PENGARUH AFIRMASI DIRI PADA SIKAP TERHADAP MAKAN SEHAT PADA MAHASISWA
BINUS UNIVERSITY
Casey
Bina Nusantara University, [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh afirmasi diri terhadap sikap pada makan sehat pada mahasiswa Binus University. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitaif, eksperimen dengan desain pretest-posttest. Partisipan diambil dari mahasiswa Binus University berjumlah 20 orang, dengan dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan eksperimen. Kelompok eksperimen diberikan manipulasi afirmasi diri dengan menggunakan item dari Allport-Vernon-Lindzey Study of Values dan health message sebagai perlakuan utamanya. Kelompok kontrol hanya diberikan perlakuan berupa health message saja. Kedua kelompok diberikan uji Skala Sikap Terhadap Makan Sehat sebelum menjalankan perlakuan, dan diberikan kembali uji Skala Sikap Terhadap Makan Sehat setelah menjalankan perlakuan. Hasil data dianalisis dengan uji non-parametrik Wilcoxon dan Mann-Whitney.
Hasil menunjukkan bahwa afirmasi diri tidak mempengaruhi sikap pada makan sehat dan tidak ada perbedaan sikap antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (C).
Kata Kunci: Healthy eating, Makan Sehat, Attitude, Sikap, Self-affirmation, Afirmasi Diri, Students, Mahasiswa, Binus University.
PENDAHULUAN
Dinkes (dalam Destya 2009), memaparkan bahwa kesehatan adalah tujuan hidup manusia dan sekaligus investasi keberhasilan pembangunan bangsa. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia sehat, yaitu suatu keadaan dimana setiap orang hidup dalam lingkungan yang sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat, mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Kondisi dimana masyarakat dapat hidup secara sehat dan berada dalam lingkungan sehat secara harfiah adalah hal yang diinginkan oleh setiap penduduk di Indonesia, namun hal tersebut berbeda dengan fenomena yang penulis temui.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Institute for Health and Evaluation (IHME) di Washington, Indonesia mendapati posisi nomer 10 pada 10 Negara yang memiliki angka obesitas tertinggi. Studi ini diklaim sebagai studi yang komprehensif dimana para ilmuwan data dari survey, seperti WHO, situs pemerintah dan mengulas segala artikel tentang jumlah orang jumlah orang yang mengalami obesitas atau kelebihan berat badan di dunia.
Salah satu faktor yang menyebabkan obesitas adalah konsumsi makanan fast food. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Currie et al. (2010), menyatakan bahwa restoran fast food memberikan dampak terhadap obesitas.
Mudahnya menjangkau restoran fast food membuat orang cenderung lebih memilih fast food dibandingkan dengan makanan sehat. Restoran fast food mudah ditemui karena restoran fast food membuka cabang untuk kepentingan kebutuhan dari restoran itu sendiri. (Currie et al., 2010)
Mayoritas masyarakat Jakarta yang adalah masyarakat urban lebih memilih untuk makan makanan cepat saji karena dianggap lebih cepat, praktis, dan dapat menunjang kebutuhan masyarakat karena adanya kesibukan dalam bekerja. (Meliono, 2004)
Penulis juga menemukan fenomena tersebut terjadi pada lingkungan sekitar penulis, yang merupakan mahasiswa di Universitas Bina Nusantara. Dari hasil wawancara dengan beberapa responden yang adalah
mahasiswa Universitas Bina Nusantara dan tinggal di daerah sekitar kampus, penulis menemukan bahwa keinginan untuk makan sehat cenderung rendah karena sulitnya menemukan jenis makanan yang sehat untuk dikonsumsi di daerah sekitar Universitas Bina Nusantara dan terbatasnya tempat makan yang menyajikan makanan sehat di daerah kampus.
Berdasarkan fenomena yang ditemui penulis dan juga dari hasil observasi penulis terhadap pilihan makanan yang ada di sekitar Universitas Bina Nusantara, maka penulis ingin meneliti lebih lanjut mengenai sikap mahasiswa Universitas Bina Nusantara terhadap makan sehat, dimana sikap dapat dirubah salah satunya dengan menggunakan metode afirmasi diri.
METODE PENELITIAN
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi-eksperimen berupa Nonequivalent Group Design (Myers & Hansen, 2006). Pada desain ini, terdapat dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada desain ini, kedua kelompok diberikan pre-test untuk mengetahui keadaan awal dari masing- masing kelompok. Berikut adalah desain dari Nonequivalent groups design (Sugiyono, 2011).
Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa/I yang berusia 18-25 tahun yang berasal dari Universitas Bina Nusantara. Jumlah subjek adalah 20 orang yang berasal dari lintas jurusan. Penulis mengambil subjek mahasiswa/I berasal dari Universitas Bina Nusantara karena fenomena yang penulis lihat terjadi pada mahasiswa/I Universitas Bina Nusantara.
HASIL DAN BAHASAN
Terdapat dua hipotesis dari penelitian yang dilakukan oleh penulis. Hipotesis tersebut adalah:
H1: Afirmasi diri meningkatkan sikap terhadap makan sehat.
H2: Ada perbedaan perubahan sikap antara kelompok yang menerima manipulasi afirmasi diri dengan kelompok yang tidak menerima manipulasi afirmasi diri.
Uji Hipotesis H1 menggunakan uji non-parametrik Wilcoxon. Uji non-parametrik Wilcoxon digunakan ketika akan membandingkan hasil dari sebelum dan sesudah diberikan perlakuan berupa manipulasi afirmasi diri pada kelompok experiment dengan tujuan untuk melihat adanya peningkatan sikap terhadap makan sehat setelah diberikan manipulasi afirmasi diri. Hasil uji hipotesis 1 (H1) dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.8 Hasil Uji Hipotesis 1
Wilcoxon Signed Ranks Test Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
Posttest - Pretest
Negative Ranks 6
a5.25 31.50
Positive Ranks 3
b4.50 13.50
Ties 1
cTotal 10
a. Posttest < Pretest
b. Posttest > Pretest
c. Posttest = Pretest
Test Statistics
aPosttest - Pretest
Z -1.069
bAsymp. Sig. (2-tailed) .285
a. Wilcoxon Signed Ranks Test b. Based on positive ranks.
Dari tabel di atas, nilai probabilitas adalah 0.285, dengan asumsi jika skor probabilitas berada di bawah 0,05 maka ada perbedaan yang signifikan. Dari tabel di atas, nilai probabilitas berada di atas angka 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa afirmasi diri tidak meningkatkan sikap terhadap makan sehat.
Untuk uji hipotesis kedua (H2), peneliti membandingkan hasil pre – test dan post – test dengan menggunakan uji non-parametrik Mann-Whitney. Hasil dari uji hipotesis dapat dilhat pada tabel berikut:
Tabel 4.9 Hasil Uji Hipotesis 2
Mann-Whitney Test Ranks
Responden N Mean Rank Sum of Ranks
PostTest
KTRL 10 11.65 116.50
EKS 10 9.35 93.50
Total 20
Test Statistics
aPostTest
Mann-Whitney U 38.500
Wilcoxon W 93.500
Z -.876
Asymp. Sig. (2-tailed) .381 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .393
ba. Grouping Variable: Responden b. Not corrected for ties.
Terlihat bahwa pada kolom asymp sig (2-tailed) untuk diuji 2 sisi adalah 0,381. Disini didapat probabilitas di atas 0,05, maka Ho diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perubahan sikap antara kelompok yag menerima manipulasi afirmasi diri dengan kelompok yang tidak menerima afirmasi diri.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis menemukan 2 kesimpulan dari hasil penelitian ini, yaitu:
1. Dari hasil uji analisis untuk H1, ditemukan hasil bahwa afirmasi diri tidak memberikan peningkatan sikap terhadap makan sehat. Hal ini dapat dilihat dari nilai probabilitas yang berada di 0,285, dengan .sig<0,05 maka H1 ditolak. Sedangkan hasil yang didapat adalah 0,05<0,285.
2. Dari hasil uji analisis untuk H2, ditemukan bahwa tidak ada perbedaan perubahan sikap antara kelompok eksperimen dengan kelompok control. Hal ini dapat dilihat dari hasil penghitungan yang menunjukkan nilai probabilitas berada pada angka 0,381, dengan nilai probabilitas yang diperoleh adalah 0,381. Disini didapat nilai probabilitas di atas 0,05, maka Ho diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perubahan sikap antara kelompok yag menerima manipulasi afirmasi diri dengan kelompok yang tidak menerima afirmasi diri.
Pada penelitian ini, terdapat banyak kekurangan tentunya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis melihat banyak keterbatasan untuk melakukan penelitian karena kurangnya waktu dan juga pengetahuan yang terbatas. Pertama, kekurangannya adalah kurangnya pengendalian pada partisipan saat mengisi kuesioner karena
penulis tidak berada di tempat, sehingga keadaan saat mengisi kurang kondusif. Kedua, saat dilakukan penyusunan item dari Allport-Vernon-Lindzey Study of Values, banyak partisipan yang kurang memahami tujuan diberikan item tersebut, sehingga partisipan menyusun item tersebut dan mempresentasikannya sepemahaman mereka masing- masing. informasi yang disampaikan.
Saran penulis untuk peneliti selanjutnya yang ingin meneliti mengenai sikap terhadap makan sehat adalah untuk memperhatikan subjek saat mengisi kuesioner agar situasi kondusif. Selain itu, pemberian health message juga harus dibuat lebih inovatif agar partisipan tidak merasa bosan saat mendengarkan. Hal tersebut bisa ditambah dengan diadakan sebuah permainan yang interaktif agar partisipan lebih bersemangat. Health message yang diberikan kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol seharusnya juga berbeda topik, karena kesamaan topik dapat menimbulkan hasil yang serupa, sehingga topik yang diberikan kepada kelompok kontrol sebaiknya tidak berkaitan dengan kelompok eksperimen.
REFERENSI
Azwar, S. (2014). Metode Penelitian. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Pelajar
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013.
Bohner, G. & Wanke, M. (2002). Attitudes and Attitude Change. Kentucky, USA: Psychology Press
Bordens, K. S. & Abott, K. S. (2007). Research Design and Methods: A Process Approach. New York, USA:
Mcgraw-Hill
Cohen, G. L. & Sherman, D. K. (2014). The Annual Review of Psychology. The Psychology of Change: Self- Affirmation and Social Psychological Intervention. 65. pp. 71.
Cooke, R., Trebaczyk, H., Harris, P., & Wright, A.J. (2014). Self- affirmation promotes physical activity. Journal of Sports & Exercise Psychology, 36(2), pp. 217-223.
DeLamater, J. & Ward, A. (2013). Handbook of Social Psychology (2nd Edition). Madison, WI, USA: Springer
Epton, T., & Harris, P. R. (2008). Self-affirmation promotes health behavior change. Health Psychology, 27, pp.
746 –752.
Feldman, R. S. (2013). Essentials of Understanding Psychology (10th Edition). New York, USA: Mcgraw-Hill
Hurka, Slavek J. (2010). Business Administration Students in Five Canadian Universities: A Study of Values. The Canadian Journal of Higher Education, 10.
McQueen, A. & Klein, W. M. P. (2006). Self and Identity. Experimental Manipulations of Self-Affirmation: A Systematic Review. 5: pp. 289-354
Muaris, H. J. (2012). Delighting D’Appetite. Jakarta, Indonesia: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Myers, A. & Hansen, C. (2006). Experimental Psychology (6th Edition). USA: Thomson Wadsworth.
Ogen, J. (2012). Health Psychology: A Textbook (5th Edition). England: Mcgraw-Hill
Pribadi, S. A. & Putri, D. E. (2009). Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur, & Sipil).
Perbedaan Sikap terhadap Seks Dunia Maya pada Mahasiswa Ditinjau dari Jenis Kelamin. 3. pp. 121-125
Roskos-Ewoldsen, D. R., van Koningsbruggen, Guido M., & Das, E. (2009). How Self-affirmation Reduces Defensive Processing of Threatning Health Informatin: Evidence at the Implicit Level. Health Psychology, 28 (5). 563-568
Sarwono, W.S., & Meinarno, W. E. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
Saufika, Anita, dkk. (2012). Jurnal Ilmiah Kel. & Kons. Gaya Hidup dan Kebiasaan Makan Mahasiswa. pp. 157- 165
Schmeichel, B. J. & Vohs, K. (2009). Journal of Personality & Social Psychology. Self-Affirmation and Self- Control: Affirming Core Values Counteracts Ego Depletion. 96(4). pp. 770-782.
Sheeren, P., Harris, Peter R., Brearley, Irina., & Barker, M. (2014). Combining Self-Affirmation with Implementation Intentions to Promote Fruit and Vegetable Consumption. Health Psychology, 33 (7), 729-736
Sherman, D. K. & Cohen, G. L. (2006). Advances in Experimental Social Psychology. The Psychology of Self- Defense: Self-Affirmation Theory. 38. pp. 183-231.
Sherman, D. K., Cohen, G. L., Nelson, L. D., Nussbaum, A. D., Bunyan, D. P., & Garcia, J. (2009). Affirmed yet unaware: Exploring the role of awareness in the process of self-affirmation. Journal of Personality and Social Psychology, 97, 745–764. doi:10.1037/a0015451
Stapel, D. A., & van der Linde, L. A. J. G. (2011). What Drives Self-Affirmation Effects? On the Importance of Differentiating Value Affirmation and Attribute Affirmation. Journal of Personality and Social Psychology.
Advance online publication. doi: 10.1037/a0023172
Sugiyono. (2006). Statistika untuk Penelitian. Bandung, Indonesia: CV Alfabeta
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Sutardji, & Woro, O. (2011). Sistem Informasi Perencanaan Pola Hidup Sehat melalui Keseimbangan Aktivitas dan Asupan Makanan. Jurnal Media Ilmu Keolahragaan Indonesia, 1 (2).
UNICEF, WHO, UNESCO, UNFPA, UNDP, UNAIDS, WFP, & The World Bank. (2010). Penuntun Hidup Sehat (4th Edition). Jakarta: UNICEF Indonesia.
Universitas Negeri Medan: Fakultas Ilmu Keolahragaan. (2011). Pola Makanan dan Minuman menuju Budaya Hidup Sehat. Jurnal Ilmu Keolahragaan, 9 (2).
Vohs, K. D., Park, J. K., & Schmeichel, B. J. (2012). Self-Affirmation Can Enable Goal Disengagement. Journal of Personality and Social Psychology. Advance online
Wardana, O. A. (2007). Menggunakan SPSS dalam Penelitian Sosial: Modul Metode Penelitian Sosial Budaya.
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
World Health Organization. (2014). Indonesian: Health Profile, May 2014.