BERITA NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
No.785, 2020 KEMENSESNEG. Rombongan Perjalanan Dinas Presiden. Wakil Presiden. Tata Cara Penetapan. Pelaksanaan. Perjalanan Dinas.
PERATURAN MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2020
TENTANG
TATA CARA PENETAPAN DAN PELAKSANAAN PERJALANAN DINAS BAGI ROMBONGAN YANG DIIKUTSERTAKAN PADA PERJALANAN DINAS PRESIDEN
DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2018 tentang Perjalanan Dinas Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, perlu menetapkan Peraturan Menteri Sekretaris Negara tentang Tata Cara Penetapan dan Pelaksanaan Perjalanan Dinas Bagi Rombongan yang Diikutsertakan pada Perjalanan Dinas Presiden dan/atau Wakil Presiden Republik Indonesia;
Mengingat : 1. Pasal 17 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1978 tentang Hak Keuangan/Administratif Presiden dan Wakil Presiden Serta Bekas Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1978 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3128);
3. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2018 tentang Perjalanan Dinas Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 269, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6293);
5. Peraturan Presiden Nomor 31 Tahun 2020 tentang Kementerian Sekretariat Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 45);
6. Peraturan Menteri Sekretaris Negara Nomor 3 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sekretariat Negara (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 664) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Sekretaris Negara Nomor 8 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Sekretaris Negara Nomor 3 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Sekretariat Negara (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 933);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI SEKRETARIS NEGARA TENTANG TATA CARA PENETAPAN DAN PELAKSANAAN PERJALANAN DINAS BAGI ROMBONGAN YANG DIIKUTSERTAKAN PADA PERJALANAN DINAS PRESIDEN DAN/ATAU WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Perjalanan Dinas Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Perjalanan Dinas adalah serangkaian pelaksanaan kegiatan perjalanan yang dilakukan untuk kepentingan negara oleh:
a. Presiden dan/atau istri/suami Presiden beserta rombongan; atau
b. Wakil Presiden dan/atau istri/suami Wakil Presiden beserta rombongan,
keluar tempat kedudukan baik dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun keluar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Perjalanan Dinas Dalam Negeri adalah Perjalanan Dinas keluar tempat kedudukan yang dilakukan dalam wilayah Republik Indonesia.
3. Perjalanan Dinas Luar Negeri adalah Perjalanan Dinas yang dilakukan keluar wilayah Republik Indonesia.
4. Tempat Tujuan adalah tempat/kota yang menjadi tujuan Perjalanan Dinas.
5. Kunjungan Kenegaraan adalah kunjungan yang dilakukan oleh Presiden selaku Kepala Negara ke negara lain dalam suatu periode masa jabatan dan baru pertama kali dilakukan dengan tujuan untuk memperkenalkan diri atau mengawali suatu kerja sama dalam bidang tertentu.
6. Kunjungan Resmi adalah kunjungan yang dilakukan oleh Presiden selaku Kepala Negara ke negara lain dengan tujuan menindaklanjuti atau mengembangkan suatu perjanjian kerja sama yang disepakati sebelumnya atau berdasarkan undangan negara yang bersangkutan.
7. Kunjungan Kerja adalah kunjungan yang dilakukan oleh Presiden selaku Kepala Negara/Kepala Pemerintahan
atau Wakil Presiden dalam rangka menghadiri kegiatan di dalam dan luar negeri.
8. Kunjungan Lainnya adalah kunjungan yang dilakukan oleh Presiden, Wakil Presiden, istri/suami Presiden, dan/atau istri/suami Wakil Presiden dalam rangka menghadiri kegiatan selain Kunjungan Kenegaraan, Kunjungan Resmi, dan Kunjungan Kerja.
9. Tim Pendahulu adalah pejabat/pegawai yang ditugaskan untuk melakukan konfirmasi dan/atau kegiatan lainnya yang diperlukan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan kunjungan Presiden dan/atau Wakil Presiden sebelum keberangkatan rombongan utama.
10. Rombongan adalah seluruh unsur yang mempersiapkan dan mendampingi kegiatan Perjalanan Dinas.
11. Rombongan Utama adalah Rombongan yang berangkat bersama-sama dengan Presiden atau Wakil Presiden dari titik keberangkatan ke Tempat Tujuan hingga kembali ke tempat kedudukan Presiden atau Wakil Presiden.
12. Very Very Important Person yang selanjutnya disingkat VVIP adalah Presiden beserta keluarganya, Wakil Presiden beserta keluarganya, tamu negara setingkat kepala negara/kepala pemerintahan, serta pimpinan organisasi internasional.
13. Menteri adalah menteri menyelenggarakan dukungan teknis dan administrasi serta analisis urusan pemerintahan di bidang kesekretariatan negara.
BAB II
PERJALANAN DINAS Bagian Kesatu
Umum Pasal 2 Perjalanan Dinas meliputi:
a. Perjalanan Dinas Dalam Negeri; dan b. Perjalanan Dinas Luar Negeri.
Bagian Kedua
Perjalanan Dinas Dalam Negeri Pasal 3
(1) Perjalanan Dinas Dalam Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a terdiri atas:
a. Kunjungan Kerja; atau b. Kunjungan Lainnya.
(2) Kunjungan Kerja atau Kunjungan Lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan:
a. rapat terbatas/sidang kabinet;
b. rapat kerja nasional/peresmian musyawarah nasional/seminar;
c. peresmian;
d. perayaan hari ulang tahun/perayaan hari besar; e. menghadiri dialog;
f. penyerahan penghargaan;
g. peletakan batu pertama/pemancangan tiang pancang pembangunan suatu proyek;
h. pencanangan program;
i. mendampingi kunjungan tamu negara; dan/atau j. kegiatan lainnya sesuai arahan Presiden atau Wakil
Presiden.
Bagian Ketiga
Perjalanan Dinas Luar Negeri Pasal 4
(1) Perjalanan Dinas Luar Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b dilakukan untuk menghadiri tugas kenegaraan.
(2) Tugas kenegaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. Kunjungan Kenegaraan; b. Kunjungan Resmi; c. Kunjungan Kerja; dan d. Kunjungan Lainnya.
BAB III
JENIS ROMBONGAN Bagian Kesatu
Umum Pasal 5 Rombongan terdiri atas:
a. Tim Pendahulu; dan/atau b. Rombongan Utama.
Bagian Kedua Tim Pendahulu
Pasal 6
(1) Tim Pendahulu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dapat ditugaskan untuk melakukan persiapan pelaksanaan kegiatan kunjungan Presiden dan/atau Wakil Presiden di dalam atau luar negeri.
(2) Tim Pendahulu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas unsur:
a. Sekretariat Presiden atau Sekretariat Wakil Presiden; b. Sekretariat Militer Presiden;
c. Pasukan Pengamanan Presiden; d. Dokter Kepresidenan; dan
e. unsur lain yang dianggap perlu. Bagian Ketiga Rombongan Utama
Pasal 7
(1) Rombongan Utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b terdiri atas:
a. Rombongan resmi;
b. Rombongan pendukung; c. Rombongan tim media; dan
(2) Rombongan resmi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:
a. istri/suami Presiden atau Wakil Presiden sebagai pendamping;
b. menteri/kepala lembaga yang ditunjuk;
c. ketua/pimpinan/anggota/komisioner lembaga negara;
d. Kepala Perwakilan Republik Indonesia;
e. Kepala Sekretariat Presiden atau yang mewakili; f. Kepala Sekretariat Wakil Presiden atau yang
mewakili;
g. Sekretaris Militer Presiden atau yang mewakili;
h. Komandan Pasukan Pengamanan Presiden atau yang mewakili;
i. Kepala Protokol Negara; dan/atau j. para ahli; dan
k. unsur lainnya yang ditunjuk.
(3) Rombongan pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas unsur:
a. protokol; b. pengamanan; c. kesehatan;
d. publikasi dan dokumentasi;
e. pejabat/pegawai lainnya pada unit kerja di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara; dan f. unsur lainnya yang ditunjuk.
(4) Rombongan tim media sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri atas perwakilan media cetak dan elektronik.
(5) Rombongan awak moda transportasi milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan petugas yang mengoperasikan moda transportasi milik negara yang membawa Presiden atau Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Rombongan Utama.
BAB IV
PELAKSANAAN PERJALANAN DINAS BAGI ROMBONGAN Bagian Kesatu
Waktu Perjalanan Dinas bagi Tim Pendahulu Pasal 8
(1) Perjalanan Dinas bagi Tim Pendahulu untuk kegiatan Perjalanan Dinas Dalam Negeri dilakukan paling lama 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan.
(2) Untuk daerah tertentu yang lokasinya sulit dijangkau atau terdapat pertimbangan lain dari Kepala Sekretariat Presiden/Kepala Sekretariat Wakil Presiden/pejabat lainnya setingkat pimpinan tinggi madya, Perjalanan Dinas bagi Tim Pendahulu dapat dilakukan 4 (empat) hari sebelum pelaksanaan Perjalanan Dinas Dalam Negeri.
(3) Untuk lokasi/daerah tertentu di dalam negeri yang dapat dijangkau dengan kendaraan darat sampai dengan 6 (enam) jam, Perjalanan Dinas dilakukan paling lama 2 (dua) hari sebelum pelaksanaan Perjalanan Dinas Dalam Negeri.
(4) Dalam hal terdapat pertimbangan lain dari Kepala Sekretariat Presiden/Kepala Sekretariat Wakil Presiden/pejabat lainnya setingkat pimpinan tinggi madya, Tim Pendahulu dapat berangkat sebelum batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3).
(5) Tim Pendahulu harus kembali paling lama 1 (satu) hari sesudah Perjalanan Dinas kecuali terdapat pertimbangan lain dari Kepala Sekretariat Presiden/Kepala Sekretariat Wakil Presiden/pejabat lainnya setingkat pimpinan tinggi madya.
(6) Dalam hal diperlukan, Tim Pendahulu dapat diberikan tambahan hari berdasarkan pertimbangan dari Kepala Sekretariat Presiden/Kepala Sekretariat Wakil
Presiden/pejabat lainnya setingkat pimpinan tinggi madya.
(7) Tim Pendahulu yang dapat diberikan tambahan hari sebagaimana dimaksud pada ayat (6) berjumlah paling banyak 2 (dua) orang.
Pasal 9
(1) Perjalanan Dinas bagi Tim Pendahulu untuk kegiatan Perjalanan Dinas Luar Negeri dilakukan paling lama 3 (tiga) hari sebelum pelaksanaan.
(2) Untuk kegiatan konferensi tingkat tinggi dan/atau setingkat, Tim Pendahulu tiba di tempat kegiatan paling lama 5 (lima) hari sebelum pelaksanaan Perjalanan Dinas Luar Negeri.
(3) Dalam hal terdapat pertimbangan lain dari Kepala Sekretariat Presiden/Kepala Sekretariat Wakil Presiden/pejabat lainnya setingkat pimpinan tinggi madya, dapat berangkat sebelum batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).
(4) Tim Pendahulu harus kembali paling lama 1 (satu) hari sesudah Perjalanan Dinas kecuali terdapat pertimbangan lain dari Kepala Sekretariat Presiden/Kepala Sekretariat Wakil Presiden/pejabat lainnya setingkat pimpinan tinggi madya.
(5) Dalam hal diperlukan, Tim Pendahulu dapat diberikan tambahan hari berdasarkan pertimbangan dari Kepala Sekretariat Presiden/Kepala Sekretariat Wakil Presiden/pejabat lainnya setingkat pimpinan tinggi madya.
(6) Tim Pendahulu yang dapat diberikan tambahan hari sebagaimana dimaksud pada ayat (5) berjumlah paling banyak 2 (dua) orang.
Bagian Kedua Hak Penginapan
Pasal 10
(1) Tim Pendahulu, Rombongan resmi, Rombongan pendukung, dan Rombongan tim media dapat memperoleh penginapan yang sama dengan Presiden dan/atau Wakil Presiden yang disesuaikan dengan kebutuhan protokoler dan pengamanan VVIP.
(2) Rombongan awak moda transportasi milik negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (5) diberikan penginapan di sekitar wilayah di mana moda transportasi milik negara yang digunakan oleh Presiden atau Wakil Presiden mendarat/berlabuh.
Bagian Ketiga
Pelaksanaan dan Prosedur Administrasi Perjalanan Dinas bagi Rombongan
Pasal 11
(1) Tim Pendahulu melaksanakan Perjalanan Dinas berdasarkan surat perintah dari kepala satuan kerja masing-masing kementerian/lembaga.
(2) Surat perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat keterangan:
a. pemberi tugas; b. pelaksana tugas; c. waktu penugasan;
d. tempat tujuan Perjalanan Dinas; e. uraian tugas; dan
f. pembebanan anggaran. Pasal 12
(1) Penugasan Perjalanan Dinas Dalam Negeri untuk Rombongan Utama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) dilaksanakan berdasarkan Keputusan Kepala Sekretariat Presiden/Kepala Sekretariat Wakil Presiden.
(2) Penugasan Perjalanan Dinas Luar Negeri untuk Rombongan Utama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Rombongan resmi berdasarkan Keputusan Presiden; dan
b. Rombongan selain Rombongan resmi berdasarkan Keputusan Kepala Sekretariat Presiden/Kepala Sekretariat Wakil Presiden.
(3) Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) paling sedikit memuat keterangan:
a. pemberi tugas; b. pelaksana tugas; c. waktu penugasan;
d. tempat tujuan Perjalanan Dinas; e. uraian tugas; dan
f. pembebanan anggaran. Pasal 13
Ketentuan administrasi lain terkait dengan pelaksanaan dan pertanggungjawaban Perjalanan Dinas bagi Rombongan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB V
BIAYA PERJALANAN DINAS BAGI ROMBONGAN Pasal 14
Biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan Perjalanan Dinas bagi Rombongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 terdiri atas komponen sebagai berikut:
a. biaya transportasi; b. biaya penginapan; c. biaya uang harian; d. biaya asuransi; dan
Pasal 15
(1) Biaya transportasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf a terdiri atas biaya:
a. transportasi ke terminal bus/stasiun/bandar udara/pelabuhan dan biaya transportasi dari terminal bus/stasiun/bandar udara/pelabuhan di tempat kedudukan;
b. tiket moda transportasi komersial;
c. operasional moda transportasi milik negara;
d. sewa/charter moda transportasi dalam kota/ antar kota/negara;
e. ruang tunggu utama VVIP beserta fasilitasnya;
f. airport tax dan retribusi yang dipungut di terminal
bus, stasiun, bandar udara, atau pelabuhan;
g. aplikasi visa dan biaya resmi keimigrasian lainnya; h. bagasi VVIP moda transportasi publik;
i. transportasi di Tempat Tujuan/transit; dan/atau j. transportasi lainnya dalam rangka melaksanakan
Perjalanan Dinas.
(2) Pembagian kelas biaya tiket moda transportasi komersial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, disesuaikan dengan kebutuhan protokoler dan pengamanan VVIP.
Pasal 16
(1) Biaya penginapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf b terdiri atas biaya:
a. menginap; dan
b. laundry, minibar, dan in-room dining.
(2) Pembagian kelas biaya menginap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a disesuaikan dengan kebutuhan protokoler dan pengamanan VVIP.
(3) Biaya yang diperlukan untuk pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya diperuntukkan bagi Rombongan resmi.
Pasal 17
(1) Biaya uang harian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf c digunakan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari Rombongan selama melaksanakan Perjalanan Dinas.
(2) Biaya uang harian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak termasuk dalam komponen biaya konsumsi, biaya penginapan, dan biaya transportasi.
Pasal 18
(1) Biaya asuransi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf d dibayarkan selama melaksanakan Perjalanan Dinas.
(2) Biaya asuransi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibayarkan sesuai dengan biaya riil.
Pasal 19
(1) Biaya operasional Perjalanan Dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 huruf e diberikan untuk membiayai pengeluaran yang diperlukan selama kegiatan Perjalanan Dinas.
(2) Biaya operasional Perjalanan Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. biaya dukungan acara dan kegiatan; b. biaya konsumsi;
c. biaya kesekretariatan; dan/atau
d. bantuan kegiatan kerja/insentif tambahan di luar negeri.
(3) Biaya dukungan acara dan kegiatan sebagaimana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a digunakan untuk mendukung kelancaran acara dan kegiatan Presiden dan/atau Wakil Presiden.
(4) Biaya konsumsi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b disediakan untuk Rombongan selama melaksanakan Perjalanan Dinas.
(5) Biaya kesekretariatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c digunakan untuk:
a. pengadaan alat tulis kantor; dan b. penyewaan peralatan kantor.
(6) Bantuan kegiatan kerja/insentif tambahan di luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d diberikan kepada petugas lokal dan tenaga perbantuan Kedutaan Besar Republik Indonesia/Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk mendukung kegiatan Perjalanan Dinas luar negeri.
Pasal 20
Besaran Komponen biaya Perjalanan Dinas bagi Rombongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan di bidang keuangan negara.
Pasal 21
(1) Segala biaya yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan Perjalanan Dinas bagi Rombongan dibebankan pada: a. anggaran pendapatan dan belanja negara melalui
daftar isian pelaksanaan anggaran kementerian yang menyelenggarakan dukungan teknis dan administrasi serta analisis urusan pemerintahan di bidang kesekretariatan negara bagi Rombongan yang berasal dari kementerian yang menyelenggarakan dukungan teknis dan administrasi serta analisis urusan pemerintahan di bidang kesekretariatan negara; dan/atau
b. anggaran pendapatan dan belanja negara melalui daftar isian pelaksanaan anggaran kementerian/ lembaga lain bagi Rombongan yang berasal dari selain kementerian yang menyelenggarakan dukungan teknis dan administrasi serta analisis urusan pemerintahan di bidang kesekretariatan negara.
(2) Rombongan yang berasal dari kementerian yang menyelenggarakan dukungan teknis dan administrasi serta analisis urusan pemerintahan di bidang
kesekretariatan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:
a. pejabat/pegawai pada unit organisasi di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara; dan
b. pejabat/pegawai lain atau unsur lainnya yang termasuk ke dalam Rombongan resmi.
(3) Pembebanan biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 22
(1) Dalam hal terjadi pembatalan pelaksanaan kegiatan Perjalanan Dinas bagi Rombongan, biaya pembatalan dapat dibebankan pada daftar isian pelaksanaan anggaran kementerian negara/lembaga yang mengikuti Perjalanan Dinas dengan beban anggaran masing-masing.
(2) Pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibedakan menjadi:
a. pembatalan pelaksanaan kegiatan Perjalanan Dinas secara keseluruhan;
b. pembatalan salah satu atau beberapa agenda yang telah dipersiapkan dalam rangkaian kegiatan Perjalanan Dinas; atau
c. pembatalan personel yang akan melaksanakan Perjalanan Dinas Dalam Negeri.
(3) Dokumen yang harus dilampirkan dalam rangka pembebanan biaya pembatalan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. surat pernyataan pembatalan tugas Perjalanan Dinas dari Kepala Sekretariat Presiden/Kepala Sekretariat Presiden/pejabat yang diberi wewenang; b. surat pernyataan pembebanan biaya pembatalan
Perjalanan Dinas yang ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen; dan
c. pernyataan/tanda bukti besaran biaya pembatalan yang disahkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen.
BAB VI
PENGENDALIAN INTERNAL Pasal 23
Dalam rangka efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas pelaksanaan Perjalanan Dinas, Menteri dan menteri/pimpinan lembaga menyelenggarakan pengendalian internal terhadap pelaksanaan Perjalanan Dinas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
BAB VII
KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 24
Tata cara pengajuan pihak dalam Rombongan yang diikutsertakan pada Perjalanan Dinas ditetapkan dengan Standard Operating Procedures Kepala Sekretariat Presiden atau Kepala Sekretariat Wakil Presiden.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP Pasal 25
Peraturan Menteri ini berlaku bagi seluruh kementerian negara/lembaga yang diikutsertakan menjadi Rombongan dalam Perjalanan Dinas.
Pasal 26
Pada saat Peraturan Menteri ini berlaku, Peraturan Menteri Sekretaris Negara Nomor 19 Tahun 2015 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembayaran Honorarium, Uang Lembur, Uang Makan, dan Perjalanan Dinas di Lingkungan Kementerian Sekretariat Negara sepanjang mengenai ketentuan yang berkaitan dengan Perjalanan Dinas bagi pejabat negara/pegawai negeri/pegawai tidak tetap yang diikutsertakan pada Perjalanan Dinas Presiden dan Wakil
Presiden Republik Indonesia, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 27
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 6 Juli 2020
MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,
ttd PRATIKNO Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 17 Juli 2020 DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
ttd