PARASIT PADA IKAN
PARASIT PADA IKAN
FILLUM PROTOZOA
FILLUM PROTOZOA
(
(
Trypanosoma
Trypanosoma sp. Dan
sp. Dan Trychomonas
Trychomonas sp.
sp.
)
)
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Parasit danParasit dan Penyakit Ikan semester genap
Penyakit Ikan semester genap Disusun Oleh:
Disusun Oleh: Syakirah
Syakirah Imtinan Imtinan 230110160086230110160086 Viani
Viani Puji Puji Lestari Lestari 230110160023011016009494 M.
M. Iqbal Iqbal Shidiq Shidiq 230110160123011016011111 M.
M. Iqbal Iqbal Maulana Maulana 230110160123011016012020 Sandra
Sandra Amalia Amalia 230110160131230110160131 Yolanda
Yolanda Stephanie Stephanie 230110160138230110160138 Vera
Vera Anggraeni Anggraeni Dewi Dewi 230110160139230110160139
Kelas : Kelas : Perikanan B / Kelompok 8 Perikanan B / Kelompok 8 UNIVERSITAS PADJADJARAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR JATINANGOR
2018 2018
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Parasit dan Penyakit Ikan yang berjudul “ PARASIT PADA IKAN FILLUM PROTOZOA (Trypanosoma sp. Dan Trychomonas sp. )” ini tepat waktu.
Pada kesempatan ini kami, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini terutama kepada Bapak Drs. Walim Lili, MSi. selaku dosen mata kuliah Parasit dan Penyakit Ikan telah membimbing dan memberikan kepercayaan kepada kami untuk menyelesaikan tugas ini.
Akhirnya, tiada kata yang dapat kami sampaikan selain mengharapkan agar makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak khususnya kepada kami, maupun umumnya untuk pembaca dimasa sekarang maupun yang akan dat ang
Jatinangor, April 2018
DAFTAR ISI
BAB Halaman
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 1 1.3 Tujuan ... 2 II PEMBAHASAN 2.1 Trypanosoma sp. ... 3 2.1.1 Klasifikasi Trypanosoma sp ... 3 2.1.2 Morfologi Trypanosoma sp ... 4
2.1.3 Siklus Hidup Trypanosoma sp ... 6
2.1.4 Gejala Klinis Trypanosoma sp ... 8
2.1.5 Pengendalian Trypanosoma sp ... 9
2.2 Trychomonas sp ... 10
2.2.1 Klasifikasi Trychomonas sp ... 10
2.2.2 Morfologi Trychomonas sp ... 10
2.2.3 Siklus Hidup Trychomonas sp ... 11
2.2.4 Gejala Klinis Trychomonas sp ... 11
III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ... 13
3.2 Saran ... 13
iv
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
1 Trypanosoma sp. ... 3
2 Morfologi Trypanosoma sp. ... 4
3 Perubahan bentuk Trypanosoma sp ... 5
4 Siklus Hidup Trypanosoma pada inang tetap ... 7
5 Inang perantara (Triatoma infestans dan Rhodnius prolixus) ... 8
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Protozoa berasal dari kata protos yang artinya pertama dan zoon yang berarti hewan, jadi protozoa adalah hewan yang pertama kali di kenali. Protozoa adalah organisme yang tersusun atas satu sel sehingga bersifat mikroskopik. Untuk lebih mempermudah mempelajarinya ahli biologi mengelompokkannya menjadi 4 kelas berdasarkan alat geraknya (Jasin 1992).
Sebagian besar Protozoa hidup bebas dan menjadi makanan organisme yang lebih besar. Beberapa Protozoa hidup sebagai parasit, diantaranya parasit pada ikan, yaitu : Trichodina, Ichthyoptirim, dan Heneguya (Suwignyo dkk 1997). Parasit Protozoa dapat bersifat fakultatif, obligat, ektoparasit dan endoparasit (Mollers dkk 1986).
Noble dan Noble (1989), menyatakan bahwa berdasarkan alat geraknya Protozoa dibedakan atas lima golongan yaitu : Sarcomastighopora, Sarcodina, Apicomplexa, Ciliophora, dan Myxozoa. Sarcomastighopora mencakup kelompok Mastighopora yang menggunakan flagella sebagai alat geraknya dan meliputi semua Protozoa yang memiliki satu atau lebih flagel pada seluruh stadia dalam siklus hidupnya. Sebagian besar Mastigophora hidup bebas, ditemukan pada berbagai habitat tetapi banyak yang bersimbiosis (komensalisme, mutualisme dan parasitisme) dengan vertebrata dan avertebrata. Mastighopora dibagi dalam tiga kelas, yaitu : Phytomastighopora, Zoomastighopora dan Opalinata. Contoh dari kelas Mastigophora adalah Trypanosoma sp. dan Trychomonas sp.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa klasifikasi parasit Trypanosoma sp. dan Trychomonas sp.?
2
3. Bagaimana siklus hidup parasit Trypanosoma sp. dan Trychomonas sp.? 4. Bagaimana gejala ikan yang terjangkit parasit Trypanosoma sp. dan
Trychomonas sp.?
5. Bagaimana pencegahan parasit Trypanosoma sp. dan Trychomonas sp.?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui dan mempelajari klasifikasi parasit Trypanosoma sp. dan Trychomonas sp.
2. Untuk mengetahui dan mempelajari morfologi parasit Trypanosoma sp. dan Trychomonas sp.
3. Untuk mengetahui dan mempelajari siklus hidup parasit Trypanosoma sp. dan Trychomonas sp.
4. Untuk mengetahui dan mempelajari gejala ikan yang terjangkit parasit Trypanosoma sp. dan Trychomonas sp.
5. Untuk mengetahui dan mempelajari pencegahan terhadap parasit Trypanosoma sp. dan Trychomonas sp.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Trypanosoma sp.
Trypanosoma sp adalah haemoflagellata dan biasanya memiliki flagellum bebas pada ujung bagian anterior. Parasit ini selalu menyebar lewat perantaraan lintah dan tidak bersifat inang spesifik (Anshary 2008). Pada dasarnya parasit ini bukan sebagai penyerang utama, tetapi ia menyerang pada ikan yang telah lebih dulu terkena parasit lain, misalnya karena luka, sakit, stress dan seba gainya (Irawan 2004).
2.1.1 Klasifikasi Trypanosoma sp.
Klasifikasi menurut WoRMS (2015) adalah sebagai berikut : Phylum : Euglenozoa Class : Kinetoplastea Subclass : Metakinetoplastina Order : Trypanosomatida Suborder : Trypanosomatina Family : Trypanosoma Spesies : Trypanosoma sp Gambar 1.Trypanosoma sp.
4
2.1.2 Morfologi Trypanosoma sp.
Tubuhnya berupa satu sel dan bentuknya memanjang dan mengecil pada kedua ujungnya. Mempunyai flagellum dan membran undulan. Flagellum keluar dari kinetosome yang letaknya dekat ujung posterior tubuh dan letaknya di tepi dari membran undulan. Intinya besar dan bentuknya lonjong dan terletak di tengah tubuh. Dekat basal dari flagellum terdapat kinetoplas yang bentuknya bulat atau seperti batang atau pipih. Berkembang biak secara biner dan mempunyai stadia critidia yang terdapat pada tubuh inang perantara. Hidup dalam pembuluh darah sehingga dikenal sebagai parasit darah.
Gambar 2. Morfologi Trypanosoma sp.
Parasit ini dapat ditemukan di dalam sirkulasi darah pada fase infeksi akut. T. evansi memiliki ukuran panjang 15 to 34 μm dan dapat membelah (binary fission) untuk memperbanyak diri. Bentuknya yang khas seperti daun atau kumparan dicirikan dengan adanya flagella yang panjang sebagai alat gerak. Di bagian tengah tubuh terdapat inti. Salah satu ujung tubuh berbentuk lancip, sedangkan ujung tubuh yang lain agak tumpul dan terdapat bentukan yang disebut kinetoplast.
Trypanosoma evansi memiliki morfologi yang mirip dengan Trypanosoma lainnya seperti T. equiperdum, T. brucei, T. gambiense dan T. rhodesiense. Permukaan tubuh Trypanosoma diselubungi oleh lapisan protein tunggal yaitu glikoprotein yang dapat berubah-ubah bentuk ( variable surface glycoprotein). Dengan kemampuan glikoprotein yang dapat berubah bentuk, maka T. evansi dapat memperdaya sistem kekebalan tubuh inang ( host ). Konsekuensinya akan terjadi variasi antigenik (antigenic variation) dimana tubuh akan selalu berusaha
5
membentuk antibodi yang berbeda-beda sesuai dengan protein permukaan yang ditampilkan oleh T. evansi.
Secara umum family Trypanosomidae mempunyai 4 bentuk atau morfologi yang berbeda, yaitu:
1 Bentuk Amastigot ( Leismanial form)
Bentuk bulat atau lonjong, mempunyai satu inti dan satu kinetoplas serta tidak mempunyai flagela. Bersifat intraseluler. Besarnya 2-3 mikron.
2 Bentuk Promastigot ( Leptomonas form)
Bentuk memanjang mempunyai satu inti di tengah dan satu flagela panjang yang keluar dari bagian anterior tubuh tempat terletaknya kinetoplas, belum mempunyai membran bergelombang, ukurannya 15 mikron.
3 Bentuk Epimastigot (Critidial form)
Bentuknya memanjang dengan kinetoplas di depan inti yang letaknya di tengah mempunyai membran bergelombang pendek yang menghubungkan flagela dengan tubuh parasit, ukurannya 15-25 mikron.
4 Bentuk Tripomastigot (Trypanosome form)
Bentuk memanjang dan melengkung langsing, inti di tengah, kinetoplas dekat ujung posterior, flagela membentuk dua sampai empat kurva membran bergelombang, ukurannya 20-30 mikron.
Gambar 3. Perubahan bentuk Trypanosoma sp
Pada penderita Trypanosomiasis (juga pada hewan vertebrata yang terinfeksi) umumnya ditemukan bentuk Trypomastigot. Trypomastigot ini
6
memiliki bentuk mirip bulan sabit dengan ukuran panjang 15 – 35 mikron dan lebar 1,5 – 3,5 mikron. Didalamnya terdapat organella antara lain:
a. Inti besar berbentuk lonjong, terletak di tengah dan berfungsi untuk
menyediakan makanan. Disebut juga Troponukleus.
b. Kinetoplas, berbentuk bulat atau batang. Ukuran lebih kecil dari inti dan
terletak di depan atau di belakang inti. Kinetoplas terdiri dari 2 bagian yaitu benda parabasal dan blefaroplas.
c. Flagela merupakan cambuk halus yang keluar dari blefaroplas dan
berfungsi untuk bergerak.
d. Undulating membrane (membran bergelombang), adalah selaput yang
terjadi karena flagela melingkari badan parasit, sehingga terbentuk kurva-kurva. Terdapat 3 – 4 gelombang membran
Pada stadium akhir, di dalam darah penderita, Trypomastigot memiliki beberapa bentuk yang berbeda, yaitu:
a. Bentuk panjang dan langsing, memiliki flagela
b. Bentuk pendek dan lebih gemuk, sebagian tidak berflagela
c. Bentuk intermediet dengan inti terkadang ditemukan di posterior.
2.1.3 Siklus Hidup
Siklus hidup Trypanosoma sp. terbagi menjadi 2, yaitu siklus hidup pada inang tetap dan siklus hidup pada inang perantara.
A. Siklus Hidup pada Inang Tetap
Siklus hidup Trypanosoma cruzi dengan infeksi host mamalia dengan metasiklik tripomastigot hadir dalam kotoran dari darah dengan reduviid bug sebagai vektor. Host dengan kontaminasi gigitan luka serangga. Bentuk metasiklik mampu menyerang dengan fagositosis dan non fagositosis. Pada sel-sel berinti, awalnya memasuki membran terikat vakuola (parasitophorous). Setelah masuk, tripomastigot metasiklik mulai berdiferensiasi menjadi bentuk amastigot dan lolos ke dalam sitoplasma sel dimana terjadi transformasi morfologi, termasuk involusi flagella. Amastigot kembali memasuki siklus sel dan berproliferasi sampai sel mengisi dengan bentuk-bentuk.
7
Gambar 4.Siklus Hidup Trypanosoma pada inang tetap
Pada titik ini amastigot memanjang, reacquiring flagela panjang, yang membedakan dengan bentuk ramping tripomastigot melalui intraseluler epimastigot menengah. Tripomastigot slender dapat menyerang sel-sel yang berdekatan, mereka dapat masuk ke dalam darah dan getah bening, dalam hal ini mereka mungkin mulai untuk membedakan ekstrasel. Diferensiasi ekstraseluler menimbulkan ke luas tripomastigot dan amastigot ekstraseluler. Campuran dari tiga bentuk mungkin ada dalam darah orang yang terinfeksi dan dapat diambil di blood feeding bug reduvuid .
B. Siklus Hidup pada Inang Perantara
Siklus hidup Trypanosoma Cruzi dengan infeksi didalam reduvuid bug , tripomastigottersisa berdiferensiasi menjadi amastigot. Sebagai populasi, amastigot pertama memperpanjang masa flagela menjadi spheromastigot, yang kemudian memperpanjang menjadi Midlog epimastigot. Epimastigot terus memanjang mencari nutrisi dari blood feeding hingga habis. Akhirnya setelah migrasi ke bagian rektum atau usus belakang ( hindgut ), yang memanjang latelog epimastigot menempel pada usus kutikula oleh flagela mereka dan berdiferensiasi menjadi tripomastigot metasiklik menular melalui rektum dan menyelesaikan siklus hidup di dalam reduvuid bug .
8
Gambar 5. Inang perantara (Triatoma infestans dan Rhodnius prolixus)
2.1.4 Gejala KlinisTrypanosoma sp.
Trypanosoma menyebabkan anemia pada ikan terinfeksi, intensitas infeksi menentukan tingkat keparahan dari anemia pada ikan. Penyebab anemia pada ikan disebabkan oleh adanya faktor litik yang dikeluarkan oleh parasit dan melisis darah. Infeksi parasit ini pada ikan mas menyebabkan penurunan hematokrit, hemogoblin dan eritrosit, serta meningkatkan kadar leukosit, sehingga infeksi parasit T.danilewskyi menyebabkan anemia, merubah parameter darah dan dapat menyebabkan kematian pada infeksi tinggi (Ahmed et al. 2011)
Trypanosoma murmanensis adalah parasit yang menginfeksi ikan laut dan pertama kali dilaporkan dari ikan cod yang ditangkap dari Barent Sea, Rusia dan telah dilaporkan dari ikan cod dari beberapa negara. Parasit ini tidak spesifik dan dapat menginfeksi beberapa jenis ikan. Parasit ini menggunakan vektor lintah Johanssonia artica untuk menyebar. Masa perkembangan parasit ini sangat tergantung pada suhu, dimana pada suhu yang lebih hangat perkembangannya berlangsung lebih cepat dibanding dengan suhu dingin. Ikan terinfeksi mengalami anemia dan lethargy,emasiasi dan pembengkakan pada limfa pada beberapa spesies ikan (Khan 1985)
Efek Pada Inang :
1. Dapat menyebabkan anemia, emasiasi, dan lethargy pada ikan terinfeksi 2. Infeksi Trypanosoma pada ikan hybrid catfish menyebabkan perubahan
hematologi dimana terjadi reduksi pada sel darah merah dan sel darah putih (Supamattaya et al.2005)
9
2.1.5 Pengendalian
Adapun cara pencegahan ikan yang terserang parasit ini adalah:
1. Tempat pemeliharaan sebaiknya dikeringkan dan diberi desinfektan sebelum digunakan.
2. Air pemeliharaan ikan di filter.
3. Lintah sebagai inang perantara dimusnahkan.
Pengobatan dapat dilakukan secara bervariasi, namun apabila telah mengenai sistem saraf pusat, pengobatan kurang baik untuk dilakukan. Pengobatan dapat dilakukan antara lain:
1. Eflornithine dengan dosis 400 mg/kg/hari IM atau IV dalam 4 dosis bagi, selama 14 hari dan dilanjutkan dengan pemberian oral 300 mg/kg/hari sampai 30 hari.
2. Suramin dengan dosis 1 gr IV pada hari ke 1,3,7,14,21 dimulai dengan 200 mg untuk test secara IV. Dosis diharapkan memcapai 10 gram. Obat ini tidak menembus blood-brain barrier dan bersifat toksis pada ginjal.
3. Pentamadine, dengan dosis 4 mg/kg/hari/hari IM selama 10 hari 4,7,8. 4. Melarsoprol, dengan dosis 20 mg/kg IV dengan pemberian pada hari ke 1,
2, 3, 10, 11, 12, 19, 20, 21 dan dosis perharinya tidak lebih dari 180 mg. Enchephalopati dapat muncul sebagai efek pemberian obat ini. Hal ini terjadi oleh karena efek langsung dari arsenical (kandungan dari melarsoprol) dan juga oleh karena reaksi penghancuran dari Trypanosoma (reactive enchepalopathy). Bila efek tersebut muncul, pengobatan harus dihentikan (Siahaan 2004).
5. Pemberian Quinapyramin dosis 3 mg/kg bb dan pemberian suramin dosis 4 g intra vena.
10
2.2 Trychomonas sp.
Genus Trichomonas hanya memiliki bentuk tropozoit dan tidak memiliki bentuk kista. Meskipun antar Trichomonas mempunyai perbedaan-perbedaan dalam ukuran, ciri-ciri inti dan flagel, namun pemeriksaan laboratorium sulit memastikan diagnostik spesises atas dasar morfologi, sehingga penting diperhatikan tempat pengambilan spesimen sebagai tempat hidup parasit untuk mempermudah menentukan spesies Trichomonas.
2.2.1 Klasifikasi Trichomonas sp.
Trichomonad, protozoa apapun dari ordo zooflagellata Trichomonadida, memiliki tiga hingga enam flagella, dan umumnya memiliki satu flagel yang berbatasan dengan membran yang bergelombang. Kebanyakan trichomonad
menghuni sistem pencernaan pada hewan. Bereproduksi dengan divisi sel. Klasifikasi Trichomonas sp. adalah sebagai berikut.
Filum : Protozoa Kelas : Zoomastigophora Ordo : Trychomodida Famili : Trichomodidae Genus : Trichomonas Spesies : Trichomonas sp. 2.2.2 Morfologi Trichomonas sp.
Genus Trichomonas adalah parasit umum dalam sistem pencernaan hewan. Sel Trichomonas berbentuk seperti buah pir dan biasanya memiliki empat flagela di anterior dan yang kelima berbatasan dengan membran bergelombang. Mulut dan rongga basal (costa) ditemukan di sepanjang membran, sebuah axostyle, sebuah stiff rod sitoplasma digunakan untuk mendukung dan sering menonjol ke arah posterior.
11
Gambar 6. Morfologi Trichomonas sp.
2.2.3 Siklus HidupTrichomonas sp.
Trichomonad berkembang biak dengan cepat dengan pembagian sederhana (pembelahan biner), tetapi tidak membentuk kista yang resist en. Karena itu mereka cepat mati ketika pingsan dari tuan rumah.
2.2.4 Gejala Klinis Trichomonas sp.
Tetratrichomonas limacis secara umum ditemukan menginfeksi siput Helix aspersa. Protozoa ini juga hidup di hepatopankreas spesies gastropoda Otala lactea. Kadang-kadang, trichomonda ini akan memperluas pseudopoda ke permukaan sekretorik sel-sel pencernaan hepatopankreas gastopoda Otala lactea. Terdapat spesies lain juga yang menyerang katak yaitu Trichomonas batrachum yang biasanya berada di intestinal katak dan menyebabkan diare pada katak.
12
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Beberapa Protozoa hidup sebagai parasit, salah satunya parasit pada ikan. Parasit Protozoa dapat bersifat fakultatif, obligat, ektoparasit dan endoparasit. Berdasarkan alat geraknya Protozoa dibedakan atas lima golongan, yaitu Sarcomastighopora, Sarcodina, Apicomplexa, Ciliophora, dan Myxozoa. Sarcomastighopora mencakup kelompok Mastighopora yang menggunakan flagella sebagai alat geraknya, contohnya Trypanosoma sp. dan Trychomonas sp.
Trypanosoma menyebabkan anemia pada ikan terinfeksi, intensitas infeksi menentukan tingkat keparahan dari anemia pada ikan. T. danilewskyi menyebabkan anemia, merubah parameter darah dan dapat menyebabkan kematian pada infeksi tinggi. Trypanosoma murmanensis adalah parasit yang menginfeksi ikan laut dan pertama kali dilaporkan dari ikan cod yang ditangkap dari Barent Sea, Rusia dan telah dilaporkan dari ikan cod dari beberapa negara. Parasit ini tidak spesifik dan dapat menginfeksi beberapa jenis ikan. Parasit ini menggunakan vektor lintah Johanssonia artica untuk menyebar.
Tetratrichomonas limacis secara umum ditemukan menginfeksi siput Helix aspersa. Protozoa ini juga hidup di hepatopankreas spesies gastropoda Otala lactea. Kadang-kadang, trichomonda ini akan memperluas pseudopoda ke permukaan Terdapat spesies lain juga yang menyerang katak yaitu Trichomonas batrachum yang biasanya berada di intestinal katak dan menyebabkan diare pada katak.
3.2 Saran
Referensi yang memadai mengenai parasit dan penyakit ikan sangat dibutuhkan untuk dapat benar-benar memahami jenis parasit ikan ini karena belum adanya pengapilkasian praktek langsung serta perlunya pembahasan secara berkala agar untuk mengetahui cara penanggulangannya karena terdapat beberapa faktor lain selain faktor dari dalam ikan itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, A., et al., 2011. Effect of Natural Honey on Human Platelets and Blood Coagulation Proteins. Pak. J. Pharm. Sci., 24 (3): 389-397.
Anshary, H.2008. Modul Pembelajaran Mata Kuliah Parasitologi. Makassar. Irawan, A. 2004. Menanggulangi Hama dan Penyakit Ikan. CV. Aneka. Solo. Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya
Kordi, Km Gufhron. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Cetakan Pertama. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Mollers, H dan Andreas, K. 1986. Diseases and Parasites of Marine Fish. Verlang MuUer. German
Noble, E. R, G. A . dan Noble, G. A . 1989. Parasitology L The Biology of Animal Parasites. Lea dan Febiger. Philadelphia. London.
Roger, A.O. 1988. Comparative Protozoology, Ecology, Physiology, and Life History. New York: Sringer-Verlag New York Inc.
Sachlan, M. 1952. Notes on parasites of freshwater fishes in Indonesia. Contrib. Inl. Fish. Res. Stat. No. 2. 1 60.
Siahaan, N.H.T. 2004. Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan,edisi kedua, Penerbit Erlangga.
Suwignyo. S. B . Widigdo. Y . Wardianto dan Krisanti. 1997. Avertebrata Air . Jilid I. Fakultas Perikanan dan Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Triyanto. 2007. Bahan Ajar Mata Kuliah Parasit dan Penyakit Ikan, Jurusan Perikanan, Universitas Gadjah Mada.