Perbandingan Kualitas Trombocyte Concentrate Dari Platelet Rich Plasma Dan Platelet Apheresis Pada Jumlah Trombosit Dan Residu Leukosit
Rafika, Dewicha Amelia, Nurlia Naim, Zulfikar Ali Hasan Program Studi Teknologi Laboratorium Medis, Politeknik Kesehatan Makassar
Abstrak
Transfusi trombosit sebagai terapi utama bagi pasien dengan trombositopenia. Pasien dewasa, sekitar 6 unit TC- PRP dibutuhkan dosis tersebut setara dengan 1 unit platelet apheresis. Semakin banyak TC-PRP yang ditransfusikan maka akan semakin tinggi paparan residu leukosit yang diterima. Penelitian ini mengetahui perbandingan kualitas TC-PRP dan platelet apheresis dilihat dari jumlah trombosit dan residu leukosit. Jenis penelitian analitik observasional laboratorik di Instalasi Laboratorium Sentral RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Sampel ditentukan secara purposive sampling sebanyak 40 sampel pada 2 subyek yang berbeda.
Pada TC-PRP, sebesar 15% unit memiliki jumlah trombosit ≥60x10⁹ dengan nilai rata-rata 617x103/µL dan 100% unit memiliki residu leukosit ≤0,2x10⁹ dengan nilai rata-rata 0,223x103/µL. Pada platelet apheresis, sebesar 100% unit memiliki jumlah trombosit ≥2,0x10¹¹ dengan nilai rata-rata 859x103/µL dan residu leukosit
≤0,3x10⁹ dengan nilai rata-rata 0,009x103/µL. Berdasarkan Permenkes RI No.91/2015, jumlah trombosit pada TC-PRP tidak memenuhi persentase standar sedangkan residu leukosit memenuhi standar yang direkomendasikan. Pada platelet apheresis, kedua parameter memenuhi standar yang direkomendasikan. Secara statistik diperoleh nilai p = 0,003 bahwa ada perbedaan pada jumlah trombosit antara TC-PRP dan platelet apheresis, serta diperoleh nilai p = 0,000 berarti ada perbedaan yang pada jumlah residu leukosit antara TC-PRP dan platelet apheresis. Platelet apheresis memiliki kualitas lebih baik daripada TC-PRP
Kata Kunci : Trombocyte Concentrate, Platelet Apheresis, Jumlah Trombosit, Residu Leukosit
Quality Comparison of Platelet Concentrate Prepared by Platelet Rich Plasma and Platelet Apheresis on Platelet Counts and Leukocyte Residues
Abstract
Platelet transfusions are the primary therapy for thrombocytopenia.. Adult patients, about 6 units of PRP platelet concentrate are needed the dose is equivalent to 1 unit of platelet apheresis. The more PRP-PC units are transfused, the higher exposure of leukocyte residues would be received. The research is found the quality comparison of PRP-PC and platelet apheresis seen from platelet counts and leukocyte residues. Type research is laboratory observational analytic, at the Central Laboratory Installation Mohammad Hoesin General Hospital Palembang. The sample was determined by purposive sampling of 40 samples on 2 different subjects. Results In TC-PRP, 15% of units have platelet counts of ≥60x10⁹ with an average value of 617x103/µL and 100% of units have leukocyte residues ≤0.2x10⁹ with an average value of 0.223x103/µL. In platelet apheresis, 100% of the units have platelet counts ≥2.0x10¹¹ with an average value of 859x103/µL and leukocyte residues ≤0.3x10⁹ with an average value of 0.009x103/µL. Based on the Minister of Health of the Republic of Indonesia Regulation No.91/2015, platelet counts on PRP-PC do not meet the standard percentage while leukocyte residues meet the recommended standards. In platelet apheresis, both parameters meet the recommended standard. Statistically obtained p value = 0,003 which means there is a significant difference on the platelet counts between PRP-PC and platelet apheresis, and also obtained p value = 0,000 that there is difference on the number of leukocyte residues between PRP-PC and platelet apheresis. Platelet apheresis has better quality than PRP-PC.
Keywords: Trombocyte Concentrate, Platelet Apheresis, Jumlah Trombosit, Residu Leukosit
Korespondensi: Rafika, Program Studi Teknologi Laboratorium Medis Politeknik Kesehatan Makassar, mobile 082345553522, e-mail [email protected]
Pendahuluan
Pada praktik klinis sehari-hari permintaan produk darah terus meningkat dan jutaan transfusi darah dilakukan setiap tahunnya di seluruh dunia (Norfolk, 2013). Komponen darah memberikan pilihan kepada klinisi dalam mengobati pasien dengan respon lebih baik daripada darah lengkap. Lebih dari 2 juta unit trombosit ditransfusikan setiap tahun di Amerika Serikat (Whitaker et al., 2013).
Transfusi trombosit sangat penting pada pasien dengan trombositopenia. Respon yang diberikan pasien terhadap transfusi trombosit sangat bervariasi. Selain faktor kondisi pasien, faktor kualitas komponen trombosit yang ditransfusikan juga sangat mempengaruhi respon transfusi. Kualitas komponen trombosit dapat dinilai secara in vitro dengan menggunakan beberapa parameter tertentu diantaranya jumlah trombosit dan jumlah residu leukosit (Singh, Marwaha, Malhotra, & Dash, 2009). Spesifikasi per unit setiap parameter tersebut telah diatur dalam standar rekomendasi American Association of Blood Banks (AABB) dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 91 Tahun 2015.
Sejalan dengan perkembangan teknologi, komponen trombosit dapat dihasilkan dari dua cara yaitu dari darah lengkap dan apheresis.
Trombocyte Concentrate (TC) dari darah lengkap dapat dibuat dari Platelet Rich Plasma (PRP) atau sentrifugasi buffy coat (Seeber &
Shander, 2007). Platelet apheresis dihasilkan melalui suatu prosedur dimana darah donor dilewatkan melalui alat medik yang memisahkan dan mengumpulkan trombosit, kemudian mengembalikan sisa darah ke sirkulasi pendonor (Szczepiorkowski et al., 2013). Plateletpheresis masih terbilang jarang di Indonesia. Pada tahun 2018, sebanyak 19.000 unit trombosit ditransfusikan di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang, diantaranya 17.880 unit TC dan 1.120 unit platelet apheresis (Bank Darah RSUP Dr Mohammad Hoesin, 2018).
Kuantitas platelet apheresis akan lebih efektif digunakan pada transfusi trombosit dengan trombositopenia berat. Dosis pemberian transfusi pada neonatus atau bayi mungkin memadai dengan 1 unit TC, tetapi untuk orang dewasa sekitar 6 unit TC dibutuhkan dimana dosis tersebut setara dengan 1 unit platelet apheresis (Brecher, 2005). Penelitian yang dilakukan Purwanti et al didapatkan hasil hitung jumlah trombosit pada pasien pre dan post transfusi dengan nilai selisih yang lebih
tinggi pada pasien dengan 1 unit platelet apheresis sebesar 35,29 dibandingkan dengan pasien dengan 6 unit TC yang hanya memiliki nilai selisih 12,39.
Transfusi TC akan lebih berisiko karena semakin banyak unit trombosit dari donor tunggal yang ditransfusikan maka akan semakin tinggi paparan residu leukosit yang diterima bila dibandingkan dengan 1 unit platelet apheresis. Residu leukosit pada konsentrat trombosit dapat menurunkan kualitas produk dan menyebabkan reaksi samping pada resipien seperti Febril Non Haemolytic Transfusion (FNHTR), penularan infeksi cytomegalovirus dan alloimunisasi trombosit (Brecher, 2005).
Penelitian yang dilakukan Singh et al didapatkan bahwa unit platelet apheresis memiliki residu leukosit paling sedikit dibandingkan dengan unit TC dari PRP dan buffy coat dan perbedaannya signifikan secara statistik (p<0,001). Altuntas et al melaporkan semua komponen trombosit dari alat apheresis AMICUS dan Com.Tec memiliki residu leukosit <5x106.
Persentase kejadian reaksi transfusi yang dilaporkan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2018 sebesar 58% pada TC dan tidak ada reaksi transfusi pada platelet apheresis. Pelayanan plateletpheresis sudah lama ada di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang sedangkan untuk TC masih diperoleh dari PMI karena saat ini RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang masih berstatus sebagai bank darah. Sejauh ini belum pernah dilakukan perbandingan mengenai kualitas kedua komponen tersebut, sehingga hal ini menjadi pertimbangan untuk melakukan penelitian tentang perbandingan kualitas trombocyte concentrate dari platelet rich plasma (TC-PRP) dan platelet apheresis pada jumlah trombosit dan residu leukosit.
Tujuan Penelitian ini mengetahui perbandingan kualitas trombocyte concentrate dari platelet rich plasma (TC-PRP) dan platelet apheresis dilihat dari jumlah trombosit dan residu leukositnya.
Metode
Jenis penelitian adalah analitik observasional laboratorik, penelitian dilaksanakan pada bulan April - Mei 2020 di Instalasi Laboratorium Sentral Unit Laboratorium Patologi Klinik RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang. Sampel yang digunakan adalah konsentrat trombosit pada komponen trombocyte concentrate dari platelet
rich plasma (TC-PRP) dan platelet apheresis dalam kurun waktu penelitian di Unit Pelayanan Darah RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang yang memenuhi kriteria inklusi.
Besar sampel yaitu 40 sampel terdiri dari 20 sampel TC dan 20 sampel platelet apheresis (Standar minimal sampling pada Permenkes RI No 95/2015). Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan kriteria sampel inklusi diantaranya konsentrat trombosit dengan hasil uji screening Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah/IMLTD negatif (Uji HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan VDRL), konsentrat trombosit yang berumur ≤ 2 hari.
Alat pemeriksaan hematology analyzer Sysmex XN 1000.
Persiapan sampel komponen trombocyte concentrate yang sudah diambil dari PMI diletakkan di platelet agitator inkubator dengan suhu penyimpanan 20oC sampai 24oC.
Komponen platelet apheresis yang sudah didiamkan selama 1 jam di atas permukaan rata-rata pada suhu 20oC sampai 24oC setelah donasi juga diletakkan di platelet agitator inkubator. Sampel diambil dari kantong darah secara aseptik tanpa mengganggu sistem tertutup (Permenkes RI No 91, 2015).
Menyiapkan semua peralatan, dan beri kode sampel sesuai dengan nomor kantong darah pada mini cup sampel. Seal kantong darah dengan menggunakan electric sealer.
Meletakkan kembali komponen TC pada platelet agitator inkubator. Melakukan pengambilan plasma konsentrat trombosit sekitar 1 mL dengan menggunting selang kantong darah yang sudah di seal tadi.
Masukkan plasma konsentrat trombosit tersebut pada mini cup yang telah disediakan.
Membuang selang kantong darah yang sudah digunting tadi pada kantong darah infeksius.
Mini cup yang sudah berisi sampel diletakkan pada agitator dan segera diperiksa pada alat hematology analyzer.
Prosedur kerja pemeriksaan hitung jumlah trombosit dan leukosit dilakukan secara manual dengan mode whole blood. Pastikan status indikator LED pada alat dalam kondisi ready. Apabila tube holder masih berada di dalam, tekan change mode button. Tekan change measurement mode button pada control menu, pilih whole blood dan pilih OK.
Kemudian pilih manual analysis button, masukkan No dan ID sampel, pilih discrete, klik OK. Homogenkan sampel, buka tutup mini cup lalu letakkan pada tube holder. Tekan tombol start. Hasil pemeriksaan sampel akan
muncul pada komputer alat dan diakukan pembacaan dan pencatatan hasil.
Data pada penelitian ini diolah menggunakan program komputer dengan perhitungan deskriptif dalam persentase (%).
Data dianalisis secara inferensial dengan melihat hasil uji beda dengan menggunakan SPSS. Variabel dilakukan uji normalitas, uji statistik Independent Sampel T-Test dan Mann- Whitney Test.
Hasil
Hasil penelitian yang disajikan pada gambar 1.
Gambar 1. Distribusi frekuensi hasil jumlah trombosit pada TC-PRP yang memenuhi standar rekomendasi.
Pada gambar 1 dapat diketahui bahwa dari 20 sampel komponen TC-PRP yang diperiksa, sebanyak 15% komponen TC- PRP memiliki jumlah trombosit ≥ 60 x 10⁹ per unit sedangkan 85% komponen TC-PRP memiliki jumlah trombosit < 60 x 10⁹ per unit.
Berdasarkan Permenkes RI No 91 Tahun 2015, persentase hasil yang diterima harus memenuhi
≥ 75% dari jumlah unit yang diperiksa, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil pemeriksaan jumlah trombosit pada komponen TC-PRP tidak memenuhi persentase standar yang direkomendasikan.
Pada Gambar 2 dapat diketahui bahwa dari 20 sampel komponen TC-PRP yang diperiksa, semua komponen TC-PRP (100%) memiliki jumlah residu leukosit ≤ 0,2 x 10⁹ per unit. Berdasarkan Permenkes RI No 91 Tahun 2015, persentase hasil yang diterima harus memenuhi ≥ 90% dari jumlah unit yang diperiksa, sehingga dapat disimpulkan bahwa
hasil pemeriksaan residu leukosit pada komponen TC-PRP memenuhi persentase standar yang direkomendasikan. Dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini.
Gambar 2. Distribusi frekuensi hasil jumlah trombosit pada residu leukosit
Pada gambar 3 dapat diketahui bahwa dari 20 sampel komponen platelet apheresis yang diperiksa, semua komponen platelet apheresis (100%) memiliki jumlah trombosit ≥ 2,0 x 10¹¹ per unit. Berdasarkan Permenkes RI No 91 Tahun 2015, persentase hasil yang diterima harus memenuhi ≥ 75% dari jumlah unit yang diperiksa, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil pemeriksaan jumlah trombosit pada komponen platelet apheresis memenuhi persentase standar yang direkomendasikan.
Gambar 3. Distribusi frekuensi hasil jumlah trombosit pada platelet apheresis
Pada gambar 4. dapat diketahui bahwa dari 20 sampel komponen platelet apheresis yang diperiksa, semua komponen platelet apheresis (100%) memiliki jumlah residu leukosit ≤ 0,3 x 10⁹ per unit. Berdasarkan Permenkes RI No 91 Tahun 2015, persentase hasil yang diterima harus memenuhi ≥ 90%
dari jumlah unit yang diperiksa, sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil pemeriksaan jumlah residu leukosit pada komponen platelet apheresis memenuhi persentase standar yang direkomendasikan. Gambar 4 dapat dilihat berikut ini
Gambar 4. Distribusi frekuensi hasil jumlah residu leukosit pada platelet apheresis
Data jumlah trombosit pada komponen TC-PRP dan platelet apheresis dilakukan uji normalitas Saphiro Wilk p>0,05 diperoleh hasil data sebaran jumlah trombosit berdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan analisis data uji statistik menggunakan Independent Sample T- Test, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Perbedaan jumlah trombosit pada TC-PRP dan platelet apheresis
Jenis
Komponen N Mean SD p-value
Trombosit
concentrate 20 617,05 336,276
0,003 Platelet
Apheresis 20 859,20 71,370
Pada Tabel 1. dapat diketahui nilai rata- rata jumlah trombosit dari 20 sampel komponen TC-PRP adalah 617 x 103/µL dengan standar deviasi 336,276, sedangkan nilai rata-rata jumlah trombosit dari 20 sampel komponen
platelet apheresis adalah 859 x 103/µL dengan standar deviasi 71,370. Hasil uji statistik T-Test didapatkan p-value sebesar 0,003 yang berarti nilai p < 0,05 yaitu ada perbedaan yang signifikan pada jumlah trombosit antara TC- PRP dan platelet apheresis.
Data jumlah residu leukosit pada komponen TC-PRP dan platelet apheresis dilakukan uji normalitas Saphiro Wilk p<0,05 diperoleh hasil data sebaran jumlah residu leukosit tidak berdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan analisis dengan uji statistik menggunakan Mann-Whitney Test, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Perbedaan jumlah residu leukosit pada TC- PRP dan platelet apheresis
Jenis
Komponen N Mean SD p-
value Trombosit
concentrate 20 ,22350 ,163459
,000 Platelet
Apheresis 20 ,00950 ,010501
Pada tabel 2. dapat diketahui nilai rata- rata residu leukosit dari 20 sampel komponen TC-PRP adalah 0,223 x 103/µL dengan standar deviasi 0,163 sedangkan nilai rata-rata residu leukosit dari 20 sampel komponen platelet apheresis adalah 0,009 x 103/µL dengan standar deviasi 0,010. Hasil uji statistik Mann-Whitney Test didapatkan p-value 0,000 yang berarti nilai p < 0,05 yaitu ada perbedaan yang signifikan pada jumlah residu leukosit antara TC-PRP dan platelet apheresis.
Pembahasan
Pemeriksaan kualitas komponen trombosit adalah langkah penting dalam mengevaluasi kelayakan fungsional in vitro konsentrat trombosit. Berbagai parameter digunakan dalam pemeriksaan kualitas in vitro rutin konsentrat trombosit diantaranya hitung jumlah trombosit, jumlah residu leukosit, volume, pH pada akhir penyimpanan, kontaminasi bakteri dan fenomena swirl.
Namun, pada penelitian ini hanya dilakukan pemeriksaan pada parameter jumlah trombosit dan leukosit karena mempertimbangkan komponen darah trombosit yang diteliti agar tetap layak digunakan untuk pasien.
1. Kualitas komponen trombosit berdasarkan jumlah trombosit
Dalam penelitian ini, platelet apheresis menunjukkan rata-rata jumlah trombosit yang
lebih tinggi daripada TC-PRP. Hal ini menandai bahwa platelet apheresis memiliki kualitas lebih baik daripada TC-PRP terkait jumlah trombosit. Berdasarkan Permenkes RI No. 91 Tahun 2015, persentase hasil jumlah trombosit yang diterima harus memenuhi ≥75% dari jumlah unit yang diperiksa. TC-PRP menunjukkan persentase yang tidak memenuhi standar sedangkan platelet apheresis memenuhi standar yang direkomendasikan. Hasil uji statistik Independent Sample T-Test diketahui adanya perbedaan secara signifikan pada jumlah trombosit antara TC-PRP dan platelet apheresis.
Sejalan dengan penelitian Singh et al (2009) bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara PRP-PC dan apheresis-PC untuk jumlah trombosit per unit. Purwanti et al (2017) mendapatkan hasil hitung jumlah trombosit pada pasien pre dan post transfusi dengan nilai selisih yang lebih tinggi pada pasien dengan 1 unit platelet apheresis sebesar 35,29 dibandingkan dengan pasien dengan 6 unit TC yang hanya memiliki nilai selisih 12,39.
Penggunaan konsentrat trombosit saat ini semakin meningkat sehingga perlu diperhatikan standar dan kontrol kualitasnya. Pada penelitian ini komponen TC-PRP menunjukkan jumlah trombosit yang tidak memenuhi standar yang direkomendasikan. Selama penyimpanan, konsentrat trombosit dapat mengalami berbagai perubahan parameter-parameter yang menunjukkan kualitas konsentrat trombosit secara in vitro atau disebut dengan Platelet Storage Lesion (PSL). Salah satu parameter yang mengalami perubahan adalah jumlah trombosit.
Konsentrat trombosit akan mengalami berbagai perubahan mulai dari masa pengumpulan, pengolahan hingga penyimpanan. Disagregasi dari agregat trombosit yang terbentuk selama sentrifugasi dan persiapan konsentrat trombosit merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan penurunan jumlah trombosit. Beberapa faktor lainnya yang mempengaruhi fungsi trombosit selama masa penyimpanan antara lain larutan antikoagulan, suhu, kantong darah, agitasi dan volume plasma. Larutan antikoagulan dapat mempengaruhi pH, metabolisme glukosa, laktat dan HCO3. Suhu penyimpanan dapat mempengaruhi pH, konsumsi glukosa dan produksi laktat. Kantong darah yang digunakan dapat mempengaruhi oksigenasi dan metabolisme. Agitasi pada konsentrat trombosit akan mempengaruhi reaksi pelepasan serta
volume plasma juga dapat mempengaruhi metabolisme, pH, dan pembentukan laktat (Brecher, 2005).
Pada komponen TC-PRP, antikoagulan yang digunakan adalah CPDA-1 (Citrate- Phosphate-Dextrose-Adenine) sedangkan pada platelet apheresis menggunakan antikoagulan ACD-A (Citric acid, sodium citrate, dextrose).
Pada dasarnya kandungan antara kedua antikoagulan sama, yang membedakan adalah pada CPDA terdapat Natrium Hydrophosphate dan adenin. Phosphate berfungsi sebagai buffer basa. Namun, menurut Murphy et al (1991) menyatakan bahwa phosphate tidak efektif sebagai buffer karena menstimulasi glikolisis dan pembentukan asam laktat. Adenin yang hanya berperan untuk meningkatkan jumlah ATP pada eritrosit sehingga dapat disimpan sampai 35 hari suhu 1º- 6ºC.
Penyimpanan trombosit terbaik yaitu pada suhu 20ºC - 24ºC dengan agitasi terus menerus agar trombosit dapat tetap hidup dan tidak kehilangan fungsinya. Diketahui bahwa komponen TC-PRP pada penelitian ini merupakan stok darah yang didapat dari UDD PMI, sehingga pada saat transportasi trombosit ke bank darah dengan jarak yang cukup jauh dikhawatirkan suhu transportasi dan agitasi belum optimal. Selama penyimpanan, bila tidak diagitasi dengan baik akan menyebabkan pH trombosit turun dengan cepat. Turunnya pH disebabkan oleh tingginya produksi asam laktat dari trombosit. Hal ini disebabkan oleh metabolisme glukosa yang tinggi dari trombosit, karena glukosa banyak digunakan maka persediaan glukosa untuk trombosit akan berkurang. Berkurangnya jumlah glukosa akan mengakibatkan trombosit mati sehingga jumlahnya berkurang signifikan (Lestariyani &
Herawati, 2017).
Pada platelet apheresis, donasi akan dilakukan bila pendonor memiliki jumlah trombosit ≥150.000/µL darah. Penggunaan alat pemisah sel otomatis dapat memfasilitasi pengumpulan trombosit dengan dosis yang optimal. Instrument apheresis dapat menghitung berapa banyak darah yang perlu diproses untuk mendapatkan dosis yang diinginkan. Setelah proses pengumpulan trombosit, perlakuan terhadap platelet apheresis di pelayanan darah RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang terkontrol pada suhu optimal dan agitasi yang baik.
2. Kualitas komponen trombosit berdasarkan residu leukosit
Dalam penelitian ini, platelet apheresis menunjukkan rata-rata jumlah residu leukosit
yang lebih rendah daripada TC-PRP. Hal ini juga menandai bahwa platelet apheresis memiliki kualitas lebih baik karena didapati kontaminasi leukosit yang lebih sedikit. Jumlah unit (%) TC-PRP dan platelet apheresis yang memenuhi standar rekomendasi uji kualitas untuk jumlah residu leukosit juga dianalisis.
Berdasarkan Permenkes RI No 91 Tahun 2015, hasil yang diterima harus memenuhi ≥90% dari jumlah unit yang diperiksa. Semua unit dari kedua komponen tersebut 100% memenuhi standar yang direkomendasikan. Hasil uji statistik Mann Whitney-Test diketahui adanya perbedaan secara signifikan pada jumlah residu leukosit antara TC-PRP dan platelet apheresis.
Sejalan dengan hasil penelitian Singh et al didapatkan bahwa unit apheresis-PC memiliki paling sedikit kontaminasi leukosit per unit dibandingkan unit BC-PC dan PRP-PC dan perbedaannya signifikan secara statistik. Dalam penelitian Nurmalia et al (2012) dilaporkan bahwa hasil pemeriksaan residu leukosit TC manual yang bermasa simpan 3-5 hari telah sesuai dengan bakuan mutu.
Dilihat dari data hasil pemeriksaan residu leukosit, sebesar 85% unit platelet apheresis memiliki jumlah leukosit < 5 x 106, yang merupakan standar kualitas menurut American Association of Blood Bank (AABB). Hasil ini sedikit berbeda dengan penelitian yang dilakukan Altuntas et al (2008) bahwa semua komponen trombosit dari alat apheresis AMICUS dan Com.Tec memiliki residu leukosit < 5 x 106.
Residu leukosit pada konsentrat trombosit memberikan efek yang akan merugikan pada waktu penyimpanan. Leukosit yang tertinggal dalam konsentrat trombosit ini akan menyebabkan penurunan fungsi trombosit.
Dalam komponen, daya hidup/shelf life leukosit dalam suhu ruang hanya bertahan satu hari.
Selama penyimpanan leukosit akan mengalami degranulasi, perpecahan atau mati yang berakibat akan melepaskan banyak bahan penting dan akan menyebabkan reaksi transfusi terjadi. Sitokin dan bahan penting yang dilepaskan akan berkumpul selama penyimpanan TC, sedangkan jumlah leukosit yang ditemukan hanya sedikit. Hal ini akan menimbulkan kesulitan untuk mengendalikan mutu leukosit dalam TC yang telah disimpan.
Prestorage Leukocyte Reduction lebih baik dilakukan jika dibandingkan dengan pasca penyimpanan. Platelet apheresis dihasilkan dari mesin pemisah sel otomatis yang memang dirancang agar menghasilkan produk yang leukoreduced sehingga tidak memerlukan
filtrasi lanjutan. Selain itu, pelepasan sitokin dalam masa penyimpanan ini dapat dikaitkan dengan berbagai reaksi transfusi, termasuk alloimunisasi, Febril Non Haemolytic Transfusion (FNHTR), dan transmisi cytomegalovirus.
Pada penelitian ini menunjukkan semua unit trombosit memiliki residu leukosit masih dalam batasan, namun pada TC-PRP residu dapat dikurangi dengan penanganan pada kantong dan pemindahan PRP yang dilakukan dengan lebih hati-hati agar unit yang dihasilkan mendapatkan kualitas yang lebih baik lagi.
Simpulan dalam penelitian adalah pada komponen TC-PRP, jumlah trombosit tidak memenuhi standar yang direkomendasikan sedangkan jumlah residu leukosit memenuhi standar yang direkomendasikan. Pada platelet apheresis, jumlah trombosit dan residu leukosit memenuhi standar yang direkomendasikan.
Terdapat perbedaan kualitas yang signifikan pada jumlah trombosit dan residu leukosit antara TC-PRP dan platelet apheresis.
Saran dalam penelitian adalah teknisi transfusi darah diharapkan untuk lebih memperhatikan prosedur preparasi hingga penyimpanan komponen trombosit sehingga dapat memperoleh komponen dengan kualitas yang baik. Dan para klinisi dapat memilih platelet apheresis dalam pilihan pengobatan untuk mendapatkan manfaat yang lebih optimal terutama ketika TC-PRP dalam dosis yang memadai sulit tersedia.
Daftar Pustaka
Altuntas, F., Sari, I., Kocyigit, I., Kaynar, L., Hacioglu, S., Ozturk, A., … Unal, A.
(2008). Comparison of Plateletpheresis on the Fenwal Amicus and Fresenius Com.Tec Cell Separators. Transfus Med Hemother, (35), 368–373.
Bank Darah RSUP Dr Mohammad Hoesin.
(2018). Laporan Tahunan Pelayanan Darah 2018. Palembang.
Brecher, M. E. (2005). American Association of Blood Banking Technical Manual (15th ed.). Bethesda Maryland: AABB.
Lestariyani, N. K., & Herawati, S. (2017).
Perbedaan Jumlah Trombosit Konsentrat Trombosit Pada Penyimpanan Hari I,III,V di Unit Donor Darah PMI Provinsi Bali/ RSUP Sanglah Denpasar.
6(3), 1–4.
Murphy, S., Kogen, L., & Holme, S. (1991).
Platelet Storage in Synthetic Media Lacking Glucose and Bicarbonate.
Transfusion, (13), 16–20.
Norfolk, D. (2013). Handbook of Transfusion Medicine (5th ed.). United Kingdom:
TSO.
Nurmalia, P. S., Purwanto, A. P., & Julia, S.
(2012). Residu Leukosit dalam Thrombocyte Concentrate. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, 19(1), 19–23.
Permenkes RI No 91. Tentang Standar Pelayanan Transfusi Darah. , (2015).
Purwanti, N. A., Sukeksi, A., & Ariyadi, T.
(2017). Gambaran Jumlah Trombosit pada Pasien Pre dan Post Transfusi 6 Trombocyte Concentrate (TC) dan 1 Trombopheresis. Universitas Muhammadiyah Semarang.
Seeber, P., & Shander, A. (2007). Basic of Blood Management (1st ed.). New York:
Backwell Publishing.
Singh, R. ., Marwaha, N., Malhotra, P., & Dash, S. (2009). Quality Assesment of Platelet Concentrates Prepared by Platelet Rich Plasma-Platelet Concentrates, Buffy Coat Poor-Platelet Concentrates (BC-PC) and Apheresis-PC Methods. Asian J Transfus Sci, (3), 86–84.
Szczepiorkowski, Z. M., Winters, J. L., Bandarenko, N., Kim, H. C., Linenberger, M. L., Marques, M. B., … Shaz, B. . (2013). Guidelines on the Use of Therapeutic Apheresis in Clinical Practice Evidence Based Approach from the Apheresis Applications Committee of the American Society for Apheresis.
Journal of Clinical Apheresis, (25), 83–
177.
Whitaker, B. I., Henry, R. A., & Hinkins, S.
(2013). The 2011 National Blood Collection and Utilization Survey Report.
Department of Health and Human Services. USA.