• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997, hlm. 42

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997, hlm. 42"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang

Kebudayaan Jawa adalah salah satu kebudayaan di Asia yang paling kuno dan identik akan tradisi, perilaku dan peralatan kuno. Kekayaan ini cukup nyata dari sejarah kebudayaan Jawa yang berjalan terus-menerus selama lebih seribu tahun di daerah-daerah tertentu di pulau Jawa. Kebudayaan Jawa itu berasal dari beraneka ragam tradisi, kepercayaan dan cara hidup orang-orang dan bagi orang Jawa yang tinggal di pulau Jawa. Kebudayaan adalah sesuatu yang dianut sesuai dengan kondisi dan situasi lokal, sejarah dan pengaruh-pengaruh luar. Jadi, walaupun kebanyakan orang Jawa akan mengidentifikasi dirinya sendiri dengan ‘kebudayaan Jawa’, aspek-aspek dari cara hidup akan bervariasi menurut di mana manusia bertempat tinggal. Kebudayaan Jawa yang asli dari masyarakat-masyarakat di pulau Jawa sudah berjalan selama puluh-puluhan generasi, berarti kebudayaan ini sudah sangat kaya dalam unsur-unsur kebudayaan universal seperti sistem organisasi sosial, pengetahuan, kesenian, religi dan bahasa. Setelah puluh-puluhan generasi kebudayaan Jawa ini tumbuh dari gagasan-gagasan saja tentang pergaulan antar manusia dan pandangan dunia sampai ciptanya benda-benda yang memantulkan identitas kongkret akan masyarakatnya.

Etika yang terkandung dalam kebudayaan Jawa diantaranya adalah prinsip rukun atau harmonis1 yang mengutamakan hubungan baik antar manusia melalui mencegah berkelahi terbuka2, menggunakan ukuran pada dirimu sendiri (tepa selira),3 dan bersifat ramah-tamah (antara lain).

1 Franz Magnis-Suseno, Javanese Ethics & World View: The Javanese Idea of the Good Life,

PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997, hlm. 42

2 Prinsip ini hanya istilah akademik untuk jumlah tindakan atau pikiran masyarakat Jawa

terhadap hubungan satu sama lain yang menetapkan rasa harmonis di masyarakat. Ini terbukti dari wawancara dengan orang-orang di masyarakat yang tidak mengenal ‘prinsip rukun’.

3 Dr Purwadi Imam Samroni, Kamus Politik Lokal, pustaka DAFINA, Yogyakarta, 2003,,

(2)

Konsep kuno masyarakat Jawa yang mengatakan ada roh-roh di mana-mana dan akibatnya harus waspada dalam segala hal supaya jangan membuat marah melainkan membuat tenang. Konsep religi ini muncul strukturnya atau gagasan lain untuk menangani situasi ini dan bagaimana tinggal dalam dunia yang diciptakan seperti ini (munculnya pandangan dunia). Sebagai contoh, slametan adalah tradisi lama dimana anggota masyarakat berkumpul setelah seorang menikah, meninggal atau masa waktu yang lain terjadi untuk makan bersama dan berdoa pada roh-roh (pandangan tradisional).4 Tradisi yang lain mengatakan jangan membiarkan bayi merangkuk pada tanah atau roh-roh akan merasukinya, jadi harus dibawa ibunya. Tradisi-tradisi semacam tersebut diatas, sudah mulai sulit untuk dijumpai dalam pergaulan masyarakat.

Dunia senantiasa berubah secara fisik akibat polesan ilmu pengetahuan. Pola pikir masyarakatnya semakin berkembang akibat kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi. Segala kemajuan yang ada, tidak mampu mendatangkan progres yang tinggi bagi kualitas kehidupan moral yang ada. Kedamaian dunia yang diangankan beberapa dekade yang silam akibat perihnya luka peperangan dan penindasan imperialisme masih jauh dari yang diharapkan. Perubahan-perubahan sosial ke arah

Terbentuknya masyarakat dunia yang lebih baik terbentur oleh dinding kokoh konvergensi akibat dari dominasi kepentingan-kepentingan yang ada. Dinding-dinding konvergensi sosial ini tidak dapat dipungkiri masih sangat kuat dan bertahan kokoh dengan beragam wajah di segala zaman dan bentuk kehidupan manusia. Bentuk kehidupan tradisional (pra-modern) dengan tradisi feodalismenya, hingga pada kehidupan modern yang kental akan pengaruh kapitalisme.

Kehidupan modern yang berpilar pada prinsip rasionalitas diharapkan mampu membuka peluang perkembangannya cara-cara berfikir, kreativitas

4 Ibid, hlm. 165

(3)

(termasuk aspek budaya) yang baru dan lebih positif bagi kemajuan utuh umat manusia.5

Rasionalitas dijadikan alat bagi kekuatan kapitalisme untuk dipakai memenangkan kepentingan manusia. Jargon kesejahteraan, bahwa kekuatan ini kemudian merambah dunia mendatangkan konvergensi sosial baru dalam perilaku hidup dan sosio kultural umat manusia. Pragmatisme, konsumerisme yang berlebihan, dan segala bentuk perbudakan manusia atas materi adalah sebagian dari akses negatif yang di timbulkan dari proses ini. Membuat manusia seakan membeku disebuah dinding sempit yang kemudian dinding itu menggencet kreatifitasnya, meremukan kepriadianya (Identitas dirinya) dan akhirnya terpaksa jatuh dan binasa menjadi mahluk yang hina dan lemah.

Reformasi yang berbentuk kekacauan dapat di lihat dari krisis ekonomi yang berimbas pada krisis multi dimensi yang berkepanjangan. Krisis ini semakin bertambah ketika pemerintah mengambil kebijakan yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyatnya dengan menaikkan harga BBM.

Krisis yang melanda indonesia berdampak pada perilaku masyarakat tanpa bisa dihindari lagi. Etika bukan lagi menjadi prioritas utama dalam kehidupan bermasyarakat. Tata krama (sopan santun) sudah hilang dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai bentuk kejahatan semakin banyak menghiasi berita di berbagai media masa, baik cetak maupun elektronik.

Krisis ini telah menghambat perkembangan manusia. Ancaman-ancaman dan atas kerusakan kehidupan manusia telah menjadi persoalan serius yang di hadapi oleh manusia Indonesia. Hal ini diperparah lagi oleh kemajuan teknologi komunikasi informasi dan teknologi transportasi yang kemudian menghasilkan proses massifikasi, di mana pendapat umum di jadikan ukuran kebenaran. Proses massifikasi ini kemudian terciptalah kebudayaan massa yang menyebabkan demoralisasi, dalam artian kebudayaan massa cenderung meragamkan suara hati dan mengurangi tanggung jawab

(4)

individu.6 Budaya juga telah menghilangkan interioritas individu sebagai subyek, sehingga orang tidak memiliki keberanian untuk mengikuti suara hatinya sendiri. Pada akhirnya mainstream yang diberlakukan oleh masyarakat global adalah trend, tidak mengikuti trend adalah bodoh.7 Selain dampak negatif dari proses globalisasi tersebut ada juga dampak yang lain adalah hilangnya keberanian dan antusiasme moral karena digantikan oleh ketrampilan.8

Krisis ekonomi ini telah menciptakan manusia yang kehilangan jati dirinya dalam budaya massa yang telah dikondisikan oleh sebuah struktur kekuasaan baik dalam sebuah negara, pemerintah, maupun dalam masyarakat itu sendiri. Subjektivitas manusia sebagai makhluk yang rasional dalam memilih sikap sudah tidak mungkin lagi dilakukan ketika sebuah proses adaptasi memaksanya untuk menjadi satu dengan kolektivitas yang membodohinya. Sebuah sistem kekuasaan yang tidak lepas dari sejarah telah menghilangkan sejarah satu demi satu dalam membangun pola politik kekuasaan dalam mempertahankan kekuasaannya dalam struktur pemerintahan. Sejarah telah dimanipulasi untuk dilupakan, sementara keberadaan manusia semakin membutuhkannya untuk mengembangkan jati diri dan pencerahan bagi dirinya sendiri dalam mencari setiap bentuk kebenaran termasuk setiap jalan menuju Tuhan melalui agama.

Persoalan besar yang muncul di tengah-tengah umat manusia sekarang ini adalah krisis spiritualitas. Kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi rasionalisme, empirisme, dan positivisme, ternyata membawa manusia kepada kehidupan modern di mana skularisme telah menjadi mentalitas zaman, jadi spiritualisme menjadi suatu tema bagi kehidupan modern. Sayyed Hussein Nasr dalam bukunya, sebagai dikutip

6 I. Bambang Sugiharto, Dari Etika ke Religi: Inspirasi dari S. Kiergeaard dalam I. Bambang

Sugiharto dan Agus Rachmat W., Wajah Baru Etika dn Agama, Kanisius, Yogyakarta, 2000. hlm. 95.

7 Ibid

(5)

Syafiq A. Mughni menyayangkan lahirnya keadaan ini menjadi The Plight Of Modern Man, nestapa orang-orang modern.9

Manusia modern telah sampai pada tingkatan pemikiran positif. Pada tahapan ini manusia sudah lepas dari pemikiran religius, dan pemikiran filosofis yang masih global. Mereka telah sampai pada pengetahuan yang rinci mengenai segala sebab sesuatu yang terjadi di alam semesta ini.10

Seiring dengan lepasnya pemikiran yang religius dan filosofis, manusia menyadari pentingnya aspek esoteris (batiniah) di samping aspek eksoteris (lahiriah). Namun kenyataan menunjukkan bahwa aspek esoteris tertinggal jauh di belakang kemajuan aspek eksoteris. Akibatnya orientasi manusia berubah menjadi kian materialistis, individualistis, dan keringnya aspek spiritualitas. Akhirnya terjadilah iklim yang makin kompetitif yang pada gilirannya melahirkan manusia-manusia yang buas, kejam, dan tidak berprikemanusiaan sebagai dikatakan oleh Tomas Hobbes sebagaimana disitir oleh Nassruddin Razaq, Homo Homini Lupus Bellum Omnium Contra Omnes (manusia menjadi serigala untuk manusia lainnya, berperang antara satu dengan yang lainnya).11

Pergeseran nilai sebagaimana diungkapkan di atas, mulai dirasakan dampaknya yaitu munculnya individu-individu gelisah, gundah gulana, rasa sepi yang tidak mempunyai alasan bahkan sampai pada tingkat keinginan untuk bunuh diri. Keadaan ini tentunya sudah menyangkut pada akhlak manusia dalam mengarungi kehidupan yang makin kompleks. Mulailah manusia melirik kembali pribadi Rasulullah SAW, terutama akhlaknya. Firman Allah dalam surat al-Qalam ayat 4;

َو

ِإﱠﻧ

َﻚ

ﻰ ُﺧ

َﻌ

َﻟ

ٍﻖ

ُﻠ

ٍﻢ

ِﻈ

َﻋ

9 Syafiq A. Mughni, Nilai-Nilai Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001. hlm.95.

10 Abdul Muhayya, “Peranan Tasawuf Dalam Menanggulangi Krisis Spiritual” Da;am HM.

Amin Syukur dan Abdul Muhayya, (Ed), Tasawuf dan Krisis, Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2001. hlm. 21.

(6)

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Q.S. al-Qalam: 4)12

Keluhuran akhlak Nabi Muhammad SAW, telah mendorong umatnya untuk mengenang dan mengkaji kembali tentang kelahirannya, perjuangannya, dan akhlaknya. Salah satu kegiatan umat Islam yang sering terdengar dan terlihat adalah maulid al-Barjanzi Natsr yang disusun oleh Ja’far al-Barjanzi al-Madani. Kitab ini merupakan kitab karya tulis seni sastra yang memuat tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, silsilah keturunannya, serta kehidupannya semasa kanak-kanak, remaja dan pemuda hingga Beliau diangkat menjadi Rasul.

Berkaitan dengan persoalan tersebut, perlu kiranya dilakukan penggalian terhadap pemikiran etika bagi manusia sebagai pribadi maupun dalam hubungannya dengan masyarakat. Salah satu usaha tersebut adalah dengan memadukan pemikiran tradisional dengan agama. Berkaitan dengan ini adalah pemikiran tentang etika jawa dengan konsep etika Islam, salah satunya adalah pemikiran Yasadipura II melalui tulisannya yang berjudul Serat Bratasunu. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa persoalan etika dalam konteks global tidak dapat didekati dan diselesaikan hanya dengan pendekatan agama Ansich.

Serat Bratasunu merupakan karya sastra jawa yang memuat ajaran etika manusia, khususnya etika anak terhadap orang tua yang dikaitkan dengan raja, majikan dan pejabat kerajaan.13 Hal ini sejalan dengan kaidah dasar hidup manusia jawa, yakni agar manusia dalam berbicara dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain sesuai dengan derajat dan kedudukannya.14

Serat Bratasunu ditulis pada tahun 1770 atas perintah Sri Narantaka sebagaimana tertulis dalam serat sebagai berikut;

12 Soenarjo, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang:Toha Putra, 1989), hlm 960. 13 Yasadipura II, Serat Bratasunu, Pupuh I bait 5-7, Manuskrip

14 Frans Magnis Suseno, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijakan Hidup

(7)

“Sekar pucung, serat wulang anggitanipun, Dyah Tumenggung Yasadipura ingkang nganggit, awit saking karsa jeng Sri Naranata”.15

(lagu pucung, serat pengajaran yang dihasilkan oleh Dyah Tumenggung Yasadipura yang ditulis pada zaman kanjeng Sri Naranata)

Yasadipura II merupakan sastrawan Jawa yang hidup pada abad 17 (1760 – 1845).16 Melalui karyanya ini Yasadipura II menginginkan agar Serat Bratasunu dijadikan pegangan orang tua dalam mendidik anak sebagaimana terlihat jelas di awal pupuh yang menyatakan bahwa :

“Bratasunu, lire brata iku laku, sunu iku anak, tegesa layang puniki, anggon-anggon amulang dhateng anak”.17

(Bratasunu. Arti Brata itu laku dan Sunu artinya anak. Maksud serat ini adalah untuk mengajarkan tingkah laku kepada anak)

Sebagaimana telah disinggung diatas, bahwa Bratasunu memuat aspek-aspek etika yang tinggi karena berisi tuntunan akhlaq bagi anak, tetapi yang meninjau dari sudut pandang Islam belum ada. dari sinilah penulis tertarik untuk meneliti dan menelaah mengenai kandungan etika Serat Bratasunu dalam sebuah skripsi yang berjudul Tinjauan Islam Terhadap Konsep Etika R. Ng. Yasadipura II Dalam Serat Bratasunu.

B. Pokok Permasalahan

1. Bagaimana kelebihan dan kekurangan konsep etika R. Ng. Yasadipura II dalam Serat Bratasunu ?

2. Relevansi konsep etika R. Ng. Yasadipura II dalam Serat Bratasunu dengan kondisi sat ini?

3. Bagaimana pandangan Islam terhadap konsep etika Yasadipura II dalam Serat Bratasunu ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah;

15 Yasadipura II, Ibid., pupuh I bait 1

16 Sri Suhandjati Sukri, Ijtihad Progresif Yasadipura II dalam Aktualisasi dengan Budaya

Jawa, Gam Media, Yogyakarta, 2004.hlm. 1.

(8)

1. Mengetahui kelebihan dan kekurangan konsep etika R. Ng. Yasadipura II dalam Serat Bratasunu.

2. Mengetahui relevansi konsep etika R. Ng. Yasadipura II dalam Serat Bratasunu dengan kondisi saat ini.

3. Mengetahui pandangan Islam terhadap konsep etika Yasadipura II dalam Serat Bratasunu.

D. Manfaat Penelitian

1. Menggali dan mengaktualisasikan kembali wacana tentang karya-karya klasik yang mempunyai budaya tinggi.

2. Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang etika Islam.

3. Membangun kerangka berfikir aplikatif yang bersesuaian dengan kondisi saat ini.

E. Telaah Pustaka

Sebagai seorang pujangga yang fenomenal, sudah sepantasnya kalau karya R. Ng. Yasadipura II banyak menarik minat peneliti untuk mengkaji dan menelitinya kembali. Mereka mencoba menelusuri dan mengurai simpul-simpul pemikiran R. Ng. Yasadipura II melalui karya-karyanya yang tertuang dalam bentuk teks-teks sastra, baik berupa tembang maupun syair-syair sastra.

Serat Bratasunu karya R. Ng. Yasadipura II mempunyai nilai-nilai budaya yang tinggi karena didalamnya mengandung aspek-aspek moral, sosial sekaligus religius. Tetapi telaah dan pengkajian kembali terhadap Serat Bratasunu dalam sebuah karya ilmiah, nyaris tidak ada. Hal ini lebih disebabkan karena belum ada naskah terjemahan Serat Bratasunu, baik dalam bentuk buku maupun manuskrip. Namun demikian, dari penulusuran peneliti lakukan, ditemukan beberapa buku yang mencoba mengupas pemikiran R. Ng. Yasadipura II dengan mengangkat karyanya yang lain. Salah satu buku tersebut adalah tulisan Nyi Jumeri Siti Rumidjah, BA., yang berjudul Naskah Asli Serat Sana Sunu yang diterbitkan tahun 1928 dicetak dalam huruf Jawa,

(9)

sedangkan dalam garapan Nyi Djumeri menggunakan dua bahasa yakni bahasa Jawa latin dan bahasa Indonesia.

Selain Rumidjah, melalui disertasi yang telah dibukukan dalam judul Ijtihad Progresif Yasadipura II dalam Akulturasi Islam dengan Budaya Jawa, Dr. Hj. Sri Suhandjati Sukri mencoba mengupas panjang lebar mengenai isi kandungan Serat Sanasunu. Dalam disertasi tersebut, Sri Suhandjati mengupas tentang nilai-nilai moral yang terkandung dalam serat Sana Sunu belum menyentuh pada konsep pemikiran R. Ng. Yasadipura II mengenai etika dalam Bratasunu. Dari hasil desertasi Sri Suhandjati melihat bahwa secara garis besar dalam serat Sana Sunu diajarkan empat tatakrama, yaitu (a) Tata krama terhadap diri sendiri, (b) Tata krama terhadap Tuhan, (c) Tata krama sosial dan (d) Tata krama profesi.

Meski demikian, dalam buku tersebut Suhandjati juga menyinggung sedikit mengenai Serat Bratasunu dimana dinyatakan dalam buku tersebut bahwa Serat Bratasunu isinya antara lain adalah mengupas kewajiban seseorang terhadap orang tua yang dikaitkan dengan kewajiban terhadap raja.

Selain buku-buku tersebut, ada beberapa skripsi yang mengangkat tema akhlaq, diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Cristina Arifah tentang nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kisah Nabi Yusuf (kajian tematik Terhadap al-Qur'an).18 Selain itu, juga penelitian yang dilakukan oleh Faiqotul Himma tentang nilai-nilai pendidikan moral dalam keluarga menurut al-Qur'an surat at-Tahrim ayat 6 dan asy-Syu’ara ayat 214.19

18 Cristina Arifah NIM: (3196062), “Nilai-nilai Pendidikan Akhlak dalam Kisah Nabi Yusuf

(Kajian Tematik aaterhadap al-Qur’an)”, (Semarang Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang,2001)

19 Faiqotul Himma (NIM:3197138), “Nilai-nilai Pendidikan Moral; dalam Keluarga

Menurut l-Qur’anSurat at-Tahrim : 6 dan asy Syu’ara: 214”, (Semarang: Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, 2002)

(10)

Surat at-Tahrim 6 :

َﻳﺎ َأﱡﻳ

َﻬ

َﻦ

ِﺬ

اﱠﻟ

ا

ُﻨ

َﻣ

ُﻗ

ا

ْﻢ

ُﻜ

َﺴ

ُﻔ

َأﻧ

ْﻢ

ُﻜ

ِﻠﻴ

ْه

َأ

َو

َﻧﺎ

ًا

ر

َه

ُد

ُﻗ

َو

ُس

ﱠﻨﺎ

اﻟ

َو

اْﻟ

ِﺤ

َﺠ

َر

ُة

َﻋ

َﻬ

َﻠْﻴ

ٌﺔ

َﻜ

ِﺋ

َﻠﺎ

َﻣ

ِﻏ

ٌظ ِﺷ

َﻠﺎ

ٌد َﻟﺎ

َﺪا

َن

ُﺼ

ْﻌ

َﻳ

اﻟ

َﻪ َﻣ

ﱠﻠ

ْﻢ

ُه

َﺮ

َﻣ

َأ

َو

َﻳْﻔ

َﻌ

ُﻠ

َن

َﻣ

َن

و

ُﺮ

َﻣ

ْﺆ

ُﻳ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu

dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Surat asy-Syu’ara ayat 214:

َو

َأﻧ

ِﺬ

ْر

َﻚ

َﺗ

َﺮ

ِﺸ

َﻋ

َﻦ

ِﺑﻴ

َﺮ

َﺄْﻗ

اْﻟ

Artinya : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang

terdekat,”.

Dengan melihat penelitian yang akan penulis lakukan, dari beberapa buku dan skripsi tersebut, belum ada yang membahas masalah etika yang terkandung dalam Serat Bratasunu.

F. Metode Penelitian

Berdasarkan kerangka teoritik, maka penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah sebagai berikut:

1. Jenis dan Pendekatan

Sebuah karya Sastra adalah karya seni dalam kata-kata. Agar peneliti sanggup menghayati keindahannya dan mampu menangkap makna yang dikandung secara menyeluruh, maka seorang peneliti harus

(11)

peka terhadap segala isyarat atau tanda-tanda linguistik (bahasa) khusus yang digunakan oleh pengarang dalam karangannya.20 Karena obyek material dalam penelitian ini adalah sebuah karya Sastra, maka peneliti menggunakan metode pendekatan Strukturalisme Semiotik. Strukturalisme pada dasarnya berasumsi bahwa karya sastra merupakan suatu konstruksi dari unsur tanda-tanda. Sedangkan semiotik atau semiologi adalah ilmu tentang tanda-tanda dalam bahasa dan karya sastra. Dengan demikian strukturalisme semiotik adalah strukturalisme yang dalam membuat analisis pemaknaan suatu karya sastra mengacu pada semiotic.21

2. Sumber Data a. Data Primer

Sebagai sumber data primer dalam penelitian ini adalah karya R. Ng. Yasadipura II yang secara langsung berkaitan dengan tema skripsi ini, yakni Serat Bratasunu.

b. Data Sekunder

Sumber data sekunder dalam penelitian buku-buku dan karya ilmiah yang mengkaji tentang karya-karya R. Ng. Yasadipura II atau yang membahas tentang pemikiran R. Ng. Yasadipura atau yang berkaitan dengan judul skripsi ini.

3. Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah metode penelitian kepustakaan (library research) yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mencari data dan informasi dengan bantuan macam-macam materi yang terdapat di perpustakaan, misalnya beberapa buku, majalah, naskah, catatan dan lain-lain.22 Metode kepustakaan ini diambil karena dalam hal ini penulis mencoba untuk menelusuri karya

20 JJ. Ras (Peny.), Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir, Terj. Hesri, Gratifipres, Jakarta,

1985, hlm.vii

21 Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Rake Serasin, Yogyakarta, 1996,

hlm.166

(12)

Sastra klasik yang perlu ketelitian dan kejelian dalam mendalaminya, sehingga diperlukan membaca dan memahami literatur-literatur yang ada kaitannya dengan judul. Lalu dengan melalui metode ini pula data-data tersebut penulis susun menjadi karya ilmiah.

4. Metode Analisis Data

Karena obyek kajian dalam skripsi ini adalah sebuah karya Sastra yang merupakan gagasan seorang tokoh maka dalam melakukan analisis akan digunakan tiga teknik analisis data, yaitu: interpretasi, kesinambungan historis dan telaah hermeneutik.

a. Interpretasi23

Interpretasi digunakan untuk menyelami karya tokoh dalam rangka menangkap arti dan nuansa yang dimaksudkan tokoh secara khas.

b. Kesinambungan Historis24

Metode kesinambungan historis diperlukan untuk melihat benang merah dalam pengembangan pikiran tokoh yang bersangkutan, baik yang berhubungan dengan lingkungan historis maupun pengaruh-pengaruh yang dialami dalam perjalanan hidup tokoh itu sendiri. Di samping itu metode kesinambungan historis juga dapat digunakan untuk menerjemahkan pikiran tokoh dalam konteks dahulu ke dalam terminologi dan pemahaman yang sesuai dengan cara berpikir aktual sekarang.

c. Hermeneutik

Metode Hermeneutik adalah metode khusus yang biasanya digunakan untuk analisis pemaknaan suatu karya Sastra yang mengacu pada tanda-tanda dalam bahasa. Hermeneutik merupakan telaah pada totalitas atau keseluruhan karya Sastra, yang berupa sajak

23 Sudarto, Metode Penelitian Filsafat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997, hlm.98 24 Ibid., hlm.166

(13)

atau bait-bait syair yang terkait dalam satu tema atau keseluruhan karya itu sendiri.25

Dalam hal ini hermeneutik diartikan sebagai cara menafsirkan simbol berupa teks atau benda konkret untuk dicari arti dan maknanya. Metode hermeneutik menekankan pada kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami untuk dibawa ke masa sekarang. Sehingga dalam skripsi ini sangat tepat menggunakan metode ini karena yang dikaji adalah karya Sastra klasik hasil pujangga di masa yang lampau.

G. Sistematika Penulisan Skripsi

Sebagai upaya memperoleh gambaran yang lebih jelas dan untuk mensistematiskan penulisan dalam penelitian ini, penulis membaginya dalam lima bab, yaitu bab pertama yang merupakan pendahuluan berisi tentang (a) Latar belakang, (b) Rumusan masalah, (c) Tujuan penelitian, (d) Manfaat penelitian, (e) Telaah pustaka, (f) Metode penelitian dan (g) Sistematika penulisan.

Kemudian untuk bab dua berisi tentang etika. Sebagai landasan teori, dalam bagian ini penulis akan mendeskripsikan secara umum mengenai konsep etika dalam Islam, etika dalam pandangan Jawa dan etika dalam tradisi sastra Jawa.

Bab tiga, secara khusus akan mengungkap mengenai sosok R. Ng. Yasadipura II. Dalam bab ini akan dibahas mengenai (a) Riwayat hidup, (b) Karya-karyanya dan (c) Pokok pemikiran R. Ng. Yasadipura II.

Sedangkan bab keempat merupakan analisis terhadap pemikiran R. Ng. Yasadipura II. Di sini penulis akan membahas mengenai Serat Bratasunu dalam tiga bagian, yaitu (a) Konsep etika Yasadipura II, (b) Pandangan Islam terhadap konsep etika Yasadipura II dan (c) Relevansi konsep etika Yasadipura dengan kondisi saat ini

25 Noeng Muhajir, op.cit., hlm. 166

(14)

Bagian akhir dari skripsi ini adalah bab lima yang berisi (a) Kesimpulan, (b) Saran dan (c) Penutup.

Referensi

Dokumen terkait

Alternatif kedua : (1) bank syariah membeli sebagian aset nasabah dengan izin bank konvensional, sehingga terjadi syirkah al-malik antara bank dan nasabah

12 Karsono mengaku pernah ikut dalam peristiwa yang sangat bersejarah di Indonesia tepatnya dikota Surabaya, yaitu pertempuran yang dikenal oleh bangsa Indonesia dengan

N 2014, 'Hubungan Konsumsi Vitamin C Dengan Kesegaran Jasmani Pada Atlet Sepakbola di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar Jawa Tengah', Jurnal Gizi

Kepatuhan Orang Tua Dalam Menerapkan Terapi Diet Gluten Free Casein Free Pada Anak Penyandang Autisme Di Yayasan Pelita Hafizh Dan Slbn Cileunyi Bandung, 1–15.. Ditjen

Dengan demikian metode penelitian kualitatif dapat disimpulkan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, dan digunakan untuk meneliti obyek

Berdasarkan simpulan penelitian yang telah diuraikan di atas, saran yang dapat disampaikan oleh peneliti untuk meningkatkan bimbingan keagamaan orang tua tunggal

Khasanah Jawa juga kaya dengan ajaran tentang keutamaan moral, yang terkandung baik dalam serat-serat, adat-istiadat, situs artefak, upacara, kesenian maupun dari

Ibu Devi :“dalam menjalani proses pengerjaan analis media plan saya sebagai media planner harus bisa mengetahui dan menguasai software yaitu adquest dan arianna yang