BADAN PUSAT STATISTIK
Survei Tendensi Bisnis, 2017
ABSTRAKSI
Informasi dini mengenai kondisi perekonomian suatu negara/wilayah sangat diperlukan oleh pemerintah dan dunia usaha. Pemerintah memerlukan informasi tersebut diantaranya untuk perencanaan pembangunan, sedangkan dunia usaha diantaranya untuk keperluan investasi atau ekspansi pasar. Dengan adanya informasi ini, berbagai pihak dapat mengambil langkah yang diperlukan untuk mengantisipasi atau meminimalkan dampak dari kejadian yang tidak diharapkan.
Badan Pusat Statistik menggunakan dua pendekatan indikator dalam memprediksi kondisi ekonomi Indonesia ke depan. Indikator dini (leading indicator) yang digunakan adalah Indeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi Konsumen. Kedua indikator ini saling melengkapi dalam memberikan informasi dini perkembangan secara ekonomi, dimana Indeks Tendensi Bisnis melihat kondisi ekonomi dari perspektif pengusaha. Informasi ekonomi yang dihasilkan dari kedua indicator ini adalah kondisi perekonomian triwulan berjalan dan prediksi triwulan mendatang.
Indeks Tendensi Bisnis dihitung berdasarkan hasil Survei Tendensi Bisnis yang berbasis perusahan menengah besar sebagai responden. Dengan adanya informasi ini, dapat diketahui sinyal awal mengenai perubahan kondisi perekonomian jangka pendek sehingga berbagai pihak dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengantisipasi keadaan tersebut supaya tidak menimbulkan kerugian.
TUJUAN DAN MANFAAT KEGIATAN
Memberikan informasi yang dini tentang perkembangan perekonomian dari sisi pengusaha pada kondisi 1.
triwulan berjalan;
Memberikan perkiraan kondisi bisnis tiga bulan mendatang. 2.
Penanggung Jawab Kegiatan
PENYELENGGARA Subdit. Analisis Statistik
PENANGGUNG JAWAB MASALAH TEKNIS Subdit. Analisis Statistik
PENANGGUNG JAWAB METODE PENGUMPULAN DATA Subdit. Analisis Statistik
Subdit. Analisis Statistik
PENANGGUNG JAWAB DISEMINASI DATA PENANGGUNG JAWAB SUMBER DANA Subdit. Analisis Statistik
Informasi Pengumpulan Data
FREKUENSI KEGIATAN Triwulanan
RIWAYAT KEGIATAN
Sejak tahun 1980-an, BPS telah mengembangkan berbagai macam indikator yang berkaitan dengan sistem peringatan dini, yaitu diantaranya adalah Indeks Indikator Pendahulu (Index of Leading Indicator). Disamping Indeks Indikator Pendahulu, BPS sejak tahun 1995 juga telah mengembangkan dua macam indikator dini (prompt indicator) yang lain yang saling melengkapi, yaitu indikator yang berkaitan dengan perkembangan kegiatan bisnis yang disebut dengan Indeks Tendensi Bisnis (ITB) dan indikator yang berkaitan dengan kondisi konsumen yang disebut dengan Indeks Tendensi Konsumen (ITK). ITB dan ITK dapat memberikan indikasi mengenai kondisi bisnis (perekonomian secara umum) dan ekonomi konsumen di Indonesia dalam jangka pendek (triwulanan). Karena pentingnya informasi ini, sejak Triwulan II-2001 hasil penghitungan Indeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi Konsumen telah dipublikasikan melalui berbagai media massa bersamaan dengan “Press release” Produk Domestik Bruto setiap triwulan.
PERUBAHAN YANG TERJADI DARI KEGIATAN SEBELUMNYA
Indeks Tendensi Bisnis dihitung dari hasil Survei Tendensi Bisnis (STB) yang dilakukan sejak tahun 1995. Cakupan sampel perusahaan telah mengalami perubahan sampel sampai tahun 2017, seperti berikut:
Pada periode 1995-1998 pengumpulan data dilakukan sebanyak 3 putaran yang dilaksanakan setiap 4 bulan sekali yaitu pada bulan Mei, September, dan Januari setiap tahun. Unit pencacahan STB adalah perusahaan sedang dan besar di sektor industri pengolahan di wilayah Jabodetabek dengan jumlah sampel sekitar 100 perusahaan.
Periode 1999 s/d triwulan I-2002 pengumpulan data dilakukan secara triwulanan yang dilaksanakan pada bulan April, Juli, Oktober, dan Januari setiap tahun. Unit pencacahan STB diperluas menjadi perusahaan kategori menengah keatas di seluruh sektor kecuali pertanian di wilayah Jabodetabek dengan jumlah sampel sekitar 200 perusahaan.
Tahun 2002-2004 dilakukan perluasan cakupan usaha, hasil kerjasama Badan Pusat Statistik (BPS) dengan Bank Indonesia (BI) dengan jumlah sampel meningkat menjadi sekitar 1.100 perusahaan setiap triwulan yang tersebar di Jabodetabek dan beberapa kota besar di seluruh provinsi di wilayah Indonesia.
Pada tahun 2005 dilakukan penambahan jumlah sampel menjadi sekitar 1.700 perusahaan dengan sebaran sekitar 300 perusahaan di Jabodetabek dan 1.400 perusahaan di luar Jabodetabek. Selanjutnya sejah tahun 2006 jumlah sampel setiap tahunnya telah mencapai kurang lebih 2.000 perusahaan besar dan sedang setiap triwulan.
Pada tahun 2007-2012, secara keseluruhan jumlah sampel Survei Tendensi Bisini per triwulanan kurang lebih sebanyak 2.500 perusahaan yang terdiri dari 9 sektor/lapangan usaha. Pengumpulan data di lapangan bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI). Distribusi sampel perusahaan dialokasikan secara proporsional menurut sektor/lapangan usaha. Dan sampel tersebar di beberapa kota besar di seluruh provinsi di wilayah Indonesia, terutama yang memiliki kantor perwakilan BI.
Pada tahun 2013-2014, secara keseluruhan jumlah sampel Survei Tendensi Bisnis per triwulan masih kurang lebih sebanyak 2.500 perusahaan yang mencakup 9 sektor/lapangan usaha. Berbeda dengan periode sebelumnya, pengumpulan data lapangan sebagian besar responden dicacah oleh BPS diserahkan pencacahannya ke BPS Provinsi (DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten). Kerjasama dalam bentuk sharing data dengan Bank Indonesia (Pusat) dari hasil pengumpulan data lapangan yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan BI di beberapa kota di seluruh Indonesia.
Tahun 2015, cakupan sampel Survei Tendensi Bisnis diperluas di seluruh provinsi di Indonesia sehingga jumlah sampel meningkat menjadi 10.000 perusahaan per tahun atau 2.500 perusahaan per triwulan. Sejak Triwulan III-2002 hingga saat ini, BPS dan BI terus melakukan pertukaran data lapangan dari hasil Survei Tendensi Bisnis (STB) dan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU). Pertukaran data tersebut dimaksudkan agar menambah jumlah sampel gabungan yang diharapkan dapat lebih menggambarkan kondisi populasi yang sebenarnya. Alokasi sampel STB BPS pada tahun 2014 dan sebelumnya hanya mencakup Jabodetabek (pengumpulan data lapangan dilaksanakan oleh petugas lapang di BPS DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten), selanjutnya sejak tahun 2015 pelaksanaan lapangan STB dilaksanakan di seluruh provinsi di Indonesia yang diwakili oleh beberapa Kabupaten/Kota terpilih dan beberapa lapangan usaha potensial di provinsi masing-masing. Metode penarikan sampel perusahaan terpilih ditentukan berdasarkan “probability sampling” untuk lebih menjamin sampel yang objektif dan acak sebagai mekanisme penjaminan kualitas data yang lebih baik dan konsisten.
FREKUENSI PENGUMPULAN DATA - Triwulanan
TIPE PENGUMPULAN DATA Longitudinal
INDIKATOR PENGUMPULAN DATA LONGITUDINAL Trend Studies
REFERENSI YANG DIGUNAKAN The Conference Board dan Michigan Index KLASIFIKASI YANG DIGUNAKAN
Perka BPS Nomor 55 Tahun 2017 tentang Kode dan Nama Wilayah Kerja Statistik Tahun 2017@@KBLI 2015@ JADWAL KEGIATAN
Metodologi
CARA PENGUMPULAN DATA Survei
JENIS RANCANGAN SAMPEL Single Stage/Phase
METODE PEMILIHAN SAMPEL STAGE TERAKHIR Sampel probabilitas
METODE PEMILIHAN SAMPEL PROBABILITAS Proportional to size
Rancangan Sampel Probabilitas
KERANGKA SAMPEL
Direktori Perusahaan Industri Besar dan Sedang Sensus Ekonomi 2016 KESELURUHAN FRAKSI SAMPEL (OVERALL SAMPLING FRACTION) tidak ada
PERKIRAAN SAMPLING ERROR tidak menghitung perkiraan sampling error ALOKASI SAMPEL
Jumlah keseluruhan sampel adalah 2.500 perusahaan skala menengah besar. Alokasi sampel mempertimbangkan perekonomian per provinsi (PDRB) terhadap perekonomian nasional (PDB).
CAKUPAN WILAYAH Seluruh kabupaten/kota WILAYAH KEGIATAN
---UNIT OBSERVASI
Perusahaan skala menengah dan besar CAKUPAN RESPONDEN
Pimpinan perusahaan atau yang berwenang
MENGGUNAKAN DATA SEKUNDER DARI UNIT KERJA/INSTANSI LAIN Ya
Pengumpulan Data
METODE PENGUMPULAN DATA MELAKUKAN PILOT STUDY Tidak
INSTRUMEN YANG DIGUNAKAN Kuesioner
PETUGAS PENGUMPULAN DATA - KSK
JUMLAH PETUGAS PENGUMPULAN DATA Pengawas/Kortim 33 Orang
Pencacah 99 Orang
MENGADAKAN PELATIHAN PETUGAS Tidak
METODE UNTUK MENGETAHUI KINERJA PENGUMPULAN DATA - Supervisi
PENYESUAIAN NON RESPON Penggantian Sampel
Pengolahan Data
UNIT KERJA YANG MELAKUKAN PENGOLAHAN - Sendiri - Integrasi Pengolahan METODE PENGOLAHAN - Batching - Editing - Coding - Data Entri/Scan - Verifikasi - Validasi - Tabulasi
TEKONOLOGI/APLIKASI YANG DIGUNAKAN Aplikasi Entri STB Online, SPSS, Microsoft Excel
Estimasi dan Analisis
METODE ESTIMASI YANG DIGUNAKAN
-KOMPOSISI DAN PENIMBANG
Penimbang merupakan fungsi log linear dari series variabel pembentuknya pada ITB Kini atau Mendatang triwulan sebelumnya.
METODE ANALISIS Analisis Deskriptif UNIT ANALISIS Kategori lapangan usaha
SUMBER DATA ALTERNATIF UNTUK ANALISIS
ADA UNIT KERJA LAIN YANG MENGGUNAKAN DATA INI Ya
Kualitas dan Interpretasi Data
PERLAKUAN TERHADAP OUTLIER, SECARA UMUM Lainnya
RELIABILITAS DATA
Melaksanakan koherensi data dengan data pendukung, seperti angka PDB dan data pendukung lainnya. PERBANDINGAN DATA
3
METODE REVISI DATA
Konsistensi antar variabel dan konfirmasi ke perusahaan INFORMASI TENTANG KUALITAS DATA
Evaluasi
MELAKUKAN STUDI EVALUASI Ya
REKOMENDASI UNTUK YANG AKAN DATANG Peningkatan response rate item
Diseminasi
TAHUN DATA YANG DIDISEMINASIKAN s.d.
DATA YANG DIDISEMINASIKAN DIBEDAKAN MENURUT JENIS KELAMIN Tidak
LEVEL PENYAJIAN SAMPAI DENGAN TINGKAT
DIBEDAKAN MENURUT DAERAH PERKOTAAN/PERDESAAN Tidak
DATA/VARIABEL YANG TIDAK BISA DIBERIKAN KEPADA PIHAK PENGGUNA DATA
Aksesibilitas
Direktorat Diseminasi Statistik [email protected], www.bps.go.id Persyaratan dan Penolakan PERSYARATAN
Pengguna data harus menyebutkan nama kegiatan: Survei Tendensi Bisnis, 2017
PENOLAKAN
Pengguna data mengakui bahwa BPS tidak bertanggung jawab atas penggunaan data atau interpretasi atau kesimpulan berdasarkan penggunaan data apabila tidak diketahui atau tidak dikonsultasikan dengan BPS.