• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Azas dan Konsep Pendidikan Orang Dewasa

Dalam dokumen Oleh: Andhini Nurul Fatimah A (Halaman 28-36)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat

2.2.3 Implementasi Azas dan Konsep Pendidikan Orang Dewasa

masyarakat; kemandirian dan kehandalannya perlu dijamin oleh semua pihak.

2.2.3 Implementasi Azas dan Konsep Pendidikan Orang Dewasa dalam PKBM

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan salah satu wadah bagi pelaksanaan program-program pendidikan nonformal. Terkait dengan situasi yang dihadapi Indonesia saat ini, di masa yang akan datang pendidikan yang dalam hal ini pendidikan nonformal harus berorientasi pada aspirasi masyarakat (put customer first). Implementasi program-program pendidikan nonformal harus mengenali siapa pelanggannya. Dari pengenalan pelanggan ini, pendidikan akan memahami apa aspirasi dan kebutuhannya. Setelah mengetahui aspirasi dan kebutuhan mereka, barulah ditentukan sistem pendidikan yang termasuk di dalamnya kurikulum, tenaga pengajar, dan lain-lain yang berkaitan dengan pendidikan (Chan, 2006).

Berkenaan dengan pernyataan tersebut, sebagai sebuah lembaga yang dibentuk dari, oleh, dan untuk masyarakat, secara kelembagaan, pada PKBM juga melekat beberapa azas. Azas-azas yang dianut oleh PKBM dapat dibagi menjadi tujuh azas, dan tidak menutup kemungkinan jika dikembangkan lagi dapat lebih dari tujuh, sepanjang azas-azas itu tidak saling bertentangan dan sesuai dengan misi yang harus diemban oleh PKBM. Azas-azas yang dimaksud meliputi (Sihombing, 1999):

1) Azas kemanfaatan, setiap kehadiran PKBM harus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dalam upaya memperbaiki dan mempertahankan kehidupannya.

2) Azas kebermaknaan, PKBM dengan segala potensinya harus mampu memberikan dan menciptakan program yang bermakna dan dapat meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat sekitar.

3) Azas kebersamaan, PKBM merupakan lembaga yang dikelola secara bersama-sama, bukan milik perorangan, bukan milik satu kelompok atau golongan tertentu, dan bukan milik pemerintah. PKBM adalah milik bersama, digunakan bersama, untuk kepentingan bersama.

4) Azas kemandirian, PKBM dalam pelaksanaan dan pengembangan kegiatan harus mengutamakan kekuatan diri sendiri. Meminta dan menerima bantuan dari pihak lain merupakan alternatif terakhir apabila kemandirian belum dapat tercapai.

5) Azas keselarasan, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh PKBM harus sesuai dan selaras dengan situasi dan kondisi masyarakat sekitar.

6) Azas kebutuhan, setiap kegiatan atau program pembelajaran yang dilaksanakan di PKBM harus dimulai dengan kegiatan pembelajaran yang benar-benar paling mendesak dibutuhkan oleh masyarakat.

7) Azas tolong menolong, PKBM merupakan ajang belajar dan pembelajaran masyarakat yang didasarkan atas rasa saling asah, asih, dan asuh di antara sesama warga masyarakat.

Persyaratan yang diperlukan di dalam melaksanakan pendidikan nonformal pada PKBM, yakni adanya 10 patokan pendidikan masyarakat yang harus dimiliki (minimal tujuh komponen), meliputi (Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, 2003):

1. Warga Belajar (WB)

Prioritas adalah WB sekitar PKBM usia 10-44 tahun, buta aksara, putus sekolah: SD, SLTP, SLTA, dari keluarga kurang mampu atau miskin, dan warga masyarakat sekitar PKBM yang ingin memperoleh pengetahuan atau keterampilan di jalur pendidikan luar sekolah.

2. Kelompok Belajar

Kumpulan warga belajar yang terdiri dari minimal 3-5 orang, maksimal 20-40 orang yang diikat dalam satu kelompok belajar pendidikan luar sekolah (KF, Paket A, Paket B, Paket C, Kejar Usaha, Beasiswa atau Magang).

3. Sumber Belajar (Tutor)

Adalah warga masyarakat (guru) atau warga masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan serta mau mengabdi kepada warga masyarakat dengan jalan mengajar pendidikan dan keterampilan tertentu.

4. Pamong Belajar (Penyelenggara, Pengelola, Pelaksana)

Adalah seseorang yang telah diserahi tanggung jawab menyelenggarakan atau mengelola PKBM.

5. Sarana Belajar

Adalah semua sarana atau alat yang menunjang berjalannya kegiatan proses belajar mengajar: (buku, alat tulis, alat peraga pendidikan, dan sebagainya).

6. Panti Belajar

Adalah bangunan (gedung) yang digunakan sebagai tempat atau lokasi PKBM, yaitu:

- Gedung sekolah atau bangunan lain yang tidak digunakan lagi.

- Gedung sekolah atau bangunan ada izin dari kepala sekolah atau pemilik untuk digunakan sebagai PKBM minimal dalam jangka waktu lima tahun.

- Gedung sekolah atau bangunan minimal memiliki dua ruangan (kelas).

- Gedung sekolah atau bangunan letaknya tidak jauh dari warga masyarakat yang akan belajar di PKBM.

7. Program Belajar

Beragam program pembelajaran yang dibutuhkan masyarakat.

8. Ragi Belajar

Sesuatu yang dapat memotivasi kegiatan atau meningkatkan prestasi belajar warga masyarakat (warga belajar), seperti pujian, penghargaan, lomba, dan dana insentif dalam rangka peningkatan mutu.

9. Dana Belajar

Dana yang diberikan kepada warga belajar untuk menunjang proses kegiatan belajar keterampilan dalam upaya melatih warga belajar untuk melakukan usaha produktif yang mengarah pada peningkatan mata pencaharian (program yang dibiayai oleh pemerintah).

10. Hasil Belajar

Hasil yang telah dicapai oleh warga belajar baik kualitatif maupun kuantitatif setelah warga belajar menyelesaikan program relajar atau pendidikan tertentu di PKBM berupa:

- Hasil dari kegiatan belajar

- Hasil dari keterampilan warga belajar - Pemasaran hasil keterampilan

Terkait dengan peranan yang dijalankan lembaga pendidikan nonformal seperti PKBM, dalam pelaksanaan program-programnya, para sumber belajar (tutor) perlu memahami dan menerapkan konsep dasar pendidikan orang dewasa (Andragogy) yang dalam penelitian ini dibatasi hanya terfokus pada metode pembelajaran yang diterapkan oleh tutor dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan terjadi di dalam kelas.

Pendidikan orang dewasa berdasarkan rumusan Suprijanto (2007) merupakan serangkaian aktivitas pendidikan bagi orang dewasa yang menggunakan sebagian waktunya dan tanpa dipaksa ingin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan mengubah sikapnya dalam rangka pengembangan dirinya sebagai individu dan meningkatkan partisipasi dalam pengembangan sosial,ekonomi, dan budaya secara seimbang dan utuh. Pendidikan orang dewasa berbeda dengan pendidikan anak-anak.

Menurut Suprijanto (2007), Pendidikan anak-anak berlangsung dalam bentuk identifikasi dan peniruan, sedangkan pendidikan orang dewasa berlangsung dalam bentuk pengarahan diri sendiri untuk memecahkan masalah.

Berdasarkan Permendiknas No.3 tahun 2008 dirumuskan bahwa metode pembelajaran digunakan oleh pendidikan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.

Berdasarkan rumusan tersebut, adapun penjelasan lebih lanjut mengenai metode pembelajaran di PKBM dapat diketahui dari pemaparan metode penyajian formal sebagai berikut. Menelaah paparan dari Suprijanto (2007), Ceramah atau kuliah adalah penyajian secara lisan oleh pembicara dengan menggunakan pemikiran dan ide yang terorganisasi. Masih menurut paparan Suprijanto (2007), Kuliah adalah cara yang cepat untuk memberikan informasi dan dengan menggunakan “catatan kuliah” dapat berpindah dari satu pemikiran ke pemikiran lain secara logis. Namun, pada ceramah dan kuliah yang asli, peserta tidak aktif sehingga pertemuan dinilai kurang positif (Morgan, et al., 1976 dalam Suprijanto, 2007).

Sejalan dengan peran tutor, kegiatan pembelajaran menurut penjabaran Permendiknas No.3 tahun 2008 dibagi ke dalam tiga tahapan, yakni: pendahuluan, inti dan penutup. Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Kegiatan inti, merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar.

Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan

ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Tahapan kegiatan ketiga ialah penutup. Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian diri dan refleksi, umpan balik, serta tindak lanjut.

Penjelasan di atas merumuskan bahwa PKBM sebagai wadah pendidikan nonformal memiliki peranan sebagai fasilitator dalam rangka pengembangan masyarakat. Berbagai jenis kegiatan yang mencakup Pendidikan, Keterampilan kerja, Layanan informasi, Kesehatan dan Kebersihan, Peningkatan kualitas hidup, Agama dan Budaya, dan kegiatan lainnya membuka kesempatan bagi setiap orang untuk menggagas, membuat keputusan, dan bertindak menuju tujuan akhir:

Pemberdayaan masyarakat. Selain itu, dari penerapan azas-azas dan konsep pendidikan orang dewasa dalam komponen pembentuk pendidikan di PKBM dapat dikaji lebih jauh mengenai peranan tiap-tiap komponen dalam rangka pengembangan masyarakat khususnya masyarakat di sekitar lokasi PKBM.

Peranan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam rangka pengembangan masyarakat sekitar akan tercermin antara lain dari keberhasilannya untuk mendorong masyarakat belajar secara mandiri, membantu memperkuat pemberdayaan masyarakat dalam rangka pemenuhan kebutuhannya serta kontribusi PKBM terhadap kelangsungan serta peningkatan budaya masyarakat setempat melalui prinsip partisipasi sosial.

Dalam dokumen Oleh: Andhini Nurul Fatimah A (Halaman 28-36)

Dokumen terkait