terhadap keuangan pribadinya, namun jika memiliki retention-time yang rendah seseorang hanya akan memiliki pandangan untuk masa sekarang saja dan memiliki sedikit perhatian terhadap pengelolaan keuangan mereka.
Retention-time dapat mengurangi dorongan seseorang untuk membeli sesuatu, sehingga semakin seseorang merencanakan keuangannya dengan baik maka akan semakin peduli seseorang tersebut terhadap keuangan pribadi mereka dan mengurangi pembelian yang menyebabkan keuangannya memburuk. (Putra, 2014) Perencanaan keuangan yang baik dapat menjadi self-control seseorang dalam mengurangi hal yang akan dibeli atau uang yang akan dikeluarkan (Haning, 2012).Dengan demikian akan membentuk hipotesis kedua sebagai berikut:
H2 : Retention-time berpengaruh positif terhadap self-control dalam pengelolaan keuangan pribadi
9 c. Distrust
Individu yang memiliki distrustyang tinggi cenderung ragu-ragu dalan menggunakan uangnya untuk membeli barang-barang yang bagus karena mereka tidak yakin dengan kemampuan yang mereka miliki untuk menilai kualitas dari suatu barang dan hal tersebut akhirnya membuat mereka tidak berani menghadapi risiko yang ditanggung akibat pembelian tersebut. (Durvasala & Lysonsky, 2010). Dimensi distrust yang tinggi pada diri seseorang menurut Burgess et al. (2005) cenderung lebih berhati-hati dalam penggunaan uang yang mereka miliki demikian pula sebaliknya. Distrusttidak mendorong seseorang untuk melakukan perilaku konsumtif, tetapi justru mengendalikannya dengan lebih cermat memilih barang dengan mempertimbangkan harganya ketika melakukan pembelian (Setyaningsih, 2013). Dari hal tersebut perilaku distrust yang cenderung lebih berhati-hati menggunakan uangnya bisa mendorong seseorang untuk meningkatkan self-control dalam pengelolaan keuangannya. Dengan demikian membentuk hipotesis ketiga yaitu :
H3 : Distrust berpengaruh positif terhadap self-control dalam pengelolaan keuangan pribadi d. Quality
Dimensi quality cenderung menganggap kualiatas barang adalah segalanya agar bisa mendapatkan pengakuan dalam lingkungannya (Yamauchi & Templer, 1982). Seseorang dengan dimensi quality yang tinggi cenderung membeli barang dengan merek yang baik dan juga kualitas yang baik tanpa memperhatikan harga yang tinggi (Setyaningsih, 2013;
Burgess, Battersby, et all, 2005). Dengan kecenderungan pembelian barang mewah tersebut, akan mendorong seseorang untuk bersikap boros dan juga mengurangi self-control seseorang dalam pengelolaan keuangannya.Dengan demikian membentuk hipotesis keempat sebagai berikut :
H4 : Qualityberpengaruh negatif terhadap self-control dalam pengelolaan keuangan pribadi e. Anxiety
Anxiety menganggap bahwa uang sebagai sumber kecemasan apabila tidak memilikinya (Effendi, 2013). Tingkat anxiety yang tinggi akan meningkatkan kebiasaan compulsive buyingpada diri seseorang (Modesto, Falciano & Perito, 2014). ). Untuk menghindari kecemasan yang dimiliki seseorang cenderung akan menggunakan uang tersebut untuk berbelanja sehingga bisa memberikan kenyamanan setelah berbelanja dan pada akhirnya akan
10
membuat seseorang akan berperilaku hidup konsumtif (Setyaningsih, 2013). Ketika seseorang berperilaku konsumtif maka hal itu akan menurunkan self-control dalam diri seseorang. Dengan demikian terbentuk hipotesis kelima yaitu :
H5 : Anxiety berpengaruh negatif terhadap self-control dalam pengelolaan keuangan pribadi 2. Pengaruh Mental Accounting terhadap Self-Control dalam pengelolaan keuangan
pribadi
Mentalaccounting adalah sikap yang menggolongkan pendapatannya kedalam pos-pos tertentu dalam pengeluaran keuangannya. Penggolongan dan pengkategorian yang dilakakukan seseorang dalam keuangannya akan membuatnya mengevaluasi pada akhir periode apakah apa yang direncanakan sesuai dengan apa yang dikeluarkan.
Mentalaccounting ini tanpa sadar menjadi pengendali diri kita untuk mengeluarkan dan sesuai dengan yang dianggarkan. Ketika seseorang sudah mempos-poskan uang yang dimilikinya maka ketika mendapatkan pendapatannya orang tesebut akan langsung melakukan apa yang ia anggarkan. Hal ini dapat mencegah seseorang dalam memanfaatkan uangnya untuk hal-hal yang bersifat overspending dan konsumtif karena dana yang ada sudah dibagi dalam pos-pos tertentu.Mental accounting sebagai self-control dalam diri seseorang ketika dihadapkan pada pembuatan keputusan memilih atau menolak suatu hal yang sudah memiliki tujuan yang jelas (Shafir, 1993). Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa mental accounting dapat menjadi perangkat self-control dalam pengelolaan keuangan agar menjadi lebih terencana dan mengindari sikap boros (Thaler, 1999; Brendl, Markman &
Higgins, 1998; Krishnamurthy & Prokopec, 2007; Silooy, 2012). Beberapa penelitian tersebut dapat disusun hipotesis sebagai berikut :
H6 : Mental Accounting berpengaruh positif terhadap self-control dalam pengelolaan keuangan pribadi
11 Model Penelitian
H1
H2
H3 Power Pretige
Retention-time
Mental Accounting
Self-Control
Distrust
Quality
Anxiety
H4
H5
H6
12 METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian dan Sumber Data
Penelitiaan ini meupakan penelitian eksplanatif karena ingin menguji hipotesis mengenai hubungan mengenai perilaku self-control dalam mengelola keuangan pribadi, berdasarkan mental accounting, dan sikap terhadap. Penelitian ini dilakukan guna mendapatkan hasil bahwa ada pengaruh antara mental accounting, dan sikap terhadap uang terhadap perilaku self-control dalam mengelola keuangan pribadi seseorang. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksplanatif yaitu berusaha untuk melihat hubungan antara beberapa variabel yang dapat menjelaskan hipotesis yang diuji.
Data yanng digunakan adalah data primer, yaitu data yang diperoleh melalui penelitian lapangan dan dengan mengolah sendiri (Supramono dan Utami, 2003). Data yang diperoleh dengan penyebaran kuesioner pada pemilik usaha konveksi Tingkir Lor. Hal ini dikarenakan Salatiga memiliki banyak UMKM yang bergerak di bidang konveksi. Dan Tingkir Lor merupakan wilayah pusat dari industri yang bergerak di usaha konveksi.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah Pemilik Usaha Konveksi di Salatiga yaitu 60 pengusaha dan sampelnya adalah 52 orang pemlik konveksi di Tingkir Lor Salatiga(Data UMKM Binaan Disperindag Kota Salatiga, 2014).
Pengukuran Data
Konsep yang diukur dalam penelitian ini adalah mental accounting, Power Pretige, Retention-Time, Distrust, Quality, Anxiety, dan self-control. Untuk menjawab persoalan penelitian yang dirumuskan serta untuk mempermudah analisis data, maka disusun indikator mental accounting, Power Pretige, Retention-Time, Distrust, Quality, Anxiety, dan self- control kedalam beberapa pernyataan untuk mengetahui kecenderungan terhadap obyek yang diteliti.
13 Tabel 3.1 Indikator Empiris
Konsep Definisi Konsep Indikator Sumber
Self-control
Self-control biasanya melibatkan upaya untuk menghindari preferensi
jangka pendek agar mencapai preferensi jangka panjang
(1) Melawan keinginan belanja (2) Membeli berdasarkan
kebutuhan
Karlsson (1998) ; Nofsinger (2005)
Power- pretige
power pretige merupakan sikap yang menganggap bahwa uang
adalah simbol kesuksesan, penggunaan uang sebagai alat
untuk menarik perhatian.
(1) uang untuk mempengaruhi orang lain, (2) membeli barang mewah dapat memberi kesan terhadap orang lain, (3) uang sebagai simbol kekuasaan.
(Haning, 2012) ; (Yamauchi dan Templer, 1982)
Retention- time
Pandangan seseorang dalam penggunaan uangnya berorientasi
pada masa depan melalui perencanaan, penghematan, dan
juga penyimpanan uang.
(1) penghematan, (2) penganggaran uang, (3) peduli
dengan pengeluaran, (4) menabung, (5) berhati-hati dalam menggunakan uang, (6)
perencanaan keuangan untuk masa depan.
(Haning, 2012)
;(Yamauchi dan Templer, 1982)
Distrust
Sikap yang timbul saat seseorang berurusan dengan uang yaitu ragu- ragu, bimbang dan juga rasa tidak
percaya
(1) pengeluhan harga dalam pembelian, (2) perbandingan
harga barang, (3) keragu- raguan, (4) kecurigaan, dan (5)
perbandingan barang
(Setyaningsih, 2013) ; (Yamauchi dan Templer, 1982)
Quality
Uang sebagai simbol kualitas hidup dengan melakukan pembelian barang-barang yang berkualitas
(1) pembelian terjadi sesuai dengan trend, (2) harga mahal, (3) produk terkenal, (4) produk
memiliki merek terkenal.
Setyaningsih (2013) ; (Yamauchi dan Templer, 1982)
Anxiety
Uang dipandang sebagai sumber dari kecemasan dan stress bagi
pemiliknya tetapi juga ketika kecemasan semakin tinggi justru
akan dianggap sebagai sumber perlindungan dari kecemasan
tersebut
(1) mudah tergoda dengan barang yang dijual, (2) mudah tegiur diskon, (3) menghabiskan
uang, (4) kegugupan dalam memegang uang, (5) kekhawatiran dalam memegang
uang
(Setyaningsih, 2013) ; (Yamauchi &
Templer, 1982)
Mental Accounting
Mental Accounting sebagai perilaku yang menggolongkan masukan dan
keluaran berdasarkan pos-pos seperti halnya model akuntansi
(account code)
(1) uang yang dialokasikan ke dalam pos-pos tertentu, (2) tidak mudah digunakan untuk kepentingan lain, (3) penundaan
pemuasan, dan (4) pembatasan diri
Thaler (1999) Otto (2004)
Variabel-variabel tersebut diukur dengan skala pengukuran Likert.Skala Likert adalah skala yang digunakan secara luas yang meminta responden menandai derajat persetujuan atau ketidak-setujuan terhadap masing-masing dari serangkaian pernyataan mengenai obyek stimulus. Penelitian ini menggunakan metode analisis data terbanyak likert berdasarkan nilai Modus dari suatu instrumen. Berikut adalah opsi jawaban yang kami berikan untuk kuesioner yang akandisebarkan :Sangat Setuju (skor 5), Setuju (skor 4), Netral (skor 3), Tidak Setuju (skor 2), Sangat Tidak Setuju (skor 1)
14 Teknik Analisis data
Statistik Deskriptif digunakan untuk mempermudah analisis data dan menentukan rentang skala Likert maka data mean dikelompokkan kedalam lima kategori :
Tabel 3.2
Tingkatan Kategori Jawaban Rentang Nilai Keterangan
1.00 – 1.79 Sangat Tidak Setuju 1.80 – 2.59 Tidak Setuju 2.60 – 3.39 Kurang Setuju 3.40 – 4.19 Setuju 4.20 – 5.00 Sangat Setuju Keterangan : Interval = 0,8 yang dihitung
Dengan rumus 𝐼 = 𝑅
𝐾
Dimana I = Interval kelas R = Range dan K = Kelas
Uji Validitas dan Realiabilitas
Validitas atau keabsahan adalah menyangkut pemahaman mengenai kesesuaian antara konsep dengan kenyataan empiris (Rangkuti, 1997) uji validitas digunakan untuk mengukur sejauh mana alat pengukur benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur.Hasil uji data yang dilakukan pada 30 responden sebagai pretest sebagai berikut :
Tabel 3.3
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pretest
Variabel No. Butir Nilai Pearson Correlation / rhitung
Cronbach’s Alpha
Self-Control 1 0,620* 0,717**
2 0,752*
3 0,539*
4 0,442*
Power Pretige 5 0,699* 0,746**
6 0,667*
7 0,664*
8 0,437*
9 0,674*
Retention-time 10 0,833* 0,789**
11 0,758*
15
12 0,743*
13 0,578*
Distrust 14 0,653* 0,764**
15 0,719*
16 0,705*
17 0,612*
Quality 18 0,396* 0,727**
19 0,651*
20 0,753*
21 0,627*
Anxiety 22 0,534* 0,746**
23 0,659*
24 0,747*
25 0,654*
26 0.525*
Mental Accounting 27 0,458* 0,704**
28 0,553*
29 0,650*
30 0,550*
31 0,553*
Sumber : Data Primer yang diolah SPSS, 2016
*dinyatakan valid dengan perbandingan > r tabel (28,5%) 0,361
**dinyatakan reliabel dengan perbandingan >0,60
Berdasarkan tabel diatas bisa dilihat bahwa dari 31 pertanyaan yang mewakili setiap variabelnya dinyatakan validkarena nilai rhitung (Pearson Correlation) > rtabel yaitu 0,361.Reliabilitas adalah sejauh mana suatu pengukuran dapat memberikan hasil yang relatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran kembali dengan memakai subyek yang sama (Azwar, 1997)
Pada Tabel 3.3 menunjukkan bahwa Cronbach Alpha yang dihasilkan menunjukan nilai > 0,60, maka instrumen penelitian ini dinyatakan reliabel.Terpenuhinya hasil valid dan juga reliabel melalui hasil pretest yang diberikpan kepada 30 responden, maka membuktikan penelitian ini bisa dilanjutkan untuk selanjutnya disebarkan kepada 52 responden.
Uji Asumsi Klasik
1) Normalitas : uji normalitas digunakan untuk menguji variabel residual dalam regresi berdistribusi normal. (Ghozali, 2011).
16
2) Multikolinearitas : terjadi korelasi yang kuat diantara variabel bebas X. Pada Output, akan muncul nilai Collinearity Statistics Tolerance (T) dan VIF (Variance Inflation Factor). Nilai T = 1/VIF, jadi nilai Tolerance merupakan kebalikan dari nilai VIF.
Diantara variabel bebas X tidak terjadi multikolinearitas jika nilai VIF mendekakti nilai 1. Cara lain untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas yaitu dengan mengkorelasikan seluruh variabel bebas. Apabila nilai Koefisien Korelasi R ≥ 0,80, diindikasikan adanya multikolinearitas.
3) Heterokedastisitas : untuk menguji apakah terdapat ketidaksamaan variansdari suatu pengamatan ke pengamatan lainnya. Heterokedastisitas tidak akan terjadi apabila nilai signifikansi > alfa.
4) Linearitas : uji yang digunakan untuk menguji hubungan antara variabel bebas dan variaber terikat linier atau tidak. Apabila nilai signifikansinya > 0,05 maka bisa ditarik kesimpulan terdapat hubungan linier secara signifikan
5) Autokorelasi : uji autokorelasi memiliki tujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan penganggu pada periode t-1 atau sebelumnya.
Uji Hipotesis
Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda adalah hubungan secara linear antara dua atau lebih variabel independen (X1, X2, X3) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan.
𝑦 = 𝑎 + 𝛽1𝑥1+ 𝛽2𝑥2+ 𝛽3𝑥3+ 𝑒
Keterangan:
Y : Variabel dependen (nilai yang diprediksikan) X1 dan X2 : Variabel independen
A : Konstanta (nilai Y’ apabila X1, X2…..Xn = 0)
Β : Koefisien regresi (nilai peningkatan ataupun penurunan)
E : Error
17 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Data disebarkan pada 52 pemilik Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Konveksi di Tingkir Lor Salatiga. Penyebaran data dilakukan pada bulan Desember 2016.
Untuk menambah informasi dan juga agar lebih memahami penelitian maka disajikan data karakteristik responden, yang disajikan berdasarkan kriteria jenis kelamin, usia, pendidikan, jumlah tenaga kerja, lama berusaha, dan jumlah modal yang digunakan.
Tabel 4.1
Karakteristik Responden
No. Kategori Sub-Kategori Jumlah Presentase
(%)
1) Jenis Kelamin Laki-laki 17 32,69
Perempuan 35 67,31
2) Usia 20-30 Tahun 12 23,08
31-45 Tahun 16 30,77
46-55 Tahun 17 32,69
56- 60 Tahun 7 13,46
3) Pendidikan Tidak Sekolah 1 1,92
SD 9 17,31
SMP 11 21,15
SMA 23 44,23
D3 4 7,69
S1 4 7,69
4) Jumlah Tenaga Kerja 1-5 Orang 29 55,77
6-19 Orang 17 32,69
20-99 Orang 6 11,54
5) Lama Berusaha 1-5 Tahun 14 26,92
6-10 Tahun 9 17,31
11-15 Tahun 9 17,31
16-20 Tahun 17 32,69
21-25 Tahun 3 5,77
6) Jumlah Modal Rp. 500,000 – Rp. 4,999,999 34 65,38
Rp. 5,000,000 – Rp. 9,999,9999 12 23,08 Rp. 10,000,000 – Rp. 15,000,000 6 11,54 Sumber : Data Primer yang diolah Excel, 2017
Berdasarkan dari data diatas dapat dilihat bahwa narasumber terbanyak dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan (67,31%), dengan rentang usia 31-45 tahun (30,77%) dan 46- 55 tahun (32,08%). Sebagian besar pengusaha UMKM memiliki tingkat pendidikan yang tergolong baik yaitu SMA (44,23%). Sebagian besar para pengusaha UMKM Konveksi Tingkir Lor ini memiliki pegawai yang sesuai dengan ciri khas usaha mikro yairu 1-5 orang (55,77%). Namun meski dengan karyawan yang tidak terlalu banyak mayoritas usaha telah berusaha 16-20 tahun (32,69%) dengan jumlah modal berkisar antara Rp. 500,000 – Rp.
4,999,999.
18 Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dilakukan dengan membandingkan r hitung dengan r tabel, jika r hitung lebih besar dari r tabel maka pertanyaan atau pernyataan dalam kuesioner dinyatakan valid.
Uji validitas digunakan agar pengukuran terbebas dari kesalaan sistematis dan random.
Tabel 4.2
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel No. Butir Nilai Pearson
Correlation / rhitung
Cronbach’s Alpha
Self-Control 1 0,639* 0,724**
2 0,720*
3 0,559*
4 0,484*
Power Pretige 5 0,663* 0,754**
6 0,668*
7 0,663*
8 0,557*
9 0,672*
Retention-time 10 0,775* 0,770**
11 0,698*
12 0,713*
13 0,546*
Distrust 14 0,644* 0,780**
15 0,761*
16 0,763*
17 0,655*
Quality 18 0,403* 0,688**
19 0,647*
20 0,649*
21 0,556*
Anxiety 22 0,517* 0,745**
23 0,655*
24 0,725*
25 0,735*
26 0,464*
Mental Accounting 27 0,567* 0,696**
28 0,546*
29 0,546*
30 0,519*
31 0,538*
Sumber : Data Primer yang diolah SPSS, 2016
*dinyatakan valid dengan perbandingan >r tabel (5%, 50) 0,279
**dinyatakan valid dengan perbandingan >0,60
Dari hasil uji validitas tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa keseliuruhan pertanyaan yang mewakili setiap variabel dinyatakan valid karena seluruh r hitung > r tabel yaitu 0,279.
Uji Reliabilitas adalah sejauh mana suatu pengukuran dapat memberikan hasil yang relatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran kembali dengan memakai subyek yang sama (Azwar, 1997). Suatu kuesioner dikatakan reliable jika pertanyaan dan jawaban kuesioner
19
konsisten atau stabil. Suatu variabel dikatakan stabil jika nilai Cronchbach Alpha > 0,60 (Ghozali, 2011). Menurut Umar (2000) Range Reliability dari Cronbach’s Alpha< 0,6 = tingkat reliabilitas kurang baik, Cronbach’s alpha>0,6 – 0,8 = tingkat reliabilitas dapat diterima dan cronbach’s alpha> 0,8 = tingkat reliabilitas sangat baik.Dilihat dari Tabel 4.2 menjelaskan bahwa keseluruhan instrumen penelitian bisa diteliti karena dinyatakan reliabel.
Dilihat dari nilai cronbach alfa > 0,60.
Statistik Deskriptif
Variabel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah Power Pretige, Retention-Time, Distrust, Quality, Anxiety, dan Mental Accounting, Self-Control.Self-control dalam hal pengelolaan keuangan merupakan sebuah aktivitas yang mendorong seseorang untuk melakukan penghematan dengan menurunkan pembelian impulsive (Otto,Davies& Chater 2004). Berdasarkan kuisioner yang disebarkan dengan empat pertanyaan berikut rata-rata jawaban dari responden :
Tabel 4.3 Statistik Deskriptif
Variabel Mean Standar Deviasi Kurtosis Self-Control
P1 3,88 0,784 1,916
P2 3,65 1,027 -0,176
P3 2,54 0,874 0,056
P4 3,96 0,740 1,316
Rata-rata 3,5075 0,856
Power Pretige
P5 3,27 0,992 -0,987
P6 3,10 0,934 -1,171
P7 3,69 0,897 -0,194
P8 2,85 1,036 -1,298
P9 2,31 0,829 0,263
Rata-rata 3,044 0,829
Retention-time
P10 3,94 0,850 1,076
P11 4,04 0,885 2,848
P12 4,02 0,727 2,870
P13 3,75 0,813 0,505
Rata-rata 3,612 0,829
Distrust
P14 2,96 0,885 -1,278
P15 3,79 0,800 1,288
P16 3,90 0,975 -0,82
P17 3,79 0,893 0,294
Rata-rata 3,61 0,888
Quality
P18 3,04 0,928 -1,105
P19 3,92 0,860 0,814
P20 2,67 0,857 -0,467
20
P21 2,37 0,817 1,901
Rata-rata 3 0,865
Anxiety
P22 4,17 0,879 0,747
P23 4,21 0,893 0,742
P24 3,00 1,048 -1,282
P25 3,63 0,950 -0,556
P26 3,35 0,905 -1,122
Rata-rata 3,67 0,935
Mental Accounting
P27 4,00 1,010 -0,045
P28 2,60 1,034 -0,498
P29 2,42 0,893 0,608
P30 4,02 0,939 0,565
P31 4,15 0,916 2,432
Rata-rata 3,438 0,958
Sumber : Data Primer yang diolah SPSS, 2017
Dari data diatas self-control memiliki rata-rata total sebesar 3,50 yang masuk dalam kategori setuju. Para pengusaha konveksi setuju bahwa self-control adalah cara terbaik untuk mengendalikan diri dalam hal pengelolaan keuangan seseorang. Dengan rata-rata terendah adalah 2,54 tentang mempertimbangkan harga ketika akan membeli barang. Dan rata-rata tertinggi adalah 3,96 yang menunjukkan bahwa sebisa mungkin para pengusaha mencegah keluarnya uang untuk pembelian barang yang tidak terduga.
Pada tabel 4.3 pada bagian sikap terhadap uang memiliki jawaban yang diberikan oleh responden yaitu para pengusaha konveksi, rata-rata total power pretige yaitu 3,044. Hal ini menunjukkan bahwa para pengusaha konveksi masih kurang setuju tentang uang sebagai sumber kekayaan. Namun memiliki rata-rata total retention-time yang cukup tinggi yaitu 3,612 yang membuktikan bahwa para pengusaha cenderung merencanakan pengeluarannya dan melakukan penghematan.
Distrust memiliki rata-rata total yang cukup tinggi yaitu 3,61. Namun pada pertanyaan yang menanyakan tentang keragu-raguan terhadap harga barang terlalu mahal atau tidaknya memiliki rata-rata terendah yaitu 2,96. Dan rata-rata tertinggi yaitu 3,90 pada pertanyaan yang menanyakan tentang ketidaknyamanan seseorang ketika barang yang dibeli ternyata bisa didapatkan lebih murah ditempat lain.
Quality adalah yang memiliki total rata-rata terendah diantara lima sikap terhadap uang yang diteliti yaiutu 3 yang berarti secara keseluruhan para pengusaha konveksi kurang setuju dalam menggunakan uang untuk membeli barang yang memiliki kualitas. Pada instrumen Anxietymemiliki rata-rata total yang cukup tinggi yang artinya para pengusaha setuju bahwa uang adalah sumber kecemasan seseorang.
21
Mental Accounting memiliki rata-rata total yang tidak terlalu tinggi yaitu 3,43. Dengan rata-rata terendah pada petanyaan kedua ppuluh sembilan yaitu “saya tidak membedakan sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan tertentu” hal ini bisa terjadi karena sebagian pengusaha mengandalkan usahanya untuk mencukupi semua kebutuhan. Dan yang tertinggi adalah pertanyaan ketiga puluh satu yaitu rata-ratanya 4,15 yang membuktikan bahwa para pengusaha lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan hutang untuk usaha mereka.
Berikut adalah data matrix correlation antar variabel yang sudah diolah berdasarkan SPSS:
Tabel 4.4 Matrix Correlation Self-
Control
Power Pretige
Retention
Time Distrust Quality Anxiety Mental Accounting
Self-Control 0,155 0,619 0,293 0,383 0,301 0,276
Power
Pretige 0,155 -0,047 0,081 -0,0033 0,243 0,117
Retention
Time 0,619 -0,047 0,463 0,293 0,302 0,281
Distrust 0,293 0,081 0,463 0,210 0,178 0,233
Quality 0,383 -0,003 0,293 0,210 0,343 -0,016
Anxiety 0,301 0,243 0,302 0,178 0,343 0,009
Mental
Accounting 0,276 0,117 0,281 0,233 -0,016 0,009
Sumber : Data Primer yang diolah SPSS, 2017
Berdasarkan data diatas variabel retention time memiliki korelasi hubungan yang paling tinggi yaitu 0,619. Yang artinya memiliki korelasi sedang jika 0,5≤│r│<0,8. Sedangkan variabel power pretige, distrust dan mental accounting memiliki korelasi yang sangat lemah karena nilai r berurutan sebesar 0,155; 0,293; 0,276 dan berada pada nilai 0<│r│<0,3.
Sisanya yaitu quality memiliki r sebesar 0,383 dan Anxiety memiliki r sebesar 0,301 berada pada 0,3≤│r│<0,5 dan memiliki korelasi yang lemah.
Uji Asumsi Klasik
Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah nilai residual yangdimiliki dalam model regresi berdistribusi normal (Ghozali, 2011). Uji Normalitas dilakukan pada masing-masing variabel yaitu Self-control, Power Pretige, Retention-Time, Distrust, Quality, Anxiety, dan Mental Accounting. Teknik analisis yang digunakan dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov (Uji K-S). Data akan dinyatakan normal bila nilai signifikansi lebih
22
besar dari alfa. Dan taraf yang digunakan adalah α = 0,05.Berdasarkan hasil uji normalitas pada data, hasil menunjukkan bahwa nilai signifikansinya yaitu 0,961 maka lebih besar dari 0,05 maka dari itu dapat disimpulkan bahwa ketujuh variabel tersebut berdistribusi normal
Uji Multkolineritas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya antar korelasi variabel bebas (indepeden), jika saling berkorelasi maka variabel independen ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar variabel independenya sama dengan nol(Ghozali, 2005).Berdasarkan hasil uji yang dilakukan, hasil menunjukkan nilai tolerance pada Power Pretige (X1), Retention- Time (X2), Distrust (X3), Quality (X4), Anxiety (X5), dan Mental Accounting(X6) sebesar 1.125, 1.523, 1.319, 1.210, 1.307, dari kelima data tersebut menunjukkan lebih kecil dari 10,00. Maka dari itu dapat diambil kesimpulan bahwa dalam penelitian ini tidak terjadi multikolinearitas antar variabelnya.
Uji Heterokedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu kepengamatan yang lain (Ghozali, 2006). Hasil yang baik adalah bila tidak terjadi heterokedastisitas dalam data yang diteliti.Dari hasil uji yang dilakukan dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Menunjukan bahwa nilai signifikansi setiap variabel berturut turut adalah Self-control sebesar 0.992, Power Pretigesebesar 0.157, Retention-Time sebesar 0.66, Distrustsebesar 0.60, Qualitysebesar 0.16, Anxiety sebesar 0.137, dan Mental Accountingsebesar 0.196 yang memiliki nilai lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan tidak ada heterokedastisitas.
Uji Linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah t=regresi bersifat linier atau tidak.
Apabila nilai signifikani > α = 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan linier yang signifikan (Sukestiyarno, 2010). Berdasarkan uji yang dilakukan, menunjukan bahwa variabel Power Pretigedengan Self-Control sebesar 0.154, variabel Retention-Timedengan Self- Controlsebesar 0.189, variabel Distrustdengan Self-Control sebesar 0.685, variabel Qualitydengan Self-control sebesar 0.376, Anxiety dengan Self-control sebesar 0.602, dan variabelMental Accountingdengan Self-cotrol sebesar 0.171 yang berarti lebih besar dari 0,05 dan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linier antara Power Pretige, Retention-Time, Distrust, Quality, Anxiety, dan Mental Accounting dengan Self-control
Uji autokorelasi digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan penganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Regresi yang baik harusnya tidak terdapat autokorelasi antar variabelnya.