LAPORAN TEKNIS
TAHUN ANGGARAN 2020
KAJIAN STOK DAN POTENSI SUMBER DAYA IKAN DI
KPP PUD 422 (NTB)
Oleh : Siswanta Kaban, Makri Suwinda, Sarno dan Mersi KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
BADAN RISET KELAUTAN PERIKANAN DAN SUMBER DAYA MANUSIA KELAUTAN DAN PERIKANAN
PUSAT RISET PERIKANAN
BALAI RISET PERIKANAN PERAIRAN UMUM PALEMBANG DAN PENYULUHAN PERIKANAN
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha ESa atas segala karunia Nya, sehingga Laporan Teknis penelitian ini dengan judul Kajian Stok dan Potensi Sumber Daya Ikan di KPP PD 422, Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur dapat diselesaikan. Penelitian ini merupakan salah satu dari kegiatan penelitian yang ada di Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan untuk tahun anggaran 2020
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengkaji stok ikan khususnya di Waduk Batu Jai, Provinsi NTB dan Sungai Kambaniru, Provinsi Nusa Tenggara Timur serta mengoptimalkan pemanfaatan perikanan tangkap agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan serta memelihara daya dukung lingkungan untuk perikanan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk pengelolaan yang keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya perikanan di Waduk Batu Jai Sungai Kambaniru Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu terutama kepada Kuasa Pemegang Anggaran (KPA) Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan (BRPPUPP), peneliti, teknisi dan pejabat struktural lingkup BPPPUPP Palembang. Juga kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan. Kritik dan saran diharapkan untuk membantu usaha perbaikan pelaksanaan penelitian dan penulisan Laporan Tahunan ini, semoga laporan Tahunan ini dapat memberikan informasi khususnya dalam melengkapi data Stok Ikan di KPP PUD 422.
Palembang, Desember 2020 Penanggung jawab Kegiatan,
iv
ABSTRAK
Penelitian Estimasi Stok dan Potensi Perikanan di Waduk Batu Jai (NTB) dan Sungai Kambaniru (NTT) yang merupaka bagian pada KPP PUD 422 bertujuan untuk mengkaji stok ikan khususnya di waduk Batu Jai dan Sungai Kambaniru serta mengoptimalkan pemanfaatan perikanan tangkap agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan serta memelihara daya dukung lingkungan untuk perikanan. Penangkapan ikan sepanjang tahun dan di Waduk Batu Jai dan pemanfaatan kegiatan budidaya ikan di waduk tersebut namun potensi perikanan yang belum di ketahui secara lengkap khususnya pada sungai Kambaniru di Provinsi Nusa Tenggara Timur sehingga penelitian Kajian Stok dan Potensi Perikanan di lokasi tersebut. Penelitian ini dilakukan pada dua yaitu Propinsi NTB dan NTT (KPP PUD 422) khususnya di Waduk Batu Jai dan Sungai Kambaniru seperti halnya data standing stok, potensi produksi ikan, potensi produksi lestari (MSY) dan potensi produksi hasil tangkapan yang di harapkan memberi masukan sebagai bahan kebijakan pengelolaan perikanan perairan umum daratan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Standing Stok pada ekosistem waduk dengan pendekatan swept area dan mark recapture methods di dapatkan sebesar sebesar 217, 9 kg/ha sedangkan pada ekosistem sungai diperoleh stok ikan sebesar 18 kg/ha. Jenis ikan yang dominan di waduk Batu Jai denga alat tangkap adalah ikan nila (Oreochromis nilotica) sedangkan dengan menggunakan alat tangkap jaring yang dominan adalah ikan kapal (Hyposarcus pardalis).Secara umum penangkapan ikan di waduk Batu Jai telah overfishing, karena ekploitasi ikan yang intensif dan keberlanjutan ikan tersebut tetap terjaga dengan program restoking yang tetap dilakukan oleh dinas terkait.
Kata kunci : standing stok, potensi produksi, potensi lestari, tangkapan, Waduk Batu Jai, Sungai Kambaniru
v
DAFTAR ISI
LAPORAN TEKNIS ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
ABSTRAK ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Penerima Manfaat ... 2
1.3. Strategi Pencapaian Keluaran ... 2
BAB II METODOLOGI ... 4
2.1. Lokasi Penelitian ... 4
2.2. Metode Penelitian... 5
2.2.1. Metode Mark and Recapture ... 5
2.2.2. Potensi Produksi dan Kondisi Perairan ... 7
2.2.3. Potensi Lestari (MSY) ... 11
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15
3.1. Kualitas Air ... 15 3.1.1. Kecerahan ... 15 3.1.2. Suhu Air ... 16 3.1.3. pH (Derajat Keasaman) ... 18 3.1.4. Oksigen Terlarut ... 19 3.1.5. Total Alkalinitas ... 21 3.1.6. Kesadahan ... 22
3.1.7. Daya Hantar Listrik ... 24
3.1.8. Nitrat (N-NO3-) ... 25
3.1.9. Khlorofil-a ... 27
3.2. Kesuburan Perairan ... 28
3.3. Potensi Produksi Ikan ... 28
3.4. Kegiatan Perikanan Waduk Batu Jai dan Sungai Kambaniru ... 29
3.4.1. Penangkapan ... 30
vi
3.4.1.2. Hasil Tangkapan ... 32
3.5. Stok Ikan ... 34
3.6. Struktur Komunitas Plankton... 34
3.6.1. Kelimpahan, Keanekaragaman, Dominansi dan jenis dan Jenis fitoplankton di Waduk Batu Jai ... 35
3.6.2. Kelimpahan, Keanekaragaman, Dominansi dan jenis dan Jenis zooplankton di Waduk Batu Jai ... 37
3.6.3. Kelimpahan, Keanekaragaman, Dominansi dan jenis dan Jenis fitoplankton di Sungai Kambaniru ... 38
3.6.4. Kelimpahan, Keanekaragaman, Dominansi dan jenis dan Jenis zooplankton di Sungai Kambaniru ... 40
3.7. Struktur Komunitas Bentos... 42
3.8. Biologi Ikan Tawes ... 62
3.8.1. Reproduksi Ikan Tawes ... 62
3.8.2. Food Habit Ikan Tawes ... 63
3.8.3. Hubungan Panjang-Bobot Tubuh... 64
3.9. Biologi Ikan Nila ... 65
3.9.1. Reproduksi Ikan Nila... 65
3.9.2. Hubungan Panjang-Bobot Tubuh... 65
3.10. Biologi Ikan Sapu-Sapu ... 66
3.11. Dinamika Populasi Ikan ... 67
BAB IV KESIMPULAN... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 74
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Lokasi Penelitian di Waduk Batu Jai dan Sungai Kambaniru ... 4
Gambar 2. Kecerahan di Waduk Batu Jai Tahun 2020 ... 15
Gambar 3 Nilai Kecerahan di Sungai Kambaniru Tahun 2020 ... 16
Gambar 4 Suhu air di Waduk Batu Jai Tahun 2020 ... 17
Gambar 5 Suhu Air di Sungai Kambaniru Tahun 2020 ... 17
Gambar 6 pH air di Waduk Batu Jai Tahun 2020 ... 18
Gambar 7 pH air di Sungai Kambaniru Tahun 2020 ... 19
Gambar 8 Oksigen terlarut di Waduk Batu Jai 2020 ... 20
Gambar 9 Oksigen terlarut di Sungai Kambaniru 2020 ... 20
Gambar 10 Total alkalinitas di Waduk Batu Jau Tahun 2020 ... 21
Gambar 11 Total alkalinitas di Sungai Kambaniru 2020 ... 22
Gambar 12 Kesadahan di Waduk Batu Jai Tahun 2020 ... 23
Gambar 13 Kesadahan di Sungai Kambaniru Tahun 2020 ... 23
Gambar 14 DHL di Waduk Batu Jai Tahun 2020 ... 24
Gambar 15 DHL di Sungai Kambaniru Tahun 2020 ... 25
Gambar 16 Nitrat di Waduk Batu Jai Tahun 2020 ... 26
Gambar 17 Nitrat di Sungai Kambaniru Tahun 2020 ... 26
Gambar 18 Khlorofil-a di Waduk Batu Jai Tahun 2020 ... 27
Gambar 19 Khlorofil-a di Sungai Kambaniru Tahun 2020... 27
Gambar 20 Hasil tangkapan dengan Ancuk di Waduk Batu Jai ... 33
Gambar 21 Rata-rata tangkapan menggunakan alat tangkap Jaring ... 33
Gambar 22 Kelimpahan fitoplankton di Waduk Batu Jai ... 36
Gambar 23 Keanekaragaman dan Dominansi fitoplankton di Waduk Batu Jai .... 36
Gambar 24 Kelimpahan zooplankton di Waduk Batu Jai ... 37
Gambar 25 Keanekaragaman dan Dominansi zooplankton di Waduk Batu Jai .... 38
Gambar 26 Kelimpahan Fitoplanton di Sungai Kambaniru ... 39
Gambar 27 Indeks Dominansi Fitoplanton di Sungai Kambaniru ... 40
Gambar 28 Kelimpahan zooplanton di Sungai Kambaniru ... 41
viii
Gambar 30 Kelimpahan dan Keanekaragaman Bentos Di Waduk Batu Jai ... 61
Gambar 31 Sex Ratio ikan tawes di Waduk Batu Jai ... 62
Gambar 32 Nilai index of preponderance ikan tawes ... 63
Gambar 33. Hubungan Panjang-berat Ikan tawes di Waduk Batu Jai ... 64
Gambar 34 Sex ratio ikan Nila di Waduk Batu Jai ... 65
Gambar 35 Hubungan Panjang-berat Ikan Nila di Waduk Batu Jai ... 66
Gambar 36 Hubungan Panjang-berat Ikan Kapal di Waduk Batu Jai ... 67
Gambar 37. Mortalitas ikan tawes di Waduk Batu Jai ... 68
Gambar 38. Mortalitas ikan nila di Waduk Batu Jai... 69
Gambar 39. Mortalitas ikan nila di Waduk Batu Jai... 70
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Titik Lokasi Sampling di Waduk Batu Jai dan Sungai Kambaniru ... 4
Tabel 2 Parameter yang di ukur dalam penelitian. ... 10
Tabel 3 Trofik status indeks Carlson di Waduk Batu Jai tahun 2020... 28
Tabel 4 Angka potensi produksi ikan berdasarkan MEI di Waduk Batu Jai ... 28
Tabel 5 Potensi Produksi Ikan dengan pendekatan khlorofil di waduk Batu Jai .. 29
Tabel 6 Jenis-jenis ikan yang ditemukan di Waduk Batu Jai ... 31
Tabel 7 Jenis-jenis ikan yang ditemukan di Sungai Kambaniru ... 31
Tabel 8 Komposisi tangkapan di Waduk Batu Jai ... 32
Tabel 9 Swept area Method dengan penandaan di Waduk batu Jai ... 34
Tabel 10 Swept area Method dengan penandaan di Sungai ... 34
Tabel 11. Kelimpahan Makroozoobentos di Sungai Kambaniru ... 61
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Jenis Fitoplankton di Waduk Batu Jai ... 76
Lampiran 2 Jenis ZooPlankton di Waduk Batu Jai ... 77
Lampiran 3 Jenis fitoplankton di Sungai Kambaniru ... 78
Lampiran 4 Jenis Zooplankton di Sungai Kambaniru ... 79
Lampiran 5 Kelimpahan Makroozoobentos di Waduk Batu Jai ... 80
Lampiran 6. Kelimpahan Makroozoobentos di Sungai Kambaniru ... 81
1
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Data Terkait Stok Di KPP PUD 422 sangat minim khususnya di Provinsi Nusa tenggara Barat dan Nusa Tenggra Timur, sehingga di lakukan pengkajian stok ikan di wilayah tersebut yang bertujuan untuk memberikan saran tentang pemanfaatan yang optimum sumber daya hayati perairan seperti ikan dan udang. Sumber daya hayati bersifat terbatas, tetapi dapat memperbaharui dirinya dan pengkajian stok ikan dapat diartikan sebagai upaya pencarian tingkat pemanfaatan yang dalam jangka panjang memberikan hasil tangkapan maksimum perikanan dalam bentuk bobot (Sparre & Venema, 1998). Menurut Welcomme (1985), kajian potensi produksi ikan di perairan umum dapat dilakukan dengan dua pendekatan secara langsung seperti kajian perikanan (fishery assessment) dan kajian stok ikan (fish stok assessment), sedangkan secara tidak langsung melalui estimasi potensi perikanan secara cepat (rapid method for assessing fish potential) Waduk Batu jai yang berada di provinsi NTB, kabupaten Lombok Tengah merupakan salah satu waduk yang pemanfaatanya sebagai irigasi yang mempunyai potensi perikanannya cukup tinggi juga cukup tinggi (Kaban, et.al 2019). Standing stok ikan di waduk ini sebesar 101,6 Kg/ha dengan jenis ikan yang dominan adalah ikan nila ikan Nila (Oreochromis niloticus), ikan Tawes
(Barbonymus gonionotus). Di samping itu potensi jenis udang rebon dan lobster
air tawar yang cukup tinggi sehingga waduk ini perlu perhatian yang lebih karena sebagian masyarakat di sepanjang waduk bergantung kepada hasil tangkapan ikan di waduk Batu Jai. Potensi perikanan yang cukup besar di waduk batu jai sehingga sangat perlu di kaji lebih mendalam dalam pengelolaannya dengan memgetahui potensi dan stok ikan di waduk tersebut. Sedangkan Sungai Kambaniru berada di Pulau Sumba (NTT) dengan sungai terbesar di pulau Sumba dengan panjang 117,1 km2 dengan potensi perikanan yang cukup tinggi di bandingkan dengan sungai-sungai lain di pulau Sumba akan tetapi stok ikan di sungai ini belum di ketahui secara pasti sehingga perlu di lakukan kajian terkait stok ikan di sungai ini.
2
Untuk pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan di perairan ini dapat dimanfaatkan secara lestari maka diperlukan hasil riset untuk mendasarinya. Untuk itu dilakukan pengkajian stok ikan di provinsi Nusa tenggara barat dan Nusa Tenggara timur khususnya di ekosistem waduk dan sungai yang bertujuan untuk memberikan saran tentang pemanfaatan optimum sumber daya hayati perairan. Penyediaan informasi terkait potensi stok sumber daya ikan diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap pemangku kepentingan dalam upaya melestarikan potensi dan keanekaragaman hayati.
1.2. Penerima Manfaat
1. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur
2. Direktorat Jenderal Sumberdaya Ikan (Subdirektorat. Perairan Umum Daratan PUD).
3. Mahasiswa Perguruan Tinggi.
4. Masyarakat baik nelayan dan pemerhati lingkungan. 5. Peneliti bidang perikanan perairan umum daratan.
1.3. Strategi Pencapaian Keluaran
Penelitian akan dilaksanakan dengan pendekatan pengumpulan data primer dan data sekunder. Data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran pustaka, laporan teknis, dan hasil penelitian yang relevan dari instansi terkait (BPS Provinsi NTB dan NTT, BWS NTB dan NTT, Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. NTB dan NTT dan Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, Sumba, Bappeda, BLH dan Perguruan Tinggi).
Data primer dikumpulkan dari empat kali survey inventarisasi di beberapa stasiun pengamatan di lapangan yaitu parameter fisika kimia perairan, aspek biologi ikan, hasil tangkapan ikan dengan ekperimen fishing dan wawancara dari enumerator. Data sekunder adalah data pendukung, untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam dan detil terhadap objek, permasalahan dan tujuan penelitian. Data
3
primer dikumpulkan dari empat kali survei mewakili musim hujan, peralihan dan kemarau. inventarisasi pada 5 stasiun pengamatan di Sungai Waduk Batu Jai dan Sungai Kambaniru
4
BAB II METODOLOGI
2.1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian akan dilakukan Di Waduk Batu (Provinsi Nusa Tenggara Barat) dan Sungai Kambaniru (Provinsi Nusa Tenggara Timur) (Gambar 1). Adapun gambar dari lokasi pengambilan sampling adalah sebagai berikut:
Gambar 1 Lokasi Penelitian di Waduk Batu Jai dan Sungai Kambaniru Tabel 1. Titik Lokasi Sampling di Waduk Batu Jai dan Sungai Kambaniru
Lokasi Latiitude Longitude
Waduk Batu Jai
ST 1 S 08⁰44’11,6” E 116⁰15’28,9” ST 2 S 08⁰43’25,4” E 116⁰15’39,6” ST 3 S 08⁰43’07,3” E 116⁰16’15,5” ST 4 S 08⁰43’29,5” E 116⁰16’35,4” ST 5 S 08⁰44,’21,6” E 116⁰16’14,2” Sungai Kambaniru ST 1 S 03⁰00’58,2” E 104⁰46’53,4” ST 2 S 09⁰43’43,6” E 120⁰15’55,6” ST 3 S 09⁰44’32,4” E 120⁰14’36,2” ST 4 S 09⁰40,7’07,5” E 120⁰17’35,2”
5
Penelitian akan dilaksanakan dengan pendekatan pengumpulan data primer dan data sekunder. Data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran pustaka dan hasil penelitian yang relevan dari instansi terkait (Dinas Kelautan dan Perikanan terkait, Bappeda, BLH dan Perguruan Tinggi). Penentuan dari stock yang ada terkait erat dengan tipe habitat yang ditemui pada lokasi penelitian. Adapun beberapa langkah dalam penentuan stok dan potensi pada setiap habitat mengacu pada metode dibawah ini:
2.2. Metode Penelitian
2.2.1. Metode Mark and Recapture
Hewan yang bergerak terutama yang bersifat sendiri/individualisa akan sangat susah untuk dilakukan penghitungan jumlah populasinya. Hal ini dikarekan hewan jenis ini terkadang bergerak mengitari, bergerak bersama dan juga bersembunyi pada saat tertentu. Untuk menghitung jumlah absolute dapat digunakan metode mark-recapture methods yang dapat memverifikasi secara efectif. Langkah yang digunakan dalam metode ini adalah:
a. Dikumpulkan sejumlah sampel yang berasal dari satu spesies (digunakan spesies yang dominan tertangkap pada habitat tertentu).
b. Diguakan tagging atau penanda yang tahan air pada bagian tubuh yang tidak mengganggu pergerakan alamiah.
c. Setelah pemberian tanda (tagging) ditebar kembali ikan yang ditandai, sebaiknya dilakukan pada dekat lokasi ikan yang tertangkap.
d. Setelah penebaran, dibiarkan beberapa saat agar ikan kembali kepada populasi keseluruhan dan dianggap populasi telah bercampur (recover).
e. Untuk mengestimasi ukuran populasi dilakukan penangkapan kembali pada ikan yang telah ditandai pada hari berikutnya (hari kedua/ dapat ditentukan selanjutnya).
6
f. Asumsi pada metode mark-recapture adalah proporsi dari individu yang ditandai dan tertangkap pada kedua kali, sebagai bentuk dari bagian ikan dari keseluruhan populasi. Dapat digambarkan pada persamaan:
………(5) atau
………(6)
Dimana:
M = Jumlah spesies yang di tandai dan dilepaskan N = Ukuran populasi
R = Jumlah ikan bertanda yang tertangkap kembali S = Jumlahikan yang tertangkap
Mark-recapture metode merupakan metode estimasi populasi yang sangat simple, dan kalkulasinya cukup dapat meyakinkan, akan tetapi tetap tergantung dari beberapa asumsi yang perlu diperhatikan. Beberapa asumsi yang perlu diperhatikan adalah:
a. Individu yang di tandadi memiliki kemungkinan dari kesuksesan hidup yang sama dalam populasinya. Yaitu dengan baik menentukan metode tagging yang sesuai dari instrument tagging dan penempatannya.
b. Kelahiran dan kematian tidak berpengaruh pada status populasi. Artinya tidak dilakukan penangkapan kembali pada masa dimana terdapat asumsi sudah ada recruitmen baru, dimana terbentuk populasi lain.
c. Migrasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap waktu tebar dan waktu tangkap kembali. Apabila waktu penangkapan terlalu lama, maka diasumsikan ada sejumlah populasi yang dating atau yang meninggalkan area, sehingga populasi awal tidak terukur kembali.
d. Diasumsikan bahwa spesies yang di lepaskan kembali telah bercampur sempurna dengan populasi awalnya. Bedakan setiap spesies pada sifat pergerakannya.
e. Penandaan tidak lepas dari individu yang ditandai. Apabila ini terjadi maka penilaian dapat menjadi underestimate.
7
f. Tingkat recapture yang cukup tinggi dapat mendukung estimasi pengukuran. Lincoln-Peterson dapat memberikan penilaian berlebih khususnya pada jumlah spesies yang tertangkap pada nilai yang kecil.
g. Pada kasus (f) sering terjadi dikarenakan susahnya mengenerate hasil tangkapan yang mecukupi pada populasi yang besar. Untuk mengatasi hal tersebut maka sebagian besar ecologist melakukan multiple penandaan dan penangkapan kembali, dengan Schnabel index untuk mengestimasi populasi. Sehingga persamaan Lincoln-Peterson menjadi:
………(7) Dimana:
Mi = jumlah total dari spesies yang terangkap pada waktu sebelumnya (i) Ci = Jumlah spesies yang tertangkap pada waktu tertentu (i)
Ri = Jumlah speies yang ditandai yang tertangkap pada waktu tertentu (i)
2.2.2. Potensi Produksi dan Kondisi Perairan
Penentuan potensi Produksi ikan di Sungai ditentukan menggunakan metode Metode Leger Huet, Pendugaan potensi produksi ikan dengan metode cepat kajian potensi ikan terbagi menjadi empat jenis yaitu: Metode Leger-Huet, Metode Biuns-Eishosmans, Metode korelasi sederhana dan Model kajian perikanan sungai di Afrika. Rumus dasar Metode Leger-Huet adalah sebagai berikut :
K = BLk Dimana :
K = Produktivitas tahunan perairan atau standing stok (kg/km2)
B = Kapasitas biogenic
L = Lebar rata-rata sungai k = Produktivitas coeffisient
8
Kapasitas biogenic dapat menggunakan koefisien kesuburan perairan berdasarkan tumbuhan (perifiton, fitoplankton, makrofita) atau dapat dihitung berdasarkan modifikasi dengan menggunakan biomass makrozoobenthos.
Koefisien kesuburan adalah sebagai berikut: Skor 1-3 bila miskin makanan alami
Skor 4-6 bila makanan alami sedang/cukup Skor 7-10 bila kaya akan makanan alami.
Nilai coefficient k adalah jumlah dari tiga koefisien (k1 + k2 + k3), Dimana : k1 = hasil rata-rata suhu
k2 = tergantung pada kesadahan dan alkalinitas perairan dan Skor 1 untuk perairan lunak/tidak alkalis
Skor 2 untuk perairan sadah/alkalis
k3 = komposisi jenis ikan dominan dengan nilai berikut : Skor 1 untuk ikan berarus deras (rheophilic)
Skor 1,5 untuk kombinasi ikan arus deras dan lambat Skor 2,0 untuk ikan dominan berarus lambat (limnophilic)
Metode ini kemudian dimodifikasi untuk perairan sungai yang lebar dan luas dengan merubah koefisien 1 (k1) dan kapasitas biogenic (Holcik, 1979 dalam Welcomme, 1983) dimana :
k1 dihitung berdasarkan persamaan : k1 = -0.6671 + 0.16671* Suhu (-oC)
Kapasitas biogenic B dari perairan akan dinilai menggunakan biomassa dari makrozoobenthos menggantikan jumlah tumbuhan air. Menurut Albrecht dalam Welcomme (1983), perhitungan kapasitas biogenic ini tergantung pada biomass makrozoobenthos. Bila biomass makrozoobenthos kurang dari 60 kg/ha maka kapasitas biogenic (B) dihitung dengan rumus :
9 B = 0.00 + 0,05 Bb
Bila biomass makrozoobenthos pada kisaran 60-700 kg/ha maka kapasitas biogenic digunakan rumus B = 0,35158 + 0,45469 log Bb dimana Bb adalah biomass makrozoobenthos hasil pengukuran.
Sedangkan penentuan potensi produski pada wilayah Rawa Banjiran ditentukan berdasarkan nilai klorofil dan DHL dapat dihitung melalu beberapa persamaan dengan satuan kg/ha/tahun:
1) Rumus Moreau & De Silva (1991) yaitu: Y = 28,2 + 10,5 x (chl-a) Y = potensi produksi ikan (kg/ha/tahun)
Chl-a = konsentrasi chlorofil-a (µg/liter)
2) Almazan dan Boyd (1990) yaitu: Y= 1.43 + 24.48 Xc - 0.15 Xc² Y = potensi produksi ikan (kg/ha/tahun)
Xc = konsentrasi chlorofil-a (µg/liter)
3) Henderson & Welcomme (1974) in Moreau & De Silva (1991) Dengan MEI (Morpho Edaphic Index): Y= 14,314* MEI0.4681
Y = Nilai potensi produksi ikan (kg/ha/tahun) MEI = Nilai conductivity (DHL)/ kedalaman rata-rata
Tingkat kesuburan perairan atau status trofik perairan Waduk dianalisa dengan cara menghitung nilai index status trofik (trophic state index, TSI) yang dirumuskan Carlson (1977) dalam Kementerian Negara Lingkungan Hidup (2008), dengan rangkaian rumus sebagai berikut :
TSI = (TSI-SD + TSI-TP + TSI-Chl) / 3
Rumus yang digunakan untuk mencari nilai Trofik Status Indek (SD, TSI-TP dan TSI-Chl) adalah sebagai berikut :
TSI-SD = 60 – 14,41 * Ln [SD], dimana SD = kecerahan air dalam meter ; TSI-TP = 4,15 + 14,42 * Ln [TP], dimana TP = total Fosfor dalam mg/Liter ; TSI-Chl = 30,6 + 9,81 * Ln [Chl], dimana Chl = kadar Khlorofil-a dalam mg/m3.
10
Kriteria status trofik perairan dari Carlson diklasifikasikan dalam tingkat kesuburan sangat rendah, rendah, sedang dan tinggi.
Pendugaan potensi produksi yang dikemukakan oleh Henderson &Welcomme (1974) dalam Moreau & De Silva (1991) yaitu :
Y = 14,314 MEI 0,4681
Dimana : Y = nilai potensi produksi ikan (kg/ha/tahun) dan MEI = Morphoedhaphic Index = nilai parameter DHL dalam satuan μmhos/cm dibagi dengan rata-rata kedalaman perairan dalam satuan meter.
Parameter Kualitas Perairan disajikan dalam tabel 2 berikut ini.
Tabel 2 Parameter yang di ukur dalam penelitian.
No Parameter Satuan Metode/ Instrument
Fisika Perairan
1. Suhu perairan oC (celcius) Termometer
2. Kedalaman Meter Deep Sounder
3. Conductivity (DHL) μhos/cm Conductivity meter
4. Kecerahan cm Piring secchi
5. Total Suspended Solid (TSS)
mg/l Gravimetri
Kimia Perairan
6. pH Unit pH meter/ pH indikator
7. Oksigen terlarut mg/l Titrasi winkler/ DO meter
8. Alkalinnitas mg/l Titrasi indikator
bromocresol green
9. Hardness mg/l Titrasi indikator EDTA
10. Total Phospat mg/l Spectrofotometer Asam
Ascorbat dengan destruksi
11. Ortho- Phospat mg/l Spectrofotometer Asam
Askorbat
12. Nitrit mg/l Spectrofotometer
Sulfanilamide
13. Nitrat mg/l Spectrofotometer Bruchine
Sulfat
Biologi Perairan
15. Benthos Ind/m2 Microscope dan transect
11
2.2.3. Potensi Lestari (MSY)
Untuk menghitung MSY, Upaya Optimum dan Tingkat Pemanfaatan, data statistik yang diperlukan adalah:
1) Produksi jenis-jenis ikan.
2) Produksi jenis ikan per-jenis alat tangkap. 3) Jumlah dan jenis alat tangkap.
- Menghitung Produksi Total Tahunan
Jika semua jenis ikan sudah dapat dikelompokkan ke dalam ‘species group’ seperti pelagis kecil, demersal dan lain-lain, maka produksi tahunan kelompok jenis ikan tersebut dapat diperoleh melalui penjumlahan biasa. - Menghitung ‘Fishing Power Index’ (FPI)
Dari tabel Produksi jenis ikan per-jenis alat tangkap dapat dihitung hasil tangkapan per-unit alat (C/A) untuk tahun tertentu. Alat tangkap yang mempunyai angka C/A yang tertinggi dinyatakan sebagai alat tangkap standar, dimana nilai FPI =1.0. Nilai FPI alat tangkap lainnya dikonversi ke nilai FPI yang tertinggi tersebut.
Alat Tangkap Produksi (C) Ʃ Alat (A)
C/A FPI Catatan
Jaring Jala dst
Alat tangkap dengan C/A tertinggidiberi indeks FPI=1. Alat lain dikonfersi kedalam
alat tangkap ini dengan
membagi C/A alat lain tersebut dengan alat tangkap dengan C/A yang tertinggi
12 - Menghitung Total Upaya (Total Effort)
Alat Tangkap FPI Total Upaya 2015 2018 Ʃ Alat f Ʃ Alat f Jaring Jala Total Effort
Nilai effort (f) diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah alat (Jumlah Alat) dengan FPI. Total effort tahunan adalah penjumlahan dari nilai effort dari alat tangkap yang digunakan.
- Menghitung MSY dan Upaya Optimum
Langkah berikutnya adalah menghitung CPUE tahunan yaitu dengan membagi Total produksi ikan (demersal, pelagis dsb.) dengan Total Effort tahunan.
Tahun Produksi Total Effort CPUE
2016 2017 2018
13 2019
Langkah terakhir adalah menghitung persamaan regresi antara CPUE tahunan dengan total effort tahunan.
- Model Linier – Schaefer
Menurut model tersebut hubungan antara CPUE (C/f) dengan total effort mengikuti persamaan regresi: Y = A – b X, dimana: Y = C/f, dan X = f. Prosedur pendugaan MSY diperoleh melalui perhitungan berikut.
Menurut model Schaefer: C/f =a – bf →C = af - bf 2. Pada titik effort maksimum (Fmax), maka hasil tangkapan menjadi Nol. C = af – bf 2 = 0; Jika demikian pada titik tersebut a = bf; atau f = a/b. Pada Catch maksimum (MSY), maka tingkat effort (Fopt) berada pada setengah tingkat effort maksimum (1/2. a/b = a/2b).
Dengan memasukkan nilai a/2b ke persamaan regresi:
C =af – bf 2, menjadi → C = a. a/2b – b (a/2b) (a/2b) atau → C = a2/2b – a2/4b atau →
C = 2a2/4b – a2/4b, sehingga dengan demikian maka Cmax atau MSY menjadi: MSY = a2/ 4 b dan f opt = a/2b
14
Rumus Model Eksponential Fox: MSY = - (1 / b) * e (A-1) dan f opt = 1/b Akan sangat baik jika nilai MSY dan effort optimum tersebut juga dihitung kisarannya, sehingga dapat diketahui ‘upper limit’ dan ‘lower limit’ -nya Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan dapat diperoleh dengan membagi: (Produksi / MSY) yang biasa dinyatakan dalam persen (%).
15
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Kualitas Air 3.1.1. Kecerahan
Kisaran nilai kecerahan Waduk d Pandan Duri Sebesar pada pada tahun 2020 yaitu antara 18 cm – 30 cm dengan nilai rata-rata 25,3 cm (gambar 2). Nilai pada masing-masing lokasi yang di tentukan tidak terlalu signifkan. Kecerahan tertinggi di temukan pada lokasi dekat dengan pemukiman dengan masuknya limbah antropogenik serta erosi dari tepian waduk sehingga warna air menjadi lebih gelap dan keruh dan menyebabkan kecerahan menjadi lebih rendah.
Gambar 2. Kecerahan di Waduk Batu Jai Tahun 2020
Sedangkan kisaran nilai kecerahan di Sungai Kambaniru dengan nilai sebesar 10 cm – 25 cm dengan rata-rata 18,75 cm (gambar 2). Kecerahan terendah di temukan di hilir sungai yang disebabkan dari masukan bahan organik dan anorganik serta bahan yang lain masuk dari sempadan sungai sehingga menyebabkan lokasi ini mejadi keruh dan kecerahan menjadi rendah.
16
Gambar 3 Nilai Kecerahan di Sungai Kambaniru Tahun 2020 .
3.1.2. Suhu Air
Kisaran nilai suhu di Waduk Batu Jai berkisar antara 29,4– 32,0oC dengan nilai rata-rata sebesar 30,3 (Gambar 4). Suhu dapat mempengaruhi metabolisme dan respirasi ikan, peningkatan suhu akan mempengaruhi konsumsi oksigen bagi ikan. Bila suhu perairan tinggi dan kadar oksigen rendah maka akan menimbulkan permasalahan pada ikan terutama ikan pada KJA. Apabila suhu permukaan lebih rendah dari bagian dasar perairan maka masa air dipermukaan akan lebih berat, dapat menyebabkan perputaran air dari atas kebawah dan dari bawah keatas (Upwelling). Peristiwa Upwelling dapat terjadi apabila ada hujan lebat yang lama sehingga lapisan peraian permukaan turun kebawah. Namun secara umum nilai suhu air di Waduk Batu Jai masih baik untuk perikanan.
17
Gambar 4 Suhu air di Waduk Batu Jai Tahun 2020 .
Sedangkan kisaran suhu di Sungai Kambaniru berkisar antara 26,4 –28,4oC dengan nilai rata-rata sebesar 26,9 (Gambar 5). Secara umum bahwa suhu air di waduk Batu Jai masih mendukung untuk habitat ikan.
Gambar 5 Suhu Air di Sungai Kambaniru Tahun 2020 .
18
3.1.3. pH (Derajat Keasaman)
Kisaran nilai pH di Waduk Batu Jai berkisar antara 7,1 – 7,5 Dengan nilai rata-rata 7,33 (Gambar 6). Ada kecendrungan bahwa makin ke dasar perairan nilai pH semakin menurun walaupun perbedaan tersebut tidak terlampau banyak, hal tersebut disebabkan karena pengaruh hasil penguraian bahan organik di dasar perairan akan menghasilkan gas seperti CO2, H2S yang menyebabkan asam. Menurut Novotny dan Olem (1994) bahwa sebagian besar organisme air tawar hidup pada kisaran pH 7 – 8,5 maka secara umum kisaran pH di perairan Batu Pandan Duri dapat mendukung kehidupan ikan.
Gambar 6 pH air di Waduk Batu Jai Tahun 2020 .
Sedangkan kisaran pH di Sungai Kambaniru antara 6,32– 7,20 Dengan nilai rata-rata 6,9 (Gambar 7). Nilai pH di Sungai Kambaniru pada empat lokasi pengambilan sampel ≥7,4 hal ini disebabkan oleh topografi sungai yang dengan wilayah bebatuan sehingga menyebabkan pH air bersifat lebih basa.
19
Gambar 7 pH air di Sungai Kambaniru Tahun 2020
3.1.4. Oksigen Terlarut
Pada gambar 8 memperlihatkan bahwa kandungan oksigen pada 5stasiun pengamatan menunjukkan semakin kearah dasar perairan semakin menurun, hal tersebut disebabkan semakin kearah dasar perairan, proses aktifitas fotosintesa semakin mengecil, dan didasar perairan pada umumnya juga banyak bahan organik yang mengendap dan membusuk sehingga mereduksi oksigen.
Kandungan oksigen minimal 3 mg/l maka ikan dapat tumbuh, namun bila kandungan oksigen kurang dari 3 mg/l sampai 2 mg/l, ikan masih dapat bertahan hidup namun pertumbuhannya terganggu, sedangkan bila kurang dari 2 mg/l dapat menyebabkan kematian pada ikan (Boyd, 1988). Sumber oksigen diperairan berasal dari hasil proses fotosintesa tumbuhan air terutama oleh fitoplankton, dan dari proses difusi oksigen dari atmosfer (Efendie, 2000). Kandungan oksigen di Waduk Batu Jai cukup baik dengan nilai oksigen terlarut sebesar 1,8 mg/L – 7,3 mg/L dengan rata-rata 5,44 mg/L (Gambar 8).
20
Gambar 8 Oksigen terlarut di Waduk Batu Jai 2020
Sedangkan kandungan oksigen terlarut di Sungai berkisar anatara 6,1 mg/L –7,0 mg/L dengan rata-rata 6,25 mg/L (Gambar 9).
21
3.1.5. Total Alkalinitas
Pada gambar 10 memperlihatkan nilai kandungan total alkalinitas pada 5 lokasi pengamatan menunjukan nilai alkalintas yang tinggi berkisar antara 108 – 124 mg/L dengan rata-rata 116 mg/L, hal ini disebabkan karena waduk tersebut dikelilingi oleh daerah perbukitan kapur yang bersifat basa (Dinas PU 2003). Nilai akalinitas perairan yang melebihi 40 mg/L termasuk perairan yang sadah (hard water), sedangkan perairan dengan nilai alkalinitas kurang dari 40 mg/L disebut perairan lunak (soft water) (Boyd, 1988). Secara tidak langsung nilai alkalinitas berhubungan erat dengan kehidupan ikan yaitu bila perairan mempunyai alkalinitas yang relative tinggi maka perairan tersebut tidak akan banyak mengalami perubahan pH yang dratis karena alkalinitas merupakan penyangga terhadap perubahan pH, bila pH tidak banyak mengalami perubahan maka kehidupan ikan tidak banyak mengalami stress (Effendie, 2000).
Gambar 10 Total alkalinitas di Waduk Batu Jau Tahun 2020
Sedangkan nilai alkalintas di Sungai Kambaniru berkisar antara 100 – 116 mg/L dengan rata-rata 110 mg/L (Gambar 11)
22
Gambar 11 Total alkalinitas di Sungai Kambaniru 2020
3.1.6. Kesadahan
Nilai kesadahan yang terjadi akibat adanya mineral-mineral alkali dan alkali tanah dalam perairan, hal ini juga terkait dengan tingginya salinitas perairan (Effendie, 2003). Nilai kesadahan di Waduk Batu Jai berskisara antara 77,1 – 94 mg/L dengan rata-rata sebesar 84,4 mg/L (Gambar 12).
23
Gambar 12 Kesadahan di Waduk Batu Jai Tahun 2020
Sedangkan Nilai kesadahan di Waduk Batu Jai berskisar antara 100 – 132 mg/L dengan rata-rata sebesar 121 mg/L (Gambar 13).
24
3.1.7. Daya Hantar Listrik
Daya hantar listrik (DHL) atau conductivity merupakan sifat perairan dalam menghantarkan sejumlah energy listrik karena adanya ion-ion yang terkandung dalam mineral yang terlarut dan terbawa dalam air. Nilai DHL di Waduk Batu Jai Berkisar antara 222,9 – 400 µhos/cm dengan rata-rata 319,2 µhos/cm (gambar 14).
Gambar 14 DHL di Waduk Batu Jai Tahun 2020
Sedangkan nilai DHL di Sungai Kambaniru Berkisar antara 270– 300 µhos/cm dengan rata-rata 292,5 µhos/cm (gambar 15).
25
Gambar 15 DHL di Sungai Kambaniru Tahun 2020
3.1.8. Nitrat (N-NO3-)
Pada gambar 16 memperlihatkan nilai kandungan nitrat di Waduk Batu Jai Npada 5 stasiun pengamatan berkisar antara 0,42– 1,0 mg/L dengan rata-rata 0,62 mg/L. Kadar nitrat yang melebihi 5 mg/l menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. Untuk perairan waduk dengan kandungan nitrat antara 0,06 – 0,28 mg/L, dikalsifikasikan sebagai waduk dengan tingkat kesuburan mesotrofik (Volenweider, 1969 dalam Wetzel, 1975).
26
Gambar 16 Nitrat di Waduk Batu Jai Tahun 2020
Sedangkan kandugan nitrat di Sungai Kambaniru berkisar antara 0,27– 0,69 mg/L dengan rata-rata 0,49 mg/L (Gambar 17).
27
3.1.9. Khlorofil-a
Nilai Khlorofil-a di Waduk Batu Jai berkisar antara 2,4 mg/m3 – 17,9 mg/m3 dengan rata-rata 14,3 mg/m3 (Gambar 18). Kandungan khlorofil berhubungan dengan kesuburan perairan.
Gambar 18 Khlorofil-a di Waduk Batu Jai Tahun 2020
Nilai Khlorofil-a di Sungai Kambaniru berkisar antara 8,3 mg/m3 – 41,8 mg/m3 dengan rata-rata 17,0 mg/m3 (Gambar 19).
28
3.2. Kesuburan Perairan
Status trofik perairan dicirikan dengan tinggi rendahnya kandungan unsur
hara, seperti N dan P serta konsentrasi klorofilnya. Nilai indeks status trofik perairan dapat dilihat pada tabel 3. Dari tabel 3 terlihat bahwa nilai tingkat kesuburan rata rata di waduk batu masuk kadalam kategori eutrofik ringan hingga sedang. Tingkat kesuburan eutrofik ringan ini diduga karena adanya beban unsur hara yang berasal dari aktifitas pemukiman penduduk, aktivitas perkebunan, persawahan yang banyak ditemukan disekitar waduk.
Tabel 3 Trofik status indeks Carlson di Waduk Batu Jai tahun 2020
Stasiun Nama stasiun Score Status Trofik
Waduk Batu Jai
1 St 1 62,82 Eutrofik Sedang
2 St 2 60,51 Eutrofik sedang
3 St 3 53,08 Eutrofik Ringan
4 St 4 52,42 Eutrofik Ringan
5 St 5 51,52 Eutrofik Ringan
3.3. Potensi Produksi Ikan
Pendekatan dengan MEI
Hasil pengukuran nilai potensi produksi ikan waduk Batu Jai dengan menggunakan metode MEI (Morphoedhaphic Index) dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4 Angka potensi produksi ikan berdasarkan MEI di Waduk Batu Jai
Lokasi Kedalaman (m) DHL (µhos/cm)
Rata-rata
MEI
Potensi Produksi Ikan
Feb Agustus Feb Agustus Kg/Ha/Tahun
St 1 8 4 380 229,4 304,7 50,8 90,0 St 2 4 1,7 400 245,1 322,6 113,2 131,0 St 3 3,2 1,8 400 245,8 322,9 129,2 139,3 St 4 18 15,5 390 253,8 321,9 19,2 57,1 St 5 7 2,6 400 247,8 323,9 67,5 102,8 Rata-rata 8,04 5,12 394,0 244,4 319,2 48,5 88,1
29
Angka potensi tertinggi pada stasiun 3 dan dan terendah pada stasiun 4. Tingginya potensi produksi ikan di daerah inlet karena tinggi muka air di daerah tersebut rendah, hal ini disebabkan karena nilai MEI yang merefleksi kandungan mineral/ unsur hara nilainya tinggi didalam perairan. Unsur hara tersebut merupakan eleman yang sangat diperlukan oleh produser (fitoplankton dan tumbuhan air) yang menjadi tingkat pertama dalam system rantai makanan.
Analisa perhitungan potensi produksi berdasarkan konsentrasi klorofil disajikan dengan Alamazan & Boyd (1990) bahwa nilai khlorofil di Waduk Batu Jai (Tabel 5). Tabel 5 Potensi Produksi Ikan dengan pendekatan khlorofil di waduk Batu Jai
Lokasi Khlorofil-a Potensi Produksi
Ikan
Khlorofil-a Potensi
Produksi Ikan
Feb Kg/Ha/Tahun Agustus Kg/Ha/Tahun
St 1 2,5 62,3 12,2 298,3
St 2 2,7 67,1 12,6 308,0
St 3 3,1 76,9 10,5 256,9
St 4 2,4 59,8 18,5 451,5
St 5 2,5 62,3 17,9 436,9
3.4. Kegiatan Perikanan Waduk Batu Jai dan Sungai Kambaniru
Dari hasil wawancara dengan nelayan dan penduduk di sekitar waduk Batu Jai terdapat ada 12 jenis antara lain: Ikan Nila, Ikan Karper, Ikan Tawes, Ikan Salem, Ikan Gabus, Ikan Lele, Ikan Sepat Siam, Ikan Sepat Batik, Ikan Kapal/Sapu2, Ikan Gurame, Udang Rebon dan Lobster Air Tawar. Beberapa jeni ikan introduksi/ ikan tebaran adalah ikan nila dan karper. sedangkan jenis ikan di Sungai Kambaniru dari 5 jenis ikan (ikan nila, karper, tawes, lele dan udang rebon) yang di temukan. alat tangkap yang dominan di temukan di Waduk Batu Jai adalah Anco dan Jaring. Target ikan dengan menggunakan alat ini adalah Ikan Nila, Tawes dan Salem dengan total tangkapan berkisar antara 3-7 Kg/Hari. Sedangkan alat tangkap kodong adalah alat
30
tangkap yang digunakan untuk menangkap udang kecil. Dengan hasil tangkapan 3-5 Kg/hari.
3.4.1. Penangkapan
3.4.1.1. Jenis dan Sebaran Ikan
Biota ikan secara luas digunakan sebagai indikator kualitas lingkungan yang digambarkan dengan struktur komunitas (Attrill et al., 1996; Uzarski et al., 2005
dalam Purnomo et al., 2011). Hal ini disebabkan karena ikan mempunyai sensitivitas
yang berbeda terhadap polutan (Naigaga et al., 2011 dalam Purnomo et al., 2011). Sehingga menggambarkan adanya keterkaitan antara kualitas air dengan struktur komunitas ikan pada perairan tersebut.
Berdasarkan hasil pencatatan pembantu lapangan jenis ikan yang ditemukan di Waduk Batu Jai sebanyak 12 jenis ikan dan satu jenis udang. 12 Jenis ikan tersebut terdiri 10 jenis ikan asli/lokal dan 2 jenis ikan tebaran (Tabel 6).
Faktor lingkungan perairan yang berhubungan dengan masalah penyebaran ikan dapat dibedakan atas dua faktor, yaitu faktor abiotik (faktor fisika dan kimia perairan) dan faktor biologis. Faktor biologis yang berperan mempengaruhi penyebaran dan kelimpahan ikan pada perairan daerah tropik adalah hubungan dan simbiosis (Huges, 1982). Hal lain yang turut mempengaruhi penyebaran ikan adalah makanan. Kertersediaan makanan di suatu perairan akan menjamin kelangsungan hidup individu ikan tersebut. Secara alami ikan akan berusaha mencari sumber makanannya di perairan untuk memenuhi kebutuhan makannya. Mengingat setiap setiap aktivitas hidupnya memerlukan energi yang akan diperolehnya dari makanan tersebut (Siska, 2002). Jenis ikan yang tertangkap di Waduk Batu Jai didominasi oleh ikan Kapal (sapu-sapu), ikan nila, tawes dan Kerper yang merupakan ikan omnivora yang sangat mudah menyesuaikan diri dalam menentukan makanannya. Menurut Djarijah (1995) bahwa jenis ikan omnivora tidak banyak memilih pakan yang dimakannya dan mudah menyesuiakan diri dengan makanan yang terdapat diperairan yang ditempatinya. Sedangkan ikan yang perkembangannya sangat cepat dan
31
mendominasi adalah ikan sapu-sapu karena ikan tersebut merupakan ikan yang tidak ekonomis sehingga ikan ini akan di biarkan di waduk walaupun ikan tersebut tertangkap.
Tabel 6 Jenis-jenis ikan yang ditemukan di Waduk Batu Jai
No Jenis Ikan (Nama Daerah) Ikan asli
Ikan
Tebaran Sebaran
1 Nila (Oreochromis niloticus) √ +++
2 Karper (Cyprinus carpio) √ +++
3 Tawes (Barbonymus gonionotus) √ +++
4 Mujair (Oreochromis mossambicus) √ ++
5 Gabus (Channa striata) √ ++
6 Lele (Clarias batrachus) √ ++
7 Ikan Salem √ ++
8 Ikan Kapal (Hypostomus plecostomus) √ +++
9 Sepat Siam (Trichopodus pectoralis) √ +
10 Sepat (Trichogaster trichopterus) √ +
11 Udang √ +
12 Lobster air tawar √ +
Keterangan : +++ = Banyak ; ++ = Sedang ; + = Sedikit (langkah) Tabel 7 Jenis-jenis ikan yang ditemukan di Sungai Kambaniru
No Jenis Ikan (Nama Daerah) Ikan asli Ikan Tebaran Sebaran
1 Nila (Oreochromis niloticus) √ +++
2 Karper (Cyprinus carpio) √ +
3 Tawes (Barbonymus gonionotus) √ +
4 Mujair (Oreochromis mossambicus) √ ++
5 Lele (Clarias batrachus) √ +
6 Gabus (Channa striata) √ +
7 Ikan Belanak √ +++
8 Ikan Sidat (Anguileed eel) √ +
9 Ikan Gulamo √ +
Jenis ikan yang ditemukan di Sungai kambaniru di bagian hulu ditemukan ikan seperti halnya ikan sidat, ikan nila, karper, mujair, tawes dan gabus namun di bagian hilir sungai ditemukan ikan jesni seperti halnya ikan belanak dan ikan gulamo.
32
3.4.1.2. Hasil Tangkapan
Jenis alat tangkap dominan di Waduk batu jai adalah ancuk dan jaring. Selain itu adalah alat tangkap kodong yang terbuat dari botol aqua mirip seperti trap yang digunakan khusus untuk udang-udang kecil (rebon). Hasil tangkapan dengan menggunakan alat tangkap ancuk di waduk batu jai di dapatkan dengan rata-rata tangkapan sebesar 7 Kg/hari umumnya ikan yang tertangkap adalah ikan nila dengan rata-rata tangkapan sebesar 3 kg ikan salem sebesar 2,3 Kg dan ikan tawes dengan rata-rata tangkapan sebesar 1,7 Kg (Tabel 8)
Tabel 8 Komposisi tangkapan di Waduk Batu Jai
Jenis Ikan Total Tangkapan (Kg)
Rata-rata (Kg)
Feb Maret April Mei Juni Juli Agustus
Nila 3,8 3,8 3,8 2,9 4,1 5,2 5,1 4,1 Tawes 0,8 1,5 1,1 0,8 1,2 1,0 1,3 1,1 Ikan Salem 2 3 3 1 1 1 1,8 Gabus 0,3 0,4 0,6 0,2 0,4 0,3 0,2 0,3 lele 0,2 0,4 0,3 0 0,2 0,2 Mujair 1 2 1 0,5 0,5 0,5 1 0,9 Kapal (Sapu-Sapu) 11,3 10,7 10,8 10,1 12,8 12,2 11,3 11,3 udang rebon 4 3 4 3 3 3 4 3,4 lobster 0,3 0,5 0,6 0,5 0,5
Hasil tangkapan di Waduk Batu Jai, dimana hasil tangkapan terendah pada bulan Februari hal in disebabkan karena kondisi danau dengan air lebih tinggi sehingga alat tangkap yang diguanakan cenderung alat tangkap sedangkan pada bulan Juni sudah terjadi peningkatan hasil tangkapan, hal ini disebabkan karena kondisi air yang menurun ikan cenderung ke bagian tengah sehingga nelayan bisa menggunakan alat tangkap jaring selain alat tangkap ancuk, dimana hasil tangkapan ancuk sudah mulai berkurang (Gambar 20).
33
Gambar 20 Hasil tangkapan dengan Ancuk di Waduk Batu Jai
Sedangkan tangkapan ikan menggunakan alat tangkap Jaring kerung di dapatkan rata-rata tangkapan berkisar antara 15,8-19,3 Kg dengan rata-rata-rata-rata tangkapan sebesar 18 kg (gambar 21)
34
3.5. Stok Ikan
Stok ikan yang di dapatkan di Waduk Batu Jai dengan menggunakan swept area dan tagging dengan menggunakan 6 jenis ikan yang di tandai terlihat pada tabel 9. Dari hasil percobaan di dapatkan bahwa ikan yang terlepas sebanya 23,9% sehingga dengan total tangkapan sebesar 19 Kg dengan luasan area 1145 m2. Konversi hasil tangkapan stok ikan yang di dapatkan di waduk batu jai sebesar 217,9 Kg/Ha.
Tabel 9 Swept area Method dengan penandaan di Waduk batu Jai No Jenis ikan Jumlah yang di tandai Hasil tangkapan Total tangkapan (Kg) 1 Ikan nila 18 15 1,5 2 ikan tawes 25 18 0,5 3 ikan bandeng 5 2 4 ikan mujair 10 7 5 ikan sapu-sapu 30 25 15 6 ikan gabus 2 Total 88 67 19
Sedangkan simulasi untuk stok ikan di salah satu sungai yang mengalir ke waduk Batu Jai dengan mentode swept area dengan luas area sepanjang 500 m dan di dapatkan nilai stok ikan sebesar 18 Kg/ha (Tabel 10).
Tabel 10 Swept area Method dengan penandaan di Sungai
No Jenis ikan Hasil tangkapan Total tangkapan (gr)
1 ikan tawes 15 300
2 ikan gabus 2 400
3 ikan sapu-sapu 2 160
4 Rasbora 4 40
Total 23 900
3.6. Struktur Komunitas Plankton
Dalam dunia perikanan, keberadaan plankton terutama fitoplankton merupakan faktor biologi yang penting, karena fitoplankton merupakan bagian mata rantai pertama dalam jaringan makanan di perairan. Plankton merupakan komponen penting dalam kehidupan akuatik dikarenakan fungsi biologisnya yang penting
35
sebagai mata rantai paling dasar dalam rantai makanan. Fitoplankton adalah penyumbang fotosintesis terbesar di laut (Nybakken, 1988) dan berperan sebagai produsen primer, sedangkan zooplankton berperan sebagai konsumen primer sehingga menjadi penghubung dalam rantai makanan antara fitoplankton dan biota yang lebih besar. Keberadaan plankton dalam perairan mencerminkan kesuburan perairan tersebut, plankton akan tumbuh subur di dalam perairan yang banyak mengandung unsur hara. Selain unsur hara, kelimpahan dan penyebaran plankton sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik perairan seperti penetrasi cahaya, suhu, salinitas dan arus permukaan (Sverdrup et al., 1969; Nybakken, 1988; Mann & Lazier, 1981), sehingga kelimpahan plankton pada dasarnya sangat fluktuatif menurut musim dan lokasi perairan (Arinardi et al., 1997).
3.6.1. Kelimpahan, Keanekaragaman, Dominansi dan jenis dan Jenis fitoplankton di Waduk Batu Jai
Komposisi dan kelimpahan fitoplankton di Waduk Batu Jai pada bulan Februari (Lampiran 1). Yang terdiri dari 3 kelas yaitu Bacillariophyceae (11 genera), Chlorophyceae (11 genera), Cyanophyceae (6 genera). Kelimpahan Fitoplankton pada bulan Februari berkisar antara dengan jumlah 17.360-104.920 sel/liter dengan rata-rata 51.888 sel/liter. Jumlah sel fitoplankton terendah terdapat di stasiun 3 yang merupakan daerah pertanian (Gambar 22). Rasio kelimpahan fitoplankton dengan zooplankton menunjukkan bahwa kelimpahan fitoplankton jauh lebih tinggi dibanding dengan kelimpahan zooplankton, hal ini merupakan suatu keadaan normal atau alami dalam ekosistem perairan. Sebagaimana diketahui bahwa secara ekologis komunitas fitoplankton berperan sebagai produsen primer dalam rantai makanan ekosistem perairan. Sedangkan komunitas zooplankton berada pada tropik kedua (sebagai konsumen tingkat pertama).
36
Gambar 22 Kelimpahan fitoplankton di Waduk Batu Jai
Indeks keanekaragaman fitoplankton Pada bulan Feb berkisar antara 1,3-1,7 dengan rata-rata 1,55 dan Indeks dominansi fitoplankton berkisar antara 0,34-0,49 dengan nilai rata-rata 0,39 dan tidak ada jenis fitoplankton yang mendominasi (gambar 23).
37
3.6.2. Kelimpahan, Keanekaragaman, Dominansi dan jenis dan Jenis zooplankton di Waduk Batu Jai
Komposisi dan kelimpahan zooplankton pada bulan Februari terdiri dari 7 kelas yaitu Monogononta (7genera), Euglenophuceae (2 genera), Mastigophora (2 genera) Helioza (1 genera), Maxillopoda (2 genera) dan Dinophyceae (2 genetea) dengan jumlah 6800-82200 individu/liter dengan rata-rata 34720 individu/liter (Gambar 24)
Gambar 24 Kelimpahan zooplankton di Waduk Batu Jai
Indeks keanekaragaman zooplankton berkisar antara 0,66-1,25, dengan nilai rata-rata 0,91 dan indeks dominasi zooplankton berkisar antara 0,2-0,43 dengan nilai rata-rata 0,28 (gambar 25). Secara umum zooplankton di waduk batu jai tidak ada yang dengan 1nilai < 0,5.
38
Gambar 25 Keanekaragaman dan Dominansi zooplankton di Waduk Batu Jai
3.6.3. Kelimpahan, Keanekaragaman, Dominansi dan jenis dan Jenis fitoplankton di Sungai Kambaniru
Komposisi dan kelimpahan fitoplankton di Sungai Kambaniru pada bulan Februari (Lampiran 3). Yang terdiri dari 3 kelas yaitu Chlorophyceae (6 genera), Bacillariophyceae (15 genera), Cyanophyceae (3 genera). Kelimpahan Fitoplankton pada bulan Februari berkisar antara dengan jumlah 4760-14.440 sel/liter dengan rata-rata 9140 sel/liter (Gambar 26)
39
Gambar 26 Kelimpahan Fitoplanton di Sungai Kambaniru
Indeks keanekaragaman fitoplankton Pada bulan Februari berkisar antara 0,9-1,4 dengan rata-rata 1,2 dan Indeks dominansi fitoplankton berkisar antara 0,3-0,4 dengan nilai rata-rata 0,35 dimana tidak ada jenis fitoplankton yang mendominasi (gambar 27)
40
Gambar 27 Indeks Dominansi Fitoplanton di Sungai Kambaniru
3.6.4. Kelimpahan, Keanekaragaman, Dominansi dan jenis dan Jenis zooplankton di Sungai Kambaniru
Komposisi dan kelimpahan zooplankton pada bulan Februari terdiri dari 5 kelas yaitu Monogononta (4 genera), Mastigophora (2 genera), Euglenophuceae (3 genera), Maxillopoda (1 genera) dan Dinophycea (1 genera). Kelimpahan berkisar antara 1200- 13400 indidu/liter dengan rata-rata 7600 individu/Liter (gambar 28).
41
Gambar 28 Kelimpahan zooplanton di Sungai Kambaniru
Nilai Indeks keanekaragaman zooplankton Pada bulan Februari berkisar antara 1,1-1,5 dengan rata-rata 1,3 dan Indeks dominansi zooplankton berkisar antara 0,34-0,47 dengan nilai rata-rata 0,40 dimana tidak ada jenis zooplankton yang mendominasi (gambar 29).
42
3.7. Struktur Komunitas Bentos
Benthos yaitu organisme air yang melekat di dasar perairan, bersifat menetap tidak banyak mengadakan perpindahan. Benthos memakan bahan organik yang mengendap di dasar perairan. Peran benthos dalam rantai makanan yaitu sebagai pakan alami ikan yang hidupnya di dasar (demersal). Salah satu metode analitik untuk mendapatkan informasi kualitas perairan yang erat kaitannya dengan keberadaan populasi ikan demersal adalah dengan menganalisis struktur komunitas organisme bentos, yaitu hewan avertebrata yang mempunyai sifat hidup menetap di dasar perairan serta mempunyai fungsi ekologis sangat penting (Welch, 1952). Beberapa karakter komunitas bentos oleh pakar ekologi sering digunakan dalam menganalisis lingkungan perairan untuk menilai kualitasnya (Wilhelm, 1975; Wilhelm & Doris, 1968). Penilaian secara biologi tersebut menurut Langford & Howells (1977) dan Micha & Kaiser (1977) lebih representatif dibanding dengan penilaian secara fisik dan kimia, karena sifat biologi telah mencerminkan sifat fisik maupun kimia perairan. Dalam bidang perikanan, kelimpahan bentos mempunyai kaitan erat dengan populasi ikan demersal karena organisme ini termasuk makanan alami yang cukup penting bagi ikan-ikan tersebut, oleh karena itu ukuran kelimpahan populasi sering kali dijadikan sebagai data dasar oleh pakar perikanan untuk mendukung penelitian pendugaan biomass ikan demersal di suatu perairan (Nybaken, 1988).
Komposisi Benthos
Hasil identifikasi terhadap bentos bulan Feb 2020 dari seluruh stasiun pengamatan ditemukan sebanyak 11 genera bentos yang termasuk dalam 3 kelas Anelida (2 Genera) Insekta (4 genera) dan Gastropoda (6 genera) dengan 6 Famili yaitu Ampullaridae, Chironomidae¸ Baetidae, Limnephilidae, Thiaridae dan Bithyniidae
61 Kepadatan/kelimpahan bentos
Kelimpahan individu pada setiap stasiun pengamatan menunjukkan nilai bervariasi yakni berkisar 151-996 ind/m2. Kelimpahan tertinggi pada stasiun 4 yang merupakan daerah referensi terendah pada stasiun 5 yang merupakan daerah outlet (gambar 30).
Gambar 30 Kelimpahan dan Keanekaragaman Bentos Di Waduk Batu Jai Hasil perhitungan indeks keanekaragaman dan dominansi komunitas bentos pada pengamatan di perairan Waduk Batu Jai berkisar antara 0,95 – 2,1 dengan nilai rata-rata 1,35.) Sedangkan di Sungai Kambaniru terdapat 3 kelas dari gastropoda (3 genera) yang terdiri 2 Famili (Thiaridae dan Pomatipsidae), Insecta (1 genera) dari Familiy Chrinomida dan kelas Oligochaeta (1 genara) dari family Tubificidae (Tabel 11)
Tabel 11. Kelimpahan Makroozoobentos di Sungai Kambaniru
No Kelas Family Genus St
1 N St
2 N St
3 N
1 Gastropoda Thiaridae Melanoides
granifera 3 27 13 116
Melanoides
tuberculata 4 36 35 311
Pomatiopsidae Robertsiella
sp 6 53
2 Insecta Chironomidae Chironomus
sp
3 Oligochaeta Tubificidae Aulodrilus sp
2
18
62
Kelimpaha individu makroozoobantos di lokasi sampling di sungai kambaniru di peroleh 53-427 Ind/m2
3.8. Biologi Ikan Tawes 3.8.1. Reproduksi Ikan Tawes
Berdasarkan sex ratio atau perbandingan jumlah ikan jantan dan betina (Gambar 31), populasi ikan tawes betina lebih banyak dibandingkan ikan jantan dengan perbandingan 1,6 sampai 2,7 kali lebih banyak. Fenomena tertinggi terlihat pada Juli dan agustus dan Kaban, et.al (2019) di Waduk Batu Jai menyatakanbahwa populasi ikan tawes betina lebih banyak 1,5 hingga 2,5 kali dibandingkan dengan pooplasi ikan tawes jantan hampir sama dengan sifat populasi di Waduk Batu Mbulan (Fatah, 2016) akan tetapi sifat populasi ini berbeda dengan rasio antara ikan tawes jantan dan betina di Waduk Kedung ombo (1:2) dan Danau Sidenreng Sulawesi Selatan (1:1,68 dan 1:2,44) (Purnomo dan Kartamihardja, 2005; Umar dkk., 2012).
63
3.8.2. Food Habit Ikan Tawes
Pengamatan isi perut ikan tawes menunjukkan bahwa tumbuhan air merupakan jenis makanan yang paling disukai dengan nilai index of preponderance (Ii) sebesar 89,2 (Gambar 32). Kaban at.al (2019) bahwa ikan tawes di Waduk Batu Jai dominan herbivore dengan IP sebesar 87%. Sedangkan pada makanan tercerna, ditemukan jenis fitoplankton dan zooplankton dalam isi perut ikan tawes (Gambar 32).
Gambar 32 Nilai index of preponderance ikan tawes
Berdasarkan hasil pengamatan, ikan tawes di Waduk Batu Jai bersifat herbivora. Makanan utama ikan tawes pada Waduk Batu Jai memiliki kebiasaan yang sama dengan ikan tawes perairan batu Mbulan (Fatah, 2016), Bengawan Solo, Waduk Gajah Mungkur dan Waduk Wonogiri, yaitu tumbuhan air, detritus dan fitoplankton (Purnomo dan Kartamihardja 2005; Utomo dkk., 2008 dan 2014). Menurut Purnomo (2000 dalam Utomo, 2014) ikan tawes memiliki kemampuan tumbuh dan berkembang biak yang baik, disebabkan karena ikan tersebut mampu memanfaatkan relung ekologi banyaknya tumbuhan air. Ikan tawes banyak memanfaatkan rerumputan yang tumbuh di tepi perairan waduk
64
maupun gulma iar seperti eceng gondok (Eichornia crassipes), kayambang (Salvinia molesta), ganggang (Hydrilla verticillata), Ceratophyllum demersum dan kiapu (Pistia stratiotes).
3.8.3. Hubungan Panjang-Bobot Tubuh
Berdasarkan pola pertumbuhannya ikan tawes mempunyai pola pertumbuhan bersifat alometrik positif (t. hitung > t. tabel, pada selang kepercayaan 95%) (Gambar 33) Pola pertumbuhan bersifat isometrik (b=3) berarti pertumbuhan bobot tubuh sama dengan pertambahan panjang.
Gambar 33. Hubungan Panjang-berat Ikan tawes di Waduk Batu Jai
Sifat pertumbuhan ikan tawes ini sama dengan yang diperoleh dari hasil penelitian di Waduk Wonogiri, Kedungombo dan Danau Sidenreng Sulawesi Selatan, yaitu 3,03; 3,184; dan 3,1538 untuk jantan serta 3,1355 untuk betina (Purnomo dan Kartamihardja, 2005; Kartamihardja, 1995; Sharifuddin dkk., 2012). Menurut Bagenal dan Tesch (1978) dalam Purnomo dan Kartamihardja (2005), nilai konstanta b dipengaruhi oleh letak geografis, kondisi lingkungan seperti musim, tingkat kepenuhan lambung, penyakit dan parasit. Sedangkan menurut Fatah (2016) berbeda karena sebagian menunjukkan sifat yang berbeda.
65
3.9. Biologi Ikan Nila 3.9.1. Reproduksi Ikan Nila
Berdasarkan sex ratio atau perbandingan jumlah ikan jantan dan betina (Gambar 34), populasi ikan nila jantan lebih sedikit dibandingkan ikan betina. Populasi ikan nila betina memiliki jumlah yang lebih banyak 2,5 hingga 4 kali dibandingkan populasi ikan jantan.
Gambar 34 Sex ratio ikan Nila di Waduk Batu Jai
Banyaknya populasi ikan betina dibandingkan ikan jantan dikarenakan telur yang dihasilkan betina sedikit, sehingga sperma yang dikeluarkan oleh 1 jantan dapat untuk membuahi beberapa ikan betina.
3.9.2. Hubungan Panjang-Bobot Tubuh
Berdasarkan pola pertumbuhannya, ikan nila mempunyai pola pertumbuhan bersifat isometrik mempunyai pola pertumbuhan alometrik positif (t. hitung > t. tabel, pada selang kepercayaan 95%). Pola pertumbuhan alometrik positif (b>3) berarti pertumbuhan bobot tubuh lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan panjang (Gambar 35)
66
Gambar 35 Hubungan Panjang-berat Ikan Nila di Waduk Batu Jai
Ikan nila merupakan jenis ikan introduksi dan ikan dominan tertangkap di Waduk Batu Jai dan Ikan ini mampu hidup pada kualitas air yang buruk, mempunyai kemampuan beradaptasi dengan pakan alami yang tersedia dan mampu tumbuh dengan cepat dan mampu bertahan pada kosentrasi oksigen rendah.
3.10. Biologi Ikan Sapu-Sapu
Berdasarkan hasil pengamatan di Waduk Batu Jai, sex ratio atau perbandingan jumlah ikan jantan dan betina, populasi betina lebih banyak dibandingkan dengan jantan dengan perbandingan 1:1,87 dengan pertumbuhan bersifat alometrik negative (b<3) sehingga pertumbuhan panjang lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan berat (Gambar 36)
67
Gambar 36 Hubungan Panjang-berat Ikan Kapal di Waduk Batu Jai
3.11. Dinamika Populasi Ikan
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Fisat Eleven II, diperoleh data beberapa ikan dominan di waduk Batu Jai (Tabel . Secara umum bahwa tingkat ekploitasi ikan di waduk batu jai telah overfishing, namun karena adanya program restoking beberapa ikan ke waduk tersebut hasil tangkapan masih tetap di pertahankan dari tahun ke tahun.
Tabel 12. Tabel Dinamika Populasi Ikan di Waduk Batu Jai
Jenis Ikan Kelompok Ikan L∞ (cm) K Z M F E Tawes (Barbodes gonionotus) Minows 27 0,41 2,194 1,04 1,154 0,525 Nila (Oreochromis nilotica) Cichilds 31 0,41 2,667 0,591 1,453 0,544 Gabus (Channa
Striata) Cath Fish 37,7 0,21 1,783 0,704 1,079 0,605
Kapal (Hyposarcus
pardalis)
68
Ikan Tawes (Barbodes gonionotus)
Panjang infinitive (L∞) = 27 cm, k = 0.41dengan temperatur rata-rata sebesar 29 oC. Hasil perhitungan dengan Fisat di peroleh nilai Mortalitas alami (M) = 1,04 dan mortalitas yang disebabkan oleh aktivitas penangkapan ikan (F) = 1,154, mortalitas total (Z) = 2,194. Laju eksploitasi (E) = 0,525. Ukuran panjang (cm) ikan contoh yang didapatkan berkisar antara 10,0 – 26 cm. Jumlah sampel (n) yang diambil untuk dianalisis 636 ekor. Ukuran ikan Tawes terpanjang selama penelitian didapatkan pada bulan Juni (6 ekor) dan Juli (7 ekor). Namun jika dilihat dari laju penangkapan (E) = 0,525, maka laju penangkapan ikan Tawes sudah termasuk over fishing. Kegiatan penangkapan ikan Tawes tidak dapat ditingkatkan lagi. Populasi ikan tersebut sudah perlu diperhatikan supaya tidak terganggu perkembangbiakannya. Tingginya laju eksploitasi ikan Tawes di waduk Batu Jai disebabkan ikan pelagis dan dapat ditangkap dengan alat tangkap Ancuk (hand lift net) dan bernilai ekonomis penting. Hal ini menyebabkan mortalitas penangkapannya lebih besar dari mortalitas alami
Gambar 37. Mortalitas ikan tawes di Waduk Batu Jai
69
Nila (Oreochromis nilotica)
Panjang infinitive L∞ = 31 cm, k = 0.41. temperatur rata-rata 29 oC. Mortalitas alami (M) = 1,214, mortalitas karena aktivitas penangkapan ikan (F) = 1,453, mortalitas total (Z) = 2,667. Laju eksploitasi (E) = 0,544 (Bambar 38). Ukuran ikan contoh yang didapatkan berkisar antara 9,0 – 29 cm dengan jumlah sampel sebanyak 1083 ekor. Hasil perhitungan di dapatkan bahwa laju penangkapan sudah termasuk overfishing, hampir sama dengan ikan tawes bahwa ikan nila di waduk Batu Jai merupakan ikan target dengan menggunakan alat tangkap ancuk maupun jaring dan bernilai ekonomis.
Gambar 38. Mortalitas ikan nila di Waduk Batu Jai
Ikan Gabus (Channa striata)
Panjang infinitive L∞ =37,7 cm, k = 0.21. temperatur rata-rata 29 oC. Mortalitas alami (M) = 0,704, mortalitas karena aktivitas penangkapan ikan (F) = 1,079, mortalitas total (Z) = 1,783. Laju eksploitasi (E) = 0,605 (Gambar 39). Ukuran ikan contoh yang didapatkan berkisar antara 17,0 – 35,0 cm dengan jumlah
70
sampel sebanyak 115 ekor. Hasil perhitungan di dapatkan bahwa laju penangkapan sudah termasuk overfishing, karena ikan gabus berlinai ekonomis di waduk Batu Jai merupakan ikan target dengan menggunakan jaring.
Gambar 39. Mortalitas ikan nila di Waduk Batu Jai
Ikan Kapal (Hyposarcus pardalis)
Panjang infinitive ikan Kapal (Hyposarcus pardalis) L∞ = 30,35 cm, K = 0.36. Temperatur rata-rata 29 oC. Mortalitas alami (M) = 0,936, mortalitas karena aktivitas penangkapan ikan (F) = 1,101, mortalitas total (Z) = 2,037. Laju eksploitasi (E) = 0,541 (Gambar 40). Kelompok ikan ini berkembang biak secara cepat dan belum dimanfaatkan, hasil tangkapan yang dominan dengan menggunakan alat tangkap jaring. Tingginya hasil tangkapan ikan kapal merupakan indikator tinnginya bahan organik di waduk Batu Jai
71
72
BAB IV KESIMPULAN
1. Kualitas perairan Waduk Waduk Batu Jai dan Sungai Kambaniru masih dalam keadaan baik dan layak untuk mendukung kehidupan ikan.
2. Jenis jenis Ikan yang ditemukan selama penelitian di Waduk Batu Jai yaitu sebanyak 12 jenis terdiri dari ikan Nila, Tawes, Karper, Kapal, Salem, Gabus, Mujair, Lele, Sepat, Sepat Siam, udang rebon dan Lobster air tawar. Sedangkan di Sungai Kambaniru Di dapatkan sebanyak 9 jenis diantaranya ikan nila, mujair, karper, lele, gabus, patin, belanak, ikan gulamo dan ikan sidat
3. Komposisi hasil tangkapan di waduk Batu Jai dengan menggunanakan alat tangkap gill net di dominasi oleh ikan kapal sedangkan alat tangkap ancuk (hand lift net) di dominasi oleh ikan nila, ikan tawes dan karper.
4. Musim penangkapan ikan di waduk Batu Jai terjadi pada bulan Juni dan Juli waktu mulai masuk musim kemarau.
5. Nilai rata-rata indeks status trofik perairan waduk Batu Jai beriksar antara 51,52-62,82 termasuk dalam kategori tingkat kesuburan eutrofik ringan hingga sedang.
6. Nilai Stok ikan di waduk Batu Jai sebesar 217,9 kg/ha sedangkan pada ekosistem sungai di peroleh nilai stoknya sebesar 18 kg/ha
7. Kelimpahan plankton di waduk Batu Jai dikategorikan pada kondisi rendah hingga sedang dan termasuk kategori tercemar sedang, dimana tidak ada jenis plankton yang mendominasi dan tingkat keseragaman antar jenis plankton rendah.
8. Secara umum kekayaan jenis bentos dan sebaran kelimpahan individu di perairan waduk Batu Jai mempunyai kelimpahan jenis yang rendah dan mempunyai indeks keanekaragaman rendah rata-rata sekitar < 1 termasuk kategori tercemar ringan.
73
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini maka upaya pengelolaan sumberdaya ikan di perairan Waduk batu jai adalah melalui penebaran ikan berbasis budidaya (CBF), ikan yang cocok untuk dilakukan penebaran adalah ikan Nila, ikan tawes dan Ikan Karper dikarenakan ikan nila, ikan tawes dan ikan karper benilai ekonomis dan habitat mendukung terhadap ikan tersebut. Program restoking yang harus terus dilakukan untuk keberlanjutan ikan di waduk Batu Jai.