1
Tugas Konservasi Tanah dan Air Lanjutan; Dosen Pengasuh: Dr. Rahmawaty, S.Hut. M.Si. PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN; Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM:138104002; PROGRAM S-3SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA-MEDAN. 2014.
PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR
DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Oleh:
Parlindungan Lumbanraja
NIM: 138104002
PROGRAM (S-3)
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2
Tugas Konservasi Tanah dan Air Lanjutan; Dosen Pengasuh: Dr. Rahmawaty, S.Hut. M.Si. PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN; Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM:138104002; PROGRAM S-3SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA-MEDAN. 2014.
PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR
DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM: 138104002
LATARBELAKANG
3
Tugas Konservasi Tanah dan Air Lanjutan; Dosen Pengasuh: Dr. Rahmawaty, S.Hut. M.Si. PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN; Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM:138104002; PROGRAM S-3SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA-MEDAN. 2014.
rasional. Hal ini merupakan bukti adanya kesadaran perlunya peranan konservasi tanah dan air harus diterapkan. Munculnya kesadaran akan pentingnya bumi ini seperti diutaran oleh UNEP (United Nations Environmental Program) merupakan motor pelaksana komitmen mengenai lingkungan hidup dan telah melahirkan gagasan besar pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) yang juga merupakan kegiatan untuk penekanan ke arah gerakan konservasi tanah dan air . Lebih lanjut pada tahun 2005 FAO menerbitkan buku berjudul : Our land our future, we are here planet earth (FAO, 2005 dalam Lumbanraja, 2007) yang menegaskan kembali bahwa bumi hanya ada satu. Semakin seriusnya persoalan yang kita hadapi dalam pembangunan di negara kita ini, maka pada tahun 2013 menteri pertanian mengeluarkan strategi induk pembangunan pertanian 2013 – 2045 dengan menetapkan Membangun Pertanian Bioindustri Berkelanjutan, dengan visi Terwujudnya sistem pertanian bioindustri
berkelanjutan yang menghasilkan beragam pangan sehat dan produk bernilai tambah
4
Tugas Konservasi Tanah dan Air Lanjutan; Dosen Pengasuh: Dr. Rahmawaty, S.Hut. M.Si. PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN; Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM:138104002; PROGRAM S-3SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA-MEDAN. 2014.
PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN
Dalam suatu upaya pembangunan yang terus menerus menghadapi perubahan seiring dengan kemajuan zaman maka sudah pasti memerlukan suatu pola atau pengaturan untuk mencapai hasil yang diharapkan. Untuk mencapai tujuan ini dibutuhkan Perencanaan. Perencanaan adalah suatu proses yang ditata dan dilaksanakan secara sistematis dengan menggunakan pengetahuan yang ada.
Pembangunan itu sendiri merupakan usaha modifikasi terhadap biosfer dan
sumberdaya takhidup (ekosistem) untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan untuk tujuan meningkatkan kwalitas hidup manusia (IUCN, UNEP dan WWF, 1980 dalam Lumbanraja, 2007).
ADA BATAS MAKSIMAL EKOSISTEM
Perlu diingat bahwa ada batas maksimal produktivitas ekosistem, sebagaimana prinsip ekologi dasar yang mewajibkan kita untuk menyadari bahwa ekosistem memiliki kemampuan terbatas. Dalam upaya menjalankan atau memelihara jalannya suatu agroekosistem yang merupakan suatu kesatuan komunitas tumbuhan dan hewan serta lingkungan kimia dan fisikanya yang telah dimodifikasi oleh manusia untuk menghasilkan: makanan, serat, bahan bakar, dan produk lainnya bagi konsumsi untuk kesejahteraan umat manusia.
5
Tugas Konservasi Tanah dan Air Lanjutan; Dosen Pengasuh: Dr. Rahmawaty, S.Hut. M.Si. PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN; Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM:138104002; PROGRAM S-3SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA-MEDAN. 2014.
gagasan, bahwa dengan memahami hubungan-hubungan dan proses-proses ekologi ini, agroekosistem bisa dimanipulasi atau direkayasa (engineering) untuk memperbaiki produksi dan berproduksi secara lebih berkelanjutan dengan dampak negatip yang lebih kecil terhadap lingkungan dan masyarakat serta kebutuhan akan input luar yang lebih sedikit (Altieri, 1987 dalam Lumbanraja, 2013).
KELOMPOK EKOSISTEM
Atas dasar pemahaman bahwa setiap ekosistem mempunyai suatu kondisi yang khas, yang berarti juga harus ditangani dengan cara yang khas juga, maka untuk itu perlu diketahui kelompok agroekosistem yang ada dalam suatu wilayah. Jika dikaji lebih mendalam bahwa faktor – faktor pembentukan tanah seperti (bahan induk, iklim, topografi, organisma, dan umur/waktu) akan menjadi faktor yang dapat juga menjadi dasar pemisah atau pengelompokan dalam membagi-bagi satu kelompok ekosistem terhadap kelompok ekosistem lainnya.
Secara Nasional, Pemerintah Republik Indonesia telah memberikan acuan pemanfaatan lahan berupa penetapan Wilayah Tanah Usaha (WTU) menurut Atlas Penggunaan Tanah Republik Indonesia (Dirjen Agraria, 1984) yang mana dalam atlas ini Pemerintah telah menetapkan penggolongan peruntukan lahan atas dasar ketinggian
tempat dari opermukaan laut (m dpl) dan kemiringan lahan (yang dinyatakan
6
Tugas Konservasi Tanah dan Air Lanjutan; Dosen Pengasuh: Dr. Rahmawaty, S.Hut. M.Si. PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN; Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM:138104002; PROGRAM S-3SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA-MEDAN. 2014. --- ---
HUTAN LINDUNG
---Ketinggian
Lereng (
≤
40%
TERBATAS
KEDUA
1000 m dpl ---
UTAMA - 2
500 m dpl ---
D
100 m dpl ---
C
25 m dpl ---
garis bendungan
---UTAMA 1
B
10 m dpl ---
A
7 m dpl ---
0 m dpl ---
TERBATAS
PERTAMA
Gambar. 1 Wilayah Tanah Usaha (Dirjen Agraria, 1984)
Sedangkan dalam pembagian kelompok ekosistem DAS Brantas Hulu di Jawa Timur sebagai contoh kasus, cara yang yang diterapkan hanya memakai sebagian dari faktor pembentukan tanah disebutkan di atas sebelumnya ditambah dengan faktor ketinggian tempat dari permukaan laut (mdpl). Sebagai contoh misalnya pengelompokan atau pembagian kelompok agroekosistim ini dapat dilakukan melalui berbagai cara dab menggunakan faktor-faktor lain seperti yang diutarakan oleh Carson dan Utomo (1986), yaitu dengan:
1. Erosi; erosi yang terjadi pada setiap kelompok agroekosistem merupakan proses yang
spesifik pada kelompok tersebut;
2. Akibat yang ditimbulkan erosi; akibat yang ditimbulkan erosi akan berbeda pada
setiap kelompok agroekosistem;
3. Penggunaan dan pengelolaan lahan; penggunaan dan pengelolaan lahan pada setiap
7
Tugas Konservasi Tanah dan Air Lanjutan; Dosen Pengasuh: Dr. Rahmawaty, S.Hut. M.Si. PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN; Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM:138104002; PROGRAM S-3SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA-MEDAN. 2014.
4. Perbedaan kondisi sosial dan ekonomi; karena adanya perbedaan kondisi sosial dan
ekonomi, maka masing-masing kelompok agroekosistem memerlukan paket teknologi konservasi yang berbeda.
8
Tugas Konservasi Tanah dan Air Lanjutan; Dosen Pengasuh: Dr. Rahmawaty, S.Hut. M.Si. PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN; Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM:138104002; PROGRAM S-3SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA-MEDAN. 2014.
KONSERVASI TANAH DAN AIR
Konservasi tanah dalam arti yang luas adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah (Arsyad, 1989). Dalam arti yang sempit konservasi tanah diartikan
9
Tugas Konservasi Tanah dan Air Lanjutan; Dosen Pengasuh: Dr. Rahmawaty, S.Hut. M.Si. PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN; Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM:138104002; PROGRAM S-3SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA-MEDAN. 2014.
hujan tahunan < 2.000 mm. Dengan demikian, curah hujan merupakan faktor pendorong terjadinya erosi berat, dan mencakup areal yang luas. Lereng merupakan penyebab erosi alami yang dominan di samping curah hujan. Sebagian besar (77%) lahan di Indonesia berlereng > 3% dengan topografi datar, agak berombak, bergelombang, berbukit sampai bergunung. Lahan datar (lereng < 3%) hanya sekitar 42,6 juta ha, kurang dari seperempat wilayah Indonesia (Subagyo et al , 2000). Secara umum, lahan berlereng (> 3%) di setiap pulau di Indonesia lebih luas dari lahan datar (< 3%).
Tingginya desakan kebutuhan terhadap lahan pertanian menyebabkan tanaman semusim tidak hanya dibudidayakan pada lahan datar, tetapi juga pada lahan yang berlereng > 16%, yang seharusnya digunakan untuk tanaman tahunan atau hutan. Secara keseluruhan, lahan kering datar sampai berombak meliputi luas 31,5 juta ha (Hidayat dan Mulyani, 2002), namun penggunaannya diperebutkan oleh pertanian, pemukiman, industri, pertambangan, dan sektor lainnya. Pada umumnya, daya saing pertanian lahan kering jauh lebih rendah dibanding sektor lain, sehingga pertanian terdesak ke lahan-lahan berlereng curam. Laju erosi tanah meningkat dengan berkembangnya budi daya pertanian yang tidak disertai penerapan teknik konservasi, seperti pada sistem perladangan berpindah yang banyak dijumpai di luar Jawa. Bahkan pada sistem pertanian menetap pun, penerapan teknik konservasi tanah belum merupakan kebiasaan petani dan belum dianggap sebagai bagian penting dari pertanian. Rendahnya adopsi teknologi konservasi bukan karena keterbatasan teknologi, tetapi lebih kuat disebabkan oleh masalah nonteknis. Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain. Hudson (1980) menyatakan bahwa walaupun masih ada kekurangan dalam teknologi konservasi dan masih ada ruang untuk perbaikan teknis, hambatan yang lebih besar adalah masalah politik, sosial, dan ekonomi.
10
Tugas Konservasi Tanah dan Air Lanjutan; Dosen Pengasuh: Dr. Rahmawaty, S.Hut. M.Si. PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN; Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM:138104002; PROGRAM S-3SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA-MEDAN. 2014.
produksi dan pertumbuhan ekonomi secara makro, sehingga aspek konservasi tanah yang dapat mendukung keberlanjutan dan kelestarian sumber daya lahan ditinggalkan, padahal aspek tersebut berpengaruh dalam jangka panjang bagi pembangunan pertanian di masa mendatang.
Selain kurangnya dukungan kebijakan pemerintah, masalah sosial juga sering menghambat penerapan konservasi tanah, seperti sistem kepemilikan dan hak atas lahan, fragmentasi lahan, sempitnya lahan garapan petani, dan tekanan penduduk. Kondisi ekonomi petani yang umumnya rendah sering menjadi alasan bagi mereka untuk mengabaikan konservasi tanah. Konversi lahan pertanian sering disebabkan oleh faktor ekonomi petani, yang memaksa mereka menjual lahan walaupun mengakibatkan hilangnya sumber mata pencaharian (Abdurachman, 2004). Selain faktor alami, terjadinya kebakaran hutan dan lahan terutama terkait dengan lemahnya peraturan dan sistem perundangundangan.
11
Tugas Konservasi Tanah dan Air Lanjutan; Dosen Pengasuh: Dr. Rahmawaty, S.Hut. M.Si. PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN; Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM:138104002; PROGRAM S-3SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA-MEDAN. 2014.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurachman, A. 2004. Pengendalian konversi lahan sawah secara komprehensif. Makalah pada Round Table Pengendalian Konversi dan Pengembangan Lahan Pertanian,14 Desember 2004.
Abdurachman A. 2008. Teknologi dan Strategi Konservasi Tanah dalam Kerangka Revitalisasi Pertanian; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123.
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor. IPB Press-Bogor.
Carson, B. dan Wani, H.U. 1986. Erosion and Sedimentation Processes in Java. Badan Litbang Pertania dan The Ford Foundation. Jakarta.
Dirjen Agraria. 1984. Atlas Penggunaan Tanah Republik Indonesia; Publikasi No, 333. Departemen Dalam Negeri; Direktorat Jenderal Agraria. Jakarta.
Harahap, E.M. 2013. Konservasi Tanah dan Air Lanjutan. Powerpoint Materi Perkuliahan. USU-Medan.
Hidayat, A. dan A. Mulyani. 2002. Lahan kering untuk pertanian. hlm. 1-34. Dalam Abdurachman, Mappaona dan Saleh (Ed.). Teknologi Pengelolaan Lahan Kering. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.
Hudson, N. W. 1980. Social, Political and economics aspects of soil conservation. p. 45-54. In P.C. Morgan (Ed). Soil Conservation Problems and Aspects. John Wiley & Sons, USA.
Jaya, A. 2004. Tugas Individu Semester Ganjil. Pengantar Falsafah Sains (PPS-702). Program S3 Institut Pertanian Bogor. Dosen : Prof. Dr.Ir.Rudy C. Tarumingkeng ; Prof. Dr. Zahrial Coto; Dr.Ir.Hardjanto
Lumbanraja, P. 2007. Degradasi Lahan; Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian; Universitas HKBP Nommensen; Medan.
Lumbanraja, P. 2013. Pertanian Berwawasan Lingkungan. Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian – Universitas HKBP Nommensen.
Onrizal. 2012. Forests, Mangroves, Wetlands and Our Life, Harian Waspada, 5 Juni 2012, Halaman B2, Liputan Khusus.
12
Tugas Konservasi Tanah dan Air Lanjutan; Dosen Pengasuh: Dr. Rahmawaty, S.Hut. M.Si. PERANAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN; Oleh: Parlindungan Lumbanraja; NIM:138104002; PROGRAM S-3SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA-MEDAN. 2014.
Suswono. 2013. Menteri Pertanian, Sidang Kabinet Terbatas-Jakarta. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.