• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Profil Sekolah

Penelitian ini dilakukan pada Sekolah Dasar Negeri (SDN) Harjosari 01 yang terletak di RT 01/RW 07 Kelurahan Harjosari, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah. Sekolah ini didirikan tahun 1975 di atas tanah seluas 3.501 m2 milik desa Harjosari.

Visi SDN Harjosari 01 adalah terbentuknya lulusan yang berakhlak mulia, unggul dalam prestasi, serta beriman dan bertaqwa. Adapun misi SDN Harjosari 01 yaitu 1) Meningkatkan ketaqwaan melalui pengamalan terhadap ajaran agama yang dianut melalui kegiatan pembiasaan dan terprogram; 2) Melaksanakan proses pembelajaran aktif, kreatif, efisien, dan menyenangkan dengan pendekatan saintific, melalui berbagai strategi dan metode belajar; 3) Menumbuhkembangkan berfikir kritis, kreatif, inovatif dan kerjasama bagi peserta didik; 4) Mengembangkan potensi dan kreativitas siswa melalui pengembangan diri dan optimalisasi kegiatan ekstra kurikuler serta Gerakan Literasi Sekolah; 5) Melaksanakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), yang berakar pada budaya bangsa melalui kegiatan pembelajaran, pembiasaan, keteladanan dan budaya sekolah; 6) Menerapkan proses pembelajaran berbasis teknologi informasi sesuai tingkat perkembangan siswa; 7) Menumbuhkan suasana sekolah yang demokratis, kondusif, nyaman, dengan menerapkan manajemen partisipatif

(2)

43

yang melibatkan seluruh warga sekolah dan stakeholder; 8) Menerapkan budaya tertib, disiplin, bersih dan sehat bagi seluruh warga sekolah; 9) Meningkatkan peran serta dan partisipasi orang tua siswa dalam memajukan mutu pendidikan di SDN Harjosari 01.

Adapun tujuan SDN Harjosari 01 yaitu: 1) Menghasilkan peserta didik yang beraklak mulia dan berkarakter; 2) Menghasilkan peserta didik yang berkualitas, berprestasi bidang akademik maupun non akademik di berbagai tingkatan; 3) Mewujudkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa dengan mengamalkan ajaran agama yang dianut dan menerapkan toleransi dalam sikap dan perilaku; 4) Menghasilkan peserta didik yang berbudi pekerti luhur menjujung tinggi tata krama yang mencerminkan nilai-nilai karakter budaya bangsa; 5) Menghasilkan peserta didik yang mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan; 6) Menghasilkan peserta didik yang menguasi teknologi informasi dan komunikasi sesuai tingkat perkembangan siswa; 7) Mewujudkan suasana sekolah yang tertib, kondusif dan nyaman sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara warga sekolah dengan masyarakat; 8) Mewujudkan sekolah yang tertib, disiplin, bersih, jujur dan nyaman bagi semua warga sekolah; 9) Mewujudkan peran aktif orang tua dan stake holder dalam memajukan kualitas pendidikan di SDN Harjosari 01.

(3)

44

Sekolah ini memiliki jumlah rombongan belajar (rombel) sebanyak 11 rombel per tahun 2018. Saat ini sekolah memiliki ruang kelas sebanyak 11 ruang masing-masing berukuran 7 x 8 m, 1 ruang Kepala Sekolah/ruang Guru, 1 Ruang UKS, 1 Ruang Perpustakaan, 1 Ruang Komputer/Ruang Multimedia, 1 Kantin , 1 Ruang Perpustakaan , 1 Mushola, , 1 Gudang , 6 WC Siswa , 2 WC Guru, Taman Toga, serta halaman sekolah yang dimanfaatkan sebagai tempat upacara, kegiatan olahraga, pramuka dan kegiatan-kegiatan lain untuk pengembangan potensi peserta didik

Jumlah Tenaga Pendidik dan Kependidikan SDN Harjosari 01 sebanyak 18 orang, terdiri dari Kepala sekolah, 12 guru kelas, 1 guru olahraga , 1 guru Agama Islam, 1 guru Bahasa Inggris. Sedangkan tenaga kependidikan terdiri dari Tata usaha/Pustakawan dan penjaga sekolah.

SDN Harjosari 01 telah menerapkan Kurikulum 2013 untuk semua kelas melalui pendekatan saintific dengan memanfaatkan media pembelajaran serta lingkungan sebagai sumber belajar. Tahun 2017, SDN Harjosari 01 ditunjuk sebagai Sekolah Model Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dengan 5 sekolah imbas. Sekolah ini juga merupakan sekolah inti Gugus Kartika yang menjadikannya sebagai pusat berbagai kegiatan guru dan siswa.

(4)

45 4.2 Hasil Penelitian

Pada bagian ini akan diuraikan hasil penelitian berupa evaluasi program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SDN Harjosari 01 dilihat dari aspek Context, Input, Process, Product.

4.2.1 Evaluasi Aspek Context Program GLS

Wirawan (2011) menyatakan bahwa evaluasi aspek context ini untuk mengidentifikasi dan menilai kebutuhan-kebutuhan yang mendasari disusunnya suatu program. Dengan kata lain, evaluasi context akan menggambarkan latar belakang yang mempengaruhi tujuan serta strategi yang dilakukan dalam suatu program. Dalam evaluasi context program GLS di SDN Harjosari 01 ini akan dilihat sejauh mana relevansi antara tujuan program GLS dengan hal-hal yang melatarbelakangi dijalankannnya program di sekolah.

Program GLS dicanangkan oleh pemerintah yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2015. Program ini dikembangkan sebagai bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti yang adalah kegiatan pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah (pasal 1 ayat 2).

Sebelum program GLS diluncurkan oleh pemerintah, SDN Harjosari 01 telah menerapkan beberapa kegiatan untuk menumbuhkan budaya

(5)

46

membaca anak. Misalnya, memotivasi anak untuk gemar membaca, dan bahkan sekolah sering mengadakan lomba yang ada kaitannya dengan membaca seperti membuat sinopsis, mendongeng, dan lain sebagainya.

Namun demikian, berdasarkan wawancara dengan Kepala Sekolah SDN Harjosari 01 tahun 2008-2018, bapak Sumadi, S. Pd menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan tersebut belum terarah sebagaimana pernyataan berikut:

“…dulu sebelum ada program pemerintah ini lomba sinopsis, lomba menulis sudah ada sejak lama. Karena kan anak masuk sini, banyak yang belum bisa membaca. Cuma tidak saya masukkan dalam sebuah program, yang berarti kan belum terarah, belum efektif...”

Hal ini diperkuat oleh pernyataan salah satu guru SDN Harjosari 01, Ibu Triyani:

“…sebelum diadakan oleh pemerintah, sekolah kami juga sudah sejak lama melaksanakannya dalam bentuk membaca buku dan mengadakan lomba- lomba yang ada kaitannya dengan apa yang mereka baca seperti lomba sinopsis, lomba mendongeng, majalah dinding dan lain sebagainya. Dan dengan dicanangkannya program dari pemerintah itu SD kami ini membuat program yang intensif untuk melaksanakan program literasi tersebut.”

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa sekolah telah sejak lama menyadari pentingnya menumbuhkan budaya gemar membaca pada anak dimana membaca merupakan salah satu kebiasaan positif yang harus dimiliki anak.

Pada tahun 2016 SDN Harjosari 01 mulai menjalankan program GLS di sekolah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Bapak Sumadi berikut ini:

(6)

47

“…mulainya tahun 2016. Jadi dulu itu ceritanya ada pelatihan Kurikulum 2013 (K-13). Salah satu materi pelatihan K13 adalah literasi. Setelah ada peraturan kemudian masuk dalam materi pelatihan K13 terus kita dapat literasi dasar dan literasi macem-macem. Terus saya terapkan di sekolah.”

Ketersediaan sumber daya di sekolah baik sumber daya manusia maupun sarana prasarana menjadi salah satu alasan lain yang mendukung diterapkannya program ini di SDN Harjosari 01. Kesadaran akan pentingnya literasi bagi warga sekolah serta didukung oleh tersedianya sumber daya di sekolah menunjukkan kesiapan sekolah untuk menjalankan peraturan pemerintah tersebut, seperti penjelasan bapak Sumadi, S. Pd selanjutnya:

“…memang regulasi pemerintah seperti itu, jadi kalau ada regulasi pemerintah kan harus dilakukan. Terus yang kedua, SDN Harjosari 01 itu fasilitasnya ada, ada tim yang membantu dalam hal ini guru-guru dan petugas. Dan yang terpenting, literasi itu menurut saya segala-galanya, maksudnya segala kegiatan tidak bisa lepas dari literasi. Kemudian pentingnya diadakan literasi itu karena kalau literasinya itu jalan, bagus otomatis akan menghasilkan siswa yang kompeten juga. Buktinya ketika saya masih di situ, siswa beberapa kali menjuarai lomba sampai tingkat provinsi berkat literasi. Tapi lebih dari itu karena sumber dayanya ada, sarananya ada terus timnya ada. Kalau itu tidak dimanfaatkan kan eman- eman. Yang jelas, tidak hanya masalah regulasi setelah adanya peraturan pemerintah itu, kalau literasi itu tidak dilakukan ya anak-anak juga tidak tambah pengalamannya.”

Hal senada juga dikemukakan oleh Ibu Dwi selaku pustakawan di SDN Harjosari 01:

“…setiap sekolah kan harus punya perpustakaan sendiri itu, terus dapat bantuan buku juga kan ya sayang kalau tidak dimanfaatkan. Terus sekolah ikut lomba perpustakaan juga tahun 2015 tingkat kabupaten. Perpustakaan ada, buku ada, tapi anak-anak masih jarang ke perpustakaan. Karena sudah rapi (perpustakaan) kok eman-eman kalau misalnya anak tidak mau datang.

Mulai itu piye carane perpustakaan bisa rame.”

(7)

48

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa diterapkannya program GLS di SDN Harjosari 01 karena mengikuti regulasi pemerintah dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekolah. Semuanya itu dilakukan atas kesadaran pentingnya literasi terhadap warga sekolah khususnya siswa dengan melihat kenyataan bahwa kemampuan baca anak saat pertama masuk sekolah masih minim dan minat kunjung perpustakaan anak masih rendah.

Dalam Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah (Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2016) disebutkan bahwa sasaran program GLS ini adalah ekosistem sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Hal ini juga sejalan dengan yang diterapkan di SDN Harjosari 01 seperti yang tertuang dalam dokumentasi Program Gerakan Literasi Sekolah SD negeri Harjosari 01 Kecamatan Bawen yang menyatakan bahwa sasaran progam Gerakan Literasi Sekolah di SDN Harjosari 01 adalah Kepala Sekolah, Guru, Karyawan, Siswa, Orang tua Siswa. Penjelasan tersebut juga dipertegas oleh bapak Sumadi sebagaimana yang dijelaskan berikut:

“…sasarannya ya semua warga sekolah tapi kalau sasaran utamanya ya jelas siswa. Yang kedua itu guru karena guru itu ya harus memberi contoh.

Dengan guru membaca, punya tanggung jawab otomatis mereka (siswa) kan ikut. Tapi itu, sasaran utamanya tetap murid, sasaran kedua guru, tetapi kalau guru itu sifatnya membantu…”

“…sama dengan guru, kepala sekolah juga ya harus memberikan contoh.

Karena kepala sekolah dituntut untuk membaca buku beberapa judul per tahun. Kalau karyawan itu maksudnya seperti ibu Dwi (pustakawan) ya tugasnya membantu memfasilitasi dalam kaitannya dengan perpustakaan.

(8)

49

Nah kalau guru-guru itu, kami mengharapkan mereka juga membaca buku- buku yang kaitannya dengan pengembangan diri di sekolah. Kan ada buku- buku di perpustakaan contohnya tentang PTK, atau ada lagi metode- metode pembelajaran. Jadi sebenarnya maksudnya saya ya itu tapi terbatas kepada kepentingan mereka sendiri. Tapi, kembali lagi, sasaran utamanya ya siswa.”

Penjelasan tersebut juga didukung oleh penjelasan ibu Sri Rahayu yang menjelaskan bahwa:

“…sasarannya (GLS) bagi anak dan juga bagi guru karena dengan membaca kan guru bisa mendapatkan wawasan yang lebih luas. Guru kan juga ikut membaca. Dan perpustakaan juga tidak hanya untuk anak.”

Dapat disimpulkan bahwa sasaran diadakannya program GLS di SDN Harjosari 01 yaitu untuk seluruh ekosistem sekolah (warga sekolah) dan yang diutamakan adalah siswa.

Program GLS memiliki dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum GLS adalah menumbuhkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat (Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2016). Dan tujuan khususnya yaitu: 1) Menumbuhkan budaya literasi di sekolah; 2) Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat; 3) Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan; 4) Menjaga

(9)

50

keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan bergam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

Sebagai upaya mewujudkan program dari pemerintah, maka sekolah dalam hal ini SDN Harjosari 01 kemudian menjalankan program dengan tujuan yang sejalan dengan tujuan program GLS oleh pemerintah yang disesuaikan dengan visi, misi serta tujuan sekolah. Adapun tujuan program GLS di SDN Harjosari 01 yang dipaparkan dalan dokumen Program Literasi Sekolah SD Negeri Harjosari (2016) yaitu: 1) Menumbuhkan minat baca tulis peserta didik; 2) Meningkatkan kualitas pengetahuan siswa melalui sumber bacaan; 3) Memupuk kedisiplinan kreativitas dan prestasi; 4) Membangun sikap apresiatif menghargai karya tulis orang lain; 5) Menambah pengalaman, kecakapan dan keterampilan yang berguna bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Adanya relevansi antara tujuan-tujuan tersebut juga didukung oleh pernyataan dari Bapak Sumadi sebagai berikut:

“…ya, harus relevan. Tujuannya akhirnya kan ya itu menjadikan siswa berkompeten dengan cara meningkatkan kemampuan literasi itu.”

Pernyataan yang sejalan juga dikemukakan oleh Bapak Susi Hartono selaku Kepala Sekolah SDN Harjosari 01 periode saat ini yaitu:

“…tujuan program literasi ini sebetulnya program pembiasaan di sekolah artinya ketika anak dibiasakan membaca, harapannnya adalah peningkatan mutu. Saya pikir semua sekolah akan melakukan hal yang sama. Di sekolah saya yang lama juga kan seperti itu.”

(10)

51

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ada relevansi antara tujuan diadakannya program GLS oleh pemerintah dengan tujuan program GLS di SDN Harjosari 01 dimana tujuan program GLS yang dicanangkan oleh pemerintah bisa tercapai jika sekolah terlibat aktif dan produktif untuk menciptakan lingkungan yang berliterat sehingga menghasilkan lulusan yang berkompeten dan sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Dari hasil wawancara dan pengamatan serta studi dokumen yang telah dijelaskan di atas dapat memberikan informasi bahwa program GLS yang adalah salah satu kebijakan pemerintah dalam upaya menumbuhkan budaya literasi dengan melakukan kegiatan pembiasan di sekolah merupakan jawaban atas kebutuhan sekolah yaitu peningkatan minat baca warga sekolah. Penumbuhan budi pekerti di sekolah dengan cara menciptakan lingkungan belajar yang berliterat memiliki relevansi dengan tujuan GLS di sekolah. Hal ini menunjukkan niat baik sekolah untuk bekerja sama mewujudkan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat.

4.2.2 Evaluasi Aspek Input Program GLS

Evaluasi input untuk mengidentifikasi masalah, aset, anggaran maupun peluang serta membantu pengambil keputusan untuk mempersiapkan strategi alternatif untuk dijalankan (Wirawan, 2012). Aspek input berperan penting dalam menentukan keberhasilan suatu program.

(11)

52

Evaluasi input pada penelitian ini akan menganalisa bagaimana perencanaan program hingga penggunaan sumber daya yang tersedia. Aspek input program GLS di SDN Harjosari 01 meliputi perencanaan pelaksanaan program, kesiapan sumber daya sekolah, manajemen dan sumber daya pelaksana tiap kegiatan dalam program.

4.2.2.1 Perencanaan

Sebuah program tidak bisa dijalankan tanpa perencanaan, bahkan Arikunto (2008) mengartikan program sebagai sebuah rencana. Perencanaan GLS di SDN Harjosari 01 dimulai setelah kepala sekolah mengikuti pelatihan kurikulum 2013 yang salah satu materinya tentang literasi di sekolah seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pertemuan dengan dewan guru dan komite sebagai langkah awal yang dilakukan Bapak Sumadi sebagai Kepala Sekolah untuk membahas hal ini seperti pernyataannya berikut:

“…setelah pelatihan K-13 itu kan ada materi literasi itu, dijelaskan gerakan literasi itu seperti ini, harus ada tim, ada yang terlibat ini, ada yang bertanggung jawab untuk ini. Saya lalu mengumpulkan dewan guru dan komite, rapat membahas program pemerintah itu. Kami terus bentuk tim itu…”

Pernyataan dari ibu Tri juga mendukung penjelasan bapak Sumadi:

“…jadi waktu itu kan ada pelatihan K-13 itu, pulang dari pelatihan itu, dewan guru dikumpulkan bersama komite oleh pak Madi, ya membahas gerakan literasi itu. Bentuk tim dulu, baru kegiatan lainnya…”

(12)

53

Kedua pernyataan di atas menjelaskan bahwa program GLS di SDN Harjosari 01 mulai direncanakan melalui rapat bersama dewan guru dan komite sekolah setelah adanya sosialisasi dari pemerintah dalam pelatihan K- 13 yang diikuti oleh Kepala Sekolah saat itu. Hal ini sesuai yang tertera dalam buku Gerakan Literasi Sekolah (Antoro, 2017) yang menyatakan bahwa sosialisasi program dilakukan dalam kegiatan pelatiha Instruktur Kurikulum 2013. Pertemuan kepala sekolah dengan dewan guru dan komite menghasilkan terbentuknya Tim Pengembang serta Program Kerja Gerakan Literasi Sekolah SDN Harjosari 01.

4.2.2.2 Sumber Daya Manusia (SDM)

Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu elemen penggerak sebuah program. Program akan berjalan dengan baik jika memiliki SDM yang matang. SDM yang dimiliki SDN Harjosari 01, dikatakan siap untuk melaksanakan program yang diluncurkan oleh pemerintah ini, seperti yang dijelaskan oleh Bapak Sumadi selaku Kepala SDN Harjosari 01 tahun 2008-2018:

“…SDN Harjosari 01 itu memiliki SDM yang baik lah menurut saya.

Kalau mau dilihat latar belakang pendidikannya, semua tenaga pendidik dan kependidikannya lulusan S1, memiliki petugas perpustakaan yang memang adalah pustakawan. Terus ini kan program yang baru diluncurkan oleh pemerintah, tapi sebelumnya saya sudah melakukan beberapa program yang hampir sama dengan yang diluncurkan pemerintah itu.”

Penjelasan Bapak Sumadi didukung oleh Ibu Tri yang menyatakan bahwa:

(13)

54

“…waktu pak Madi datang dan menyampaikan hal itu (program GLS) ya kami mau ndak mau harus siap. Kan ada beberapa programnya juga sudah pernah dilakukan di sekolah ini. Cuma belum terorganisir saja. Ya, kami menyesuaikan saja.”

Berdasarkan hasil wawancara itu dapat disimpulkan bahwa komitmen kepala sekolah dalam menjalankan program didukung dengan baik oleh tenaga pendidik dan kependidikan yang dimiliki sekolah. Hal ini didukung oleh studi dokumen yang menunjukkan kualifikasi akademik guru, yang seluruhnya memiliki pendidikan terakhir sarjana. Selain guru dan pegawai, kesiapan siswa dan orang tua juga turut menentukan keberhasilan program.

Berkaitan dengan hal itu, Bapak Sumadi pun menambahkan:

“…kalau untuk siswa, saya yakin mereka juga siaplah. Kan sebelumnya sudah ada beberapa kegiatan program yang sama dengan yang dilakukan di sekolah. Kalau pun nanti pada pelaksanaannya, mereka agak kaget, ya bisa dimaklumin karena kan jadi lebih terorganisir. Kalau pun masih ndak siap juga, ya tugas kami-kami ini untuk menyiapkan mereka.”

Pendapat dari Ibu Dwi, mendukung pernyataan bapak Sumadi dengan menyatakan bahwa:

“Setelah melihat peningkatan kunjungan siswa ke perpustakaan untuk membaca, saya yakin siswa siap.”

Dari pernyataan itu disimpulkan bahwa siswa juga siap menerima dan menjalankan program. Jika pada pelaksanaannya, ditemukan ketidaksiapan siswa, maka kepala sekolah sebagai penanggung jawab telah berkomitmen untuk mengatasi hal tersebut.

(14)

55

Berbicara mengenai siswa, tidak bisa dipisahkan dari orang tua.

Kesiapan orang tua dalam pelaksanaan program juga merupakan hal penting yang tidak bisa dipungkiri. Penjelasan dari Bapak Sumadi menyatakan bahwa dukungan orang tua selama ini menunjukkan bahwa orang tua di SDN Harjosari 01 pun bisa dikatakan telah siap untuk mendukung terlaksananya program ini.

4.2.2.3 Sarana dan Prasarana

Hasil observasi di sekolah, sarana dan prasarana yang dimiliki SDN Harjosari 01 dinilai cukup memadai. Sekolah memiliki 18 ruang kelas yang terdiri dari 11 ruang kelas, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang guru, 1 ruang komputer, 1 mushola, UKS serta kantin. Setiap ruang kelas memiliki sudut baca yang berisikan buku-buku bacaaan. Perpustakaan sekolah juga memiliki koleksi bacaan yang banyak dan beragam mulai dari buku bacaan untuk siswa dan guru, video untuk pembelajaran, hingga hasil karya siswa. Hal ini sama seperti yang dijelaskan oleh Bapak Sumadi berikut:

“…sarana prasarana di sekolah sudah memadai. Ada ruang kelas, ruang komputer, perpustakaan, mushola, dan lain-lainnya. Di tiap kelas itu ada pojok baca, ada buku-buku yang ditaruh di atas meja yang kalau sudah selesai dibaca diganti lagi. Kalau perpustakaan itu malah bagus, pernah juara 2 tingkat kabupaten tahun 2015. Jadi perpustakaan itu dibangun tahun 2011, terus 2012 masuk bu Dwi itu (pustakawan). Tahun 2013 sistemnya saya otomasi. Jadi tambah bagus. Buku-bukunya juga banyak itu. Hasil karya siswa misalnya laporan kunjungan ke tempat bersejarah, sinopsis, majalah dinding semua saya kumpulkan di perpustakaan itu. Tapi itu waktu saya masih di sana ya, tidak tahu kalau sekarang…”

(15)

56

Penjelasan tentang perpustakaan didukung oleh pendapat bu Dwi selaku pustakawan SDN Harjosari 01:

“…untuk sementara ini lengkap ya. Bukunya-bukunya juga cukup, sudah ribuan. Malah buku-buku yang di perpustakaan sekarang buku-buku baru.

Buku yang lama banyak yang sudah dipindahkan ke gudang karena sudah penuh. Terus di perpustakaan ada tiga komputer, satu dipakai saya sebagai komputer pusat, satu lagi dipakai untuk presensi peminjaman, dan yang satunya lagi untuk katalog OPAC. Hasil karya siswa juga banyak yang ditaruh di perpustakaan sini. Jadi, kalau untuk standar SD saya rasa sudah cukup dan bisa dikatakan sudah siap mendukung program literasi ini.”

Pernyataan tentang sarana dan prasarana sekolah juga disampaikan oleh ibu Anik sebagai guru kelas 4:

“…sarana prasarana sekolah ya banyak ya. Ada perpustakaan, ada ruang komputer, ada sudut baca di kelas. Buku di perpustakaan juga banyak, lumayan lengkap ya. Ada video-video juga di perpustakaan. Kan kalau ada pelajaran apa gitu, kan bisa dipinjam video-video itu, film dokumenter gitu terus kita nonton sama-sama di kelas. Kalau alat peraga yang lain juga ada tapi disimpan di ruang komputer. Ruang computer untuk sementara ini belum bisa dipakai karena ada penambahan ruang kelas, jadi banyak barang yang ditaruh di sana. Tapi untuk sarana prasarana yang lain sudah cukup sih.”

Pendapat yang sama juga dinyatakan oleh kepala sekolah yang menjabat saat ini, Bapak Susi Hartono:

“…untuk sarana prasarana, saya rasa cukup memadai ya. Ruang kelas cukup, ini malah sedang dibangun dua ruang lagi, mau dipakai untuk apa saja masih belum tahu. Di kelas disediakan buku-buku di sudut baca.

Kalau perpustakaan bukunya sudah banyak tapi kedepannya kami masih selalu memberikan porsi untuk pengembangan perpustakaan, yang terakhir rencana saya adalah digitalisasi perpustakaan dalam artian supaya kita bisa mengakses internet.”

(16)

57

Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa kesiapan SDN Harjosari 01 terhadap program GLS dinilai baik karena sekolah memiliki sarana dan prasarana yang sudah memadai.

4.2.2.4 Dana

Salah satu komponen penting dalam keberhasilan sebuah program adalah tersedianya dana. Dana yang tidak mencukupi dapat menjadi penghambat jalannya program. Berkaitan dengan kesiapan dana dalam menunjang pelaksanaan program GLS di SDN Harjosari 01, Bapak Sumadi menyatakan:

“…waktu saya dulu, untuk kegiatan dalam sekolah, pengadaan buku-buku biayanya sudah dianggarkan, diambil dari dana BOS 5%. Tapi, kalau tidak salah ya untuk lomba-lomba itu ambil dari dana BOS lainnya. Saya juga sudah lupa. Kalau untuk kegiatan yang kunjungan-kunjungan itu, Pembelajaran Luar Kelas (PLK) itu yang biayanya ditanggung orang tua.”

Berkaitan dengan itu, ibu Tri pun mendukung dengan menyatakan bahwa:

“…anggarannya itu 5% dari dana BOS, anggaran untuk pustaka secara keseluruhan. Tapi kalo ada lomba-lomba itu ambil dari dana BOS lainnya.

Dari pertama kali program jalan sampai sekarang ya masih begitu…”

Pendapat yang sejalan juga dikemukakan oleh ibu Sri, yang menyatakan:

“…(anggaran) ada. 5% dari BOS, yang dari pustaka itu. Literasi dan perpustakaan kan tidak bisa dipisahkan. Salah satu wujud literasi di sekolah kan ya perpustakaan itu…”

Hal senada disampaikan oleh Bapak Susi, selaku kepala sekolah saat penelitian ini dilakukan, yang menyampaikan:

(17)

58

“…untuk pembiayaan sepenuhnya sudah dianggarkan dalam dana BOS.”

Penjelasan di atas memberikan informasi bahwa untuk pendanaan program GLS SDN Harjosari 01 diperoleh dari dana BOS sebesar 5% yang juga merupakan dana pustaka. Namun dari hasil pengamatan dan studi dokumen tidak ditemukan rincian pembiayaan program GLS secara khusus.

4.2.2.5 Manajemen dan Sumber Daya Pelaksana

Pada bagian ini, fokus penelitian diarahkan pada adanya tim pelaksana dalam mengelola SDM, sarana prasarana serta dana yang dimiliki oleh pelaksana program dalam hal ini SDN Harjosari 01. Program GLS di SDN Harjosari 01 dijalankan oleh Tim Pengembang Gerakan Literasi Sekolah. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, hasil pertemuan antara pihak sekolah dengan komite sekolah tahun 2016 menghasilkan terbentuknya Tim Pengembang Gerakan Literasi Sekolah SDN Harjosari 01.

Berdasarkan hasil studi dokumen dan observasi diperoleh informasi bahwa Tim Pengembang dan Program Kerja GLS SDN Harjosari 01 terbentuk tahun 2016. Tim terdiri satu Penasehat/Pembina yaitu Kepala UPTD Pengawas TK SD, Penanggung Jawab yaitu Kepala Sekolah, Penanggung jawab Kelas yaitu semua guru kelas, Ketua I, Ketua II, Sekretaris, Bendahara dan tiga Seksi Bidang masing-masing Seksi Pustakawan, Seksi Sarana Prasarana, Seksi Pengembangan Sumber Daya

(18)

59

Sekolah. Dalam Surat Keputusan (SK) Kepala SDN Harjosari 01 disebutkan bahwa masa kerja Tim Pengembang GLS berlaku satu (1) tahun.

Pada tahun 2017 Kepala SDN Harjosari 01 kemudian mengeluarkan SK tentang Tim Pengembang GLS 2017-2018 yang sama dengan Tim Pengembang GLS 2016-2017 (Lampiran). Setelah ada mutasi Kepala Sekolah tahun 2018, SDN Harjosari 01 diampu oleh kepala sekolah dari sekolah lain hingga akhir tahun 2018. Sejak 2018 hingga saat penelitian ini dilakukan, belum ada SK terbaru yang dikeluarkan tentang Tim Pengembang GLS, sehingga semua kegiatan dalam program masih mengacu pada Program Kerja GLS SDN Harjosari 01 tahun 2017.

Kendala lain yang ditemukan saat wawancara yaitu perbedaan pemahaman guru dan Kepala Sekolah mengenai keberadaan tim pengembang GLS, seperti dalam beberapa pernyataan berikut:

“…ada (tim pengembang GLS). Tim itu masuknya dalam tim perpustakaan.” (Ibu Sri, guru)

“…ndak ada. Kayaknya jadi satu sama pengurus perpustakaan.” (Ibu Anik, guru).

“…tidak ada (tim pengembang GLS). Kepala Sekolah kan leadernya, semuanya ya tugas kepala sekolah dengan dibantu guru-guru. Untuk sementara tidak ada. Tim pengembang kurikulum ada, tapai kalau tim pengembang GLS tidak ada. Sejauh ini belum ada ya, lebih tepatnya saya belum tahu persis tapi kelihatannya belum” (Bapak Susi, Kepala Sekolah) Hal berbeda dinyatakan oleh Bapak Sumadi seperti berikut:

(19)

60

“…ada, tim khusus literasi itu ada. Beda tim literasi dan tim perpustakaan.

Memang literasi tidak bisa lepas dari peranan tim perpustakaan. Kalau tim literasi itu lebih fokus ke aksi literasinya.”

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kurangnya pemahaman guru juga kepala sekolah tentang keberadaan tim pengembang GLS, dikhawatirkan dapat menyebabkan kekeliruan dalam pelaksanaan GLS itu sendiri.

Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara dan didukung oleh studi dokumen dan observasi, disimpulkan bahwa program GLS di SDN Harjosari dimulai dengan perencanaan yang baik, dan didukung oleh sumber daya manusia yang baik, sarana prasarana yang memadai, dana yang mencukupi (meskipun tidak ditemukan adanya perincian anggaran dalam studi dokumen) namun mekanisme pelaksanaan yang kurang jelas. Mutasi kepala sekolah dalam kurun waktu yang singkat, menjadi alasan perbedaan pemahaman antara kepala sekolah yang saat ini menjabat dengan beberapa guru. Hal ini didukung oleh hasil observasi, yang menunjukkan bahwa kepala sekolah yang sekarang tidak memiliki dokumen tim pengembang GLS.

4.2.3 Evaluasi Aspek Process Program GLS

Aspek process dalam penelitian ini mencakup sosialisasi, kegiatan apa saja yang dilakukan, bagaimana pelaksanaan kegiatan, hingga

(20)

61

monitoring dan evaluasi kegiatan. Hasil penelitian aspek process akan diuraikan berikut ini:

4.2.3.1 Sosialisasi Program

Sosialisasi merupakan langkah awal pelaksanaan sebuah program.

Program yang telah dirancang, kemudian disosialisasikan oleh pembuat kebijakan program dalam hal ini kepala sekolah kepada seluruh pihak terkait yaitu orang tua dan siswa. Proses sosialisasi oleh kepala sekolah dijelaskan oleh Bapak Sumadi sebagai berikut:

“Kalau dulu saya itu setelah program jadi, saya mengundang orang tua.

Saya sampaikan kalau ada program baru gerakan literasi kayak gini. Saya jelaskan semuanya, kegiatannya apa saja sampai pendanaannya bagaimana.

Sosialisasi itu penting, mbak. Kalau kita tidak mensosialisasikan ke orang tua, mereka tidak mau datang pagi (untuk kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai). Saya itu setahun mengumpulkan orang tua siswa bisa sampai empat kali. Jadi kemarin pas ada program baru saya kumpulin lagi, sosialisasi ke mereka. Dan mereka sangat mendukung.

Sosialisasi rutin itu tiap tahun ajaran baru ya, untuk orang tua yang anaknya baru pertama sekolah di situ…”

“…kemudian kalau untuk siswa, biasanya pas ada kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), tahun ajaran baru, kami sosialisasinya ya pas itu. Ada salah satu materinya tentang kegiatan literasi.”

Sosialisasi berlangsung sampai tahun ajaran 2019/2020, tetap dilanjutkan oleh kepala Sekolah yang baru, Bapak Susi yang menyatakan:

“…program ini sudah ada dari kepala sekolah sebelumnya, Pak Sumadi.

Terus saya lanjutkan. Sosialisasi tetap harus jalan, biar orang tua dan anak jadi tahu ada program apa saja di sekolah ini. Kemarin tahun ajaran baru, saya adakan pertemuan dengan orang tua siswa, kami jelaskan. Apalagi untuk orang tua yang anaknya baru pertama kali sekolah di sini, ya mereka harus tahu…”

(21)

62

Pendapat senada diperoleh dari hasil wawancara bersama orang tua. Berikut penyataan dari dua orang wali murid:

“…program itu, kami tahunya dari kepala sekolah. Kami (orang tua) diundang, lalu dijelaskan. Sekolah disini bagus, setiap ada perkembangan apa, program apa di sekolah, kami orang tua diberitahu. Akhirnya kami kan jadi tahu jam berapa anak sudah harus di sekolah pas ada kegiatan membaca pagi itu to. Anak saya kebetulan sudah dua orang yang sekolah disini, yang kakaknya sudah lulus, adiknya sekarang baru kelas 3. Jadinya saya sudah tahu program itu sejak berapa tahun lalu, pokoknya dari masih zamannya pak Madi yang menjadi kepala sekolah. Tapi terakhir, tahun ajaran baru kemarin juga masih dijelaskan oleh kepala sekolah yang baru.”

(Bapak Daryanto, ketua paguyuban orang tua kelas 3)

“…iya, saya tahu dari sejak anak pertama masuk sekolah, sekarang anak saya kelas 2. Tahunya setelah dijelaskan sama kepala sekolah dan gurunya.

Dijelasin itu programnya bagaimana, kegiatannya apa saja, jadi kami (orang tua) sudah mengerti sejak awal.” (Ibu Siti, orang tua siswa kelas 2)

Proses sosialisasi tidak hanya dilakukan kepada orang tua namun kepada siswa juga, seperti yang telah dijelaskan oleh Bapak Sumadi. Saat siswa diwawancara dan ditanya apakah siswa mengetahui apa itu gerakan literasi, tidak ada diantara mereka yang tahu. Namun ketika disebutkan beberapa kegiatan dalam program GLS, semua siswa (responden) mengaku tahu.

Berikut pendapat dari beberapa siswa:

“ndak tahu (gerakan literasi). Kalau itu (kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai), tahu. Tahunya dari kelas 1. Dikasih tahu sama gurunya. Tapi sekarang belum, karena baru masuk (tahun ajaran baru).”

(Naura dan Ganis, siswa kelas 3)

“…apa itu (gerakan literasi), ndak tahu. Oh, iya tahu (membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai). Dari kelas 1 tahunya. Guru yang ngasih tahu…” (Nura dan Hasna, siswa kelas 4)

(22)

63

Berdasarkan hasil wawancara yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi program dilakukan oleh kepala sekolah dan guru tidak hanya kepada orang tua namun kepada siswa juga. Sosialisasi dilakukan di awal tahun ajaran baru. Sosialisasi kepada orang tua dilakukan saat pertemuan dengan kepala sekolah, dan sosialisasi untuk siswa dilakukan oleh guru dengan cara menyebutkan jenis-jenis kegiatan dalam program GLS di SDN Harjosari 01.

4.2.3.2 Kegiatan yang Dilakukan dalam Program

Pelaksanaan program GLS seperti yang telah dijelaskan dalam bab II di atas, terbagi dalam tiga tahapan yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Lebih lanjut dijelaskan gambaran umum kegiatan dalam program pada tiap tahapan. Berkenaan dengan itu, Bapak Sumadi menjelaskan:

“…iya, waktu pelatihan itu (K-13) kan juga sudah dijelaskan, acuannya seperti ini, ada tahapan-tahapannya, tapi sekolah menyesuaikan. Setelah itu, ya saya buat pertemuan komite dengan dewan guru itu, saya jelaskan kegiatannya seperti ini, acuannya begini. Hasilnya kan ya itu, ada program kerja tim literasi yang didalamnya ada kegiatan, kegiatan harian, mingguan, bulanan. Ya bisa diliat di program kerja (lampiran) itu, ada macem-macem.

Karena literasi kan memang bukan cuma hanya tentang membaca, tapi lebih dari itu. Ya, nanti bisa diliat ya, saya sudah ndak inget smua.”

Hal yang sejalan juga dijelaskan oleh ibu Sri:

“…kalau kegiatan ya ada penjelasannya di program kerja itu, mbak. Intinya bukan hanya membaca, tapi ada kegiatan lain juga.”

(23)

64

Berdasarkan telaah dokumen, program Gerakan Literasi Sekolah yang dirancang oleh SDN Harjosari 01 sebagai tindak lanjut dari program pemerintah, memiliki 12 butir acuan pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah sebagai berikut:

1. Mengadakan Sosialisasi pemahaman kepada guru, kepala sekolah, komite atau orang tua siswa tentang apa dan bagaimana gerakan literasi sekolah;

2. Menyediakan dan menambah pengadaan buku bacaan bagi siswa, merupakan kegiatan yang dirancang untuk mendapatkan buku bacaan bagi di sekolah, setiap kelas memiliki sudut baca (reading corner), melalui kerjasama dengan komite sekolah dan wali murid;

3. Mengintegrasikan literasi ke dalam proses pembelajaran dengan menerapkan membaca, menulis, menganalisis materi pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan mengapresiasi, melatih siswa berpikir kritis dan kreatif;

4. Program Membaca Setiap Hari, merupakan kegiatan rutin yang dirancang agar setiap sekolah mengalokasikan waktu minimal 15-30 menit sehari, guna membiasakan siswa, guru, manajeman sekolah dan kepala sekolah untuk membaca di sekolah maupun di rumah dengan stategi “One Day One Page”;

(24)

65

5. One Child Book, merupakan kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan jumlah dan jenis buku bacaan di sekolah, agar setiap siswa paling sedikit memiliki 1 buku untuk di baca di sekolah/kelas maupun di rumah, diharapkan orang tua menyumbang buku minimal 1 buku untuk satu tahun, yang kemudian disumbangkan untuk perpustakaan sekolah “One Year One Book”;

6. Tantangan Membaca, merupakan kegiatan yang dirancang untuk mengejar target/jumlah tertentu terhadap buku yang dibaca baik tingkat sekolah, kabupaten/kota maupun tingkat provinsi;

7. Reading Award, merupakan kegiatan yang dirancang untuk memberikan penghargaan membaca bagi siswa terbanyak membaca buku baik bersakala tingkat masing masing sekolah, kabupaten/kota maupun tingkat provinsi, hal ini bertujuan agar meransang siswa agar terus membaca;

8. Pelatihan Menulis, merupakan kegiatan yang dirancang agar setiap sekolah melatih/mendidik siswa untuk menulis, dengan pemberian tugas untuk menulis kembali buku yang telah dibaca dalam bentuk resume buku atau resensi buku;

9. Writing Award, merupakan kegiatan yang dirancang untuk memberikan penghargaan kemampuan menulis bagi siswa terhadap buku yang dibaca baik bersakala tingkat masing masing sekolah,

(25)

66

kabupaten/kota maupun tingkat provinsi, hal ini bertujuan agar meransang siswa untuk bisa menulis;

10. Program Aksi Lainnya, program aksi/kegiatan lainnya dapat dirancang secara khusus dalam upaya membudayakan minat baca dan meningkatkan kemampuan menulis siswa sesuai dengan sasaran dan harapan yang diinginkan;

11. Reading and Writing Day, merupakan kegiatan serentak membaca dan meringkas bacaan. Kegiatan ini dilaksanakan berkaitan dengan Hari Besar Nasional (Hari Pendidikan Nasional, Hari Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan);

12. Penambahan buku bacaan sarana literasi berupa meja, tempat duduk, area nyaman baca.

Program-program itu dijadikan landasan dalam penyusunan kegiatan yang dibagi dalam empat bagian yaitu: 1) kegiatan harian; 2) kegiatan mingguan; 3) kegiatan bulanan; 4) kegiatan per enam bulan/semester. Hal ini sesuai dengan pembagian berdasarkan pelaksanaan yang ditetapkan dalam Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 pasal 4 ayat 3a yang menyatakan PBP dilaksanakan dalam bentuk kegiatan umum, harian, mingguan, bulanan, tengah tahunan, dan/atau tahunan. Kegiatan-kegiatan ini kemudian dijalankan sejak program pertama kali dibuat tahun 2016 hingga tahun 2019.

(26)

67 4.2.3.2.1 Kegiatan Harian

Ada enam kegiatan program GLS yang ditetapkan menjadi kegiatan harian yaitu:

1. Mengintegrasikan literasi dalam KBM.

Kegiatan mengintegrasikan literasi dalam KBM dilakukan dengan tujuan melatih siswa berpikir kritis dan kreatif, sebagaimana yang dijelaskan oleh Bapak Sumadi berikut:

“…jadi memang, literasi itu harus dimasukkan ke dalam pembelajaran. Kenapa? Ya tujuannya melatih anak supaya jadi lebih kritis dan kreatif. Contohnya, dalam KBM itu kan ada tiga tahap kegiatan, kegiatan pendahuluan, inti dan penutup. Pada tahap pendahuluan, guru bisa mengambil dari bahan bacaan lainnya yang ada kaitannnya dengan topik hari itu, kemudian guru bacakan dan melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai isu tadi. Jadi guru itu istilahnya memancing anak supaya bisa berpikir kritis terhadap suatu masalah…”

Selama melakukan observasi di sekolah, ditemukan guru yang menggunakan video sebagai media pembelajaran. Hal ini senada dengan pernyataan beberapa siswa berikut:

“…di kelas diliatin film tentang nabi. Terus ditanya-tanyain sama gurunya…” (Naura, siswa kelas 3)

“…kemarin terakhir gurunya muter film tentang perjuangan.

Setelah itu ditanya-tanyain tadi ada apa aja, terus dijelasin lagi apa yang tadi terjadi…” (Sherryl, siswa kelas 6)

Dari hasil wawancara dan observasi didapatkan informasi bahwa kegiatan ini masih dilakukan hingga saat ini oleh guru bahkan

(27)

68

dengan cara yang beragam. Anak kemudian diminta untuk menanggapi apa yang guru sajikan. Hal ini dapat memacu anak untuk terus berpikir secara kritis.

2. Membaca buku-buku 15 menit sebelum pelajaran setiap hari Selasa sampai Kamis pukul 06.45 sampai dengan 07.00 WIB

Kegiatan ini merupakan kegiatan wajib yang ditetapkan pemerintah sebagai salah satu kegiatan pembiasaan dalam upaya pengembangan potensi diri siswa secara utuh, seperti yang tertulis dalam Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti poin F.

Guru kelas menjadi penanggung jawab untuk kegiatan ini.

Hal ini sesuai dengan yang tertera dalam dokumen Program Kerja Tim Literasi. Pelaksanaan kegiatan ini akan dijelaskan dalam hasil wawancara dengan Bapak Sumadi berikut:

“…kegiatan ini ditujukan bukan hanya untuk siswa, tapi untuk guru bahkan kepala sekolah juga. Dulu saya mewajibkan guru ikut membaca, untuk yang kelas 3 sampai kelas 6. Kalau guru kelas 1 dan kelas 2 sebagai pembimbing anak untuk membaca, kan anak- anaknya ada yang belum bisa baca, jadi gurunya yang membacakan. Selesai membaca anak disuruh menulis catatan tentang buku apa yang sudah dibaca dalam kartu baca…”

Pernyataan ini sama dengan yang dinyatakan ibu Anik:

“…membaca 15 menit itu berlaku untuk seluruh kelas, dari kelas 1 sampai kelas 6. Tapi kalau kelas kecil, bukunya dibacakan dulu

(28)

69

sama guru kelasnya karena kalau suruh baca sendiri kan banyak yang belum bisa. Untuk yang kelas 3 kan sudah bisa diatur jadi setelah membaca terus disuruh kasih catatan di kartu baca. Di kartu baca itu ditulis judul buku yang dibaca, halaman berapa yang sudah dibaca kemudian membuat rangkuman.”

Hal yang sejalan dinyatakan oleh siswa kelas 3, Ganis:

“…kelas 1 dan kelas 2 dibacain gurunya. Ndak ada (kartu baca).

Kelas 3 belum tahu, karena baru masuk juga…”

Dari penjelasan kepala sekolah, guru dan siswa dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatam membaca 15 menit diwajibkan untuk kepala sekolah, guru juga siswa dari kelas 1 sampai kelas 6. Untuk siswa di kelas 1 dan kelas 2 akan mendapat bimbingan dari guru, dan untuk kelas 3 sampai kelas 6 membaca mandiri dengan tetap mendapat pendampingan guru. Hal ini dilakukan sebagai pembiasaan kepada seluruh warga sekolah. Kegiatan ini bisa dilakukan di dalam kelas maupun luar kelas. Dari hasil obervasi dan wawancara lebih lanjut, siswa lebih senang membaca di luar kelas, karena suasananya berbeda dengan saat belajar di kelas. Pendapat ini sama dengan yang disampaikan Bapak Sumadi:

“…kegiatan ini kadang di dalam kelas, kadang di luar kelas. Tidak mesti. Tapi anak-anak itu senang kalau kegiatannya di luar kelas.

Mereka merasa tidak terbeban karena suasananya berbeda dengan saat jam pelajaran.”

Kegiatan ini juga didukung oleh orang tua siswa, seperti yang dijelaskan oleh Bapak Daryanto berikut:

(29)

70

“…ya kami orang tua mendukung, mbak. Ada (kegiatan) yang membaca sebelum sekolah dimulai itu, jadi kami harus nganter anak lebih pagi. Anak saya sudah tiga orang yang bersekolah di sini, mbak jadi sudah terbiasa, ndak masalah.”

Penjelasan ini juga didukung oleh pernyataan ibu Siti sebagai berikut:

“iya, mbak. Ada yang membaca pagi (sebelum pelajaran dimulai) itu, Anak saya kelas 2 saya anter tiap pagi. Kami orang tua hanya mendukung, mbak. Jadi anak sudah harus siap lebih pagi”.

Meskipun telah menjadi kegiatan wajib, ada saja kendala yang dihadapi selama kegiatan ini dilaksanakan sebagaimana pernyataan bapak Sumadi berikut:

“…kegiatan berjalan rutin ya. Meskipun saya akui ada beberapa guru yang memang sudah sifatnya, kadang anak-anak sudah membaca, gurunya baru datang...”

Pernyataaan Bapak Sumadi sejalan dengan pernyataan Bapak Susi yang menyatakan:

“Kendalanya sebenarnya lebih kepada guru. Banyak guru yang tempat tinggalnya jauh sehingga pembimbingan anak untuk membaca 10-15 menit belum 100% terwujud. Sehingga pelaksanaannya terkadang anak ada yang tidak serius dalam baca.

Tingkat koordinasi di kelas itu belum 100%. Karena kendala jarak masing-masing guru itu tadi, yang datang kesini jauh.”

Berkaitan dengan hal ini, beberapa siswa juga berpendapat yang sama:

“…guru kadang terlambat. Kalau belum datang (guru), kami membaca sendiri, kalau gak ya main di luar…” (Naura dan Ganis, siswa kelas 3)

“…kalau pas gak terlambat, guru kadang nungguin ikut membaca, kadang ninggalin.” (Wibi, siswa kelas 5)

(30)

71

Berdasarkan hasil wawancara di atas, kendala utama pada kegiatan ini adalah keterlambatan guru. Sehingga untuk anak-anak gurunya terlambat, menjadi tidak terkontrol, ada yang membaca ada yang masih bermain di luar kelas. Menyikapi hal ini, ketika ditanya apakah anak-anak setuju perubahan jam membaca 15 menit dipindah di akhir pelajaran, mereka tidak ada yang setuju dengan alasan sudah terbiasa datang pagi.

Terlambatnya guru dalam kegiatan 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai juga nampak saat observasi, bahkan ada guru yang baru datang 5 menit sebelum pelajaran dimulai.

3. Menyediakan Pojok Literasi di Perpustakaan, taman, atau lokasi manapun yang nyaman di lingkungan sekolah

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya mewujudkan lingkungan fisik ramah literasi. Pojok literasi merupakan area yang mendukung pengembangan literasi. Berdasarkan hasil pengamatan, SDN Harjosari 01 memiliki beberapa pojok literasi yaitu perpustakaan juga di kelas dalam bentuk sudut baca sebagaimana yang dijelaskan oleh bapak Sumadi berikut:

“…untuk kegiatan ini, saya rasa SDN Harjosari 01 telah lakukan ya. Khususnya di perpustakaan dan di kelas. Kalau perpustakan itu anak-anak bisa meminjam dan membaca buku dengan suasana yang nyamanlah. Kalau di kelas, ada sudut baca. Buku-buku di sudut baca itu macam-macam. Dulu waktu saya masih di sana,

(31)

72

malah ada juga teras baca di depan kelas. Tapi sekarang sudah ndak ada saya rasa...”

Berkenaan dengan itu, Bapak Susi pun menyatakan:

“…kalau perpustakaan, saya pikir sudah mencapai standarlah.

Cuma saya tetap menganggarkan untuk pengembangan perpustakaan, baik pengadaan buku-buku baru maupun untuk upaya digitalisasi perpustakaan itu.”

Berkaitan dengan itu, ketika ditanya apa yang masih perlu ditambah dalam kegiatan ini, keduanya memiliki pendapat yang hampir sama.

Bapak Sumadi menyatakan:

“…dari kegiatan ini, membangun taman yang belum tercapai. Kita belum mampu untuk membuat taman. Taman dalam artian sebuah lokasi, kemudian ada gazebo. Solusi untuk mewujudkan itu, kita pernah memprogramkan tiap Jumat anak mengumpulkan sumbangan sukarela, jadi anak menyisihkan uang sakunya. Intinya sukarela, tidak memaksa. Tapi sebelum itu terwujud, saya sudah harus pindah. Waktu saya di situ kan masih berlaku larangan untuk menarik iuran. Kalau sekarang sudah boleh asal dikelola dengan baik. Semoga kepala sekolah yang sekarang bisa mewujudkan itu.”

Penjelasan dari Bapak Susi pun mempertegas pernyataan dari Bapak Sumadi dengan menyatakan bahwa:

“…rencana saya ke depan yang pasti saya ingin membuat gazebo baca, dan mungkin juga kereta baca. Anggaran pembangunannya ya dari orang tua…”

Dari penjelasan kedua kepala sekolah yang adalah penanggungjawab program secara keseluruhan menunjukkan bahwa keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mewujudkan lingkungan sekolah ramah literasi bagi seluruh warga sekolah.

(32)

73

4. Menjadwalkan kegiatan literasi (membaca, menulis, mendongeng, bermain drama, menggambar, kerajinan tangan, dst) bagi setiap kelas di Pojok Literasi

Kegiatan ini merupakan tanggung jawab guru kelas, dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak dalam kelas.

Penjadwalan kegiatan literasi selama periode Bapak Sumadi, dijelaskan sebagai berikut:

“…kegiatan ini selama saya masih di sekolah, semuanya jalan.

Guru kelas bertanggung jawab atas tugasnya. Tidak ada masalah untuk penjadwalan ini.”

Hal yang berbeda (melihat kondisi sekarang) dinyatakan dalam penjelasan Bapak Susi sebagaimana yang dijelaskan berikut:

“…penjadwalan untuk kegiatan, harus diperbaiki ya. Ada beberapa guru-guru baru jadinya kami perlu beradaptasi lagi...”

Berkaitan penjadwalan, ibu Tri juga menyatakan pendapat yang senada dengan Bapak Susi yang menyatakan:

“untuk penjadwalan, masalahnya ini kan baru ada mutasi-mutasi personil itu, jadi ada beberapa guru baru yang sekiranya perlu adaptasi lagi…”

Wawancara di atas menunjukkan bahwa penjadwalan kegiatan literasi masih belum berjalan. Hal ini dikarenakan adanya beberapa guru baru di sekolah yang masih memerlukan penyesuaian terhadap sekolah dan semua program yang ada di dalamnya.

(33)

74

5. Membuat Majalah Dinding di perpustakaan sekolah sebagai media apresiasi karya anak

Kegiatan pembuatan majalah dinding (mading) yang dipajang di perpustakaan merupakan tanggung jawab tiap kelas. Mading merupakan kegiatan harian yang artinya tiap hari akan ada mading berbeda yang dipajang di perpustakaan. Pelaksanaan kegiatan mading menurut penjelasan Bapak Sumadi yang menyatakan:

“…waktu saya itu, ada. Mading jalan. Itu tiap hari diganti dan diisi oleh masing-masing kelas, ada jadwalnya. Dan tiap hari saya cek.

Kalau misalnya isinya agak kurang, saya akan kasih masukan ke guru kelasnya. Kalau sekiranya ada guru yang kurang mampu membimbing anak-anak, saya yang terjun langsung untuk kerja dengan siswa. Jadi, pasti ada (mading) di perpustakaan. Itu melatih anak untuk bisa mengapresiasi karya orang lain. Terus saya itu, mading-mading yang sudah selesai di pajang, tidak saya buang.

Saya kumpulkan, saya taruh di perpustakaan supaya sewaktu- waktu bisa dijadikan contoh.”

Dari hasil pengamatan, saat penelitian dilakukan tidak ditemukan mading di depan perpustakaan. Hal ini dijelaskan oleh ibu Dwi, selaku pustakawan:

“…iya, sekarang mading belum mulai lagi, mbak. Mungkin karena tahun ajaran baru, dan bapak (kepala sekolah yang baru) kan juga mungkin masih dalam tahap penyesuaian. Saya sih berharap semoga ada lagi.”

Pernyataan ibu Tri mempertegas pendapat tersebut:

“…harusnya dijalankan lagi. Saya rasa sekolah punya potensi, harus dikembangkan. Tiga tahun lalu ada lomba mading, penyelenggaranya Unilever. Sekolah kami maju mewakili

(34)

75

kabupaten Semarang. Ya itu, mbak. Semoga kepala sekolah yang sekarang bisa segera menghidupkan mading lagi…”

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, kegiatan mading di sekolah sempat terhenti. Hal ini dikarenakan adanya peralihan jabatan kepala sekolah. Diharapkan kepala sekolah untuk segera memperhatin hal ini dan mengambil keputusan yang tepat, mengingat mading bisa dipakai sebagai media pembelajaran bagi siswa, media untuk melatih anak lebih kreatif dan bisa mengapresiasi karya orang lain.

6. Mengaitkan setiap mata pelajaran dengan buku-buku yang mengandung nilai-nilai budi pekerti luhur

GLS dikembangkan dari upaya penumbuhan budi pekerti dan memang dirancang untuk masuk ke dalam KBM sehingga keduanya tidak bisa dipisahkan. Hal ini yang menjadi alasan kegiatan ini diambil sebagai salah satu kegiatan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Bapak Sumadi:

“…ini sama dengan mengintegrasikan literasi ke dalam KBM itu.

Karena memang keduanya tidak bisa dipisah. Literasi tidak terbatas hanya pada membaca, tapi lebih daripada itu. saya tekankan ke guru-guru untuk selalu begitu, mengaitkan nilai budi pekerti dengan setiap pelajaran yang diajarkan.”

Hal ini juga didukung oleh pernyataan ibu Sri:

“…iya. dulu itu sering mengingatkan. Jadi sekarang, karena sudah terbiasa jadinya dilanjutin terus, tanpa harus diminta…”

(35)

76

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan harian masih terus diterapkan guru hingga sekarang, dikarenakan sudah dibiasakan sejak lama. Namun, mengingat adanya guru baru, diharapkan untuk kepala sekolah tetap menjadikan ini sebagai salah satu fokus perhatian.

4.2.3.2.2 Kegiatan Mingguan

Kegiatan Mingguan GLS SDN Harjosari 01 terdiri dari empat kegiatan yaitu:

1. Mengadakan quis atau perlombaan literasi

Perlombaan literasi yang diadakan di SDN Harjosari 01 antara lain lomba membaca, mendongeng, berpuisi, drama cerita rakyat, menari, dan lain-lain. Berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan ini, Bapak Sumadi menjelaskan:

“…ini kegiatan baik ya, untuk melatih juga meningkatkan kemampuan literasi anak. Rencana awalnya untuk kegiatan mingguan, tapi seringnya bisa jadi kegiatan bulanan. Karena sekolah ini kan sekolah inti gugus, jadi banyak kegiatan gugus yang dipusatkan di sekolah jadinya banyak kegiatan yang berjalan tidak sesuai dengan jadwal.”

Pendapat yang hampir sama dinyatakan oleh ibu Tri:

“iya, ada lomba-lomba literasi itu. tapi kalau sekarang sudah agak jarang ya. Dulu itu kalau tidak salah rencananya diadakan tiap minggu, tapi yo rutinnya itu jadinya tiap bulan Oktober, pas bulan bahasa itu. Karena itu mbak, disini banyak kegiatan gugus itu kan, jadi banyak kegiatan sekolah yang akhirnya harus diatur lagi jadwalnya.”

(36)

77

Berkaitan dengan waktu pelaksanaan lomba, Asyifa, siswa kelas 5 menyatakan:

“ada (lomba literasi), tpi udah lama ndak ada. Mungkin bulan depan.”

Penjelasan Bapak Susi sebagai kepala sekolah mempertegas waktu pelaksanaan kegiatan, dengan menyatakan:

“…jadi rencana saya kedepan, lomba-lomba itu diadakan lagi.

Nanti saya programkan. Ini bentuk apresiasi saya terhadap program literasi sekolah.”

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, didapatkan informasi bahwa kegiatan ini terlaksana namun waktu pelaksanaannya tidak sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Hal ini dikarenakan sekolah yang sering dipakai sebagai pusat kegiatan gugus. Menyikapi hal tersebut, kepala sekolah berinisiatif mencanangkan pelaksanaan perlombaan literasi pada bulan bahasa, bulan Oktober.

2. Meminta dan memotivasi anak untuk berkunjung ke Perpustakaan

Mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan literasi perpustakaan anak.

Sehingga meminta dan memotivasi anak untuk berkunjung ke perpustakaan merupakan salah satu kegiatan penting untuk dilakukan di sekolah. Pelaksanaan kegiatan ini dijelaskan oleh Ibu Sri, sebagai

(37)

78

ketua tim pengembang literasi dan juga kepala perpustakaan SDN Harjosari 01 berikut:

“…untuk meningkatkan kunjungan anak ke perpustakaan, kami membuat jadwal kunjung perpustakaan setiap hari per kelas. Jadi ada jadwalnya. Mau tidak mau, ya anak harus datang. Supaya melatih mereka Tapi karena ini tahun ajaran baru, kami belum menyiapkan jadwal terbaru.”

Berkaitan dengan minat kunjungan ke perpustakaan, ibu Dwi sebagai pustakawan SDN Harjosari 01 menambahkan:

“…sampai saat ini ada peningkatan kunjungan perpustakaan, tapi ndak banyak. Sementara ini setiap jam istirahat anak mau mengunjungi perpustakaan. Kalau untuk mengunjungi masih banyak peminat, tapi kalau pinjam ndak banyak. Untuk kunjungan per kelas ada jadwalnya.”

Penjelasan di atas sesuai dengan hasil observasi yaitu perpustakaan dipenuhi siswa pada jam istirahat, digunakan untuk membaca buku yang mereka suka. Perpustakaan akan kembali dikunjungi oleh anak jika tidak ada guru di kelas. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan ini sudah dijalankan namun belum mendapatkan perubahan yang signifikan. Mungkin dengan diakttifkan kembali jadwal kunjungan wajib per kelas dapat meningkatkan kemampuan literasi perpustakaan anak.

3. Mendorong dan mendampingi anak untuk membuat karya (mengarang, puisi, gambar, dan lain lain.

(38)

79

Kegiatan ini dapat dianggap sebagai bentuk dorongan dan dukungan sekolah kepada siswa dalam upaya untuk meningkatkan daya cipta dan melatih kretiativitas yang dimilikinya sebagaimana yang dinyatakan oleh Bapak Sumadi:

“…kegiatan ini tidak untuk semua siswa. Ada pendampingan ini dikhususkan untuk anak-anak yang mau mengikuti lomba. Dengan kegiatan ini dapat meningkatkan kepercayaan diri anak, anak senang, karena merasa ada yang mendukung.”

Pendapat yang sejalan dinyatakan oleh beberapa siswa yang pernah mengikuti lomba sebagai berikut:

“…kemarin ikut lomba pidato, tingkat kecamatan. Guru membantu dalam proses penulisan.” (Nabil, siswa kelas 6)

“…waktu itu lomba pidato sampai tingkat kabupaten. Dibantu guru. Senang (dibantu) jadi tambah pengetahuan juga.” (Wibi, siswa kelas 5).

Dapat disimpulkan kegiatan ini masih berjalan hingga sekarang namun tidak rutin dilakukan dalam seminggu karena hanya difokuskan kepada siswa yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba.

4. Melakukan Evaluasi dan Observasi terhadap pelaksanaan kegiatan literasi di akhir pekan

Kegiatan observasi dan evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana kegiatan telah berjalan selama sepekan. Hal ini

(39)

80

dilakukan oleh kepala sekolah sebagai penanggung jawab program.

Berikut pernyataan Bapak Sumadi berkaitan dengan hal itu:

“…evaluasi biasanya saya lakukan dalam rapat. Tapi pelaksanaannya juga tidak bisa rutin setiap minggu. Meskipun begitu, tetap saya awasi. Nanti waktu rapat, saya tanya-tanya tentang pelaksanaan program. Itupun hanya pertanyaan yang umum-umum saja.”

Berikut pernyataan beberapa guru yang sejalan dengan pernyataan Bapak Sumadi:

“Evaluasinya saat rapat. Guru-guru melaporkan setiap rapat. Tapi itu waktu masih kepala sekolah yang dulu. Kalau yang sekarang, belum ada. masih baru, jadi mungkin masih penyesuaian.” (Ibu Tri, guru pelajaran).

Dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara bahwa evaluasi terhadap kegiatan dalam sepekan dilakukan tetapi tidak sesuai dengan jadwal.

4.2.3.2.3 Kegiatan Bulanan

Kegiatan bulanan GLS SDN Harjosari 01 yang diagendakan untuk dilakukan sebagai kegiatan bulanan adalah mengadakan kunjungan ke pusat pusat literasi dan mengadakan festival literasi.

1. Mengadakan kunjungan ke pusat pusat literasi

Dalam pelaksanannya, untuk kegiatan kunjungan ke literasi dilakukan tiap akhir semester. Pelaksanaan kegiatan ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Bapak Sumadi sebagai berikut:

(40)

81

“Sekolah punya kegiatan setiap akhir semester itu ada yang namanya PLK (pembelajaran luar kelas). Untuk alternatif tujuannya kami memilih salah satu dari pusat-pusat literasi itu. Jadi pengembangannya itu, anak ikut PLK tidak hanya pergi dan pulang tanpa membawa pengetahun yang baru. Sebelum anak-anak pergi PLK, kami sudah membuat draft-draft laporan. Laporan ini merupakan tugas yang kan dikumpulkan setelah anak pulang dari PLK.”

Penjelasan ini diperkuat dengan penjelasan dari beberapa siswa yang berikut ini:

“iya, ada (PLK). Pulangnya disuruh nulis laporan saja. Senang (ikut PLK), bisa liat tempat baru.” (Nura, siswa kelas 4)

“waktu kelas 4, ada (PLK). Terus disuruh membuat laporan. Di kelas dipresentasikan…” (Wibi, siswa kelas 5).

Kegiatan ini juga turut melibatkan orang tua, sebagaimana yang dijelaskan oleh Bapak Sumadi:

“Kegiatan ini merupakan kesepakatan dengan orang tua. Jadi kita kalau ada program seperti ini, kita akan bekerja sama dengan orang tua murid atau paguyuban. Sekolah tidak pernah mengelola keuangannya. Pokoknya segala urusan mencari transportasi, mencari tiket, itu ya orang tua”.

Hal ini juga dipertegas oleh orang tua siswa, Bapak Daryanto:

“…di sini paguyubannya orang tua siswanya bagus mbak, mendukung kegiatan sekolah. Misal ada kegiatan PLK itu to mbak, kami orang tua yang ngurusi macem-macem, ya transportasi, ya tiket, itu orang tua juga yang ngurusi”

Dari data di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan ini masih dilakukan sampai saat ini dengan mendapat dukungan penuh dari orang tua. Menulis laporan setelah melakukan kunjungan adalah

(41)

82

tugas yang harus dikumpulkan siswa. Hal ini dimaksudnkan untuk melatih kemampuan menulis anak.

2. Mengadakan festival literasi keluarga

Festival literasi keluarga merupakan kegiatan lain yang diagendakan menjadi kegiatan bulanan. Contoh perlombaan dalam kegiatan ini yaitu lomba membaca atau bermain drama antara orang tua dan anak. Mengenai pelaksanaan, Bapak Sumadi menjelaskan bahwa:

“…kalau kegiatan ini (festival literasi) belum. Lomba membaca atau drama anak iya, ada. tapi kalau melibatkan orang tua untuk ikutan lomba bersama anak, belum. Orang tua dilibatkan untuk pelaksanaan kegiatan saja, tapi kalau untuk berlomba bersama anak, belum.”

Hal yang sama juga dinyatakan oleh ibu Tri:

“…belum pernah, mbak. Kalau lomba-lomba biasa ada, tapi kalau festival literasi keluarga yang melibatkan orang tua untuk bermain bersama anak, belum pernah.”

Berdasarkan penyataan tersebut didapatkan informasi bahwa kegiatan festival literasi tidak terlaksana.

4.2.3.2.4 Kegiatan Per Semester/Enam Bulan

Kegiatan yang dilakukan per semester (tiap enam bulan) terdiri atas tiga kegiatan yaitu:

Referensi

Dokumen terkait

Selama ujian Anda tidak diperkenankan bertanya atau meminta penjelasan mengenai soal-soal yang diujikan kepada siapa pun, termasuk petugasB. Jagalah lembar jawab

Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk Unit Tanjung Tiram – Kisaran khususnya pada tahun 2007 dan tahun 2009 bahwa besarnya kredit yang disalurkan tidak diikuti dengan besarnya

Aktivitas guru dapat dilihat pada siklus III mendapat skor nilai 88 (baik) sedangkan pada aktivitas siswa pada siklus III yaitu sebesar skor nilai 83 (baik). Pada aktivitas

Tujuan dari program jaminan sosial adalah untuk memberikan perlindungan bagi tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang

berhadap dengan hukum, peran guru sangat besar tentu melalui sebuah dialetika yang dikenal dengan sebutan memanusiakan hubungan. pendidikan karakter yang diimbangi

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui beberapa alasan dan analisa mengapa SMA N 1 Turi Sleman mengembangkan ProgramEkowisata Salto dalam rangka

Kajian mengenai penentuan jalur evakuasi dan titik kumpul secara partisipatif yang merupakan rangkaian penelitian dalam payung riset hibah Education for Sustainable Development

3.1 Klasifikasi Hasil Evaluasi Belajar Siswa .... Matrik Penelitian ... Daftar siswa kelas VII c SMP Muhammadiyah 9 Watukebo ... Nama Kelompok Siswa ... Rekapitulasi observasi