5-1
5
BAB V
PERKIRAAN KONDISI
MENDATANG
5.1
Kebijakan Kewilayahan
Rencana Struktur ruang wilayah Kabupaten Nagekeo meliputi, rencana sistem perkotaan wilayah dan rencana sistem jaringan prasarana skala kabupaten. Rencana sistem perkotaan wilayah meliputi:
a. PKL, yaitu perkotaan Mbay yang terletak di Kecamatan Aesesa;
b. PKLp, yaitu Perkotaan Boawae yang meliputi wilayah Kelurahan Nagesapadhi, Kelurahan Natanage, Kelurahan Olakile, Kelurahan Natanage Timur, Kelurahan Nageoga, Kelurahan Wolopogo dan Kelurahan Rega;
c. PPK, yaitu kawasan perkotaan meliputi: • Mauponggo di Kecamatan Mauponggo • Mbaenuamuri di Kecamatan Keo Tengah • Nangaroro di Kecamatan Nangaroro • Tengatiba di Kecamatan Aesesa Selatan • Tendakinde di Kecamatan Wolowae d. PPL, yaitu meliputi desa:
• Nagerawe di Kecamatan Boawae • Sawu di Kecamatan Mauponggo • Maukeli di Kecamatan Mauponggo • Wajo di Kecamatan Keo Tengah • Tonggo di Kecamatan Nangaroro
• Langedhawe di Kecamatan Aesesa Selatan • Anakoli di Kecamatan Wolowae
5-2
5.2
Rencana Pengembangan JaringanTransportasi
Kabupaten Nagekeo memiliki wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan strategis kepentingan ekonomi daratan, oleh karena itu dalam penyelenggaraan transportasi diharapkan dapat memberi kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi dan tidak berpotensi menghambat pertumbuhannya.
Rencana pengembangan pelayanan transportasi baik dalam Kota Mbay maupun ke seluruh wilayah Nagekeo sebagai berikut:
1. Pengembangan angkutan umum massal atau angkutan umum dalam kota kapasitas di atas 24 seat yang berwawasan lingkungan.
2. Optimalisasi angkutan perdesaan, angkutan antarkota dalam provinsi dan pengembangan angkutan penumpang jenis bisnis dan eksekutif.
3. Pengembangan angkutan perintis untuk menghubungkan pusat kegiatan dengan daerah pedalaman dan untuk membuka keterisolasian wilayah.
4. Pengembangan angkutan barang dan peti kemas.
5. Pengembangan Sistim Informasi, Pengendalian dan Peningkatan Keselamatan Transportasi.
6. Pengembangan penyajian data base transportasi berbasis internet.
7. Pengembangan ATCS untuk kawasan terminal transportasi jalan, kawasan pasar, kawasan pusat kegiatan, kawasan pelabuhan dan bandara.
8. Penataan daerah rawan kecelakaan dengan penempatan fasilitas Lalu Lintas Angkutan Jalan.
9. Pembatasan kendaraan pada tempat dan waktu tertentu.
10. Pengembangan jaringan jalan dan peningkatan kapasitas jalan baik dalam wilayah Kota Mbay maupun jalan lokal yang menghubungkan antarkecamatan serta menghubungkan sentra produksi .
11. Pengembangan terminal tipe C Danga Mbay sebagai pusat pengendalian angkutan kota.
12. Pengembangan terminal tipe C di ibukota kecamatan.
5-3 • Jaringan jalan, terdiri atas jaringan jalan arteri primer, kolektor primer dan lokal
primer
• Terminal penumpang tipe B di Kecamatan Aesesa • Rute angkutan
Kota Bajawa di Kabupaten Ngada – Kecamatan Golewa di Kabupaten Ngada – Kecamatan Boawae – Kecamatan Nangaroro – Ende di Kabupaten Ende – Maumere di Kabupaten Sikka;
Kecamatan Aesesa – Kecamatan Nangaroro Ende di Kabupaten Ende – Maumere di Kabupaten Sikka;
Kecamatan Aesesa – Kecamatan Wolowae – utara Kabupaten Ende ke arah Maumere di Kabupaten Sikka;
Kecamatan Aesesa – Kecamatan Boawae – Kota Bajawa di Kabupaten Ngada; dan
Kecamatan Aesesa – Kecamatan Riung di Kabupaten Ngada – Kota Bajawa di Kabupaten Ngada.
• Jaringan sungai, danau dan penyeberangan; pelabuhan penyeberangan Marapokot Mbay di Kecamatan Aesesa sebagai pelabuhan penyeberangan antarpulau dan lintas provinsi dari Kabupaten Nagekeo.
2. Sistem jaringan transportasi laut, meliputi:
• Tatanan kepelabuhanan berupa Pelabuhan Marapokot di Kecamatan Aesesa dan Pelabuhan Marapokot II di Kecamatan Mauponggo yang berfungsi sebagai pelabuhan pengumpan.
• Alur pelayaran terdiri atas alur pelayaran dari wilayah kabupaten menuju Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan daerah lain di Kawasan Timur/ Barat Indonesia. 3. Sistem jaringan transportasi udara, terdiri atas:
• Tatanan kebandarudaraan yaitu Bandar Udara Surabaya II peninggalan Jepang di Kecamatan Aesesa akan dikembangkan menjadi bandara domestik dan internasional yang mendukung sistem transportasi udara di kabupaten dan sekitarnya.
5-4
5.3
Analisis Kebutuhan Transportasi
5.3.1 Timeframe
Dalam studi ini analisis kebutuhan transportasi dilakukan dalam dalam 4 (empat) jangka waktu selama 20 tahun mendatang. Pertimbangan yang diambil di sini adalah bahwa lazimnya perencanaan dilakukan dalam jangka waktu tersebut. Untuk itu prediksi MAT diposisikan pada tahun 2015, tahun 2020, tahun 2025, dan tahun 2030.
5.3.2 Sistem Zona
Untuk keperluan pemodelan transportasi maka wilayah penelitian dibagi menjadi beberapa subdaerah yang disebut zona, yang masing−masing diwakili oleh pusat zona. Zona juga dapat dianggap sebagai satu kesatuan atau keseragaman tata guna lahan.Pusat zona dianggap sebagai tempat awal pergerakan lalulintas dari zona tersebut dan akhir pergerakan lalulintas yang menuju ke zona tersebut. Pembagian zona pada studi ini didasarkan pada batas administrasi kecamatan. Sehingga sistem zona dikembangkan menjadi10 zona. Data nomor zona dan nama zona untuk wilayah studi selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5-1.
Tabel 5-1
Sistem Zona Kabupaten Nagekeo
No. Zona Nama Zona Jenis Zona
1 Kota MBAY Internal Zone
2 Kec. AESESA dan AESESA SELATAN Internal Zone
3 Kec. BOAWAE Internal Zone
4 Kec. KEO TENGAH dan MAUPONGGO Internal Zone
5 Kec. NANGARORO Internal Zone
6 Kec. WOLOWAE Internal Zone
7 Kab. NGADA, MANGGARAI, dst External Zone
8 Kab. ENDE, MAUMERE LARANTUKA External Zone
9 Kota KUPANG External Zone
10 SULAWESI External Zone
5.3.3 Model Sistem Jaringan
5-5 Kabupaten.Gambar 5-1 menampilkan secara kewilayahan jaringan jalan yang dikaji dalam proyeksi permintaan perjalanan ini.
Gambar 5-1
Model Sistem Jaringan Jalan Kabupaten Nagekeo
5.3.4 Tahapan Pemodelan
Pokok pekerjaan yang dilakukan secara kronologis sesuai dengan urutan yang tersaji pada beberapa butir berikut ini:
1. Melakukan survey asal tujuan untuk memperoleh Matriks Asal Tujuan di wilayah studi. Survey asal tujuan dilakukan dengan metode Home Interview (HI) dan Road Side Interview (RSI). Dari survey tersebut didapatkan Matriks Asal Tujuan Penumpang Kabupaten Nagekeo untuk tahun 2013, seperti pada Tabel 4-6, dan Matriks Asal Tujuan Angkutan Barang tahun 2013 seperti pada Tabel 4-7.
2. Membuat model bangkitan dan tarikan pergerakan yang dikaitkan dengan data sosial ekonomi wilayah studi untuk memprediksi bangkitan dan tarikan tahun rencana.
3. Menyebarkan hasil prediksi bangkitan dan tarikan ke semua zona pergerakan sehingga dihasilkan Matriks Asal Tujuan (MAT) Pergerakan setiap tahun rencana.
4. Membebankan MAT setiap tahun rencana ke jaringan transportasi sehingga diketahui arus (volume) pergerakan di semua ruas.
5. Menghitung kinerja jaringan transportasi.
5-6
5.3.5 Model Trip Generation dan Trip Attraction
Tujuan model bangkitan perjalanan (trip generation) pada suatu studi kajian transportasi ialah untuk memperkirakan jumlah perjalanan yang dibangkitkan oleh zona-zona perjalanan yang ada di daerah studi. Dalam terminologi pemodelan transportasi, bangkitan perjalanan atau trip generation adalah total jumlah perjalanan yang berasal (Oi) dan/atau bertujuan (Dj) ke setiap zona yang ada di daerah studi.
Untuk mengestimasi atau memprediksi bangkitan perjalanan di masa datang diperlukan model bangkitan perjalanan yang mengaitkan antara jumlah bangkitan/tarikan dengan faktor sosial ekonomi atau faktor penentu pertumbuhan perjalanan di setiap zona (misalnya: jumlah penduduk, PDRB, penggunaan lahan, dlsb).
Model bangkitan dan tarikan perjalanan barang yang digunakan dalam kegiatan ini adalah model regresi multi linier dengan rumusan pokok sebagai berikut:
Yei = a + b1ix1i + b2ix2i + b3ix3i+ ... + bnixni + ui
Dalam kasus ini, Yeimewakili jumlah perjalanan (yang lebih tepat dipandang sebagai hasil pemodelan) yang terbangkit atau tertarik dari dan ke zona i sebagai variabel terikat pada model yang bersangkutan. Sedangkan xniadalah besarnya variabel bebas ke-n yang diamati dari zona i, misalnya: tingkat kepadatan zona industri, jumlah penduduk atau kondisi ekonimi dan lain sebagainya. Selanjutnya a adalah konstanta yang akan diperoleh dari perhitungan dan bni adalah koefisien yang menyatakan efek perubahan setiap satuan variabel xni terhadap jumlah perjalanan. Dalam ilmu statistik koefisien bni biasa disebut dengan koefisien regresi parsial. Sedangkan uimenyatakan besarnya residu yang akan diperoleh dari estimasi.
5-7
5.3.5.1 Peramalan Bangkitan Pergerakan
Hasil proyeksi bangkitan pergerakan di Kabupaten Nagekeo dapat dilihat pada Tabel
5-2.Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa bangkitan terbesar pergerakan ada di Zona
1.Sedangkan bangkitan terkecil pergerakan terdapat di Zona 10.
Tabel 5-2
Proyeksi Bangkitan Pergerakan Kabupaten Nagekeo (smp/hari)
Zona Proyeksi Trip Generation (smp/hari) 2013 2015 2020 2025 2030 1 498 539 641 765 910 2 421 457 542 646 768 3 326 355 420 500 595 4 264 289 341 406 483 5 381 414 491 584 697 6 283 307 366 435 518 7 177 194 229 272 325 8 176 194 228 271 323 9 28 32 38 45 52 10 12 15 17 20 23 Jumlah 2.566 2.796 3.313 3.944 4.694
5.3.5.2 Peramalan Tarikan Pergerakan
Hasil proyeksi tarikan pergerakan di Kabupaten Nagekeo dapat dilihat pada Tabel
5-3.Daritabeltersebut dapat dilihat bahwa nilai tarikan terbesar pergerakan terdapat di Zona
1.Sedangkan nilai tarikan terkecil pergerakan terdapat di Zona 10.
Tabel 5-3
Proyeksi Tarikan Pergerakan Kabupaten Nagekeo (smp/hari)
5-8
Gambar 5-2
Proyeksi Bangkitan dan Tarikan Pergerakan Kabupaten Nagekeo Tahun 2015
Gambar 5-3
5-9
Gambar 5-4
Proyeksi Bangkitan dan Tarikan Pergerakan Kabupaten Nagekeo Tahun 2025
Gambar 5-5
Proyeksi Bangkitan dan Tarikan Pergerakan Kabupaten Nagekeo Tahun 2030
5.3.6 Prediksi MAT dan Desire Line Angkutan
Berdasarkan hasil prediksi bangkitan tarikan perjalanan sebelumnya dapat diestimasi MAT perjalanan di masa datang. Dalam studi ini digunakan pendekatan model prediksi sebaran perjalanan Metoda Furness.
5-10 model Furness, cocok untuk wilayah studi yang sudah stabil tanpa perubahan yang berarti dalam basis data sistem zona dan sistem jaringan jalannya. Proses kalibrasi matriks dengan Model Furness disajikan pada Gambar 5-6.
Gambar 5-6
Metodologi Perhitungan MAT dengan Teknik Furness
Dalam studi ini prediksi lalu lintas dilakukan dalam empat jangka waktu yaitu tahun 2015, 2020, 2025, dan 2030 yang dapat dilihat pada Tabel 5-4 s.d Tabel 5-7.
MAT saat ini
Prediksi bangkitan perjalanan di tahun ke-n
(Oi (n) dan Dd (n))
Total bangkitan perjalanan saat ini
(Oi(0)dan dd(0))
Jumlah perjalanan antarzona saat
ini (Tid(0)) Tingkat pertumbuhan
perjalanan (Eidan Ed)
Iterasi (1): Tid (1) = Tid(0)x Ei
Iterasi (2): Tid (2) = Tid (1) x Ei
Jumlahkan Tid (2) untuk setiap asal dan tujuan
5-11
Tabel 5-4
Prediksi Matriks Asal Tujuan Kabupaten Nagekeo Tahun 2015 (smp/hari)
O/D 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Oi'2015 1 0 139 95 38 94 66 50 43 11 3 539 2 132 0 66 77 105 33 14 19 3 8 457 3 90 62 0 38 62 78 10 12 3 0 355 4 62 65 45 0 84 23 2 6 2 0 289 5 106 118 49 86 0 35 17 3 0 0 414 6 85 41 88 31 40 0 13 9 0 0 307 7 42 17 17 3 6 0 0 109 0 0 194 8 49 23 8 4 2 2 106 0 0 0 194 9 21 9 0 0 2 0 0 0 0 0 32 10 8 5 2 0 0 0 0 0 0 0 15 Dd'2015 595 479 370 277 395 237 212 201 19 11 2.796 Tabel 5-5
Prediksi Matriks Asal Tujuan Kabupaten Nagekeo Tahun 2020 (smp/hari)
O/D 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Oi'2020 1 0 166 113 45 112 78 59 52 13 3 641 2 158 0 78 91 124 39 17 22 3 10 542 3 107 73 0 45 73 92 12 15 3 0 420 4 73 77 53 0 100 27 2 7 2 0 341 5 126 140 58 103 0 41 20 3 0 0 491 6 102 49 104 36 48 0 16 11 0 0 366 7 50 20 20 3 7 0 0 129 0 0 229 8 58 27 9 4 2 2 126 0 0 0 228 9 25 11 0 0 2 0 0 0 0 0 38 10 9 6 2 0 0 0 0 0 0 0 17 Dd'2020 708 569 437 327 468 279 252 239 21 13 3.313 Tabel 5-6
Prediksi Matriks Asal Tujuan Kabupaten Nagekeo Tahun 2025 (smp/hari)
5-12
Tabel 5-7
Prediksi Matriks Asal Tujuan Kabupaten Nagekeo Tahun 2030 (smp/hari)
O/D 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Oi'2030 1 0 235 161 64 159 111 84 73 19 4 910 2 224 0 111 129 177 55 24 31 4 13 768 3 151 104 0 64 104 131 17 20 4 0 595 4 104 109 75 0 142 39 2 10 2 0 483 5 179 199 82 146 0 59 28 4 0 0 697 6 144 70 148 51 68 0 22 15 0 0 518 7 71 28 28 4 10 0 0 184 0 0 325 8 82 39 13 6 2 2 179 0 0 0 323 9 35 15 0 0 2 0 0 0 0 0 52 10 13 8 2 0 0 0 0 0 0 0 23 Dd'2030 1.003 807 620 464 664 397 356 337 29 17 4.694
Hasil prediksi matriks asaltujuan pergerakan penumpang di atas dapat digambarkan dalam garis keinginan (desire lines), dimana ketebalan garis menggambarkan besarnya pergerakan. Desire lines pergerakan penumpang setiap tahun rencana dapat dilihat pada
Gambar 5-7 s.d. Gambar 5-10.
Gambar 5-7
5-13
Gambar 5-8
Desire Lines Matriks Asal Tujuan Kabupaten Nagekeo Tahun 2020
Gambar 5-9
5-14
Gambar 5-10
Desire Lines Matriks Asal Tujuan Kabupaten Nagekeo Tahun 2030
5.3.7 Model Pemilihan Rute Menggunakan SATWIN
Matriks AsalTujuan (MAT) yang sudah didapat dari hasil pemodelan dibebankan ke jaringan jalan untuk mendapatkan volume pada masing-masing ruas jalan yang dilewati. Sedangkan untuk mendapatkan volume di ruas jalan beberapa tahun mendatang dilakukan dengan membebankan MAT hasil prediksi ke jaringan jalan yang sudah di-update, sesuai dengan program pengembangan jalan (misal: pembangunan, peningkatan dan pelebaran jalan).
Untuk membebankan MAT ke jaringan jalan, kita menggunakan alat bantusoftware SATWIN. Proses pemilihan rute pada SATWIN dapat dilihat pada Gambar 5-11.
Dari hasil assignment MAT terhadap database jaringan jalan dengan sub program SATASS yang terdapat dalam SATWIN diperoleh beberapa indikator kinerja jaringan jalan di wilayah studi yang diperbandingkan antara beberapa skenario. Adapun indikator lalu lintas yang digunakan adalah:
− Waktu perjalanan sistem: yang menunjukkan total konsumsi waktu perjalanan yang digunakan oleh seluruh pengguna jalan di wilayah studi dari setiap asal tujuan.
5-15 − Kecepatan Rata-rata: yang menunjukkan rata-rata kecepatan dari seluruh ruas jalan yang
ada di wilayah studi.
Gambar 5-11
Struktur Umum Model Pemilihan Rute pada SATWIN
5.3.7.1 Analisis dan Prediksi Kinerja Ruas Jalan Kondisi Do-Nothing
Pembebanan untuk tahun 2013, 2015, 2020, 2025 dan 2030 dilakukan dengan bantuan software SATWIN. Adapun input parameter dan jaringan jalan diasumsikan sama seperti pemodelan pada tahun dasar 2013, ini berarti bahwa prasarana jaringan jalan (supply) diasumsikan tidak mengalami perubahan sampai pada tahun 2030. Input yang berbeda adalah data matrik asal tujuan perjalanan yang digunakan adalah sesuai dengan tahun rencana yang dianalisa pada prediksi Trip Distribution tahun 2013, 2015, 2020, 2025 dan 2030.Kinerja jaringan jalan wilayah studi pada kondisi do-nothing masing-masing tahun rencana, hasil pembebanan MAT pada jaringan jalan eksisting dapat dilihat padaTabel 5-8.
Dari tabel tersebut dapat dilihat kinerja jaringan jalan semakin lama semakin menurun.Konsumsi waktu perjalanan yang digunakan seluruh pengguna jalan dari setiap asal-tujuan semakin lama semakin besar.Jarak yang ditempuh oleh seluruh pengguna jalan dari setiap asal-tujuan juga semakin lama semakin jauh.Akibatnya kecepatan rata-rata dari seluruh ruas jalan juga semakin menurun.
MAT perjalanan Data Jaringan
Pemilihan Rute
Arus, kecepatan, waktu
5-16
Tabel 5-8
Kinerja Jaringan Jalan Kondisi Do-Nothing Setiap Tahun Rencana
TAHUN WAKTU TEMPUH JARAK TEMPUH KECEPATAN RATA-RATA (smp-jam) (smp-km) (km/jam) 2013 284,2 11.380,8 40,0 2015 307,8 12.323,2 40,0 2020 360,4 14.378,8 39,9 2025 434,1 17.243,7 39,7 2030 521,0 20.544,1 39,4
Kecepatan rata-rata seluruh ruas jalan di wilayah studi saat ini (tahun 2013) sekitar 40 km/jam. Dan kecepatan rata-ratanya semakin menurun pada tahun-tahun rencana berikutnya dan di tahun 2030 kecepatan rata-ratanya menurun menjadi 39,4 km/jam. Dengan melihat hasil prediksi kinerja jaringan jalan ini akan dilakukan beberapa skenario penanganan (do-something) untuk meningkatkan kinerja jaringan jalan pada tahun-tahun mendatang.
Beberapa ruas jalan yang mempunyai volume terbesar di jaringan jalan do-nothing tiap-tiap tahun rencana hasil assignment sub program SATASS dapat dilihat pada Tabel 5-9.Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa ruas dengan volume terbesar adalah ruas Boanai-W Koli, dimana pada tahun 3030 ruas tersebut menampung jika hingga 128 smp/jam.
Tabel 5-9
Prediksi Volume Ruas Jalan Setiap Tahun Rencana (smp/jam)
Nama Ruas Volume (smp/jam) 2013 2015 2020 2025 2030 W Koli - Boanai 69 77 88 105 127 Boanai - W Koli 72 76 90 107 128 Aegela - Aemale 77 81 97 114 125 Aemale - Aegela 75 84 95 113 124
5-17
Gambar 5-12
Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2013
Gambar 5-13
5-18
Gambar 5-14
Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2020 (Do Nothing)
Gambar 5-15
5-19
Gambar 5-16
Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2030 (Do Nothing)
Jika volume ruas jalan diketahui, maka VCR jalan tersebut juga dapat dicari dengan cara membagi volume dengan kapasitas jalan. Tabel 5-10 memperlihatkan prediksi kinerja beberapa ruas jalan pada tahun 2013.Tampak bahwa kinerja semua ruas jalan masih baik, dimana ruas berada pada tingkat pelayanan A.
Tabel 5-10
Kinerja Jalan di Kabupaten Nagekeo Pada Tahun 2013
Nama Ruas Kapasitas
(smp/jam) Volume (smp/jam) VCR 2013 Tingkat Pelayanan W Koli - Boanai 1100 69 0,06 A Boanai - W Koli 1100 72 0,07 A Aegela - Aemale 2500 77 0,03 A Aemale - Aegela 2500 75 0,03 A
Tabel 5-11 memperlihatkan prediksi kinerja beberapa ruas jalan pada tahun 2015 sampai
tahun 2030.Tampak bahwa kinerja semua ruas jalan masih baik, dimana ruas berada pada tingkat pelayanan A.
Tabel 5-11
Prediksi Kinerja Jalan di Kabupaten Nagekeo Tahun 2015, 2020, 2025, dan 2030 (Do-Nothing)
Nama Ruas Volume Capacity Ratio (VCR)
2015 2020 2025 2030
W Koli - Boanai 0,07 0,08 0,10 0,12
Boanai - W Koli 0,07 0,08 0,10 0,12
Aegela - Aemale 0,03 0,04 0,05 0,05
5-20
5.3.7.2 Analisis dan Prediksi Kinerja Ruas Jalan Kondisi Do-Something
Sistem jaringan transportasi berbasis jalan dapat dikelompokkan berdasarkan hirarki serta fungsinya dan merupakan prasarana transportasi yang akan sangat mempengaruhi secara tidak langsung pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah serta akan berpengaruh juga pada tingkat kesejahteraan masyarakat, tidak terkecuali Kabupaten Nagekeo. Banyak masalah keterbelakangan (kemiskinan) terjadi sebagai akibat karena masih rendahnya tingkat aksesibilitas (keterhubungan) antara wilayah satu dengan wilayah lainnya, yang menyebabkan wilayah dengan aksesibilitas buruk menjadi kurang produktif dan pendapatan masyarakat menjadi berkurang.
Sejalan dengan adanya kebijakan otonomi daerah, maka peran sistem jaringan jalan menjadi semakin nyata dalam usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan aksesibilitas antarwilayah. Salah satu usaha yaitu melalui perbaikan aksesibilitas daerah yang telah berkembang dengan daerah yang masih terisolir (remote area) dengan memanfaatkan sistem jaringan jalan dalam pengembangan wilayah pedalaman (rural area).
Konsep idealisasi sistem jaringan jalan di Kabupaten Nagekeo, yaitu dengan mengkoneksikan keterhubungan antara kecamatan satu dengan lainnya. Sesuai dengan tujuan pengembangan transportasi di Kabupaten Nagekeo, maka dalam pelaksanaan program pengembangan yang akan dilakukan memprioritaskan penanganan pada:
a. Peningkatan kapasitas jalan pada jalan arteri primer. b. Pengembangan jalan arteri sekunder pantai utara Flores.
c. Pengembangan jaringan jalan dan peningkatan kapasitas jalan dalam kota maupun jalan lokal yang menghubungkan antarkecamatan serta menghubungkan sentra produksi di Kabupaten Nagekeo.
Untuk merencanakan pembangunan jaringan jalan yang berkesinambungan maka program penanganan jaringan di Kabupaten Nagekeo dilakukan dalam empat tahap, yaitu:
5-21 Rencana usulan penanganan jaringan jalan tersebut secara garis besar berisi program peningkatan dan pemeliharaan jalan. Dalam pengembangan wilayah, fungsi dari sistem transportasi adalah menghubungkan keterkaitan fungsional antarkegiatan. Berdasarkan fungsi tersebut, maka pengembangan sistem transportasi diarahkan untuk menunjang pengembangan tata ruang Kabupaten Nagekeo secara terpadu.Untuk mencapai tujuan diatas, maka diperlukan suatu pola pengembangan prasarana transportasi yang terpadu yang meliputi transportasi darat, penyeberangan, laut dan udara yang terintegrasi dengan sistem tata ruang wilayah Kabupaten Nagekeo.
Adapun skenario penanganan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tahun 2013-2014 : Do nothing, dengan pertimbangan kemampuan pembiayaan dan pendanaan melalui keuangan daerah masih sangat minim.Upaya yang dilakukan adalah perbaikan manajemen, penegakan hukum dan penataan sarana prasarana yang ada guna peningkatan pelayanan.
2. Tahun 2015-2020 : Peningkatan kapasitas jalan pada jalan arteri primer yang menghubungkan Ngada – Nagekeo – Ende, pengembangan jaringan jalan dan peningkatan kapasitas jalan baik dalam wilayah Kota Mbay maupun jalan lokal yang menghubungkan antarkecamatan serta menghubungkan sentra produksi di Kab Nagekeo. 3. Tahun 2021-2025 : Pengembangan jalan arteri sekunder pantai Utara Flores yang
menghubungkan Mborus – Danga – Nila – Aeramo – Kaburea.
Untuk mengetahui kinerja jaringan jalan dengan beberapa skenario penanganan di atas, konsultan menggunakan alat bantu software SATWIN. Adapun kinerja jaringan jalan beberapa skenario di atas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5-12
Perbandingan Kinerja Jaringan Jalan Sebelum dan Sesudah Penanganan
TAHUN WAKTU TEMPUH (smp-jam) JARAK TEMPUH (smp-km) KECEPATAN RATA2 (km/jam)
Do Nothing Do Something Do Nothing Do Something Do Nothing Do Something
2013-2014 284,2 284,2 11.380,8 11.380,8 40,0 40,0 2015-2020 360,4 358,5 14.378,8 14.378,8 39,9 40,1 2021-2025 434,1 431,3 17.243,7 17.247,5 39,7 40,0 2026-2030 521,0 517,3 20.544,1 20.622,7 39,4 39,9
5-22 Untuk mengetahui kinerja ruas jalan pada masing-masing skenario, dapat dilihat pada volume capacity ratio (VCR) ruas jalan yang didapat dari tahap assignment Matriks Asal Tujuan terhadap jaringan jalan.VC ratio tersebut merupakan indikator teknis tiap ruas jalan yang membandingkan antara volume kendaraan yang melewati ruas jalan tersebut pada keadaan do nothing dan do somethingdari tahun 2015 sampai dengan tahun 2030 dengan kapasitas jalan tersebut. Beberapa kondisi VC ratio yang ada menunjukkan kondisi dari ruas jalan yang diukur tersebut. Sedangkan gambar demand flow pada masing-masing ruas jalan dapat dilihat pada Gambar 5-17sampai Gambar 5-19.
Gambar 5-17
Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2020 (Do-Something)
Gambar 5-18
5-23
Gambar 5-19
Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2030 (Do-Something)
Gambar 5-20
5-24
Gambar 5-21
VC RatioKabupaten Nagekeo Tahun 2025 (Do-Something)
Gambar 5-22
5-25
Table of Contents
5 BAB V ... 5-1
5-26 Table of Contents ... 5-25
5-27
Gambar 5-12 Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2013 ... 5-17 Gambar 5-13 Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2015 (Do Nothing) ... 5-17 Gambar 5-14 Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2020 (Do Nothing) ... 5-18 Gambar 5-15 Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2025 (Do Nothing) ... 5-18 Gambar 5-16 Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2030 (Do Nothing) ... 5-19 Gambar 5-17 Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2020 (Do-Something) ... 5-22 Gambar 5-18 Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2025 (Do-Something) ... 5-22 Gambar 5-19 Demand FlowKabupaten Nagekeo Tahun 2030 (Do-Something) ... 5-23 Gambar 5-20 VC Ratio Kabupaten Nagekeo Tahun 2020 (Do-Something) ... 5-23 Gambar 5-21 VC Ratio Kabupaten Nagekeo Tahun 2025 (Do-Something) ... 5-24 Gambar 5-22 VC Ratio Kabupaten Nagekeo Tahun 2030 (Do-Something) ... 5-24
5-28