ANALISIS SITUASI GADAR
2 orang bayi usia 2 bulan megap-megap dengan ekstrimitas biru dan tidak sadarkan diri. Pada 2 orang bayi tersebut mengalami Hipoksia. Bayi termasuk dalam triase merah
A. PENATALAKSANAAN PADA BAYI HIPOKSIA
Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah timbulah rangsangan terhadap nervus vagus sehingga bunyi jantung janin menjadi lambat. Bila kekurangan O2 ini terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi maka timbulah kini rangsang dari nervus vagus simpatikus sehingga mengakibatkan DJJ menjadi lebih cepat, akhirnya ireguler dan menghilang. Secara klinis tanda-tanda asfiksia adalah denyut jantung janin yang lebih cepat dari 160 x/menit atau kurangdari 100 x/menit, halus dan ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
Kekurangan O2 juga merangsang usus sehingga mekonium keluar sebagai tanda janin asfiksia
Janin akan mudah mengadakan pernafasan intra uterine dan apabila kita periksa kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam para. ronkus tersumbat dan akan terjadi atelektasis bila janin lahir alveoli tidak berkembang.
Penatalaksanaan Asfiksia 1. Mencegah Kehilangan Panas
Alat pemancar panas telah diaktifkan sebelumnya sehingga tempat meletakkan
bayi hangat.
2. Meletakkan bayi dalam posisi yang benar
Bayi diletakkan terlentang di alas yang datar, kepala lurus dan leher sedikit
tengadah (ekstensi)
Untuk mempertahankan leher agar tetap tengadah, letakkan handuk atau
selimut yang digulung dibawah bahu bayi, sehingga bahu terangkat % sampai 1 inci (2-3 cm)
3. Membersihkan jalan nafas
Kepala bayi dimiringkan agar cairan berkumpul dimulut dan tidak difaring
bagian belakang.
Mulut dibersihkan dahulu Cairan tidak teraspirasi
Hisapan pada hidung akan menimbulkan penafasan megap-megap (gasping) Apabila mekonium kental dan bayi mengalami depresi harus dilakukan
penghisapan dari trakhea dengan menggunakan pipa endotrakhea (pipa ET) 4. Menilai bayi
Penilaian bayi dilakukan berdasarkan 3 gejala yang sangat penting bagi
kelanjutan hidup bayi Usaha bernafas
Frekuensi denyut jantung Warnakulit
5. Menilai usaha bernafas
Apabila bayi bernafas spontan dan memadai lanjutkan dengan menilai frekuensi
denyut jantung
Apabila bayi mengalami apnu atau sukar bernafas dilakukan rangsangan
taktil dengan menepuk-nepuk atau menyentil telapak kaki bayi atau menggosok-gosok punggung bayi sambil memberikan oksigen
Apabila setelah beberapa detik tidak terjadi reaksi atas rangsangan taktil, mulailah
Pemberian oksigen harus berkonsentrasi 100% (yang diperoleh dari tabung
oksigen). Kecepatan aliran oksigen paling sedikit 5 liter/menit, apabila sungkup tidak tersedia oksigen 100% persen diberikan melalui pipa yang ditutupi tangan diatas muka bayi dan aliran oksigen tetap terkonsentrasi pada muka bayi. Untuk mencegah kehilangan panas dan pengeringan mukosa saluran nafas, oksigen yang diberikan perlu dihangatkan dan dilembabkan melalui pipa berdiameter besar.
6. Menilai frekuensi denyut jantung bayi
Segera setelah bayi lahir, segera lakukan penilaian frekuensi denyut jantung
bayi
Apabila frekuensi denyut jantung bayi kurang dari 100 x/menit, walaupun
bayi bernafas spontan. menjadi indikasi untuk dilakukan VTP 7. Menilai warna kulit bayi
Penilaian warna kulit diiakukan apabila bayi benafas apontan dan frekuensi
denyut jantung bayi lebih dari 100 x/menit.
Apabila terdapat sianosis sentral, oksigen tetap diberikan.
Apabila terdapat sianosis perifer, oksigen tidak perlu diberikan. Sianosis
perifer disebabkan oleh karena peredaran darah yang masih lamban. 8. Ventilasi Tekanan Positif (VTP)
VTP dilakukan dengan sungkup dan balon resusitasi atau dengan sungkup dan
tabung.
Kecepatan ventilasi 40-60 kali/menit
Apabila dengan tahapan diatas dada bayi masih tetap kurang
berkembang, sebaiknya dilakukan inkubasi endotrakheal (ET) dan ventilasi pipa ET-balon.
9. Menilai frekuensi denyut jantung bayi pada saat VTP
Frekuensi denyut jantung bayi dinilai setelah selesai melakukan
ventilasi 15-20 detik pertama
Frekuensi denyut jantung bayi dibagi dalam 3 kategori yaitu : a. Lebih dari 100 x/menit
b. Antara 60-100 x/menit c. Kurang dari 60 x/menit
Apabila frekuensi denyut jantung bayi > 100 x/menit bayi mulai bernafas
spontan. Dilakukan rangsangan taktil untuk merangsang frekuensi dan dalamnya pernafasan. VTP dapat dihentikan dan oksigen arus bebas diberikan, jika wajah bayi tampak merah oksigen dapat dikurangi secara bertahap. Apabila pernafasan spontan dan adekuat terjadi lanjutkan VTP.
Apabila frekuensi denyut jantung bayi antara 60-100 x/menit. VTP dilanjutkan
dengan memantau frekuensi denyut jantung bayi. Apabila frekuensi denyut jantung bayi < 60 x/menit, dimulai kompresi dada bayi.
Apabila frekuensi denyut jantung bayi < 60 x/menit, VTP dilanjutkan, periksa
ventilasi apakah adekuat dan oksigen yang diberikan benar 100% segera dimulai kompresi dada bayi
10. Memasang Kateter orogastrik
VTP balon dan sungkup lebih lama dari 2 menit harus dipasang
kateter orogastrik dan tetap terpasang selama ventilasi, karena selama ventilasi udara dari orofaring dapat masuk ke oesofagus dan lambung
11. Kompresi dada
Kompresi dada dilakukan 1/3 bagian bawah tulang dada dibawah garis khayal
yang dapat menghubungkan kedua puting susu bayi, hati-hati jangan menekan prosesus sifadeus
Rasio kompresi dada dan ventilasi dalam 1 menit adalah 90 kompresi dada dan
30 ventilasi (3 : 1). Dengan demikian kompresi dada dilakukan 3 kali dalam 1,5 detik dan Vi detik untuk ventilasi 1 kali.
12. Memberikan obat-obatan
Obat-obatan diberikan apabila :
A. Frekuensi jantung bayi tetap dibawah 60 permenit walaupun telah dilakukan ventilasi adekuat (dengan oksigen 100%). Dan kompresi dada untuk paling sedikit 30 detik atau frekuensi jantung nol.
B. Dosis obat didasarkan pada berat bayi (ditaksis)
C. Vena umbilikus adalah tempat yang dipilih untuk pemberian obat
D. Epinefrin ialah obat pertama yang diberikan. Dosis 0,1 - 0,3 ml/kg BB untuk larutan berkadar 1 : 10.000 diberikan IV atau melalui pipa endotrakeal E. Volume expanders digunakan untuk menanggulangi efek
hipovolemia. Dosis 10 ml/kg BB diberikan intra vena (IV) dengan kecepatan pemberian selama waktu 5 sampai 10 menit
13. Keputusan untuk menghentikan resusitasi kardiopulmonal
Resusitasi kardiopulmonal dihentikan apabila setelah 30 menit tindakan resusitasi dilakukan tidak ada respon dari bayi
B. DATA OBJEKTIF
Adalah data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan secara menyeluruh
1. Antropometri
Pada bayi baru lahir normal setelah bayi baru lahir akan segera menangis dengan kuat. Sedangkan pada asfiksia sesaat setelah lahir bayi menangis sangat lemah bahkan tidak sama sekali. Pada kasus asfiksia berat bayi tidak menangis segera.
Pada kasus asfiksia biasanya kepala dalam keadaan normal. 6. Mata
Pada bayi asfiksia reflek untuk membuka mata lemah. 7. Hidung
Pernafasan megap-megap menandakan bahwa bayi mengalami kesulitan dalarn benafas. Pengeluaran sekret dari hidung mengakibatkan bayi mengalami kesulitan benafas. Pada kasus asfiksia biasanya pernafasan belum teratur dan cepat.
8. Mulut
Pada asfiksia biasanya reflek menghisap masih lemah dan warna pada bibir berwarna kebiruan.
9. Telinga
Pada kasus asfiksia keadaan telinga normal. 10. Leher
Pada kasus asfiksia biasanya pergerakan leher masih lemah. 11. Dada / sistem pernafasan
Pada bayi baru lahir normal bentuk dada simetris dan tidak ada tarikan dinding otot dada. Sedangkan pada kasus asfiksia berat bentuk dada tidak simetris, berarti belum terbentuknya otot-otot dada yang kurang sempurna. Pada kasus asfiksia ditemukan adanya tarikan dinding dada
14. . Kulit
Pada bayi normal wama kulit biasanya merah. sedangkan pada asfiksia warna kuiit bayi biasanya pucat, cyanosis.
15. Punggung
Pada asfiksia biasanya bentuk punggung normal. 16. Ekstremitas
Pada kasus asfiksia gerakan kaki dan tangan biasanya pasif atau lemah, warna kulit pada ekstremitas atas dan bawah cyanosis.
17. Genetalia
Pada wanita, labia mayora dan minora dalam keadaan normal, sedangkan pada laki-laki testis dalam keadaan normal.