• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis hukum islam terhadap praktek "Lelang Undian" dalam penyewaan tanah kas Desa : Studi di Desa Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis hukum islam terhadap praktek "Lelang Undian" dalam penyewaan tanah kas Desa : Studi di Desa Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro."

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi Di Desa Su

Jurusan Huk

Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten B SKRIPSI

Oleh: Haryati NIM. C02213029

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Syari’ah dan Hukum Islam

ukum Perdata Islam Prodi Hukum Ekonomi Sy (Mu’amalah)

Surabaya 2017

n Bojonegoro)

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Skripsi yang berjudul ‚Analisis Hukum Islam Terhadap Praktek ‚Lelang Undian‛ dalam Penyewaan Tanah Kas Desa di Desa Sumberagung Kecamatan

Ngraho Kabupaten Bojonegoro‛ penelitian ini bertujuan untuk menjawab

pertanyaan: Bagaimana syarat praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa di Desa Sumberagung Kecamatan Ngraho kabupaten Bojonegoro? Bagaimana analisis hukum Islam terhadap praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa di desa Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro?.

Data penelitian ini dihimpun melalui wawanacara dan dokumentasi. kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif-analisis dengan menyatakan fakta-fakta atau kenyataan di lapangan, yaitu tentang praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa dan selanjutnya akan dianalisis dari segi hukum Islam.

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam penyewaan tanah kas desa dilakukan dengan cara undian yang diikuti oleh setiap KK (Kartu Keluarga) dengan perwakilan satu nama di setiap KK. Namun ketika undian sudah keluar dan keluar satu nama ada seseorang yang mengalihkan hak sewa kepada orang lain yang mau menyewa tanah kas desa tersebut dengan harga lebih tinggi dari yang sudah ditentukan oleh perangkat desa.

Selanjutnya, dalam praktek penyewaan tanah kas desa di desa Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro, Meskipun pihak yang mendapatkan undian ada yang tidak menyewa akan tetapi dialihkan kepada orang lain dengan harga lebih tinggi hal itu juga diperbolehkan dalam Islam, dengan alasan hal itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat dalam menyewakan barang sewaan kepadaan orang lain. Karena syariat yang tidak bertentangan diperbolehkan dalam Islam dan juga dalam transaksi tersebut meskipun harganya lebih tinggi akan tetapi kedua belah pihak sepakat dan tidak ada unsur keterpaksaan maka hal ini tidak dilarang dalam hukum Islam.

(7)

DAFTAR ISI

halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR TRANSLITERASI ... xi

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi dan Batasan Masalah ... 6

C. Rumusan Masalah ... 7

D. Kajian Pustaka ... 8

E. Tujuan Penelitian ... 10

F. Kegunaan Hasil Penelitian ... 10

G. Definisi Operasional ... 11

H. Metode Penelitian ... 12

I. Sitematika Pembahasan ... 16

BAB 11 KONSEP IJA>RAH (SEWA-MENYEWA) DALAM HUKUM ISLAM A. Pengertian sewa-menyewa ... 18

B. Dasar hukum sewa-menyewa ... 21

C. Rukun dan Syarat sewa-menyewa ... 25

D. Macam-macam ija>rah ... 31

E. Pengalihan sewa-menyewa menurut hukum Islam ... 31

F. Pembatalan dan berakhirnya sewa-menyewa ... 35

(8)

BAB 111 PRAKTEK LELANG UNDIAN DALAM PENYEWAAN TANAH KAS DESA DI DESA SUMBERAGUNG KECAMATAN NGRAHO KABUPATEN BOJONEGORO

A. Gambaran umum wilayah penelitian ... 38

1. Letak geografis kabupaten Bojonegoro ... 38

2. Keadaan geografis desa Sumberagung dan Kependudukan ... 39

3. Keadaan sosial ekonomi desa Sumberagung ... 41

4. Keadaan sosial pendidikan ... 44

5. Keadaan sosial agama ... 44

B. Sistematika praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa ... 45

1. Sejarah sewa-menyewa ... 45

2. Syarat sewa-menyewa tanah kas desa ... 46

3. Data tanah kas desa yang disewakan ... 47

4. Praktek undian tanah kas desa ... 48

5. Pendapat masyarakat tentang penyewaan tanah kas desa ... 50

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK LELANG UNDIAN DALAM PENYEWAAN TANAH KAS DESA DI DESA SUMBERAGUNG KECAMATAN NGRAHO KABUPATEN BOJONEGORO A. Analisis terhadap syarat praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa ... 52

B. Analisis hukum Islam terhadap syarat praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa ... 57

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 63

B. Saran ... 64

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(9)

DAFTAR TABEL

[image:9.595.118.505.265.549.2]
(10)

A.Latar Belakang Masalah

Islam merupakan agama yang paling sempurna dalam mengatur aspek kehidupan. Salah satunya yaitu muamalah, dalam kehidupan sehari-hari manusia hidup saling berhubungan dalam hal muamalah. Bentuk-bentuk muamalah sangatlah luas, sehingga manusia bisa mencukupi kebutuhannya dengan berbagai hal. Akan tetapi cara yang digunakan manusia berbeda-beda. Adanya Agama Islam di muka bumi ini, diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini dengan cara yang baik sesuai ajaran dalam Islam. Islam juga mengajarkan pada umatnya untuk hidup dengan saling tolong-menolong antara sesama. Seperti yang ada dalam QS. al-Maidah ayat 2:

 







 





Artinya: ‚dan tolong menolonglah kamu dalam (mengajarkan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran‛.(QS. al-Maidah:2).1

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa, manusia dianjurkan untuk saling tolong-menolong dalam masalah kebaikan. Dalam kehidupan bermasyarakat tolong-menolong adalah cara manusia dalam berinteraksi dengan manusia lainnya, terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan demi terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir maupun batin. Islam

(11)

sebagai landasan hukum serta pedoman bagi manusia, juga mengatur berbagai aturan yang terkait dengan interaksi manusia.

Aturan-aturan berinteraksi sesama manusia dalam Islam dikenal dengan istilah muamalah, yaitu aturan-aturan Allah yang wajib ditaati yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam kaitannya dengan cara memperoleh dan mengembangkan harta benda.

Manusia kapanpun dan di manapun, harus senantiasa mengikuti aturan yang telah ditetapkan Allah SWT, sekalipun dalam perkara yang bersifat duniawi sebab segala aktivitas manusia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat.

Dengan kata lain, dalam Islam tidak ada pemisahan antara amal dunia dan amal akhirat, sebab sekecil apapun aktivitas manusia di dunia harus didasarkan pada ketetapan Allah SWT agar kelak selamat di akhirat.

(12)

ditentukan dalam syariat Islam, yang selalu memperhatikan maslahat dan menghapuskan kerugian.2

Sewa-menyewa (al-Ija>rah) bisa diartikan sebagai akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa dalam batasan waktu tertentu, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang.3 Dalam syariat Islam ija>rah adalah jenis akad untuk mengambil manfaat dengan kompensasi.4

Sewa-menyewa adalah suatu cara untuk memperoleh manfaat dengan cara penggantian berdasarkan ketentuan yang ditetapkan Allah SWT agar dalam melakukan kegiatan muamalah tidak memakan harta sesama manusia dengan cara yang bathil dan dibenci Allah. Karena pada dasarnya manusia terkadang membutuhkan sesuatu yang berada dalam kepemilikan orang lain. Dengan demikian orang tersebut bisa mempergunakan sesuatu itu dengan cara melakukan transaksi, salah satunya dengan akad sewa-menyewa/ ija>rah.5 Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Az-Zuhruf ayat 32.

                                        Artinya:‛Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu?kami telah menentukan antara mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan

2 Saleh Al-Fauzan, Fiqih Sehari-hari, (Jakarta: Gema Insani, 2006), 481.

3 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), 153.

4 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid 4, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006), 203.

(13)

rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.‛(QS. Az-Zuhruf (43):32).6

Segala bentuk muamalah itu adalah boleh kecuali telah ditentukan oleh Alquran dan sunnah. Muamalah dilakukan atas dasar suka rela tanpa mengandung unsur paksaan di dalamnya, muamalah dilakukan atas pertimbangan manfaat dan menghindarkan mudharat dalam kehidupan masyarakat. Hal ini juga didasarkan pada kebutuhan masyarakat akan jasa-jasa tertentu seperti halnya kebutuhan akan barang. Ketika akad dalam jual beli diperbolehkan, maka terdapat suatu kewajiban untuk membolehkan akad ija>rah atas manfaat/jasa.

Dari bentuk-bentuk muamalah yang ada, kita bisa menganalisis seperti apa tindak kelakuan masyarakat mengenai muamalah yang ada pada suatu masyarakat. Ketika ada sebuah penyimpangan dalam hukum Islam kita harus bisa memecahkan masalah yang ada yang sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah.

Masyarakat di desa yang mayoritas kehidupannya adalah bertani mereka mengandalkan hidupnya untuk mengolah lahan pertanian mereka agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena dengan bertani mereka dapat menyekolahkan anak-anaknya dan memenuhi kebutuhan yang semakin banyak di zaman seperti sekarang ini. Lapangan pekerjaan yang kurang memadai hingga mereka hanya bisa mengandalkan dari hasil pertanian tersebut. Tidak semua orang memiliki lahan untuk bertani, akan tetapi mereka terkadang menyewa lahan dari seseorang untuk bercocok tanam. Dengan adanya sewa-menyewa ini bisa membantu mereka yang tidak

(14)

mempunyai lahan bisa menyewa lahan orang lain dengan memberikan imbalan sewa atau upah untuk pemilik objek sewa.

Di Desa Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro penduduknya mayoritas adalah petani. Di desa ini terdapat sebuah tradisi dalam sewa menyewa tanah kas desa dan ini sudah merupakan kebiasaan dalam masyarakat ini. Tanah kas desa ini adalah tanah-tanah yang dimiliki oleh perangkat desa (pamong) akan tetapi, mereka tidak bisa mengolah lahan tersebut dengan baik. Pamong desa mempunyai inisiatif menyewakan tanah kas desa ini kepada masyarakat di desa Sumberagung. Dahulu penyewaan tanah kas desa ini dilakukan dengan sistem lelang dengan harga tertinggi, akan tetapi sekarang menggunakan praktek lelang ini dengan sistem undian (lotre).

Dalam praktek penyewaan tanah kas desa ini disyaratkan setiap KK (Kartu Keluarga) diwajibkan mengikuti perwakilan satu orang untuk mengikuti lelang penyewaan tanah kas desa dan disyaratkan untuk warga dari desa Sumberagung, akan tetapi cara yang digunakan dengan sistem undian. Dalam hal ini tidak memandang apakah orang itu mau menyewa tanah ataupun tidak. Sehingga apabila dalam undian nama itu keluar harus menyewa tanah kas tersebut. Ada pihak yang dapat menyewa tanah kas tersebut karena mampu membayar uang sewa dan ada yang mengalihkan hak sewa itu kepada orang lain. Namun bagi yang sudah pernah mendapatkan undian pada tahun berikutnya tidak boleh mengikuti undian lagi. 7

(15)

Dalam penyewaan tanah kas desa ini diberi jangka waktu dalam penyewaan. Ketika ada pihak yang mengalihkan hak sewa itu mereka mencari orang yang mau menyewa tanah kas desa. Harga dari sewa tanah kas desa tersebut sudah ditentukan oleh pihak panitia. Namun, ketika dalam pengalihan sewa tersebut harga yang ditawarkan oleh pemenang undian kepada seseorang yang ingin menyewa lahan diberi dengan harga lebih tinggi. Misalkan dari panitia dalam jangka waktu 4 tahun diberi harga Rp. 6.000.000,- maka dari pihak pemenang undian disewakan kepada pihak lain yang ingin menggarap lahan tersebut dengan harga Rp. 7.000.000,- Pembayaran untuk sewa menyewa tanah kas desa ini dilakukan diawal. Dari penelitian ini, peneliti merasa hal ini menarik dan perlu diteliti lebih dalam lagi sehingga peneliti mengambil penelitian dengan judul ‚Analisis Hukum Islam Terhadap Praktek ‚Lelang Undian‛ Dalam

Penyewaan Tanah Kas Desa (Studi di Desa Sumberangung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro)‛. Penulis lebih fokus untuk membahas dari Praktek lelang undian dan dari segi penyewaan yang dialihkan kepada orang lain dalam sewa menyewa.

B.Identifikasi dan Batasan Masalah

Melalui latar belakang tersebut di atas, terdapat beberapa permasalahan yang dapat peneliti identifikasi dalam penulisan penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

(16)

2. Setiap KK (Kartu Keluarga) perwakilan satu orang diwajibkan mengikuti lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa.

3. Orang yang mendapatkan lelang kadang masih melemparkan sewa kepada orang lain.

4. Untuk mengikuti undian setiap orang tidak dikenakan biaya.

5. Orang yang mendapatkan lotre kadang masih menyewakan kepada orang lain dengan harga lebih tinggi.

6. Proses terjadinya pengalihan hak sewa di desa Sumberagung. 7. Sebab-sebab sewa menyewa tanah kas desa di desa Sumberangung.

Adapun batasan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini, yaitu peneliti akan mengkaji tentang:

1. Syarat praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa di desa Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

2. Analisis Hukum Islam terhadap praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa di desa Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

C.Rumusan Masalah

Melalui latar belakang, identifikasi dan batasan masalah tersebut di atas, Maka rumusan masalah yang akan peneliti kaji dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

(17)

2. Bagaimana analisis hukum Islam terhadap praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa di desa Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro?

D. Kajian Pusataka

Kajian pustaka adalah deskripsi ringkas tentang kajian atau penelitian yang sudah pernah dilakukan di seputar masalah yang diteliti sehingga terlihat jelas bahwa kajian yang akan dilakukan ini tidak merupakan pengulangan atau duplikasi dari kajian atau penelitian yang sudah ada.8 pertama dari kajian yang ditulis oleh Taufik Nur Hadi (Skripsi 1999) dengan judul ‚Tinjauan Hukum

Islam dan UUPA Terhadap Praktek Sewa-menyewa Tanah Pertanian Di Kelurahan Cibodasari Kecamatan Jatiuwung Kota Madya Tangerang Jawa Barat‛. Dalam skripsi ini menjelaskan bahwa praktek pelaksanaan

sewa-menyewa yang dilakukan masyarakat kelurahan Cibodasari Tangerang tidak bertentangan dengan hukum Islam karena ada sebuah perjanjian kedua belah pihak yang melakukan akad sewa. Islam memandang bahwa perjanjian itu adalah sebagai perbuatan muamalah di mana setiap masalah dalam muamalah dipandang mubah. Sedang dalam UUPA secara garis besar dapat dibenarkan, walaupun pada kenyataannya ada ketentuan yang ditetapkan tidak dilaksanakan seperti mendaftarkan pada pejabat atau notaris, tetapi itu semua dipandang tidak bersifat prinsipal.9

8 Tim Penyusun Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya , Petunjuk Teknis

Penulisan Skripsi, (Surabaya: UIN Sunan Ampel Surabaya, 2016), 8.

9 Taufik Nur Hadi, ‚Tinjauan Hukum Islam dan UUPA Terhadap Praktek Sewa-menyewa Tanah

(18)

Kedua, Elis Ernawati (Skripsi 2006) dengan judul ‚Studi Analisis Hukum Islam Tentang Hukum Sewa Menyewa Tanah Untuk Pertanian Menurut Taqiyudin An-Nabhani‛. Menyimpulkan bahwa menurut pemikiran Taqiyudin An-Nabhani tentang hukum sewa-menyewa tanah pertanian hukumnya haram. Baik pemiliknya memiliki lahan dan kegunaannya atau hanya memiliki kegunaannya saja baik sewanya berupa uang maupun yang lain. Faktor yang melatar belakangi adalah kondisi masyarakat pada waktu itu, di mana banyak pemilik tanah (tuan tanah) yang menyia-nyiakan tanahnya dan juga mengekploitasi para petani penggarap (penyewa tanah) dengan cara mengambil pembayaran sewa tanah yang tinggi dari mereka (di dalamnya terdapat unsur kesamaran dan penipuan serta ada pihak yang merasa dirugikan).10

Ketiga, Iqki Syaifu Rizal (Skripsi 2012) dengan judul ‛ Tinjauan Hukum Islam dan PERDA Kabupaten Kediri No. 6 Tahun 2006 Terhadap Sewa Tunggu Tanah Bengkok Di Desa Ngletih Kabupaten Kediri‛. Menyimpulkan bahwa terjadinya sewa-menyewa tanah bengkok dikarenakan kurangnya kemampuan pamong untuk mengolah lahan pertanian sehingga, hasilnya kurang maksimal. Dalam tinjauan hukum Islam aplikasi sewa menyewa tanah bengkok di desa Ngletih akad sewanya fasid. Karena akad sewanya dilakukan tanpa sepengetahuan kepala desa sebagai penanggung jawab desa. Dalam PERDA No. 6 Tahun 2006 tentang sumber pendapatan desa, praktek ini menyalahi aturan karena dalam PERDA dijelaskan bahwa sewa harus

10 Elis Ernawati, ‚Studi Analisis Hukum Islam Tentang Hukum Sewa-menyewa Tanah untuk

(19)

dilakukan dengan sepengetahuan kepala desa dan jangka waktu 1-2 tahun. Namun tidak dilakukan oleh aparat pamong Desa Ngletih.11

Dari beberapa penelitian di atas, maka penelitian ini jelas berbeda dengan penelitian tersebut. Di sini penulis lebih memfokuskan dalam praktek lelang undian yang di dalamnya pihak pamong membuat lotre pada praktek penyewaan tanah kas desa, bagi nama yang keluar dalam lotre undian maka berhak menyewa tanah kas desa dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Selanjutnya dari undian ini ada pihak yang menyewakan kepada pihak lain yang lebih menginginkan tanah kas desa tersebut dengan harga lebih tinggi dari yang telah pihak pamong berikan.

E. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui dan menjelaskan syarat praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa di Desa Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

2. Untuk mengetahui analisis hukum Islam terhadap praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa di Desa Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

F. Kegunaan Hasil Penelitian

Berdasarkan Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian di atas, maka diharapkan dengan adanya penelitian ini mampu memberikan manfaat bagi

11 Iqki Syaifu Rizal, ‚Tinjauan Hukum Islam dan PERDA Kabupaten Kediri No. 6 Tahun 2006

Terhadap Sewa Tunggu Tanah Bengkok di Desa Ngletih Kabupaten Kediri‛ (Skripsi-- IAIN

(20)

pembaca maupun penulis sendiri, baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara umum, kegunaan penelitian yang dilakukan ini dapat ditinjau dari dua aspek yaitu:

1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan atau menambah pengetahuan dalam pengembangan hukum Islam, khususnya dalam bidang muamalah yang berkaitan dengan praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa dan sekaligus dapat dijadikan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat berguna untuk pamong dan masyarakat dalam melakukan kegiatan muamalah agar tidak merugikan orang lain dan menjadi perdebatan.

G.Definisi Operasional

Definisi Operasional memuat beberapa penjelasan tentang pengertian yang bersifat operasional, yaitu memuat masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian yang kemudian didefinisikan secara jelas dan mengandung spesifikasi mengenai variabel yang digunakan dalam penelitian ini.

Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut:

(21)

Sehingga dapat diketahui baik atau buruk, halal atau haram, serta boleh tidaknya praktek sewa-menyewa tersebut dilakukan

Praktek : suata cara yang digunakan oleh masyarakat dalam penyewaan tanah kas desa dengan cara undian.

H. Metode Penelitian

Adapun penulisan dan pembahasan dalam skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, karena data yang dikemukakan bukan data angka. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan dan penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.12

1. Data yang dikumpulkan

Data merupakan kumpulan dari keterangan/informasi yang benar dan nyata yang diperoleh baik dari sumber primer maupun sumber sekunder.13

a. Data primer ialah yang berkaitan dengan syarat praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa.

b. Data sekunder ialah tentang analisis hukum Islam terhadap praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa.

2. Sumber data

Sumber data dalam penelitian sebagai berikut:

12 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2008), 9.

(22)

a. Sumber Primer

Sumber data primer adalah sumber pertama di mana sebuah data dihasilkan, yaitu sumber yang terkait secara langsung.14 Yang meliputi: 1. Kepala Desa maupun peangkat desa yang menyewakan tanah kas

desa.

2. Pihak yang mendapatkan lotre undian dalam penyewaan tanah kas desa.

3. Pihak petani yang mau menyewa tanah kas desa dari hasil pengalihan sewa yang dilakukan oleh pihak yang mendapatkan lotre undian. b. Sumber Data Sekunder

Yang di ambil dari bahan pustaka dan dokumen yang ada dan berhubungan dengan penelitian ini, antara lain:

1. Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, jilid 4 2. Depag RI, al-Quran Terjemah Indonesia. 3. Wahbah Al-zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu

4. Ibn Rusyd, Bidayatul Mujtahid Analisa Fiqih Para Mujtahid 3. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagasi berikut:

a. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dan informan atau orang yang diwawancara, di mana

14 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial, (Surabaya: Airlangga University Press, 2001),

(23)

pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.15

Pada penelitian ini, selanjutnya penulis akan melakukan tanya jawab dengan masyarakat petani yang menyewa tanah kas desa, baik dari lotre undiannya maupun yang mendapatkan sewa dari pengalihan dan kepada perangkat desa di Desa Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

b. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data melalui data tertulis, terutama berupa buku-buku tentang pendapat, teori, dalil, atau hukum, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah.16 Pada hal ini penulis akan mencari data terkait praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa dan mencari dokumen-dokumen yang ada hubungannya dengan praktek ini.

4. Teknik Pengolahan Data.

Data dari penelitian yang telah dikumpulkan dan untuk mempermudah peneliti dalam melakukan analisa data, maka peneliti mengolah data tersebut melalui beberapa teknik, dalam hal ini data yang diolah merupakan data yang telah terkumpul dari beberapa sumber adalah sebagaimana berikut:

a. Editing, mengadakan pemeriksaan kembali terhadap data-data yang diperoleh dari segi kelengkapan, kejelasan makna, keserasian dan

15 Ibid., 111.

(24)

keselarasan antara yang satu dengan lainnya.17 Penulis akan memeriksa kelengkapan data yang telah dikumpulkan atau memeriksa kembali informasi yang telah diterima oleh peneliti.

b. Organizing, yaitu mengatur dan menyusun kembali data sumber dokumentasi sedemikian rupa sehingga dapat memperoleh gambaran yang sesuai dengan rumusan masalah, serta pengelompokan data yang diperoleh.18 Dalam hal ini penulis mengatur dan menyusun data tentang proses dari praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa dari awal sampai akhir.

c. Analyzing, yaitu tahapan analisis data yang telah diperoleh dari penelitian untuk memperoleh kesimpulan mengenai kebenaran fakta yang ditemukan, yang akhirnya merupakan sebuah jawaban dari rumusan masalah.

5. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh kemudian menyimpulkannya sehingga mudah dipahami.19 Setelah penulis mengumpulkan data secara sistematis dan valid, kemudian penulis menganalisisnya dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analisis untuk mendapatkan gambaran, fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena yang diselidiki serta dianalisis untuk diambil kesimpulan. Penulis menggunakan metode ini karena ingin

17 Soeratno, Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis, (Yogyakarta: UU AMP YKPN,

2004), 127.

18 Ibid., 154.

(25)

memaparkan, menjelaskan dan menguraikan data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk diambil kesimpulan.

I. Sistematika Pembahasan

Untuk lebih mengarah tercapainya tujuan pada pembahasan skripsi ini maka penulis membuat sistematika pembahasan tulisan skripsi ini yang terdiri dari lima bab yang masing-masing bab berisi pembahasan di bawah ini sebagai berikut:

Bab pertama berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi dan batasan masalah, rumusan masalah, kajian pustaka, tujuan penelitian, kegunaan hasil penelitian, definisi operasional, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab kedua membahas konsep ija>rah dalam hukum Islam yang berkaitan dengan studi ini yaitu pengertian sewa menyewa, dasar hukum sewa menyewa, rukun dan syarat-syarat menyewa, macam-macam ija>rah, pengalihan sewa-menyewa menurut hukum Islam, pembatalan dan berakhirkanya sewa, pengembalian sewa, bentuk sewa menyewa dalam Islam yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan.

Bab ketiga memaparkan mengenai gambaran praktek lelang undian dalam penyewaan tanah kas desa di Desa Sumberagung Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

(26)
(27)

A. Pengertian Sewa-menyewa

Lafal al- ija>rah dalam bahasa Arab berarti upah, sewa, jasa, atau imbalan. al-ija>rah merupakan salah satu bentuk kegiatan muamalah dalam

memenuhi keperluan hidup manusia, seperti sewa-menyewa, kontrak, atau menjual jasa perhotelan dan lain-lain.1

Secara etimologi al-ija>rah berasal dari kata al-Ajru yang berartial-‘Iwad}, penggantian.2 Sedangkan menurut bahasa ija>rah berarti ‚upah‛ atau

‚ganti‛ atau ‚imbalan‛. Dalam arti luas, ija>rah bermakna suatu akad yang

berisi penukaran manfaat sesuatu dengan jalan memberikan imbalan dalam jumlah tertentu. Hal ini sama artinya dengan menjual manfaat sesuatu benda, bukan menjual ‘ain dari benda itu sendiri.3

Menurut bahasa ijara>h adalah ‚balasan, tebusan, atau pahala‛ sedangkan menurut syara’ berarti melakukan akad mengambil manfaat sesuatu yang

diterima dari orang lain dengan jalan membayar sesuai dengan perjanjian yang telah ditentukan dengan syarat-syarat tertentu.4

1 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), 228.

2 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalat, (Jakarta: Kencana, 2010), 277.

3 Helmi Karim, Fiqh Muamalah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997), 29.

4

(28)

Ada yang menerjemahkan, ija>rah sebagai jual-beli jasa (upah-mengupah), yakni mengambil manfaat tenaga manusia, ada pula yang menerjemahkan sewa-menyewa, yakni mengambil manfaat dari barang.5 Menurut syariat Islam, ija>rah adalah jenis akad untuk mengambil manfaat dengan kompensasi. Manfaat tersebut bisa berbentuk barang, karya, ataupun bisa pula itu berbentuk kerja kasar pribadi seperti pelayanan.6

Sudarsono menerangkan bahwa: ija>rah, ialah perakadan (perikatan) pemberian kemanfaatan (jasa) kepada orang lain dengan syarat memakai ‘iwad} (penggantian/balas jasa) dengan berupa uang atau barang yang

ditentukan.7

Sedangkan menurut istilah para ulama berbeda-beda dalam mendefisinikan ija>rah, antara lain adalah sebagai berikut:

a. Ulama Hanafiyah:8

ٌ دْقَع

ٌ

ٌ ضْوَعِبٌِعِفَاََمْاٌىَلَع

Artinya:‛akad atas suatu kemanfaatan dengan pengganti‛. b. Ulama Syafi’iyah:9

ٌ دْقَع

ٌ

ٌَلَع

ٌ ةَدْوُصْقَمٌ ةَعَفْ َمٌى

ٌ

ٌ ةَمْوُلْعَم

ٌ

ٌ ةَحاَبُم

ٌ

ٌ ةَلِبَق

ٌ

ٌِةَحاَبِإْاَوٌ ِلْدَبْلِل

ٌ

ٌ مْوُلْعَمٌ ضْوَعِب

Artinya:‛akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan mubah, serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu‛.

5 Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), 122.

6 Sayyid Sabbiq, Fiqih Sunnah, Jilid 4, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006), 203.

7 Sudarsono, Pokok-pokok Hukum Islam, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992), 422.

8 Ahmad Wardy Muslich, Fiqih Muamalah , (Jakarta : Amzah, 2013), 316.

(29)

c. Ulama Malikiyah dan Hanabilah:

ٌُكْيِلََْ

ٌ

اََم

ٌ عِف

ٌ

ٌ ءْىَش

ٌ

ٌ ةَحاَبُم

ٌ

ٌ دُم

ٌَةٌ

ٌ مْوُلْعَم

ٌ

ٌٌِ ضْوَعِب

Artinya:‛menjadikan milik suatu kemanfaatan yang mubah dalam waktu tertentu dengan pengganti.‛10

Adapun menurut pendapat Amir Syarifudin al-ija>rah secara sederhana dapat diartikan dengan akad atau transaksi manfaat atau jasa dengan imbalan tertentu. Bila yang menjadi objek transaksi adalah manfaat atau jasa dari suatu benda disebut ija>rah al’Ain, seperti sewa-menyewa rumah untuk ditempati.11

Dikutip dalam bukunya Hendi Suhendi yang dimaksud dengan ija>rah adalah suatu perjanjian atas manfaat yang diketahui yang disengaja, yang bisa diserahkan kepada pihak lain secara mubah dengan ongkos yang diketahui.12

Adapun menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional bahwa al-ija>rah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam

waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. Dengan demikian akad al-ija>rah tidak ada perubahan kepemilikan, tetapi hanya perpindahan hak guna saja dari yang menyewakan kepada penyewa.13

10 Rahmat Syafei, Fiqih Muamalah . . . , 121-122.

11 Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2003), 216.

12 Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 114.

13 Adi Warman Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo

(30)

Menurut Muhammad Al-Syarbini al-Khatib bahwa yang dimaksud dengan ija>rah adalah:14

ٌٌََِْلٌْي

ٌُك

ٌٌَمٌْ

ٌَفٌَع

ٌ ةٌ

ٌِبٌِع

ٌَو

ٌ ض

ٌٌِب

ٌُشٌُر

ٌْوط

ٍ

Artinya: ‚pemilikan manfaat dengan adanya imbalan dan syarat-syarat.‛

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa ija>rah adalah menukar sesuatu dengan adanya imbalan.15 Atau juga dapat disimpulkan lagi ija>rah adalah perjanjian timbal balik untuk mengambil suatu benda dengan pemberian imbalan atau kompensasi atas benda yang dijadikan objek.

B. Dasar Hukum Sewa-menyewa.

Jumhur ulama berpendapat bahwa ija>rah disyariatkan berdasarkan Alquran, al sunnah, dan Ijma’ para ulama.16

a. Landasan hukum sewa-menyewa berdasarkan Alquran:

QS. Al-Qashas ayat 26-27

  ٌ  ٌ   ٌ   ٌ  ٌ   ٌ   ٌ   ٌ   ٌ   ٌ   ٌ  ٌٌٌ  ٌ   ٌ   ٌ   ٌ  ٌ  ٌ   ٌ   ٌ  ٌ  ٌ  ٌ  ٌ   ٌ  ٌ   ٌ   ٌ  ٌ   ٌ  ٌ  ٌ   ٌ   ٌ   ٌ   ٌ   ٌ  ٌ   ٌ  ٌ  ٌ   ٌ  ٌ  ٌ 

Artinya: Salah seorang dari kedua wanita itu berkata:‛Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya‛. Berkatalah Dia (Syu’aib): ‚Sesungguhnya aku bermaksud akan menikahkan kamu dengan salah

14 Ibid., 114.

15 Ibid., 114.

(31)

seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu , maka aku tidak hendak memberati kamu dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik‛(Al-Qashash:27).17

Ayat ini berkisah tentang perjalanan Nabi Musa as. Bertemu dengan kedua putri Syu’aib. Salah seorang putrinya meminta Nabi Musa as. untuk

disewa tenaganya guna menggembala domba. Kemudian Syu’aib bertanya

tentang alasan putrinya tersebut. Putri Syu’aib mengatakan bahwa Nabi

Musa as. telah berbaik hati dengan memberikan air minum kepada binatang ternak mereka lalu mengatakan ‚karena susungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.18 Cerita dari ayat ini menggambarkan tentang proses penyewaan jasa seseorang.

QS. Al-Thalaq ayat 6

 ٌ   ٌ  ٌ   ٌ   ٌ   ٌ 

Artinya: Jika mereka telah menyusukan anakmu, maka berilah upah mereka. (QS. Al-Thalaq:6).19

QS. Al-Baqarah ayat 233

ٌ   ٌ   ٌ  ٌ   ٌ   ٌ  ٌ   ٌ   ٌ  ٌ  ٌ   ٌ  ٌ   ٌ  ٌ   ٌ   ٌ   ٌ   ٌ   ٌ  ٌ  ٌ   ٌ  ٌٌ

Artinya: Dan jika ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Baqarah: 233).20

17 Depag RI, AL-Quran Terjemah Indonesia, (Jakarta: Sari Agung, 2002), 759.

18 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Volume 10, Cetakan 7, (Tangerang: Lentera Hati), 334.

19 Depag RI, AL-Quran Terjemah Indonesia . . . , 1140.

(32)

b. Landasan hukum sewa-menyewa berdasarkan Sunnah Diriwayatkan dari Ibn Abbas r.a. Rasulullah saw bersabda:

ا

ٌ لَصٌِ للاٌُلوُسَرٌَمَجَتْح

اًماَرَحٌَنَاكْوَلَوٌَُرْجَأٌَُمَجَحٌىِذ لاٌىَطْعَأَوٌَم لَسَوٌِْيَلَعٌُهاٌى

ٌ

ٌْعُ يٌََْ

ٌِِط

Artinya: Beberkamlah dan beliau memberikan upah kepada orang yang membekamnya itu. Seandainya pembekamnya haram niscaya beliau tidak memberinya upah.21

ٌُطْعُأ

اوٌ

ٌَرْ يِجَأا

ٌ

ٌْجَا

ٌُُقَرَعٌ فٌََِْنَاٌَلْبَ قٌَُر

Artinya: Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.22

دَعَسٌْنَع

ٌ

ٌِْيَلَعٌُهاٌى لَصٌِهاٌُلْوُسَرٌْنَاٌصاَقَوٌ َِِاٌِنْب

ٌ

ٌىَركَنٌَناَكٌ:َلاَقٌَم لَسَو

ٌ َكِلَدٌْنَعٌْم لَسَوٌِْيَلَعٌُهاٌى لَصٌِهاٌ ِلْوُسَرٌىَهَ َ فٌِعْرَزلاٌَنِمٌ ِقاَوِسلاٌىلَعٌاٌَِِِضْرَأا

اَنَرَماَو

ٌ

ىئٌاس لاوٌدوادٌوبا,دمأٌ اور(ٌزِقَرَوْوَأٌ بَ َدِبٌاَهْ يَرْكَنٌْنَا

)

Artinya: dari Sa’ad bin Abi Waqqash sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: dahulu kami menyewa tanah dengan (jalan membayar dari) tanaman yang tumbuh. Lalu Rasulullah melarang kami cara itu dan memerintahkan kami agar membayarnya dengan uang emas dan perak. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).23

Hadist di atas menerangkan bahwa pada zaman dahulu sewa-menyewa tanah dibayar dengan bagi hasil dari tanaman. Namun Rasulullah saw melarang hal tersebut kemudian Rasulullah memerintahkan membayar dengan emas dan perak. Rasulullah saw bersabda:

21 Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Ensiklopedi Hadist 2 , (Jakarta: Almahira, 2012), 138.

22 Abu Dawud Sulaiman bin Asy’ats, Ensiklopedi Hadist 5, (Jakarta: Almahira, 2013), 728.

(33)

دْبَعٌْنَع

ٌ

ها

دْبَعٌْنَاٌ,ِعِفاَنٌْنَعٌ,

ٌ

ٌِْيَلَعٌُهاٌى لَصٌِهاٌُلْوُسَرٌ نأٌَُرَ بْحَاٌاَمُهْ َعٌهاٌىِضَرٌْرَمُعٌها

شِبٌَرَ بْيَخٌَلَْأٌَلَماَعٌَم لَسَو

ٌاَهْ ِمٌُجُرٌََْاَمٌىَلَع رْط

)ىراخبلاٌ اور(ٌِعْرَزْوَأٌ رٌَََْنِم

Artinya: Dari Abdullah, dari Nafi’ sesunggunya Abdullah Ibnu Umar RA bahwasannya Rasulullah SAW pernah mempekerjakan penduduk Khoibar dengan memperoleh setengah dari hasilnya berupa buah dan tanaman. (HR. Bukhori).24

c. Landasan hukum sewa-menyewa berdasarkan Ijma’

Mengenai disyaraktakan ija>rah, para ulama keilmuan dan cendekiawan bersepakat tentang keabsahan ija>rah, sekalipun ada hanya sebagian kecil di antara mereka yang berbeda pendapat tetapi itu tidak dianggap.25 Dari ayat Alquran dan beberapa hadis Rasulullah tersebut jelaslah bahwa akad ija>rah atau sewa-menyewa hukumnya dibolehkan, karena memang akad tersebut dibutuhkan oleh masyarakat.

Disamping Alquran dan sunnah, dasar hukum ija>rah adalah Ijma’. Sejak zaman sahabat sampai sekarang ija>rah telah disepakati oleh para ahli hukum Islam. Hal tersebut dikarenakan masyarakat sangat membutuhkan akad ini.26 Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, ada orang kaya yang memiliki rumah tidak di tempati. Di sisi lain ada orang yang tidak memiliki tempat tinggal. Dengan dibolehkannya ija>rah maka orang yang tidak memiliki tempat tinggal bisa menempati rumah orang lain yang tidak digunakan untuk beberapa waktu tertentu, dengan memberikan imbalan berupa uang sewa disepakati bersama tanpa harus membeli rumah tersebut.

24 Al-Bukhori, Shahih Bukhori, (Beirut: mustafa Dib Al-Baga, 1987), 821.

25

Sayyid Sabiq, Fiqih Sunah Jilid 13, (Kairo: Dar al-Fikr, 2001), 239.

26

(34)

C.Rukun dan Syarat sewa-menyewa a. Rukun ija>rah

Menurut ulama Hanafiyah, rukun al-ija>rah itu hanya satu, yaitu ijab (ungkapan menyewakan) dan qabul (persetujuan terhadap sewa-menyewa).

Akan tetapi, jumhur ulama mengatakan bahwa rukun al-ija>rah itu ada empat, yaitu: (a) orang yang berakad, (b) sewa/imbalan, (c) manfaat, dan S}higa>t (ijab dan qabul). Ulama Hanafiyah menyatakan bahwa orang yang

berakad, sewa/imbalan, dan manfaat, termasuk syarat-syarat al-ija>rah, bukan rukun-rukunnya.27

Rukun ija>rah menurut jumhur ulama adalah sebagai berikut:

1) Mu’ji@r dan Musta’ji@r

Mu’ji@r dan Musta’ji@r, yaitu orang yang melakukan akad

sewa-menyewa atau upah mengupah. Mu’ji@r adalah yang memberikan upah dan yang menyewakan, musta’ji@r adalah orang yang menerima upah untuk melakukan sesuatu dan yang menyewa sesuatu, disyaratkan pada mu’ji@r dan musta’ji@r adalah baligh, berakal, bisa mengendalikan harta,

dan saling meridhai.28 Menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah apabila orang yang belum atau tidak berakal, seperti anak kecil dan orang gila ija>rahnya tidak sah. Akan tetapi, ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa kedua orang yang berakad itu tidak harus mencapai usia baligh. Oleh karenanya, anak yang baru mumayyiz pun boleh

27 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah . . . , 231.

(35)

melakukan akad ija>rah, hanya pengesahannya perlu persetujuan walinya.29

2) S>>>>>>>>}igha>t

S}igha>t yaitu tercapainya ija>rah dengan ijab dan qabul, atau yang menggantikan keduanya (ijab dan qabul). Disyaratkan pula dalam s}igha>t

adanya kesesuaian antara qabul dengan ijab, tidak ada pemisah yang lama antara keduanya diam atau perkataan asing.30 Kedua belah pihak yang berakad menyatakan kerelaannya melakukan akad ija>rah. Apabila salah seorang di antaranya terpaksa melakukan akad ini, maka akad ija>rah nya tidak sah,31

3) U>>jrah, disyaratkan diketahui jumlahnya oleh kedua belah pihak, baik

dalam sewa-menyewa maupun dalam upah-mengupah.32Ujrah dalam akad ija>rah barang dibayar ketika akad sewa atau dibayar diawal setelah

terjadinya akad, kecuali dalam akad ditentukan lain dan tidak merugikan salah satu pihak.33 Kompensasi harus berbentuk harta dengan nilai jelas, konkret atau dnegan menyebutkan kriteria-kriterianya. Karena sewa merupakan bayaran atas nilai manfat, berarti nilai tersebut disyaratkan syarat harus diketahui.34

29 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalat . . . , 279.

30 Wahbah Al-zuhaili, Fiqih Islam Wa Adilatuhu, (Jakarta:Gema Insani, 2011), 408.

31 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamalat . . . , 279.

32 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah . . . , 118.

33 Sohari Sahrani, Ruf’ah Abdullah, Fikih Muamalah, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), 172

(36)

4) Ma’qu>d ‘Alai>h (barang/manfaat)

Barang yang menjadi objek akad dapat diserahterimakan pada saat

akad, baik secara fisik atau definitif. Tidak sah untuk menyewakan binatang yang lepas dan lumpuh. Begitu pula tanah pertanian yang gersang dan binatang pengangkut yang lumpuh, karena tidak ada barang tidak memiliki manfaat. Manfaat barang tersebut status hukumnya mubah, bukan termasuk yang diharamkan.35

Kedua pihak yang melakukan akad disyaratkan memiliki kemampuan, yaitu berakal dan dapat membedakan (baik dan buruk), jika salah satu pihak adalah orang gila atau anak kecil, akadnya dianggap tidak sah.36

b. Syarat ija>rah

Syarat-syarat ija>rah adalah sebagai berikut:

1. Para pihak yang menyelenggarakan akad haruslah berbuat atas kemauan sendiri dengan penuh kerelaan. Dalam konteks ini, tidaklah boleh dilakukan akad ija>rah oleh salah satu pihak atau kedua-duanya atas dasar keterpaksaan, baik keterpaksaan itu datangnya dari pihak-pihak yang berakad atau dari pihak-pihak lain. Ketentuan umum ini dapat dilihat pada firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 29:

35 Ibid., 205.

(37)

 ٌ  ٌ   ٌ  ٌ   ٌ  ٌ  ٌ   ٌ  ٌ  ٌ  ٌ   ٌ  ٌ   ٌ   ٌ  ٌ  ٌ   ٌ   ٌ  ٌ   ٌ   ٌ  ٌ   ٌ  ٌ  ٌٌٌ ٌ

Artinya:‛hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisa ayat 29).37

2. Di dalam melakukan akad tidak boleh ada unsur penipuan, baik yang datang dari mua’ji@r atau pun dari musta’ji@r. Banyak ayat ataupun riwayat yang berbicara tentang tidak bolehnya berbuat khianat ataupun menipu dalam berbagai lapangan kegiatan, dan penipuan ini merupakan suatu sifat yang amat dicela agama. Kedua pihak yang melakukan akad ija>rah pun dituntut memiliki pengetahuan yang memadai akan obyek yang mereka jadikan sasaran dalam berija>rah, sehingga antar keduanya tidak merasa dirugikan atau tidak

mendatangkan perselisihan dikemudian hari.38

3. Sesuatu yang diakadkan mestilah sesuatu yang sesuai dengan realitas, bukan sesuatu yang tidak berwujud. Maka obyek yang menjadi sasaran transaksi dapat diserahterimakan dengan segala manfaatnya.

4. Manfaat dari sesuatu yang menjadi objek ija>rah adalah berupa sesuatu yang mubah, bukan sesuatu yang haram. Agama tidak membenarkan terjadinya sewa-menyewa atau perburuhan terhadap sesuatu perbuatan

37

Depag RI, AL-Quran Terjemah Indonesia . . . , 150.

(38)

yang dilarang agama, seperti tidak boleh menyewakan rumah untuk perbuatan maksiat, baik kemaksiatan itu datang dari pihak penyewa atau yang menyewakan. Tidak dibenarkan memberi upah untuk sesuatu perbuatan yang dilarang agama.

5. Manfaat yang menjadi obyek ija>rah harus diketahui secara sempurna, sehingga tidak muncul perselisihan di kemudian hari. Apabila manfaat yang menjadi obyek ija>rah itu tidak jelas, maka akadnya tidak sah. Kejelasan manfaat itu dapat dilakukan dengan menjelaskan jenis manfaatnya, dan penjelasan berapa lama manfaat ditangan penyewa. 6. Obyek ija>rah itu boleh diserahkan dan dipergunakan secara langsung

dan tidak bercacat. Oleh sebab itu, para ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa tidak boleh menyewakan sesuatu yang tidak boleh diserahkan dan dimanfaatkan langsung oleh penyewa.39

7. Ulama Hanafiyah mengatakan sewa itu tidak sejenis dengan manfaat yang disewa. Misalnya, dalam sewa-menyewa rumah. Jika sewa rumah dibayar dengan penyewaan kebun, menurut mereka ija>rah ini diperbolehkan. Apabila sewa rumah itu dilakukan dengan cara mempertukarkan rumah, seperti munaf menyewakan rumahnya pada indra. Indra dalam membayar sewa rumah itu menyewakan pula rumahnya pada munaf, sebagai sewa sedangkan dari segi kualitas dan kuantitas tidak berbeda. Sewa-menyewa seperti ini, menurut mereka tidak sah. Akan tetapi, jumhur ulama tidak menyetujui syarat ini,

(39)

karena menurut mereka antara sewa dengan manfaat yang disewakan boleh sejenis, seperti yang dikemukakan ulama Hanafiyah di atas.40

Bayaran sewa dalam ija>rah harus jelas, tertentu, dan sesuatu yang

memiliki nilai ekonomi. Adapun syarat pembayaran sewa yaitu:41

a. Bayaran hendaknya ditetapkan jumlahnya. Jika bayaran sewa itu tidak dibayar dengan uang, maka barang yang menjadi harga itu hendaknya ditetapkan jenis, jumlah dan sifatnya.

b. pembayaran sewa dapat dilakukan dengan segera sebelum memulai penggunaan barang sewa.

c. Sekiranya tidak disyaratkan bayaran sewa, maka dengan segera kewajiban membayar sewa dimulai dengan pengendalian harta yang disewa.

d. Sekiranya disyaratkan bayaran sewa selepas penggunaan, maka pemberi sewa hendaknya menyegerakan penyerahan harta yang disewa. Sekiranya sewa ditetapkan mengikuti waktu, seperti harian, mingguan, bulanan dan tahunan, maka pembayaran hendaknya dibuat pada akhir waktu yang ditetapkan. Kecuali jika ada perjanjian lain sekiranya harta yang disewa itu gagal dikendalikan untuk mendapat manfaatnya maka gugurlah bayaran sewa, mengikuti kadar kegagalan itu.

40

Ibid., 235.

41

(40)

D.Macam-macam Ija>Rah

Dilihat dari segi obyeknya ija>rah dapat dibagi menjadi dua macam yaitu ija>rah yang bersifat manfaat dan ija>rah yang bersifat pekerjaan:

a. Ija>rah bersifat manfaat, umpamanya sewa-menyewa rumah, toko, kendaraan, pakaian pengantin dan perhiasan. Apabila manfaat itu merupakan manfaat yang dibolehkan syara’ untuk digunakan, maka para

ulama fiqh sepakat hukumnya boleh dijadikan objek sewa-menyewa.

b. Ija>rah yang bersifat pekerjaan, adalah dengan cara memperkerjakan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Ija>rah seperti ini

diperbolehkan seperti buruh bangunan, tukang jahit, tukang sepatu, dan lain-lain, yaitu ija>rah yang bersifat kelompok (serikat). Ija>rah yang bersifat

pribadi juga dapat dibenarkan seperti mengaji, pembantu rumah tangga, tukang kebun dan satpam.42

E. Pengalihan Sewa-menyewa Menurut Hukum Islam

Mengulang-sewakan adalah menyewakan barang sewaan kepada orang lain. Pada dasarnya seorang penyewa dapat menyewakan kembali suatu barang yang telah disewakan kepada pihak orang lain.

Pihak penyewa dapat mengulang-sewaan kembali barang sewaannya dengan ketentuan bahwa penggunaan barang yang disewanya tersebut harus sesuai dengan penggunaan penyewa pertama, sehingga tidak menimbulkan kerusakan terhadap barang yang disewakan.

42 M. Ali Hasan, Berbagi Macam Transaksi dalam Islam Fiqh Muamalat, (Jakarta: PT Raja

(41)

Semua fuqaha’ sepakat bahwa seseorang yang menyewa suatu barang,

maka baginya diperbolehkan menyewakan kembali barang sewaannya kepada orang lain. Namun apabila harga atau ongkos sewa yang kedua tersebut lebih tinggi dari harga sewanya yang semula. Maka hal ini fuqaha’ berselisih

pendapat.43

Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya melarang cara seperti itu, dengan alasan bahwa cara tersebut termasuk dalam bab memperoleh keuntungan dari apa yang tidak memerlukan tanggungan, oleh karena tanggungan terhadap barang tersebut berada di tangan pemiliknya, yakni orang yang menyewakan.

Sementara itu madzhab Maliki dan madzhab Hambali juga berpendapat bahwa si penyewa boleh menyewakan kembali barang yang telah ia sewa itu kepada orang lain. Sebab manfaat barang yang ia sewa itu telah ia miliki, jadi boleh saja ia memenuhi manfaat barang tersebut dengan dirinya sendiri atau orang yang mewakilinya, tetapi dengan syarat hendaknya menyamainya atau lebih kecil dalam hal penggunaan barang sewaan tersebut. Dan tentang biaya ongkosnya boleh sama atau lebih tinggi dari ongkos sewa semula. 44

Demikian beberapa pendapat yang diambil sebagai pendapat yang masyhur adalah pendapat jumhur fuqoha’ yang membolehkan mengulang-sewakan barang kepada orang lain sesuai dengan perjanjian atau aqad semula. Begitu juga dalam hal pemberian harga, sebagian fuqaha’ memperbolehkan

43 Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid Analisa Fiqih Para Mujtahid, (Beirut : Dar Al-Jiil, 1989), 216.

44

(42)

atau membebaskan dalam pemberian harga dalam arti boleh lebih besar, lebih kecil atau seimbang.45

Menyewakan barang sewaan kepada orang lain disebut juga badal khuluw. Inilah yang disebut dalam bahasa keseharian sebagai ‚oper kontrak‛. Badal khuluw dalam kondisi ini dirinci menjadi dua:46

a. Sesudah masa sewa berakhir. Dalam kondisi ini, badal khuluw tidak diperbolehkan karena ini berarti menyewakan milik orang lain tanpa persetujuan pemilik.

b. Sebelum masa sewa berakhir. Dalam hal ini terdapat dua pendapat ulama. Ulama yang memperbolehkan membawakan beberapa alasan:

1) Hal ini sudah membudaya di tengah masyarakat, sedangkan budaya dan kebiasaan yang tidak bertabrakan dengan syariat itu diperbolehkan.

2) Dalam kondisi ini, badal khuluw adalah hak milik manfaat, bukan hak milik pemanfaatan. Orang yang memiliki hak milik pemanfaatan hanya boleh memanfaatkan untuk kepentingannya sendiri, tidak boleh menyewakan, menghadiahkan, dan meminjamkan. Adapun pemilik manfaat boleh menyewakan, menghadiahkan, dan meminjamkan, selain bahwa dia boleh memanfaatkan untuk kepentingan pribadinya. Jadi, barang sewaan tersebut bisa dimanfaatkan oleh penyewa atau pun orang lain. Sebagaimana penyewa punya hak untuk melepas hak sewanya

45

Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah . . . , 122.

46

Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar, ‚Transaksi Oper Kontrak‛, dalam

(43)

dengan mendapatkan kompensasi dari pihak lain, atau pun tidak mendapat kompensasi apa pun.

3) Alasan lainnya adalah memperbolehkan menerima badal khuluw merupakan kebutuhan yang cukup mendesak, sehingga dengan memperbolehkannya menyebabkan hilangnya kesempitan.

Adapun ulama yang mengharamkan badal khuluw dalam kasus ini, memberikan beberapa alasan:

1) Penyewa tidak memiliki hak untuk menyewakan kecuali dengan seizin pemilik barang, karena hal tersebut menyebabkan pemilik terhalangi untuk mengatur hartanya sendiri. Alasan ini jelas tidak tepat, karena penyewa hanya menyewakan barang tersebut sehingga mendapatkan badal khuluw hanya sampai masa sewa berakhir.

2) Mereka juga beralasan bahwa penyewa tidak diperbolehkan menyewakan dengan biaya sewa yang lebih mahal dari pada biaya sewa yang telah dia bayarkan.

Beralasan dengan pernyataan di atas jelas bermasalah, karena masalah yang dijadikan dasar berargumen tersebut diperselisihkan ulama. Bahkan, pendapat yang benar adalah boleh menyewakan dengan harga sewa yang lebih mahal. Inilah pendapat mayoritas ulama dan merupakan pendapat Imam Syafi’i, serta inilah pendapat yang dinilai sebagai

(44)

mayoritas ulama adalah bahwa sewa itu hak milik manfaat, sedangkan hukum untuk manfaat itu sama persis dengan hukum benda.

Adapun ulama-ulama Mazhab Hanafi melarang penyewa menyewakan barang dengan harga sewa yang lebih mahal, kecuali jika penyewa pertama telah mengadakan renovasi bangunan atau membuat bangunan tambahan.

F. Pembatalan dan Berakhirnya Sewa

Para ulama fiqh berbeda pendapat tentang sifat akad ija>rah. Ulama

Hanafiyah berpendirian bahwa akad ija>rah itu bersifat mengikat, tetapi boleh dibatalkan secara sepihak apabila terdapat uzur dari salah satu pihak yang berakad seperti, salah satu pihak wafat, atau kehilangan kecakapan bertindak dalam hukum. Akan tetapi Jumhur Ulama mengatakan bahwa, manfaat itu boleh diwariskan karena termasuk harta. Oleh karena itu kematian salah satu pihak yang berakad tidak mebatalkan akad ija>rah.47

Secara umum Wahbah Al-zuhaili berpendapat bahwa akad ija>rah berakhir

berdasarkan sebab sebagai berikut diantaranya:48

a. Akad ija>rah telah habis atau selesai. Menurut Ulama Hanafiyah salah satu dari pihak yang berakad ada yang meninggal maka akad ija>rah berakhir, karena warisan berlaku dalam barang yang ada dan dimiliki, selain itu

47 Abdul Rahman Ghazaly, Fiqh Muamlat . . . , 283.

(45)

manfaat dalam akad ija>rah terjadi bertahap sehingga ketika orang yang mewariskan meninggal maka manfaatnya menjadi tidak ada. Namun menurut Jumhur Ulama akad ija>rah tidak batal dengan meninggalnya salah satu pihak yang berakad. Hal ini dikarenakan akad ija>rah merupakan akad

yang mengikat seperti halnya jual beli.

b. Akad ija>rah dapat berakhir dengan adanya pengguguran akad, hal ini

dikarenakan akad ija>rah dapat dikatakan sebagai akad tukar-menukar sehingga akad ija>rah dapat dibatalkan seperti halnya akad jual beli.

c. Akad ija>rah berakhir dengan adanya kerusakan pada barang yang disewakan. Akan tetapi, menurut ulama lainnya kerusakan pada barang sewaan tidak menyebabkan habisnya ija>rah, tetapi harus diganti selagi masih dapat diganti.49

d. Akad ija>rah berakhir dikarenakan telah habisnya masa ija>rah kecuali ada uzur atau halangan, karena akad ija>rah ditetapkan sampai batas tertentu maka akad ija>rah dianggap habis ketika sampai pada batas waktunya. Pendapat ini adalah pendapat yang disepakati oleh fuqoha.50 Sedangkan uzur-uzur yang dapat membatalkan akad ija>rah menurut ulama Hanafiyah

49 Rachmat Syafei, Fiqih Muamalah . . . , 137.

(46)

adalah salah satu pihak jatuh muflis, dan berpindahnya tempatnya penyewa.51

G.Pengembalian Sewa

Jika ija>rah telah berakhir, penyewa berkewajiban mengembalikan barang sewaan, jika barang itu dapat dipindahkan, ia wajib menyerahkannya kepada pemiliknya, dan jika bentuk barang sewaan adalah benda tetap (‘Iqar), ia

wajib menyerahkan kembali dalam keadaan kosong, jika barang sewaan itu tanah, ia wajib menyerahkan kepada pemiliknya dalam keadaan kosong dari

tanaman, kecuali bila ada kesulitan untuk menghilangkannya.52

Madzhab Hambali berpendapat bahwa ketika ija>rah telah berakhir penyewa harus melepaskan barang sewaan dan tidak ada kemestian mengembalikan untuk menyerah-terimakannya seperti barang titipan. Selanjutnya mereka juga berpendapat bahwa setelah berakhirnya masa akad ija>rah dan tidak terjadi kerusakan yang tanpa disengaja, maka tidak ada

kewajiban menanggung bagi penyewa.53

51 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah . . . , 237.

52 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah . . . , 123.

(47)

DI DESA SUMBERAGUNG KECAMATAN NGRAHO KABUPATEN BOJONEGORO

A.Gambaran Umum Wilayah Penelitian

1. Letak Geografis Kabupaten Bojonegoro

Wilayah kabupaten Bojonegoro merupakan bagian dari wilayah Provinsi

Jawa Timur yang secara orientasi berada di bagian paling barat wilayah

Provinsi Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Blora yang

merupakan bagian dari Provinsi Jawa Tengah.

Secara geografis, Kabupaten Bojonegoro berada pada koordinat 6º59’

sampai 7º 37’ Lintang Selatan dan 112º 25’ sampai 112º 09’ Bujur Timur,

dengan jarak + 110 km dari ibu kota provinsi.

Tahun 2016 wilayah kabupaten Bojonegoro secara administratif saat ini

terbagi menjadi 28 kecamatan dengan 419 desa dan 11 kelurahan. Kabupaten

Bojonegoro secara administratif memiliki luas wilayah yaitu mencapai

230.706 Ha dan secara administratif memiliki batas wilayah yaitu:

a. Sebelah Utara :Kabupaten Tuban

b. Sebelah Timur :Kabupaten Lamongan

c. Sebelah Selatan :Kabupaten Madiun, Nganjuk dan Jombang

(48)

Keadaan topografi Kabupaten Bojonegoro didominasi oleh keadaan tanah

yang berbukit yang berada di sebelah selatan (pegunungan kapur selatan) dan

sebelah utara (pegunungan kapur utara) yang mengapit dataran rendah yang

berada di sepanjang aliran Bengawan Solo yang merupakan daerah pertanian

yang subur.

Wilayah kabupaten Bojonegoro didominasi oleh lahan dengan kemiringan

yang relatif datar. Bahwa 91, 26% wilayah kabupaten Bojonegoro memiliki

kemiringan antara 0-15%. Permukaan tanah di kabupaten Bojonegoro

rata-rata berada pada ketinggian dari permukaan laut yang relatif rendah, yaitu

berada pada ketinggian antara 25-500 m dari permukaan laut.1

2. Keadaan Geografis Desa Sumberagung dan Kependudukan

Desa Sumberagung terletak 50 km dari ibukota Kabupaten Bojonegoro

yang dapat ditempuh dengan kendaraan 1 Jam, 3 km dari Kantor Kecamatan

Ngraho dapat ditempuh dengan kendaraan 10 menit, memiliki 4 dusun. Desa

Sumberagung merupakan salah satu Desa yang bersinggungan dengan

Bengawan Solo dan berada di perbatasan Provinsi Jawa Tengah. Batas-batas

Desa Sumberagung antara lain yaitu sebagai berikut:

a. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Mojorejo Kecamatan Ngraho

Kabupaten Bojonegoro dan Provinsi Jawa Tengah.

b. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Ngraho Kecamatan Ngraho

Kabupaten Bojonegoro.

(49)

c. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Geneng Kecamatan Margomulyo

Kabupaten Bojonegoro.

d. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Sugihwaras dan Desa Luwihaji

Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro.

Desa Sumberagung tersebut terdiri dari 4 dusun, 23 RT dan 8 RW,

sedangkan nama-nama dusun tersebut adalah:

a. Dusun Dadapan

b. Dusun Begodo

c. Dusun Ngidung

d. Dusun Welang

Di Desa Sumberagung dari segi kependudukan bisa dikatakan dalam

jumlah yang standart bila diukur dengan desanya, penduduknya berjumlah

3051 orang dengan rincian jumlah laki-laki pada tahun 2016 sebanyak 1568

orang dan jumlah perempuan sebanyak 1483 orang sehingga jumlah antara

laki-laki dan perempuan ini adalah 3051 orang. Berdasarkan data ini maka

dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih banyak

dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Sedangkan di Desa Sumberagung

tidak terdapat warga negara asing, mayoritas penduduknya adalah suku Jawa.

Di Desa Sumberagung terdapat berbagai tanah-tanah yang sangat luas di

antaranya adalah tanah sawah (irigasi setengah teknis) dengan luas 15 ha,

tanah sawah (tadah hujan/sawah rendengan) seluas 127 ha, tanah kering

(50)

seluas 52 ha, tanah hutan (hutan lindung) seluas 91 ha, tanah keperluas

fasilitas umum (lapangan olahraga) seluas 1 ha, dan tanah kas desa dengan

[image:50.595.122.515.217.587.2]

rincian sebagai berikut:

Tabel 3.1

Tanah Kas Desa

No. Tanah kas desa Luas lahan

01 X Salamun 18448 ha

02 X Said 15359 ha

03 Bengkok Jogoboyo 10888 ha

04 Bengkok Kesehatan 3256 ha

05 Gantungan Godo 10304 ha

06 Gantungan Dadadapan 10132 ha

Sumber: Monografi Desa Sumberagung 2016

Berdasarkan tabel tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa desa

Sumberagung memiliki banyak tanah-tanah yang dapat dirawat dengan baik

supaya mendapatkan hasil produksi yang lebih banyak dari tanah-tanah yang

ada. Dari data tersebut tanah untuk pertanian lebih dominan dibandingkan

dengan tanah untuk fasilitas umum. Tanah Kas Desa Sumberagung ini juga

ada beberapa yang disewakan kepada warga Sumberagung. Dan hanya dari

tanah kas desa Gantungan Dadadapan yang semenjak tahun 2016 tidak

disewakan lagi kepada masyarakat karena dalam tanah kas desa tersebut di

bangun Embung untuk tadah air.2

3. Keadaan Sosial Ekonomi Desa Sumberagung

Desa Sumberagung kaya akan lahan pertahanian, tidak heran jika

sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Namun

hal ini sangat disayangkan karena semenjak tahun 2016 ini para petani dalam

2

(51)

1 tahun hanya menanam padi saja. Hal ini terjadi karena telah bermunculan

orang-orang yang memiliki mesin sibel untuk pengairan.

Dari pekerjaan bertani inilah masyarakat di desa Sumberagung mencukupi

kebutuhan ekonomi mereka. Rata-rata perekonomian warga desa

Sumberagung berkecukupan.

Masyarakat desa Sumberagung mayoritas bermata pencaharian sebagai

petani dan buruh tani. Selain dari kedua pekerjaan tersebut, sebagian kecil

masyarakat juga mempunyai pekerjaan lain. Di antaranya adalah sebagai

berikut:

a. Petani

Mereka bergerak dibidang pertanian, seperti melakukan pengelolaan tanah

yang bertujuan untuk menumbuhkan dan memilihara tanaman (padi,

jagung, cabe, tomat, kedelai dan sayur-sayuran lainnya). Mereka berharap

agar memperoleh hasil dari tanaman tersebut untuk digunakan sendiri

maupun untuk dijual kepada orang lain. Para petani pemilik tanah ini

berjumlah 908 orang.

b. Buruh Tani

Buruh tani ini, bekerja di bidang pertanian dengan cara melakukan

pengelolaan tanah yang bertujuan untuk menumbuhkan dan memelihara

tanaman dengan harapan untuk memperoleh hasil dari tanaman tersebut

untuk digunakan sendiri atau menjualnya kepada orang lain. Buruh tani

bekerja untuk lahan pertanian orang lain dengan mendapatkan bayaran dari

(52)

c. Pengrajin atau industri kecil

Masyarakat di desa Sumberagung juga ada yang bermata pencaharian

sebagau pengrajin kecil. pengrajin mulai bermunculan di tahun 2016 ini

mereka membuat industri kecil dengan ukir-ukiran dari batang-batang

kayu yang menghasilkan banyak uang. Ada juga yang membuat tikar serta

menjahit pakaian anak-anak sekolah. Sehingga ada beberapa orang yang

ikut bekerja di tempat-tempat pengrajin untuk menambah penghasilan

selain dari hasil bertani. Pengrajin ini berjumlah sebanyak 25 orang.

d. Pedagang

Perdagangan juga menjadi hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat desa

Sumberagung. Ada beberapa orang yang berdagang dengan membuat toko

kecil-kecilan yang menyediakan barang atau sayur-sayuran yang

dibutuhkan oleh masyarakat, ada pula yang berdagang dengan

memproduksi krupuk dan donat. Hal ini disebabkan karena minimnya

pendapatan yang diperoleh oleh mereka untuk memenuhi kebutuhan

sehari-hari dan untuk biaya pendidikan yang kadang masih kurang

sehingga masih banyak kebutuhan mereka yang belum tercukupi sehingga

banyak masyarakat yang bekerja serabutan di beberapa tempat. Pedagang

ini berjumlah 17 orang.

e. Pengangkutan

Di bidang pengakutan ini tidak banyak warga yang mencari uang di

bidang tersebut hanya ada 5 orang yang bekerja sebagai sopir baik itu

(53)

f. Pegawai Negeri Sipil (PNS), jumlahnya ada 6 orang.

g. Pensiunan (ABRI/PNS), jumlahnya 7 orang.

4. Keadaan Sosial Pendidikan

Pendidikan tidak akan lepas dari sarana dan prasarana dari lembaga

pendidikan yang ada. Dalam hal pendidikan kesadaran masyarakat desa

Sumberagung cukup tinggi. Kesadaran masyarakat terhadap pendidikan ini

terlihat dari anak-anak di desa Sumberagung yang seluruhnya sedang belajar

di lembaga-lembaga pendidikan. Dimulai dari masyarakat yang p

Gambar

Gambar 3.1 Tanah Kas Desa  ...............................................................................
Tabel 3.1 Tanah Kas Desa
Tabel 3.2 Tanah Kas Desa yang disewakan kepada masyarakat

Referensi

Dokumen terkait

sampun janjiange” (Saya sudah melakukan praktek gadai ini sejak dulu, ini semua sudah dari dulu orang tua saya mengajarkan saya seperti ini, dan seperti inilah

Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyak interaksi yang dilakukan agar kebutuhannya dapat

Tetapi di Desa Grujugan sewa tanah bengkok yang dilakukan antara panitia lelang degan petani tidak hanya untuk ditanami saja tetapi ada juga yang tanahnya digunakan

Pada tahap ini peneliti menganalisis semua data yang diperoleh tentang akad sewa tanah kas desa pada perjanjian sewa menyewa yang tidak sesuai dengan akad pada

Di dalam perspektif hukum Islam, pernikahan dianggap sah dan wajib hukumnya manakala telah memenuhi syarat dan rukunnya, Namun pada faktanya, masyarakat di Desa Wates

Namun setelah diadakan penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa penerapan prinsip- prinsip syar’ih dalam transaksi mappasanrra tanah sawah pada masyarakat di

Akad yang dilakukan oleh rahin dan murtahin dalam perjanjian sudah sesuai dengan syariat Islam namun ada syarat yang tidak terpenuhi yaitu rahin menggadaikan

PENGELOLAAN TANAH KAS DESA OLEH KEPALA DESA BERDASARKAN PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PENGELOLAAN ASET DESAStudi Kasus Di Desa Pusporenggo Kecamatan