PENGEMBANGAN KERAJINAN BAMBU DI DESA SENDANG AGUNG
KABUPATEN SLEMAN2
Jaka Sriyana1, Arif Rachman2, Muhammad Bambang Subekti3
1Program Studi Ilmu Ekonomi, Universitas Islam Indonesia 2Program Studi Akuntansi, Universitas Islam Indonesia
3Pusat Penelitian Sosial dan Humaniora, Universitas Islam Indonesia
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Artikel ini memaparkan hasil pelaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dalam bentuk program pengembangan kerajinan bambu di Dusun Sendang Agung, Kecmatan Minggir, Kabupaten Sleman. Analisis permasalahan dilakukan dengan pendekatan SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat). Hasil dari analisis SWOT dihasilkan rekomendasi prioritas program berdasarkan masingmasing aspek, yaitu aspek sumber daya manusia, sarana -prasarana, kelembagaan dan pemasaran. Pelaksanaan kegiatan PPM pendampingan pengembangan desa wisata kerajinan bambu Desa Brajan dalam mendukung keberlanjutan kerajinan anyaman bambu ini dapat ditindaklanjuti dengan kegiatan pendampingan untuk mendukung pengembangan desa wisata di Dusun Brajan.
Kata kunci: kerajinan, bambu Desa Brajan
ABSTRACT
This article describes the results of implementing community service activities (PKM) in the form of bamboo handicraft development program in the hamlet of Spring Court, Kecmatan Minggir, Sleman. Analysis of the issue carried out by the approach of SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threat). The results of the SWOT analysis is generated on program priorities based on each aspects, namely human resources, infrastructure, institutional and marketing. The implementation of development assistance PPM bamboo craft village tourism village Brajan in supporting the sustainability of woven bamboo crafts can be followed up with assistance activities to support the development of rural tourism in the hamlet Brajan.
Keywords: Move aside, handicrafts, bamboo village Brajan
LATAR BELAKANG
Kenaikan tajam penduduk miskin di Indonesia mendorong Pemerintah untuk merombak dan menyesuaikan kembali kebijakan ekonomi dan sistem pemerintahan ke arah desentralisasi (otonomi daerah). Dengan desentralisasi, kewenangan sekaligus tanggung jawab pengurangan kemiskinan berada di tangan Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota. Dalam rangka mempercepat penanggulangan kemiskinan, Pemerintah membuat kebijakan yang dituangkan dalam Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2005 Tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan. Berdasarkan peraturan tersebut Pemerintah Provinsi dan Kabupaten diberi
wewenang melakukan berbagai upaya dan terobosan taktis serta strategis untuk mengimplementasikan berbagai program pengentasan kemiskinan, termasuk melibatkan sektor keuangan dan koperasi (Situmorang, 2007). Program-program pengentasan kemiskinan yang diimplementasikan harus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperluas kesempatan kerja, sehingga angka penduduk miskin dapat terus berkurang secara simultan (Burhan, 2004; Syafi’i, 2011). Di beberapa daerah upaya yang telah dilakukan Pemerintah (Pusat dan Daerah) telah berhasil mengurangi angka penduduk miskin (Yulianto, 2005). Namun diakui pula, di sisi lainnya, sebagai akibat masih rapuhnya pondasi ekonomi nasional dan berbagai bencana dan konflik yang terjadi di daerah telah pula menciptakan kantong-kantong kemiskinan baru (Pattinama, 2009).
Pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota di Indonesia terus mengupayakan percepatan pengentasan kemiskinan. Program pengentasan kemiskinan dititik beratkan pada konsolidasi program penanggulangan kemiskinan, yaitu pemberdayaan masyarakat berbasis UMKM. Demi suksesnya percepatan penanggulangan kemiskinan dalam skala nasional dan lokal, program-program pemberdayaan masyarakat yang diimplementasikan pemerintah daerah diintegrasikan dengan program-program nasional dalam Pemberdayaan Masyarakat
(Sahudiyono, 2009). Hal ini dilakukan sebagai wujud komitmen Pemerintah guna membangun kehidupan sosial-ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.
Desa Wisata Kerajinan Bambu Dusun Brajan Desa Sendangagung Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Sleman yang memiliki potensi industri karena beberapa pengusaha industri kerajinan bambu tersentra di daerah tersebut. Sejalan dengan kegiatan pendampingan permasalahan baru muncul berkaitan dengan permodalan usaha di karenakan sistem bayar dari pemesan yang menggunakan sistem termin sehingga mengakibatkan perajin harus memiliki uang lebih dalam menunjang usahanya tersebut. Oleh karena itu perlu dilaksanakan program pengembangan kerajinan bambu dalam bentuk pengabidan kepada masyarakat (PKM) ini.
PERMASALAHAN
Sejalan dengan dinamika, perubahan perkembangan pariwisata tersebut, maka pengembangan pariwisata saat ini mengarah pada pengembangan desa wisata. Desa wisata di wujudkan dalam gaya hidup dan kualitas hidup masyarakat yang menonjolkan keaslian identitas atau ciri khas daerah seperti keadaan ekonomi, fisik dan sosial daerah pedesaan tersebut.
Desa Sendangagung Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan desa sentra industri bambu yang sedang berkembang menjadi desa wisata. Lokasi dusun di Desa Sendangagung meliputi Dusun Brajan, Diro, Kwayuhan, dan Saidan. Wilayah tersebut merupakan sentra produksi kerajinan anyaman bambu. Dusun Brajan merupakan wilyah sentra kerajinan anyaman bambu terbesar di Desa Sendangagung, karena 80 % penduduknya merupakan perajin. Sedangkan 3 wilayah dusun lainnya yaitu Dusun Diro, Kwayuhan, dan Sayidan merupakan dusun yang memenuhi permintaan pesanan dari Dusun Brajan. Adanya potensi kerajinan anyaman bambu tersebut maka pada tahun 2002 Dusun Brajan ditetapkan sebagai desa wisata kerajinan oleh pemerintah Kabupaten Sleman.
Kemampuan kerajinan anyaman bambu di Dusun Brajan di dapatkan dari warisan yang turun temurun. Produksi kerajinan bambu di wilayah Dusun Brajan mulai berkembang pada
tahun 1985 dengan produksi kerajinan berupa besek dan ceting . Saat ini terdapat 15 UKM di Dusun Brajan , 3 UKM di Dusun Diro, 1 UKM di Dusun Kwayuhan, dan 1 UKM di Dusun Saidan. Produk yang dihasilkan antara lain : tempat tisu, besek, tempat pinsil, kap lampu, placemet, tempat buah dll. Pasar produk kerajinan dusun Brajan selain lokal seperti, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Sumatera dan Jakarta juga telah mencapai pasar internasional seperti Malaysia, Belanda, Italia, Jerman, Jepang dll.
Luas desa wisata Dusun Brajan seluas + 34 ha yang terdiri dari 3 Rukun Warga (RW) dan 6 Rukun Tetangga (RT). Jumlah penduduk dusun ini 663 jiwa yang tergabung dalam 185 Kepala Keluarga. Jumlah penduduk laki-laki adalah 348 jiwa dan perempuan adalah 315. Penduduk yang beragama Islam sejumlah 371 jiwa sedangkan yang beragama Kristen Katolik sejumlah 292 jiwa.
Jumlah kunjungan wisatawan yang berkunjung ke Dusun Brajan pada tahun 2014 di dominasi oleh wisata lokal yang berasal dari sekitar Desa Sendangagung, berikut jumlah kunjungan wisata ke Desa Wisata Dusun Brajan pada tahun 2014.
1) Sumber daya pengelola merupakan perajin
Pengelola desa wisata kerajinan anyaman bambu di Dusun Brajan merupakan perajin yang memiliki kegiatan rutinitas sebagai perajin, akibatnya pengembangan desa wisata tidak terurus dan di biarkan saja tanpa adanya perencanaan dan program wisata yang jelas. Di sisi lain sumber daya manusia memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa asing, dan lemahnya pemasaran
2) Keterlibatan generasi muda sangat minim
Generasi muda tidak terlibat aktif dalam pengembangan desa wisata, hal tersebut akibat dari kurang sadarnya generasi muda dan ketertarikan generasi muda dalam pengembangan desa wisata
3) Rendahnya peran masyarakat dalam mendukung desa wisata
Masyarakat perajin belum memiliki kesadaran akan keberadaan desa wisata, karena selama ini kunjungan wisata hanya di terima di rumah kepala dusun. Penginapan hanya ada 3 rumah yang semuanya merupakan pengelola desa wisata.
4) Minimnya sarana dan Prasarana desa wisata
Sarana penunjang desa wisata sangat terbatas hal tersebut akibat dari ketiadaan
perencanaan dalam bentuk masterplan desa wisata sebagai upaya pengembangan sarana dan prasana yang terencana dalam jangka pendek dan panjang melalui usulan dana desa.
5) Kelembagaan Desa Wisata belum terkelola dengan baik
Kelembagaan desa wisata belum memiliki tata kelola yang baik, hal tersebut akibat dari faktor lembaga yang disusun secara parsial dan tidak adanya kemampuan pengelola dalam pengembangan desa wisata. Lembaga belum memiliki sumber daya manusia yang mampu mengelola pemasaran desa wisata baik secara manual maupun online.
METODE ANALISIS
Wardhani, 2010). Hasil ini disebut dengan analisis situasi yang diimplementasi dalam model diagram empat bidang. Tahapan analisis SWOT sebagai berikut:
5) Menentukan faktor-faktor strategi eksternal
Faktor-faktor eksternal dapat diperoleh dengan cara menganalisis lingkungan eksternal perusahaan dengan kegiatnnya seperti analisis terhadap competitor, analisis terhadap nasabah, kreditur, kondisi perekonomian, demografi, kebijakan pemerintah dan sebagainya. Faktor-faktor strategi eksternal merupakan peluang dan ancaman bagi perusahaan. Setelah faktor-faktor strategi perusahaan ditentukan selanjutnya menyusun faktor tersebut ke dalam matrik faktor strategi eksternal EFAS (Eksternal Strategic Factors Analysis Summary).
6) Menentukan faktor strategi internal
Faktor-faktor ini diperoleh berdasarkan gambaran keadaan internal perusahaan seperti sumber daya, kemampuan produksi, kondisi keuangan dan sebagainya. Faktor strategi internal merupakan kekuatan dan kelemahan dari strategi perusahaan yang bersangkutan. Faktor-faktor internal tersebut kemudian diidentifikasi dalam bentuk table IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary).
7) Merumuskan alternatif strategi dengan membuat matrik internal-eksternal dalam matrik SWOT.
Tahap selanjutnya adalah mentransfer peluang, ancaman serta kekuatan dan kelemahan perusahaan didasarkan pada analisis faktor internal-eksternal ke dalam matrik SWOT. Tahap kegiatan yang dilakukan dalam pembuatan matrik ini adalah:
e) Dalam sel opportunities (O) buat 5 sampai 10 peluang eksternal. Sel itu harus mempertimbangkan deregulasi industry sebagai salah satu faktor strategis.
f) Dalam sel Treats (T) buat 5 sampai 10 anacaman eksternal yang harus dihadapi perusahaan.
g) Dalam sel Strengths (S) buat kekuatan yang dimiliki BMT Syariah baik saat ini maupun masa mendatang.
h) Dalam sel Weakness (W) susun 5 samapi 10 kelemahan yang dimiliki perusahaan. 8) Merumuskan alternatif strategi pemasaran berdasarkan analisis SWOT
Berdasarkan peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan serta disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, buat berbagai alternative strategi berdasarkan kombinasi keempat faktor tersebut.
Strategi ini dibuat berdasarkan pada pemanfaatan seluruh kekuatan untuk membuat dan memanfaatkan seluruh kekuatan sebesar-besarnya.
f) Strategi ST
Strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatur ancaman.
g) Strategi WO
Strategi yang diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
h) Strategi WT
Strategi yang didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensive dan meminimalkan yang ada sekaligus menghindari ancaman.
Tabel 1. Diagram Matrik SWOT
IFAS
EFAS
STRENGTHS (S)
Tentukan faktor-faktor kelemahan internal
WEAKNESS (W) Tentukan 5-10 faktor-faktor kekuatan internal
OPPORTUNITIES (O)
Tentukan faktor peluang eksternal
STRATEGI SO
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang
STRATEGI WO Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang
TREATHS (T) Tentukan faktor ancaman eksternal
STRATEGI ST
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman
STRATEGI WT Ciptakan strategi yang meminimalkan
kelemahan-kelemahan dan menghindari peluang
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis SWOT
Tabel 2. Hasil Analisis SWOT
IFAS
EFAS
Kekuatan (S) Kelemahan (W)
SDM memiliki
keterbatasan dalam menggali potensi yang ada dalam mendukung
Keterbatasan generasi
muda dalam desa wisata di Dusun Brajan
Pemasaran bersifat konfensional
Belum adanya media pemasaran melalui handphone
Kelembagaan
terbentuk secara parsial
Kelembagaan desa wisata belum terkelola dengan baik terutama dari segi manajemen
Peluang (O) Strategi S-O Strategi W-O
Terbukanya pasar ekspor dan pertumbuhan pasar domestik
Peningkatan permintaan produk yang variatif dan berorientasi kualitas
1. Pendampingan
pemetaan potensi desa wisata
2. Pendampingan
Penyusunan rencana pengembangan desa wisata
3. Pendampingan motivasi generasi muda dalam pengembangan desa wisata
4. Melibatkan generasi muda dan kaderisasi dalam pengurusan desa wisata
Ancaman (T) Strategi S-T Strategi W-T Tidak adanya peta kawasan
wisata
Tidak adanya masterplan pengembangan sarana dan prasarana
Tidak adanya sarana informasi wisata kerajinan yang baik
4. Terciptanya media iklan melalui hand phone
7. Membentuk sarana informasi wisata. 6. Perbaikan media
online
Hasil dari analisis SWOT sebagaimana dipaparkan pada tabel 2 tersebut kemudian dapat dibuat urutan prioritas program berdasarkan masing-masing aspek, yaitu aspek sumber daya manusia, sarana-prasarana, kelembagaan dan pemasaran (Tabel 3).
Tabel 3. Prioritas kegiatan program PKM pengembangan desa wisata di Dusun Brajan
No Aspek Permasalahan Prioritas program
1. Sumber daya manusia
1. SDM memiliki keterbatasan dalam menggali potensi yang ada dalam mendukung atraksi wisata
2. SDM memiliki keterbatasan dalam melakukan perencanaan dan pengembangan wisata 3. Keterbatasan generasi muda
dalam mengembangkan desa wisata
4. SDM didominasi oleh perajin
sehingga wawasan
pengembangan wisata terbatas 5. SDM perajin saat ini merupakan
generasi terakhir sehingga sangat mengancam keberadaan desa wisata di Dusun Brajan
1. Pendampingan pemetaan potensi desa wisata 2. Pendampingan
Penyusunan rencana pengembangan desa wisata
3. Pendampingan motivasi generasi muda dalam pengembangan desa wisata
2. Tidak adanya masterplan
pengembangan sarana dan prasarana
3. Tidak adanya sarana informasi wisata kerajinan yang baik
2. Pembuatan perencanaan
dalam bentuk masterplan 3. Membentuk sarana
informasi wisata.
3. Kelembagaan 1. Kelembagaan terbentuk secara parsial
2. Kelembagaan desa wisata belum terkelola dengan baik terutama dari segi manajemen dan keuangan
3. Kelembagaan terdiri dari unsur anggota yang kurang mengetahui tentang sadar wisata
6. Optimalisasi SDM berwawasan wisata
4. Pemasaran 1. Pemasaran bersifat konfensional 2. Sarana web, blog pemasaran yang difasilitasi dinas pariwisata tidak terkelola dan termanfaatkan dengan baik 3. Belum adanya media pemasaran
melalui handphone 6. Perbaikan media online 7. Terciptanya media iklan
melalui handphone
Pelaksanaan Program
Dalam mengatasi permasalahan tersebut diatas maka metode yang digunakan supaya program dapat berkelanjutan adalah dengan kaderisasi, pelatihan, pendampingan, studi lapangan, dan implementasi
Profil Mitra kerjasama
kerjasama ini diharapkan dapat melibatkan beberapa lembaga mitra yang memiliki komitmen untuk bekerjasama dalam pengelolaan PKM ini yaitu :
1) Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Sleman
Melalui bidang perindustrian yang mengelola usaha kecil di Kabupaten Sleman, Dinas memiliki andil yang cukup besar dalam mendukung keberlanjutan program melalui dana-dana pelatihan dan pengadaan alat produksi
2) Pemerintah Desa Sendangagung, dan perangkat Dusun.
Peran Pemerintah di sini adalah pengalokasian dana dari APBD sesuai yang telah dianggarkan dalam musrenbang Desa Sendanagung di bidang ekonomi sehingga dapat mensuport pengembangan dan keberlanjutan kerajinan anyaman bambu
Adapun susunan kelompok masyarakat sasaran: (1) Perangkat Desa dan Dusun mulai dari pamong Desa, Kepala Dusun, Ketua RW/RT, Lembaga Desa; (2) Kelompok Pemuda karangTaruna; (3) Kumpulan bapak-bapak, (4) PKK ; (5) Kelompok pengelola desa wisata
Untuk menjalankan program dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, maka pelaksanaan kegiatan ini memuat tahapan sebagai berikut:
4) Persiapan dan Pembekalan
c) Sosialisasi ke masayarakat penguna program d) Persiapan dan pembekalan
5) Pelaksanaan kegiatan
a) Pendampingan perencananaan kawasan wisata yang terintegrasi berbasis partisipasi masyarakat
b) Pendampingan pemetaan potensi ekonomi desa
c) Pendampingan penguatan sumber daya manusia berwawasan sadar wisata d) Pendampingan kelembagaan desa wisata
e) Pendampingan pemasaran melalui media online dan handphone Tabel 3. Rincian kegiatan PPM
No Nama Pekerjaaan Program Prioritas
1. Pendampingan perencananaan kawasan wisata yang terintegrasi berbasis partisipasi masyarakat dan potensi lokal melalui survai dusun sendiri
Peningkatan Kapasitas kelompok masyarakat dalam menggali potensi dusun
wilayah
3. Pendampingan pemetaan ekonomi desa wisata
1) Peningkatan kapasitas kelompok masyarakat dalam pembuatan peta ekonomi desa
2) Desain dan cetak potensi ekonomi desa
4. Pendampingan penguatan sumber daya manusia berwawasan sadar wisata
Peningkatan kapasitas SDM berwawasan sadar wisata
5. Pendampingan kelembagaan desa wisata Perbaikan kepengurusan pengelola desa wisata
7. Pendampingan pemasaran melalui media online dan handphone
Peningkatan pemasaran melalui media online dan handphone
1) Pembuatan vidio iklan 2) Pelatihan komunikasi
3) Perbaikan media online Web
10 Seminar Hasil PKM Sosialisasi program pelaksanaan PKM ke pihak terkait
Tahapan Realisasi Program
Untuk pelaksanaan pendampingan telah dilakukan koordinasi dan sosialisasi program-program kepada masyarakat sasaran, yaitu mempersiapkan masyarakat sasaran untuk terlibat kegiatan yang disepakati bersama masyarakat. Untuk menjalankan program kegiatan dimulai dari proses pertemuan bersama masyarakat sasaran, dimaksud mewujudkan atau membangun kesepahaman dan kesepakatan dalam kerjasama.
1) Pendampingan perencananaan pengembangan kawasan wisata yang terintegrasi
berbasis partisipasi masyarakat
Kegiatan ini merupakan kegiatan PKM dalam membuat perencanaan pengembangan desa wisata dengan melibatkan peran masyarakat dan perangkat desa dengan luaran program berupa masterplan pengembangan desa wisata dan vidio perencanaan. Perencaaan yang
dilakukan dalam kegiatan ini terbagi atas 5 perencaaan yang meliputti perencanaan aula, kolam, outbond, photoboth dan showroom.
berakibat tidak adanya pemerataan pendapatan dan seringkali menimbulkan konflik.Hal tersebut akibat dari akses jangkauan yang paling mudah dikunjungi bertempat di tempat pak Dukuh. Dengan adanya perencanaan Showroom yang terintegrasi diharapkan perajin dapat bersama-sama menjual kerajinannya.
2) Perencanaan penataan kolam
Keberadaan kolam ikan yang di miliki oleh kelompok ikan dapat menjadikan daya tarik tambahan wisatawan yang berkunjung ke Dusun Brajan. Kolam ikan dapat menjadi alternatif wisata berupa memancing atau menangkap ikan.
3) Pendampingan Pemetaan potensi Desa Wisata
Desa wisata Dusun Brajan Desa Sendangagung Kecamatan Minggir belum memiliki pemetaan potensi desa wisata yang di miliki. Keterbatasan sumber daya manusia dalam melakukan pemetaan potensi ekonomi desa ini menjadikan desa wisata di Dusun Brajan hanya di dominasi oleh wisata edukasi pembuatan kerajinan anyaman bambu. Berdasarkan permasalahan tersebut wisatawan banyak mengeluh ke pengelola desa wisata untuk diadakan kegiatan wisata yang lain. (Hasil pemeta an terlampir)
4) Pendampingan penguatan sumber daya manusia berwawasan sadar wisata
Masyarakat Desa wisata di Dusun Brajan Desa Sendangagung belum memiliki kemampuan dalam sadar wisata. Penetapan desa wisata karena adanya faktor potensi yang dimiliki berupa kerajinan anyaman bambu tanpa memperkuat sumber daya manusia yang ada. Sehingga berakibat kurang optimalisasi masyarakat dalam menerima kunjungan. Faktor lainnya adalah dengan rendahnya pengetahuan masayarakat tentang sadar wisata mengakibatkan pengelolaan sampah yang dihasilkan dari rumah tangga maupun dari hasil kerajinan tidak termanfaatkan dan di buang dengan baik, sehingga terkesan kumuh dan menganggu wisatawan. Pendampingan yang dilakukan dalam pelaksanaan PKM ini berupa studi banding ke desa wisata Sukunan.
5) Pendampingan kelembagaan desa wisata
Kelembagaan pengurus desa wisata di Dusun Brajan tersusun secara parsial dan tidak adanya peran generasi muda dalam pengurusan desa wisata. Mayoritas pengelola merupakan perajin sehingga dalam mengurus desa wisata berjalan stagnant. Desa wisata kerajinan anyaman bambu di Dusun Brajan jika dikelola dengan baik akan dapat menambah perekonomian warga masyarayakat di Dusun Brajan dan Desa Sendangagung. Keterlibatan generasi muda dilibatkan dalam bidang promosi.(Bagan struktur pengurus
6) Pendampingan pemasaran melalui media online dan Handphone
Dusun Brajan menjadi desa yang bisa melakukan kegiatan berupa pemasaran melalui media online. Dalam pelaksanaan PKM ini dilakukan perbaikan media online pemasaran desa wisata. Hal tersebut dikarenakan konten yang ada di media online masih konten lama dan belum dilakukan pembaharuan atau penambahan data. Di samping kegiatan tersebut melalui PKM ini mahasiswa melakukan pembuatan iklan tentang desa wisata di dusun Brajan dengan durasi waktu satu menit yang dapat dipublikasikan melalui media whatsaap sehingga memudahkan dalam meningkatkan pemasaran. Media ini digunakan dikarenakan saat ini whatsapp sudah sangat umum dimiliki oleh setiap orang yang memiliki handphone android.
7) Pengukuhan Sentra Bambu Brajan
Perencanaan pengembangan desa wisata di Dusun Brajan mendapatkan respon positif dari pemerintah Kabupaten Sleman dengan di kukuhnya Dusun Brajan sebagai satu-satunya sentra bambu di Kabupaten Sleman pada tanggal 26 September 2016 oleh Bupati Kabupaten Sleman yang saat penyerahan di wakilkan oleh wakil bupati.
KESIMPULAN
Dalam pelaksanaan laporan kegiatan kemajuan pendampingan pengembangan desa wisata kerajinan dalam mendukung keberlanjutan kerajinan anyaman bambu di Desa Sendangagung Sleman ini adalah dapat disimpulkan sebagai berikut:
4) Pelaksanaan PPM ini mendapatkan respon yang positif dari pemerintah desa, Dinas Perindutrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Sleman dan UKM kerajinan anyaman bambu dan pengelola desa wisata.
5) Hasil dari perencanaan /masterplan di gunakan sebagai usulan dana desa pada tahun 2017 6) Kegiatan PKM ini dapat menjadi kegiatan yang berkelanjutan pelaksanaan PKM pada
periode berikutnya dengan program pendampingan realisasi program
Saran dalam pelaksanaan kegiatan PPM pendampingan pengembangan desa wisata kerajinan dalam mendukung keberlanjutan kerajinan anyaman bambu di Desa Sendangagung Sleman ini dapat ditindak lanjuti dengan kegiatan pendampingan ke masyarakat supaya hasil luaran yang dihasilkan dari kegiatan ini dapat terwujud dan bermanfaat untuk pengembangan desa wisata di Dusun Brajan.
UCAPAN TERIMA KASIH
hibah untuk pelaksanaan kegiatan Pengabdian Masyarakat KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata-Program Pemberdayaan Masyarakat) ini.
DAFTAR PUSTAKA
Burhan, R.N., (2004), “Grameen Bank sebagai Upaya Penanggulangan Kemiskinan (Studi Kasus Penerapan Metode Grameen Bank Oleh BPR Persahabatan di Desa Cibarusah Kecamatan Cibarusah Kabupaten Bekasi)”. Tesis tidak dipublikasikan, Universitas Indonesia Jakarta.
Pattinama, M. J., (2009), Pengetasan Kemiskinan Dengan Kearifan Lokal (Studi Kasus di Pulau Buru-Maluku dan Surade-Jawa Barat), Jurnal Makara Sosial Humaniora, 13 (1), 1-12. Safi’i, M., (2011), Ampih Kemiskinan; Model Kebijakan Penuntasan Kemiskinan dalam
Perspektif Teori dan Praktik, Cet. ke-1, Averroes Press: Malang.
Sahudiyono (2009), Memberdayakan Masyarakat Pesisir dengan Pendekatan Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP), Jurnal Riset Daerah BAPEDA Bantul, 7(3), 1169-1189.
Situmorang, J., (2007), Kaji Tindak Peningkatan Peran Koperasi dan UKM sebagai Lembaga
Keuangan Alternatif, Jurnal Infokop, 2, 24-35.
Suharto, E., (2010), Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat; Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial & Pekerjaan Sosial, Cet. ke-4, PT Refika Aditama: Bandung.
Wardhani, I.M., (2010), Evaluasi Program Community Development Mengentaskan Kemiskinan (CD-MK) di Kabupaten Bantul Tahun 2006-2009 (Study Kasus Desa Bangunharjo dan Desa Timbulharjo)”, Skripsi tidak dipublikasikan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Yulianto, T., (2005), Fenomena Program-Program Pengetasan Kemiskinan di Kabupaten Klaten (Studi Kasus di Desa Jotangan Kecamatan Bayat), Tesis tidak dipublikasikan, Universitas Diponegoro, Semarang.
http://www.ampta.ac.id/desa-wisata#.VUMkUtw0FVg diakses 28 Juli 2016
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-14009-Chapter1.pdf-98671.pdf diakses 28
Juli 2016