KONSEP HADIST TENTANG ETOS KERJA
MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas Tafsir Ayat dan Hadis Ekonomi
Dosen pengampu : Dede Rodin, M. Ag.
Disusun Oleh :
Kelompok 2
Tsamania Laili Fitriyani (1605036048)
Citra Dewi Mustika (1605036049)
Fifin Safitri (1605036050)
Moh. Naufal A. F. (1605036051)
S1 PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Umat islam diperintahkan untuk beribadah kepada allah salah satunya
yaitu dengan bekerja (berusaha). Bekerja merupakan melakukan suatu
kegiatan demi mencapai tujuan, selain mencari rezeki namun juga cita-cita.
Dalam bekerja diwajibkan memilih pekerjaan yang baik dan halal, karena
tidak semua pekerjaan itu diridhai Allah SWT. Di dalam Al-Qur’anا danا Hadist sudah jelas tentang pekerjaan yang baik dan bagaimana kita
memperoleh rezeki dengan cara yang diridhai Allah SWT. Sebagai umat islam
kita harus tahu bahwa semua yang kita dapatkan dari bekerja semuanya hanya
titipan Allah SWT, dan diwajibkan mengembangkannya dengan baik dan
hati-hati. Setiap muslim diwajibkan untuk berusaha mengembangkan sesuatu yang
bermanfaat. Allah SWT menyukai orang-orang yang kuat dan mau berusaha.
Kata etos ini dikenal pula kata etika yang hampir mendekati pengertian akhlak
atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruknya sehingga didalam etos
tersebut terkandung semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuatu
secara optimal dan lebih baik, bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja
yang sesempurna mungkin. Sifat-sifat seperti jujur, tidak malas, kuat, dan
mudah dipercaya merupakan landasan terjadinya etos kerja yang dapat
2
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian etos kerja?
2. Apa makna dari penerapan etos kerja dalam hadist?
3. Bagaimana keutamaan bekerja dalam hadist?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian etos kerja.
2. Untuk mengetahui makna penerapan dari etos kerja dalam hadist.
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Etos Kerja
Etos dapat didefinisikan sebuah watak atau karakter sebagai manusia yang
menjadi landasan perilaku atau sifat serta lingkunngan sekitarnya,sikap ini tidak saja
dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat. Etos dibentuk
oleh berbagai kebiasaan pengaruh budaya serta system nilai yang diyakininya. Dari
kata etos ini dikenal pula kata etika yang hampir mendekati pengertian akhlak atau
nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruknya sehingga didalam etos tersebut
terkandung semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal dan
lebih baik, bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna
mungkin. Kerja dalam arti pengertian luas adalah semua bentuk usaha yang dilakukan
manusia, baik dalam hal materi, intelektual dan fisik, maupun hal-hal yang berkaitan
dengan keduniaan maupun keakhiratan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa etos kerja adalah sebuah watak atau
karakter sebagai manusia yang menjadi landasan perilaku yang dilakukan dalam
bekerja. Sifat-sifatnya yakni seperti jujur, tidak malas, kuat, dan mudah dipercaya
merupakan landasan terjadinya etos kerja yang dapat tercapai jika dilaksanakan.1
Sebagai hamba Allah manusia bertugas untuk mengabdi (beribadah kepada
Allah) sebagaimana firman-nya:
ا اَ ا اَ ا ا
ا
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah (mengabdi) kepada-Ku” (QS. Al-Dzariyat [51] :56).
1 Idri,
4
Mengabdi (beribadah) kepada Allah dapat dilakukan manusia melalui 2
bentuk ibadah : ibadah khusus (ibadah mahdhah) dan ibadah umum (ibadah ghair mahdhah). Ibadah khusus adalah segala bentuk ibadah yang aturan dan tata caranya sudah ditentukan oleh Allah seperti sholat, puasa, zakat dan haji. Sedangkan ibadah
umum adalah segala bentuk amal shaleh yang aturan tata caranya tidak ditentukan
secara khusus oleh agama. Semua aktifitas dan kegiatan manusia dalam bidang
apapun termasuk bekerja, sejatinya dilakukan dalam rangka pengabdian dan ibadah
kepada-Nya. 2
ا ا اّ و ا َ ا ا َ
اعف ا باة ف ا باة ا ا با بأا ئ
ا قاب طأاب اَ أا َلا ا ا قا قاج ا باعف ا جا اج ا ا ب
ا اع باّ ا با ج َ ا
“ Rasulullah ditanya: “usaha apa yang paling baik?” beliau menjawab:“usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan jual beli yang baik.”
Dari kutipan salah satu hadist diatas dimaksudkan agar manusia mencari
keuntungan dari apa yang telah diciptakan Allah SWT. Oleh sebab itu, setiap muslim
diwajibkan untuk berusaha mengembangkan sesuatu yang bermanfaat. Allah SWT
menyukai orang-orang yang kuat dan mau berusaha, serta mampu menciptakan kreasi
baru yang lebih baik untuk kebahagiaan didunia dan diakhirat. Rasulullah melarang
umatnya menjadi umat yang lemah, malas, penakut, dan kikir. Nabi mengajarkan agar
umat islam terlepas dari segala bentuk kelemahan, kemalasan, kepenakutan dan
kebakhilan karena sumber ketertinggalan dan kemunduran.3
2
Dede rodin, Tafsir Ayat Ekonomi, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm. 32.
3 Idri,
5
ا ا أا
ا
ا:
ا
ا ا ا
ا
اَ
ا َ ا ا اا
ا:
ا
ا ا ا ب
ا و
ّ اَ إفا جا
اب ص ا َ ا ا أا ا ِ
اغاب
ا ا
ا َ
(
ا ب
)
Dari Anas ra berkata: Rasulullah SAW bersabda, “tidak baik orang meninggalkan dunia untuk kepentingan akhirat saja, atau meninggalkan akhirat untuk kepentingan dunia saja, tetapi harus memperoleh kedua -duanya. Karena kehidupan dunia mengantarkan kamu menuju akhirat. Oleh karena itu jangan sekali-kali menjadi beban orang lain.” (HR. Ibnu „Asakir)
Ajaran Islam tentang etos kerja mengenai hadist diatas mempunyai beberapa
arti, antara lain;
1. Bekerja keras adalah merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap orang yang
mengaku dirinya beriman kepada Allah SWT, hal ini dibuktikan dengan banyaknya perintah
Allah dalam Al qur’anاyang menyuruh untuk bekerja
2. Salah satu prasyarat untuk terhindarnya umat manusia dari kerugian yang sangat besar adalah
dengan bekerja yaitu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik. Yang dalam bahasa Al qur’anا disebut dengan Amilusshalihat.
3. Bekerja secara produktif adalah merupakan ciri dan karakteristik seorang muslim yang terbaik
sesuai dengan implementasi hadits Nabi, tangan diatas (yang memberi) lebih baik daripada
tangan yang dibawah (yang menerima).
4. Bekerja disamakan dengan Jihad Fi Sabilillah.4
B. Makna Penerapan dari Etos Kerja.
Dalam etos kerja tersebut, terkandung gairah atau semangat yang amat kuat
untuk mengerjakan sesuatu secara optimal dan lebih baik, bahkan berupaya untuk
mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin. Dengan demikian, etos kerja
berarti sikap, kepribadian watak, dan karakter seorang individu, kelompok tertentu
4 Scribd,
6
atas masyarakat dalam bekerja, dibawah ini merupakan hadist tentang manusia yang
harus berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara bekerja keras
menggunakan tangannya sendiri.
ا ا َ ا ا ا َ ا ا ا قاعف ا باة ف ا
ا قا؟اب ط اب اّ ا
ا:
ا
اع باّ اا با ج ا
(
ا ح ا حح ا ا
)ا
5
“Dari Rifa‟ah bin Rafi‟ berkata bahwa Nabi ااMuhammad SAW ditanya tentang usaha yang bagaimana dipandang baik?. Nabi menjawab: Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap perdagangan yang bersih dari penipuan dan hal-hal yang diharamkan.” (HR. Al-Bazzar dan ditashihkan Hakim).
Dalam etos kerja manusia juga dilarang mempunyai sifat yang lemah, yang
dimaksud lemah dalam hal ini adalah dilarang lemah dalam keimanan, lemah dalam
hal kerasukan untuk berbuat yang bermanfaat dan lemah dalam hal pertolongan
kepada Allah SWT karena kelemahan dalam hal tersebut dapat menyebabkan
manusia menjadi kemauan untuk bekerja dan beraktivitas berkurang. Sifat lemah
dalam hal tersebut sangat tidak disukai oleh Rasulullah, seperti yang Beliau
ungkapkan dibawah ini :
ا
ا ا با ا َ اَ َ
“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lemah (kemauan) dan pemalas”.
5
http://rahmat2845367.blogspot.co.id/2014/03/hadis-tentang-etos-kerja.html?m=1 (diakses pada
7
C.
Keutamaan Bekerja dalam Hadistا ض ا ا با ا ا بأا ا ش ا َ اب ا َ ا ا با
َ
ا ا ا باأ ب ا فّ ا ا ا ا ا ا قاماَ َ ا ا ا
ا قاب ا ا ا غ ا غ ا ا ا َف افف ا ا غا
ا اةق َص
ا باماَ َ ا ا ا ا ض اة
ا بأا ا بأا ا ش ا أ
Nabi
م
bersabda : “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, mulailah orang yang wajib kamu nafkahi, sebaik-baik sedekah dari orang yang tidak mampu (di luar kecukupan), barang siapa yang memelihara diri (tidak meminta-minta) maka Allah akan memeliharanya, barang siapa yang mencari kecukupan maka akan dicukupi oleh Allah. (HR.Bukhori) 6اااااااااMaksud hadist tersebut tidak berarti memperbolehkan meminta-minta, tetapi memotivasi agar seorang muslim mau berusaha dengan keras agar dapat menjadi
tangan di atas, yaitu orang yang mampu membantu dan memberi sesuatu pada orang
lain dari hasil jerih payah-nya. Bagaimana mungkin dapat membantu orang lain jika
untuk memenuhi dirinya sendiri saja tidak mencukupi. Bagaimana mungkin dapat
mencukupi kebutuhannya sendiri jika tidak mau berusaha keras. Seseorang akan
dapat membantu sesama apabila dirinya telah berkecukupan. Seseorang dikatakan
berkecukupan jika ia mempunyai penghasilan yang lebih. Seseorang dikatakan
berkecukupan jika ia mempunyai penghasilan yang lebih. Seseorang akan mendapat
penghasilan lebih jika berusaha keras dan baik. Karenanya dalam bekerja harus
disertai etos kerja tinggi.
اااااا Islam mencela orang yang mampu untuk bekerja dan memiliki badan yang sehat tetapi tidak mau berusaha keras. Seorang muslim harus dapat memanfaatkan
karunia yang diberikan allah yang berupa kekuatan dan kemampuan diri untuk bekal
6 Ilfi Nur Diana, Hadis-Hadis ekonomi, cet.1, (Yogyakarta: UIN-Malang Press, 2008), hlm.
8
hidup layak di dunia-akhirat. Etos kerja yang tinggi merupakan cerminan diri seorang
muslim.
اَ ا ا ا قاش ا ش ا َ ا با َ ح ا ا ا ا بأا ا
ا ا اب اب ا ا قا َ ا ا ا َ اَ َ ا اة
ا بأا ا َ ح
ا ص ا ا
7اا
Nabi
م
menyatakan bahwa usaha yang paling baik adalah sesuatu dengan tangannya sendiri dengan syarat jika dilakukan dengan baik dan jujur.Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk bekerja agar dapat
hidup secara mandiri tanpa bergantung pada pemberian orang lain. Karena dengan
bekerja, seseorang akan mempunyai penghasilan sendiri dan tidak meminta-minta
pada orang lain. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis:
اف ح ا ؤ اّبح ا اَ
(
ا
)
.
8ا
”Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mukmin yang giat bekerja.” (HR. Thabrani)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa, Allah SWT mencintai hamba-Nya yang
mempunyai tekad yang kuat dan giat dalam bekerja. Dengan bekerja seseorang akan
mendapatkan rezeki, yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
serta dapat pula digunakan untuk bersedekah membantu orang lain. Sebagai umat
Islam, kita dianjurkan untuk memiliki etos kerja yang tinggi, sebagai bentuk dedikasi
manusia dalam menapaki kehidupannya. Rasulullah SAW bersabda:
7 Ilfi Nur Diana, Hadis-Hadis ekonomi, cet.1, (Yogyakarta: UIN-Malang Press, 2008), hlm.211
8
9
ا ا ا َ ا ا
اب ح أا ا ا ا ض اةشئ ا قا قاة ا
اا أا ا
ا ا ف أا َ ا َ
ا....
(
ا
(
9“Dari „Urwah berkata: „Aisyah r.a. berkata, “Para sahabat Rasulullah SAW adalah pekerja untuk diri mereka sendiri dan mereka mempunyai etos kerja…” (HR. al-Bukhari)
Dalam hadis tersebut, dijelaskan bahwa para sababat Nabi merupakan
orang-orang yang rajin bekerja dan mempunyai etos kerja yang tinggi, karena itu merupakan
cara yang terbaik bagi diri mereka sendiri. Bahkan Nabi Dawud a.s. pun, bekerja dan
memenuhi kebutuhan hidupnya dari pekerjaan atau hasil buah dari tangannya sendiri.
Sebagaimana dinyatakan dalam hadis Nabi:
ا قا َ ا ا ا َ ا ا
ا ا ا ا ض ا ا
ا:
ا أا أا
ا ا أ ا ا اَ ا او وا اَ اَ ا ا ا ا أ ا أا ا اّطقا ط
ا ا
(
ا
).
10ا
“Dari Miqdam r.a. dari Rasulullah SAW beliau bersabda, “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan hasil kerjanya sendiri dan sesungguhnya Nabi Dawud a.s. makan dari hasil buah tangan (pekerjaan)-nya sendiri.” (HR. al-Bukhari)
Dengan demikian, Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk rajin,
tekun dan ulet dalam bekerja serta melarang mereka untuk menjadi umat yang lemah,
penakut, malas dan kikir karena semua sifat itu merupakan sumber dari
ketertinggalan dan kemunduran. Di samping rajin bekerja, seseorang juga dituntut
untuk sabar dan tabah ketika ada hambatan-hambatan dalam pekerjaan yang
dilakukannya.
9
Idri, Hadis Ekonomi Dalam Perspektif Hadis Nabi, cet.2, (Jakarta:Prenadamedia Group, 2016), hlm. 297.
10 Idri,
10
Menurut ajaran Islam terdapat batasan halal dan haram dalam bekerja.
Rasulullah SAW memperingatkan umatnya supaya memperhatikan batasan halal dan
haram tersebut, sehingga tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan
seperti korupsi, curang, menipu, memanipulasi, dan lain sebagainya. Peringatan ini
disampaikan oleh Nabi karena, menurutnya suatu hari nanti akan ada masa di mana
umat manusia tidak lagi memperhatikan halal dan haram dalam aktivitas
kesehariannya termasuk bekerja. Nabi Muhammad SAW bersabda:
ا قا َ ا ا ا َ ا َ ا ا ا ا ض اة
ا بأا
ا:
ا َ ا ا أ
ا ح ا ا أا اح ا ا أا ا أا اء ا ا ا ا
(
ا
)
11
ا
“Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana mereka tidak peduli terhadap apa yang diperolehnya apakah berasal dari sesuatu yang halal atau haram.” (HR. al-Bukhari)
11 Idri,
11 BAB III
SIMPULAN
ااااااااااااEtos kerja adalah sebuah watak atau karakter sebagai manusia yang menjadi landasan perilaku yang dilakukan dalam bekerja. Sifat-sifatnya yakni seperti jujur,
tidak malas, kuat, dan mudah dipercaya merupakan landasan terjadinya etos kerja
yang dapat tercapai jika dilaksanakan.
Dalam etos kerja manusia juga dilarang mempunyai sifat yang lemah, yang
dimaksud lemah dalam hal ini adalah dilarang lemah dalam keimanan, lemah dalam
hal kerasukan untuk berbuat yang bermanfaat dan lemah dalam hal pertolongan
kepada Allah SWT karena kelemahan dalam hal tersebut dapat menyebabkan
manusia menjadi kemauan untuk bekerja dan beraktivitas berkurang.
Islam mencela orang yang mampu untuk bekerja dan memiliki badan yang
sehat tetapi tidak mau berusaha keras. Seorang muslim harus dapat memanfaatkan
karunia yang diberikan allah yang berupa kekuatan dan kemampuan diri untuk bekal
hidup layak di dunia-akhirat. Etos kerja yang tinggi merupakan cerminan diri seorang
12
DAFTAR PUSTAKA
Idri, Hadis Ekonomi (Ekonomi dalam Perspektif Hadis Nabi), cet.2, Jakarta : Prenadamedia Group, 2016.
Rodin, Dede, Tafsir Ayat Ekonomi, Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015.
Nur Diana, Ilfi, Hadis-Hadis ekonomi, cet.1, Yogyakarta : UIN-Malang Press, 2008
https://www.scribd.com/document/355827240/Ayat-Dan-Hadis-Tentang-Etos-Kerja,
diakses pada tanggal 17 September 2017 pukul 13:40.
http://rahmat2845367.blogspot.co.id/2014/03/hadis-tentang-etos-kerja.html?m=1,
diakses pada tanggal 16 September 2017 pukul13:00