ESTIMASI UNSUR KELUMIT PADA HASIL SAMPING PUPUK
DARI RENCANA EB-FGT PLTU BATUBARA DI INDONESIA
Herry Poernomo, Sutjipto
Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan, Badan Tenaga Nuklir Nasional, Jalan Babarsari Kotak Pos 6101 Ykbb Yogyakarta 55281, e-mail : [email protected]
ABSTRAK
ESTIMASI UNSUR KELUMIT PADA HASIL SAMPING PUPUK DARI RENCANA EB-FGT PLTU BATUBARA DI INDONESIA. Telah dilakukan estimasi unsur kelumit pada hasil samping pupuk dari rencana
pengolahan gas buang dengan berkas elektron (EB-FGT) pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah estimasi unsur kelumit seperti As, Cd, Cr, Cu, Hg, Ni, Pb dalam hasil samping pupuk (NH4)2SO4 and NH4NO3 dari rencana EB-FGT pada beberapa PLTU batubara di
Indoensia. Estimasi unsur kelumit menggunakan data sekunder unsur kelumit dalam abu layang dari PLTU Paiton dan data kandungan abu layang dalam hasil samping pupuk menurut petunjuk studi kelayakan EB-FGT PLTU batubara 350 MW dari IAEA-Tecdoc-1189. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan unsur kelumit dalam hasil samping pupuk (NH4)2SO4 dan NH4NO3 dari rencana EB-FGT di PLTU batubara
Indonesia sebagai berikut : As (0,014 mg/kg), Cd (< batas deteksi), Cr (2,961 mg/kg), Cu (1,960 mg/kg), Hg (0,301 mg/kg), Ni (7,700 mg/kg), Pb (0,280 mg/kg). Kandungan unsur kelumit tersebut lebih rendah daripada kandungan standar unsur kelumit dalam pupuk menurut standar SNI-02-6681-2002 dan SNI 19-7030-2004.
Kata kunci : unsur kelumit, pupuk, EB-FGT, PLTU batubara
ABSTRACT
TRACE ELEMENTS ESTIMATION ON THE FERTILIZER SIDE PRODUCTS FROM PLAN OF EB-FGT OF COAL-FIRED POWER PLANT IN INDONESIA. Trace elements estimation on the fertilizer side products
from plan of electron beam-flue gas treatment (EB-FGT) of coal-fired power plant (CFPP) in Indonesia has been arranged. The objective of this research is to estimate trace elements such as As, Cd, Cr, Cu, Hg, Ni, Pb in the (NH4)2SO4 and NH4NO3 fertilizers as side products of EB-FGT plan on the CFPPs in Indonesia. Trace elements
estimation used the secondary data of trace elements in the fly ash from Paiton CFPP and the data of fly ash content in the fertilizer side products according to guidelines for feasibility study of EB-FGT on the 350 MW CFPP from IAEA-Tecdoc-1189. Result from this researh shows that the trace elements content in the fertilizer side products of (NH4)2SO4 dan NH4NO3 from plan of EB-FGT in Indonesia CFPP as follows : As (0.014 mg/kg),
Cd (< limit of detection), Cr (2.961 mg/kg), Cu (1.960 mg/kg), Hg (0.301 mg/kg), Ni (7.700 mg/kg), Pb (0.280 mg/kg). Those trace elements content are lower than standard of maximum content of trace elements in the fertilizer according to SNI-02-6681-2002 and SNI 19-7030-2004.
Keywords : trace elements, fertilizer, EB-FGT, coal-fired power plant
PENDAHULUAN
emerintah melalui Peraturan Presiden RI nomor 71 tahun 2006 telah mengeluarkan kebijakan percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara 10.000 MW pada tahun 2009 – 2010 dengan distribusi 7.000 MW di Jawa-Bali dan 3.000 MW di luar Jawa. Direncanakan energi listrik sebesar 10.000 MW yang akan dihasilkan oleh PLTU batubara dipasok dari 20 unit PLTU batubara dengan kapasitas 300 – 625 MW pada 10 lokasi di Jawa dan 60 unit PLTU dengan kapasitas 7 – 150 MW pada 30 lokasi di luar Jawa[1, 2]. Sedangkan PLTU batubara yang telah beroperasi sampai dengan saat ini kira-kira sebanyak 40 unit dengan kapasitas sekitar 15.000 MW yang terletak pada 16 lokasi di dalam dan di luar Jawa. Dengan demikian dapat diprediksi bahwa pada tahun 2015 energi listrik yang dihasilkan oleh PLTU batubara sekitar 25.000 MW yang dipasok oleh sekitar 120 unit PLTU batubara dengan kapasitas 7 – 625
MW yang tersebar di sekitar 56 lokasi di seluruh Indonesia[2 - 6].
Sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang RI nomor 30 tahun 2007 bab III bagian ke-5 pasal 8 ayat 1, maka kegiatan pengelolaan energi wajib mengutamakan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan[7]. Sehubungan dengan hal tersebut, maka salah satu kontribusi dan kepedulian BATAN terhadap masalah lingkungan adalah pemanfaatan teknologi nuklir yaitu penggunaan mesin berkas elektron (MBE) untuk pengurangan polusi udara dari pembangkit listrik energi fosil yang disebut dengan
electron beam-flue gas treatment (EB-FGT) dengan
sasaran akhir dalam Agenda Riset Nasional (ARN) pada 2025 adalah pemakaian MBE pada pembangkit listrik energi fosil dengan kapasitas besar pada daerah dengan penduduk padat terutama di pulau Jawa[8].
N2+ + e -N2 Transmisi energi N2* Disosiasi molekuler N2*ÆNz+Nz N2++2H2O Æ H3O++OHz+N2 e-+O2Æ O2z- Reaksi ionik H3O + +O2z - Æ HO 2z + H2O Nz+NO Æ N2 + O NOz + HO2z Æ HNO3 Reaksi radikal SO2+OHz+O2+H2O Æ H2SO4+O2z HNO3 + NH3 Æ NH4NO3 Reaksi netralisasi H2SO4 + 2NH3 Æ (NH4)2SO4 Reaksi termal 2NH3+SO2+H2O Æ (NH4)2SO4 0 10-15 10-10 10-5 100 105 Waktu, detik
Gambar 1. Reaksi konversi SO2 dan NOx menjadi (NH4)2SO4 dan NH4NO3 oleh berkas elektron
Pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara (coal-fired power plant) akan dijumpai unsur kelumit yang ada di dalam bottom ash pada dasar
boiler, abu layang (fly ash) dari electrostatic precipitator (ESP), dan sejumlah kecil abu layang
yang lolos dari ESP bersama gas buang yang oleh beberapa PLTU batubara biasanya didispersikan ke udara bebas melalui cerobong (stack).
Unsur kelumit terdiri dari 3 kelompok polutan menurut tingkat bahayanya terhadap manusia, yaitu[9] : 1. Polutan yang sangat tinggi tingkat bahayanya
terhadap lingkungan seperti Cd, Pb, Cu, Hg, Zn, Sn, Cr, As,
2. Polutan yang mempunyai potensi ancaman tingkat tinggi terhadap lingkungan seperti Bi, U, Ba, Mn, Ti, Fe, Se, Te,
3. Polutan yang mempunyai bahaya tingkat medium terhadap lingkungan seperti F, Ni, V, Al, W, B, Br, Co, Be, Rb, Li, Ge, Cs.
Pada umumnya gas buang yang dihasilkan oleh PLTU batubara mengandung polutan berbahaya seperti SO2, NOx, CO2, volatile organic compounds
(VOC), unsur kelumit (Be, Cr, Mn, Co, Ni, As, Se, Cd, Sb, Hg, Pb), dan technologically enhanced natural
occuring radioactivity materials (TENORM) seperti 238
U, 226Ra, 232Th, 40K. Jika PLTU berbahan bakar fosil tersebut tidak dilengkapi dengan sistem pengolah gas buang yang baik, maka mulai tahun 2015 diperkirakan pencemaran udara dalam atmosfir di atas kawasan sekitar PLTU batubara dan sekitarnya yang tersebar di sekitar 56 lokasi dalam wilayah Indonesia akan meningkat tajam akibat dari dispersi polutan berbahaya dari kegiatan beberapa PLTU batubara tersebut ke lingkungan.
Salah satu cara penerapan teknologi yang ramah lingkungan pada PLTU batubara yaitu
pengolahan gas buang PLTU batubara dengan mesin berkas elektron (MBE) atau biasa disebut dengan
EB-FGT seperti pada Gambar 2.
Gambar 2. Diagram alir sederhana EB-FGT pada PLTU batubara
Tujuan utama EB-FGT adalah mengkonversi emisi SO2 dan NOx pada gas buang dari electrostatic precipitator (ESP) PLTU batubara sehingga polutan
SO2 dan NOx pada gas buang oleh ammonia dan
berkas elektron dalam process vessel akan dikonversi menjadi pupuk nitrogen (NH4)2SO4 dan NH4NO3
secara simultan dalam waktu singkat (orde detik) dengan mekanisme reaksi seperti pada Gambar 1[10, 11]. Menurut guidelines for feasibility studies pada IAEA-TECDOC-1189, maka pada EB-FGT PLTU batubara 350 MW dihasilkan produk samping pupuk majemuk sebesar 32.880 kg/jam yang mengandung (NH4)2SO4 = 32.200 kg/jam, NH4NO3 = 450 kg/jam,
dan abu layang = 230 kg/jam. Dengan demikian pada hasil samping pupuk (NH4)2SO4 dan NH4NO3
terkandung abu layang sebesar 0,7 % berat hasil samping pupuk.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada makalah ini dilakukan estimasi unsur kelumit seperti As, Cd, Cr, Cu, Hg, Ni, Pb pada pupuk (NH4)2SO4 dan
NH4NO3 sebagai hasil samping dari rencana EB-FGT
menggunakan data sekunder unsur kelumit pada abu layang dari PLTU batubara Paiton dan data kandungan abu layang pada hasil samping pupuk sesuai petunjuk studi kelayakan EB-FGT untuk PLTU batubara 350 MW dari IAEA-Tecdoc-1189[12].
PEMBAHASAN
Klasifikasi dan Distribusi Unsur Kelumit pada PLTU Batubara
Secara umum jenis unsur kelumit yang terdapat pada abu sama dengan yang ada di batubara, tetapi kandungan unsur kelumit akan diperkaya di dalam abu dengan suatu faktor relative enrichment (RE) sebagai berikut[13] : 100 c a, C . c i, C a i, C = RE (1)
dengan RE = pengkayaan relatif, Ci,a = konsentrasi
unsur kelumit dalam abu, Ci,c = konsentrasi unsur
kelumit dalam batubara, Ca,c = kadar abu dalam
batubara (%).
Meij, R. (1989, 1997) dalam Tolvanen, M. (2004), mengklasifikasikan unsur kelumit di dalam abu berdasarkan faktor RE pada Tabel 1[13, 14, 19]. Tabel 1. Faktor RE abu berdasarkan klas unsur
kelumit Faktor RE Klas Abu dasar pada boiler Abu layang pada ESP Abu layang pada hopper
Unsur kelumit dan sifat
I ≅ 1 ≅ 1 ≅ 1
Al, Ca, Ce, Cs, Eu, Fe, Hf, K, La, Mg, Sc, Sm, Si, Sr, Th, Ti : tidak menguap II c < 0,7 ≅ 1 1,3 - 2 Ba, Cr, Mn, Na, Rb II b < 0,7 ≅ 1 2 - 4 Be, Co, Cu, Ni, P, U, V,
W II a < 0,7 ≅ 1 > 4 As, Cd, Ge, Mo, Pb, Sb, Tl, Zn Menguap dan terkondensasi pada instalasi penangkap partikel abu (electrostatic precipitator) III << 1 < 1 - B, Br, C, Cl, F, Hg, I, N, S, Se : sangat mudah
menguap, sedikit terkondensasi
Klas I : Unsur kelumit ini mempunyai faktor RE = 0.7-1,3 dan terdeplesi di dalam abu layang.
Klas II : Semua unsur kelumit ini secara penuh terkondensasi dengan instalasi. Unsur kelumit ini terdeplesi di dalam abu dasar (faktor RE = 0,7), faktor
RE sekitar 1 untuk abu layang yang terendapkan di
dalam electrostatic precipitator (ESP), dan faktor RE
> 1,3 untuk partikel-partikel lebih kecil yang terlepas dari ESP.
Klas III : Unsur kelumit ini mempunyai faktor RE << 1 di dalam abu dasar dan faktor RE < 1 untuk abu layang yang terendapkan di dalam ESP. Unsur kelumit ini mudah menguap dan mungkin muncul dalam debu halus yang terdispersi atau dalam fasa uap.
Meij (1999) dalam Gibb, dkk. (2003) membagi unsur kelumit klas III ke dalam tiga kelompok yang menunjukkan penguapan tinggi (Cl, F, I), penguapan 50% (B, Br, Hg), dan penguapan rendah (Se, As). Kemungkinan unsur kelumit yang ada dalam fasa uap sebagai berikut : HCl, HF, HI, B2O3, HBr, Hg, HgCl2,
SeO2, As2O3[19, 20].
Menurut Meij dkk. (1989) dalam Zevenhoven dkk. (2001), beberapa studi menunjukkan bahwa unsur kelumit dapat diklasifikasikan ke dalam tiga klas seperti ditunjukkan pada Gambar 3[14, 16].
Pengukuran dan perhitungan termodinamik memberikan banyak informasi bagaimana unsur kelumit ada di dalam gas buang atau gas bakar. Ciri khas pembakaran batubara kebanyakan akan menghasilkan spesi gas seperti As sebagai AsO, As4O6 dan As2O5, Cd sebagai CdE (yaitu Cd
elementer) dan CdO, Cr sebagai CrOOH, CrO2OH,
dan CrO2(OH)2, Hg sebagai HgE (merkuri elementer),
Pb sebagai PbE dan PbO, Sb sebagai PbO, Se sebagai SeO2, V sebagai VO2 dan Zn sebagai ZnE. Co, Cu, Ni
dan bagian dari Cr tidak teruapkan dan ditemukan dalam partikel abu layang PM2,5 sebagai spinel ferrite
A2B3O4, dengan A2+ = Fe, Mg, Ni, Co, Cu, B3+ = Al,
Fe, Cr. Untuk gasifikasi situasi ini kurang jelas, kebanyakan elemen yang menguap seperti Hg, Sb dan Se sebagian besar ada sebagai HgE, SbS dan H2Se
(Frandsen dkk., 1994, Benson dkk., 1996, Helble, 1996, Señor dkk., 1998, Galbreath dkk., 2000 dalam Zevenhoven dkk., 2001)[16, 21, 22, 23, 24, 25].
Sebagai ilustrasi distribusi unsur kelumit dalam PLTU dengan ESP dan dry FGD ditunjukkan pada Gambar 4.
Pada Gambar 4 menunjukkan bahwa 90% unsur kelumit klas I dan klas II terkumpul dalam abu layang, dan 17% bagian penting dari unsur kelumit klas III dipindahkan oleh unit FGD (Couch, 1995 dalam Zevenhoven, 2001)[15, 16].
Unsur Kelumit pada Abu Layang dari PLTU Batubara di Asia
Sumber daya batubara di Indonesia sebagian besar berada di Kalimantan yaitu sebesar 61 %, di Sumatera sebesar 38 % dan sisanya tersebar di wilayah lain. Menurut jenisnya dapat dibagi menjadi
lignite sebesar 58.6 %, sub-bituminous sebesar 26.6
%, bituminous sebesar 14.4 % dan sisanya sebesar 0.4 % adalah anthracite [17].
Gambar 3. Klasifikasi unsur kelumit pada pembakaran batubara
Gambar 4. Distribusi trace elements pada PLTU batubara
Analisis unsur kelumit dalam abu layang dari PLTU Paiton dilakukan oleh PTKMR-BATAN menggunakan metode Neutron Activation Analysis (NAA), X-ray Fluoroscence (XRF), atau Atomic Absorption Scattering (AAS) dengan Standard Reference Material abu layang dari NIST, USA[26]. Analisis logam berat dalam abu layang di Philipina dan Thailand menggunakan Inductively Coupled Plasma Atomic Emission Spectrometry (ICP-AES), analisis Hg dan As menggunakan Cold Vapour Generation ICP-AES[27, 28]. Analisis logam berat dalam abu layang di China menggunakan ICP Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES), analsis Hg dengan
Cold Vapour Atomic Absorption Spectroscopy (CVAAS) dan Se dengan Hydride Generation Atomic Fluorescence (HGAFS)[29].
Dari Tabel 2 menunjukkan bahwa kadar unsur kelumit pada beberapa PLTU di Indonesia, Philipina, Thailand, dan China berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa kadar unsur kelumit yang dihasilkan dari PLTU batubara bergantung pada jenis batubara (anthracite, bituminous, sub bituminous, lignite), lokasi penambangan batubara, efisiensi sistem peralatan penangkap abu (electrostatic precipitator), kondisi operasi (tekanan dan suhu) pada boiler, akurasi peralatan dan ketelitian analisis unsur kelumit.
Data sekunder analisis unsur kelumit dalam abu layang pada beberapa PLTU di beberapa negara Asia yang ditunjukkan pada Tabel 3 tersebut tidak mengemukakan tentang validasi metode, standar uji, dan akreditasi laboratorium pengujian.
Tabel 2. Unsur kelumit dalam abu layang dari beberapa PLTU batubara di Asia
Philipina[27] Thailand[28] China[29]
Unsur
Kelumit Paiton[26]Sual Mauban Masinloc Mae Moh TPI CPPS Hg 43 1,2 1,9 1,2 8,5 1,1 0,1 Br < l.o.d Se 2 As 2 8,4 41,8 10,4 172 22,0 38 Cd < l.o.d <1 <1 <1 <1 <1 <0,2 Pb 40 8 15 22 22 9 15 Sb 21 Zn < l.o.d 23 138 51 Ba 360 Be < l.o.d Co 6 25 12 16 17 Cr 423 6 49 18 39 72 35 Cu 280 22 34 34 52 27 47 Mo 16 8 Ni 1100 6 50 16 36 78 58 Mn 122 215 308 566 182 68 l.o.d = limit of detection, TPI : Thai Petrochemical Industry, CPPS : Castle Peak Power Station, Hong Kong
Estimasi Unsur Kelumit pada Produk Samping Pupuk dari EB-FGT PLTU Batubara
Studi kelayakan EB-FGT pada PLTU batubara 350 MW di Indonesia dapat dilakukan dengan mengadopsi pada guidelines for feasibility studies, IAEA-TECDOC-1189. Dari guidelines tersebut dihasilkan produk samping pupuk majemuk sebesar 32.880 kg/jam yang mengandung (NH4)2SO4 = 32.200
kg/jam, NH4NO3 = 450 kg/jam, dan abu layang = 230
kg/jam. Berdasarkan komposisi abu layang pada produk samping pupuk majemuk tersebut, maka persentase abu layang pada produk samping pupuk majemuk tersebut dapat ditentukan sebagai berikut :
AL P P x KT P AL KT = (2)
dengan KTP = kadar unsur kelumit dalam pupuk
(mg/kg), ALP = % berat abu layang dalam pupuk,
KTAL = kadar unsur kelumit dalam abu layang
(mg/kg), P = % berat pupuk.
Target akhir pemanfaatan teknologi nuklir untuk mendukung energi fosil dan terbarukan dalam ARN sampai dengan tahun 2025 yaitu pemanfaatan MBE untuk FGT PLTU batubara yang terletak pada lokasi padat penduduk seperti pulau Jawa [8]. Jika
EB-FGT PLTU batubara pada ARN tersebut akan
direalisasi, maka kadar unsur kelumit yang terkandung pada produk samping pupuk dapat diestimasi
berdasarkan data sekunder kadar unsur kelumit dalam abu layang PLTU batubara Paiton pada Tabel 3 dan persamaan (2) dengan hasil perhitungan seperti pada Tabel 3.
Tabel 3. Estimasi unsur kelumit pada pupuk dari
EB-FGT PLTU batubara 350 MW
Unsur Kadar, mg/kg Unsur Kadar, mg/kg
Hg 0,301 Sb 0,147 Br < l.o.d Zn < l.o.d Se 0,014 Ba 2,520 As 0,014 Be < l.o.d Cd < l.o.d Co Pb 0,280 Cr 2,961 Cu 1,96 Ni 7,7 Mo 0,112 238U 1,19 Mn 232Th 0,609
Hasil perhitungan unsur kelumit yang terkandung dalam produk samping pupuk majemuk yang mengandung NH4)2SO4 dan NH4NO3 dari
simulasi EB-FGT PLTU batubara 350 MW pada Tabel 3 dapat dibandingkan dengan Standar Nasional Industri (SNI) pupuk seperti terlihat pada Tabel 4. Tabel 4. Komparasi estimasi unsur kelumit pada
pupuk dari EB-FGT PLTU batubara 350 MW dengan Standar Nasional Industri (SNI) pupuk
Estimasi kadar unsur kelumit pada Standar kualitas pupuk, mg/kg Unsur
kelumit
Hasil samping pupuk dari
EB-FGT PLTU batubara 350 MW Anorganik majemuk SNI 02-6681-2002[30] Organik SNI 19-7030-2004[31] As 0,014 Maks. 5 < 13 Cd < l.o.d Maks. 1 < 3 Cr 2,961 < 210 Cu 1,960 6 – 8 < 100 Hg 0,301 Maks. 0,2 < 0,8 Ni 7,700 < 62 Pb 0,280 Maks. 5 < 150 Zn < 500
Tabel 4 menunjukkan bahwa hasil perhitungan unsur kelumit pada pupuk amonium sulfat dan amonium nitrat dari simulasi EB-FGT PLTU batubara 350 MW lebih rendah dari standar kualitas pupuk anorganik majemuk (SNI 02-6681-2002) dan standar kualitas pupuk organik (SNI 19-7030-2004).
Jika pupuk (NH4)2SO4 (amonium sulfat) dan
NH4NO3 (amonium nitrat) yang mengandung unsur
kelumit digunakan pada lahan pertanian secara terus menerus dalam jangka waktu yang sangat lama, maka akumulasi unsur kelumit lambat tapi pasti kemungkinan akan mengkontaminasi tanah. Namun karena kadar unsur kelumit dalam pupuk amonium
sulfat dan amonium nitrat sangat kecil dan akan terbawa oleh air hujan atau air irigasi yang mengalir di tanah pertanian, maka pemusatan kadar unsur kelumit dalam jumlah besar di satu bagian lahan pertanian akan sulit terjadi karena unsur kelumit akan terdispersi oleh air hujan dan air irigasi di sekitar lahan pertanian yang elevasinya lebih rendah. Dengan demikian pemakaian pupuk amonium sulfat dan amonium nitrat yang mengandung unsur kelumit dari EB-FGT PLTU batubara aman digunakan di lahan pertanian dalam jangka waktu yang lama. Lahan pertanian sendiri sebetulnya mengandung unsur-unsur logam yang terdiri dari unsur hara makro dan mikro. Sedangkan batasan maksimum kandungan unsur kelumit dalam tanah menurut Environment Protection Agency of USA (USEPA) adalah sebagai berikut : As (75 mg/kg), Cd (85 mg/kg), Cr (3000 mg/kg), Cu (4300 mg/kg), Hg (57 mg/kg), Ni (420 mg/kg), Pb (840 mg/kg), Se (100 mg/kg), Zn (7500 mg/kg) berdasarkan basis sampel kering[32].
KESIMPULAN
Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa kemungkinan unsur kelumit yang terkandung di dalam hasil samping pupuk majemuk yang mengandung (NH4)2SO4 dan NH4NO3 dari rencana EB-FGT pada
PLTU batubara 350 MW memenuhi standar kualitas pupuk nasional menurut SNI-02-681-2002 dan SNI 19-7030-2004, dan aman digunakan pada lahan pertanian untuk jangka panjang.
DAFTAR PUSTAKA
1. Peraturan Presiden RI Nomor 71 Tahun 2006, Tentang Penugasan Kepada PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk Melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Batubara, (2006).
2. Proyek Percepatan 10.000 MW, http://202.162.220.3/10000mw/index.asp, 25 Januari 2008.
3. PLN Teken 4 PLTU Batubara, http://plinplan.com/bisnis/keuangan/1950/
2008/01/14/pln-teken-4-pltu-batubara, 25 Januari 2008.
4. Suralaya Steam Power Plant, www.suralaya.com/profile.html, 25 Januari 2008. 5. Tarif Listrik Lebih Pasti dengan PLTU,
http://indeni.org/index.php?option= com_content &task=view&id=195&Itemid=55, 25 Januari 2008.
6. Status Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik
Swasta, http://www.elektroindonesia. com/elektro/utama4c.html, 25 Januari 2008.
7. Undang-undang RI nomor 30 tahun 2007 tentang Energi.
8. Agenda Riset Nasional 2006 – 2009.
9. CHMIELEWSKI, A.G., Environmental Effect of Fossil Duel Combustion, http://www.
cyberquebec.ca/layout/?uri=http://www.cyberqueb ec.ca/curie/fulltext/ chmielewski.htm, 27 November 2007.
10. QUINTIN, O.S., Electron Beam Treatment of Flue Gas to Reduce Sulfur and Nitrogen Oxide Emmisions : Review of First-Generation Process, http://www.pavac.com/ Docu/Egistra-ebflue gas treatment-Paper-0306, 17 Januari 2007.
11. CHMIELEWSKI, A.G., TYMINSKI, B., PAWELEC, A., ZIMEK, Z., The Industrial Plant for Electron Beam Flue Gas Treatment-Experiences and Perspectives, Second International Conference on Clean Coal Technologies for our Future, Castiadas, Italy, (2005).
12. IAEA, 2000, Radiation Processing of Flue Gases: Guidelines for Feasibility Studies, IAEA-TECDOC-1189, Vienna, (2000), http://www-pub.iaea.org/MTCD/ publications/PDF/ te_ 1189_prn.pdf, 10 Maret 2008,
13.
14. TOLVANEN, M., Mass Balance Determination for Trace Elements at Coal-, Peat- and Bark-Fired Power Plants, Academic Dissertation, Department of Physical Sciences Faculty of Science, University of Helsinki, Helsinki, Finland, VTT
Publications 524, (2004), http://ethesis.helsinki.fi/julkaisut/mat/fysik/vk/tolv
anen/ massbala. pdf, 6 September 2008.
15. MEIJ, R., Tracking Trace Elements at a Coal-Fired Power Plant Equipped with a Wet Flue-Gas Desulphurisation Facility, In : KEMA Scientific and Technical Reports, Arnhem, Netherlands, KEMA, Vol. 7, No. 5, (1989), pp. 267.355.
16. COUCH, G.R., Power from Coal - Where to Remove Impurities, IEA Coal Research, Report IEACR/82, London, (1995).
17. ZEVENHOVEN, KILPINEN, 2001, Trace Elements, Alkali Metals, pp. 8-5, 8-7, (2001), http://eny.hut.fi/research/combustion_waste/public ations/gasbook/ chapter8.PDF, 6 September 2008. 18. ASTHARY, R., Teknologi Gasifikasi Batubara,
(2007), http://www.majari
kanayakan.com/2007/12/teknologi-gasifikasi-batubara/, 13 Mei 2008
19. MEIJ, R., Behaviour, Control and Emissions of Trace Species by Coal-Fired Power Plants in Europe, KEMA-Report 58087-KST/MAT 97-6546, Product Number 83428.SP.08 97P01.07B, Arnhem, Netherlands, KEMA, (1997), 53 p. 20. GIBB, W., QUICK, W., SALISBURY, M,
Technology Status Review – Monitoring And Control of Trace Elements, Report No. COAL R249 DTI/Pub URN 03/1582, Powergen UK plc, Power Technology Centre, Ratcliffe on Soar, Nottingham, NG11 OEE, (2003), http://www.berr.gov.uk/files/file19031.pdf, 6 September 2008.
21. MEIJ, R, Mass Balance Studies of Trace Elements at Coal-Fired Power Plants Including Co-Combustion of Biomass and Wastes, Proceedings of CEM’99 Conference, University of Warwick, UK, (1999).
22. FRANDSEN, F.F., DAM-JOHANSEN, K., RASMUSSEN, P., Trace Elements from Combustion and Gasification of Coal - an Equilibrium Approach, Progr. Energy Combust. Sci. 20 115-138, (1994).
23. BENSON, S.A., et al., Trace Element Transformations in Gasification, Adv. coal-Fired Power Systems Review Meeting ´96, Morgantown, (WV), (1996).
24. HELBLE, J.J., Air Toxics in Combustion and Gasification Systems: Formation and Removal, in: High Temperature Gas Cleaning, R. Schmidt et al., (Eds.), Karlsruhe, Germany, (1996), pp. 367-382. 25. SENIOR, C.L., et al., Toxic Emissions From Coal
Combustion, in: Proc. of the 15th Ann. Int. Pittsburgh Coal Conf., Pittsburgh (PA), (1998). 26. GALBREATH, K.C., TOMAN, D.L.,
ZYGARLICKE, C.J., PAVLISH, Trace Element Partitioning and Transformations During Combustion of Bituminous and Subbituminous US Coals in a 7 kW Combustion System, Energy & Fuels 14 1265-1279, (2000).
27. WIDODO, S., Trace Element dalam Fly Ash Industri Batubara, Workshop Aplikasi Energi Nuklir untuk Proses Batubara Cair, PTKMR – BATAN, (2007).
28. BRIGDEN, K., SANTILLO, D., Heavy Metal and Metalloid Content of Fly Ash Collected from the Sual, Mauban and Masinloc Coal-Fired Power Plants in the Philippines, Greenpeace Research Laboratories, Department of Biological Sciences,
University of Exeter, Exeter, UK., (2002), http://www.greenpeace.to/publications/
philflyash.pdf, 6 September 2008.
29. BRIGDEN, K., SANTILLO, D., STRINGER, R., Hazardous Emissions from Thai, Coal-Fired Power Plants, Greenpeace Research Laboratories, Department of Biological Sciences, University of Exeter, Exeter, UK., (2002), http://www. greenpeace.to/publications/Thai%20fly%20ash%2 0report%20FINAL.pdf, 6 September 2008. 30. Greenpeace China, Coal Ash Analysis and the
Projected Coal Consumption of the CLP’s Power
Generation, (2005), http://www.greenpeace.org/raw/content/china/
en/press/ reports/20051003_clpflyash.pdf, 6 September 2008.
31. BALAI PENELITIAN TANAH, Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk, Balitbang Pertanian – Deptan, (2005), http://balittanah.litbang.
deptan.go.id/dokumentasi/juknis/juknis_kimia.pdf, 20 Mei 2009.
32. SNI 19-7030-2004, Spesifikasi Kompos dari
Sampah Organik Domestik, http://www.bsn.or.id/SNI/download/Ed03_04/SNI
%2019-7030-2004.pdf, 3 Agustus 2006.
33. MAGNAVACCA, C., GRAINO, J.G., Agriculture Reuse Feasibility Studies of Sludges for the Sewage Sludge Irradiation Plant in Argentina, In : Radiation Technology Conservation of Environment, Proceedings of Symposium Held in Zakopane, Poland, (1997), pp. 311 – 320.