MUTU DAN PENGELOLAAN PASCA PANEN KELAPA SAWIT PAPER
OLEH:
NOPLAR H SIMARMATA/ 140301245 KEKE ARIANTHA MELIALA/ 140301246
M. AGUS SUSANTO/ 140301247 NATHANIA MANURUNG/ 140301248
KELOMPOK 9
MATA KULIAH TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN PERKBUNAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MUTU DAN PENGELOLAAN PASCA PANEN KELAPA SAWIT Buah kelapa sawit dapat menghasilkan minyak berupa CPO dan KPO yang merupakan bahan baku utama pembuatan minyak makan. Selain itu, minyak sawit juga dapat diolah menjadi bermacam-macam produk lain seperti mentega, minyak kering/padat untuk makanan ringan, es krim, pengganti mentega coklat, sabun, detergen, amida, amina, alkohol, metil ester dan lain-lain (Pahan, 2011).
faktor ini merupakan kombinasi yang tidak terpisahkan satu sama lain. Untuk meningkatkan keterampilan tentang keberhasilan panen ini perlu dilakukan pelatihan bagi pelaku perkebunan.
Panen merupakan salah satu kegiatan akhir dari suatu kegiatan budidaya yaitu proses pengutipan dan pengumpulan hasil sesuai dengan kriteria-kriteria terrtentu, sedangkan pasca panen adalah merupakan kegiatan lanjutan darikegiatan panen yaitu pengelolaan hasil setelah dikumpulkan baik itu secara manual maupun dengan bantuan alat/bahan lainnya. Panen merupakan kegiatan penting dalam pengelolaan tanaman karena kegiatan panen ini sangat erat hubungannya dengan kualitas produk akhir, jika pada kegiatan panen dilaksanakan dengan bagus maka kualitas produk besar kemungkinan akan bagus. Berdasarkan pernyataan di atas maka penulis tertarik mengambil judul laporan tugas akhir “ Manajemen Panen dan pasca panen Kelapa Sawit “. Kegiatan yang tergolong kedalam panen adalah, mulai dari persiapan alat-alat panen sampai tandan buah segar (TBS) disusun di tempat pengumpulan hasil (TPH) sedangkan kegiatan pasca panen mulai dari tandan buah segar (TBS) di tempat pengumpulan hasil (TPH) sampai terangkut ke pabrik kelapa sawit (PKS).
Penerimaan Tandan
dengan umur < 10 tahun jumlah brondolan < 10 butir dan tanaman > 10 tahun jumlah brondolan sekitar 15-20 butir.
Dalam pelaksanaan pemanenan, perlu diperhatikan beberapa kriteria tertentu. Sebab tujuan panen kelapa sawt adalah memperoleh produksi yang baik dengan rendemen minyak yang tinggi. Kualitas minyak sangat dipengaruhi oleh cara pemanennya. Dengan demikian kriteria panen yang sangat menentukan kualitas dan kuantitas minyak sawit adalah tingkat kematangan buah, cara panen, alat panen, rotasi dan sistem panen, serta mutu panen (Pardamean, 2011).
TBS harus segera diangkut ke pabrik untuk diolah, yaitu maksimal 8 jamsetelah panen harus segera diolah, buah yang tidak segera diolah akan mengalami kerusakan. Pemilihan alat bantu yang tepat dapat mengatasi kerusakan buah selama pengangkutan. Alat angkut yang dapat digunakan dari kebun ke pabrik diantaranya lori, traktor gandengan atau truk. Pengangkutan dengan lori dianggap lebih baik dibanding dengan alat angkutan lain. Guncangan selama perjalanan lebih banyak terjadi jika menggunakan truk atau traktor gandengan sehingga pelukaan pada buah lebih banyak. Setelah TBS sampai di pabrik, segera dilakukan penimbangan. Penimbangan penting dilakukan terutama untuk mendapatkan angka-angka yang berkaitan dengn produksi, pembayaran upah pekerja dan perhitungan rendemen minyak sawit (Fauzi et al, 2012).
Rebusan atau Sterilisasi
125°C. Perebusan yang terlalu lama dapat menurunkan kadar minyak dan pemucatan kernel. Sebaliknya, perebusan yang terlalu pendek menyebabkan semakin banyak buah yang tidak rontok dari tandannya.
Pada dasarnya tujuan perbusan adalah sebagai berikut: a. Merusak enzim lipase yang menstimulir pembentukan ALB.
b. Mempermudah pelepasan buah dari tandan dan inti dari cangkang.
c. Memperlunak daging buah sehingga memudahkan proses pemerasan.
d. Mengendapkan protein sehingga memudahkan pemisahan minyak.
1. Sistem Perebusan Satu Puncak ( SPSP )
Uap panas pada temperatur 135oC-140oC dialirkan ke dalam ketel perebusan sambil menaikkan tekanan. Apabilah tekanan telah mencapai norma tertentu misalnya 3 Kg/cm2, maka tekanan dipertahankan selama waktu tertentu, kemudian tekanan diturunkan dan perebusan dianggap selesai.
Sistem perebusan ini banyak dipakai pada pabrik-pabrik kelapa sawit tua sebelum tahun 1970.
Gambar 2.1. Grafik sistem perebusan satu puncak 2. Sistem Perebusan Dua Puncak ( SPDP )
Gambar 2.2. Grafik sistem perebusan dua puncak
Pada puncak terakhir biasanya dibuat lebih tinggi dan lebih lama dibandingkan dengan puncak pertama. Beda tekanan puncak pertama dengan puncak kedua serta waktu yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik dari pabrik yang bersangkutan. Sistem perebusan sistem dua puncak jarang dipakai pada saat ini, tetapi masih dapat ditemukan pada pabrik-pabrik tertentu.
3. Sistem Perebusan Tiga Puncak (SPTP)
Sistem ini yang paling banyak digunakan pada saat sekarang, karena dianggap lebih efisien dilihat dari segi kehilangan minyak dalam pengolahan.Ada beberapa variasi sistem perebusan dalam upaya pabrik untuk mandapatkan hasil olahan yang optimal, antara lain :
b. Perebusan Tiga Puncak Bertahap
Perebusan dilakukan dengan daur (siklus) sebagai berikut:
Pembuangan angin : 5 menit
Menaikkan tekanan sampai tekanan penuh : 20 menit
Merebus pada tekanan penuh : 50 menit
Buangan uap : 5 menit
Mengeluarkan dan memasukkan lori : 10 menit
tergantung pada jumlah rebusan yang dipakai. Interval adalah siklus dibagi jumlah rebusan. Kapasitas perebusan per jam dihitung sebagai berikut:
60 x muatan rebusan Siklus
Bagan diatas untuk sistem dengan tekanan kerja 2,5 kg/ cm2. Untuk sistem perebusan 3 puncak ( triple Peak) dengan tekanan kerja 3 kg/ cm2, siklus adalah sebagai berikut:
Pembuangan angin : 5 menit
Menaikkan tekanan sampai puncak ketiga : 30 menit Merebus pada tekanan penuh (puncak ketiga) : 20 menit
Buangan uap : 5 menit
Mengeluarkan dan memasukkan lori : 10 menit
Panjang siklus : 70 menit.
Puncak pertama adalah 2 kg/cm2, kemudian buangan uap lalu mencapai puncak kedua pada 2,5 kg/cm2, buangan uap lagi lalu puncak ketiga pada 3 kg/cm2. Penaikkan atau pelepasan tekanan ini sampai mencapai puncak ketiga harus dapat terlaksana dalam waktu 30 menit.
Pemurnian Minyak
liter/jam untuk PKS 30 ton TBS/jam, dengan perincian 50% untuk screw press dan 50% untuk vibrating screen dan stasiun klarifikasi.
Pemakaian air yang terlalu banyak akan menyebabkan penurunan kulitas unit pengolahan PKS terutama pada alat klarifikasi. Hal ini diatasi dengan memperpendek retention time pada setiap alat pengolahan yang dapat mengakibatkan penurunan effisiensi ekstraksi, Dan sering menimbulkan penambahan instalasi yang seharusnya tidak perlu. Pemberian air pengencer tergantung pada desain unit pengolahan dan kandungan NOS, yang dapat dipengaruhi oleh kebersihan pemanen. Didalam proses pemurnian ini terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum masuk ke proses oil purifier, yaitu tahap pengendapan sampai dengan penyaringan, adapun langkah-langkah proses pemurnian dilakukan dimulai dari :
a. Oil Gutter
Talang minyak mentah (Oil Gutter) adalah alat penampung minyak hasil dari screw press untuk selanjutnya dialirkan ke tangki penangkap pasir (Sand Trap Tank). Sebagian besar air suplesi (pengencer) sebanyak ± 20%. Pemberian air suplesi dimaksudkan untuk memperlancar penyaringan kotoran di Vibrating Screen dan memudahkan pemisahan minyak pada proses selanjutnya.
b. Sand Trap Tank
melalui oil gutter minyak dari screw press masuk kemari, lalu dipanaskan sampai dengan suhu 95°, dan proses pemanasan itu sendiri dengan menggunakan uap (steam) yang di injeksikan kedalamnya. Dalam proses pabrik PKS peralatan yang pertama kali mengeluarkan sludge adalah sand trap tank, dan pada sand trap tank terdapat buffle, yaitu suatu alat penangkap pasir atau kotoran-kotoran. Dalam hal ini Temperatur pada sand trap tank harus mencapai 95° C, agar pada saat dilakukan pembuangan (blow down), lumpur (sludge) yang keluar tidak terlalu banyak mengandung minyak, sehingga dapat menyebabkan lossis atau kehilangan minyak yang banyak.
Selain itu terdapat Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efektifitas sand trap tank adalah:
a. temperatur b. Kondisi baffle c. Kondisi Umpan
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Pemurnian Minyak Sawit
Pada proses pengolahan dan pemurnian minyak kelapa sawit pada sebuah pabrik, terdapat faktor-faktor pendukung yang berperan penting pada proses pemurnian minyak kelapa sawit, Faktor-faktor pendukung tersebut adalah : 1. Temperatur Minyak
2. Berat jenis Fluida
Pada proses pemurnian, berat jenis fluida yang masuk sangat erat hubunganya dengan temperatur minyak yang masuk. hal ini disebabkan karena, semakin tinggi temperatur suatu zat, maka akan semakin cepat pula berat jenis zat tersebut dapat terpisah. Dalam hal ini terdapat perbedaan berat jenis antara fluida, sehingga menyebabkan perbedaan gravitasi antara fluida yang cukup berpengaruh terhadap pemisahannya. Jadi, pada saat proses pemurnian berlangsung, pada suhu yang telah ditentukan, maka akan sangat mendukung proses pemurnian tersebut. 3. Kapasitas Olah
diameter gravity disc terlalu besar maka mengakibatkan minyak banyak terikut ke drain.
5. Perbedaan Di Dalam Spesifik Grativitasi
Pengaruh gaya sentrifugal terhadap seluruh pertikel, sebanding dengan besarnya spesifik grtivasinya. ini dipergunakan terhadap partikel padat dan juga kepada pertikel cair. Semakin besar perbedaanya, semakin mudah memisahkannya.
6. Ukuran dan Bentuk Partikel
Terdapat beberapa jenis partikel dalam campuran cairan pada pemurnian ini, yaitu partikel padat dan partikel cair. Perbedaan jenis partikel ini yang menyebabkan kemudahan dalam pemurnian minyak, dalam proses pemurnian dengan cara pengendapan ataupun sentrifugal tersebut dapat berkurang. Sehingga akann membantu pada saat proses sentrifugal pada Oil Purifier.
7.Waktu Sentrifugal
Waktu sentrifugal adalah lamanya waktu proses sentrifugasi, dalam hal ini terfokus pada proses dari pemurnian alat Oil Purifier,dimana di dalam prosesnya tersebut menggunakan prinsip kerja dari gaya sentrifugal. Lamanya waktu sentrifugal dapat mempengaruhi kondisi minyak, apabila terlalu lama akan menyebabkan suhu pada minyak akan turun, dan semakin susah dipisahkan. Dan apabila waktu sentrifugal
8. Viskositas
cepat maka pemisahan tidak akan efektif, yaitu banyaknya minyak yang akan terikut oleh sludge.
Pengolahan Inti Sawit
Biji kelapa sawit adalah sebuah biji yang diambil dari dalam buah sawit
memiliki bagian seperti cangkang seperti telur. Bagian dalam dari cangkang ini
baru disebut dengan inti sawit. Proses minyak sawit persiapan ini diperlukan
untuk mengefisiensi ekstraksi minyak dari inti kelapa sawit. Proses pertama yang
harus dilakukan adalah membersihkan inti kelapa sawit. Pembersihan ini
dilakukan untuk menghilangkan kemungkinan kontaminasi material lain seperti
metal pada produk minyak.
Sebelum mengalami pengolahan, inti sawit kernel akan di proses terlebih
dahulu dengan sebuah proses. Proses ini dilakukan untuk mengurangi kadar air
pada inti dari sawit. Bagi yang jual inti sawit kebanyakan hanya menjual inti sawit
saja karena banyak dicari oleh konsumen. Dengan adanya proses pengurangan air
pada inti sawit ini akan membuat biji sawit lebih mudah dipecah karena adanya
penyusutan isi dan tercipta celah antara inti sawit dan cangkang. Inti kelapa sawit
yang digunakan untuk membuat minyak inti kelapa sawit ini dipecahkan dengan menggunakan mesin bernama ripple mill. Dengan menggunakan alat ini anda bisa
mengambil inti kelapa sawit dengan lebih sedikit kemungkinan intinya ikut pecah.
Setelah terjadi dilakukan pemisahan inti dengan cangkangnya maka akan
dilakukan pengepresan yang menghasilkan fibre dan juga biji kelapa sawit yang
disebut dengan palm kernel cake. Setelah dihasilkan produk yang disebut dengan
cake ini, maka akan dilakukan persiapan pengolahan untuk memisahkan biji
produk dari biji kelapa sawit akan menghasilkan produk sampingan yang sering
kali disebut dengan Palm Kernel Expeller. Setelah dipisahkan, biji akan
mengalami tahap ketiga yang digunakan untuk fermentasi. Proses fermentasi
dilakukan dengan mengeringkan biji kembali di suhu 600 celsius hingga
700 celsius.
Adapun tahap-tahap proses pengolahan minyak inti sawit yaitu :
1. Jembatan Timbang, berfungsi : Sebagai tempat penimbangan PK yang dibawa kepabrik dan hasil produksi PKO, PKM. Serta sebagai proses kontrol untuk mendapatkan rendemen dan kapasitas pabrik yang diinginkan. Penimbangan dilakukan pada truk pengangkut PK, truk pengangkut PKO dan truk pengangkut PKM atau sisa-sisa dari proses Screw Press yang masuk sebelum diolah dan sesudah diolah. perlakuannya sama seperti halnya dengan proses penimbangan pada pengolahan minyak sawit.
2. Loading Bay, berfungsi : Sebagai tempat pembongkaran inti sawit yang masuk dan juga sebagai tempat penyimpanan inti sawit sementara yang sebelum dikirim ke silo penyimpanan.
Mesin dan Peralatan : - Loding Bay - Blower Hisapan - Timba-timba Inti Sawit (elevator) - Conveyor Inti Sawit.
3. Silo Inti berfungsi : Sebagai tempat penyimpanan inti sawit sementara sebelum dikirim ke bunker inti untuk diolah.
Mesin dan Peralatan : - Silo inti - Conveyor
diolah dari seluruh kempa kemudian dikumpulkan menjadi satu lalu diaduk rata dilakukan 4 jam sekali untuk dianalisa
5. Screw Press berfungsi : Memisahkan minyak inti sawit dan cake dengan cara pengempaan.
Mesin dan Peralatan : - Screw press - Conveyor Cake - Conveyor minyak kasar 6. Bunker Cake berfungsi : Sebagai tempat pengumpanan cake ke kempa. 2. Mesin
dan Peralatan : - Elevator cake - Conveyor pembagi cake - Bunker cake Pengambilan contoh cake dari ular-ularan di bawah kempa, inti (tahap I) dilakukan setiap 4 jam sekali untuk dianalisa (kadar air, kadar minyak)
7. Screw Press II berfungsi : Memisahkan minyak dan meal dengan cara penekanan (pressing).
Mesin dan Peralatan : - Screw press - Conveyor meal - Conveyor minyak kasar Tempat pengambilan contoh titik sampel PKM diambil dari ular-ularan dibawah kempa cake (tahap 2) dilakukan setiap 4 jam sekali untuk dianalisa (kadar air, kadar minyak)
8. Bak Screening berfungsi : Penampungan sementara minyak kasar -Mengendapkan ampas minyak kasar - Untuk mengikis (menyekrap) ampas yang mengendap dalam bak screning.
Mesin dan Pelaratan : - Bak screning - Scraper - Pompa minyak kasar
9. Niaga Filter berfungsi : Memisahkan minyak kasar dengan ampas sehingga diperoleh minyak bersih siap ke tangki timbun.
Dilakukan setiap 4 jam sekali untuk dianalisa (kadar air, kadar minyak) Tempat pengambilan contoh dari kran pipa Oil Filter Niagara ke tangki timbun. Titik sampel, contoh diambil dari corong pembuangan akhir.Dilakukan setiap 4 jam sekali untuk dianalisa (ALB, kadar air, kadar kotoran).
10. Tangki Timbun berfungsi : Untuk penimbunan sementara PKO sebelum dikirim ke pabrik pengolahan selanjutnya atau di eksport ke luar negeri.
Mesin dan Peralatan : - Tangki timbun - Pompa Pengambilan contoh PKO dilakukan setiap hari apabila pabrik mengolah yang dianalisa: - Asam |Lemak Bebas (ALB) - Kadar air - Kadar kotoran
Pengolahan Limbah Pabrik
Limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS) adalah salah satu produk samping dari pabrik minyak kelapa sawit yang berasal dari kondensat dari proses sterilisasi, air dari proses klarifikasi, air hydrocyclone (claybath), dan air pencucian pabrik. LCPKS mengandung berbagai senyawa terlarut termasuk, serat-serat pendek, hemiselulosa dan turunannya, protein, asam organik bebas dan campuran mineral-mineral.
lahan pengolahan limbah yang luas dan selain itu emisi metan yang dihasilkan dari kolam-kolam tersebut merupakan masalah yang saat ini harus ditangani.
bebas dalam metabolismenya, bahkan adanya oksigen bebas dapat menjadi racun atau mempengaruhi metabolisme bakteri tersebut.
Analisa Laboratorium di Pabrik
Peralatan Laboratorium Pabrik Kelapa Sawit sangat dibutuhkan untuk
analisa losses di pabrik kelapa sawit. Mesin Pengolahan kelapa sawit hingga
menjadi minyak yang siap dimanfaatkan tidaklah semudah yang kita pikirkan.
Ada proses panjang yang harus dilalui sebuah pabrik atau perkebunan untuk
mengubah kelapa sawit menjadi minyak. Biasanya selama proses pengolah
dilakukan, risiko oil losses tidak dapat dihindari. Meski tidak dapat dihindari,
namun oil losses dengan nilai yang besar akan membuat pabrik rugi. Karena
itu laboratorium pabrik kelapa sawit harus melakukan analisis nilai oil losses yang
Oil Losses Pada Pengolahan TBS
Mengingat risiko oil losses selama pengolahan Tandan Buah Segar (TBS)
tidak dapat dihindari, perusahaan atau pabrik pengolah kelapa sawit telah
melakukan berbagai upaya untuk mengalami oil losses sekecil mungkin. Salah
satunya adalah dengan cara meningkatkan kinerja masing-masing stasiun
pengolahan dengan melakukan modifikasi alat. Berikut ini analisa laboratorium
pabrik kelapa sawit pada oil losses yang terjadi selama pengolahan TBS:
1. Oil losses kondensat sterilizer
Tujuan dilakukannya penghitungan oil losses ini adalah dalam rangka
mengukur hilangnya minyak yang terjadi pada setiap sterilizer. Selain itu juga
dapat digunakan untuk memantau efisiensi proses sterilisasi, memantau tingkat
kematangan TBS hingga mengetahui mengenai hilangnya minyak yang terjadi
karena penggunaan cara perebusan tertentu. Untuk menghitung oil losses di pabrik
kelapa sawit, penghitungan dilakukan dengan mengambil sampel dari keluaran
pipa kondensat sterilizer pada masing-masing rebusan.
2. Oil losses tandan kosong
Tujuan dilakukan penghitungan oil losses tandan kosong adalah dalam
rangka mengukur hilangnya minyak yang ada pada tandan kosong. Nantinya akan
didapatkan data harian berupa hilangnya minyak, buah rebus terlalu matang
hingga kapasitas thresher. Sampel akan diambil setiap 2 jam sekali pada setiap
jenjangan jika sampai ke 10 dan 20.
3. Oil losses Unstripped Bunches
Tujuan dilakukannya penghitungan oil losses pabrik kelapa sawit adalah
sekaligus memantau hilangya minyak akibat penggunaan cara perebusan tertentu
yang tidak dilakukan dengan sempurna. Sampel diambil sebanyak 100 buah
dengan kelipatan 5 masing-masing diambil satu sampel saja.
4. Oil losses fibre press
Menghitung hilangnya minyak selama proses fibre press ini dalam rangka
mengetahui seberapa besar kehilangan minyak sekaligus persentase nut pecah
yang ada dalam fibre. Sampel harus diambil dengan jumlah yang sama yang
didapatkan dari 3 sudut cones keluaran press. Sampel harus diambil setiap satu
jam selama proses pengolahan sawit berlangsung.
5. Oil losses stasiun klarifikasi
Oil losses juga dapat terjadi stasiun klarifikasi. Laboratorium kelapa
sawit harus menghitung oil losses di stasiun klarifikasi dengan tujuan memantau
proses klarifikasi selama pengolahan kelapa sawit. Untuk menghitungnya harus
diambil sampel dari pipa keluaran stasiun klarifikasi menuju fat pit selama satu
jam sekali.
6. Oil losses sludge waste
Tujuan dilakukannya pengukuran oil losses ini dalam rangka mengetahui
seberapa besar hilangnya minyak yang terjadi pada sludge waste. Selain itu juga
untuk mempertahankan efektifitas sludge centrifuge sehingga oil losses terjadi
seminimal mungkin. Untuk mengukurnya, sampel harus diambil satu jam sekali
dari pipa sludge waste.
Penghitungan Oil Losses Metode NIR
Untuk mengukur oil losses, metode NIR telah banyak digunakan oleh pabrik
angka standar losses pabrik kelapa sawit. Dengan standar oil losses ini, proses
penghitungan dapat dilakukan dengan sangat mudah. Hasil oil losses juga
semakin akurat, karena nilai oil losses telah memiliki standar baku. Sehingga
Refinasi dan Fraksinasi Minyak Kelapa Sawit
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mendapatkankonsentrat karotenoid dari minyak sawit kasar yaitu dengan metode fraksinasi.Fraksinasi pada minyak sawit dilakukan dengan tujuan memisahkan antara fraksi padat dan fraksi cair berdasarkan perbedaan titik beku kedua fraksiminyak tersebut.
Karena karotenoid mudah mengalami kerusakan akibat suhutinggi, kerusakan
karotenoid perlu dikurangi melalui proses fraksinasi
tanpa perlakuan panas. Untuk itu dilakukan fraksinasi pada suhu rendah dengan b antuan pelarut organik.Fraksinasi pada suhu rendah dilakukan berdasarkan perbedaan titik leleh dan kelarutan komponen lemak yang akan dipisahkan. Proses inidilakukan dalam dua tahap yaitu tahap pertama proses kristalisasi dengan caramengatur suhu dan tahap kedua yaitu pemisahan fraksi cair dan padat(Hamilton, 1995).
Penggunaan pelarut organik dalam fraksinasi suhu rendahadalah untuk membantu pemisahan fraksi cair dan mengikat lebih banyak karotenoid sehingga dihasilkan produk konsentrat dengan konsentrasi dan
Penyimpanan Dan Pengangkutan Minyak Kelapa Sawit
Pengolahan buah kelapa sawit di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) bertujuan untuk memperoleh minyak kelapa sawit yang berkualitas. Proses pengolahan dari tahap pengangkutan tandan buah kelapa sawit (TBS) ke PKS, perebusan TBS perontokan dan pelumatan buah, pemerasan atau ekstraksi minyak kelapa sawit dan pengeringan dan pemecahan biji. Pada dasarnya ada dua hasil olahan tandan buah kelapa sawit, yaitu; daging buah kelapa sawit menjadi minyak kelapa sawit mentah (CPO), sedangkan inti buah kelapa sawit (kernel) menjadi minyak inti kelapa sawit mentah (CPKO). Minyak kelapa sawit mentah dari PKS tersebut kemudian melalui motor tanki dilakukan proses pengangkutan dan pemindahan ke pelabuhan di tanki timbun untuk dikomersilkan kepada pelanggan.
Tanki timbun di pelabuhan berfungsi sebagai gudang penyimpanan minyak kelapa sawit. Kegiatan pengapalan minyak kelapa sawit sangat bergantung pada ketersediaan minyak kelapa sawit di tanki timbun di pelabuhan. Salah satu faktor yang diperhatikan dalam pengendalian persediaan di pelabuhan adalah menjaga mutu minyak kelapa sawit tetap baik sehingga mutu minyak yang telah ditetapkan oleh produsen dan pelanggan dapat terpenuhi (Pahan, 2006).