PERANAN PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT (PKBM) DALAM RANGKA PENGEMBANGAN MASYARAKAT (Studi Kasus: Program Paket C pada PKBM Santika, Kelurahan Bambu Apus,
Kecamatan Cipayung, Kotamadya Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta)
Oleh:
Andhini Nurul Fatimah A14204048
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
PERANAN PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT (PKBM) DALAM RANGKA PENGEMBANGAN MASYARAKAT (Studi Kasus: Program Paket C pada PKBM Santika, Kelurahan Bambu Apus,
Kecamatan Cipayung, Kotamadya Jakarta Timur, Provinsi DKI Jakarta)
Oleh:
Andhini Nurul Fatimah A14204048
SKRIPSI
Sebagai Syarat untuk Mendapatkan Gelar Sarjana pada
Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor
Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor 2008
PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang disusun oleh:
Nama Mahasiswa : Andhini Nurul Fatimah Nomor Pokok : A14204048
Judul : Peranan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Dalam Rangka Pengembangan Masyarakat
Dapat diterima sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pada Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Menyetujui Dosen Pembimbing,
Dr. Ir. Pudji Muljono, MSi.
NIP. 131 841 726
Mengetahui Dekan Fakultas Pertanian,
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr.
NIP. 131 124 019
Tanggal kelulusan:_____________________
LEMBAR PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL
“PERANAN PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT (PKBM) DALAM RANGKA PENGEMBANGAN MASYARAKAT” BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH (SKRIPSI) PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. DEMIKIAN PERNYATAAN INI SAYA BUAT DENGAN SESUNGGUHNYA DAN SAYA BERSEDIA MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERNYATAAN INI.
Bogor, Juni 2008
ANDHINI NURUL FATIMAH
A14204048
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada 3 Maret 1987 dari pasangan H. Agus Salim Hamid (Ayah) dan Hj. Siti Aisyah (Ibu). Penulis merupakan anak kedua dari lima bersaudara dengan kakak bernama Tendry Zulfah Maharani, dan tiga orang adik bernama Karina Rodwiyah, Lulu Chairizah, dan Muhammad Arya Thoriq.
Pendidikan formal yang dilalui penulis adalah tahun 1992-1994 SD Islam Bhakti Ibu Jakarta, 1994-1998 SDN Dukuh 03 Jakarta, SLTP Negeri 24 Jakarta dan lulus pada tahun 2001, SMU Negeri 48 dan lulus pada tahun 2004. Pada tahun yang sama penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB.
Penulis terdaftar sebagai mahasiswi di Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian.
Selama mengikuti kegiatan perkuliahan, penulis memiliki beberapa pengalaman, baik dalam kegiatan organisasi maupun kegiatan kepanitiaan.
Organisasi yang pernah dimasuki penulis adalah MISETA pada periode 2006- 2007. Penulis juga aktif dalam kepanitiaan, seperti Rabuan Dosen KPM dan Dies Natalis FEMA (MC) pada tahun 2006, POROS, dan ZONE A pada tahun 2006.
Selain itu, penulis juga pernah mengikuti English Journalistic Training pada tahun 2007.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan YME, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Peranan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Dalam Rangka Pengembangan Masyarakat”. Penulisan skripsi ini merupakan syarat untuk mendapatkan gelar sarjana pada Program Studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam- dalamnya kepada :
1. Dr. Ir. Pudji Muljono, MSi sebagai dosen pembimbing studi pustaka dan skripsi, yang telah berkenan memberikan banyak masukan, arahan, pemikiran, bimbingan, maupun koreksi kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
2. Ir. Fredian Tonny Nasdian, MS yang telah berkenan menjadi dosen penguji utama dalam sidang skripsi.
3. Martua Sihaloho, MSi sebagai dosen penguji skripsi perwakilan dari komisi pendidikan.
4. Keluarga tercinta (My super “Mom”, Papa, Ka’ Endi, Kiyna, Lulu, dan Yaya), atas kasih sayang, motivasi, teguran, dan sejuta kisah berwarna yang telah menjadikan hidup penulis menjadi lebih bermakna.
5. Teman-temanku, Elin, Anyu, Ucie, Fanty, Pibi, Ntep, Nia, Christin, Putri, Lala, Bu Ratih, dan Bunda, atas dukungan yang diberikan kepada penulis.
6. Dwi Retno Hapsari, rekan seperjuangan dalam penyusunan skripsi.
7. Tidak lupa penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada kerabat serta seluruh pihak yang telah memberikan dorongan semangat serta doa sehingga penyelesaian skripsi ini dapat terwujud.
Akhirnya penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait.
Bogor, Juni 2008
Andhini Nurul Fatimah
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI... i
DAFTAR TABEL... v
DAFTAR GAMBAR... vi
DAFTAR LAMPIRAN... vii
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah... 6
1.3 Tujuan Penelitian ………. 7
1.4 Kegunaan Penelitian... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Jenis Program Pendidikan Nonformal... 9
2.2. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat... 11
2.2.1 Pengertian dan Jenis Program PKBM... 11
2.2.2 Urgensi Keberadaan PKBM... 13
2.2.3 Implementasi Azas dan Konsep Pendidikan Orang Dewasa dalam PKBM... 14
2.3. Konsep dan Prinsip Pengembangan Masyarakat ... 22
2.4 Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat... 27
2.5 Kerangka Pemikiran... 31
2.6 Hipotesis Pengarah... 34
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian... 36
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian... 37
3.3 Penentuan Subjek Penelitian... 38
3.4 Teknik Pengumpulan Data... 39
3.5 Teknik Analisis Data... 41
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Singkat PKBM Santika... 44
4.2 Visi dan Misi PKBM Santika... 46
4.3 Struktur Personal PKBM Santika dan Profil Pemilik Yayasan... 47
4.4 Kerjasama dengan Pihak Luar... 51
4.5 Karakteristik Warga Belajar pada PKBM Santika... 52
4.6 Profil Wilayah dan Komunitas Setempat... 54
V. URGENSI KEBERADAAN PKBM BAGI MASYARAKAT SEKITAR WILAYAH CIPAYUNG 5.1 Penanda Urgensi Keberadaan PKBM Santika………... 58
5.1.1 Penyesuaian Prioritas Calon Warga Belajar Oleh PKBM Santika………... 58
5.1.2 Perolehan Ijazah dan Tuntutan “Pasar”... 62
5.2 Kilasan Keberadaan PKBM “Semu” di Wilayah Cipayung... 64
5.3 Ikhtisar... 65
VI. PERANAN PKBM SANTIKA DALAM RANGKA PENGEMBANGAN MASYARAKAT
6.1 Refleksi Peranan PKBM Melalui Azas-Azas yang Dianut
PKBM Santika……….………….. 67
6.1.1 Azas Kemanfaatan... 67
6.1.2 Azas Kebermaknaan……….... 70
6.1.3 Azas Kebersamaan………... 74
6.1.4 Azas Kemandirian... 78
6.1.5 Azas Keselarasan... 80
6.1.6 Azas Kebutuhan... 81
6.1.7 Azas Tolong Menolong... 83
6.1.8 Tiga Prinsip Pengembangan Masyarakat dalam Azas- Azas yang Dianut PKBM Santika... 85
6.2 Konsep Pendidikan Orang Dewasa dalam Penerapan Proses Pembelajaran pada PKBM Santika... 87
6.2.1 Metode Pembelajaran bagi Warga Belajar Paket C di PKBM Santika... 88
6.2.2 Kegiatan Tutorial di PKBM Santika... 91
6.3 Ikhtisar... 95
VII. HAMBATAN PELAKSANAAN PENDIDIKAN PADA PKBM SANTIKA DAN UPAYA PENYELESAIANNYA DALAM RANGKA PENGEMBANGAN MASYARAKAT 7.1 Hambatan Pelaksanaan Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Masyarakat oleh PKBM Santika………... 97
7.1.1 Keterbatasan Waktu Pembelajaran... 98
7.1.2 Minimnya Atensi Warga Belajar terhadap Proses
Pembelajaran... 99
7.2 Upaya Penyelesaian Beragam Hambatan Pelaksanaan Pendidikan dalam rangka PM oleh PKBM Santika... 100
7.2.1 Pembenahan Sistem Pendidikan oleh Pihak Pengelola... 101
7.2.2 Penggunaan Strategi Pembelajaran oleh Tutor... 101
7.2.3 Inisiatif dari Para Warga Belajar... 102
7.3 Ikhtisar... 103
VIII. PENDIDIKAN BERBASIS KOMUNITAS DENGAN PENDEKATAN PARTISIPATIF DALAM KERANGKA GOOD GOVERNANCE SYSTEM... 104
IX. KESIMPULAN DAN SARAN 9.1 Kesimpulan... 110
9.2 Saran ... 112
DAFTAR PUSTAKA ... 114
LAMPIRAN... 116
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1 Nama Tutor PKBM Santika dan Mata Ajaran yang
Diasuhnya... 49 Tabel 2 Jumlah Penduduk Kelurahan Bambu Apus Sasaran
Pendidikan Nonformal Berdasarkan Kelompok Usia
Tertentu (16-44 tahun) Tahun 2007... 57 Tabel 3 Perkembangan Jumlah Warga Belajar yang Mengikuti
Ujian Nasional Program Kesetaraan Paket C pada
PKBM Santika... 71 Tabel 4 Standar Alokasi Pembiayaan yang Dikenakan Bagi
Warga Belajar Paket C... 77 Tabel 5 Tiga Prinsip Pengembangan Masyarakat dalam Azas-
Azas yang Dianut PKBM Santika... 86 Tabel 6 Alokasi Waktu Pembelajaran untuk Satu Jam Pelajaran pada Program Paket C PKBM Santika... 92
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1 Bagan Kerangka Pemikiran... 33
Gambar 2 Situasi Wawancara Mendalam dengan Tutor PKBM Santika... 40
Gambar 3 Panti Belajar PKBM Santika... 44
Gambar 4 Situasi Belajar pada Kursus Komputer di PKBM Santika... 46
Gambar 5 Struktur Personal PKBM Santika... 48
Gambar 6 Persentase Jumlah Warga Belajar Program Paket C di PKBM Santika Tahun 2007/2008 Berdasarkan Karakteristik Pekerjaan... 53
Gambar 7 Situasi Persiapan Pasar Malam di Kelurahan Bambu Apus... 56
Gambar 8 Gedung PKBM X... 64
Gambar 9 Situasi Belajar di PKBM Santika... 69
Gambar 10 Suasana Diskusi Antar Warga Belajar PKBM Santika... 90
Gambar 11 Hubungan Aktor-Aktor yang Terlibat dalam Pendidikan Berbasis Komunitas dan Bentuk Peran Serta Setiap Aktor dalam Kerangka Good Governance System... 107
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Sketsa Lokasi Penelitian... 117 Lampiran 2 Jadwal Pelaksanaan Penelitian... 119 Lampiran 3 Teknik Pengumpulan Data dan Kebutuhan Data bagi
Penelitian... 120 Lampiran 4 Panduan Pertanyaan Penelitian... 124 Lampiran 5 Jadwal Kegiatan Belajar Mengajar Program Paket C
Tahun Ajaran 2007/ 2008... 128 Lampiran 6 Profil Tutor PKBM Santika... 129 Lampiran 7 Daftar Nama PKBM di Wilayah Jakarta Timur Tahun
2007... 130 Lampiran 8 Catatan Wawancara Mendalam dengan Warga Belajar
Paket C... 131 Lampiran 9 Catatan Wawancara Mendalam dengan Tutor
PKBM Santika... 133 Lampiran 10 Catatan Wawancara Mendalam dengan Ketua Pengelola
PKBM Santika... 135 Lampiran 11 Laporan Pengamatan Berperanserta di PKBM Santika.... 138 Lampiran 12 Daftar Responden dan Informan……… 140
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu proses yang dialami oleh semua manusia di dalam hidupnya. Menurut Hasbullah (2006), pendidikan menunjukkan suatu proses bimbingan, tuntunan, atau pimpinan yang di dalamnya mengandung unsur- unsur seperti pendidik, anak didik, tujuan dan sebagainya. Dalam konteks historisnya, pendidikan telah ada sejak awal adanya manusia, jauh sebelum munculnya Ilmu Pendidikan pada sekitar abad 19. Saat itu aktivitas mendidik dilakukan dengan mengandalkan intuisi ataupun pengalaman.
Semua kegiatan tak terkecuali pendidikan selalu bermuara pada tujuan- tujuan yang hendak dicapai. Tanpa tujuan yang pasti sepertinya suatu usaha yang kita lakukan tidak akan menjadi berarti. Sama halnya dengan perumpamaan tentang makan. Jika kita tidak pernah memiliki rasa kenyang dan puas terhadap apa yang kita makan, aktivitas yang kita sebut “makan” tampaknya tidak akan senikmat sekarang, selezat apapun makanan yang kita santap. Berdasarkan analogi tersebut, adapun tujuan dari pendidikan adalah perubahan-perubahan pola tingkah laku yang diinginkan (Soeitoe, 1982).
Membahas Pendidikan di masa kini, tampaknya skema kita akan beralih pada lembaga pendidikan; tempat berlangsungnya proses ajar didik. Lembaga pendidikan formal (sekolah) merupakan salah satu lembaga pendidikan di samping keluarga. Namun, pada dasarnya pendidikan di sekolah juga merupakan bagian dari pendidikan keluarga (Hasbullah, 2006).
Pada konteks kekinian, pendidikan tidak hanya terbatas pada pendidikan formal melainkan telah berkembang sampai ke jalur pendidikan nonformal (pendidikan luar sekolah) maupun informal. Berdasarkan Undang-undang No.20 tahun 2003, Pendidikan Luar Sekolah (PLS) merupakan salah satu jalur penyelenggaraan pendidikan nasional di samping pendidikan sekolah.
Pendidikan Luar Sekolah merupakan instansi yang bertanggung jawab untuk membina kegiatan pendidikan masyarakat. Berbagai jenis program pendidikan nonformal telah diupayakan oleh pendidikan luar sekolah. Beberapa jenis program pendidikan yang sedang dikembangkan PLS saat ini mengacu pada pemaparan dari Tim FKIP (2007), meliputi: pendidikan Kecakapan Hidup, Anak Usia Dini, Kepemudaan, Pemberdayaan Perempuan, Keaksaraan, Keterampilan dan Pelatihan Kerja, Kesetaraan, dan pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Salah satu upaya yang ditempuh PLS dilakukan dalam bentuk pendekatan yang berbasis masyarakat dengan wadah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang berperan dalam menjalankan pendidikan nonformal di perdesaan maupun perkotaan. Kebijakan awal mengenai penyelenggaraan PKBM bermula dari hasil pertemuan antara Kepala Bidang Dikmas se Indonesia dengan Direktur Dikmas di Bali awal tahun 1998. Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan diantaranya (Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, 2003):
1. Penyelenggaraan Program Dikmas yang sebelumnya cenderung terpencar pencar lokasinya perlu diatur kembali penempatannya agar memudahkan bagi para petugas untuk membina dan memantaunya.
2. Memperhatikan laporan dari para Penilik (Pengawas Fungsional PLS.P) bahwa hampir setiap kecamatan terdapat bangunan sekolah yang kosong atau kurang dimanfaatkan, maka hal tersebut dipandang sebagai peluang bagi kepentingan belajar masyarakat.
Berdasarkan kesepakatan tadi maka Ditjen Diklusepora sejak pertengahan tahun 1998 mengeluarkan kebijakan sebagai berikut:
- Setiap Kepala Bidang Dikmas diharapkan mulai merintis Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di wilayahnya
- Kegiatan Belajar Dikmas di PKBM tidak terbatas hanya program yang sudah dicanangkan oleh Dikmas saja tetapi bisa kegiatan belajar apa saja yang dibutuhkan masyarakat
- PKBM yang menggunakan Gedung SD kosong atau bangunan kosong lainnya harus disertai izin pemakaian minimal selama lima tahun dan paling sedikit harus memiliki tiga lokal kelas
- Perlu diusahakan agar PKBM yang akan dibentuk berada di tengah- tengah pemukiman atau tempat tinggal calon warga belajar atau tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka
- PKBM tidak perlu menggunakan atribut Dikmas atau Pemerintah, supaya benar-benar menjadi milik masyarakat.
Menurut Sihombing (1999), Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih dan dijadikan ajang pemberdayaan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pemikiran bahwa dengan membuat suatu wadah atau lembaga PKBM, akan didapat potensi-potensi baru yang dapat ditumbuhkembangkan serta dimanfaatkan atau didayagunakan, melalui pendekatan-pendekatan kultural ataupun persuasif. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) juga merupakan suatu wadah berbagai kegiatan pembelajaran masyarakat diarahkan pada pemberdayaan potensi untuk menggerakkan pembangunan di bidang sosial, ekonomi dan budaya1. Konsep dasar PKBM dari, oleh, dan untuk masyarakat merujuk pada orientasinya yakni untuk pemberdayaan masyarakat agar mampu meningkatkan kualitas hidupnya.
Setiap lembaga pendidikan memiliki sebuah sistem pendidikan yang membentuknya. Tak terkecuali dengan PKBM sebagai salah satu lembaga pendidikan nonformal yang bertujuan memperluas kesempatan warga masyarakat, khususnya yang tidak mampu untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri dan bekerja mencari nafkah. Salah satu komponen dari sistem tersebut adalah pendidik.
Tutor, sebagai salah satu komponen yang penting dalam sistem pendidikan, sangat berperan sebagai pengajar yang baik. Usia warga belajar pada PKBM (dalam hal ini pada program Kesetaraan) yang tergolong ke dalam
1 Direktorat PTK-PNF, Profil Direktorat PTK-PNF PKBM, http://www.jugaguru.com/profile/49/, Diakses pada 28 Desember 2007.
kategori orang yang telah dewasa, menuntut para tutor untuk menerapkan konsep pendidikan orang dewasa (Andragogy) dalam menjalankan metode pembelajaran.
Pendidikan orang dewasa berdasarkan rumusan Suprijanto (2007) merupakan serangkaian aktivitas pendidikan bagi orang dewasa yang menggunakan sebagian waktunya dan tanpa dipaksa ingin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan mengubah sikapnya dalam rangka pengembangan dirinya sebagai individu dan meningkatkan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya secara seimbang dan utuh.
Sejalan dengan pemahaman tersebut, dalam konsepnya pengembangan masyarakat dapat diartikan sebagai salah satu metode pekerjaan sosial yang tujuan utamanya untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pendayagunaan sumber-sumber yang ada pada mereka serta menekankan pada prinsip partisipasi sosial (Suharto, 2006). Terkait pula dengan peranan tutor sebagai pendidik, dewasa ini pengelolaan lembaga pendidikan nonformal secara profesional termasuk pula di antaranya PKBM, sering dianggap melihat sekolah dan pendidikan sebagai ajang bisnis dan kurang menempatkan anak didik sebagai subyek.
Terkait dengan paradigma baru pendidikan yang menantang masyarakat untuk lebih aktif bahkan proaktif dalam mengembangkan dirinya berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan masyarakat, fenomena tersebut hanya akan menciptakan hambatan-hambatan baru bagi peran serta lembaga pendidikan nonformal (dalam hal ini PKBM) untuk mendukung pengembangan masyarakat khususnya di wilayah perkotaan.
Bagaimana peran yang sesungguhnya dijalankan oleh ”aktor-aktor penggerak” (instansi pemerintah atau swasta maupun lembaga lainnya) dalam PKBM khususnya di wilayah hunian komunitas yang sarat akan kesan
”komersial” seperti Jakarta?, peneliti kemudian terinspirasi untuk mengkaji lebih dalam tentang peranan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam rangka pengembangan masyarakat dalam hal ini peranan PKBM Santika dalam rangka pengembangan masyarakat.
1.2 Perumusan Masalah
Pemaparan teori dan data (fakta) di atas menggambarkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai salah satu wadah pelaksana pendidikan nonformal (sering disebut juga pendidikan luar sekolah) merupakan pendekatan baru yang dirancang sebagai basis koordinasi program-program pembelajaran di masyarakat. Kenetralan sifat yang dimiliki PKBM, dimana terdapat keleluasaan lembaga atau instansi pemerintah, swasta, LSM atau pihak lain untuk memanfaatkan keberadaan PKBM sepanjang untuk kepentingan kemajuan masyarakat, saat ini sering ”dicap” sebagai ajang bisnis.
Isu tersebut tampaknya sangat bertentangan dengan konsep PKBM yang justru diintroduksikan sebagai alternatif yang dapat dipilih dan dijadikan ajang pemberdayaan masyarakat. Sama halnya dengan wilayah perdesaan, wilayah perkotaan seperti Jakarta, juga tidak terlepas dari fenomena keberadaan PKBM (baik swasta maupun negeri) yang saat ini tengah aktif ”menjalarkan” beragam program dan membentuk ”galur-galur” baru yang mencoba menumbuhkan potensi-potensi masyarakat (khususnya di masyarakat sekitar PKBM) yang tidak mampu atau belum sempat dikembangkan oleh jalur pendidikan formal.
Pertanyaan penelitian yang akan dikaji dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Bagaimana urgensi keberadaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) bagi masyarakat sekitar wilayah Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur?
2. Bagaimana peranan yang dijalankan oleh PKBM Santika dalam rangka pengembangan masyarakat, mengacu kepada penerapan azas-azas dan konsep pendidikan orang dewasa dalam komponen pembentuk pendidikan dari PKBM Santika?
3. Sejauhmana upaya yang dijalankan oleh PKBM Santika untuk menyelesaikan berbagai hambatan pelaksanaan pendidikan dalam rangka mengembangkan masyarakat pembelajarnya?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan di dalam penulisan penelitian ini, terkait dengan perumusan masalah di atas, yaitu untuk:
1. Memahami urgensi keberadaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) bagi masyarakat sekitar wilayah Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur
2. Menganalisis peranan yang dijalankan oleh PKBM Santika dalam rangka pengembangan masyarakat, mengacu kepada penerapan azas-azas dan konsep pendidikan orang dewasa dalam komponen pembentuk pendidikan dari PKBM Santika
3. Mendeskripsikan upaya yang dijalankan oleh PKBM Santika untuk menyelesaikan berbagai hambatan pelaksanaan pendidikan dalam rangka mengembangkan masyarakat pembelajarnya.
1.4 Kegunaan Penelitian
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara akademik maupun praktis bagi para tutor dan pengelola PKBM sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan, serta pemahaman yang lebih mendalam seputar peranan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam rangka pengembangan masyarakat.
2. Bagi para tutor maupun pengelola PKBM, pemerintah setempat, serta dinas-dinas pendidikan terkait diharapkan mampu bekerjasama dalam upaya mengembangkan masyarakat (melalui pendidikan nonformal) yang belum berkesempatan untuk memperoleh pendidikan formal.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian dan Jenis Program Pendidikan Nonformal
Menurut Tim Penulis FKIP (2007), pendidikan masyarakat (community education) merupakan salah satu dari berbagai istilah yang muncul dalam bidang pendidikan. Dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan masyarakat lebih dikenal dengan pendidikan nonformal atau pendidikan luar sekolah. Coombs dalam Ihsan (2005) mengklasifikasikan pendidikan ke dalam tiga bagian, yaitu pendidikan informal, pendidikan formal, dan pendidikan nonformal. Klasifikasi pendidikan yang terakhir menurut teori Coombs yang dipaparkan Ihsan (2005), yakni pendidikan nonformal secara lebih spesifik di sebut juga dengan pendidikan luar sekolah yang dilembagakan. Pendidikan luar sekolah semacam ini adalah bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja, tertib, terarah dan berencana di luar kegiatan persekolahan. Dalam hal ini, tenaga pengajar, fasilitas, cara penyampaian, dan waktu yang dipakai, serta komponen-komponen lainnya disesuaikan dengan keadaan peserta, atau peserta didik agar didapat hasil yang memuaskan (Coombs dalam Ihsan, 2005).
Sejalan dengan pernyataan Coombs yang dikutip oleh Ihsan tersebut, pendidikan nonformal juga dapat didefinisikan sebagai jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang menurut UU No. 20 tahun 2003.
Sesuai dengan definisi pendidikan nonformal yang tertuang dalam UU No. 20 tahun 2003, menurut pengertian Axin dalam Soedomo (1989) yang dikutip Suprijanto (2007), pendidikan nonformal adalah kegiatan belajar yang disengaja oleh warga belajar dan pembelajar di dalam suatu latar yang diorganisasi (berstruktur) yang terjadi di luar sistem persekolahan.
Pendidikan nonformal terbagi ke dalam beberapa tipe umum (jenis) program-program. Adapun empat kategori yang harus didiskusikan yakni: pusat- pusat belajar berdasarkan sekolah, program-program pemuda nonformal, pendidikan dasar orang dewasa dan pengembangan masyarakat, dan training keterampilan kejuruan (Kadir, 1982). Berdasarkan Undang-undang No. 20 tahun 20032, pendidikan nonformal mencakup pendidikan Kecakapan Hidup, Anak Usia Dini, Kepemudaan, Pemberdayaan Perempuan, Keaksaraan, Keterampilan dan Pelatihan Kerja, Kesetaraan, dan pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Selain itu, satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.
Sejalan dengan isi UU No. 20 tahun 2003, menurut Sudjana (2006), program-program pendidikan luar sekolah mencakup pendidikan untuk keluarga, pendidikan dalam keluarga, kelompok bermain, taman penitipan anak, kelompok belajar keaksaraan fungsional, kelompok belajar paket (A, B, dan C), kelompok belajar usaha, kelompok berlatih olahraga, kursus-kursus, pelatihan, pengajian,
2 Lembaran Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, http://www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf, Diakses pada 23 November 2007.
pesantren, penyuluhan, magang, bimbingan belajar, kegiatan ekstrakurikuler, sanggar, padepokan, dan pembelajaran melalui media massa.
Sementara itu, adapun jenis-jenis pendidikan nonformal yang sekarang sedang dan akan terus dikembangkan mencakup Pendidikan Kecakapan Hidup, Anak Usia Dini, Kepemudaan, Pemberdayaan Perempuan, Keaksaraan, Keterampilan dan Pelatihan Kerja, Kesetaraan, dan pendidikan sejenis lainnya yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik (Tim FKIP, 2007).
Kesimpulan yang dapat dirumuskan, yakni: pengertian pendidikan nonformal sama halnya dengan definisi pendidikan masyarakat maupun pendidikan luar sekolah. Namun, berdasarkan klasifikasi Coombs yang tertuang dalam buku Dasar-dasar Kependidikan, pendidikan luar sekolah yang berarti pendidikan nonformal ialah pendidikan sekolah yang dilembagakan. Pendidikan nonformal merupakan bentuk atau jalur pendidikan di luar sistem persekolahan (pendidikan formal) yang terarah dan terencana, dilaksanakan dalam suatu organisasi (terstruktur dan berjenjang) yang ditujukan untuk pengembangan kemampuan peserta didik.
2.2 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
2.2.1 Definisi dan Jenis Program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan salah satu wadah dari program-program yang diluncurkan dari Direktorat Pendidikan Masyarakat Ditjen PLS.P. Berdasarkan definisi dari KNIU dan BP-PLS.P (2005), Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) adalah suatu wadah yang menyediakan informasi dan kegiatan belajar sepanjang hayat bagi setiap warga masyarakat agar
mereka dikelola dari, oleh, dan untuk masyarakat. PKBM menawarkan beberapa keuntungan bagi para warganya, yakni: PKBM adalah tempat terjadinya kegiatan pengembangan dan pembelajaran masyarakat yang didasarkan pada kebutuhan warga, PKBM menyelenggarakan pendidikan berkelanjutan bagi warga sehingga mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan kualitas hidup dalam bidang pendidikan, pendapatan, kesehatan, lingkungan, agama, seni, serta budaya, dan PKBM merangsang kemandirian warga yang memungkinkan mereka berkontribusi terhadap pembangunan yang terjadi di lingkungan masyarakatnya bahkan pada pembangunan bangsa.
PKBM memiliki beberapa jenis program yang terangkum di dalamnya (Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, 2003), yakni:
1. Program Pengembangan Anak Dini Usia (PADU)
2. Program Pemberantasan Buta Huruf melalui Pendekatan Keaksaraan Fungsional (KF)
3. Program Kesetaraan Pendidikan dasar melalui Paket A setara SD, Paket B setara SLTP dan Paket C setara SMU
4. Program Pendidikan berkelanjutan antara lain Kelompok Belajar Usaha, Beasiswa/ magang dan kursus-kursus
5. Program lintas sektoral lainnya.
Penjelasan di atas bermuara pada kesimpulan bahwa PKBM merupakan suatu wadah yang didirikan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Berbagai jenis program yang dijalankan oleh PKBM bermuara pada tujuan untuk memberdayakan masyarakat agar menjadi mandiri dan mampu memenuhi
kebutuhan belajarnya dalam rangka meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidupnya.
2.2.2 Urgensi Keberadaan PKBM
Disadari atau tidak, masyarakat di manapun dan dalam kondisi bagaimanapun, tetap merupakan sumber inspirasi dan kreativitas manusia. Dalam konteks pendidikan nonformal, pola-pola pendekatan selama ini yang berpatokan pada paradigma yang beranggapan bahwa pendidikan masyarakat harus bersifat standar, berorientasi akademis, dan masyarakat hanya sebagai objek pembangunan, harus bergeser ke arah yang lebih dinamis dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan pendidikan masyarakat sekaligus sebagai pihak yang sangat berhak menentukan jenis program yang akan dilakukan serta untuk menikmati hasil-hasil pembangunan Indonesia tersebut, serta tidak bersifat standar dan lebih berorientasi pada pasar. Kesadaran terhadap pentingnya kedudukan masyarakat dalam proses pembangunan pendidikan, merupakan tonggak sejarah yang penting dalam menghadapi era globalisasi. Saat yang tepat ini bukan merupakan keterlambatan dalam mengambil keputusan untuk peluncuran strategi baru yang lebih inovatif. Justru kesadaran ini merupakan akumulasi beberapa keberhasilan sebelumnya (Sihombing, 1999).
Bentuk kongkrit dari lahirnya kesadaran tersebut diwujudkan melalui pendekatan baru yang diharapkan dapat ditangkap oleh masyarakat sebagai pilihan terbaik guna membangkitkan kekuatan besar yang selama ini terpendam (Sihombing, 1999). Masih menurut pernyataan Sihombing (1999), pendekatan yang dimaksud olehnya ialah pendekatan yang disebut pendekatan pendidikan dengan basis masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM), dengan harapan dapat dijadikan pijakan dan titik permulaan bagi semua komponen pembangunan bagi semua komponen pembangunan untuk memberdayakan potensi-potensi yang ada di dalam masyarakat.
Sihombing (1999) menyatakan bahwa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih dan dijadikan ajang pemberdayaan masyarakat. Hal ini selaras dengan pemikiran bahwa dengan melembagakan PKBM, akan banyak potensi yang selama ini tidak tergali akan dapat digali, ditumbuhkan, dimanfaatkan dan didaya gunakan melalui pendekatan- pendekatan kultural dan persuasif. Selain itu, masih menurut Sihombing (1999), PKBM juga diharapkan mampu menjadi sentra seluruh kegiatan pembelajaran masyarakat; kemandirian dan kehandalannya perlu dijamin oleh semua pihak.
2.2.3 Implementasi Azas dan Konsep Pendidikan Orang Dewasa dalam PKBM
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan salah satu wadah bagi pelaksanaan program-program pendidikan nonformal. Terkait dengan situasi yang dihadapi Indonesia saat ini, di masa yang akan datang pendidikan yang dalam hal ini pendidikan nonformal harus berorientasi pada aspirasi masyarakat (put customer first). Implementasi program-program pendidikan nonformal harus mengenali siapa pelanggannya. Dari pengenalan pelanggan ini, pendidikan akan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya. Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan mereka, barulah ditentukan sistem pendidikan yang termasuk di dalamnya kurikulum, tenaga pengajar, dan lain-lain yang berkaitan dengan pendidikan (Chan, 2006).
Berkenaan dengan pernyataan tersebut, sebagai sebuah lembaga yang dibentuk dari, oleh, dan untuk masyarakat, secara kelembagaan, pada PKBM juga melekat beberapa azas. Azas-azas yang dianut oleh PKBM dapat dibagi menjadi tujuh azas, dan tidak menutup kemungkinan jika dikembangkan lagi dapat lebih dari tujuh, sepanjang azas-azas itu tidak saling bertentangan dan sesuai dengan misi yang harus diemban oleh PKBM. Azas-azas yang dimaksud meliputi (Sihombing, 1999):
1) Azas kemanfaatan, setiap kehadiran PKBM harus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dalam upaya memperbaiki dan mempertahankan kehidupannya.
2) Azas kebermaknaan, PKBM dengan segala potensinya harus mampu memberikan dan menciptakan program yang bermakna dan dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sekitar.
3) Azas kebersamaan, PKBM merupakan lembaga yang dikelola secara bersama-sama, bukan milik perorangan, bukan milik satu kelompok atau golongan tertentu, dan bukan milik pemerintah. PKBM adalah milik bersama, digunakan bersama, untuk kepentingan bersama.
4) Azas kemandirian, PKBM dalam pelaksanaan dan pengembangan kegiatan harus mengutamakan kekuatan diri sendiri. Meminta dan menerima bantuan dari pihak lain merupakan alternatif terakhir apabila kemandirian belum dapat tercapai.
5) Azas keselarasan, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh PKBM harus sesuai dan selaras dengan situasi dan kondisi masyarakat sekitar.
6) Azas kebutuhan, setiap kegiatan atau program pembelajaran yang dilaksanakan di PKBM harus dimulai dengan kegiatan pembelajaran yang benar-benar paling mendesak dibutuhkan oleh masyarakat.
7) Azas tolong menolong, PKBM merupakan ajang belajar dan pembelajaran masyarakat yang didasarkan atas rasa saling asah, asih, dan asuh di antara sesama warga masyarakat.
Persyaratan yang diperlukan di dalam melaksanakan pendidikan nonformal pada PKBM, yakni adanya 10 patokan pendidikan masyarakat yang harus dimiliki (minimal tujuh komponen), meliputi (Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, 2003):
1. Warga Belajar (WB)
Prioritas adalah WB sekitar PKBM usia 10-44 tahun, buta aksara, putus sekolah: SD, SLTP, SLTA, dari keluarga kurang mampu atau miskin, dan warga masyarakat sekitar PKBM yang ingin memperoleh pengetahuan atau keterampilan di jalur pendidikan luar sekolah.
2. Kelompok Belajar
Kumpulan warga belajar yang terdiri dari minimal 3-5 orang, maksimal 20-40 orang yang diikat dalam satu kelompok belajar pendidikan luar sekolah (KF, Paket A, Paket B, Paket C, Kejar Usaha, Beasiswa atau Magang).
3. Sumber Belajar (Tutor)
Adalah warga masyarakat (guru) atau warga masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan serta mau mengabdi kepada warga masyarakat dengan jalan mengajar pendidikan dan keterampilan tertentu.
4. Pamong Belajar (Penyelenggara, Pengelola, Pelaksana)
Adalah seseorang yang telah diserahi tanggung jawab menyelenggarakan atau mengelola PKBM.
5. Sarana Belajar
Adalah semua sarana atau alat yang menunjang berjalannya kegiatan proses belajar mengajar: (buku, alat tulis, alat peraga pendidikan, dan sebagainya).
6. Panti Belajar
Adalah bangunan (gedung) yang digunakan sebagai tempat atau lokasi PKBM, yaitu:
- Gedung sekolah atau bangunan lain yang tidak digunakan lagi.
- Gedung sekolah atau bangunan ada izin dari kepala sekolah atau pemilik untuk digunakan sebagai PKBM minimal dalam jangka waktu lima tahun.
- Gedung sekolah atau bangunan minimal memiliki dua ruangan (kelas).
- Gedung sekolah atau bangunan letaknya tidak jauh dari warga masyarakat yang akan belajar di PKBM.
7. Program Belajar
Beragam program pembelajaran yang dibutuhkan masyarakat.
8. Ragi Belajar
Sesuatu yang dapat memotivasi kegiatan atau meningkatkan prestasi belajar warga masyarakat (warga belajar), seperti pujian, penghargaan, lomba, dan dana insentif dalam rangka peningkatan mutu.
9. Dana Belajar
Dana yang diberikan kepada warga belajar untuk menunjang proses kegiatan belajar keterampilan dalam upaya melatih warga belajar untuk melakukan usaha produktif yang mengarah pada peningkatan mata pencaharian (program yang dibiayai oleh pemerintah).
10. Hasil Belajar
Hasil yang telah dicapai oleh warga belajar baik kualitatif maupun kuantitatif setelah warga belajar menyelesaikan program relajar atau pendidikan tertentu di PKBM berupa:
- Hasil dari kegiatan belajar
- Hasil dari keterampilan warga belajar - Pemasaran hasil keterampilan
Terkait dengan peranan yang dijalankan lembaga pendidikan nonformal seperti PKBM, dalam pelaksanaan program-programnya, para sumber belajar (tutor) perlu memahami dan menerapkan konsep dasar pendidikan orang dewasa (Andragogy) yang dalam penelitian ini dibatasi hanya terfokus pada metode pembelajaran yang diterapkan oleh tutor dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan terjadi di dalam kelas.
Pendidikan orang dewasa berdasarkan rumusan Suprijanto (2007) merupakan serangkaian aktivitas pendidikan bagi orang dewasa yang menggunakan sebagian waktunya dan tanpa dipaksa ingin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan mengubah sikapnya dalam rangka pengembangan dirinya sebagai individu dan meningkatkan partisipasi dalam pengembangan sosial,ekonomi, dan budaya secara seimbang dan utuh. Pendidikan orang dewasa berbeda dengan pendidikan anak-anak.
Menurut Suprijanto (2007), Pendidikan anak-anak berlangsung dalam bentuk identifikasi dan peniruan, sedangkan pendidikan orang dewasa berlangsung dalam bentuk pengarahan diri sendiri untuk memecahkan masalah.
Berdasarkan Permendiknas No.3 tahun 2008 dirumuskan bahwa metode pembelajaran digunakan oleh pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
Berdasarkan rumusan tersebut, adapun penjelasan lebih lanjut mengenai metode pembelajaran di PKBM dapat diketahui dari pemaparan metode penyajian formal sebagai berikut. Menelaah paparan dari Suprijanto (2007), Ceramah atau kuliah adalah penyajian secara lisan oleh pembicara dengan menggunakan pemikiran dan ide yang terorganisasi. Masih menurut paparan Suprijanto (2007), Kuliah adalah cara yang cepat untuk memberikan informasi dan dengan menggunakan “catatan kuliah” dapat berpindah dari satu pemikiran ke pemikiran lain secara logis. Namun, pada ceramah dan kuliah yang asli, peserta tidak aktif sehingga pertemuan dinilai kurang positif (Morgan, et al., 1976 dalam Suprijanto, 2007).
Sejalan dengan peran tutor, kegiatan pembelajaran menurut penjabaran Permendiknas No.3 tahun 2008 dibagi ke dalam tiga tahapan, yakni: pendahuluan, inti dan penutup. Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Kegiatan inti, merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar.
Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Tahapan kegiatan ketiga ialah penutup. Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian diri dan refleksi, umpan balik, serta tindak lanjut.
Penjelasan di atas merumuskan bahwa PKBM sebagai wadah pendidikan nonformal memiliki peranan sebagai fasilitator dalam rangka pengembangan masyarakat. Berbagai jenis kegiatan yang mencakup Pendidikan, Keterampilan kerja, Layanan informasi, Kesehatan dan Kebersihan, Peningkatan kualitas hidup, Agama dan Budaya, dan kegiatan lainnya membuka kesempatan bagi setiap orang untuk menggagas, membuat keputusan, dan bertindak menuju tujuan akhir:
Pemberdayaan masyarakat. Selain itu, dari penerapan azas-azas dan konsep pendidikan orang dewasa dalam komponen pembentuk pendidikan di PKBM dapat dikaji lebih jauh mengenai peranan tiap-tiap komponen dalam rangka pengembangan masyarakat khususnya masyarakat di sekitar lokasi PKBM.
Peranan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam rangka pengembangan masyarakat sekitar akan tercermin antara lain dari keberhasilannya untuk mendorong masyarakat belajar secara mandiri, membantu memperkuat pemberdayaan masyarakat dalam rangka pemenuhan kebutuhannya serta kontribusi PKBM terhadap kelangsungan serta peningkatan budaya masyarakat setempat melalui prinsip partisipasi sosial.
2.3 Konsep dan Prinsip Pengembangan Masyarakat
Pengembangan Masyarakat (community development) sebagai suatu perencanaan sosial diartikan oleh Faisal (1981) dalam Suprijanto (2007) sebagai usaha, proses atau gerakan yang dimaksudkan agar masyarakat sebagai satu sistem sosial dapat berkembang menjadi mampu menolong diri sendiri dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya baik dibidang ekonomi maupun sosial.
Seiring dengan pernyataan tersebut, Mardikanto (2003) dalam Suprijanto (2007) memberi arti pengembangan masyarakat sebagai usaha yang dilakukan oleh suatu komunitas (dengan atau tanpa bantuan pihak lain) untuk menumbuhkan kesadaran, mengembangkan daya pikir, sikap, dan keterampilan masyarakat setempat agar mereka secara mandiri mampu memanfaatkan potensi dan peluang untuk mengelola program pembangunan demi perbaikan kualitas hidup mereka secara berkelanjutan.
Menurut Suharto (2006), pengembangan masyarakat adalah salah satu metode pekerjaan sosial yang tujuan utamanya untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pendayagunaan sumber-sumber yang ada pada mereka serta menekankan pada prinsip partisipasi sosial. Pemerintah kolonial Inggris pada tahun 1948 di Malaysia juga pernah mengartikan bahwa pengembangan masyarakat adalah suatu gerakan yang dirancang guna meningkatkan taraf hidup keseluruhan masyarakat melalui partisipasi aktif dan inisiatif dari masyarakat (Brokensha dan Hodge, 1969 dalam Adi, 2003).
Beberapa pengertian pengembangan masyarakat dari tokoh-tokoh di atas, menggambarkan bahwa pengembangan masyarakat adalah usaha, cara, ataupun metode yang dilakukan oleh suatu komunitas masyarakat agar mampu
meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan serta mencapai kemandirian dan keberdayaan, melalui penekanan pada partisipasi aktif, inisiatif, dan proses pencapaian yang berkelanjutan.
Selanjutnya, terdapat 22 prinsip pengembangan masyarakat yang saling berkaitan seperti berikut ini3:
1. Integrated Development ( Pembangunan Terpadu)
Proses pengembangan masyarakat tidak berjalan secara parsial tetapi merupakan satu kesatuan proses pembangunan yang mencakup aspek sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, lingkungan, dan personal.
2. Confronting Structural Disadvantage (Konfrontasi dengan Kebatilan Struktural)
Prinsip ini mengakar pada perspektif keadilan sosial dalam pengembangan masyarakat. Oleh karena itu, community workers harus waspada serta memperhitungkan kompleksitas yang ditemukan dalam suatu komunitas.
3. Human Rights (Hak Asasi Manusia)
HAM sangat mendasar dan penting bagi community workers. Struktur masyarakat dan program yang dikembangkan tidak melanggar hak-hak asasi manusia. Oleh karena itu, program pengembangan masyarakat harus mengacu kepada prinsip-prinsip dasar HAM.
3 Jime Ife, “Community Development: creating community alternatives-vision, analysis and practice”, di dalam Fredian Tonny Nasdian, Pengembangan Masyarakat (Bogor: Fakultas Pertanian IPB, 2003), hlm. 37-45.
4. Sustainability (Keberlanjutan)
Program pengembangan masyarakat berada dalam kerangka sustainability yang berupaya mengurangi ketergantungan kepada sumberdaya yang tidak tergantikan dan menciptakan alternatif serta tatanan ekologis, sosial, ekonomi, politik yang berkelanjutan di tingkat lokal.
5. Empowerment (Pemberdayaan)
Pemberdayaan harus menjadi tujuan program pengembangan masyarakat.
Makna pemberdayaan adalah “membantu” komunitas dengan sumberdaya, kesempatan, keahlian, dan pengetahuan agar kapasitas komunitas meningkat sehingga dapat berpartisipasi menentukan kapasitas mereka di masa depan.
6. The Personal and The Political (Pribadi dan Politik)
Pengembangan masyarakat perlu membangun keterkaitan antara aspek pribadi dan politik, individu dan struktur, masalah pribadi dan isu umum.
7. Community Ownership (Kepemilikan Komunitas)
Kepemilikan komunitas menjadi aspek penting yang dapat membantu menciptakan identitas dan memberikan alasan untuk aktif dalam program pengembangan masyarakat dan mengefisienkan sumberdaya di tingkat komunitas.
8. Self-Reliance (Kemandirian)
Prinsip ini mengimplikasikan agar warga komunitas mencari atau berusaha menggunakan sumberdaya sendiri apabila memungkinkan daripada menyandarkan diri pada bantuan luar.
9. Independence from The State (Ketidaktergantungan pada Pemerintah)
Prinsip ini berkaitan erat dengan kemandirian dari suatu komunitas.
Community workers dan warga komunitas harus lebih berhati-hati sebelum
menerima bantuan pemerintah namun tanpa harus menciptakan kecurigaan yang berlebihan terhadap pemerintah.
10. Immediate Goals and Ultimate Visions (Tujuan dan Visi)
Tindakan untuk tujuan langsung tidak dibenarkan bila tidak sesuai dengan visi jangka panjang. Tindakan yang ditujukan untuk pencapaian visi jangka panjang juga tidak dibenarkan jika bertentangan dengan pencapaian tujuan.
11. Organic Development (Pembangunan Bersifat Organik)
Community workers harus mampu menghargai dan menilai sikap tertentu warga komunitas, mengizinkan dan mendorongnya untuk berkembang pada jalannya yang memiliki keunikan masing-masing.
12. The Pace of Development (Kecepatan Gerak Pembangunan)
Prinsip ini menekankan agar proses pembangunan dibiarkan berjalan dengan sendirinya tanpa dipercepat.
13. External Expertise (Keahlian Pihak Luar)
Pendekatan ini tidak boleh ditetapkan tetapi harus secara alami dikembangkan dengan cara yang sesuai dengan situasi spesifik dan peka terhadap kebudayaan, tradisi masyarakat setempat, dan lingkungan.
14. Community Building (Membangun Komunitas)
Pengembangan masyarakat membawa warga komunitas ke dalam kegiatan bersama, penyelesaian masalah bersama, dan memperkuat interaksi yang bersifat formal dan informal.
15. Process and Outcome (Proses dan Hasilnya)
Dalam pengembangan masyarakat, proses dan hasil adalah dua hal yang tak terpisahkan dan saling menunjang sehingga keduanya menjadi penting.
16. The Integrity of The Process (Keterpaduan Proses)
Proses yang digunakan untuk mencapai tujuan harus sesuai dengan hasil- hasil yang diharapkan, perihal keberlanjutan, keadilan sosial, dan lain-lain.
17. Non-Violence (Tanpa Kekerasan)
Pengembangan komunitas dilaksanakan tanpa kekerasan struktural, yakni dengan cara tanpa mengubah lembaga yang ada dan struktur sosial masyarakat, serta melakukan perubahan melalui proses tanpa kekerasan.
18. Inclusiveness (Inklusif)
Prinsip ini menekankan agar community workers tetap menghargai orang lain walaupun orang tersebut berlawanan pandangan.
19. Consensus (Konsensus)
Penerapan prinsip ini ialah agar orang-orang yang terlibat dalam proses mencari penyelesaian terhadap suatu permasalahan dapat mencapai persetujuan dan betul-betul menyadari bahwa keputusan yang diambil adalah yang baik.
20. Co-operation (Kerjasama)
Pendekatan pengembangan komunitas berusaha membuat kerjasama pada tindakan masyarakat setempat, dengan cara membuat orang-orang bersama dan mencari untuk memberi imbalan pada prilaku kerjasama.
21. Participation (Partisipasi)
Partisipasi dalam pengembangan komunitas harus menciptakan peran serta yang maksimal dengan tujuan agar semua orang dalam masyarakat tersebut dapat dilibatkan secara aktif pada proses dan kegiatan masyarakat.
22. Defining Need (Mendefinisikan Kebutuhan)
Dalam pengembangan komunitas, pendekatan harus mencari persetujuan dari berbagai macam kebutuhan. Untuk itu, peranan community workers yang sangat penting adalah membangun konsensus dari beragam kebutuhan warga komunitas.
2.4 Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat
Pendidikan sebagai salah satu sektor yang paling penting dalam pembangunan nasional, dijadikan andalan utama untuk berfungsi semaksimal mungkin dalam upaya meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia (Ihsan, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya dilihat sebagai usaha penyampaian informasi dan pengajaran keterampilan semata, tetapi juga mencakup usaha untuk menjawab kebutuhan dari tiap individu masyarakat.
Dilihat dari konsep pendidikan, masyarakat merupakan sekumpulan banyak orang dari beragam kualitas diri mulai dari yang tidak berpendidikan sampai dengan yang berpendidikan tinggi.
Di lain pihak, dilihat dari lingkungan pendidikan, masyarakat disebut sebagai lingkungan pendidikan nonformal yang memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh anggotanya, tetapi tidak sistematis (Ihsan, 2005).
Masih menurut Ihsan (2005), masyarakat dan pendidikan memiliki keterkaitan dan saling berperan. Hal ini didukung pula oleh realita di era sekarang ini di mana setiap orang selalu menyadari akan peranan dan nilai pendidikan. Oleh karena itu, seperti pernyataan Syam (1986) yang dikutip oleh Ihsan (2005), setiap warga masyarakat bercita-cita dan aktif berpartisipasi untuk membina pendidikan karena masyarakat maju karena pendidikan dan pendidikan yang maju hanya akan ditemukan dalam masyarakat yang maju pula.
Kesimpulan yang dapat dirumuskan adalah: terdapat keterkaitan erat antara pendidikan dan pengembangan masyarakat karena melalui pendidikan diupayakan suatu proses pengembangan masyarakat melalui beragam pembekalan yang berujung pada perbaikan kualitas hidup masyarakat dalam rangka pencapaian tujuan yang mereka harapkan. Pada sisi lain, keberhasilan dari pengembangan masyarakat pada suatu wilayah tertentu diharapkan akan mampu mendorong terciptanya kualitas pendidikan masyarakat yang semakin maju pada wilayah tersebut.
Menurut Ihsan (2005), masyarakat mempunyai peranan yang penting dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Peran yang telah disumbangkan dalam rangka tujuan pendidikan nasional yakni berupa ikut membantu menyelenggarakan pendidikan, membantu pengadaan tenaga biaya, prasarana dan sarana, menyediakan lapangan kerja, biaya, membantu pengembangan profesi baik secara langsung maupun tidak langsung.
Masih berdasarkan paparan Ihsan (2005), peranan masyarakat tersebut dilaksanakan melalui jalur perguruan swasta, dunia usaha, kelompok profesi dan lembaga swasta nasional lainnya. Dalam sistem pendidikan nasional masyarakat ini disebut ”Pendidikan Kemasyarakatan”.
Program-program pendidikan masyarakat, sesuai dengan namanya, telah melebur dan bersenyawa dengan masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan masyarakat seharusnya meliputi: seluruh warga masyarakat, yang membutuhkan pendidikan yang karena berbagai hal tidak mampu atau sempat untuk mengikuti pendidikan di jalur sekolah sepenuhnya, warga masyarakat yang ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya yang tidak diperoleh pada jalur sekolah, masyarakat yang sudah atau akan bekerja namun dituntut memiliki kualifikasi tertentu yang tidak diperoleh dari jalur sekolah, serta masyarakat yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Sihombing, 1999).
Beragam satuan pendidikan nonformal termasuk pula di dalamnya PKBM, harus menghadapi berbagai hambatan terkait dengan kinerja program-program yang dijalankan di dalamnya. Berbagai hambatan pendidikan masyarakat dapat digambarkan sebagai berikut (Sihombing, 1999):
1. Perkembangan program belum diimbangi jumlah dan mutu yang memadai.
Misalnya, penilik Dikmas masih ada beberapa yang menangani lebih dari satu kecamatan, dan dari kecamatan yang ada belum seluruhnya memiliki penilik Dikmas. Demikian pula dengan kebutuhan akan tutor, sebagai contoh untuk paket B setara SLTP, seharusnya membutuhkan rata-rata delapan orang tutor, kenyataannya dilapangan baru dapat dipenuhi rata-rata lima orang tutor untuk setiap kelompok belajar.
2. Ratio modul untuk warga belajar program kesetaraan (Paket A, B, C) masih jauh dari mencukupi. Pada kenyataannya, ratio modul baru mencapai 1 : 3 (satu set modul untuk tiga orang warga belajar). Hal ini terjadi karena pengadaan modul murni dari pemerintah.
3. Tidak ada tempat belajar yang pasti. Hal ini menyebabkan adanya kesukaran pemantauan kebenaran pelaksanaan program pembelajaran.
4. Kualitas hasil pembelajaran sulit dilihat kebenarannya dan sukar diukur tingkat keberhasilannya. Hal ini terjadi karena pemerintah di dalam melaksanakan pembelajaran bisa di mana saja dan akan terjadi seperti apa yang ditulis di atas kertas. Secara teoritis memang benar, tetapi dalam pelaksanaannya sulit dipertanggung jawabkan.
5. Lemahnya akurasi data atau informasi tentang sasaran program. Kondisi ini disebabkan terbatasnya tenaga di lapangan baik kuantitas maupun kualitas serta sarana dan prasarana pendukungnya yang belum memadai.
6. Jadwal pelaksanaan belajar mengajar yang tidak selalu dapat dilaksanakan tepat waktu.
2.5 Kerangka Pemikiran
Pendidikan nonformal yang saat ini disebut juga dengan Pendidikan Luar Sekolah (PLS), merupakan salah satu jalur pendidikan di samping pendidikan formal. Berdasarkan latar belakang adanya life long educational program yang merupakan program pendidikan seumur hidup yang pada intinya menekankan bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar, dan adanya kesepakatan Diklusepora pada tahun 1998 mengenai pentingnya dirintis suatu tempat pembelajaran di tengah-tengah masyarakat, dengan program yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat, maka mulai sejak itu dirintis sebuah wadah pelaksana pendidikan luar sekolah yang berwujud Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
PKBM Santika di wilayah Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur merupakan salah satu PKBM di wilayah perkotaan. Sejalan dengan hal tersebut, urgensi keberadaan PKBM di wilayah Cipayung, Jakarta Timur ditandai oleh beberapa kondisi diantaranya: penyesuaian prioritas calon warga belajar oleh PKBM, dan adanya “pengikraran” ijazah sebagai penentu dari peningkatan kualitas hidup masyarakat oleh “pasar”.
Beragam program dikembangkan oleh PKBM, salah satunya Program Kesetaraan (Paket A, B, dan C). Program belajar merupakan salah satu dari 10 komponen pendidikan masyarakat yang dimiliki oleh setiap PKBM. Terkait dengan pembahasan seputar keberadaan ijazah sebagai tuntutan “pasar”, adapun program yang dikaji lebih lanjut dalam penelitian ini adalah Program Kesetaraan Paket C. Secara umum, PKBM terbagi menjadi dua tipe, yaitu: PKBM negeri dan PKBM swasta. Sesuai dengan penjabaran mengenai netralitas PKBM, dalam
penelitian ini tipe PKBM yang dikaji adalah PKBM swasta. Peranan yang dijalankan PKBM Santika dalam mengembangkan masyarakat dikaji dengan melihat realisasi azas-azas yang dianut PKBM yang mencerminkan prinsip pengembangan masyarakat. Selain itu, peranan PKBM Santika juga dapat dikaji dari penerapan konsep pendidikan orang dewasa dalam proses pembelajaran yang sejalan dengan Permendiknas No.3 tahun 2008.
Upaya penguatan kinerja organisasi dan keswadayaan masyarakat senantiasa dilakukan oleh PKBM agar mampu mengatasi beragam hambatan dalam pelaksanaan pendidikan masyarakat, baik berupa hambatan organisasional maupun manusiawi. Keberhasilan PKBM dalam rangka mendorong pengembangan masyarakat (pemberdayaan warga belajar) tercermin dari beberapa indikator pencapaian tujuan yang meliputi: partisipasi, pemberdayaan, dan kemandirian.
Hasil pencapaian indikator tersebut ditandai oleh peranan PKBM dalam hal penyelenggaraan, yakni: jumlah program semakin meningkat dan bermutu, bertambahnya jumlah mitra kerja, dukungan pendanaan memadai yang mandiri, sarana dan prasarana memadai, fungsi-fungsi organisasi berjalan lancar, partisipasi masyarakat meningkat, dan kesesuaian program dengan kebutuhan masyarakat, serta pengelolaan pembelajaran yang meliputi: proses pembelajaran berjalan baik dan lancar, meningkatnya pengetahuan atau wawasan, keterampilan, dan kemampuan warga belajar, meningkatnya kesadaran warga belajar akan pentingnya pendidikan atau keterampilan, dan terbukanya kesempatan bagi warga belajar untuk meningkatkan pendapatan atau kesejahteraan.
Keterangan:
: Berhubungan
: Mempengaruhi
Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran Pendidikan Nonformal
Pengembangan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
Program Kesetaraan (Paket C) Di wilayah Cipayung
PKBM swasta
Konsep andragogy dalam proses pembelajaran
- Metode belajar
Realisasi tujuh azas yang dianut PKBM Keputusan
Ditjen Diklusepora Tahun 1998
Penyesuaian prioritas calon WB oleh PKBM
Perolehan ijazah dan kebutuhan
“pasar”
Mendorong Pengembangan Masyarakat
Indikator:
- Partisipasi - Pemberdayaan
Kemandirian
Hambatan pelaksanaan pendidikan
Upaya penyelesaian beragam hambatan oleh PKBM
2.6 Hipotesis Pengarah
1. Urgensi Keberadaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) bagi masyarakat sekitar wilayah Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur dikondisikan oleh pola-pola pendekatan yang selama ini yang berpatokan pada paradigma yang beranggapan bahwa pendidikan masyarakat harus bersifat standar, berorientasi akademis, dan masyarakat hanya sebagai objek pembangunan, bergeser ke arah yang lebih dinamis dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan pendidikan masyarakat sekaligus sebagai pihak yang sangat berhak menentukan jenis program yang akan dilakukan serta untuk menikmati hasil-hasil pembangunan Indonesia tersebut, serta tidak bersifat standar dan lebih berorientasi pada pasar.
2. Peranan PKBM dalam rangka pengembangan masyarakat ditunjukkan oleh penerapan prinsip-prinsip pengembangan masyarakat yang dikaji berdasarkan realisasi azas-azas dan konsep pendidikan orang dewasa (Andragogy) sebagai metode dan kegiatan pembelajaran di dalam komponen pendidikan PKBM. Beragam komponen tersebut minimal mencakup tujuh dari 10 komponen pendidikan. Peranan lembaga pendidikan nonformal seperti PKBM dalam rangka pengembangan masyarakat tercapai oleh kemampuannya untuk mencapai indikator keberhasilan PKBM.
3. Beragam upaya yang sedang dilakukan oleh PKBM tampaknya masih belum mampu mengatasi beragam hambatan pelaksanaan pendidikan yang dihadapi PKBM, seperti: perkembangan program belum diimbangi jumlah dan mutu yang memadai, ratio modul untuk warga belajar program kesetaraan (Paket A, B, C) masih jauh dari mencukupi, Kualitas hasil pembelajaran sulit dilihat kebenarannya dan sukar diukur tingkat keberhasilannya, Lemahnya akurasi data atau informasi tentang sasaran program, dan Jadwal pelaksanaan belajar mengajar yang tidak selalu dapat dilaksanakan tepat waktu. Namun, sejauh ini permasalahan seputar tidak adanya tempat belajar yang pasti diduga sudah teratasi oleh adanya PKBM. Selain itu, Sifat netral yang dimiliki oleh PKBM dalam upaya penguatan kinerja organisasi dan keswadayaan masyarakat memberi kesan bahwa PKBM hanya sebuah ajang bisnis yang kurang menempatkan warga belajar sebagai subjek. Hal ini juga memungkinkan untuk penciptaan masalah baru terkait peranan PKBM dalam pengembangan masyarakat yang perlu diupayakan penyelesaiannya oleh PKBM.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Strategi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena dianggap mampu memberikan pemahaman yang mendalam dan rinci berkenaan dengan suatu peristiwa atau gejala sosial yang dalam hal ini mengenai peranan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam rangka pengembangan masyarakat sekitar. Selain itu, pendekatan kualitatif mampu menggali berbagai realitas dan proses sosial maupun makna berdasarkan kepada pemahaman (pada penelitian ini berkenaan dengan ilmu kependidikan dan pengembangan masyarakat) yang berkembang dari para subjek penelitian.
Pendekatan kualitatif lebih memfokuskan kedalaman dan kecukupan informasi sehingga dalam penelitian yang mengkaji lebih dalam tentang peranan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam rangka pengembangan masyarakat, jumlah responden bukan menjadi pertimbangan pokok.
Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Tipe studi kasus yang dipilih ialah studi kasus instrumental, seperti yang dikemukakan oleh Stake dalam Sitorus (1998), bahwa studi kasus instrumental merupakan kajian atas suatu kasus khusus untuk memperoleh wawasan atas suatu isu atau wawasan untuk penyempurnaan teori. Dalam hal ini kasus tersebut merupakan instrumen bagi peneliti dalam memahami permasalahan tertentu. Kasus khusus yang dibahas dalam penelitian ini adalah keberadaan sebuah wadah pendidikan nonformal berwujud PKBM terkait dengan pengembangan masyarakat di sekitarnya.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja, yaitu di PKBM Santika, Jl. Bambu Wulung No. 2, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. PKBM tersebut dipilih karena sangat terkait dengan kasus penelitian, dengan alasan antara lain: pertama, PKBM Santika merupakan salah satu PKBM di Kecamatan Cipayung yang aktif dalam hal kinerja program (PKBM Santika menjalankan program kesetaraan paket B dan C, serta keterampilan tambahan bagi warga belajar Paket C berupa kursus komputer).
Kedua, PKBM Santika merupakan PKBM swasta yang dikelola secara swadaya oleh sebuah yayasan yang diharapkan sesuai untuk dijadikan tempat penelitian dalam hal mengetahui peranan ”aktor penggerak” dalam PKBM, yakni pemilik yayasan sebagai ketua pengelola PKBM yang juga hendak diteliti dalam penelitian ini. Pemilihan lokasi diharapkan mampu membantu peneliti dalam mencapai tujuan penelitian.
Fokus penelitian ini adalah warga belajar paket C yang sedang belajar di kelas III. Hal ini dikarenakan, berdasarkan pada hasil penjajagan awal diperoleh data bahwa: pertama, pada dasarnya semua program pendidikan nonformal pada PKBM bertujuan untuk mengembangkan masyarakat sehingga peneliti diberi keleluasaan untuk memilih jenis program apapun (pada PKBM) untuk dijadikan kajian penelitian mengenai pengembangan masyarakat atau pemberdayaan.
Kedua, pemilihan warga belajar kelas III pada paket C di PKBM Santika, dengan warga di dalamnya yang sebagian telah melewati pembelajaran pada tingkatan kelas dibawahnya (kelas I dan II) di PKBM tersebut, serta dengan lebih banyaknya jumlah warga belajar paket C diharapkan mampu membantu peneliti
untuk mendapat data yang lebih mendalam dan informasi yang lebih luas dari para warga belajar program paket C tersebut.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juni 2008. Kurun waktu penelitian yang ditetapkan peneliti mencakup waktu semenjak peneliti menyusun draft proposal penelitian sampai dengan terselesaikannya skripsi.
Proses pengenalan lapang tahap awal (penjajagan) termasuk ke dalam kurun waktu tersebut yang telah dilakukan selama dua minggu pada bulan Februari, sedangkan tahap pengumpulan data dilakukan selama satu bulan pada bulan April (Lampiran 2).
3.3 Penentuan Subjek Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan fakta mengenai peranan PKBM dalam rangka pengembangan masyarakat. Oleh karena itu, yang menjadi dasar pemilihan subjek penelitian bukanlah populasi melainkan keterwakilan aspek permasalahan. Subjek penelitian dipilih secara purposif dengan jumlah yang bergantung pada sumbangan pemahaman subjek terhadap kajian penelitian.
Satuan analisis dalam penelitian ini adalah dua komponen dalam struktur organisasi PKBM Santika, yakni para pengurus PKBM dan komunitas warga belajar di dalamnya; dalam hal ini mencakup tiga orang pengelola PKBM Santika dan tiga orang tutor, serta enam orang warga belajar yang mengikuti program kesetaraan paket C (setara SMU) pada PKBM Santika. Sementara, informan dalam penelitian ini terdiri dari Ketua Pengelola PKBM Santika, Lulusan warga belajar pada program Paket C di PKBM Santika, Kasi Dikmenti Kecamatan Cipayung, dan informan lain yang diperoleh melalui teknik bola salju (snowball).
Informan lain diperoleh dengan menanyakan pada informan kunci tentang siapa
saja orang-orang yang dapat memberikan informasi sesuai dengan topik penelitian (Lampiran 12). Responden dipilih secara sengaja (purposif), dengan rekomendasi dari informan kunci yang juga menjadi responden dalam penelitian ini (Ketua Pengelola PKBM Santika), dan merupakan temuan peneliti.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Denzin (1970) dalam Sitorus (1998) mengartikan triangulasi sebagai kombinasi dari sumber data, tenaga peneliti, teori, dan metodologi dalam suatu penelitian tentang gejala sosial. Berdasarkan hal tersebut, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data triangulasi dengan memadukan teknik pengamatan, wawancara, dan analisis dokumen untuk dapat memperoleh kombinasi data yang akurat. Data kualitatif yang diperoleh dapat berupa data primer dan sekunder (Lampiran 3).
Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam, dan pengamatan berperanserta kepada sejumlah responden dan informan yang berada di PKBM Santika serta informan di luar PKBM Santika, yakni Kasi Dikmenti Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Sebagai tahap awal pengumpulan data dilakukan dengan cara sengaja (purposif), yakni dengan mendatangi lokasi penelitian dan mewawancara pengelola PKBM sampai selanjutnya menggiring pada responden dan juga informan lain. Wawancara mendalam pada tahap awal dilakukan dengan pendekatan informal dengan responden dan sejumlah informan. Hal ini peneliti lakukan untuk dapat membina Rapport (Lampiran 8, 9, dan 10).
Foto: Lulu Chairiza.
Gambar 2. Situasi Wawancara Mendalam dengan Tutor PKBM Santika
Pengamatan berperanserta terbatas juga dilakukan peneliti dengan melibatkan diri ke dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas dan kegiatan belajar komputer agar dapat mengamati partisipasi warga belajar pada program paket C tersebut dengan lebih seksama dan penerapan metode pembelajaran yang dilakukan oleh para tutor dan kegiatan tutorial yang dilakukan. Selain itu, selama berada di lapangan, peneliti juga melakukan pengamatan berperanserta terbatas untuk memahami aktivitas yang terjadi antara tutor, pengelola, dan warga belajar di PKBM Santika setiap harinya.
Peneliti membuat panduan pertanyaan untuk wawancara mendalam agar memudahkan penelitian. Hasil dari wawancara mendalam dan pengamatan ini penulis tuangkan dalam bentuk catatan harian yang menjadi data primer di dalam penelitian ini. Pencatatan hasil tersebut peneliti lakukan sesegera mungkin, yakni sebelum 24 jam setelah peneliti selesai mengambil data setiap harinya. Hal ini dilakukan agar memudahkan peneliti dalam mengingat data-data yang diperoleh.
Data sekunder merupakan data-data yang didapat dari dokumen-dokumen yang terkait dengan penelitian. Dokumen tersebut diperoleh dari arsip-arsip PKBM yang bersangkutan, antara lain: Persentase jumlah warga belajar Program Paket C
tahun 2007/2008, Struktur organisasi PKBM Santika, Profil tutor, Jadwal kegiatan belajar Paket C, Perkembangan jumlah warga belajar yang mengikuti ujian nasional Program Kesetaraan Paket C pada PKBM Santika, serta dokumen lain yang terkait dengan penerapan pendidikan di PKBM Santika. Sementara, data- data lain diperoleh dari data kependidikan di PLS setempat serta buku-buku mengenai ilmu kependidikan dan pengembangan masyarakat ataupun jurnal dalam internet yang terkait dengan topik penelitian.
3.5 Teknik Analisis Data
Saat melakukan pengumpulan data di lapangan peneliti juga melakukan analisis data. Semua data yang telah didapat kemudian diolah melalui tiga jalur analisis data kualitatif yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman, 1992). Tahapan analisis data primer dan sekunder yang peneliti lakukan dijabarkan sebagai berikut:
- Reduksi data, merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data ”kasar” yang muncul dari beberapa catatan tertulis di lapangan. Catatan tertulis yang disebut juga catatan harian diperoleh dari hasil wawancara maupun hasil pengamatan berperanserta terbatas yang dipilih berdasar kategorisasi data yang sesuai dengan pertanyaan penelitian. Reduksi dalam proses pengumpulan data mencakup kegiatan meringkas data, mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, dan menulis memo (Sitorus, 1998). Reduksi ditujukan untuk menajamkan, menggolongkan, mengeliminasi yang tidak perlu, dan mengorganisir data untuk memperoleh kesimpulan akhir. Berdasarkan