Harga: Balutan Tradisi
Nur Habbibah Rachmi
Universitas Cokroaminoto Yogyakarta
Abstract:
The purpose of this study is to reveal the meaning of prices implemented through the
tradition of the Gresik community. This research is a qualitative study using a
phenomenological approach, data collected through interviews and informant observation.
The results of the study found three meanings of prices, the first price as an effort to establish
faith, the second price as a form of togetherness, the third price is not material. The existence
of cultural values seems to dismiss the notion that states if the price is closely related to the
material and profits
Keywords: Meaning of Price, Culture, Phenomenology
Pendahuluan
Kajian mengenai harga sebenarnya seringkali muncul dalam definisi yang beragam. Hal tersebut disebabkan karena sudut pandang manusia yang senantiasa berbeda. Ulasan harga yang menekankan keuntungan serta materi misalnya dilakukan oleh (Hardesty, Bearden, Haws, & Kidwell, 2012) menunjukkan bahwa tujuan penetapan harga yang sebagian besar berorientasi pada laba. Pemikiran tersebut juga didukung oleh penelitian Purwanti, (2013) yang mengungkapkan harga sebagai penghasilan, penelitian tersebut menunjukkan bahwa harga sebagai acuan penting dalam kondisi keuangan atau status quo.
Harga sebagai indicator utama dalam menilai suatu barang. Sudut pandang harga yang terjadi dalam dunia lelang menitik beratkan perspektif beragam. Mulai dari perspektif harga sebagai bentuk kepuasan (Sarjiyanto, 2016). Uang kertas dan koin kuno yang dapat dijadikan sebagai usaha jual beli barang antic (Nugroho, n.d.). Serta pertimbangan harga mahal yang dinilai melalui keunikan estetika seni lukisan. Orientasi harga yang bertujuan pada laba mengakibatkan cara pandang konvensional. Penawaran harga jual lelang yang bervariasi menjadi kesan egoistic para kolektor.
Secara konsep konvensional lelang masih merujuk keberadaan nominal sebagai acuan serta melihat harga dari pertimbangan proses terbentuknya harga. Harga konvensional mengabaikan nilai non materi yang sebetulnya ikut berperan dalam pembentukan harga (Amaliah, 2016). Selain unsure konvensional, harga juga terbentuk melalui unsure kualitatif (Dias dan Rondrigues, 2010). Konsep harga dapat diartikan dalam sudut pandang budaya (Pitoyon Djoko, 2008; Syarifuddin & Damayanti, 2015; Tumirin, 2015). Nilai budaya terkadang luput dari perhatian sistem ekonomi konvnsional (Zulfikar, 2008). Melalui kacamata yang luas, definisi harga dapat member banyak pemahaman dan perspektif.
Dari latar belakang tersebut merasa jika akuntansi tidak cukup jika dilihat dari sebatas nominal. Peneliti berupaya untuk menjelaskan arti harga menurut sudut pandang yang luas dan tidak sekedar berpedoman melalui sistem ekonomi konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan arti harga yang dilihat melalui sudut pandang budaya. Fenomena tradisi lelang bandeng Gresik menjadi salah satu budaya yang menarik untuk dikulik. Masyarakat Gresik mungkin memiliki perspektif berbeda dalam mengartikan harga dalam sebuah tradisi.
Kerangka Teoritis dan Pengembangan Hipotesis
Konsep Harga dalamPerspektif IslamPasar ideal di bentuk melalui harga kompetitif pada komoditas dagang serta tidak adanya monopoli. Selama pengambilan keuntungan dianggap normal dan tidak merugikan sesama. Dalam Al-Quran surat An-Nisa’ ayat 29 dijelaskan secara tegas mengenai larangan untuk memakan harta orang lain yang bukanhaknya. Memeakanhak orang lain sama halnya dengan berbuat bathil dan dilarang. Islam mengharuskan umatnya untuk selalu bersikap adil dan berbuat kebajikan.
Konsep Harga dalam Perspektif Budaya
Hubungan yang kuat antara nilai islam dengan budaya dan kearifan local tersirat dalamQ.S.Ibrahim (14:4): Terjemahan:
“Kami tidak mengutus seorang Rasul, melainkan dengan bahasa (budaya kearifan lokal) kaumnya, agar dapat member penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah akan
menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan member petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia Lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana ”
Artinya dalam sudut pandang budaya harga dapat memiliki arti yang beragam. Mengingat Indonesia memiliki ragam budaya serta cirri khas masing-masing. Seperti harga yang dilihat menurut sudut pandang budaya Jawa (Pitoyon Djoko, 2008), budaya Maluku (Syarifuddin & Damayanti, 2015), budaya Tanah Toraja (Tumirin, 2015), budaya Bali (Rahayu, Yudi, & Sari, 2016), budaya Betawi (Amaliah& Sugianto, 2018) serta budaya Bugis (Yunus, 2015).
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan fenomenologi sebagai pendekatan penelitian. Fenomenologi tepat digunakan untuk mengungkapkan kesadaran masyarakat Gresik mengartikan harga dalam tradisi lelang bandeng. Fenomenologi mencari pemahaman manusia bagaimana mengkonstruksi konsep dalam inter subjektivitas (Kuswarno, 2009).
Data diperoleh dengan melakukan wawancara dengan informan. Wawancara dilakukan langsung dengan terjun kelapangan. Pada pemilihan informan peneliti menggunakan Bapak Zaniarserta Ibu Ima. Informantersebutdipilihkarenaseringberpartisipasidalamtradisilelang bandeng. Pemilihaninformanbertujuanuntukmengungkapkanmakna yang berasaldarpengalaman orang yang melakukantradisilelang bandeng.
Teknis analisis yang digunakanmenurutCreswell (2007)tersusundiantaranya (1) deskripsipengalaman personal, (2)menyusun daftar pertanyaan, (3) mengambilpertanyaanpenting, (4) dekskripsitekstual, (5) deskripsistruktural, (6) membuatesensipengalaman.
Hasil dan Pembahasan
Konsephargayangberasaldaribudayaberperandalammenentukantingkahlakusertapolaberfikirindividu.
Budayaberfungsisebagaikeunikansertakekhasan yang membedakanantarasatuindvidudengan yang lain. Hal tersebuttentusajaberkaitandenganstruktursosial yang berpengaruhterhadappolapikir dan tindakanindividu. Pembahasandalampenelitianiniterkaitmengenaidefinisiharga yang berhubungandengannilai-nilaibudaya.
Penjelasantersebutdimaksudkanuntukpegembanganpemahamanmanusiaterhadapakuntansikonvensio nal di Indonesia, bahwahargadalamsebuahbudayamemiliki arti dan definisiberbeda.
Tradisilelang bandeng merupakankearifanmasyarakat Gresik yang berasalsejak masa SunanGiri. Tradisiinimenekankan pada nileiekonomi, budaya, sertasosialmasyarakat Gresik. Dimana nilaiekonomiberasaldariaktivitassertatransaksi pasar yang terjadiselamalelangberlangsung. Tradisilelang bandeng juga menjadi salah satuwarianluhur yang masidilestarikansehinggakeberadaannyamasihmenjadipertimbangandalammengembangkankotadala mbidangpariwisata. Pada sisisosial, tradisi yang digelarsetiapbulan Ramadhan inimerupakanwadahmasyarakatdalamberbagi pada sesama.
Harga penawarandalamtradisilelang bandeng mencapaijutaanhinggapuluhanjuta rupiah. Meskibegitutidakmengurangikeinginanmasyarakat Gresik dalampartisipanmerekapada tradisitersebut. Hal tersebutdisampaikan oleh Ibu Imaselakupembelilelang bandeng:
“ sekitar 9 sampai 10 juta, tergantungberatbandengnya (Ibu Ima, 2020). ”
Kutipanpercakapandiatasmenunjukkanjika Ibu Ima tidakmerasaberatmembayarsejumlah uang dalamtradisilelang bandeng. Meski nominal yang dikeluarkancukupbesar. Namunbeliautidakmerasakeberatan. Hal tersebut juga disampaikan oleh Bapak Zaniar:
“ ya Alhamdulillah bisabeli. Bismillah sajambakkarenanawaitunyauntukbersedekah. Semakinmendekatkandiripastiakanmenerimabalasan yang lebihbaiklagi (Bapak Zaniar, 2020). ”
Ungkapan Bapak Zaniarmenunjukkan rasa syukursertakeyakinanakansuatuhal. Beliaumerupakan salah satudonaturtetap di salah satupondokpesantren di Gresik.
Gresik yang termasukdalamkota industry memungkinkanmasyarakatnyaberprilakukonsumtif. Harga irrasionalmenjadibuktijikahargatidakmengahalangikeinginanseseoranguntukmembeli. Konsumenmenilaijikabarangmemilikinilaiumumataupribadi(Klemperer, 1998; Nanda, 1997).
Artinyamahal
atautidaknyabaranglelangtergantung
pada
Zaniar
yang
menyatakanjikapartisipasidalammembeli
bandeng
lelangbertujuanuntukdisumbangkankepadapodokpesantrensertapantiasuhan
yang
membutuhkan.
“…untukdisedekahkansaja, kalodikonsumsisendirirasanyatidakmungkinhabis. Kan
ada yang lebihmembutuhkandarisaya (Bapak Zaniar,2020). ”
Berbedadengan Bapak Zanuar Ibu Ima memilikialasanberbedamengartikanhargalelang
bandeng. Beliaumerasakankepuasanserta rasa banggadapatmembeli bandeng lelangtersebut.
Namundemikiantidakmembuat Ibu Ima menjadibesarkepala dan ingindipandang orang lain.
Karena
hasilpembeliantersebutakandimasak
agar
dapatdinikmatibersamadengankeluargabesarnya yang datangsaatlebaran.
“ Mahal, tapikanbisadinikmatibersama. Niatnyabukanpamer, Cumaada rasa
kepusantersendirisaatbisamembeli bandeng lelang. Kan
nantilebarangbanyaksaudaraberkunjungkerumahbiasanya bandeng iniuntukdisajikan (Ibu Ima, 2020) ”
Gresik mungkinuntukmemahamisuatuhaldalamkehidupanmereka. Lopez & Snyder (2012)mengasumsikanbahwaterdapatempatpemenuhankebutuhan yang memilikimaknaatau arti tersendiribagiindividu, yakni
Need for purpose, merupakansebuahkebutuhan yang memilikitujuan yang hendakdicapai. Tujuan
yang dicapaibisadalambentukmemenuhikebutuhanpribadi, tujuanuntukkegiatansosialatau yang lainnya. Masyarakat bersediamembelikarenamemangbertujuanuntuk di sumbangkan pada pondokpesantrenatauyayasanyatimpiatusebagaikegiatansosial.
Need for value,sebuahkebutuhankarenamemangadanilailebih yang diinginkan. Nilai tersebutbisadalambentukestetika, citraataukesanmasyarakat, ataunilaisejarah yang melatarbelakanginya. Masyarakat Gresik mungkinmemilikikesansertanilaitersedirimemaknaiharga bandeng lelangan. Kesanmasyarakat Gresik yang kentalakanbudayamerekamembuat bandeng
seolah-olahmenjadiprimadonasehari. Masyarakat Gresik percayabahwa bandeng inisebagai salah satusumberberkah yang berasaldaribidangperairan Gresik. Masyarakat sudahterbiasadengankeberadaan bandeng sebagaihidanganwajib pada saatmenjelangharirayaidhulfitri.
Need for efficacy, kebutuhanuntukmempengaruhilingkungan, yaknitermasukdalam orang yang
berpengaruhdalamsebuahlingkunganatausebagaicontoh yang baik. Tuntutanperansebagaitokohmasyarakat, ataupejabattinggi yang menjadicontohmasyarakat.
Need for self worth, kebutuhanuntukmerasasangatberharga, yaknipenghargaanuntukdirisendirisebagai orang yang berpengaruhterhadapsesama. rendahmakahargaakanturun. Reputasiberkaitaneratdenganhasratuntukingin di banggakan. Atas dasarreputasimungkinsajamasyarakatbersediamembeli bandeng meskipunharganya mahal. Inilah yang kemudianmembuatharga bandeng melambungtinggi.
Dari hasilwawancarapenelitimemperolehtiga arti hargamenurutmasyarakat Gresik dalamTradisiLelang Bandeng.
Harga
UpayaMenegakkanKeimanan.Salah
satualasanmendasardarisebuahperilakuadalahkeyakinan.
Keyakinan
Bapak
Zaniarkepadasesamamenyadarkanhalpentingakanpentingnyaberbagi.
Islam
memilikienamrukuniman yang salah satunyamewajibkanmuslimuntukberimankepada Allah
SWT. Keyakinanuntukmembeli dan bersedekahsamadenganmeyakinikeberadaan Allah. Jika
sebagian orang mungkinmengimankanpolapikirmereka pada uang dan materiberbedadengan
yang dilakukan oleh Bapak Zaniar.
Harga
tidakdapatmenggoyahkankeyakinan
Bapak
Zaniardalambersedekah.
Atas
dasarniatsertakeyakinanhargabukanmenjadisesuatu
yang
luar
bia0sa.Arti
hargabukanhanyasekedarmaterinamunadabobotpertanggungjawaban
yang
Harga BentukKebersamaan. Adanyatradisilelang bandeng yang digelarsetiapbulan
Ramadhan menjadicirikhasbagikota Gresik. Lebaranmerupakanbulan yang diyakiniumat
Islam sebagaibulanberkah. Selainitu Ramadhan juga bulanberkumpulsanaksaudara yang
hanyadilakukansatutahunsekali. Momeninimenjadiberartibagisebagian orang.
Salah satucirikhaskota Gresik yaknidenganmenyantaphidanganolahan bandeng.
Bahkanmasyarakat
Gresik
memilikisemboyan
yang
menyebutkan“
Dakafdholriyoyoanlengurungmangan bandeng lelangan ” artinyatidakafdholjika pada
saatlebarantidakmemakan
bandeng
pada
tradisilelang.
Harga
mahal
dapatmenyatukankebersamaankeluargadalambulan
Ramadhan.
Inilah
yang
menjadipertimbanganmasyarakatmengapamembei bandeng lelang.
Harga
BukanMateri.
Pespektifberbedamasyarakat
Gresik
disampaikanmelaluicaramasyarakat Gresik dalammenjalankasebuahtradisi. Tradisilelang
bandeng
menjadikanpolapikirmasyarakat
yang
berbeda,
hargadianggapsebagaisebuahperantaramerekadalammencapaitujuan non materi.
Bagipenelitisosok Ibu Ima dan Bapak Zanuardapatdijadikansebagai salah satucontoh
real bagaiamanseharusnyapolapikirkapitalismeharusdisampingkan. Sebab Indonesia ini kaya
akanbudaya
dan
tradisi
yang
seharusnyadapatmemberiwarnaluasdalamperkembanganbidangakuntansi.
Bukanhanyasekedarteoripokok yang menjadikankapitalismesebagaikiblatakuntansi, namun
juga mempertimbangkannilai-nilailokal yang ikutandildalammembentukpolapikirmanusia.
Kesimpulan, Implikasi dan Batasan
Temuanpentingdalampenelitianinibahwakeberadaannilai-nilaibudayaseolahmenepisanggapan yang menyatakanjikahargaeratkaitannyadenganmateri
Mengangkattemabudayasebagaislahsatuupayadalammengembangkankeanekaragamanakuntan
si.
Sehinggaberbicaraakuntansibukansaratmembahasmengenai
nominal
namun
jugaterdapatunsurnilai-nilaibudayadidalamnya. Definisihargamemiliki arti sebagai salah
satu(1) upayamenegakkankeimanan, (2) BentukKebersamaan, serta (3) Harga bukanMateri.
Penerapansistemekonomikonvensionalmasihmenjadipilihandalamakuntansi.
Akuntansimemiliki
arti
luasjikadilihatdarisudutpandangluas,
semuatergantungdaribagaimanaindividumenilai.
Akuntansidapatdikembangkanmelaluibudayasertatradisi
yang
kentaldengannilai-nilaikearifanlokal
di
Indonesia.
Inidapatmengembangkansertamerubahbidangkauntansiterlebihmengenaipolapikirmasyarakat
yang masihkonvensional
Penelitianiniberfokushanya pada bidangakuntansi.
Mungkindapatditemuipenelitian-penitianselanjutnya yang juga mengangkattemabudayasebagailandasanpenelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Amaliah, T. H. (2016). Nilai-nilai budaya Tri Hita Karana dalam Penetapan Harga Jual. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 7(6), 189–206.
Amaliah, T. H., & Sugianto, S. (2018). Konsep Harga Jual Betawian dalam Bingkai Si Pitung. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 9(1), 20–37. https://doi.org/10.18202/jamal.2018.04.9002
CRESWELL, J. W. (2007). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. In Sage Publication (Vol. 16). https://doi.org/10.1177/1524839915580941
Hardesty, D. M., Bearden, W. O., Haws, K. L., & Kidwell, B. (2012). Enhancing perceptions of price-value associated with price-matching guarantees. Journal of Business Research, 65(8), 1096– 1101. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2011.08.024
Klemperer, P. (1998). Auctions with almost common values: The “Wallet Game” and its applications. European Economic Review, 42(3–5), 757–769. https://doi.org/10.1016/S0014-2921(97)00123-2
Kuswarno, E. (2009). Fenomenologi: metode penelitian komunikasi: konsepsi, pedoman, dan contoh penelitiannya. Bandung: Widya Padjajaran, Bandung.
Lopez, S. J., & Snyder, C. R. (2012). The Oxford Handbook of Positive Psychology, (2 Ed.). In The Oxford Handbook of Positive Psychology, (2 Ed.) (pp. 1–742). https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780195187243.001.0001
Nanda, S. (1997). Nanda, S., Owers, J. E., & Rogers, R. C. (1997). An analysis of resolution trust corporation transactions Auction market process and pricing. Real Estate Economics, 25(2), 271-294..pdf. Real Estate Economics, 2.
Nugroho, B. A. F. (n.d.). Bisnis Lelang Online Uang Kertas Kuno dan Koin Kuno di Indonesia. Paper Sistem Dan Teknologi Informasi.
Pitoyon Djoko. (2008). Tuna satak bathi sanak. Filsafat, 18, 1–25.
Purwanti, A. & D. P. (2013). Akuntansi Manajemen. Mitra Wacana Media.
Rahayu, S., Yudi, Y., & Sari, D. P. (2016). Makna Biaya pada Ritual Ngaturang Canang Masyarakat Bali. Jurnal Akuntansi Multiparadigma. https://doi.org/10.18202/jamal.2016.12.7028
Sarjiyanto, S. (2016). Menimbang Konvensi Internasional No. 11806 Untuk Pengelolaan Sumberdaya Budaya di Indonesia. PURBAWIDYA:Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi, 4(1), 55–70. https://doi.org/10.24164/PW.V4I1.67
Syarifuddin, & Damayanti, R. A. (2015). Story of Bride Price: Sebuah Kritik atas Fenomena Uang Panaik Suku Makassar. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, (1979). https://doi.org/10.18202/jamal.2015.04.6007
Tumirin. (2015). Makna Biaya dalam Upacara Rambu Solo. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 6(2), 175–184. https://doi.org/10.18202/jamal.2015.08.6014
Yunus, A. R. (2015). Nilai-nilai Islam dalam Budaya dan Kearifan Lokal (Konteks Budaya Bugis). Jurnal Rihlah, II(1), 1–12.
Zulfikar. (2008). “Menguak Akuntabilitas Di Balik Tabir Nilai Kearifan Budaya Jawa. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, 7(2), 144–150.