BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1. Bank
2.1.1. Pengertian Bank
Mendengar kata Bank sebenarnya tidak asing lagi bagi kita, terutama yang hidup di perkotaan. Bahkan di pedesaan sekalipun saat ini kata Bank bukan merupakan kata yang asing dan aneh. Menyebut kata Bank setiap orang selalu mengaitkanya dengan uang, sehingga selalu saja ada anggapan bahwa yang berhubungan dengan Bank selalu ada kaitanya dengan uang. Di Negara-negara maju Bank merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat setiap kali bertransaksi.
Pengertian Bank secara sederhana adalah Lembaga keuangan yang kegiatan
utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkanya kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa Bank lainya.
Kemudian pengertian Bank menurut undang-undang RI nomor 10 tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan bahwa bank adalah badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
2.1.2. Fungsi dan Kegiatan Bank Umum
Secara garis besar fungsi Bank diklasifikasikan kedalam 3 hal, yaitu : 1. Bank berfungsi sebagai agent of trust
adalah kepercayaan masyarakat, dimana masyarakat percaya kepada bank bahwa semua dana yang disimpan kepada bank tersebut tidak akan disalahgunakan oleh bank. Sebaliknya pihak bank mengelola dana itu dengan baik.
2. Bank berfungsi sebagai agent of development
Bank dikatakan berfungsi sebagai agent of development, karena institusi bank ikut aktif dalam memperlancar kegiatan produksi dengan cara memberikan bantuan dana/ kredit kepada para pegusaha sehingga kegiatan perusahaan dapat dikembangkan. Selain itu bank juga aktif dalam memperlancar distribusi berbagai barang dan jasa sehingga konsumsi masyarakat akan semakin terjamin dan maksimum.
3. Bank berfungsi sebagai agent of services
Bank dikatakan berfungsi sebagai agent of services karena bank menyediakan dan memberikan berbagai jasa yang diperlukan oleh masyarakat. Misalnya dalam melakukan transfer dana/ uang, jasa incaso, penitipan barang-barang berharga dan lain-lain.
Kegiatan bank umum juga dikelompokkan kedalam 3 kegiatan pokok yaitu: 1. Menghimpun dana dari masyarakat (funding) dalam bentuk:
Simpanan Giro (Demand Deposit), Simpanan Tabungan (Saving Deposit), Simpanan Deposito (Time Deposit).
2. Menyalurkan dana ke masyarakat (Lending) dalam bentuk kredit seperti: Kredit Investasi, Kredit Modal Kerja, Kredit Perdagangan, Kredit Komsumtif, dan Kredit Produktif.
3. Memberikan jasa-jasa bank lainnya (services) antara lain:
Menerima setoran-setoran seperti: Pembayaran pajak, melayani pembayaran- pembayaran seperti: Gaji/ Pensiun / honorarium, Transfer (Kiriman Uang) Inkaso (Collection), Kliring (Clearing) Safe Deposit Box, dan jasa lainnya.
2.1.3. Sasaran Manajemen Bank
Dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya, bank memiliki sasaran yang dapat dibedakan berdasarkan jangka waktunya, yaitu:
1. Sasaran jangka pendek, berkaitan dengan penggunaan waktu dalam operasional bank untuk tujuan jangka pendek, misalnya pemenuhan likuiditas, menyediakan jasa-jasa lalu lintas pembayaran dan penanaman dana dalam bentuk surat-surat berharga jangka pendek atau instrumen pasar uang.
2. Sasaran jangka panjang, yaitu bagaimana memperoleh keuntungan dari kegiatan bank untuk meningkatkan nilai perusahaan dan memaksimalkan kekayaan pemilik bank.
2.1.4. Jenis- Jenis Bank
Praktek perbankan di Indonesia saat ini yang diatur dalam Undang-Undang Perbankan memiliki beberapa jenis Bank. Menurut Undang-Undang Pokok Perbankan nomor 7 tahun 1992 dan ditegaskan lagi dengan keluarnya Undang- Undang RI nomor 10 tahun 1998 maka jenis perbankan terdiri dari dua jenis Bank yaitu:
1. Bank Umum adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya t i d a k memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
2.1.5. Dasar Klasifikasi Jenis- Jenis Bank di Indonesia, yaitu:
1. Dilihat dari Segi Kepemilikan
Jenis Bank dilihat dari segi kepemilikan adalah sebagai berikut: a. Bank Milik Pemerintah
Dimana baik akte pendirian maupun modalnya dimiliki oleh Pemerintah, sehingga seluruh keuntungan Bank ini dimiliki oleh Pemerintah pula.
Contoh Bank milik Pemerintah antara lain: Bank Negara Indonesia 46 (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Tabungan Negara (BTN).
b. Bank Milik Swasta Nasional
Merupakan Bank yang seluruh sahamnya dimiliki oleh swasta nasional serta akte pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula pembagian keuntungannya diambil oleh swasta pula. Contoh Bank milik swasta nasional antara lain: Bank Bumi Putra, Bank Bukopin dan Bank Swasta lainnya.
c. Bank Milik Asing
Bank milik asing merupakan cabang dari Bank yang ada di luar negeri, baik milik swasta asing maupun pemerintah asing suatu negara.
Contoh Bank milik asing antara lain: ABN AMRO, Bank American Express, Bank of America dan Bank milik asing lainnya
d. Bank Milik Campuran
oleh pihak asing dan pihak swasta nasional. Di mana kepemilikan sahamnya secara mayoritas dipegang oleh warga Negara Indonesia. Contoh Bank campuran antara lain: Bank Finconesia, Bank Merincorp, Bank PDFCI.
2. Dilihat dari Segi Status
Pembagian jenis Bank dari segi status merupakan pembagian berdasarkan kedudukan atau status Bank tersebut. Kedudukan atau status ini menunjukkan ukuran kemampuan Bank dalam melayani masyarakat baik dari segi jumlah produk, modal maupun kualitas pelayanannya.
Dalam prakteknya jenis bank dilihat dari s e g i status dibagi ke dalam dua macam yaitu:
a. Bank Devisa
Bank yang berstatus devisa atau Bank devisa merupakan Bank yang dapat melaksanakan transaksi ke luar negeri atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan, misalnya transfer ke luar negeri, inkaso ke luar negeri, travellers cheque, pembukaan dan pembayaran Letter of Credit (L/C) dan transaksi luar negeri lainnya.
b. Bank Non Devisa
Bank dengan status non devisa merupakan Bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan transaksi sebagai Bank devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan transaksi seperti halnya Bank devisa.
3. Dilihat dari Segi Cara Menentukan Harga
Ditinjau dari segi menentukan harga dapat pula diartikan sebagai cara penentuan keuntungan yang akan diperoleh.
Jenis Bank jika dilihat dari segi atau caranya dalam menentukan harga baik harga jual maupun harga beli terbagi 2 kelompok yaitu:
1. Bank yang berdasarkan Prinsip Konvensional
Mayoritas Bank yang berkembang di Indonesia dewasa ini adalah Bank yang berorientasi pada prinsip konvensional. Hal ini disebabkan tidal terlepas dari sejarah bangsa Indonesia di mana asal mula Bank di Indonesia dibawa oleh kolonial Belanda (Barat).
Dalam mencari keuntungan dan menentukan harga kepada nasabahnya, Bank yang berdasarkan prinsip konvensional menggunakan dua metode yaitu:
a. Menetapkan bunga sebagai harga jual, baik untuk produk simpanan seperti giro, tabungan maupun deposito.
b. Untuk jasa-jasa Bank lainnya pihak perbankan konvensional menggunakan atau menerapkan berbagai biaya-biaya dalam nominal atau persentase tertentu seperti biaya administrasi biaya provisi, sewa, iuran dan biaya-biaya lainnya. Sistem pengenaan biaya ini dikenal dengan istilah fee based.
2. Bank yang berdasarkan Prinsip Syariah
Penentuan harga Bank yang berdasarkan Prinsip Syariah terhadap produknya sangat berbeda dengan Bank berdasarkan Prinsip Konvensional. Bank berdasarkan Prinsip Syariah menerapkan aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara Bank dengan pihak lain baik dalam hal untuk menyimpan dana atau pembiayaan usaha atau kegiatan perbankan lainnya.
2.2. Kredit
2.2.1. Pengertian Kredit
Dalam bahasa sehari-hari kata kredit sering diartikan memperoleh barang dengan membayar dengan cicilan atau angsuran dikemudian hari atau memperoleh pinjaman uang yang pembayarannya dilakukan dikemudian hari dengan cicilan atau angsuran sesuai dengan perjanjian.
Menurut asal katanya, kredit berasal dari kata credere yang artinya adalah kepercayan, maksudnya adalah apabila seseorang memperoleh kredit maka berarti mereka memperoleh kepercayaan kepada seseorang bahwa uang yang dipinjamkan pasti kembali.
Bila dikaitkan dengan kegiatan usaha, kredit berarti suatu kegiatan memberikan nilai ekonomi (economic value) kepada seseorang atau badan usaha berlandaskan kepercayaan saat itu, bahwa nilai ekonomi yang sama akan dikembalikan kepada debitur (bank) setelah jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan yang sudah disetujui antara kreditur (bank) dan debitur (user).
Sedangkan pengertian kredit menurut undang-undang Perbankan No.10 tahun 1998 adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antar bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Pengertian Pinjaman atau kredit di atas mengandung unsur-unsur sebagai berikut: a. Unsur waktu, yaitu ada petunjuk jarak saat pemberian dan pelunasan kredit.
b. Unsur resiko, yaitu akibat yang mungkin timbul karena adanya jarak waktu pemberian dan pelunasan.
c. Unsur penyerahan, yaitu menyerahkan nilai ekonomi kepada pihak lain.
d. Unsur kepercayaan, yaitu menyerahkan kepada pihak lain untuk mengelola uang. e. Unsur persetujuan, yaitu ada kesepakatan antara pihak pemberi dan penerima kredit, misalnya dari kelompok kepada anggota.
Dari berbagai kegiatan ekonomi dan berdasarkan berbagai aspek, maka timbul bermacam-macam jenis pinjaman atau kredit, antara lain:
a. Secara umum kredit dibedakan menjadi kredit komersial dan kredit konsumsi. b. Menurut tujuan penggunaannya dikenal kredit modal kerja dan kredit investasi. c. Dilihat dari jangka waktu pengembaliannya: jangka pendek (kurang dari 1 tahun),
jangka menengah ( 1 tahun) dan jangka panjang (lebih dari 1 tahun). d. Dilihat dari jenis pembiayaan: perdagangan, industri, pertanian, jasa, dll. e. Dari segi jaminan: kredit dengan jaminan dan tanpa jaminan.
f. Dilihat dari segi pemakaiannya ada kredit perorangan, badan usaha, koperasi, dan kredit yayasan.
g. Dilihat dari segi profesi: ada kredit dokter, notaris, guru, dll. Ciri- Ciri pinjaman atau kredit yang baik adalah:
a) Angsuran pinjaman/kredit lebih kecil dari keuntungan usaha. b) Tingkat suku bunga yang serendah-rendahnya.
c) Periode pembayaran sependek-pendeknya, sesuai dengan perputaran produksi usahanya dan peraturan pihak pemberi pinjaman/kredit.
e) Pinjaman digunakan sesuai dengan tujuan yang disepakat atau dengan kata lain tidak disalah gunakan.
f) Jumlah pinjaman sesuai dengan kebutuhan usaha.
2.2.2. Unsur-Unsur Kredit
Setiap pemberian kredit sebenarnya jika dijabarkan secara mendalam mengandung beberapa arti, sehingga jika kita bicara kredit maka termasuk membicarakan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya.
Adapun unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu fasilitas kredit adalah sebagai berikut:
1. Kepercayaan
Yaitu suatu keyakinan pemberi kredit (bank) bahwa kredit yang diberikan baik berupa uang, barang atau jasa akan benar-benar diterima kembali dimasa tertentu di masa datang. Kepercayaan ini diberikan oleh bank, karena sebelum dana dikucurkan, sudah dilakukan penelitian dan penyidikan yang mendalam tentang nasabah. Penelitian dan penyelidikan dilakukan untuk mengetahui kemauan dan kemampuannya dalam membayar kredit yang disalurkan.
2. Kesepakatan
Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya masing-masing. Kesepakatan penyaluran kredit dituangkan dalam akad kredit yang ditangani oleh kedua belah pihak bank dan nasabah.
3. Jangka Waktu
ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati, atau dengan kata lain bahwa ada jarak antara saat persetujuan pemberian kredit dan pelunasannya. 4. Resiko
Faktor resiko kerugian dapat diakibatkan dua hal yaitu resiko kerugian yang diakibatkan nasabah sengaja tidak mau membayar kreditnya padahal mampu dan resiko kerugian yang diakibatkan karena nasabah tidak sengaja yaitu akibat terjadinya musibah seperti bencana alam. Resiko ini menjadi tanggungan bank, baik resiko yang disengaja maupun resiko yang tidak disengaja.
5. Balas Jasa
Akibat dari pemberian fasilitas kredit bank tentu mengharapkan keuntungan dalam jumlah tertentu. Keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa tersebut yang kita kenal dengan bunga.
2.2.3. Tujuan dan Fungsi Kredit
Perkreditan melibatkan beberapa pihak: kreditur (bank), debitur (penerima kredit), otorita moneter, dan bahkan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, tujuan perkreditan berbeda-beda dan tergantung pada pihak-pihak tersebut.
Menurut Tjoekam (Tjoekam1999:3), tujuan kredit dibedakan atas 4 pihak, pihak- pihak tresebut adalah:
1. Bagi Kreditur (Bank)
a. Perkreditan merupakan sumber utama pendapatannya.
b. Pemberian kredit merupakan perangsang pemasaran produk-produk lainnya dalam persaingan.
profitibilitas bank. 2. Bagi Kreditur
a. Kredit berfungsi sebagai sarana untuk membuat kegiatan usaha makin lancar dan performance (kinerja) usaha semakin baik.
b. Kredit meningkatkan minat berusaha dan keuntungan sebagai jaminan kelanjutan kehidupan perusahaan.
c. Kredit memperluas kesempatan berusaha dan bekerja dalam perusahaan. 3. Bagi Otorita Moneter
a. Kredit berfungsi sebagai instumen moneter.
b. Kredit berfungsi untuk menciptakan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja yang memperluas sumber pendapatan dan kemungkinan membuka sumber-sumber pendapatan negara.
c. Kredit berfungsi sebagai instrumen untuk ikut serta meningkatkan mutu manajemen dunia usaha, sehingga terjadi efisiensi dan mengurangi pemborosan di semua lini.
4. Bagi Masyarakat
a. Kredit dapat menimbulkan backward dan forward linkage dalam kehidupan perekonomian.
b. Kredit mengurangi pengangguran, karena membuka peluang berusaha, bekerja dan pemerataan pendapatan.
c. Kredit meningkatkan fungsi pasar, karena ada peningkatan daya beli (social buying power).
Fasilitas kredit disamping memiliki tujuan juga berfungsi untuk:
a. Meningkatkan daya guna uang, artinya dengan diberikannya kredit uang tersebut menjadi berguna untuk menghasilkan barang atau jasa oleh penerima kredit. b. Meningkatkan lalu lintas dan peredaran uang, dalam hal ini uang yang diberikan
akan beredar dari satu wilayah ke wilayah lain.
c. Menigkatkan daya guna barang, dimana kredit yang diberikan dapat digunakan oleh debitur untuk mengolah barang yang tidak berguna menjadi berguna.
d. Meningkatkan peredaran barang, melalui kredit yang diberikan akan memperlancar arus barang sehingga jumlah barang yang beredar akan bertambah.
e. Sebagai alat stabilitas ekonomi, dengan adanya kredit yang diberikan akan menambah jumlah barang yang diperlukan masyarakat, membantu mengekspor barang keluar negeri sehingga menambah cadangan devisa.
f. Meningkatkan kegairahan berusaha.
2.2.4. Jenis-Jenis Kredit
Beragamnya jenis kegiatan usaha mengakibatkan beragam pula kebutuhan akan jenis kreditnya. Dalam praktiknya kredit yang ada di masyarakat terdiri dari beberapa jenis, begitu pula dengan pemberian fasilitas kredit oleh bank kepada masyarakat.
Secara umum jenis- jenis kredit yang disalurkan oleh bank dan dilihat dari berbagai segi adalah:
1. Dilihat dari Segi Kegunaan
a. Kredit Investasi
Yaitu kredit yang biasanya digunakan untuk keperluan perluasan usaha atau membangun proyek/ pabrik baru dimana masa pemakaiannya untuk suatu periode yang relatif lebih lama dan biasanya kegunaan kredit ini adalah untuk kegiatan utama suatu perusahaan.
b. Kredit Modal Kerja
Merupakan kredit yang digunakan untuk keperluan menigkatkan produksi dalam operasionalnya. Contohnya, untuk membeli bahan baku, membayar gaji pegawai. Kredit modal kerja merupakan kredit yang dicairkan untuk mendukung kredit investasi yang sudah ada.
2. Dilihat dari Segi Tujuan Kredit
Kredit jenis ini dilihat dari tujuan pemakaian suatu kredit, apakah bertujuan untuk diusahakan kembali atau dipakai untuk keperluan pribadi. Jenis kredit dilihat dari segi tujuan adalah:
a. Kredit Produktif
Kredit yang digunakan untuk peningkatan usaha atau produksi atau investasi. Kredit ini diberikan untuk menghasilkan barang atau jasa.
b. Kredit Konsumtif
Merupakan kredit yang digunakan untuk konsumsi atau dipakai secara pribadi. Dalam kredit ini tidak ada pertambahan barang dan jasa yang dihasilkan.
c. Kredit Perdagangan
Kredit perdagangan merupakan kredit yang digunakan untuk kegiatan perdagangan dan biasanya untuk membeli barang dagangan yang
pembayarannya diharapkan dari hasil penjualan barang dagangan tersebut. 3. Dilihat dari Segi Jangka Waktu
Dilihat dari segi jangka waktu, artinya lamanya masa pemberian kredit dari pertama sekali diberikan sampai masa pelunasannya. Jenis kredit ini adalah:
a. Kredit Jangka Pendek
Kredit ini merupakan kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari 1 tahun atau paling lama 1 tahun dan biasanya digunakan untuk keperluan modal kerja.
b. Kredit Jangka Menengah
Jangka waktu kreditnya berkisar antara 1 tahun sampai dengan 3 tahun, kredit jenis ini dapat diberikan untuk modal kerja.
c. Kredit Jangka Panjang
Merupakan kredit yang masa pengembaliannya paling panjang yaitu diatas 3 tahun atau 5 tahun. Biasanya kredit ini digunakan untuk investasi jangka panjang seperti perkebunan karet, kelapa sawit atau manufaktur.
4. Dilihat dari Segi Jaminan a. Kredit dengan Jaminan
Merupakan kredit yang diberikan dengan suatu jaminan tertentu. Jaminan tersebut dapat berbentuk barang berwujud atau tidak berwujud. Artinya setiap kredit yang akan dikeluarkan akan dilindungi senilai jaminan yang diberikan calon debitur.
b. Kredit tanpa Jaminan
jenis ini diberikan dengan melihat prospek usaha, karakter serta loyalitas si calon debitur selama berhubungan dengan bank yang bersangkutan.
5. Dilihat dari Segi Sektor Usaha
Jenis kredit jika dilihat dari segi sektor usaha sebagai berikut:
a. Kredit Pertanian, merupakan kredit yang dibiayai untuk sektor perkebunan atau pertanian rakyat.
b. Kredit Peternakan, kredit ini diberikan untuk jangka waktu yang relatif pendek seperti peternakan ayam dan untuk kredit jangka panjang seperti peternakan sapi atau kambing.
c. Kredit Industri, yaitu kredit untuk membiayai industri baik industri kecil, menengah atau besar.
d. Kredit Pertambangan, yaitu jenis kredit untuk usaha tambang, biasanya dalam jangka panjang seperti tambang emas, minyak atau tambang timah.
e. Kredit pendidikan, merupakan kredit yang diberikan untuk membangun sarana dan prasarana pendidikan atau dapat pula berupa kredit untuk para mahasiswa yang sedang belajar.
f. Kredit Profesi, diberikan kepada kalangan para profesional seperti dosen, dokter atau pengacara.
g. Kredit Perumahan, yaitu kredit untuk membiayai pembangunan atau pembelian perumahan.
h. Dan sektor-sektor usaha lainnya.
2.2.5. Prinsip-Prinsip Pemberian Kredit
dengan analisis 5C, analisis 7P dan studi kelayakan. Kedua prinsip ini memiliki persamaan yaitu apa-apa yang terkandung dalam 5C dirinci lebih lanjut dalam prinsip 7P dan di dalam prinsip 7P disamping lebih terinci juga jangkauan analisisnya lebih luas dari 5C.
Prinsip pemberian kredit dengan anlisis 5C kredit dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Character
Character adalah sifat atau watak seorang dalam hal ini calon debitur. Tujuannya
adalah untuk memberikan keyakinan kepada bank bahwa sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikan kredit benar-benar dipercaya. Character merupakan ukuran untuk menilai “kemauan” nasabah membayar kredit.
2. Capacity (Capability)
Untuk melihat kemampuan calon nasabah dalam membiayai kredit yang dihubungkan dengan kemampuannya mengelola bisnis serta kemampuannya mencari laba.
3. Capital
Capital adalah untuk mengetahui sumber-sumber pembiayaan yang dimiliki nasabah terhadap usaha yang akan dibiayai oleh bank.
4. Colleteral
Merupakan jaminan yang akan diberikan calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan. Fungsi jaminan adalah sebagai pelindung bank dari resiko kerugian.
5. Condition
Dalam menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi sekarang dan untuk di masa yang akan datang sesuai sektor masing-masing. Dalam kondisi perekonomian yang kurang stabil sebaiknya pemberian kredit untuk sektor tertentu jangan diberikan terlebih dahulu dan kalaupun jadi diberikan sebaiknya juga dengan melihat prospek usaha tersebut di masa yang akan datang.
Sedangkan penilaian dengan 7P kredit adalah sebagai berikut :
1. Personality, yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun masa lalunya. Personality juga mencakup sikap, emosi, tingkah laku dan tiindakan nasabah dalam menghadapi suatu masalah.
2. Party, yaitu mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifikasi tertentu atau golongan-golongan tertentu berdasarkan modal, loyalitas, serta karakternya. Sehingga nasabah dapat digolongkan ke golongan tertentu dan mendapatkan fasilitas kredit yang berbeda pula.
3. Perpose, yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk jenis kredit yang diinginkan nasabah.
4. Prospect, yaitu untuk menilai usaha nasabah di masa yang akan datang apakah menguntungkan atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya.
5. Payment, yaitu ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit yang diperolehnya.
atau akan semakin menigkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan diperolehnya dari bank.
7. Protection. Tujuannya adalah bagaimana menjaga kredit yang diberikan oleh bank namun melalui suatu perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan barang atau orang atau jaminan asuransi.
Disamping penilaian dengan 5C dan 7P, prinsip penilaian kredit dapat pula dilakukan dengan studi kelayakan, terutama untuk kredit dalam jumlah yang relative besar. Adapun penilaian kredit dengan studi kelayakan meliputi:
1. Aspek Hukum, yaitu aspek untuk menilai keabsahan dan keaslian dokumen-dokumen atau surat-surat yang dimiliki oleh calon debitur, seperti akte notaris, ijin usaha atau sertifikat tanah dan dokumen atau surat lainnya.
2. Aspek pasar dan Pemasaran, yaitu aspek untuk menilai prospek usaha nasabah sekarang dan di masa yang akan datang.
3. Aspek Keuangan, yaitu aspek untuk menilai kemampuan calon nasabah dalam membiayai dan mengelola usahanya. Penilaian aspek ini dengan menggunakan rasio-rasio keuangan.
4. Aspek Operasi/ Teknis, yaitu aspek untuk menilai tata letak ruangan, lokasi usaha dan kapasitas produksi suatu usaha yang tercermin dari sarana dan prasarana yang dimilikinya.
5. Aspek Manajemen, yaitu aspek untuk menilai sumber daya manusia yang dimiliki oleh perusahaan, baik dari segi kualitas dan kuantitas.
6. Aspek Ekonomi/ Sosial, yaitu aspek untuk menilai dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkan dengan adanya suatu usaha terutama terhadap masyarakat,
apakah lebih banyak benefit atau cost atau sebaliknya.
7. Aspek AMDAL, yaitu aspek yang menilai dampak lingkungan yang akan timbul dengan adanya suatu usaha, kemudian cara-cara pencegahan terhadap dampak tersebut.
2.2.6. Pengawasan Kredit
Pengawasan kredit adalah usaha untuk mengetahui dan menyusun strategi perbaikan secara dini indikasi-indikasi penyimpangan (deviation) dari kesepakatan bank dan debitur dalam proses kegiatan perkreditan yang kemudian mungkin menjadi penyebab kredit bermasalah dan mendatangkan kerugian bagi bank dan debitur.
1. Prinsip-prinsip pengawasan kredit
a. Upaya pencegahan dan penjagaan dini (early warning)
b. Dilakukan terhadap risk asset bank dari indikasi (signal) penyimpangan yang dapat merugikan bank dan debitur, seperti pengendalian intern dalam perkreditan sejak aplikasi kredit sampai pelunasan atau penyelesaiannya.
c. Built in control
Disebut juga pengawasan melekat, yang menunjukkan pengawasan sehari-hari oleh pejabat terkait dalam perkreditan atas setiap tahap proses kegiatan perkreditan sesuai dengan sistem dan prosedur yang dipakai dalam kegiatan debitur.
2. Indikasi dini deviasi kredit (early warning system)
Bagian ini dimulai dengan peringatan dini, dimana bank hanya dapat melihat dan mengetahui adanya indikasi dini itu bilamana pengawasan kredit berjalan menurut sistemnya. Indikasi dini itu berupa suatu penyimpangan dari kesepakatan bank dan debitur atau melanggar peraturan baik minor maupun mayor, kemudian akan menjadi
sebab timbulnya masalah, yang menyebabkan nasabah kesulitan likuiditas dan cash
flow, akhirnya terjadi ketidakmampuan debitur memenuhi kewajibannya. Indikasi
dimaksud dapat dideteksi melalui beberapa sumber, antara lain dari sejumlah kondisi, seperti: kondisi keuangan nasabah, kondisi manajemen perusahaan, perubahan pola usaha, transaksi perbankan yang menurun, administrasi dan dokumentasi kredit, makroekonomi dan kebijaksanaan.
2.2.7. Resiko Kredit
Setiap transaksi yang dilakukan bank, baik transaksi on balance sheet (termasuk transaksi prekreditan), maupun transaksi off balance sheet mempunyai kendala atau resiko yang akan mempengaruhi kinerja bank (bank performance), termasuk transaksi-transaksi perkreditan ( Mohammad, 1999:59 ).
Resiko secara umum adalah kemungkinan kerugian atau kegagalan dalam bisnis perbankan. Resiko kredit merupakan salah satu resiko yang dihadapi bank, disamping resiko likuiditas, resiko manajerial maupun resiko kekhilafan manusia. Resiko kredit umunya mengambil bagian yang terbesar dalam bisnis bank komersial karena pinjaman dan investasi portefel biasanya merupakan bagian terbesar dalam aktiva mereka. Bahkan sekalipun tidak tepat benar, jumlah dan perputaran pinjaman dan investasi portefel acap kali dipakai indikator bagi mutu manajemen bisnis perbankan.
Resiko kredit didefenisikan sebagai berikut:
a. Resiko yang timbul karena ketidakpastian pelunasan pinjaman oleh nasabah debitur. Kegagalan memenuhi perjanjian pelunasan, sebagian atau seluruhnya, termasuk dalam jenis resiko ini.
b. Resiko yang disebabkan oleh investasi yang tidak memberikan pendapatan atau investasi yang justru mengurangi aktiva modal.
Banyak jenis resiko yang dihadapi oleh manajemen bank dalam bisnis perbankan. Secara garis besarnya dapat dibedakan kedalam resiko kredit yang disebabkan oleh:
1. Faktor-faktor yang relevan dengan kreditur dan debitur
Dari pihak bank mungkin tidak bersikap hati-hati, sehingga kurang memperhatikan prinsip-prinsip pemberian kredit, atau resiko mungkin pula datang dari nasabah debitur, seperti kepailitan, meninggal dunia, penipuan, penyesatan dan kejahatan lainnya.
2. Faktor-faktor yang bersifat eksogein
Perekonomian makro yang sedang dilanda oleh resesi atau depresi yang menyebabkan margin laba negatif dan pengangguran massal, pergolakan politik dan sosial seperti pemogokan dan kerusuhan, merupakan beberapa resiko kredit yang disebabkan oleh faktor-faktor eksogein. Sebagian daripadanya tidak dapat dikendalikan karena berada diluar sistem.
Ada beberapa strategi yang dapat ditempuh oleh perbankan dalam mengurangi resiko kredit, antara lain:
a. Diversifikasi pinjaman atau portepel
Dengan memperbanyak jenis pinjaman dan portepel, resiko kredit akan berkurang karena setiap pinjaman dapat saling mengkompensasi kemungkinan munculnya resiko. Dengan memperbanyak diversifikasi pinjaman bisnis perbankan bertujuan untuk memperluas alternatif pilihan bukan menguranginya.
b. Penetapan standar kredit yang tinggi
Dengan meningkatkan standar kredit yang harus dipenuhi oleh calon nasabah debitur, resiko kegagalan dalam pemberian kredit dapat dikurangi, sekalipun mungkin banyak pelamar kredit yang mengundurkan diri atau mengurungkan niatnya untuk mengambil kredit.
c. Asuransi pinjaman kepada perusahaan asuransi
Sekalipun asuransi itu akan menambah biaya kredit, namun keamanannya pada umumnya lebih terjamin. Dengan mengutamakan kepentingan nasabah dan kepentingan bisnis perbankan, manajemen perlu mempertimbangkan manejemen resiko yang tepat.
2.2.8. Pengertian dan Ciri-Ciri Pengusaha Mikro dan Kecil
1. Usaha Mikro
Usaha Mikro sebagaimana dimaksud menurut Keputusan Menteri Keuangan No.40/KMK.06/2003 tanggal 29 Januari 2003, yaitu usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah) per tahun. Usaha Mikro dapat mengajukan kredit kepada bank paling banyak Rp.50.000.000,-.
Ciri-ciri usaha mikro adalah sebagai berikut:
a. Jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap, sewaktu-waktu dapat berganti. b. Tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu-waktu dapat pindah tempat.
c. Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha.
d. Pengusaha atau SDM nya berpendidikan rata-rata sangat rendah, umumnya tingkat SD dan belum memiliki kewirausahaah yang memadai.
e. Umumnya tidak/ belum mengenal perbankan tetapi lebih mengenal rentenir
f. Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.
g. Tenaga kerja atau karyawan yang dimiliki kurang dari 4 orang Contoh usaha mikro yaitu:
a. Usaha tani pemilik dan penggarap perorangan, peternak, nelayan dan pembudidaya;
b. Industri makanan dan minuman, industri meubelair pengolahan kayu dan rotan,industri pandai besi pembuat alat-alat;
c. Usaha perdagangan seperti kaki lima serta pedagang di pasar;
d. Peternakan ayam, itik dan perikanan;
e. Usaha jasa-jasa seperti perbengkelan, salon kecantikan, ojek dan penjahit (konveksi).
2. Usaha Kecil
Menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1995, usaha kecil adalah usaha produktif yang berskala kecil dan memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.200 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp.1 milyar pertahun serta dapat menerima kredit dari Bank di atas Rp. 50 juta sampai Rp. 500 juta.
Ciri-ciri Usaha Kecil antara lain:
a. SDM-nya sudah lebih maju, rata-rata berpendidikan SMA dan sudah ada pengalaman usahanya,
b. Pada umumnya sudah melakukan pembukuan/manajemen keuangan walau masih sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga, dan sudah membuat neraca usaha,
c. Pada umumnya sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya, termasuk NPWP,
d. Sebagian besar sudah berhubungan dengan perbankan, namun belum dapat membuat perencanaan bisnis, studi kelayakan dan proposal kredit kepada Bank, sehingga masih sangat memerlukan jasa konsultasi/pendampingan,
e. Tenaga kerja yang dipekerjakan antara 5 – 19 orang.
Dari bentuk usaha kecil tersebut, maka penggolongan usaha kecil di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Usaha Perorangan.
Merupakan usaha dengan kepemilikan tunggal dari jenis usaha yang dikerjakan, yang bertanggung jawab kepada pihak ketiga/pihak lain. maju mundurnya usahanya tergantung dari kemampuan pengusaha tersebut dalam melayani konsumennya. harta kekayaan milik pribadi dapat dijadikan modal dalam kegiatan usahanya.
2. Usaha Persekutuan.
Penggolongan usaha kecil yang berbentuk persekutuan merupakan kerja sama dari pihak-pihak yang bertanggung jawab secara pribadi terhadap kerja perusahaan dalam menjalankan bisnis.
Sedangkan, pada hakekatnya penggolongan usaha kecil, yaitu:
1. Industri kecil, seperti: industri kerajinan tangan, industri rumahan, industri logam, dan lain sebagainya.
2. Perusahaan berskala kecil, seperti: toserba, mini market, koperasi, dan sebagainya.
3. Usaha informal, seperti: pedagangan kaki lima yang menjual barang-barang kebutuhan pokok.
2.2.9. Klarifikasi Usaha Mikro dan Kecil
Usaha Mikro dan Kecil mempunyai peran yang sangat vital dalam pembangunan ekonomi. Hal ini disebabkan intensitas tenaga kerja yang relatif lebih tinggi dan jumlah investasi yang relatif kecil, maka usaha mikro dapat lebih fleksibel dan beradaptasi terhadap perubahan pasar. Usaha mikro tidak terlalu terpengaruh oleh tekanan ekternal dan karenanya dapat tanggap menangkap peluang untuk subsitusi impor dan meningkatkan supply (persediaan) domestik.
Pengembangan Usaha mikro dan kecil dapat memberikan kontribusi pada diversifikai ekonomi dan percepatan perubahan struktur sebagai pra-kondisi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang stabil dan berkesinambungan. Di samping itu dalam kaitan dengan investasi modal di usaha mikro dan kecil jauh lebih tinggi dari pada yang terjadi di perusahan besar. Berdasarakan hal tersebut maka pengembangan
usaha mikro dan kecil merupakan elemen kunci dalam setiap strategi penciptaan lapangan kerja dalam negeri. Usaha mikro sebagai pemasok (input) komponen suatu produk dan jasa mempengaruhi daya saing perusahaan besar, sehingga pengembangan Usaha mikro dan kecil sebagai elemen terpadu dalam strategi daya saing Nasional dan terkait dengan kebijakan kegiatan promosi investasi.
Usaha mikro dan usaha kecil telah menjadi fokus pemberdayaan baik dari aspek manajemen usaha, jiwa kewirausahaan dan pendanaan untuk mengembangkan usahanya, karena berbagai pertimbangan, dimana usaha mikro dan kecil merupakan terbesar dari kegiatan perekonomian masyarakat.
Apabila dirangkum secara umum ciri-ciri usaha mikro dan kecil juga mencirikan kelemahan yang perlu diatasi oleh semua pihak, adalah:
1. Banyak berlokasi di pedesaan, sub-urban dan kota-kota kecil, 2. Status usaha milik pribadi atau keluarga,
3. Sumber tenaga kerja dari lingkungan keluarga atau lingkungan sosial budaya setempat,
4. Pola kerja sering paruh waktu atau usaha sampingan,
5. Memiliki kemampuan terbatas dalam menerapkan teknologi, atau teknologi sederhana/tradisional,
6. Pada umumnya manajemen usaha sederhana, tidak ada perencanaan usaha,
7. Administrasi keuangan sederhana, atau tidak ada pemisahan antara keuangan keluarga dan usaha/bisnis khususnya usaha mikro,
8. Modal lebih banyak swadana dan berasal dari lingkungan pribadi,
10. Interaksi usaha/bisnis sangat terbatas antara sektor hulu dan hilir, 11. Orientasi usaha lebih bersifat subsistem,
12. Pelaku adalah rakyat dengan status sosial ekonomi rendah, khususnya dalam bidang pendidikan,
13. Jaringan usaha baik dengan pelaku ekonomi lain, pemerintah, asosiasi bisnis, lembaga pendidikan maupun lembaga keuangan relatif terbatas atau tidak ada sama sekali.
Tetapi terdapat keunggulan usaha mikro dan kecil dalam menghadapi guncangan krisis ekonomi, dimana terbukti masih menjadi penyelamat ekonomi nasional yaitu:
1. Penyedia lapangan kerja,
2. Penyedia barang-barang murah untuk konsumsi rakyat,
3. Efisiensi dan fleksibilitas menjadi kekuatan yang mampu bertahan hidup, 4. Usaha kecil sebagai pencetak wirausahawan baru.
Dilihat dari kepentingan perbankan usaha mikro dan kecil adalah segmen pasar yang cukup potensial untuk dilayani dalam meningkatkan intermediasinya, karena usaha mikro dan kecil mempunyai karakteristik positif dan unik yang tidak selalu dimiliki usaha non-mikro antara lain:
1. Perputaran usaha (turn over) umumnya cepat. Kemampuannya menyerap dana dana yang relatif mahal dan dalam situasi krisis ekonomi kegiatan bisnis/ usahanya tetap berjalan bahkan mampu berkembang karena biaya manajemennya yang relatif rendah,
2. Pada umumnya para pelaku usaha mikro dan kecil tekun, sederhana, serta dapat menerima bimbingan asal dilakukan dengan pendekatan tepat, Batasan UMKM di
Indonesia berdasarkan pada dua unsur utama, yaitu jumlah aset yang dimiliki, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, hasil penjualan pertahun dan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan.
2.2.10.Beberapa Masalah yang Dihadapi Pengusaha Mikro dan Kecil
1. Permodalan
Masalah pemodalan adalah merupakan suatu masalah utama yang dihadapi pengusaha mikro dan kecil. Pada umumnya pengusaha mikro dan kecil terbentur dalam masalah modal yang akan digunakan dalam mengembangkan usaha, meskipun banyak pengusaha yang mempunyai kemampuan untuk mengolah usahanya tetapi tidak mempunyai modal yang cukup sehingga pengusaha ini dapat mengembangkan usahanya lebih maju. Jelaslah modal merupakan faktor yang utama untuk menentukan arah perkembangan usaha yang dijalankan.
Seperti diketahui modal sangat panting dalam perkembangan usaha karena modal mempunyai 2 fungsi yaitu :
a. Menopang kegiatan produksi dan penjualan dengan jalan menjembatani antara saat pengeluaran untuk pembelian bahan serta jasa yang diperlukan dengan penjualan.
b. Menutup pengeluaran yang bersifat tetap dan pengeluaran yang tidak ada hubungannya secara langsung dengan produksi dan penjualan. Jadi jelaslah modal sangat diperlukan dalam pengembangan perusahaan dan tanpa modal, perusahaan/usaha yang dijalankan tidak dapar beroperasi dengan baik.
2. Manajemen
Masalah manajemen adalah merupakan suatu masalah yang dihadapi oleh pengusaha mikro dan kecil umumnya sedikit sekali pengetahuaan tentang organisasi dan manajemen.
Faktor yang perlu sekali diperhatikan dalam manajemen ini tergantung kemampuan dalan keberhasilan perusahaan. Pimpinan perusahaan yang mampu akan menghasilkan semua kegiatan yang memuaskan, dimana pimpinan yang seperti ini akan selalu dapat memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi manajemen. Sebaliknya ketidakmampuan manajemen banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan perusahaan terutama dalam kesulitan perusahaan. Selain itu kegagalan dalam manajemen dapat juga disebabkan karena kegagalan dalam kelemahan organisasi, dimana oraganisasi adalah alat bagi manager untuk memimpin, mengendalikan, dan mengemudikan perusahaan.
"Organisasi adalah wadah jaringan tata kerja sama kelompok orang-orang secara teratur dan kontinyu guna mencapai tujuan-tujuan bersama yang tertentu."
Dalam definisi di atas jelaslah bahwa tata kerja sama yang baik antara sekelompok orang atau pekerja-pekerja adalah sangat penting untuk mencapai suatu sasaran tertentu.
Jika diperhatikan para pengusaha mikro dan kecil, umumnya para pengusaha ini masih mempunyai kelemahan dalam manajemen disertai dengan rendahnya pengetahuan dalam bidang manajemen, yang disebabkan tingkat pendidikan yang dimiliki sangat rendah.
3. Keterampilan
Keterampilan adalah merupakan suatu keahlian yang dimiliki oleh para pengusaha dalam menghasilkan barang yang menyangkut pekerjaan sejak dari bahan baku sampai menjadi barang jadi yang siap untuk dipasarkan, dimana dalam hal ini diperlukan adanya suatu perencanaan yang baik sehingga proses produksi tersebut dapat ditempuh dalam waktu yang tepat dalam menghasilkan barang dalam tingkat mutu yang baik.
Jika dilihat pada kondisi pengusaha mikro dan kecil maka dapatlah dikatakan pada umumnya pengusaha mikro dan kecil masih mempunyai keterampilan berusaha yang rendah khususnya dalam menghasilkan barang, disebabkan karena rendahnya pengetahuan dan pendidikan yang dimiliki.
4. Pemasaran
Berbicara mengenai pemasaran maka pemasaran tidak terlepas dari masalah kualitas atau mutu dari produk yang dipasarkan, banyaknya barang saingan dan penetapan harga yang wajar, sehingga dapat dijangkau oleh pembeli dari sepia lapisan.
Melihat faktor-faktor di atas secara umum dapat dikatakan pengusaha mikro dan kecil umumnya lebih lemah dalam bidang pemasaran terutama dalam hal :
a. Rendahnya mutu barang yang dihasilkan.
b. Lemahnya pengetahuan dari pengusaha mikro dan kecil tentang penilaian pasar. c. Lemahnya pengetahuan tentang sistem pemasaran yang baik.