KABUPATEN BANDUNG BARAT
TAHUN 2015
KERJASAMA
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung Barat
Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Barat
Tahun
2015
KATA SAMBUTAN
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat, hidayah dan karunia-Nya penyusunan dokumen Indeks Kesulitan Geografis Kabupaten Bandung Barat ini dapat diselesaikan. Dokumen ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan data yang menggambarkan tingkat kesulitan geografis desa di wilayah administrasi Kabupaten Bandung Barat. Tingkat kesulitan geografis desa tersebut meliputi ketersediaan pelayanan dasar, kondisi infrastruktur dan aksesibilitas/transportasi sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 93/PMK.07/2015 tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan Dan Evaluasi Dana Desa.
Dokumen ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai tingkat aksesibilitas desa terhadap ketersediaan pelayanan dasar yaitu pendidikan dan kesehatan, fasilitas kegiatan ekonomi dan ketersediaan energi serta aksesibilitas/transportasi yang meliputi akses jalan dan sarana transportasi. Dengan nilai indeks yang berbeda di tiap desa, hal ini dapat membantu pemerintah Kabupaten Bandung Barat dalam menentukan skala prioritas pembangunan, khususnya wilayah pedesaan.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung Barat sebagai mitra kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Bandung Barat, yang telah membantu dalam penyusunan dokumen Indeks Kesulitan Geografis Kabupaten Bandung Barat ini.
Semoga, hasil penyusunan dokumen ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, baik pemerintah daerah maupun stakeholders yang ada di Kabupaten Bandung Barat.
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Bandung Barat, Desember 2015 Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Kabupaten Bandung Barat
Ir. H. ASEP SODIKIN, MUM NIP. 19630801 199203 1 004
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dengan memuji syukur ke hadirat Allah SWT, publikasi Indeks
Kesulitan Geografis (IKG) Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 dapat
terbit pada waktunya. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Barat sebagai lembaga yang menangani statistik, melaksanakan kerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung Barat dalam melakukan penyusunan IKG Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 ini.
Publikasi ini memuat gambaran kondisi geografisdesa Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2015. Informasi yang disajikan adalah
mengenai kondisi pelayanan dasar, kondisi infrastruktur dan
aksesibilitas/transortasi. Selain sebagai bahan dasar monitoring dan evaluasi, analisis ini diharapkan dapat dijadikan dasar perencanaan pembangunan Kabupaten Bandung Barat untuk waktu mendatang.
Akhirnya, ucapan terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak
yang telah mendukung Penyusunan Indeks Kesulitan Geogafis Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 ini. Semoga publikasi ini dapat bermanfaat dan dijadikan rujukan dalam penentuan kebijakan pembangunan selanjutnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bandung Barat, Desember 2015
KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN BANDUNG BARAT
Dra. Hj. Lilis Pujiawati NIP. : 19610814 199003 2 001
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 iii
Daftar ISI
Halaman
KATA SAMBUTAN... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR LAMPIRAN... vii
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Tujuan ... 3 1.3 Ruang Lingkup... 4 1.4 Sistematika Penulisan... 4
BAB II. METODOLOGI 5 2.1 Sumber Data... 5 6 2.2 Konsep Dan Definisi... 7
2.3 Perhitungan Indeks Kesulitan Geografis (IKG)... 17
2.3.1 Ketersediaan Pelayanan Dasar... 18
2.3.2 Kondisi Infrastruktur... 19
2.3.3 Aksesibilitas/Transportasi... 20
2.3.4 Penentuan Penimbang Setiap Variabel Penyusun IKG... 21
2.3.5 Rumus Perhitungan IKG Dan IKW... 23
BAB III. GAMBARAN UMUM 3.1 Profil Kabupaten Bandung Barat... 25
3.2 Gambaran Umum... 31
3.2.1 Gambaran Umum Pelayanan Dasar... 31
3.2.2 Gambaran Umum Kondisi Infrastruktur... 33
3.2.3 Gambaran Umum Transportasi... 35
3.2.4 Gambaran Umum Komunikasi... 36
BAB IV. PENCAPAIAN IKG DESA 4.1 Keterbukaan Wilayah... 39
4.1.1 Pelayanan Dasar... 40
4.1.2 Kondisi Infrastuktur... 44
4.1.3 Aksesibilitas/Transportasi... 49
4.2 Indeks Kesulitan Geografis (IKG)... 54
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan... 59
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 iv
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 v
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1. Penimbang setiap Variabel Penyusun IKG ... 22
Tabel 4.1. Desa dengan Tingkat Aksesibilitas Tertinggi... 40
Tabel 4.2. Penyebaran Fasilitas Pendidikan di Kecamatan
se Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015... 41
Tabel 4.3. Jumlah Desa Yang Memiliki Fasilitas Kesehatan
di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015... 42
Tabel 4.4. Desa dengan Tingkat Kesulitan Tertinggi dalam
Ketersediaan Pelayanan Dasar di Kabupaten
Bandung Barat Tahun 2015... 44
Tabel 4.5. Jumlah dan persentase desa menurut jenis
Infrastruktur di Kabupaten Bandung Barat
Tahun 2015... 45
Tabel 4.6. Keberadaan Pasar dan Kios Penjual Sarana
Produksi Pertanian di Kabupaten Bandung
Barat Tahun 2015... 47
Tabel 4.7. Jumlah dan persentase desa menurut jenis
infrastruktur di Kabupaten Bandung Barat
Tahun 2015... 47
Tabel 4.8. Desa dengan Tingkat KesulitanTertinggi untuk
akses ke Infrastruktur di Kabupaten Bandung
Barat Tahun 2015... 48
Tabel 4.9. Gambaran Kondisi Transportasi di Kabupaten
Bandung Barat Tahun 2015... 51
Tabel 4.10. Desa dengan Tingkat Kesulitan Indeks Faktor Infrastruktur Tertinggi di Kabupaten Bandung
Barat Tahun 2015... 52
Tabel 4.11. Kondisi Komunikasi Desa di Kabupaten
Bandung Barat... 53
Tabel 4.12. Desa dengan Indeks Kesulitan Geografis
Tertinggi... 55
Tabel 4.13. Distribusi Frekuensi IKG berdasarkan
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 vi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 3.1. Peta Administratif Kabupaten Bandung Barat... 22
Gambar 3.2. Peta sebaran penduduk menurut kecamatan
Tahun 2013- 2014... 28
Gambar 3.3. Persentase Tingkat Pendidikan Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas di Kabupaten Bandung Barat
Tahun 2014... 32
Gambar 3.4. Komposisi Jalan menurut kondisi jalan di
Kabupaten Bandung Barat Tahun 2014... 34
Gambar 4.1. Penyebaran Puskesmas/pustu dan Balai
pengobatan/Poliklinik di Desa se Kabupaten
Bandung Barat... 43
Gambar 4.2. Keberadaan Jalan Aspal/Beton dan Penerangan
Jalan Utama Desa... 46
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 vii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 IKG Kecamatan Batujajar... 63
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Batujajar... 64
Lampiran 2 IKG Kecamatan Cihampelas... 65
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Cihampelas... 66
Lampiran 3 IKG Kecamatan Cikalongwetan ... 67
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Cikalongwetan... 68
Lampiran 4 IKG Kecamatan Cililin... 69
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Cililin... 70
Lampiran 5 IKG Kecamatan Cipatat... 71
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Cipatat ... 72
Lampiran 6 IKG Kecamatan Cipeundeuy... 73
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Cipeundeuy... 74
Lampiran 7 IKG Kecamatan Cipongkor... 75
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Cipongkor... 76
Lampiran 8 IKG Kecamatan Cisarua... 77
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Cisarua... 78
Lampiran 9 IKG Kecamatan Gununghalu... 79
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Gununghalu ... 80
Lampiran 10 IKG Kecamatan Lembang... 81
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Lembang... 82
Lampiran 11 IKG Kecamatan Ngamprah... 83
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Ngamprah... 84
Lampiran 12 IKG Kecamatan Padalarang... 85
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Padalarang... 86
Lampiran 13 IKG Kecamatan Parongpong... 87
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Parongpong... 88
Lampiran 14 IKG Kecamatan Rongga ... 89
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Rongga ... 90
Lampiran 15 IKG Kecamatan Saguling... 91
Peta Sebaran IKG Desa Kecamatan Saguling... 92
Lampiran 16 IKG Kecamatan Sindangkerta... 93
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu tujan yang ingin di capai dalam pembangunan adalah adanya pemerataan kesejahteraan masyarakat. Hal ini sejalan dengan kebijakan otonomi daerah yang di undangkan pada tahun 2000 untuk mendorong percepatan dan pemerataan pembangunan disemua daerah. Pelaksanaan pembangunan daerah sebagai wujud pelaksanaan otonomi dan desentralisasi bagi Kabupaten/Kota tidaklah semakin mudah dan ringan karena dihadapkan pada berbagai tantangan dan hambatan yang ada di daerah, khususnya daerah tertinggal atau desa sebagai wilayah terkecil, yang sulit dalam menjangkau fasilitas publik. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014, Desa merupakan daerah yang memiliki batas wilayah, yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat. Pemerintahan desa memiliki peranan yang sangat vital dalam keberhasilan pembangunan, maka dari itu perlu disusun strategi pembangunan untuk wilayah pedesaan agar pelaksanaan pembangunan dapat berjalan dengan baik.
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 2
Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010 secara umum sebagian besar penduduk di Indonesia, khususnya di Kabupaten Bandung Barat berada di wilayah pedesaan, yang terdiri dari 165 desa dengan letak geografis yang berbeda-beda dan tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bandung Barat.
Desa sebagai wilayah terkecil dalam pelaksanaan pembangunan daerah, tidak dengan mudah dapat melaksanakan proses pembangunan. Salah satu yang menjadi kendala dalam pelaksanaan pembangunan di desa adalah tingkat kesulitan geografis desa. Hal tersebut dapat digambarkan sebagai tingkat aksesibilitas desa. Desa dengan tingkat aksesibilitas tinggi maka desa tersebut memiliki tingkat kesulitan yang rendah dan akan lebih mudah dalam melaksanakan pembangunan, karena desa dengan aksesibilitas yang tinggi dapat dengan mudah menjangkau sarana dan prasarana umum, baik itu sarana kesehatan, pendidikan dan perekonomian. Sebaliknya desa dengan tingkat aksesibilitas rendah, maka desa tersebut memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Dengan tingkat kesulitan geografis yang tinggi, desa tersebut akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan program-program pembangunan. Dampak lebih luas yang diakibatkan oleh perbedaan dari tingkat kesulitan geografis desa adalah ketimpangan kesejahteraan masyarakat antar desa.
Untuk memberikan gambaran mengenai tipologi desa menurut tingkat kesulitan geografis diperlukan sebuah standar ukuran yang
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 3
untuk semua desa sehingga dapat ditentukan peringkat kesulitan geografis desa dari yang termudah sampai yang tersulit.
Tingkat kesulitan geografis diukur berdasarkan jangkauan
ketersediaan pelayanan dasar, infrastruktur dan
aksesibilitas/transportasi. Semakin besar tingkat kesulitan geografis berarti semakin sulit desa dalam menjangkau ketersediaan akan
pelayanan dasar, infrastruktur dan aksesibilitas/transportasi,
dibandingkan dengan desa yang memiliki tingkat kesulitan geografis yang lebih rendah. Sehingga desa dengan Indeks Kesulitan Geografis yang tinggi perlu perhatian yang lebih besar dari pemerintah.
1.2. Tujuan
Penyusunan publikasi Indeks Kesulian Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015, dengan tujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui seberapa besar perbedaan tingkat kesulitan
geografis antar desa di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015.
2. Menghitung keterbukaan wilayah setiap desa dengan
mengidentifikasi kondisi geografis desa, ketersediaan pelayanan dasar, kondisi infrastruktur, dan aksesibilitas/transportasi.
3. Memberikan rekomendasi implementasi program berdasarkan
perbedaan Indeks Kesulitan Geografis (IKG) desa di Kabupaten Bandung Barat
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 4
1.3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Penyusunan Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 ini adalah mencakup seluruh wilayah administratif desa di Kabupaten Bandung Barat.
1.4. Sistematika Penulisan
Publikasi ini terdiri dari 5 (lima) bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan, berisi latar belakang, tujuan, ruang lingkup dan sistematika penulisan.
BAB II Metodologi, berisi sumber data, konsep dan definisi serta perhitungan Indeks Kesulitan Geografis (IKG) yang digunakan pada penulisan publikasi ini.
BAB III Gambaran umum, mengemukakan Profil dan kondisi umum Kabupaten Bandung Barat dilihat dari kondisi geografis desa, ketersediaan pelayanan dasar, kondisi infrastruktur, dan aksesibilitas/ transportasi serta komunikasi.
BAB IV Pencapaian Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa, mengemukakan tentang IKG Desa Kabupaten
Bandung Barat tahun 2015 beserta faktor
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 5
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 6
BAB II
METODOLOGI
2.1. Sumber Data
Publikasi ini menggunakan data dari berbagai sumber, baik data primer maupun sekunder. Data sekunder digunakan sebagai data penunjang dalam melakukan analisis, data sekunder ini merupakan data terpilah dari berbagai dinas/instansi yang ada di Kabupaten Bandung Barat dan data pendukung lainnya dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Barat yang memiliki kaitan dengan pembahasan pada publikasi ini.
Sumber data yang utama berasal dari hasil pemutakhiran
(updating) PODES dan Basis Data Pembangunan. Pencacahan
dilakukan melalui wawancara langsung oleh petugas pelaksana teknis kegiatan terhadap responden. Dalam hal ini responden di tingkat kecamatan adalah camat maupun staf yang ditunjuk serta nara sumber lain yang relevan. Adapun untuk responden di tingkat desa adalah kepala desa maupun perangkat desa yang ditunjuk serta nara sumber lain yang relevan.
Basis Data Pembangunan merupakan data dan informasi berbasis wilayah (spasial) digunakan untuk melengkapi data dan informasi sektoral yang telah ada. Data dan informasi tentang potensi
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 7
spesifik yang dimiliki oleh semua wilayah hingga tingkat terkecil (small
areas) digabungkan dengan master file desa sebagai penghubung
untuk mencocokkan wilayah administrasi pada sumber data yang berbeda tersebut. Basis Data Pembangunan yang telah termutakhirkan
kemudian dilakukan perekaman (entri data) selanjutnya
dilakukan pemeriksaan konsistensi data (validasi). Data yang sudah dipastikan kebenarannya kemudian dilakukan perhitungan Indeks Kesulitan Geografis.
2.2. Konsep dan Definisi
Beberapa konsep dan definisi yang digunakan dalam publikasi ini antara lain sebagai berikut :
Angkutan suatu kegiatan usaha menyediakan jasa angkutan penumpang dan atau barang/ternak dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan alat angkutan bermotor maupun tidak bermotor, baik melalui darat maupun air.
Angkutan umum salah satu media transportasi yang digunakan masyarakat secara bersama-sama dengan membayar tarif.
Antena parabola sebuah antena berdaya jangkau tinggi yang digunakan untuk komunikasi radio, televisi dan data dan juga untuk radiolocation (RADAR), pada bagian UHF and SHF dari spektrum gelombang elektromagnetik. Fungsi antena parabola yang umum diketahui oleh masyarakat di Indonesia adalah
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 8
sebagai alat untuk menerima siaran televisi satelit.
Apotek suatu sarana kesehatan yang digunakan untuk pekerjaan kefarmasian, dan penyaluran/ penjualan obat/ bahan farmasi
Balai pengobatan tempat pemeriksaan kesehatan di bawah pengawasan mantri kesehatan.
Bank Umum bank yang dapat memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Usaha dari bank umum adalah menghimpun dana masyarakat dalam bentuk giro, deposito berjangka, sertifikat deposito dan tabungan serta menyalurkan kredit
Bencana alam peristiwa atau serangkaian peristiwa yang kejadiannya tidak terduga, mengancam dan mengganggu kehidupan/penghidupan masyarakat yang di sebabkan oleh faktor alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor sehingga dapat (berpotensi) mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerugian materi (harta benda), kerusakan lingkungan, dan rasa khawatir bagi sebagian besar penduduk.
Biaya transportasi rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk sekali jalan. Bila rute yang digunakan pulang dan pergi berbeda maka yang digunakan adalah biaya rata-rata. Jika untuk menuju kantor bupati, warga menggunakan lebih dari satu modal transportasi maka pilih angkutan yang paling banyak digunakan oleh warga. Rata-rata biaya transportasi dari desa ke ibukota kabupaten untuk sekali jalan adalah Rp.31.866,-
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 9
Bidan desa seorang petugas paramedis yang bertugas sebagai bidan di desa/kelurahan dengan SK (bidan di desa). Bidan yang dimaksud adalah seorang petugas paramedis yang memperoleh pendidikan formal mengenai kebidanan dan tidak termasuk seseorang yang memperoleh pendidikan dan pelatihan kebidanan dari instansi terkait, seperti dinas kesehatan.
Dataran Bagian atau sisi bidang tanah yang tampak datar, rata, dan membentang.
Desa kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Undang- Undang Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Desa).
Di dalam hutan desa yang seluruh wilayahnya terletak di tengah/dikelilingi hutan.
Di tepi/sekitar hutan desa yang wilayahnya berbatasan langsung dengan hutan, atau sebagian wilayah desa tersebut berada di dalam hutan.
Diluar hutan desa yang seluruh wilayahnya tidak berbatasan langsung dengan hutan.
Fasilitas internet tersedia fasilitas akses internet melalui instalasi khusus internet terdiri dari jaringan telepon, modem, wifi, dan sebagainya.
Hotel jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau keseluruhan bangunan untuk jasa pelayanan penginapan, penyedia makanan dan minuman serta jasa lainnya bagi masyarakat umum
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 10
yang dikelola secara komersial dengan ijin usaha sebagai hotel
Hutan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang di dominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya
yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (Undang-Undang Nomor 41
Tahun 1999 Tentang Kehutanan).
Informasi hasil dari proses pengolahan data atau komunikasi antara satu orang dengan orang lain melalui media, media TV, radio, surat kabar, dan lain-lain.
Jalan prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.
Jalan poros utama jalan utama yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, antar ibukota kabupaten/kota, atau jalan kabupaten serta merupakan jalan strategis kabupaten.
Jalan umum jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum.
Jalan utama desa jalan yang di anggap oleh sebagian besar penduduk desa/kelurahan setempat sebagai jalan yang paling penting atau paling sering digunakan untuk arus transportasi dari/menuju kantor camat terdekat.
Jarak tempuh ke ibukota
kabupaten jarak yang sering dilalui kendaraan, yang biasa digunakan oleh dengan warga untuk menuju ibukota
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 11
kabupaten. Rata-rata jarak tempuh di kabupaten bandung barat dari desa ke ibukota kabupaten adalah 29,35 km.
Jenis permukaan jalan
terluas jenis permukaan jalan terluas yang ada di desa/kelurahan. Jenis permukaan jalan terdiri dari : aspal/beton, diperkeras (dengan kerikil atau batu), tanah, dan lainnya yaitu terbuat dari kayu/papan yang biasanya
digunakan di daerah rawa, termasuk jalan setapak, jalan di hutan
dan sejenisnya.
Jenjang Pendidikan
SD/MI/Sederajat meliputi jenjang Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), baik negeri maupun swasta
Jenjang pendidikan SMP
/ MTs/Sederajat meliputi jenjang Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), baik negeri maupun swasta
Jenjang Pendidikan
SMU/SMA/SMK/Sederajat meliputi Sekolah Menengah Umum, Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan dan Madrasah Aliyah kejuruan (MAK) baik negeri maupun swasta
Jenjang Pendidikan TK/RA/BA
meliputi Taman Kanak-kanak (TK), Bustanuf Athfal (BA) dan Raudatul Athfal (RA)
Kantor Kepala Desa bangunan aset desa yang diperuntukkan secara khusus untuk kegiatan operasional pemerintahan desa yang tidak dimiliki oleh pribadi.
Kelompok Pertokoan sejumlah toko yang terdiri dari minimal 10 toko dan mengelompok dalam satu lokasi. Dalam satu kelompok pertokoan, jumlah bangunan fisiknya bisa lebih dari satu.
Keluarga berlangganan
telepon kabel keluarga yang berlangganan sambungan telepon dengan sistem jaringan operasionalnya menggunakan kabel sambungan telepon rumah.
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 12
Ketinggian (altitude) ketinggian wilayah desa dari permukaan air laut dalam satuan meter dpal yang diukur menggunakan altimeter. Rata-rata ketinggian wilayah desa di Kabupaten Bandung Barat adalah 769,16 mdpal.
Kios yang menjual sarana
produksi pertanian tempat penjualan pupuk, bibit, dan lain-lain untuk keperluan tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan
perikanan yang dibedakan menurut kepemilikan (KUD atau
non-KUD).
Komunikasi proses penyampaian lambang-lambang yang mengandung arti antara satu orang dengan orang lain. Komunikasi meliputi kegiatan telekomunikasi dan kegiatan pos dan giro.
Koperasi badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi
dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Keanggotaannya sukarela dan terbuka.
Koperasi unit desa (KUD suatu organisasi ekonomi yang berwatak sosial merupakan wadah bagi pengembangan berbagai kegiatan ekonomi masyarakat pedesaan yang diselenggarakan oleh dan untuk masyarakat itu sendiri.
Lembaga pendidikan lembaga yang menghasilkan siswa yang lulus dan diakui/di sahkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang dibuktikan dengan sertifikat/ijazah. Lembaga pendidikan dalam hal ini tidak termasuk lembaga pendidikan baru terdaftar secara definitif dan belum melakukan aktifitas belajar mengajar. Banyak lembaga kursus keterampilan yang menyebutkan bahwa lulusan kursusnya setara dengan diploma padahal belum tentu diakui oleh Kemendikbud sebagai diploma.
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 13
Lembah daerah rendah yang terletak diantara dua pegunungan atau dua gunung atau daerah yang mempunyai kedudukan lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya. Lembah di daerah pegunungan lipatan sering disebut sinklin. Lembah di daerah pegunungan patahan disebut graben atau slenk. Sedangkan lembah di daerah yang bergunung-gunung disebut lembah antar pegunungan.
Lereng bagian dari gunung/bukit yang terletak di antara puncak sampai lembah. Lereng yang dimaksud juga mencakup punggung bukit dan puncak (bagian paling atas dari gunung).
Pasar tempat pertemuan antara penjual dan pembeli barang dan jasa. Pasar bisa menggunakan bangunan yang bersifat permanen atau semi permanen ataupun tanpa bangunan.
Pasar dengan bangunan
permanen pasar pada bangunan tetap, yang memiliki lantai, atap, dan dinding permanen.
Pasar dengan bangunan semi permanen
pasar pada bangunan tetap, yang memiliki lantai dan atap, tetapi tanpa dinding. Bangunan pada pasar tradisional yang mencakup bangunan permanen dan semi permanen dikategorikan sebagai pasar dengan bangunan permanen.
Pasar tanpa bangunan pasar yang tidak berada dalam bangunan, seperti pasar kaget (pasar yang muncul di lokasi yang bukan di peruntukkan pasar dan selesai dengan cepat).
Penerangan jalan lampu yang digunakan untuk penerangan jalan di malam hari sehingga pejalan kaki, pesepeda, dan pengendara
dapat melihat dengan lebih jelas jalan yang akan dilalui pada malam hari,
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 14
sehingga dapat meningkatkan keselamatan lalu lintas dan keamanan para pengguna jalan.
Penginapan jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau keseluruhan bangunan untuk jasa pelayanan penginapan bagi umum, biasanya tanpa fasilitas pelayanan makan minum yang dikelola secara komersial dengan ijin usaha bukan hotel
Poliklinik sarana kesehatan/bangunan yang dipakai untuk pelayanan berobat jalan. Biasanya dikelola oleh swasta atau organisasi keagamaan tertentu.
Pondok Bersalin Desa
(Polindes) bangunan sumbangan dana pemerintah dan yang dibangun dengan partisipasi masyarakat desa untuk tempat pertolongan persalinan dan pemondokan ibu bersalin, sekaligus tempat tinggal bidan di desa.
Pos kesehatan desa
(Polindes) sarana dibentuk di desa/ kelurahan dalam kesehatan/bangunan yang rangka mendekatkan/ menyediakan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa/kelurahan.
Posyandu salah satu wadah peran serta masyarakat yang dikelola dan
diselenggarakan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat guna
memperoleh pelayanan kesehatan dasar dan memantau pertumbuhan balita.
Progam TV progam yang dirancang/disusun oleh stasiun/ pemancar TV, baik stasiun TVRI, TV daerah, maupun TV luar negeri.
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 15
Pusat kesehatan
masyarakat (Puskesmas) sebagai unit pelayanan kesehatan milik pemerintah (pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/ kota) yang bertanggungjawab terhadap pelayanan kesehatan masyarakat untuk wilayah kecamatan, sebagian kecamatan, atau kelurahan/desa.
Puskesmas pembantu
(Pustu) sarana dipakai sebagai pusat kesehatan kesehatan/bangunan yang masyarakat untuk wilayah yang lebih kecil, misal di desa/kelurahan. Pustu merupakan sarana kesehatan milik pemerintah yang berfungsi menunjang dan membantu memperluas jangkauan puskesmas.
Restoran suatu jenis usaha yang mempergunakan seluruh bangunan secara permanen untuk menyediakan jasa pangan yang pengolahan dan penyajiannnya secara langsung di tempat sesuai dengan keinginan para pengguna jasa yang mempunyai ciri pembeli biasanya dikenakan pajak
Rumah Makan jenis usaha yang menyediakan jasa pangan yang pengolahan makanannya bisa dilakukan diluar
rumah makan, yang mempunyai ciri pembeli biasanya dikenakan pajak
Rumah Sakit sarana kesehatan/bangunan tempat untuk melayani penderita yang sakit untuk berobat rawat jalan atau rawat inap yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat dan tenaga ahli kesehatan lainnya
Sarana kesehatan tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan, dalam hal ini adalah sarana kesehatan yang masih aktif/beroperasi.
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 16
Sinyal telepon seluler besaran elektromagnetik yang berubah dalam ruang dan waktu dengan membawa informasi yang memberikan konfirmasi bahwa layanan telepon seluler/handphone sudah tersedia.
Telekomunikasi hubungan komunikasi jarak jauh melalui pemancaran, pengiriman atau penerimaan segala jenis tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara, atau berita melalui kawat, radio, secara visual atau sistem elektronik.
Tempat praktek bidan sarana kesehatan/bangunan yang digunakan untuk tempat praktek bidan yang biasanya memberikan pelayanan ibu hamil dan bayi.
Tempat praktek dokter sarana kesehatan/bangunan yang digunakan untuk tempat praktek dokter yang biasanya memberikan pelayanan berobat jalan, termasuk praktek dokter yang mempunyai fasilitas rawat inap dan apotek.
Trayek angkutan lintasan/rute/jalur angkutan umum untuk pelayanan jasa angkutan
orang, barang, dan atau orang dan barang yang mempunyai asal,
tujuan dan lintasan perjalanan yang tetap tidak termasuk hanya
barang saja. Kendaraan umum dengan trayek tetap, tetapi operasionalnya dapat
di luar jalur trayek (sesuai permintaan penumpang), maka termasuk trayek tetap.
TV kabel sistem penyiaran acara televisi lewat isyarat frekuensi radio yang ditransmisikan melalui serat
optik yang tetap atau kabel coaxial dan bukan lewat udara seperti siaran televisi
biasa yang harus ditangkap antena (over-the-air).
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 17
Waktu tempuh ke ibukota
kabupaten rata-rata kendaraan yang biasanya waktu tempuh dengan
digunakan oleh warga untuk menuju ibukota kabupaten. Rata-rata
waktu tempuh di kabupaten
bandung barat dari desa menuju ibukota kabupaten adalah 1,7 jam atau
102 menit.
Warung internet (warnet) tempat yang disediakan untuk menyelenggarakan pelayanan jasa internet.
Warung/kedai makanan
minuman usaha yang menjual makanan dan minuman siap saji yang dijual di
bangunan yang tetap dan tidak mempunyai surat ijin usaha. Ciri
utama adalah pembeli tidak dikenakan pajak
2.3. Penghitungan Indeks Kesulitan Geografis (IKG)
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) merupakan ukuran untuk menentukan tipologi desa berdasarkan tingkat kesulitan untuk akses ke wilayah suatu desa. IKG pada dasarnya merupakan indeks yang disusun berdasarkan skoring yang dilakukan untuk masing-masing instrumen penilaian. Pemilihan instrumen ini dilakukan dengan mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 93/PMK.07/2015 tentang Tata Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan Dan Evaluasi Dana Desa. Berdasarkan PMK ini Indeks Kesulitan Geografis (IKG) disusun berdasarkan 3 faktor yaitu :
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 18
1. Ketersediaan pelayanan dasar, yang meliputi pelayanan dasar
yang terkait pendidikan dan kesehatan;
2. Kondisi infrastuktur, yang meliputi infrastruktur yang terkait
dengan fasilitas kegiatan ekonomi dan ketersediaan energi;
3. Aksesibilitas/Transportasi, yang meliputi asksesibilitas jalan dan
sarana transportasi.
Dalam menjabarkan ketiga faktor tersebut, diperlukan indikator ataupun variabel yang dipilih dengan harapan dapat mewakili ketersediaan dan kondisi dari masing-masing faktor di atas. Pada prinsipnya desa yang memiliki fasilitas dan aksesibilitasnya mudah akan memiliki skor variabel yang relatif rendah (mendekati nol), sebaliknya desa yang tidak memiliki fasilitas dan aksesibilitas nya
sulit atau relatif jauh akan memiliki skor variabel yang relatif tinggi (mendekati 5).
2.3.1 Ketersediaan Pelayanan Dasar
Ketersediaan pelayanan dasar merupakan salah satu komponen yang cukup penting dalam penghitungan IKG. Pelayanan dasar pada prinsipnya merupakan hak-hak warga negara yang harus dipenuhi oleh pemerintah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam konteks ini terdapat beberapa indikator variabel yang digunakan untuk mengukur ketersedian pelayanan dasar secara umum yaitu pelayanan kesehatan dan
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 19
pendidikan. Indikator pelayanan dasar yang dipilih berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 93/PMK.07/2015 adalah sebagai berikut :
1. Ketersediaan dan akses ke TK/RA/BA
2. Ketersediaan dan akses ke SD/MI/Sederajat
3. Ketersediaan dan akses ke SMP/MTS/Sederajat
4. Ketersediaan dan akses ke SMA/MA/SMK/Sederajat
5. Ketersediaan dan kemudahan akses ke Rumah Sakit
6. Ketersediaan dan kemudahan akses ke Rumah Sakit Bersalin
7. Ketersediaan dan kemudahan akses ke Puskesmas
8. Ketersediaan dan kemudahan akses ke Polklinik/Balai
Pengobatan
9. Ketersediaan dan kemudahan akses ke Tempat Praktek Dokter
10. Ketersediaan dan kemudahan akses ke Tempat Praktek Bidan 11. Ketersediaan dan kemudahan akses ke Poskesdes atau Polindes 12. Ketersediaan dan akses ke Apotek
2.3.2 Kondisi Infrastruktur
Kondisi infrastruktur dan geografis desa sangat mempengaruhi tingkat aksesibilitas ke desa tersebut. Semakin minim infrastruktur maka akan semakin sulit desa tersebut dijangkau. Selain itu kondisi geografis yang kurang mendukung, biasanya berupa daerah pegunungan atau lereng yang curam juga akan menurunkan tingkat
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 20
aksesibilitas desa. Beberapa indikator variabel yang yang dipilih untuk mengukur faktor kondisi infrastruktur berdasarkan PMK Nomor : 93/PMK.07/2015 adalah sebagai berikut:
1. Ketersediaan dan akses ke kelompok Pertokoan
2. Ketersediaan dan akses ke Pasar
3. Akses ke Restoran, Rumah Makan atau Warung/Kedai Makan
4. Akses ke Bank
5. Akses ke Energi Listrik
6. Akses ke Penerangan Jalan
7. Akses ke Bahan Bakar
2.3.3 Aksesibilitas/Transportasi
Transportasi merupakan komponen yang sangat vital dalam penentuan aksesibilitas desa. Ketersediaan transportasi khususnya transportasi umum yang murah dan mudah bagi masyarakat sangat berperan dalam menentukan tingkat aksesibilitas suatu wilayah. Semakin mudah dan murah transportasi umum di suatu wilayah akan mendorong orang untuk melakukan aktifitas baik ekonomi, pendidikan
maupun pariwisata yang pada muaranya akan meningkatkan taraf perekonomian masyarakat setempat. Indikator yang dipilih dalam
komponen transportasi sebagian telah terwakili dalam komponen infrastruktur diantaranya kondisi jalan. Namun demikian beberapa variabel yang digunakan untuk mengukur faktor aksesibilitas/
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 21
transportasi berdasarkan PMK Nomor : 93/PMK.07/2015
adalah sebagai berikut :
1. Lalu lintas dan Kualitas Jalan
2. Aksesibilitas Jalan
3. Ketersediaan Angkutan Umum
4. Operasional Angkutan Umum
5. Lama Waktu per kilometer menuju Kantor Camat
6. Biaya per kilometer menuju Kantor Camat
7. Lama Waktu per kilometer menuju Kantor Bupati/Walikota
8. Biaya per kilometer menuju Kantor Bupati/Walikota
2.3.4 Penentuan Penimbang Setiap Variabel Penyusun IKG
IKG merupakan indeks komposit tertimbang dari 28 Variabel yang secara substansi dan bersama-sama menggambarkan tingkat kesulitan geografis desa. Setiap variabel harus memiliki kontribusi terhadap IKG. Besarnya kontribusi setiap variabel menggambarkan besarnya pengaruh variabel tersebut terhadap faktor dan IKG. Besarnya kontribusi setiap variabel tidak ditetapkan dengan nilai yang sama atau berdasarkan penilaian subyektif, tetapi dihitung berdasarkan sebaran data mengggunakan teknik statistik. Kontribusi setiap variabel merupakan statistik yang besarnya cenderung tidak sama antar variabel.
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 22
Untuk mendapatkan kontribusi setiap variabel, digunakan metode analisis komponen utama (principal component analysis). Selanjutnya nilai kontribusi setiap variabel digunakan sebagai penimbang/pembobot masing-masing variabel untuk menghasilkan nilai IKG. Berdasarkan PMK Nomor : 93/PMK.07/2015 penimbang setiap variabel penyusun IKG adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1
Penimbang setiap Variabel Penyusun IKG
No Variabel Kode Faktor Penimbang
1 K1101 Ketersediaan Pelayanan Dasar 0,0344743698230512 2 K1102 0,0207667709777746 3 K1103 0,0396701796664552 4 K1104 0,0365362438160350 5 K1201 0,0409473717219470 6 K1208 0,0391951514609291 7 K1202 0,0386802587821363 8 K1205 0,0478548918471416 9 K1204 0,0453910502070079 10 K1203 0,0447055286566193 11 K1206 0,0440792259791407 12 K1207 0,0375898610500994 13 K2101 Kondisi Infrastruktur 0,0297745374426297 14 K2102 0,0274983770619034 15 K2103 0,0226807963343563 16 K2104 0,0268014852834807 17 K2201 0,0240272994462093 18 K2202 0,0300082063802999 19 K2203 0,0307923774626675 20 K2106 0,0325591888268300 21 K3101 Aksesibilitas/Transportasi 0,0268206306831690 22 K3102 0,0237975527515562 23 K3103 0,0653046137835051 24 K3104 0,0647739844829491 25 K3201 0,0293993157370730 26 K3202 0,0382537240605285 27 K3203 0,0228109187516484 28 K3204 0,0348060875228569
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 23
2.3.5 Rumus Penghitungan IKG dan IKW
Dalam menghitung IKG, setiap variabel dari masing-masing faktor penyusun dijumlahkan secara tertimbang. Nilai yang
dijumlahkan adalah skor setiap variabel yang sudah
ditimbang/dikalikan dengan bobot masing-masing variabel.
Penghitungan IKG setiap desa di formulasikan sebagai berikut :
IKG = ∑ (V1 x B1 + ….…. + V28 x B28) x 20
Keterangan ::
IKG = Nilai Indeks Kesulitan Geografis setiap desa (bernilai
0-100)
Vn = Skor variabel ke - n (variabel 1 sd 28)
Bn = Penimbang/pembobot variabel ke – n
(variabel 1 sd 28)
Hasil dari perhitungan nilai IKG tersebut menggambarkan tingkat kesulitan geografis desa. Semakin besar nilai IKG maka semakin tinggi tingkat kesulitan desa dalam mengakses fasilitas-fasilitas publik. Sedangkan untuk mengukur tingkat kemudahan desa dalam mengakses fasilitas publik maka digunakan Indeks
Keterbukaan Wilayah (IKW). Untuk mendapatkan nilai IKW tersebut
digunakan rumus sebagai berikut :
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 24
Semakin besar nilai IKW maka semakin mudah desa dalam mengakses fasilitas-fasilitas publik, baik itu sarana pendidikan, kesehatan dan
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 25
BAB III
GAMBARAN UMUM
3.1. Profil Kabupaten Bandung Barat
Kabupaten Bandung Barat secara geografis terletak di antara koordinat 107°1,10’ – 107°4,40’ Bujur Timur dan 6°3.73’ – 7°1.031’ Lintang Selatan, dengan wilayah seluas 1.305,77 km2 atau 130.577 Ha. Wilayah ini berbatasan di sebelah utara dengan Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta, , dan Kabupaten Subang. Sebelah timur berbatasan dengan Kota Cimahi, Kota Bandung dan Kabupaten Bandung di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung Dan Kabupaten Cianjur.
Wilayah Kabupaten Bandung Barat dilewati sungai besar yaitu sungai citarum yang didalamnya ada dua waduk besar yaitu waduk saguling dan waduk Cirata sebagai sumber irigasi bagi lahan pertanian dan sumber Listrik. Selama tiga tahun terakhir penggunaan lahan untuk pemukiman dan industri menunjukan peningkatan yang signifikan. Pembangunan perumahan atau pemukiman terus dilaksanakan guna memenuhi kebutuhan penduduk terhadap perumahan, namun disayangkan bahwa pembangunan tersebut sebagian dilaksanakan dilahan pertanian. Sebagian besar lahan yang
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 26
ada digunakan untuk area pertanian, sisanya adalah lahan hutan negara, pekarangan dan bangunan serta lainnya.
Secara administratif wilayah Kabupaten Bandung Barat terbagi menjadi 16 kecamatan yang membawahi 165 desa dengan 2.320 RW dan 8.748 RT. Sedangkan untuk menjalankan roda pemerintahan, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat didukung oleh 9.884 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dengan tingkat pendidikan 55 persen lulusan D4/S1 diikuti oleh SMA/D1/D2 sebanyak 17 persen ini menunjukan terjadinya peningkatan kompentensi PNS.
Gambar 3.1.
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 27
Penerimaan daerah Kabupaten Bandung Barat tahun 2014 mencapai 1,67 triliun rupiah dengan sumber terbesar berasal dari pendapatan transfer (88,80 persen). Peningkatan signifikan terjadi pada penerimaan pajak daerah dibanding tahun 2013 karena mulai tahun 2014 terdapat pengalihan pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari pemerintah pusat ke pemerintah kabupaten dengan tujuan untuk meningkatkan PAD. Realisasi belanja daerah tahun 2014 mencapai 1,68 triliun rupiah, dengan rasio penerimaan terhadap pengeluaran yang semakin baik sebesar 99,51 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesarnya 94,85 persen.
Penduduk Merupakan salah satu aset yang harus terus ditingkatkan kualitas dan kompentensinya Dalam satu dekade terakhir periode 2000 hingga 2010 jumlah penduduk Kabupaten Bandung Barat meningkat 1,62 persen dengan sex ratio (perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan) 103 pada tahun 2000 dan 104 pada tahun 2010. Hal ini menunjukkan bahwa pada dekade 2000 hingga 2010 secara rata-rata perkembangan jumlah penduduk perempuan lebih lambat dibanding perkembangan penduduk laki-laki.
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 28
Gambar 3.2.
Peta sebaran penduduk menurut kecamatan Tahun 2013- 2014
Sumber : BPS Kabupaten Bandung Barat 2014
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung Barat, dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2013) yaitu 1.614.495 jiwa, maka pada tahun 2014 terjadi penambahan jumlah penduduk sebesar 30.489 jiwa atau mengalami laju pertumbuhan penduduk (LPP) sebesar 1,89 persen atau mengalami perlambatan dari tahun 2013 yang LPP nya hanya 2,03 persen.
Seiring dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bandung Barat, pertumbuhan migrasi masuk di Kabupaten
Bandung Barat cenderung mengalami kenaikan sehingga
menyebabkan tingginya laju pertumbuhan penduduk terutama di beberapa kecamatan perkotaan yang menjadi pusat bisnis (industri, perdagangan dan jasa) dan pusat pendidikan. Dilihat dari sebaran
40.000 80.000 120.000 160.000 200.000 Ji w a 2013 2014
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 29
penduduknya di 16 kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, pada tahun 2014 kecamatan yang memiliki jumlah penduduk paling banyak adalah Kecamatan Lembang dengan penduduk sebanyak 188.923 orang, diikuti oleh Kecamatan Padalarang yaitu sebanyak 171.174 orang. Sementara itu kecamatan dengan penduduk terkecil adalah Kecamatan Saguling dengan penduduk sebanyak 30.006 jiwa.
Sektor pertanian bukan merupakan sektor unggulan untuk perekonomian Kabupaten Bandung Barat, namun merupakan sektor potensial dengan potensi lahan yang ada harus terus dioptimalkan untuk mengembangkan sektor ini. Produksi padi tetap memberikan kontribusi terbesar dalam hal produksi sebesar 73,05 persen dari total produksi padi dan palawija.
Pada sub sektor peternakan khususnya ternak besar domba lebih dari 400.000 ekor merupakan ternak yang paling banyak dibudidayakan memberikan kontribusi sebesar 96 persen terhadap populasi ternak besar. Sedangkan ternak sapi baik sapi perah maupun potong merupakan ternak yang potensi dan menjadi andalan penduduk sebagai salahsatu sumber penghasilan dan ini merupakan andalan segi ekonomi bagi masyarakat kanupaten Bandung Barat dengan populasi sebanyak 38.364 ekor.
Potensi perikanan di Kabupaten Bandung Barat memperlihatkan angka yang stagnan walaupun mempunyai kolam jaring apung di
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 30
wilayah waduk cirata dan waduk saguling sebanyak 28.991 petak dengan produksi sebesar 32.213 ton per tahun.
Sementara komoditi sayur-sayuran seperti wortel, cabe, , bawang daun dan bawang merah produksinya juga merosot dibanding tahun 2012. Bahkan produksi wortel dan petai masing-masing turun hingga 53,97 persen dan 48,04 persen. Secara keseluruhan total produksi sayur-sayuran di Kabupaten Bandung Barat pada tahun 2014 mencapai 27.313 ton, menurun 20,92 persen dibanding tahun sebelumnya.
PDRB Kabupaten Bandung Barat tahun 2014 atas dasar harga berlaku sebesar 27,43 triliun rupiah. Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan sebesar 10,09 triliun rupiah. Sektor Industri Pengolahan merupakan sektor yang paling besar kontribusinya dalam pembentukan PDRB yaitu sebesar 40,11 persen meski daritahun ke tahun cenderung semakin menurun. Sementara sektor yang kontribusinya paling kecil adalah sektor Pertambangan dan Penggalian (3,17 persen). PDRB per kapita (adhb) penduduk Kabupaten Bandung Barat selama tahun 2014 sebesar 17,04 juta rupiah, naik 9,73 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar 15,53 juta rupiah per tahun.
Laju pertumbuhan PDRB pada tahun 2014 sebesar 5,68 persen, melambat dibanding tahun 2013 yang mencapai 5,94 persen karena melemahnya kinerja sektor pertanian. Sektor yang tumbuh paling
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 31
cepat adalah Bangunan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 8,23persen dan 7,52 persen.
3.2. Gambaran Umum
3.2.1 Gambaran Umum Pelayanan Dasar
Ketersediaan sarana maupun prasarana pendidikan baik berupa fisik maupun non fisik yang memadai merupakan upaya untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas akan mencetak sumber daya manusia yang berkualitas baik dari segi spiritual, intelegensi, keahlian. Dengan demikian maka cita-cita menjadi bangsa yang maju tentu akan dapat dicapai, karena kemajuan suatu bangsa dapat diukur atau dilihat dari tingkat pendidikan penduduknya.
Menurut data Dinas Pendidikan, pada tahun 2014 sarana pendidikan tingkat dasar yang tersedia sebanyak 702 sekolah (baik negeri maupun swasta).Sedangkan untuk tingkat SLTP tersedia sarana pendidikan sebanyak 276 sekolah baik negeri maupun swasta.
Jenjang Pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk
merupakan indikator untuk potensi sumberdaya manusia.
Berdasarkan data Suseda Kabupaten Bandung Barat pada Tahun 2014, persentase penduduk Kabupaten Bandung Barat usia 10 tahun ke atas yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 58,77 persen;
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 32
tamat SMP sebesar 21,60 persen; tamat SMU/SMK sebesar 16,29 persen; dan sebanyak 3,34 persen yang tamat pendidikan tinggi (Akademi/Perguruan Tinggi).
Gambar 3.3.
Persentase Tingkat Pendidikan Penduduk Usia 10 Tahun Ke Atas di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2014
Sumber : Bappeda dan BPS Kabupaten Bandung Barat, IPM Tahun 2014
Salah satu indikator keberhasilan program pembangunan di bidang kesehatan adalah penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat serta memiliki kemampuan untuk
menjangkau pelayanan dan fasilitas kesehatan yang
bermutu.Ketersediaan fasilitas kesehatan yang bermutu menjadi sebuah keharusan, begitu pula yang dilakukan pemerintah
14,32%
44,45% 21,60%
16,29% 3,34%
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 33
KabupatenBandung Barat dalam beberapa tahun terakhir terus melakukan pembenahan terhadap sarana kesehatan yang ada.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, tercatat bahwa jumlah fasilitas kesehatan menurut jenisnya sebagai berikut: rumah sakit sebanyak 6 unit, yang terdiri dari 2 rumah sakit pemerintah (RSUD) dan 3 rumah sakit swasta, puskesmas sebanyak 31 unit, pustu sebanyak 57 unit, puskesmas keliling sebanyak 46 unit, balai pengobatan sebanyak 26 unit, posyandu 1.122 unit serta dokter praktek sebanyak 128 unit pelayanan.
3.2.2 Gambaran Umum Kondisi Infrastruktur
Sarana infrastruktur khususnya infrastruktur perhubungan berperan penting sebagai penunjang, pendorong dan penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.Terutama dalam upaya peningkatan dan pemerataan pembangunan serta hasil-hasilnya.
Infrastruktur jalan merupakan prasarana angkutan darat yang
sangat penting untuk memperlancar kegiatan hubungan
perekonomian, baik antara satu kota dengan kota lainnya, maupun antara kota dengan desa, dan antara satu desa dengan desa lainnya. Kondisi jalan yang baik akan memudahkan mobilitas penduduk untuk mengadakan hubungan perekonomian dan kegiatan sosial lainnya.
Berdasarkan data, panjang jalan di Kabupaten Bandung Barat sepanjang 553,65 km yang terdiri dari 86,47 km jalan provinsi atau
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 34
jalan poros utama dan 916,11 km jalan kabupaten. Jenis permukaan jalan provinsi semuanya aspal, sedangkan untuk jalan kabupaten terdiri dari 553,65 km jalan aspal, 142,02 km jalan kerikil serta 46 km jalan tanah. Kondisi jalan propinsi sepanjang 14,18 km berada pada kondisi baik, 39,35 km kondisi sedang, 28,64 km kondisi rusak serta 4,30 km berada pada kondisi rusak berat. Adapun jalan kabupaten sepanjang 213,67 km berada pada kondisi baik, 127,66 km kondisi sedang, 169,70 kondisi rusak serta 42,62 km pada kondisi rusak berat.
Gambar 3.4.
Komposisi Jalan menurut kondisi jalan di Kabupaten Bandung Barat
Tahun 2014
Sumber: Dinas Bina Marga dan Pengairan Kab. Bandung Barat
38,59%
23,06% 30,65%
7,70%
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 35
Infrastruktur perkonomian yang tidak kalah pentingnya dalam percepatan pembangunan adalah pasar.Keberadaan pasar mempunyai fungsi yang sangat vital dalam pembangunan khususnya bidang
ekonomi. Pasar bagi konsumen merupakan fasilitas yang
mempermudah memperoleh barang dan jasa kebutuhan sehari-hari, sedangkan bagi produsen, pasar menjadi tempat untuk mempermudah proses penyaluran barang hasil produksi. Disamping itu pasar mempunyai fungsi sebagai sarana distribusi yang akan memperlancar proses penyaluran barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Dengan adanya pasar, produsen dapat berhubungan secara langsung maupun tidak langsung untuk menawarkan hasil produksinya kepada konsumen.
Di Kabupaten Bandung Barat terdapat infrastruktur bangunan pasar sejumlah 103 lokasi yang tersebar di seluruh kecamatan, dengan perincian jumlah pasar dengan bangunan permanen sebanyak 52 lokasi,jumlah pasar dengan bangunan semi permanen 35 lokasi serta jumlahpasar tanpa bangunan sebanyak 16 lokasi.
3.2.3 Gambaran Umum Transportasi
Transportasi mempunyai peran vital dalam kehidupan sehari-hari.Dewasa ini hampir semua aktifitas utamanya terkait pembangunan tentu memerlukan transportasi.Transportasi berperan
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 36
penting dalam mengakomodasi aktifitas sosial dan ekonomi masyarakat. Disamping itu pembangunan sarana dan prasarana transportasi dapat membuka aksesibilitas wilayah yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi masyarakat.
Perkembangan sarana transportasi umum di Kabupaten Bandung Barat tahun 2013 bila dibandingkan tahun sebelumnya mengalami kemajuan.Hal ini terlihat dari data jumlah kendaraan wajib uji yang dikeluarkan oleh Dinas Perhubungan.
Jumlah mobil penumpang umum pada tahun 2014 sebanyak 735 unit dengan jumlah trayek sebanyak 16 trayek. Mobil barang juga mempunyai fenomena yang tidak jauh berbeda dengan mobil penumpang.Dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan jumlah yang cukup signifikan. Tercatat jumlah mobil barang umum sebanyak 669 unit pada tahun 2013 naik menjadi 838 unit pada tahun 2014. Begitupun jenis mobil barang bukan umum, naik menjadi 5.886 unit pada tahun 2014 dari sebelumnya 5.661 unit pada tahun 2013.
3.2.4 Gambaran Umum Komunikasi
Sarana komunikasi serta kualitas pelayanannya saat ini dirasakan sangat penting, karena dengan tersedianya sarana komunikasi yang baik akan memperlancar segala aktivitas sosial, ekonomi maupun pemerintahan. Peranan komunikasi melalui teknologi
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 37
informasi dan komunikasi khususnya internet semakin besar dalam memberikan akses tanpa batas.Dengan menggunakan internet, berbagai macam transaksi perdagangan dapat dilakukan tanpa perlu beranjak dari tempat kita.Bahkan tidak ada lagi antrian berjam-jam di loket-loket pelayanan.Disamping itu juga dimanfaatkan dalam melakukan transaksi pembelian barang secara online tanpa harus ke pasar untuk bertemu dengan penjual.
Akses internet saat ini sudah dapat dilakukan dengan menggunakan telepon seluler / handphone, dengan syarat ketersediaan jaringan dan ditunjang harga gadget yang semakin terjangkau maka tidak mengherankan bila beberapa tahun terakhir internet sudah masuk ke semua kecamatan yang ada.Namun demikian masih juga dijumpai warnet di beberapa tempat bahkan sampai di wilayah pedesaan.Hal ini mengindikasikan animo masyarakat untuk mengakses internet cukup tinggi.
Sebagai imbas perkembangan pada penggunaan telepon seluler, hal sebaliknya terjadi pada penggunaan telepon kabel. Menurut data dari PT. Telekomunikasi Indonesia Cabang Bandung Barat, tercatat jumlah pelanggan telepon baik residensial maupun bisnis pada tahun 2014 sebanyak 11.616 pelanggan, menurun dibanding tahun 2013.
Sementara jasa pelayanan pos utamanya pengiriman surat dalam negeri luar negeri terus mengalami penurunan. Agaknya layanan pos saat ini dirasa kurang bersaing dengan berkembangnya
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 38
teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Masyarakat cenderung menggunakan sarana short massages service (SMS) untuk kepeluan berkirim kabar maupun sms banking untuk keperluan transaksi perbankannya.
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 39
BAB IV
PENCAPAIAN IKG DESA
4.1. Keterbukaan Wilayah
Menurut Black (1981) dalam Boris (2010) menyebutkan bahwa, Aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain, dan mudah atau sulitnya lokasi tersebut dicapai melalui transportasi. Berdasarkan hasil penghitungan yang dilakukan terhadap 165 wilayah administrasi desa, ternyata didapat kesimpulan bahwa Desa Cililin Kecamatan Ciliin, Desa Lembang dan Desa Jayagiri di Kecamatan Lembang serta Desa Cipeundeuy Kecamatan Padalarang sebagai desa yang paling tinggi aksesibilitasnya dengan nilai Indeks Keterbukaan Wilayah (IKW)diatas 85.
Pada keempat desa tersebut, yang mempunyai skor yang sempurna untuk kondisi infrastruktur adalah Desa Lembang di Kecamatan Lembang, lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut :
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 40
Tabel 4.1.
Desa dengan Tingkat Aksesibilitas Tertinggi
No Kecamatan Desa
Nilai Penyusun IKG
IKG IKW Pelayanan Dasar Kondisi Infra-struktur Aksesibilitas/ Transportasi 1 Lembang Lembang 4,849 0,000 6,913 11,761 88,239 2 Cililin Cililin 3,466 3,684 7,447 14,597 85,403 3 Lembang Jayagiri 6,067 0,550 8,065 14,682 85,318 4 Padalarang Cipeundeuy 3,413 3,008 8,389 14,810 85,190
Komposisi tingkat aksesibilitas desa di Kabupaten Bandung Barat yaitu sebesar 18desa atau 11%memiliki aksesibilitas rendah, 119 desa atau 72% memiliki aksesibilitas sedang dan hanya 17% atau sekitar 28 desayang memikili aksesibilitas tinggi.
4.1.1. Pelayanan Dasar
Pelayanan dasar adalah hak seluruh masyarakat yang menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhinya. Pemerintah pusat dan daerah memiki kewajiban untuk melayani seluruh masyarakat tanpa kecuali agar kebutuhan dasarnya terpenuhi, terlebih di era otonomi ini. Daerah otonom diarapkan dapat lebih tanggap terhadap tuntuntan masyarakat berdasar kemampuan dan potensi yang dimiliki oelh masyarakat di daerah tersebut. Pelayanan dasar yang dalam hal ini diwakili oleh ketersediaan fasilitas dan pelayanan dibidang pendidikan dan kesehatan.
Kabupaten Bandung Barat ternyata sudah semua desa tersedia fasilitas pelayanan dasar khususnya bidang pendidikan, bahkan
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 41
sebagian besar desa (141 desa) telah memiliki fasilitas sekolah dasar (SD/MI) dan sekolah tingkat menengah pertama (SMP/MTs). Hanya 24 desa yang memiliki fasilitas sekolah dasar (SD/MI) saja dan tidak memiliki fasilitas sekolah tingkat menengah pertama (SMP/MTs).Data lebih detail penyebaran fasilitas pendidikan dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2.
Penyebaran Fasilitas Pendidikan
di Kecamatan se Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015
Keberadaan Fasilitas Pendidikan SD/MI
Tidak ada Ada
SMP/MTs Tidak ada 0 24
Ada 0 141
Hal menggembirakan untuk fasilitas kesehatan di Kabupaten Bandung Barat relatif lengkap, tercatat dari 165 desa semua telah memiliki posyandu. Kondisi ini tentu cukup mengembirakan dimana semua balita yang nota bene merupakan generasi penerus bangsa, minimal mendapatkan pelayanan pantauan kesehatan khususnya peningkatan berat badan secara teratur setiap bulan. Diharapkan apabila terjadi pertumbuhan balita yang kurang baik akan segera terdeteksi, karena dengan penimbangan rutin disertai pemberian makanan tambahan untuk balita di posyandu maka akan terdeteksi bila seorang balita tidak mengalami penambahan berat badan setiap bulannya. Sehingga angka gizi buruk yang mungkin dialami oleh balita khususnya di wilayah pedesaan akan dapat ditekan serendah
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 42
mungkin, yang pada muaranya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.
Disamping ketersediaan sarana kesehatan dasar, penyebaran tenaga medis juga mempunyai peranan yang tidak kalah pentingnya. Tanpa adanya ketersediaan tenaga medis yang mencukupi maka ketersediaan fasilitas kesehatan tidak akan memberikan manfaat yang maksimal. Keberadaan tempat praktek dokter terdapat di 60 desa (36,36%)
Angka kematian ibu dan anak secara umum masih menjadi kendala dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Keberadaan tenaga medis bidan desa (BDD) sangatlah penting dalam menurunkan angka kematian ibu dan anak, di Kabupaten Bandung Barat 95,76 % desa terdapat bidan desa dan 90,3 % terdapat praktek bidan. Ada tujuh desa yang tidak memiki bidan desa.
Tabel 4.3.
Jumlah Desa Yang Memiliki Fasilitas Kesehatan di Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015
Jenis Fasilitas/Tenaga Medis Jumlah
Desa Persentase Puskesma/Pustu 102 61,82 Balai Pengobatan/Poloklinik 65 39,39 Praktek dokter 60 36,36 Praktek bidan 149 90,30 Poskesdes/polindes 102 61,82 Posyandu 165 100,00 Bidan Desa 158 95,76
Indeks Kesulitan Geografis (IKG) Desa Kabupaten Bandung Barat Tahun 2015 43
Keberadaan sarana kesehatan berupa puskesmas/pustu maupun balai pengobatan/poliklinik sudah cukup memadai. Puskesmas maupun pustu tersebar di 102 desa (61,82%), sedangkan keberadaan balai pengobatan/poliklinik tersebar di 65 desa (39,39%). Jumlah desa yang tidak memiliki Puskesmas/Pustu maupun Balai
pengobatan/poliklinik sebanyak 47 desa. Penyebaran
Puskesmas/pustu dan balai pengobatan/poliklinik secara lengkap
disajikan pada gambar 4.1 berikut :
Gambar 4.1
Penyebaran Puskesmas/pustu dan Balai pengobatan/Poliklinik di Desa se Kabupaten Bandung Barat
Secara umum beberapa desa tercatat memiliki fasilitas pelayanan dasar yang sangat baik, ada 18 desa memiliki nilai sempurna (100%), artinya semua fasilitas pendidikan dan kesehatan dasar terdapat secara lengkap. Desa-desa yang memerlukan perhatian adalah mempunyai skor tingkat kesulitan dalam menjangkau pelayanan dasar tinggi, setidaknya ada lima desa yang memiliki skor kesulitan tertinggi dalam menjangkau pelayanan dasar. Desa-desa
47
53 16
49 Tidak Ada Puskesmas/Pustu dan
Tidak Ada Balai Pengobatan/Poliklinik
Ada Puskesmas/Pustu dan Tidak Ada Balai Pengobatan/Poliklinik
Tidak Ada Puskesmas/Pustu dan Ada Balai Pengobatan/Poliklinik
Ada Puskesmas/Pustu dan Ada Balai Pengobatan/Poliklinik