• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI STRATEGI PENGEMBANGAN GURU. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IMPLEMENTASI STRATEGI PENGEMBANGAN GURU. docx"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan

nasional terlebih lagi dalam menghadapi era kompetisi, era keterbukaan dan

era informasi yang demikian pesat. Disisi lain, perkembangan pendidikan di

Indonesia boleh dikatakan masih jauh dari harapan, sehingga berbagai konsep

dari pakar pendidikan baik nasional maupun internasional digelar,

didiskusikan, diolah dan dilaksanakan di berbagai tingkatan dan jenjang

pendidikan saat ini.

Keberadaan sekolah sebagai sub sistem kehidupan sosial, berarti

menempatkan pula sekolah sebagai bagian kehidupan nasional yang harus

bertumpuh kepada norma-norma nasional pancasila. Bahkan dalam

kehidupan masyarakat tertentu dimana sekolah itu berada, sekolah juga harus

mampu menyusuaikan diri dengan kekhususan-kekhususan yang berkembang

dalam masyarakat dimana sekolah berada.

Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa

Indonesia dewasa ini adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang

dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah

(Depdiknas 2001:21). Untuk itu, berbagai usaha dilakukan untuk

meningkatkan mutu pendidikan nasional, berbagai pelatihan dan peningkatan

kompetensi Guru, pengadaan buku dan alat pelajaran.

(2)

Selain itu, rendahnya mutu pendidikan sangat disadari diakibatkan

oleh kurangnya sumber daya manusia yang handal yang menjadi motor

penggerak terciptanya manusia yang berkualitas. Menurut UNESKO

(2001:45), pengembangan sumber daya manusia (SDM) berhubungan erat

dengan pendidikan, pelatihan dan pemanfaatan sumber daya manusia pada

kegiatan sosial maupun ekonomi. Mengacu kepada UNDPE, ada lima “Pilar

Utama” pengembangan sumber daya manusia, yaitu: pendidikan, kesehatan

dan makanan, lingkungan pekerjaan, serta politik dan kebebasan ekonomi.

Kelima pilar tersebut satu sama lain saling terkait dan saling mempengaruhi,

akan tetapi pendidikan merupakan dasar dari pilar yang lain.

Untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas bukanlah

pekerjaan yang ringan melainkan tugas berat, karena tugas tersebut

melibatkan beberapa unsur terkait, yaitu unsur pendidik (Guru) yang

berkualitas dan Profesional. Profesional, artinya mampu bekerja/mengajar

dengan baik sesuai dengan tuntutan pekerjaan dan norma yang berlaku

(Depdiknas 2002:19). Dalam membina profesionalisme tenaga kependidikan

mencangkup dua aspek, yaitu kemampuan teoritis dan praktis sesuai dengan

bidang pekerjaan, serta monifasi kerja.

Kedua aspek tersebut harus di miliki guru yang ingin berhasil

menciptakan siswa yang berkualitas untuk mengisi tenaga kerja propesional

dan berkualitas.Siswa yang berkualitas tidak saja mampu menerobos pasar

kerja dengan kompetensi tinggi, tapi juga mampu menciptakan lapangan kerja

baru bagi generasi lainnya. Kompetensi yang di miliki siswa merupakan

(3)

dari sekolah baik itu sakolah Menengah Kejuruan (SMK) maupun sekolah

menengah atas (SMA).

Pembelajaran berbasis kompetensi adalah pelajaran yang

dikembangkan atas dasar kompetensi tertentu, yang diperoleh dari hasil

analisis jabatan terhadap jabatan-jabatan yang proyeksikan bagi tamatan.

Kompetensi dapat diartikan sebagai gabungan dari pengetahuan, keterampilan

(Keterampilan Psikomotor), dan sikap yang diterapkan (Diaplikasikan) oleh

seseorang/sekelompok tenaga kerja dalam pelaksanaan suatu tugas dunia

kerja. Materi belajar dalam pembelajaran berbasis kompetensi adalah

pengetahuan keterampilan (keterampilan Psikomotor) dan sikap yang

dibutuhkan untuk melaksanakan tugas di dunia kerja. Kriteria keberhasilan

dalam pembelajaran ini adalah mengacu kepada standar-standar kompetensi

yang berlaku di dunia kerja. Kerena itu, sistem belajar tuntas (mastery

leaming) harus diterapkan dalam pembelajaran berbasis kompetensi ini.

Tujuan pembelajaran berbasis kompetensi di sekolah Menengah Kejuruan

Kejuruan (SMK) adalah untuk memperoleh hasil yang tinggi dalam

membekali siswa dengan kemampuan-kemampuan tertentu yang di butuhkan

oleh dunia kerja. Melalui pembelajaran ini, siswa diharapkan akan mampu

menguasai kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja sesuai kriteria yang

berlaku.

Implementasi strategi pengembangan guru sekolah menengah

kejuruan (SMK) Negeri 2 Polewali, terkait undang-undang sistem pendidikan

nasional yang dijabarkan melalui visi dan misi sekolah dan selanjutnya

(4)

Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Polewali kedepan. Visi sekolah ini

adalah menyiapkan tenaga kerja professional yang mandiri dibidang seni

kerajinan untuk mengisi ere globalisasi.Sedangkan Misi yang diemban adalah

menghasilkan tamatan tingkat menengah yang handal di bidang seni kerajinan

dan berahlak mulia. Beberapa langkah strategi yang telah ditempuh untuk

meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK) Negeri 2 Polewali antara lain adalah: 1) Menugaskan guru

untuk mengikuti On The Job Training (OJT), 2) Pelatihan kejuruan yang

dilaksanakan oleh pusat penataran guru kejuruan di Polewli mandar, 3)

Magang guru ke industri, 4) Studi banding ke beberapa industri terkait, 5)

Kesempatan peningkatan kualifikasi pendidikan ke jenjang lebih tinggi,

seperti S1 dan S2. Selain itu, setiap semester dilaksanakan In House Training

(IHT) berkenaan dengan perkembangan teknologi kaitannya dengan

penyusuaian muatan kurikulum.

Usaha pengembangan pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang

berkualitas merupakan mata rantai yang tak terpisahkan dalam siklus

pendidikan di sekolah, artinya semua unsur terkait harus bekerja terpadu

dalam mencapai suatu keberhasilan lulusan. Lulusan yang berkualitas tidak

lepas dari kinerja dan profesionalisme guru dan dukungan sepenuhnya orang

tua siswa, masyarakat dan pemerintah.

Ditinjau dari potensi yang memiliki, baik sumber daya manusia

maupun sarana dan prasarana pendidikan. SMK Negeri 2 Polewali

mempunyai peluang yang sangat besar dalam upaya menciptakan lulusan

(5)

namun realitas menunjukkan bahwa baru sekitar 40 persen dari keseluruhan

luarnya yang terserap oleh dunia usaha dan industri. Hal ini menjadi lebih

menarik untuk dikaji lebih dalam lagi, dimana letak kelemahannya, apakah

pada sistem ataukah pada implementasi strategis pengembangannya atau

keduanya.

Bertolak dari uraian tersebut diatas, penulis akan mencoba mengkaji

lebih detail beberapa permasalahan sebagai mana yang diuraikan diatas

melalui suatu penelitian ilmiah dengan judul: “IMPLEMENTASI

STRATEGI PENGEMBANGAN GURU SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) NEGERI 2 POLEWALI DI KABUPATEN POLEWALI MANDAR”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian merumuskan beberapa

masalah antara lain.

Bagaimana Implementasi Strategi pengembangan Guru Sekolah

Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Polewali.

1.3. Tujuan Penelitian

Untuk menganalisis Implementasi Strategi pemngembangan Guru

(6)

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini, diharapkan dapat bermanfaat

bagi:

1. Para pemimpin baik pada tingkat Dinas pendidikan kabupaten Polewali

Mandar pengambilan kebijakan dibidang pendidikan, maupun pimpinan

pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Polewali dalam upaya

pengimplementasian strategi pengembangan guru.

2. Peneliti, yang ingin mengkaji lebih jauh masalah pengimplementasian

strategi pengembangan Guru SMK lebih khusus lagi yang berhubungan

dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

3. Penelitian pendidikan, baik sebagai bahan perbandingan maupun sebagai

acuan dalam upaya pengembangan kualitas pendidikan khususnya

pendidikan kejuruan.

4. Pencinta ilmu pengetahuan, untuk memperkaya pengetahuan secara umum

dan ilmu manajemen pada khususnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

(7)

Dalam arti yang luas, manajemen berarti mengkoordinasi

usaha-usaha manusia sehingga tujuan individu dalam keberhasilan sosial.

Pengembangan pengetahuan manajemen dengen jalan meningkatkan

efesiensi dalam penggunaan sumber daya manusia maupun bahan pasti

akan mempunyai suatu dampak yang revolusioner terhadap tingkat

kebudayaan masyarakat. Manajemen bukan hanya fungsi supervison

melainkan sebagai pembuat keputusan yang penting dari pemanajemen

atau pengelolaan. Jadi ilmu manajemen adalah ilmu yang merangkaikan

suatu keyakinan akan pengelolaan dalam suatu organisasi melalui

penerapan-penerapan dalam suatu perusahaan.

Bidang fungsi dasar manajemen berkaitan era dengan

perencanaan, pengorganisasian, pengisian lowongan, pemimpin dan

pengendalian, Kootz, (1995:75)

Perencanaan dibutuhkan untuk memberikan kepada organisasi

dalam hal tujuan-tujuan dan menetapkan prosedur terbaik untuk

mencapai tujuan-tujuan organisasi Handoko (1996:73) menemukakan

dengan adanya perencanaan organisasi bila memperoleh dan mengikat

sumber daya yang diperlukan dan para anggota organisasi dapat

melaksanakan kegiatan-kegiatan yang konsisten dengan berbagai tujuan

dan prosedur terpilih, di samping itu kemajuan dapat diukur sehingga

tindakan korektif dapat diambil bila tidak ada kemajuan yang

memuaskan.

(8)

Menurut Gitosudarmo (1996:73) perencanaan dianggap penting

karena (1) perencanaan meliputi usaha untuk menetapkan tujuan atau

menformulasikan tujuan yang hendak dicapai. Dengan kejelasan arah

yang jelas maka tidak akan diketahui apakah hasil yang dicapai sesuai

dengan tujuan yang ditetapkan, (2) memberikan formulasi tujuan yang

hendak dicapai, dengan demikian akan diketahui apakah tujuan tersebut

tercapai, yang nantinyaakan diadakan koreksi terhadap penyimpangan

dari tujuan yang telah ditetapkan, (3) memudahkan pelaksanaan

kegiatan dan untuk mengidentifikasikan hambatan-hambatan, persiapan

untuk mengatasi masalah lebih terarah, (4) menghindari pertumbuhan

dan perkembangan yang tidak terkendali.

2.1.2 Fungsi-Fungsi Manajemen

Fungsi-fungsi manajemen menurut Harold (1995:5), antara lain

dikemukakan sebagai berikut:

a. Mengikhtisarkan beberapa perencanaan setiap sistem dalam

pemikiran manajemen.

b. Memperhatikan kondisi yang merubah lingkungan internal dan

eksternal lebih baik menghasilkan suatu teori dan praktek. Fayol mengemukakan bahwa aktivitas sebuah perusahaan dapat dibagi

dalam bidang teknis dan dalam bidang manajemen.

c. Menunjukkan cara mengefektifkan pengorganisasian dengan

mempertahankan fleksibilitas, memperjelas hubungan dan struktur.

2.2 Konsep pengembangan Sumber Daya Manusia 2.2.1 Pengertian Sumber Daya Manusia (SDM)

Pengertian sumber daya manusia sudah dikenal sejak timbulnya

(9)

tujuan dan sesuatu diluar diri manusia itu sendiri, yang biasa kita sebut

alam. Semua aspek alam yang dapat dimanfaatkan manusia untuk

memenuhi kebutuhan disebut aumber daya alam. Sedangkan mereka

yang dimanfaatkan adanya kultur tersebut diatas disebut sumber daya

manusia. Sebagai besar dari sumber daya manusia merupakan hasil akal

budaya disertai pengetahuan serta pengalaman yang dikumpulkan

dengan penuh kesadaran melalui jerih payah dan perjuangan berat. Sumber daya manusia atau biasa disingkat Man Power adalah kemampuan yang dimiliki setiap manusia. Sumber daya manusia terdiri

atas dua bagian yaitu daya piker dan daya fisik.

Seperti dijelaskan diatas bahwa sumber daya manusia terdiri

dari dua elemen: yaitu daya fisik dan daya fikir yang dimiliki setiap

manusia yang mana perilakunya ditentukan oleh keturunan dan

lingkungannya, sedangkan prestasi kerjanya dimotivasi oleh keinginan

untuk memenuhi kepuasannya. Seseorang yang mempunyai IQ

(Inteligence Quotent) yang tinggi jika didukung oleh EQ (Emotional Quality) maka akan berprestasi dengan baik pada lingkungannya. EQ adalah kemampuan manusia untuk mengendalikan emosi bersosialisasi

(bermasyarakat). Sumber daya manusia oleh Hasibuan (2001:59),

didefinisikan sebagai kemampuan totalitas atau terpadu dari daya piker

dan daya fisik yang dimiliki tiap individu.

2.2.2 Pengertian Pengembangan Sumber Daya Manusia

Istilah pengembangan atau Human Resource Developmen

(HDR) mulai diperkenalkan untuk pertama kalinya tahun 1969 oleh

Leonnard Nadler, Walaupun pengembangan sumber daya manusia

(10)

Resource Developmen (HDR) sebagai pengalaman belajar yang terorganisir dalam suatu periode waktu tertentu untuk meningkatkan

kemungkinan perbaikan pertumbuhan kinerja tugas. Sementara itu

Hasibuan (2001:72) dalam bukunya mendefinisikan pengembangan

sumber daya manusia sebagai suatu usaha untuk meningkatkan

kemampuan teknis, teoritis, kopseptual,dan moral karyawan sesuai

dengan kebutuhan pekerjaan atau jabatan melalui pendidikan dan

pelatihan.Sikula, Andrew F. (1988) mendefinisikan pengembangan

sunber daya manusia mengacu pada masalah staf dan personil adalah

suatu proses pendidikan jangka panjang manggunakan suatu prosedur

yang sistematis dan terorganisis dengan manajer belajar pengetahuan

konseptual dan teoritis untuk ujian umum.

Begitu pentingnya sunber daya manusia dalam maju mundurnya

organisasi sehingga muncul ungkapan dari beberapa ahli sebagai

berikut:

Charles M. Schwab dalam bukunya Atmosoeprapto K. (2000:

47) :

You can take away my buildings, equerment and mills, but leave me my men and I’ll build another great steel company”

( Anda boleh mengambil alih seluruh bangunan-bangunan, alat-alat dan

pabrik-pabrik, tetapi tinggalkan orang-orang dan saya akan membangun

perusahaan baja lainnya yang besar).

Johan D. Rocker Feller dalam bukunya Admosoeprapto K.

(2000: 121) dijelaskan:

“I will pay more for the ability to deal with than anyother ability under the sun”.

(Saya akan membayar lebih untuk kemampuan yang bersangkutan

(11)

2.3 Konsep Implementasi kebijakan

Dalam kehidupan sehari-hari sering terdengar kata kebijakan yang

dihubungkan dengan sistem kepemimpinan. Baik itu kepemimpinan yang

bersifat formal maupun non pormal. Kebijakan biasa diartikan sebagai

langkah dalam pengambilan keputusan, mempergunakan segala aspek

pemecahan dan perumusan permasalahan.

Pada dasarnya kebijakan merupakan ketentuan-ketentuan yang harus

dijadikan pedoman, pengangan atau petunjuk sehingga tercapai kelancaran

dan keterpaduan dalam pencapaian tujuan. Dalam pemahaman ini kebijakan

dapat diartikan sebagai kearifan untuk membuat sesuatu, dalam suatu

organisasi/perusahaan. Kebijakan ini dihubungkan dengan kegiatan yang

ditempuh oleh seorang pemimpin di dalam melakukan pengelolaan

organisasi.

Kebijakan dapat pula diartikan sebagai langkah apa yang diambil atau

dipilih di dalam mencapai suatu tujuan. Pada pemilihan langkah/perbuatan

maka jelas berhadapan dengan berbagai alternative yang ada, maka tentunya

tidak bertentangan dengan aturan-aturan hukum yang berlaku

Untuk memberikan pemahaman yang jelas kebijakan ini, maka

dibawa ini dikutip beberapa pendapat atau defenisi dari para ahli tersebut.

Harol D. Lasswel dan Abraham Kapla dalam Islamy (1991:17) memberikan

(12)

Carl J. Fredrik dalam Islamy (1997:14) mendefinisikan kebijakan

sebagai berikut: “Serangkaian tindakan yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentuh dengan menunjukkan hambatan-hambatan dan kesempatan-kesempatan terhadap pelaksanaan usulan kebijakan tersebut dalam rangka tercapainya tujuan tertentuh “.

Selanjutnya James E. Anderson dalam Islamy (1995:19)

mengemukakan pengertian kebijakan sebagai berikut: “kebijakan adalah serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentuh yang diikuti dan dilaksanakan oleh seorang pelaku atau sekelompok masyarakat guna memecahkan suatu masalah untuk tidak melakukan sesuatu dalam kebijakan pemerintah setidak-tidaknya dalam artian positif didasarkan atau selalu dilandaskan pada peraturan perundang-undangan dan bersifat”.

Dari pengertian dikemukakan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan

suatu pemahaman bahwa :

a. Kebijakan itu berisi tindakan-tindakan atau pola-pola tindakan

pejabat yang berwenang.

b. Kebijakan itu selalu mempunyai tujuan tertentu atau merupakan

tindakan yang berorientasi pada tujuan.

c. Kebijakan itu bersifat positif dalam arti merupakan beberapa bentuk

tindakan pemerintah mengenai suatu masalah tertentuh. Atau bersifat

negatif dalam arti merupakan keputusan pemeribntah untuk tidak

(13)

d. Kebijakan pemerintah setidak-tidaknya dalam arti positif didasarkan

atau selalu dilandaskan pada peraturan perundang-undangan dan

bersifat memaksa lebih jauh.

Oleh karena itu di dalam pelaksanaan suatu kegiatan tidak terlepas

dari implementasi,”Implementasi dadap dikatakan sebagai proses dari tindakan lanjut suatu keputusan” (Abdullah, 1988:32). Maksud dari pertanyaan ini bahwa implementasi sebagai proses merupakan suatu

rangkaian kegiatan dimana rangkaian dimaksud adalah tindak lanjut dari

suatu kebijakan.

Dalam rangkaiaan kegiatan tindak lanjut tersebut ditemui pula banyak

keterkaitan yang logis antara keputusan yang telah ditetapkan dengan

tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk merealisasikan tujuan yang

diinginkan. Keputusan yang diambil dapat berupa kebijakan kemudian

menjadi program dan atau sampai dengan proyek.

D.J.A Simarmata (1993:321) mendefenisikan, “program adalah suatu

kombinasi aktivitas sumber-sumber (cara adan alat) dalam urutan tindakan

dengan jangka pelaksanaan tertentu pula”.

Lebih lanjut Thoromidjojo (1986:98) mengatakan bahwa:

“Implementasi Sebagai Proses Kegiatan yakni berawal dari kebijakan guna

mencapai suatu tujuan maka kebijakan itu diturunkan dalam bentuk program

(14)

Dengan demikian makin jelaslah bahwa implementasi sebagai suatu

proses yang memperlihatkan suatu bentuk kegiatan interaksi yang konstruktif

dari instrument atau alat (beberapa kebijakan, program dan proyek) untuk

mencapai tujuan.

Proyek sebagai bahan dari unsure manajemen proyek jelas merupakan

sekelompok aspek administrasi yang mengandung efek pelaksanaan

pekerjaan proyek yang bersangkutan dan dilakukan oleh anggota organisasi

dalam setiap penyelenggaraan administrasi secara langsung ataupun tidak

langsung bersifat mengendalikan manajemen agar semua berjalan dengan

semestinya.

Dari uraian tersebut di atas dan guna mengantarkan kita pada

pemahaman konsep implementasi termasuk teori-teori tentang implementasi,

maka perlu kita pahami bahwa implementasi merupakan suatu bagian disiplin

ilmu administrasi Negara (administrasi pembangunan). Dalam hal ini

tentunya mengarah pada pelaksanaan dengan keterlibatan beberapa aspek dari

faktor yang mempengaruhinya. Hal ini semakin memperjelas bahwa konsep

implementasi merupakan suatu pedoman yang boleh dikatakan mempunyai

peran dalam kelangsungan sistem administrasi pembangunan. Secara lebih

nyata hal ini dapat kita lihat dalam hal yang menyangkut dengan

implementasi kebijakan (Policy Implementation).

Cakrawala pemikiran sebagai mana disebutkan diatas, sebelumnya

telah banyak ditelah oleh para pakar dalam bidang ilmu administrasi maupun

(15)

melihan penyebab ketidak berhasilan pelaksanaan kebijakan yang telah

ditetapkan secara nasional.

Dalam studi organisasi dan manajemen ditemukan kurang berimbang

perhatian yang diberikan pada segi perencanaan dan implementasi.

Perencanaan sebagai tehnik telah mengalami peralatan analisa dan metode

pengambilan keputusan yang angat maju seperti yang terdapat dalam ilmu

manajemen (Abdullah 1993:396).

Selanjutnya Abdullah 1993:398 menyimpulkan pengertian-pengertian

implementasi beberapa ahli sebagai berikut:

“Pengertian dan unsur-unsur dalam proses implementasi sabagai

berikut”. (1) proses implementasi program kebijaksanaan ialah serangkaian

kegiatan tidak lanjut, guna mengujutkan suatu program atau kebijaksanaan

menjadi kenyataan, (2) proses implementasi terlibat berbagai unsur yang

pengaruhnya dapat bersifat pendukung maupun penghambat pencapaian

sasaran program, (3) dalam proses implementasi sekurang-kurangnya terdapat

tiga unsur yang penting dan mutlak yaitu (i) adanya program (atau

kebijaksanaan) yang dilaksanakan.” (ii) target groups, yaitu sekelompok yang

menjadi sasaran perubahan dan peningkatan, (iii) unsur pelaksanaan atau

implementasi baik organisasi atau perorangan yang bertanggun jawab dalam

pengelolaan, pelaksanaan dan pemgawasan dari proses implementasi tersebut,

(4) implementasi program paktor lingkungan (Fisik, sosial, budaya dan

politik) akan mempengaruhi proses implementasi program-program

(16)

Berdasarkan pengertian yang dikemukakan oleh Abdullah yang

merupakan kesimpulan pendapat para ahli, mengandung beberapa pokok

pikiran sebagai berikut:

Pertama implementasi dapat dikatakan sebagai proses dari tindak lanjut keputusan. Menurut Salusu (1990:211) mendefinisikan implementasi

sebagain berikut : “implementasi adalah seperangkat kegiatan yang dilakukan

menyusul suatu keputusan”. Suatu keputusan selalu dimaksud untuk

mencapai sasaran tertentu. Maksud dari pernyataan ini adalah implementasi

merupakan rangkaiian proses maupun sebagai tindak lanjut dari

kebijaksanaan atau keputusan. Didalam rangkaiaan kegiatan tindak lanjut

tersebu ditemui pula adanya keterkaitan yang logis antara kegiatan yang telah

di tetapkan dengan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk

merealisasikan kemudian menjadi program yang selanjutnya menjadi proyek.

Maksud dari pernyataan ini yaitu implementasi sebagai proses

merupakan suatu rangkaian kegiatan dimana rangkaian dimaksud adalah

tindak lanjut dari suatu kebijaksanaan.

Kedua, dalam operasionalnya implementasi akan dapat kita rasakan perlu adanya penerapan manajemen. Dengan dasar pemahaman bahwa

rangkaian kegiatan tindak lanjut merupakan upaya positif (efektif dan efisien)

kearah tujuan akhir. Di samping itu adanya unsur-unsur yang terlibat dalam

pencapaian tujuan menunjukkan adanya penggerakkan kegiatan dalam suatu

(17)

Ketiga, implementasi sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan kegiatan cenderung dipengaruhi oleh faktor yang mendukung dan faktor yang

menghambat. Artinya implementasi sebagai rangkaian interaksi lebih lanjut,

segala substansi yang berhubungan dengan proses tingkat tersebut akan

memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap pencapaian tujuan.

Interaksi yang terjadi yang terjadi dalam implementasi tidak lain sebagai

model dari akibat yang akan timbul segala sesuatu hasil. Apabila dalam suatu

keputusan yang diambil menunjukkan adanya interaksi yang kurang kondusif

terhadap pencapaian tujuan maka sebagai akibat akan memberikan suatu hasil

akhir (output) yang tidak maksimal.

Menurut George C. edwars II dalam Abdullah (1988:400) bahwa ada

empat faktor atau variabel yang merupakan syarat-syarat terpenting guna

berhasilnya proses implementasi. Keempat paktor itu terdiri dari:

a. Komunikasi ini amat penting karena surat program hanya dapat

dilaksanakan dengan baik apabila jelas bagi para pelaksanaan. Hal ini

menyangkut proses penyampaian informasi atau transminis, kejelasan

informasi tersebut (clarity) dan konsisten informasi yang disampaikan.

b. Resources (sumber daya); hal ini meliputi empat komponen yaitu staf yang

cukup (jumlah dan mutu), informasi yang dibutuhkan guna pengambilan

keputusan, authority-kewenangan yang cukup guna melaksanakan tugas

dan tanggun jawab dan fasilitas yang dibutuhkan dalam pelaksanaan.

c. Disposisi; yaitu sikap dan komitmen dari pelaksanaan terhadap program

(18)

menjadi implementasi dari program yang dalam hal ini terutama

dimaksudkan adalah apartur birokrasi.

d. Struktur Birokrasi, yaitu terdapatnya suatu SOP (standard Operating

Prosedur) yang mengatur tata aliran pekerjaan dan pelaksanaan program.

Jika hal ini tidak ada, maka akan sulit sekali mencapai hasil yang

memuaskan, karena penyelesaian masalah-masalah akan bersifat ad-hoc,

memerlukan penanganan dan penyelesaian khususnya tanpa pola yang

baku.

2.4 Konsep strategis

Konsep tentang strategis adalah metodologis analisis kebijakan yang

membantu dalam membuat, menilai secara kritis dan mengkomunikasikan

pengetahuan yang relevan dengan kebijakan yaitu kenyakinan tentang

kebenaran yang masuk akal plasuble tentang proses, hasil dari kinerja

pembuatan kebijakan publik. Maksud dari metodologi erat hubungannya

dengan aktivitas intelektual dan praktis yang oleh John Dewey dalam buku

Dunn, Willian (2000:31) dikatakan sebagai logic of inquiry yaitu kegiatan

pemahaman manusia mengenai pemecahan masalah.

Menurut Dunn, William N. (2000:18) analisis kebijakan adalah

sebagai proses menghasilkan pengetahuan tentang dan dalam proses

kebijakan. Sedangkan E. S Quade (1994:4) mendekskripsikan analisis

kebijakan sebagai suatu bentuk analisis yang menghasilkan dan menyakinkan

informasi sedemikian rupa sehingga dapat member landasan dari para

(19)

Pentingnya pengambilan keputusan dalam suatu organisasi mengingat

maju mundurnya organisasi, terutama karena masa depan suatu organisasi

ditentukan oleh pengembangan keputusan tersebut.

Mc. Grew dan Wilson (1993:338) melihat pada kaitannya dengan

proses yaitu bahwa keputusan ialah keadaan akhir dari proses dinamis, yang

diberi label pengambilan keputusan. Dikatakan proses karena terdiri atas

suatu seri aktivitas yang berkaitan dan tidak hanya dianggap sebagai tindakan

bijaksana.

Sehubungan dengan pengambilan keputusan tersebut, hendaknya

dipahami dalam dua pengertian yaitu penetapan tujuan merupakan terjemahan

dari cita-cita dan aspirasi. Yang kedua bahwa pencapaian tujuan melalui

implementasi Inbar, (1994:126). Oleh karena pencapaian hasil merupakan

akhir dari pengambilan keputusan, maka dibutuhkan suatu pemikiran

strategis, dengan harapan bahwa pemikiran strategis akan menghasilkan

penyelesaian yang lebih kreatif dan berbeda bentuknya dari pada hanya

berdasarkan pemikiran mekanik dan institusi. Berpikir kreatif akan

memberikan lebih banyak alternatif pemecahan dan tingkat kesalahan yang

semakin kecil.

Istilah strategis berasal dari bahasa yunani yaitu Strategos atau

strategas yang dalam kata jamak disebut strategi. Strategos berarti jenderal

tetapi dalam bahasa yunani kuno sering berarti perwira Negara (State Officer) yang mempunyai fungsi yang luas.

Menurut Mc. Donald (1992:78) strategi adalah suatu keterampilan

bagaimana pejabat eksekutif mendesain keputusan yang didasarkan pada

suatu organisasi, nilai-nilai manajerial dan kemungkinan adanya peluang

(20)

Stainer dan Miner (1989:28) mendefenisikan strategi bahwa istilah itu

tidak hanya menunjuk misi, tujuan dan sasaran organisasi yang mendasari,

tetapi juga pada strategi itu dilaksanakan guna mencapai tujuan organisasi. Perlu juga kita ketahui bahwa strategi berbeda dengan taktik.

Perbedaannya adalah jika kita memutuskan apa yang seharusnya kita

kerjakan, maka kita telah memutuskan strategi. Sedangkan jika kita

memutuskan bagaimana untuk mengerjakan sesuatu, itulah yang disebut

taktik. Dengan kata lain menurut Drucker dalam bukunya agustinus (1996:69)

strategi adalah mengerjakan sesuatu dengan benar (doing the thing right).

Sebagai contoh, Christoper Colombus berkeinginan menemukan jalan pintas

(stategi) untuk menuju india dengan memutuskan layar kearah barat dari pada

arah timur (taktik).

Pembuatan strategi merupakan suatu hal yang harus dikerjakan oleh

para manager puncak karena ini menentukan bagaimana organisasi mancapai

tujuan. Inti pokok dari pembuatan strategi adalah hubungan organisasi dengan

lingkungannya dan menciptakan strategi yang cocok untuk mencapai misi

organisasi.

Pada kesimpulannya penulis memberi pendapat bahwa strategi

merupakan program umum dari tindakan komitmen atas

penekanan-penekanan dan sumber daya kearah pencapaian tujuan menyeluruh,

khususnya bila berbicara mengenai strategi utama dalam organisasi strategi

adalah menyiratkan sasaran-sasaran, pengalokasian sumber daya untuk

mencapai sasaran, dan kebijakan utama yang harus diikuti dalam

menggunakan sumber daya tersebut.

(21)

Pendidikan dengan berbagai programnya mempunyai peranan

penting dalam proses memperoleh dan meningkatkan kualitas

kemapuan professional individu. Melalui pendidikan, seseorang

dipersiapkan untuk bekal agar siap tahu.mengenal dan mengembangkan

metode berfikir secara sistematik agar dapat memecahkan masalah yang

akan dihadapi dalam kehidupan kemudian hari. Hal tersebut nantinya

akan dihadapi dalam kehidupan di kemudian hari. hal tersebut nantinya

akan Nampak pada kinerja, yang pada akhirnya akan menjamin

produktivitas kerja yang semakin meningkat.

Pengertian pendidikan, telah banyak diutarakan, dan menurut

instruksi presiden No. 15 tahun 1974.

“Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia Indonesia, jasmani dan ohani, yang berlangsung seumur hidup, baik di dalam maupun di luar

Dengan memperhatikan pengertian pendidikan seperti yang

diutarakan tersebut maka dapat dikatakan bahwa peran pendidikan adalah

sebagai landasan untuk membentuk, mempersiapkan, membina dan

mengembangkan kemampuan sumber daya manusia yang sangat

(22)

Apabila dilihat dari pendekatan sistem, maka proses pendidikan

terdiri dari masukan (sarana pendidikan) dan keluar (perubahan perilaku),

secara faktor yang mempengaruhi proses pendidikan yang pada dasarnya

dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Perangkat lunak (software), yang mencakup antara lain: kurikulum, organisasi pendidikan, peraturan, metode belajar dan lainnya.

2. Perangkat keras (hardware), yaitu fasilitas yang mencakup gedung, perpustakaan, alat bantu peraga dan sebagainya.

(Bank dunia, 1980:32) mengutarakan bahwa keluaran

pendidikan adalah pencapaian prestasi belajar murid yang meliputi

pengetahuan, keterampilan, tingkah laku dan sikap yang dikur dengan

test,hasil ujian dan sebagainya.

(Beeby, 1996:23) mengatakan bahwa pendidikan mempunyai

kualitas tingkat bilamana keluaran pendidikan itu mempunyai nilai bagi

masyarakat yang memerlukan pendidikan itu. Kualitas disini adalah

keluaran pendidikan yang dikaitkan dengan kegunaan bagi masyarakat. Dengan menggunakan model kajian tersebut maka dapat dilihat

keseluruhan aspek yang terlibat dalam permasalahan kualitas ini.

ditetapkan. Standar tersebut sifatnya relatif. Kualitas proses pendidikan,

seperti siswa, pengajar, kurikulum, fasilitas pendidikan, manajemen,

(23)

Kualitas keluaran, menyangkut hasil proses system. Keluaran tiu

rendah atau tinggi mutunya bilamana di bawah atau di atas standar yang

telah ditetapkan. Bila mana standar itu memang ada, tercapainya

keluaran tidk hanya ditentukan oleh pihak peserta didik sebagai

masukan mentahnya (raw input). Untuk merubah masukan menjadi keluaran sebagaimana dikehendaki, ditentukan pula oleh proses. Di

dalam proses termasuk mencakup antara lain:

1. Bagaimana program pendidikan tersusun (kerangka acuan,

kurikulum, dan silabus, metode pemberian pelajar, sistem

pencatatan, pemantauan, pelaporan dan sebagainya)

2. Bagaimana pendayagunaan sarana dan prasarana, baik fisik maupun

nonfisik, manusia maupun nonmanusia, termasuk biaya, dan

sebagainya. Bagaimana sistem koordinasi untuk membina

keterpaduan, intergrasi dan singkronisasi (KIS) serta evaluasinya.

Di dalam masukan maupun keluaran (yaitu peserta didik) di

dalamnya termasuk pada:

a. Masuknya lingkungan atau environmental input. Baik fisik (lokasi

lingkungan alam dan sebagainya). Maupun nonfisik (landasan

falsafa, IPOLEKSOSBUD) dan sebagainya.

b. Masukan wahana atau insrtrumental input, termasuk peraturan

perundang-undangan (dan yang tertinggi sampai yang terendah).

Dengan penjelasan singkat tentang komponen dan sub

komponennya (masukan, proses dan keluaran) serta bagaimana

(24)

terpadu yang perlu diterapkan untuk mengupayakan keberhasilan misi

pendidikan.

Pendidikan sebagai totalitas interaksi manusia untuk

pengembangan manusia seutuhnya, dan pendidikan merupakan proses

yang terus menerus yang senangtiasa berkembang, dengan dihadapkan

pada masalah keterbatasan sumber. Oleh sebab itu, perlu diterapkan

suatu sistem manajemen yang memungkinkan keberhasilan misi

pendidikan.

Peserta pendidikan yang merupakan masukan, setelah

mengalami proses pendidikan dengan memanfaatkan tujuan pendidikan

yaitu:

”sumber daya dan kurikulum yang ada”, menghasilkan keluaran berupa kemampuan tertentu, sehingga dengan demikian dapat dikatakan

bahwa perubahan tingkah laku termasuk didalamnya: “Pengetahuan, sikap, tindakan, penampilan, dan sebagainya”.

Investasi sumber daya manusia tersebut demikian pentingnya,

sehingga dapat dikatakan bahwa apabila suatu organisasi ingin tumbuh

dan berkembang perlu melakukan investasi sumber daya manusia.

Wahana yang diakui paling efektif untuk memenuhi kebutuhan mental

spiritual, sepanjang tinjau dari segi pengembangan sumber daya

(25)

Pasal 1 undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang system

pendidikan nasional, khususnya yang berkenaan dengan sumber daya

menegaskan bahwa:

Sumber daya pendidikan adalah pendukung dan penunjang pelaksanaan pendidikan yang terwujud sebagai tenaga, dana, sarana dan prasarana yang tersedia atau diadakan dan didayagunakan oleh keluarga, masyrakat, peserta didik dan pemerintah.

Sumber tersebut tidak dengan sendirinya tersedia, bahkan

keadaanya sangat terbatas. oleh karena itu di perlukan kesepakatan

pendayagunaan sumber yang terbatas dalam rangka keberhasilan misi

pendidikan. selain melalui pendidikan formal, kinerja dan produktifitas

kerja dapat pula diwujudkan melalui program latihan dan

pengembangan.

Untuk lebih jelas perbedaan pengertian antara latihan dan

pengembangan, maka berikut ini pengertian latihan dan pengembangan.

Menurut instruksi presiden nomor 15 tahun 1974,yang disebut latihan:

Bagian dari pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperolah dan meningkatkan keterampilan diluar sistem pendidikan yang berlaku. Dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek dari pada teori. (BP3K, 1980 : 40).

Dengan demikian dapat diketahui bahwa pendidikan

(26)

umum. Sedangkan latihan tujuannya lebih mengutamakan hal yang

praktis yang menyangkut keterampilan kerja.

Beda pengertian antara lain dan pengembangan ini, oleh (Keith

Davis dan William B. Werther, Jr, 1982:74) dikemukakan bahwa:

Trainning prepares people to do present job and development prepares employees needed knowledge, skill and attitude”

Jadi beda latihan dan pengembangan pegawai terletak pada

jangka waktu pemanfaatan pegawai tersebut. Latihan bertujuan untuk

pegawai yang akan segera diberi tugas mengerjakan pekerjaan yang

telah ada dalam lembaga, sedangkan pengembangan diperlukan untuk

mempersiapkan pegawai mengerjakan pekerjaan di masa yang akan

datang. Tetapi baik latihan maupun pengembangan, keduanya

memberikan pengajaran dlam hal pengembangan sikap, pengetahuan

dan keterampilan.

(Michael J. Jucius, 1988:296) mengemukakan bahwa: “The term ‘training’ is used here to indicate any process by which the attitude, skill and abilities of employees to perform specific job are increased”.

Tujuan latihan tidak hanya untuk meningkatkan pengetahuan

dan keterampilan, tetapi juga untuk mengembangkan bakat.

2.5.2. Peran Pendidikan

Peran pendidikan adalah memberikan bimbingan, pengajaran

(27)

yang menjalankan roda organsasi mulai dari kelompok manajerial

sampai dengan petugas yang melaksanakan kegiatan yang bersifat

teknis operasional, mengharap dan bahkan menuntut kinerja dan

produktivitas yang tinggi. Sedangkan di lain pihak, pendidikan formal

yang telah ditempuh mertupakan modal yang penting, Karena dapat

menguasai suatu disiplin ilmu.

Pengalaman merupakan modal yang besar artinya dalam

menjalankan roda organisasi agar dapat lebih berhasil guna dan berdaya

guna. Akan tetapi karena salah satu ciri kehidupan modern adalah selalu

terjadinya perubahan secara cepat, maka deperlukan daya dinamika

yang tinggi dalam bentuk kemampuan untuk mengikuti perubahan dari

perkenbangan yang terjadi. Dengan demikian dapat diartikan bahwa

pengalaman yang telah dimiliki belum tentu selalu dapat digunakan

sebagai alat yang ampuh untuk melaksanakan tugas yang selalu

dipengaruhi oleh perubahan dan perkembangan yang mungkin terjadi. Dengan demikian majunya peradaban dan aspirasi manusia,

maka semakin diperlukan orang yang mempunyai pengetahuan dan

jumlah dan mutu yang semakin tinggi. Pengetahuan diterima dan

dihayati sebagai kekayaan yang sangat berharga dan produktif sebab

kinerja kinerga masa kini adalah kinerja yang didasarkan pada

pikiran/akal, bukan lagi pada tenaga. Mutu dan pemanfaatannya

merupakan indikasi yang penting dalam kaitannya dengan potensi suatu

organisasi.

2.6. Pegawai Negeri dan Penempatannya

Pengertian pegawai negeri yang terdapat dalam undang-undang

(28)

sebagai berikut: pegawai negeri adalah setiap warga negara Republik

Indonesia yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, diangkat oleh

pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau

diserahi tugas Negara lainnya,dan digaji berdasarkan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

Kalau memperhatikan rumusan diatas maka akan didapatkan 4 unsur

yang harus dipenuhi untuk dapat disebut pegawai negeri. empat unsur

tersebut adalah: (1) memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, (2) diangkat

oleh pejabat yang berwenang, (3) diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri

atas tugas negara lainnya, dan (4) digaji menurut peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

Unsur pertama telah diatur dalam pasal 17 ayat (2) Undang-Undang

nomor 43 tahun 1999, peraturan pemerintah nomor 6 tahun 1976 tentang

pengadaan pegawai negeri sipil dan pedoman pelaksanaannya Surat Edaran

Kepala BANK Nomor 12/SE/1976.

Unsur kedua telah diatur dalam pasal 1 ayat (2) Undang-Undang

Nomor 43 1999, Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 1975 tentang

wewenang pengangkatan. pemendahan dan pemberhentian pegawai negeri

sipil dan pedoman pelaksanaannya Surat Edaran Kepala BANK Nomor

12/SW/1975.

Unsur keempat telah diatur dalam undang-undang Nomor 7 Tahun

1977 tentang peraturan gaji pegawai negeri sipil dan pedoman

pelaksanaannya Surat Edaran Kepala BANK Nomor 12/SE/1977.

Sebenarnya pengertian pegawai negeri masih terdapat juga pada

peraturan perundang-undangan, dimana ruang lingkupnya lebih luas

dibanding dengan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor43 Tahun

(29)

terbatas terhadap hal-hal yang diatur dalam peraturan perundang-undangan

tersebut, diluar tetap berlaku pengertian pegawai menurut Undang-Undang

Nomor 43 Tahun 1999.

Selanjutnya siapa saja yang dapat dimasukkan dalam pengertian

pegawai negeri dapat dilihat pada pasal 2 undang-undang RI Nomor 43 tahun

1999 tentang perubahan atas undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang

pokok-pokok kepegawaian ditegaskan bahwa: (1) Pegawai Negeri terdiri atas:

a. Pegawai Negeri Sipil

b. Anggota Tentara Nasional Indonesia

c. Anggota Kepolosian Negara Republik Indonesia

(2) Pegawai Negeri Sipil sebagaimna dimaksud dalam ayat (1) huruf a, terdiri

di atas:

a. Pegawai Negeri Sipil

b. Pegawai Negeri Sipil Daerah

Adapun pengertian Pegawai Negeri Sipil Pusat menurut penjelasan

pasal 2 ayat (2) Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 mengungkapkan

bahwa yang dimaksud Pegawai Negeri Sipil Pusat adalah: Pegawai Negeri

Sipil yang gajinya dibebankan pada APBN (Anggaran Pendapatan dan

Belanja Negara) dan bekerja pada Departemen Lembaga Pemerintah Non

Departemen (LPND), kesekreteraiatan Lembaga Tertinggi/Tinggi Negara,

instansi pertikal di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota.

2.7. Pentingnya Pengawasan

Pengawasan dalam fungsi manajemen adalah suatu usaha untuk

memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana kegiatan

tersebut. Apabila terjadi penyimpangan dapat dicari di mana terjadinya

(30)

mengatasi penyimpangan tersebut. Di samping itu pengawasan mempunyai

tujuan seberapa jauh tingkat pencapaian atau tingkat penyelesaian dari

kegiatan sesuai dengan tujuan dan ditetapkan.

Menurut Kootz (196:77) pengwasan adalah pengukuran dan koreksi

terhadap kegiatan para bawahan untuk menjamin bahwa apa yang terlaksana

itu cocok dengan rencana. Pengawasan mengukur pelaksanaan kerja atau

prestasi dengan membandingkannya terhadap tujuan dan rencana,

memperlihatkan di mana ada penyimpangan tersebut, dimana menjamin

tercapainya rencana.

Pengawasan tidak dapat dilaksanakan dengan baik apabila tidak ada

penentuan tujuan yang jelas sebelumnya, sedangkan penentuan tujuan

dilaksanakan dalam kegiatan perencanaan, dengan demikian pengawasan

tidak dapat dilakukan dan tidak akan berjalan tanpa adanya perencanaan. Morcler dan Gitosodarma (1996:154) mengemukakan bahwa

“pengawasan merupakan suatu kegiatan yang menentukan standar kerja yang ditetapkan pada perencanaan, perencanaan system umpan balik (feed back)”.

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL

3.1

Kerangka Pikir

Kurikulum yang dimaksud di sini adalah kurikulum Sekolah

(31)

antara lain memuat: Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP), Petunjuk

Teknis dan Petunjuk Pelaksana. Kurikulum SMK tahun 2004, sebagaimana

telah diuraikan sebelumnya mengacu pada Competency Based Training

(CBT) atau yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

untuk Sekolah Menengah Atas (SMA).

Strategis. Dilihat dari rencana strategis (Renstra) Pendidikan

Menengah Kejuruan tahun 2001–2005 di dalamnya mencakup perencanaan,

pelaksanaan serta arah dan tujuan Sekolah Menengah Kejuruan, sebagai

lembaga pendidikan formal yang bertanggung jawab dalam menghasilkan

sumber daya manusia yang siap kerja dengan penguasaan keterampilan yang

unggul.

Manajeman Sekolah. Manajemen sekolah melibatkan semua unsur

yang terdiri dari manajemen puncak sampai pada level bawah. Sebagaimana

yang diuraikan dalam struktur organisasi.

Guru. Guru adalah seorang yang mempunyai kapasitas dan

kompetensi untuk mengtransfer ilmu pengetahuan tertentu sesuai dengan

bidang keguruan dan keahlian yang dimiliki kepada anak didik mulai dari

tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), jumlah dan mutu

yang semakin tinggi. Pengetahuan diterima dan dihayati sebagai kekayaan

yang sangat berharga dan produktif sebab kinerja masa kini adalah kinerja

yang didasarkan pada pikiran/akal, bukan lagi pada tenaga. Karena itu

(32)

merupakan indikasi yang penting dalam kaitannya dengan potensi suatu

organisasi.

Salah satu upaya untuk mencerdaskan dan meningkatkan keterampilan

(33)

Kerangka Pikiran

Gambar 3.1 Kerangka Pikir Manajemen

sekolah

 Pendidikan/Pelatihan  Perencanaan

 Pengorganisasian  Penempatan  Pengawasan

 Profesionalisme Guru

Guru

Nilai Siswa Strategi Pengembangan

(34)

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di SMK Negeri 2 Polewali, Jalan pameran lingkungan

batu–batu, kelurahan Darma, Kecamatan Polewali, Kabupeten Polewali

Mandar Sulawesi Barat, lokasi ini berada di sebelah utara Ibukota Polewali

kurang lebih 7 Km. lokasi ini dapat ditempuh dengan kendaraan umum dan

kendaraan pribadi, karena kondisi jalan beraspal dan sangat dekat jalan poros

Polewali Mamasa.

Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih 3 (tiga) bulan terhitung

sejak penulis terjun ke lapangan.

4.2 Jenis Penelitian

Dalam peneliti ini, digunakan metode survey yaitu penelitian yang

memuat fakta-fakta dari segala yang ada dan mencari keterangan-keterangan

secara faktual di lapangan untuk menjawab permasalahan yang diteliti.

4.3 Variabel Penelitian

Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yakni variabel bebas

(dependent variable), yang meliputi: pendidikan/latihan (X1), perencanaan

(X2), pengorganisasian (X3), dan pengawasan pegawai (X5) serta

profesionalisme guru (X6), sedangkan variabel tidak bebas (independent

variable), yaitu strategi pengembangan guru di Sekolah Menengah Kejuruan

(SMK) Negeri 2 Polewali di kabupaten Polewali Mandar.

(35)

4.4 Populasi dan Sampel

Arikunto dalam bukunya (1996:115) menyatakan bahwa populasi

adalah keseluruhan onyek penelitian. Berdasarkan pengertian ini, maka

populasi penelitian ini adalah guru pada sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Negeri 2 Polewali. Penyebaran populasi dapat dilihat pada table sebagai

Berdasarkan karakteristik populasi tersebut, maka pengambilan

sample dilakukan dengan teknik purposive samping dengan kriteria:

1. Guru senior dalam kelompok mata diklat Normatif, yaitu guru Agama

Islam, Sejarah, Bahasa Indonesia dan Kewarganegaraan.

2. Guru senior dalam kelompok mata diklat Adaptif, yaitu guru Matematika,

Bahasa Inggris dan Kewirausahaan.

3. Guru senior dalam kelompok mata diklat Produktif, yaitu Guru praktik

dalam program diklat Animasi dan Tata Boga.

Berdasarkan sampel penelitian ini dapat dilihat dalam table berikut:

Tabel 4.2. Sampel Penelitian

NO GOLONGAN PRIA WANITA JUMLAH

(36)

2 Golongan III 1 1 2

3 Golongan II 1 - 1

4 Honorer 5 10 15

JUMLAH 9 13 22

Sumber : Kantor SMK Negeri 2 Polewali

Jadi besarnya sampel penelitian ini adalah mewakili populasi pada

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) negeri 2 Polewali Kabupaten Polewali

Mandar.

4.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

teknik angket (questioner) dan wawancara.

Teknik angket digunakan untuk mengumpulkan data tentang

variabel-variabel yang akan diukur. Angket ini akan disebar/dibagikan kepada Guru

pada sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Polewali yang terpilih

sebagai sampel. Sedangkan teknik wawancara dilakukan untuk mendukung

data dari hasil angket yang telah dibagikan. 1. Kuesioner (Angket)

Penulis membagikan beberapa daftar pertanyaan secara terstruktur kepada

responden sehingga diperoleh informasi yang lebih akurat. Daftar

pertanyaan ini mengacu pada variabel dan indikator-indikator variabel

dalam penelitian ini. 2. Interview (Wawancara)

Yaitu melakukan Tanya jawab secara mendalam kepada beberapa orang

responden/informasi sehingga diperoleh data yang lebih komprehesif.

4.6 Teknik analisis Data

Analisa data diperoleh dengan menggunakan analisis statistik

(37)

Dalam menganalisis data digunakan instrument untuk mengukur

perencanaan, pengorganisasian, penempatan, dan pengawasan pegawai yang

disusun berdasarkan skala linkert. Instrument tersebut berbentuk pertanyaan

dengan empat alternatif pilihan yang diberikan bobot 4, 3, 2, 1 (dihitung

berdasarkan bobot pilihan yang dipilih).

Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan mendeskripsikan semua

data dari semua variabel dalam bentuk distribusi frekuensi yang disajikan

dalam bentuk tabulasi silang.

4.7 Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan jenis dan sumber data sebagai berikut: 1. Jenis data

a. Data Primer

Yaitu yang diperoleh secara langsung secara langsung dari responden

melalui kuesioner dan wawancara. b. Data Sekunder

Adalah data yang diperoleh dan diolah dari dokumen atau sumber lain

yang tidak secara langsung namun berkaitan erat datanya dengan materi

pembahasan tulisan. 2. Sumber data

Sumber data dapat diperoleh secara langsung dari objek dan sumber data

melalui wawancara atau menggunakan kuesioner.

Kemudian dapat pula diperoleh melalui instansi terkait pada tingkat

provinsi yang berhubungan dengan penelitian ini dan dianggap perlu,

institusi tersebut antara lain Dinas Pendidikan Nasional TK. 1, Laporan

(38)

3. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah seluruh guru di Sekolah Menengah Kejuruan

(SMK) Negeri 2 Polewali yang berjumlah 22 orang yang dipilih

berdasarkan fokus penelitian yang kriteria: 1. Bidang studi yang diajarkan

2. Strata pendidikan.

Gambar

Gambar 3.1 Kerangka Pikir
Tabel 4.1.Populasi berdasarkan Golongan dan Jenis Kelamin

Referensi

Dokumen terkait

• Pasal 21, atas penghasilan yang diterima wajib pajak orang pribadi dalam negeri sebagai imbalan yang diberikan oleh badan/instansi pemerintah, rumah sakit, dan pihak

- Membuat power point dengan mencari gambar rumah, dengan penggunaan listrik ada yang berlebihan dan tidak serta tagihan listrik. - Mencari video lagu hemat listrik. -

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan judul

Data Primer Data yang diperoleh langsung dari Dosen STAI DDI Polewali Mandar melalui observasi, Kuesioner berkaitan dengan masalah penelitian yaitu tentang

Dapat dikatakan bahwa ATP (Ability to Pay) sopir angkot dalam studi pendahuluan sudah tinggi sehingga sesuai untuk membayar iuran jaminan kesehatan sedangkan untuk WTP

Konflik tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, selama manusia masih membutuhkan orang lain selama itu pula konflik akan timbul. Di Indonesia khususnya pada masa peralihan

Dari peta kendali tersebut, terlihat bahwa tidak ada pengamatan yang berada di luar batas kendali sehingga dapat dikatakan bahwa jenis cacat crack telah terkendali.. Gambar 7

Biasanya penggunaan bentuk normal(normalisasi) hanya sampai pada bentuk ketiga, dan tabel yang dihasilkan telah memiliki kualitas untuk membentuk sebuah database yang