STRATEGI PENGEMBANGAN PIT LAKE BEKAS TAMBANG BATUBARA SEBAGAI OBYEK
WISATA DI PT. MBT
KABUPATEN BUNGO PROVINSI JAMBI
Alse Adpendi, Marisa Oktavia, Marliantoni
Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Muara Bungo
Email : [email protected]
PT. Marga Bara Tambang (MBT) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan Batubara. Secara administratif, termasuk dalam wilayah Desa Rantau Duku, Kecamatan Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Penambangan Batubara dapat memicu kerusakan lingkungan seperti terbentuknya air asam tambang dan kekritisan lahan. Kegiatan penambangan Batubara dan mineral pada skala penambangan yang besar dapat menyebabkan terbentuknya lubang bukaan besar kemudian terisi dengan air yang dikenal dengan istilah Pit Lake. Pit Lake terbentuk akibat penambangan dengan metode tambang terbuka salah satunya dengan metode open pit. Kegiatan pascatambang oleh beberapa perusahaan tambang menjadikan Pit Lake sebagai salah satu upaya reklamasi dengan merencanakan strategi pengembangan objek wisata. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menentukan faktor yang mempengaruhi pengembangan wisata dan membuat rencana strategi pengembangan wisata pada Pit Lake bekas tambang Batubara dengan menggunakan metode SWOT. Metode SWOT merupakan suatu metode yang efektif dalam membantu menstrukturisasikan masalah, terutama dengan melakukan analisis lingkungan strategis, dengan memperhatikan kekuatan-kekuatan (strengths), kelemahan-kelemahan (weaknesses), peluang-peluang (oppotunities) dan ancaman-ancaman (threats). Hal ini dilakukan dengan pendekatan internal - eksternal strategic factor analysis summary (IFAS – EFAS) serta Matriks Space mengenai strategi pemanfaatan Pit Lake bekas tambang sebagai obyek wisata dalam upaya reklamasi. Berdasarkan hasil analisis SWOT, skor factor SWOT tertinggi yaitu faktor obyek wisata berbasis edukasi dan faktor sebagai arena outbound (strengths). Pengembangan obyek wisata pit lake bekas tambang berada pada kuadran IV dengan nilai X sebesar - 11,85 dan nilai Y sebesar 97,06. Terdapat beberapa faktor kelemahan dan ancaman seperti akses menuju lokasi wisata yang masih buruk dan potensi alih fungsi lahan menjadi non wisata.
A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Kegiatan penambangan Batubara dan mineral pada skala penambangan yang besar dapat menyebabkan terbentuknya lubang bukaan besar kemudian terisi dengan air atau biasa disebut dengan istilah Pit Lake. Kegiatan pascatambang oleh beberapa perusahaan tambang menjadikan Pit Lakesebagai salah satu opsi reklamasi bentuk lain terutama untuk tambang Batubara, mengingat pada beberapa kondisi penimbunan kembali di dalam pit (in-pit dump) tidak dimungkinkan.
Potensi penggunaan air Pit Lake tetap sangat tergantung pada kuantitas dan kualitas air Pit Lake. Karena oksidasi mineral sulfida yang terpapar pada dinding lubang, dan pembilasan logam yang larut selama pengisian lubang, banyak Pit Lakeditandai oleh kualitas air yang buruk. Secara global asam tambang adalah masalah umum untuk kualitas air pada industri pertambangan. Penting untuk diperhatikan Pit Lake memiliki manfaat jangka panjang sebagai sumber daya air untuk kegiatan industri atau lainnya. Karenanya, kualitas air pada Pit Lakesangat penting dan kegiatan reklamasi lingkungan biasanya diperlukan. Hal ini untuk mengantisipasi bahwa penambangan Batubara dan Pit Lake yang terbentuk pada pascatambang dapat membuat masalah lingkungan. Parameter kualitas air harus sesuai dengan baku mutu lingkungan yang diizinkan. Hal ini dapat dicapai dengan langkah-langkah manajemen yang direncanakan.
2. Rumusan Masalah
Adapun beberapa masalah yang akan dibahas antara lain:
a. Apa saja faktor yang mempengaruhi pengembangan wisata pada Pit Lake bekas tambang Batubara dengan menggunakan metode SWOT ?
b. Bagaimanakah strategi pengembangan wisata
pada Pit Lakebekas tambang Batubara dengan menggunakan metode SWOT ?
3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a. Menentukan faktor yang mempengaruhi pengembangan wisata pada Pit Lakebekas tambang Batubara dengan menggunakan metode SWOT
b. Membuat rencana strategi pengembangan wisata pada Pit Lake bekas tambang Batubara dengan menggunakan metode SWOT
4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah :
Penelitian ini bermanfaat untuk mengetahui tingkat kesesuaian dan strategi pengembangan Pit Lake bekas tambang Batubara PT. MBT sebagai obyek wisata.
5. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis hanya akan membahas : Strategi dalam pengembangan Pit Lake bekas tambang Batubara PT. MBT sebagai obyek wisata.
B. DASAR TEORI
1. Konsep Pembangunan Berkelanjutan
Industri pertambangan dikatakan sebagai industri yang destruktif karena industri pertambangan yang ada saat ini tidak dilakukan secara seimbang dantidak memperhatikan kamampuan sumber daya mineral dan kemampuan alamdalam menolerir kegiatan pertambangan (Harjanti.W, 2006:41 dalam Dewi Aria Sari, 2017). Pengaruh kegiatan pertambangan mempunyai dampak yang sangat signifikan terutama pencemaran air permukaan dan air tanah, kondisi fisik, kimia dan biologis tanahmenjadi buruk seperti lapisan tanah tidak berprofil, terjadi pemadatan, kekuranganunsur hara yang penting, pH rendah, pencemaran oleh logam-logam berat padalahan bekas tambang, serta penurunan populasi mikroba tanah. Dampak negatif dari kegiatan pertambangan tersebut perlu dikendalikan untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan diluar batas kewajaran, dengan cara melakukanreklamasi terhadap lahan bekas pertambangan (Nurlaela, 2014:1822 dalam Dewi Aria Sari, 2017). Hal ini sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang mempertegas bahwa betapa pentingnyaperlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam hubungannya denganpembangunan yang berkelanjutan (sustainaibility). Proses penambangan batubara penting dilaksanakan dengan konseppembangunan yang berkelanjutan. Konsep pembangunan berkelanjutan secaragaris besar memiliki empat dimensi yaitu: ekologis, sosial ekonomi danbudaya, sosial politik serta hukum kelembagaan. Pembanguan berkelanjutan berhubungan erat dengan pemanfaatan sumberdaya mineral secara berkesinambungan, industri pertambangan salah satu bentuknya.
2. Reklamasi dan Pascatambang
Pertambangan merupakan suatu aktivitas yang memanfaatkan sumberdaya alam. Aktivitas pertambangan memiliki tingkat resiko yang tinggi terhadap lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Sektor pertambangan sangat
penting untuk dikaji karena aktivitas pertambangan pada umumnya memiliki dampak negatif yang tinggi. Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada sektor pertambangan adalah konflik sosial (sengketa lahan) dan pengelolaan pasca penambangan yang tidak sesuai dengan SOP-nya (As’ari Ruli dkk, 2019). Aktifitas kegiatan pertambangan dapat memberikan dampak pada perubahan lingkungan. Beberapa hal yang dapat terjadi dari dampak negatif aktifitas pertambangan yaitu bentang alam yang terdegradasi, perubahan habitat baik flora dan fauna, struktur tanah, pola aliran air permukaan dan air tanah dan berbagai dampak negatif lainnya (Sugiri, 2014 dalam As’ari Ruli, dkk, 2019).
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menjelaskan bahwa “Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan orang yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup sehingga melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup”. UU No. 32 Tahun 2009 merupakan induk dari kebijakanyang mengatur tentang hak masyarakat dan pemerintah untuk mendapatkanlingkungan hidup yang sehat dan layak, serta dapat berperan aktif dalampengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup.Dalam Undang-Undang ini jugajelas diatur hak, kewajiban dan tanggung jawab masyarakat dan pemerintah secaraluas. Kaitannya dengan pengelolaan pertambangan batubara dapat dilihat mulaidari kewajiban memiliki izin lingkungan, tata cara pengelolaan lingkungan,pembuangan limbah dan bagaimana melaksanakan pengelolaan tanpa merusaklingkungan. Dalam Undang-Undang ini juga jelas dituliskan sanksi-sanksi yangdapat dikenakan bagi yang merusak kualitas lingkungan (Dewi Aria Sari, 2017).
Berdasarkan Permen ESDM No. 7 tahun 2014,reklamasi merupakan kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan lahanyang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan umum, agardapat berfungsi dan berdayaguna sesuai dengan peruntukannya.Regulasi reklamasi ditujukan agar pembukaan lahan untuk pertambanganseoptimal mungkin dan setelah digunakan segera dipulihkan fungsi lahannya.Reklamasi harus dilaksanakan secepatnya sesuai dengan kemajuan tambang danmerupakan bagian dari skenario pemanfaatan lahan pasca penambangan.Pada Permen ESDM No. 7 tahun 2014 pascatambang merupakan kegiatanterencana, sistematis, danberlanjut setelah akhir sebagian atau seluruh kegiatanusaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi
sosialmenurut kondisi local di seluruh wilayah pertambangan. Reklamasi merupakan kepentingan masyarakat banyak, sehingga tujuan reklamasi tidak boleh hanya ditentukkan sendiri oleh perusahaan pertambangan yang bersangkutan. Penetapan tujuan reklamasi dipengaruhi oleh faktor- faktor sebagai berikut :
a. Jenis mineral yang di tambang. b. Sistem penambangan yang digunakan. c. Keadaan lingkungan setempat.
d. Keadaan dan kebutuhan sosial-ekonomis masyarakat setempat.
e. Keekonomian investasi mineral. f. Perencanaan tata ruang yang telah ada.
Menurut Bochori H. M. dan Taufik Toha (2004) metode reklamasi yang umum diterapkan adalah dengan revegetasi yang bertujuan mengurangi luas lahan yang terbuka setelah berakhirnya kegiatan pertambangan. Lahan yang terbuka akan mengakibatkan terjadinya erosi tanah yang pada gilirannya akan mengakibatkan peningkatan kekeruhan air sungai dan pendangkalan sungai. Selain itu erosi akan meningkatkan resiko bencana banjir. Pada lokasi pascatambang yang berupa sumuran (pit) dapat dipilih beberapa metode reklamasi sesuai dengan kondisi lapangan. Pertama dengan menimbun kembali lokasi pascatambang dan selanjutnya dilakukan menyebaran tanah pucuk sebagai media penanaman kembali. Kedua adalah dengan melandaikan lereng pascatambang dan selanjutnya penyebaran tanah pucuk dilakukan di lereng dan dengan demikian penanaman tumbuhan dilakukan di lereng pascatambang.Hal inilah yang mendasaribahwa kemiringan lereng harus relatif landai agar tanaman dapat tumbuh denganbaik.Metode lainya adalah dengan menjadikan areal pascatambang sebagai kolam untuk budidaya ikan.Penerapan metode reklamasi dengan penanaman kembali sangat bergantung pada ketersediaan top soil, sedangkan metode yang membentuk kolam tergantung pada kualitas air (asam atau tidak,ada tidaknya zat-zat berbahaya). Pada saat pengupasan tanah penutup, tanah pucuk harus dipisahkan dan ditimbunkan tersendiri untuk digunakan pada saat reklamasi. Hal ini harus diperhatikan dengan baik karena terkadang karena karena keterbatasan peralatan, tanah pucuk (yang memang digali terlebih dahulu) ditimbunkan di bagian bawah sehingga pada saat reklamasi kesulitan mendapatkan tanah pucuk.
Umumnya walaupun telah dilakukan pemisahan tanah pucuk dengan baik (ditimbunkan di tempat tersendiri) pada saat reklamasi masih tetap kekurangan tanah pucuk. Untuk mengatasi kekurangan tersebut diambil tanah pucuk dari lokasi lain. Kondisi ini tentunya juga
akan mengakibatkan meningkatnya biaya reklamasi dan terjadi lokasi terbuka di tempat lain. Reklamasi harus dilakukan secara bertahap, tidak menunggu berakhirnya umur tambang baru dilakukan reklamasi, melainkan setiap terdapat lokasi yang telah selesai ditambang langsung dilakukan reklamasi.Bahkan dalam perencanaan perlu diupayakan untuk secepatnya memfinalkan suatu lokasi agar dapat cepat direklamasi guna meminimalkan luas areal yang terbuka.Keberadaan industri pertambangan di daerah tidak hanya memberikandampak positif, tetapi juga dampak negatif. Jika lahan pascatambang tidakdi reklamasi maka lahan-lahan tersebut akan membentuk kubangan-kubanganyang besar dan hamparan tanah gersang yang bersifat masam. Dampak lain dari kegiatan pertambangan dapat memberikanperubahan terhadap budaya dan adat istiadat masyarakat lokal. Dalam Undang-Undang No. 4 tahun 2009 pada pasal 99 dijelaskan bahwa:
1. Setiap pemegang IUP dan IUPK wajib
menyerahkan rencana reklamasi dan rencana pascatambang pada saat mengajukan permohonan IUP Operasi Produksi.
2. Pelaksanaan reklamasi dan kegiatan pascatambang
dilakukan sesuai dengan peruntukan lahan pascatambang. Berdasarkan uraian di atas jelas bahwa setiap pemegang IUP dan IUPKwajib menyerahkan rencana reklamasi pasca tambang sebelum mengajukan IUP Operasi Produksi dan pelaksanaan reklamasi dan kegiatan pasca tambang dilakukan sesuai dengan peruntukan lahan pasca tambang.Sehingga diharapkanpemegang IUP dan IUPK sudah memiliki perencanaan yang matang untuk melaksanakan reklamasi pascatambang yang disetujui oleh Kepala Dinas Energidan Sumber Daya Mineral Kabupaten/Kota sesuai dengan IUP dan IUPK yangada.
Pada Undang-Undang No. 4 tahun 2009 pasal 100 juga tertulis:
1. Pemegang IUP dan IUPK wajib menyediakan dana jaminan reklamasi dan jaminan pascatambang.
2. Menteri,gubernur,ataubupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dapat menetapkan pihak ketiga untuk melakukan reklamasi dan pascatambang dengan dana jaminan tersebut. 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diberlakukan apabila pemegang IUP atau IUPK tidak melaksanakan reklamasi dan pascatambang sesuai dengan rencana yang telahdisetujui.
Dalam pasal ini dapat disimpulkan bahwa pemegang IUP dan IUPK yangtidak melaksanakan reklamasi pascatambang maka dana jaminan reklamasipascatambang akan diserahkan kepada pihak
ketiga yang ditunjuk untukmelakukan reklamasi pascatambang. Dalam pasal ini seharusnya jika danajaminan reklamasi yang dibayarkan sesuai dengan biaya reklamasi sebenarnya,tidak ada alasan jika reklamasi lahan pascatambang tidak dilaksanakan. Pasal 101 Undang-Undang No. 4 tahun 2009 ini berisikan: Ketentuan lebih lanjut mengenai reklamasi dan pascatambang serta dana jaminan reklamasi dan dana jaminan pascatambang diatur dengan peraturan pemerintah. Dalam hal ini Peraturan Pemerintah yang dimaksud adalah : PP No. 78 Tahun 2010.Pada PP ini dijelaskan dengan rinci proses perencanaan dan pelaksanaan reklamasi pascatambang yang harus dilaksanakan oleh pemegangIUP dan IUPK. Bagi IUP dan IUPK yang tidak melanggar akan dikenakan sanksi,yang tercantum dalam pasal 50 yang menyatakan:
a. Pemegang IUP, IUPK, atau IPR yang melanggar ketentuan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau ayat (2), Pasal 3 ayat (1) atau ayat (2),Pasal 4 ayat (4), Pasal 5 ayat (I), Pasal 14 ayat (I), Pasal 17 ayat (I), Pasal 20ayat (I), Pasal 2 1, Pasal 22 ayat (I), Pasal 25 ayat (I), ayat (2), atau ayat (3),Pasal 26 ayat (I), Pasal 29 ayat (I), Pasal 41, Pasal 45 ayat (2), Pasal 47 ayat(I), atau Pasal48 dikenai sanksi administratif.
b. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa peringatan tertulis, penghentian sementara kegiatan dan/atau pencabutan IUP, IUPK, atau IPR.
c. Pemegang IUP, IUPK, atau IPR yang dikenai sanksi administratif berupa pencabutan IUP, IUPK, atau IPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hurufc, tidak menghilangkan kewajibannya untuk melakukan reklamasi danpascatambang. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1)diberikan oleh Menteri atau Gubernur. d. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diberikan olehMenteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.Pada pasal ini jelas sanksi yang akan diberikan bagi pemegang IUP danIUPK yang melanggar. Hanya saja pada pelaksanaannya sanksi yang dikenakan jarang sekali dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
3. Pit Lake
Pit lake terbentuk akibat penambangan dengan metode tambang terbuka salah satunya dengan metode open pit, baik itu tambang emas, tembaga, batubara, dan lain-lain. Penambangan terbuka dilakukan untuk menambang mineral atau bahan galian berharga lainnya sampai pada batas ekonomis yang telah ditentukan. Pit lake dapat digunakan untuk keperluan konservasi, akuakultur, irigasi, rekreasi, penampungan material berbahaya seperti
tailing dan sebagai penyedia air (water supply). Pit lake dimanfaatkan sebagai daerah rekreasi seperti yang ada di wilayah Lusatia, Jerman dan Telaga Batu Arang, PT. Kaltim Prima Coal digunakan sebagai akuakultur seperti di daerah Collie, Australia (Gambar 3.1 b) dan juga di Telaga Batu Arang, PT. KPC (Gambar 3.3), digunakan sebagai tempat untuk pelatihan selam seperti yang dilakukan di wilayah penambangan kuari, Afrika Selatan (Gambar 3.1 c), selain itu juga digunakan sebagai wilayah wisata yang disandingkan dengan pembangunan hotel seperti yang dilakukan pada salah satu bekas tambang kuari di daerah Shanghai, China (Gambar 3.4)(Tuheteru Edy Jamal, 2018).
Pit lake biasanya dimanfaatkan pada saat pascatambang mempertimbangkan berbagai aspek terkait seperti perencanaan pascatambang, efek penurunan permukaan tambang dan kualitas air. Pada tahap operasi penambangan selesai, diperlukan studi teknis terperinci tentang berbagai aspek badan air yang dibuat dengan mempertimbangkan morfometri, geologi, hidrologi, kualitas air (geo-kimia), laju pengisian, dan biologi Potensi penggunaan air pit lake tetap sangat tergantung pada kuantitas dan kualitas air pit lake. Karena oksidasi mineral sulfida yang terpapar pada dinding lubang, dan pembilasan logam yang larut selama pengisian lubang, banyak pit lake ditandai oleh kualitas air yang buruk. Secara global asam tambang adalah masalah umum untuk kualitas air pada industri pertambangan. Penting untuk diperhatikan pit lake memiliki manfaat jangka panjang sebagai sumber daya air untuk kegiatan industri atau lainnya. Karenanya, kualitas air pada pit lake sangat penting dan kegiatan reklamasi lingkungan biasanya diperlukan. Hal ini untuk mengantisipasi bahwa penambangan batubara dan pit lake yang terbentuk pada pascatambang dapat membuat masalah lingkungan. Parameter kualitas air harus sesuai dengan baku mutu lingkungan yang diizinkan. Hal ini dapat dicapai dengan langkah-langkah manajemen yang direncanakan (Aditya Muhammad Tri, 2019). Kualitas air pada pit lake adalah salah satu masalah lingkungan yang paling kritis yang dihadapi industri pertambangan. Ekologi air tawar menekankan hubungan organisme dengan lingkungan sehubungan dengan habitat air tawar dalam konteks prinsip-prinsip ekosistem. Studi ekologis air tawar dalam semua aspeknya, yaitu fisik, kimia, geologi adalah penting untuk analisis ilmiah. Pemulihan lahan akibat dari kegiatan pertambangan agar mendekati rona awal atau ke kondisi normal diperlukan 'pengembangan pit lake hal untuk pengelolaan status ekologis lahan yang terdegradasi dari mineral atau
daerah-daerah yang mengandung bahan bakar fosil. Pengembangan pit lakedimulai bersamaan dengan kegiatan reklamasi dan restorasi tambang. Pemulihan harus dilakukan secara bertahap dan progresif. Dengan tahap pertama restorasi ekologis, drainase alami yang terganggu dan kesuburan tanah dapat disimpan seiring waktu. Kehadiran air dengan mudah membentuk flora dan padang rumput lokal dan membantu dalam mengembangkan spesies hutan dari varietas yang berbeda. Tahap selanjutnya dari restorasi ekologis perlahan-lahan membangun karbon organik dan humus secara alami. Tanah yang digunakan dan unsur penting untuk pertumbuhan tanaman, pada gilirannya mengubah lahan pertambangan yang terdegradasi menjadi lahan jenis pertanian yang dapat digunakan. Manajemen ekologi pascatambang di daerah penambangan, yang akan dikembangkan dalam bentuk pit lake, tergantung pada kondisi setempat dan harus dimulai sebelum pascatambang (Aditya Muhammad Tri, 2019).
Suatu pit lake dalam pengembangannya diperlukan kajian teknis tentang aspek-aspek hidrologi, limnologi, kimia dan biologi yang mempengaruhi kualitas air pit lake tersebut. Kajian tersebut untuk mengetahui bagaimana keadaan pit lake agar dapat dimanfaatkan setelah berakhirnya kegiatan operasi penambangan. Kebutuhan air dimasa yang akan datang akan semakin meningkat. Oleh karena itu suatu pit lake, jika dikembangkan akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat sekitar.Pemeliharaan dan manajemen akan membuat badan air yang dikembangkan secara artificialdapat diterima secara sosial. Diperlukan langkah-langkah restorasi sepanjang operasi kegiatan berlangsung hal ini untuk mengurangi kemungkinan masalah kualitas air di masa depan pada saat pascatambang. Pengelolaan dan pengembangan pit lake diperlukan sebagai penunjang program pascatambang bagi perusahaan sehingga dapat bermanfaat juga bagi masyarakat (Aditya Muhammad Tri, 2019).
Gambar 2.1 Pit Lake Sebagai Obyek Wisata Dan Akuakultur Di PT. KPC
(Tuheteru Edy Jamal, 2018)
Gambar 2.2 Pemanfaatan Pit Lake Sebagai Tempat Wisata Disandingkan Dengan Hotel
(Tuheteru Edy Jamal, 2018) 4. Analisis SWOT
Menurut Simbolon, R (1999) dalam Hery Yana (2015), analisis SWOT merupakan suatu alat yang efektif dalam membantu menstrukturisasikan masalah, terutama dengan melakukan analisis atas lingkungan strategis, yang lazim disebut sebagai lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Dalam lingkungan internal dan eksternal ini pada dasarnya terdapat empat unsur yang selalu dimiliki dan dihadapi, yaitu secara internal memiliki sejumlah kekuatan-kekuatan (strengths) dan kelemahan-kelemahan (weaknesses), dan secara eksternal akan berhadapan dengan berbagai peluang-peluang (oppotunities) dan ancaman-ancaman (threats), dengan pendekatan internal - eksternal strategic factor analysis summary ( IFAS – EFAS) serta Matriks Space mengenai strategi pemanfaatanpit lake bekas tambang sebagai obyek wisata.
5. Matriks SWOT
Matriks SWOT merupakan alat yang akan digunakan untuk menyususn faktor-faktor strategis dalam membuat rancangan pemanfaatanpit lake bekas tambang sebagai obyek wisata. Matriks ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal pada kondisi saat ini dan juga dapat disesuaikan dengan faktor-faktor kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matriks ini dapat menghasilkan empat (4) set kemungkinan alternatif strategis, seperti pada Tabel 2.1, berikut ini :
6. Matriks Space
Selanjutnya setelah didapat internal - eksternal strategic factor analysis summary ( IFAS – EFAS), guna mempertajam strategi tersebut dibuatlah matriks space untuk grand strategi dalam rangka menganalisa strategi dan rancangan pada pemanfaatanpit lake bekas tambang sebagai obyek wisata. Berikut ini adalah gambaran untuk diagram matriks space dari penelitian ini.
C. METODOLOGI PENELITIAN 1. Teknik Pengumpulan Data:
a. Studi literatur
Studi ini dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang menunjang diperoleh dari :
1. Buku-buku yang berkaitan dengan Pasca Tambang
2. Jurnal yang berkaitan dengan Pit Lake b. Kegiatan lapangan
Dalam melaksanakan penelitian dilapangan akan dilakukan beberapa tahap, yaitu :
a. Observasi lapangan dengan melakukan pengamatan secara langsung dilapangan yang akan dibahas yang terjadi dan mencari informasi-informasi pendukung yang berkaitan dengan masalah.
b. Penentuan batas lokasi pengamatan.
c. Mencocokkan dengan perumusan masalah, yang bertujuan agar penelitian yang dilakukan tidak meluas, data yang diambil dapat digunakan secara efektif.
2. Pengumpulan data a. Data primer
Merupakan data yanglangsung diambil penulis di lapangan berupa Dokumentasi dan Wawancara.
b. Data sekunder
Datasekunder adalah data yang diberi langsung dari perusahaan dan datalain yang mendukung yang diambil dari literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian.
Letak Dan Luas Wilayah Kondisi Geologi
Kondisi Topografi Kondisi Bekas Tambang
A. PENGOLAHAN DATA
1. Dampak Lingkungan Pasca Penambangan Batubara PT. MBT
a. Perubahan rona topografi
b. Potensi Erosi pada timbunan tanah penutup (waste dump)
Proses penambangan diawali dengan pekerjaan pengupasan tanah penutup. Penimbunan tanah penutup sebagai bentuk patuh terhadap regulasi yang bertujuan untuk pengelolaan lingkungan. Pada saat masih produksi, PT. MBT sudah melakukan penimbunan tanah penutup tetapi tidak melakukan upaya pemantauan dan pengendalian terhadap erosi seperti belum melakukan penanaman cover crop pada timbunan.
Gambar 3.1 Peta Rona Pasca Tambang 2. Strategi Pengembangan Objek Wisata Pit
LakeBekas Tambang Batubara A. Identifikasi Faktor
Identifikasi faktor berdasarkan hasil wawancara dengan para pakar :
1) Faktor Kekuatan (S)
a. Memanfaatkan Rona Bekas Tambang Batubara Rona bekas tambang Batubara yang berupa Pit Lake dan lereng lereng tambang menjadi daya tarik tersendiri. Kualitas air pada pitlake terutama pH dinetralkan terlebih dahulu sehingga memenuhi baku mutu air. Kemudian Pit Lake tersebut dimanfaatkan sebagai kolam ikan dan secara tidak langsung menjadi obyek pemancingan.
b. Obyek Wisata Berbasis Edukasi
Kurangnya obyek penelitian bagi para rekayasawan terutama geologi dan pertambangan maka obyek wisata pitlake bekas tambang Batubara dapat sebagai alternatif studi penelitian. Edukasi yang dilakukan bisa dengan membuat museum tambang untuk menjelaskan proses tambang mulai dari eksplorasi sampai dengan eksploitasi dan pasca tambang. Media yang digunakan bisa berupa gambar (display), benda-benda penting, alat berat maupun foto proses tambang dan hasil tambang yang diperoleh. Selain penjelasan tentang teknis pertambangan, museum ini juga dapat menjelaskan program-program hasil pemberdayaan masyarakat yang sudah dijalankan oleh perusahaan. Para akedemisi dan saintis secara tidak langsung ikut mempromosikan obyek wisata tersebut.
c. Sebagai Arena Outbound
Keindahan alam yang selaras dengan rona bekas tambang menjadikan obyek wisata pitlake bekas tambang Batubara dapat digunakan sebagai arena outbound sehingga dapat mengundang
minat para pecinta alam untuk berkunjung. Selain itu dapat pula ditambahkan beberapa wahana permainan seperti panjat tebing dan lapangan offroad.
2. Faktor Kelemahan (W) a. Akses Menuju Lokasi Wisata
Masih Buruk Saat ini akses menuju lokasi tambang hanya dapat dilalui dari satu jalur dengan kondisi jalan yang buruk. Pada saat musim hujan kendaraan roda dua maupun roda empat sulit untuk menjangkau lokasi tersebut sehingga dapat menjadi kendala kedatangan wisatawan.
b. SDM Lokal Yang Belum Terampil
Obyek wisata tersebut akan dikelola oleh masyarakat lokal sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat, tetapi kurangnya keahlian dan keterampilan masyarakat lokal dapat menyebabkan pengelolaan obyek wisata tidak tepat terutama pada bidang administrasi sehingga secara tidak langsung dapat berdampak pada tata kelola bisnis. Rata – rata masyarakat lokal hanya berpendidikan SMA, sedangkan lulusan perguruan tinggi umumnya sudah memiliki pekerjaan atau menjadi wiraswasta. c. Minimnya Fasilitas Pendukung
Saat ini fasilitas pendukung masih belum tersedia seperti tempat penginapan dan rumah ibadah (musholla). Kedua fasilitas tersebut menjadi syarat utama dalam pembangunan obyek wisata. Wisatawan akan merasa nyaman jika fasilitas memadai sehingga akan berpengaruh pada kelangsungan maupun popularitas obyek wisata tersebut.
3. Faktor Peluang (O)
a. Menjalin Kemitraan Dengan Lembaga Kompeten
Lembaga kompeten seperti perguruan tinggi maupun lembaga penelitian ilmiah dapat menjalin kerjasama dengan obyek wisata sehingga secara tidak langsung ikut mengembangkan obyek wisata tersebut.
b. Dukungan Dari Pemerintah Daerah
Pada umumnya Pit Lake bekas tambang Batubara hanya dikelola sebagai water supply, apabila dikelola untuk kawasan wisata maka secara tidak langsung dapat menjadi ajang promosi daerah mengingat minimnya obyek wisata pada daerah tersebut.
c. Dukungan Dari Masyarakat Sekitar
Minimnya obyek wisata pada wilayah konsesi tambang dan sekitarnya menjadikan obyek wisata Pit Lake bekas tambang Batubara mendapat sambutan dan dukungan dari masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar menyambut antusias rencana pengembangan obyek wisata tersebut.
4. Faktor Ancaman (T)
a. Potensi Alih Fungsi Lahan Menjadi Non Wisata Areal bekas tambang Batubara dapat dimanfaatkan untuk kawasan perkebuan, konservasi maupun industri. Penentuan jenis pemanfaatan tergantung sikap dari para stakeholder. Terkadang isu politik menjadi penentu kebijakan yang akan diambil, oleh sebab itu perlu penyamaan persepsi antar stakeholder. b. Dampak Ekonomi Global
Situasi perekonomian global sangat berpengaruh terhadap pasang surut kunjungan wisatawan khususnya wisatawan lokal. Rata-rata masyarakat Kabupaten Bungo bekerja sebagai petani karet. Harga karet yang bersifat fluktuatif dapat menjadi ancaman bagi perekonomian lokal dan secara tidak langsung berdampak pada kunjungan wisatawan lokal.
c. Potensi perpanjangan Izin Usaha Pertambangan (IUP)
Terdapatnya beberapa singkapan Batubara dapat berpotensi perpanjangan Izin usaha pertambangan (IUP). Selain itu naiknya harga komoditas Batubara dan turunnya biaya produksi dapat juga menyebabkan perusahaan mengkaji ulang perpanjangan Izin usaha pertambangan (IUP) mengingat kelayakan investasi pada bidang pertambangan lebih tinggi.
Tabel 3.2 Matrik SWOT
Gambar 3.1 Grafik SWOT
3. Strategi Pengembangan Objek Wisata Pit
LakeBekas Tambang Batubara Di PT. MBT
Hasil analisis pembobotan SWOT menunjukkan bahwa prioritas faktor SWOT yakni faktor kekuatan (Strengths). Faktor tersebut sebagai modal utama yang dimiliki oleh PT. MBT selaku pemilik IUP yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam pengembangan areal bekas tambang Batubara untuk kawasan wisata. Faktor kekuatan terdiri dari pemanfaatan rona bekas tambang Batubara, obyek wisata berbasis edukasi dan sebagai arena outbound. Berdasarkan hasil analisis pembobotan dan skoring dalam analisis SWOT yang terlihat pada tabel 3.1, skor SWOT tertinggi yaitu pemanfaatan rona bekas tambang Batubara, obyek wisata berbasis edukasi dan sebagai arena outbound (strengths), yang diikuti dengan faktor lainnya,
yaitu menjalin kemitraan dengan lembaga, dukungan dari pemerintah daerah dan dukungan dari masyarakat sekitar (opportunities).
Strategi yang dapat dilakukan untuk pengambil kebijakan dalam pengembangan Pit Lake bekas tambang Batubara sebagai obyek wisata didapat dari hasil analisis matriks SWOT dengan rincian strategi sebagai berikut :
1) Strategi S-O
A. Memanfaatkan Rona Bekas Tambang Untuk Pengembangan Mining Tourism Melalui Lembaga Pendidikan Dan Penelitian
Minimnya obyek penelitian bagi para engineer geologi dan pertambangan menjadikan obyek wisata Pit Lake bekas tambang Batubara sebagai alternatif. Selain sebagai destinasi wisata, juga sebagai obyek pendidikan dan penelitian. Para akademisi dapat memanfaatkan alam sekitar bekas tambang seperti batua-batuan yang tersingkap maupun kondisi lereng dan air pada void tambang sebagai obyek penelitian. B. Mengembangkan Obyek Wisata Unggulan
Sebagai Destinasi Pariwisata Daerah
Kabupaten Bungo dikenal sebagai kota lintas dengan keindahan tata kotanya. Tetapi Kabupaten Bungo belum memiliki tujuan wisata yang menonjol terutama wisata alam. Oleh sebab itu, dengan dikembangkannya obyek wisata Pit Lake bekas tambang Batubara maka Kabupaten Bungo dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk memperkenalkan daerahnya. Kabupaten Bungo dapat menggunakan obyek wisata tersebut sebagai icon wisata daerah.
C. Mempermudah Akses Bagi Investor Untuk Pengembangkan Obyek Wisata
Wisata Pembangunan obyek wisata memerlukan biaya yang relatif besar tetapi potensi keuntungan bisnis yang didapat juga besar. Pengembangan obyek wisata tergantung seberapa besar investasi yang ditanamkan, oleh sebab itu perlu strategi agar investor mau menanamkan modalnya salah satunya adalah dengan memberikan kemudahan akses bagi para investor. Dalam hal ini, peran pemerintah daerah maupun masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga kondisi bisnis tetap terjaga.
2) Strategi W-O
A. BekerjaSama Dengan Pemerintahan Desa Untuk Menjadikan Obyek Wisata Sebagai Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)
Obyek wisata Pit Lake bekas tambang Batubara dapat dijadikan sebagai Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Proyeksi keuntungan yang didapat dari obyek wisata relatif besar mengingat minimnya obyek wisata di Kabupaten Bungo. Pemerintahan Desa
Rantau Duku dapat memanfaatkan peluang ini sebagai sumber pendapatan desa. Ada beberapa alternatif pola kepemilkan bisnis obyek wisata, misalnya dengan cara join venture dengan pemegang IUP mengingat pemegang IUP sudah melakukan pembebasan lahan untuk areal tambang tersebut. Selain itu sistem kepemilikan saham dapat pula diterapkan jika biaya yang diperlukan untuk pengembangan wisata besar. Dengan asumsi seperti diatas, maka kendala-kendala pembangunan obyek wisata terutama fasilitas dapat diselesaikan.
B. Menjalin Kemitraan Dengan Lembaga Pendidikan Untuk Memberikan Pelatihan SDM Dengan dimudahkannya akses bagi para akademisi dan peneliti secara tdak langsung akan memberikan hubungan timbal balik yang dapat dimanfaatkan oleh pengembang obyek wisata untuk meningkatkan SDM lokal yang bekerja di obyek wisata tersebut. Pelatihan-pelatihan dasar seperti pengoperasian sistem komputer, tata kelola bisnis dan administrasi dapat diajarkan.
3) Strategi S-T
A. Pengendalian Alih Fungsi Lahan
Ada beberapa alternatif pemanfaatan peruntukan Pit Lake bekas tambang Batubara seperti untuk konservasi, akuakultur, irigasi, wisata, penampungan material berbahaya seperti tailing dan sebagai penyedia air (water supply). Keseragaman persepsi merupakan suatu cara pengendalian alih fungsi lahan menjadi non wisata, tetapi suhu politik merupakan faktor utama dalam pengambilan kebijakan. Oleh sebab itu semua stakeholder termasuk masyarakat ikut andil dalam hal ini.
B. Memberikan Promo Dan Paket Wisata Secara Berkala
Berkala Pengadaan promo secara berkala dapat diterapkan untuk mendatangkan wisatawan baik lokal maupun luar. Selain itu, pengadaan paket wisata pada periode tertentu misalnya paket libur sekolah, libur hari raya dan libur hari kemerdekaan dapat dipertimbangkan tanpa mengurangi tingkat kenyamanan.
C. Strategi W-T
A. Membangun Fasilitas Pendukung
Fasilitas pendukung seperti mushola merupakan syarat utama dalam pembangunan obyek wisata. Kenyamanan wisatawan merupakan indikator keberlangsungan obyek wisata.
B. Memperbaiki Akses Menuju Lokasi Wisata Dengan adanya kerjasama dengan Pemerintah Daerah diharapkan akses menuju lokasi wisata dapat diperbaiki.
Tabel 3.3 Strategi SWOT
D. PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Berdasarkan hasil analisis SWOT, skor factor SWOT tertinggi yaitu faktor obyek wisata berbasis edukasi dan faktor sebagai arena outbound (strengths).
b. Pengembangan obyek wisata pit lake bekas tambang berada pada kuadran IV dengan nilai X sebesar - 11,85 dan nilai Y sebesar 97,06. Terdapat beberapa faktor kelemahan dan ancaman seperti akses menuju lokasi wisata yang masih buruk dan potensi alih fungsi lahan menjadi non wisata.
2. Saran
Dari penelitian yang telah dilakukan, penulis menberikan saran agar kelayakan pengembangan obyek wisata dapat dianalisis lebih dalam.
DAFTAR PUSTAKA
Aditya Muhammad Tri, Waterman Sulistyana, Tedy Agung Cahyadi, Maharani Rindu Widara,2019, ‘Pemanfaatan Pit Lake Sebagai Program PascaTambang’ Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan VII 2019, Universitas Teknologi Adhi Tama Surabaya, Surabaya.
As’ari Ruli, Emi Mulyanie, Dede Rohmat. 2019. ‘Zonasi Pemanfaat Pascatambang Pasir di Pesisir Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya’. Jurnal Geografi. Universitas Silihwangi. Tasikmalaya.
Bochori, H. M. dan Taufik Toha. 2004, ‘Permasalahan Seputar Pasca Penambangan’ Proceeding Temu Profesi Tahunan XIII PERHAPI, Universitas Sriwijaya. Palembang (Desember), vol 1, no 1, pp 512-521.
Dewi Aria Sari, 2017,‘ Analisis Implementasi Regulasi Reklamasi Pertambangan Batubara Berdasarkan Permen ESDM No. 07 Tahun 2014 Dikabupaten Batang Hari Provinsi Jambi’ Tesis. Program Studi Magister Ilmu Lingkungan, Fakultas Pascasarjana, Universitas Jambi, Jambi.
Hery, Y 2015, Teknik Analisis SWOT, dilihat 2 Juni 2020, https://www.academia.edu/12941957/Teknik_Analisis_SWO
T.
Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2014 Tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang.
Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2010 Tentang Perencanaan dan Pelaksanaan Reklamasi Pascatambang .
Rangkuti, Freddy, 2005, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sugiri, 2014, ‘Kajian Penanganan Dampak Penambangan Pasir Besi Terhadap Lingkungan Fisik Pantai Ketawang Kabupaten Purworejo, Jurnal Teknik PWK, vol. 3 no.1 .Universitas Diponegoro, Bandung. pp. 210-219
Tuheteru Edy Jamal, Rudy Sayoga Gautama, Ginting Jalu Kusuma, Kris Pranoto, 2018, ‘Pit Lake Sebagai Alternatif Kegiatan Pascatambang (Hasil Review Pustaka)’ Prosiding Temu Profesi
Tahunan PERHAPI, Universitas Trisakti
Indonesia, Bandung (Agustus), pp. 19-43. UU Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara
UU Nomor 32 Tahun 2009 Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH)