BAB II TINJAUN PUSTAKA Pengertian Ergonomi Ergonomi berasal dari kata Ergon (kerja) dan Nomos (hukum alam) dan

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Ergonomi 2.1.1. Pengertian Ergonomi

Ergonomi berasal dari kata Ergon (kerja) dan Nomos (hukum alam) dan dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen, dan desain perancangan. Ergonomi juga berkaitan dengan optimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan manusia di tempat kerja, di rumah, dan tempat rekreasi. ( Nurmianto, 2003 )

Istilah “ergonomi” berkembang di Eropa sedangkan di Amerika berkembang dengan istilah “human engineering” atau “human factors”. Human engineering sering digunakan untuk menggambarkan suatu rancangan yang sesuai dengan apa yang diharapkan manusia sehingga manusia dapat menggunakan hasil rancangan tersebut secara efektif tanpa mendapatkan tekanan. Inti yang menjadi karakteristik dari pendapat ini adalah adanya manusia, objek, lingkungan, serta interaksinya (Mc. Cormick, 1993).

Mc. Cormick (1993) menyatakan ergonomi dengan menggunakan pendekatan yang lebih menyeluruh yaitu fokus utama, tujuan, dan pendekatan utama, dimana penjelasannya adalah sebagai berikut :

1) Secara fokus

Ergonomi memfokuskan diri pada unsur manusia dan interaksinya dengan produk, fasilitas, dan lingkungan kerja.

(2)

2) Secara Tujuan

Tujuan hendak dicapai ergonomi adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi kerja yang dihasilkan oleh sistem manusia dan mesin, sambil tetap mempertahankan unsur kenyamanan serta kesehatan dan keselamatan kerja sebaik mungkin.

3) Secara Pendekatan

Pendekatan ergonomi adalah penggunaan informasi mengenai kemampuan dan keterbatasan manusia pada perancangan sistem kerja maupun prosedur kerja

2.1.2. Pengertian Biomekanika

Menurut Frankel & Nordin (1980) dikutip oleh Chaffin (1999) mendefinisikan biomekanika sebagai penggunaan kaidah fisika dan konsep teknik dalam menjelaskan pergerakan tubuh manusia dalam aktivitas kesehariannya. Definisi ini sekurangnya menjelaskan bahwa biomekanika bersifat multi disiplin ilmu yang memanfaatkan keilmuan fisika, faal tubuh dan perilaku manusia (behavioral sciense). Banyak gangguan pada manusia yang disebabkan oleh aktivitas (pekerjaan, olah raga, dst.) dapat di interprestasikan dan dicarikan solusinya dengan menggunakan pendekatan biomekanika.

Biomekanik adalah studi tentang mekanika yang diaplikasikan pada sistem biologi. Biomekanika merupakan subdisiplin dari biofisika dan biomemedis. Biomekanika sendiri dibagi menjadi 3 yaitu (Philips, 2000):

1. Biostatik: Yaitu studi tentang struktur mahluk hidup yang berhubungan dengan gaya-gaya ketika mereka berinteraksi.

2. Biodinamik: Yaitu studi tentang dasar-dasar dan pembagian gerakan (berhubungan dengan gaya) yang dilakukan mahluk hidup.

(3)

3. Bioenergetik: Yaitu studi tentang transformasi energi yang terjadi dalam tubuh mahluk hidup. Bioenergetik terkait dengan proses biothermodinamika.

2.2. Klasifikasi Biomekanika

Tayyari (1997) menyatakan biomekanika diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: 1. General Biomechanic

General Biomechanic adalah bagian dari Biomekanika yang berbicara mengenai hukum – hukum dan konsep – konsep dasar yang mempengaruhi tubuh organic manusia baik dalam posisi diam maupun bergerak. Dibagi menjadi 2, yaitu:

a) Biostatics adalah bagian dari biomekanika umum yang hanya menganalisis tubuh pada posisi diam atau bergerak pada garis lurus dengan kecepatan seragam (uniform).

b) Biodinamic adalah bagian dari biomekanik umum yang berkaitan dengan gambaran gerakan – gerakan tubuh tanpa mempertim-bangkan gaya yang terjadi (kinematik) dan gerakan yang disebabkan gaya yang bekerja dalam tubuh (kinetik)

2. Occupational Biomechanic

Didefinisikan sebagai bagian dari biomekanik terapan yang mempelajari interaksi fisik antara pekerja dengan mesin, material dan peralatan dengan tujuan untuk meminimumkan keluhan pada sistem kerangka otot agar produktifitas kerja dapat meningkat.

(4)

2.3. Faktor yang berpengaruh dalam pemindahan material

Menurut Nurmianto, (2003) faktor yang mempengaruhi dalam pemindahan material adalah :

1) Berat beban yang harus diangkat dan perbandingannya terhadap berat badan operator.

2) Jarak horizontal dari beban relatif terhadap operator.

3) Ukuran beban yang harus diangkat (beban yang berukuran besar) akan memiliki pusat massa (centre of gravity ) yang letaknya jauh dari operator, hal tersebut juga akan mempengaruhi pandangan operator.

4) Ketinggian beban yang harus diangkat dan jarak perpindahan beban (mengangkat beban dari permukaan lantai akan relatif lebih sulit daripada mengangkat beban dari ketinggian pada permukaan pinggang).

5) Beban puntir (twisting load) pada operator selama aktivitas angkat beban. 6) Prediksi terhadap berat beban yang akan diangkat. Hal ini adalah untuk

mengantisipasi beban yang lebih berat dari yang diperkirakan. 7) Stabilisasi beban yang akan diangkat.

8) Kemudahan untuk dijangkau oleh pekerja.

9) Frekuensi angkat, yaitu banyaknya aktifitas angkat.

10) Metode angakat yang benar ( tidak boleh mengangkut beban secara tiba-tiba)

11) Tidak teroordinasinya kelompok kerja( Lifting team)

12) Diangkatnya suatu beban dala suatu periode. Halini adalah sama dengan membawa beban pada jarak tertentu dan membei tambahan beban pada Verbral Disc (VD) dan Inetrvertebral Disc (ID) pada Vertebral Colum Di daerah Punggung.

(5)

2.4. Batasan Pengangkatan

Menurut Nurmianto (2003) batasan pengangkatan beban adalah : 1) Batasan angkatan secara legal (Legal Limitation)

Batasan ini dipakai sebagai batasan angkat secara internasional yaitu : a. Pria di bawah usia 16 th, maksimum angkat 14 kg.

b. Pria usia diantara 16 th dan 18 th, maksimum angkat 18 kg. c. Pria usia lebih dari 18 th, tidak ada batasan angkat.

d. Wanita usia diantara 16 th dan 18 th, maksimum angkat 11 kg. e. Wanita usia lebih dari 18 th, maksimum angkat adalah 16 kg.

Batasan ini dapat membantu mengurangi rasa nyeri, ngilu pada tulang belakang bagi para wanita. Batasan angkat ini akan mengurangi ketidaknyamanan kerja pada tulang belakang, terutama bagi operator untuk pekerjaan berat.

2) Batasan angkat dengan menggunakan biomekanika (Biomechanical Limitation)

Nilai dari analisa biomekanika adalah rentang postur atau posisi aktifitas kerja, ukuran beban dan ukuran manusia yang dievaluasi.

3) Batasan angkat secara fisiologis

Metode pendekatan ini dengan mempertimbangkan rata–rata beban metabolisme dari aktifitas angkat yang berulang, sebagaimana dapat juga ditentukan dari jumlah konsumsi oksigen. Hal ini haruslah benar–benar diperhatikan terutama dalam rangka untuk menentukan batasan angkat. Kelelahan kerja yang terjadi akibat dari aktifitas yang berulang–ulang akan meningkatkan resiko nyeri pada tulang belakang.

(6)

4) Batasan angkat secara psiko–fisik

Metode ini didasarkan pada sejumlah eksperimen yang berupaya untuk mendapatkan berat pada berbagai keadaan dan ketinggian beban yang berbeda-beda. Ada tiga macam posisi angkat :

a. Dari permukaan lantai ke ketinggian genggaman tangan. b. Dari ketinggian genggaman tangan dan ke ketinggian bahu. c. Dari ketinggian bahu ke maksimuman jangkauan tangan vertikal. 2.5. Penyesuaian untuk pemindahan material secara teknis

Menurut Numianto (2003) penyesuaian untuk pemindahan material secara teknis adalah :

a. Pindahan beban dengan yang berat dari mesin ke mesin yang telah dirancang dengan menggunakan roller (ban berjalan)

b. Gunakan meja yang dapat di gerakan naik-turun untuk menjaga agar permukaan dari meja kerja dapat langsung di pakaiuntuk memasukan lembaran logamataumpun benda kerja lainyake dalam mesin.

c. Tempatkan benda kerja pada permukaan yang lebih tinggi dan turunkan dengan gaya gravitasi

d. Berikan peralatan yang dapat mengangkat,misalnya ; pada ujung belakang trukuntuk memudahkan pengangkatan material, dengan demikian tidak di perlukan lagi alat angkat (Crane).

e. Rancanglah oferhead monorail dan hoist di utamakan yang menggunakan power (tenaga) baik untuk gerakan vertical maupun harisontal.

f. Rancanglah hoist atau fork-truck yang di keeling pada permukaaan lantai, di utamakan yang menggunakan power.

(7)

g. Desainlah kotak (tempat benda kerja) dengan di sertai handel yang ergonomis sehingga mudah pada waktu mengangkat.

h. Aturlah perletakan fasilitas sehingga semakin memudahkan metodoligi angkat benda pada ketinggian permukaaan pinggang.

i. Berilah tanda atau angka pada beban sesuai dengan beratnya.siapkan troloy dan pengungkit (lever) untuk mengangkat ujung dari drum (dengan volume 200 liter).

j. Bebaskan area kerja dari gerkan dan peletakan material yang menggangu jalur (access) dari operator.

k. Hindarkan lantai kerja dari sesuatu yang dapat membuat licin sehingga akan membahayakan operator pada saat perjalanan memindahkan material.

l. Buatlah suatu ruang kerja yang cukup untuk gerakan dinamis bebas operator.

m. Tempatkan semua material sedekat mungkin terhadap operator.

2.6. Beban Kerja

Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktifitas pekerjaan sehari-hari. Adanya massa otot yang beratnya hampir lebih dari separuh beban tubuh, memungkinkan kita untuk dapat menggerakkan dan melakukan pekerjaan, disatu pihak mempunyai arti penting bagi kemajuan dan peningkatan prestasi, sehingga mencapai kehidupan yang produktif sebagai tujuan hidup. Dipihak lain bekerja berarti tubuh akan menerima beban dari luar tubuhnya. Dengan kata lain bahwa setiap pekerjaan merupakan beban bagi yang bersangkutan. Beban tersebut dapat berupa beban fisik maupun beban mental. Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja yang

(8)

diterima oleh seseorang harus sesuai atau seimbang baik dalam kemampuan fisik, ognitif, maupun keterbatasan manusia yang menerima beban tersebut. kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari satu dengan yang lainnya dan sangat tergantung dari tingkat ketrampilan, kesegaran asmani, usia dan ukuran tubuh dari pekerja itu sendiri.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :