• Tidak ada hasil yang ditemukan

Musik Sebagai Media Kritik Sosial (Analisis Semiotika Lirik Lagu “Biru” pada Album Sinestesia Karya Efek Rumah Kaca) Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Musik Sebagai Media Kritik Sosial (Analisis Semiotika Lirik Lagu “Biru” pada Album Sinestesia Karya Efek Rumah Kaca) Chapter III V"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

Musik sebagai media kritik sosial BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran

Kerangka-kerangka pemikiran merupakan dasar pemikiran dari peneliti yang dilandasi dengan konsep dan teori yang relevan guna memecahkan masalah penelitian. Uma Sekaran dalam Sugiyono (2011: 60) mengemukakan bahwa kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai hal yang penting, jadi dengan demikian maka kerangka berpikir adalah sebuah pemahaman yang melandasi pemahaman-pemahaman yang lainnya, sebuah pemahaman yang paling mendasar dan menjadi pondasi bagi setiap pemikiran atau suatu bentuk proses dari keseluruhan penelitian yang akan dilakukan.

Sedangkan dalam Nawawi (2001: 40) dikemukakan bahwa kerangka pemikiran adalah hasil pemikiran yang rasional dan merupakan uraian yang bersifat kritis dan memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang dicapai dan dapat mengantarkan peneliti pada rumusan hipotesis. Berdasarkan teori atau kajian yang telah dijabarkan di atas, maka kerangka pemikiran yang terbentuk adalah sebagai berikut:

1. Lirik Lagu “Biru” pada album Sinestesia Karya Efek Rumah Kaca

Subjek dalam penelitian ini adalah lirik lagu “Biru” pada album Sinestesia karya Band Efek Rumah Kaca. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, batasan lirik lagu hanya terletak pada lagu “Biru” di album Sinestesia. Sehingga dapat dikatakan

bahwa lirik lagu “Biru” ini lah yang nantinya akan dianalisis.

Lirik lagu “Biru” pada album Sinestesia karya Efek Rumah

(2)

2. Analisis Semiotika Roland Barthes

Penelitian ini menggunakan analisis semiotika Roland Barthes. Adapun bentuk penelitiannya yaitu terletak pada makna denotatif, konotatif dan mitos. Lirik lagu akan dimaknai secara denotatif, konotatif dan mitos.

3. Musik Sebagai Media Kritik Sosial

Setelah lirik dianalisis menggunakan analisis semiotika Roland Barthes, maka akan didapat kesimpulan mengenai makna lirik yang berkaitan dengan kritik sosial. Lirik lagu yang merupakan bagian dari musik dapat dikatakan sebagai media kritik sosial.

3.2. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah analisis teori atau ilmu yang membahas tentang metode dalam melakukan penelitian. Metode penelitian komunikasi adalah prosedur atau cara ilmiah dalam melakukan penelitian komunikasi untuk menemukan hal-hal baru, membuktikan atau menguji temuan penelitian sebelumnya atau untuk pengembangan ilmu komunikasi (Pujileksono, 2015: 4).

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang memfokuskan kepada studi dokumen yang bersifat interpretatif. Dengan kata lain, penelitian ini menitikberatkan pada analisis atau interpretasi bahan tertulis berdasarkan konteksnya (Sugiarto, 2015: 13).

3.2.1. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah sesuatu yang merujuk pada masalah atau tema yang sedang diteliti (Idrus, 2009: 91). Adapun objek penelitian dalam penelitian ini adalah musik Efek Rumah Kaca dalam Album Sinestesia sebagai media kritik sosial. Jadi, masalah utama pada penelitian ini adalah mengetahui bagaimana musik ini dapat dijadikan media kritik sosial.

3.2.2. Unit Analisis

(3)

Efek Rumah Kaca. Peneliti akan menganalisis dengan memperhatikan makna denotasi dan konotasi dalam lirik lagu tersebut.

3.2.3. Kerangka Analisis

Kerangka analisis dipahami sebagai proses mencari dan menyusun secara sistematis keseluruhan data sehingga dapat dengan mudah untuk menganalisisnya. Kerangka analisis dari penelitian ini adalah dengan menggunakan pisau analisis semiotika Roland Barthes, dimana pada analisis Barthes menekankan pada denotasi, konotasi dan mitos.

3.2.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang ditempuh peneliti untuk memperoleh data. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

1. Studi kepustakaan, dilakukan dengan cara mempelajari dan mengumpulkan data melalui literatur, buku dan sumber bacaan lainnya yang relevan dan mendukung penelitian serta membantu peneliti untuk memperoleh informasi.

2. Observasi, dilakukan dengan cara mendengarkan langsung lagu Efek Rumah Kaca. Setelah proses observasi dengan mendengarkan lagunya, barulah diperoleh lirik lagu Efek Rumah Kaca yang ingin diteliti.

3.2.5. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Jadi, dengan kata lain analisis data adalah proses menyusun data agar dapat ditafsirkan. Aspek yang diteliti dalam lirik lagu ini menggunakan perangkat analisis Roland Barthes, yaitu signifikasi dua tahap yaitu:

1. Tataran Denotatif

(4)

peneliti akan menganalisis makna denotatif yang terdapat pada tiap bait dalam liriknya.

2. Tataran Konotatif

Pada tataran ini akan dideskripsikan bagaimana makna konotatif bekerja pada lirik lagu “Biru” karya Efek Rumah Kaca ini. Dalam tataran konotatif ini, peneliti akan menginterpretasikan setiap bait dalam lirik kedua lagu tersebut secara berurutan.

3. Tataran Mitos

(5)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Objek Penelitian 4.1.1 Efek Rumah Kaca

Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (bass, vokal latar) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar) merupakan personel dari Efek Rumah Kaca. Ketiga orang ini adalah tiga orang yang tersisa dari perjalanan bulan berganti tahun sedari tahun 2001. Mereka terus bersabar, dengan perlahan mengumpulkan lagu. Beberapa kali pergantian nama sudah dilakukan oleh mereka. Diawali dari “Hush” dengan personil yang masih berjumlah lima orang, kemudian dilanjutkan dengan “Superego” dan akhirnya berlabuh pada nama “Efek Rumah Kaca” tepat pada tahun 2005. Nama yang merupakan salah satu judul lagu yang mereka tulis di tahun 2003 (efekrumahkaca.net).

Efek Rumah Kaca merupakan salah satu band indie Indonesia. Istilah Indie diambil dari kata Independen yang berarti merdeka, bebas, mandiri dan tidak bergantung. Banyak yang menganggap kalau indie itu sebuah genre musik, seperti halnya rock, jazz atau sebagainya. Anggapan tersebut suatu kesalahan besar. Indie sendiri bukanlah suatu genre musik, melainkan sebuah gerakan musik yang bebas dan mandiri, atau dengan kata lain tidak bergantung pada sebuah label musik atau sebagainya. Band Indie cenderung menciptakan lagu sesuai dengan apa yang mereka sukai dan genre yang mereka inginkan. Tidak jarang lagu-lagu yang mereka ciptakan kebanyakan sangat anti-mainstream dari lagu-lagu di pasaran.

(6)

Pada era tahun 1980-an, tangga lagu untuk musik indie mulai diperkenalkan. Banyak band indie yang bermunculan, seperti The Smith dan Joy Division. Lanjut ke era 90an, Nirvana dan Radiohead yang juga merupakan band dengan label indie mulai menyebarkan virus indie ke berbagai belahan dunia dengan musik-musik mereka yang unik namun enak didengarkan. Selain itu, Radiohead juga sempat menggegerkan belantika musik dengan merilis album indie dengan sistem pay-what-you-like dimana para pembeli bisa bebas membayar berapapun untuk membeli album mereka.

Di Indonesia sendiri, pengaruh indie belum terasa hingga pada pertengahan tahun 1990an. Namun, sebelum mengenal istilah indie, masyarakat Indonesia lebih mengenal istilah underground. Berbeda dengan indie, musik underground cenderung keras. Pas Band merupakan band yang memulai tradisi merilis album secara Indie. Mereka pun sukses menjual album mereka sebanyak 5.000 kopi. Karena keberhasilan Pas Band, akhirnya banyak band metal dan rock yang mengikuti jejak mereka.

Pure Saturday adalah band indie pertama selain metal yang membuat album rekamannya sendiri pada tahun 1995. Disusul oleh Mocca yang berhasil menjual album mereka hingga menembus angka di atas 100.000 copy. Keberhasilan Mocca kemudian membawa dampak pada band-band Indie di Indonesia hingga sekarang, termasuk salah satunya band yang sedang peneliti bahas kali ini, Efek Rumah Kaca (http://www.loop.co.id).

Di kalangan musisi independen, Efek Rumah Kaca termasuk band yang sangat punya nama. Kiprahnya bukan hanya di Indonesia, tapi juga sudah keliling beberapa negara. Efek Rumah Kaca menjadi salah satu band yang membuktikan bahwa musisi indie Indonesia pun bisa dibanggakan. Tetapi, memilih bermusik di jalur indie ternyata bukan pilihan Efek Rumah Kaca sejak awal. Cholil Mahmud, sang vokalis, mengungkap bahwa bandnya juga pernah mengalami ditolak label

mainstream.

(7)

label-label mainstream yang sudah ada dan terkenal. Tapi upaya itu selalu

berujung penolakan. “Walaupun sudah ada label-label indie, kami masih

mengirim (demo musik) ke major label. Mereka jangkauannya lebih luas, biaya produksi untuk rekaman saat itu juga besar. Ya sudah kami masih mengikuti jalur konvensional, dan ternyata ditolak” ujar Cholil bercerita.

Saat itu, Cholil mengaku ingin mengikuti jejak beberapa band indie yang sukses setelah bergabung dengan label mainstream, seperti Naif, NTRL, PAS Band, dan lain sebagainya. Cholil menyebut, beberapa label yang pernah dikiriminya demo termasuk Sony Music Indonesia, Warner Music Indonesia, Arka Music Indonesia (sebelumnya EMI Music Indonesia), Musica Studios, Aquarius Musikindo, dan masih banyak lagi. Tapi nasib baik belum bicara. “entah karena musiknya enggak cocok, enggak enak, cover album jelek, enggak lolos screening satpam, atau macam-macam faktor lainnya, akhirnya enggak ada respons” katanya.

Efek Rumah Kaca akhirnya berkarir di bidang indie dan namanya pun menjadi besar. Ia masyhur di kalangan pecinta musik Indonesia berkat lagu- lagunya yang dianggap dekat memotret keadaan sosial masyarakat di sekitar mereka pada semua tingkatan. Karya-karya yang terkenal termasuk Jatuh Cinta Itu Biasa Saja, Cinta Melulu, Di Udara, Desember, Pasar Bisa Diciptakan, dan sebagainya (http://m.cnnindonesia.com).

Di setiap lagu yang mereka ciptakan, komposisinya dirancang sesuai dengan tema. Realita pun mereka reka-reka agar musik tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga terdapat refleksi, serta realita juga turut disampaikan di dalamnya. Memotret zaman, begitulah kira-kira gambaran dari lagu-lagu yang diciptakan Efek Rumah Kaca. Lirik mereka tata sedemikian rupa, terkadang puitis yang menyiratkan maksud mereka, terkadang juga tersurat atau langsung diutarakan sesuai dengan kenyataan. Lirik juga dibuat dari berbagai sudut pandang serta kekayaan pilihan kata Bahasa Indonesia.

(8)

Sector Records). Sejak saat itu Efek Rumah Kaca mulai keluar dari zona nya dan mulai memperkenalkan diri mereka dengan dunia luar. Bulan Agustus tahun 2007 Efek Rumah Kaca bersama beberapa teman menggelar tur ke beberapa kota di Jawa. Tur ini yang menjadi sebuah pengantar menuju album debut mereka.

Jalan pun terbuka, album debut Efek Rumah Kaca ini akhirnya dapat membut mereka diajak tampil di beberapa panggung di akhir 2007 hingga sepanjang 2008. Tidak hanya itu, album mereka pun telah mampu mengantarkan

ERK meraih antara lain “The Best Cutting Edge” – MTV Indonesian Music

Award 2008, “Editor‟s Choice 2008” versi Rolling Stone Indonesia, “Class Music

Heroes 2008” dan Nominator Anugrah Musik Indonesia Award 2008

(Efekrumahkaca.net).

Kurang dari setahun berselang, tepat pada 19 Desember 2008, mereka merilis album kedua yang berjudul “Kamar Gelap”. Album ini diproduksi oleh Aksara Records. Efek Rumah Kaca mulai melanjutkan kembali langkahnya. Mereka mulai kembali menciptakan hal-hal baru dengan musik mereka. Hal ini membuat album Kamar Gelap menjadi lebih berwarna dan lebih kaya nuansa. Tidak hanya Efek Rumah Kaca yang turut andil pada pembuatan album ini, teman-teman mereka juga turut diajak main bersama, seperti Mondo, Ade (Sore Band) serta Imam Fattah (Lain, Zeke and The Popo, Raksasa). Nama-nama di atas turut meramaikan rekaman suara dalam album Kamar Gelap. Angki Purbandono, seniman asal Jogja juga ikut meramaikan dalam bentuk karya. Karya fotografinya yang menjadi isi kemasan album kedua ini.

Dalam satu kesempatan, Efek Rumah Kaca pernah dipercaya untuk mengisi rubrik khusus seputar pemilu di harian Kompas. Selama satu bulan, rubrik tersebut dimuat setiap hari Sabtu di bulan Januari 2009. Dalam kesempatan lain, Efek Rumah Kaca terus bermain dari panggung ke panggung. Terus menerus bersama khalayak di seluruh penjuru Indonesia, menyanyikan lirik lagu yang peka akan keadaan.

Butuh waktu sekitar tujuh tahun untuk trio rock alternatif asal Jakarta ini dapat kembali merilis album studio. Meski materi album ketiga sudah dipersiapkan pasca rilisnya album Kamar Gelap (2008), namun akhirnya album

(9)

Salah satu faktor utama mundurnya perilisan album Sinestesia adalah sang vokalis dan gitaris, Cholil Mahmud, harus pergi ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi. Cholil mengemban pendidikan di jurusan Arts Politics di New York University, AS. Dampaknya Efek Rumah Kaca rela menjalani masa vakum selama lebih kurang dua tahun.

Pada Juli 2015 lagu "Pasar Bisa Diciptakan" dirilis untuk pertama kalinya dan dapat diunduh gratis lewat website free download Rollingstone.co.id. Lewat rilisnya lagu ini, Efek Rumah Kaca resmi kembali aktif di industri musik Indonesia. Hanya berselang dua bulan dari perilisan "Pasar Bisa Diciptakan", Efek Rumah Kaca menggelar konser tunggal "Pasar Bisa Dikonserkan" di Bandung.

Memasuki Januari 2016, Efek Rumah Kaca memberi kebebasan untuk mengunduh album Sinestesia dan mengadakan sebuah konser impresif bernama "Konser Sinestesia". Diselenggarakan di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Konser ini berhasil menuai banyak pujian dari berbagai kalangan. Namun belakangan, ketika Efek Rumah Kaca sedang aktif dalam pergerakannya di industri musik Indonesia, Cholil, Adrian Yunan Faisal (bass), dan Akbar Bagus Sudibyo (drum) justru memutuskan untuk kembali ke masa vakum.

Seperti dinyatakan dalam website mereka, Efek Rumah Kaca masih menjadi band yang sama seperti sejak terbentuknya. Berusaha terus menulis lagu sebagus dan seindah mungkin, berusaha terus memotret kenyataan dan berharap pesan yang ada di kepala mereka dapat dengan jelas tersampaikan lewat lagu mereka. Sambil sesekali bersorak, bukan pada siapa-siapa, pada diri sendiri saja, agar seruan ini tak jadi lupa fungsinya; “Pasar Bisa Diciptakan!” sorak mereka.

4.1.2. Lagu “Biru”

(10)

setiap karya. Kekayaan Bahasa Indonesia dan pemilihan tema adalah area yang telah mereka jelajahi.

Sumber: www.google.com

Setelah vakum selama hampir satu setengah tahun sehubungan dengan kepergian Cholil ke luar negeri untuk menuntut ilmu, Efek Rumah Kaca menandai kembalinya eksistensinya dengan single “Biru”. Seperti yang biasa mereka lakukan, eksperimentasi menjadi kunci di karya ini. Kali ini, musik menjadi fokus utama eksperimentasi. Aransemen dibuat lebih kaya dengan layer-layer gitar yang lebih membahana, dinamika sekaligus struktur lagu juga menjadi semakin berwarna seiring durasi lagu yang juga menyentuh angka hampir sepuluh menit.

Sejatinya, “Biru” bukanlah materi yang sepenuhnya baru. Dasar-dasar lagu

ini terbentuk sejak era album pertama. Ide dasarnya adalah elaborasi lebih lanjut dari lagu “Cinta Melulu”, tentang kegelisahan Efek Rumah Kaca terhadap proses berkarya sebuah karya seni dengan posisinya di pasar/industri. Jika “cinta Melulu” menyampaikan pesannya dalam nada yang cenderung sinikal, pada “Biru” Efek Rumah Kaca memilih perspektif yang lebih optimis. Bahwa selalu ada cara untuk berkarya dengan jujur (efekrumahkaca.net).

(11)

rencana untuk membuat manifesto atau apapun itu. Ini hanya cermin kegelisahan kami”.

Ada dua fragmen yang tergabung dalam lagu “Biru”. Fragmen pertama ada pada paruh awal lagu yang juga menjadi versi pendek lagu untuk versi radio edit dengan judul “Pasar Bisa Diciptakan). Fragmen kedua dengan judul “Cipta

Bisa Dipasarkan” berada pada sisa durasi lagu. Durasi dari keseluruhan lagu ini

tepatnya adalah 9 menit 23 detik. Secara terpisah, fragmen-fragmen tersebut masing-masing mewakili dua angle dalam proses penciptaan karya, yakni secara

internal dan eksternal. Keduanya membentuk secara utuh, “Biru” sebagai

rangkuman pemikiran Efek Rumah Kaca tentang pentingya eksplorasi dalam proses berkarya.

Lagu “Biru” juga menandai arah musikal dari Efek Rumah Kaca untuk album penuh ketiga mereka. Meskipun bukan gambaran yang sepenuhnya akurat, untuk menggambarkan konsep album ke depan secara keseluruhan, elemen- elemen utama seperti durasi lagu yang panjang, instrumentasi yang lebih riuh, juga dinamika lagu yang cenderung lebih kompleks dibanding lagu-lagu dalam diskografi awal bisa menjadi gambaran kasar sekaligus bridging kepada konsep album Efek Rumah Kaca yang akan datang.

(12)

Lirik Lagu “Biru” pada album Sinestesia Karya Efek Rumah Kaca

Biru

Pasar Bisa Diciptakan Kami mau yang lebih indah

Bukan hanya remah-remah Sepah, sudahlah Kami hanya akan mencipta Segala apa yang kami cinta, bahagia

Kami bawa yang membara Di dasar jiwa, di dasar jiwa Menembus rimba dan belantara sendiri

(Pasar bisa diciptakan)

Membangun kota dan peradaban sendiri Kami ingin lebih bergizi

Bukan hanya yang malnutrisi, substansi Kami bawa yang membara Di dasar jiwa, di dasar jiwa Menembus rimba dan belantara sendiri (Pasar bisa

diciptakan)

Membangun kota dan peradaban sendiri Pasar bisa diciptakan, pasar bisa diciptakan Pasar bisa diciptakan, pasar bisa diciptakan

Pasar bisa diciptakan oooo

Pasar bisa diciptakan, pasar bisa diciptakan Pasar bisa diciptakan, pasar bisa diciptakan

Pasar bisa diciptakan

Cipta Bisa Dipasarkan

(13)

Pelan-pelan hilangnya jadi sepercik cahaya Oh cahaya, akhirnya kita sampai juga Temukannya, sinarnya pun dibagi rata

Berbinar-binar hidup bergelora Oh cahaya la la la lalala Imajinasi rasa takut larut di dalamnya Tak terkira siksanya, hingga capai bahagia Amarah angan-angan berhamburan berkejaran

Akan terus mendera hingga titik terangnya Kegelapan masih membayang

Menyelimuti, menolak pergi Mencari ruang gerak ditentang

Dan menjadi ironi

4.2. Analisis Semiotika Lirik Lagu “Biru” Karya Efek Rumah Kaca 4.2.1. Analisis Tataran Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif suatu kata ialah makna yang biasa kita temukan dalam kamus. Dalam teori Barthes yang telah peneliti jelaskan sebelumnya di kerangka teori menjelaskan bahwa denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda, atau antara tanda dan rujukannya pada realitas yang menghasilkan makna yang eksplisit, langsung dan pasti.

Sebagai contoh dari makna denotatif ini misalnya di dalam kamus, kata

mawar berarti sejenis bunga. Analisis seperti ini disebut Barthes sebagai analisis

tataran pertama. Pada bagian inilah peneliti akan menganalisis lagu “Biru” karya Efek Rumah Kaca ini sesuai dengan pengertian denotatif yang telah peneliti paparkan di kerangka teori sebelumnya.

(14)

Salah satu area penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca. Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Hal ini telah peneliti jelaskan sebelumnya pada kerangka teori.

Lagu “Biru” akan dijelaskan secara lebih rinci baik secara tataran denotatif maupun konotatif. Analisis tersebut akan lebih dijelaskan pada tabel di bawah ini. Dimulai dari sub judul lagu pertama, yaitu “Pasar Bisa Diciptakan” dan dilanjutkan dengan sub judul lagu yang kedua, yaitu “Cipta Bisa Dipasarkan”. Analisis ini akan dilakukan secara bait per bait.

Tabel Analisis Denotatif dan Konotatif Lirik Lagu “Pasar Bisa Diciptakan”

Lirik Lagu Analisis Denotatif Analisis Konotatif

Kami mau yang Pada bait ini jelas bahwa Efek Bait ini secara konotatif jelas

lebih indah Rumah Kaca menginginkan menceritakan tentang bentuk

Bukan hanya sesuatu yang lebih baik, bukan protes dari Efek Rumah Kaca.

remah-remah, sesuatu yang sudah menjadi sisa Protes tersebut terkait kondisi

sepah, sudahlah seperti yang dikatakan Efek industri musik Indonesia saat

Rumah Kaca dalam kata-kata ini. Efek Rumah Kaca seperti “remah-remah” dan menuntut adanya perbaikan.

“sepah”. Sedangkan pada kata Dalam hal ini, Efek Rumah

“sudahlah”, Efek Rumah Kaca Kaca sendiri merasa

menekankan pada keinginannya bahwasanya industri musik untuk mengatakan kepada semua Indonesia terlalu banyak orang untuk berhenti dari semua menyajikan sesuatu yang hal ini. kurang baik untuk dikonsumsi oleh pendengar. Hal-hal yang lebih patut untuk dikatakan sebagai “sisa”. Maka dari itu Efek Rumah Kaca menuntut adanya penghentian atas kondisi ini.

(15)

akan mencipta bahwa mereka tidak akan bahwa Efek Rumah Kaca

Segala apa yang mencipta apa yang tidak ingin hanya akan menciptakan karya

kami cinta, mereka cipta. Mereka hanya yang memang dari diri mereka.

bahagia akan menghasilkan sesuatu yang Tidak hanya memberi

mereka sukai. Kata “hanya” penekanan, namun bait ini juga jelas memberikan penegasan. bentuk dari Efek Rumah Kaca Seperti tertera pada bait di atas, yang ingin menyuarakan segala yang dilakukan Efek pentingnya menghasilkan Rumah Kaca ini pada akhirnya karya berdasarkan passion

akan melahirkan kebahagiaan yang merupakan karya-karya atau kepuasan untuk mereka yang mereka cintai. Suatu sendiri. karya yang memang lahir dari diri mereka, bukan atas paksaan dari pihak luar, ataupun atas tuntutan dari keinginan pasar yang banyak beredar dewasa ini. Pada bait ini, Efek Rumah Kaca juga menekankan bahwa mereka konsisten berada di jalur ini. Karena kekonsistenan mereka itu pulalah yang terus membuat mereka bahagia dalam berkarya.

Kami bawa yang Pada bait ini mereka Pada bait ini Efek Rumah Kaca

membara menjelaskan bahwa mereka menyatakan bahwa mereka

di dasar jiwa, di membawa sesuatu yang baru mencoba untuk membawa

dasar jiwa yang berapi-api. Hal ini muncul semangat baru dalam berkarya.

(16)

jiwa”, dimana kalimat ini menjelaskan bahwa semangat atau karya tersebut jelas berasal dari mereka sendiri, bukan berasal dari keinginan orang lain.

Menembus Membawa sesuatu yang baru Selayaknya orang yang sedang

rimba dan tentunya bukan hal yang mudah. melawan arus, Efek Rumah

belantara “Menembus rimba dan Kaca juga mengalaminya.

sendiri belantara” merupakan kalimat Mereka merasakan sulitnya

(Pasar bisa yang menjelaskan akan untuk tetap konsisten pada

diciptakan) ketidakmudahan tersebut. jalan yang mereka pilih. Di

Mereka berani untuk melewati tengah kebanyakan musisi suatu hal yang gelap, dan yang memilih untuk mengikuti menyeramkan, yang arus pasar, Efek Rumah Kaca digambarkan dengan kata tetap mencoba untuk menjaga

“rimba” dan “belantara”, dengan identitas dirinya dan

tetap menjadi diri mereka menembus itu semua. Hal ini sendiri. Sembari menanamkan jelas tertuang pada kalimat

keyakinan bahwa “pasar bisa “menembus rimba dan

diciptakan” atau dengan kata belantara sendiri”. Sembari

(17)

lagu. Jadi dapat disimpulkan Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai daerah pemusatan penduduk dengan kepadatan tinggi serta fasilitas modern. Sedangkan hal “peradaban” diartikan dengan kata membudaya. Mereka percaya dan optimis bahwa semangat baru tersebut dapat menemui masa berjayanya hingga menjadi kota dan juga peradaban. Walaupun hal tersebut terkesan

(18)

sulit, tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan.

Efek Rumah Kaca untuk dapat

menciptakan “kota” dan

“peradaban” mereka sendiri. Dimana hal ini jelas merupakan bentuk dari pemberontakan atas bentuk industri musik yang

mainstream saat ini.

Kami ingin lebih Kata “bergizi” dan “malnutrisi” Pada lagu “Biru”, bait ini

bergizi biasanya digunakan di dunia merupakan pengulangan nada

Bukan hanya medis. “bergizi” artinya seperti lirik pertama. Jadi

yang malnutrisi, mengandung gizi, yaitu zat selayaknya makna lirik pada

substansi makanan yang diperlukan bagi awal lagu, lrik pada bait ini

pertumbuhan dan kesehatan juga menggambarkan bentuk

badan. Sedangkan “malnutrisi” dari kegelisahan dan protes

adalah kebalikannya, yaitu Efek Rumah Kaca terhadap kondisi tubuh dimana tidak kondisi industri musik di mendapatkan asupan gizi yang Indonesia saat ini. Seperti yang cukup, atau biasa disebut dengan kita ketahui bahwasanya gizi buruk. Jika dilihat dari kebanyakan isi dari industri dalam konteks lagu ini, Efek musik Indonesia adalah Rumah Kaca menginginkan bertemakan hal yang seragam, adanya perbaikan bukan hanya yaitu tentang percintaan. sesuatu yang tidak sehat atau Maka dari itu bait ini adalah sesuatu yang tidak baik. bentuk protes Efek Rumah

“Substansi” merupakan inti sari Kaca dimana mereka menuntut

(19)

lagu yang diciptakan musisi Indonesia tidak seperti sekarang ini, dimana semua hanya memikirkan keinginan pasar, sehingga terjadilah tema lagu yang seragam tadi. Kondisi industri musik Indonesia yang seperti inilah yang diibaratkan “malnutrisi” oleh Efek Rumah Kaca pada lirik lagunya.

(20)

Pasar bisa Seperti yang telah dijelaskan Di akhir sub lagu yang pertama

diciptakan sebelumnya bahwasanya “Pasar ini, kalimat “pasar bisa

Pasar bisa Bisa Diciptakan” ini merupakan diciptakan” diteriakkan

diciptakan bentuk keoptimisan dari Efek berulang kali pada akhir lagu.

Rumah Kaca bahwa apa yang Maknanya sama seperti yang mereka perjuangkan ini nantinya telah peneliti jelaskan pada akan menciptakan pasarnya lirik yang sebelumnya. sendiri. Keoptimisan ini juga Perbedaannya hanya terletak disertai dengan keyakinan. Hal pada isinya. Dimana pada ini ditunjukkan dari lirik lagu “pasar bisa diciptakan” di awal yang mengulang kalimat ini menunjukkan harapan, sebanyak sepuluh kali di akhir sedangkan pada kalimat yang sub lagu pertama. kali ini menunjukkan keyakinan. Keyakinan itu ditunjukkan dari diletakkannya kalimat ini di akhir lagu secara berulang-ulang agar terngiang di telinga pendengar dan di telinga Efek Rumah Kaca sendiri bahwa itu semua merupakan bentuk keyakinan, bukan lagi sebatas harapan.

Tabel Analisis Denotatif dan Konotatif Lirik Lagu “Cipta Bisa Dipasarkan”

Lirik Lagu Analisis Denotatif Analisis Konotatif

Dari Baris pertama dan kedua Lirik ini menceritakan tentang

kegelisahan menceritakan tentang bentuk kegelisahan yang dirasakan

dipadatkan kegelisahan dari Efek Rumah oleh Efek Rumah Kaca

dengan cinta Kaca. Dimana kegelisahan mengenai kondisi industri

Bergemuruh di tersebut juga bercampur dengan musik Indonesia. Telah peneliti

dada jauh dari rasa cinta mereka. Kegelisahan jelaskan sebelumnya kondisi

(21)

berada di hati mereka tanpa ada sedikitkan kemungkinan untuk berhenti atau mereda.

dimaksudkan oleh Efek Rumah Kaca. Namun hal ini tidak dapat membuat Efek Rumah Kaca untuk berhenti di dunia musik. Hal ini dikarenakan kecintaan dari Efek Rumah Kaca terhadap dunia musik. Kegelisahan dapat timbul dikarenakan ketidaksesuaian antara otak dan hati. Ketidaksesuaian antara apa yang dipikirkan dengan apa yang dirasakan. Hal ini lah yang dialami oleh Efek Rumah Kaca. Kondisi industri musik Indonesia memang tidak dapat diterima oleh akal Efek Rumah Kaca, karena memang tidak sesuai dengan harapan mereka. Namun hal ini jelas bertentangan dengan hati mereka yang menuntut diri mereka untuk terus berkarya di bidang musik. Hal ini lah yang membuat kegelisahan di diri mereka.

Akhirnya seperti lirik mereka

yang berbunyi “dari

kegelisahan dipadatkan dengan

cinta” , Efek Rumah Kaca

(22)

alami. Namun hal itu menjadi kuat karena dipadatkan dengan rasa cinta mereka. Sehingga mereka tidak memutuskan untuk berhenti dari seluruh kegelisahan ini.

Kondisi kegelisahan ini yang terus menerus membuat kondisi Efek Rumah Kaca menjadi tidak tenang. Mereka merasa harus melakukan sesuatu terkait masalah ini. Karena memang hal ini yang terus mengganggu hidup mereka dalam menjalani kecintaan mereka dalam dunia musik. Semua jelas tergambarkan dari lirik mereka yang berbunyi “bergemuruh di serta bercampur dengan rasa kecewa yang mereka rasakan. Kemudian keduanya perlahan menghilang berganti menjadi suatu titik terang.

(23)

mereka. Terbukti dari mereka

Selayaknya hasil tidak pernah berkhianat pada prosesnya, kekecewaan ini akhirnya pun menemukan ujungnya. Usaha seperti terlampir dalam lirik

yang berbunyi “pelan-pelan

hilangnya, jadi sepercik

menjelaskan tentang titik terang pada bait sebelumnya. Memberitahukan kepada semua orang bahwasanya titik terang yang sebelumnya terbentuk dari

Usaha yang memang telah membuahkan hasil ini akhirnya dijadikan euforia tepat pada

reffrain sub lagu kedua dari

(24)

hidup bergelora

Oh cahaya la la

la lalala

(25)

kreatifitasnya dalam bentuk karya. Sehingga dengan begitu industri musik tentunya akan menjadi sesuatu yang lebih berkualitas lagi dari sebelumnya. Maka dari itu bentuk kejayaan ini diekspresikan dari lirik yang menggambarkan euforia mereka, yaitu “berbinar-binar hidup bergelora, oh cahaya tentang bagaimana ketakutan dan siksaan yang dirasakan Efek Rumah Kaca sebelum mencapai titik terang yang telah dijelaskan pada bait-bait sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari lirik “tak terkira siksanya, hingga capai

bahagia”. Bahkan antara

kemarahan dengan keinginan akan terus saling tumpang tindih hingga mencapai fase cahaya tersebut.

(26)
(27)

berhenti hingga sampai tiba masa berhasil mereka. Seluruh bentuk derita inilah yang dirasakan oleh Efek Rumah Kaca sebelum mencapai tahap yang seperti sekarang, dan itu semua dituangkan mereka dalam lirik yang tertulis pada bait ini.

Kegelapan Bait ini merupakan bentuk Namun di tengah euforia yang

masih peringatan. Karena walaupun dirasakan oleh Efek Rumah

membayang Efek Rumah Kaca telah Kaca yang dinyatakan mereka

Menyelimuti, mencapai titik terangnya, tetap lewat sub lagu keduanya ini,

menolak pergi saja kegelapan akan terus mereka tetap tidak ingin

Mencari ruang mengikuti mereka. Hal ini takabur. Walaupun mereka

gerak ditentang dijelaskan pada dua baris telah dapat membuktikan

Dan menjadi pertama bait di atas, yaitu harapan mereka yang kini telah

ironi “kegelapan masih membayang, jadi nyata, bahwa apa yang

menyelimuti, menolak pergi”. mereka ciptakan dapat dengan Kegelapan ini akan terus- jelas diterima oleh masyarakat, menerus mencari celah untuk ia seperti hal nya judul lagu lawan dan akhirnya menjadi mereka ini, cipta bisa ironi. “Ironi” dalam KBBI dipasarkan, namun mereka merupakan kejadian atau situasi tetap memberi peringatan. yang bertentangan dengan yang Peringatan ini tidak hanya diharapkan atau yang seharusnya ditujukan untuk pendengar terjadi. lagu mereka saja, namun juga menekankan pada diri mereka sendiri.

(28)

Indonesia yang lebih menekankan profit ini akan terus membayangi siapapun yang nantinya menjadi pelaku musik. Karena seperti yang kita ketahui bahwa kebanyakan manusia sekarang memang mulai menuhankan yang namanya uang, sehingga mereka akan melakukan apa saja demi terwujudnya kondisi ekonomi yang dapat memuaskan hasrat mereka. Kondisi yang seperti ini juga tidak akan terlepas dari para pelaku musik Indonesia. Inilah yang dimaksudkan ERK dengan “kegelapan masih

membayang” pada bait ini.

Kondisi yang seperti ini yang nantinya akan terus menyelimuti para musisi dan pelaku musik lainnya. Mereka tidak akan berhenti hingga mereka berhasil. Selalu berkeinginan untuk mencari celah dari sisi manapun demi dapat meluncurkan rencana- rencana mereka.

(29)

dimanapun bahkan dengan kondisi bagaimanapun. Karena bahkan orang-orang yang memang sudah meluruskan niatnya di bidang musik untuk berkarya dengan jujur juga dapat dengan mudah terpengaruh dengan kondisi yang mengedepankan profit ini. Maka dari itu kondisi ini digambarkan dalam lirik pada bait di atas sebagai “menyelimuti, menolak pergi”

dan “mencari ruang gerak

ditentang”. Karena hal-hal seperti ini adalah hal yang sangat mudah untuk mempengaruhi dan juga terpengaruh. Namun bukan berarti tidak dapat untuk ditentang, karena jelas Efek Rumah Kaca telah

(30)

sebuah ironi. Bahwasanya yang akan terjadi adalah kenyataan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Maka segalanya akan menjadi sangat disayangkan. Dimana akan berujung pada penyesalan.

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa lagu ini secara denotatif menceritakan tentang keluhan Efek Rumah Kaca, selaku penulis lagu. Mereka menginginkan sesuatu yang lebih baik, bukan sesuatu yang biasa pada umumnya diberikan pada khalayak. Hal ini juga ditunjukkan dari konsistennya Efek Rumah Kaca untuk menciptakan sesuatu yang hanya mereka sukai saja. Namun keluhan- keluhan tersebut bukanlah hanya berbentuk keluhan kosong, karena Efek Rumah Kaca juga menawarkan solusi, yaitu dengan membawa suatu hal baru yang memang asli dari diri mereka sendiri untuk mengatasi ini semua.

Konsistensi mereka terus mereka bawa. Mereka percaya bahwa mereka secara perlahan dapat membangun kota dan peradaban mereka sendiri. Sehingga apa yang mereka bawa tersebut akhirnya dapat menemui pasarnya, seperti yang mereka teriakkan berulang kali, “pasar bisa diciptakan”.

Sedangkan pada lagu kedua merupakan lanjutan dari kisah Efek Rumah Kaca di lagu pertama. Dimana di lagu kedua Efek Rumah Kaca meceritakan tentang kegelisahan dan kekecewaan yang dialami oleh Efek Rumah Kaca sebelum mereka mencapai pada satu titik terang. Mereka juga menceritakan tentang bagaimana menderitanya mereka selama menjalani proses itu semua. Bahkan seringkali antara amarah dengan angan-angan saling tumpang tindih selama menjalani prosesnya.

(31)

Tetapi di tengah masa terangnya, Efek Rumah Kaca juga tidak lupa untuk selalu mengingatkan bahwasanya kegelapan di luar sana akan terus mengikuti. Kegelapan akan terus-menerus mencari celah demi menentang titik terang ini, sehingga semua harus tetap berhati-hati, jangan sampai hal tersebut mencapai suatu ironi, atau sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.

Secara konotatif dapat kita simpulkan bahwa kedua lagu ini merupakan suatu kesatuan dari cerita panjang yang telah dialami oleh Efek Rumah Kaca sendiri. Dimana pada sub lagu pertama yaitu “pasar bisa diciptakan” menceritakan tentang harapan dan keyakinan dari Efek Rumah Kaca dalam menjalani hidupnya dalam dunia musik. Kondisi industri musik Indonesia yang kini kebanyakan hanya mengedepankan profit membuat mereka menuntut dan memprotes untuk adanya perbaikan dalam bidang ini.

Namun tidak selamanya segala sesuatu berjalan dengan mudah, karena bentuk protes tersebut pasti tidaklah akan langsung membuahkan hasil. Namun Efek Rumah Kaca menunjukkan kekonsistenannya di dunia musik dengan tetap hanya akan menciptakan suatu karya yang memang dari diri mereka, buah dari kreatifitas mereka sendiri yang sudah tentu merupakan hal yang mereka sukai. Mereka tidak hanya memikirkan tentang diterima atau tidaknya karya mereka di pasar. Karna menurut mereka kebebasan dalam berkarya adalah kunci utama kebahagiaan dalam bemusik.

Bentuk protes ini bukanlah hanya bualan semata, Efek Rumah Kaca tidak hanya meneriakkan ketidaksetujuannya terhadap kondisi industri musik Indonesia, namun mereka juga menawarkan solusi. Di tengah kondisi yang seperti ini, mereka juga menyiapkan pilihan lain dalam bermusik. Solusi tersebut berupa pembaharuan dalam bermusik. Mereka membawa semangat baru dan gaya baru dalam bermusik yang berbeda dari musisi Indonesia kebanyakan.

(32)

orang-orang yang sepemikiran dengan mereka dan membuat jalan seperti ini menjadi membudaya.

Semua usaha yang mereka lakukan di atas tentunya tetap diselaraskan dengan harapan mereka tentang “pasar” mereka dapat mereka ciptakan secara perlahan. Dimana karya yang menjadi identitas mereka ini nantinya akan dapat diterima oleh masyarakat luas. Tentunya hal ini semua tidak hanya sebatas harapan namun juga dibarengi dengan usaha sehingga terwujudlah keyakinan dalam diri mereka.

Jika pada lagu “pasar bisa diciptakan” merupakan bentuk dari kegelisahan, protes, tuntutan, solusi dan juga harapan-harapan yang memang masih mereka angan-angankan, berbeda dengan tahapan pada sub lagu kedua yang berjudul “cipta bisa dipasarkan”. Pada sub lagu kedua ini Efek Rumah Kaca telah dapat membuktikan bahwa apa yang tadinya menjadi hasil karya mereka atau dengan kata lain sebagai ciptaan mereka ternyata terbukti dapat diterima oleh pasar.

Cipta bisa dipasarkan bisa diartikan sebagai pembuktian atas keresahan, komitmen dan keoptimisan yang dimiliki oleh Efek Rumah Kaca. Efek Rumah Kaca yang coba keluar dari kebiasaan memang menemukan banyak tantangan dan rintangan. Akan tetapi melewati itu semua dengan baik dan benar adalah hal yang lebih penting daripada diam pada ketakutan. Berikut adalah kesimpulan sub lagu kedua ini secara tataran konotatif.

Diawali dengan cerita sulit yang dialami oleh Efek Rumah Kaca. mereka merasa adanya ketidaksesuaian antara harapan mereka dengan kenyataan yang terjadi di industri musik Indonesia. Namun kecintaan mereka terhadap dunia musik membuat mereka memutuskan untuk tidak berhenti memperjuangkan industri musik yang sesuai dengan harapan mereka.

(33)

Namun setelah berbagai usaha dan kesulitan yang telah Efek Rumah Kaca lalui, mereka akhirnya pun dapat membuktikan semua yang mereka katakan dan usahakan. Masa kejayaan mereka pun tiba. Namun mereka tidak ingin masa jaya tersebut hanya dirasakan oleh mereka sendiri. Mereka ingin membagi-bagikan kejayaan ini dengan semua orang agar semakin banyak orang yang sadar tentang bagaimana bermusik yang sehat dan seharusnya.

Jika semua orang sudah dapat memahami esensi bermusik sesungguhnya, maka di situlah letak kejayaan Efek Rumah Kaca yang sebenarnya. Mereka dapat menciptakan iklim bermusik yang tidak hanya berlandaskan pada profit, tetapi benar-benar dari kreatifitas sang pencipta. Telah mereka buktikan sendiri bahwa cipta pasti bisa dipasarkan, tentunya dengan jerih payah dan juga konsisten pada jalurnya.

Namun di tengah kegembiraan Efek Rumah Kaca, mereka tetap memperingatkan bahwa hal-hal yang berbau profit ini akan terus-menerus mengikuti terkhususnya mengikuti para pelaku musik. Efek Rumah Kaca berpesan tidak hanya untuk mereka sendiri, tetapi untuk seluruh pelaku musik di Indonesia bahwasanya jika memang sudah sampai pada tahap keberhasilan, tentunya tidak boleh takabur. Karena yang membayangi Efek Rumah Kaca selama ini dapat dengan mudah kembali mencari celah demi mewujudkan yang diinginkannya.

4.2.2. Analisis Tataran Mitos

Sebelumnya lagu “Biru” karya Efek Rumah Kaca telah peneliti analisis secara denotatif dan konotatif. Telah didapatkan pula isi dari lagu “Biru” baik secara denotatif maupun secara konotatif. Pemaknaan dalam teori Roland Barthes tidak hanya sebatas denotatif dan konotatif saja. Namun Barthes juga melihat makna yang lebih dalam tingkatannya, akan tetapi lebih bersifat konvensional, yaitu makna-makna yang berkaitan dengan mitos. Mitos dalam pemahaman semiotika Barthes adalah pengkodean makna dan nilai-nilai sosial (yang sebetulnya arbiter atau konotatif) sebagai sesuatu yang dianggap alamiah.

(34)

pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu (Budiman dalam Sobur, 2004: 71). Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda dan tanda, namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau, dengan kata lain, mitos juga suatu sistem pemaknaan tataran kedua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda (Sobur, 2004: 71).

Barthes menempatkan ideologi dengan mitos karena, baik di dalam mitos maupun ideologi, hubungan antara penanda konotatif dan petanda konotatif terjadi secara termotivasi (Budiman dalam Sobur, 2004: 71). Ideologi ada selama kebudayaan ada, dan itulah sebabnya di dalam S/Z Barthes berbicara tentang konotasi sebagai suatu ekspresi budaya. Kebudayaan mewujudkan dirinya di dalam teks-teks dan, dengan demikian, ideologi pun mewujudkan dirinya melalui berbagai kode yang merembes masuk ke dalam teks dalam bentuk penanda- penanda penting, seperti tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Berdasarkan penjelasan mengenai mitos menrut Roland Barthes di atas, maka peneliti akan menjelaskan mitos dari pemaknaan lagu “Biru” karya Efek Rumah Kaca ini.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kedua lagu ini merupakan suatu kesatuan cerita perjalanan Efek Rumah Kaca. Dimana lagu pertama, “Pasar Bisa Diciptakan”, mendeskripsikan bentuk kegelisahan dari band ini sendiri akan industri musik Indonesia saat ini. Sedangkan lagu kedua mendeskripsikan tentang pembuktian pada khalayak bahwasanya mereka dapat membuktikan bahwa kegelisahan itu dapat terbantahkan, dan Efek Rumah Kaca telah membuktikan dengan cara mereka sendiri.

Hal ini jelas terbukti dari pernyataan yang dinyatakan oleh Efek Rumah Kaca pada video wawancara mereka di youtube terkait setiap cipta bisa dipasarkan. Bahwa mereka pernah mengalami penolakan dari major label. Dimana major label berpendapat bahwa musik dari Efek Rumah Kaca tidak sesuai dengan

permintaan pasar saat itu. “Ya itu dulu ya sempatlah. Pengalaman Cholil dulu itu

ya. Dia sempat mendatangi beberapa label, sambil membawa materi-materinya yang awal dulu. Ya memang karena saat itu industri arah musiknya lagi seru- seruan yang lagunya cinta melulu” Ucap Akbar sambil tertawa. Kemudian dia

(35)

gitu, ya kayaknya kurang sesuai lah gitu sama selera saat itu. Jadi ya disuruh bikin lagi musiknya yang kayak mereka pengen, ya otomatis kita tolak sih untuk itu” (https://www.youtube.com).

Akbar juga mengungkapkan pendapatnya terkait alasan lagu “Biru”

diciptakan. “Itu sebenarnya sama seperti judulnya. Jadi benar-benar ya kita

langsung aja ngomongnya. Itu kan dua lagu ya kalau di album Sinestesia itu nama judulnya biru. Jadi lagu pertama itu pasar bisa diciptakan, lagu kedua ya cipta bisa dipasarkan. Jadi ya kita bisa meng-create sesuatu yang kita yakinin. Terus ya kita yakin bahwa yang kita create ini pasti ada pasarnya” ucapnya (https://www.youtube.com).

Kondisi industri musik Indonesia saat ini yang menjadi objek utama pada lagu “Biru”. Dimana perlu kita ketahui bahwasanya industri musik Indonesia telah bekembang sangat dinamis dari masa ke masanya. Dimulai dari era sebelum 70-an misalnya. Pada era ini musik Indonesia lebih banyak bertemakan perjuangan, keberanian, semangat dan kebangsaan. Tema-tema heroik seperti ini tentu saja berkaitan dengan kondisi Indonesia saat itu yang sedang melakukan perjuangan melawan Belanda dan Jepang. Tentunya masyarakat Indonesia masih hapal dengan lagu; Maju Tak Gentar, Bandung Lautan Api, dan lain-lain. Lagu-lagu pada era ini kebanyakan telah dijadikan sebagai lagu nasional. Pengarang lagu yang paling terkenal pada masa itu adalah Ismail Marzuki (1946) (http://www.last.fm).

(36)

cukup produktif di era ini seperti Rinto Harahap, Pance Pondaag, A Rianto, dan Obbie Mesakh. Beberapa nama yang merupakan spesialis lagu sedih adalah Nia Daniaty, Betharia Sonata, Ratih Purwasih, Iis Sugianto. Lagu-lagu balada juga lumayan laku, mungkin ini dikarenakan temponya yang juga lambat. Seperti Ebiet G Ade juga termasuk yang familiar kala itu (http://www.last.fm).

Di tengah banyaknya aliran yang cengeng dan mendayu-dayu ini, sebenarnya terdapat beberapa musisi yang tidak terbawa arus dan konsisten dengan aliran mereka. Mereka tidak memainkan musik yang meratap-ratap. Di antaranya ada nama Fariz RM, Vina Panduwinata, Gombloh, dan lain-lain (http://www.last.fm). Musik mereka sering disebut sebagai musik pop kreatif.

Bahkan lagu Vina yang berjudul “Burung Camar” jadi hits dimana-mana.

Di era ini musik rock juga sempat berjaya meski hanya sebentar, beberapa namanya seperti, Ikang Fauzy, Nicky Astria, dan Gito Rollies (http://www.last.fm). Nicky Astria bahkan menjadi ikon Lady Rocker Indonesia. Selain itu, group rock seperti God Bless sempat berkibar yang kemudian berubah menjadi GONG 2000 (http://www.last.fm). Kemudian group musik baru mulai bermunculan di akhir era ini, atau lebih tepatnya di tahun 90-an awal. Group

musik tersebut seperti Dewa 19, Slank, Boomerang, Vodoo, dan masih banyak lagi.

Seiring surutnya aliran musik cengeng, musik pop Indonesia pun seperti kehilangan arahnya. Hal ini yang terjadi di era 90-an. Namun di tengah itu semua terdapat dampak positif bagi musik dangdut, karena pada era ini musik dangdut menjadi lebih hidup dan meriah. Bahkan tidak sedikit penyanyi yang tadinya beraliran musik pop dan rock mulai beralih ke dangdut sehingga yang tercipta adalah jenis musik baru, yaitu pop dangdut.

Lagu seperti “Mobil dan Bensin” ciptaan Obbie Mesakh yang dinyanyikan

oleh Santa Hokki kemudian menjadi merajalela. Hal ini terbukti dari lagu Nini

Karlina, “Gantengnya Pacarku” yang kemudian menjadi booming. Hal ini

(37)

menyanyikan lagu daerah dan protes sosial mencoba keberuntungan di jenis musik ini (http://www.last.fm).

Di era ini, sesungguhnya banyak group musik yang potensial untuk mencetak hits yang lumayan, namun gaungnya tetap kalah. Seperti lagu “Kangen” dari Dewa 19, “Terlalu Manis” yang dinyanyikan oleh Slank, serta Indra Lesmana dengan lagu “Aku ingin bebas”.

Saat musik pop Indonesia sedang kehilangan auranya, Ami Search seorang musisi dari negeri Jiran, Malaysia, menjadi hits dengan lagunya yang berjudul

“Isabela”. Lagu ini pulalah yang kemudian memancing lagu-lagu Malaysia

lainnya untuk menghiasi musik Indonesia. Salim Iklim, Ella, Nora adalah beberapa nama yang terkenal di Indonesia. Saat itu musik Malaysia berhasil merajai musik Indonesia.

Hal ini menjadikan beberapa musisi Indonesia kemudian meniru gaya mereka. Kemudian terciptalah trend musik baru, yaitu “pop rock”. Dedy Dores,

Nike Ardilla, Inka Christie, Nafa Urbach dengan seragamnya menyanyikan lagu dengan musik jenis ini. Bahkan Nike Ardilla sampai membuat terobosan terbaru dalam gaya penampilannya yang bernuansa Rock. Kemudian mulai bermunculan lagi nama-nama baru di dunia rekaman Indonesia, seperti Kahitna, Java Jive, Krisdayanti dan Jingga (http://www.last.fm).

Pada akhir tahun 90-an, terdapat gebrakan baru yang dibuat oleh Sheila on 7 dengan lagunya yang berjudul “Dan” yang sempat menjadi hits di Indonesia juga Malaysia. Reza Artamevia juga mengusung musiknya yang beraliran R&B, dan dapat dibilang cukup berhasil memukau pecinta musik Indonesia.

(38)

grup musik. Namun era ini menempatkan Indonesia berjaya bahkan sampai ke negeri tetangga.

Sekilas telah kita bahas mengenai perkembangan musik di Indonesia. Pada masa sebelum tahun 2000-an, media massa belum terlalu berperan dalam menghegemoni dunia musik. Namun, sudah terlihat adanya semacam percobaan untuk menyeragamkan setiap era. Di era 2000-an hingga saat ini, musik Indonesia banyak difasilitasi oleh media dengan cara menciptakan program musik seperti Dahsyat, Inbox, Derings, dan lainnya untuk menampilkan musik-musik yang baru. Sayangnya, dilihat dari kemasan atau genre musik yang dihadirkan terdapat keseragaman yang dapat mematikan kreatifitas dan inovasi untuk musisi lainnya dalam bersaing dan berkembang. Semua ini dilakukan untuk memberi keuntungan bagi pemilik media seperti yang disampaikan oleh Adorno dalam teori musik popnya beberapa dekade yang lalu.

Dominasi industri budaya yang menjadi kesimpulan pada teori musik Adorno, terlihat jelas dalam sejarah industri musik Indonesia. Musisi-musisi yang dipopulerkan oleh media mempunyai ciri yang tidak jauh berbeda dalam setiap

trend-nya. Seperti genre musik pop melayu yang menjamur belakangan ini. Trend

ini kemudian melahirkan band-band seperti ST12, Hijau Daun, Wali, Kangen Band, dan lainnya yang dari segi karya cukup seragam. Jauh lagi ke belakang, tentu kita mengingat trend musik ska yang memunculkan band-band seperti Type- X, Shaggy Dog, Souljah, dan lainnya, ke permukaan untuk kemudian digantikan oleh trend berikutnya. Sempat pula musik Indonesia diwarnai oleh tren K-Pop, dimana menghasilkan banyak boyband dan girlband di Indonesia. Pada setiap

trend tersebut, terdapat standarisasi yang tak pernah berubah. Kemiripan-

kemiripan karya musik pop Indonesia, baik dari tema, lirik, serta nada dari lagu- lagu yang dimainkan bisa dilihat dengan jelas. Hal ini pula lah yang akhirnya membuat kegelisahan dalam diri Efek Rumah Kaca.

Major label adalah salah satu jalan untuk memproduksi musik. Major label memungkinkan seniman maupun penyanyi untuk membantu mereka memproduksi lagu untuk dipasarkan. Ranah Major label merupakan pasar

mainstream, budaya popular yang menguntungkan bagi perusahaan (Tantagode,

(39)

Di Indonesia, major label telah memiliki koneksi dengan pertelevisian, dikarenakan sistem pembiayaan dan kontrak kerjasama major label yang lebih menguntungkan, serta memiliki sistem distribusi secara nasional. Sedangkan indie lebih bisa menggapai acara-acara off air dan promo off air dan juga on air radio saja. Seperti band beraliran punk, yang termasuk jenis musik underground, hadir bukan untuk kepentingan industri yang komersil, melainkan merupakan jenis musik yang idealis, mempunyai pesan-pesan moral, kritik atas fenomena sosial politik, kebijakan, maupun kekuasaan (Herlambang, 2008:v).

Banyak grup band yang sering mengisi acara di televisi seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu Dahsyat, Inbox, Hip-Hip Hura, dan lain sebagainya. Banyak juga yang mengisi acara-acara televisi dengan panggung besar. Semua acara musik ini merupakan bagian dari budaya pop (pop culture). Mereka hanya menampilkan band-band yang seragam, mengusung lirik tentang percintaan dan musik-musik easy listening yang mudah laku di pasaran.

Budaya pop bekerja sama dengan industri hiburan yang mempunyai tujuan untuk memburu laba. Akibatnya budaya pop sering disebut dengan “budaya

massa” (Strinati, 2007:21). Acara-acara musik tersebut mengusung tema yang

sama, yaitu musik mainstream yang dibawahi oleh major label serta menjual musisi musik mainstream dalam industri perauk keuntungan. Dadan Suwarna (dalam Mack, 1995:119) menjelaskan bahwa:

“Kebutuhan dapur ngebul menjadi alasan utama. Artinya, kreatifitas

terpola pada kebutuhan yang lain, bukan lagi didasarkan pada sentuhan intuisi dan imajinasi yang memadai. Selera kreatifitas mengikuti selera produser dalam sisi modalitas perdagangan. Namun selera masyarakat terbentuk dengan kuat karena media elektronik semacam TV turut menumbuhkembangkan eksistensi lagu- lagu tersebut. Artinya, TV menekankan frekuensi pengulangan lagu dengan alasan selera masyarakat. ... Seorang manusia mempunyai jiwa, sedangkan massa tidak memilik apa-apa kecuali kebutuhan. Kreatifitas lagu berhubungan dengan bagaimana agar memanjakan

dan berkompromi dengan penikmat sebagai massa”.

(40)

muncul dari keinginan masyarakat itu sendiri, melainkan sudah dikondisikan oleh karakter budaya massa (mack, 1995:119).

Hal ini diperkuat dengan teori musik Adorno. Dimana menurut Adorno, musik pop dihasilkan melalui dua proses dominasi industri budaya, yakni standarisasi dan individualitas semu. Standarisasi menjelaskan mengenai tantangan dan permasalahan yang dihadapi musik pop dalam hal originalitas, autentisitas ataupun rangsangan intelektual. Standarisasi menyatakan bahwa musik pop mempunyai kemiripan dalam hal nada dan rasa antara satu dengan lainnya hingga dapat dipertukarkan (Strinati, 2007:73). Dapat dikatakan bahwa terdapat kemiripan yang mendasar di musik pop dalam berbagai hal yang menjadi kandungannya yang mampu dipertukarkan hingga menjadi komoditas tersendiri. Hal ini yang mengakibatkan individu maupun masyarakat salah dalam pemujaan mereka atas musik pop.

Sementara standarisasi berjalan, individualitas semu dijalankan demi membuat kabur individualitas rasa yang seharusnya ada dalam diri individu dalam menikmati musik. Individualitas rasa merupakan hal yang dihasilkan produk budaya dalam mempengaruhi suasana individual (Strinati, 2007:70). Individualitas semu diciptakan demi mengaburkannya. Individualitas semu mengacu pada berbagai perbedaan dalam musik pop yang tercipta melalui pengaburan kemiripan-kemiripan dalam musik pop melalui pemberian variasi.

Kaum industri menciptakan individualitas semu demi menonjolkan detail dalam musik pop. Hal ini ditunjukkan dengan cara memberi kebebasan individu dalam memilih musik pop, namun kebebasan tersebut telah distandarisasi oleh para elit industri. Kemunculan musik pop yang seperti ini, menurut Adorno merupakan keinginan dari kaum kapitalis yang memanipulasi selera musik masyarakat. Kaum kapitalis tergiur untuk menciptakan pasar yang menguntungkan setelah melihat adanya potensi pasar yang besar dalam budaya. Masyarakat dijadikan aset hidup sekaligus menekan pesaingnya, yaitu budaya yang berperan sebagai filter masyarakat terhadap dominasi kapitalis.

(41)

oleh industri musik Indonesia dengan memberikan pilihan genre dan package

(penyanyi solo, band, duo, dan lain-lain) yang seakan-akan bermacam jenisnya, padahal sesungguhnya keragaman tersebut memiliki standar-standar yang sama, yaitu tema cinta. Hal ini merupakan akibat dari sudah dikuasainya industri musik Indonesia oleh orang-orang yang mengedepankan profit. Hal ini lantas menjadi landasan yang sangat kuat mengapa Efek Rumah Kaca menunjukkan kegelisahannya lewat lagu “Biru” ini.

Apa yang telah disebutkan oleh Efek Rumah Kaca pada analisis konotatif sebelumnya bahwa mereka memprotes dan menuntut kondisi industri musik Indonesia terjadi saat ini, telah peneliti jelaskan bahwa hal tersebut benar-benar terjadi saat ini. Dimana musik telah dianggap pasar yang sangat menggiurkan bagi kaum kapitalis demi memperkaya diri mereka. Hal ini yang lantas menjadikan mereka menuntut para musisi dan pemusik Indonesia untuk selalu menciptakan karya yang sesuai dengan keinginan masyarakat.

Sebelumnya telah dijelaskan mengapa masyarakat Indonesia sekarang dominan menyukai lagu yang bertemakan percintaan dengan genre pop. Hal ini yang kemudian menjadikan banyaknya para musisi dan pemusik Indonesia yang mengharuskan diri untuk berkarya sesuai dengan keinginan pasar tersebut. Hanya agar karya mereka laku di pasaran, sehingga juga mendatangkan keuntungan pada mereka sendiri. Namun hal ini justru dijadikan hal utama dalam bermusik, sehingga menjadikan karya para musisi dan pemusik Indonesia menjadi seragam tanpa mengindahkan kreatifitas mereka sendiri. Hal ini diperkuat dengan pendapat Akbar mengenai kondisi musik Indonesia saat ini,

“Ya akhirnya keterusan ya. Sampai sekarang juga fenomena itu juga

masih ada. Banyak band yang bermunculan tapi dengan temanya yang sayangnya sama. Padahal sih saya yakin sebenarnya potensinya mereka itu bisa lebih jauh dari sana. Sebenarnya mereka bisa lebih dari itu. Bisa bawain hal yang lain. Tapi gak tau ya, mungkin yang pendananya itu yang memproduksi musiknya Cuma mau musiknya yang aman-aman aja. Atau yang emang dia pikir bahwa tema itu yang memang menjual. Ya akhirnya dari keresahan itu, dan kita juga sering ngobrolin ini ya kenapa ya musik kok lagunya gini-gini terus, akhirnya kita mikir buat bahas ini di lagu

(42)

Perbedaan antara label mayor dan label minor yang mendasar adalah sistem pembiayaan dan promosinya. Label mayor membiayai produksi dan promo dari grup musiknya, memiliki kontrak kerja yang jelas antara label dan group musiknya, sedangkan label minor atau sering disebut label indie membiayai produksi dan promosi mereka sendiri, seperti asal kepanjangan kata indie itu sendiri, yakni independent yang berarti tidak berketergantungan atau berdiri sendiri serta mandiri. Band yang memilih jalur independen disebut band indie, begitu juga dengan band Efek Rumah Kaca.

Menurut Efek Rumah Kaca, kebebasan dalam berkarya merupakan kunci utama kebahagiaan dalam bermusik. Hal yang jelas dituangkan dalam liriknya

pada lagu “Pasar Bisa Diciptakan” yang berbunyi “Kami hanya akan mencipta,

Segala apa yang kami cinta, bahagia”. Pernyataan Efek Rumah Kaca di atas sangat berkaitan dengan jalur indie yang mereka pilih. Munculnya kelompok musik beraliran indie dirasa mampu mengubah pandangan masyarakat tentang situasi pasar industri musik di Indonesia. Di tengah ideologi kapitalisme yang sedang menguasai pasar industri musik pop Indonesia, kemudian muncul aliran yang mengatasnamakan kebebasan. Dimana ide ini sudah tentu terlepas dari campur tangan para kapitalis dalam menyajikan hiburan kepada masyarakat yang seperti kita ketahui kondisiya sedang haus akan hiburan.

Musik indie telah dibahas oleh peneliti pada sub bab sebelumnya. Musik indie dan seni independen yang ada di sekitar masyarakat umumnya merupakan wujud dari penolakan dikte pasar. Indie muncul dari hati, di luar mainstream

musik pop dan seni pop pada umumnya. Musik indie biasanya berdiri atas dasar komunitas. Para musisi indie satu sama lainnya tidak saling bersaing. Justru sebaliknya, para musisi indie saling bekerja sama dalam memperluas pengaruh mereka di dunia musik. Hal ini pulalah yang menjadi kekuatan dari label indie atau biasa disebut label non-mainstream.

(43)

dikarenakan tidak adanya tekanan dari pihak industri dalam berkarya. Grup musik indie lebih bebas dalam menciptakan karya-karyanya.

Jadi, dalam konteks industri, musik indie tidak berorientasi pada keuntungan finansial. Sementara kondisi industri musik pop Indonesia saat ini dominan berbasis kepada profit dari label. Hal ini jelas dikarenakan label menanamkan modal yang besar kepada musisi sehingga musisi dituntut untuk dapat mencari keuntungan yang lebih besar.

Musik indie ini kemudian tumbuh secara alami di industri musik Indonesia, walaupun di awal mendapat pertentangan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan. Dalam prosesnya, industri musik pop Indonesia cenderung mendapatkan inspirasi dari band-band yang berasal dari luar negeri yang memang sudah terbukti populer di pasar industri. Hal ini juga diperkuat dengan landasan yang mengarah pada ideologi kapitalis yang membentuk impian untuk menjadi musisi terkenal kemudian diekspos melalui media dengan diimingi kesuksesan dan kesenangan. Maka musik indie menolak pandangan seperti itu dengan menunjukkan jenis musik yang merupakan wadah penyaluran hobi. Dalam hal ini unsur kreatifitas yang lebih ditonjolkan. Mereka meniadakan keterlibatan dari kaum kapitalis dalam mengontrol karya musik yang diciptakan.

Jika pada “pasar bisa diciptakan” menceritakan tentang bentuk protes dan alasan dari kegelisahan Efek Rumah Kaca serta solusi yang mereka tawarkan, “cipta bisa dipasarkan” merupakan bentuk kelanjutan cerita panjang mereka. Pembuktian yang dari apa yang mereka sebutkan di awal cerita mereka pada lagu “Biru” ini. Bahwa segala yang mereka kritisi bukanlah hanya sebatas bentuk ucapan belaka. Tapi mereka dengan nyata telah mampu keluar dari penjara tersebut. Efek Rumah Kaca telah membuktikan bahwa jangan pernah takut untuk berkarya sesuai dengan karakter dan kreatifitas masing-masing, karena menurut mereka setiap karya pasti akan menjumpai pasarnya. Seperti halnya ungkap dari vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil,

“Jadi ketika kita membuat sesuatu biasanya kita perlu menajamkan

(44)

beririsan, atau lakulah dijual gitu lah. Masalahnya adalah ceruknya mau yang besar atau yang kecil. Jadi kita menganggap bahwa

semua karya pasti punya ceruknya masing-masing.”

(https://www.youtube.com).

Ungkapan dari vokalis Efek Rumah Kaca di atas adalah pembuktian mengenai makna dari lagu “cipta bisa dipasarkan”. Dimana Efek Rumah Kaca telah membuktikan usaha mereka di dalam dunia musik Indonesia sehingga mereka dapat menyuarakan apa yang telah mereka raih dari jeri payah mereka yang telah tercantum dalam lirik lagu “Cipta Bisa Dipasarkan”. Jelas pada lagu ini Efek Rumah Kaca telah mencapai pasarnya sendiri. Keberhasilan ini ingin disebarluaskan oleh Efek Rumah Kaca, demi kebebesan semua pemusik dalam berkarya, serta demi mewujudkan industri musik Indonesia yang lebih bernilai lagi. Hal ini jelas tercantum dalam reffrain lagu “Cipta Bisa Dipasarkan” yang

berbunyi, “oh cahaya, akhirnya kita sampai juga, temukannya, pijarnya pun dibagi

rata, berbinar-binar hidup bergelora”.

Kebenaran makna lagu tersebut dapat dibuktikan dari prestasi-prestasi yang telah Efek Rumah Kaca raih. Efek Rumah Kaca sering mewarnai panggung- panggung di berbagai kota besar di Indonesia. Selain itu juga Efek Rumah Kaca

meraih antara lain, “The Best Cutting Edge” – MTV Indonesia Music Award 2008

dan nominator Anugrah Musik Indonesia Award 2008 (http://efekrumahkaca.net). Kemudian di awal bulan Maret 2009, Efek Rumah Kaca masuk dalam jajaran musisi Classic Music Heroes oleh salah satu produk rokok. Nama Efek Rumah Kaca disejajarkan dengan nama-nama besar lainnya, seperti Iwan Fals, Slank dan nama-nama besar lainnya. Efek Rumah Kaca juga pernah mendapatkan penghargaan Indonesia Cutting Edge Music Awards 2010.

Pada 23 Januari 2013, Efek Rumah Kaca baru saja melaksanakan penampilan mereka di Rolling Stone Cafe, Jakarta. Antusias dari penonton pun sangat tinggi. Hal ini terbukti dari penjualan tiket sebanyak 200 habis terjual. Semuanya juga belum termasuk tamu undangan yang tidak terhitung. Efek Rumah Kaca bermain hampir dua jam tanpa henti. Padahal ini adalah konser panjang perdana mereka (http://m.rollingstone.co.id).

(45)

penghargaan Indonesian Choice Awards 2016 pada album Sinestesia di nominasi

Album Of The Year. Pujian juga banyak disampaikan pada Efek Rumah Kaca di

konser Sinestesia yang diadakan pada 13 Januari 2016 lalu di Taman Ismail Marzuki. Hal ini terbukti dari sanjungan-sanjungan yang diberikan para penonton

di timeline salah satu sosial media selama acara tersebut berlangsung. Pada konser

ini 1.500 tiket terjual dalam waktu satu minggu. Dikabarkan pula, dari sekian pemegang tiket, masih ada sekitar 1000 nama di daftar tunggu yang bersiap untuk berburu jikalau ada pembeli yang mendadak membatalkan pembeliannya (http://www.whiteboardjournal.com).

Jelas bahwa lagu “Biru” karya Efek Rumah Kaca ini secara mitos menceritakan tentang bagaimana bentuk kegelisahan dari Efek Rumah Kaca terkait kondisi industri musik Indonesia yang hanya mengedepankan profit, sehingga berakibat seragamnya karya-karya pemusik Indonesia. Kondisi industri musik ini jelas mengenyampingkan kreatifitas dari si pemusik tersebut. Hal ini dikarenakan para pemilik industri yang mengharuskan para musisi dan pemusik membuat karya yang sesuai dengan keinginan pasar, sehingga dapat menghasilkan banyak keuntungan, tidak hanya untuk musisinya tetapi juga untuk produsernya.

Hal ini yang akhirnya membuat indie menjadi alternatif dari para musisi dan pemusik yang tidak sepakat dengan kondisi industri musik yang terus mendikte seperti ini. Sama seperti hal nya yang dilakukan oleh Efek Rumah Kaca yang memilih jalur indie setelah sebelumnya karya mereka ditolak oleh major label. Namun bukan berarti hal ini menjadi hambatan, karena justru dengan berada di pihak indie, Efek Rumah Kaca menemukan kebebasannya dalam berkarya. Kebebasan ini yang lantas membuat mereka bisa menduduki posisi seperti sekarang ini, dimana pasar mereka telah diciptakan.

Pada lagu “Biru” ini Efek Rumah Kaca ingin menyampaikan bahwa setiap

(46)

lewat konsistennya di dunia musik Indonesia yang terus-menerus membawa karakter mereka dalam bermusik, sehingga akhirnya mereka tiba di pencapaian mereka seperti sekarang ini. Mereka telah membuktikan bahwa setiap pasar bisa diciptakan dan setiap cipta bisa dipasarkan.

4.3. Musik Sebagai Media Kritik Sosial

Saat ini dalam melakukan komunikasi sangatlah beragam bentuknya, mulai dari komunikasi satu arah, menggunakan media dalam penyampaiannya, hingga lewat musik yang bisa dinikmati. Musik sendiri bersifat universal sehingga musik dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat dan pendengarnya dimanapun berada. Atas dasar hal tersebut musik dapat dijadikan sebagai media komunikasi (Nurahim, 2009)

Pesan merupakan sebuah hal utama dalam sebuah proses komunikasi. Proses komunikasi sendiri merupakan penyampaian sebuah pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan. Dari sekian banyak media penyampai pesan, musik adalah salah satu bentuk proses penyampai pesan atau komunikasi. Selain berfungsi sebagai media hiburan, saat ini fungsi musik telah berkembang. Di dalam sebuah musik terdapat pesan, ide, gagasan, pendapat sampai kritikan yang berusaha disampaikan oleh si pencipta musik terhadap masyarakat dan pendengar.

Lewat setiap bait dan liriknya, musik dapat dijadikan media atau sarana berkomunikasi. Hal itu tertuang melalui alunan nada serta diikuti dengan lirik lagu yang berupa teks. Proses komunikasi terjadi ketika musik atau lagu tersebut didengar oleh pendengarnya, karena dalam setiap musik tersimpan makna atau pesan yang berusaha disampaikan oleh si pencipta lagu tersebut.

Gambar

Tabel Analisis Denotatif dan Konotatif Lirik Lagu “Pasar Bisa Diciptakan”
Tabel Analisis Denotatif dan Konotatif Lirik Lagu “Cipta Bisa Dipasarkan”
gambar (bayangan);

Referensi

Dokumen terkait

KRITIK POLITIK DALAM LAGU KARYA BAND EFEK RUMAH KACA (Analisis Semiotik dalam Lirik Lagu pada Album “Efek Rumah Kaca” dan..

Penelitian ini difokuskan pada lirik lagu ciptaan Efek Rumah Kaca dalam album Sinestesia yaitu “ Merah dan Biru ” Lirik-lirik lagu tersebut bersifat puitis dan memiliki

Telaah Gaya Bahasa Kiasan pada Lirik Lagu Efek Rumah Kaca Karya Efek Rumah Kaca adalah hasil karya saya dan dalam naskah tugas akhir ini tidak terdapat karya ilmiah

Gaya bahasa pertautan adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mempertautkan suatu unsur dengan unsur lain atau suatu kata dengan kata-kata selanjutnya, berikut adalah jenis- jenis

Kedua, hasil analisis dari struktur paradigmatik dalam lagu-lagu Efek Rumah Kaca yang bertema politik menunjukkan adanya keterkaitan antara lagu dari Efek Rumah Kaca

2001-2007 SD SWASTA DHARMA PATRA RANTAU, ACEH TAMIANG. 2007-2010 SMP SWASTA DHARMA PATRA RANTAU,

Sebagaimana lagu menjadi media dalam proses komunikasi sebuah band Indonesia yang bernama Efek Rumah Kaca berinisiatif mengusung sebuah fenomena tentang

Berdasarkan uraian di atas, tujuan dari penelitian ini adalah untuk medeskripsikan dan menjelaskan (1) makna lirik lagu-lagu grup musik Efek Rumah Kaca dalam album