54 BAB IV PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan memuat dan membahas mengenai kebijakan – kebijakan dan prosedur akuntansi yang yang diterapkan pada PT. Dwi Putra Jasa Prima terkait dengan aset tetap. Kebijakan akuntansi pada PT. Dwi Putra Jasa Prima akan dibandingan kesesuaiannya dengan PSAK No.16 (revisi 2007): Aset Tetap. Kesesuaiannya dengan standar akuntansi yang berlaku sangatlah penting karena hal ini berlaku umum untuk semua kegiatan usaha atau bisnis. Dengan adanya keseragaman maka akan menciptakan suatu nilai atau standar ukuran yang sama pula, baik dari pengakuan awal, pengukuran, penghentian, dan penyajian serta pengungkapannya.
Pada skripsi ini, penulis melakukan penelitian pada PT. Dwi Putra Jasa Prima terkait dengan aset tetap yang dimilikinya. Apabila pencatatan dan perlakuan yang sesuai dengan SAK akan menjadikan aset yang dimiliki dinilai secara adil oleh seluruh pihak. Terlebih lagi untuk laporan keuangan. Dengan adanya revisi – revisi standar akuntansi, perusahaan harus dengan segera menyesuaikan diri dan menerapkan standar – standarnya karena laporan keuangan berkaitan erat dengan keandalan dari suatu informasi keuangan perusahaan yang akan dimanfaatkan oleh pihak internal dan eksternal.
IV.1 Penggolongan Aset Tetap
PT. Dwi Putra Jasa Prima menggolongkan aset tetap berdasarkan definisi atau kriteria yang menyatakan bahwa suatu aset tetap adalah:
55 1. Digunakan dan berfungsi dalam mendukung kegiatan operasional
perusahaan, baik yang rutin maupun tidak rutin. 2. Memiliki manfaat di masa depan.
3. Memiliki nilai ekonomi di atas satu tahun.
Berdasarkan data yang diperoleh dari PT. Dwi Putra Jasa Prima, perusahaan memiliki aset tetap yang memiliki kriteria seperti yang telah dituliskan, antara lain:
1. Tanah
Merupakan lahan yang dimiliki dan digunakan sebagai tempat berdirinya PT. Dwi Putra Jasa Prima.
2. Gedung
Merupakan bangunan yang dimiliki dan digunakan sebagai tempat dilakukannya kegiatan – kegiatan operasional PT. Dwi Putra Jasa Prima. 3. Peralatan kantor
Merupakan aset yang dimiliki dan digunakan sebagai alat penunjang kegiatan operasional perusahaan yang bersifat rutin atau sehari – hari.
4. Peralatan lapangan
Merupakan aset yang dimiliki dan digunakan sebagai alat yang dimanfaatkan oleh karyawan dalam menjalan tugas – tugas yang harus dilakukan dalam melakukan kegiatan usaha perusahaan.
5. Mesin
Merupakan aset yang dimiliki dan digunakan dalam mendukung kegiatan operasional perusahaan (equipment supply).
56 6. Kendaraan
Merupakan aset atau fasilitas yang dimiliki dan digunakan oleh perusahaan sebagai alat transportasi dalam membantu kegiatan operasiaonal perusahaan.
Berikut adalah daftar aset – aset yang dimiliki oleh PT. Dwi Putra Jasa Prima selama tahun 2011, antara lain:
TABEL 4
DAFTAR KEPEMILIKAN ASET TETAP PERUSAHAAN
No Jenis Jumlah Satuan Kondisi Lokasi Ket. 1 TANAH
Tanah 1 Bidang Baik Kantor
Tanah 1 Bidang Baik Lapangan
2 GEDUNG/BANGUNAN
Gedung kantor 1 Unit Baik Kantor
Gedung workshop 1 Unit Baik Lapangan 3 PERALATAN KANTOR
Komputer 3 Unit Baik Kantor
Printer 3 Unit Baik Kantor
Scanner 1 Unit Baik Kantor
Proyektor LCD 1 Unit Baik Kantor
Meja 7 Buah Baik Kantor
Kursi 10 Buah Baik Kantor
Lemari 4 Buah Baik Kantor
Papan tulis 2 Buah Baik Kantor
Telepon 2 Buah Baik Kantor
Faximile 1 Buah Baik Kantor
4 PERALATAN LAPANGAN
57
Fogging 5 Buah Baik Lapangan
Arit 4 Buah Baik Lapangan
Gunting rumput 6 Buah Baik Lapangan
Vacuum cleaner 3 Buah Baik Kantor
Mesin pel (polisher) 1 Buah Baik Kantor 5 MESIN
Mesin Workshop 1 Unit Baik Lapangan
6 KENDARAAN
Mobil 1 Unit Baik Lapangan
Mobil bak 1 Unit Baik Lapangan
Truk tangki air 2 Unit Baik Lapangan
Motor 2 Unit Baik Lapangan
7 LAINNYA
Sumber: PT. Dwi Putra Jasa Prima
Berdasarkan pengklasifikasian aset tetap yang dilakukan oleh PT. Dwi Putra Jasa Prima, maka dapat diambil kesimpulan bahwa PT. Dwi Putra Jasa Prima telah mengelompokkan aset – aset sesuai dengan PSAK No.16 (revisi 2007). Perusahaan mengakui aset sebagai aset yang dimiliki dengan ketentuan bahwa aset yang dimiliki atau yang diperoleh adalah aset yang memiliki masa manfaat dan memberikan manfaat ekonomis kepada perusahaan lebih dari satu periode. Aset tetap yang dimiliki PT. Dwi Putra Jasa Prima digunakan untuk menjalankan kegiatan usaha perusahaan guna menghasilkan barang atau jasa yang perusahaan tawarkan atau jual kepada klien maupun untuk kebutuhan administratif perusahaan.
58 IV.2 Pengakuan Aset Tetap
Berkenaan pada poin penggolongan aset tetap, PT. Dwi Putra Jasa Prima telah melakukan pengakuan aset tetap sesuai dengan syarat – syarat SAK dalam hal – hal apa saja yang menjadikan suatu benda atau aset dinyatakan sebagai suatu aset tetap. Pada tahap lebih lanjut, PT. Dwi Putra Jasa Prima melakukan pengukuran pengakuan awal atas aset tersebut. Suatu benda dikatakan berpindah hak dan kewajibannya apabila didukung dengan bukti – bukti atau dokumentasi yang jelas dan sah.
Dalam memperoleh aset, PT. Dwi Putra Jasa Prima membelinya dari pihak lain, bukan dengan cara memproduksinya. Adapun barang – barang yang diproduksi oleh PT. Dwi Putra Jasa Prima adalah barang – barang pesanan klien terkait dengan posisi perusahaan sebagai equipment supplier.
Perolehan suatu aset dapat dilakukan dengan dua cara, yakni secara tunai dan kredit. Adapun PT. Dwi Putra Jasa Prima melakukan pembelian aset secara tunai apabila suatu aset yang akan dibeli tersebut memiliki harga beli yang relatif ringan/terjangkau dan sifatnya digunakan untuk keperluan sehari – hari, seperti peralatan kantor.
PT. Dwi Putra Jasa Prima mengemukakan adanya pertimbangan – pertimbangan pembelian secara tunai dikarenakan terdapat keuntungan atau manfaat tersendiri bagi perusahaan, antara lain:
1. Biaya atau kas yang dikeluarkan lebih sedikit atau ringan. 2. Mendapat potongan harga atas aset yang dibeli.
3. Mampu menekan pengeluaran perusahaan.
59 Berikut adalah aset – aset yang diperoleh PT. Dwi Putra Jasa Prima dengan cara pembelian tunai selama tahun 2011:
TABEL 5
PEMBELIAN TUNAI – TAHUN 2011
Tanggal Akun Debit Kredit
3 Feb 2011 Vacuum cleaner 1,580,000 -
Kas - 1,580,000
5 Mar 2011 Arit 32,500 -
Kas - 32,500
14 Apr 2011 Lemari 3 pintu Fazt 3,450,000 -
Kas - 3,450,000
29 Apr 2011 Pemotong rumput – Bosch ART 23 735,000 -
Kas - 735,000
4 Mei 2011 Alat fogging 967,000 -
Kas - 967,000
23 Mei 2011 Meja 756,000 -
Kas - 756,000
1 Juni 2011 Gunting rumput – 2 buah 188,000 -
Kas - 188,000
15 Juni 2011 Arit 32,500 -
Kas - 32,500
2 Juli 20011 Sepatu boots – 4 pasang 942,000 -
60 3 Juli 2011 Seragam karyawan – 4 setel 1,302,000 -
Kas - 1,302,000
7 Agst 2011 Printer Canon MP 258 375,000 -
Kas - 375,000
11 Sept 2011 Telepon Sahitel 255,000 -
Kas - 255,000
6 Okt 2011 Safety helm lokal – 12 buah 210,000 -
Kas - 210,000
1 Nov 2011 Lampu WD E 40 – 2 buah 454,000 -
Kas - 454,000
13 Des 2011 Modem Smartfren AC682 UI 200,000 -
Kas - 200,000
Sumber: PT. Dwi Putra Jasa Prima
Selain transaksi secara tunai, perusahaan juga tentunya melakukan transaksi secara kredit. Perusahaan melakukan pembelian secara kredit apabila harga suatu barang tersebut terbilang cukup/relatif mahal. Dengan pembelian secara kredit, artinya tidak banyak uang yang harus dikeluarkan pada saat itu untuk jumlah yang akan dibayarkan sehingga perusahaan masih mempunyai kas untuk memenuhi kebutuhan operasional dan non – operasional perusahaan. Adapun model penjurnalan pembelian mesin workshop tanggal 2 Januari 2011 dengan seharga Rp. 207,000,000,- yang dilakukan oleh perusahaan adalah:
61
Mesin workshop 207.000.000
Hutang usaha 207.000.000
Hutang dagang dicatat sebesar harga pokok mesin senilai Rp. 207.000.000. Selanjutnya, pencatatan hutang yang disertai dengan adanya penyerahan uang muka dihitung dengan cara mengalikan total harga pembelian dengan besarnya uang muka yang akan diserahkan, yaitu 35% merupakan kas yang dikeluarkan perusahaan. Berikut adalah jurnal yang harus dicatat perusahaan terkait pembelian disertai uang muka sebesar 35% dari total harga:
Mesin workshop 207.000.000
Hutang usaha 134.550.000
Kas 72.450.000
Pada tanggal 31 Desember 2011, perusahaan melakukan pembayaran angsuran pertama dari 5 tahun masa kredit. Sisa hutang usaha per tahunnya akan dijumlahkan dengan bunga kedit sebesar 3,5% dari harga mesin. Berikut adalah perhitungan pembayaran angsuran beserta jurnalnya:
1. Angsuran tahun 1
Angsuran pertama Rp. 26.910.000
Beban bunga (Rp.134.550.000 × 3,5%) Rp. 4.709.250 +
62 Akun yang harus dicatat adalah:
Hutang usaha 26.910.000 Beban bunga 4.709.250 Kas 31.619.250 2. Angsuran tahun 2 Angsuran kedua Rp. 26.910.000 Beban bunga (Rp. 107.640.000 × 3,5%) Rp. 3.767.400 +
Total pembayaran angsuran Rp. 30.677.400
Akun yang harus dicatat adalah:
Hutang usaha 26.910.000 Beban bunga 3.767.400 Kas 30.677.400 3. Angsuran tahun 3 Angsuran ketiga Rp. 26.910.000 Beban bunga (Rp. 80.730.000 × 3,5%) Rp. 2.825.550 +
Total pembayaran angsuran Rp. 29.735.550
Akun yang harus dicatat adalah:
Hutang usaha 26.910.000
Beban bunga 2.825.550
63 4. Angsuran tahun 4
Angsuran keempat Rp. 26.910.000
Beban bunga (Rp. 53.820.000 × 3,5%) Rp. 1.883.700 +
Total pembayaran angsuran Rp. 28.793.700
Akun yang harus dicatat adalah:
Hutang usaha 26.910.000 Beban bunga 1.883.700 Kas 28.793.700 5. Angsuran tahun 5 Angsuran ketiga Rp. 26.910.000 Beban bunga (Rp. 26.910.000 × 3,5%) Rp. 941.850 +
Total pembayaran angsuran Rp. 27.852.850
Akun yang harus dicatat adalah:
Hutang usaha 26.910.000
Beban bunga 941.850
Kas 27.852.850
Namun, kasus yang terjadi sebenarnya adalah PT. Dwi Putra Jasa Prima melakukan perhitungan pembelian kredit secara berbeda, yakni dengan mengalikan terlebih dahulu harga pokok dengan tingkat bunga kredit, kemudian hasilnya akan dibagi sebanyak tahun angsuran yakni 5 tahun sehingga
64 perhitungan yang dihasilkan adalah berbeda dari umumnya. Berikut adalah cara perhitungan yang dilakukan oleh PT. Dwi Putra Jasa Prima:
Mesin Rp. 207.000.000
Beban bunga (Rp. 207.000.000 × 3,5%) Rp. 7.245.000 +
Total hutang usaha Rp 214.245.000
Jadi, hutang usaha per tahun atas pembelian mesin yang dilakukan oleh PT. Dwi Putra Jasa Prima adalah sebesar Rp. 42.849.000 (Rp. 214.245.000 ÷ 5). Dimana jumlah tersebut sudah termasuk beban bunga yang diakui oleh perusahaan tiap pembayarannya (tiap tahunnya) adalah Rp. 1.449.000 (Rp. 7.245.000 ÷ 5). Jurnal yang dicatat oleh perusahaan adalah:
1. Pembelian mesin
Mesin 214.245.000
Hutang usaha 214.245.000 2. Pembayaran angsuran tiap tahunnya
Hutang usaha 41.400.000
Beban bunga 1.449.000
Kas 42.849.000
Berdasarkan data yang diperoleh dari PT. Dwi Putra Jasa Prima, harga perolehan yang diakui oleh perusahaan adalah harga pokok aset tersebut ditambah dengan beban bunga. Perusahaan mengakui aset tersebut cukup dengan tercatatnya harga pokok aset dan bunga yang dikenakan atas adanya transaksi kredit. Sedangkan untuk biaya yang dapat diatribusikan secara langsung seperti
65 biaya pengangkutan, biaya instalasi, dan lainnya, dimasukkan ke dalam biaya lain – lain. Sehingga, perusahaan akan mencatat akun berikut apabila terdapat biaya – biaya atribusi perolehan aset:
Biaya lain – lain – pengangkutan 155.000
Kas 155.000
Menurut PSAK No.16 (revisi 2007), biaya perolehan aset tetap meliputi bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan, biaya pengangkutan aset ke lokasi, biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi aset. Biaya – biaya tersebut harus diakui karena perusahaan menggunakan aset tersebut selama periode tertentu untuk tujuan selain untuk menghasilkan persediaan.
Dalam pencatatan dan/atau pengklasifikasian biaya – biaya perolehan (atribusi) PT. Dwi Putra Jasa Prima belum mengikuti standar yang diberlakukan PSAK No.16 (revisi 2007). Biaya pengangkutan, pajak, dan instalasi seharusnya dijadikan sebagai harga perolehan suatu aset yang dibeli.
PT. Dwi Putra Jasa Prima melakukan pencatatan/pendaftaran aset yang dimilikinya tanpa mencantumkan harga perolehan aset tersebut seperti yang telah penulis sajikan pada subbab IV.1 Penggolongan Aset Tetap (Tabel 4 – Daftar Kepemilikian Aset Perusahaan). Jenis aset yang serupa dikelompokkan menjadi satu tanpa adanya rincian tahun pembelian dan harga perolehan tiap unitnya. Hal tersebut bersifat penting karena perusahaan dapat mengestimasi penyusutan aset sesaat setelah perusahaan membeli aset tersebut. Apabila perusahaan melakukan
66 inventarisasi seperti yang telah diterapkan, maka perusahaan akan mengalami kesulitan dalam mengestimasi penyusutan seperti memerlukan bukti – bukti pembelian untuk melihat tahun pembelian dan harga perolehannya.
IV.3 Pengukuran Aset Tetap
Berdasarkan kebijakan akuntansi yang dikemukakan perusahaan kepada peneliti, perusahaan menggunakan metode biaya dalam melakukan pengukuran aset yang diperolehnya. Namun, sehubungan dengan subbab pengakuan awal aset, perusahaan belum menerapkan pengalokasian secara tepat terhadap biaya – biaya perolehan aset, sehingga hal tersebut akan secara langsung mempengaruhi kepada pengukuran aset karena biaya perolehan yang akan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi penurunan nilai adalah tidak andal untuk digunakan sebagai data dalam pencatatan nilai ekonomis suatu aset. Berikut adalah pengkuran cost method yang dilakukan PT. Dwi Putra Jasa Prima dengan asumsi akumulasi penurunan nilai sebesar Rp. 20.000.000 adalah sebagai berikut:
Harga perolehan 214.245.000
Akumulasi beban penyusutan 26.780.625 Akumulasi penurunan nilai 20.000.000 +
Total akumulasi 46.780.625 –
67 Sedangkan berikut adalah pengukuran apabila perusahaan telah mengalokasikan biaya – biaya perolehan aset secara tepat dengan asumsi biaya pengangkutan aset sebesar Rp. 800.000 dan biaya instalasi sebesar Rp. 1.500.000 adalah sebagai berikut:
Harga perolehan 216.545.000
Akumulasi beban penyusutan 27.068.125 Akumulasi penurunan nilai 20.000.000 +
Total akumulasi 47.068.125 –
Harga jual 189.476.875
Berdasarkan hasil perbandingan yang dilakukan oleh PT. Dwi Putra Jasa Prima dengan PSAK No.16 (revisi 2007), jelas terlihat perbedaan terhadap hasil akhir pengukuran. Perusahaan yang memasukkan biaya pengangkutan dan biaya instalasi tentunya memiliki harga perolehan yang lebih tinggi, sehingga pada saat diukur, aset tersebut akan memiliki nilai yang lebih menguntungkan bagi perusahaan apabila biaya – biaya tersebut dimasukkan sebagai biaya perolehan. Berdasarkan aspek tersebut, perusahaan belum secara maksimal menerapkan cost method karena adanya pengaruh dari salahnya alokasi biaya – biaya perolehan yakni tidak dimasukkan sebagai biaya perolehan aset, namun penggunaan rumus cost method oleh perusahaan sudah benar yaitu dengan rumus: biaya perolehan – (akumulasi penyusutan + akumulasi penurunan nilai).
68 IV.4 Penyusutan Aset Tetap
Berbagai metode penyusutan dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengalokasikan jumlah yang disusutkan secara sistematis dari suatu aset selama umur masa manfaatnya. Metode tersebut antara lain: metode garis lurus (straight line method), metode saldo menurun (diminishing balance method), dan metode jumlah unit (sum of the unit method). Metode yang diterapkan oleh perusahaan harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Banyak perusahaan yang menerapkan metode garis lurus dikarenakan mudah pengimplementasiannya.
PT. Dwi Putra Jasa Prima menyatakan bahwa mereka menerapkan metode garis lurus. Penulis menemukan kecanggungan dalam metode penyusutan yang dilakukan oleh perusahaan. Dalam menghitung nilai akumulasinya, perusahaan tidak menyertakan masa manfaat suatu aset. Perusahaan langsung mengalikan harga perolehan aset dengan tarif penyusutan dan tidak menghitung dari harga perolehan per unitnya, melainkan total harga perolehan dari tiap kelompok aset. Perusahaan menerapkan metode tersebut untuk tahun fiskal. Dengan penerapan seperti itu, nilai penyusutan akan jauh lebih besar daripada sebenarnya dan nilai yang dihasilkan tidak akan menjadi data yang andal. Berikut adalah cara perhitungan penyusutan yang lakukan oleh PT. Dwi Putra Jasa Prima untuk tahun fiskal yang akan disajikan pada tabel berikut ini:
70 Berdasarkan tabel yang disajikan, terlihat perusahaan tidak menerapkan metode garis lurus secara tepat. Perusahaan tidak menghitung besarnya penyusutan secara unit per unit (spesifik), namun total jumlah unit. Nilai yang akan dihasilkan tidak dapat diandalkan karena aset – aset yang dibeli berasal dari tahun yang berbeda – beda, sedangkan perusahaan hanya mencantumkan tahun berdasarkan banyaknya rata – rata aset tersebut dibeli.
Suatu aset dapat disusutkan berdasarkan besarnya harga perolehan, estimasi nilai sisa, dan masa manfaat. Masa manfaat suatu aset sangat berpengaruh terhadap perhitungan penyusutan. Perusahaan harus secara tepat menentukan estimasi masa manfaat aset yang dimiliki. PT. Dwi Putra Jasa Prima menentukan masa manfaat aset – aset yang dimiliki sebagai berikut:
TABEL 7
MASA MANFAAT ASET TETAP PERUSAHAAN
Jenis Aset Masa Manfaat (tahun)
Gedung 20 – 25
Peralatan kantor 2 – 4
Peralatan lapangan 4 – 6
Mesin 8 – 10
Kendaraan 6 – 8
71 Umur ekonomis (masa manfaat) suatu aset dapat dinyatakan baik berdasarkan estimasi waktu dan penggunaan. Faktor waktu dapat berupa periode bulanan atau tahunan, sedangkan penggunaan dapat berupa jam operasional dan jumlah output yang dihasilkan oleh aset tersebut. Berdasarkan waktu yang dilalui atau tingkat penggunaan inilah alokasi terhadap nilai perolehan aset dilakukan dengan suatu tarif alokasi yang telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan. Cara penentuan estimasi masa manfaat adalah berdasarkan pertimbangan pribadi dari pihak manajemen (subyektif).
Berdasarkan tabel penyusutan, tentunya perusahaan tidak menerapkan standar penyusutan yang ditetapkan dalam PSAK No.16 (revisi 2007). Adapun cara perhitungan penyusutan metode garis lurus yang ditetapkan PSAK No.16 (revisi 2007) dengan asumsi bahwa harga perolehan suatu kendaraan yang sebesar Rp. 176.000.000 adalah sebagai berikut:
Depresiasi = Harga perolehan – nilai residu Masa manfaat
= 176.000.000 – 110.650.000 8
= Rp. 8.168.750 per tahun
Sedangkan untuk perhitungan penyusutan atas mesin adalah:
Depresiasi = Harga perolehan – nilai residu Masa manfaat
= 214.245.000 – 85.632.000 10
72 Terlihat sebagai perbandingan, terbukti bahwa besarnya penyusutan atas mesin adalah jauh lebih rendah dibandingkan dengan cara penyusutan yang dilakukan oleh perusahaan. Dengan penerapan yang tepat, perusahaan dapat memperoleh laba yang lebih besar karena beban depresiasi yang akan dikeluarkan lebih rendah.
PT. Dwi Putra Jasa Prima menggunakan metode garis lurus dengan alasan karena prosedurnya yang mudah. Hal ini tidaklah bertentangan dengan PSAK, namun dalam kenyataannya perusahaan telah salah dalam penerapannya. Dengan tidak tepatnya pengalokasian harga perolehan aset ke periode akuntansi, maka aset yang diperoleh kurang memberikan manfaat bagi perusahaan.
Yang perlu dilakukan oleh perusahaan adalah mengalokasikan harga perolehan aset tetap ke setiap periode akuntansi di mana aset tetap tersebut telah memberikan kontribusi kepada perusahaan sehingga perusahaan dapat memberikan keterangan yang benar mengenai aset tetap yang dimilikinya dan laporan keuangan perusahaan dapat disajikan secara wajar dan andal.
Dalam penerapan metode garis lurus, perusahaan perlu memperhatikan beberapa hal dalam menyusutkan aset tetap yang dimiliki agar nilai penyusutan yang hitung sesuai dengan manfaat yang telah diberikan. Adapun yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Tingkat penggunaan aset, baik yang relatif rutin maupun yang digunakan tergantung kebutuhan.
73 3. Biaya reparasi dan pemeliharaan tiap – tiap periode.
Dilihat dari hal – hal yang perlu diperhatikaan, maka metode penyusutan garis lurus lebih cocok untuk perusahaan yang frekuensi produksinya relatif stabil dari periode ke periode. Sehingga yang perlu dilakukan oleh perusahaan adalah melihat produksi yang dihasilkan tiap periodenya agar dapat memilih metode penyusutan yang lebih tepat, apabila produksi relatif stabil, maka perusahaan lebih baik menggunakan metode garis lurus, apabila produksi atau kontribusi jasa yang diberikan aset relatif mengalami penurunan, maka perusahaan lebih baik menggunakan metode saldo menurun, dan apabila produksi dipengaruhi faktor frekuensi pengunaan relatif berfluktuasi, maka perusahaan sebaiknya menerapkan metode jumlah unit.
Berdasarkan data yang diperoleh, perusahaan belum menerapkan metode garis lurus secara benar, karena dalam tabel penyusutan yang disajikan, perusahaan menyatukan tahun perolehan untuk aset yang sejenis. Sehingga penetapan masa manfaat yang dimiliki suatu aset belum teridentifikasi secara penuh oleh perusahaan. Sedangkan dalam tabel daftar kepemilikan aset tetap, perusahaan juga tidak mencantumkan bulan dan tahun perolehan aset, sehingga hal ini akan semakin menyulitkan bagi para pihak yang bersangkutan dan/atau pihak yang membutuhkan informasi terkait operasi dan kepemilikan aset perusahaan.
74 IV.4.1 Pencatatan Penyusutan Aset Tetap
Perusahaan mencatat penyusutan aset segera setelah aset tersebut dibukukan. Tabel penyusutan yang disajikan oleh perusahaan menyediakan data terkait aset yang disusutkan, antara lain meliputi: harga perolehan, tarif penyusutan, tahun perolehan, beban penyusutan, dan nilai buku aset yang disusutkan. Dalam perhitungannya, aspek – aspek yang dihitung dalam penyusutan adalah hanya harga perolehan dengan tarif penyusutan per tahunnya, tanpa menyertai masa manfaat yang dimiliki oleh aset.
Nilai sisa yang dimiliki suatu aset perusahaan, merupakan cerminan nilai aset tersebut pada akhir masa manfaat. Suatu aset dapat memiliki nilai sisa dalam jumlah uang tertentu atau memiliki kemungkinan bahwa suatu aset memiliki nilai sisa sebesar nol apabila suatu aset melakukan produksi secara maksimal sehingga keausan aset sangat besar dan/atau keusangan aset dalam waktu yang sangat lama.
Hal tersebut tidak menjadi masalah bagi perusahaan, namun langkah yang lebih baik adalah perusahaan dapat memperkirakan nilai sisa suatu aset yang telah habis masa manfaatnya agar perusahaan dapat menjual aset tersebut atau menukarnya dengan aset lain yang sejenis maupun tidak sejenis namun memiliki nilai ekonomis yang seimbang.
Perusahaan melakukan penyusutan pada saat aset tersebut mulai digunakan untuk kegiatan operasional atau produksi perusahaan. Aset yang sudah digunakan berarti telah memakan energi dan biaya yang butuhkan untuk
75 aset tersebut guna menghasilkan produk dan/atau jasa yang menjadi sumber penghasilan perusahaan. Aset yang sudah digunakan juga memerlukan biaya terkait perawatan agar aktivitas operasi aset berjalan lancar sehingga tidak mengganggu kegiatan usaha perusahaan.
Berikut merupakan tabel penyusutan metode garis lurus untuk masing – masing kelompok aset tetap yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan dengan contoh yang didasarkan oleh data aset yang dimiliki oleh perusahaan:
Gedung
Pada tahun 2011, gedung yang dimiliki oleh perusahaan memiliki harga perolehan sebesar Rp. 172.500.000 dan nilai residu sebesar Rp. 54.776.500. Gedung tersebut memiliki sisa masa manfaat selama 18 tahun yang mana gedung diperoleh pada tahun 2004 dengan masa manfaat 25 tahun. Adapun depresiasi yang harus diakui oleh perusahaan sampai tahun 2029 adalah sebagai berikut:
Depresiasi =
Harga perolehan – nilai residu Masa manfaat
= 172.500.000 – 54.776.500 25
76 TABEL 8
DEPRESIASI METODE GARIS LURUS – GEDUNG
Masa
Manfaat Tahun
Beban Penyusutan
Akumulasi
Penyusutan Nilai Buku
0 2004 Rp. 172,500.000,00 1 2005 Rp. 4.708.940,00 Rp. 4.708.940,00 167.791.060,00 2 2006 4.708.940,00 9.417.880,00 163.082.120,00 3 2007 4.708.940,00 14.126.820,00 158.373.180,00 4 2008 4.708.940,00 18.835.760,00 153.664.240,00 5 2009 4.708.940,00 23.544.700,00 148.955.300,00 6 2010 4.708.940,00 28.253.640,00 144.246.360,00 7 2011 4.708.940,00 32.962.580,00 139.537.420,00 8 2012 4.708.940,00 37.671.520,00 134.828.480,00 9 2013 4.708.940,00 42.380.460,00 130.119.540,00 10 2014 4.708.940,00 47.089.400,00 125.410.600,00 11 2015 4.708.940,00 51.798.340,00 120.701.660,00 12 2016 4.708.940,00 56.507.280,00 115.992.720,00 13 2017 4.708.940,00 61.216220,00 111.283.780,00 14 2018 4.708.940,00 65.925.160,00 106.574.840,00 15 2019 4.708.940,00 70.634.100,00 101.865.900,00 16 2020 4.708.940,00 75.343.040,00 97.156.960,00 17 2021 4.708.940,00 80.051.980,00 92.448.020,00
77 18 2022 4.708.940,00 84.760.920,00 87.739.080,00 19 2023 4.708.940,00 89.469.860,00 83.030.140,00 20 2024 4.708.940,00 94.178.800,00 78.321.200,00 21 2025 4.708.940,00 98.887.740,00 73.612.260,00 22 2026 4.708.940,00 103.596.680,00 68.903.320,00 23 2027 4.708.940,00 108.305.620,00 64.194.380,00 24 2028 4.708.940,00 113.014.560,00 59.485.440,00 25 2029 4.708.940,00 117.723.500,00 54.776.500,00
Jurnal yang dicatat oleh perusahaan untuk penyusutan gedung setiap tahunnya adalah sebagai berikut:
Beban penyusutan 4.708.940
Akumulasi penyusutan 4.708.940
Peralatan Kantor
Di tahun 2011, tercatat bahwa peralatan kantor memiliki harga perolehan sebesar Rp. 41.500.000 dan nilai residu Rp. 11.653.210. Peralatan kantor yang diperoleh pada tahun 2010 ini memiliki masa manfaat 4 tahun. Adapun perhitungan penyusutan, tabel depresiasi hingga akhir masa manfaat, dan jurnal yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:
78 Depresiasi =
Harga perolehan – nilai residu Masa manfaat
= 41.500.000 – 11.653.210 3
= Rp. 7.461.697,50 per tahun
TABEL 9
DEPRESIASI METODE GARIS LURUS – PERALATAN KANTOR
Masa
Manfaat Tahun
Beban Penyusutan
Akumulasi
Penyusutan Nilai Buku
0 2010 Rp. 41.500.000,00
1 2011 Rp. 7.461.697,50 Rp. 7.461.697,50 34.038.302,50 2 2012 7.461.697,50 14.923.395,00 26.576.605,00 3 2013 7.461.697,50 22.385.092,50 19.114.907,50 4 2014 7.461.697,50 9.846.790,00 11.653.210,00
Jurnal yang dicatat oleh perusahaan untuk penyusutan terkait peralatan kantor setiap tahunnya:
Beban penyusutan 7.461.697,50
79
Peralatan Lapangan
Perusahaan memiliki peralatan lapangan dengan harga perolehan sebesar Rp. 19.754. dengan nilai residu sebesar Rp. 6.900.550. Aset diperoleh terhitung tahun 2010 (6 tahun total masa manfaat). Maka, berikut adalah perhitungan penyusutan, tabel penyusutan hingga akhir masa manfaat, dan jurnal yang harus dicatat:
Depresiasi =
Harga perolehan – nilai residu Masa manfaat
= 19.754.000 – 6.900.550 5
= Rp. 2.142.241,67 per tahun
TABEL 10
DEPRESIASI METODE GARIS LURUS – PERALATAN LAPANGAN
Masa
Manfaat Tahun
Beban Penyusutan
Akumulasi
Penyusutan Nilai Buku
0 2010 Rp. 19.754.000,00 1 2011 Rp. 2.142.241,67 Rp. 2.142.241,67 17.611.758,33 2 2012 2.142.241,67 4.284.483,33 15.469.516,67 3 2013 2.142.241,67 6.426.725,00 13.327.275,00 4 2014 2.142.241,67 8.568.966,67 11.185.033,33 5 2015 2.142.241,67 10.711.208,33 9.042.791,67 6 2016 2.142.241,67 12.853.450,00 6.900.550,00
80 Jurnal yang dicatat oleh perusahaan untuk penyusutan polisher setiap tahunnya:
Beban penyusutan 2.142.241,67
Akumulasi penyusutan 2.142.241,67
Mesin
Tahun 2011, perusahaan membeli mesin workshop baru dengan harga senilai Rp. 214.245.000. Perusahaan memperkirakan bahwa mesin tersebut akan dihentikan operasinya pada tahun 2021 atau 10 tahun masa manfaat. Nilai buku yang akan dimiliki aset tersebut adalah sebesar Rp. 85.632.000. Berikut adalah perhitungan beban depresiasi dan jurnal yang akan dicatat oleh perusahaan:
Depresiasi =
Harga perolehan – nilai residu Masa manfaat
= 214.245.000 – 85.632.000 10
81 TABEL 11
DEPRESIASI METODE GARIS LURUS – MESIN
Masa
Manfaat Tahun
Beban Penyusutan
Akumulasi
Penyusutan Nilai Buku
0 2011 Rp. 214.245.000,00 1 2012 Rp. 12.861.300,00 Rp. 12.861.300,00 201.383.700,00 2 2013 12.861.300,00 25.722.600,00 188.522.400,00 3 2014 12.861.300,00 38.583.900,00 175.661.100,00 4 2015 12.861.300,00 51.445.200,00 162.799.800,00 5 2016 12.861.300,00 64.306.500,00 149.938.500,00 6 2017 12.861.300,00 77.167.800,00 137.077.200,00 7 2018 12.861.300,00 90.029.100,00 124.215.900,00 8 2019 12.861.300,00 102.890.400,00 111.354.600,00 9 2020 12.861.300,00 115.751.700,00 98.493.300,00 10 2021 12.861.300,00 128.613.000,00 85.632.000,00
Jurnal yang dicatat oleh perusahaan untuk penyusutan mesin setiap tahunnya:
Beban penyusutan 12.861.300
82
Kendaraan
Perusahaan mencatat harga perolehan atas kendaraan yang dimiliki perusahaan adalah senilai Rp. 639.630.000 dengan masa manfaat selama 8 tahun. Kendaraan tercatat memiliki nilai residu sebesar Rp. 254.450.300. Perusahaan perlu menghitung beban penyusutan per tahun, penyusutan hingga masa manfaat habis, dan jurnal yang akan dicatat seperti berikut ini:
Depresiasi =
Harga perolehan – nilai residu Masa manfaat
= 639.630.000 – 254.450.300 8
= Rp. 48.147.462,50 per tahun
TABEL 12
DEPRESIASI METODE GARIS LURUS – KENDARAAN
Masa
Manfaat Tahun
Beban Penyusutan
Akumulasi
Penyusutan Nilai Buku
0 2010 Rp. 639.630.000,00 1 2011 Rp. 48.147.462,50 Rp. 48.147.462,50 591.482.537,50 2 2012 48.147.462,50 96.294.925,00 543.335.075,00 3 2013 48.147462,50 144.442.387,50 495.187.612,50 4 2014 48.147.462,50 192.589.850,00 447.040.150,00 5 2015 48.147.462,50 240.737.312,50 398.892.687,50
83 6 2016 48.147.462,50 288.884.775,00 350.745.225,00 7 2017 48.147.462,50 337.032.237,50 302.597.762,50 8 2018 48.147.462,50 385.179.700,00 254.450.300,00
Jurnal yang dicatat oleh perusahaan untuk penyusutan kendaraan setiap tahunnya:
Beban penyusutan 48.147.462,50
Akumulasi penyusutan 48.147.462,50
Dengan telah dilakukannya perhitungan penyusutan dan membuat tabel penyusutan hingga masa manfaat berakhir, berarti perusahaan dapat menghitung tarif penyusutan aset untuk setiap tahunnya. Adapun rumus untuk menghitung tarif depresiasi adalah: 100% ÷ estimasi masa manfaat. Maka, berikut adalah besarnya tarif penyusutan yang dapat diberlakukan oleh perusahaan untuk aset – aset yang telah dibahas sebelumnya, antara lain:
a. Gedung kantor
100% ÷ 25 tahun = 4%
b. Peralatan kantor (proyektor LCD) 100% ÷ 4 tahun = 25%
c. Peralatan lapangan (polisher) 100% ÷ 6 tahun = 16,67% d. Mesin
84 e. Kendaraan (mobil)
100% ÷ 8 tahun = 12,5%
Pada tabel penyusutan yang disajikan oleh perusahaan, terlihat bahwa tarif yang dikenakan oleh perusahaan untuk penyusutan aset besarnya adalah sama, yakni 12,5%. Hal tersebut dinilai tidak efektif karena operasi yang dilakukan oleh tiap – tiap aset tentunya berbeda. Ada aset yang beroperasi secara rutin setiap jam dan/atau setiap harinya, adapula aset yang digunakan apabila diperlukan operasinya oleh perusahaan.
Apabila setiap aset dikenakan tarif penyusutan yang sama, maka nilai penyusutan yang dihitung dan yang telah dialokasikan oleh perusahaan adalah tidak proporsional. Misal, gedung kantor yang seharusnya disusutkan sebesar 4%, ternyata disusutkan sebesar 12,5% yang artinya nilai penyusutan untuk gedung adalah jauh lebih besar dari yang seharusnya, hal tersebut dapat menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan karena beban penyusutan yang dikeluarkan adalah melebihi dari harga perolehan gedung tersebut.
IV.4.2 Revaluasi
PSAK memperbolehkan setiap entitas untuk melakukan revaluasi aset pada harga pasar saat tanggal pelaporan. Perusahaan yang menerapkan revaluasi harus mengikuti peraturan atau prosedur revaluasi yang berlaku umum. Apabila revaluasi telah diterapkan oleh perusahaan, maka sebaiknya metode revaluasi tersebut harus diterapkan pula pada seluruh aset yang dimiliki oleh perusahaan.
85 Untuk aset yang mampu mengalami perubahan harga yang cepat, seperti tanah dan gedung, harus dilakukan revaluasi setiap tahun. Namun di sisi lain, revaluasian dengan frekuensi tertentu juga disalahkan, seperti revaluasi yang dikenakan pada aset yang perubahan harganya tidak begitu cepat, seperti peralatan.
Aset – aset dalam satu kelompok aset tetap harus direvaluasi secara bersamaan untuk menghindari revaluasi aset secara selektif dan bercampurnya biaya perolehan dan nilai lainnya pada saat yang berbeda – beda. Namun, suatu kelompok aset dapat direvaluasi secara bergantian (rolling basis) sepanjang revaluasi dari kelompok aset tersebut dapat diselesaikan secara lengkap dalam waktu yang singkat dan sepanjang revaluasi dimutakhirkan.
Pada kenyataannya, PT. Dwi Putra Jasa Prima belum menerapkan revaluasi pada aset – aset yang dimilikinya. Perusahaan belum melakukan revaluasi pada aset yang memiliki tingkat perubahan harga yang cepat, stabil, maupun yang lambat. Perusahaan memilih model biaya karena sifatnya yang lebih mudah untuk digunakan dibandingkan dengan model revaluasi. Hal ini tidaklah menyalahi aturan PSAK No.16, karena seperti yang dijelaskan sebelumnya, PSAK memberikan kebebasan kepada setiap entitas dalam menentukan model pengakuan biaya terhadap aset yang diakuisisinya. Apabila perusahaan mengubah kebijakan akuntansi dari model biaya ke model revaluasi dalam pengukuran aset tetap, maka perubahan tersebut berlaku prospektif.
86 IV.4.3 Pengeluaran Selama Masa Manfaat
Selama masa manfaat suatu aset, tentunya membutuhkan biaya – biaya yang dikeluarkan untuk menunjang kelangsungan hidup aset tersebut, seperti reparasi, penambahan, dan/atau peningkatan kualitas aset. Reparasi biasanya dilakukan oleh perusahaan apabila suatu aset mengalami penurunan fungsi dari yang semestinya. Jumlah yang dikeluarkan relatif, bergantung pada kondisi mesin yang akan direparasi.
Reparasi dengan biaya yang relatif kecil biasanya disebut sebagai perawatan/pemeliharaan (maintenance), yakni aktivitas rutin yang dilakukan perusahaan guna memelihara fungsi/kinerja yang diberikan oleh aset dalam membantu kegiatan operasional dan produksi perusahaan. Reparasi besar membutuhkan jumlah yang tidak sedikit, karena biasanya melibatkan komponen inti suatu aset yang mana sangat berpengaruh terhadap kinerja aset tersebut. Reparasi – reparasi tersebut sangat berpengaruh pada kegiatan penambahan dan peningkatan kualitas aset, karena terdapat benang merah antara reparasi – penambahan – peningkatan kualitas aset. Apabila suatu aset telah dilakukan reparasi, tentunya terdapat komponen – komponen aset yang harus diganti dan membeli komponen – komponen yang baru guna meningkatkan kualitas aset yang dimiliki.
Pada laporan keuangan rugi laba, PT. Dwi Putra Jasa Prima memasukkan akun biaya reparasi, pemeliharaan, renovasi ke dalam akun yang namakan sebagai “biaya kelengkapan dan peralatan”. Alasan perusahaan penggunaan
87 nama akun “kelengkapan dan peralatan” adalah segala hal – hal yang berhubungan dengan kebutuhan aset yang dimiliki mampu meningkatkan kelengkapan fungsi dan kelengkapan kebutuhan perusahaan dan peralatan yang yang dimanfaatkan oleh perusahaan. Kebutuhan (reparasi, pemeliharaan, renovasi) aset yang dimaksud perusahaan tidak terpatok pada “peralatan” saja, kebutuhan aset lain seperti tanah, gedung, mesin, dan kendaraan juga dimasukkan ke dalam akun “biaya kelengkapan dan peralatan”.
Adapun biaya – biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan selama masa manfaat aset – aset yang dimiliki adalah sebagai berikut:
a. Reparasi dan pemeliharaan
Selama masa manfaat, PT. Dwi Putra Jasa Prima telah melakukan reparasi – reparasi dan pemeliharaan terkait aset – aset yang dimilikinya selama tahun 2011 adalah sebagai berikut:
TABEL 13
PENGELUARAN KAS – TAHUN 2011
Tanggal Akun Debit Kredit
13 Januari Biaya renovasi – gd. workshop 85.000.000 -
Kas - 85.000.000
20 Januari Biaya perawatan – motor 550.000 -
88 24 Januari Biaya perawatan – gd. kantor 750.000 -
Kas - 750.000
1 Februari Biaya perawatan – gd. workshop 560.000 -
Kas - 560.000
5 Februari Biaya renovasi – gd. kantor 105.000.000 -
Kas - 105.000.000
19 Februari Biaya reparasi – mobil bak 4.350.000 -
Kas - 4.350.000
26 Februari Biaya reparasi – komputer 554.300 -
Kas - 554.300
1 Maret Biaya perawatan – gd. workshop 560.000 -
Kas - 560.000
1 Maret Biaya perawatan – AC 350.000 -
Kas - 350.000
9 April Biaya perawatan – gd. kantor 750.000 -
Kas - 750.000
5 Mei Biaya reparasi – AC 3.245.000 -
Kas - 3.245.000
7 Juni Biaya reparasi – fogging 265.000 -
Kas - 265.000
15 Juni Biaya perawatan – gd. workshop 560.000 -
89
19 Juli Biaya reparasi – mobil 5.400.000 -
Kas - 5.400.000
21 Juli Biaya reparasi – lemari 70.000 -
Kas - 70.000
6 Agustus Biaya reparasi – scanner 156.100 -
Kas - 156.100
10 September Biaya perawatan – mesin 20.000.000 -
Kas - 20.000.000
7 Oktober Biaya perawatan – gd. kantor 750.000 -
Kas - 750.000
14 Oktober Biaya perawatan – gd. workshop 560.000 -
Kas - 560.000
4 Nopember Biaya renovasi – gd. kantor 4.451.000 -
Kas - 4.451.000
17 Desember Biaya perawatan – mobil 450.000 -
Kas - 450.000
b. Penambahan aset
Selain penambahan aset yang disebabkan oleh reparasi atau pemeliharaan aset, terdapat pula penambahan aset yang dilakukan perusahaan dengan menambah aset yang telah ada guna memperluas atau memperbesar aset yang dimiliki, seperti penambahan ruang janitor pada gedung kantor. Selama
90 tahun 2011, PT. Dwi Putra Jasa Prima tidak tercatat melakukan penambahan aset seperti yang telah dimaksudkan.
IV.5 Penurunan Nilai Aset Tetap
Dalam menentukan apakah suatu aset tetap mengalami penurunan nilai, perusahaan perlu menerapkan PSAK No.48: Penurunan Nilai Aset. Pernyataan tersebut menjelaskan bagaimana entitas me-review jumlah tercatat asetnya, bagaimana menentukan nilai yang dapat diperoleh kembali dari aset dan kapan mengakui atau membalik rugi penurunan nilai.
IV.6 Penghentian Aset Tetap
Aset – aset yang telah disusutkan secara penuh dengan masa manfaat telah habis maka akan dihentikan operasinya dan diganti dengan aset baru yang sejenis maupun tidak sejenis selama aset baru tersebut mampu menunjang kegiatan usaha perusahaan. Suatu aset harus dihentikan penggunaannya apabila aset tersebut sudah tidak memberikan manfaat bagi perusahaan di masa yang akan datang.
Aset yang sudah tidak memberikan manfaat bagi perusahaan akan dilepaskan kepemilikannya dengan cara dijual atau dengan cara pertukaran aset. Apabila suatu aset memenuhi kriteria penghentian aset maka perusahaan harus
91 segera melakukan penghentian aset yang mana berpengaruh erat pada kinerja perusahaan, pengeluaran, dan nilai aset tersebut.
Jumlah tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat aset dilepaskan kepemilikannya atau tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset harus dimasukkan dalam laporan laba rugi pada saat aset tersebut dihentikan pengakuannya (kecuali PSAK No.30 mengharuskan perlakuan yang berbeda dalam hal transaksi jual dan sewa – balik). Laba tidak boleh diklasifikasikan sebagai pendapatan.
Pelepasan aset tetap dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan dijual, disewakan (leasing), atau dihibahkan. Dalam menentukan tanggal pelepasan aset, perusahaan perlu menerapkan PSAK No.23: Pendapatan, untuk mengakui pendapatan dari penjualan barang. PSAK No.30 diterapkan untuk pelepasan melalui menjual dan sewa – balik.
Berikut adalah penghentian aset yang dilakukan oleh PT. Dwi Putra Jasa Prima atas vacuum cleaner dengan harga perolehan Rp. 1.580.000. Vacuum cleaner tersebut memiliki masa manfaat 4 tahun (masa manfaat habis pada tahun 2011) dan tidak memiliki nilai sisa. Apabila suatu aset tidak memiliki nilai sisa berarti akumulasi depresiasi adalah sebesar harga perolehan yaitu Rp. 1.580.000. Dengan kata lain, vacuum cleaner tersebut telah disusutkan secara penuh hingga masa manfaat telah berakhir. Maka jurnal yang perlu dicatat oleh perusahaan terkait pengakuan penghentian aset tetap adalah sebagai berikut:
92 Akumulasi depresiasi – peralatan 1.580.000
Peralatan – vacuum cleaner 1.580.000
Sedangkan untuk aset yang sudah dihentikan penggunaannya tapi depresiasi belum habis (belum disusutkan secara penuh) maka aset tersebut tidak akan memberikan keuntungan bagi perusahaan pada saat aset tersebut dilepaskan kepemilikannya. Pasalnya, aset tersebut sudah tidak memberikan kontribusinya kepada perusahaan (perusahaan tidak menerima manfaat dari aset) dan adanya biaya – biaya depresiasi aset tersebut yang masih harus dikeluarkan oleh perusahaan di masa yang akan datang serta semakin menurunnya nilai aset tersebut bahkan terdapat kemungkinan aset tersebut tidak memiliki nilai jual. Apabila suatu aset memenuhi kriteria penghentian aset maka perusahaan harus segera melakukan penghentian aset agar tidak mengalami kerugian yang lebih besar.
PT. Dwi Putra Jasa Prima belum pernah mengalami penghentian suatu aset pada kondisi penyusutan belum dilakukan secara penuh. Namun, untuk memberikan penggambaran lebih jelas, berikut adalah asumsi pengentiannya dengan menggunakan contoh Tabel 10 mengenai deperesiasi peralatan lapangan (polisher). Sebuah polisher dibeli pada tahun 2010 seharga Rp. 5.075.000, dihentikan penggunaannya pada tahun 2011 yang baru mencapai nilai penyusutan sebesar Rp. 643.540. Maka jurnal yang dibutuhkan oleh perusahaan adalah sebagai berikut:
93 Akumulasi penyusutan – peralatan 643.540
Rugi penghentian aset 4.431.460
Peralatan – polisher 5.075.000
IV.7 Pertukaran Aset Tetap
Di samping dijual atau dibuang, suatu aset dapat dihentikan penggunaannya dengan cara ditukar dengan aset lainnya. Pertukaran ini dapat terjadi pada aset yang sifatnya sejenis maupun tidak sejenis. Pertukaran aset mencakup konteks komersial dan tidak komersial. Suatu pertukaran dikatakan tidak komersial apabila aset yang dipertukarkan tidak melibatkan penyerahan sejumlah kas dan/atau aset yang dipertukarkan memiliki harga pasar yang seimbang/impas. Sedangkan, pertukaran aset yang komersial melibatkan sejumlah uang yang diserahkan atau diterima yang mana dapat mempengaruhi risiko, waktu, dan arus kas perusahaan. Namun, terdapat pula pertukaran aset yang melibatkan penyerahan sejumlah kas tapi dianggap sebagai pertukaran aset yang tidak komersial, hal ini dapat terjadi apabila kas yang terlibat jumlahnya tidak banyak dan tidak memiliki dampak signifikan terhadap perusahaan.
Berdasarkan informasi dan data yang diperoleh, PT. Dwi Putra Jasa Prima belum pernah melakukan pertukaran aset dalam bentuk apapun semenjak perusahaan didirikan, baik pertukaran sejenis maupun tidak sejenis, serta belum membuat kebijakan terkait pada pertukaran aset tetap. PT. Dwi Putra Jasa Prima
94 tidak dan/atau belum pernah melakukan pertukaran aset dikarenakan oleh pemanfaatan maksimal atas suatu aset. Misal, apabila suatu aset masih bisa dipakai meskipun masa manfaat yang diestimasi telah berakhir, maka perusahaan akan tetap menggunakan aset tersebut sampai aset benar – benar tidak memberikan manfaat terhadap perusahaan. Hal tersebut tidaklah bertolak belakang dengan PSAK yang berlaku tetapi hal tersebut akan mempengaruhi operasi dan kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan mungkin akan menurun karena tidak didukung dengan aset yang bekerja optimal sehingga dapat menimbulkan kerugian tersendiri bagi perusahaan. Oleh karena itu, untuk memberikan contoh atas pertukaran aset yang mungkin dapat terjadi. Penulis menggunakan data aset yang dimiliki perusahaan sebagai gambaran yang jelas apabila perusahaan benar – benar melakukan pertukaran aset tidak sejenis maupun sejenis.
IV.7.1 Pertukaran Aset Tidak Sejenis
Dalam melakukan pencatatan terkait pertukaran aset tidak sejenis, perusahaan perlu memastikan terlebih dahulu apakah aset yang akan diterima memiliki harga pasar yang jelas atau tidak. Apabila perusahaan sulit dalam menentukan harga pasar aset baru (aset yang akan diterima) maka perusahaan harus mencatat harga aset baru sama dengan harga aset lama (aset yang diserahkan).
95 Asumsi PT. Dwi Putra Jasa Prima melakukan pertukaran terhadap satu unit motor dengan harga perolehan sebesar Rp. 11.500.000 dan akumulasi penyusutan telah mencapai sebesar Rp. 2.976.250, ditukar dengan sebuah mesin photocopy yang memiliki nilai pasar Rp. 8.000.000. Maka akan timbul pencatatan jurnal sebagai berikut:
Mesin photocopy 8.000.000
Akumulasi penyusutan – motor 2.976.250
Kendaraan – motor 11.500.000
Laba pertukaran aset 523.750
Pada kasus lain, apabila aset yang akan diterima nilainya sulit untuk ditentukan, misal motor ditukar dengan satu set komputer bekas (termasuk layar, CPU, printer, scanner, proyektor LCD) senilai Rp. 5.500.000 setelah diestimasi harga pasarnya, maka akan timbul jurnal berikut ini:
Peralatan – komputer 5.500.000
Akumulasi penyusutan – motor 2.976.250
Rugi pertukaran aset 3.023.750
96 IV.7.2 Pertukaran Aset Sejenis
Untuk mencatat transaksi pertukaran antara aset non moneter yang miliki sifat yang sejenis, perlu dibedakan antara transaksi yang tidak melibatkan kas, transaksi yang melibatkan sedikit kas, dan transaksi yang melibatkan kas dalam jumlah besar. Pada pertukaran aset tidak sejenis, laba atau rugi yang terjadi akibat pertukaran segera diakui/dicatat. Berbeda dengan pertukaran aset sejenis, rugi atas pertukaran aset akan langsung dicatat, sedangkan laba pertukaran aset akan diakui secara khusus untuk pertukaran aset yang melibatkan kas dalam jumlah besar.
Untuk mengilustrasikan kejadian pertukaran aset sejenis, asumsikan bahwa pada tahun 2011 mesin yang dimiliki PT. Dwi Putra Jasa Prima memiliki harga perolehan (tahun 2010) senilai Rp. 207.000.000, akumulasi penyusutan sebesar Rp. 121.368.000, nilai buku mencapai Rp. 85.632.000 akan ditukar dengan mesin baru dengan harga pasar sebesar Rp. 123.000.000. Jurnal yang akan dicatat oleh perusahaan terkait pertukaran ini adalah sebagai berikut:
Mesin – baru 85.632.000
Akumulasi penyusutan 121.368.000
Mesin – lama 207.000.000
Meskipun terindikasi adanya keuntungan sebesar Rp. 37.368.000, namun indikasi keuntungan tidak diakui karena pertukaran tersebut tidak memiliki substansi komersial, yakni tidak melibatkan transfer uang dan aset yang
97 dipertukarkan memiliki sifat yang sejenis. Aset baru yang dicatat adalah sebesar nilai buku dari aset lama, yakni sebesar Rp. 85.632.000.
Pada kondisi lainnya, terdapat pula pertukaran aset yang disertai dengan penyerahan sejumlah uang/kas. Apabila aset baru memiliki harga pasar yang berbeda sedikit (lebih besar) dari hasil penjumlahan antara nilai buku dengan kas yang diserahkan, maka indikasi keuntungan tidak diakui oleh perusahaan karena selisih harga yang dianggap setara (tidak memiliki substansi komersial dan dampak yang tidak signifikan). Sedangkan untuk pertukaran aset yang memiliki harga pasar yang jauh di atas dari penjumlahan antara nilai buku dengan kas yang diserahkan, maka indikasi keuntungan akan diakui oleh perusahaan karena dianggap memiliki substansi komersial dan memiliki dampak yang cukup signifikan yang mana sangat berpengaruh pada risiko, waktu maupun arus kas perusahaan.
IV.8 Penyajian Aset Tetap
Aset tetap akan disajikan pada laporan keuangan komperhensif dan/atau neraca (laporan posisi keuangan). Pada laporan posisi keuangan, aset yang dimiliki oleh perusahaan (aset lancar dan tidak lancar) disajikan secara terpisah. Perusahaan menyajikan terlebih dahulu aset – aset yang memiliki sifat likuiditas cepat, selanjutnya perusahaan menyajikan aset tidak lancar (aset tetap).
Pada laporan posisi keuangan, perusahaan tidak menyajikan akun akumulasi depresiasi pada sisi aset tetap. Jumlah/nilai aset tetap yang disajikan
98 pada laporan posisi keuangan merupakan nilai bersih atas aset – aset tetap tersebut pada tahun pelaporan, yakni setelah harga perolehan dikurangi beban penyusutan, atau disebut dengan nilai buku. Nilai aset tetap pada neraca merupakan cerminan hasil perhitungan penyusutan dengan menggunakan metode garis lurus yang diterapkan oleh perusahaan. Terkecuali untuk tanah, perusahaan masih mencatat seharga nilai perolehan karena perusahaan belum pernah melakukan revaluasi atau penilaian kembali nilai tanah.
Beban penyusutan akan disajikan pada laporan rugi laba perusahaan. Beban penyusutan pada laporan rugi laba PT. Dwi Putra Jasa Prima ditulis dengan menggunakan akun “biaya kelengkapan dan peralatan”. Beban penyusutan akan mengurangi laba kotor yang dihasilkan oleh perusahaan.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan pada PT. Dwi Putra Jasa Prima, perusahaan belum melakukan penghitungan beban penyusutan yang diakuinya adalah metode garis lurus. Dalam perhitungannya, perusahaan tidak melibatkan masa manfaat aset melainkan hanya menghitung berdasarkan tarif penyusutan. Tarif penyusutan yang ditetapkan perusahaan tidak membedakan jenis aset tetapnya. Perusahaan melakukan perhitungan penyusutan selama aset tetap masih dapat memberikan kontribusinya pada perusahaan. Setiap aset tetap perlu dikenakan tarif penyusutan sesuai dengan porsinya. Porsi yang dimaksud adalah seberapa besar aset tersebut memberikan kontribusinya kepada perusahaan, apakah aset tersebut mempengaruhi kinerja dan output perusahaan atau tidak, dan perlunya penyesuaian terhadap harga perolehan aset tetap serta dipengaruhi estimasi masa manfaat yang akan diberikan oleh aset tetap tersebut.
99 Di sisi lain, perusahaan juga menggunakan istilah “biaya”, bukan “beban”. Seharusnya perusahaan menggunakan istilah “beban” karena penyusutan merupakan pengeluaran yang harus dilakukan oleh perusahaan secara rutin/periodik. Biaya merupakan pengeluaran perusahaan yang sifatnya tidak menentu atau tidak rutin. Hal ini dapat menyebabkan salah penyerapan informasi bagi pemegang kepentingan laporan keuangan.
Berikut adalah ringkasan jumlah aset tetap yang diakui oleh PT. Dwi Putra Jasa Prima selama tahun 2011:
TABEL 14
DAFTAR NILAI KEPEMILIKAN ASET TETAP PERUSAHAAN
No
Kelompok
Aset Tetap Harga Perolehan
Akumulasi
Depresiasi Carrying Amount
1 Tanah Rp. 550.000.000 - Rp. 550.000.000 2 Gedung 172.500.000 10.781.250 161.718.750 3 Peralatan kantor 41.500.000 5.187.500 36.312.500 4 Peralatan lapangan 19.754.000 2.469.250 17.284.750 5 Mesin 214.245.000 26.780.625 187.464.375 6 Kendaraan 639.630.000 79.953.750 559.676.260 Total Rp. 1.637.629.000 Rp. 125.172.375 Rp. 1.512.456.625
100 IV.9 Pengungkapan Aset Tetap
Pada dasarnya pembaca laporan keuangan membutuhkan data yang jelas terkait aktivitas – aktivitas perusahaan. Setiap perusahaan sewajarnya mengungkapkan kebijakan – kebijakan terkait aset tetap dalam laporan keuangannya dengan tujuan pembaca laporan keuangan dapat memahami bagaimana perusahaan melakukan pengakuan, pengukuran, penyusutan, penyajian, dan pengungkapan aset tetap. Berikut adalah catatan atas laporan keuangan PT. Dwi Putra Jasa Prima dalam laporan keuangan perusahaan terkait dengan aset tetap:
1. Aset tetap diklasifikasikan dengan kriteria: mendukung kegiatan operasional perusahaan, memiliki masa manfaat lebih dari 1 tahun, dan perusahaan memiliki kontrol dan kepemilikan atas aset tersebut.
2. Perusahaan akan mengakui aset tetap apabila aset tersebut memiliki masa manfaat lebih dari 1 tahun. Pengakuan awal dilakukan dengan mencatat nilai aset tetap yang telah diakui sebagai suatu kepemilikan.
3. Harga perolehan didapat ketika suatu aset yang dibeli atau menjadi hak milik yang dikarenakan adanya transaksi.
4. Pengukuran aset tetap menggunakan cost model.
5. Suatu aset tetap dinyatakan sebesar harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai.
6. Penyusutan semua aset tetap dilakukan dengan metode garis lurus. 7. Tarif penyusutan aset tetap adalah 12,5%.
101 9. Pertukaran aset dilakukan dengan aset yang sejenis maupun tidak sejenis
selama memiliki nilai ekonomis yang seimbang.
10. Nilai wajar aset ditetapkan sebesar harga pasar aset pada saat terjadi pertukaran.
11. Suatu aset diklasifikan sebagai aset yang dihentikan adalah apabila aset tersebut tidak lagi memberikan manfaat ekonomis bagi kegiatan operasional perusahaan.
12. Aset yang dihentikan akan dicatat dengan nilai antara harga perolehan dengan nilai yang dapat diperoleh kembali.
13. Aset yang telah dihentikan dimasukkan ke dalam akun “Aset Lain – Lain” pada neraca perusahaan.
14. Poin 4, 5, 6, 7, 10, dan 12 berlaku untuk semua aset tetap, kecuali tanah.
Berikut adalah kesesuaian dan ketidaksesuaian pengungkapan yang dilakukan oleh PT. Dwi Putra Jasa Prima terhadap pengungkapan menurut PSAK 16 (revisi 2007), antara lain:
Jenis Aset Masa Manfaat (tahun)
Gedung 20 – 25
Peralatan kantor 2 – 4
Peralatan lapangan 4 – 6
Mesin 8 – 10
102 1. Dasar pengukuran yang digunakan dalam menenetukan jumlah tercatat bruto. Dalam laporan keuangan, PT. Dwi Putra Jasa Prima mengungkapkan dasar pengukuran menggunakan cost method. Namun, harga perolehan tidak memasukkan biaya – biaya yang yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan, misal biaya handling dan biaya instalasi. Sedangkan menurut PSAK No.16 (revisi 2007), biaya – biaya tersebut dimasukkan sebagai unsur biaya perolehan.
2. Metode penyusutan yang digunakan.
PT. Dwi Putra Jasa Prima mengungkapkan metode penyusutan pada laporan keuangan perusahaan, yaitu metode garis lurus. Namun, perusahaan tidak mengungkapkan bagaimana cara perhitungan metode garis lurus yang diterapkan oleh manajemen. Hal tersebut dapat menimbulkan kurangnya aliran informasi kepada pembaca laporan keuangan terkait penyusutan aset tetap.
3. Umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan.
PT. Dwi Putra Jasa Prima mengungkapkan umur manfaat untuk masing – masing kelompok aset tetap dan tarif penyusutan yang digunakan tetapi umur manfaat untuk masing – masing aset tidak sesuai dengan ketentuan yang seharusnya (PSAK). Akhirnya mengakibatkan ketidaksesuaian dalam penetapan tarif penyusutannya. Berdasarkan perhitungan sesuai dengan PSAK, peralatan dengan masa manfaat 4 tahun seharusnya dikenakan tarif penyusutan sebesar 25%, sedangakan PT. Dwi Putra Jasa Prima menetapkan tarif peralatan sebesar 12,5% atau masa manfaat 8 tahun. Perusahaan juga
103 tidak mengungkapkan tanggal pengakuisisian ataupun pelepasan aset yang mana mempengaruhi perhitungan depresiasi.
4. Jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan dijumlahkan dengan akumulasi rugi penurunan nilai pada awal dan akhir periode.
PT. Dwi Putra Jasa Prima mengungkapkan bagaimana cara mengukur aset tetap yang telah diperoleh. Perusahaan menyatakan bahwa suatu aset tetap dinyatakan sebesar harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai.
5. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan. PT. Dwi Putra Jasa Prima tidak mengungkapkan hal – hal di bawah ini terkait aset tetap dalam laporan keuangannya, antara lain:
a. Penambahan.
b. Aset diklasifikasi sebagai tersedia untuk dijual atau termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai tersedia untuk dijual sesuai dengan paragraf 45 dan/atau pelepasan lainnya.
c. Akuisisi melalui penggabungan usaha.
d. Peningkatan atau penurunan akibat dari revaluasi sesuai peragraf 31, 39, dan 40 serta dari penurunan nilai yang diakui atau dijurnal balik secara langsung pada ekuitas sesuai PSAK 48.
e. Rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi sesuai PSAK 48.
f. Rugi penurunan nilai yang dijurnal balik dalam laporan laba rugi sesuai PSAK 48 (jika ada).
104 h. Selisih nilai tukar neto yang timbul dalam penjabaran laporan keuangan dari mata uang fungsional menjadi mata uang pelaporan yang berbeda, termasuk penjabaran dari kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang pelaporan dari entitas pelapor.
i. Perubahan lain.
Terkait kesesuaian dan ketidaksesuaian pengungkapan yang dilakukan perusahaan dalam laporan keuangan dengan standar pengungkapan PSAK No.16 (revisi 2007) di atas, maka perusahaan belum melakukan kesesuaian pengungkapan terhadap:
1. Dasar pengukuran yang digunakan dalam menentukan jumlah tercatat bruto. 2. Umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan.
3. Penyusutan.