BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Teoritis 2.1.1 Financial Literacy
2.1.1.1 Pengertian Financial Literacy
Ilmu keuangan merupakan sebuah ilmu yang dinamis dan prakteknya melekat kuat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, ilmu ini mutlak diperlukan setiap orang supaya dapat secara optimal menggunakan instrumen-instrumen serta produk-produk finansial yang ada serta dapat membuat keputusan keuangan yang tepat, dengan kata lain setiap orang harus mempunyai financial literacy yang memadai.
Menurut Lusardi (2008), financial literacy adalah “knowledge of basic financial concepts, such as the working of interest compounding, the difference between nominal and real values and the basic of the risk diversivication.”
Dari defenisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa financial literacy adalah pengetahuan mengenai konsep-konsep dasar keuangan, termasuk diantaranya pengetahuan mengenai bunga majemuk, perbedaan nilai nominal dan nilai riil, pengetahuan dasar mengenai diversifikasi risiko, nilai waktu dari uang dan lain-lain.
12 2.1.1.2 Aspek dalam Financial Literacy
Financial literacy mencakup beberapa aspek dalam keuangan, yaitu pengetahuan dasar mengenai keuangan pribadi (basic personal finance), manajemen uang (money management), manajemen kredit dan utang (credit and debt management), tabungan dan investasi (saving and investment), serta manajemen risiko (risk management).
1. Pengetahuan Dasar mengenai Keuangan Pribadi (Basic Personal Finance) Pengetahuan dasar mengenai keuangan pribadi mencakup pemahaman terhadap beberapa hal-hal yang paling dasar dalam sistem keuangan seperti perhitungan tingkat bunga sederhana, bunga majemuk, pengaruh inflasi, oportunity cost, nilai waktu dari uang, likuiditas suatu aset dan lain-lain. 2. Manajemen Uang
Aspek ini mencakup bagaimana seseorang mengelola uang yang dimilikinya serta kemampuan menganalisis sumber pendapatan pribadinya. Manajemen uang juga terkait dengan bagaimana seseorang membuat prioritas penggunaan dana serta membuat anggaran.
3. Manajemen Kredit dan Utang
Ada kalanya seseorang mengalami kekurangan dana sehingga harus memanfaatkan kredit maupun utang. Semakin tingginya kebutuhan dan tuntutan hidup mengakibatkan tidak semua pengeluaran dapat lagi dibiayai dengan pendapatan, seperti rumah dan kendaraan dan biaya pendidikan. Menggunakan kredit maupun utang dapat menjadi pertimbangan untuk mengatasi hal tersebut. Dengan sumber pendanaan berupa kredit maupun
utang, individu dapat mengkonsumsi barang dan jasa pada saat ini, dan membayarnya di masa yang akan datang.
Dalam kondisi tertentu, kredit dan utang bisa menguntungkan, misalnya kredit atau utang ke bank yang digunakan untuk membangun rumah/properti, sebab harga properti dapat mengimbangi inflasi, atau pun pinjaman untuk membeli alat-alat produksi dan modal kerja lain yang produktif.
Pengetahuan yang cukup yang mencakup faktor-faktor yang mempengaruhi kelayakan kredit, pertimbangan dalam melakukan pinjaman, karakteristik kredit konsumen, tingkat bungan pinjaman, jangka waktu pinjaman, sumber utang atau pun kredit dan lain-lain sangat dibutuhkan agar dapat menggunakan kredit dan utang secara bijaksana.
4. Tabungan dan Investasi
Tabungan (saving) adalah bagian pendapatan masyarakat yang tidak digunakan untuk konsumsi. Masyarakat yang mempunyai penghasilan lebih besar dari kebutuhan konsumsi akan mempunyai kesempatan untuk menabung. Investasi (investment) adalah bagian dari tabungan yang digunakan untuk kegiatan ekonomi menghasilkan barang dan jasa (produksi) yang bertujuan mendapatkan keuntungan. Jika tabungan besar, maka akan digunakan untuk kegiatan menghasilkan kembali barang dan jasa (produksi).
Dalam pemilihan tabungan, ada enam faktor yang perlu dipertimbankan (Kapoor, et.al., 2001:147) yaitu : 1. Tingkat pengembalian (persentase kenaikan tabungan), 2. Inflasi (perlu diperimbangkan dengan tingkat pengembalian karena dapat mengurangi daya beli), 3.
Pertimbangan-14 pertimbangan pajak, 4. Likuiditas (kemudahan dalam menarik dana jangka pendek tanpa kerugian atau dibebani fee), 5. Keamanan (ada tidaknya proteksi terhadap kehilangan uang jika bank mengalami kesulitan keuangan, dan 6. Pembatasan-pembatasan dan fee ( penundaan atas pembayaran bunga yang dimasukkan dalam rekening dan pembebanan fee suatu transaksi tertentu untuk penarikan deposito).
Dalam berinvestasi, terdapat banyak instrumen insvestasi yang dapat dipilih individu, baik pada aset riil seperti tanah, properti, emas, maupun aset keuangan seperti saham, obligasi, sertifikat deposito, dan reksadana. Dalam berinvestasi, ada lima faktor yang mempengaruhi pilihan investasi (Kapoor, et al., 2001:414), yaitu: 1. Keamanan dan risiko, 2.Komponen faktor risiko, 3. Pendapatan Investasi, 4. Pertumbuhan investasi, 5. Likuiditas.
Individu harus memahami hal-hal tersebut agar dapat menabung secara efektif atau pun agar mampu berinvestasi baik di aset riil maupun di aset keuangan.
5. Manajemen Risiko
Menurut Miller (1983:321) risiko bisa didefenisikan sebagai ketidakpastian atau kemungkinan adanya kerugian finansial. Respon tiap individu berbeda-beda terhadap risiko, tergantung pengalaman masa lalu serta motivasi psikologis. Kebanyakan individu cenderung menghindari situasi yang menimbulkan rasa tidak aman ataupun tidak berkecukupan. Oleh karena itu, penting untuk dapat menghadapi risiko dengan cara yang logis dan terkendali. Proses manajemen risiko meliputi tiga langkah berikut:
1. Mengindetifikasi eksposur dari risiko yang kita hadapi
2. Mengidentifikasi dampak keuangan yang dari risiko yang dihadapi 3. Memilih cara yang paling tepat untuk menghadapi risiko yang ada.
Cakupan risiko yang dihadapi individu meliputi:
1. Risiko personal , yang meliputi risiko akibat kematian, kecelakaan, ataupun penyakit.
2. Risiko kewajiban, yaitu tanggung jawab terhadap kerugian ekonomi orang lain akibat kelalaian kita.
3. Risiko aset, yaitu risiko atas rusak atau hilangnya aset yang kita miliki.
Cara kita menangani risiko akan berpengaruh terhadap keamanan finansial di masa yang akan datang. Salah satu cara menaggulangi risiko tersebut adalah dengan cara mengasuransikan aset ataupun hal-hal berisiko. Dibutuhkan pengetahuan atau literasi yang memadai untuk dapat mengelola risiko-risiko tersebut dan terhidar dari risiko tambahan akibat kurangnya pengetahuan, contohnya risiko penipuan berkedok asuransi.
2.1.1.3 Kategorisasi Personal Financial Literacy
Chen dan Volpe (1998) mengkategorikan tingkat personal financial literacy menjadi tiga kelompok yaitu, rendah (<60%) , sedang (60%<80%) dan tinggi (≥80%). Pengkategorian ini didasarkan pada persentase jawaban responden yang benar dari sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk mengukur personal financial literacy.
16 Selain itu, untuk melihat menganalisis financial behavior berdasarkan tingkat financial literacy yang dimilikinya, Chen dan Volpe (1998) juga mengkatategorikan financial literacy berdasarkan median. Responden yang memiliki tingkat literasi keuangan dibawah median masuk dalam kategori responden dengan tingkat financial literacy yang relatif rendah, sedangkan responden yang memiliki tingkat literacy diatas median masuk dalam kategori responden dengan tingkat financial literacy relatif tinggi.
2.1.2 Financial Behavior (Perilaku Keuangan)
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa financial literacy memiliki hubungan positif dengan perilaku keuangan (financial behavior). Hilgert, Hogart dan Beverly (2003) menambahkan financial behavior dan financial lliteracy ke dalam kuesioner pada National Survey of Consumer Finances. Mereka membuat Financial Practice Index berdasarkan perilaku dalam empat variabel: manajemen arus kas, manajemen kredit, tabungan, dan perilaku investasi, kemudian membandingkan indeks tersebut dengan skor financial literacy dan menemukan bahwa orang dengan level financial literacy yang lebih tinggi juga memiliki Financial Practice Index yang lebih tinggi, yang mengindikasikan adanya hubungan positif antara perilaku keuangan (financial behavior) dengan financial literacy walaupun arah kausalitasnya belum jelas.
Kausalitasnya mungkin saja berbeda, dalam arti bahwa peningkatan dalam financial literacy yang menyebabkan semakin baik atau efektifnya
perilaku keuangan (financial behavior) serta pengambilan keputusan keuangan (financial decisions making) atau malah sebaliknya.
2.2 Penelitian Terdahulu
Chen dan Volpe (1998) melakukan penelitian berjudul “An Analysis of Personal Financial Literacy Among College Student.” Survei dilakukan terhadap 924 orang mahasiswa dari 14 universitas di California, Florida, Kentucky, Massachussetts, Ohio, dan Pennsylvania. Penelitian bertujuan untuk melihat gambaran personal financial literacy di kalangan mahasiswa, menganalisa hubungan karakteristik mahasiswa dengan financial literacy, serta menganalisa dampak dari pengetahuan terhadap opini dan keputusan mahasiswa terhadap isu-isu keuangan. Survei menggunakan 36 pertanyaan pilihan berganda untuk mengukur tingkat literasi keuangan, delapan pertanyaan untuk melihat opini dan keputusan mahasiswa terhadap isu-isu keuangan, serta delapan pertanyaan untuk menggali informasi mengenai latar belakang responden. Variabel dependen adalah financial literacy dan variabel independen (eksplanatori) adalah program studi, stambuk, jenis kelamin, ras, kewarganegaraan, pengalaman kerja, usia dan pendapatan. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif, regresi logistik dan ANOVA. Hasil penelitian menunjukan responden memiliki pengetahuan keuangan dan hanya dapat menjawab 53% pertanyaan dengan benar. Mahasiswa dari program studi non-bisnis, perempuan, junior, usia dibawah 30 tahun, dan pengalaman kerja sedikit diasosiasikan dengan tingkat personal financial literacy yang rendah, dan cenderung memiliki opini dan keputusan keuangan yang salah.
18 Beal dan Delpachitra (2003) melakukan penelitian berjudul “Financial Literacy Among Australian University Students”. Survei dilakukan terhadap 837 mahasiswa di University of Southern Quensland, Australia untuk mengukur tingkat financial literacy dengan menggunakan 25 pertanyaan pilihan berganda terkait keuangan. Variabel dependennya adalah financial literacy dan variabel independennya adalah program studi, jenis kelamin, usia, status kekeluargaan, jenjang pendidikan, jenis pekerjaann, pengalamana kerja, pendapatan, toleransi terhadap risiko. Financial literacy dikelompokkan menajadi lima area spesifik yaitu, basic concept, market and instrument, planning, analysis and decisions, serta insurance. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan responden memiliki financial literacy yang rendah (rata-rata responden hanya dapat menjawab 13 pertanyaan dengan benar). Hasil penelitian juga menunjukkan responden dengan jenis pekerjaan yang rumit, pengalaman kerja banyak, berasal dari progam studi bisnis, serta pria adalah responden yang memiliki financial literacy relatif tinggi.
Keown (2011) melakukan penelitian berjudul “The Financial Knowledge of Canadians”. Penelitian dilakukan terhadap 15.519 orang pada 10 propinsi di Kanada untuk mengetahui gambaran pengetahuan keuangan masyarakat Kanada. Variabel dependennya adalah financial knowledge dan variabel independen (eksplanatori) adalah usia, jenis kelamin, status keluarga, status imigrasi, tingkat pendidikan, status pekerjaan, status kepemilikan rumah, dan wilayah domisili. Penelitian menggunakan 14 pertanyaan terkait pengetahuan
mengenai manajemen uang harian, penganggaran dan perencanaan keuangan jangka panjang dan dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jawaban yang benar dari seluruh responden adalah 67%. Responden yang berpenghasilan tinggi, pria, lulus perguruan tinggi, pemilik rumah serta individu yang tinggal sendiri diasosiasikan dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi, disisi lain, imigran memiliki tingkat pengetahuan yang lebih rendah dibanding mansyarakat yang lahir di Kanada.
2.3 Kerangka Konseptual
Beberapa penelitian terdahulu (Chen dan Volpe, 1998; Beal dan Delpachitra, 2003; Robb dan James III, 2009; Keown, 2011) selalu mengikutsertakan latar belakang demografi dan sosioekonomi sebagai variabel eksplanatori untuk financial literacy yang bertujuan untuk melihat tingkat literasi keuangan untuk sub-grup di dalam sampel.
Jenis kelamin sering diasosiasikan dengan tingkat personal financial literacy. Beberapa penelitian menemukan laki-laki cenderung memiliki tingkat personal financial literacy yang lebih tinggi dibanding perempuan (ANZ, 2008; Lusardi dan Mitchel 2006;2007), akan tetapi berlawanan dengan hal tersebut, Wagland dan Taylor (2009) tidak menemukan bahwa jenis kelamin berpengaruh terhadap tingkat personal financial literacy pada mahasiswa program studi bisnis di Australia.
Stambuk (classrank) juga diasosiasikan dengan financial literacy dimana mahasiswa yang lebih senior cenderung memiliki tingkat personal financial
20 literacy yang lebih tinggi (Chen dan Volpe, 1998). Sejalan dengan hal tersebut, tinggi rendahnya tingkat pendidikan juga diidentikkan dengan tinggi rendahnya tingkat personal financial literacy (Gallery et.al., 2007) walaupun terdapat sejumlah besar individu yang sudah menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang memiliki tingkat personal financial literacy yang rendah (Lusardi dan Allessie, 2007). Sementara itu Lusardi et.al. (2009) juga menemukan bahwa tingkat pendidikan orang tua juga berpengaruh besar terhadapa tingkat personal financial literacy orang-orang dewasa di Amerika.
Berkenaan dengan tingkat kekayaan, tingkat pendapatan suatu rumah tangga (household income) yang dalam penelitian ini diwakili oleh pendapatan orang tua juga diasosiasikan dengan tingkat literasi keuangan dimana orang-orang dengan pendapatan rumah tangga yang lebih tinggi atau lebih kaya cenderung memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi karena mereka lebih sering menggunakan instrumen dan layanan finansial seperti reksa dana, obligasi, kartu kredit dan lain-lain. Sementara itu orang dengan pendapatan yang lebih rendah mungkin tidak perlu menggunakan layanan-layanan dan instrumen keuangan tersebut karena sebagian besar pendapatan digunakan untuk konsumsi dan hanya sedikit atau tidak ada yang tersisa untuk ditabung maupun untuk diinvestasikan (Keown,2011).
Keown (2011) juga menemukan bahwa orang yang tinggal sendiri cenderung memiliki tingkat personal financial literacy yang lebih tinggi dibanding yang tinggal bersama pasangan ataupun orangtuanya sebab orang yang tinggal sendiri harus bertanggung jawab sendiri atas penggunaan dana,
transaksi serta keputusan keuangan (financial decisions) yang dia lakukan sehari-hari. Dalam penelitian ini variabel eksplanatori ini diwakili oleh variable Residence.
Chen dan Volpe (1998) menggunakan median untuk mengkategorikan tingkat personal financial liteacy menjadi dua, relatif rendah dan relatif tinggi untuk melihat hubungan antara personal financial literacy dengan personal financial behavior. Responden dengan tingkat personal financial literacy rendah adalah responden yang rata-rata skornya berada di bawah median, sementara responden dengan tingkat personal financial literacy tinggi adalah responden yang tingkat personal financial literacynya berada diatas median responden secara keseluruhan.
Berdasarkan uraian teoritis dan penelian terdahulu, maka kerangka konseptual di penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Sumber: Gallery et.al., 2011, data diolah
Financial Behavior Financial Literacy • Relatif Tinggi • Relatif Rendah Latar Belakang Sosiodemografi • Jenis Kelamin • Program studi • Stambuk • IPK • Residence • Pendidikan Orangtua • Pendapatan Orangtua