• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DENGUE HE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DENGUE HE"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Penyakit 1. Pengertian

Dengue Hemorragic Fever (DHF) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang termasuk golongan Arbovirus melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti betina (Hidayat,2006). Dengue Hemorragic Fever merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus (arthopodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes albopictus dan Aedes Aegypti) (Ngastiyah, 2005)

(2)

Dari beberapa pengertian diatas bahwa Dengue Hemorragic Fever (DHF) adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti yang ditandai dengan demam tinggi, nyeri otot dan sendi syok serta dapat menimbulkan kematian.

2. Etiologi

Dengue Hemorragic Fever disebabkan oleh virus dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Dengue Hemorragic Fever ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk aedes yang terinfeksi virus dengue (Depkes, 2011). Virus dengue ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti yang menggigit pada siang hari, vektor utama kebanyakan pada daerah tropis, vector nyamuk aedes aegypti berkembang biak pada penyimpanan air minum atau air hujan yang terkumpul pada berbagai wadah. Virus dengue telah juga ditemukan dari aedes albopictus, dan wabah di daerah pasifik telah di anggap berasal dari beberapa spesies aedes lain. Spesies ini berkembang biak di air yang terperangkap pada vegetasi. Di Asia Tenggara dan Afrika Barat, penularan Dengue Hemorragic Fever mungkin ditularkan dalam siklus yang melibatkan kera hutan pemakan kopi dan spesies Aedes. (Nelson, 2012).

(3)

terjadinya hal ini belum jelas,kemungkinan terdapat beberapa mekanisme yang terlibat dan berjalan secara bersamaan. (Garna, 2012). Terdapat empat serotipe virus yang disebut DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Ke empat serotipe virus ini telah ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus dengue berat dan merupakan serotipe yang paling luas distribusinya disusul oleh dengue-2, dengue-1 dan dengue -4 (Depkes, 2011).

3. Anatomi Fisiologi

Sistem hematologi tersusun atas darah dan tempat darah diproduksi termasuk sumsum tulang dan nodus limfa. Darah merupakan organ berbentuk cairan homogen yang tampak seperti sirup yang berwarna gelap. Warna darah ditentukan oleh hemoglobin yang terkandung dalam sel darah merah. Volume darah manusia adalah 7-10% / berat badan normal atau sekitar 5 liter. Komposisi darah tersusun atas 2 bagian, yaitu:

a. Partikel tersuspensi/komponen sel-sel darah merah, sel darah putih, trombosit, platelet → 45%

b. Partikel pensuspensi: plasma darah → 55% adalah hematokrit: prosentase volume total darah yang ditempati oleh eritrosit. (handayani,2008)

(4)

a) Transportasi internal, pada metabolisme:

 Respirasi: O2 dan CO2 dibawa oleh molekul Hb dalam eritrosis dan plasing

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

 Nutrisi: nutrisi diserap dari usus, dibawa plasma ke hati dan jaringan tubuh lainnya.

 Ekskresi: sisa metabolisme dibawa plasma ke hati dan jaringan tubuh lain.

 Keseimbangan air, elektrolit dan asam basa melalui pertukaran zat-zat dalam jaringan.

 Pengaturan metabolisme: hormon dan enzim yang berperan dalam metabolisme dibawa oleh plasma.

b) Pertahanan/perlawanan terhadap infeksi : sel darah putih. c) Perlindungan terhadap pendarahan.

d) Mempertahankan suhu tubuh normal: darah membawa panas dan beredar sampai perifer tubuh yang memungkinkan pertukaran pada tubuh dan lingkungan. (Handayani, 2008).

2) Plasma darah

(5)

Komposisinya: 90% adalah air, 0,9% ion anorganik, 8% protein dan 1,1 substansi organik Plasama darah Membentuk 20% cairan ekstrase tubuh yang mengandung zat-zat sama dengan cairan intertisial. Di dalam plasma darah terdapat protein yang ada dalam plasma yaitu :

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/ a) Albumin : berfungsi mempertahankan tekanan osmotik darah

dan mengatur keseimbangan air dalam tubuh. b) Filobulin : berfungsi dalam pertahanan tubuh melawan infeksi

dan transportasi lipid, stroid dan hormon. c) Fibrinogen : blood dothing

d) Ion anorganik disebut elektrolit: sodium (Na+), portasium (K+), kalsium (Ca++), clorida (Cl-), hydrocarbonat (HCO3).

e) Zat organik : glukosa, urea, asam urat.(Handayani, 2008).

3) Sel darah merah

(6)

pigmen protein berwarna merah yang terdapat dalam sel darah merah berfungsi:

a) Pengangkutan oksigen dari paru-paru ke jaringan. b) Sistesa Hb pada saat eritropoesis.

c) Membentuk struktur molekul (hameoglobulin).

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/ Setiap molekul Hb dapat mengikat 4 unit O2 tiap gram Hb dapat mengikat 1,3 ml O2 atau 50 ml O2 tiap 100 ml darah. Pengaturan eritropoesis: distimulasi oleh penurunan pengiriman oksigen ke ginjal yang merangsang ginjal mengeluarkan hormon eritropoetin ke dalam darah. Eritropoetin merangsang eritropoesis dengan merangsang proliperans dan pematangan sel darah merah.Zat yang diperlukan untuk proses eritropoesis:

(1) Vitamin B12 : sintesa DNA (2) Asam folat : pembentukan DNA

(3) Zat besi : pembentukan haemoglobin.

(Handayani, 2008) 4) Leukosit

(7)

membersihkan campak/ debris yang berasal dari sel mati atau cedera, jumlah SDP : 5.000-10.000/mm3

(1) Jenis:

 Granulosit

o Neutrofil: fungsi menentukan bakteri dan melakukan pembersihan debris.

o Basofil: fungsi membentuk dan menyimpan histamin dan heparin

o Eusinofil: reaksi alergi dan investasi parasir.  Agranulosit

o Monosit: fagositosit aktif

o Limfosit : L-B : menghasilkan antibodi L-T : menghancurkan sel sasaran

o Usia 100-300 hari meningkat pada saat inpeksi kronis. (Handayani, 2008)

5) Trombosit

Merupakan sel darah terkecil, tidak berwarna dan tidak berinti, berasal dari fragmen megakariotid jumlah (50.000-350.000/mm3). Usia 20 hari. (Handayani, 2008).

(8)

Virus dengue yang telah masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk selanjutnya beredar dalam sirkulasi darah selama periode sampai timbul gejala demam. Periode ini dimana virus beredar didalam sirkulasi darah manusia disebut fase viremia.(Djunaedi, 2006). Hal tersebut menyebabkan pengaktifan komplement sehingga terjadi komplek imun antibodi – virus. Pengaktifan tersebut akan membentuk dan melepaskan zat (3a, C5a, bradikinin, serotinin, trombin, histamin), yang akan merangsang PGE2 di hipotalamus sehingga terjadi termoregulasi

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/ instabil yaitu hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga terjadi hipovolemi. Hipovolemi juga dapat disebabkan peningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah menyebabkan kebocoran plasma. Adanya komplek imun antibodi – virus juga menimbulkan agregasi trombosit sehingga terjadi gangguan fungsi trombosit, trombositopeni, koagulopati. Ketiga hal tersebut menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi syok dan jika syok tidak teratasi terjadi hipoksia jaringan dan akhirnya terjadi asidosis metabolik. Asidosis metabolik juga disebabkan karena kebocoran plasma yang akhirnya tejadi perlemahan sirkulasi sistemik sehingga perfusi jaringan menurun jika tidak teratasi terjadi hipoksia jaringan.(Suriadi, 2010).

(9)

Merangsang pengeluarkan zat dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan tubuh manusia sebagai reaksi terhadap infeksi dan terjadi :

a. aktivasi system komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktosin yang menyebabkan peningkatan permiabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskular ke ekstravaskular.

b. agregasi trombosit menurun, apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibatnya akan terjadi mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang dan

c. kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor pembekuan.(Suriadi, 2010)

(10)

Berdasarkan WHO (World Health Organization), Dengue Hemorragic Fever dibagi menjadi 4 derajat sebagai berikut :

a. Derajat I

Adanya demam tanpa perdarahan spontan, manifestasi perdarahan hanya berupa torniket tes yang positif.

b. Derajat II

Seperti derajat I disertai perdarahan spontan di kulit dan perdarahan lain.

c. Derajat III

Ditemukan kegagalan sirkulasi darah dengan adanya nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun ( kurang dari 20 mmHg) atau hipotensi disertai kulit yang dingin dan lembab, gelisah ( tanda – tanda awal renjatan).

d. Derajat IV

Renjatan berat dengan nadi tak teraba dan tekanan darah yang tidak dapat diukur (Ngastiyah, 2005).

(11)

5. Manifestasi Klinis

.Manifestasi klinis untuk diagnosis Dengue Hemorragic Fever menurut patokan WHO,1995 (Ngastiyah,2005) Demam tinggi mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari (tanpa sebab jelas). Manifestasi perdarahan, paling tidak terdapat uji torniquet positif dan adanya salah satu bentuk perdarahan yang lain misalnya petekie, ekimosis, epitaksis, perdarahan gusi, melena, atau hematemesis, pembesaran hati (sudah dapat diraba sejak permulaan sakit), syok yang ditandai nadi lemah, cepat, disertai tekanan darah yang menurun (menjadi 20mmHg atau

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/ kurang), tekanan darah menurun (tekanan sistolik menurun sampai 80mmHg atau kurang) disertai kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki, pasien menjadi gelisah, timbul sianosis di sekitar mulut.Sedangkan Manifestasi klinis anak dengan Dengue Hemorragic Fever menurut Depkes (2011) pada umumnya disertai Gejala sebagai berikut:

a. Hari pertama sakit: panas mendadak terus-menerus, badan lemah/lesu. Pada tahap ini sulit dibedakan dengan penyakit lain

(12)

kulit diregangkan; bila hilang bukan tanda penyakit demam berdarah dengue.

c. Antara hari ketiga sampai ketujuh, panas turun secara tiba-tiba. Kemungkinan yang selanjutnya:

1) Penderita sembuh, atau

2) Keadaan memburuk yang ditandai dengan gelisah, ujung tangan dan kaki dingin, banyak mengeluarkan keringat.

Bila keadaan berlanjut, terjadi renjatan(lemah lunglai, denyut nadi lemah atau tak teraba). Kadang-Kadang Kesadarannya menurun JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

6. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit Dengue Hemorragic Fever antara lain :

a. Perdarahan

Perdarahan mudah terjadi pada tempat fungsi vena, ptekie dan purpura, selain itu juga dapat dijumpai epistaksis dan perdarahan gusi, hematoma dan melena.

(13)

Bila terjadi peningkatan dari hepatomegaly dan hati teraba kenyal, harus diperhatikan kemungkinan akan terjadinya renjatan pada penderita. c. Renjatan (syok)

Syok biasanya dimulai dengan tanda – tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit kembab, dingin pada ujung hidung, ari tangan dan jari kaki serta sianosis di sekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka biasanya menunjukan prognosis buruk (Smeltzer 2011).

7. Penularan Dengue Hemorragic Fever

(14)

mengisap virus dengue itu menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menusuk/mengigit, sebelum mengisap darah akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya (proboscis) agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain (Siregar, 2006).

8. Pencegahan Dengue Hemorragic Fever

9. JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/ JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

Pencegahan dan penanggulangan penyakit Dengue Hemorragic Fever yang dilaksanakan oleh masyarakat di rumah dan Tempat umum menurut (Depkes, 2011) dengan yaitu dengan melakukan Pemberantasan sarang Nyamuk (PSN) yang meliputi:

a. menguras tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali, atau menutupnya rapat-rapat.

b. Mengubur barang bekas yang dapat menampung air c. Menaburkan racun pembasmi jentik (abatisasi) d. Memelihara ikan

(15)

Menurut Sudoyo (2007) untuk menegakan diagnose Dengue Hemorragic Fever perlu dilakukan berbagai pemeriksaan labolatorium antara lain sebagai berikut :

a. Trombosit : umumnya terjadi trombositopenia pada hari 3 – 8 ( normal trombosit 150.000 – 350.000 U/L)

b. Leukosit : mulai hari ketiga dapat ditemui limfositosis relatif (>45% dari total leukosit) disertai adanya limfosit plasma biru (LPB) > 15% dari jumlah total leukosit (normal leukosit 4000 – 9000 U/L)

c. Hematokrit : terjadi peningkatan hematokrit ≥ 20% hematokrit awal. ( normal hematokrit 33 – 45 Gr%)

d. Hemoglobin meningkat > 20 %. (normal hemoglobin 12 – 16 Gr/dl) e. Protein/ albumin : dapat terjadi hipoproteinemia akibat kebocoran

plasma, dan biasanya ditemukan adanya hiponatremia, hipokalsimia. (normal albumin 3,5 – 5,0 gram).

f. SGOT/SGPT : dapat meningkat. (normal SGOT P : <31 U/L 37 % L : <34 U/L/37%)

g. Imunoserologi : IgM dan IgG terhadap dengue.

1) IgM : terdeteksi mulai hari ke 3 – 5, meningkat sampai minggu ke- 3, dan menghilang setelah 60 – 90 hari.

2) IgG : pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke – 14, pada infeksi sekunder, IgG mulai terdeeksi pada hari ke-2.

(16)

a. Penatalaksanaan keperawatan mandiri

Penatalaksanaan penderita dengan Dengue Hemorragic Fever menurut (Ngastiyah,2005) adalah :

1) Tirah baring atau istirahat baring. 2) Diet makan lunak

3) Minum banyak ( 2 – 2,5 liter/24 jam ) dapat berupa : susu, the manis, sirup dan beri penderita sedikit oralit.

4) Monitor tanda – tanda pendarahan lebih lanjut.

5) Monitor tanda – tanda vital setiap 3 jam ( suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.

6) Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, Nacl) merupakan cairan yang paling sering digunakan periksa Hb, Ht dan tombosit setiap hari.

7) Pemberian antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen. 8) Pemberian antibiotik bila terdapat tanda – tanda infeksi sekunder. 9) Monitor tanda – tanda renjatan (syok).

10) Bila timbul kejang dapat diberikan diazepam.

(17)

b. Penatalaksanaan medis

Penatalaksanaan untuk klien dengan Dengue Hemorragic Fever adalah penanganan pada derajat I hingga derajat IV (Hidayat, 2008).

1) Derajat I dan II

(1) Pemberian cairan yang cukup dengan infus ringer laktat (ringer laktat) dengan dosis 75 ml/kgBB/hari untuk anak dengan berat badan kurang dari 10kg atau bersama diberikan oralit, air, buah, atau susu secukupnya, atau pemberian cairan dalam waktu 24 jam antara lain sebagai berikut :

 100ml/kgBB/24 jam untuk anak dengan BB < 25kg.  75 ml/kgBB/24 jam untuk anak dengan BB < 26-30kg.  60 ml/kgBB/24 jam untuk anak dengan BB < 31-40kg.  50 ml/kgBB/24 jam untuk anak dengan BB < 41-50kg. (2) Pemberian antibiotik apabila adanya infeksi sekunder. (3) Pemberian antipiretik untuk menurunkan panas.

(4) Apabila ada perdarahan hebat maka berikan darah 15cc/kgBB/hari.

2) Derajat III

(18)

stabil lanjutkan jumlah cairan berdasarkan kebutuhan dalam waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dengan perhitungan sebagai berikut :

 100ml/kgBB/24 jam untuk anak dengan BB < 25kg.  75 ml/kgBB/24 jam untuk anak dengan BB < 26-30kg.  60 ml/kgBB/24 jam untuk anak dengan BB < 31-40kg. (2) Pemberian plasma atau plasma ekspander (dextran L atau

lainya) sebanyak 10 ml/ kgBB/jam dapat diulang maksimal 30 ml/kgBb dalam 24 jam, apabila setelah satu jam pemakaian ringer laktat 20 ml/kgBB/jam keadaan takanan darah kurang dari 80 mmHg dan nadi lemah, maka berikan cairan yang cukup berupa infus ringer laktat dengan dosis 20 ml/kgBB/, jika baik lanjutkan ringer laktat sebagaimana perhitungan di atas.

(19)

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

3) Derajat IV

(1) Pemberian cairan cukup dengan infus ringer laktat dosis 30 ml/kgBB/jam, apabila keadaan tekanan darah baik, lanjutkan ringer laktat sebanyak 10 ml/kgBb/jam, sebagaimana perhitungan di atas.

(2) Apabila keadaan tensi memburuk maka harus dipasang dua saluran infus dengan tujuan satu untuk ringer laktat 10 ml/kgBb/1jam dan satunya pemberian plasma ekspander (dextran L) sebanyak 20 ml/kgBb/jam selama 1 jam, jika membaik lanjutkan ringer laktat sebagaimana perhitungan diatas.

(3) Apabila keadaan masih juga buruk, maka berikan plasma ekspander 20 ml/kgBb/jam, jika membaik lanjutkan ringer laktat sesusai perhitungan di atas.

(20)

(5) Jika setelah dua jam pemberian plasma dan ringer laktat tidak menunjukkan perbaikan, maka konsultasikan ke bagian anastesi untuk perlu tidaknya dipasang Central Vascular Pressure (CVP).

B. Asuhan Keperawatan 1. Proses Keperawatan

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan terhadap klien anak dengan Dengue Hemorragic Fever, perawat memandang klien sebagai individu yang utuh yang terdiri dari bio, psiko, sosial, dan spiritual, yang mempunyai kebutuhan sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Menurut Tailor C., Lilis C., Lemone P, proses keperawatan adalah metode sistematik dimana secara langsung perawat bersama klien secara bersama menentukan masalah keperawatan sehingga membutuhkan asuhan keperawatan, membuat perencanaan dan rencana implementasi, serta mengevaluasi hasil asuhan keperawatan. Berikut konsep keperawatan anak pada klien dengan Dengue Hemorragic Fever menurut Ngastiyah (2005) yaitu :

d. Pengkajian fokus

1) Identitas pasien

(21)

alamat, pendidikan, nama orang tua, pendidikan orang tua, dan pekerjaan orang tua.

2) Keluhan utama

Alasan atau keluhan yang menonjol pada pasien Dengue Hemorragic Fever datang ke rumah sakit adalah panas tinggi dan pasien lemah.

3) Riwayat penyakit sekarang

Didapatkan adanya keluhan panas mendadak dengan disertai menggigil dan saat demam kesadaran kompos mentis. Panas turun terjadi antara hari ke-3 dan ke-7, dan anak semakin lemah. Kadang-kadang disertai keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah, anoreksia, diare atau konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade III, IV), melena atau hematemasis.

4) Riwayat penyakit yang

pernah diderita

Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada Dengue Hemorragic Fever, anak biasanya mengalami serangan ulangan Dengue Hemorragic Fever dengan type virus yang lain.

(22)

Apabila anak mempunyai kekebalan yang baik, maka kemumgkinan akan timbulnya komplikasi dapat dihindarkan.

6) Riwayat gizi

Status gizi anak dengan Dengue Hemorragic Fever bervariasi. anak dengan status gizi baik maupun buruk dapat berisiko. Anak yang menderita Dengue Hemorragic Fever sering mengalami keluhan mual, muntah,dan nafsu akan menurun. Apabila kondisi ini berlanjut dan tidak disertai pemenuhan nutrisi yang mencukupi, maka anak dapat mengalami penurunan berat badan sehingga status gizinya menjadi kurang.

7) Pola kebiasaan

(23)

nyamuk aedes aegypti. Perilaku dan tanggapan bila ada keluarga yang sakit serta upa untuk menjaga kesehatan.

8) Pemeriksaan fisik

Meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berdasarkan tingkatan grade Dengue Hemorragic Fever, keadaan fisik anak adalah :

a) Kesadaran : Apatis

b) Vital sign : TD : 110/70 mmHg, N : 70 -160 Rr: 21 – 30 kali/menit, S: 36,5 – 37,5oC

c) Kulit

Inspeksi : warna kulit kuning langsat, tidak sianosis, keadaan lembab, akral hangat, tekstur halus, Tidak ada tanda – tanda alergi seperti gatal-gatal pada kulit dan kemerahan. Palpasi : tidak terdapat edema, turgor kulit tidak elastis.

(24)

Periksa hygiene kulit kepala akan adanya lesi, trauma, kehilangan rambut, perubahan warna.

e) Mata :Inspeksi penempatan dan kesejajaran antar kedua mata. Bila abnormalitas dicurigasi, ukur jarak kedua kantus bagian dalam (+ 3 cm). Observasi adanya kelebihan lipatan epikantus dari atap hidung sampai terminasi dalam alis mata (sering ada anak asia) Observasi penempatan, gerakan dan warna kelopak mata inspeksi konjungtiva , palpebra.

f) Telinga :Inspeksi penempatan dan kesejajaran Perhatikan adanya lubang abnormal, penebalan kulit, atau sinus. Inspeksi higiene telinga (bau, rabas, warna)

g) Mulut :Inspeksi : bibir: perhatikan warna, tekstur dan lesi sebelumnya. Observasi membran mukosa: merah muda terang, berkulaiu, halus, sama, dan lembab. Ginggiva: kuat, merah muda, kekuningan, berbintik-bintik.Gigi: jumlah sesuai dengan usia, putih, oklusi rahang atas dan bawah baik. Lidah: tekstur kasar, dapat bergerak bebas, ujung dapat mencapai bibir, tidak ada lesi atau massa dibawah lidah. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kekakuan leher tidak ada, nyeri telan

(25)
(26)

dada simetris. Auskultasi bunyi jantung Dengarkan dengan anak dalam posisi duduk dan bersandar Gunakan stetoskop bagian diafragma dan bel dada. Kaji kualitas (jelas dan jernih), intensitas (kuat tetapi tidak mantap), frekuensi (sama dengan nadi radialis), irama (teratur dan datar). Area aortik: ruang intercosta ke-2 dekstra para sternal. S2 terdengar lebih keras dari S1.

(27)

j) Genetalia : Inspeksi : labia mayora dan minora tanda – tanda peradangan, hygine, Labia: palpasi adanya massa Labia mayora: dua lipatan tebal kulit membentuk mons pada komisura posterior, permukaan dalam merah muda dan lembab. Labia minora: dua lipatan kulit interior pada labia mayora, biasanya dapat dilihat sampai pubertas, menonjol apda bayi baru lahir. JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

2. Diagnosa Keperawatan

Menurut nanda, (2009 – 2011 ) ada beberapa diagnosa yang ditemukan pada pasien anak dengan diangnosa Dengue Hemorragic Fever, yaitu :

a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (viremia). b. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.

c. Ketidakseimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mencerna makanan : mual, muntah , anoreksia.

d. Resiko / aktual kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas pembuluh darah.

e. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan hipovolemia.

(28)

h. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (pemasangan infus). i. Resiko perdarahan berhubungan dengan koagulopati inheren:

trombositopenia, trauma.

j. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif, salah interpretasi informasi, kurang pajanan

Beberapa diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien dengan Dengue Hemorragic Fever menurut Suriadi & Yuliani (2010) yaitu

a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue (viremia). b. Risiko tinggi kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan

peningkatan permeabilitas kapiler, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.

c. Risiko perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan.

d. Risiko pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual, muntah dan tidak nafsu makan.

e. Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit, prognosis, efek prosedur, dan perawatan anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan minimnya sumber informasi dan mengingat informasi

(29)

3. Rencana Keperawatan

Rencana Keperawatan pada pasien anak dengan diagnosa medis Dengue Hemorragic Fever menurut Nanda (2009 – 2011), yaitu :

a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (viremia).

Kriteria evaluasi ( NOC ) :

 Mendemonstrasikan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan.  Tidak mengalami komplikasi yang berhubungan.

Intervensi Rasional : 1) Monitor suhu pasien.

Rasionnal : pola demam dapat membantu dalam diagnosis; kurva demam lanjut lebih dari 4 hari menunjukan infeksi yang lain.

2) Anjurkan pasien untuk banyak minum ( lebih kurang 2,5 liter/24 jam ). Rasional : peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak. 3) Berikan kompres hangat.

Rasional : dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang mempercepat penurunan suhu tubuh.

(30)

Kolaborasi :

5) Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter. Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi. 6) Berikan antipiretik.

Rasional : digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.

b. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit. Kriteria evaluasi ( NOC ) :

 Mengatakan nyeri hilang atau terkontrol.

 Menunjukan relaksasi, dapat tidur atau istirahat.  Menunjukan perilaku mengurangi nyeri.

Intervensi Rasional

1) Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien

Rasional :untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien. 2) Berikan posisi yang nyaman, usahakan situasi ruangan yang tenang.

Rasional : posisi nyaman dan lingkungan tenang mengurangi rasa nyeri. 3) Berikan tindakan kenyamanan seperti perubahan posisi dan dorong

(31)

Rasional : menurunkan tegangan otot, meningkatkan istirahat dan relaksasi, memusatkan perhatian, dapat meningkatkan kontrol dan kemampuan koping.

Kolaborasi :

4) Berikan obat-obat analgetik

Rasional : analgetik dapat menekan atau mengurangi nyeri pasien.

c. Ketidak seimbangan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan untuk mencerna makanan : mual, muntah, anoreksia.

Kriteria evaluasi ( NOC ) :

 Mempertahankan berat badan dan keseimbangan nitrogen positif.  Menunjukkan perilaku untuk meningkatkan/ mempertahankan berat

badan yang sesuai Intervensi Rasional :

1) Kaji keluhan mual, sakit menelan,

Rasional : untuk menetapkan cara dan muntah yang dialami pasien mengatasinya.

2) Berikan makanan yang mudah ditelan seperti bubur.

(32)

3) Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering. Rasional : untuk menghindari mual.

4) Catat jumlah / porsi makanan yang dihabiskan oleh pasien setiap hari. Rasional : untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi.

Kolaborasi :

5) Berikan obat-obatan antiemetic sesuai program dokter.

Rasional : antiemetik membantu pasien mengurangi rasa mual dan muntah dan meningkatkan toleransi pada makanan.

6) Antasida, contoh Mylanta.

Rasional : kerja pada asam gaster, dapat menurunkan iritasi/ resiko perdarahan

7) Vitamin, contoh B komplek, C, tambahan diet lain sesuai indikasi

Rasional:Memperbaiki kekurangan dan membantu proses penyembuhan. JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

d. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, perdarahan.

Kriteria evaluasi (NOC ) :

(33)

Intervensi rasional :

1) Kaji keadaan umum pasien (lemah,pucat, takikardi) serta tanda-tanda vital. Rasional:menetapkan data dasar pasien untuk mengetahui penyimpangan dari keadaan normal.

2) Observasi tanda-tanda syok.

Rasional : agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok. 3) Anjurkan pasien untuk banyak minum.

Rasional : asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan tubuh.

4) Catat intake dan output cairan.

Rasional : untuk mengetahui keseimbangan cairan. 5) Palpasi nadi perifer, capilary refill,

Rasional : kondisi yang berkontribusi dalam temperatur kulit, kaji kesadaran, tanda perdarahan. kekurangan cairan ekstraselular yang dapat menyebabkan kolaps pada sirkulasi/ syok.

6) Monitor adanya nyeri dada tiba - tiba, dispnea, sianosis, kecemasan yang meningkat, kurang istirahat.

Rasional : hemokonsentrasi dan peningkatan platelet agregrasi dapat mengakibatkan pembentukan emboli sistemik.

(34)

Rasional : kegagalan refleks menelan, anoreksia, tidak nyaman dimulut, perubahan tingkat kesadaran merupakan faktor yang mempengaruhi kemampuan klien untuk mengganti cairan oral.

Kolaborasi :

8) Berikan cairan intravena sesuai program dokter : NaCl 0,45%, RL solution. Rasional : hipotonik solution ( NaCl 0,45% ) digunakan untuk memenuhi kebutuhan elektrolit.

9) Koloid : dextran, plasma/albumin, hespan.

Rasional : koreksi defisit konsentrasi protein plasma, meningkatkan tekanan osmotik intravaskular, dan memfasilitasi kembalinya cairan kedalam kompartemen pembuluh darah.

10) Tranfusi Whole blood / tranfusi PRC

Rasional : mengindikasikan hypovolemia yang berhubungan dengan kehilangan darah aktif.

11) Plasma beku segar ( FFP ).

Rasional : mungkin diperlukan untuk menggantikan faktor pembekuan pada adanya defek koagulasi.

12) Berikan sodium bicarbonat jika diindikasikan.

Rasional : diberikan untuk koreksi asidosis berat saat koreksi keseimbangan cairan.

(35)

Rasaional : penambahan penggantian cairan dan nutrisi ketika terjadi gangguan menelan.

14) Monitor nilai laboratorium : Hb, Ht, trombosit, elektrolit,koagulasi.

Rasional : bergantung pada kehilangan cairan vena, ketidakseimbangan elektrolit memerlukan koreksi, peningkatan Ht, penurunan trombosit meningkatkan resiko perdarahan.

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

e. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan hipovolemia.

Kriteria evaluasi (NOC) :

 Mempertahankan/ memperbaiki perfusi jaringan dengan bukti tanda vital stabil, kulit hangat, nadi perifer teraba, AGD dalam batas normal, kesadaran normal, keluaran urine adekuat.

Intervensi rasional :

1) Pantau tanda-tanda vital; palpasi denyut nadi perifer; catat suhu/ warna kulit dan pengisian kapiler; evaluasi waktu dan pengeluaran urine.

(36)

2) Kaji adanya perubahan tingkat kesadaran , keluhan pusing atau sakit kepala.

Rasional : perubahan dapat menunjukkan ketidakadekuatan perfusi serebral.

3) Auskultasi nadi apikal.Awasi irama jantung dengan EKG.

Rasional : perubahan disritmia dan iskemia dapat terjadi sebagai akibat hipotensi, hipoksia, asidosis,ketidakseimbangan elektrolit.

Kolaborasi :

4) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.

Rasional : mengatasi hipoksemia dan asidosis selama perdarahan. 5) Pemeriksaan AGD/ awasi nadi oksimetri.

Rasional : mengidentifikasi hipoksemia, keefektifan/ kebutuhan untuk terapi.

6) Berikan cairan Intra vena sesuai indikasi/ produk darah sesuai kebutuhan. Rasional : mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi jaringan.

f. Intoleran aktifitas berhubungan dengan kelemahan

umum, tirah baring.

Kriteria evaluasi ( NOC ) :

(37)

 Menunjukan penurunan tanda fisiologis intoleran, misal nadi, pernafasan, dan

 Tekanan darah dalam rentang normal.. Intervensi rasional :

1) Kaji keluhan pasien.

Rasional : untuk mengidentifikasi masalah – masalah pasien.

2) Kaji hal-hal yang mampu atau yang tidak mampu dilakukan oleh pasien. Rasional : untuk mengetahui tingkat ketergantungan pasien dalam memenuhi kebutuhannya.

3) Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya sehari-hari sesuai tingkat keterbatasan pasien.

Rasional : pemberian bantuan sangat diperlukan oleh pasien pada saat kondisinya lemah dan perawat mempunyai tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari pasien tanpa mengalami ketergantungan pada perawat.

4) Letakkan barang-barang di tempat yang mudah terjangkau oleh pasien. Rasional : akan membantu pasien untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan orang lain.

(38)

Rasional : mengurangi resiko cedera akibat penurunan trombosit, dan memperbaiki tonus otot tanpa kelemahan.

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

g. Resiko terjadinya syok berhubungan dengan hipovolemia.

Kriteria evaluasi (NOC) :

 Menunjukkan membran mukosa / kulit lembab, tanda vital stabil, haluaran urin adekuat, nadi perifer normal

Intervensi Rasional :

1) Monitor keadaan umum pasien.

Rasional : memantau kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan sehingga segera diketahui tanda syok dan dapat segera ditangani.

2) Observasi tanda-tanda vital tiap 2 sampai 3 jam.

Rasional : tanda vital normal menandakan keadaan umum baik. 3) Monitor tanda perdarahan.

Rasional : perdarahan cepat diketahui dan dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok hipovolemik.

(39)

Rasional : kondisi yang berkontribusi dalam kekurangan cairan ekstraselular yang dapat menyebabkan kolaps pada sirkulasi/ syok. 5) Lapor dokter bila terdapat tanda syok hipovolemik.

Rasional : untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut segera mungkin. Kolaborasi :

6) Cek laboratorium : haemoglobin, hematokrit, trombosit.

Rasional : untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien sebagai acuan melakukan tindakan lebih lanjut.

7) Berikan cairan sesuai program : Koloid : dextran, plasma/albumin, Hespan.

Rasional : koreksi defisit konsentrasi protein plasma, meningkatkan tekanan osmotik intravaskular, dan memfasilitasi kembalinya cairan kedalam kompartemen pembuluh darah.

8) Tranfusi Whole blood/ tranfusi PRC. / FFP

Rasional : mengindikasikan hypovolemia yang berhubungan dengan kehilangan darah aktif.

h. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (infus).

Kriteria evaluasi (NOC) :

(40)

Intervensi Rasional

1) Lakukan teknik aseptik saat melakukan tindakan pemasangan infus. Rasional : tindakan aseptik merupakan tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadi infeksi.

2) Observasi tanda-tanda vital.

Rasional : menetapkan data dasar pasien, terjadi peradangan dapat diketahui dari penyimpangan nilai tanda vital.

3) Observasi daerah pemasangan infus.

Rasional : mengetahui tanda infeksi pada pemasangan infus.

4) Segera cabut infus bila tampak adanya pembengkakan atau plebitis. Rasional : untuk menghindari kondisi yang lebih buruk atau penyulit lebih lanjut.

Kolaborasi :

5) Pemasagan infus kembali sesuai instruksi dokter. Rasional : untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien.

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

i. Resiko terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.

Kriteria evaluasi (NOC) :

(41)

 Menunjukan perilaku penurunan resiko perdarahan. Intervensi rasional

1) Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis.

Rasional : penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran pembuluh darah.

2) Anjurkan pasien untuk banyak istirahat/bedrest.

Rasional : aktivitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan resiko perdarahan.

3) Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada tanda perdarahan lebih lanjut.

Rasional : membantu pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin. 4) Awasi tanda vital

Rasional : peningkatan nadi dengan penurunan Tekanan darah dapat menunjukan kehilangan volume darah sirkulasi.

5) Anjurkan meminimalisasi penggunaan sikat gigi, dorong penggunaan antiseptik untuk mulut.

Rasional : pada gangguan faktor pembekuan, trauma minimal dapat menyebabkan perdarahan mukosa.

6) Gunakan jarum kecil untuk injeksi atau pengambilan sampel darah. Rasional : menurunkan resiko perdarahan / hematoma.

(42)

Rasional : DIC subakut dapat terjadi sekunder terhadap gangguan factor pembekuan.

Kolaborasi :

8) Awasi Hb, Ht, trombosit dan factor pembekuan.

Rasional : indikator adanya perdarahan aktif, hemokonsentrasi, atau terjadinya komplikasi ( DIC).

9) Berikan obat sesuai indikasi : vit K, D,dan C.

Rasional : Meningkatkan sintesis protrombin dan koagulasi. Kekurangan vit C meningkatkan kerentanan terjadinya iritasi / perdarahan.

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

j. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Kriteria evaluasi :

 Menyatakan pemahaman proses penyakit, pengobatan dan resiko komplikasi.

 Berpartisipasi dalam pengobatan. Intervensi rasional

(43)

Rasional : memberikan informasi pada pasien untuk merencanakan rutinitas / aktifitas tanpa menimbulkan masalah.

2) Jelaskan gejala yang memerlukan intervensi medik seperti akral/ tangan dingin, epistaksis, perdarahan gusi,melena, sesak.

Rasional : upaya intervensi untuk menurunkan resiko komplikasi serius seperti perdarahan, tanda syok.

3) Dorong aktifitas sesuai toleransi dengan periode istirahat periodik. Rasional : mencegah kelemahan, dapat meningkatkan penyembuhan dan perasaan sehat, dan mempermudah kembali ke aktifitas normal.

4) Diskusikan penghindaran penggunaan sikat gigi, menggunakan sikat gigi halus/ obat kumur, membersihkan kotoran hidung dengan keras. Rasional : menurunkan resiko perdarahan sehubungan dengan trauma dan perubahan koagulasi.

5) Anjurkan klien menghindari makanan / minuman karbonat, pedas dan asam.

Rasional : menurunkan rangsangan pada asam lambung dan menceegah iritasi

6) Diskusikan perawatan, pengobatan, proses penyakit dan prognosis. Rasional : memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.

(44)

Rasional : komunikasi efektif dan dukungan turunkan cemas dan tingkatkan penyembuhan

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/ Rencana keperawatan pada pasien anak dengan Dengue Hemorragic Fever Suriadi & Yuliani (2010), yaitu :

a. Hipertermi berhubungan dengan proses

infeksi virus dengue (viremia) Tujuan : Suhu tubuh anak normal Kriteria :

1) Suhu tubuh antara 36 – 37 oC 2) Akral tidak teraba hangat Intervensi dan rasional :

1) Kaji suhu tubuh pasien

Rasional : mengetahui peningkatan suhu tubuh, memudahkan intervensi

2) Beri kompres air

hangat/tindakan tepid water sponge

Rasional : mengurangi panas dengan pemindahan panas secara secara konduksi.

3) Berikan/anjurkan anak untuk

banyak minum 1000 – 1500 cc/hari (sesuai toleransi)

(45)

4) Anjurkan anak menggunakan pakaian tipis dan mudah menyerap keringat

Rasional : memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.

5) Observasi intake dan output,

tanda vital(tekanan darah,suhu,nadi)

Rasional Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.

6) Kolaborasi : pemberian

cairan intravena dan pemberian antipiretik sesuai program.

Rasional : pemberian cairan sangat penting bagi pasien anak dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat antipiretik untuk menurunkan panas tubuh pasien.

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

b. Risiko tinggi kekurangan cairan dan

elektrolit berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler

Tujuan : kebutuhan cairan tubuh anak terpenuhi Kriteria :

(46)

 Turgor kulit baik

 Produksi urin normal (600 – 1500 ml/24 jam). Intervensi dan rasional :

1) Kaji keadaan umum pasien anak (lemah, pucat, takikardi) serta tanda – tanda vital

Rasional : menetapkan data dasar pasien anak untuk mengetahui penyimpangan dari keadaan normalnya.

2) Observasi tanda- tanda syok

Rasional : agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok 3) Anjurkan dan berikan minum anak 1000 – 1500 ml/hari (sesuai

toleransi)

Rasional : untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh peroral. 4) Kolaborasi : Pemberian cairan intravena

Rasional : dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya syok hipovolemik.

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/ c. Resiko perubahan perfusi jaringan perifer

berhubungan dengan perdarahan.

(47)

 Tekanan darah 100/60 mmHg, rentang tekanan darah 85–120 mmHg, rentang nadi 70 – 110 x/menit regular, pulsasi kuat, capillary refill tidak lebih dari 2 detik, trombosit meningkat.

Intervensi :

1) Monitor tanda–tanda vital dan penurunan trombosit pada anak yang disertai tanda klinis.

Rasional : tanda–tanda vital yang buruk merupakan tanda perubahan perfusi, dan penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda– tanda klinis seperti epistaksi, ptekie.

2) Mengkaji dan mencatat sirkulasi pada ekstremitas (suhu, kelembaban, warna).

Rasional : tanda – tanda perubahan perfusi jaringan perifer diawali dari ekstremitas.

3) Anjurkan pasien anak untuk banyak istirahat (bedrest)

Rasional : aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.

4) Kolaborasi, monitor trombosit setiap hari

(48)

d. Risiko pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual, muntah dan tidak nafsu makan.

Tujuan : kebutuhan nutrisi tubuh anak terpenuhi Kriteria :

 Tidak ada tanda – tanda malnutrisi pada anak  Menunjukan berat badan yang seimbang Intervensi :

1) Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai anak

Rasional : mengidentifikasi makanan kesukaan, memungkinkan masukan makanan adekuat.

2) Observasi dan catat masukan makanan pasien anak

Rasional : mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan pada anak

3) Timbang berat badan anak secara teratur tiap hari.

Rasional : Mengawasi penurunan berat badan / mengawasi efektifitas intervensi

(49)

Rasional : makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster

5) Hindari pemberian makanan kepada anak yang merangsang dan berbau menyengat

Rasional : menghindari terjadinya mual dan muntah pada anak. JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

e. Kurang pengetahuan keluarga tentang

penyakit, prognosis, dan perawatan anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan minimnya sumber informasi dan mengingat informasi.

Tujuan : Orang tua menjelaskan pemahaman tentang kondisi, dan proses pengobatan.

Kriteria :

 Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam perawatan pada anak

Intervensi dan rasional :

1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.

(50)

2) Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang

Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas

3) Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makananya Rasional : diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan

4) Anjurkan keluarga untuk memperhatikan perawatan diri dan lingkungan bagi anggota keluarga yang sakit.

Rasional : perawatan diri (mandi,toileting,berpakaian/berdandan) dan kebersihan lingkungan penting untuk menciptakan perasaan nyaman dan rileks pada pasien.

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

C. Konsep tumbuh kembang Anak dan Hospitalisasi

1. Pertumbuhan dan

perkembangan

a. Pertumbuhan anak

usia 3 tahun

(51)

Pada umur 3 tahun (usia toddler) rata rata berat badan meningkat sekitar 1,8-2,7 Kg, dengan rata-rata berat badan 14,6 Kg, tinggi badan meningkat 7,5 cm, dan dengan rata-rata tinggi badan 95 cm

2) Nutrisi

Anak usia toddler memiliki kebutuhan nutrisi yang tinggi karena mereka terus bergerak.pemenuhan kebutuhan gizi anak usia toddler sangat mudah untuk memenuhinya karena dalam usia ini anak sudah dapat makan berbagai macam makanan diantaranya susu, daging, sup, sayuran, dan buah-buahan. yang terpenting anak pada usia ini mendapatkan energi 1220 Kkal perhari

3) Pola Tidur

kebutuhan tidur pada anak usia 3 tahun sekitar 10-12 jam setiap malam

4) Kesehatan gigi

Gigi susu pada anak usia 3 tahun sudah tumbuh sempurna, terdapat sekitar 20 gigi susu yang nanti ketika umut lebih dari 7 tahun akan terlepas dan digantikan dengan gigi permanen.

(52)

b. Perkembangan anak usia 3 tahun (toddler) 1) Motorik Kasar

Kemampuan dasar motorik kasar anak usia toddler secara umum :berjalan dan berlari kecil di sekitar rumah, mengangkat dan mengambil benda disekitanya,menari dengan gerakan kecil tangan dan kaki

2) Motorik Halus

Kemampuan dasar motorik halus anak usia toddler secara umum :menggambar mengikuti bentuk, menarik garis vertikal, menjiplak bentuk lingkaran, membuka menutup kotak, menggunting kertas mengikuti pola garis lurus

3) Kognitif

Perkembangan kognitif pada tahap pra operasional, umur 2-7 tahun dengan perkembangan kemampuan mengperasionalkan apa yang dipikirkan melalui tindakan dalam pikiran anak, perkembangan anak masih bersifat egosentrik.

4) Psikososial

Tahap kemandirian, rasa malu dan rasa ragu, terjadi pada umur 1-3 tahun dengan perkembangan mulai mencoba mandiri dalam tugas tumbuh kembang seperti motorik dan bahasanya

(53)

5) Psikoseksual

Tahap anal, terjadi pada umur 1-3 tahun dengan perkembangan, kepuasan pada fase ini adalah pengeluaran tinja, anak akan menunjukan keakuanya, sikapnya sangat narsistik yaitu cinta terhadap diri sendiri dan egoistik, mulai mempelajari struktur tubuhnya. Pada fase ini tugas yang dapat dilaksanakan anak dapat latihan kebersihan (Hidayat, 2006)

Pertumbuhan dan perkembangan anak dibagi menjadi beberapa kelompok usia yaitu :

a. Usia infant

Masa infant terdiri dari masa neonatus (saat lahir sampai 4 minggu) dan masa bayi (4 minggu sampai 1 tahun). Pada masa ini merupakan periode vital untuk mempertahankan hidupnya dan agar dapat melaksanakan perkembangan selanjutnya. Pada saat ini terjadi apa yang disebut sebagai belajar untuk belajar secara maksimal. Oleh para ahli dikatakan bahwa semakin banyak rangsangan yang tepat diberikan pada bayi disaat yang tepat pula, akan makin besar pula kemungkinan bayi untuk lebih cerdas (Supratini, 2009).

(54)

Masa usia toddler merupakan masa umur antara 1 – 3 tahun. Pada pertumbuhan fisik dapat dinilai penambahan berat badan sebanyak 2,2 kg pertahun dan tinggi badan akan bertambah 7,5 cm pertahun. Pada perkembangan motorik anak dapat berjalan sendiri dengan jarak kaki lebar, merayap pada tangga, membangun menara, dari dua balok, membuka kotak, dan membalik halaman buku.Pada perkembangan moral anak berada pada tahap prakonvensional yaitu anak mempunyai konsep tentang benar dan salah terbatas dan orang tua mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan kesadaran anak (Wong, 2008).

c. Usia Pra Sekolah

Masa pra sekolah dimulai pada usia 3 – 5 tahun. Berat badan bertambah 1,5 – 2,5 kg pertahun, tinggi badan bertambah 7,5 cm pertahun, pada masa ini mulai terjadi pergantian gigi susu ke gigi permanen. Masa pra sekolah disebut juga “usia bermain” dimana permainan memegang peran penting dalam kehidupan anak (Supratini, 2009). Untuk perkembangan motorik, anaka sudah dapat melompat, mengendarai sepeda roda tiga, membangun menara dari sepuluh kubus, menggambar, menggunting dan mengikat tali sepatu. Dalam hubunganya dengan keluarga anak berusaha menyesuaikan diri dengan permintaan mereka dan berusaha menyenangkan orang tua (Wong, 2008).

d. Usia sekolah

(55)

pertahun. Pada anak laki – laki penambahan tinggi badan lambat dan berat badan cepat, sedangkan pada anak perempuan mulai tampak perubahan pada daerahpubis.Untuk perkembangan mental, anak sudah mampu menggambarkan objek umum denga mendetail, mampu mengenal waktu, tanggal, hari dan bulan. Untuk personal sosial anak lebih dapat bersosialisasi dan tertarik pada hubungan laki – laki perempuan tetapi tidak terikat (Wong, 2008).

e. Remaja

Masa ini dimulai pada usia 12 – 20 tahun. Menurut Sullivan, masa remaja dibagi menjadi 3 kelompok yaitu masa praremaja (12-14 tahun), remaja awal (14-17 tahun) dan remaja akhir (17-20 tahun). Perkembangan psikis pada usia praremaja adalah minat bermain menghilang, menunjukan rasa malu, dan sulit diberi tanggung jawab serta membentuk kelompok dan sangat setia dengan kelompoknya. Pada usia remaja awal, dorongan nafsu seksual semakin besar dan emosi lebih dominan dari rasio. Untuk usia remaja akhir mulai muncul sikap pertimbangan dan pengambilan keputusan berdasarkan kekuatan diri sendiri, mudah tersinggung, mudah kasihan, mudah bertindak kejam, mudah terharu dan mudah marah (Supartini,2009).

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

2. Hospitalisasi pada anak

(56)

b. Masa Bayi ( 0 sampai 1 tahun)

Dampak dari perpisahan orang tua sehingga ada gangguan pembentukan rasa percaya dan kasih saying. Pada anak usia lebih dari enam bulan terjadi kecemasan apabila berhadapan dengan orang yang tidak dikenalinya dan cemas karena perpisahan. Reaksi yang muncul pada anak ini adalah menangis, marah, dan banyak melakukan gerakan sebagai sikap kecemasaanya (Supartini,2009).

c. Masa toddler

Anak usia toddler bereaksi terhadap hospitalisasi sesuai dengan sumber stress nya. Stress yang utama adalah cemas akibat perpisahan. Respon perilau anak sesuai dengan tahapanya yaitu tahap protes, putus asa dan pengingkaran (denial). Pada tahap proses perilaku yang ditunjukan adalah menangis kuat, menjerit memanggil orang tua atau menolak perhatian yang diberikan orang lain. Pada tahap putus asa adalah menangis berkurang, anak tidak aktif, kurang menunjukan minat untuk bermain dan makan, sedih, dan apatis. Pada tahap pengingkaran adalah mulai menerima perpisahan membina hubungan secara dangkal, dan anak mulai terlihat menyukai lingkunganya (Supartini, 2009).

d. Masa prasekolah (3 – 6 tahun)

(57)

rumah sakit juga membuat anak kehilangan kontrol terhadap dirinnya. Perawat di rumah sakit mengharuskan adanya pembatasan aktivitas anak sehngga anak merasa kehilangan kekuatan dirinya. Ketakutan terhadap perlakuan muncul karena anak menganggap tindakan dan prosedur mengancam integritas tubuhnya (Supartini,2009).

e. Masa sekolah

Perawatab anak dirumah sakit memaksa anak berpisah dari lingkunagn yang dicintainya yaitu keluarga dan terutama kelompok sosialnya dan menimbulkan kecemasan, marah, sedih, takut rasa bersalah perasaan itu timbul karena menghadapi sesuatu yang belum pernah dialami. Kondisi ornag tua membuat tingkat stress anak semakin meningkat, apabila anak stress selama dalam perawatan, orang tua menjadi stress pula, dan kehilangan kontrol tersebut berdampak pada perubahan peran dalam keluarga. Anak kehilangan kelompok sosialnya. Reaksi terhadap perlukaan atau rasa nyeri ditunjukan dengan ekspresi baik secara verbal maupun non verbal. Karena anak sudah mampu mengkomunikasikannya. (Supartini, 2009).

f. Masa remaja ( 12 – 18 tahun)

(58)

terhadap dirinya dan menjadi bergantung pada keluarga atau tenaga kesehatan di rumah sakit (Supartini, 2009).

JANGAN LUPA KUNJUNGI : http://sharekeperawatan.blogspot.com/

Referensi

Dokumen terkait

Maka, perlu dirancang Propeler Turbin Angin yang optimal yang dapat menjawab kebutuhan energi di daerah perkotaan khususnya pada Gedung Hemat Energi yang sengaja dirancang khusus

Melalui kegiatan kuliah kerja media, mahasiswa terutama penulis dapat mengetahui alur peliputan sebuah berita di televisi sebelum dapat disaksikan oleh audience.

A Statement From the Ad Hoc Committee on Guidelines for the Management of Transient Ischemic Attacks, Stroke Council, American Heart Association.. National

Kata membiasakan memberi arti melakukan bersama-sama bukan hanya menyuruh. Seperti membiasakan ibadah shalat misalnya. Shalat adalah hubungan paling kuat antara hamba dengan

Dengan ridha Allah SWT penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dengan judul: Konstruksi Pendidikan Karakter Moral Pada Film Catatan Akhir Sekolah dalam Perspektif

Penelitian ini menggunakan model persamaan regresi linier berganda untuk mengetahui hubungan antara ukuran dewan komisaris (DK), komisaris independen (KI), opini

Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan terhadap lama latihan aerobik menggunakan permainan dance dance revolution (DDR) terhadap nilai VO 2 maks

Kemampuan dasar keilmuan dan humanitas berdasar keimanan tentunya merupakan landasan bagi setiap kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berwujud sensitifitas dan