BAB II
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN KENDO
2.1 Pengertian Kendo
Donohue (1999:1) mengemukakan bahwa :
“What is Kendo? Kendo is the modern, ritualized version of Japanese fencing. There are many Japanese sword arts in existence today. They span the range from true classically-oriented combat systems that attempt to train individuals in traditional Japanese military skills (often termed bujutsu) to more modern, specialized systems such as iaido, which focuses on the technique and esthetics of drawing the longsword. As a generic term, in fact, Kendo can refer to any system of Japanese swordmanship as I use it here, “Kendo” refers to the modern martial art referred to as Nippon Kendo. It can be considered a sport, as well as a physical and mental discipline. It is, in some sense, all of these things. When properly and conscientiously practiced, Kendo is a Do, a path or way that can lead the trainee to self cultivation. It combines the stress and excitement of competition with the potentially profound insights that can be gainedfrom the practice of the Japanese martial arts.”
Terjemahan :
mengembangkan dirinya. Hal ini menggabungkan rasa stres dan kegembiraan dalam kompetisi dengan potensi mendapatkan wawasan yang luas yang dapat diperoleh dengan cara berlatih seni bela diri Jepang.
Honda (2012:1) juga menjelaskan bahwa :
“Kendo is a traditional martial art in which practitioners can learn together, and from each other regardless of skill level or age, and is something that can be continued to be practiced throught one’s life. Kendo is also physical activity in which practitioners attempt to strike parts of the body protected by armour with shinai. Therefore, practitioners have a responsibility to learn proper technique and avoid rough and violent striking with an attitude of respect for others.”
Terjemahan :
Kendo adalah bela diri tradisional yang mana pemain dapat belajar bersama dan dari siapa saja tanpa memperhatikan umur atau level, dan itu adalah sesuatu yang bisa dilanjutkan dan dilatih sepanjang hidup.Kendo juga aktivitas fisik yang mana pemain berupaya untuk menyerang bagian tubuh yang dilindungi oleh baju besi dengan pedang bambu. Oleh karena itu, pemain mempunyai tanggung jawab untuk belajar teknik yang benar, menghindari kekerasan dan kekasaran memukul dengan sikap yang menghargai orang lain.
Berdasarkan pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa kendo adalah seni bela diri menggunakan pedang yang berasal dari Jepang yang telah menjadi semacam tradisi karena bersifat turun-temurun dari generasi ke generasi. Kendo juga dapat diartikan suatu jalan atau proses disiplin diri yang membentuk suatu pribadi samurai yang pemberani dan loyal.
2.2 Sejarah dan Perkembangan Kendo
ribuan tahun yang lalu (Tokeshi, 2003:3).Meskipun asal-usulnya masih samar-samar, kendo sepertinya berkembang sedikit demi sedikit dari pengalaman pertempuran.Cerita mitos dari para Dewa dan Dewi menunjukkan bahwa orang-orang Jepang purbakala melihat penggunaan pedang dalam hal kebangkitan dan perdamaian.Pedang yang dimaksud dalam kojiki (catatan sejarah tertua di Jepang) adalah chokken (pedang lurus) yang dibuat di Korea atau Cina.Kurang bagusnya bahan dan kekurangan sebuah shinogi (poros sepanjang belakang pisau) membuat chokken tidak berguna untuk memotong, jadi di pertempuran hanya digunakan untuk menusuk.Chokken ditingkatkan dari yang bermata dua sampai bermata satu dan terbuat dari besi. Pada awalnya pedang melengkung di zaman Heian, yang jauh lebih kuat dan lebih berguna dalam memotong dan menembus.Ini dengan jelas menandai perubahan teknik dari menusuk ke memotong.
Pada zaman Heian (abad 8 sampai abad 12) perlombaan bela diri tahunan diadakan di ibukota Heian. Prajurit harus berlatih kendo dan seni beladiri lain secara rajin untuk menghadapi perlombaan ini. Di zaman yang sama terlihat perubahan kekuatan dari kelas bangsawan sampai kelas pejuang, diawali dengan klan Taira (Heike), klan Minamoto (Genji), dan klan Hojō. Seni, sastra, agama,
dan budaya pada umumnya tumbuh di zaman Heian, tapi kepuasan diri sendiri dan korupsi di ibukota membuat kekacauan disana pada saat terjadi konflik diantara klan Taira dan klan Minamoto, kejadian ini menandai berakhirnya zaman Heian. Taira no Kyōmori telah mengalahkan klan Minamoto untuk menguasai
Klan Taira secara singkat menguasai pemerintahan sekitar 2 tahun sampai adanya operasi militer Dan no Ura yang terkenal pada tahun 1185, dimana klan Minamoto berhasil mengalahkan klan Taira. Minamoto no Yoritomo memulai pemerintahan militer (bakufu) di Kamakura (dekat yang saat ini Yokohama).Klan Minamoto menurun dengan kematian Yoritomo pada tahun 1199, tetapi Hōjō
Tokimasa dan keluarganya naik ke kekuasaan lewat pernikahan, politik, pembunuhan, dan kekuatan militer.
Pada zaman Kamakura, Muromachi, dan Azuchi-Momoyama, kendo mendapatkan kerohanian dan kualitas keagamaan lewat penggabungan agama Buddha Zen. Zen dalam agama Buddha berasal dari abad ke-10 di Cina tepatnya di mulut sungai Yangtze. Bentuk dalam agama Buddha disebut Ch’an, yang berasal dari bahasa Sansekerta dhyana, yang berarti “meditasi”, yang diambil oleh pemerintah Cina dan telah berkembang. Pendeta Rinzai di Jepang yang bernama Eisai (1141-1215) mengunjungi Cina dan membawa pulang Ch’an, yang dikenal sebagai Zen di Jepang.
dan upacara minum teh kepada Jepang, istilah dalam kendo seperti chakin shibori sering datang dari upacara minum teh.
Gaya bertarung dari kendo pada awalnya pasti sangatlah sederhana dan mungkin sebatas memegang tachi (pedang panjang), menusuk lawan lewat lubang yang ada pada baju pelindung, atau mengayunkan pedang sambil menunggang kuda.Namun, segera menjadi jelas bahwa samurai yang mahir menggunakan katana (pedang Jepang) cenderung berhasil dalam pertarungan jarak dekat, yang
mana pada akhirnya membuat dirinya dipromosikan lebih cepat daripada prajurit lainnya.Tidak sulit membayangkan bahwa permintaan untuk keterampilan dalam kendo nantinya dibuat untuk kebutuhan sekolah-sekolah kendo, dimana para samurai muda bisa berlatih keterampilan pertarungan jarak dekat.
Hayashizaki Jinsuke Shigenobu (1545 – 1621) mendirikan Musōshinden ryū school, dimana para siswanya berlatih seni dalam menarik pedang dengan cepat, yang disebut dengan iaido. Banyak ahli pedang terkemuka yang menggantikannya dan sekolahnya terus berkembang sampai hari ini, meskipun beberapa ahli pedang mendirikan sekolah iaido mereka sendiri.
Dipertengahan abad ke-16, dengan didirikannya banyak sekolah yang berbeda, kendo menjadi lebih terorganisir. Sekolah-sekolah besar yang didirikan antara lain seperti Kashima ryū dari Hitachi (daerah Ibaragi), Kage ryū dari Iga
(daerah Mie), Ittō ryū dari pulau Izu Ōshima, dan Jigen ryū, didirikan oleh Tōgō Shigetaka (1561 – 1643) di Satsuma (daerah Kagoshima).
dalam kendo untuk bekerja, dan dizaman Edo juga telah banyak menghasilkan master kendo legendaris, seperti Miyamoto Musashi, Tsukahara Bokuden, Kamiizumi Nobutsuna, dan Yagyū Sekishūsai Mitsuyoshi. Filosofi dari para
master kendo itu merubah penekanannya dari keberanian, keterampilan, dan potensi individu menjadi kesetiaan kepada para tuannya, seperti yang ditekankan pada sistem konfusianisme. Filosofi ini adalah dasar yang penting bagi sistem feudal dibawah pemerintahan Tokugawa.
Pada abad ke-18 pertengahan akhir juga terlihat perkembangan kendo modern, dengan digunakannya baju pelindung kendo, seperti yang digunakan saat ini, dan penggunaannya shinai (pedang bambu), yang mana sekarang adalah perlengkapan standar. Sebelum digunakannya baju pelindung ini, kendo hanya dipraktekkan sebagai kata (pola), karena pada dasarnya latih tanding bebas sangatlah berbahaya.
Gambar 2.1 Samurai pada tahun 1800an
pelajar dan dimasyarakat. Perang Sino-Jepang (1894-1895) juga merangsang minat pada kendo, dan Dai Nippon Butoku Kai, sebuah organisasi nasional yang bertujuan untuk mempopulerkan kendo, didirikan pada tahun 1895.
Di awal abad ke-20, ketertarikan pada kendo semakin besar dengan disertakannya kurikulum pendidikan jasmani di sekolah menengah atas.Kemenangan dalam perang Russo-Jepang (1904-1905) membuat kekuatan militer Jepang diakui di mata internasional.Pada tahun 1906, Butoku Kai mendirikan tiga bentuk kata untuk mempromosikan kendo di sekolah dasar.Watanabe Noboru membantu dalam mendirikan federasi kendo di perguruan tinggi yang pertama di Universitas Tokyo dan mempopulerkan kendo di kalangan mahasiswa.Reformasi pendidikan pada tahun 1911 mengamanatkan untuk manggabungkan kendo ke dalam kurikulum sekolah Jepang. Dai Nippon Teikoku Kendo Kata didirikan tahun 1912 oleh para praktisi kendo yang hebat dari sekolah yang berbeda-beda, termasuk Negishi Shingorō, Tsuji Shinpei, Naitō Takaharu, Monna Tadashi, dan Takano Sasaburō, untuk mengajarkan dasar kendo di sekolah menengah atas. Pada tahun 1928, Zen Nihon Kendo Renmei (All Japan Kendo Federation) didirikan.Federasi tersebut mengadakan ujian tahunan untuk kenaikan
tingkat.Master kendo pada zaman ini yaitu Nakayama Hakudō, Sasamori Junzō, Mochida Moriji, Saimura Gorō, Ogawa Kinnosuke, dan Nakakura Kiyoshi.
kembali tahun 1952 bulan Oktober.Pada tahun 1955 kendo diakui sebagai salah satu perlombaan di festival olahraga nasional Jepang.Sedikit demi sedikit kendo mendapatkan pengakuan dari pihak Internasional.Pada tahun 1970 International Kendo Federation (IKF) didirikan dan mengadakan turnamen dunia untuk pertama kalinya di Jepang.
AJKF sangat aktif dalam mempromosikan kendo dan semangat kendo.Kita melihat perubahan secara teknis dalam kendo kata, dan beberapa perubahan utama dalam peraturan dan undang-undang yang mengatur tentang kenaikan tingkat dan gelar maupun shiai (pertandingan) dan shinpan (penilaian).AJKF mengadakan seminar untuk melatih para pelatih dan sangsi dalam sebuah turnamen.Dalam berlatih kendo, anak-anak kecil belajar dasar-dasar kendo. Tujuan utama dari berlatih kendo dalam jangka panjang adalah untuk mengembangkan anak-anak muda menjadi orang dewasa yang akan berguna bagi masyarakat. Persyaratan untuk menjadi penduduk yang baik adalah dengan mempunyai badan yang sehat, kuat, sifat baik, mental yang tangguh, mengerti makna dari wa (kasih sayang dan kerjasama), dan mampu untuk mengatasi kerasnya dan kesulitan dalam suatu kehidupan. Berlatih kendo secara tepat dan rajin akan menjaga kualitas tersebut.
2.3 Perlengkapan dalam Olahraga Kendo 2.3.1 Bōgu
Bōgu (防 具) adalah baju pelindung yang dikembangkan secara khusus
yang digunakan pada seni beladiri Jepang (http: Bōgu adalah baju pelindung yang dipakai oleh kendoka saat latihan dan pada saat mengikuti turnamen. Bōgu dikenakan diatas kendōgi (seragam) yang terdiri dari keikogi atau dōgi (baju) dan hakama (celana tradisional Jepang). Dan sebuah balutan kapas tradisional Jepang yang disebut tenugui dipakai sebagai lapisan didalam men untuk memberikan ketahanan dan
kenyamanan bagi si pemakai. Dalam situs (
http:
Men (面) adalah pelindung kepala atau helm yang tersusun dari mengane (bagian pelindung berbentuk kisi-kisi terbuat logam campuran duraluminum atau titanium), menbuton (bagian memanjang yang melingkari sisi kanan dan kiri dari mengane), dan tsukidare (bagian pelindung daerah tenggorokan). Men dibuat sedemikian rupa untuk melindungi bagian kepala, mata, telinga, leher, dan bahu dari serangan lawan. Pada saat memilih men, pastikan memilih menbuton yang berkualitas baik dan cukup lebar untuk menutupi kepala bagian belakang. Jika terlalu sempit, ditakutkan tidak memberikan cukup perlindungan dari cedera kepala ketika jatuh kebelakang. Sangat baik untuk memakai men yang mempunyai ukuran pas dan nyaman di kepala. Karena men cukup berat, pemanasan atau latihan di bagian leher sangatlah penting sebelum memakai men tersebut dan diharuskan membersihkan men setiap selesai latihan, sebab keringat
ōgu terdiri dari men
bisa menyebabkan bertumbuhnya bakteri dan jamur. Sangat dianjurkan juga untuk mengeringkan men dengan sinar matahari secara langsung selama tiga puluh menit atau digosok dengan handuk basah yang panas. Ketika menyimpan men, lebarkan menbuton di atas lantai.
Gambar 2.2Men (面)
Dō (胴)adalah pelindung perut dan dada yang tersusun dari bagian serat
dihilangkan dengan kain basah dan bisa dikilapkan dengan kain kering. Juga bersihkan bagian dada dō dengan sikat biasa atau sikat gigi.
Gambar 2.3Dō (胴)
Kote(小 手)adalah pelindung tangan yang dibuat dengan menggunakan bahan kain, kulit sapi, atau kulit luar rusa untuk fleksibilitas yang lebih baik. Bagian telapak tangan dari kote dapat terbuat baik dari kulit sintesis (lebih tahan lama), kulit sapi, atau kulit rusa, walaupun pada umumnya kote lebih cepat rusak daripada men ataupun dō. Kote harus dibuat sedemikian rupa agar ukurannya pas. Tali pada kote juga dapat disesuaikan ikatannya untuk kenyamanan pemakaian yang lebih baik.
Tare (垂 れ)adalah pelindung pinggang atau perut yang terdiri dari wakihimo (ikat pinggang), tare obi (celemek pinggang), dan maedare (penutup berbentuk besar dan kecil untuk melindungi daerah paha). Sebagai tambahan para kendoka juga memasangkan namanya pada maedare yang terletak ditengah-tengah. Kantong nama ini kadang disebut juga nafuda atau zekken (tidak untuk dipergunakan sebagai kantong). Pada nafuda ini akan terlihat nama klub atau nama negara (nama negara digunakan pada turnamen-turnamen internasional) dan juga ditambahkan nama dari kendoka itu sendiri baik dalam bahasa Inggris, Jepang atau China. Selain itu yang hanya dapat ditambahkan pada nafuda hanyalah lambang klub atau bendera negara. Warna dasar nafuda biasanya hitam ataupun biru gelap.
Gambar 2.5Tare (垂れ)
2.3.2 Kendōgi
Kendōgi (剣 道 着) terdiri dari bagian dōgi(道 着) yaitu baju dan
hakama( 袴 ) yaitu celana tradisional Jepang
Seperti juga halnya pada dōgiuntuk karate dan judo, dōgi didesain untuk mengurangi efek dari pukulan serta pada saat yang sama memudahkan pemakainya untuk bergerak. Beberapa dōgi juga memiliki lapisan pada jahitan dalam untuk membantu menyerap keringat.
Gambar 2.6Dōgi(道着)
Hakamaadalah celana tradisional Jepang yang berbentuk seperti rok. Pada
Gambar 2.7 Hakama(袴) 2.3.3 Shinai
Dalam http:/
竹刀) adalah
pedang yang terbuat dari bambu yang digunakan pada saat latihan dan kompetisi. Shinai dibuat dengan tujuan supaya mengurangi cedera serius pada kendoka
selama latihan. Ada sebuah teori yang menjelaskan bahwa Kamiizumi Nobutsuna adalah orang pertama yang membuat shinai dari bambu. Dia berulang-ulang membelah ujung dari panjang bambu, lalu dibalut dengan kulit. Dia menyebut ini sebagai fukuro shinai. Beberapa orang berpikir bahwa shinai jenis ini digunakan semasa pertandingan antara Kamiizumi (Kōzumi) Nobutsuna dan Yagyū
Muneyoshi. Bahkan sampai hari ini fukuro shinai ini masih digunakan di Yagyū Shinkage ryū. Ukuran panjang shinai yang paling cocok untuk setiap kendoka
yaitu mulai dari tanah sampai ke dada kendoka.
Gambar 2.8Shinai (竹刀) 2.3.4 Bokken
oleh para samurai pada masa feudal Jepang. Bokken juga bisa menjadi senjata yang mematikan bagi mereka yang ahli dalam menggunakannya.
Gambar 2.9Bokken(木剣)
2.4 Elemen Dasar dalam Olahraga Kendo 2.4.1 Dōjō
Dōjō adalah ruangan besar atau tempat suci yang digunakan untuk berlatih,
Pada waktu memasuki dōjō, diharuskan melepas semua benda-benda duniawi termasuk sepatu, kaos kaki, topi, kacamata, jam, kalung, anting dan perhiasan lainnya. Merokok, minum, atau makan permen didalam dōjō sangatlah dilarang. Bersiul, bernyanyi, atau membuat berisik juga tidak diperbolehkan. Dōjō harus tetap dijaga kebersihannya. Sebelum latihan dimulai, dōjō harus disapu dan dipel sampai benar-benar bersih. Secara tradisi, anggota yang paling baru harus membersihkan lantai, tetapi siapapun yang datang lebih dulu tetap bisa membersihkannya. Membersihkan dōjō juga bagian dari pemanasan sebelum
berlatih. Dōjō juga harus dibersihkan dengan rasa penuh hormat dan bangga.
2.4.2 Reihō
Kendo berakar sangat kuat pada tradisi. Menurut Tokeshi (2003:77) reihō (etika) dalam kendo sama juga halnya seperti pelajaran dalam hidup, didasarkan pada akal sehat dan rasa hormat terhadap sesama. Dalam berlatih kendo yang juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak boleh ada kesombongan dalam meraih kesuksesan dan kemenangan, ataupun menghina pihak yang kalah. Berlatih reihō juga membantu kita untuk mengkontrol emosi, menanamkan rasa hormat dan kerendahan hati. Etika adalah syarat utama untuk menjadi manusia yang beradab dan salah satu kebajikan yang sangat penting dari seorang samurai. Peraturan yang ada didalam dōjō ini ditujukan untuk menciptakan harmonisasi, yang dengan demikian dalam jangka panjang aturan yang sederhana ini dapat mencegah timbulnya permasalahan antara sesama anggota klub. Para pemula yang baru memulai kendo mungkin akan sedikit terintimidasi dengan banyaknya hal-hal yang harus diingat.
kerendahan hati diibaratkan sebagai badan kosong yang berjalan. Menurut Sasamori Junzo, pelatih kendo yang terkenal, siapapun harus tunduk untuk menghormati pendiri sekolah (ryuso), guru (shi), kakak senior (senpai), rekan (doryo), adik junior (kohai), dan dirinya sendiri (jiko). Tindakan dan ide untuk tunduk ke siapapun, termasuk diri sendiri, adalah salah satu dasar latihan untuk diri sendiri.Seorang kendoka harus tunduk kepada shinzen (altar) dan
shōmenketika masuk atau keluar dari dōjō.Dari
mulaimemasukisampaimeninggalkan dōjō, kendoka mungkin akan tunduk sebanyak enam puluh atau delapan puluh kali. Kendoka juga harus tunduk sebelum dan sesudah setiap sesi keiko (latihan) dengan pasangannya. Setelah latihan selesai, kendoka harus tunduk didepan semua sensei, dimulai dari tingkat yang paling tinggi.Sangat pantas untuk menaikkan kepala setelah setiap sensei menaikkan kepala mereka, baik dalam ritsurei (tunduk sambil berdiri) atau zarei (tunduk sambil duduk).
Istilah seiza dan mokuso (meditasi) digunakan secara bergantian.Seiza mungkin bisa diartikan sebagai berlutut dalam ketenangan ataupun duduk dalam gaya formal yang mana menjadi dasar untuk mencapai keadaan mokuso (Tokeshi, 2003:78). Dalam hal ini keadaan mata setengah tertutup (hangan).Di beberapa
dōjō, mokuso dilakukan sebelum dan sesudah latihan.Dalam kendo juga ada
ritsurei (tunduk dengan posisi berdiri). Untuk melakukan ritsurei, lipatkan dagu
Selain itu juga ada chakuza dan zarei.Ketika mendengar perintah untuk berlutut dari posisi berdiri, “chakuza!” bengkokkan lutut kiri dan tempatkan di atas lantai seperti menyapu bagian dalam kaki kiri kebelakang. Kemudian ulangi cara ini pada kaki kanan dan tangan kanan (hakama sabaki). Jari kaki akan menyentuh lantai dan posisi badan akan lurus kemudian duduk seperti biasa diatas lipatan kaki. Pada waktu berlutut, posisi tangan akan berada diatas paha. Posisi badan tetap lurus, dan posisi hidung sampai pusar akan tetap sejajar. Kemudian dilanjutkan dengan zarei dimana harus selalu melihat kearah lawan atau sensei tepat di mata sebelum menunduk.Lengkukkan siku dan letakkan kedua tangan diatas lantai didepan lutut membentuk segitiga, ibu jari dan jari telunjuk saling bersentuhan. Ibu jari akan lurus dan membentuk segitiga terbalik. Menunduk secara perlahan dan sungguh-sungguh sampai siku hampir menyentuh lantai dan arahkan mata ke lantai dengan formal shin-zarei.Tidak boleh mengangkat pinggul, dan tengkuk leher harus terlihat.
Dalam latihan kendo gaya lama juga ada sonkyo no rei, namun tidak biasa dilakukan dalam kendo gaya modern. Rei juga dilakukan pada waktu latihan, diharuskan melakukan ritsurei dengan shinai dengan tangan kiri sebelum memulai latihan.Selama latihan juga menunduk dengan merendahkan posisi shinai dan mengarahkannya sedikit ke kanan.
2.4.3 Ma’ai
Ma’ai (間合) adalah jarak diantara musuh, tidak hanya jarak secara fisik tetapi juga jarak secara spiritual dan jarak sementara (Tokeshi, 2003:97). Jarak yang secara fisik adalah chikama, issoku ittō no ma, dan tōma. Dalam melakukan chikama (jarak dekat), tidak ada waktu untuk ragu dalam menyerang ataupun
sebagai chūma (jarak menengah), diukur satu langkah dari jarak menyerang dan satu langkah dari menepis serangan musuh. Tōma (jarak jauh) adalah jarak dari daerah yang aman untuk bertahan daripada menyerang. Ma’ai adalah konsep yang penting dalam kendo.
Gambar 2.10Ma’ai (間合) 2.4.4 Ashisabaki
Ashisabaki (gerakan kaki) adalah salah satu keterampilan yang paling penting dalam kendo untuk pertahanan yang kuat dan juga untuk serangan yang baik (Tokeshi, 2003:99).Dari shizentai (posisi awal), letakkan kaki kiri berjarak satu kaki ke belakang lalu angkat tumit kaki kiri dengan hati-hati.Semua ashisabaki bermulai dari posisi ini.Tokeshi (2003:78) juga menjelaskan ada empat
Ayumiashi (gerakan kaki berjalan) yaitu melangkah secara bergantian seperti berjalan normal, dengan menggunakan teknik suriashi (berjalan dengan lembut).Teknik ini digunakan untuk mendekati lawan ataupun menjauh dari lawan. Okuriashi (gerakan kaki menghindar) yaitu ketika melangkah kedepan kaki depan yang maju terlebih dahulu, ketika melangkah kebelakang kaki belakang yang mundur terlebih dahulu. Pada dasarnya menggerakkan kaki kanan untuk kedepan dan kaki kiri untuk kebelakang. Dalam gerakan ini kaki belakang tidak pernah melewati kaki depan ataupun sebaliknya.
Gambar 2.11Ayumiashi dan Okuriashi
Tsugiashi adalah gerakan kaki yang digunakan untuk menyerang musuh
yang berjarak jauh dengan cara melangkah maju dengan cepat dengan cara langkahkan kaki kiri kedepan sampi mendekati kaki kanan, kemudian melangkah dengan kaki kanan dengan menggunakan suriashi.
Hirakiashi (gerakan kaki terbuka) yaitu melangkah ke kiri atau ke kanan secara diagonal dengan kaki menghadap arah yang dituju dan dengan cepat menarik kaki lainnya untuk mendekat.Langkah ini digunakan untuk menangkis serangan dan untuk menyerang kembali dengan cepat.
Gambar 2.13Hirakiashi :Gerakan ke kanan dan ke kiri
2.4.5 Keiko
Menurut Tokeshi (2003:103) keiko (latihan) dalam kendo adalah aktivitas yang abadi. Definisi keiko dalam kamus adalah “untuk mencerminkan dan belajar dari yang tua”. Dalam keiko kendo, banyak berlatih dan belajar sesuatu dari para kendoka di masa lalu yang ditemukan dalam latihan mereka. Sangat diharuskan berlatih dengan cara yang tepat mengikuti latihan yang dicontohkan oleh para pendahulu. Sebagai pemula sangatlah penting untuk mencari guru yang hebat, yang mana bisa melihat dan mengkoreksi kebiasaan buruk dan kesalahan sebelum hal itu menjadi kebiasaan yang permanen. Jika merasa senang dan ikhlas dalam berlatih, peningkatan keterampilan akan mudah untuk dicapai.
pengaturan tempat duduk, yaitu menghadap kedepan (shōmen), para sensei berbaris disebelah kanan (kamiza) dan para murid berbaris disebelah kiri (shimoza)
dōjō. Ini bisa berubah-ubah sesuai desain dōjō. Diawal mulainya keiko, kendoka
berdiri menghadap lawan, berjarak sembilan langkah, dan saling menunduk satu sama lain.
Tokeshi (2003:110-118) mengemukakan bahwa ada banyak keiko yang dilakukan di dōjō, yaitu :
1. Kirikaeshi keiko (latihan memotong berulang-ulang) dimana diharuskan
berlatih dengan pasangan. Kirikaeshi keiko mungkin latihan yang paling penting untuk semua kendoka. Kirikaeshi keiko mengajarkan aspek yang paling penting dalam kendo, termasuk ki ken tai ittchi (semangat, pedang dan tubuh dalam ketenangan), ma’ai (jarak), shisei (posture), kiai (seruan), kokyu (nafas), ashisabaki (gerakan kaki), tenouchi (memegang shinai), datotsu (memukul) yang tepat, zanshin (kewaspadaan), dan pengembangan ketahanan.
2. Kihon keiko (latihan dasar), yang mana latihan ini mendorong diri untuk
mengembangkan keberanian, teknik memukul perorangan dan gerakan kaki yang tepat. Untuk permulaan, pemula harus berlatih dengan gerakan lambat.
3. Uchikomi keiko (latihan memukul) yang termasuk latihan dasar yang bisa
dilakukan dengan murid lain atau dengan sensei. Latihan ini menggunakan semua teknik dasar dengan gerakan kaki yang baik dan juga ma’ai.
4. Renzoku waza keiko(latihan berurut) yang biasanya dilakukan dua kali
berturut-turut menjelang akhir latihan berpasangan.
5. Kakari keiko(latihan bergerak cepat) yang mana latihan ini adalah latihan
motodachi. Keiko ini dimaksudkan untuk membangun dasar kendo, termasuk tubuh, jiwa, dan keterampilan. Latihan ini sangat menguntungkan bagi pemula.
6. Hikitate keiko(latihan semangat) yang tujuannya untuk mengajarkan datotsu
(teknik memukul) yang benar kepada pemula. Pelatih harus membiarkan murid untuk memukul dengan bebas tanpa rasa takut, sehingga dapat belajar teknik yang benar.
7. Gokaku keikodilakukan dengan pasangan yang mempunyai kekuatan yang
setara. Bertujuan untuk meningkatkan tokui waza (teknik khusus) dan berlatih pertahanan melawan waza lawan. Latihan ini seperti shiai. Dengan latihan ini bisa membuat kendoka mengetahui kelemahannya dan menambah percaya diri.
8. Jigeiko (latihan seperti pertandingan) yaitu latihan yang paling umum dan
melibatkan berbagai lawan. Jigeiko ditujukan untuk meningkatkan kemampuan teknik.
9. Shobu keiko(latihan pertandingan) yang biasanya dilakukan satu kali, baik
menang atau kalah, diharuskan berusaha keras untuk meningkatkan kemampuan. Ikuti peraturan dan tetap menghargai lawan.
10. Shiai keiko(latihan turnamen) dilakukan sebelum turnamen untuk membantu
persiapan kendoka dalam menghadapi turnamen.
11. Mitori keiko (latihan mengamati) adalah sebagai intisari latihan, pada latihan
ini diharuskan mengamati kendoka lain yang berlatih. Mempelajari teknik, tata krama, titik kuat, dan belajar dari kesalahan mereka.
12. Hitori keiko (latihan menyendiri) banyak dilakukan oleh master kendo
untuk menguatkan tubuh, menambah ketahanan, menambah konsentrasi, dan memahami ki lewat meditasi.
13. Tachigiri keikoyang mana dikatakan metode berlatih yang paling keras dan
melelahkan, keiko ini tidak dilakukan terlalu sering. Dalam tachigiri keiko, berlatih melawan musuh yang berbeda selama tiga jam dan lawannya terus berganti setiap tiga menit. Namun keiko ini bisa menambah mental dan batas kemampuan fisik.
14. Musha shugyo (perjalanan beladiri) yaitu bepergian dengan tujuan mencari
latihan dari guru yang berbeda dari sekolah yang berbeda. Para master kendo di masa lalu menghabiskan 10 sampai 15 tahun diperjalanan dan sering kali mempertaruhkan nyawa mereka. Walaupun musha shugyo tidak lagi dipraktekan di Jepang, namun konsep ini masih sangat berguna.
Keiko dalam kendo ada yang dilakukan di luar dōjō dan tidak harus berada di dalam dōjōuntuk melakukannya.Salah satunya yaitu berlatih menggunakan