HTA Indonesia_2004_Tonsilektomi pada Anak dan
HTA Indonesia_2004_Tonsilektomi pada Anak dan Dewasa_hlm 1/34Dewasa_hlm 1/34
BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN A. Latar Belakang A. Latar Belakang11 T
Tononsisilelektktomomi i memeruruppakakan an prprososededur ur yayangng pa
paliling ng seseriring ng ddililakakukukan an dadalalam m sesejajararahh oper
operasi. asi. KonKontrovtroversi ersi menmengenagenai i tontonsilektsilektomiomi dil
dilapaporkorkan an leblebih ih babanyanyak k bilbila a dibdibanandindingkagkann d
deennggaan n pprroosseedduur r ooppeerraassi i mmaannaappuunn.. Kon
Konsensensusus s umumum um yanyang g berberedaedar r seksekararanangg m
menenyayatatakakan n bbaahhwwa a totonnssililekekttoommi i ttelelaahh di
dilalakukukakan n dadalalam m jujumlmlah ah yayang ng titidadak k tetepapatt (seh
(seharuarusnyasnya) ) padpada a anaanak-ank-anak ak padpada a tahtahun- un-tahun yang lalu. Besarnya jumlah ini karena tahun yang lalu. Besarnya jumlah ini karena keyakinan para dokter dan orangtua tentang keyakinan para dokter dan orangtua tentang k
keeuunnttuunnggaan n ttoonnssiilelekkttoommi i ddaan n bbuukkaann ber
berdadasasarkarkan n bubukti kti ilmilmiah iah ataatau u stustudi di klinklinis.is. Pa
Pada da dedekakade de teterarakhkhirir, , totonsnsililekektotomi mi titidadakk ha
hanynya a dildilakuakukan kan ununtutuk k tontonsilsilitiitis s berberulaulangng,, na
namumun n jujuga ga ununtutuk k beberbrbagagai ai kokondndisisi i yayangng le
lebbih ih luluaas s teterrmmaassuuk k kkesesuulilitatan n mmaakakann,, ke
keggaaggaalalan n ppenenaammbbahahan an bbereraat t bbaaddaann,,
o
ovveerrbbiittee, , ttoouunngge e tthhrruusstt,, halitosis,halitosis, mendengkur, gangguan bicara dan enuresis. mendengkur, gangguan bicara dan enuresis.
Saat ini walau jumlah operasi tonsilektomi Saat ini walau jumlah operasi tonsilektomi te
telalah h memengngalalamami i penupenururunanan n bebermrmakaknana,, na
namumun n mamasih sih menmenjadjadi i opoperaerasi si yanyang g papalinlingg ser
sering ing dildilakuakukankan. . PenPengegelualuararan n pepelaylayanananan medik untuk prosedur ini diperkirakan adalah medik untuk prosedur ini diperkirakan adalah setengah triliun dolar pertahun.
setengah triliun dolar pertahun.
Pada pertengahan abad yang lalu, mulai Pada pertengahan abad yang lalu, mulai terdapat pergeseran dari hampir tidak adanya terdapat pergeseran dari hampir tidak adanya k
krriitteerriia a yyaanng g jjeellaas s ununttuuk k mmeellaakkuukkaann tonsilektomi menuju kriteria yang lebih tegas tonsilektomi menuju kriteria yang lebih tegas da
dan n jeljelas. as. SelSelamama a ini ini teltelah ah dikdikembembangangkankan be
berbrbagagai ai ststududi i ununtutuk k memenynyususun un inindidikakasisi ffoorrmmaal l yyaanng g tteerrnnyyaatta a mmeenngghhaassiillkkaann pers
perseterueteruan an berbberbagaagai i pihpihak ak terkaterkait. it. DalaDalamm peny
penyusunusunannannya ya ditemditemukan ukan kesukesulitan litan untuntukuk m
meemmpprreeddiikkssi i kkeemmuunnggkkininaan n iinnffeekkssi i ddii kem
kemududian ian hahari ri sehsehingingga ga diadianjunjurkarkan n terterapapii dila
dilakukakukan n dendengan gan pendpendekataekatan n perpersonasonal l dandan ti
tidadak k beberdrdasasararkakan n peperaratuturaran n yayang ng kakakuku.. A
Americmerican an AcadAcademy emy of of OtolOtolaryngaryngologyology-Head -Head a
annd d NNeecck k SSuurrggeerry y teltelah ah memengngelueluararkankan re
rekokomemendndasasi i reresmsmi i mmenengegennai ai titindndakakanan tons
tonsilektoilektomi mi yang yang mermerupaupakan kan kesepkesepakatakatanan para ahli.
para ahli.
Saat ini, selain hasil analisa klinis, isu di Saat ini, selain hasil analisa klinis, isu di b
biiddaanng g eekkoonnoommi i mmuullaai i mmuunnccuul l ddaallaamm pe
pertrtimimbabangngan an pepemimililihahan n susuatatu u titindndakakanan,, kare
karena na mulamulai i munmunculnculnya ya aturaturan an yang ketatyang ketat da
dalam lam pempembabayaryaran an pepelaylayananan an keskesehaehatantan oleh pembayar pihak ketiga. Pembayar pihak oleh pembayar pihak ketiga. Pembayar pihak ketig
ketiga a menmensyarsyaratkan atkan adanadanya ya indindikasi ikasi yangyang
je
jelalas s dadan n teterdrdokokumumenentatasi si sesebebelulum m susuatatuu pr
prososededur ur didilalakukukakan. n. SeSelalain in ititu, u, bebebeberarapapa pemb
pembayar ayar pihapihak k ketigketiga a juga juga menmensyarsyaratkaatkann adanya
adanya second opinionsecond opinion..
Wala
Walaupuupun n fenofenomena mena ini ini tidatidak k memmembatabatalkanlkan o
oppeerraassi i yyaanng g tteelalah h ddiisseeppaakkaatti i ppaassiieenn (orangtu
(orangtua) dan a) dan dokter, namun ternyata dapatdokter, namun ternyata dapat me
membmbanantu tu dadalalam m prprososes es seseleleksksi i opopererasasii tonsilektomi sehingga benar-benar dilakukan tonsilektomi sehingga benar-benar dilakukan untuk kandidat yang tepat.
untuk kandidat yang tepat. Ton
Tonsilektsilektomi omi telah telah diladilakukakukan n oleh oleh doktdokterer THT, dokter bedah umum, dokter umum dan THT, dokter bedah umum, dokter umum dan dokter keluarga selama lebih dari 50 tahun dokter keluarga selama lebih dari 50 tahun ter
terakhakhir. ir. NamNamunun, , dadalam lam 30 30 tahtahun un terterakhakhir,ir, kebu
kebutuhtuhan an akan akan adaadanya nya stanstandaridarisasi sasi teknteknikik op
opererasasi i mmenenyeyebbababkakan n pperergegeseseraran n popolala pr
prakaktetek k opopererasasi i totonsnsililekektotomimi. . SaSaat at inini i didi Amer
Amerika ika SerSerikat ikat tonstonsilektoilektomi mi secasecara ra eksluekslusif sif dilakukan oleh dokter THT.
dilakukan oleh dokter THT. Tin
Tingkat gkat kompkomplikaslikasi, i, sepeseperti rti perperdardarahanahan pasc
pascaopeaoperasi rasi berberkisar kisar antantara ara 0,1-0,1-8,1% 8,1% dardarii jumlah kasus. Kematian pada operasi sangat jumlah kasus. Kematian pada operasi sangat j
jaarraanngg. . KeKemmaatitiaan n dadappaat t ttererjajaddi i aakkibibatat k
koommpplliikkaassi i bbeeddaah h mmaauuppuun n aanneesstteessi.i. Tantangan terbesar selain operasinya sendiri Tantangan terbesar selain operasinya sendiri
ad
adalaalah h penpengagambmbilailan n kepkepututususan an dadan n tektekniknik yang dilakukan dalam pelaksanaannya.
yang dilakukan dalam pelaksanaannya.
B. Permasalahan B. Permasalahan
Dalam praktek
Dalam praktek sehari-hsehari-hari, terdapat beberapaari, terdapat beberapa mas
masalah alah utamutama a sepseputar utar tonstonsilektoilektomi, mi, yaituyaitu pen
penententuauan n indindikaikasi si tontonsilsilektektomomi i babaik ik babagigi an
anak ak mamaupupun un dedewawasa sa dadan n bebelulum m adadananyaya koordinasi antara masing-masing cabang ilmu koordinasi antara masing-masing cabang ilmu kedokteran
kedokteran spesialis dalaspesialis dalam hal ini. m hal ini. Selain itu,Selain itu, di
dititinjnjau au dadari ri sesegi gi kekeamamanananan, , hihingngga ga kikinini bel
belum um adada a acuacuan an memengngenaenai i tekteknik nik terterpilpilihih dalam melakukan tindakan
dalam melakukan tindakan tonsilektomi.tonsilektomi.
C
C.. TTuujjuuaann 1.
1. TuTujjuauan Un Umumumm
T
Tererwuwujujudndnya ya kakajiajian n ililmimiah ah sesebabagagai i dadasasarr kebijakan penerapan teknologi tonsilektomi di kebijakan penerapan teknologi tonsilektomi di Indonesia.
Indonesia.
2.
2. Tujuan KhususTujuan Khusus
Men
Mengkagkaji ji dadan n memenynyeraeragagamkmkan an penpenententuauann iinnddiikkaassi i ooppeerraassi i ttoonnssiillooaaddeennooiiddeekkttoommii be
berdrdasasararkakan n bubuktkti i ililmu mu kekedodoktktereran an yayangng m
muuttaakkhhiir r ddaan n ssaahhiih h ((EvEvididenence ce BaBassed ed Medicine
HTA Indonesia_2004_Tonsilektomi pada Anak dan
HTA Indonesia_2004_Tonsilektomi pada Anak dan Dewasa_hlm 2/34Dewasa_hlm 2/34
MMenenssoosisiaalilissaasisikakan n ininddikikaassi-i-ininddikikaassii
ter
tersebsebut ut kepkepadada a selselururuh uh dodoktekter r THT THT didi In
Inddoonnesesia ia aaggaar r dadappat at ddililakaksasannaakakann dengan tetap
dengan tetap mempertmempertimbangkan imbangimbangkan imbang “Manfaat dan Risiko”.
“Manfaat dan Risiko”.
MMeennggkkaajji i ddaan n mmeenneennttuukkaann
s
sttaannddaarriissaassi i tteekknniik k ooppeerraassii tons
tonsiloadiloadenoienoidektodektomi mi yang yang amaaman, n, efektefektif if da
dan n efefisisieien, n, sesertrta a dadapapat t didikekerjrjakakan an didi Indonesia.
HTA Indonesia_2004_Tonsilektomi pada Anak dan
HTA Indonesia_2004_Tonsilektomi pada Anak dan Dewasa_hlm 2/34Dewasa_hlm 2/34
MMenenssoosisiaalilissaasisikakan n ininddikikaassi-i-ininddikikaassii
ter
tersebsebut ut kepkepadada a selselururuh uh dodoktekter r THT THT didi In
Inddoonnesesia ia aaggaar r dadappat at ddililakaksasannaakakann dengan tetap
dengan tetap mempertmempertimbangkan imbangimbangkan imbang “Manfaat dan Risiko”.
“Manfaat dan Risiko”.
MMeennggkkaajji i ddaan n mmeenneennttuukkaann
s
sttaannddaarriissaassi i tteekknniik k ooppeerraassii tons
tonsiloadiloadenoienoidektodektomi mi yang yang amaaman, n, efektefektif if da
dan n efefisisieien, n, sesertrta a dadapapat t didikekerjrjakakan an didi Indonesia.
BAB II BAB II METODOLOGI PENILAIAN METODOLOGI PENILAIAN A. Penelusuran Kepustakaan A. Penelusuran Kepustakaan P
Peneneleluususurran an llititereraatutur r ddililaakukukakan n ssececararaa manual dan melalui kepustakaan elektronik: manual dan melalui kepustakaan elektronik:
Pu
Pubmbmeded, , CoCochchrarane ne LiLibrbrarary, y, NeNew w EnEnglglanand d Jour
Journal nal of of MediMedicine, British cine, British MedicMedical al JournJournal,al, Laryngoscope, Archives Otolaryngology Head Laryngoscope, Archives Otolaryngology Head N
Neecck k SSuurgrgeerryy, , AAmmeerriiccaan n AAccaaddeemmy y oof f P
Peeddiiaattrriiccss, , AAmmeerriiccaan n SSoocciieetty y oof f Anaesthesiologist,
Anaesthesiologist, daladalam m 20 20 tahutahun n teraterakhirkhir (1984-20
(1984-2004). Informasi juga 04). Informasi juga didapatkadidapatkan n daridari beberapa
beberapa guidelinesguidelines antara lain yang disusunantara lain yang disusun oleh
oleh Amer American ican AcadAcademy emy of of OtolaOtolaryngoryngology- logy-Head and Neck Surgery
Head and Neck Surgery (AAO-HNS),(AAO-HNS), EvidenceEvidence B
Baasseed d MMeeddiicciinne e GuGuiiddeellinineess, , SSccoottttiisshh Intercollegiate Guidelines Network
Intercollegiate Guidelines Network serta hasilserta hasil kaj
kajian ian HTHTA A dadariri CataCatalonialonian n AgencAgency y HealtHealthh Technology Assessment
Technology Assessment Barcelona.Barcelona. Ka
Katta a kukunnci ci yayanng g ddigiguunanakakan n aaddaalalahh
ttoonnssiilllleeccttoommyy, , adadeennooiiddeeccttoommyy,, to
tonsnsililloloadadenenoioidedectctomomy, y, totonsnsilil, , totonsnsillillititisis,, technique, anesthesia
technique, anesthesia..
B.
B. HierHierarcarchy hy of of EviEvidencdencee dan dan DeraDerajatjat Rekomendasi
Rekomendasi
Setia
Setiap p makamakalah lah ilmiailmiah h yanyang g didadidapat pat dinidinilailai berdasarkan
berdasarkan evidence based medicine,evidence based medicine,
ditentukan
ditentukan hiehierarrarchy chy of of evievidendencece dandan der
derajaajat t rerekomkomendendasiasi.. HiHiererararchchy y of of evidence
evidence dadan n dederarajajat t rerekokomemendndasasii diklasifikasikan berdasarkan definisi dari diklasifikasikan berdasarkan definisi dari
Sc
Scotottitish sh InIntetercrcolollelegigiatate e GuidGuidelelinineses Network
Network , , sessesuauai i dedengngan an defdefiniinisi si yanyangg dinyatakan oleh
dinyatakan oleh US Agency for HealthUS Agency for Health Care Policy and Research
Care Policy and Research..
Hierarchy
Hierarchy of of evidenceevidence:: Ia.
Ia. Meta-analysisMeta-analysis of of randomised randomised controlled trials
controlled trials.. Ib.
Ib. Minimal Minimal satusaturandomised controlled randomised controlled trials
trials.. IIa.
IIa. Minimal Minimal penelitianpenelitiannon-randomised non-randomised controlled trials
controlled trials.. IIb.
IIb. Cohort Cohort dandan Case control studiesCase control studies
IIIa.
IIIa. Cross-sectionaCross-sectional l studiesstudies
IIIb.
IIIb. Case seriesCase series dandancase report case report IV.
IV. Konsensus dan pendapat ahliKonsensus dan pendapat ahli
Derajat rekomendasi : Derajat rekomendasi :
A.
A. EvidenceEvidence yang termasuk dalamyang termasuk dalam level Ia dan Ib.
level Ia dan Ib.
B.
B. EvidenceEvidence yang termasuk dalamyang termasuk dalam level IIa dan II b.
level IIa dan II b.
C.
C. EvidenceEvidence yang termasuk dalamyang termasuk dalam level IIIa, IIIb dan IV.
level IIIa, IIIb dan IV.
C. Pengumpulan Data Lokal C. Pengumpulan Data Lokal
Da
Data ta lolokakal l didipeperoroleleh h dadari ri jujumlmlah ah opopererasasii to
tonsnsileilektktomomi i dadan n totonsnsililoaoadedenonoididekektotomi mi didi RS
RSUPUPNCNCM M seselalama ma 5 5 tatahuhun n teterarakhkhir ir dadann Ru
Rumamah h SaSakikit t FaFatmtmawawatati i seselalama ma 3 3 tatahuhunn terakhir.
terakhir.
D. Ruang Lingkup D. Ruang Lingkup
Kajian tonsilektomi pada anak dan dewasa ini Kajian tonsilektomi pada anak dan dewasa ini diba
dibatasi tasi padpada a indiindikasi, kasi, teknteknik ik operoperasi asi sertsertaa teknik anestesi terpilih untuk tonsilektomi. teknik anestesi terpilih untuk tonsilektomi.
BAB III TONSILEKTOMI A. Definisi
Tonsilektomi didefinisikan sebagai operasi
pengangkatan seluruh tonsil palatina.2,3
Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau
tonsil faringeal.4
B. Epidemiologi
Tonsilektomi merupakan prosedur operasi yang praktis dan aman, namun hal ini bukan berarti tonsilektomi merupakan operasi minor karena tetap memerlukan keterampilan dan ketelitian yang tinggi dari operator dalam
pelaksanaannya.5 Di AS karena kekhawatiran
komplikasi, tonsilektomi digolongkan pada
operasi mayor.6,7 Di Indonesia, tonsilektomi
digolongkan pada operasi sedang karena
durasi operasi pendek dan teknik tidak sulit.8
Pada awal tahun 1960 dan 1970-an, telah dilakukan 1 sampai 2 juta tonsilektomi, adenoidektomi atau gabungan keduanya
setiap tahunnya di Amerika Serikat.9 Angka
ini menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu dimana pada tahun 1996, diperkirakan 287.000 anak-anak di bawah 15 tahun menjalani tonsilektomi, dengan atau tanpa adenoidektomi. Dari jumlah ini, 248.000 anak (86,4%) menjalani tonsiloadenoidektomi dan
39.000 lainnya (13,6%) menjalani
tonsilektomi saja. Tren serupa juga
ditemukan di Skotlandia. Sedangkan pada orang dewasa berusia 16 tahun atau lebih, angka tonsilektomi meningkat dari 72 per 100.000 pada tahun 1990 (2.919 operasi) menjadi 78 per 100.000 pada tahun 1996
(3.200 operasi).7
Di Indonesia, data nasional mengenai
jumlah operasi tonsilektomi atau
tonsiloadenoidektomi belum ada. Namun, data yang didapatkan dari RSUPNCM selama 5 tahun terakhir (1999-2003) menunjukkan kecenderungan penurunan jumlah operasi tonsilektomi. Fenomena ini juga terlihat pada jumlah operasi tonsiloadenoidektomi dengan
puncak kenaikan pada tahun kedua (275 kasus) dan terus menurun sampai tahun 2003
(152 kasus).10 Sedangkan data dari rumah
sakit Fatmawati dalam 3 tahun terakhir (2002-2004) menunjukkan kecenderungan
kenaikan jumlah operasi tonsilektomi dan
penurunan jumlah operasi
tonsiloadenoidektomi.11
C. Embriologi dan Anatomi Tonsil12
1. Embriologi
Pada permulaan pertumbuhan tonsil, terjadi invaginasi kantong brakial ke II ke dinding faring akibat pertumbuhan faring ke lateral. Selanjutnya terbentuk fosa tonsil pada bagian dorsal kantong tersebut, yang kemudian ditutupi epitel. Bagian yang mengalami
invaginasi akan membagi lagi dalam
beberapa bagian, sehingga terjadi kripta. Kripta tumbuh pada bulan ke 3 hingga ke 6
kehidupan janin, berasal dari epitel
permukaan. Pada bulan ke 3 tumbuh limfosit di dekat epitel tersebut dan terjadi nodul pada bulan ke 6, yang akhirnya terbentuk jaringan ikat limfoid. Kapsul dan jaringan ikat lain tumbuh pada bulan ke 5 dan berasal dari mesenkim, dengan demikian terbentuklah massa jaringan tonsil.
2. Anatomi
Cincin waldeyer merupakan jaringan limfoid
yang mengelilingi faring. Bagian
terpentingnya adalah tonsil palatina dan tonsil faringeal (adenoid). Unsur yang lain adalah tonsil lingual, gugus limfoid lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid yang tersebar dalam fosa Rosenmuller, di bawah mukosa dinding posterior faring dan dekat orifisium tuba eustachius.
a. To
nsil Palatina
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar
posterior (otot palatofaringeus). Tonsil
berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa
tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh:
Lateral– m. konstriktor faring
Anterior – m. palatoglosus
Posterior – m. palatofaringeus
Superior – palatum mole
Inferior – tonsil lingual
Secara mikroskopik tonsil terdiri atas 3
komponen yaitu jaringan ikat, folikel
germinativum (merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel (terdiri dari jaringan
linfoid).
Fosa Tonsil
Fosa tonsil atau sinus tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah otot palatoglosus, batas lateral atau dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior. Pilar anterior mempunyai bentuk seperti kipas pada rongga mulut, mulai dari palatum mole dan berakhir di sisi lateral lidah. Pilar posterior adalah otot vertikal yang ke atas mencapai palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak dan ke arah
bawah meluas hingga dinding lateral
esofagus, sehingga pada tonsilektomi harus hati-hati agar pilar posterior tidak terluka. Pilar anterior dan pilar posterior bersatu di bagian atas pada palatum mole, ke arah bawah terpisah dan masuk ke jaringan di pangkal lidah dan dinding lateral faring.
Kapsul Tonsil
Bagian permukaan lateral tonsil ditutupi oleh suatu membran jaringan ikat, yang disebut kapsul. Walaupun para pakar anatomi menyangkal adanya kapsul ini, tetapi para klinisi menyatakan bahwa kapsul adalah jaringan ikat putih yang menutupi 4/5 bagian
tonsil.
Plika Triangularis
Diantara pangkal lidah dan bagian anterior kutub bawah tonsil terdapat plika triangularis yang merupakan suatu struktur normal yang telah ada sejak masa embrio. Serabut ini dapat menjadi penyebab kesukaran saat pengangkatan tonsil dengan jerat. Komplikasi yang sering terjadi adalah terdapatnya sisa tonsil atau terpotongnya pangkal lidah.
Pendarahan
Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang A. karotis eksterna, yaitu 1) A. maksilaris eksterna (A. fasialis) dengan cabangnya A. tonsilaris dan A. palatina asenden; 2) A. maksilaris interna dengan cabangnya A. palatina desenden; 3) A.
lingualis dengan cabangnya A. lingualis dorsal; 4) A. faringeal asenden. Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh A. lingualis dorsal dan bagian posterior oleh A. palatina asenden, diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh A. tonsilaris. Kutub atas tonsil diperdarahi oleh A. faringeal asenden dan A. palatina desenden. Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring. Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil, vena lidah dan pleksus faringeal.
Aliran getah bening
Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah bening servikal
profunda (deep jugular node) bagian superior
di bawah M. Sternokleidomastoideus,
selanjutnya ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada.
Persarafan
Tonsil bagian atas mendapat sensasi dari serabut saraf ke V melalui ganglion sfenopalatina dan bagian bawah dari saraf glosofaringeus.
Imunologi Tonsil
Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-0,2% dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah 50%:50%, sedangkan di darah 55-75%:15-30%. Pada tonsil terdapat sistim imun kompleks yang terdiri atas sel M (sel membran), makrofag, sel dendrit dan APCs (antigen presenting cells) yang berperan dalam proses transportasi antigen ke sel
limfosit sehingga terjadi sintesis
imunoglobulin spesifik. Juga terdapat sel limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel pembawa IgG.
Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1)
menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif; 2) sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.
b. To nsil Faringeal (Adenoid)
Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah
ceruk dengan celah atau kantong
diantaranya. Lobus ini tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah, dikenal sebagai bursa faringeus. Adenoid tidak mempunyai kriptus. Adenoid terletak di
dinding belakang nasofaring. Jaringan
adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior, walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius. Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan mengalami regresi.
D. Indikasi Tonsilektomi
Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat perbedaan prioritas
relatif dalam menentukan indikasi
tonsilektomi pada saat ini. Dulu tonsilektomi diindikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. Saat ini, indikasi yang lebih utama adalah obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil.9
Untuk keadaan emergency seperti adanya
obstruksi saluran napas, indikasi tonsilektomi sudah tidak diperdebatkan lagi (indikasi absolut). Namun, indikasi relatif tonsilektomi
pada keadaan non emergency dan perlunya
batasan usia pada keadaan ini masih menjadi
perdebatan. Sebuah kepustakaan
menyebutkan bahwa usia tidak menentukan
boleh tidaknya dilakukan tonsilektomi.13
1. Indikasi Absolutx6(AAO)
a. Pembengka
kan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran napas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner
b. Abses
peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase
c. Tonsilitis
yang menimbulkan kejang demam
d. Tonsilitis
yang membutuhkan biopsi untuk
menentukan patologi anatomi
2. In
dikasi Relatif x6 (AAO)
a. Terjadi 3 episode
atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat
b. Halitosis akibat
tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis
c. Tonsilitis kronik
atau berulang pada karier streptokokus yang tidak membaik dengan pemberian antibiotik β-laktamase resisten
Pada keadaan tertentu seperti pada abses peritonsilar (Quinsy), tonsilektomi dapat
dilaksanakan bersamaan dengan insisi
abses.8
Saat mempertimbangkan tonsilektomi
untuk pasien dewasa harus dibedakan apakah mereka mutlak memerlukan operasi tersebut atau hanya sebagai kandidat. Dugaan keganasan dan obstruksi saluran nafas merupakan indikasi absolut untuk
tonsilektomi. Tetapi hanya sedikit
tonsilektomi pada dewasa yang dilakukan atas indikasi tersebut, kebanyakan karena infeksi kronik. Akan tetapi semua bentuk tonsilitis kronik tidak sama, gejala dapat sangat sederhana seperti halitosis, debris
kriptus dari tonsil (“cryptic tonsillitis”) dan
pada keadaan yang lebih berat dapat timbul gejala seperti nyeri telinga dan nyeri atau rasa tidak enak di tenggorok yang menetap.
Indikasi tonsilektomi mungkin dapat
berdasarkan terdapat dan beratnya satu atau lebih dari gejala tersebut dan pasien seperti ini harus dipertimbangkan sebagai kandidat untuk tonsilektomi karena gejala tersebut
dapat mempengaruhi kualitas hidup
walaupun tidak mengancam nyawa.15
Kontraindikasi
Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan
sebagai kontraindikasi, namun bila
sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan imbang “manfaat dan risiko”. Keadaan
tersebut adalah:8
1. Gangguan perdarahan
2. Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat
3. Anemia
E. Persiapan Praoperasix8=gabungan
1. Penilaian Praoperasi
Keputusan untuk melakukan operasi
tonsilektomi pada seorang pasien terletak di tangan dokter ahli di bidang ini, yaitu dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorok atau dokter yang bertanggungjawab bila dalam keadaan tertentu tidak ada dokter spesialis THT.
Mengingat tonsilektomi umumnya
dilakukan di bawah anestesi umum, maka kondisi kesehatan pasien terlebih dahulu
harus dievaluasi untuk menyatakan
kelayakannya menjalani operasi tersebut. Karena sebagian besar pasien yang menjalani tonsilektomi adalah anak-anak dan sisanya orang dewasa, diperlukan keterlibatan dan kerjasama dokter umum, dokter spesialis anak dan dokter spesialis penyakit dalam
untuk memberikan penilaian preoperasi
terhadap pasien. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa konsultasi kepada dokter spesialis anak maupun penyakit dalam hanya dilakukan untuk kondisi tertentu oleh dokter spesialis THT atau anestesi. Misalnya anak dengan malnutrisi, kelainan metabolik atau penyakit tertentu yang dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas selama dan pascaoperasi. Konsultasi ini dapat dilakukan baik oleh dokter spesialis THT maupun spesialis anestesi.
Penilaian preoperasi pada pasien rawat jalan dapat mengurangi lama perawatan di
rumah sakit dan meminimalkan pembatalan
atau penundaan operasi ( American Family
Physician). Penilaian preoperasi secara umum terdiri dari penilaian klinis yang diperoleh dari anamsesis, rekam medik dan pemeriksaan fisik. Penilaian laboratoris dan radiologik kadang dibutuhkan. Sampai saat ini masih terdapat perbedaan baik di kalangan klinisi maupun institusi pelayanan kesehatan dalam
memilih pemeriksaan penunjang yang
dibutuhkan secara rutin atau atas indikasi tertentu. Hal ini memiliki dampak pada keselamatan pasien selain meningkatnya biaya kesehatan yang harus dikeluarkan pasien, pemerintah atau pihak ketiga.
b. Anamnesis dan Rekam Medik
Riwayat kesehatan.
Adanya penyulit
seperti asma, alergi, epilepsi, kelainan maksilofasial pada anak dan pada orang dewasa asma, kelainan paru, diabetes melitus, hipertensi, epilepsi, dll.
AFP: riwayat
kelahiran (trauma lahir, berat dan usia kelahiran), imunisasi, infeksi terakhir terutama infeksi saluran napas khususnya pneumonia, Penyakit kronik terutama paru-paru dan jantung, kelainan anatomi, obat yang sedang dan pernah digunakan beserta dosisnya.
Riwayat operasi
terdahulu dan riwayat anestesi
c. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
Status gizi: malnutrisi
Penilaian jantung dan paru: peningkatan tekanan darah, murmur pada
jantung, tanda-tanda gagal jantung
kongestif dan penyakit paru obstruktif menahun.
Perlu perhatian khusus
terutama bagi dokter spesialis THT untuk pasien dengan penyulit berupa kelainan anatomis, kelainan kongenital di daerah orofaring dan kelainan fungsional. Pada pasien ini, kelainan yang telah ada dapat menyulitkan proses operasi. Selain itu
penting untuk mendokumentasikan
semua temuan pemeriksaan fisik dalam rekam medik.
d. Pemeriksaan Penunjang17
Berdasarkan hasil kajian HTA Indonesia 2003 tentang persiapan rutin prabedah elektif,
maka pemeriksaan penunjang yang
direkomendasikan untuk tonsilektomi adalah sebagai berikut:
1) Pemeriksaan darah tepi: Hb,
Ht, leukosit, hitung jenis, trombosit
2) Pemeriksaan hemostasis:
BT/CT, PT/APTT
Pemeriksaan penunjang lainnya dilakukan atas indikasi. (lihat tabel 1)
TABEL 1. PERSIAPAN PRABEDAH ELEKTIF17
PERSIAPAN ANAK (0-18 tahun) DEWASA (>18 tahun)
Jawaban Rekomendasi Jawaban Rekomendasi
Darah tepi
YA
Pemeriksaan darah tepi lengkap rutin (Hb, Ht, leukosit, hitung jenis, trombosit) dilakukan pada anak usia<5 tahun, sedangkan untuk anak usia ≥ 5 tahun pemeriksaan darah tepi dilakukan atas indikasi, yaitu pasien yang diperkirakan menderita anemia defisiensi, pasien dengan penyakit jantung, ginjal, saluran napas atau infeksi .
TIDAK
Pemeriksaan darah tepi
lengkap dilakukan pada pasien dengan penyakit hati, riwayat anemia, perdarahan dan kelainan darah lainnya, serta tergantung tipe dan derajat invasif prosedur operasi.
Kimia darah
TIDAK
Pemeriksaan kimia darah dilakukan bila terdapat risiko kelainan ginjal, hati, endokrin, terapi perioperatif, dan pemakaian obat alternatif.
TIDAK
Pemeriksaan kimia darah rutin hanya dilakukan pada pasien usia lanjut, adanya kelainan endokrin, kelainan fungsi ginjal dan hati, pemakaian obat tertentu atau pengobatan alternatif.
Hemostatis
TIDAK
Pemeriksaan hemostasis dilakukan pada pasien dengan riwayat atau kondisi klinis mengarah pada kelainan koagulasi, akan menjalani operasi yang dapat menimbulkan
TIDAK
Pemeriksaan hemostasis dilakukan pada pasien yang memiliki riwayat kelainan koagulasi, atau riwayat terbaru yang mengarah pada
gangguan koagulasi (seperti
cardiopulmonary by-pass), ketika dibutuhkan hemostasis yang adekuat (seperti tonsilektomi), dan kemungkinan perdarahan
pascabedah (seperti operasi saraf).
kelainan koagulasi, atau sedang memakai obat antikoagulan, pasien yang memerlukan antikoagulan pascabedah, pasien yang memiliki kelainan hati dan ginjal.
PERSIAPAN ANAK (0-18 tahun) DEWASA (>18 tahun)
Jawaban Rekomendasi Jawaban Rekomendasi
Urinalisis
TIDAK
Pemeriksaan urin rutin dilakukan pada operasi yang melibatkan manipulasi saluran kemih dan pasien dengan gejala infeksi saluran kemih.
TIDAK
Pemeriksaan urin rutin dilakukan pada operasi yang melibatkan manipulasi saluran kemih dan pasien dengan gejala infeksi saluran kemih. Foto toraks
TIDAK
Pemeriksaan foto toraks rutin
prabedah tidak perlu dilakukan. TIDAK
Pemeriksaan foto toraks dilakukan pada pasien usia di atas 60 tahun, pasien dengan tanda dan gejala penyakit kardiopulmonal, infeksi saluran napas akut, riwayat merokok.
EKG
TIDAK
Hanya dilakukan atas indikasi
TIDAK
Pemeriksaan EKG dilakukan pada pasien dengan diabetes mellitus, hipertensi, nyeri dada, gagal jantung kongestif, riwayat merokok, penyakit vaskular perifer, dan obesitas, yang tidak memiliki hasil EKG dalam 1 tahun terakhir tanpa memperhatikan usia. Selain itu EKG juga dilakukan pada pasien dengan gejala
kardiovaskular periodik atau tanda dan gejala penyakit jantung tidak stabil (unstable),
dan semua pasien berusia usia >40 tahun.
Fungsi Paru
TIDAK
Hanya dilakukan atas indikasi
TIDAK
Pemeriksaan spirometri
dilakukan pada pasien dengan riwayat merokok atau dispnea yang akan menjalani operasi pintasan (bypass) koroner atau abdomen bagian atas; pasien dengan dispnea tanpa sebab atau gejala paru yang akan menjalani operasi leher dan kepala, ortopedi, atau abdomen bawah; semua pasien yang akan menjalani reseksi paru dan semua pasien usia lanjut. Puasa YA Lihat tabel 2 YA Lihat tabel 2 e. Informed consent 8
Informed consent perlu diberikan kepada pasien sehubungan dengan risiko dan komplikasi yang potensial akan dialami pasien.
f. Persiapan praoperasi17
Puasa harus dilakukan sebelum operasi dilakukan. Lama puasa dapat dilihat pada tabel 2, berdasarkan umur pasien.
Usia Jangka waktu puasa Makanan padat Cairan jernih
Anak <6 bulan 4 jam 2jam
6–36bulan 6 jam 3jam
>36bulan 8 jam 3jam
2. Penilaian Praanestesia
Penilaian preanestesia ( preanesthesia
evaluation) merupakan proses
evaluasi/penilaian klinis yang dilakukan
sebelum melaksanakan pelayanan anestesi
baik untuk prosedur bedah maupun
nonbedah. Penilaian preanestesi ini
merupakan tanggung jawab dokter ahli
anestesia dan terdiri dari:18
a. Anamnesis dan Evaluasi rekam medik
Mengetahui keadaan kesehatan pasien akan
sangat bermanfaat dalam mengetahui
riwayat kesehatan dan penyakit yang pernah atau sedang diderita pasien. Terutama adanya infeksi saluran pernapasan atas yang dapat mengganggu manajemen anestesi. Sehingga dapat dilakukan pelayanan anestesi
yang baik dan persiapan untuk
mengantisipasi kemungkinan komplikasi yang mungkin akan dihadapi dokter anestesi yang bersangkutan. Beberapa studi menyatakan bahwa terdapat kondisi-kondisi tertentu yang didapatkan dengan anamnesis disamping data dari rekam medik.
a. Pemeriksaan
fisik
Pemeriksaan fisik minimum: evaluasi jalan
napas, test Malampatti untuk feasibility
intubasi, evaluasi paru-paru, jantung dan catatan mengenai tanda vital pasien.
Penilaian praanestesia dilakukan sebelum pelaksanaan operasi.
b. Tes praoperasi
Tes yang dilakukan sebelum operasi terdiri dari tes rutin dan tes yang dilakukan atas dasar indikasi tertentu.
F. Teknik Operasi Tonsilektomi
Pengangkatan tonsil pertama sebagai
tindakan medis telah dilakukan pada abad 1 Masehi oleh Cornelius Celsus di Roma dengan
menggunakan jari tangan.9,19 Selama
bertahun-tahun, berbagai teknik dan
instrumen untuk tonsilektomi telah
dikembangkan. Sampai saat ini teknik tonsilektomi yang optimal dengan morbiditas yang rendah masih menjadi kontroversi, masing-masing teknik memiliki kelebihan dan
kekurangan. Tidak seperti kebanyakan
operasi dimana luka sembuh per primam, penyembuhan luka pada tonsilektomi terjadi
per sekundam.19
Diskusi terkini dalam memilih jenis teknik operasi difokuskan pada morbiditas seperti
nyeri, perdarahan perioperatif dan
pascaoperatif serta durasi operasi.19 Selain itu
juga ditentukan oleh kemampuan dan pengalaman ahli bedah serta ketersediaan
teknologi yang mendukung.20 Beberapa
teknik dan peralatan baru ditemukan dan dikembangkan di samping teknik tonsilektomi
standar.9
Di Indonesia teknik tonsilektomi yang
terbanyak digunakan saat ini adalah teknik Guillotine dan diseksi.
1. Guillotine
Tonsilektomi cara guillotine dikerjakan secara luas sejak akhir abad ke 19, dan dikenal sebagai teknik yang cepat dan praktis untuk mengangkat tonsil. Namun tidak ada literatur yang menyebutkan kapan tepatnya metode ini mulai dikerjakan. Tonsilotom modern atau
guillotine dan berbagai modifikasinya
merupakan pengembangan dari sebuah alat yang dinamakan uvulotome. Uvulotome merupakan alat yang dirancang untuk memotong uvula yang edematosa atau
elongasi.5
Laporan operasi tonsilektomi pertama dilakukan oleh Celcus pada abad ke-1, kemudian Albucassis di Cordova membuat sebuah buku yang mengulas mengenai operasi dan pengobatan secara lengkap
dengan teknik tonsilektomi yang
menggunakan pisau seperti guillotine.
Greenfield Sluder pada sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan seorang ahli yang sangat merekomendasikan teknik
Guillotine dalam tonsilektomi. Beliau
mempopulerkan alat Sluder yang merupakan
modifikasi alat Guillotin.5
Hingga kini, di UK tonsilektomi cara guillotine masih banyak digunakan. Hingga dikatakan bahwa teknik Guillotine merupakan teknik tonsilketomi tertua yang masih aman untuk digunakan hingga sekarang. Negara-negara maju sudah jarang yang melakukan cara ini, namun di beberapa rumah sakit
masih tetap dikerjakan. Di Indonesia,
terutama di daerah masih lazim dilkukan cara
Kepustakaan lama menyebutkan beberapa keuntungan teknik ini yaitu cepat,
komplikasi anestesi kecil, biaya kecil.21
2. Diseksi
Kebanyakan tonsilektomi saat ini dilakukan dengan metode diseksi. Hanya sedikit ahli
THT yang secara rutin melakukan
tonsilektomi dengan teknik Sluder.22 Di
negara-negara Barat, terutama sejak para pakar bedah mengenal anestesi umum dengan endotrakeal pada posisi Rose yang mempergunakan alat pembuka mulut Davis,
mereka lebih banyak mengerjakan
tonsilektomi dengan cara diseksi. Cara ini
juga banyak digunakan pada pasien anak.x11
Walaupun telah ada modifikasi teknik dan penemuan peralatan dengan desain yang lebih baik untuk tonsilektomi, prinsip dasar teknik tonsilektomi tidak berubah. Pasien
menjalani anestesi umum (general
endotracheal anesthesia). Teknik operasi meliputi: memegang tonsil, membawanya ke garis tengah, insisi membran mukosa, mencari kapsul tonsil, mengangkat dasar tonsil dan mengangkatnya dari fossa dengan
manipulasi hati-hati. Lalu dilakukan
hemostasis dengan elektokauter atau ikatan. Selanjutnya dilakukan irigasi pada daerah
tersebut dengan salin.9
Bagian penting selama tindakan adalah memposisikan pasien dengan benar dengan
mouth gag pada tempatnya. Lampu kepala digunakan oleh ahli bedah dan harus diposisikan serta dicek fungsinya sebelum tindakan dimulai. Mouth gag diselipkan dan bilah diposisikan sehingga pipa endotrakeal terfiksasi aman diantara lidah dan bilah.
Mouth gag paling baik ditempatkan dengan cara membuka mulut menggunakan jempol dan 2 jari pertama tangan kiri, untuk mempertahankan pipa endotrakeal tetap di
garis tengah lidah. Mouth gag diselipkan dan
didorong ke inferior dengan hati-hati agar ujung bilah tidak mengenai palatum superior sampai tonsil karena dapat menyebabkan
perdarahan. Saat bilah telah berada
diposisinya dan pipa endotrakeal dan lidah di
tengah, wire bail untuk gigi atas dikaitkan ke
gigi dan mouth gag dibuka. Tindakan ini
harus dilakukan dengan visualisasi langsung untuk menghindarkan kerusakan mukosa orofaringeal akibat ujung bilah. Setelah
mouth gag dibuka dilakukan pemeriksaan secara hati-hati untuk mengetahui apakah pipa endotrakeal terlindungi adekuat, bibir
tidak terjepit, sebagian besar dasar lidah ditutupi oleh bilah dan kutub superior dan inferior tonsil terlihat. Kepala di ekstensikan dan mouth gag dielevasikan. Sebelum memulai operasi, harus dilakukan inspeksi tonsil, fosa tonsilar dan palatum durum dan
molle.1
Mouth gag yang dipakai sebaiknya dengan bilah yang mempunyai alur garis tengah
untuk tempat pipa endotrakeal (ring blade).
Bilah mouth gag tersedia dalam beberapa
ukuran. Anak dan dewasa (khususnya wanita) menggunakan bilah no. 3 dan laki-laki dewasa memerlukan bilah no. 4. Bilah no. 2 jarang digunakan kecuali pada anak yang
kecil. Intubasi nasal trakea lebih tepat dilakukan dan sering digunakan oleh banyak
ahli bedah bila tidak dilakukan
adenoidektomi.1
Berbagai teknik diseksi baru telah ditemukan dan dikembangkan disamping teknik diseksi standar, yaitu:
1. Electrosurg
ery (Bedah listrik)20
Awalnya, bedah listrik tidak bisa digunakan bersama anestesi umum, karena mudah memicu terjadinya ledakan. Namun, dengan makin berkembangnya zat anestetik yang
nonflammable dan perbaikan peralatan operasi, maka penggunaan teknik bedah listrik makin meluas.
Pada bedah listrik transfer energi berupa
radiasi elektromagnetik (energi
radiofrekuensi) untuk menghasilkan efek
pada jaringan. Frekuensi radio yang
digunakan dalam spektrum elektromagnetik berkisar pada 0.1 hingga 4 MHz. Penggunaan gelombang pada frekuensi ini mencegah terjadinya gangguan konduksi saraf atau jantung. Pada teknik ini elektroda tidak
menjadi panas, panas dalam jaringan
terbentuk karena adanya aliran baru yang
dibuat dari teknik ini. Teknik ini
menggunakan listrik 2 arah (AC) dan pasien termasuk dalam jalur listrik (electrical pathway).
Teknik bedah listrik yang paling paling umum adalah monopolar blade, monopolar suction, bipolar dan prosedur dengan bantuan mikroskop. Tenaga listrik dipasang pada kisaran 10 sampai 40 W untuk memotong, menyatukan atau untuk koagulasi. Bedah listrik merupakan satu-satunya teknik yang
dapat melakukan tindakan memotong dan hemostase dalam satu prosedur. Dapat pula digunakan sebagai tambahan pada prosedur operasi lain.
2. Radiofrekue
nsi24
Pada teknik radiofrekuensi, elektroda
disisipkan langsung ke jaringan. Densitas baru di sekitar ujung elektroda cukup tinggi untuk membuat kerusakan bagian jaringan melalui pembentukan panas. Selama periode 4-6 minggu, daerah jaringan yang rusak
mengecil dan total volume jaringan
berkurang. Pengurangan jaringan juga dapat terjadi bila energi radiofrekuensi diberikan pada medium penghantar seperti larutan salin. Partikel yang terionisasi pada daerah ini
dapat menerima cukup energi untuk
memecah ikatan kimia di jaringan. Karena
proses ini terjadi pada suhu rendah (400
C-700
C), mungkin lebih sedikit jaringan sekitar yang rusak.
Alat radiofrekuensi yang paling banyak tersedia yaitu alat Bovie, Elmed Surgitron system (bekerja pada frekuensi 3,8 MHz), the Somnus somnoplasty system (bekerja pada 460 kHz), the ArthroCare coblation system dan Argon plasma coagulators. Dengan alat ini, jaringan tonsil dapat dibuang seluruhnya, ablasi sebagian atau berkurang volumenya. Penggunaan teknik radiofrekuensi dapat menurunkan morbiditas tonsilektomi. Namun masih diperlukan studi yang lebih besar dengan desain yang baik untuk mengevaluasi keuntungan dan analisa biaya dari teknik ini.
3. Skalpel
harmonik 25
Skalpel harmonik menggunakan teknologi
ultrasonik untuk memotong dan
mengkoagulasikan jaringan dengan
kerusakan jaringan minimal. Teknik ini menggunakan suhu yang lebih rendah
dibandingkan elektrokauter dan laser.
Dengan elektrokauter atau laser, pemotongan dan koagulasi terjadi bila temperatur sel cukup tinggi untuk tekanan gas dapat
memecah sel tersebut (biasanya 1500
C-4000C), sedangkan dengan skalpel harmonik
temperatur disebabkan oleh friksi jauh lebih
rendah (biasanya 500
C -1000
C). Sistim skalpel harmonik terdiri atas generator 110 Volt,
handpiece dengan kabel penyambung, pisau bedah dan pedal kaki.
Alatnya memiliki 2 mekanisme memotong yaitu oleh pisau tajam yang bergetar dengan frekuensi 55,5 kHz sejauh lebih dari 80 µm (paling penting), dan hasil dari pergerakan maju mundur yang cepat dari ujung pemotong saat kontak dengan jaringan yang menyebabkan peningkatan dan penurunan
tekanan jaringan internal, sehingga
menyebabkan fragmentasi berongga dan pemisahan jaringan. Koagulasi muncul ketika
energi mekanik ditransfer kejaringan,
memecah ikatan hidrogen tersier menjadi protein denaturasi dan melalui pembentukan panas dari friksi jaringan internal akibat vibrasi frekuensi tinggi.
Skalpel harmonik memiliki beberapa
keuntungan dibanding teknik bedah lain, yaitu:
•
Dibandingkan denganelektrokauter atau laser, kerusakan akibat panas minimal karena proses pemotongan dan koagulasi terjadi pada temperatur
lebih rendah dan charring, desiccation
(pengeringan) dan asap juga lebih sedikit.
Tidak seperti elektrokauter, skalpel
harmonik tidak memiliki energi listrik yang
ditransfer ke atau melalui pasien,
sehingga tidak ada stray energi (energi
yang tersasar) yang dapat menyebabkan shock atau luka bakar.
•
Dibandingkan teknikskalpel, lapangan bedah terlihat jelas
karena lebih sedikit perdarahan,
perdarahan pasca operasi juga minimal.
•
Dibandingkan denganteknik diseksi standar dan elektrokauter, teknik ini mengurangi nyeri pascaoperasi.
•
Teknik ini jugamenguntungkan bagi pasien terutama yang tidak bisa mentoleransi kehilangan darah seperti pada anak-anak, pasien dengan anemia atau defisiensi faktor VIII dan pasien yang mendapatkan terapi antikoagulan.
4. Coblation26
Teknik coblation juga dikenal dengan nama
plasma-mediated tonsillar ablation, ionised field tonsillar ablation; radiofrequency tonsillar ablation; bipolar radiofrequency ablation; cold tonsillar ablation.
Teknik ini menggunakan bipolar electrical
probe untuk menghasilkan listrik
radiofrekuensi (radiofrequency electrical)
ini akan menghasilkan aliran ion sodium yang
dapat merusak jaringan sekitar. Coblation
probe memanaskan jaringan sekitar lebih
rendah dibandingkan probe diatermi standar
(suhu 600C (45-850C) dibanding lebih dari
1000C).
National Institute for clinical excellence
menyatakan bahwa efikasi teknik coblation sama dengan teknik tonsilektomi standar tetapi teknik ini bermakna mengurangi rasa nyeri, tetapi komplikasi utama adalah perdarahan.
5. Intracapsul
ar partial tonsillectomy 27
Intracapsular tonsillectomy merupakan
tonsilektomi parsial yang dilakukan dengan
menggunakan mikrodebrider endoskopi.
Meskipun mikrodebrider endoskopi bukan merupakan peralatan ideal untuk tindakan tonsilektomi, namun tidak ada alat lain yang dapat menyamai ketepatan dan ketelitian alat ini dalam membersihkan jaringan tonsil tanpa melukai kapsulnya.
Pada tonsilektomi intrakapsular, kapsul tonsil disisakan untuk menghindari terlukanya otot-otot faring akibat tindakan operasi dan memberikan lapisan “pelindung biologis” bagi otot dari sekret. Hal ini akan mencegah terjadinya perlukaan jaringan dan mencegah
terjadinya peradangan lokal yang
menimbulkan nyeri, sehingga mengurangi nyeri pasca operasi dan mempercepat waktu pemulihan. Jaringan tonsil yang tersisa akan
meningkatkan insiden tonsillar regrowth.
Tonsillar regrowth dan tonsilitis kronis
merupakan hal yang perlu mendapat
perhatian khusus dalam teknik tonsilektomi
intrakapsuler. Tonsilitis kronis
dikontraindikasikan untuk teknik ini.
Keuntungan teknik ini angka kejadian nyeri dan perdarahan pasca operasi lebih rendah dibanding tonsilektomi standar. Tetapi masih diperlukan studi dengan desain yang baik untuk menilai keuntungan teknik ini.
6. Laser
(CO2-KTP)28
Laser tonsil ablation (LTA) menggunakan CO2
atau KTP (Potassium Titanyl Phospote) untuk
menguapkan dan mengangkat jaringan tonsil. Teknik ini mengurangi volume tonsil dan
menghilangkan ‘recesses’ pada tonsil yang meyebabkan infeksi kronik dan rekuren.
LTA dilakukan selama 15-20 menit dan dapat dilakukan di poliklinik dengan anestesi lokal. Dengan teknik ini nyeri pascaoperasi minimal, morbiditas menurun dan kebutuhan analgesia pascaoperasi berkurang. Tekhnik ini direkomendasikan untuk tonsilitis kronik
dan rekuren, sore throat kronik, halitosis
berat atau obstruksi jalan nafas yang disebabkan pembesaran tonsil.
G. Penyulit
Berikut ini keadaan-keadaan yang
memerlukan pertimbangan khusus dalam
melakukan tonsilektomi maupun
tonsiloadenoidektomi pada anak dan
dewasa:4
1. Kelainan anatomi:
-
Submucosal cleft palate(jika adenoidektomi dilakukan)
- Kelainan maksilofasial
dan dentofasial
2. Kelainan pada komponen
darah:
- Hemoglobin < 10 g/100
dl
- Hematokrit < 30 g%
-
Kelainan perdarahandan pembekuan (Hemofilia)
3. Infeksi saluran nafas atas,
asma, penyakit paru lain
4. Penyakit jantung kongenital
dan didapat (MSI)
5. Multiple Allergy
6. Penyakit lain, seperti:
- Diabetes melitus dan
penyulit metabolik lain
- Hipertensi dan penyakit
kardiovaskular
-
Obesitas, kejangdemam, epilepsi
H. Teknik Anestesi29
Pemilihan jenis anestesi untuk tonsilektomi ditentukan berdasarkan usia pasien, kondisi kesehatan dan keadaan umum, sarana prasarana serta keterampilan dokter bedah, dokter anestesi dan perawat anestesi. Di Indonesia, tonsilektomi masih dilakukan di bawah anestesi umum, teknik anestesi lokal tidak digunakan lagi kecuali di rumah sakit pendidikan dengan tujuan untuk pendidikan.
Dalam kepustakaan disebutkan bahwa anestesi umum biasanya dilakukan untuk tonsilektomi pada anak-anak dan orang dewasa yang tidak kooperatif dan gelisah. Pilihan untuk menggunakan anestesi lokal bisa merupakan keputusan pasien yang tidak menginginkan tonsilektomi konvensional atau dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk menjalani anestesi umum. Biasanya ditujukan untuk tonsilektomi pada orang dewasa. Dimana sebelumnya pasien telah
diseleksi kondisi kesehatannya terlebih
dahulu dan mempertimbangkan tingkat
keterampilan dokter bedah yang
bersangkutan sehingga pasien dinilai dapat mentoleransi teknik anestesi ini dengan baik. Tujuan tindakan anestesi pada operasi
tonsilektomi dan adenoidektomi:
1. Melakukan induksi dengan lancar dan
atraumatik
2. Menciptakan kondisi yang optimal
untuk pelaksanaan operasi
3. Menyediakan akses intravena yang
digunakan untuk masuknya cairan atau obat-obatan yang dibutuhkan
4. Menyediakanrapid emergence.
Premedikasi30
Pemberian premedikasi ditentukan
berdasarkan evaluasi preoperasi. Saat
pemberian obat premedikasi dilakukan
setelah pasien berada di bawah pengawasan dokter/perawat terlatih. Anak-anak dengan
riwayat sleep apneu atau obstruksi saluran
napas intermitten atau dengan tonsil yang sangat besar harus lebih diperhatikan.
Anestesi Umum
Ada berbagai teknik anestesi untuk
melakukan tonsiloadenoidektomi. Obat
anestesia eter tidak boleh digunakan lagi jika pembedahan menggunakan kauter/diatermi. Teknik anestesi yang dianjurkan adalah
menggunakan pipa endotrakeal, karena dengan ini saturasi oksigen bisa ditingkatkan, jalan napas terjaga bebas, dosis obat anestesi dapat dikontrol dengan mudah. Dokter ahli anestesi serta perawat anestesi walaupun berada di luar lapangan operasi namun masih
memegang kendali jalan napas.31
1. Anestesi endotrakea30,31
-
Pasien dibaringkan di atas meja operasi.Pasang elektroda dada untuk monitor ECG (bila tidak ada, dapat menggunakan
precordial stetoskop). Manset pengukur tekanan darah dipasang di lengan dan infus dextrose 5% atau larutan Ringer dipasang di tangan.
-
Jika sulit mencari akses vena pada anakkecil, induksi anestesi dilakukan dengan halotan. Karena halotan menyebabkan dilatasi pembuluh darah superfisial, infus menjadi lebih mudah dipasang setelah anak tidur.
-
Pada anak, induksi menggunakansungkup dapat dilakukan dengan halotan atau sevoflurane dengan oksigen dan nitrous oxide. Kehadiran orangtua di ruang operasi selama induksi inhalasi bisa membantu menenangkan anak yang gelisah.
-
Intubasi endotrakea dilakukan dalamanestesi inhalasi yang dalam atau dibantu dengan pelemas otot nondepolarisasi
kerja pendek. Untuk menghindari
masuknya darah ke dalam trakea, jika ETT tidak memiliki cuff, perlu diletakkan kasa bedah di daerah supraglotik tepat di atas pita suara dan sekitar endotrakeal tube.
-
Selama maintenance, pernapasan dibantu(assisted ) atau dikendalikan (controlled ).
-
Antisialalogue (atropin) dapat diberikanuntuk meminimalkan sekresi di lapangan operasi.
-
Setelah operasi selesai, faring dan trakeadibersihkan dengan penghisap (suction),
dilakukan oksigenasi dan kemudian
ekstubasi. Setelah ekstubasi, dipasang
pharyngeal airway dan oksigenasi dilanjutkan dengan sungkup.
-
Ekstubasi dapat dilakukan bila pasiensudah sadar, dimana jalan napas sudah
terjagabebas (intact protective airway
reflexes).32 Ekstubasi juga dapat dilakukan
saat pasien masih dalam anestesi dalam. Pemberian lidocaine 1-1.5 mg/kg IV bisa
mengurangi risiko batuk dan
laringospasme pada saat ekstubasi.
-
Pasien kemudian dibaringkan dengandengan posisi lateral dengan kepala lebih rendah daripada panggul (tonsil position) sehingga memudahkan sisa-sisa darah mengumpul di sekitar pipi dan mudah dihisap keluar.
- Kejadian mual dan muntah setelah
tonsilektomi adalah sebesar 60%
sehingga dapat diberikan antiemetik sebagai pencegahan.
-
Pada perdarahan pasca tonsilektomi,lambung pasien bisa penuh berisi darah yang tertelan. Darah dalam lambung dapat memicu muntah secara spontan maupun pada waktu induksi anestesi untuk re-operasi. Pengosongan lambung dengan oro/nasogastric tube diperlukan sebelum anestesi.
Perkembangan baru adalah menggunakan
Laryngeal Mask Airway (LMA) sebagai pengganti pipa endotrakeal. Keuntungan LMA dibanding ETT adalah berkurangnya risiko stridor postoperasi. Obstruksi saluran napas postoperasi juga lebih sedikit. Tetapi cara ini
memerlukan perhatian khusus seperti:30
-
Selama anestesi anak harus bernapasspontan. Pemberian ventilasi tekanan
positif akan meningkatkan risiko
regurgitasi isi lambung terutama bila
tahanan jalan napas besar dan
compliance paru rendah.
-
Pemasangan LMA akan sulit pada pasiendengan pembesaran tonsil.
-
LMA harus dilepaskan sebelum pasiensadar kembali.
- Manfaat penggunaan LMA pada
tonsilektomi harus ditimbang juga dengan
risiko yang mungkin terjadi dan
pengambilan keputusan harus
berdasarkan pertimbangan per individu.
2. Modifikasi Crowe-Davis mouth gag31
Keberatan dokter ahli THT tentang
penggunaan intubasi endotrakeal adalah karena pipa ETT menyita lapangan operasi. Dengan modifikasi Crowe-Davis mouth gag ETT dapat diletakkan pada celah sepanjang permukaan bawah dari bilah lidah. Sehingga lapang operasi menjadi bebas.
Pengamatan selama operasi
Selama operasi yang harus dipantau:
-
Jalan napas tetap bebas, posisi ETT yangbaik tidak mengganggu operasi
-
Pernapasan dan gerak dada cukup-
(kalau ada) Saturasi oksigen di atas 95%-
Denyut nadi yang teratur-
Jumlah perdarahan dan jumlah cairaninfus yang masuk
Alat monitoring tambahan yang dianjurkan: - Pulse oxymetri
Pada pasien yang menjalani tonsilektomi
untuk tatalaksana obstructive sleep apnea,
ketersediaan monitoring postoperatif dan pulseoksimetri merupakan keharusan. Begitu
juga dengan pasien dengan sindroma Down yang bisa mengalami depresi susunan saraf pusat untuk waktu yang lama setelah
anestesi umum selama tonsilektomi
berlangsung.
Observasi Pasca Operasi di Ruang Pemulihan (PACU-Post anesthesia care unit )
Pasca operasi, pasien dibaringkan dalam posisi tonsil. Yaitu dengan berbaring ke kiri dengan posisi kepala lebih rendah dan
mendongak.33 Pasien diobservasi selama
beberapa waktu di ruang pemulihan untuk
meminimalkan komplikasi selain untuk
memaksimalkan efektivitas biaya dari
pelayanan kesehatan. Saat ini, pasien yang menjalani tonsilektomi sudah bisa pulang pada hari yang sama untuk pasien-pasien
yang telah diseleksi secara tepat
sebelumnya. Belum ada kesepakatan
mengenai lama observasi optimum sebelum pasien dipulangkan. Umumnya, observasi dilakukan selama minimal 6 jam untuk
mengawasi adanya perdarahan dini.30
Evaluasi keadaan/status pasien di unit perawatan pascaanestesi (PACU) memerlukan dokter spesialis anestesi, perawat dan dokter ahli bedah yang bekerja sebagai sebuah tim. Bersama-sama, dilakukan observasi adanya masalah terkait medis, bedah dan anestesi dengan tujuan dapat memberikan terapi secara cepat sehingga dapat meminimalkan efek komplikasi yang timbul.
Idealnya, penilaian rutin postoperasi
meliputi pulse oximetry , pola dan frekuensi
respirasi, frekuensi denyut dan irama jantung,
tekanan darah dan suhu. Frekuensi
pemeriksaan tergantung kondisi pasien, namun paling sering dilakukan setiap 15 menit untuk jam pertama dan selanjutnya setiap setengah jam.
Untuk menentukan secara objektif kapan pasien bisa dipulangkan, dapat digunakan sistem skoring. Sistem yang saat ini digunakan secara luas adalah Skor Aldrete yang dimodifikasi:
- Kesadaran
2= sadar penuh
1= respons bila nama dipanggil 0= tidak ada respons
- Aktivitas atas perintah
2= menggerakkan semua ektrimitas 1= menggerakkan 2 ekstrimitas
0= tidak bergerak
- Pernapasan
2= bernapas dalam tanpa hambatan 1= dispneu, hiperventilasi, obstruksi
pernapasan 0= apneu
- Sirkulasi
2= tekanan darah dalam kisaran 20% nilai preoperasi
1= tekanan darah dalam kisaran 50-20% nilai preoperasi
0= tekanan darah 50% atau kurang dari nilai preoperasi
- Saturasi oksigen
2= SpO2 > 92% pada udara ruangan 1= dibutuhkan tambahan O2 untuk
mempertahankan SpO2 > 92% 0= SpO2 < 92% dengan tambahan O2 Skor total= 10; skor < atau = 9 membutuhkan PACU
Perawatan postoperasix20
Dalam hal ini terjadi kontroversi mengenai diet. Belum ada bukti ilmiah yang secara jelas menyatakan bahwa memberikan pasien diet
biasa akan menyebabkan perdarahan
postoperatif. Bagaimanapun juga, pemberian cairan secara rutin saat pasien bangun dan secara bertahap pindah ke makanan lunak merupakan standar di banyak senter. Cairan intravena diteruskan sampai pasien berada dalam keadaan sadar penuh untuk memulai intake oral. Kebanyakan pasien bisa memulai diet cair selama 6 sampai 8 jam setelah operasi dan bisa dipulangkan. Untuk pasien yang tidak dapat memenuhi intake oral secara adekuat, muntah berlebihan atau perdarahan tidak boleh dipulangkan sampai pasien dalam keadaan stabil. Pengambilan keputusan untuk tetap mengobservasi pasien sering hanya berdasarkan pertimbangan perasaan ahli bedah daripada adanya bukti yang jelas dapat menunjang keputusan tersebut.
Antibiotika postoperasi diberikan oleh kebanyakan dokter bedah. Sebuah studi
randomized oleh Grandis dkk. Menyatakan terdapat hubungan antara berkurangnya nyeri dan bau mulut pada pasien yang diberikan antibiotika postoperasi. Antibiotika yang dipilih haruslah antibiotika yang aktif terhadap flora rongga mulut, biasanya penisilin yang diberikan per oral. Pasien yang menjalani tonsilektomi untuk infeksi akut atau
abses peritonsil atau memiliki riwayat faringitis berulang akibat streptokokus harus diterapi dengan antibiotika. Penggunaan
antibiotika profilaksis perioperatif harus
dilakukan secara rutin pada pasien dengan kelainan jantung.
Pemberian obat antinyeri berdasarkan keperluan, bagaimanapun juga, analgesia
yang berlebihan bisa menyebabkan
berkurangnya intake oral karena letargi.
Selain itu juga bisa menyebabkan
bertambahnya pembengkakan di faring. Sebelum operasi, pasien harus dimotivasi untuk minum secepatnya setelah operasi
selesai untuk mengurangi keluhan
pembengkakan faring dan pada akhinya rasa nyeri.
I. Komplikasi
Tonsilektomi merupakan tindakan bedah
yang dilakukan dengan anestesi umum maupun lokal, sehingga komplikasi yang
ditimbulkannya merupakan gabungan
komplikasi tindakan bedah dan anestesi. Sekitar 1:15.000 pasien yang menjalani
tonsilektomi meninggal baik akibat
perdarahan maupun komplikasi anestesi
dalam 5-7 hari setelah operasi.35
1. Komplikasi anestesi30
Komplikasi terkait anestesi terjadi pada 1:10.000 pasien yang menjalani tonsilektomi
dan adenoidektomi (brookwood ent
associates). Komplikasi ini terkait dengan keadaan status kesehatan pasien. Adapun komplikasi yang dapat ditemukan berupa:
- Laringospasme
-
Gelisah pasca operasi- Mual muntah
-
Kematian saat induksi pada pasiendengan hipovolemi32
- Induksi intravena dengan pentotal bisa
menyebabkan hippotensi dan
henti jantung32
- Hipersensitif terhadap obat anestesi
2. Komplikasi bedahx22
a. Perdarahan.
Merupakan komplikasi tersering (0,1-8,1%
dari jumlah kasus).37 Perdarahan dapat terjadi
selama operasi, segera sesudah operasi atau di rumah. Kematian akibat perdarahan terjadi pada 1:35.000 pasien. Sebanyak 1 dari 100 pasien kembali karena masalah perdarahan
dan dalam jumlah yang sama membutuhkan transfusi darah.
Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam
pertama dikenal sebagai early bleeding,
perdarahan primer atau “reactionary
haemorrage” dengan kemungkinan penyebabnya adalah hemostasis yang tidak adekuat selama operasi. Umumnya terjadi dalam 8 jam pertama. Perdarahan primer ini sangat berbahaya, karena terjadi sewaktu pasien masih dalam pengaruh anestesi dan refleks batuk belum sempurna. Darah dapat menyumbat jalan napas sehingga terjadi asfiksia. Perdarahan dapat menyebabkan keadaan hipovolemik bahkan syok.
Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam
disebut dengan late/delayed bleeding atau
perdarahan sekunder. Umumnya terjadi pada
hari ke 5-10 pascabedah. Perdarahan
sekunder ini jarang terjadi, hanya sekitar 1%. Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, bisa karena infeksi sekunder pada fosa
tonsilar yang menyebabkan kerusakan
pembuluh darah dan perdarahan dan trauma makanan yang keras.
b. Nyeri
Nyeri pascaoperasi muncul karena kerusakan mukosa dan serabut saraf glosofaringeus atau vagal, inflamasi dan spasme otot faringeus yang menyebabkan iskemia dan siklus nyeri berlanjut sampai otot diliputi kembali oleh mukosa, biasanya 14-21 hari setelah operasi.
Nyeri tenggorok muncul pada hampir semua pasien pascatonsilektomi. Penggunaan elektrokauter menimbulkan nyeri lebih berat dibandingkan teknik “cold” diseksi dan teknik jerat. Nyeri pascabedah bisa dikontrol dengan pemberian analgesik. Jika pasien mengalami nyeri saat menelan, maka akan terdapat
kesulitan dalam asupan oral yang
meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi. Bila hal ini tidak dapat ditangani di rumah, perawatan di rumah sakit untuk pemberian cairan intravena dibutuhkan.
3. Komplikasi lain
Dehidrasi, demam, kesulitan bernapas,
gangguan terhadap suara (1:10.000),
aspirasi, otalgia, pembengkakan uvula,
insufisiensi velopharingeal, stenosis faring, lesi di bibir, lidah, gigi dan pneumonia.
BAB IV
HASIL DAN DISKUSI A. Indikasi
Catalonian Agency Health Technology Assessment (CAHTA) dalam laporannya tahun
1999 menyatakan bahwa meskipun bukti empiris praktek tonsilektomi masih sedikit, tetapi terdapat kesepakatan diantara para ahli mengenai kegunaan tonsilektomi pada kasus infeksi berulang. Akan tetapi terdapat
kontroversi mengenai keparahan dan
frekuensi infeksi tersebut dan waktu yang optimal untuk melakukan tindakan karena kurangnya bukti ilmiah yang ada. Berbagai perkumpulan ilmuwan dan tenaga ahli mengeluarkan rekomendasi untuk praktek tonsilektomi, umumnya berusaha mereview bukti ilmiah yang ada dan karena kurangnya bukti ilmiah, rekomendasi sebagian besar
berdasarkan konsensus diantara tenaga ahli.3
Cochrane review (2004) melaporkan
bahwa efektivitas tonsilektomi belum
dievaluasi secara formal. Tonsilektomi
dilakukan secara luas untuk pengobatan tonsillitis akut atau kronik, tetapi tidak ada
bukti ilmiah randomized controlled trials
untuk panduan klinisi dalam
memformulasikan indikasi bedah untuk anak dan dewasa. Tidak ditemukan studi RCT yang
mengkaji efektivitas tonsilektomi pada
dewasa. Pada anak ditemukan 5 studi RCT (Mawson 1967; McKee 1963; Roydhouse 1970; Paradise 1984; Paradise 1992), tetapi yang diikutkan dalam review hanya 2 studi (Paradise 1984; Paradise 1992) sedang 3 studi lain tidak memenuhi kriteria. Studi pertama oleh Paradise (1984), dilakukan pada anak yang dengan infeksi tenggorok berat. Dari studi ini tidak dapat dibuat kesimpulan yang tegas tentang tonsilektomi karena
adanya keterbatasan metodologi yaitu
adanya perbedaan kelompok operasi dengan kelompok kontrol dalam hal riwayat episode infeksi sebelum mengikuti studi (kelompok operasi meliputi anak dengan penyakit yang lebih berat) dan status sosial ekonomi (kelompok nonoperasi memiliki status sosial ekonomi yang lebih tinggi) serta kelompok
tonsilektomi dan tonsilo-adenoidektomi
dilaporkan sebagai satu kelompok operasi. Disamping itu, studi ini meliputi hanya anak
dengan infeksi tenggorok berat, pada
pemantauan, banyak kelompok kontrol yang memiliki episode infeksi sedikit dan biasanya ringan. Studi kedua oleh Paradise (1992) meliputi anak dengan infeksi sedang tidak
dapat dievaluasi karena saat review
dilakukan tidak ada data yang lebih detil dari
desain dan bagaimana penelitian ini
dilakukan (hasil penelitian baru dalam bentuk
abstrak).2
Darrow dan Siemens (2002) melakukan review uji klinis untuk memberikan dasar bagi
klinisi dalam memutuskan bedah
adenotonsilar untuk pasiennya. Dilaporkan
bahwa indikasi absolut
tonsiloadenoidektomi adalah hiperplasia
adenotonsilar dengan obstructive sleep
apnea, gagal tumbuh (failure to thrive) atau
perkembangan dentofacial abnormal;
kecurigaan keganasan; dan (untuk
tonsilektomi) tonsillitis perdarahan. Indikasi
relatif tonsiloadenoidektomi adalah hiperplasia adenotonsilar dengan obstruksi saluran nafas atas, disfagia, penurunan kemampuan bicara dan halitosis. Indikasi relatif lain untuk adenoidektomi saja adalah otitis media dan rinosinusitis atau adenoiditis rekuren atau kronik. Indikasi relatif lain untuk tonsilektomi saja adalah faringotonsilitis rekuren atau kronik, abses peritonsilar dan
infeksi streptokokus.6
1. Anak
a. Infeksi Tenggorok Berat dan Berulang2,7,38
Paradise dkk. (1984) melakukan randomized
dan nonrandomized clinical trials secara paralel pada 187 anak yang berusia 3-15 tahun dengan infeksi tenggorok berat dan
berulang. Dilaporkan bahwa pada
pemantauan selama 2 tahun pascaoperasi, insiden infeksi tenggorok pada kelompok operasi lebih rendah dan bermakna secara
statistik (p≤0,05) dibanding kelompok
nonoperasi. Setelah tiga tahun pemantauan tidak terdapat perbedaan bermakna diantara kedua kelompok. Pada pemantauan tiap
tahun kelompok nonoperasi, ditemukan
bahwa episode infeksi < 3 kali dan sebagian besar infeksi ringan.
Hasil studi ini mendukung tonsilektomi untuk anak-anak dengan kriteria yang sesuai dengan studi ini (memiliki ≥7 episode infeksi tengggorokan pada tahun sebelumnya atau ≥5 episode tiap tahun pada 2 tahun sebelumnya atau ≥3 episode tiap tahun pada 3 tahun sebelumnya; episode ditandai dengan gambaran klinik spesifik [temperatur