Peningkatan Literasi Statistis, Representasi Matematis, dan Self Concept Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar Melalui Model Collaborative Problem Solving

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN LITERASI STATISTIS, REPRESENTASI MATEMATIS

DAN SELF CONCEPT MAHASISWA CALON GURU SD MELALUI

MODEL COLLABORATIVE PROBLEM SOLVING (CPS)

(Author: Johannis Takaria)

Pendahuluan

Dalam abad pengetahuan (knowledge age) dan teknologi sekarang ini matematika dan statistika memegang peranan penting dalam berbagai aktivitas manusia. Terkait peranan tersebut, maka dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi kedua bidang ini sudah mendapat perhatian khusus. Berdasarkan konten dan kesulitan materi pelajaran tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian siswa, bahkan mahasiswa berpandangan matematika dan statistika sulit dan kurang menyenangkan.

Pandangan ini, sebagaimana diidentifikasi Verhoeven (2006), bahwa adanya phobia terhadap matematika dan statistika, berakibat kurangnya minat untuk mempelajari kedua pelajaran tersebut. Hal ini disebabkan kekuatiran yang berlebihan terhadap abstraknya materi pelajaran, sehingga menimbulkan kecemasan (anxiety) yang berakibat terhadap perkembangan motivasi dan kesenangan dalam belajar.

Statistika dalam kurikulum pembelajaran sekolah merupakan salah satu materi pelajaran yang terintegrasi di dalam matematika. Best dan Khan (1995) dalam bukunya Research in Education mengungkapkan bahwa statistika merupakan bagian dari teknik matematika, terkait dengan proses pengumpulan, pengorganisasian, analisis, dan interpertasi data numerik. Sesungguhnya penguasaan konsep statistika mensyaratkan bahwa siswa harus memiliki kemampuan matematis yang baik. Di perguruan tinggi, statistika diajarkan terpisah tidak terintegrasi dalam matematika, namun peranan matematika sangat menentukan keberhasilan mahasiswa dalam menguasai konsep statistika.

Statistika merupakan rangkaian fenomena yang menarik dan memungkinkan kita untuk mengerti situasi-situasi di dunia terkait pengambilan keputusan dan pembuatan kesimpulan. Statistika adalah indikator dalam melakukan perubahan dan memungkinkan kita memiliki keterampilan dan kemampuan untuk melakukan perbandingan yang berarti (BPS, 2011). Ditegaskan bahwa untuk membuat suatu kesimpulan yang berarti, sangatlah penting bagi kita untuk dilengkapi dengan pengetahuan dan kemampuan melakukan perencanaan, penelitian, dan pengambilan suatu keputusan.

Dalam melakukan perencanaan, penelitian, dan pengambilan keputusan, maka statistika dipandang penting untuk diaplikasikan dalam berbagai bidang, diantaranya: bidang sosial, ekonomi, industri, pendidikan, dan bidang-bidang lainnya. Dalam proses pengembangan pendidikan terkait dengan mutu pendidikan, statistika perlu dilibatkan sehingga lebih umum dikenal dengan istilah statistika untuk penelitian pendidikan yang terkait dengan teknik pengumpulan data, penyajian, pengolahan, analisis, dan penarikan kesimpulan terhadap data pendidikan.

(2)

statistika yang dimiliki siswa. Hal tersebut sebagaimana diidentifikasi oleh Garfield & Ahlgren (1988); dan Tishkovskaya & Lancaster, (2010) yaitu adanya kekurangan pengetahuan statistika dasar yang dimiliki siswa. Temuan lain diidentifikasi Garfield (1995), bahwa dalam pembelajaran statistika siswa tidak diberdayakan untuk menerapkan aspek-aspek pengetahuan statistika untuk memecahkan masalah umum yang timbul dari konteks tertentu. Permasalahan-permasalahan ini, jika tidak disikapi akan berdampak terhadap kemampuan statistika di perguruan tinggi.

Kondisi yang demikian mengindikasikan adanya kesenjangan antara pentingnya peran statistika dengan kemampuan yang dimiliki siswa bahkan mahasiswa. Penelitian yang dilakukan Takaria, (2010) mengidentifikasi bahwa kemampuan statistika yang dimiliki siswa pada salah satu sekolah dasar (SD) di kota Ambon belum mencapai hasil yang diharapkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan statistika yang dimiliki mahasiswa calon guru SD perlu dikembangkan, agar kelak mereka dapat mengajarkan statistika dengan baik, serta diharapkan menghasilkan siswa yang berkompeten.

Kompetensi dasar yang diharapkan dalam pembelajaran statistika adalah: 1) kesadaran terhadap pentingnya pemahaman tentang data; 2) memahami konsep dasar statistika dan terminologinya; 3) memiliki pengetahuan tentang cara pengumpulkan data dan mendeskripsikannya; 4) memiliki keterampilan menginterpretasi; dan 5) sebagai dasar komunikasi (Rumsey, 2002). Kompetensi-kompetensi inilah yang perlu dimiliki mahasiswa calon guru, sehingga mereka dapat memahami dan menyikapi berbagai informasi terkait dengan statistika, serta dapat memberi makna dan menemukan solusi dari permasalahan yang dimunculkan melalui informasi yang termuat dalam teks di berbagai media.

PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) adalah studi literasi yang dirancang untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam memahami bermacam ragam bacaan. Penilaiannya difokuskan pada dua tujuan membaca yang sering dilakukan, yaitu membaca cerita/karya sastra dan membaca untuk memperoleh serta menggunakan informasi. Membaca untuk mendapatkan informasi bertujuan untuk: 1) memahami bahan bacaan, yaitu mencari informasi yang dinyatakan secara eksplisit; 2) menarik kesimpulan secara langsung; 3) mengintegrasikan gagasan dari informasi yang dimunculkan; dan 4) menilai, menelaah isi bacaan (Yusuf, 2006).

Selaras dengan gagasan tersebut, maka UNESCO (2004) mengungkapkan bahwa literasi (melek) adalah kemampuan untuk memahami informasi, mengidentifikasi, menafsirkan, mengkomunikasikan, dan menghitung melalui sumber yang diperoleh dari media cetak dan mampu menulis dalam berbagai konteks (Farmer & Stricevic, 2011). Sejalan dengan perkembangan pengetahuan, maka pengertian dan pemahaman literasi terus dikembangkan dan diaplikasikan pada berbagai bidang, diantaranya: literasi di bidang informasi lebih dikenal dengan literasi informasi, literasi media, literasi sains, literasi matematis, dan literasi statistis (melek statistik).

(3)

dan menjadi bagian dari kurikulum. Menurutnya beberapa faktor yang memberikan kontribusi terhadap pentingnya pengembangan literasi statistis di sekolah-sekolah dikarenakan beberapa hal; diantaranya 1) harapan untuk berpartisipasi sebagai warga negara dalam mengakses informasi yang terkait dengan data; 2) didorong pentingnya kemampuan dan ketrampilan dalam setiap kemungkinan pengambilan keputusan terhadap data.

Mengacu pada pendapat-pendapat tersebut, peneliti berpandangan bahwa literasi statistis dapat dimaknai sebagai suatu kemampuan dalam membaca dan menulis (tabel, grafik, simbol statistik), berhitung dan analisis (level dasar), serta kemampuan dalam menginterpretasi tabel, grafik, dan data berbasis argumen dari informasi-informasi statistik yang termuat dalam berbagai media.

Untuk tujuan memicu kemampuan literasi statistis, maka dapat digunakan media cetak, media elektronik, jurnal, internet, dan media-media lainnya yang memuat informasi statistik, dan dapat digunakan mahasiswa sebagai sumber pembelajaran. Tujuannya melatih kemampuan mahasiswa dalam membaca dan menulis (tabel, grafik, simbol statistik), analisis, serta dapat memberi makna terhadap informasi statistik tersebut.

Literasi statistis membutuhkan suatu keterampilan dalam pemecahan masalah yaitu, cekatan atau terampil dalam membaca, menulis, mendengar, dan berbicara (Bidgood, et al. 2010). Keterampilan literasi statistis dalam perkuliahan statistika dipandang penting bagi mahasiswa dalam memahami data kuantitatif maupun kualitatif, sehingga dalam proses penyajian data, pengolahan, analisis, dan interpretasi, tidak terjadi salah penafsiran terhadap data. Hal ini sebagaimana diidentifikasi Aoyama (2003), bahwa kemampuan literasi statistis yang dimiliki mahasiswa dapat membantu mereka dalam mengekstrak informasi kualitatif dari informasi kuantitatif.

Teridentifikasi pula, bahwa kurangnya kemampuan literasi statistis disebabkan ketidakmampuan siswa untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari mereka (Tishkovskaya & Lancaster, 2010; Verhoeven, 2006; Schield, 2004; dan Gal, 2002). Selain keterampilan literasi statistis, mahasiswa calon guru SD perlu dilengkapi dengan kemampuan komunikasi yang baik, sehingga diharapkan mereka dapat mengkomunikasikan ide-ide kreatif dalam pembelajaran. Kemampuan komunikasi yang dimiliki mahasiswa perlu ditunjang dengan sikap kritis dalam mengkomunikasikan gagasan-gagasan statistika. Sejalan dengan penjelasan ini, Bidgood, et al. (2010) mengemukakan bahwa salah satu komponen dalam literasi statistis adalah disposisi, terkait dengan sikap kritis yang ditunjukan dalam mengenali, mengkonstruksi, mengevaluasi, menantang, dan mengkomunikasikan gagasan atau ide-ide statistik.

Terhadap pentingnya literasi statistis, maka dipandang perlu meningkatkan kemampuan mahasiswa calon guru SD. Hal ini dikarenakan:1) kemampuan literasi statistis yang dimiliki mahasiswa dapat membantu mereka dalam membaca grafik dan tabel, serta dapat menulis tabel, grafik, dan simbol statistik secara benar; 2) dapat digunakan untuk mengolah data nilai siswa; 3) dapat membantu mahasiswa calon guru SD dalam penyelesaian tugas akhir; 4) dapat membantu mahasiswa untuk terlibat aktif dalam menyikapi berbagai permasalahan statistik di masyarakat.

(4)

matematis, dan representasi matematis. Salah satu kemampuan matematis yang berperan dalam pembelajaran statistika di perguruan tinggi adalah representasi matematis.

Representasi merupakan suatu model dalam bentuk yang luas dan beragam di mana suatu konsep dapat dipahami dan dikomunikasikan, misalnya suatu masalah atau problem dapat dinyatakan dalam bentuk verbal, persamaan matematis, atau menggunakan simbol khusus (Meltzer, 2000). Selaras dengan pendapat tersebut, Sabirin (2014) berpendapat bahwa representasi adalah bentuk interpretasi pemikiran terhadap suatu masalah, yang digunakan sebagai alat bantu untuk menemukan solusi dari masalah tersebut. Bentuk-bentuk representasi matematis dapat berupa kata-kata, tulisan, gambar, tabel, grafik, benda konkrit, simbol matematis dan bentuk-bentuk lain yang dapat direpresentasikan.

Pendapat lain terhadap representasi diungkapkan Hall (Bawias, 2005) bahwa representasi adalah bagaimana seseorang dapat mengartikan apa saja yang diperoleh dan dimaknai melalui gambar dalam bentuk apapun atau melalui kata-kata dimana orang dapat mengatakan apa saja yang ingin dikatakan. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa representasi matematis dalam pembelajaran statistika dapat dimaknai sebagai suatu kemampuan dalam menyampaikan ide atau gagasan matematis dengan berbagai bentuk (tabel, grafik, simbol, pemaknaan kata-kata, dan persamaan matematis) dari apa yang dilihat atau diamati melalui informasi statistik yang diperoleh, serta dapat memberikan makna terhadap informasi tersebut.

Kemampuan representasi matematis yang dimiliki mahasiswa dalam pembelajaran statistika bertujuan mempermudah mahasiswa dalam menyajikan ide-ide mereka terhadap berbagai permasalahan yang terkait dengan statistika, diantaranya: 1). dapat menyajikan informasi dari tabel ke dalam bentuk grafik atau sebaliknya merepresentasikan grafik dalam bentuk tabel; 2) menulis simbol dan mengartikan istilah; 3) menggunakan prosedur matematika secara benar dalam pemecahan masalah statistika; 4) membuat argumen-argumen secara matematis pada situasi kontekstual yang terkait dengan statistika; 5) menggunakan variabel, membuat persamaan dan perhitungan; dan 6) menggunakan representasi matematis dalam bentuk lainnya untuk menyelesaikan permasalahan statistika.

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan peneliti sebagai dosen pengampuh mata kuliah Pendidikan Matematika I, Pendidikan matematika II, dan Statistika Pendidikan pada program studi PGSD yang digunakan sebagai salah satu acuan studi awal penelitian, terdapat beberapa temuan yang secara kontinu perlu diberikan penguatan terkait dengan kemampuan matematis dan statistis mahasiswa, di antaranya: 1) perlunya penguatan kemampuan dasar matematika 2) kemampuan statistika, dalam hal ini terkait dengan kesanggupan membaca grafik dan penggunaan simbol-simbol statistika; serta 3) kemampuan analisis dan interpertasi hasil analisis.

(5)

kesulitan mengkomunikasikan ide-ide yang dimiliki. Hal ini berpengaruh terhadap motivasi, sikap belajar, dan konsep diri (self concept) mahasiswa dalam perkuliahan statistika.

Perasaan seperti ini mengindikasikan adanya penilaian terhadap keterbatasan kemampuan diri dalam perkuliahan. Menurut Marsh (Mwangi & Githua, 2003) bahwa pandangan terhadap ketidakmampuan dari diri tentang harapan mencapai kesuksesan dan kepercayaaan diri dalam belajar statistika dan matematika menunjukan self concept negatif, sehingga akan berdampak pada motivasi belajar dan kecemasan yang berlebihan sebelum mengikuti pelajaran. Self concept merupakan proses multi-dimensi yang mengacu pada persepsi individu dari “diri” dalam kaitannya dengan sejumlah karakteristik seperti: penampilan fisik, tujuan, nilai-nilai, dan harga diri (Maurent & Margareth, 2012; Mars, et al, 1992). Pandangan ini menunjukkan bahwa self concept sangat mempengaruhi bagaimana mahasiswa merasa tentang diri mereka sendiri, terhadap kemampuan dan keputusan yang mereka buat terkait pendidikan mereka.

Self concept dalam perkuliahan statistika dapat terbentuk melalui interaksi belajar mengajar, di mana dosen dapat menciptakan suasana dan anggapan mahasiswa terhadap konsep dirinya, baik konsep diri positif maupun negatif. Pendidik yang profesional hendaknya dapat memunculkan konsep diri positif yang dimiliki mahasiswa. Misalnya menghargai pendapat mereka, memberikan kesempatan untuk bertanya, memberikan pujian dengan kata-kata (reward) yang dapat memotivasi belajar, dan tindakan-tindakan lain yang dapat membentuk self concept positif.

Bertolak dari beberapa temuan dan pandangan yang diuraikan, maka diharapkan mahasiswa dapat memahami konsep statistika secara baik dan dapat mencari solusi terhadap suatu permasalahan melalui kemampuan literasi dan representasi yang dimiliki. Kedua kemampuan ini dipandang penting dalam memunculkan self concept positif mahasiswa, sehingga dapat menghasilkan mahasiswa calon guru SD yang berkualitas. Pembentukan self concept mahasiswa dalam perkuliahan dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran kelompok yang inovatif. Hal ini membuat mahasiswa dapat terlibat aktif dalam berinteraksi, mampu berargumentasi dan bekerjasama, serta dapat mengeksplorasi ide-ide kreatif yang dimiliki.

Clair dan Chirara (2012) menggambarkan bahwa belajar dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil sangat bermanfaat dan membantu mahasiswa dalam mencari solusi terhadap suatu permasalahan, di mana cara seperti ini akan memicu keaktifan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Penelitian yang dilakukan menggunakan model Team-Based Learning dalam melatih mahasiswa untuk belajar statistika, khususnya literasi statistis, terungkap bahwa: 1) adanya peningkatan motivasi mahasiswa; 2) dari 50 responden, 94% menyukai format pembelajaran dengan model TBL pada literasi statistis; 3) pembelajaran literasi statistis dengan menggunakan model TBL lebih baik dari pembelajaran dengan non TBL.

(6)

kegiatan kelompok, namun para siswa dalam kelompok didorong untuk menemukan beragam pendapat atau ide yang dikeluarkan oleh setiap individu dalam kelompok.

Melalui kajian referensi-referensi dan analisis yang dilakukan dalam pemilihan model pembelajaran, maka model collaborative problem solving (CPS) di pandang memiliki keunggulan dan dapat memfasilitasi peningkatan literasi statistis, representasi matematis, dan self concept (LiReS) mahasiswa. Pemilihan model CPS dilandasi pemikiran bahwa model ini merupakan suatu bentuk belajar kelompok yang tujuan utamanya membentuk mahasiswa menjadi individu yang tangguh dalam pemecahan masalah-masalah statistika.

Model CPS membutuhkan keterampilan dalam pemecahan masalah dan mengelola perbedaan, yang terimplementasi melalui proses eksplorasi ide, transformasi, interpretasi, dan refleksi. Berkolaborasi juga dapat memfasilitasi mahasiswa untuk mengkonstruksi ide-ide kreatif dalam menyimak informasi yang dimunculkan melalui media literasi dan mampu menganalisis informasi tersebut untuk menemukan ide utama dari teks, melihat hubungan dan perbedaan melalui tabel, grafik, simbol-simbol statistika, dan informasi lainnya.

Berkolaborasi juga dapat membantu mahasiswa untuk terlibat aktif dalam berinteraksi dan bekerjasama sebagai suatu struktur dalam membangun ide secara individu maupun kelompok dalam memecahkan masalah. Mahasiswa yang memiliki keberagaman pola pikir dapat saling melengkapi dan memperbaiki kelemahan-kelemahan yang dimiliki.

Hal utama yang perlu diperhatikan dalam berkolaborasi adalah bagaimana dosen

bertindak sebagai fasilitator dalam mengarahkan dan mengontrol mahasiswa saat berkolaborasi, sehingga proses kolaborasi dapat berjalan secara optimal dan keberagaman pendapat melalui ide-de konstruktif yang ditransformasikan dapat ditemukan solusi dari permasalahan yang diberikan, serta terbentuknya sikap dan kemampuan mahasiswa secara individu.

DAFTAR PUSTAKA

Agbulu, O, N., & Idu, E, E. (2008). The Impact of Participatory and Expository Approaches on Learning of Agricultural Science in Senior Secondary Schools in Benue State. Journal. Social. Sciens., 16(3): 245-249 (2008).

Anastasiadou, S. (2009). Greek Student’s Ability in Probability Problem Solving. Proceedings of CERME 6, Lyon France.

Aoyama, K., & Stephen, M. (2003). Graph Interpretation Aspects of Statistical Literacy: A Japanese Perspective. Mathematics Education Research Journal, Vol 15, No 3.

Asia e Learning University. (2011) Learning Theories-Cognitive Learning Theories. (Online). (Tersedia: http://peoplelearn.homestead.com /beduc/ chapter_5.pdf . diakses, 5-2-2015).

Arikunto, S. (2010). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara Jakarta.

Badan Pusat Statistik Bali (2011). Mengerti Statistik. (Online). (Tersedia:

http://bali.bps.go.id/index.php. diakses, 15-12-2014).

(7)

Management Mathematics for European Schools University of Seville.

Bawias, M. F. (2005). Violence Representation Content Analysis in Cartoon Film South Park. Artikel Jurnal Ilmiah Universitas Kristen Petra Surabaya

Beheshtifar, M, D,, & Neshad, Z. R. (2013). Role of Self-Concept in Organizations. European Journal of Economics, Finance and Administrative Sciences ISSN 1450-2275 Issue 44

Beier, M. E., dan Rittmayer, M. A. (2008). Motivasional Factors In STEM: Interest and Self Concept. Rice University, Houston, TX.

Bergmann, M., Morris, C., & Ridlin, S. (2000). Developing a veloping a Positive ositive Self-Concept Self-Self-Concept. Rutgers Cooperative Extension New Jersey Agricultural Experiment Station.

Best, J. W,, & Khan, J. V. (1995). Research in Education Seventy Edition. Prentice Hall of India.

Bidgood, P., Hunt, N., Joliffe, F. (2010). Assessment Methods in Statistical Education An International Perspective. Wiley and Sons, Publication.

Boss, J. M., Gyamfi, K. A., & Cheetham, M. (2011). Translations Among Mathematical Representations: Teacher Beliefs and Practices. School Science and Mathematics Journal.

Buckingham, S., & Deakin Crick, R. (2012). Learning Dispositions and Transferable Competencies: Pedagogy, Modelling and Learning Analytics. International Conference on Learning Analytics & Knowledge, (29 Apr-2 May, Vancouver, BC). ACM Press: New York

Byrne, B. M. (2002). Validating the measurement and structure of selfconcept: Snapshots of past, present, and future research. American Psychologist, 57, 897–909

Chamberlin, J. (2013). A Working Definition of Empowerment. National Empowerment Center – Articles.

Clair, K.S., & Chirara, L. (2012). Team-Based Learning in a Statistical Literacy Class. Carleton College. Journal of Statistics Education Volume 20 (1). P. 10

Cooper, D., & Thatcher, M. B. (2010). Identification in Organizations: The Role of Self-Concept Orientations and Identification Motives. Academy of Management Review.Vol 35 (4).

Creswell, J. W. (2010). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Pustaka Pelajar Edisi Ketiga

Departement of Education Training And Employment. (2000). Drug Education R-12 Teacher Support Package. Hyde Park Press, South Australia ISBN 0730876691

(8)

Laporan Program for International Student’s Assessment. Jakarta. Pusat Penilaian Pendidik.

Drews, D. (2007). Do resources matter in primary mathematics teaching and learning?. published in 2007 by Learning Matters Ltd

Edwards, S. (1998). Managing effective teaching of mathematics 3–8. London: Paul Chapman.

Elizabeth, B., K & Copeland, S, R. (2011). What Is Literacy? The Power of a Definition. Research & Practice for Persons with Severe Disabilities 2011, Vol. 36, No. 3Y4, 92–99

Farmer , L., & Stricevic, I. (2011): Using research to promote literacy and reading in libraries: Guidelines for librarians. International Federation of Library Associations (IFLA).

Fauzi, R. (2009). Konsep Vygotsky. (Online). (Tersedia: http://rifqie-yupss.com / 20/09/03/konsep-vygotsky-tentang-perkembangan, diakses 13-2-2015].

Fernandes. (2005). Understandings of Literacy. Education for All Global Monitoring Report Canada.

Fransisco, J. S & Maria, D. S. (2003). Secondary School Guidance Conselors Almeria Spanyol Relationships Between Self-Concept and Academic Achievment In Primary Students. Electronic Journal Of Psychology And Psychopedagogy vol 1.

Fuji, A, N. (2013). Efektivitas Model Pembelajaran Ekspositori Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pokok Bahasan Ayat Jurnal. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran (JIIP) Universitas Tanjung Pura.

Gal, I. (2002). Adults' Statistical Literacy: Meanings, Components, Responsibilities, in Statistical Review Revue Internationale de Statistique volume70.

Garfield, J. (1995). How students learn statistics. International Statistical Review, 63(1), 25-34.

Garfield, J. (1999). Thinking about Statistical Reasoning, Thinking, and Literacy. Paper presented at First Annual Roundtable on Statistical Thinking, Reasoning, and Literacy.

Garfield, J., & Ahlgren, A. (1988). Diffieculties in Learning Basic Concepts in Probability and Statistics: Implications for Research. Journal for research in mathematics Education Vol 19 No 1.

Githua, B. N., & Mwangi, J, G. (2003). Students’ mathematics self-concept and motivation to learn mathematics: relationship and gender differences among Kenya’s secondary-school

students in Nairobi and Rift Valley provinces. International Journal of Educational Development 23 (2003) 487–499

(9)

Golub, J. (1998). Focus on Collaborative Learning. Urbana, IL: National Council of Teachers of English.

Goodwin, L, D., & Leech, N, L (2006). Understanding Correlation: Factors That Affect the Size of r. The Journal of Experimental Education, 2006, 74(3), 251–266.

Halloluwa, H, et al. (2011). Smart Interactive Comprehensive Learning Aid: Practical

Application of Bruner’s Theories in Primary Education. International Journal of Scientific & Engineering Research Vol 2, Issue 11 November-2011 ISSN 2229-5518.

Harjasuganda, D. (2008). Pengembangan Konsep Diri Yang Positif Pada Siswa Sebagai Dampak Penerapan Umpan Balik (Feedback) Dalam Proses Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Dasar No 9.

Hays, W. L. (1976). Quantification in Psychology. New Delhi: Prentice Hall.

Hergenhahn, B. R., & Olson, M. H. (2009). Theories of Learning (Teori Belajar). Kencana Prenada Media Group Jakarta.

Hiebert, J., & Carpenter, T. P. (1992). Learning and teaching with understanding. In D. A. Grouws (Ed.), Handbook of research on mathematics teaching and learning (pp. 65-97). New York: Mcmillan

Hurlock, E . B. (1992). Developmental Psycology: A Life Span Approach, fifth edition. Mc Graw Hill.

Hwang, W.Y., Chen, N.S., Dung, J.J., & Yang, Y.L. (2007). Multiple Representation Skills and Creativity Effects on Mathematical Problem Solving using a Multimedia Whiteboard System. Journal Educational Technology & Society, Vol (10), 2. 191-212.

Hudiono, B. (2005). Peran Pembelajaran Diskursus Multi Representasi Terhadap Pengembangan Kemampuan Matematis dan Daya Representasi Pada Siswa SLTP. Bandung. Disertasi. (Tidak dipublikasikan).

Janvier, C., Girardon, C., & Morand, J. (1993). Mathematical symbols and representations. In P. S. Wilson (Ed.), Research ideas for the classroom: High school mathematics (pp. 79102). Reston, VA: NCTM. Krutetskii, V. (1976). The psychology of mathematical abilities in schoolchildren. Chicago: University of Chicago Press.

Jacob, C. (2009). Belajar Kolaboratif Lawan Kooperatif: Suatu Perbandingan Dua Konsep yang Dapat Membantu Kita Mengerti Ciri Utama Belajar Interaktif. (Online). (Tersedia:

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/ Jur._ Pend._ Matematika /194507161976031- Kolaboratif_ Lawan Kooperatif. Pdf.

(10)

(Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/ FPMIPA/JUR.Pend. matematika //Perencanaan _Pembelajaran _Matematika /open -ended_3.pdf, diakses 20-1-2015).

Kawulich, B. B. (2005). Participant Observation as a Data Collection Method. Forum Qualitative Social Research, Vol 6, No 2.

Kern, R. (2000). Literacy and Language Teaching. Oxford: Oxford University Press

Koedinger, K. R., & Nathan, M. J. (2004). The real story behind story problems: Effects of representations on quantitative reasoning. The Journal of the Learning Sciences, 13(2).

Kurniawan, B. (2013). Model Pembelajaran Kolaborasi (Collaborative Learning). (Online). (Tersedia: https:// kurniawan bud i04. http://wordpress.com/2013/ 05/27/ collaborative – learning, diakses 12-2-2015).

Kurniawan, D. (2008). Uji T 2-Sampel Independen (Independent 2-Sample T-Test). R

Development Core Team (2008). R: A language and environment for statistical computing. R Foundation for Statistical Computing.

Larsen, J. (2013). Attitude in Mathematics: A Thematic Literature Review. (Online). (Tersedia:

http://www.peterliljedahl.com/wp-content/uploads/Sample-Lit-Larsen.pdf, diakses 15-6-2015).

Lesser, L. M., & Tchoshanov. (2005). The Effect of Representation and Representational Sequence on Stufents Understanding. Proceedings of the 27th Annual Meeting of PME-NA, Virginia Tech.

Leonard., & Supardi, U. S. (2010). Pengaruh Konsep Diri, Sikap Siswa Pada Matematika, Dan Kecemasan Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika. Cakrawala Pendidikan, November 2010, Th. XXIX, No. 3

MacGregor, M., & Price, E. (1999). An exploration of aspects of language proficiency and algebra learning. Journal for Research in Mathematics Education, 30, 449-467

Martadiputra, B. A. P. (2010). Kajian Tentang Kemampuan Melek Statistis (Statistical Literacy), Penalaran Statistis (Statistical Reasoning), dan Berpikir Statistis (Statistical Thinking) Guru SMP/SMA (Studi Terhadap Guru SMP/SMA yang mengikut kegiatan PPM Dosen Jurdikamat UPI di Kab. Subang dan peserta PLPG Sertifikasi Guru Guru Matematika SMP di BMI Lembang). Jurnal Pemas Pendidikan UPI.

Marshall, C., & Rossman, G, B. (1995). Designing qualitative research. Newbury Park, CA: Sage.

(11)

Maureen, T. D., & Margaret, M. (2012) Self-concept and tacit knowledge: Differences between cooperative and non-cooperative education students. St. Jerome's University/University of Waterloo, Canada. Asia-Pacific Journal of Cooperative Education, vol 13.

Meltzer, D. E. (2000). Student Learning Of Physics Concept: Efficacy Of Verbal And Written Form Of Expression In Comparison To Other Representational Modes. Departement Of Physics And Astronomy, IOWA State University.

Meltzer, D. E. (2002). The Relationship between Mathematics Preparation and Conceptual Learning Gains in Physics: A Possible "Hidden Variable" in Diagnostic Pretest Scores. American Journal of Physics. v70 n12 p1259-68

Moyer, P. (2001) Are we having fun yet? How teachers use manipulatives to teach mathematics. Education Studies in Mathematics, 47(2): 175–197.

Murni, A. (2013). Peningkatan Kemampuan Representasi Matematis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Metakognitif dan Pembelajaran Metakognitif Berbasis Soft Skill. Jurnal Pendidikan , vol 4. No 2

National Council of Teachers of Mathematic NCTM. (2000). Principles and Standards for School Mathematics. Reston; Virginia: NCMT.

Nurdianto, E., & Suryanto, E. (2010). Pembelajaran literasi Bahasa Indonesia Pada Kelas V Sekolah Dasar. Jurnal Pedagogia Jilid 13 No 2.

Nurjannah, A. (2013). Pendekatan Pembelajaran Ekspositori. (Online). (Tersedia: https://

amalianurjannah. http://files.com/2013/05/11- pendekatan-pembelajaran ekspositori. pdf, diakses 1-1-2015).

OECD. (2011). Literacy For Life. Further Results From The Adulty Literacy And Life Skills Survey. OECD Statistics Canada.

Pambudi, P. S., & Wijayanti, D. Y. (2012). Hubungan Konsep Diri dengan Prestasi Akademik pada Mahasiswa Keperawatan. Jurnal Nursing Studies, Volume 1, Nomor 1 , hal 149 – 156

Pape, S., & Tchoshanov, M. (2001). The role of representation(s) in developing mathematical understanding. Theory into Practice, 40(2), 118-127.

Quitana, C., Reiser, B. J., Davis, E. A., Krajcik, J., Fretz, E., Duncan, R. G., Kyza, E., Edelson, D. C., & Soloway, E. (2004). A scaffolding design framework for software to support science inquiry. The Journal of the Learning Sciences, Vol 13 (3).

Reid. (2004). Enhancing Student thinking through Collaboration Learning. (Online). (Tersedia: http//.ed.gov/database/ERIC_Digest/, diakses 2-5-2014)

(12)

Journal, vol 84, 558-581.

Rofiq, Z. (2008) Collaborative Learning: Promising Learning Model. Yogyakarta

StateUniversity.(Online).(Tersedia:http://staf.uny.ac.id/sites/default/files/Promising, diakses 3-2-2017).

Rosenberg, M. (1979). Conceiving the self. New York: Basic.

Rumsey, D. J. (2002). Statistical literacy as a goal for introductory statistics courses. Journal of statisties education, vol 10. Ohio state university.

Sabandar, J. (2010). Thinking Classroom Dalam Pembelajaran Di Sekolah. (Online), (Tersedia:

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/Jur_Pend_Matematika, diakses 12-2-2014).

Sabirin, M. (2014). Representasi Dalam Pembelajaran Matematika. JPM IAIN Antasari Vol. 01 No. 2.

Sanjaya, W. (2008). Sanjaya, W. 2008. Strategi Pembelajaran. Bandung : Kencana Prenada Media Group.

Saomah, A. (2011). Implikasi Teori Belajar Terhadap Pendidikan Literasi. [Online]. Tersedia:

http://www.google.com Implikasi+Teori+Belajar+Terhadap +Pendidikan +Literasi.[3 – 3 - 2014]

Scorepak. (2005). Item Analysis. Educational Assessment University of Washington

See Cheng, L. (2006). On varying the difficulty of test items. A paper presented at the 32nd Annual Conference of the International Association for Educational Assessment, Singapore.

Shavelson, R.J., Hubner, J. J., & Stanton, G. C. (1976). Self-Concept: Validation of Construct Interpretations. Review of Educational Research 46.3: 407–41.

Smith, B. L., dan MacGregor, J. (1992). Collaborative Learning: A Sourcebook for Higher Education.University Park, PA: National Center on Postsecondary Teaching, Learning and Assessment (NCTLA).

Somakim. (2010). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis dan Self-Efficacy Matematik Siswa Sekolah Menengah Pertama dengan Penggunaan Pendekatan Matematika Realistik. Disertasi Doktor pada SPs Universitas Pendidikan Indonesia Bandung: Tidak diterbitkan.

SSC. (2000). Informative Presentation of Tables, Graphs and Statistics. Biometrics Advisory and Support Service to DFID.

(13)

Tailor, R. (1990). Interpretation of the Correlation Coefficient: A Basic Review.Journal of Diagnostic Madical Sonography.

Takaria, J. (2010). Penerapan RME dalam pembelajaran statistika berbasis budaya Lease Maluku. Prosiding Seminar Nasional PGSD FKIP Unpatti.

Takaria, J. (2014). Peningkatan Self Concept Statistika Mahasiswa Calon Guru Sekolah Dasar Melalui Model Collaborative Problem Solving (CPS). Prosiding Seminar Nasional PGSD FKIP Unpatti.

Teale, W. H., dan Sulzby. (1986). Emergent Literacy. Norwood, NJ: Ablex.

Tishkovskaya, S & Lancaster , A.G. (2010). Teaching Strategies To Promote Statistical Literacy: Reviu and Implementation. Lancaster University United Kingdom. International Association of Statistical Education (IASE).

Turuk, M. C. (2008). The Relevance And Implications Of Vygottsky’s Sociocultural Theory In The Second Language Classroom. ARECLS, 2008, Vol.5, 244-262.

Tun, Y, B, U., & Yates, S, M. (2007) A Rasch analysis of the Academic Self-Concept Questionnaire. International Education Journal, 2007, 8(2), 470-484.

Utomo, D. Y. (2002). Model Pembelajaran Kooperatif; Teori Yang Mendasari dan Prakteknya Dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan. Scientific jurnal Universitas Muhammadiyah Malang

Verhoeven, P. (2006). Statistics education in the Netherlands and Flanders: An outline of introductory courses at Universities and Colleges. In ICOTS-7 Conference Proceedings.

Wahyudin. (2008). Pembelajaran dan Model-Model Pembelajaran. Bandung: UPI.

Watson, J. M. (2003). Statistical Literacy at the School Level:What Should Students Know and Do?. University of Tasmania, Faculty of Education, Australia

Widjajanti, D. B. (2011). Mengembangkan kecakapan matematis Mahasiswa Calon Guru Matematika Melalui Strategi Perkuliahan Kolaboratif Berbasis Masalah. Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta.

Yatmoko, S. F. (2010). Model Pembelajaran Ekspositori. (Online). (Tersedia: http//www. susilofy. http://wordpress.com /2010/10/17/ model-pembelajaran - ekspositori/, diakses 8 – 3 – 2013).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...