STRUKTUR
RUMAHTANGGA DAN
PERAWATAN KESEHATAN LANSIADIINDONESIA MubasyirHasanbasri*
Abstract
Therole
of
familyinelderlycare inIndonesiaremainsfeasible
solutionfor
both economic andculturalreasons.Rapidsocio-economicchangeshave raised theconcernswhetherfamilymemberscaneffectivelymeetthe need
of
elderly care.Thisstudyexamines therelationshipbetweenhouseholdstructurevariables and the useof
health services. We seek tolearn the householdstructure characteristicsthatfacilitate
or constrainelderlycare.If
thereis no constraintwithin thefamily,elderlypeople livingdependentlytotheirchildrenwillbe less
likelytoshow
difference
inhealthcarepracticesasopposedtothoseliving independently.The datafor
thisanalysisisdrawnfrom
the 1993IndonesianSocio-EconomicSurvey.Individuals aged65 yearsorabovereportedtohave illnesscomplaintsinthepasttwoweeks andremained
suffered
when thesurvey wasperformedareincludedfor
theanalysis.Thefindingsindicatethattheelderly peopleliving dependentlywiththeir childrenorwith otherfamilies
uselesshealthcareavailableoutsidetheirhomesthan thoseliving independently.
Pendahuluan
Kesejahteraan penduduk berharappaling sedikit adasatu
lansiamenjadibagian yang tidak anak yangakantinggalbersama terpisahkandari tanggungjawab danmembantumerawatmereka keluarga di banyak negara (Knodel, 1992).Sebagaicontoh,
berkembang (Chang, 1994). wanita dituntut secara sosial
Jumlah
anak yangbanyakmenjadi untukberperansebagaipemberijaminansosialdan ekonomibagi perawatan bagi lansia. Ada orangtuaketikamerekamencapai semacampembagiantugasyang
usialanjut.Orangtuabiasanya tidak tertulis darianggotarumah
dr.MubasyirHasanbasri,stafpenelitiPusatPenelitianKependudukan,
tangga tentangpermintaan ter-hadapwanitauntuk tetaptinggal
bersama orang tua,sedangkan
laki-laki bisapergijauhmencari
pekerjaan. Tugas wanita ini bahkan berlakuhingga mereka berkeluarga. Meskipuncerita yang negatif tentang harapan
lansia itu jarang terdengar,
kekhawatiran terhadap peran
anak dalam membantu lansia akanmendapathambatanketika
wanita makindituntut berpartisi-pasidalamkegiatanekonomi,
kaum muda makinkerap pergi jauhdariorangtua,dan kondisi perumahan yang lebihkecilbagi keluarga-keluarga baru(Mason, 1992; Thornton&Fricke, 1989).
Tulisan ini memotret pola
perawatan kesehatan lansia menurutstruktur rumahtangga. Kitaberharaptidakada perbeda-andalampolaperawatan lansia atasdasar besar rumahtangga danstatuslansiadirumahtangga.
Fokus Penelitian Terdahulu Statusekonomidapat menjadi kendala dalam aksespelayanan kesehatan(Ward,1977;Andersen, 1968;Stanton&Clemens,1989).
Ketikapelayanankesehatanyang
tersediabermacam-macam,orang daristatusekonomi rendah lebih banyakmenggunakanpelayanan denganbiayaperawatanyang rendah.Walaupun demikian,
perludiingatbahwa apakahorang memperolehaksespelayananatau
tidaksebenarnya tidaklah begitu penting dibandingkan dengan perawatan yang tepat yang mereka butuhkan.Pelayanan yang bermutu membutuhkan
biaya lebih tinggi, begitupula
perawatansecaraprofesionaljelas lebih mahaldaripadaperawatan
umum.Merekayang berasaldari
status sosial-ekonomi rendah memilikikesempatanyang kecil dalammemperoleh pelayanan darikalanganprofesional.Status sosial ekonomi juga mem-pengaruhicaraorangmemahami penyakit danpencarianpengobat-an.Sebagaicontoh,penyakityang diderita orangtuadenganstatus sosial ekonomi rendah tidak dianggap sebagai hal yang membutuhkanperawatansampai padakeadaan sudahparah.Di
sampingitu,penghasilanyang
terbatas membuat orang dari
kelompokstatussosialekonomi
rendahmenempatkan pengobat-ansebagaisesuatuyangkurang
penting.
Beberapapenelitiantentang
peran pendidikan dalam me-ningkatkanstatuskesehatan di
negara-negara berkembang
dikonsentrasikanpada bidang
Koch-Weser& Yankauer, 1991;
Jain,1985;Flegg,1982;Caldwell,
1979; Streatfield dkk, 1990), namunkuncimekanismenyatetap
sama. Pengaruh pendidikan
dikaitkandengan pengetahuan
tentangpenyakit danperilaku
perawatankesehatan yanglebih
baik. Semakin tinggi jenjang pendidikanseseorang, semakin besar kemungkinannyauntuk memahamisuatu penyakitdan
semakinpositif pulaperilaku
perawatankesehatannya.
Perbedaan daerah perkotaan danperdesaanakantersedianya agen perantaraperawatanke¬ sehatan merupakan faktor penentulain,apakah pelayanan perawatantersebut diperlukan atautidak. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa karena
rumah sakit dan klinik yang menyediakanperawatan medik
secaraprofesional dipusatkandi
perkotaan(Hart,1971;Radford, 1980;Zaidi, 1985),kemungkinan penduduk desauntuk
mendapat-kanaksespelayananperawatan kesehatanlebih sedikitdaripada merekayangtinggaldiperkotaan,
terutama bagi penduduk di daerah-daerah yang secara
geografissulit dicapai dengan transportasiumum.
%gadan Perawatan Kesehatan Lansia
PeranStruktur RumahTangga dan Hipotesis
Penelitianinimencoba mem-pelajari hubungan variabel struktur rumah tangga danpola
perawatan kesehatan yang diperolehlansia.Empataspek dari struktur rumah tangga yaitu: besar rumahtangga,posisilansia
dalam rumah tangga, status kehadiran orang lain, dan kehadiran anak balita dalam rumah tangga. Asumsi yang mendasari variabel struktur rumahtanggadisiniadalahperan
anggota rumahtangga dalam pemberian pertolongan dan kemandirianekonomi.Pemberian pertolonganperawatan men-cakupmenolong langsung me-menuhikebutuhan lansiapada waktu sakit di rumah,membawa
lansia ketempatpengobatandi
luar rumahtangga,danmencari
informasi yang memadaitentang
bentuk-bentukpelayanan pe¬ rawatanlansiayangtersediadi sekitar rumah tangga.Penolong
perawatan dalamrumahtangga disinibisasuami atauistri,
anak-anak dewasa,atauorangdewasa
yang lain.
Besarrumah tangga. Besar
kepalarumahtangga ataupun
oranglainyangtinggalbersama kepalarumahtangga. Dilihatdari nilai otonomi danprivasi yang
dominan dalam kehidupan
modern, makabesarnyajumlah
anggota rumah tangga menjadi beban karena mencerminkan
rendahnya tingkat kemandirian anggotakeluarga.Sekalipunbisa
berhubungandenganbeban,besar
rumah tanggaberkaitandengan strategi kelangsungan hidup lansia. Pemilikananak dalam pandangan ini merupakan jaminanekonomisdanpsikososial bagilansiapadaharitua.Besar rumahtanggamerupakanukuran ketersediaan orang yang bisa
dimintaipertolongan oleh lansia dalampemeliharaankesehatan,
khususnyadalammemperoleh perawatan kesehatan di luar rumah tangga.Berpegang pada pandanganini,dapat diprediksi bahwa makinbanyakjumlahjiwa dalam rumahtangga,makinbesar
kemungkinanlansia mengguna-kan perawatankesehatandi luar rumah tangga.
Status lansia dalam rumah tangga.Kedudukankepalarumah
tangga lazimnya dikaitkan dengan pemilikan
sumber-sumber rumah tangga.Biasanya posisiini tidak berubahketika kepalarumahtanggamenjaditua. Bila anakatau anggota rumah
tanggabisa mandiri, merekalah yangakanpergidarirumahorang tua.Sebaliknya,sebagianlansia yang pindah mengikutianak disebabkan oleh posisiekonomi
mereka yanglemah untuk bisa
menjalankanrumahtangga secara mandiri.Konsekuensidaritinggal bersama anak adalah lansia tidak memiliki kekuasaansepertibila merekamenjadikepala rumah
tangga. Kepalarumah tangga membuatkeputusan-keputusan apakah masalah-masalah pe¬
rawatan kesehatan lansia
ditempatkan pada prioritas utama,tergantung dariketerlibat-annyadenganmasalah finansial, apabilalansiainiberperansebagai kepala rumah tangga dan memiliki sumber-sumber yang diperlukan untuk perawatan
kesehatan. Sebaliknya, jika ia
bergantungpada orang lain, perawatan kesehatanlansiaini
bukanlagimerupakan prioritas danperhatianutamadari rumah tangga. Mereka akan memiliki
kesempatanlebih kecil dalam hal
mendapatperawatankesehatan. Status tempat tinggal.Dari
status tempat tinggal, dapat
dilihatdengan siapalansia ber-tempattinggal.Kehadiranorang dewasadalam rumahtangga bisa
menjadi mediator dalamber¬
StrukturRumahTanggadan PeraxvatanKesehatanLansia (Horowitz,1985).Anggota rumah
tangga yangmasih mudaatau seorangkepalarumahtangga
membuat keputusan tentang pemenuhan kebutuhanlansia (Cafferata, 1987). Memiliki
pasanganataumenikahmemiliki
sisi positif karena adanya komitmen moral yang menyang-kutperhatianterhadap kesejah-teraantiap-tiap pasangan pada saat suka dan duka. Pasangan lansiamerupakansumber per-tolongan dalammerawat dan memelihara kesehatanketika
salahsatupasangan menderita sakit (Stoller, 1982).Laporan penelitiantelahmemperlihatkan pengaruhdaridukungansosial dan emosionalsertaketmtvmgan ekonomis yang dimiliki oleh orang yang memiliki pasangan
tetap terhadap status kesehatan
danbahkan kepanjanganusia (Ross, Mirawsky& Goldstein, 1990;Umberson,Wartman &
Kessler, 1992). Atas dasar itu,
kehadiran pasangan akan mendorong pencarian
pengobat-anlebihawaldan lebihsungguh-sungguhdaripada yang tidak memilikipasangan.
Kehadiran anak balita. Penuaanpendudukdinegara sedang berkembang sering dikaitkan dengan perlipatan persoalansosialketikakitasedang berurusandenganmasalahanak
balita danlansia. KekhawatiraA
utamaadalahbesarnyapersoalan yangakantimbul dengankondisi-kondisikesehatanyangmenyertai
penuaan.Konsekuensidarihalitu,
bila terdapat lansia dan anak
balitadalamsuaturumahtangga,
perhatian keluarga terhadap lansiabisamenjadilebih rendah
dibandingkanterhadapbalita. Memilikianak balitadianggap
sebagai hal yang dapat
mengurangiprioritasperhatian keluarga terhadap lansia. Kemungkinanlansia yangtinggal bersamakeluarga yang mem-punyai anak balita untuk mendapatperawataneksternal menjadisemakinkecildibanding¬ kan dengan mereka yang tinggal bersamakeluarga tanpa anak balita. Variabel dan definisi operasionalinidapat dilihatpada Tabel1.
Datadan Analisis
Data yangdigunakan untuk analisis iniberasal dari Survei
Sosial-Ekonomi Indonesiatahun
1993.Penelitian inimengambil sampelanggotarumahtangga
yangberusia65tahunkeatasyang mengeluh sakit dalam dua
minggu terakhir, danpadasaat
surveidilakukanmerekamasih
merasa sakit. Penelitian ini
Tabel 1
Variabel dan Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional
PelayananEksternal 1 bila lansia yang melaporkan sakit dalam kurun duaminggu terakhir dan mencaripertolongan dari
pengobatanprofesionalataupuntradisional.
0 bila lansia yang melaporkan sakit, tetapi
mengobati sendiriatautidak mencari pengobatan
dari luar. StrukturRumah
Tangga
BesarRumahtangga Jumlah anggota rumah tangga4 atau >=1;<dari 4 =0
Statuslansia dalam
rumahtangga
"Koresiden"(1) bilalansia yang tercatatdalamroster
rumahtanggasebagai anggota rumah tangga. Bila tercatat sebagai kepala rumah tangga atau
suami/istri dianggap "bukan koresiden" atau
ÿmandiri"
StatusTempat Tinggal Dummy dengan 4 kategori: "tidak kawin tinggal sendiri", "tidak kawin, tetapi tinggal dengan orang dewasa lain", 'kawin dan tinggal hanya dengan suamiatauistri" (kategorirujukan), dan "kawindan
tinggal bersama istriatausuami dan orangdewasa yanglain".
Kehadiranbalita Rasio jumlah anak di bawah lima tahun di rumah tanggaterhadap jumlah jiwadalamrumah tangga. Sosiodemografi
Jenis kelamin Laki-laki =1;Perempuan=0
Umur Umurtahun dandibagi ke dalam kategori:65-69, 70-74dan 75 keatas. Kelompok rujukanadalah65-69.
Statuspendidikan
tertinggi
Minimal pemahduduk di sekolah dasar = 1;Tidak
pemahsekolah= 0
Statusekonomi rumah tangga
Dihitung berdasarkan pengeluaran rumah tangga per kapita. Ekonomi rendah bila berada di bawah persentil40%.Ekonomi menengah bila berada pada
persentilantara40-80%. Ekonomi atas bila berada
Struktur RumahTangga danPeraxvatanKesehatan lansia dalam memenuhi perawatan
kesehatanmereka.
Informasi tentang keluhan penyakit dan perawatanlansia dalamsurveiinidiperolehsecara
tidak langsungdari wawancara
terhadap kepala rumah tangga.
Metodeinimemilikibiaskarena untuk rumah tangga dengan statussosialekonomilebih tinggi cenderunglebihpekamelaporkan penyakitdibandingkandengan rumah tangga dengan status sosial ekonomi yang rendah. Makadariitu,adakecenderungan bias pelaporan yang lebihtinggi
bagikelompoksosialatasdalam hal penggunaan pelayanan kesehatan. Penelitianinimelihat penggunaan tigajenisperawatan kesehatanumum.Penggunaan perawatan medik profesional meliputi penggunaan fasilitas
rumah sakit, dokter yang membuka praktek pribadi,klinik
kesehatan, dan puskesmas.
Karenapenelitianinibertujuan memahami peranan keluarga sebagaipembuat keputusan bagi
lansia,yang menjadi variabel dependenutamaadalah peng¬ gunaanperawataneksternalyaitu
setiappengobatan medik yang diperolehdi luar lingkungan
rumahtangga,termasukperawat¬ an dari dukun. Penggunaan
perawatanyang diperoleh lansia termasuk perawatanpengobatan
oleh dirinya sendiri. Keluhan penyakitdiklasifikasikan dalam beberapakategoriyangmeliputi infeksisaluranpernafasanbagian atas, gangguan pencernaan,
konvulsi,kecelakaan,dan lain-lain.Persentaseyangtinggidalam keluhan 'lain-lain' (70%)
menggambarkankondisipenyakit kronis yang umumnya diderita lansia.Sekitar 15%dari mereka yang mengeluhkanpenyakit, tidak pernah mendapatkan pengobatansamasekali. Kira-kira
30%melakukan pengobatan diri sendiri dan 19% berobat ke puskesmas.
Status lansia dalam rumah tanggadiklasifikasikan ke dalam
dua kategori. Mereka yang tercatat sebagaikepalarumah tanggaataupasangannya(suami atau istri) dalam daftar rumah tangga dikategorikan sebagai lansiayangtidaktergantung atau
yangmandiri secara ekonomi.
Mereka yang tidak termasuk
kategoripertama disebut sebagai
lansia yang tergantung. Diantara lansiayangtergantunginijumlah terbesar berstatussebagaiayah ibu(orangtua) ataumertua (84%).
Kurang lebih13%merupakan keluargasedarah,dansebesar 2,5% merupakan pembantu rumah-tanggaataulainnya.
proporsiantara anggota rumah
tangga yang berusia di bawah
limatahun dengan jumlah jiwa
dalam rumah tangga. Yang
termasuk janda/duda adalah mereka yangsudahberceraiatau yang ditinggalmatipasangannya
(suamiatauistrinya).Kebanyakan
lansia dalam studi ini tidak
mendapat pendidikanformal.
Dalam penelitian ini tingkat pendidikandibagi menjadidua,
yaitulansiayang tidakmendapat pendidikanformal (58%),dan
merekayangmendapatpendidik¬ anSekolahDasarataudiatasnya.
Hanya5%darikelompok yang
kedua inipernahbersekolahdi
Sekolah LanjutanTingkatPertama
ataudiatasnya. Statusekonomi
rumah tangga berdasarkan distribusipersentilkonsumsi per kapita setiap bulan, yaitu termasuk rendah jika berada kurang dari persentil 40,
menengahatausedangjika berada antarapersentil40 dan80,dan
tinggijika beradadiataspersentil 80.
Hasil
Hasildaripengolahandataini
disajikan dalamtigatabel yang dapat dilihat padaLampiran. Tabel2memperlihatkancirilansia danpolapenggunaanberbagai jenisperawatankesehatan. Tabel
3menyajikanrasioodds untuk
ketiga bentuk perawatan kesehatan. Ketiga bentuk
perawatan itu sengaja
ditampilkan untuk melihat perbedaan ciri dari tiap-tiap variabel bebas. Tabel 4 menyajikanhasil regresi logistik untuk perawatan eksternal
menurut status ekonomirumah tangga. Uraianberikutini lebih
memusatkanpadahipotesisdan perlu mengacu pada Tabel2, 3, dan 4 secara bersama-sama.
a. Ciri Lansia
Jumlah
lansia yangmemenuhikriteria sakitdalam kurun dua
minggu terakhir adalah 1824
orang.
Jumlah
laki-laki lebih banyak daripada perempuan.Umur lansia tersebar cukup meratapada tigakelompokyang digunakan dalam analisis ini.
Hampir sekitar60%tidak pernah mengenyam pendidikanformal
(sekolah). Hanya sekitar 12%
lansiamenyelesaikan sekolah
dasar. Kira-kira25%di antaranya
mendapat pendidikansekolah
dasar,tetapi tidak tamat.Enam
puluh persen lansia yang dianalisistinggaldiperdesaan.
Sebagianbesar lansiaadalah kepalarumahtanggaatauistri.
Sekitar tigapuluhpersen lansia
berstatus anggotarumahtangga,
StrukturRumah Tangga danPeraioatanKesehatanLamia
keluargainisebagianbesaradalah orangtua ataumertua(84persen). Yang berstatus sanak keluarga sebesar 13 persen.Diluar itu
terdapat2,5persentidak memiliki hubungankeluarga.Dilihatdari sudutstatustempattinggal,lansia
yang betul-betultinggal sendiri
adasekitar10persen,yang tinggal bersamaistriatausuamiadalah20
persen,danselebihnya tinggal bersamakeluarga.
Tiga puluh persen dapat menyebutkan keluhanspesifik yangmengelompokpadakeluhan infeksipernapasanatas,gangguan pencernaan,kejangatau
kecelaka-an, dansebagian besar
melapor-kankeluhan "lain-lain"(70%). Karenakategorispesifik yang disediakan oleh survei ini condong mengarah kepada keluhanakut,tidak heran bila keluhan "lain-lain" disiniadalah dominan dan berkaitan dengan penyakit kronik pada lansia.
Persentase lansiayang berstatus kepalarumahtangga (termasuk
pasangan) lebihtinggidaripada yangsebagaianggota dalam hal
penggunaanpelayanan profesio-naldantradisional. Sebaliknya,
persentaselansia bukan kepala rumahtanggaataupasangannya lebih tinggi daripada yang menjadikepalarumahtangga
dalamhalpenggunaanperawatan
sendiriatauyangtidakmendapat pengobatansamasekali.
Seperti yang terlihat pada Tabel2, diantara 1.824 lansia,
kira-kira 15%diantaranya tidak mendapatperawatansamasekali.
Sebesar 44% tidak mendapat
perawatan diluar lingkungan rumahtangga.Hanyasekitar38%
lansiamempunyaikesempatan mendapatperawatanprofesional
(dokter).Kira-kiraseperempat darijumlah subjek penelitian merupakanlansia yangtermasuk
dalamkategoribukan kepala rumahtanggaataupasangannya.
b. PengaruhFaktor
Sosiodemografi
Tinggal diperdesaansecara
negatif diasosiasikan dengan penggunaanperawatanprofesio¬
nal.Karena puskesmasdanklinik-klinik lainnyayangberada di pelosok ditujukan untuk me-menuhikebutuhanperawatan
kesehatan penduduk perdesaan termasuk profesional, diperkira-kantidak adaperbedaanantara pendudukperdesaandanpendu¬
dukperkotaan dalam pengguna¬ anperawatankesehatansecara
profesional. Analisis ini
antara lansia yang tinggal di perdesaandengan kesempatan yang dimilikilansiayang berada
diperkotaan.Padaketigamodel,
umur dan jenis kelamin tidak
berhubungan dengan ketiga
bentukpenggimaanpelayanan.
Pengaruhdari pendidikan bagi mereka yang sempat
mendapatkanpendidikan jelas
berbedadibandingkan dengan
merekayangtidak pernahsekolah sama sekali.Peningkatannilai
odds ratioyangberlakuuntuk ketigaregresiterhadap perawatan profesional kemungkinan me-nunjukkan peran kesadaran
individu tentangkesehatan dan penerimaan kultural kesehatan
modern pada subjek yang mempunyaipendidikan yang
lebihtinggi.Adapunmerekayang
tidakpernahmendapatpendidik¬ ansekolahsamasekali
menunjuk-kanseparo kemungkinan dari
mereka yangpernahbersekolah.
Pengaruhstatussosial ekono-mirumah tanggadapatdilihat
pada Tabel 3. Status sosial-ekonomiyangrendah berhubung-ansecaranegatifdengantigajenis perawatanyang diperoleh lansia. ModelImenunjukkan bahwa
lansia yang termasuk dalam kelompokstatussosial-ekonomi
rendahlebihkecil kemungkinan-nya dalammemperolehperawat¬ an kesehatan dibandingkan
dengan mereka yang termasuk kelompok sosial-ekonomi tinggi.
Dalammodelpertamadankedua,
pengaruhinisecarastatistik tetap
signifikan.Akantetapisebaliknya, pengaruh kelompok dengan status sosial-ekonomi sedang mengalamiperubahandari tidak
signifikanpadamodel pertama
menjadi sedikit signifikan pada modelkedua (p<0.10), hingga
sangat signifikan padamodel
ketiga. Artinya, penggunaan pelayanankesehatanprofesional berhubunganlineardenganstatus ekonomirumahtangga.
c. Besar RumahTangga
Tidak seperti yang
diharap-kan,besar rumahtanggatidak mencerminkan ketersediaan pemberi pertolonganperawatan dalam rumahtangga.Tabel 2
memperlihatkan tidak ada
perbedaan yang berarti dalam
perawatan eksternal (Model 2)
danprofesional(Model 3). Akan
tetapi,persentaselansia yang
mendapat perawatan (versus tidakmendapat perawatan)lebih tinggi sebesar 4% daripada
StrukturRumah'
lansiabukan mencerminkan sisi kuantitasanggota rumahtangga.
d. Status Lansia dalam Rumah
Tangga
Status lansia berhubungan denganpolaperawatanlansia. Analisis bivariat (Tabel 2)
menunjukkan bahwa terdapat
selisihsebesar 12%dalam hal
lansia yang mendapatperawatan (didalam maupun diluar rumah
tangga). Keadaan ini tetap konsisten dalam hal perawatan profesionalyangdiperolehlansia
(10%). Pengaruhinidikuatkan olehbuktiyang tersedia pada Tabel 3. Meskipun pengaruh negatif daristatus koresidensi
makinberkurangdarimodel1ke model3,yangnyatadari Tabel3
adalahadanyapengaruh yang bermaknadanberartipadamodel
1dan2.Lansiayangbukankepala rumahtangga memiliki kesempat-anmendapatperawatan
kesehat-ansebesar kurang lebih separo darikesempatanyang dimiliki olehlansiayangmenjadikepala
rumahtanggaataupasangannya.
Pada ketiga kelompok rumah tanggaberdasarkantingkatstatus sosialekonomi,statuskoresidensi berhubunganterbalik dengan polaperawatanlansia,tetapi hanyayangkelasmenengahyang signifikan.Temuan
inimengisya-ratkanbahwa merekayangtidak
%gadanPerawatanKesehatan Lansia
banyak mempunyai kontrol terhadap sumber-sumber yang dimilikirumah tanggaakankecil kemungkinannyauntuk mem-perolehdukungan keluarga yang cukup, sewaktu mereka mem-butuhkanbantuan perawatan
yangbenar-benar dibutuhkan.
e. StatusTempatTinggal
Kehadiranpasanganmemiliki
arti dalamperawatan lansia.
Sebagaimana yang terlihat pada
Tabel2,lansiapasangan(bersatus kawin)menunjukkanpersentase
lebihrendah dalamhaltidak memperoleh perawatan(versus
yangmendapat perawatan).Hal inisejalandenganpersentaseyang tinggipada lansiaberpasangan dalamhalmemperolehperawatan
profesional.Pada kolom 3 (% perawatan rumahtangga) dari tabel yangsama, persentaselebih tinggi dariyang tidak berpa¬ sanganmenggunakanperawatan rumah. Pada Tabel 3 dan 4,
pengaruhkehadiranpasanganini
dapat dilihatpadavariabelstatus tempattinggal. Padavariabel ini,
lansia yangmemilikipasangan dan tinggal berduasaja dijadikan kelompokrujukan.Meskipun tidak adayangsangatbermakna
pasangan(Model 2 dan 3). Pada
Tabel 4 yang menjelaskan perawataneksternal menurut statusekonomirumahtangga,
pengaruhkehadiranpasanganitu hanyajelas pada kelasbawah.
Sebaliknya, yang pentingdari
tabeliniadalahtentangpengaruh kehadiran orang lain.Tinggal
sendiritidakmerupakanmasalah padakelompok ekonomi atas, tetapi halini sangatjelas dan
signifikan pada kelasmenengah. Hidup bersama orang lain maupunpasangan lebih baik daripada hidup sendiri. Apakah
itupasanganatau orang lain tampaknyatidak adaperbedaan berarti. Yang penting adalah kehadiran oranglainyang bisa memberikanpertolongan. f. Kehadiran Anak Balita
Efekdarikehadirananakbalita bertolakbelakangdaridugaan semula. Yang diharapkan dari asumsi tentangberkurangnya perhatianpadalansiakarenaada anak balitaadalahpengaruhyang negatif daristatuskehadirananak
balita itu. Meskipun tidak
bermakna,hasil regresiganda terhadap jenis perawatan
memperlihatkanefek yangpositif padamodel2dan 3. Namun,bila
dilihatdaristatusekonomi(Tabel
4),pengaruh kehadiran balita berbedaantarayangberadapada
kelas ekonomi bawah danyang menengahkeatas. Padarumah
tangga ekonomimenengahdan
atas,pengaruhnyanegatif. Pada ekonomi kelasbawah,pengaruh kehadiran balitainipositif(dan bermakna) pada pelayanan eksternal.Efekyangtidakterduga
dari kehadiran balita pada kelompok ekonomibawahini
mungkin berkaitan dengan konteks kampanyekesehatan anak yangsecara luasdilakukan olehpemerintah(Rustam, 1986; Lenart, 1988; Leinbach, 1988;
Government of Indonesia &
UNICEF, 1989).
Kesimpulan
Temuanutamadarianalisisini
adalahadanya perbedaandalam penggunaanpelayanankesehatan oleh lansiaberdasarkanstatus
lansia dalam rumah tangga.
Sebagaimanadisebutkanpada pengantar bahwa kapasitas
rumah tangga untukmerawat
lansia sebenarnya diragukan. Perubahan mobilitaspenduduk
danstatusperempuandinegara yangsedang berkembang mem-batasianggota rumah tangga
dalamperawatan
StrukturRumah'
tidakbisabegitu saja diserahkan padaurusanrumahtangga.Status lansia sebagai kepala rumah
tanggaataupasangandari kepala
rumah tangga tampaknya
menentukan pola pencarian pelayanan bagi lansia. Artinya, faktoraksespadasumber-sumber
rumahtanggamenentukanlansia
memperoleh pengobatandiluar rumah.Hal inidiperkuat oleh kelas ekonomi masyarakat. Pengaruhstatuslansiaitu makin
kentarapadakelompokekonomi bawah. Ada perbedaan yang
nyatadalampolapelayananlansia yangtinggalsendiridibandingkan dengan yang tinggalbersama orang lain.
Penemuan inimenjadi dasar bagi pentingnya penekanan kebijakan-kebijakanmendekatkan pelayanan ke rumah
tangga-rumahtangga khusus. Sistern
perawatanpublik dan sistem
perawatan rumahtangga yang berbasis padapuskesmas dan rumahsakit perlu mendapat perhatian. Isyarat tentang
pentingnya peran pembawa
informasi mengenaipelayanan kesehatan yang tersedia diluar
rumah tanggaditunjukkan oleh hubungan positif antara
ke-hadirananak balita dan peng-gunaan pelayanan eksternal. Meskipunkegiatanposyandu ditujukanpadakesehatanibudan
%gadan Perawatan Kesehatan Lansia
anak, integrasi pelayanan
kesehatan membuat kaum
perempuanmemperolehinfor¬
masiyang lebihbaik tentang
perilakuperawatankesehatan
danmengetahui ketersediaan pelayanan kesehatanyangsesuai didaerahnya. Bilapenggunaan pelayananinidipengaruhi oleh informasi yangmasukkerumah tangga,merancangkampanye promosi kesehatan dalam berbagailingkunganpekerjaan danlembaga-lembagamasyarakat
sangatdiperlukan.Kajian lebih lanjuttentangperansiswasekolah lanjutanatas terhadap pemeli-haraanlansia, misalnya, juga merupakan bagianyangpenting
dalamkampanyekesehatan. Akhirnya, keterbatasan dari analisis iniharus disebutkan. Penelitian ini berbasis pada
keluhanpenyakityangdilaporkan oleh kepala rumah tangga.
Pertanyaantentangjenispenyakit apayangpernahdiderita oleh
anggota rumah tangga pada waktu dua mingguterakhirmasih
bersifatumumdantidak bisa mengukur status keparahan penyakit yangsamabagitiap-tiap
rumah tangga untuk mencari
pengobatan.Disampingitu,besar
kemungkinan bahwa jenis
penyakit yang diderita lansiaini
mendiamkanmasalahitudan
karenaitu tidak memerlukan
pencarianpelayanankesehatan. Bagilansiayang menjadi kepala
rumah tangga dan beradapada status ekonomi atas, mereka
condong lebih cepat untuk melakukanpencarianpengobatan (Dean,1992; Caunte&Glandon,
1990)karenaitupengaruhnyabisa lebih tinggi dari apa yang sesungguhnya terjadi.Padamasa mendatang,pengukuran yang
lebihobjektif diperlukan agar dapat memprediksisecaralebih
rasional.
Sumber informasi mengenai penyakitinibisajuga mengalami problemkeakuratan informasi. Karenainformasi iniditanyakan kepada kepala rumahtangga,
sebagian lansia menjawab langsung tentang keadaan
mereka. Selebihnya, mereka
diwakiliolehanakatauoranglain. Dalam hal ini,mungkin ada
kecenderungan bagi kepala rumahtanggayangmelaporkan
keluhandanpencarianpengobat¬ anpadaanggota rumah tangga
yang lansia akan lebihtinggi
untukmenyesuaikanpermintaan normatif dalam berhadapan denganpenyakit.Karena itu,
pengaruhdaridampak status
lansiayangikutkeluargaanak bisalebihtinggidaripadakeadaan
yangsebenarnya.
Perludiingatbahwa ukuran-ukuran struktur rumahtangga
dalam analisisini adalahproksi terhadap kegiatan pemberian
perawatan yang terdapat di lapangan dan kemandirian
ekonomi lansia. Masihbanyak kemungkinan-kemungkinan
strategidan keterbatasan rumah
Struktur RumahTartggadan PerawatanKesehatanLansia
Referensi
Adlakha, A. andRudolphA.
J.
1994."Aging Trends: Indone¬sia",
Journal
of
Cross-Cultural Gerontology9(1):99-108.Andersen,R.M.1968.A Behavioral Model
of
Families'Useof
HealthServices.Chicago: Center for
HealthAdministration.
Beland, F. 1984. "Thefamilyand adults65years of ageandover. coresidencyandavailabilityof help", Canadian Review
of
Sociology andAnthropology_21:
302-317.
Cafferata, G. L. 1987. "Marital status,livingarrangements,
and theuseofhealthservices by elderlypersons",
Journal
of
Gerontology42(6):613-618.Caldwell,
J.
C. 1979."Educationasafactorinmortalitydecline,an examinationof Nigeriandata",
Population Studies 33(3):395-413.
Caunte, M.A. andGlandon,G.L. 1990."Health belief, attitude andbehaviorofolder persons:
ananalysis of advances in
research and future di¬ rections", inSidneyStahl,The
Legacy
of
Longevity:Health and HealthCareinLaterLife.
Aubury Park:Sage Publications. Pp. 165-185.ChangT.P.1994."Familychanges and elderly inAsia, inthe ageing ofAsianPopulations".
Proceedings of the United
NationsRound Tableonthe Ageingof the Asian Popu¬
lations,Bangkok May4-6, 1992,pp.33-38.
Chen, A.
J. Jones
G.,DomingoL.,PitaktepsombatiP.,Sigit H., andMasitahB.M.1989.Ageing inAsean: Its Socio-Economic Consequences. Singapore:
Instituteof Southeast Asian
Studies.
Dean,K.1992."Healthrelated behavior: concepts and methods",inMarcia G.Ory, RonaldP Abeles & Paula DarbyLipman(eds.)Aging, HealthandBehavior.Newbury Park: Sage Publications. Flegg,A. T. 1982."Inequalityof
income,illiteracy andmedical careasdeterminants of infant mortality ina developing society",Demography(19):391.
Gerstel,N.,Riesman,C.K.&
Rosenfield, S. 1985. "Ex¬ plaining thesymptomatology of separated and divorced
womenandmen:the roleof
materialconditionsandsocial networks",SocialForces 64: 84-101.
Government of Indonesia and UNICEF. 1989. Situation Analysis
of
Childrenand WomenHart,
J.
T. 1971."Theinverse care law", The Lancet (1):405-412.Haug, M.L., Namazi, W. &
Namazi K.H. 1989."Selfcare
among older adults", Social
Science and Medicine29: 171-183.
Horowitz, A. 1985. "Family caregivingtothe frailelderly",
Annual Review
of
Gerontologyand Geriatrics(5):194-246.
Jain, A. K. 1985. "Relative rolesof
femaleeducationandmedical
services fordecreasinginfant mortalityinrural India",inS. B.Halstead,
J.
A.Walsh,andK.S.Warren (eds.),GoodHealth
at Low Cost. New York:
RockefellerFoundation,pp.
187-189.
Johnston, C.L. 1983."Dyadic family relationshipandfamily supports: an analysis of the family care giver", Gerontologist23:377-383. Knodel, J., Chayovan, N. &
Siriboon,S.1992."Theimpact
offertility declineonfamilial
support for the elderly:an
illustration from Thailand",
PopulationandDevelopment
Review 18(1): 79-103.
Koch-Weser D. and Yankauer A.
1991. "What makes infant mortality rates fall in
developing countries?", American
Journal
of
Public Health 81(1):12-13.Leinbach, T. R. 1988."Child
survival inIndonesia", Third
World Planning Review 10(3):255-269.
Lenart,
J.
C.1988. "Lessonsforthe developed- from the third world",WorldHealth Forum9:(3):454-460.
Lindenbaum,S.1989."Maternal
education and healthcare process inBangladesh:the health andhygiene of the middleclass",in
John
Caldwelland Gigi Santow, Selected Readingsin the Cultural,Social
and BehavioralDeterminants
of
Health,HealthTransitions Series
No. 1. Canberra: Health Transition Centre the
Australian National
University,pp. 425-440. Mason, KarenOppenheim.1992.
"Familychangeand supportof
theelderlyinAsia: Whatdowe know?",
Asia-Pacific
PopulationJournal
7(3):13-32.McAuley,
W.J.
,
Travis, S.S. & Safewright, M. 1990. "Therelationshipbetweenformal
and informal health care services for the elderly", in Sidney Stahl, The Legacy
of
Longevity:Health and Health CareinLater
Life.
AuburyPark:Sage Publications.Pp.201-216. Preston, S. H. 1985. "Resources, knowledge and child
mortality:acomparisonofthe US in the late nineteenth century and developing
countriestoday",Proceedings
of
StrukturRumah Tangga dan Perawatan Kesehatan Lansia
Conference,
Florence5-12June, Vol4.Radford,A.
J.
1980."Theinverse care law in Papua New Guinea",inN. F.Stanley andR. A.
Joske
(eds.),ChangingDisease Patterns and Human Behaviour. London: Academic Press, pp. 324-343.
Ross, C.E., Mirawsky,
J.
&Goldstein, K. 1990. "The
impact of the familyon health
-
thedecadeinreview",Journal
of
Marriage and the Families 52(4): 1059-1078.Rustam,KardinahSoeparjo.1986.
"Grass-Root developmentwith the PKK",Prisma (40):77-84. Stanton, B. andClemens
J.
1989."User fees for healthcare in developingcountries:a case study of Bangladesh",Social
Sciences and Medicine
29(10):1199-1205.
Stoller, E. 1982. "Sources of
support fortheelderlyduring
illness",HealthandSocialWork 7:111-122.
Streatfield, Kim, Masri
Singarimbun, and Ian
Diamond. 1990. "Maternal education and child
immunization",Demography 27(3):447-455.
Subedi,
J.
1989."Modern healthservices and health care
behavior: a survey in Kathmandu,Nepal",
Journal
of
Health and Social Behavior 30(4):412-420.Thornton,AandFrickeT. E.1989. "Socialchangeandthefamily: comparative perspectivesfrom the West, China,and South
Asia", in
J.
Mayone Sycos, Demography as anInter-Discipline.NewBrunswick:
TransactionPublishers.
Umberson, D., Wartman, C.B.,&
Kessler, R.C. 1992. "Widow¬ hood and depression: ex¬ ploring long term gender
differences invulnerability",
Journal
of
Healthand SocialBehavior33: 10-24.
Ward, R. A. 1977."Services for
older people:anintegrated framework for research",
Journal
of
Healthand SocialBehavior(19): 61-70, March. Woods, N.F. 1996. "Womenand
theirhealth", inPhilBrown,
Perspectives inMedicalSociology,
Second Edition. Prospect Height: WavelandPress. Worobey,
J.
& Angel, R.1990."Functional capacity and livingarrangement of un¬ married elderly persons",
Journal
of
Gerontology45:95-101.
Zaidi, S. A. 1985."Theurbanbias
inhealthfacilitiesinPakistan", Social Science and Medicine 20(5):473-482.
Zich,C.C.&Smith, K.R. 1988.
"Recent widowhood, re¬
marriage and changes in economicwell being",
Journal
Tabel2
CiriSubjek danPersentase Penggunaan BerbagaiJenisPelayanan menurutVariabel Independen
Variabel (%) %Tidak mendapat pelayanan % Perawatan rumah tangga % Perawatan tradisional % Perawatan Profesional N=1824 (100) n=282 (15) n=529 (29) n=327
(18) n=686(38)
Tempat tinggal
-
Perkotaan-
Perdesaan 35 65 13 17 25 31 12 21 50 31 Jenb kelamin-
LakHaki-
Perempuan 54 46 13 19 29 29 18 18 40 34 Umur-
65-69-
70-74-
75+35 30 35 12 15 19 30 29 28 17 19 18 41 37 35 TlngkatpendkUkan
-
Tidakpemahsekolah-
Pemahsekolah 83 17 17 9 30 22 19 11 33 58 Jiwa dalam nmahtangga-
<4-
>4 66 35 14 18 29 28 19 17 38 40 Statussosiaiekonomi-
Rendah-
Menengah-
Tinggi 38 40 22 22 13 9 33 28 23 19 20 13 26 39 55 Statuskehadiran pasangan-
Tanpapasangan-
Dengan pasangan43 57 19 13 32 27 18 18 32 42 Statuslansiadalam rumah
-
Bukankepala atau pasangannya-
Kepalaataupasangan28 72 24 12 31 28 14 19 30 40 Statustempattinggal
-
Tanpapasangantinggal sendbi-
Tanpapasanganfinggai bersamaoranglain-
Beipasangantinggal berduasaja-
Beipasangantinggal bersamadanoranalainStrukturRumahTanggadan PerawatanKesehatanLansia
Tabel3
RasioOdds Bentuk Perawatan Kesehatan Lansia
Model 1 Model 2 Model 3 Perawatan
Variabel bebas Mendapat
perawatan
tradisional dan
profesional
Perawatan profesional
Tempattinggal
-
Perkotaan 1.0 1.0 1.0-Perdesaan 1.0 0.9 0.6"*
Jeniskelamin
-Laki-laki 1.0 1.0 1.0
-
Perempuan 1.1 0.8 0.9Umur
-65-69 1.0 1.0 1.0
-70-74 1.1 0.9 0.8
-75+ 0.8 0.9 0.9
Tingkatpendidikan
-Tidakpemahsekolah 1.0 1.0 1.0
-
Pemah sekolah 1.3 1.4 1.6*"Statussosialekonomi
-Rendah 0.4"* 0.5*" 0.4***
-Menengah 0.7
o
CO 0.6*"-Tinggi 1.0 1.0 1.0
Jiwa dalam rumahtangga
-<4 1.0 1.0 1.0
->4 1.0 1.1 1.0
Kehadiran Balita 1.0 2.1 1.5
Statuslansia dalamrumahtangga
-
Kepalaataupasangannya 1.0 1.0 1.0-
Anggotarumahtangga 0.5*"o
t0.8
Status tempat tinggal
•Tanpa pasangan tinggal sendiri 0.9 0.7* 0.7
-
Tanpapasangantinggal bersamaoranglain 1.4 0.9 0.9-
Berpasangan tinggalberdua saja 1.0 1.0 1.0Tabel4
Ringkasan Odds RatiodaSm PenggunaanPelayananEkstemal
menurutStatus Sosial-Ekonomi
Status sosialekonomi
Variabel Independen Rendah
(n=695)
Sedang (n=738)
Tinggi
(n=391) Tempattinggal
-Perkotaan 1.0 1.0 1.0
-Perdesaan 1.2 0.9 0.6*
Jenis ketamki
-Perempuan 1.0 1.0 1.0
-LakHaki 0.9 0.9 0.7
Umur
-65-69 1.0 1.0 1.0
-70-74 0.9 0.7 1.4
-75+ 1.3 0.8 0.8
Pendidikan
•Tidak pemah sekolah 1.0 1.0 1.0
-
Pemahsekolah 1.9" 1.2 1.2Besarrumahtangga
-<4 1.0 1.0 1.0
->4 0.9 1.2 1.4
Kehadiranbalita 18.1"* 0.2 0.2
Statuslansia dalam rumahtangga
-Kepalaataupasangannya 1.0 1.0 1.0
-
Anggota rumahtangga 0.6 0.5*" 0.6Status tempattinggal
-
Tanpapasangantinggal sendiri 0.8 0.5" 1.0-
Tanpa pasangan tinggal bersamaorang lain 0.9 1.0 0.8-
Berpasangantinggal beidua saja 1.0 1.0 1.0•Berpasangan tinggal bersama danoranglain 1.3 1.0 1.4