Tim Penyusun
Laporan Kinerja Instansi Pemerintah
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Tahun 2016
Pengarah
Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc
Penanggung Jawab
Dr. Ir. Soni Solistia Wirawan, M.Eng
Ketua Pelaksana
Ir. Makmuri, M.Eng
Wakil Ketua Pelaksana
Ir. Irshan Zainuddin, M.Si
Sekretaris merangkap Anggota
Rizky Agung Wibowo, SE, ME
Anggota :
Restuadi, SE., M.Si. (Perwakilan Sekretariat Utama) Drs. Dedy Roesmajadi, MM (Perwakilan Sekretariat Utama) Ir. Ignatius Subagjo, MSCE (Perwakilan Kedeputian PKT) Solichah V. Budiwati, ST. (Perwakilan Kedeputian PKT) Dr. Aton Yulianto, S.Si. (Perwakilan Kedeputian TAB) Drs. Nizar, MM (Perwakilan Kedeputian TAB) Dr. Ir. Rudi Nugroho, M.Eng. (Perwakilan Kedeputian TPSA) Dr. Ir. Wahyu Purwanta, MT. (Perwakilan Kedeputian TPSA) Dr. Gunawan, S.Si., M.Eng. (Perwakilan Kedeputian TPSA) Ir. Andi Djalal Latief, M.S. (Perwakilan Kedeputian TIEM) Dr. Sri Djangkung Sumbogo M. (Perwakilan Kedeputian TIEM) Dr. Ir. Wahyu Widodo Pandoe, M.Si. (Perwakilan Kedeputian TIRBR) Dr. Hari Setiapraja, M.Eng. (Perwakilan Kedeputian TIRBR) Sahroni, SE. (Perwakilan Kedeputian TIRBR)
Sekretariat :
KATA PENGANTAR
Sesuai Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dan Peraturan Menteri PAN dan RB No. 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah maka setiap Instansi Pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, diwajibkan untuk menyusun laporan kinerjanya.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya BPPT dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Tingkat lembaga periode tahun 2016 ini sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban Kepala BPPT kepada Presiden dan masyarakat/publik atas pelaksanaan tugas pokok melalui program dan kegiatan yang ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja BPPT Tahun 2016.
Laporan Kinerja BPPT Tahun 2016 ini merupakan laporan kinerja BPPT yang kedua dalam periode 2015-2019, yang berisi mengenai pencapaian tiga sasaran strategis kinerja di tingkat Lembaga. Ketiga sasaran strategis tersebut adalah :
1. Terwujudnya inovasi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa, dengan 2 (dua) Indikator Kinerja, yakni : (1) Jumlah Inovasi yang Dihasilkan, yang meliputi : inovasi dibidang sistim elektronika navigasi untuk meningkatkan keselamatan, inovasi dibidang teknologi inteligent computing, inovasi dibidang material biocompatible, dan inovasi dibidang
produk drone wulung; dan (2) Jumlah Rekomendasi yang Dimanfaatkan, yaitu Percontohan kawasan Techno Park.
IKHTISAR EKSEKUTIF
Dalam pelaksanaan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) BPPT pada Tahun 2016, BPPT memperhatikan dan menjadikan rujukan peraturan terkait sistem perencanaan pembangunan nasional (SPPN) dan sejumlah ketentuan/ pedoman terkait Sistem AKIP khususnya ketentuan/pedoman yang diatur oleh Kementerian PAN dan RB.
Secara keseluruhan capaian kinerja BPPT tahun 2016 dapat tercapai/terpenuhi dengan baik. Sasaran yang terdapat dalam perjanjian kinerja menunjukkan hasil yang baik dengan tercapainya target sasaran sesuai yang ditetapkan sebelumnya. Gambaran capaian kinerja dapat diketahui sebagai berikut :
Target-target indikator kinerja sasaran-sasaran strategis BPPT sebagaimana ditetapkan dalam dokumen Perjanjian Kinerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi tahun 2016 berhasil dicapai dengan baik. Dari tujuh indikator Kinerja yang terdapat dalam ketiga sasaran strategis BPPT, semua targetnya tercapai 100%, dan terdapat 1 indikator kinerja yang pencapaian targetnya lebih dari 100%.
Indikator Kinerja yang nilai capaiannya lebih dari 100% adalah pada indikator kinerja 3, yaitu Jumlah layanan teknologi, dengan target 13 layanan. Berdasarkan pengukuran capaian kinerja diperoleh hasil bahwa salah satu layanan teknologi, yaitu layanan teknologi survey kelautan nilai capaian targetnya 200%.
Dari segi pelaksanaan anggaran, nilai capaian realisasi anggaran BPPT tahun 2016 sebesar 94%, yaitu dari pagu anggaran sebesar Rp. 952.901.518.000,- BPPT dapat merealisasikannya sebesar Rp. 895.897.301.852,-
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR iI
IKHTISAR EKSEKUTIF iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL
BAB I. PENDAHULUAN I - 1
1.1. Penjelasan Umum I - 1
1.2. Kedudukan Tugas, dan Fungsi 1.3. Struktur Organisasi
1.4. Sumber Daya Manusia
1.5. Aspek Strategis dan Permasalahan Utama 1.6. Sistematika Penyajian
I - 3
3.1. Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis dan Indikator Kinerja
III - 24
3.1.1 Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis 1 III - 26 3.1.2 Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis 2 III - 71 3.1.3 Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis 3 III - 109
3.1.4 Kinerja Lainnya III - 142
3.2. Realisasi Anggaran III - 148
BAB IV. PENUTUP
BAB IV. 4.1 Kesimpulan
4.2 Langkah-langkah Perbaikan
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Struktur Organisasi BPPT I - 7
Gambar 1.2. Komposisi SDM BPPT menurut Tingkat Pendidikan I - 8 Gambar 1.3. Komposisi SDM BPPT menurut Jabatan Fungsional I - 9 Gambar 1.4. Komposisi SDM BPPT menurut Jabatan Usia I - 10 Gambar 3.1. Menara Navigasi dan ruang Stasiun Darat ADS-B III - 31 Gambar 3.2. Rack ADS-B Receiver & Server dan Layar HMI III - 32 Gambar 3.3. Skema integrasi dengan Testbed dan ruang Testbed di
EJATSC Cengkareng
III - 33
Gambar 3.4. Penyerahan Permohonan Sertifikasi dari PT INTI kepada Kementerian Perhubungan
Gambar 3.11. Tipe Pesawat Terbang Tanpa Awak III - 52 Gambar 3.12. Pelatihan peningkatan kapasitas manajemen pengelola
kawasan techno park Pelalawan
III - 67
Gambar 3.13. Lokasi Recovery dan Redeployment Buoy ATLAS III - 78 Gambar 3.14. Kegiatan Recovery Buoy Rama/Atlas III - 78 Gambar 3.15. Kegiatan Redeployment Buoy Rama/Atlas III - 79 Gambar 3.16. Tim Survei BTSK, BMKG dan NOAA III - 79 Gambar 3.17. Peta Lokasi pengambilan data meliputi Barat Sumatera (WPP
572) dan Selatan Jawa (WPP 573)
III - 80
Gambar 3.18 Kegiatan Pengambilan Sampel Ikan III - 81 Gambar 3.19 Kegiatan Identifikasi sampel di KR. Baruna Jaya IV III - 81
Gambar 3.21. Peta Lokasi pengambilan data meliputi Selat Makasar (WPP 513) dan Perairan Arafuru (WPP 518)
III - 82
Gambar 3.22. Kegiatan Pengambilan Sampel Ikan III - 83 Gambar 3.23. Kegiatan Identifikasi sampel di KR. Baruna Jaya IV III - 83
Gambar 3.24. Tim Survei BTSK dan BPPL III - 83
Gambar 3.25. Lokasi recovery dan re-deployment m-TRITON III - 84 Gambar 3.26. Foto-foto Kegiatan Pelayanan Jasa TMC Untuk Pengisian
Waduk PLTA di tahun 2016
III - 87
Gambar 3.27. Foto-foto Kegiatan Operasi TMC Untuk Mitigasi Bencana Asap Karhutla di Pulau Sumatera dan Kalimantan tahun 2016
III - 89
Gambar 3.28 Screenhouse III - 91
Gambar 3.29 Ruangan-ruangan dalam screenhouse III - 92
Gambar 3.30 Inkubator III - 92
Gambar 3.31. Instalasi irigasi mikro (fogging system) III - 92
Gambar 3.32. Bibit lada hasil ex vitro III - 93
Gambar 3.33. Bibit siap salur III - 93
Gambar 3.34. Kegiatan sortasi bibit III - 94
Gambar 3.35. Pelabelan bibit III - 94
Gambar 3.36. Pengujian Modul Surya Outdoor III - 96
Gambar 3.37. Uji Performa Sistem PLTS III - 97
Gambar 3.38 Pengujian Baterai III - 97
Gambar 3.39 Hasil Survei Kepuasan Pelanggan III - 107 Gambar 3.40 Hasil Survei Kepuasan Pelanggan III - 107 Gambar 3.41. Kontribusi BPPT Dalam Sistem Bisnis III - 111 Gambar 3.42. Peluang Kontribusi BPPT Dalam Pembangunan Ekonomi
Nasional
III - 112
Gambar 3.43. Peningkatan Kontribusi Teknologi Dalam Pertumbuhan Ekonomi Nasional
III - 113
Gambar 3.45 Penghargaan Kementerian Keuangan atas Penyajian Saldo Kas Bendahara Pengeluaran dan Laporan
Pertanggungjawaban Bendahara Pengeluaran Tahun Anggaran 2015
III - 142
Gambar 3.46 Penghargaan Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan atas Dukungan dan Partisipasi BPPT dalam Implementasi SIMPONI
III - 143
Gambar 3.47 Penghargaan Kepala BKN sebagai Terbaik II dalam kategori Pelaksanaan e-PUPNS untuk Kementerian/Lembaga
III - 144
Gambar 3.48 Penghargaan dari Komisi Informasi Pusat sebagai Peringkat 5 Kategori K/L pada Pemeringkatan Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2016
III - 145
Gambar 3.49 Penghargaan Sebagai Pemenang Ke-1 Kategori Penghematan Energi dan Air, Sub Kategori Pemerintah Pusat
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Distribusi SDM BPPT berdasarkan Tingkat Pendidikan I - 8 Tabel 1.2 Distribusi SDM BPPT berdasarkan Jabatan Fungsional I - 9 Tabel 1.3 Distribusi SDM BPPT berdasarkan Usia I - 10 Tabel 2.1 Perjanjian Kinerja Tahunan Tingkat Lembaga II - 23 Tabel 3.1. Rekapitulasi Pengukuran Kinerja Tingkat Lembaga III - 25 Tabel 3.2. Capaian Kinerja Indikator Kinerja 1.1 III - 27 Tabel 3.3 Capaian kinerja kegiatan Inovasi dan Layanan Teknologi
Biocompatible Material untuk Alat Kesehatan Tiga Tahun Terakhir
III - 47
Tabel 3.4. Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja Indikator Kinerja 1.1
III - 55
Tabel 3.5. Capaian Kinerja Indikator Kinerja 1.2 III - 60 Tabel 3.6. Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja Indikator
Kinerja 1.2
III - 69
Tabel 3.7. Capaian Kinerja Indikator Kinerja 2.1 III - 72 Tabel 3.8. Daftar Pelaksanaan Operasi TMC Untuk Pengisian Waduk PLTA
Tahun 2016
III - 86
Tabel 3.9. Daftar Pelaksanaan Operasi TMC Untuk Antisipasi Bencana Kabut Asap Karhutla Tahun 2016
III - 87
Tabel 3.10. Hasil dan Dampak Kegiatan TMC Untuk Antisipasi Bencana Kabut Asap Karhutla
III - 88
Tabel 3.11. Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja Indikator Kinerja 2.1
III - 99
Tabel 3.12. Hasil Evaluasi sementara RB BPPT III - 116 Tabel 3.13. Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja Indikator
Kinerja 3.1.
III - 117
Tabel 3.14. Perbandingan antara capaian target tahun ini dengan tahun sebelumnya
III - 117
Tabel 3.17. Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja Iindikator Kinerja 3.2
III - 129
Tabel 3.18. Perbandingan antara capaian target tahun ini dengan tahun sebelumnya
III - 130
Tabel 3.19. Perbandingan antara opini laporan keuangan BPPT dengan K/L lain III - 131
Tabel 3.20. Hasil Penilaian AKIP BPPT III - 137
Tabel 3.21. Perbandingan antara target dengan realisasi kinerja Indikator Kinerja 3.3
III - 137
Tabel 3.22. Perbandingan antara capaian target tahun ini dengan tahun sebelumnya
III - 138
Tabel 3.23. Perbandingan antara nilai SAKIP BPPT dengan K/L lain III - 140
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Penjelasan Umum
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun (RPJPN) 2005–2025 disebutkan bahwa persaingan yang makin tinggi pada masa yang akan datang menuntut peningkatan penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dalam rangka menghadapi perkembangan global menuju ekonomi berbasis Iptek. Dalam rangka meningkatkan kemampuan dan penerapan Iptek nasional, tantangan yang dihadapi adalah perlu adanya peningkatan kontribusi Iptek untuk memenuhi hajat hidup bangsa; menciptakan rasa aman; memenuhi kebutuhan kesehatan dasar, energi, dan pangan; memperkuat sinergi kebijakan Iptek dengan kebijakan sektor lain; mengembangkan budaya Iptek di kalangan masyarakat; meningkatkan komitmen bangsa terhadap pengembangan Iptek; mengatasi degradasi fungsi lingkungan; mengantisipasi dan menanggulangi bencana alam; serta meningkatkan ketersediaan dan kualitas sumber daya Iptek, baik Sumber Daya Manusia (SDM), sarana dan prasarana, maupun pembiayaan Iptek.
Dalam menghadapi kondisi lingkungan strategis dan berbagai tantangan tersebut di atas, Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai kendala. Posisi daya saing Indonesia jika diukur dengan indeks daya saing global (Global Competitiveness Index – GCI) berdasarkan laporan World Economic Forum pada tahun 2014-2015 dari peringkat 54 pada tahun 2009-2010
menjadi peringkat 37 pada tahun 2015-2016.
Pemeringkatan daya saing tersebut merupakan resultan dari kinerja 12 pilar, yaitu: Institusi, Infrastruktur, Lingkungan Ekonomi Makro, Kesehatan dan Pendidikan Dasar, Pendidikan Tinggi dan Pelatihan, Efisiensi Pasar Barang, Efisiensi Pasar Tenaga Kerja, Pasar Finansial, Kesiapan Teknologis, Ukuran Pasar, Kecanggihan Bisnis, dan Inovasi.
Diantara pilar daya saing tersebut terdapat tiga (3) pilar yang berkaitan langsung dengan daya dukung teknologi, yaitu: (1) Kesiapan Teknologi, (2) Kecanggihan Bisnis, dan (3) Inovasi. Nilai ketiga pilar daya saing tersebut relatif rendah dibandingkan dengan sembilan pilar lainnya (kecuali Efisiensi Pasar Tenaga Kerja).
Hal ini mencerminkan bahwa iptek belum berperan secara signifikan dalam meningkatkan daya saing Indonesia. Kemampuan teknologi secara nasional dalam penguasaan dan penerapan teknologi dinilai masih belum memadai untuk meningkatkan daya saing bangsa. Oleh karena itu Indonesia sangat memerlukan peran aktif berbagai pihak untuk bisa saling bekerjasama dan berkontribusi dalam rangka meningkatkan posisi daya saing bangsa.
Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kedepannya BPPT akan memiliki peran yang penting dalam rangka meningkatkan posisi daya saing bangsa, khususnya dalam upaya meningkatkan kinerja dari 3 (tiga) pilar yang berkaitan langsung dengan daya dukung teknologi, yaitu: (1) Kesiapan Teknologi, (2) Kecanggihan Bisnis, dan (3) Inovasi.
1.2. Kedudukan, Tugas, dan Fungsi
Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Nomor 009 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi :
1) Kedudukan
(1) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, yang selanjutnya dalam peraturan ini disebut BPPT, adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden melalui menteri yang membidangi urusan pemerintahan di bidang riset dan teknologi.
(2) BPPT dipimpin oleh Kepala.
2) Tugas BPPT
BPPT mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3) Fungsi BPPT
Dalam melaksanakan tugasnya, BPPT menyelenggarakan fungsi :
(1) Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang pengkajian dan penerapan teknologi;
(2) Koordinasi kegiatan fungsional dalam melaksanakan tugas BPPT;
dalam rangka inovasi, difusi dan pengembangan kapasitas teknologi serta pembinaan alih teknologi; dan
(4) Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tata laksana, kepegawaian, keuangan, hukum, kerja sama, hubungan masyarakat, persuratan, kearsipan, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.
1.3. Struktur Organisasi
Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Nomor 009 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Kepala BPPT mempunyai tugas :
1) Memimpin BPPT sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
2) Menyiapkan kebijakan nasional dan kebijakan umum sesuai dengan tugas BPPT;
3) Menetapkan kebijakan teknis pelaksanaan tugas BPPT yang menjadi tanggungjawabnya; dan
4) Membina dan melaksanakan kerja sama dengan instansi dan organisasi lain.
Susunan Organisasi BPPT terdiri atas : a. Kepala;
b. Sekretariat Utama;
c. Deputi Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi;
d. Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam; e. Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi;
f. Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material;
g. Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa; h. Inspektorat
i. Pusat Pelayanan Teknologi
Susunan Organisasi Sekretariat Utama terdiri atas : (1) Biro Perencanaan dan Keuangan; (2) Biro Sumber Daya Manusia dan Organisasi; (3) Biro Hukum, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat; dan (4) Biro Umum.
Susunan Organisasi Deputi Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi terdiri atas : (1) Pusat Teknologi Inovasi Daerah; (2) Pusat Teknologi Kawasan Spesifik; (3) Pusat Teknoprener dan Klaster Industri; dan (4) Pusat Strategi Teknologi dan Audit Teknologi.
Susunan Organisasi Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam terdiri atas : (1) Pusat Teknologi Pengembangan Sumber daya Wilayah; (2) Pusat teknologi Pengembangan Sumber Daya Mineral; (3) Pusat teknologi Reduksi Risiko Bencana; dan (4) Pusat Teknologi lingkungan.
Susunan Organisasi Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi terdiri atas : (1) Pusat Teknologi Produksi Pertanian; (2) Pusat teknologi Agroindustri; (3) Pusat Teknologi Bioindustri; dan (4) Pusat Teknologi Farmasi dan Medika.
Susunan Organisasi Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material terdiri atas : (1) Pusat Teknologi Elektronika; (2) Pusat Teknologi Sumber Daya Energi dan Industri Kimia; (3) Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi; dan (4) Pusat Teknologi Material.
Susunan Organisasi Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa terdiri atas : (1) Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan; (2) Pusat Teknologi Industri Permesinan; (3) Pusat Teknologi Sistem dan Prasarana transportasi; dan (4) Pusat teknologi Rekayasa Industri Maritim.
Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan; dan (4) Pusat Manajemen Informasi.
Adapun struktur organisasi BPPT berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Nomor 009 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dapat dilihat pada gambar 1.1.
Selain organisasi organik, BPPT juga memiliki 17 unit organisasi non organik yang merupakan unit pelayanan teknis yang berfungsi untuk memberikan pelayanan teknologi tertentu kepada masyarakat. Unit organisasi non organik yang ada di lingkungan BPPT adalah sebagai berikut:
1. Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca 2. Balai Besar Teknologi Pati
3. Balai Besar Teknologi Konversi Energi
4. Balai Besar Teknologi Aerodinamika,Aerolastika, dan Aeroakustika 5. Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur
6. Balai Inkubator Teknologi, Pusat Teknoprener dan Klaster industry 7. Balai Teknologi Industri Kreatif Keramik
8. Balai Teknologi Survei Kelautan
9. Balai Teknologi Pengolahan Air dan Limbah 10. Balai Bioteknologi
11. Balai Teknologi Bahan Bakar dan Rekayasa Disain 12. Balai Jaringan Informasi dan Komunikasi
13. Balai Polimer, Pusat Teknologi Material
14. Balai teknologi Mesin Perkakas, Produksi, dan Otomasi 15. Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi 16. Balai Teknologi Hidrodinamika
STRUKTUR ORGANISASI BPPT
1.4. Sumber Daya Manusia
BPPT mempunyai aparatur/sumber daya manusia (SDM) per Desember 2016 secara keseluruhan berjumlah 2.895 orang. Berikut profil SDM dalam bentuk tabel/grafik:
Tabel 1.1.
Distribusi SDM BPPT berdasarkan Tingkat Pendidikan
Gambar 1.2 Komposisi SDM BPPT berdasarkan Tingkat Pendidikan 520
1233 851
291
<S1
S1
S2
S3
No. PENDIDIKAN JUMLAH %
1 S3 291 10
2 S2 851 29
3 S1 1233 43
4 < S1 520 18
Jumlah 2.895 100
Tabel 1.2.
Distribusi SDM BPPT berdasarkan Jabatan Fungsional
Gambar 1.3 Komposisi SDM BPPT berdasarkan Jabatan Fungsional 17 77 22
Tabel 1.3.
Distribusi SDM BPPT berdasarkan Usia
Gambar 1.4 Komposisi SDM BPPT berdasarkan Usia 55
361
385
257
366 516
551
404 20-25
26-30
31-35
36-40
41-45
46-50
51-55
>55
No. Usia Jumlah %
1 20 – 25 tahun 55 1,90
2 26 – 30 tahun 361 12,47
3 31 – 35 tahun 385 13,30
4 36 – 40 tahun 257 8,88
5 41 – 45 tahun 366 12,64
6 46 – 50 tahun 516 17,82
7 51 – 55 tahun 551 19,03
8 > 55 tahun 404 13,96
Jumlah 100%
1.5. Aspek Strategis dan Permasalahan Utama
Aspek strategis dan permasalahan utama yang dihadapi BPPT antara lain sebagai berikut :
1. Aspek strategis dan permasalahan utama yang terkait dengan inovasi, yang meliputi : inovasi dibidang sistim elektronika navigasi untuk meningkatkan keselamatan; inovasi dibidang teknologi inteligent computing; inovasi dibidang material biocompatible; dan inovasi dibidang
produk drone wulung.
Sebagai bagian dari jalur penerbangan sipil internasional dan anggota International Civil Aviation Organization (ICAO), Indonesia terikat dengan peraturan internasional tentang penerbangan sipil. Peraturan ini menyangkut keselamatan dan keamanan penerbangan dimana didalamnya tercakup masalah Komunikasi, Navigasi dan Pengawasan penerbangan serta Manajemen Lalu-lintas Udara. Selain itu, dalam Undang-undang No 1 tahun 2009 tentang Penerbangan, dinyatakan bahwa navigasi penerbangan menjadi satu bagian yang sangat penting dalam mewujudkan tujuan pelayanan penerbangan yang baik. Mengingat penting dan strategisnya aspek keselamatan dan keamanan penerbangan, maka BPPT melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk menghasilkan inovasi dibidang teknologi informasi dan komunikasi untuk keselamatan transportasi dan komponen Sertifikasi Automatic Dependent Surveilance Broadcast (ADS-B).
Oleh karena itu BPPT menggali inovasi di bidang komputasi cerdas dan memberikan layanan teknologi penyelenggaraan sistem elektronik untuk e-Services. Kompetensi teknis yang digali dan dikembangkan di laboratorium Intelligent Computing meliputi antara lain teknologi pemrosesan bahasa alami, text-to-speech synthesizer, speech recognition, statistical machine translation, multimodal biometrics, signal
processing, medical image processing dan datamining.
Dibidang teknologi material, sesuai UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS Kesehatan yang berkewajiban untuk menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS), kebutuhan nasional alat kesehatan (alkes) implan untuk penyelenggaraan jaminan kesehatan sangat tinggi, seiring meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas, meningkatnya usia harapan hidup manusia Indonesia dan kebutuhan implan karena kerusakan tulang lainnya (penyakit degeneratif). Sehubungan dengan hal tersebut, BPPT melalui program inovasi dan layanan biocompatible material untuk alat kesehatan telah berhasil mengembangkan teknik pemaduan (alloying) dan pengecoran (investment casting) untuk memproduksi alat kesehatan implan tulang (bone implant)
Stainless Steel 316 L (SS 316L) yang banyak digunakan pada kedokteran orthopaedi dalam pelayanan kesehatan untuk rehabilitasi organ tubuh. Prototipe produk implan tulang SS 316L yang dikembangkan berbasis sumberdaya lokal ini dapat menghemat biaya (cost reduction) 60% sampai dengan 70% dan telah memenuhi persyaratan medis kedokteran orthopaedi dan kekuatan mekanik bahan, yaitu Standard ASTM F 138 dan ISO 5832-1.
mengembangkan teknologi Puna Wulung agar dapat mencapai kinerja sesuai dengan Operational Requirement (OpsReq) TNI. Saat ini pengembangan 3 (tiga) unit Puna Wulung yang didesain BPPT dan diproduksi oleh PT.DI sudah memasuki babak akhir di mana sertifikasi telah berhasil diperoleh dari Indonesian Military Airworthiness Authority (IMAA) dan diserahkan ke Kementerian Pertahanan.
2. Aspek strategis dan permasalahan utama yang terkait dengan kawasan Techno Park.
Kebijakan Pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan kapasitas daya saing bangsa dan negara antara lain dengan mengembangkan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi (iptekin). Salah satu bentuk pengembangan dan pemanfaatan iptekin adalah dengan membangun pusat-pusat unggulan berupa technopark. Pembangunan technopark diperuntukkan bagi penelitian dan pengembangan sains dan
teknologi berdasarkan kepentingan bisnis.
Technopark harus memiliki keunggulan teknologi yang spesifik sehingga
mampu bersaing dan mampu memberikan nilai tambah tinggi atas produk yang dihasilkan. Agar dapat bersaing, salah satu strategi yang diterapkan adalah diversifikasi atau menghasilkan keunggulan yang berbeda dibandingkan dengan yang lain.
3. Aspek strategis dan permasalahan utama yang terkait dengan layanan teknologi.
Berbagai permasalahan riset di bidang iptek kelautan menjadi hal penting bagi negara Indonesia sebagai indikator kemajuan teknologi di bidang kelautan dan kemaritiman. Riset kelautan di Indonesia dijadikan dasar untuk mencapai teknologi eksplorasi sumberdaya kelautan dalam rangka pemanfaatan potensi kekayaan laut di perairan negara Republik Indonesia untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Sesuai dengan visi misi pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang fokus menjadikan Indonesia menjadi poros maritim dunia, maka komitmen pemerintah Indonesia untuk mendorong pembangunan di sektor kelautan dan kemaritiman menjadi landasan BPPT untuk berperan serta dalam mendukung pembangunan nasional. Langkah strategis ini menjadi pemicu untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana survei kelautan khususnya di sektor pengembangan dan penerapan iptek kelautan dan kemaritiman untuk menghadapi isu-isu dan tantangan-tantangan pembangunan kelautan dan kemaritiman yang berkelanjutan.
Peranan teknologi modifikasi cuaca (TMC) dalam upaya mitigasi bencana hidrometeorologi maupun untuk pengelolaan sumberdaya air di Indonesia telah tertuang dalam beberapa regulasi produk hukum yang berlaku di tanah air, antara lain sebagai berikut: a). Peran TMC dalam sistem pengelolaan sumberdaya air dimuat secara tegas dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air dalam
Pasal 38 ayat 1, yang menyatakan bahwa ”Pengembangan fungsi dan
4. Aspek strategis dan permasalahan utama yang terkait dengan kepuasan masyarakat.
Sebagai instansi pemerintah yang mempunyai fungsi mengkaji dan menerapkan teknologi, BPPT telah menghasilkan inovasi teknologi yang berguna dan dibutuhkan oleh pihak pengguna baik pemerintah maupun industri. Hal ini dapat terlihat dari kerjasama-kerjasama yang dibina sejak BPPT berdiri hingga saat ini.
Dari kerjasama yang telah dilaksanakan/diimplementasikan tersebut dirasakan perlu untuk melakukan evaluasi terhadap mitra BPPT apakah merasa puas dengan hasil pelayanan teknologi yang sudah dilaksanakan. Tingkat kepuasan terhadap pelayanan merupakan faktor yang penting dalam mengembangkan suatu sistem layanan yang tanggap terhadap konsumen. Tujuan melakukan kegiatan survey kepuasan pelanggan adalah untuk mendapatkan informasi sejauh mana pelanggan mendapatkan value dari penyedia jasa, value ini bisa berasal dari produk, pelayanan, sistem atau sesuatu yang bersifat emosi.
5. Aspek strategis dan permasalahan utama yang terkait dengan pelaksanaan Reformasi Birokrasi.
6. Aspek strategis dan permasalahan utama yang terkait dengan opini penilaian laporan keuangan oleh BPK
Pembuatan Laporan Keuangan adalah suatu bentuk kebutuhan transparansi yang merupakan syarat pendukung adanya akuntabilitas yang berupa keterbukaan atas aktivitas pengelolaan anggaran di BPPT. Laporan keuangan yang baik adalah laporan keuangan yang memenuhi karateristik kualitatif yaitu dapat dipahami, relevan, andal dan dapat diperbandingkan. Salah satu kinerja BPPT tercermin dari laporan keuangan konsolidasi seluruh satuan kerja di lingkungan BPPT. Muara akhir dari semuanya adalah diperolehnya opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari hasil pemeriksaan laporan keuangan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Opini WTP ini akan mencerminkan kinerja keuangan suatu instansi pemerintah.
7. Aspek strategis dan permasalahan utama yang terkait dengan penyelenggaraan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) BPPT
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah rangkaian sistematik dari berbagai aktivitas, alat, dan prosedur yang dirancang
untuk tujuan penetapan dan pengukuran, pengumpulan data,
pengklasifikasian, pengikhtisaran, dan pelaporan kinerja pada
1.6. Sistematika Penyajian
Laporan Kinerja BPPT Tahun 2016 berisi 4 Bab yaitu : Bab I. Pendahuluan
Berisi penjelasan umum, kedudukan, tugas, fungsi, struktur organisasi, sumberdaya manusia, serta aspek strategis dan permasalahan utama (strategic issue).
Bab II. Perencanaan Kinerja
Berisi Rencana Strategis BPPT Tahun 2015-2019 dan Perjanjian Kinerja (PK) BPPT Tahun 2016.
Bab III. Akuntabilitas Kinerja
Berisi Pengukuran Capaian Kinerja dari Indikator Kinerja Sasaran Strategis dan Realisasi Anggaran
Bab IV. Penutup
Berisi simpulan dan rekomendasi rencana perbaikan.
BAB II. PERENCANAAN KINERJA
2.1. Rencana Strategis
Sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku, pada bulan Maret 2015 BPPT telah menyusun rencana strategis (Renstra) sebagai dokumen perencanaan lima tahunan untuk periode tahun 2015-2019. Kemudian Renstra ini menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kinerja Tahunan (RKT), Rencana Kerja (Renja), dan Rencana Kerja dan Anggaran BPPT (RKA K/L). Pelaksanaan dan Pemantauan terhadap program dan kegiatan dilakukan melalui indikator kinerja dan targetnya. Terkait dengan perencanaan kinerja dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), Renstra BPPT tahun 2015-2019 ini menjadi acuan dalam membuat Perjanjian Kinerja (PK), dan kemudian Perjanjian Kinerja ini yang akan dijadikan acuan dalam melakukan pengukuran kinerja dan pelaporan kinerja.
Sejalan dengan waktu dan perkembangan situasi nasional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditindak lanjuti dengan perubahan struktur organisasi BPPT pada September 2015, sesuai Peraturan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Nomor 009 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, maka dalam rangka mewujudkan Visi dan Misi serta Sasaran Strategis BPPT, dilakukan perbaikan dan penyempurnaan (revisi) Renstra BPPT 2015-2019, yang kemudian berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Nomor 012 Tahun 2016 ditetapkan Rencana Strategis BPPT Tahun 2015-2019, Revisi 1.
Dalam Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) BPPT tahun 2016 ini dokumen rencana strategis yang digunakan adalah dokumen Rencana Strategis BPPT Tahun 2015-1019 Revisi 2, yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Nomor 017 Tahun 2016 ditetapkan Rencana Strategis BPPT Tahun 2015-2019.
2.1.1. Visi dan Misi
Visi BPPT
Berdasarkan tugas dan fungsi, kondisi umum, potensi dan permasalahan yang akan dihadapi ke depan, sebagaimana dijelaskan dalam Dokumen Rencana Strategis BPPT 2015-2019 pada Bab I, BPPT telah menetapkan visi dan misi BPPT yang akan dicapai melalui pencapaian tujuan dan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan RPJMN 2015-2019, visi BPPT adalah :
“Pusat Unggulan Teknologi yang Mengutamakan Inovasi Dan
Layanan Teknologi untuk Meningkatkan Daya Saing dan
Kemandirian Bangsa”
Misi BPPT
Upaya untuk mewujudkan visi BPPT tersebut dilaksanakan melalui 6 (enam) misi sebagai berikut:
1. Melaksanakan pengkajian dan penerapan teknologi yang menghasilkan inovasi dan layanan teknologi di bidang kebijakan teknologi.
2. Melaksanakan pengkajian dan penerapan teknologi yang menghasilkan inovasi dan layanan teknologi di bidang teknologi pengembangan sumber daya alam.
4. Melaksanakan pengkajian dan penerapan teknologi yang menghasilkan inovasi dan layanan teknologi di bidang teknologi informasi, energi, industri kimia, dan material.
5. Melaksanakan pengkajian dan penerapan teknologi yang menghasilkan inovasi dan layanan teknologi di bidang teknologi industri rancang bangun dan rekayasa.
6. Melaksanakan tata kelola pemerintahan yang baik melalui reformasi birokrasi dalam rangka mewujudkan inovasi dan layanan teknologi.
2.1.2. Tujuan
Dalam rangka mewujudkan visi dan melaksanakan misi BPPT ke dalam program-program yang mendukung pembangunan nasional dan pembangunan bidang yang akan dilaksanakan, maka tujuan BPPT tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan inovasi dan layanan teknologi dalam mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa
2. Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik untuk mendukung inovasi dan layanan teknologi
2.1.3. Kinerja Utama dan Indikator
Tujuan BPPT untuk meningkatkan Inovasi dan Layanan teknologi dalam
mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa, dapat dicapai dengan beberapa sasaran yaitu :
1) Terwujudnya Inovasi untuk mendukung peningkatan Daya Saing dan
kemandirian bangsa
2) Terwujudnya Layanan Teknologi untuk mendukung peningkatan
Daya Saing dan kemandirian bangsa.
Pencapaian tujuan ini diukur dengan beberapa Indikator yang disebut sebagai Indikator Kinerja Utama antara lain :
1. Jumlah Inovasi yang dihasilkan
kerekayasaan dalam 13 bidang teknologi, yang dikelompokkan dalam: Kebijakan Teknologi, Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi , Teknologi Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Teknologi Informasi Elektronika dan Material, Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa, dengan fokus menghasilkan inovasi-inovasi yang
mendukung industri /usaha berbasis teknologi.
2. Jumlah Rekomendasi yang dimanfaatkan
Ukuran Kinerja tingkat lembaga (BPPT) terhadap kontribusi pembangunan teknologi nasional dengan melakukan fungsi menyusun rekomendasi-rekomendasi teknologi yang disampaikan
kepada pihak-pihak yang membutuhkan 3. Jumlah Layanan Teknologi
Ukuran Kinerja tingkat lembaga (BPPT) terhadap kontribusi pembangunan teknologi nasional dengan melakukan fungsi layanan teknologi kepada para pengguna teknologi.
4. Indeks Kepuasan Masyarakat
Ukuran Kinerja BPPT atas pelayanan teknologi terhadap pengguna teknologi, yang mana ukuran pencapaiannya dipengaruhi oleh kualitas pemberian layanan kepada pengguna teknologi.
2.1.4. Sasaran Strategis
Sasaran Strategis BPPT Tahun 2015-2019 merupakan penjabaran lebih detail dari Tujuan BPPT dengan indikator dan target yang terukur. Formulasi keterkaitan antara Tujuan dan Sasaran Strategis BPPT 2015-2019 adalah sebagai berikut:
a. Sasaran Strategis terkait Tujuan 1 adalah:
Sasaran Strategis 1: Terwujudnya inovasi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa.
Indikator Kinerja Sasaran Strategis 1 adalah: i. Jumlah Inovasi yang dihasilkan,
Sasaran Strategis 2: Terwujudnya layanan teknologi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa.
Indikator Kinerja Sasaran Strategis 2 adalah: i. Jumlah Layanan Teknologi,
ii. Indeks Kepuasan Masyarakat.
b. Sasaran Strategis terkait Tujuan 2 adalah:
Sasaran Strategi 3: Terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik untuk mendukung inovasi dan layanan teknologi.
Indikator Kinerja Sasaran Strategis 2 adalah: i. Indeks Reformasi Birokrasi,
ii. Opini penilaian laporan keuangan oleh BPK, dan iii. Nilai evaluasi akuntabilitas kinerja
2.2. Perjanjian Kinerja Tahun 2016
Dokumen Perjanjian Kinerja (PK) merupakan suatu dokumen pernyataan kinerja/kesepakatan kinerja atau perjanjian kinerja antara atasan dan bawahan untuk mewujudkan target kinerja tertentu berdasarkan pada sumberdaya yang dimiliki oleh instansi. Adapun fungsi dokumen Perjanjian Kinerja selain digunakan sebagai alat komunikasi antara atasan dan bawahan yang bersifat top-down juga dijadikan sebagai alat untuk mengkaitkan pengukuran kinerja
dengan strategi organisasi.
Tabel 2.1.
PERJANJIAN KINERJA TAHUNAN TINGKAT LEMBAGA
Lembaga : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)Tahun Anggaran : 2016
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
1 2 3
1
Terwujudnya inovasi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa
1
Jumlah Inovasi yang Dihasilkan :
Sistim elektronika navigasi untuk meningkatkan keselamatan
Teknologi inteligent computing
Inovasi material biocompatible
Inovasi Produk Drone Wulung
1 1 1 1
2 Jumlah Rekomendasi yang Dimanfaatkan:
Percontohan kawasan Techno Park per tahun 2
2
Terwujudnya layanan teknologi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa
3
Jumlah Layanan Teknologi :
Perusahaan Berbadan Hukum yang Dilayani dan Layanan Kepada Tenant Perusahaan Inovatif
Layanan Teknologi Survey Kelautan
Layanan Teknologi Modifikasi Cuaca
Layanan teknologi produksi bibit tanaman melalui kultur jaringan ex-vitro dan in-vitro
Layanan pengujian komponen teknologi energi tenaga surya
7 2 2 1 1
4 Indeks Kepuasan Masyarakat B
3
Terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik untuk mendukung inovasi dan layanan teknologi
5 Indeks Reformasi Birokrasi BB
6 Opini penilaian laporan keuangan oleh BPK Opini WTP
7 Nilai Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja BB
BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA BPPT
3.1. Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis dan Indikator
Kinerja
Pengukuran Kinerja adalah proses sistematis dan berkesinambungan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program ditetapkan dalam mewujudkan tujuan dan visi instansi pemerintah. Proses ini berupa penilaian pencapaian setiap target kinerja guna memberikan gambaran tentang keberhasilan dan kegagalan BPPT dalam pencapaian tujuan.
Pengukuran kinerja merupakan salah satu kegiatan manajemen kinerja khususnya membandingkan kinerja yang dicapai dengan standar, rencana atau target dengan menggunakan indikator kinerja yang telah ditetapkan (Pasal 1 butir 2, Permen PAN No. 09 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Penetapan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Instansi Pemerintah).
Tabel 3.1.
REKAPITULASI PENGUKURAN KINERJA TINGKAT LEMBAGA
Lembaga : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tahun Anggaran : 2016
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Satuan Realisasi %
1 2 3
1
Terwujudnya inovasi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa
1
Jumlah Inovasi yang Dihasilkan :
Sistim elektronika navigasi untuk meningkatkan keselamatan Teknologi inteligent Computing
Inovasi Material Biocompatible
Inovasi Produk Drone Wulung
1
2 Jumlah Rekomendasi yang Dimanfaatkan:
Percontohan Kawasan Techno Park per tahun 2 peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa
3
Jumlah Layanan Teknologi :
Perusahaan Berbadan Hukum yang Dilayani dan Layanan Kepada Tenant Perusahaan Inovatif
Layanan Teknologi Survey Kelautan Layanan Teknologi Modifikasi Cuaca
Layanan Teknologi Produksi Bibit Tanaman Melalui Kultur Jaringan ex-vitro dan in-vitro
Layanan pengujian komponen teknologi energi tenaga surya
7
4 Indeks Kepuasan Masyarakat B Nilai IKM B 100
3
6 Opini Penilaian Laporan Keuangan oleh BPK Opini WTP
Opini BPK
Opini
WTP 100
7 Nilai Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja BB Nilai
3.1.1. Pengukuran Capaian Kinerja Sasaran Strategis 1
Pengukuran Capaian Sasaran Strategis 1 (SS 1) yaitu Terwujudnya inovasi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa, dengan 2 (dua) Indikator Kinerja dan target sebagai berikut:
1. Jumlah Inovasi yang Dihasilkan, dengan target 4 Inovasi, yang meliputi : (1) Sistim elektronika navigasi untuk meningkatkan keselamatan,
(2) Teknologi inteligent computing, (3) Inovasi material biocompatible, dan (4) Inovasi Produk Drone Wulung.
2. Jumlah Rekomendasi yang Dimanfaatkan, yaitu Percontohan kawasan Techno Park per tahun
,
dengan target 2 rekomendasi Percontohankawasan Techno Park.
Penjelasan Capaian masing-masing Indikator Kinerja adalah sebagai berikut:
1. Pengukuran capaian Indikator kinerja 1 yaitu Jumlah Inovasi yang
Dihasilkan, dengan target 4 Inovasi, yang meliputi : (a) Sistim elektronika navigasi untuk meningkatkan keselamatan, (b) Teknologi inteligent computing, (c) Inovasi material biocompatible, dan (d) Inovasi Produk
Drone Wulung.
Secara ringkas, capaian kinerja indikator kinerja 1.1 yaitu jumlah inovasi
yang dihasilkan, dengan target 4 Inovasi dapat dilihat pada tabel 3.2
Tabel 3.2.
Capaian Kinerja Indikator Kinerja 1.1 Sasaran Strategis 1:
Terwujudnya inovasi untuk mendukung peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa
Indikator Kinerja 1.1 :
Jumlah Inovasi yang Dihasilkan.
Target :
4 (empat) Inovasi
Penjelasan Target Indikator Kinerja 1.1 :
Inovasi yang Dihasilkan adalah :
(a) Sistim elektronika navigasi untuk meningkatkan keselamatan, (b) Teknologi inteligent computing,
(c) Inovasi material biocompatible, dan (d) Inovasi Produk Drone Wulung.
Pengajuan permohonan sertifikasi oleh PT INTI kepada Kemenhub
Permohonan Sertifikasi kepada Kementerian
Perhubungan, dengan surat pengantar dari PT INTI Nomor
3293/RD.03/030300/2016 Tanggal 17 Oktober 2016
PPT Bidang Inggris – Bahasa Indonesia sebanyak 285.000 kalimat Digunakannya korpus untuk
event WAT (Workshop on Asian Translation)
o Singapore University of Technology and Design bahan implan SS 316L berbasis bahan baku yang tersedia secara lokal
Trial mass production
(uji produksi masal) 10 jenis implan untuk menguji konsistensi kualitas dan
reproduceability
implant tulang
stainless steel 316L di industri mitra PT. Zenith Allmart Precisindo sebagai
proof of concept dari teknologi produksi implant yang handal
Surat Pernyataan
Testimony dari PT. Zenith Allmart Precisindo tentang hasil inovasi implant SS 316L dan prospek bisnis pengembangan implan stainless steel 316L
Perjanjian Kerjasama antara PTM-BPPT, RSU Dr. Soetomo dan PT. Zenith Allmart Precisindo tentang Penerapan Uji medis dan Uji Produksi Implan Tulang SS 316L Draft Final MoU PTM-BPPT
dengan FKG-UI.
pada sarana produksi
bioceramics HA skala Laboratorium.
PPT Bidang Teknologi Pertahanan dan Keamanan
d. Inovasi Produk Drone
Wulung Sertifikat tipe PTTA Wulung dari Indonesian Military Airworthinnes Authority (IMAA)
Penjelasan Capaian Indikator Kinerja :
a. Sistim
Elektronika
Navigasi
Untuk
Meningkatkan
Keselamatan
a.1. Pelaksanaan Kegiatan tahun 2016 dan hasil yang dicapai.
Indonesia sebagai bagian dari jalur penerbangan sipil internasional dan anggota International Civil Aviation Organization (ICAO) terikat dengan peraturan internasional tentang penerbangan sipil. Peraturan ini menyangkut keselamatan dan keamanan penerbangan dimana didalamnya tercakup masalah Komunikasi, Navigasi dan Pengawasan penerbangan serta Manajemen Lalu-lintas Udara (Communication Navigation and Surveillance – Air Traffic Management /CNS-ATM).
Mengingat penting dan strategisnya aspek keselamatan dan keamanan penerbangan maka BPPT melaksanakan Kegiatan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Elektronika, dengan output Inovasi Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Keselamatan Transportasi dan komponen Sertifikasi Automatic Dependent Surveilance Broadcast (ADS-B).
Gambar 3.1. Menara Navigasi dan ruang Stasiun Darat ADS-B
Sistem Automatic Dependent Surveilance-Broadcast (ADS-B) adalah suatu sistem pemantauan (surveilance) penerbangan sipil secara real-time yang berfungsi sebagai secondary surveillance Radar (selain teknologi radar yang telah lama digunakan). Sistem ini telah dikaji dan dikembangkan oleh BPPT berupa prototipe dalam program Sistem Informasi dan Komunikasi untuk Transportasi Udara atau yang lebih dikenal dengan CNS – ATM (Communication Navigation Surveillance – Air Trafic Management System) pada perioda 2006 – 2014.
Secara umum, sebagian besar (lebih dari 50%) bandara di Indonesia belum dilengkapi dengan radar terminal, termasuk bandara internasional di Semarang dan Bandung. Di bandara ini pengelolaan lalu lintas penerbangan hanya menggunakan peralatan komunikasi suara (voice) antara Pilot pesawat dengan Petugas (controller) ATC di bandara. Dengan dilengkapi perangkat ADS-B BPPT di ke dua bandara tersebut, seakan
petugas ATC memiliki “mata” sehingga dapat melihat pergerakan
pesawat di sekitar bandara. Hal ini sangat berguna meningkatkan layanan, keselamatan dan efisiensi penerbangan.
Data penerbangan sipil yang tertangkap oleh ADS-B Ground Station BPPT di wilayah udara Jakarta dengan radius jangkauan 450 KM dapat ditampilkan pada Radar Display sistem e-jaats ATC bandara dan sistem Trafic Situation Display Thales milik Kementerian Perhubungan. Kedua hal ini menunjukkan bahwa persyaratan disain ADS-B Ground Station BPPT telah sejalan dengan standard penerbangan sipil internasional.
Gambar 3.2. Rack ADS-B Receiver & Server dan Layar HMI
TELKOM VPN
E-JAATS 172.21.165.13 172.21.165.9
172.21.165.10
192.168.20.x 172.21.165.14
200.200.200.1
200.200.200.100
200.200.200.150
239.71.30.2
239.71.30.2
239.71.30.2
239.71.30.2
BPPT SERPONG
JATSC
GRE Tunnel
10.1.1.1 GRE Tunnel10.1.1.2
ADSB
192.168.20.x
a.2. Perbandingan antara capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir
Pada tahun 2015 bekerjasama dengan industri nasional yaitu PT. INTI, PT. CMI Technology dan PT. Hikari Solusindo Sukses dan didukung oleh Kementerian Riset-Dikti, BPPT berhasil membangun ADS-B Ground Station skala komersial. Agar dapat dioperasikan untuk keperluan penerbangan sipil, maka tahun 2016 ini ADS-B Ground Station memasuki proses sertifikasi yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.
Menjelang proses sertifikasi, dilakukan penyempurnaan teknis agar fungsi dan operasi ADS-B Ground Station ini sesuai dengan standard yang dipersyaratkan. ADS-B Ground Station yang berlokasi di Menara Pusat Teknologi Elektronika Kawasan Puspiptek Serpong ini telah terkoneksi dengan tesbed e-jaats (Emergency – Jakarta Automated ATC System) di pusat pengaturan lalu lintas udara (ATC) di bandara Soekarno Hatta. Testbed e-jaats adalah sistem penguji perangkat surveillance berstandard internasional sebelum perangkat surveillance tersebut dapat dioperasikan.
Dari capaian 2016 diperoleh bahwa BPPT bersama PT INTI telah berhasil mengembangkan suatu prototipe yang telah teruji di laboratorium Inovasi TIK dan lapangan dengan kinerja yang baik. Pengembangan Prototipe ADS-B Receiver BPPT berstandar DO-260, memiliki TKDN yang baik, dan telah disiapkan masuk dalam ke skenario implementasi di industri nasional. Prototipe juga telah membuktikan memenuhi persyaratan standar internasional dan regulasi sertifikasi dengan keberhasilan integrasi Sistem ADS-B dengan Testbed EJATSC di Cengkareng. Kementerian Perhubungan sebagai regulator juga telah menerima permohonan sertifikasi secara formal pada tanggal 1 November 2016, dan sejak itu semua rangkaian aktifitas sertifikasi dilakukan oleh Kementerian Perhubungan, BPPT dan PT INTI secara bersama-sama, antara lain review dokumen, uji fungsi, kinerja dan kehandalan di laboratorium dan lapangan. Semua pemangku kepentingan (regulator, operator navigasi, industri nasional, Kemenristek Dikti) telah bertemu dalam Focus Group Discussion 1 November 2016, dan telah menyepakati untuk melanjutkan pembentukan konsorsium implementasi industri nasional. Melalui kegiatan ini, terbangun kemampuan/kapasitas SDM BPPT tengah berkontribusi pada penyusunan regulasi dan skenario penerapan teknologi ADS-B di wilayah udara Indonesia.
a.3 Analisis penyebab keberhasilan atau peningkatan kinerja
Faktor Penyebab Keberhasilan / Peningkatan Kinerja : 1. SDM: memiliki SDM yang berkompeten di bidangnya
a. SDM berpendidikan tinggi di bidangnya (Elektonika, Teknik Informatika, Sistem Informasi, Instrumentasi dll) dengan strata S3, S2, dan S1.
c. Memiliki pengalaman/terlatih di bidang Pengembangan Elektronika dan Navigasi Penerbangan.
d. SDM memiliki komitmen, semangat dan berintegritas. 2. Keuangan : anggaran DIPA yang mencukupi untuk Bidang
Layanan Sistem Elektronika
a. Pengelolaan dan pemanfaatan anggaran yang optimal. 3. Teknologi /Peralatan :
a. Mengembangkan perekayasaan dengan menggunakan teknologi terkini (up to date)
b. Selalu mengikuti perkembangan teknologi dunia 4. Lainnya :
a. Memiliki kemitraan (bidang Navigasi Penerangan Sipil) yang lengkap, yaitu Regulator (Dirjen Perhubungan Udara
– Kementerian Perhubungan), Operator (Perum LPPNPI: Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau Airnav Indonesia), dan mitra industri Nasional (PT PT.INTI, PT Hikari Solusindo Sukses, PT CMI Teknologi).
b. Komunikasi dan koordinasi dengan mitra yang terbangun sangat baik.
a.4 Analisis atas efisiensi penggunaan sumberdaya
a. Efisiensi Penggunaan SDM :
Dengan menyusun struktur organisasi kerekayasaan yang tepat untuk mendukung target yang akan dicapai. Organisasi kerekayasaan tipe B, dengan 3 orang troika, 1 Asisten PM, 3 Group Leader, dan 9 Leader. Group Leader 1 bertanggung jawab pada aspek compliance, Group Leader 2 bertanggung jawab pada aspek pengujian dan kehandalan dan Group Leader 3 bertanggung jawab pada aspek peningkatan fungsi dan kinerja.
Di setiap Kelompok (WBS) terdiri dari SDM dengan kualifikasi : analis, perancang, pemrogram dan teknisi. Secara rutin dilakukan monitoring dan evaluasi kemajuan
pekerjaan.
b. Efisiensi Penggunaan Keuangan :
Anggaran DIPA yang diterima, dilakukan perencanaan anggaran yang tepat untuk mendukung sasaran/target yang akan dicapai.
Dilakukan proses pengontrolan (PCM) secara rutin.
Program Manager (PM), dibantu oleh seorang Asistem PM untuk pengelolaan penggunaan anggaran yang efisein dan akuntabel.
c. Efisiensi Penggunaan Mesin dan Peralatan :
Kegiatan ini didukung oleh Laboratorium Navigasi, Laboratorium Jaringan.
Berbagai jenis peralatan di Laboeratorium Navigasi dan Laboratorium Jaringan, antara lain yaitu : antenna, receiver, server, LNA, alat ukur.
Laboratorium Navigasi diperlengkapi perangkat untuk mengembangkan dan pengujian prototipe ADS-B Receiver. Laboratorium Jaringan diperlengkapi dengan perangkat
bantu untuk menyiapkan dan simulasi komunikasi data. Setiap Lab dikelola oleh Koodinator dan staf untuk
mengelola pemanfaatan dan pengelolaan asset. d. Efisiensi Lainnya :
Pada pelaksanaan pengembangan sistem di Lab, sering kali membutuhkan peralatan yang tidak dimiliki oleh Lab navigasi. Sebagai solusinya adalah menggunakan perangkat yang dimiliki oleh Lab lainnya yang masih di Pusat Teknologi Elektronika (penggunaan bersama).
b. Teknologi
Inteligent Computing
b.1. Pelaksanaan Kegiatan tahun 2016 dan hasil yang dicapai.
Intelligent Computing adalah teknologi komputasi yang memanfaatkan secara efektif teknologi kecerdasan buatan untuk mencapai hasil yang lebih efektif dan efisien. Russel dan Norvig mendefinisikan sistem yang dianggap memiliki kecerdasan buatan lewat 4 pendekatan: (i) mampu melakukan pekerjaan seperti manusia, (ii) mampu berfikir seperti manusia, (iii) mampu melakukan pekerjaan secara rasional, atau (iv) mampu berfikir secara rasional. Kegiatan litbangyasa di laboratorium Intelligent Computing (Komputasi Cerdas) PTIK-BPPT bertujuan menggali
inovasi di bidang komputasi cerdas dan memberikan layanan teknologi penyelenggaraan sistem elektronik untuk e-Services (e-Government & e-Business). Kompetensi teknis yang digali dan dikembangkan di laboratorium Intelligent Computing meliputi antara lain teknologi pemrosesan bahasa alami, text-to-speech synthesizer, speech recognition, statistical machine translation,
multimodal biometrics, signal processing, medical image
processing dan datamining.
Dalam bidang teknologi pengolahan bahasa alami, kegiatan litbang yang dilakukan adalah pengembangan korpus teks dan wicara Bahasa Indonesia dan pemanfaatan korpus tersebut untuk pembuatan sistem penerjemahan menggunakan metode statistical machine translation serta pembuatan sistem pembangkit wicara Bahasa Indonesia. Korpus teks yang dimaksud di atas adalah korpus monolingual Bahasa Indonesia dan korpus paralel bahasa Inggris – Bahasa Indonesia.
9 juta kalimat dan korpus paralel Bahasa Inggris – Bahasa Indonesia sebesar 285.000 kalimat. Dari sejumlah ini 50.000 kalimat korpus paralel telah digunakan oleh Center for Indian Language Technology (CFILT) – IIT Bombay, India dan Singapore University of Technology and Design, Singapore.
Capaian kinerja di TA 2016 : Terbentuk korpus paralel bahasa Inggris – bahasa Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sistem mesin penerjemah berbasis statistik. Mitra pengguna hasil inovasi ini adalah : Center for Indian Language Technology (CFILT) – IIT Bombay, India dan Singapore University of Technology and Design, Singapore.
Gambar 3.6. Korpus BPPT
b.2. Perbandingan antara capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2015, dilakukan pembuatan aplikasi program bantu pengumpulan korpus dan proses pengumpulan data mentah korpus.
b.3 Perbandingan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis
Realisasi kinerja sampai dengan tahun ini masih sesuai dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis, dimana target kinerjanya sebagai berikut :
Tahun 2016 : Pemanfaatan korpus untuk mesin penerjemah bahasa Inggris bahasa Indonesia oleh mitra pengguna.
Tahun 2017 : Pemanfaatan korpus untuk pengembangan Speech to Speech Translation (S2S).
Tahun 2018 : Pilot Project Speech to Speech Translation (S2S).
Tahun 2018 : Operasionalisasi Speech to Speech Translation (S2S)
b.4 Analisis penyebab keberhasilan atau peningkatan kinerja
Faktor Penyebab Keberhasilan / Peningkatan Kinerja : a. SDM : memiliki SDM yang berkompeten di bidangnya
SDM berpendidikan tinggi di bidangnya (Teknik Elektronik, Teknik Informatika, Sistem Informasi, Teknik Industri dll) dengan strata S3, S2, dan S1.
Memiliki pejabat fungsional di bidangnya, yaitu Jabatan Fungsional Tertentu Perekayasa dan Peneliti.
b. Keuangan : anggaran DIPA untuk Inovasi dan Layanan Teknologi Intelligent Computing.
Pengelolaan dan pemanfaatan anggaran yang optimal.
c. Teknologi /Peralatan :
Mengembangkan perekayasaan dengan menggunakan teknologi terkini (up to date)
Selalu mengikuti perkembangan teknologi dunia
Fasilitas Laboratorium Teknologi Bahasa dengan perangkat yang memadai untuk mendukung kegiatan dalam pencapaian target.
d. Lainnya :
Memiliki kemitraan dengan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, National Institute of Communications and Information Technology (NICT) - Jepang
b.5 Analisis atas efisiensi penggunaan sumberdaya
a. Efisiensi Penggunaan SDM :
Dengan menyusun struktur organisasi kerekayasaan yang tepat untuk mendukung target yang akan dicapai. WBS Teknologi Bahasa sebagai bagian dari organisasi kerekayasaan Intelligent Computing tipe B. WBS tersebut terdiri atas dua WP dengan 1 GL dan 2 Leader, 1 Leader. yang bertanggung jawab pada penyusunan dan pembersihan korpus bahasa, dan Leader 2 bertanggung jawab kajian pemanfaatan korpus bahasa untuk pengembangan mesin penerjemah berbasis statistik dan pembangkit ucapan bahasa Indonesia.
Di setiap kelompok tim kerja terdiri dari SDM dengan kualifikasi : Analis, integrator, pemrogram dan teknisi di bidang sistem informasi dan teknologi bahasa.
Secara rutin dilakukan monitoring dan evaluasi kemajuan pekerjaan.
b. Efisiensi Penggunaan Keuangan :
a. Anggaran DIPA yang diterima, dilakukan perencanaan anggaran yang tepat untuk mendukung sasaran/ target yang akan dicapai.
b. Kebijakan pemotongan anggaran di tahun 2016, disikapi dengan efisiensi dan penyesuaian strategi.
c. Dilakukan proses pengontrolan (PCM) secara rutin.
d. Program Manager (PM) melakukan pengelolaan penggunaan anggaran yang efisien dan akuntabel.
c. Efisiensi Penggunaan Mesin dan Peralatan :
a. Kegiatan ini didukung oleh Laboratorium Teknologi Bahasa yang salah satunya terdapat studio untuk perekaman wicara
b. Berbagai jenis peralatan di Laboratorium Teknologi Bahasa : server untuk pengumpulan dan pemrosesan korpus dan PC dan laptop untuk personil dalam pembersihan korpus. c. Laboratorium dikelola oleh Koodinator dan didukung oleh
staf perekayasa untuk pemanfaatan dan pengelolaan asset.
d. Efisiensi Lainnya :
a. Pemanfaatan perangkat lunak untuk mengambil data dari suatu situs web yang dapat dijalankan secara terus menerus sampai semua data web terunduh untuk perolehan korpus
c. Inovasi Material
Biocompatible
c.1. Pelaksanaan Kegiatan tahun 2016 dan hasil yang dicapai.
UU No. 24/2011 tentang BPJS Kesehatan yang berkewajiban untuk menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS), yang menolong pekerja dan keluarganya untuk mengatasi masalah kesehatan mulai dari pencegahan, pemeliharaan kesehatan di klinik medis, rumah sakit dan tindakan penyembuhan pada fungsi organ tubuh dan penanganan masalah kesehatan lainnya secara efektif dan efisien. Kebutuhan nasional alat kesehatan (alkes) implan untuk penyelenggaraan jaminan kesehatan sangat tinggi, seiring meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas, meningkatnya usia harapan hidup manusia Indonesia dan kebutuhan implan karena kerusakan tulang lainnya (penyakit degeneratif). Berdasarkan Kemenkes (2012), belanja total alat kesehatan (alkes) RI pembiayaan pemeliharaan kesehatan (health care sebesar 6% dari GDP).
telah memenuhi persyaratan medis kedokteran orthopaedi dan kekuatan mekanik bahan, yaitu Standard ASTM F 138 dan ISO 5832-1. Kegiatan pengembangan implant tulang SS 316L ini diuji coba produksinya bersama mitra industri PT. Zenith Allmart Precisindo dan mitra pengguna RS Orthopaedi Prof Soeharso, Surakarta, RSU Dr. Soetomo. Penggunaan prodk implant SS 316L pada pasien, memerlukan sertifikasi produksi dan ijin edar dari Kemenkes RI. Hal inilah yang pada tahun 2016, pihak mitra PT. Zenith Allmart Precisindo harus melakukan re-layouting
sarana & prasarana Pabrik dan membangun ‗implant production line‘ dan memproses prosedur sertifikasi produksi dan juga ijin edar apabila PT. Zenith Allmart Precisindo akan menjadi distributor alat kesehatan. Bagan alir sertifikasi produksi dan ijin edar Kemenkes RI serta peran Kegiatan Inovasi dan Layanan Biocompatible Material untuk Alat Kesehatan dapat dilihat pada
Gambar 3.1 berikut:
Sesuai dengan konsultasi yang dilakukan dengan pihak Kemenkes RI, pihak mitra PT. Zenith Allmart Precisindo sedang menyelesaikan pembangunan implant production line merujuk kepada hasil konsultasi dengan Kemenkes RI.
Disamping itu, kegiatan pengembangan lainnya yang dilakukan adalah optimasi prototype alat produksi skala laboratorium fabrikasi material implant bioceramics hydroxiapatite (HA) berpori (porous HA) dengan penguatan menggunakan biopolimer. Uji coba produksi yang dilakukan adalah pembuatan prototype HA berpori (porous HA) dengan penguatan (dilapisi) biopolimer untuk implant tulang. Uji coba penerapan HA untuk kedokteran gigi dilakukan bekerjasama dengan Bagian Dental Material, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia. Hasil perekayasaan biocompatible material ini dapat dijadikan produk implan generik
nasional yang efektif untuk pelayanan kesehatan masyarakat sehingga dapat meningkatkan kemandirian bangsa, substitusi impor alkes implan tulang, proses nilai tambah dilakukan didalam negeri dan berbasis sumber daya material lokal.
Outcome yang dicapai pada tahun 2016 :
1) Pengembangan teknologi material dan produk prototype Implan SS 316L
Kegiatan kerjasama dengan mitra industri, PT. Zenith Allmart Precisindo telah menghasilkan teknologi biocompatible material untuk produksi implan tulang SS 316L yang telah memenuhi medical grade SS 316L, yaitu standard ASTM F 138 dan ISO 5832-1 dan telah dihasilkan uji coba produksi 10 jenis prototipe implan tulang SS 316L melalui uji produksi massal di industri.
Dengan menggunakan prototipe alat produksi biokeramik HA dan optimasi proses sintesa bahannya, telah dihasilkan prototype implan HA berpori (porous HA) yang diperkuat (dilapisi) oleh biopolymer (chitosan dan gelatin) berbahan baku batu gamping (limestones) lokal dan kerjasama pengujian untuk aplikasi HA di kedokteran gigi, dilakukan dengan Bagian Dental Material, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia.
c.2. Perbandingan antara capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir
Kegiatan ini merupakan kelanjutan kegiatan penelitian teknologi biomaterial/biocompatible material beberapa tahun terakhir
dengan capain kinerja sebagai berikut :
Tabel 3.3 Capaian kinerja kegiatan Inovasi dan Layanan Teknologi Biocompatible Material untuk Alat Kesehatan Tiga Tahun Terakhir Tahun Implan Stainless Steel 316L Implan Hidroksiapatit (HA)
2014 Prototipe implan SS 316 L awal, dengan konsistensi kualitas yang belum memadai.
Prototipe alat produksi biokeramik hidroksiapatit (HA).
2015 Prototipe 3 jenis geometri implan SS 316 L melalui uji coba produksi massal dan teruji dari sisi kemurnian dan sifat-sifat mekanis, yaitu memenuhi standard medis (ASTM F 138 dan ISO 5832-1), termasuk komposisi elemen-elemen pemadu SS 316L
Prototipe implan HA berpori untuk pemanfaatan di kedokteran gigi
2016 Prototipe implan SS 316 L dengan 10 geometri implant baru melalui uji coba produksi massal dan teruji dari sisi kemurnian dan sifat-sifat mekanis, yaitu memenuhi standard medis (ASTM F 138 dan ISO 5832-1), uji komposisi bahan penyusun paduan, uji korosi bahan
c.3 Perbandingan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis.
Target Akhir kegiatan ini adalah Industrialisasi material dan produk alat kesehatan (alkes) Implan Stainless Steel 316L berbahan baku material lokal, advanced implant Titanium paduan dan implan biokeramik hidroksiapatit (HA) berpori untuk Aplikasi Kedokteran Gigi dan Orthopaedi.
c.4 Perbandingan realisasi kinerja tahun ini dengan standar nasional
- Melalui Kementerian Kesehatan maka kegiatan proses produksi dan distribusi implan tulang stainless steel 316L merujuk kepada buku Pedoman Pelayanan Alat Kesehatan yang telah ditetapkan secara nasional untuk proses sertifikasi dan perizinan edar produk implan tulang orthopaedi di industri pembuat.
- Telah dihasilkan prototipe implan tulang stainless steel 316L yang teruji berdasarkan standard medis (ASTM F 138 dan ISO 5832-1) di PT. Zenith Allmart Precisindo yang berpengalaman membuat komponen stainless steel kualitas ekspor sehingga mampu menghasilkan produk implan tulang SS 316L dengan standar nasional maupun internasional.
- PT. Zenith Allmart Precisindo telah membangun implant production line sesuai dengan standard CPAKB (Cara Produksi Alat Kesehatan Yang Baik) Kemenkes RI atas biaya sendiri untuk mendapatkan sertifikasi produksi dalam pembuatan implant tulang SS 316L. Standard CPAKB pada dasarnya adopsi dari ISO 13485.
c.5 Analisis penyebab keberhasilan atau peningkatan kinerja Faktor Penyebab Keberhasilan / Peningkatan Kinerja :
- Kinerja fungsional SDM perekayasa BPPT yang kompeten dalam pengembangan teknologi pembuatan stainless steel
- Dukungan kuat dan kerjasama yang baik dari mitra industri PT. Zenith Allmart Precisindo