1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Jumlah rumah sakit di Indonesia meningkat tajam dari waktu ke waktu, dari total 2.406 rumah sakit tersebut 807 diantaranya adalah milik privat (Kemenkes, 2015). Angka yang cukup signifikan mengingat penelitian Azhary (2009) menyebutkan terdapat total 1.320 rumah sakit dan setengahnya adalah milik swasta. Angka ini dimungkinkan akan terus mengalami peningkatan dan tentunya persaingan rumah sakit yang semakin kompetitif.
Kepemilikan rumah sakit di Indonesia cukup bervariasi, diantara kepemilikan pemerintah, militer, swasta milik yayasan keagamaan dan kemanusiaan, swasta milik dokter, swasta milik perusahaan yang mencari keuntungan, dan milik badan usaha milik negara (Trisnantoro, 2009).
Terlepas dari milik pemerintah atau swasta, rumah sakit dalam 1kegiatan operasionalnya sangatlah bergantung pada aktifitas dokter. Di Indonesia hingga saat ini masih memiliki tantangan dalam hal jumlah dan distribusi dokter terutama dokter spesialis. Untuk mengatasi kelangkaan tenaga dokter spesialis, rumah sakit swasta memberi peluang kepada dokter spesialis rumah sakit pemerintah untuk bekerja paruh waktu di rumah sakit swasta (Sulastomo, 2005). De jong dkk (2006) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa dokter spesialis yang bekerja sebagai tenaga purna waktu bersedia bekerja sebagai tenaga paruh waktu di rumah sakit lain karena faktor waktu dan spesialisasinya. Hal tersebut mendorong model kemitraan dokter spesialis dengan RS swasta bersifat tailor made, yaitu hubungan yang menyesuaikan kebutuhan Rumah sakit.
Pola kemitraan antara dokter dan rumah sakit sangat menarik untuk dikaji karena rumah sakit dan dokter pada dasarnya saling membutuhkan, terlebih lagi distribusi dokter yang kurang merata, menumpuk di beberapa
kota besar sedangkan jumlah rumah sakit semakin banyak. Persaingan terjadi tidak hanya dalam ”memperebutkan ” pasien namun juga tenaga medis khususnya dokter sehingga rumah sakit terutama rumah sakit swasta berupaya mempertahankan keterlekatan dokter sebagai usaha memenangkan persaingan. Hal tersebut mendorong pengelola RS untuk menjalankan strategi untuk menjaga bahkan meningkatkan keterlekatan dokter dengan rumah sakit. Hali ini sesuai dengan penelitian Hamilton, et
al (2008) yang menyebutkan bahwa Keterlekatan dokter spesialis menjadi
kunci dan berdampak luas dalam pelayanan sebuah RS atau performa RS. Kehadiran dokter di rumah sakit, selain memiliki fungsi dalam hal klinis juga dapat berperan dalam manajemen rumah sakit. Penelitian Lipin (2012) menunjukkan manajemen rumah sakit yang terbaik ketika dokter terlibat dalam tata kelola klinis dan perusahaan. Praktisi medis (dokter yang terlibat dalam perawatan pasien) dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap manajemen yang efektif dan efisien dari rumah sakit umum dan swasta. Dokter dapat berkontribusi dalam manajemen rumah sakit, walau memiliki tanggung jawab klinis dalam perawatan pasien, dapat juga menambah keahlian penting untuk manajemen rumah sakit, tidak hanya masalah klinis tetapi juga tentang strategis, penganggaran dan masalah alokasi sumber daya.
Keterlekatan dokter dan rumah sakit sangat penting untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada pasien dan pengembangan rumah sakit, namun mungkin saja akan terjadi perselisihan antara pihak dokter dan pihak administrasi sehingga dibutuhkan proses hubungan yang bersifat timbal balik dan saling menghargai antara dokter dan pihak rumah sakit. Untuk dapat maju dan berkembang, rumah sakit harus menarik dan mempertahankan dokter yang kompeten dan berkualitas.
Cirebon dengan luas wilayah kotamadya sekitar 37,54 km2 dan kabupaten lebih kurang 984,52 km2 , didalamnya terdapat 17 rumah sakit swasta, dan 5 rumah sakit milik pemerintah. Dengan kondisi tersebut
maka persaingan pelayanan kesehatan dalam menarik dan mempertahankan tenaga kesehatan khususnya dokter akan semakin ketat.
No Rumah Sakit Jenis RS. Kelas RS
Kepemilikan
1. RS.Pertamina RS umum C Swasta 2. RSB. Muhammadiyah RS bersalin C Swasta 3. RS. Sumber Kasih RS umum C Swasta 4. RS. Pelabuhan RS umum C Swasta 5. RSB. Panti Abdi Dharma RS bersalin D Swasta 6. RS. Gunung Jati RS umum B Pemerintah 7. RS. Ciremai RS umum B Pemerintah 8. RS. Budi Asta RS umum D Swasta 9. RS. Putera Bahagia RS umum C Swasta 10. RS. Medimas RS bedah C Swasta 11. RS. Budi Luhur RS umum D Swasta 12. RS. Waled RS umum B Pemerintah 13. RS. Arjawinangun RS umum B Pemerintah 14. RS. Sumber Waras RS umum B Swasta 15. RS. Sumber Hurip RS umum D Swasta 16. RS. Mitra Plumbon RS umum B Swasta
17. RS. UMC RS umum C Swasta
18. RS. Sidawangi RS paru C Pemerintah 19. RS. Permata RS umum B Swasta 20. RS. Hasna Medika RS Jantung C Swasta 21. RS. Khalisah RS Ibu dan Anak C Swasta 22. RS. Cahaya Bunda RS Ibu dan Anak C Swasta
Secara umum rumah sakit swasta memiliki iklim persaingan yang lebih kuat dimana persaingan tidak hanya dalam fasilitas, sarana prasarana rumah sakit, alat penunjang medis, namun dalam hal sumber daya manusia diantaranya para dokter baik dokter umum, spesialis, maupun subspesialis. Menurut KKI, pada tahun 2015 di Indonesia terdapat 30.767 dokter spesialis dan 111.141 dokter umum yang tersebar tidak merata.
Jumlah total penduduk Indonesia menurut wikipedia (2015) sebanyak 255.4611.700 jiwa. Jika dilakukan perbandingan dengan data tenaga kesehatan menurut Konsil Kedokteran Indonesia 2015 maka didapatkan rasio dokter spesialis sekitar 12 per 100.000 penduduk dimana sudah sesuai dengan standar WHO sebesar 6 per 100.000 penduduk namun penyebaran dokter tersebut ternyata belum merata sehingga angka matematis tersebut tidak sesuai dengan implikasi yang diharapkan di lapangan. Rasio dokter umum di Indonesia sekitar 43 per 100.000 penduduk diatas standar WHO sebesar 40 per 100.000 penduduk namun masih dengan masalah yang sama yaitu penyebaran yang belum merata.
Cirebon dengan penduduk kota sejumlah 388.854 jiwa dan penduduk kabupaten dengan 2.126.179 jiwa memiliki rasio dokter umum 29,8 per 100.000 penduduk dan rasio dokter spesialis 11,5 per 100.100 penduduk. Nampak jika jumlah dokter umum jauh dibawah standar rasio WHO sehingga menjadi hal yang sangat wajar apabila dokter umum di Cirebon berpraktek lebih dari satu tempat.
Permenkes 56 tahun 2014 pasal 25 menjelaskan mengenai kalsifikasi dan perizinan rumah sakit kelas B, dimana untuk sumber daya manusia dirinci dalam pasal 32 yaitu dibutuhkan 12 dokter umum, 3 dokter gigi, 3 dokter spesialis untuk tiap pelayanan medis spesialis dasar, 2 dokter spesialis untuk setiap pelayanan medis penunjang, 1 dokter spesialis untuk tiap jenis pelayanan medis spesialis lain, 1 orang dokter subspesialis, 1 orang dokter gigi spesialis. Peraturan tersebut menunjukkan untuk berjalannya rumah sakit dibutuhkan sumber daya manusia yang cukup
banyak, sehingga persaingan dalam “memperebutkan” tenaga kesehatan menjadi sangat ketat.
Rumah Sakit Medicare merupakan salah satu rumah sakit swasta dibawah kepemilikan PT. Manifestama Mulia Abadi. Rumah Sakit Medicare terletak di kabupaten Cirebon, berdiri sejak tahun 2003. Rumah Sakit tersebut mempekerjakan dokter umum dan dokter spesialis yang cukup banyak karena RS tersebut merupakan RS tipe B dan telah terakreditasi penuh.
Rumah Sakit Medicare telah dilengkapi berbagai fasilitas untuk menunjang tercapainya visi dan misi rumah sakit diantaranya ruang HCU, ICCU, ICU, PICU, NICU, unit hemodialisa, instalasi rehabilitasi medis, EEG, treadmill, endoskopi, USG 4 Dimensi, CR, CT Scan, C-arm, dan MRI. Rawat inap dengan 200 tempat tidur dengan berbagai pilihan kelas diantaranya kelas standar ( kelas 3), superior (kelas 2), deluxe (kelas 1), executive (VIP), suite (VVIP), dan ruang isolasi. Dokter spesialis yang bertugas di RS Medicare terbagi menjadi dua macam, dokter spesialis purna waktu sejumlah 8 orang dan paruh waktu sejumlah 27 orang. Serupa dengan dokter spesialis, dokter umum terbagi menjadi dua macam yaitu dokter umum purna waktu sejumlah 20 orang dan dokter umum paruh waktu sejumlah 9 orang. Sebagai rumah sakit yang sedang berkembang dan menghadapi persaingan antar rumah sakit yang ketat, manajemen rumah sakit Medicare belum pernah melakukan evaluasi mengenai keterlekatan dokter terhadap rumah sakit. Hingga kini manajemen rumah sakit Medicare belum sepenuhnya memahami apa saja yang diperlukan untuk menimbulkan dan meningkatkan keterlekatan karyawan pada umumnya dan keterlekatan dokter pada khususnya.
Untuk mencapai visinya menjadi rumah sakit terbaik maka dibutuhkan sumber daya manusia yang terbaik, maka dari itu rumah sakit harus mendapatkan dan mempertahankan sumber daya manusia termasuk didalamnya dokter yang terbaik. Sejauh ini manajemen Rumah Sakit
Medicare belum pernah melakukan evaluasi mengenai keterlekatan atau
engagement dokter yang bekerja di rumah sakit.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, terdapat beberapa permasalahan yang ditemukan diantaranya:
1. Belum pernah dilakukan evaluasi keterlekatan dokter di rumah sakit Medicare sejak awal berdiri hingga sekarang.
2. Tingkat keterlekatan dokter spesialis dan dokter umum terhadap rumah sakit rawan karena adanya persaingan tenaga kesehatan antar rumah sakit. 3. Manajemen rumah sakit Medicare belum menemukan strategi untuk
meningkatkan keterlekatan dokter.
C. Tujuan Penelitian
1. Mengukur keterlekatan dokter di rumah sakit Medicare Cirebon
2. Mendeskripsikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keterlekatan dokter di rumah sakit Medicare Cirebon.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat praktis : dari penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi manajemen rumah sakit Medicare sejauh mana manajemen sumber daya manusia dan bagian yang terkait dapat mendorong keterlekatan dokter dan apa saja hal yang berpengaruh dalam keterlekatan dokter serta apa aja yang perlu dikembangkan dan diperbaiki agar keterlekatan dokter semakin meningkat
Manfaat teoritis : hingga saat ini di Indonesia belum banyak pembahasan mengenai keterlekatan dokter tehadap rumah sakit, sehingga diharapkan peneliti bisa belajar mengenai keterlekatan dokter tehadap rumah sakit dan apa saja faktor yang mempengaruhi hal tersebut.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian mengenai keterlekatan dokter spesialis (physician
engagement) merupakan isu baru dan penelitian mengenai keterlekatan
dokter (spesialis dan umum) merupakan salah satu isu bidang sumber daya manusia yang belum banyak dibahas terutama RS di Indonesia, dan sepengetahuan peneliti belum ada yang meneliti keterlekatan dokter di rumah sakitnya dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya. Beberapa penelitian yang membahas keterlekatan (engagement) :
Schaufeli, Bakker dan Salanova, 2006 The Measurement of Work
Engagement With a Short Questionnaire, mengembangkan kuesioner
untuk mengukur keterlekatan kerja. Penelitian ini merupakan salah satu refesensi dari tesis Keterlekatan Dokter di Rumah Sakit Medicare Cirebon karena didalamnya menjelaskan kuesioner UWES secara mendalam.
Berry dan Morris, 2008 dalam penelitian mereka The Impact of
Employee Engagement Factor and Job Satisfaction On Turnover Intent
mengemukakan teori-teori yang terdapat dalam manajemen SDM profesional diantaranya personal engagement theory, Herzberg's two
factor theory of job satisfaction dan equity theory dan mencoba
mengungkapkan hubungan antara sebab, faktor keterlekatan karyawan dan outcome, turnover intent yang dimediasi oleh kepuasan kerja.
Hoxsey, 2010 melakukan penelitian pada pegawai negeri Inggris untuk menunjukkan karyawan yang memiliki keterlekatan tinggi akan memiliki komitmen tinggi dan dan akan bertahan bekerja sebagai pegawai negeri dan meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat.
Penelitian Saks, 2006 Antecedents and Consequences of Employee
Engagement, Toronto, Canada menguji sebuah model antecedent dan
konsekuensi dari keterlekatan terhadap pekerjaan dan organisasi dan persepsi karyawan berdasar pada teori pertukaran sosial. Didapatkan adanya perbedaan berarti antara keterlekatan karyawan terhadap pekerjaan dan terhadap organisasi, dan bahwa persepsi karyawan terhadap organisasi diduga mendukung keterlekatan terhadap baik pekerjaan maupun organisasi.
Penelitian Dickinson & Ham (2008) Engaging Doctors in
Leadership: Review of The Literature, Birmingham, NHS, UK melakukan
penelitian keterlekatan dokter dalam kepemimpinan medis kaitannya dengan mutu dan keselamatan pasien dengan menggunakan sistem reformasi Berwick. Didapatkan adanya hubungan antara keterlekatan dalam kepemimpinan medis klinis dengan performa RS.
Penelitian Dickinson & Ham (2008) Engaging Doctors in
Leadership:what We Can from International Experience and Research evidence?, Birmingham,NHS, UK melakukan penelitian perbandingan di
beberapa negara mengenai keterlekatan dokter dalam kepemimpinan professional yang informal dalam birokrasi professional.
Gosden, et al (2006) Capitation, Salary, Fee for Service and mixed
systems of Payment : effect on Behaviour of Primary Care Phycisians (Review), Cochrane collaboration meneliti pengaruh sistem pembayaran
capitasi, Fee for service dan sistem gaji pada prilaku 640 dokter pelayanan primer menyimpulkan bahwa fee for service lebih meningkatkan kunjungan/ kontak dengan pasien, kunjungan spesialis, pemeriksaan penunjang dan pelayanan kuratif tetapi menurunkan rujukan RS dan pengulangan peresepan di banding kapitasi. Fee for service juga meningkatkan kunjungan pasien, kelanjutan pelayanan, pemenuhan rekomendasi kunjungan pasien tetapi mengurangi kepuasan pasien dalam mengakses dokternya dibanding sistem gaji.
Dalam penelitian ini penulis meneliti keterlekatan dokter (dokter spesialis purna waktu, paruh waktu maupun dokter umum purna waktu dan paruh waktu) yang bekerja di rumah sakit Medicare dan menggali faktor-faktor apa yang mempengaruhi keterlekatan tersebut.