• Tidak ada hasil yang ditemukan

THE OVERVIEW OF ANTIBIOTICS AND ANTHELMINTICS AS A VETERINARY DRUGS IN SEVERALS CITY-BALI BY SURVEY METHOD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "THE OVERVIEW OF ANTIBIOTICS AND ANTHELMINTICS AS A VETERINARY DRUGS IN SEVERALS CITY-BALI BY SURVEY METHOD"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

THE OVERVIEW OF ANTIBIOTICS AND ANTHELMINTICS AS A VETERINARY DRUGS IN SEVERALS CITY-BALI BY SURVEY METHOD

1,*

Iwan Harjono Utama ,

2

Anak Agung Gde Arjana,

3

Verderika Lobo

1,2

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

3

Karantina Wilayah Kerja Waikelo Sumba Barat

ABSTRACT

The objective of this survey was establising some veterinary drugs (anrtibiotics and anthelmintics) present in some regency-capital cities in Bali, including Denpasar. Besides, we wanted to track extralabel use of those drugs. Survey was conducted by interviewing, and we collected data of those drugs present at some places such as : veterinarians, veterinary clinics, pet shops, poultry shops, farms, and non-veterinarian practitioners. Results showed oxytetracyclin (for vet. use) was found most followd by ampicilline and amoxicilline, (non vet. use). Anthelmentics were found most was ivermectin and albendazole (for vet. use), followed by pyrantel pamoic (non vet. use).

Key words: Antibiotics, Anthementics Veterinary drugs, Bali

Corespondence: Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Kampus Sudirman- Denpasar - Bali. Telp & fax: 62-0361-223793; e-mail:

[email protected]

PENDAHULUAN

Residu obat dalam daging dan produk asal hewan lainnya merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh dunia veteriner dan lembaga konsumen seperti Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat (Soave, 1991). Diyakini masalah residu ini diakibatkan oleh penggunaan obat hewan yang tidak sesuai anjuran atau obat manusia di gunakan untuk hewan atau extralabel use (Kirkpatrick, 2002). Istilah terakhir ini ialah penggunaan obat yang tidak semestinya, meski secara farmakologi benar (Rollin, 2000), kasus tersering yang selama ini dijumpai ialah obat untuk manusia digunakan untuk pengobatan pada hewan.

Berdasarkan hal terakhir inilah, survey ini ditujukan untuk mengetahui jenis dan keberadaan obat hewan, khususnya antibiotika dan anthelmintika di berbagai tempat penjualan obat hewan dan tempat lainnya yang berhubungan dengan kesehatan hewan, khususnya di Bali.

METHODE

Survey dilakukan dengan mendatangi berbagai tempat yang ada hubungannya dengan

kesehatan hewan seperti dokter hewan praktek, klinik hewan, pet shop, poultry shop, di

peternakan, dan mantri hewan, yaitu dengan mendata jenis obat antibiotika dan anthelmintika

yang banyak di pakai. Survey dilakukan di berbagai ibukota kabupaten di Bali dalam rentang

waktu tahun 1996 - 2012. Metode survey dilakukan dengan cara wawancara, dan tiap

kemasan obat yang diamati di data berdasarkan jenis kandungan zat aktif dan tujuan

(2)

secara deskriptif dengan cara tabulasi dan visualisasi menggunakan histogram (Steel dan Torrie, 1989).

DISKUSI

Data hasil survei jenis keberadaan serta penggunaan obat hewan (antibiotika dan anthelmintika) dibeberapa ibukota kabupaten-kabupaten di Bali, tertera pada Tabel 1, Gambar 1, dan Gambar 2.

Tabel 1 : Distribusi Antibiotika dan Anthelmintika yang Beredar Di Kota-Kota Besar Di Bali Berdasarkan Jenis Terbanyak

Lokasi survey Antibiotika khusus hewan

Antibiotika untuk manusia

Antelmintika khusus hewan

Antelmintika untuk manusia Denpasar Oksitetrasiklin Oksitetrasiklin Ivermectin Pirantel Pamoat

Karangasem Oksitetrasiklin Penisillin Albendazol -

Klungkung Oksitetrasiklin Oksitetrasiklin Ivermectin Pirantel Pamoat

Gianyar Oksitetrasiklin Ampisillin Ivermectin Pirantel Pamoat

Negara Oksitetrasiklin Ampisillin Ivermectin -

Singaraja Oksitetrasiklin Ampisillin Ivermectin Pirantel pamoat

Bangli Oksitetrasiklin Amoksisillin Ivermectin Pirantel Pamoat

Gambar 1. Distribusi keberadaan antibiotika (baik untuk penggunaan di bidang veteriner

maupun yang bukan) yang dijumpai di beberapa Ibu Kota Kabupaten di Bali.

(3)

Gambar 2. Distribusi keberadaan anthelmintika (baik untuk penggunaan di bidang veteriner maupun yang bukan) yang dijumpai di beberapa Ibu Kota Kabupaten di Bali.

Dari data hasil pengamatan (Tabel 1) tampak bahwa oksitetrasiklin merupakan jenis antibiotika veteriner yang terbanyak dijual, tampakya spektrum yag luas terhadap bakteri Gram positif dan negative menjadi salah satu alasannya (Zoetis, 2013), selain itu oksitetrasiklin ini stabil selama 2 tahun dalam suhu kamar (Food and Agriculture Organization, 1990). Informasi dari beberapa sejawat praktisi veteriner di lapangan menunjukkan juga masalah harga yang terjangkau juga merupakan sisi lain dari dominannya penggunaan oksitetrasiklin, meski untuk hal ini belum ada data pasti.

Informasi dari beberapa kolega dokter hewan, penisillin dan turunannya seperti ampisilin juga merupakan obat yang juga banyak digunakan karena penyerapan dan kerjanya cepat, ini ditunjukkan dalam waktu 30 menit pascainjeksi intra muskuler sudah dapat menurunkan suhu tubuh pasien. Selain itu penisilin distribusinya luas di berbagai organ (Plumb, 2008). Walau demikian, Tabel 1 menunjukkan bahwa ampisilin, amoksisilin, dan penisilin yang digunakan bukan sediaan untuk hewan (non vet use), oleh sebab itu perlu diperhatikan kemungkinan adanya residu obat-obat tersebut pada produk hewan.

Informasi Stephens (2003) menunjukkan bahwa fenomena resistensi Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Salmonella sp., dan Pasteurella multocida, terhadap antibiotika tetrasiklin, penisilin dan ampisilin pada umumnya meningkat dari tahun 1999 hingga tahun 2001. Memang di Bali belum ada data pasti mengenai hal ini, meskipun demikian fenomena ini perlu dicermati.

Anthelmintika yang sekarang dipakai umumnya aktif terhadap parasit spesifik dan

beberapa bersifat toksik, oleh sebab itu parasit harus diidentifikasi sebelum pengobatan

dimulai (Cole, Bentz dan Maxwell, 2015). Ivermectin merupakan antiparasit dengan spektrum

(4)

gastrointestinal. Penggunaan yang praktis dari ivermectin menjadikan obat ini pilihan para praktisi dokter hewan di beberapa kota kabupaten di Bali (Informasi dari kolega praktisi dokter hewan). Di Bali, pirantel pamoat dan albendazole sediaannya banyak yang bukan untuk penggunaan dalam bidang veteriner (Plumb, 2008). Atas dasar kemiripan efektivitas itulah, para kolega dokter hewan menggunakannya untuk hewan, ditunjang juga dengan harga yang relatif murah, karena diproduksi dalam jumlah besar. Penggunaan obat berlabel non veteriner (Tabel 2) dimungkinkan karena obat manusia lebih murah dan tingkat keamanannya lebih tinggi (Utama, 2000), walau demikian obat untuk manusia tidak diketahui waktu habisnya (withdrawal time) dari jaringan hewan. Kalau pun dilakukan penelitian, akan membuang waktu dan terutama biaya, oleh sebab itu pencegahan penggunaan ekstralabel ini perlu menjadi perhatian (Food and Drug Administration, 2017).

KESIMPULAN

Obat berlabel untuk hewan/ veteriner, baik anthelmintika dan antibiotika masih dominan digunakan untuk aktivitas praktek dokter hewan di beberapa kota ibu kota kabupaten di Bali, untuk jenis antibiotika didominasi oleh tetrasiklin, selebihnya ampisiln, penisilin dan amoksisilin sedangkan untuk jenis anthelmintika didominasi oleh ivermectin dan pirantel pamoat. Masih banyak juga penggunaan antibiotika dan anthelmintika untuk hewan yang tidak sesuai dengan label (ekstralabel).

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih ditujukan kepada beberapa institusi di Bali : Dinas Peternakan, para sejawat dokter hewan praktek, pemilik peternakan, dan petugas dinas peternakan dimana survey ini dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Cole, C., B. Bentz dan L. Maxwell (Eds). 2015. Equine Pharmacology.

https://books.google.co.id/books?id=ZGeCBAAAQBAJ&pg=PA95&lpg=PA95&dq=an thementic+specific+vet+parasites+pdf&source=bl&ots=np2YpKa2Zx&sig=IzKh4loWv YKTIsRNJvzL5anaBHI&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjh_vWphIvYAhUKmJQKHeM 6BSY4ChDoAQgtMAE#v=onepage&q=anthementic%20specific%20vet%20parasites

%20pdf&f=false Hal. 94- 95.

Food and Agriculture Organization, 1990. Oxytetracycline.

http://www.fao.org/fileadmin/user_upload/vetdrug/docs/41-3-oxytetracycline.pdf hal.

97- 118.

Food and Drug Administration, 2017. The Ins and Outs of Extra-Label Drug Use in Animals:

A Resource for Veterinarians.

https://www.fda.gov/AnimalVeterinary/ResourcesforYou/ucm380135.htm

Kirkpatrick, D. 2002. The veterinary drugs directorate to discuss extra-label drug use in

halifax. Can Vet. J. 43 (6) : 425-428.

(www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=339292 ).

(5)

Plumb.D.C, (2008). Veterinary Drug handbook. 6

th

Ed. . Blackwell Publishing, South State Avenue, Iowa-U.S.A. Hal : 699-700. http://www.armchairpatriot.com/Home- Vet/Plumb's%20Veterinary%20Drug%20Handbook%20%5BDesk%20Ed.%5D%206th

%20ed.%20-%20D.%20Plumb%20(Blackwell,%202008)%20WW.pdf.

Rollin, B. E. 2000. Health Canada's Veterinary Drugs Directorate's (VDD's) : Study To

Assess Drug Use in Animals in Canada

(www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=339600).

Soave, O. 1991. History of veterinary mendicine in the food and drug administration. J. A.

V. M. A. 199 : 38 – 42.

Steel. R. G. D. dan J. H. Torne. (1989). Principle and Procedures of Statistics. Prinsip dan Prosedur Statistik Suatu Pendekatan Biometri. Alih bahasa : Ir. Bambang Sumantri. PT.

Gramedia Jakarta. Hal : 16-19.

Stephens, C. P. 2003. Surveillance for antibiotic resistance in veterinary pathogens from the perspective of a regional diagnostic laboratory. Commun Dis Intell 27. Suppl : S127–

S131.

Utama, I. H. (2000). Survey awal mengenai jenis dan penggunaan obat untuk hewan. Data tidak dipublikasikan.

Zoetis, 2013. Terramycin scours.

https://dailymed.nlm.nih.gov/dailymed/getFile.cfm?setid=d30ffe60-a418-4425-883e-

58d10417b9bf&type=pdf&name=d30ffe60-a418-4425-883e-58d10417b9bf

Gambar

Tabel 1 :   Distribusi  Antibiotika  dan  Anthelmintika  yang  Beredar  Di  Kota-Kota  Besar  Di  Bali Berdasarkan Jenis Terbanyak
Gambar  2.  Distribusi  keberadaan  anthelmintika  (baik  untuk penggunaan  di  bidang  veteriner  maupun yang bukan) yang dijumpai di beberapa Ibu Kota Kabupaten di Bali

Referensi

Dokumen terkait

Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus ,

usaha pengangkutan barang, kargo dan pos dengan pesawat udara berdasarkan pada rute dan jadwal tertentu dengan tujuan kota-kota atau provinsi di dalam negeri. - Kelompok

Muhamad SAW, amanat dakwah ini dipikul oleh para sahabat, tabiin, tabiit tabiin dan seterusnya sampai umat Islam sekarang ini. Seluruh Umat Islam memiliki

PERANCANGAN LIGHTING DALAM FILM ANIMASI 3D BERJUDUL “TOPENG MONYET” dengan ini menyatakan bahwa, Skripsi dan karya penciptaan ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk

Dari hasil analisis GCMS (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa bio-oil yang dihasilkan dari serbuk kayu, kulit kayu mahoni dan sludge kertas pada suhu 550 C menggunakan proses

Variabel BOPO secara parsial memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap ROA pada Bank Umum Swasta Nasional Go Public periode triwulan I tahun 2011 sampai

Optimisme memberikan sumbangan efektif sebesar 65,4% pada terbentuknya regulasi diri lansia di masa pensiun pada PP BRI (Persatuan Pensiunan Bank Rakyat

Kesimpulan yang didapat dari pembuatan abon pisang muda dengan penambahan bumbu masak habang yaitu formulasi ke empat selain teksturnya sudah halus, pada saat