• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN KUTAI BARAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN KUTAI BARAT"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

IV.

KEADAAN UMUM KABUPATEN KUTAI BARAT

A. Wilayah Administrasi Kehutanan

Kabupaten Kutai Barat merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai Propinsi Kalimantm Timur, terdiri

dari

15 kecamatan dan 208 kampung, memiliki luas damtan 3,l Ha, seluas 1.918.616 Ha areal berhutan. Berdasarkan administrasi pengelolaan hutan Kutai Barat dapat dibagi menjadi 4 (empat) Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) yang termasuk dalam wilayah administrasi Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Mahakam Ulu. Dari keseluruhan CDK Mahakam Ulu seluas 1,918.616 Ha, secara adminstrasi wilayah CDK Mahakam Ulu yang masuk dalam administrasi Kutai Barat

adalah

sekitar 1.497.335 Ha (78,5%) dan seluas 1.88.961 Ha (21,5%

dhri

areal administrasi CDK Mahakam Ulu berada diluar wilayah Kutai Barat. Sedangkan seluas 7.400 Ha (0,4%) wilayah CDK Mahakam Tengah dan CDK Balikpapan, berada di wilayah kabupaten Kutai Barat (Data Kantor Dishut Kabupaten Kutai Barat, 2002)

Tata kelola kawasan hutan Kutai Barat masih belum sepenuhnya mengacu pada ketentuan atau pendekatan sistem Daerah Aliran Sungai @AS) termasuk kawasan penyangga. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah

(RTRW)

tahun 1998, menetapkan fungsi hutan Kabupaten Kutai Barat menjadi Kawasan Budidaya Non Kehutanan seluas 932.266 Ha, Kawasan Hutan Produksi seluas 1.48 1.066 Ha, Hutan Lindung seluas 744.038 Ha, dan Cagar Alam seluas 5.500 Ha. Dari keseluruhan wilayah sebanyak 70,5% wilayah Kabupaten Kutai Barat rnerupakan Kawasan Budidaya Kehutanan (hutan produksi, hutan lindung, dan kawasan konservasi) clan sisanya 29,47% merupakan Kawasan Budidaya Non Kehutanan. (Pemkab, KK-PKD Kutai Barat, 200 1)

Berdasarkan kondisi fisiknya, wilayah Kutai Barat terbagi menjah tiga zona, yaitu zona dataran rendah, wna kering d a t a m tinggi, dan zona ulu r i m . Sebagian besar wilayahnya berada pa& daerah zona kering dataran, dengan jenis tanah pada

(2)

umumnya yaitu aluvial, podsoEik merah kuning, vulkanik, litosol dun kompleks podsolik rnerah kuning, dengan tingkat k e s u b m antara sedang sampai subur, kisaran pH antara 4-6.

Tabel 5. Kesesuaian Penggunaan Lahan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah,

Penggunaan

Lahan

HPH

Pada Tabel 5. diatas, bahwa rencana

tata

ruang wilayah tersebut, terjadi turnpang tindih atau ketidak-sesuaian aturan penetapan dalam penggunaan lahan terutarna oleh pengusahaan hutan HPH pada masa lalu, terhadap tata rmng Kutai Barat. Secara urnum ha1 tersebut terjah karena kurangnya koordinasi lintas sektoral

di

propinsi.

Rencana Tata Ruang Wilayah

pW3fw=' Lain

B. Perekonomian Kabupaten Kutai Barat

Cagar Alam

(Ha)

-

Hasil perhitungan PDRB atas dasar harga berlaku

pada

Tabel 6. menunjukkan, bahwa peran sektor usaha Pertambangan

dan

Penggalian menjadi unggulan pertama dan pada tahun 2000 kontribusinya sebesar 39,34%, selanjutnya sektor unggulan kedua adalah Sektor Usaha Pertanian, Peternakan, Perikanan dm Kehutanan yang pada tahun 2000 memberikan kontribusinya sebesar 30,47%. Garnbaran ini menunjukkan bahwa daerah kabupaten Kutai Barat sebesar 70% masih mengandalkan ketergantungan perekonomiannya terhadap pengelolaan sumberdaya alarn, sedangkan sisanya sebesar 30% adalah sektor jasa clan bangunan.

Sumber: Potret Kehutanan Kabupaten Kutai Barat, 200 1 5,556.25 97,248.81 Kawasan Budidaya Non Hutan Lindullg (Ha) 681,501.10 Kawasari Budidaya Kehutanan (Ha) 1,226,782.2 1 Kehutanan (Ha) 356,325.93 258,541.92 417,582.27

(3)

Tabel 6. Struktur Ekonomi Kabupaten Kutai Barat 1998-2001 Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 1993-2000 (dalam prosen).

Sumber : BPS dalam Monografi Kabupaten Kutai Barat, 2000

Dari perhitungan PDRB diatas menunjukkan adanya fluktuasi nilai yang positif, ha1 ini disebabkan oleh perkembangan sektor pertambangan dan sektor pertanian yang termasuk didalamnya subsektor kehutanan, Total peran kedua sektor ini merupakan andalan utama kabupaten Kutai Barat. Pada Tabel 7. secara khusus pertumbuhan perekonornian dari sub sektor kehutanan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap sektor pertanian dari tahun ke tahun

dan

pada tahun 2000 meningkat sebesar 17,31%. Hal ini seiring dengan perkembangan panbangunan kabupaten Kutai Barat ymg melibatkan masyarakat dalam pengelolaan hutan.

Tabel 7. Produk Domestik Regional Bnrto

(PDRB)

Atas Dasar Harga Berlaku, - Tahun 1993-2000 (&am prosen). .

I

1

I

SEKTORiSUB SEKTOR USAHA Pertanian :

Tanaman Bahan Makanan Tanaman Perkebunan Peternakau Kehutanan Perikanan J'umlab 1993

Swnber : BPS dalam Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Kutai Barat, 4,40 5,04 0,99 18,93 2,72 32,09 1997 4,lO 5,3 1 1,14 14,18 2,7 1 27,43 1998 3,86 4,69 0,85 10,93 1,95 22,28 1999 2000 4,12 4,56 0,94 14,43 2,35 26,40 4,37 4,09 0799 17,31 2,s 1 29,27

(4)

Jumlah penduduk Kutai Barat mencapai 156.423 jiwa, terdiri dari beberapa suku; dayak, kutai, bugis dan penciatang lainnya. Sebagian penduduk bekerja sebagai petani-ladang, berburu, nelayan, tambang e m s , kerja kayu dan sarang burung. PDRB perkapita cukup tinggi sebesar Rp 7.962,986,26. Tenaga kerja yang bekerja di HPH, HTI sejumlah 4.010 orang, HPHH, IPPK, ISL menyerap tenaga kerja sekitar 13 orang per 10 petak (Iuas 100 Halpetak), sedangkm Tenaga kerja di Kantor Dinas Kehutanan keseluruhan berjumlah 1 18 orang: (BPS Kutai Barat, 2000)

C. Sektor Usaha

Kehutanan

Sektor kehutanan untuk sementara diarahkan pada beberapa komoditas yang dianggap memiliki maw depan eerah antara lain pengelolaan industri kayu skala kecil, hutan rakyat, rotan clan sarang burung. Sub-sektor kehutanan, masih mengandalkan hasil hutan produksi yang dikelola oleh HPH, IPK, HPHH,

IPPK,

d m Ijin Sah Lainnya..

Tabel 8. Data Realisasi Produksi

Kayu

BuIat HPH,

HPHI-I,

HPWI, IPK

clan

IPPK D i w Kehutanan Kabupaten Kutai Barat

Pada Tabel 8, diatas menunjukkan, bahwa penerimaan sektor kehutanan, masih diperoleh dari nilai produksi kayu bulat, sementara hasil hutan berupa

kayu

lapis, rotan, sarang burung dan hasil hutan lainnya, belurn ada data dan belurn secara jelas diusahakan. 1 2 Jumlah Produksi (M3) 3 , 4 Unit Pengelolam HPH IPK Tahun 2000 363,749.89

.

Jumlah Unit 23 4

Swnber : Data Kantor Dinas Kehutanan Kutai Barat, 2002 IPPK HPHH Tahun 200 1 303,786.18 7,709.53 Tahun 2002 257,171.69

-

36 I 43,269.73 434,377,53 758,5 18.08 277 Jumlah 116,216.04 79,7 13.94 1,504,391.32 262,989.22 670,008.84 453,101.67

(5)

Tabel 9. Nilai Penerimaan dari Produksi Kayu Log Kabupaten Kutai Barat. Tahun

Peningkatan PAD Kabupaten Kutai Barat dilakukan dengan menetapkan jenis

PSDH (Rupiah)

I

DR (USD)

1

2000 200 2

i

pungutan atas produksi hasil hutan disamping DR dan PSDH, serta peningkatan jenis dan besarnya pungutan lainnya yang sah atau sumbangan pihak ketiga. Nilai Sumber Data Kantor Dims Kehutanan Kabupaten Kutai Barat, 2002.

Keterangan : Tahun 1998,1999 dan 2000 Nilai PSDN

dan

DR digabungkan. 32.793.762.298,70

91.845.090,791,30

penerimaan produksi kayu log (DR dan PSDH) Kabupaten Kutai Barat tahun 1997- 2 1.253.209,09

200 1, seperti disajikan pada Tabel.9. Pengelolaan Dana Reboisasi

O R )

pengaturannya, masih dilakukan oleh pemerintah pusat. Penerimaan Negara yang diterirna

dari

sektor kehutanan terdiri dari penerimaan DR, PSDH dm pajak-pajak lainnya, sesuai dengan

UU

224999 dan UU 2511999, serta PP 10412001 tentang Dana Alokasi Khusus.

Tabel 10. Realisasi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Kutai Barat, Tahun 2001.

I I I Pajak Daerah 1,554 M 3,386 M 2 17,87 Bagian PAD I I I Retribusi daerah 2,665 M 5,914 M 222,71

1

I i I I I

Sumber : Laporan Pertanggungjawaban Bupati, 2002. Rencana

4,210 M

Sumberdaya hutan tampaknya tetap mendapat beban untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Semangat untuk mendapat modal panbangunan yang

Realisasi 11,164 M

berlebihan tanpa diimbangi dengan pemahaman

dm

komitrnen yang kuat terhadap

% (+I-)

(6)

aspek kelestarian sumberdaya hutan hanya berakibat

pa&

percepatan degradasi hutan dan penurunan kesejahteraan masyarakat.

Sejak terbentuknya Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Barat, wilayah adminsitrasi Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Mahakam Ulu tidak lagi menjadi patokan. Tata kelola kawasan hutan Kutai Barat masih belum mengacu sepenuhnya pada ketentuan atau pendekatan sistem daerah aliran sungti @AS) termasuk kawasan penyangga, masih terbatas pendekatan wilayah administrasi, dan belum adanya koordinasi antara perenmaan pusat, propinsi dan daerah. Hal ini menimbulkan adanya twnpang tindih peruntukan.

Subsektor usaha Kehutanan telah dapat memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pembangunan ekonomi regional di kabupaten Kutai Barat. Namun, pa& saat yang bersmaan tingkat eksploitasi hutan saat ini begitu tinggi dan tidak mengarah kepada pengelolm hutan lestari. Praktek-praktek pengusahaan hutan oleh HPH, HTI, HPHH, IPPK dan ISL yang menimbulkan berbagai dampak negatif baik secara ekonomi, sosial dan ekotogi. menggambarkan bahwa manfaat dari pengusahaan hutan yang dilaksanakan tidak terdistribusi secara adil, dirnana manfaat ekonomi lebih banyak terdistribusi keluar wilayah kabupaten Kutai Barat. Hal tersebut yang menjadi penyebab meningkatnya intensitas konflik yang berkaitan dengan sumberdaya hutan dan hak-hak adat.

Bentuk pengusahaan hutan oleh swasta HPH, dan kebijakan pemberian ijin pengusahaan skala kecil kepada masyarakat, atau bentuk kerjasama swasta dan masyarakat dalam pemanfmtan hasil hutan, sudah h a m secara selektif dibangun. Eksploitasi sumberdaya hutan berupa kayu segera dibatasi, dan diarahkan kepada pengembangan pen- atau pemanfaatan hasil hutan non-kayu, yang berorientasi kepada kegiatan yang melibatkan rnasyarakat, penciptaan usaha pendukung lainnya yang mempunyai nilai tambah terhadap pengelolaan hutan.

(7)

Sehingga, penerimaan manfaat dari pengelolaan hutan dapat kembali sebagai modal

Gambar

Tabel  5.  Kesesuaian Penggunaan  Lahan  terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah,  Penggunaan
Tabel 6.  Struktur Ekonomi Kabupaten Kutai Barat 1998-2001  Atas  Dasar Harga  Berlaku Tahun 1993-2000 (dalam prosen)
Tabel 9.  Nilai Penerimaan dari Produksi Kayu Log Kabupaten Kutai Barat.

Referensi

Dokumen terkait

Metode ONFIT yang diikuti dengan teknik identifikasi secara konvensional melalui karakter morfologi dan teknik molekuler melalui perunutan basa nukleotida DNA akurat dan

Berdasarkan uraian penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui, bahwa dalam penelitian menggunakan model Problem Based Learning dikolaborasikan dengan pendekatan

Waralaba atau franchise merupakan suatu bentuk perjanjian, yang lainnya memberikan hak dan kewenangan khusus kepada pihak penerima waralaba, yang dapat terwujud dalam

[r]

[r]

[r]

OBYEK PENGAMATAN YANG MESTINYA.

mangga mahatir sangat populer saat ini karena keunggulan yang ada pada ukuran buahnya yang super jumbo dengan berat bisa mencapai 2,5 – 3 kg per buah bentuknya menyerupai paruh