Distrust
Quality
Anxiety
H4
H5
H6
12 METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian dan Sumber Data
Penelitiaan ini meupakan penelitian eksplanatif karena ingin menguji hipotesis mengenai hubungan mengenai perilaku self-control dalam mengelola keuangan pribadi, berdasarkan mental accounting, dan sikap terhadap. Penelitian ini dilakukan guna mendapatkan hasil bahwa ada pengaruh antara mental accounting, dan sikap terhadap uang terhadap perilaku self-control dalam mengelola keuangan pribadi seseorang. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian eksplanatif yaitu berusaha untuk melihat hubungan antara beberapa variabel yang dapat menjelaskan hipotesis yang diuji.
Data yanng digunakan adalah data primer, yaitu data yang diperoleh melalui penelitian lapangan dan dengan mengolah sendiri (Supramono dan Utami, 2003). Data yang diperoleh dengan penyebaran kuesioner pada pemilik usaha konveksi Tingkir Lor. Hal ini dikarenakan Salatiga memiliki banyak UMKM yang bergerak di bidang konveksi. Dan Tingkir Lor merupakan wilayah pusat dari industri yang bergerak di usaha konveksi.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah Pemilik Usaha Konveksi di Salatiga yaitu 60 pengusaha dan sampelnya adalah 52 orang pemlik konveksi di Tingkir Lor Salatiga(Data UMKM Binaan Disperindag Kota Salatiga, 2014).
Pengukuran Data
Konsep yang diukur dalam penelitian ini adalah mental accounting, Power Pretige, Retention-Time, Distrust, Quality, Anxiety, dan self-control. Untuk menjawab persoalan penelitian yang dirumuskan serta untuk mempermudah analisis data, maka disusun indikator mental accounting, Power Pretige, Retention-Time, Distrust, Quality, Anxiety, dan self-control kedalam beberapa pernyataan untuk mengetahui kecenderungan terhadap obyek yang diteliti.
13 Tabel 3.1 Indikator Empiris
Konsep Definisi Konsep Indikator Sumber
Self-control
Self-control biasanya melibatkan upaya untuk menghindari preferensi
jangka pendek agar mencapai preferensi jangka panjang
(1) Melawan keinginan belanja (2) Membeli berdasarkan
kebutuhan
Karlsson (1998) ; Nofsinger (2005)
Power-pretige
power pretige merupakan sikap yang menganggap bahwa uang
adalah simbol kesuksesan, penggunaan uang sebagai alat
untuk menarik perhatian.
(1) uang untuk mempengaruhi orang lain, (2) membeli barang mewah dapat memberi kesan terhadap orang lain, (3) uang sebagai simbol kekuasaan.
pada masa depan melalui perencanaan, penghematan, dan
juga penyimpanan uang.
(1) penghematan, (2) penganggaran uang, (3) peduli
dengan pengeluaran, (4) menabung, (5) berhati-hati dalam menggunakan uang, (6)
perencanaan keuangan untuk
Sikap yang timbul saat seseorang berurusan dengan uang yaitu ragu-ragu, bimbang dan juga rasa tidak
percaya
(1) pengeluhan harga dalam pembelian, (2) perbandingan
harga barang, (3) keragu-raguan, (4) kecurigaan, dan (5)
perbandingan barang
(Setyaningsih, 2013) ; (Yamauchi dan Templer, 1982)
Quality
Uang sebagai simbol kualitas hidup dengan melakukan pembelian barang-barang yang berkualitas
(1) pembelian terjadi sesuai dengan trend, (2) harga mahal, (3) produk terkenal, (4) produk
memiliki merek terkenal.
Setyaningsih (2013) ; (Yamauchi dan Templer, 1982)
Anxiety
Uang dipandang sebagai sumber dari kecemasan dan stress bagi
pemiliknya tetapi juga ketika kecemasan semakin tinggi justru
akan dianggap sebagai sumber perlindungan dari kecemasan
tersebut
(1) mudah tergoda dengan barang yang dijual, (2) mudah tegiur diskon, (3) menghabiskan
uang, (4) kegugupan dalam memegang uang, (5)
Mental Accounting sebagai perilaku yang menggolongkan masukan dan
keluaran berdasarkan pos-pos seperti halnya model akuntansi
(account code)
(1) uang yang dialokasikan ke dalam pos-pos tertentu, (2) tidak mudah digunakan untuk kepentingan lain, (3) penundaan
pemuasan, dan (4) pembatasan diri
Thaler (1999) Otto (2004)
Variabel-variabel tersebut diukur dengan skala pengukuran Likert.Skala Likert adalah skala yang digunakan secara luas yang meminta responden menandai derajat persetujuan atau ketidak-setujuan terhadap masing-masing dari serangkaian pernyataan mengenai obyek stimulus. Penelitian ini menggunakan metode analisis data terbanyak likert berdasarkan nilai Modus dari suatu instrumen. Berikut adalah opsi jawaban yang kami berikan untuk kuesioner yang akandisebarkan :Sangat Setuju (skor 5), Setuju (skor 4), Netral (skor 3), Tidak Setuju (skor 2), Sangat Tidak Setuju (skor 1)
14 Teknik Analisis data
Statistik Deskriptif digunakan untuk mempermudah analisis data dan menentukan rentang skala Likert maka data mean dikelompokkan kedalam lima kategori :
Tabel 3.2
Tingkatan Kategori Jawaban Rentang Nilai Keterangan
1.00 – 1.79 Sangat Tidak Setuju 1.80 – 2.59 Tidak Setuju 2.60 – 3.39 Kurang Setuju 3.40 – 4.19 Setuju 4.20 – 5.00 Sangat Setuju Keterangan : Interval = 0,8 yang dihitung
Dengan rumus 𝐼 = 𝑅
𝐾
Dimana I = Interval kelas R = Range dan K = Kelas
Uji Validitas dan Realiabilitas
Validitas atau keabsahan adalah menyangkut pemahaman mengenai kesesuaian antara konsep dengan kenyataan empiris (Rangkuti, 1997) uji validitas digunakan untuk mengukur sejauh mana alat pengukur benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur.Hasil uji data yang dilakukan pada 30 responden sebagai pretest sebagai berikut :
Tabel 3.3
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pretest
Variabel No. Butir Nilai Pearson Correlation / rhitung
Cronbach’s
15
Sumber : Data Primer yang diolah SPSS, 2016
*dinyatakan valid dengan perbandingan > r tabel (28,5%) 0,361
**dinyatakan reliabel dengan perbandingan >0,60
Berdasarkan tabel diatas bisa dilihat bahwa dari 31 pertanyaan yang mewakili setiap variabelnya dinyatakan validkarena nilai rhitung (Pearson Correlation) > rtabel yaitu 0,361.Reliabilitas adalah sejauh mana suatu pengukuran dapat memberikan hasil yang relatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran kembali dengan memakai subyek yang sama (Azwar, 1997)
Pada Tabel 3.3 menunjukkan bahwa Cronbach Alpha yang dihasilkan menunjukan nilai > 0,60, maka instrumen penelitian ini dinyatakan reliabel.Terpenuhinya hasil valid dan juga reliabel melalui hasil pretest yang diberikpan kepada 30 responden, maka membuktikan penelitian ini bisa dilanjutkan untuk selanjutnya disebarkan kepada 52 responden.
Uji Asumsi Klasik
1) Normalitas : uji normalitas digunakan untuk menguji variabel residual dalam regresi berdistribusi normal. (Ghozali, 2011).
16
2) Multikolinearitas : terjadi korelasi yang kuat diantara variabel bebas X. Pada Output, akan muncul nilai Collinearity Statistics Tolerance (T) dan VIF (Variance Inflation Factor). Nilai T = 1/VIF, jadi nilai Tolerance merupakan kebalikan dari nilai VIF.
Diantara variabel bebas X tidak terjadi multikolinearitas jika nilai VIF mendekakti nilai 1. Cara lain untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas yaitu dengan mengkorelasikan seluruh variabel bebas. Apabila nilai Koefisien Korelasi R ≥ 0,80, diindikasikan adanya multikolinearitas.
3) Heterokedastisitas : untuk menguji apakah terdapat ketidaksamaan variansdari suatu pengamatan ke pengamatan lainnya. Heterokedastisitas tidak akan terjadi apabila nilai signifikansi > alfa.
4) Linearitas : uji yang digunakan untuk menguji hubungan antara variabel bebas dan variaber terikat linier atau tidak. Apabila nilai signifikansinya > 0,05 maka bisa ditarik kesimpulan terdapat hubungan linier secara signifikan
5) Autokorelasi : uji autokorelasi memiliki tujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan penganggu pada periode t-1 atau sebelumnya.
Uji Hipotesis
Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda adalah hubungan secara linear antara dua atau lebih variabel independen (X1, X2, X3) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan.
𝑦 = 𝑎 + 𝛽1𝑥1+ 𝛽2𝑥2+ 𝛽3𝑥3+ 𝑒
Keterangan:
Y : Variabel dependen (nilai yang diprediksikan) X1 dan X2 : Variabel independen
A : Konstanta (nilai Y’ apabila X1, X2…..Xn = 0)
Β : Koefisien regresi (nilai peningkatan ataupun penurunan)
E : Error
17 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Responden
Data disebarkan pada 52 pemilik Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Konveksi di Tingkir Lor Salatiga. Penyebaran data dilakukan pada bulan Desember 2016.
Untuk menambah informasi dan juga agar lebih memahami penelitian maka disajikan data karakteristik responden, yang disajikan berdasarkan kriteria jenis kelamin, usia, pendidikan, jumlah tenaga kerja, lama berusaha, dan jumlah modal yang digunakan.
Tabel 4.1
Karakteristik Responden
No. Kategori Sub-Kategori Jumlah Presentase
(%) Sumber : Data Primer yang diolah Excel, 2017
Berdasarkan dari data diatas dapat dilihat bahwa narasumber terbanyak dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan (67,31%), dengan rentang usia 31-45 tahun (30,77%) dan 46- 55 tahun (32,08%). Sebagian besar pengusaha UMKM memiliki tingkat pendidikan yang tergolong baik yaitu SMA (44,23%). Sebagian besar para pengusaha UMKM Konveksi Tingkir Lor ini memiliki pegawai yang sesuai dengan ciri khas usaha mikro yairu 1-5 orang (55,77%). Namun meski dengan karyawan yang tidak terlalu banyak mayoritas usaha telah berusaha 16-20 tahun (32,69%) dengan jumlah modal berkisar antara Rp. 500,000 – Rp.
4,999,999.
18 Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dilakukan dengan membandingkan r hitung dengan r tabel, jika r hitung lebih besar dari r tabel maka pertanyaan atau pernyataan dalam kuesioner dinyatakan valid.
Uji validitas digunakan agar pengukuran terbebas dari kesalaan sistematis dan random.
Tabel 4.2
Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel No. Butir Nilai Pearson
Correlation / rhitung
Cronbach’s
Sumber : Data Primer yang diolah SPSS, 2016
*dinyatakan valid dengan perbandingan >r tabel (5%, 50) 0,279
**dinyatakan valid dengan perbandingan >0,60
Dari hasil uji validitas tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa keseliuruhan pertanyaan yang mewakili setiap variabel dinyatakan valid karena seluruh r hitung > r tabel yaitu 0,279.
Uji Reliabilitas adalah sejauh mana suatu pengukuran dapat memberikan hasil yang relatif tidak berbeda bila dilakukan pengukuran kembali dengan memakai subyek yang sama (Azwar, 1997). Suatu kuesioner dikatakan reliable jika pertanyaan dan jawaban kuesioner
19
konsisten atau stabil. Suatu variabel dikatakan stabil jika nilai Cronchbach Alpha > 0,60 (Ghozali, 2011). Menurut Umar (2000) Range Reliability dari Cronbach’s Alpha< 0,6 = tingkat reliabilitas kurang baik, Cronbach’s alpha>0,6 – 0,8 = tingkat reliabilitas dapat diterima dan cronbach’s alpha> 0,8 = tingkat reliabilitas sangat baik.Dilihat dari Tabel 4.2 menjelaskan bahwa keseluruhan instrumen penelitian bisa diteliti karena dinyatakan reliabel.
Dilihat dari nilai cronbach alfa > 0,60.
Statistik Deskriptif
Variabel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah Power Pretige, Retention-Time, Distrust, Quality, Anxiety, dan Mental Accounting, Self-Control.Self-control dalam hal pengelolaan keuangan merupakan sebuah aktivitas yang mendorong seseorang untuk melakukan penghematan dengan menurunkan pembelian impulsive (Otto,Davies& Chater 2004). Berdasarkan kuisioner yang disebarkan dengan empat pertanyaan berikut rata-rata jawaban dari responden :
Tabel 4.3 Statistik Deskriptif
Variabel Mean Standar Deviasi Kurtosis Self-Control
20
Sumber : Data Primer yang diolah SPSS, 2017
Dari data diatas self-control memiliki rata-rata total sebesar 3,50 yang masuk dalam kategori setuju. Para pengusaha konveksi setuju bahwa self-control adalah cara terbaik untuk mengendalikan diri dalam hal pengelolaan keuangan seseorang. Dengan rata-rata terendah adalah 2,54 tentang mempertimbangkan harga ketika akan membeli barang. Dan rata-rata tertinggi adalah 3,96 yang menunjukkan bahwa sebisa mungkin para pengusaha mencegah keluarnya uang untuk pembelian barang yang tidak terduga.
Pada tabel 4.3 pada bagian sikap terhadap uang memiliki jawaban yang diberikan oleh responden yaitu para pengusaha konveksi, rata-rata total power pretige yaitu 3,044. Hal ini menunjukkan bahwa para pengusaha konveksi masih kurang setuju tentang uang sebagai sumber kekayaan. Namun memiliki rata-rata total retention-time yang cukup tinggi yaitu 3,612 yang membuktikan bahwa para pengusaha cenderung merencanakan pengeluarannya dan melakukan penghematan.
Distrust memiliki rata-rata total yang cukup tinggi yaitu 3,61. Namun pada pertanyaan yang menanyakan tentang keragu-raguan terhadap harga barang terlalu mahal atau tidaknya memiliki rata-rata terendah yaitu 2,96. Dan rata-rata tertinggi yaitu 3,90 pada pertanyaan yang menanyakan tentang ketidaknyamanan seseorang ketika barang yang dibeli ternyata bisa didapatkan lebih murah ditempat lain.
Quality adalah yang memiliki total rata-rata terendah diantara lima sikap terhadap uang yang diteliti yaiutu 3 yang berarti secara keseluruhan para pengusaha konveksi kurang setuju dalam menggunakan uang untuk membeli barang yang memiliki kualitas. Pada instrumen Anxietymemiliki rata-rata total yang cukup tinggi yang artinya para pengusaha setuju bahwa uang adalah sumber kecemasan seseorang.
21
Mental Accounting memiliki rata-rata total yang tidak terlalu tinggi yaitu 3,43. Dengan rata-rata terendah pada petanyaan kedua ppuluh sembilan yaitu “saya tidak membedakan sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan tertentu” hal ini bisa terjadi karena sebagian pengusaha mengandalkan usahanya untuk mencukupi semua kebutuhan. Dan yang tertinggi adalah pertanyaan ketiga puluh satu yaitu rata-ratanya 4,15 yang membuktikan bahwa para pengusaha lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan hutang untuk usaha mereka.
Berikut adalah data matrix correlation antar variabel yang sudah diolah berdasarkan SPSS:
Time Distrust Quality Anxiety Mental Accounting
Sumber : Data Primer yang diolah SPSS, 2017
Berdasarkan data diatas variabel retention time memiliki korelasi hubungan yang paling tinggi yaitu 0,619. Yang artinya memiliki korelasi sedang jika 0,5≤│r│<0,8. Sedangkan variabel power pretige, distrust dan mental accounting memiliki korelasi yang sangat lemah karena nilai r berurutan sebesar 0,155; 0,293; 0,276 dan berada pada nilai 0<│r│<0,3.
Sisanya yaitu quality memiliki r sebesar 0,383 dan Anxiety memiliki r sebesar 0,301 berada pada 0,3≤│r│<0,5 dan memiliki korelasi yang lemah.
Uji Asumsi Klasik
Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah nilai residual yangdimiliki dalam model regresi berdistribusi normal (Ghozali, 2011). Uji Normalitas dilakukan pada masing-masing variabel yaitu Self-control, Power Pretige, Retention-Time, Distrust, Quality, Anxiety, dan Mental Accounting. Teknik analisis yang digunakan dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov (Uji K-S). Data akan dinyatakan normal bila nilai signifikansi lebih
22
besar dari alfa. Dan taraf yang digunakan adalah α = 0,05.Berdasarkan hasil uji normalitas pada data, hasil menunjukkan bahwa nilai signifikansinya yaitu 0,961 maka lebih besar dari 0,05 maka dari itu dapat disimpulkan bahwa ketujuh variabel tersebut berdistribusi normal
Uji Multkolineritas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya antar korelasi variabel bebas (indepeden), jika saling berkorelasi maka variabel independen ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar variabel independenya sama dengan nol(Ghozali, 2005).Berdasarkan hasil uji yang dilakukan, hasil menunjukkan nilai tolerance pada Power Pretige (X1), Retention-Time (X2), Distrust (X3), Quality (X4), Anxiety (X5), dan Mental Accounting(X6) sebesar 1.125, 1.523, 1.319, 1.210, 1.307, dari kelima data tersebut menunjukkan lebih kecil dari 10,00. Maka dari itu dapat diambil kesimpulan bahwa dalam penelitian ini tidak terjadi multikolinearitas antar variabelnya.
Uji Heterokedastisitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu kepengamatan yang lain (Ghozali, 2006). Hasil yang baik adalah bila tidak terjadi heterokedastisitas dalam data yang diteliti.Dari hasil uji yang dilakukan dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Menunjukan bahwa nilai signifikansi setiap variabel berturut turut adalah Self-control sebesar 0.992, Power Pretigesebesar 0.157, Retention-Time sebesar 0.66, Distrustsebesar 0.60, Qualitysebesar 0.16, Anxiety sebesar 0.137, dan Mental Accountingsebesar 0.196 yang memiliki nilai lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan tidak ada heterokedastisitas.
Uji Linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah t=regresi bersifat linier atau tidak.
Apabila nilai signifikani > α = 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan linier yang signifikan (Sukestiyarno, 2010). Berdasarkan uji yang dilakukan, menunjukan bahwa variabel Power Pretigedengan Control sebesar 0.154, variabel Retention-Timedengan Self-Controlsebesar 0.189, variabel Distrustdengan Self-Control sebesar 0.685, variabel Qualitydengan Self-control sebesar 0.376, Anxiety dengan Self-control sebesar 0.602, dan variabelMental Accountingdengan Self-cotrol sebesar 0.171 yang berarti lebih besar dari 0,05 dan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linier antara Power Pretige, Retention-Time, Distrust, Quality, Anxiety, dan Mental Accounting dengan Self-control
Uji autokorelasi digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan penganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Regresi yang baik harusnya tidak terdapat autokorelasi antar variabelnya.
23
Dalam pengujian autokorelasi yang dilakukan nilai DW adalah 2.021 dibandingkan dengan nilai tabel dengan tingkat signifikansi 0,05 maka diperoleh DL 1.351 dan DU 1.769 . Nilai DW lebih besar dari batas atas (DU) dan kurang dari (4-DU) yaitu 4-1.769 = 2.231. maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi.
Uji Hipotesis
Penelitian ini ingin melihat bagaiman pengaruh Sikap terhadap Uang dan Mental Accountingterhadap self-control seseorang dalam pengelolaan keuangannya, maka dilakukan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan SPSS, sebagai berikut :
Tabel 4.5 Hasil Uji Hipotesis
Pengujian Nilai Statistik
Uji Regresi dan Uji T
Model B T Sig.
(Constant) ,007 ,010 ,992
Power_Pretige ,143 1,438 ,157
Retention_time ,505 4,069 ,000
Distrust -,044 -,423 ,674
Quality ,245 1,917 ,062
Anxiety ,024 ,215 ,831
Mental_Accounting ,121 1,041 ,304
Uji F Model F Sig.
Regression 6,733 0,000 Koefisien Korelasi
Model R R2 Adjusted R2
1 0,689 0,475 0,404
Sumber data : Lampiran 8
Dari hasil uji Regresi linier berganda yang dilakukan pada data pada tabel 4.5 dapat diketahui nilai konstanta sebesar 0,007. Hasil ini menyatakan jika sikap terhadap uang (Power Pretige, Retention-Time, Distrust, Quality, Anxiety) dan juga mental accounting nol maka self-control dalam diri seseorang tetap sebesar 0,007 yang dipengaruhi oleh variabel lain diluar sikap terhadap uang dan mental accounting. Power Pretige, Retention-Time, Quality, Anxiety memiliki pengaruh positif terhadap self-controlartinya jika misalkan variabel Power pretige bertambah satu poin, maka self-comtrol juga akan meningkat sebesar 0,143.
Namun hal ini berbeda dengan distrust yang memiliki hubungan negatif, jika variabel distrust mengalami peningkatan satu poin maka variabel self-control akan mengalami penurunan 0,044.
Berdasarkan hasil uji secara simultan yang terdapat pada tabel 4.5Dilihat dari tingkat Signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 maka bisa ditarik kesimpulan bahwa secara bersama-sama
24
sikap terhadap uang (Power Pretige, Retention-Time, Distrust, Quality, Anxiety) dan juga mental accounting berpengaruh terhadap self-control seseorang dalam mengelola keuangan pribadi.
Hasil dari pengujian yang dilakukan dengan parsial Pada tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa variabel yang berpengaruh secara parsialRetention-time karena nilai signifikansinya 0,000< 0,05, sedangkan pada variabel Quality signifikan pada alfa 10% karena 0,062< 0,10 namun memiliki pengaruh yang positif. Dan keempat variabel lainnya Power Pretige, Distrust, dan Mental Accounting tidak berpengaruh secara parsial terhadap self-control seseorang dalam mengelola keuangan pribadinya karena nilai signifikansinya > 0,05.
Berdasarkan tabel 4.5, diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 0,475. Artinya bahwa pengaruh yang diberikan oleh kombinasi antara variabel Power Pretige, Retention Time, Distrust, Quality, Anxiety, dan Mental Accounting terhadap variabel Self-control sebesar 47,5% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Dari hasil pengujian data maka dapat menjawab hipotesis yang telah dibuat, sebagai berikut :
Tabel 4.6 Kesimpulan Hipotesis
Hipotesis Sig. Keterangan
H1: Power Pretige berpengaruh negatif terhadap self-control dalam
pengelolaan keuangan pribadi 0,157 Tidak Signifikan
H2: Retention-time berpengaruh positif terhadap self-control dalam
pengelolaan keuangan pribadi 0,000* Signifikan
H3: Distrust berpengaruh negatif terhadap self-control dalam pengelolaan
keuangan pribadi 0,674 Tidak Signifikan
H4: Quality berpengaruh negatif terhadap self-control dalam pengelolaan
keuangan pribadi 0,062** Signifikan
H5: Anxiety berpengaruh negatif terhadap self-control dalam pengelolaan
keuangan pribadi 0,831 Tidak Signifikan
H6: Mental Accounting berpengaruh positif terhadap self-control dalam
pengelolaan keuangan pribadi 0,304 Tidak Signifikan
*) Signifikan pada α = 5%
**) Signifikan pada α = 10%
Sumber : Tabel 4.5 Hasil Uji Hipotesis
Tambahan Analisis
Mengingat hanya terdapat dua variabel yang dinyatakan signifikan terhadap self-controlmaka dicoba untuk mengunakan variabel dummy pada bagian self-control. Dan dicoba juga untuk menghubungkan variabel yang terdapat pada karakteristik responden memiliki kemungkinan
25
berpengaruh dengan variabel self-control yang yaitu Jumlah Tenaga Kerja dan Jumlah Modal sebagai variabel moderating terhadap sikap terhadap uang dan mental accounting. Variabel moderating adalah variabel independen yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan diantara variabel independen terhadap variabel dependen. Adapun hasil pengujian yang dihasilkan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.7
Hasil Uji Hipotesis (Tambahan)
Variabel Model 1 (Numerik) Model 2 (Dummy) Model 3 (Modearasi)
Independent Variabel B T Sig. B T Sig. B T Sig.
Sumber : Lampiran 9
Dari hasil pengujian yang dilakukan dengan dummy memiliki hasil yang sama dengan pengujian linier berganda sebelumnya bahwa hanya variabel Retention-time yang berpengaruh positif dan signifikan dengan alfa 5%, namun variabel quality yang signifikan pada alfa 10% pada pengujian sebelumnya tidak signifikan pada pengujian dengan dummy variabel. Pengujian ini juga membuktikan bahwa dengan menggunakan variabel yang terdapat pada karakteristik responden yaitu jumlah tenaga kerja dan jumlah modal sebagai varibel moderasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan, hanya variabel distrust yang memiliki pengaruh positif dan signifikan pada alfa 5%. Jika jumlah tenaga kerja merupakan
26
penentu besaran usaha. Maka semakin besar usahanya, seseorang yang memiliki sikap ragu-ragu (distrust) dalam membelanjakan uangnya akan meningkatkan self-control yang dimiliki.
Pembahasan
Berdasarkan data yang telah diolah untuk menjawab tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah secara signifikan sikap terhadap uang mempengaruhi self-control dan apakah secara signfikan mental accounting mempengaruhi self-control dalam pengelolaan keuangan pribadi pengusaha UMKM konveksi di Tingkir Lor.
Dilihat dari data yang sudah diolah memiliki hasil yang berbeda. Hanya variabel Retention-time, dan Mental accounting yang memiliki pengaruh sesuai dengan hipotesis awal. Sedangkan sisanya tidak sesuai, dan hanya satu variabel yang memiliki pengaruh signifikan antara pengaruh positif yang dihasilkan dan hasil nilai signifikansinya yaitu variabel retention-time, variabel lain tetap tidak signifikan meskipun pengaruhnya sesuai.
Hasil penelitian ini mendukung variabel yaitu Retention-time, berpengaruh positif dan juga signifikan yang didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Haning (2012), Effendi (2013), dan Putra (2014). Hal ini bisa disebabkan oleh kepercayaan para pengusaha terhadap penghematan, menabung dan juga perencanaan keuangan yang direncanakan dengan baik.
Para pengusaha percaya bahwa penghematan adalah cara yang bisa dilakukan untuk mengontrol diri mereka dalam mengelola keuangan mereka, sehingga hal ini bisa mendukung terjadinya self-control.
Dan pada variabel mental accountingtidak signifikan karena para pengusaha UMKM konveksi Tingkir hanya membuat perencanaan tanpa dilakukan sehingga mental accounting tidak memiliki dampak terhadap self-control. Ketika para pengusaha hanya memiliki rancangan untuk menempatkan uangnya di pos-pos tertentu tetapi mereka tidak mengikutinya karena mereka tidak bisa mengendalikan diri untuk membeli hal lain diluar perencanaan mereka maka justru hal tersebut tidak bisa meningkatkan variabel self-control.Para pengusaha UMKM konveksi Tingkir menjadi tidak rasional dalam penggunaan dana yang mereka miliki karena ketidakteraturan dana yang mereka gunakan dibandingkan dengan penganggaran yang sudah direncanakan dari awal. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Thaler (1999); Brendl, Markman & Higgins (1998);
Dan pada variabel mental accountingtidak signifikan karena para pengusaha UMKM konveksi Tingkir hanya membuat perencanaan tanpa dilakukan sehingga mental accounting tidak memiliki dampak terhadap self-control. Ketika para pengusaha hanya memiliki rancangan untuk menempatkan uangnya di pos-pos tertentu tetapi mereka tidak mengikutinya karena mereka tidak bisa mengendalikan diri untuk membeli hal lain diluar perencanaan mereka maka justru hal tersebut tidak bisa meningkatkan variabel self-control.Para pengusaha UMKM konveksi Tingkir menjadi tidak rasional dalam penggunaan dana yang mereka miliki karena ketidakteraturan dana yang mereka gunakan dibandingkan dengan penganggaran yang sudah direncanakan dari awal. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Thaler (1999); Brendl, Markman & Higgins (1998);